Anda di halaman 1dari 123

Modul Farmakologi 1

MODUL I

KONSEP DASAR OBAT

Pendahuluan

Farmakologi adalah ilmu tentang obat-obatan. Karena hampir keseluruhan


tindakan keperawatan memerlukan obat maka sangatlah penting bagi perawat memiliki
ilmu tentang obat-obatan.

Setelah mempelajari modul 1 ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


tentang farmakologi, bagian-bagaian ilmu farmakologi, dan obat itu sendiri.

Modul 1 ini berjudul konsep dasar obat.

Konsep Dasar obat


Assalamuaikum, semoga anda selalu sehat dan penuh semangat dalam mempelajari
Modul farmakologi ini. Mulailah belajar secara berurutan dimulai dari Kegiatan Belajar
I berikut ini. Berikut disajikan bentuk kegiatan belajar 1 sebagai pengetahuan dasar bagi
Anda untuk memahami farmakologi. Pada kegiatan belajar 1 ini akan memberikan
pemahaman mengenai konsep dasar obat diantaranya pemahaman tentang pengertian ,
tentang farmakologi, cabang farmakologi, dan obat.

Farmakologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu pharmacon (obat) dan logos logos
(=ilmu pengetahuan). Sehingga farmakologi dapat didefinisikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari segala sesuatu tentang obat. Ada juga yang yang
mengartikan sebagai suatu cabang ilmu yang mempelajari sejarah, sumber, sifat-sifat
kimia dan fisik, komposisi, efek fisiologi dan biokimia, mekanisme kerja, absorpsi,
distribusi, biotansformasi, eksresi dan penggunaan obat; atau studi tentang bahan-bahan
yang berinteraksi dengan sistem hidup melalui proses kimia

Pengertian yang lain menyebutkan bahwa farmakologi merupakan ilmu tentang


obat dan efeknya pada sistem biologi. Farmakologi memperlajari hal-hal sebagai berikut
:
Modul Farmakologi 2

• Aksi dari bahan kimia alam dalam tubuh


• Asal dan sumber obat
• Struktur kimia dan sifat fisik obat
• Mekanisme aksi obat
• Metabolisme dan ekskresi obat
• Studi tentang aksi obat pada seluruh hewan, organ tertentu, jaringan dan sel, enzim,
DNA, dan komponen lain sel
• Studi tentang aksi obat pada tubuh manusia dan penggunaannya dalam pengobatan.

Beberapa cabang ilmu farmakologi :

1. Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, memformulasikan,


menyimpan, dan menyediakan obat.
2. Biofarmasi adalah pengetahuan ttg pengaruh formulasi terhadap efek terapi
3. Farmakognosi adalah pengetahuan / pengenalan obat atau zat aktif asal tumbuhan,
hewan dan mineral
4. Biofarmasetik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara sifat fisika kimia obat,
bentuk obat diberikan, dan rute pemberian terhadap absorpsi sistemik.
5. Farmakokinetik adalah ilmu tentang perjalanan obat meliputi absorpsi, distribusi,
metabolism, dan eliminasi.
6. Farmakokinetik klinik adalah pendekatan multidisiplin untuk mengoptimalisasi
strategi dosis obat yang didasarkan pada penyakit pasien dan pertimbangan spesifik
lainnya.
Setelah obat diminum,maka akan terjadi proses obat dalam tubuh berupa :
7. Fase biofarmasi/farmasetik
Obat setelah diminum akan mengalami beberapa fase, yaitu :
a. Fase farmaseutik : obat diminum dan mengalami fase disintegrasi dan disolusi.
8. Disintegrasi : pemecahan tablet atau pil menjadi partikel-partikel yang lebih
ekcil dalam cairan gastrointestinal untuk diabsorpsi
9. Disolusi : obat didisintegrasi menjadi partikel kecil supaya larut dalam cairan
b. Fase Farmakokinetik
c. Fase Farmakodinamik

Latihan
Modul Farmakologi 3

1. Jelaskan alasan mengapa perawat mesti mempelajari farmakologi!


2. Jelaskan pengertian farmakologi !
3. Jelaskan cabang-cabang ilmu dalam farmakologi !

Petunjuk Jawaban Latihan

1. Lihat penjelasan pentingnya farmakologi


2. Lihat uraian ilmu farmakologi
3. Lihat penjelasan cabang-cabang ilmu dalam farmakologi

Rangkuman
1. Farmakologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segala sesuatu tentang obat
2. Farmakologi memiliki cabang ilmu biofarmasi, farmakognosi, biofarmasetik,
farmakokinetik, farmakodinamik, toksikologi, dan lain-lain.
Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :

90 – 100% = Baik sekali

80- 89% = Baik

70 – 79% = Cukup
Modul Farmakologi 4

<70% = kurang

Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 5

MODUL II
FARMAKOKINETIK DAN FARMAKODINAMIK

Pendahuluan
Assalamualaikum warahamtullahi wabaraokaatuh. Adek-adek semua yang
berbahagia. Hari ini kita akan belajar tentang farmakoninetik dan farmakodinamik obat.
Farmakokinetik adalah deskripsi matematis laju dan besar ambilan, distribusi,
serta eliminasi obat di dalam tubuh. Disebut juga sebagai fase yang memotret perjalanan
obat di dalam tubuh sejak saat pemberian hingga keluar dari tubuh. Atau disebut juga
sebagai aksi tubuh terhadap obat
Fase ini akan menjawab apakah obat tersebut sampai pada tempat kerja yang
dikehendaki (absorpsi dan distribusi), ataukah apakah obat tsb keluar dari tubuh
(eliminasi) dan apakah terdapat resiko akumulasi dan toksisitas.
Pada fase farmakokinetik, terjadi beberapa proses, yaitu:
a. Absorpsi
b. Distribusi
c. Metabolisme
d. Ekskresi

Absorpsi

Apapun rute pemberian obat, obat terlebih dahulu harus mencapai tempat aksi obat.
Obat akan melewati beberapa membran sel untuk mencapai peredaran darah.

Absorpsi merupakan proses yang membuat obat tersedia di dalam cairan tubuh untuk
didistribusikan.

Ada tiga cara obat melewati membrane, yaitu difusi sederhana, difusi terfasilitasi, dan
transport aktif.

a. Difusi Sederhana

Merupakan mekanisme yang mana sebagian besar melewati memberan sel. Difusi
sederhana dan difusi terfasilitasi merupakan mekanisme pasif yang tidak
memerlukan tambahan energy dari luar, hanya energy kinetic dari molekul itu
sendiri.
Modul Farmakologi 6

Beberapa factor yang memperngaruhi difusi adalah :

• Membran sel mesti permiabel terhadap obat

• Harus terdapat perbedaan konsentrasi

• Ukuran dan berat molekul harus kecil

• Diperlukan luas permukaan yang besar untuk difusi yang efisien

• Diperlukan jarak yang pendek untuk difusi yang efisien

• Sifat fisika kimia obat

• Besar partikel

• Sediaan obat

• Dosis

• Rute pemberian dan t4 pemberian

• Waktu k kontak dgn permukaan absorbsi

• Besarnya luas permukaan yg mengabsorbsi

• Nilai ph dlm darah yg mengabsorbsi

• Integritas membran

• Aliran darah yg mengansorbsi

• Tempat absorpsi

Dalam prakteknya, terdapat perbedaan konsentrasi obat yang diberikan dalam jumlah
yang cukup, kebanyakan obat dapat diabsorpsi dengan bantuan luas permukaan yang
besar dan jarak yang pendek.

.
Modul Farmakologi 7

Gambar 1. Mekanisme transport membran

b. Difusi terfasilitasi

Sebagian besar nutrisi dan sebagian kecil obat menggunakan proses ini. Molekul
akan dibawa oleh protein membrane yang berfungis sebagai carier. Protein
cariernya spesifik. Glukosa memasuki tubuh melewati proses ini dan jauh lebih
efisian dari difusi sederhana.

c. Transport aktif

Transport aktif juga melibatkan protein pembawa. Perbedaannya dengan difusi


adalah diperlukannya energy ATP (adenosine tripospat) untuk membawa proses
dan melawan perbedaan konsentrasi.

d. Absorpsi dari Saluran Cerna

Karena sebagian besar obat diberikan secara oral, maka absorpsi dari saluran
cerna perlu diketahui. Saluran cerna mulai dari mulut dan berakhir pada rectum
dan anus melibatkan pancreas dan hati.

Makanan masuk dan dikunyah di mulut, dan kemudian melalui kerongkongan


dibawa ke lambung. Makanan dan obat akan bertahan di lambung selama 2-4
jam sebelum dibawa ke usus halus. Di lambung, asam lambung dan enzim akan
mempengaruhi obat dan makanan. Di usus halus, juga terdapat banyak enzim.
Karena permukaan usus halus yang panjang, maka proses di tempat ini
merupakan factor yang penting. Di usus halus, terdapat enzim dari pancreas dan
sodium bikarbonat yang akan menetralisisr asam lambung dan mengemulsifikasi
lemak.
Modul Farmakologi 8

Gambar 2. Organ Saluran Cerna

Setelah makanan diabsorpsi pada usus halus, maka akan melewati hati sebelum
menuju organ yang lain. Maka obat dan makanan mengalami metabolism, yang
disebut first pass metabolism. Proses ini akan mengakibatkan perubahan pada
makanan dan obat.

Transport obat secara aktif terjadi pd sel saraf, hati, & tubuli ginjal. Pinositosis adalah
cara transport dengan membentuk vesikel, misalnya misalnya makromolekul seperti
protein. Difusi terfasilitasi suatu proses transport yang terjadi dengan bantuan suatu
faktor pembawa yg merupakan komponen membran sel tanpa menggunakan energi

Terdapat hal-hal yang mempengaruhi proses absorpsi, yaitu cara pemberian, formulasi,
cara molekul obat bergerak melintasi membran sel di seluruh tubuh . Transport litans
membrane harus emlewati membrane yang terdiri atas dua lapis lemak yg membentuk
fase hidrofil di kedua sisi membran dan fase hidrofobik diantaranya.

Obat yang diberikan terserap dari tempat pemberian, masuk sirkulasi sistemik. Akan
terdapat % dosis terabsorbsi dan kecepatan proses (laju absorbsi).

