Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

MANAJEMEN SUMBER DAYA KELUARGA

Dibuat Oleh:
Ayu Lestari 5535161031
Fildzah Nabila 5535161922
Neta Hanawara 5535161927
Rafika Nurmala S 5525162067
Zulfa Aulia 5535161926

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA RIAS


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2019

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat
dan limpahan rahmat-Nya-lah maka kita bisa menyelesaikan makalah ini
dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul
“Definisi dan Fungsi Keluarga” semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat yang besar bagi kita guna memahami lebih dalam lagi mengenai
Kehidupan atau kesejahteraan keluarga petani. Melalui kata pengantar ini
saya lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi
makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang salah dan kurang tepat.
Dengan ini saya sebagai penyusun mempersembahkan makalah ini dengan
penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini
sehingga dapat memberikan manfaat untuk kita semua.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut M. Manullang definisi manajemen sumberdaya keluarga
adalah seni dan ilmu perencanaan pelaksanaan dan pengontrolan tenaga kerja
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan lebih dahulu dengan adanya
kepuasaan diri para pekerja. Adapun tujuan manajemen sumber daya manusia
yang baik adalah mencapai efisiensi dan menciptakan kerja sama antara
pemimpin perusahaan dan bawahan dalam kemajuan perusahaan. Yang
dimaksud efisiensi adalah pengunaan tenaga kerja pada pekerjaan yang sesuai
dengan keahliannya untuk dapat memenuhi inisiatif pada para tenaga kerja
sehingga diharapkan akan dapat membantu dalam mencapai suatu tujuan
perusahaan.
Manajemen Sumber Daya Manusia diperlukan untuk meningkatkan
efektivitas sumber daya manusia dalam organisasi. Tujuannya adalah
memberikan kepada organisasi satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai
tujuan ini, studi tentang manajemen personalia akan menunjukkan bagaimana
seharusnya perusahaan mendapatkan, mengembangkan, menggunakan,
mengevaluasi, dan memelihara karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan tipe
(kualitas).
Sudah merupakan tugas manajemen sumber daya manusia untuk
mengelola manusia seefektif mungkin, agar diperoleh suatu satuan sumber
daya manusia yang merasa puas dan memuaskan. Manajemen sumber daya
manusia merupakan bagian dari manajemen umum yang memfokuskan diri
pada sumber daya manusia.
Untuk mewujudnya hasil tertentu melalui kegiatan orang-orang. Hal ini
berarti bahwa sumber daya manusia berperan penting dan dominan dalam
manajemen. Oleh karena itu Manajemen dalam setiap kegiatan yg dilakukan
oleh orang atau manusia sebagai aktor atau pelaku sangatlah dibutuhkan.
Disinilah manajemen sumber daya manusia sangat berfungsi, baik
manajemen SDM sebagai fungsi manajerial maupun manajemen SDM
sebagai fungsi operasional.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, makalah ini memiliki rumusan
masalah sebagai berikut:
a. Apa yang dimaksud dengan Nilai didalam keluarga?
b. Bagaimana cara menanamkan nilai dan moral didiri anak melalui
keluarga?
c. Apa yang dimaksud dengan manajemen keluarga?
d. Bagaimana membuat perencanaan keuangan didalam keluarga?

1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, makalah ini memiliki tujuan
sebagai berikut:
a. Mengetahui apa yang dimaksud dengan nilai didalam Keluarga
b. Mengetahui cara untuk menanamkan nilai dan moral didiri anak melalui
keluarga
c. Mengetahui apa yang dimaksud dengan manajemen keluarga
d. Mengetahui cara membuat perencanaan keuangan didalam keluarga
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Nilai dalam keluarga

Nilai keluarga merupakan suatu system, sikap dan kepercayaan yang


secara sadar atau tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya.
Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman bagi perkembangan norma dan
peraturan yang terdapat dalam keluarga (Muwarni, 2007). Nilai kekeluargaan
juga sebagai suatu pedoman untuk perkembangan norma dan juga peraturan
yang terdapat dalam lingkungan keluarga. Nilai-nilai keluarga juga mencakup
kualitas kehidupan anak bagaimana keluarga membentuk, seperti integritas,
kerja keras ataupun kebaikan pada sifat anak yang di mulai dari pendidikan
pertama anak yakni di dalam keluarga merupakan bagian jalur pendidikan
luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga. Pendidikan keluarga
tersebut merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa
melalui pengalaman seumur hidup.

