Anda di halaman 1dari 5

MISYKAT, CAPING RASA SYAR’I NAN ISLAMI

Judul : Misykat; Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi dan Islam 1

Penulis : Hamid Fahmi Zarkasyi

Penerbit : INSIST - MIUMI

Terbit : Oktober 2018

ISBN : 978-602-19985-0-2

Tebal : 302 + xxx halaman

Buku yang tidak begitu tebal (hanya berkisar 300 halaman) ini dibuka dengan 3 judul tulisan
yang bukan hanya singkat, memang hanya satu kata. Barat, Timur, Tuhan dan Agama. dari
keempat judul dan intisari keempat bahasan inilah Misykat kemudian dibangun. Hampir
keseluruhan buku ini adalah bahasan tentang hubungan keempat elemen tersebut.

Pada kebanyakan buku yang membahas tentang Tuhan dan Agama kita akan temukan banyak
sekali kutipan dalil dari kitab suci. Bagi yang terbiasa dengan pola ini, mungkin akan kecewa
dengan Misykat. Sebab Misykat tidak mengangkat sudut pandang agama sebagai pisau
pembedah sebuah gagasan. Ia justru mencoba memakai pisau pemikiran dan gagasan
ilmuwan dan tokoh pemikir ‘Barat’ untuk membedah suatu gagasan.

Misykat yang ditulis Hamid Fahmi Zarkasyi atau yang akrab disebut Gus Hamid seperti ingin
menunjukkan bahwa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres dengan pemikiran ala ‘Barat’.
Terutama kaitannya dengan analisis di bidang agama, termasuk Islam. Maka ia mencoba
menggunakan pisau pemikir Barat untuk mengupas habis kesalahan-kesalahan itu dengan
pemikiran Barat juga.

Saat membedah tentang Barat, misalnya. Gus Hamid memulai telaahnya dengan cerita
tentang David Thomas, seorang pendeta dan Profesor Teologi di Selly Oak College, Universitas
Brimingham tempat ia menyelesaikan studi S2 filsafatnya. David yang pendeta itu, rupanya
juga tidak terlalu gembira dengan dunia Barat beserta pemikirannya (Western Civilization).
Sebabnya menurut David, Barat tidak selalu identik dengan Kristen. Melalui cerita singkat ini
Gus Hamid merekontruksi total pemahaman umat Islam Indonesia khususnya, yang selalu
mengidentikkan Barat dengan Kristen. David justeru menyebut bahwa Kristen kini telah
dibaratkan.

Dengan gesit, Gus Hamid lalu mengupas lebih dalam tentang alam pemikiran Barat. Ia
mengutip Nietzsche si Pembunuh Tuhan yang masyur itu. “Sejarah barat adalah sejarah
pencarian keberan,” tutur Gus Hamid.

“Tapi mencari kebenaran di Barat lebih penting dari kebenaran itu sendiri,” tegasnya.

Itulah mengapa perkembangan pemikiran terus bergulir di Barat. Dari perode ketuhanan yang
akhirnya dibunuh, lalu diangkatlah rasioalisme. Kini rasionalisme dikembangkan pula menjadi
liberalisme. Ide tentang kebebasan yang menjanjikan kesetaraan (equality) ini dalam
prakteknya justeru tidak mentolelir ide-ide yang dianggap tidak liberal. “You are with us or
against us”.

Ide tentang modernisasi lalu berkembang dengan doktrin empirisme. Namun modernisasi
yang berciri liberalisme dan empirisme itupun belum cukup bagi Barat untuk meraih
kebenaran. Kini era pmkiran yang menjanjikan equality atau kesetaraan bagi semua itu,
justeru melahirkan doktrin kesamaan bagi semua. Semua pendapat adalah benar, tergantung
dari sudut mana memandangnya. Maka tidak ada kebenaran mutlak di dunia, semua relatif.

Pemikiran Barat inilah yang kemudian marak dipakai untuk membedah Agama-agama,
termasuk Islam. Gemerlap pencapaian Barat seperti menggiurkan, namun di akhir Gus Hamid
menukik dengan peringatan yang nyata. Orang yang ingin Islam maju, lalu malah menjadi
Barat, bukan menjadi Islam, harusnya mengingat kembali cerita tentang keluhan David. Islam
yang terlihat maju itu, sebenarnya mungkin telah terbaratkan.