Membran GI terdiri dari lipid dan protein, shg obat yang larut dalam lemak cepat
menembus membran GI. Obat yg larut air memerlukan carier, baik berupa enzim atau
protein, untuk melalui membran.Partikel besar menembus membran jika telah menjadi
tidak bermuatan. Obat yg larut dalam lemak dan tidak bermuatan diabsorpsi lebih cepat
Modul Farmakologi 9

daripada yg larut air dan bermuatan.Obat yg larut dalam lemak dan tidak bermuatan
diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang larut dalam air dan bermuatan

Absorpsi juga dipengaruhi aliran darah, rasa nyeri, stres, kelaparan, makanan dan pH.

Sirkulasi yg buruk akibat syok, obat vasokonstriktor, atau penyakit yang merintangi
absorpsi. Rasa nyeri, stres, dan amkanan yang padat, pedas, dan berlemak dapat
emmperlambat masa pengosongan lambung, sehinggaa obat menjadi lebih lama dlm
lambung.

Sifat fisiko kimia obat yang menentukan cara transport yi : ukuran molekul, kelarutan
dlm air, derajat ionisasi, dan kelarutan dalam lemak.

Gambar 3. Kurva konsentrasi obat pada pemberian single oral

MEC :minimum effective concentration, minimum concentration of drug needed at the


receptors to produce the desired pharmacologic effect. MTC : minimum toxic
concentration, the drug concentration needed to just barely produce a toxic effect.
Onset, the time required for the drug to reach the MEC. Duration: the difference
between the onset time and the time for the drug to decline back to the MEC. Peak
plasma level : maximum drug concentration. Time for peak plasma level. Area Under
the Curve (AUC) ; itd related to the amount of the drug absorbed systemically. Intensity
of pharmacologic effect : proportional to the number of the drug reseptor occupied

Tabel 1. Faktor yang memperngaruhi absorpsi


Modul Farmakologi 10

Distribusi

Distribusi adalah perjalanan obat ke seluruh tubuh. Adalah proses dimana obat menjadi
berada dalam cairan tubuh dan jaringan tubuh atau Adalah perjalanan obat ke seluruh
tubuh

Proses dstribusi dipengaruhi oleh :

1. Pengikatan protein plasma

2. Kelarutan obat dalam lipid

3. Sifat keterikatan obat

4. Aliran darah ke dalam organ dan keadaan sirkulasi

5. Stadium dalam proses kehidupan, mis : kehamilan, bayi

6. Kondisi penyakit, mis : preeklampsia atau gagal jantung

Distribusi terdiri atas 2 fase, yaitu :

- fase 1 : segera setelah absorbsi, ke organ ferfusi baik : jantung, hati, ginjal, otak

- fase 2 : ke otot, visera, kulit, jaringan lemak


Modul Farmakologi 11

Ditentukan juga oleh ikatan plasma, hanya yang bebas yang dapat berdifusi. Distribusi
ke SSP hrs tembus sawar darah-otak, ke janin, tembus sawar uri.

Hanya obat yang bebas atau yg tidak berikatan dgn protein yg bersifat aktif dan dapat
menimbulkan efek farmakologik. Dgn menurunnya kadar obat bebas dlm jaringan,
maka lebih banyak obat yg berada dalam ikatan dibebaskan dari ikatannya degn protein
u menjaga keseimbangan dari oabt yg dalam bentuk bebas.

METABOLISME (biotransformasi)

Metabolisme adalah proses perubahan struktur kimia obat di dalam tubuh, dikatalisis
enzim.

Proses yang terjadi :

- Molekul obat menjadi lebih polar

- Obat lebih mudah larut dalam air

- lebih mudah dieksresi via ginjal

Bentuk dan sifat obat berkaitan dengan metabolisme :

Umumnya obat dimetabolisme menjadi tidak aktif = akhir kerja obat. Beberapa
metabolit masih aktif, efek obat lama, cenderung toksik. Ada obat asal tidak aktif,
menjadi metabolit aktif (prodrug)

Reaksi Biokimia yang terjadi :

• fase I : oksidasi, reduksi dan hidrolisis mengubah obat menjadi metabolit yang
lebih polar, inaktif, kurang aktif atau lebih aktif dari senyawa aslinya.

• Fase II : konyugasi obat dgn substrat endogen

Biotransformasi obat dikatalisis oleh enzim mikrosomal hati

• Fase II

Sintesis, Konjugasi dgn substrat endogen. Mengakibatkan molekul obat menjadi

- lebih polar

- mudah terionisasi

- mudah terekskresi
Modul Farmakologi 12

Sebagian besar metabolisme obat berlangsung di hati, ekdnati traktus GI mempunyai


enzim untuk metabolisme obat (detoksifikasi). Tahap yang terjadi adalah produk
Produk pencernaan ditransformasix o metabolisme atau detoksifikasi dan kemudian
metabolitx dibuat larut dlm air dan dieksresi lwt ginjal

Ekskresi

Merupakan pengeluaran obat dari tubuh dalam bentuk asal atau metabolit.

Organ Ekskresi Hasil ekskresi

Kulit keringat

Paru-paru ekspirasi

Ginjal urin

Mamae ASI

Mulut Saliva

Sebagian besar obat menghilang dari plasma melalui proses yang bergantung
konsentrasi, yang menghasilkan kinetika orde pertama. Pada eliminasi orde pertama,
persentase obat yg hilang per satuan waktu adalah kosntan. Konstanta kecepatan
eliminasi adalah ke (satuannya adalah l/waktu),merupakan periode waktu yg diperlukan
untuk konsentrasi suatu obat berkurang separuhnya.

T1/2 = 0,693/ke
Modul Farmakologi 13

Gambar 4. Kurva eliminasi obat

Obat bebas, yg tidak berikatan, yg larut dlm air, dan obat yg tidak diubah,
difiltrasi oleh ginjal dan obat yg berikatan dgn protein tidak difiltrasi. Sekali
obat dilepaskan oleh protein, maka obat menjadi bebas dan akhirnya akan
diekkresikan melalui urin

pH urin mempengaruhi ekresi obat. pH urin : 4,5 – 8. Urin yg asam


meningaktkan eliminasi obat yg basa lemah. Aspirin, sautu asam lemah, diekresi
dgn cepat dlm urin yg basa. Jika minum aspirin berlebih, Na bikarbonat dpt
diberikan u mengubah pH urin menjadi basa. Juice berry dlm jumlah banyak dpt
menurunkan pH urin, urin jd asam

Dengan pemberian dosis ganda atau infus kontinyu, suatu obat akan
berakumulasi sampai jumlah yg diberikan per satuanw aktu sama dengan jumlah
yg dieliminasi per satuan waktu. Konsentrasi plasma pada titik ini disebut
konsentrasi keadaan tunak (steady state/Css)
Modul Farmakologi 14

Gambar 5. Konsentrasi Tunak

 Pada keadaan tunak, kecepatan infus = kecepatan eliminasi.

 Untuk infus iv:

Css = kecepatan infus (mg/menit) = mg/ml

bersihan (ml/menit)

Dosis berulang menimbulkan kosnentrasi plasma puncak dan konsentrasi plasma


terendah. Dengan dosis berulang, konsentrasi fluktuasi di sekitar mean (nilai
keadaan tunak). Tujuan : konsentrasi tetap berada dalam jendela terapi.
Bergantung pda waktu paruh obat. Sembilan puluh persen keadaan tunak
diacapai dalam 3,3 kali waktu paruh. Jika waktu paruh lama, waktu yg
diperlukan untuk konsentrasi oabt mencapai tunak akan lama. Dibutuhkan
loading dose (dosis muatan)

Loading dose : suatu dosis besar obat yang digunakan untuk menaikkan
konsentrasi plasma sampai akdar terapeutik secara lebih cepat daripada yang
akan diperoleh dengan dosis berulang yg lebih kecil.

Gambar 6. Kurva konsentrasi plasma obat terhadap waktu pemberian bolus iv


Modul Farmakologi 15

Gambar 7. Kurva konsentrasi finfus intermitten

Gambar 8. Kurva konsentrasi gabungan bolus dan intermitten

kontinue

Gambar 9. Kurva konsentrasi bolus iv dan iv

A : bolus iv

B : iv kontinu
Modul Farmakologi 16

C : bolus +kontinu pada waktu 0

Sebagian besar lewat ginjal, tp bs lwt empedu. Proses:Laju filtrasi


glomerulus/glomerular filtration rate (GFR) n sekresi serta reabsorpsi tubuler. GFR
diperkirakan dgn konsentrasi kreatinin dlm serum

Waktu paruh eliminasi : waktu yg diperlukan u penurunan konsentrasi obat tersebut dlm
darah atau plasma hingga separuh dari nilai maksimum

Gambar 10. Hubungan antara absorpsi, distribusi, pengikatan, biotransformasi, dan


eksresi obat serta aksinya pada tempat kerja

Bioavaibilitas

Pengertian bioavaibilitas adalah “ the rate and extent to which the active ingredient or
active moiety is absorbed from the drug product and becomes available at the site of
action” atau jumlah obat, dlm persen thd dosis, yg mencapai sirkulasi sistemik dalam
bentuk utuh/aktif . Tdk semua yg diabsorpsi ax capai sirkulasi sistemik

Farmakodinamik

Farmakodinamik merupakan hubungan antara konsentrasi obat pada reseptor


dan respon farmakologi, termasuk efek biokimia dan psikologi yang mempengaruhi
interaksi obat dan reseptor. Disebut juga sebagai kegiatan obat terhadap organisme
hidup atau aksi obat terhadap tubuh interaksi dengan reseptor.

Mempelajari efek obat thd fisiologi dan biokimia seluler dan mekanisme kerja
obat. Respon obat dpt menyebabkan efek fisiologis primer atau sekunder atau kedua-
duanya. Efek primer adalah efek yg diinginkan, dan efek sekunder bisa tidak diinginkan
atau tidak diinginkan
Modul Farmakologi 17

Suatu reseptor obat adalah suatu makromalekul target khusus yg mengikat suatu
obat dan memediasi kerja farmakologis obat tsb. Reseptor dpt berupa enzim, asam
nukleat, atau protein terikat-membran khusus. Pembentukan kompleks obat-reseptor
menghasilkan suatu respon biologis. Besar respon sebanding dgn jumlah kompleks obat
–reseptor. Semakin baik suatu obat berikatan dgn reseptor, maka obat tsb semakin aktif
secara biologis.