Pendidikan keluarga memberikan keyakinan agama, nilai budaya


yang mencakup nilai, moral, dan aturan pergaulan serta pandangan,
ketrampilan dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan.
Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003) menyatakan bahwa keluarga merupakan salah satu
penanggung jawab pendidikan, disamping masyarakat dan pemerintah.
Eksistensi orang tua disini sebagai penanggung jawab utama dalam
menanamkan nilai-nilai paling dasar sebelum anak masuk dalam komunitas
berikutnya.

Peran orang tua dalam keluarga sebagai penuntun, pengasuh,


pengajar, pembimbing, dan pemberi contoh dalam keluarga. Orang tua sangat
berperan dalam menanamkan nilai-moral sebagai peletak dasar perilaku bagi
anak-anaknya. Dengan ditanamkannya nilai-moral oleh orang tua, diharapkan
pada tahap perkembangan selanjutnya anak akan mampu membedakan baik
buruk, sehingga ia dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Anak-
anak diharapkan akan lebih mudah menyaring perbuatan mana yang perlu
diikuti dan perbuatan mana yang harus dihindari. Penanaman nilai-moral
merupakan salah satu tugas pokok yang harus dijalankan oleh orang tua
kepada anaknya. Sudah menjadi kewajiban orang tua bahwa pentingnya
menanamkan nilai-moral pada anak sejak dini karena dengan berbekal nilai-
moral nantinya anak akan berperilaku/berbuat tanpa merugikan orang lain
bahkan tidak akan terseret oleh arus kehidupan yang tidak baik. \