Gaya penulisan esai dengan metode bercerita seperti ini hampir menjadi pembangun utama
tulisan dalam buku ini. Bentuk tulisan semacam ini akan mengingatkan kita pada Catatan
Pinggir (Caping) milik Goenawan Mohammad (GM). Dari metode judul, gaya tutur dan juga
kutipan-kutipan dari berbagai literatur yang kadang sangat asing bagi telinga pembaca awam
ini khas Caping. Tentu dengan pemahaman dan dasar berpikir yang berbeda.

Tentang Ateis, misalnya. Keduanya sama-sama membuka dengan cerita. Misykat membuka
dengan cerita tentang pembunuhan Tuhan oleh Nietszche sedang GM membukanya dengan
Cerita tentang Hasan dalam Novel Ateis karya Achdiat K. Mihardja.

Caping Ateis itu oleh GM ditutup dengan kesimpulan bahwa sumbangan novel Atheis kepada
zaman ini adalah mengisahkan tragisnya sebuah iman yang sebenarnya sebuah ketakutan.
Dalam Misykat, Gus Hamid memandang bahwa tuhan adalah Fitrah bagi manusia. Maka
dalam Misykat, pembunuhan Tuhan oleh Nietszche itu sejatinya adalah bunuh diri spiritual
(spiritual suicide).

Sebagaimana membaca Caping, saat membaca Misykat pembaca selalu diajak untuk
merenung, memikirkan kembali dan merekontruksi pemikiran. Namun, adakalanya pembaca
menjadi terlalu takjub dengan kutipan yang diambil, yang kadang nama tokoh yang dikutip
tidak pernah kita dengar sekalipun sebelumnya. Oleh karena itu tidak salah jika Misykat
sebagaimana Caping, semacam makanan penuh gizi. Atau mungkin juga ia adalah obat itu
sendiri, yang seringnya kita asing dengan istilahnya, namun betul berfungsi menyembuhkan
dan menyehatkan (bagi pikiran).

Bagian paling menarik dari Misykat adalah fakta bahwa belum banyak, terutama cendekiawan
muslim di Indonesia yang menulis tentang Islam sebagaimana Misykat ditulis. Kebanyakan
bahasan tentang agama, membedah pemikiran Barat dengan gaya tutur yang formal sehingga
menimbulkan reaksi penolakan total sehingga muncul penolakan di pihak yang no-Islam.
Sebagian lagi memandang Barat dalam bingkai Glorifikasi total sehingga semua pisau
pemikiran dipakai bukan hanya untuk mengupas Agama, bahkan sampai menelanjanginya.

Gus Hamid melalui Misykat berhasil mendudukkan Barat dalam porsi yang semestinya dan
sejujurnya. Mengoreksi kesalahan Barat sekaligus kesalahan konsep Islam yang telah
dibaratkan. Misykat sesungguhnya memuat pula peringatan nyata dari Agama-agama yang
telah menjadi korban pembaratan (westernisasi) dan Liberalisasi. Menjamurnya paham Islam
Liberal menjadi titik tembak semua bahasan dalam Misykat.
Memang harus diakui bahwa periode tulisan Gus Hamid yang dikumpulkan sejak 2009 – 2012
ini belum bisa menandingi Caping. Sentralisasi topik yakni hanya dibidang agama saja,
membuatnya tidak seluas bahasan dalam Caping. Namun demikian Misykat tetap renyah
untuk dilahap baik penganut Islam Kaffah maupun penganut liberalisme kaffah sekalipun.

Jika Caping karya GM itu cenderung bernuansa nihilis, barangkali Misykat inilah versi Caping
yang Syar’i dan Islami.
Imam B Carito, merupakan salah satu penulis lepas yang lahir
di Kota Batik Pekalongan 9 November 1991. Gemar membaca
dan menonton genre Science Fiksi dan Non-Fiksi. Menulis
feature dan esai di media online alternatif. Menulis berita
sebagai wartawan lepas di Satubanten News Online, bergiat di
Komunitas Rumah Buku Cilegon dan Yayasan Rumah Kolong
Langit.

Dapat dihubungi melalui :

Email : imam.carito@gmail.com

FB : Imam Cahrtego (https://web.facebook.com/chartego )

IG : @imam.carito (https://www.instagram.com/imam.carito/)

Tw : @imam_chartego (https://twitter.com/Imam_Chart)

HP : 085211404014