Gambar 11. Teori kunci-anak kunci

Efek fisiologik – biokimiawi obat terhadap tubuh serta mekanisme kerjanya. Terutama
berhubungan dengan reseptor. Kebanyakan kerja via interaksi dengan reseptor spesifik,
disebut reseptor fisiologik

A. Mekanisme Kerja Obat

1. Efek obat karena adanya interaksi obat dgn reseptor

2. Interaksi tsb → perubahan biokomiawi & fisiologi

Komponen → protein (asetilkolinesterase, tubulin )

RESEPTOR OBAT

Asam nukleat merupakan reseptor untuk obat sitostatika

Macam ikatan obat dengan reseptor :

• Ikatan Ion

• Ikatan Hidrogen

• Ikatan Hidrofobik
Modul Farmakologi 18

• Ikatan Van Der Walls

• Ikatan Kovalen

Intensitas efek berbanding lurus dengan fraksi reseptor yang terikat. Intensitas
efek maksimal jika seluruh fraksi reseptor terikat

AGONIS ADALAH OBAT YG MEMILIKI AFINITAS MAUPUN


AKTIFITAS INTRINSIK atau suatu senyawa yang berikatan dgn suatu reseptor
dan menghasilkan resepon biologi

ANTAGONIS : SENYAWA YG MENURUNKAN ATAU MENCEGAH


SAMA SEKALI EFEK AGONIS atau menghambat respon

Suatu agonis dpt berupa obat atau ligan endogen u reseptor. Peningkatan
konsentrasi agonis akan meningkatkan respon biologis sehinggga tidak ada lagi
reseptor yg dpt mengikat agonis atau respon maskimal telah tercapai.

Suatu agonis parsial menghasilkan respon biologis, tp tdk dapat menghasilkan


100% respon biologis meskipun pada dosis yg sangat tinggi.

Obat yg bekerja pada reseptor di beberapa tempat berbeda disebut nonspesifik


(non spesifitas)

Obat yg mempengaruhi beberapa reseptor disebut non selektif

Tabel 3. Contoh obat non spesifik

Obat Tempat reseptor kolinergik Respon-respon

Betakonakol Jantung Menurunkan denyut jantung


(Urecholine) Pembuluh Darah Menurunkan tekanan darah

Lambung Meningkatkan sekresi


lambung
Bronkus
Menyempitkan bronkiolus
Mata
Mengecilkan pupil mata
Modul Farmakologi 19

Kerja obat tanpa reseptor

1. Mengubah sifat cairan tubuh

a. Perubahan sifat osmotik

b. Perubahan sifat asam/basa

2. Berinteraksi dengan ion atau molekul kecil

a. EDTA yg mengikat Pb menjadi kelat yg inaktif pd keracunan Pb

b. Dimerkaprol pada keracunan logam berat

1. Reseptor untuk neurotransmiter

2. Reseptor yg berhubungan dgn adenilsiklase

3. Reseptor kanal kalsium

4. Reseptor hormon steroid

5. Reseptor hormon peptida

Kajian Keperwatan

1. Obat dlm bentuk cair diabsorpsi lebih cepat drpd dalam bentuk padat

2. Kaji tanda-tanda dan gejala-gejala dr toksisitas obat jk diberikan dua obat yg


berikatan tinggi dgn protein.

3. Kaji efek samping obat non spesifik, spt atropin


Modul Farmakologi 20

Gambar 12. Kurva persen efek pada obat agonis penuh dan parsial

Efikasi adalah respon maksimal yang dapat dihasilkan suatu obat. Potensi : dosis suatu
obat yang diperlukan untuk mencapai 50% efek teapeutik yg diinginkan. Ini yang
disebut ED 50 (dosis efektif)

Gambar 13. Kurva persen efek pada beberapa jenis obat

 Obat A menghasilkan eradikasi sempurna kontraksi ventrikel prematur pada


dosis 10 mg.

 Obat B menghasilkan eradikasi sempurna pada dosis 20 mg.

 A lebih poten dibanding B.

 Obat C hanya mengurangi PVC hanya sebesar 60%, dan memerlukan dosis 50
mg untuk emncapai efek tersebut.

 Obat C mempunyai efikasi dan potensi lebih kecil dalam mengurangi PVC
dibandingkan obat A dan B.
Modul Farmakologi 21

Gambar 14. Kurva konsentrasi obat oral dan iv

Ketersediaan hayati = AUC oral

AUC iv

Latihan

1. Apakah perbedaan farmakokinetik dan farmakodinamik?

2. Bagaimana proses yang terjadi dalam tubuh sejak obat diminum?

3. Gambarkan kurva farmakodinamik obat!

4. Apa yang dimaksud dengan ketersediaan hayati?

Petunjuk Latihan

1. Pelajari bahasan tentang pengertian farmakokinetik dan farmakodinamik

2. Pelajari proses obat dalam tubuh

3. Perlajari kurva farmakodinamik obat

4. Pelajari tentang ketersediaan hayati

Rangkuman
1. Farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari perjalanan obat dlaam tubuh (aksi
tubuh terhadap obat.
2. Farmakodinamik adalah ilmu yang mempelajari aksi obat terhadap tubuh
3. Proses obat dalam tubuh adalah absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
Modul Farmakologi 22

menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :

90 – 100% = Baik sekali

80- 89% = Baik

70 – 79% = Cukup

<70% = kurang

Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 23

MODUL III

PERHITUNGAN DOSIS DAN TETESAN INFUS

Pendahuluan

Hari ini kita akan belajar tentang perhitungan dosis dan tetesan infus. Sesi ini akan
banyak bersinggungan dengan perhitungan sehingga memerlukan perhatian yang lebih.

Review matematika dan aritmatika

Untuk dapat mempersiapkan obat dan menghitung takaran/ukuran obat sesuai


isntruksi dokter, seorang perawat/bidan harus mempunyai dasar pengetahuan aritmatika
dan matematika.

Angka Romawi

Angka romawi banyak digunakan dalam menulis resep dan dosis obat

Tabel 5. Konversi angka romawi dan angka arab

Angka Romawi Angka Arab

I 1

V 5

X 10

L 50

C 100

D 500

M 1000

Cara menghitung angka romawi adalah bila suatu angka romawi dikuti oleh angka
romawi yang nilainya lebih besar, maka nilainya ditentukan dengan cara mengurangi
angka romawi yang besar dengan yang kecil. Bila suatu angka romawi diikuti angka
Modul Farmakologi 24

yang lebih kecil, maka nilainya ditentukan dengan cara menjumlahkan nilai yang kecil
pada yang besar.

Contoh :

a. IX = (10-1) =9

b. LXI = (50+10+1) = 61

Pada angka yang menggunakan dua atau tiga huruf yang sama, amka nilainya
ditentukan dengan menambahkan

Contoh :

a. III =3

b. MMLX = 2060

Bila suatu angka diletakkan diantara dua huruf yang lebih besar maka angka yang
nilainya lebih rendah ini mengurangi nilai angka yang mengikutinya.

Contoh :

a. XIV : (10+5-1) = 4

b. CXLIIV : (100+50-10+5-1)= 144

Pecahan

Pecahan merupakan suatu bagian dari suatu keseluruhan misalnya 2/3 berarti 2 dari 3
bagian yang sama.

Secar rinci pecahan terdiri dari beberapa macan, yaitu ;

1. Pecahan sempurna, yaitu pecahan dimana nilai pembilang lebih kecil daripada
nilai penyebut, misalnya ½

2. Pecahan tidak sempurna merupakan pecahan dimana pembilang lebih ebsar


daripada penyebut, misalnya 7/4

3. Pecahan kompleks merupakan pecahan dimana pembilang atau penyebutnya


merupakan pecahan, misalnya (1/2)/5

4. Pecahan decimal merupakan pecahan yang mempunyai penyebut 10 atau


perkalian sepuluh; missal 100, 1000 dst
Modul Farmakologi 25

5. Bilangan campuran merupakan gabungan antara angka bulat dengan pecahan,


misalnya 5 2/5

Perbandingan

Perbandingan merupakan suatu hubungan antara jumlah suatu bilangan dengan bilangan
yang lain. Perbandingan menunjukkan suatu pemabgian yang dapat ditulis dengan
bilangan pecahan, misalnya rasio 1 : 4 dapat ditulis menjadi ¼.

Prosentase

Prosentase dinaytakan dalam lambing % mempunyai arti bagian dari seratus atau
perseratus. Prosentase merupakan bilangan pecahan yang mana angka pembilang selalu
ditulis, dan angka penyebutnya adalah 100. Prosentase dapat dinyatakan dalam angka
decimal atau pecahan.

Contoh :

a. 75% = 0.75 = 75/100

b. 520% = 5,20 = 520/100

Prosentase sering digunakan untuk emnuyatakan jumlah bilangan atau porsi dan suatu
keatuan bilangan, misalnya :

Berapakah 15% dari 60?

60 x 0,15

Latihan :

1. Seorang pasien mengkonsumsi 20% lemak pada dietnya setiap hari. Apabila
setiap harinya ia mengkonsumsi 1400 mg diet, maka berapa mg lemak yang
dikonsumsi pasien tersebut dalam jangka waktu 1 minggu ?
Modul Farmakologi 26

2. Berapa prosentase dari larutan sabun bila 15 cc air sabun dicampur dengan 75 cc
air?

Sistem Perhitungan berat dan volume obat

Sistem metric

Volume

1000 ml = 1 Liter

Berat

1000 gram (g) = 1 kilogram (kg)

Sistem apothecaries

Volume

60 minims (m) = 1 fluid dram

8 fl drams = 1 fluid ounce

16 fl ounces = 1 pint (0,1 atau pt)

Berat

20 grains = 1 scruple

3 scruples = I dram

8 drams = 1 ounce

12 ounce = 1 pound

Sistem takaran rumah tangga

Sistem takaran runmah tangga digunakan khususnya untuk bahan-bahan yang tidak
emmerlukan sistem pengukuran yang akurat. Satuan yang lazim digunakan adalah tetes,
sendok the, sendok makan, cangkir, dan gelas.

Perhitungan Larutan
Modul Farmakologi 27

Obat yang dikemas dalam bentuk alrutan sering digunakan pada tatanan klinik. Larutan
digunakan dalam bentuk desinfektan dan antiseptic. Larutan juga diberikan secara
parenteral baik melalui intravena atau intramuskuler.

Dengan semakin majunya teknologi farmasi, banyak larutan yang dibuat oleh pabrik
farmasi dan dikemas dalam bentuk menyiapkan alrutan. Namun, di berbagai rumahs
akit ekcil atau d klinik dan Puskesmas, perawat sering menyipakan larutan.
Bagaimanapun juga, perawat perlu memiliki dasar-dasar dan mengetahui prinsip-prinsip
dalam menyiapkan atau membuat larutan.