2.2 Peranan Orang Tua Dalam Membina Nilai-Nilai Moral Anak


Dalam Keluarga

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia bahwa peranan diartikan


sebagai yang dibebankan kepadanya atau tindakan yang dilakukan.
Sedangkan membina diartikan sebagai membangun atau mendirikan,
mengusahakan supaya lebih baik. Sedangkan peranan orang tua dalam
membina nilai moral anak dapat diartikan dengan tegas yang dibebankan
kepada orang tua membangun, mendirikan, mengusahakan dan membina
anak lebih baik. Menurut Amril. M, nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam
membentuk suatu pilihan. Secara umum nilai bagi kehidupan manusia
berfungsi sebagai barometer dan standar ukur akan kualitas kebaikan dan
kebajikan dalam kehidupan manusia. Ketika nilai yang hidup dalam
masyarakat berkualitas kebaikan dan kebajikan dalam kehidupan manusia.
Ketika nilai yang hidup dalam masyarakat berkualitas tinggi dan mulia, maka
kehidupan masyarakat dan individu akan berorientasi kepada nilai yang telah
di tentukan.
Sedangkan Helden dan Richards merumuskan pengertian moral suatu
kepekaan dalam fikiran, perasaan dan tindakan atkinson. Mengemukakan
bahwa moral merupakan pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah.
Jadi nilai moral adalah segala nilai yang berhubungan dengan konsep baik
buruk yang dilakukan seseorang. Dan dapat juga dikatakan nilai moral
merupakan sarana untuk mengukur benar tidaknya baik tidaknya tindakan
seseorang akibat tindakan seseorang akibat moralitas.
Dalam membina moral anak di keluarga hal yang pertama yang dilakukan
oleh orang tua adalah memberikan didikan pada anak mulai dari dini dengan
cara yakni :
1.Mendidik Iman
Mendidik anak sejak dini merupakan kewajiban terpenting orang tua atau
kewajiban rumah tangga, terhadap anak dengan asumsi bahwa rumah adalah
sekolah pertama anak-anak jika tidak bias menjalankan fungsinya maka
instansi / lembaga lain sulit untuk mendidiknya. Secara pedagogik anak lebih
banyak menyerap pelajaran dari orang tuanya ketimbang gurunya dan
kebiasaan yang dilakukan dan dipraktekkan sejak kecil akan sulit sekali
dihilangkan diwaktu besar maka orang tua harus memperhatikan anak dan
mengajarinya sedini mungkin, dengan keyakinan dan pemikiran yang lurus.
Usahakan orang tua tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
agama, akhlak mulia, etika pergaulan dihadapan anak-anak.
2. Mendidik Moral
Mendidik moral anak, membina tingkah laku dan etika anak merupakan suatu
kewajiban agama yang lazim bagi setiap orang tua (sebagai pendidik),
Disinilah peran dan tanggung jawab orang tua dalam pembangunan
kepribadian ini penting. Ada beberapa prinsip dalam pendidikan moral yang
seharusnya diterapkan orang tua dalam mendidik anak – anak, antara lain
sebagai berikut.
a. Menanamkan spirit kepercayaan dalam diri anak, baik kepercayaan pada
dirinya maupun pada orang lain dari kalangan kaum mukmin, lebih-lebih
pada murabbi ( pendidik ). Juga kepercayaan bahwa manusia adalah pembuat
perilaku sehingga ia bisa mengubahnya jika memang mau.
b. Menebarkan semangat cinta kasih dan saling empati antara anak dan
seluruh anggota rumah di satu sisi, dan antara ia dengan manusia dari sisi lain.
c. Menanamkan perasaan moral di dalam diri anak-anak, dengan cara
menghormati manusia tidak asal melarang dan menghukum atas segala
kesalahan, besar maupun kecil.

3. Mendidik Mental Anak


Pembentukan fisik anak-anak secara sehat dengan mencari-cari syarat
kelengkapan gizi dan memberi hak mereka untuk melakukan aktivitas
olahraga dan hiburan, sambil membiasakan mereka untuk hidup bersih dan
menjauhkan mereka dari tempat-tempat yang menjadi wabah penyakit maka
tidak boleh melalaikan prinsip -prinsip berikut dalam pembentukan kesehatan
mental anak.
4. Mendidik Nalar
Pendidikan nalar pada umumnya adalah pengembangan kemampuan setiap
orang punya penalaran yang berbeda – beda, sesuai dengan tingkat
kecenderungan fitrah dan turunan masing – masing orang. Dan agar tujuan-
tujuan pendidikan bisa direalisasikan maka harus diperhatikan hal – hal
sebagai berikut.
a. Sajikan informasi yang sesuai dengan pertumbuhan dan kemampuan daya
tangkap. Sebab jika informasi atau cara penyajiannya pada anak di atas
kemampuannya, hal itu akan membuatnya tidak bisa memahami informasi
tersebut, juga akan menghambat pertumbuhan akalnya dan membuatnya tidak
percaya diri.
b. Jangan biarkan anak begitu saja setelah disunguhi informasi, kecuali jika
memang kita sudah yakin bahwa si anak mampu memahami dan
menyerapnya hingga informasi tersebut jelas di dalam fikirannya.
c. Gunakan pendekatan kritis, dengan cara menjelaskan berbagai sisi
kelebihan dan kekurangan informasi yang disuguhkan, sambil mendorong
anak untuk melakukan penilaian sendiri.
d. Berikan informasi – informasi yang akurat dan dapat dipercaya, agar
pikiran anak bersih sejak awal. Hal itu bisa dilakukan dengan merujuk pada
sumber terpecaya.
e. Latih anak untuk menerapkan informasi dan menyelesaikan masalah dalam
kehidupan empiris.
f. Dorong anak untuk mencari kebenaran dengan pendekatan yang objektif
agar dengan konsisten memegang dan mengikuti kebenaran.