Contoh :

Siapkan 300 cc larutan sabun 10% (10 % larutan setara dengan 10 g sabun dalam 100 cc
air). Sehingga perbandingannya adalah :

10%  10 g dalam 100 cc.

Bila akan dibuat larutan 300 cc, maka :

x = 10g/100cc*300cc

= 30 g

Perhitungan Dosis

Dalam penjelasannya,setiap dosis obat dinaytakan berdasarkan berat (microgram-mg-g),


volume (ml-tetes) atau unit (Internasional Unit –USP unit).

Dosis terapeutik merupakan dosis yang mempunyai efek yang diharapkan yang
merupakan alasan suatu obat diberikan. Misalnya parasetamol diberikan dengan
ahrapakn bias menurunkan suhu badan yang tinggi. Namun pada kenyataaannya,
beberapa obat juga mempunyai efek samping (side effect) yang tidak diharapkan .

Dosis terapeutik dapat dinaytakan sebagai dosis minimal, dosis maksimal dan dosis
optimal.

Dosis minimal adalah dosis palingkecil yang masih memberi efek medis.

Dosis maksimal adalah dosis paling besar yang masih memberi efek medis

Dosis optimal adalah dosis yang cukup tepat untuk memberi efek medis.
Modul Farmakologi 28

Dosis toksis merupakan dosis yang menimbulkan keracunan. Keracunan dapat


disebabkan karena overdosis obat, menelan obat luar atau obat menumpuk dalam darah
akibat gangguan metabolism dan eksresi.

Dosis letal merupakan dosis yang dapat menimbulkan kematian Agar dosis yang
diberikan dapat efektif dalam efek terapeutiknya, maka besarnya dosis yang diebrikan
harus tepat sesuai dengan pasien dan kondisinya.

Perhitungan Dosis Anak-anak

Anak-anak apda umumnya tidak toleransi terhadap dosis orang dewasa. Dosis pada
anak-anak harus disesuaikan dengan kebutuhannya. Walaupun pada umumnya perawat
tidak menentukan dosis, namun perawat harus mengetahui bagaimana dosis yang aman
bagi anak-anak.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menghitung dosis anak-anak.
Perhitungan ini dilakukan menurut luas permukaan tubuh anak, usia, atau berat badan
anak. Dan yang paling akurat adalah berdasarkan luas permukaan tubuh, selanjutnya
berat badan, dan yang paling tidak akurat berdasar umur.

Luas Permukaan Tubuh

Dosis anak = Luas permukaan tubuh (m2) x Dosis orang dewasa

1,7 m2

Luas permukaan tubuh didapatkan dari rumus:

Atau didapatkan dari monogram BSA (Body Surface Area), yaitu perpotongan dari
tinggi (cm) dan berat badan (kg).
Modul Farmakologi 29

Gambar 15. Nomogram Body Surface Area (BSA)

Atau dapat juga menggunakan kalkulator BSA

Gambar 16. Kalkulator BSA

Misalnya : seorang anak yang mempunyai berat badan 26 kg dan tinggi badan 60 cm
mempunyai luas permukaan tubuh 0,45; sehingga dosis anak untuk menyesuaikan dosis
dewasa (missal : parasetamol 500 mg) adalah :

Dosis anak = 0,45 m2/1,7 m x 500 mg

= 13,23 mg ≈ 13 mg

Berat badan

Rumus Clark digunakan untuk menghitung dosis anak pada semua tingkat usia.
Perhitungan dengan membandingkan berat badan anak (dalam pound) dengan rata-rata
Modul Farmakologi 30

berat badan orang dewasa (150 pound) atau 68 kg. Namun, terkadang ada pula yang
menggenapak menjadi 70 kg.

Rumus Clark :

Dosis anak = berat badan anak (pound) x dosis dewasa

150 pound

Contoh :

Hitunglah dosis morfin (dewasa = 15 mg) untuk anak berat badan 22 kg

Jawab :

22 kg/68 kg x 15 mg = 4.8 atau 5 mg

Cara perhitungan dosis dengan megnacu berat badan anak ini lebih akurat daripada
mengacu ke usia anak. Namun, dalam menentukan dosis pada bayi dan anak, masih
banyak faktor lain yang dipertimbangkan antara lain keadaan bayi/anak, kasus penyakit,
jenis obat, toleransi tubuh dan lain-lain.

Hampir semua obat selalu mencantumkan dosis untuk orang dewasa. Namun, tidak
semuanya mencantumkan dosis bayi dan anak-anak sehingga untuk dosis bayi dan
anak-anak harus dilakukan perhitungan dahulu. Untuk mempermudah menyiapkan dosis
bagi bayi/anak-anak, diperlukan aturan dosis sesuai bobot berat badan.

Perhitungan Dosis dari Ampul atau Vial

Obat yang diberikan secara parenteral banyak yang dikemas dalam ampul atau vial
dalam bentuk cairan atau bubuk. Dosis obat biasanya ditulis dalam label, namun sering
dalam pemberian diebrikan dalam dosis yang lebih rendah daripatada yang tertera
dalam label.

Contoh :

Berapa cc harus dihisap untuk emndapatkan penisilin 150.000 unit dari vial yang
berlabel 600.000 unit/cc?

Jawab :
Modul Farmakologi 31

600.000 unit = 1 cc

150.000 unit x

600.000 x = 150.000

X = 150.000 unit = 0,25 cc

600.000 unit

Perhitungan Tetesan Infus

Dalam tatanan klinik, banyak obat yang diberikan secara intravena menggunakan infus.
Cara ini biasanya digunakan untuk obat dalam jumlah yang banyak dan harus diberikan
secara terus menerus. Jenis cairan dan kecepatan tetesan yang diperlukan ditentukan
oleh doter, namun perawat harus mengetahui volume cairan dan lamanya absorpsi obat
sehingga perawat dapat memonitor selama ciran digunakan.

Peralatan infus terdiri dari botol/flabot infus, penampang (drip),selang, dan jarum infus.
Drip infus mempunyai ukuran dan jumlah tetesan untuk menyatakan 1 cc yang
bervariasi misalnya 10 tetesan = 1 cc atau 15 tetesan = 1 cc dan lain-lain. Dengan
mengetahui jumlah tetesan/menit setara dengan berapa cc, maka perawat dapat
memperkirakan berapa lama obat dalam suatu kemasan flabot infus akan habis
terabsorpsi.

Rumus :

Kecepatan infus (v) = jumlah tetesan infus = volume infus x ukuran drip

Waktu waktu

Satuan :

Kecepatan infus = tetes/menit

Jumlah tetesan infus = tetes

Volume infus = ml
Modul Farmakologi 32

Ukuran drip = tetes/ml

Waktu = detik

Contoh :

Apabila suatu cairan 1800 cc dipesan untuk diabsorpsi dalam jangka waktu 10 jam, dan
drip infus mempunyai ukuran 1 cc = 15 tetesan, maka berapakah kecepatan tetesan yang
diperlukan?

Jawab :

V = 1800 cc x 15 tetes/cc = 45 tetes/menit

10 jam x 60 menit/jam

Perhitungan dosis insulin

Dosis insulin dinyatakan dengan satuan unit yang pada umumnya insulin dikemas
dalam vial 10 cc. Dalam setiap vial selalu dipasang label emngenai kandungan insulin,
misalnya insulin U-40 berarti kekuatan insulin adalah 40 unit/cc.

Cara paling mudah untuk menakar insulin adalah dengan menggunakan spuit insulin
yang lazimnya pada setiap spuit mempunyai kalibrasi U-40 atau U-80. Sehingga untuk
mengambil obat dari vial sesuai unit yang diperlukan, cukup dengan mengisi spuit yang
diharapkan. Apabila spuit spuit insulin tidak tersedia, dapat digunakan spuit tuberculin
yang mempunyai kapasitas volume 1 cc. Bila spuit tuberculin diguanakn, maka dosis
unit dikonversikan ke dalam cc.

Contoh :

Berapa cc harus diambil untuk memenuhi order 35 unit insulin dengan menggunakan
regular insulin U-40?

Jawab :

X = 35 unit x 1 cc

40 cc

Latihan :
Modul Farmakologi 33

1. Seorang pasien mendapatkan diet 1000 kalori setiap hari. Berpa kalori yang ia
konsumsi dalam jangka waktu 7 hari?

2. Suatu bangsal menghabiskan alcohol 70% sebanyak 60 liter setiap bulan. Berapa
liter alcohol 70% yang dihabiskan dalamw aktu 3 hari ?

3. Berapa cc harus dihisap untuk mendapatkan penisilin 200.000 unit dari vial yang
berlabel 600.000 unit/cc?

4. Apabila suatu cairan 1500 cc dipesan untuk diabsorpsi dalam jangka waktu 10 jam,
dan drip infus mempunyai ukuran 1 cc = 15 tetesan, maka berapakah kecepatan
tetesan yang diperlukan?

Petunjuk Latihan

1. Perhatikan perhitungan perkalian

2. Perhatikan perbandingan

3. Perhatikan perbandingan

4. Perhatikan perhitungan tetesan infus

Rangkuman

1. Perhitungan dosis harus dilakukan dengan teliti.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal
Modul Farmakologi 34

Arti tingkat penguasaan :

90 – 100% = Baik sekali

80- 89% = Baik

70 – 79% = Cukup

<70% = kurang

Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 35

MODUL VI

PENGGOLONGAN OBAT

Pendahuluan

Dalam bahasa asing, terdapat dua istilah, yaitu drug dan medicine. Yang dimaksud
dengan drug adalah bahan kimia yang dapat mengakibatkan perubahan pada sistem
biologi yang merupakan bahan aktif dari medicine. : Sedangkan medicine adalah
formulasi drugs dalam bentuk tablet, kapsul dan bentuk sediaan lainnya.

Dalam prakteknya obat digolongkan menjadi:

Berdasarkan Tempat Kerja

a. OBAT FARMAKODINAMIKA

Cara kerja : Bekerja pada organisme inang (host), percepat/perlambat proses


fisiologi/fgs biokimiawi dlm tubuh

Contoh : Hormon, Analgetika, Diuretika

b. OBAT KEMOTERAPEUTIKA

Bekerja terhadap parasit / kuman dalam tubuh host, contoh : Antimikroba,


Antikanker

c. OBAT DIAGNOSTIKA

Membantu pengenalan / diagnosis penyakit / gejalanya

Berdasarkan Nama

1. Nama kimia : adalah nama yang digunakan oleh ahli kimia untuk menggambarkan
rumus kimia struktur dari oabt

2. Nama generik: adalah nama resmi yang digunakan sesuai INN dan nam umum
untuk menggambarkan bahan akrif obar.

3. Nama dagang : merupakan nama yang diberikan oleh produsen obat


Modul Farmakologi 36

Berdasarkan jenis sediaannya

1. Sediaan padat

2. Sediaan semi padat

3. Sediaan cair

Berdasarkan cara pemberiannya

1. Oral

2. Non oral

Berdasarkan Penandaannya

1. Obat Bebas

2. Obat bebas terbatas

3. Obat Keras

4. Obat Narkotik

Latihan :

1. Jelaskan penggolongan obat berdasarkan penamaannya


Modul Farmakologi 37

2. Jelaskan penggolongan obat berdasarkan penandaannya

Petunjuk Latihan

1. Perhatikan penjelasan penggolongan obat berdasrkan penamaan

2. Perhatikan penjelasan penggolongan obat berdasarkan penandaannya

Rangkuman

1. Penggolongan obat didasarkan pada penamaan, penandaan, efek terapi, tempat


kerja, jenis sediaan, dan cara pemberian.

2. Penggolongan obat berdasarkan penamaan : generik, bermerek, paten

3. Penggolongan obat berdasar penandaan : obat bebas, obat bebas terbatas, obat
keras, dan obat narkotika.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :

90 – 100% = Baik sekali

80- 89% = Baik

70 – 79% = Cukup

<70% = kurang
Modul Farmakologi 38

Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 39

MODUL V

CARA PEMBERIAN OBAT

Perawat professional mempunyai peranan yang penting dalam pelaksanaan


pemberian obat. Untuk dapat memberikan obat secara benar dan efektif, perawata harus
mengetahui tentang indikasi, dosis, cara pemberian dan efek samping yang mungkin
terjadi dari setiap obat yang diberikan.

Sebelum memberikan obat, maka perawat harus yakin dengan obat tersebut benar-benar
diorderkan oleh dokter.

Terdapat 4 jenis order dari dokter, yaitu staat order, single order, standing order, dan
order kalau perlu.

Pemberian Obat secara Oral

Peralatan :

1. Baki berisi obat-obatan atau kereta sorong obat-obat (tergantung sarana yang
ada).

2. Kartu rencana pengobatan

3. Cangkit disposable untuk tempat obat

4. Martil dan lumpang penggerus (bila diperlukan).

Tahap Kerja

1. Siapkan peralatan dan cuci tangan.

2. Kaji kemampuan pasien untuk dapat minum obat per oral (kemampuan
menelan, mula dan muntah, akan dilakukan penghisapan cairan lambung,
atau tidak boleh makan/minum).

3. Periksa kembali order pengobatan (nama pasien, no RM, nama dan dosis
oabt, waktu dan cara pemberian). Bila ada keragua-raguan laporkan ke
perawat jaga atau dokter.
Modul Farmakologi 40

4. Ambil obat sesuai yang diperlukan (baca order pengoabtan dan ambil obat di
lemari, rak atau lemari es sesuai yang diperlukan).

5. Siapkan obat-obatan yang akan diperlukan (gunakan teknik aseptic, jangan


menyentuh obat dan cocokkan dengan ordrrrr pengoabtan).

6. Berikan obat apda waktu dan cara yang benar yaitu dengan cara :

• Yakin abhwa tidak pada pasien yang salah

• Atur posisi pasien duduk bila mungkin

• Kaji tanda-tanda vital pasien

• Berikan cairan/air yang cukup untuk membantu menelan, bila sulit


emnelan anjurkan apsien meletakkan obat di lidah bagian bealkang,
kemudian pasien dianjurkan minum obat.

• Bila obat memiliki rasa tidak enak, beri apsien beberapa butir es batu
untuk diisap sebelumnya, atau berikan oabt dengan menggunakan
lumatan apel atau pisang.

• Tetap bersama pasien sampai obat ditelan.

7. Catat tindakan yang telah dilakukan

8. Kembalikan semua peralatan yang dipakai dengan tepat dan benar kemudian
cuci tangan.

9. Lakukan evaluasi mengenai efek obat pada pasien 30 menit setelah waktu
pemberian.

Pemberian secara sublingual

Obat dapat diebrikan secara sublingual yaitu dengan cara meletakkan obat di
bawah lidah. Dengan cara ini, aksi kerja obat lebih cepat yaitu setelah hancur
di bawah lidah maka obat segera mengalami absorpsi ke dalam pembuluh
darah. Untuk mencegah oabt tidak ditelan, maka pasien diberitahu untuk
Modul Farmakologi 41

membiarkan obat tetap di bawah lidah sampai obat hancur dan terserap.
Dengan cara sublingual, obat beraksi dalam satu menit dan pasien dapat
merasakan efeknya dalam tiga menit.

Pemberian obat secara bukal

Dalam pemberian obat secara bukal, obat diletakkan antara gigi dengan
selaput lender pada pipi bagian dalam.seperti pada pemaberian secara
sublingual,pasien dianjurkan untuk membiarkan obat pada selaput lender
pipi bagian dalam sampai obat hancur dan diabsorbsi.kerjasama pasien
sangat penting dalam pemberian obat cara ini karna biasanya pasien akan
menelan yang akan menyababkan obat menjadi tidak efektif

Cara kerja menyiapkan obat dari ampul dan vial:

1. Siapkan peralatan yang meliputi:

a.vial atau ampul yang bersih cairan obat steril

b.kapas alcohol

c.jarum dan spuit sesuai yang dibutuhkan

d.air steril atau normal slin bila diperlukan

e.kassa pengusap

f.turniket untuk injeksi intravena

g.kartu obat atau catatan rencana pengobatan

2. Periksa dan yakinkan bahwa orderpengobatan dan cara pembberinnya


telah akurat

3. Siapkan ampul atau vial yang berisi obat sesuai yang.

4. Ambil cairan obat

Suppositoria

Cara penggunaan :
Modul Farmakologi 42

• Cuci tangan, suppositoria dikeluarkan dari kemasan, suppsitoria dibasahi dengan


air.

• Penderita berbaring dengan posisi miring, dan suppositoria dimasukkan ke dalam


rectum.

• Masukkan suppositoria dengan cara bagian ujung suppositoria didorong dengan


ujung jari sampai melewatiotot sfingter rectal; kira-kira 12,5 mm – 25 mm pada
bayi dan 25 mm pada dewasa.

• Jika suppositoria terlalu lembek untuk dapat dimasukkan, maka sebelum digunakan
sediaan ditempatkan dalam lemari pendingin selama 30 menit kemudian
ditempatkan pada air mengalir sebelum kemasan dibuka.

• Setelah penggunaan suppositoria, tangan dicuci bersih.

Obat vagina

Cara penggunaan:

• Cuci tangan sebelum menggunakan obat dan gunakan aplikator sesuai dengan
petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan harus diikuti dengan benar.

• Jika penderita hamil, maka sebelum menggunakan obat sebaiknya berkonsultasi


terlebih dahulu dengan professional perawatan kesehatan.

• Penderita berbaring dengan kedua kaki diregangkan dan dengan menggunaka


aplikator obat dimasukkan ke dalam vagina sejauh mungkin tanpa dipaksakan dan
dibiarkan beberapa waktu.

• Setelah penggunaan, aplikator dan tangan penderita dicuci bersih dengan sabun dan
air.

Latihan :
1. Jelaskan cara pemberian obat sublingual
2. Jelaskan cara pemberian obat vaginal
Petunjuk Latihan
Modul Farmakologi 43

1. Perhatikan cara pemberian obat sublingual


2. Perhatikan cara pemberian obat vaginal

Rangkuman
1. Agar mendapatkan hasil yang optimal, maka penmberian obat harus sesuai dengan
aturan pemakaian.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :


90 – 100% = Baik sekali
80- 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 44
Modul Farmakologi 45

MODUL VI

PRINSIP PEMBERIAN OBAT

Dalam memberikan obat kepada pasien, perawat harus menerapkan 7 benar pemberian obat untuk
menghindari Ketidaksesuaian obat.
1. Benar Pasien:
• Gunakan minimal 2 identitas pasien.
• Cocokkan obat yang akan diberikan dengan instruksi terapi tertulis.
• Anamnesis riwayat alergi.
• Anamnesis kehamilan/ menyusui.
• Anamnesis lengkap riwayat obat/ penggunaan obat saat ini dan buat daftar obat-obat tersebut.
• Bandingkan pemberian obat saat ini dengan daftar obat yang digunakan pasien di rumah
(termasuk kelalaian, duplikasi, penyesuaian, kehilangan/ menghilangkan, interaksi, atau
tambahan obat).
• Identifikasi pasien yang akan mendapat obat dengan kewaspadaan tinggi dilakukan oleh dua
orang yang kompeten double check.

2. Benar Obat
• Beri label semua obat dan tempat obat (syringes, cangkir obat, baskom obat), dan larutan lain.
• Obat dan larutan lain di lokasi perioperatif atau ruang prosedur yang tidak akan segera dipakai
juga harus diberi label.
• Pemberian label di lokasi perioperatif atau ruang prosedur dilakukan setiap kali obat atau
larutan diambil dari kemasan asli ke tempat lainnya.
• Pada label, tuliskan nama obat, kekuatan, jumlah, kuantitas, pengenceran dan volume, tanggal
persiapan, tanggal kadaluarsa jika tidak digunakan dalam 24 jam dan tanggal kadaluarsa jika
kurang dari 24 jam.
• Semua obat atau larutan diverifikasi oleh 2 orang secara verbal dan visual jika orang yang
menyiapkan obat bukan yang memberikannya ke pasien.
• Pemberian label tiap obat atau larutan segera setelah obat disiapkan jika tidak segera diberikan.
• Jangan memberi label pada syringes atau tempat kosong, sebelum obat disiapkan/ diisi.
• Siapkan satu obat atau larutan pada satu saat. Beri label hanya untuk satu obat atau larutan pada
satu saat.
• Buang segera setiap obat atau larutan yang tidak ada labelnya.
• Buang semua tempat obat berlabel di lokasi steril segera setelah operasi atau prosedur
dilakukan (ini berarti tempat obat orisinal disimpan sampai tindakan selesai).
• Saat pergantian tugas/ jaga, review semua obat dan larutan oleh petugas lama dan petugas baru
secara bersama.
• Ubah daftar obat/ kardeks jika terdapat perubahan obat.
• Kebenaran jenis obat yang perlu kewaspadaan tinggi di cek oleh dua orang yang kompeten
double check.