5.Mendidik Jiwa Sosial


Mengajari anak bersifat sosial dengan menjalankan prilaku sosial
yang baik, dasar-dasar kejiwaan yang mulia dan bersumber dari akidah. orang
tua bertanggung jawab dalam membina jiwa sosial anak. Sebab jiwa sosial
merupakan cerminan watak dan prilaku untuk menjalankan kewajiban tata
krama, serta keseimbangan dalam kehidupan sehari bersama orang lain.

2.3 Penanaman nilai dan moral dalam keluarga


Penanaman nilai-moral merupakan salah satu tugas pokok yang harus
dijalankan oleh orang tua kepada anaknya. Sudah menjadi kewajiban orang
tua bahwa pentingnya menanamkan nilai-moral pada anak sejak dini karena
dengan berbekal nilai-moral nantinya anak akan berperilaku/berbuat tanpa
merugikan orang lain bahkan tidak akan terseret oleh arus kehidupan yang
tidak baik. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di lapangan,
maka dalam pelaksanaan pendidikan nilai-moral ditekankan pada nilai
kejujuran, nilai kerukunan, nilai sopan santun, nilai disiplin dan nilai
kerjasama yang tergambar dalam hubungan interaksi antara orang tua dengan
anak. Penanaman nilai dan moral pada anak di mulai sejak dini sebagai
berikut :
a. Penanaman Nilai Kejujuran

Pelaksanaan nilai kejujuran ditemukan ketika seorang anak yang


bersikap jujur kepada orang tuanya, sebagai contoh ketika anak di mintai
tolong membeli sesuatu oleh ibunya. Orang tua menanamkan serta memberi
nasihat bahwa hidup harus jujur dan apa adanya.

b. Penanaman Nilai Kerukunan


Rukun berkumpul dalam satu lingkungan dan terjalin hubungan yang
baik mulai dari antar anggota keluarga sendiri maupun dengan masyarakat.

c. Penanaman Nilai Sopan santun

Penanaman nilai sopan santun ditanamkan oleh orang tua melalui


teladan atau contoh serta pembiasaan. Hal ini terlihat ketika anak bersikap
santun ketika melewati atau saat bertemu dengan orang yang lebih tua dengan
berkata “amit” “permisi” dan salim . Anak akan bersikap demikian karena
mereka merasa pernah diajari orang tuanya agar selalu bersikap sopan santun.
Tidak hanya hal itu saja, mereka juga diajari untuk mengucapkan terima kasih
karena telah diberi sesuatu oleh orang lain.

d. Penanaman Nilai Disiplin

Disiplin merupakan sikap dan tindakan yang menunjukkan perilaku


tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan yang tercipta di dalam
keluarga, orang tua sebatas hanya mengingatkan anaknya agar melakukan
kegiatannya tepat waktu, misalnya ketika saatnya sekolah, mengaji ataupun
saat belajar. Mereka yaitu orang tua mengaku bahwa penanaman sikap
disiplin ialah dengan cara mengingatkan anaknya secara terus menerus agar
secara tidak sadar anaknya akan terbiasa dengan hal-hal yang positif.

e. Penanaman Nilai Kerjasama

Kerjasama merupakan sikap dan tindakan yang mau membantu


pekerjaan orang lain, mengajarkan anak untuk membantu ibu melakukan
pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci piring bahkan menjaga adiknya.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang
berarti manusia harus berbaur dan menyatu dengan manusia lain untuk hidup
bersama.