3. Benar Dosis
• Dosis/ volume obat, terutama yang memerlukan kewaspadaan tinggi, dihitung & dicek oleh dua
orang yang kompeten à double check.
• Jika ragu konsultasi ke dokter yang menulis resep.
• Berkonsentrasi penuh saat menyiapkan obat, dan hindari gangguan.

4. Benar Waktu
Modul Farmakologi 46

• Sesuai waktu yang ditentukan: sebelum makan, setelah makan, saat makan.
• Perhatikan waktu pemberian: 3 x sehari à tiap 8 jam, 2 x sehari à tiap 12 jam, Sehari sekali à
tiap 24 jam, Selang sehari à tiap 48 jam
• Obat segera diberikan setelah diinstruksikan oleh dokter.
• Belum memasuki masa kadaluarsa obat.

5. Benar Cara/ Route Pemberian


• Cara pemberian obat harus sesuai dengan bentuk/ jenis sediaan obat: Slow-Release tidak boleh
digerus dan Enteric coated tidak boleh digerus.
• Obat-obat yang akan diberikan per NGT sebaiknya adalah obat cair/ sirup.
• Pemberian antar obat sedapat mungkin berjarak.
• Jadwal pemberian obat dan nutrisi juga berjarak.

6. Benar Dokumentasi
• Setiap perubahan yang terjadi pada pasien setelah mendapat obat harus didokumentasikan.
• Setiap dokumen klinik harus ada bukti nama dan tanda tangan/ paraf yang melakukan.
• Setelah memberikan obat, langsung di paraf dan diberi nama siapa yang memberikan obat
tersebut.
• Setiap perubahan jenis/ dosis/ jadwal/ cara pemberian obat harus diberi nama & paraf yang
mengubahnya.
• Jika ada coretan yang harus dilakukan: buat hanya satu garis dan di paraf di ujungnya: Contoh
: Lasix tab, 1 x 40 mg Jcmd à Lasix inj, 1 x 40 mg iv.
• Dokumentasikan respon pasien terhadap pengobatan: Efek Samping Obat (ESO) dicatat dalam
rekam medik & Form Pelaporan Insiden + Formulir Pelaporan Efek Samping Obat. Pelaporan
Insiden dikirim ke Tim Keselamatan Pasien di Unit Pelayanan Jaminan Mutu. Pelaporan Efek
Samping Obat dikirim ke Komite Farmasi dan Terapi.
• Dokumentasikan Kejadian Nyaris Cedera terkait pengobatan à Form Pelaporan Insiden ke Tim
Keselamatan Pasien.
• Dokumentasikan Kejadian Tidak Diharapkan à Form Pelaporan Insiden ke Tim Keselamatan
Pasien.

7. Benar Informasi
• Semua rencana tindakan/ pengobatan harus dikomunikasikan pada pasien & atau keluarganya,
termasuk pasien di ICU (hak pasien!).
• Jelaskan tujuan & cara mengkonsumsi obat yang benar.
• Jelaskan efek samping yang mungkin timbul.
• Rencana lama terapi juga dikomunikasikan pada pasien.
• Tips: semua informasi yang telah diberikan pada pasien & keluarganya ini ditulis dalam “Form
Penjelasan & Pendidikan Dokter kepada Pasien” yang ada di dalam paket rekam medik dan
ditandatangani oleh dokter dan pasien/ keluarga pasien.

Latihan :
1. Jelaskan tujuan penerapan 7 prinsip benar dalam pemberian obat
2. Jelaskan 7 prinsip benar dalam pemberian obat
Petunjuk Latihan
1. Perhatikan tujuan 7 prinsip benar dalam pemberian obat
2. Perhatikan 7 prinsip benar dalam pemberian obat
Modul Farmakologi 47

Rangkuman
1. Agar mendapatkan hasil yang optimal, maka penmberian obat harus sesuai dengan
aturan pemakaian.
2. 7 prinsip benar tersebut adalah benar pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu,
benar rute/cara pemberian, benar dokumentasi, dan benar informasi.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :


90 – 100% = Baik sekali
80- 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 48

MODUL VII

EFEK SAMPING DAN BAHAYA PENGGUNAAN OBAT

Pendahuluan
Obat tidak hanya memiliki efek yang emnguntungkan tetapi juga dapat
menimbulkan reaksi yang merugikan. Masalah yang berhubungan dengan terapi oabt
meliputi semua masalah yang berpotensi mempengaruhi keberhasilan farmakoterapi
pada pasien yang diberi obat. Beberapa masalah yang berhubungan dengan terapi
obat yaitu :
a. Kesalahan pengobatan (medication error)
b. Kejadian efek samping obat yang merugikan (adverse drug events-ADEs) atau
ESO
c. Reaksi obat yang merugikan (adverse drug reactions-ADRs) atau ESO

Apakah yang dimaksud dengan efek samping obat?


Anda sendiri mungkin pernah mendengar, atau bahkan mengalami efek samping
obat. Namun, sebenarnya efek samping obat itu apa sih? Efek samping obat adalah
efek yang tidak diinginkan yang muncul pada saat pemakaian suatu obat pada dosis
terapinya. Contohnya bila minum obat batuk untuk meredakan batuk saya, dan batuk
saya reda seperti yang saya inginkan, namun ada efek mengantuk yang tidak saya
inginkan. Nah, mengantuk itulah yang disebut dengan efek samping dari obat batuk
yang saya konsumsi.

Apa sajakah efek samping yang dapat terjadi dari penggunaan suatu obat?
Setiap obat memiliki efek sampingnya masing-masing, berbeda dari satu obat ke
obat lainnya. Informasi mengenai efek samping obat terdapat dalam label yang
menyertai kemasan obat tersebut. Efek samping obat dapat bervariasi mulai dari efek
yang ringan dan cukup umum terjadi seperti mual dan muntah, hingga efek samping
yang jarang terjadi namun dapat bersifat fatal seperti serangan jantung.

Obat apa sajakah yang memiliki efek samping?


Semua obat pasti memiliki efek samping yang tidak diharapkan. Namun, efek
samping ini tidak serta merta terjadi kepada semua orang yang mengonsumsi obat
tersebut. Ada efek samping yang sering terjadi, ada pula yang jarang, bahkan sangat
jarang terjadi. Contohnya, obat ibuprofen untuk menurunkan demam dan meredakan
nyeri. Ibuprofen memiliki efek samping nyeri ulu hati karena peningkatan produksi
asam lambung (heartburn) yang terjadi pada sekitar 3 hingga 9 persen populasi yang
mengonsumsi obat ini, dan juga memiliki efek samping gagal ginjal namun hanya
terjadi pada kurang dari satu persen pasien saja.

Bagaimana cara mencegah terjadinya efek samping obat?


Setelah mendengar semua penjelasan di atas, mungkin Anda merasa panik dan was-
was dalam mengonsumsi obat-obatan. Namun, tenang saja, Anda bisa kok mereduksi
resiko terkena efek samping obat! Pertama-tama, tanyakan kepada dokter atau
apoteker Anda mengenai efek samping obat yang mungkin timbul dari obat yang
Modul Farmakologi 49

akan Anda konsumsi, serta seberapa besar kemungkinan terjadinya efek samping
tersebut. Dokter atau apoteker Anda pasti akan memberikan saran bagaimana cara
mengenali efek samping tersebut, dan cara untuk menguranginya jika
memungkinkan. Contohnya, untuk mengatasi efek samping heartburn pada
penggunaan ibuprofen tadi, ibuprofen disarankan diminum setelah makan.

Bagaimana bila mengalami efek samping obat?


Jika setelah mengonsumsi obat Anda merasa mengalami efek samping dari obat
tersebut, ada beberapa opsi yang dapat Anda lakukan. Jika Anda merasa bahwa efek
samping obat tersebut cukup berat dan mengganggu, Anda bisa berbicara kepada
dokter Anda. Misalnya, jika setelah minum obat Anda merasakan gejala alergi
seperti gatal, bengkak, bahkan hingga sesak napas. Ada beberapa pilihan yang dapat
dilakukan, misalnya menyesuaikan dosis obat hingga ke level yang tetap
menyembuhkan namun dengan efek samping paling minimal, atau mengganti
dengan pilihan obat lain yang bekerja sama namun memiliki efek samping yang
lebih dapat ditoleransi. Namun, jika Anda merasa bahwa efek samping yang terjadi
cukup ringan dan dapat Anda tangani sendiri, maka Anda tidak harus pergi kembali
ke dokter untuk mengatasinya. Misalnya, jika obat Anda mengakibatkan mengantuk,
maka Anda dapat menyiasatinya dengan menghindari pekerjaan yang membutuhkan
konsentrasi tinggi setelah meminum obat tersebut. Nah, itulah hal-hal yang
sebaiknya Anda ketahui mengenai efek samping obat. Sebaiknya efek samping obat
tidak lantas membuat Anda takut mengonsumsi obat, karena dokter pasti sudah
mempertimbangkan rasio manfaat dan resiko penggunaan obat tersebut untuk Anda.

Latihan :
1. Jelaskan macam-macam efek samping obat
2. Jelaskan cara penanggulangan efek samping obat
Petunjuk Latihan
1. Perhatikan pembahasan efek samping obat
2. Perhatikan cara penanggulangan efek samping obat

Rangkuman
1. Setiap obat yang dikonsumsi dapat menimbulkan efek samping obat.
Modul Farmakologi 50

2. Setiap perawat harus mengamati efek samping obat yang timbul pada pasien.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :


90 – 100% = Baik sekali
80- 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 51

MODUL VIII

PERAN KOLABORATIF PERAWAT DALAM PEMBERIAN OBAT

Pendahuluan

Peran kolaboratif perawat dalam pemberian obat sangatlah penting. Karena


hampir keseluruhan tindakan keperawatan memerlukan obat maka sangatlah penting
bagi perawat memiliki ilmu tentang obat-obatan. Dalam melaksanakan tupoksinya ini
terdapat teanga kesehatan lain yang juga sangat berperan, yaitu dokter dan apoteker.

Setelah mempelajari modul 1 ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan


tentang peran kolaboratif perawat dalam pelayanan kesehatan, khususnya dalam pemberian
obat.

Peran Kolaboratif obat dalam pemberian obat


Assalamuaikum, semoga anda selalu sehat dan penuh semangat dalam mempelajari
Modul farmakologi ini. Pada kegiatan belajar ini akan memberikan dalam pemberian
obat mengenai peran kolaboratif perawat dalam pelayanan kesehatan.

Obat sebelum sampai ke apsien telah melewati proses panjagaan dari pengolahan bahan
baku, pembuatan, pengujian, perizinan, perdagangan, perorderan, pembelian dan
pemakaian. Lembaga yang berwenang : Badan Pengawas Obat dna Makanan (Badan
POM). Acuan resmi : Farmakope Indonesia. Pidana dan Sanksi kesalahan merujuk ke
UU Kesehatan, pidana denda 15 tahun dan denda Rp 500 juta.

Hanya dapat memberikan obat setelah mendapat pesan dari dokter. Perawat
lebih benyakt terlibat dalam pemberian obat. Macam peran :

a. Peran independen : peran dimana perawat secara legal dpt melakukan tindakan
secara madiri terhadap diagnose keperawatan tertentu.

b. Peran dependen : peran dimana perawat tergantung pada profesi lain dalam
melakukan tindakan terhadap masalah kesehatan

c. Interdependen (kolaborasi) : peran dimana perawat melakukan tindakan terhadap


masalah kesehatan yg emmerlukan penanganan bersama
Modul Farmakologi 52

Beberapa macam peran perawat dalam pemberian obat :

1. Peran dalam mendukung keefektifan obat

 Peran dalam mengobservasi efek samping dan alergi obat

 Peran perawat dalam menyimpan, menyiapkan dan adminsitrasi obat

 Peran perawat dalam melakukan pendidikan kesehatan tentang obat

 Harus memiliki pengetahuan yang memadai ttg daya kerja dan efek terapikk
obat, mampu melakukan observasi untuk mengevaluasi efek obat dan melkukan
upaya untuk meningkatkan keefektifan obat

2. Peran dalam mengobservasi efek samping dan alergi obat

 Pemberian obat harus dikaitkan dgn tindakan keperawatan.

 Laporan langsung pasien sangat berguna

 Perawat harus mengetahui obat yang diberikan pada pasien dan kemungkinan
efek samping

 ES berupa keracunan harus ditindaki berupa pemberian obat emergensi,


menghentikan obat yg diberikan dan secepatnya memberitahu dokter.

 Beritahu pasien kemungkinan ES bila rawat jalan, laporkan.

 Data alergi harus ada.

 Kemungkinan cross sensitivity

3. Peran dalam menyimpan, menyiapkan, dan administrasi obat

 Cara penyimpanan

 Umumnya tidak boleh terpapar langsung sinar amtahari, tempat lembab atau
suhu ekstrim.

 Tanda kadaluarasa obat

 Sistem administrasi
Modul Farmakologi 53

Catatan Pada Label Suhu/Cara Penyimpanan

Simpan tidak lebih dari 30°C 2°C sampai 30°C


Simpan tidak lebih dari 25°C 2°C sampai 25°C
Simpan tidak lebih dari 15°C 2°C sampai 15°C
Simpan tidak lebih dari 8°C 2°C sampai 8°C
Simpan tidak kurang dari 8°C 8°C sampai 25°C
Lindungi dari cahaya Simpan dan serahkan dengan
wadah yang tidak tembus cahaya
Lindungi dari uap Simpan pada kelembaban tidak
lebih dari 60°C diserahkan dalam
wadah tertutup kedap
Tabel. Cara penyimpanan obat

Penyimpanan Narkotik

1. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat

2. Harus mempunyai kunci yang kuat

3. Lemari dibagi 2 masing-masing dgn kunci yg berlainan, bagian pertama


dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin, dan garam-garamnya, serta
persediaan narkotik, bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika lainnya
yg dipakai sehari-hari.

4. Apabila tempat khusus tsb berupa lemari ukuran kurang dari 40x80x100 cm, maka
lemari tsb dibaut di dinding.

5. Anak kunci dikuasai penanggung ajwab/assisten apoteker

6. Tidak di tempat umum

7. Tidak untuk menyimpan barang lain

Distribusi

Pendistribusian obat menggunakan sistem First Expired First Out, yaitu obat
dikeluarkan berdasarkan tangal expired-nya.
Modul Farmakologi 54

4. Peran Perawat dalam Pendidikan kesehatan mengenai obat

 Pendidikan kesehatan pada pasien, kelaurga, dan masyrakat luas.

Implikasi Keperawatan

 Mengemban tanggung jawab untuk mengajarkan & meningkatkan derajat kesehatan.

 Menemukan kasus penyakit & menyimpulkan.

 Continuing education.

 Belajar dg sejawat / profesi lain.

Latihan :
1. Jelaskan jenis-jenis peran perawat dalam pelayanan kesehatan
2. Jelaskan jenis-jenis peran perawat dalam pemberian obat
Petunjuk Latihan
1. Perhatikan pembahasan peran perawat dalam pelayanan kesehatan
2. Perhatikan pembahasan peran perawat dalam pemberian obat

Kesimpulan

1. Peran perawat dalam pelayanan kesehatan dapat berupa dependen, independen, dan
interdependen (kolaboratif)

2. Peran perawat dalam penggunaan obat berupa mendukung keefektifan obat,


penyimpanan obat, memantau efek samping obat, dan pendidikan kesehatan tentang
obat.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Modul Farmakologi 55

Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :


90 – 100% = Baik sekali
80- 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 56

MODUL IX

OBAT ANTIBIOTIK

1. Pengertian Antibiotik

Sesuai dengan namanya, antibiotic bekerja melawan kehidupan dalam konteks ini
adalah mikroorganisme. Karena alasan ini, obat ini juga dikenal sebagai antimikroba.
Obatan antibiotic dapat berupa antibakteri (misalnya gentamisin), antivirus (misalnya
asiklovir), antifungi (misalnya flukonazol), antiprotozoa (misalnya metronidazol) atau
antihelmintes (misalnya mabendazol).

Antibiotic dapat bekerja secara primer dengan menghentikan pembelahan sel


(bakteriostat), atau dengan membunuh mikroorganisme secara langsung (bakterisida).
Sel yang paling rentang terhadap efek bateriostat dan bakterisida adalah sel yang
membelah dengan cepat => infeksi.

Agar obat antimikroba efektif, obat tersebut harus ada dalam konsentrasi yang cukup di
dalam aliran darah seseorang, dan begitu juga dalam cairan interstisial.

1. Rentang Aktivitas Antibiotik

Antibiotic digolongkan ke dalam spectrum luas atau sempit. Antibiotic spectrum luas
adalah antibiotic yang efektif melawan berbagai mikroorganisme berbeda, seperti kokus
dan basilus. Warna berbagai bakteri setelah diberi zat pewarna untuk identifikasi oleh
ahli mikrobiologi menyebabkan bakteri dibagi menjadi kelompok Gram Positif dan
Gram negative. Antibiotic spectrum luas mungkin efektif melawan kelompok bakteri
Gram positif dan Gram negative. Antibiotic spectrum sempit sangat efektif melawan
mikroorganisme spesifi. => bakteri

2. Resistensi antibiotic

Selama ini, antibiotic dapat menjadi sangat tidak efektif melawan mikroorganisme
spesifik. Hal ini disebabkan perubahan protektif yang terjadi dalam mikroorganisme.
Suatu perubahan bahwa mikroorganisme menjadi mampu menghasilkan sebuah enzim
yang menonaktifkan antibiotic, misalnya, sebagian besar stafilokokus menghasilkan β-
Modul Farmakologi 57

laktamase, yang menonaktifkan antibiotic, seperti penisilin, yang mengandung cincin β


laktam dalam struktur kimianya.

Setelah penemuan penisilin, maka usaha pencarian antibiotika lain menghasilkan


puluhan jenis antibiotik alam dan antibiotik sintetik. Perkembangan dalam satu
golongan antibiotika menambah jumlah penemuan dan hal ini menimbulkan perubahan
pembagian golongan. Pertama-tama antibiotik terbagi dalam spektrum sempit dan
spektrum luas. Pembbagian ini sudah ditinggalkan untuk penggunaan praktisnya dapat
dibagi dalam: golongan penisilin dan sefalosporin, golongan tetrasiklin dan
kloramfenikol, golongan aminoglikosid, antibiotik lain: makrolid, eritromisin dan
sebagainya.

Suspensi Oral Obat Antibakteri

Suspense oral antibakteri mencakup preparat bahan antibiotika (umpamanya


kloramfenikol palmitat, turunan eritromisin, tetrasiklin dan turunannya), sulfonamide
(umpamanya sulfametazol, sulfasoksazol asetil dan trisulfapiramidin) dan zat
kemoterapeutik lainnya (umpamanya metenamin mandelat dan nitrofurantoin)

Kebanyakan bahan antibiotika tidak stabil bila berada dalam larutan, untuk waktu lama
yang diinginkan dan oleh sebab itu dilihat dari stabilitas, bahan obat dengan bentuk
tidak larut dalam suspense berair atau sebagai serbuk kering untuk dioplossangat
menarik bagi pabrik obat. Suspense oran antibiotic juga memberikan cara yang
memuaskan dari pemberian sediaan kepada bayi dan anak-anak, sebagaimanaa juga
pada orang dewasa yang lebih senang memilih sediaan cair daripada bentuk sediaan
padat. Banyak dari suspense oral yang dimaksudkan terutama untuk bayi dikemas
dengan penetes yang berukuran, guna membantu pemberian dosis yang telah ditetapkan.
Contoh dari beberapa suspense oran antibiotika untuk pediatric diperdagangan.

Fase pendispresi dari suspense antibiotic adalah air dan biasanya diberi warna, pemanis,
pewangi dan perasa untuk memberikan cairan lebih menarik dan menambah selera.
Bentuk palmitat dari kloramfenikol dipilih untuk bentuk sediaan suspense bukan hanya
karena tidak larutnya dalam air saja, tetapi juga karena kualitasnya yangtidak akan
member rasa, dengna cara itu menghilangkan masalah formulasi dalam usaha menutupi
rasa pahit dari basa kloramfenikol.
Modul Farmakologi 58

Penggunaan Antibiotik

Makin banyaknya antibiotik yang ditemukan, maka makin sulit untuk dikelompokkan
dan mengadakan pilihan. Untungnya, beberapa antibiotika yang ditemukan dan beredar
di pasaran tela htersaring dari toksisitas berat dan hanya memiliki efek alergi serta
mudahnya terjadi resistensi.