2.4 Pengertian Manajemen keluarga


Management adalah suatu kegiatan untuk mencapai tujuan melalui
orang lain , seperti yang dikemukakan oleh (George Terry) bahwa
management adalah pencapaian tujuan yang mempergunakan orang lain
melaksanakan pekerjaan.
Keuangan adalah segala sesuatu atau aktivitas yang berkaitan dengan
uang. Uang adalah salah satu alat bayar yang sah. Fungsi dari uang adalah
untuk memupuk kekayaan dan juga sebagai sarana untuk ber jaga-jaga.(
Elvyn G. Masassy.2004)
Keluarga adalah unit organisasi terkecil yang ada di bahwa keluarga
adalah suatu system norma dan tata cara yang diterima untuk menyelesaikan
sejumlah tugas penting (Paul B. Horton, Chester L. Hunt 2006: 267).
Management Keuangan Keluarga merupakan Seni pengelolaan
keuangan yang dilakukan oleh individu atau keluarga melalui orang lain
untuk mencapai tujuan yang effesien, efektif dan bermanfaat, sehingga
keluarga tersebut menjadi keluarga yang sejahtera dan keluarga sakinah.
Pengelolaan atau management keuangan keluarga merupakan keharusan yang
tidak bisa di tawar lagi, karena me-managemen-i /pengelolaan keuangan
keluarga memiliki implikasi yang lebih luas sebab yang terlibat bukan hanya
diri sendiri, tetapi istri/suami, anak-anak bahkan mungkin orang tua dan
mertua.
Setiap keluarga mempunyai anggota keluarga, karena keluarga
mempunyai fungsi membentuk sumber daya manusia yang berkualitas.
Komposisi kelompok keluarga pada umumnya di bagi dalam :
1. Conjugal family atau kelurga batih atau nuclear famili, yaitu keluarga
karena pertalian perkawinan atau kehidupan suami istri dan anak atau tanpa
anak.
2. Extended family atau keluarga luas yaitu keluarga batih berikut kerabat lain
dengan siapa hubungan baik dipelihara
3. Consanguine family yaitu keluarga hubungan sedarah dan tidak
berdasarkan pertalian kehidupan suami istri, melainkan pada pertalian darah
dari sejumlah orang kerabat.
4. Perkawinan neolokal yaitu pasangan suamiistri tinggal bersama keluarga
suami.
5. Perkawinan matrilokal, yaitu pasangan suami-istri tinggal bersama
keluarga istri.

Merencanakan keuangan merupakan hal yang penting, terutama bagi


keluarga guna mencapai keluarga sejahtera. Disisi lain banyak orang yang
tidak memiliki target yg pasti, termasuk dalam perencanaan keuangan dalam
upaya mensejahterakan diri dan keluarganya, sedangkan setiap orang
memerlukan target yang j el a s u n t u k m e m b a n t u m en i n g k a tk a n
kesejahterakan keluarga, dengan cara melakukan perencanaan keuangan.
Perencaan keuangan, adalah suatu proses mengelola uang untuk mencapai
tujuan keuangan,tujuan keuangan bagi setiap orang berbeda-beda., dan yang
paling tahu mengenai diri dan tujuan hidup termasuk keuangan adalah diri
sendiri.. Perencanaan keuangan keluarga memang tidak berlaku umum, tetapi
bersifat spesifik yang dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain:status
marital, pekerjaan, kondisi ekonomi, usia, asset yang dimiliki, akan tetapi
perencanaan keuangan harus di buat se realistis mungkin.

2.5 Pengalokasian dana dalam keuangan keluarga


Pemanfaatan atau pengalokasian dana mengalokasikan dana berarti
mengimplementasi plan/perencanaan yang telah di buat. Pengalokasian dana(
dalam arti pendapatan) bulanan di bagi dalam tiga hal pokok yaitu :
1. Konsumsi, pengalokasian ini termasuk pengeluaran biaya tetap (fixed cost)
yang tidak bisa di tunda lagi , yaitu : angsuran rumah, angsuran kendaraan,
biaya telpon, listrik, dan air , kemudian baru biaya makan, minum, dan
rekreasi. Biaya konsumsi ini beragam , akan tetapi perlu di patok atau di
tentukan, lazimnya biaya ini berkisar antara 40 % - 50 % dari keuangan
keluarga.
2. Saving atau tabungan, pengalokasian pada tabungan bisa dimaksudkan
sebagai simpanan/tabungan tetap dan bisa di maksudkan sebagai tabungan
untuk ber jagajaga yaitu misalnya untuk keperluan ke dokter, dan memberi
sumbangan. Tabungan ini juga perlu di tentukan dan yang lazim biasanya ber
kisar 25 % , dari 25 % tersebut yang di gunakan untuk berjaga-jaga ber kisar
antara 10% - 15 %, sedangkan sisanya sebagai tabungan tetap.
3. Investasi, pengalokasian pada investasi disini dimaksudkan sebagai
pengembang biakan uang tetapi secara terencana dan disiplin. Ada beberapa
alternative yandapat dipilih yaitu membeli emas koin, reksa dana atau iuran
dana pensiun, maka action plan tentang proteksi dapat dimasukkan dalam
pengalokasian pendapat pada investasi.

Dalam praktek sehari-hari pengalokasian dana/ pemakaian uang


dalam keluarga masingmasing keluarga mempunyai seni pengelolaan
tersendiri, hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, pengalaman maupun
pengetahuan. Pengalokasian pada investasi tidak hanya terbatas jangka
pendek, tetapi perlu di alokasikan untuk jangka panjang artinya ketika usia
sudah tidak produktif tidak akan terjebak kesulitan pada usia tua, penghasilan
besar pada usia muda bukan jaminan untuk tetap dimiliki pada usia tua.
Berbagai produk keuangan yang bisa di persiapkan dan perlu dimiliki untuk
mencapai target keuangan pribadi antara: asuransi kecelakaan, asuransi jiwa,
asuransi whole life, maupun beberapa kombinasi dari produk-produk
keuangan, misalnya reksa dana maupun produk investasi lainnya. Disisi lain
harus pandai-pandai memilih lembaga keuangan produk-produk asuransi
maupun lembaga keuangan dana pension dengan cara mencermati track
record lembaga.

2.6 Evaluasi atau Pemeriksaan keuangan keluarga


Mengevaluasi kondisi kesehatan keuangan pada hakekatnya melihat
pertumbuhan asset yang dimiliki, perolehan dari hasil investasi dan juga
pertambahan pengeluaran. Mengevaluasi kesehatan keuangan berarti
melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap perkembangan keuangan, yaitu
tentang kestabilan, peningkatan ataupun penurunan, dan saat yang tepat
adalah menjelang akhir tahun, karena pada akhir tahun biasanya orang akan
melakukan perenungan, meninjau kembali apa yang telah dilakukan,
diperoleh dan yang belum berhasil di capai. Evaluasi atau pemeriksaan
keuangan dapat dilihat dari beberapa aspek yakni :
1. Evaluasi terhadap penerimaan (cash in flow) merupakan keuangan
yang berasal dari hasil investasi atau pendapatan lain.
2. Evaluasi terhadap pengeluaran (cash out flow) yang ber implikasi
terhadap posisi asset atau hutang. Pertambahan pengeluaran tidak
boleh melebihi persentase tertentu dari peningkatan penghasilan.
3. Pertumbuhan asset, asset disini dihitung adalah asset netto yaitu sudah
di kurangi dengan seluruh hutang.

2.7 Langkah-langkah menyikapi hutang dalam keuangan keluarga


Ketika pengeluaran uang melebihi penerimaan uang, maka perlu
dilakukan pencarian dana, dan salah satu alternatifnya adalah dengan hutang.
Hutang adalah dana dari pihak ketiga yang pada waktu jatuh tempo harus
dikembalikan. Hutang memang bisa menjadi dewa penyelamat, tetapi pada
waktu lain hutang bisa menjadi awal malapetaka yang akan
memporakporandakan keuangan keluarga. Hutang bukan hal yang haram
tetapi perlu disiasati dan di sikapi, sehingga tidak akan merusak suatu
keluarga.
Langkah-langkah untuk menyikapi hutang antara lain :

1. Membuat daftar hutang, apakah hutang masih sehat atau sudah


merongrong kehidupan, hutang dikatakan masih sehat kalau total
hutang kurang dari 30 % dari total asset.
2. Cermati penggu naan kartu kredit, penggunaan kartu kredit dengan
pembayaran angsuran plus bunga hanya lazim dilakukan jika dalam
keadaan “darurat” atau mengalami masalah likwiditas (yaitu
kemampuan membayar hutang jangka pendek tepat waktu).
3. Cermati kredit pemilikan rumah dan kredit pemilikan kendaraan,
berapa tahun lagi untuk menyelesaikan kredit dan berapa bunga yang
harus di tanggung.
4. Hutang bukan merupakan hal yang wajar jika pemakaian tidak jelas
dan nilainya sudah mendekati jumlah asset yang dimiliki, maka perlu
melakukan diagnostic kembali hutanghutangnya.
2.8 Pedoman membangun keluarga sejahtera
Keluarga adalah institusi terkecil dalam masyarakat, keluarga
memiliki pengaruh yg sangat besar terhadap keberhasilan pembangunan
sebuah bangsa, hal ini terkait erat dengan fungsi keluarga sebagai wahana
pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Seiring dengan
perkembangan jaman, keluarga diarahkan untuk menjadi keluarga yang
secara sadar dan proaktif berjuangan menjadi keluarga yang sehat, sejahtera,
guna membangun keluarga yang kreatif yaitu keluarga yang mampu
mengenali permasalahan keluarga masing2, mencari alternatif dalam
mengatasi masalah dan secara proaktif merencanakan masa depan sesuai
dengan situasi dan kondisi masing2. Keluarga sejahtera menjadi dambaan
setiap keluarga, untuk mencapai kesejahteraan tersebut berarti keluarga
tercukupi kebutuhan materiil, spiritual , mendapat kesempatan untuk
berkembang sesuai potensi , bakat dan kemampuan masing-masing.
Konsep keluarga sejahtera telah banyak diupayakan dan diberikan
perhatian oleh berbagai pihak khususnya pemerintah dengan berbagai
program, salah satunya adalah Badan Koordinasi Keluarga Berencana yaitu
sejak tahun 1992 dengan disyahkan Undang-Undang No 10 Tahun 1992
tentang “Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
Sejahtera” . Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1994 ,
menempatkan keluarga sebagai agen atau pelaku pembangunan dengan
delapan fungsi utama yaitu : (1) fungsi keagamaan, (2) fungsi budaya, (3)
fungsi cinta kasih, (4) fungsi perlindungan, (5) fungsi reproduksi, (6) fungsi
sosialisasi dan pendidikan, (7) fungsi ekonomi, dan (8) fungsi pemeliharaan
lingkungan. Dengan fungsi tersebut di harapkan keluarga bisa berkembang
menjadi keluarga yang modern, maju, profesional, berkualitas, mandiri dan
mampu mengembangkan dirinya sendiri, anakanaknya dan keluarga yang
lebih luas, sehingaga dapat mengembangkan masyarakat dan bangsa. Dalam
Undang-Undang No 10 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 21
Tahun 1994 tersebut memberikan rincian tentang pedoman umum
Pembangunan Keluarga Sejahtera dalam lima tahap yaitu :
1. Keluarga Pra Sejahtera yaitu keluargakeluarga yang belum dapat
memenuhi kebutuhan dasarnya (basic needs) secara minimal, seperti
kebutuhan akan pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan.
2. Keluarga Sejahtera Tahap I yaitu keluargakeluarga yang telah dapat
memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat
memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologisnya (socio
psychological needs), seperti kebutuhan ibadah, makan protein
hewani, pakaian, ruang untuk interaksi keluarga, dan keadaan sehat,
mempunyai penghasilan, bisa baca tulis latin dan ikut keluarga
berencana.
3. Keluarga Sejahtera Tahap II yaitu keluargakeluarga yang disamping
dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah dapat memenuhi
seluruh kebutuhan sosial psikologisnya, akan tetapi belum dapat
memenuhi keseluruhan kebutuhan pengembangannya
(developentneeds) seperti kebutuhan untuk peningkatan agama,
menabung, berinteraksi dalam keluarga, ikut melaksanakan kegiatan
dalam masyarakat dan mampu memperoleh informasi.
4. Keluarga Sejahtera Tahap III yaitu keluarga yang telah dapat
memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan
kebutuhan pengembangannya, namunbelum dapat memberikan
sumbagan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat, seperti
secara teratur (waktu tertentu) memberikan sumbangan dalam bentuk
material dan keuangan untuk kepentingan sosial kemasyarakatan serta
berperan secara aktif dengan menjadi pengurus lembaga
kemasyarakatan atau yayasan-yayasan sosial, keagamaan, kesenian,
olah-raga, pendidikan dan sebagainya.
5. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus yaitu, keluarga-keluarga yang telah
dapat memenuhi seluruh kebutuhannya, baik yang bersifat dasar,
sosial psikologis maupun yang bersifat pengembangan serta dapat
pula memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi
masyarakat.

Memanage keuangan keluarga penting, karena keuangan keluarga secara


kuantitas dan kualitas dapat bermanfaat bagi keluarga secara maksimal untuk
mencapai keluarga yang sejahtera yaitu tercukupi secara materiil dan spirituil,
dan semua anggota keluarga bisa mengembangkan potensi sesuai dengan
bakat, kemampuan masingmasing. Memanege keuangan keluarga berarti
mengelola semua pendapatan atau penerimaan baik penerimaan rutin
(continue) maupun penerimaan insedentil (intermeten) dan pengeluaran rutin
(continue) dan pengeluaran insedentil ( intermeten).
Pengguanaan /pengeluaran uang/dana tidak boleh melebihi dari
penerimaan uang, sumber dana bisa menggunakan hutang. Management
keuangan keluarga yang baik, ketika penggunaan dana harus disesuaikan
dengan semua sumber dana yang ada secara seimbang sesuai rencanan dan
pemanfaatan, antara realisasi dan target seyogyanya sesuai dan realistis, dan
secara periodik perlu melakukan perenungan dan introspeksi terhadap
keuangan keluarga, hal ini semua akan berdampak pada , yang akhirnya dapat
mencapai keluarga sejahtera yang menjadi dambaan semua orang /keluarga.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi pada
sistem keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar
anggota keluarga disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui beberapa
tahapan atau kurun waktu tertentu.Pada setiap tahapan mempunyai tugas
perkembangan yang harus dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui
dengan sukses
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan,
kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan
budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta
sosial dari tiap anggota keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal,
sifat, kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi
tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola
perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat
Daftar pustaka

1. Baron, R. A dan Donn Byrne. 2003. Psikologi Sosial. Jakarta:


Erlangga
2. Richard R Clayton. 2003. The Family, Mariage and Social Change.
3. Paul B. Horton. 1987.Sosiologi. Jakarta:Erlangga
4. Anita L. Vangelis.2004.Handbook of Family Comunication. USA:
Lawrence Elbraum Press.
5. Jhonson, C.L. 1988. Ex Familia. New Brunswick: Rutger University
Press
6. PP RI No 21 Tahun 1994 Tentang Penyelenggaraan Pembangunan
Keluarga Sejahtera 2 Ali, H.Zaidin.2010.Pengantar Keperwatan
Keluarga. Jakarta: EGC