Biasanya penderita datang dengan gejala infeksi umum yang belum dapat ditetapkan
diagnosis pastinya. Diagnosis pasti mikrobiologik memerlukan waktu, laboratorium dan
interpretasi. Penetapan diagnosa mikrobiologik dengan metode cakram cukup
sederhana, dan yang lengkap disertai penetapan daya hambat minimum, daya bunuh
minimum, kadar obat dalam darah, titer serum- bakteri, dan pemantauan mikrobiologik
dengan hasil perjalanan klinis. Kelengkapan demikian hanya tersedia pada beberapa
rumah sakit saja, sedangkan selebihnya, diagnosis didasarkan pada pengalaman
perkiraan klinis. Terapi empiris demikian, meskipun dari segi ilmiah tidak benar, tetapi
dilakukan dengan penajaman pendekatan, yaitu:

1) Mencari lokasi anatomi dari tempat infeksi, misalnya faring, telinga bagian dalam,
ginjal dan sebagainya.

2) Anamnesa, pemeriksaan fisik dan penetapan risiko perjalanan penyakit dilakukan


dengan sebaik mungkin.

3) Melakukan pemeriksaan pewarnaan sediaan untuk menentukan golongan bakteri


Gram positif atau Gram negatif sebagai penunjang diagnosis empiris.

Penggunaan antibiotika dalam kombinasi harus dibatasi, karena tidak banyak yang
bekerja sinergistik dan dalam kombijnasi tersebut dosis tidak dapat diturunkan. Karena
efek toksiknya menjadi lebih luas. Beberapa antibiotik malahan bekerja antagonistik,
antara lain penisilin dengan tetrasiklin dan penisilin dengan kloramfenikol.

Istirahat dan menjaga gizi sangat menunjang daya tahan tubuh dan mempercepat
penyembuhan, disamping tindakan perawatan lainnya.

Beberapa antibiotik diusakan untuk diberikan pada indikasi khusus, seperti berijut
(Label Antibiotik untuk indikasi khusus)
Modul Farmakologi 59

Tabel 7. Antibiotik dan kemungkinan toksisitas


1. Macam-macam golongan Obat Antibiotik

1. Obat Antibiotik Golongan penisilin

Penilisilin pembunuh bakteri Gram negatif dan kokus Gram positif, streptokokus,
stafilokokus, spiroketa, klostridia, antraks dan aktinomisetes. Bakteri dalam fase
tumbuh lebih peka, sehingga penyakit lebih cepat disembuhkan dari pada penyakit
kronis. Penyerapan per os baik, tetapi beberapa bentuk penislin mudah dirusak oleh
asam lambung dan enzim. Distribusinya setelah diserap luas, tetapi sulit memasuki otak.
Pengeluarannya melalui ginjal cepat. Karena itu, diusahakan mencari ikatan penisilin
yang diserap secara lambat dari tempat injeksi dan bila diberikan per os tidak dirusak
asam lambung.

Indikasi pemberiannya untuk pneumonia, meningtis, otitis media. Laringitis, demam


reumatik, endokarditis, gonore, lues, antraks, klostridia gas gangren dan tetanus.
Osteomielitis serta difteri, sedangkan ampisilin efektif juga untuk tifus abdominalis.

Toksisitas penisilin terutama berupa alergi hingga syok anafilatik. Pertolongan pertama
syok adalah memberi epinefrin i.m. secepatnya dan diulangi hingga tekanan darah
menetap minimal 90 mmHg. Ampisilin dapat menimbulkan perubahan flora usus.

Sediaan yang dipasarkan adalah:

1. Penilsilin G, dosisnya 300000-6 juta unit untuk memperoleh kadar di dalam


darah yang tinggi yang cepat.
Modul Farmakologi 60

2. Prokain penisilin, dosisnya 300000-6 juta unit untuk penyerapan lambat dan
disuntikan 1-2 kali sehari.

3. Benzatin penisilin, dengan dosis 300000-1,2 juta unit 1-2 kali seminggu.

4. Penisilin almumunium monostearat adalah penisilin yang dilarutkan dalam


minyak dan diberikan 1 minggu sekali. Kerugian preparat ini adalah harus
berhati-hati terhadap kemungkinan emboli dan sering mengakibatkan abses.

5. Ampisilin merupakan penisilin berspetrum luasy ang dpaat diberikan per os dan
injeksi dengan 2 gram.

6. Amoksisilin hampir sama dengan ampisilin diberikan dengan dosis 1,5 gram.

7. Oksasilin dan kloksasilin, dengan dosis 2 gram dan beberapa puluh jenis dari
golongan penisilin baru, menggeser golongan penisilin lama yang tidak lagi
diproduksi.

Tergolongan dalam kelompok penisilin adalah sefalosporin dari golongan betalaktam


dan dapat diberikan per os. Kini lebih dari 10 kelompok sefalosporin telah dipasarkan.
Spektrum antimikrobanya tergantung dari setiap sediaan, namun tidak banyak berbeda
dari penisilin. Sebaiknya tidak diberikan sefalosporin sepanjang masih dapat diobati
dengan golongan penisilin dan golongan ini disediakan untuk infeksi berat. Dosisnya
tergantung dari sediaan dan harus memperhatikan fungsi ginjal, yang berkisar dari 500-
1000 mg diberikan i.m. atau i.v. dan diulangi hingga mencapai jumlah dosis 12 gram
sehari.

Contohnya untuk merek kategori golongan Penisilin: amoxicilin, amoksisilin, hufanoxil,


ramoxyl, dan sebagainya.

Contohnya untuk merek kategori golongan Sefalosporin: dexacef, doxef, drovak,


droxal, durice, dan sebagainya.

1. Pada penisilin oral

Serbuk Kering untuk Suspensi Oral

Sejumlah preparat resmi dan diperdagangan terdiri dari campuran kering serbuk atau
granula yang dimaksudkan untuk disuspensikan dalam air atau pembawa lainnya
sebelum pemberian. Sebagaimana telah diketahui preparat resmi ini mencantumkan
Modul Farmakologi 61

“untuk suspense oral” pada judul resminya guna membedakannya dari suspense yang
sudah disiapkan.

Kebanyakan dari obat yang dibuat sebagai campuran kering untuk suspense oral adalah
obat antibiotic. Produk kering yang dibuat secara komersial guna mengandung obat
antibiotic, dengan bahan tambahan untuk pewarna, pemanis, flavor, penstabil dan
pensuspensi, atau zat pengawet yang mungkin didinginkan untuk meningkatkan
stabilitas dari, baik serbuk kering atau campuran granul atau dasar suspensecair.
Apabila akan dioplos dan diberikan kepada pasien, salah satu dari obat ini, ahli farmasi
membuka serbuk yang ada pada dasar wadah dengan menusuk secara perlahan dengan
benda keras lalu menambahkan sejumlah air murni sesuai dengan yang ditunjukkan
pada table, biasanya sebagian dan kocok yang keras sampai semua serbuk kering telah
tersuspensi. Penting bagi seroang ahli farmasi untuk menambahkan secara tepat jumlah
air yangtelah ditetapkan kepada campuran kering apabila ingin dihasilkan konsentrasi
yang tepat per unit dosis. Juga penggunaan air murni lebih baik daripada air ledeng
untuk menghindari penambahan pengotoran yang dapat merusak serta member efek
kebalikan dari efek stabilitas sediaan yang dihasilkan. Ahli farmasi harus
memberitahukan pasien mengenai sifat ini dan mengharuskannya untuk mengocok
isinya baik-baik sesaat sebelum pemakaian dan obat disimpan secara tepat (biasanyadi
bawah pendinginan). Di antara obat resmi untuk suspense oral adalah sebagai berikut:

1. Amoxicillin for Oral Suspension, USP (amoxil for Oral suspension (becham)]

2. Ampicilin for Oral Suspension, USP [Polycillin for Oral Suspension (Bristol)]

3. Bacampicillin for Oral Suspension, USP [Spectrobid for Oral Suspension


(Roerig0]

4. Cefaclor for oral suspension, usp [ceclor for oral suspension (Lilly)]

5. Cephadrine for oral suspension, USP [ anspor for oral suspension ( Smith, Kline
&French)]

6. Cephalexin for oral suspension, USP [ Keflex for oral suspension (Dista)]

7. Colistin Sulfate for oral suspension, USP [ Coly-Mycin for oral suspension
(Parke-Davis)]
Modul Farmakologi 62

8. Cyclacillin for oral suspension, USP [Cyclapen-W for oral suspension (Wyeth)]

9. Dicloxacillin for oral suspension, USP [Dynapen for oral suspension (Bristol)]

10. Doxycycline for oral suspension, USP [Vibramycin Monohydrate for oral
suspension (Pfizer)]

11. Erythromycin Ethylsuccinate for oral suspension, USP [EEES for for oral
suspension (Abbott)]

12. Hetacillin for oral suspension, USP [Versapen for Oral Suspension (Bristol)]

13. Penicilin V for oral suspension, USP [V-Cillin for oral suspension (Lilly)]

Di antara obat resmi lainnya dari antibiotic yang dibuat sebagai campuran kering dari
serbuk untuk diencerkan menjadi suspense oral adalah sebagai berikut ini: Kalsium
ipodat (Oragrafin Calcium (Squibb)] alat bantu diagnosis, digunakan dalam
kolesistografi; kolestiramin [Questran (Mead Johnson)], obat yang digunakan dalam
pengaturan tingkat kolesterol yang tinggi; dan barium sulfat (Barospere (Mallinck-
rodt)], digunakan secara oral atau rectal sebagai medium kontras radiopaque untuk
melihat saluran cerna sebagai alat bantu diagnosis.

Yang paling sering digunakan dari zat ini adalah barium sulfat. Barium sulfat
diperkenalkan ke dalam pengobatan sekitar 1910 sebagai medium kontras dalam
pemeriksaan sinar rontgen dari saluran cerna. Praktis tidak larut dalam air, jadi
pemberiannya meskipun diperlukan dalam dosis yang besar, aman karena tidak
diabsorbsi dari saluran cerna. Seorang ahli farmasi harus berhati-hati untuk tidak salah
tafsir “barium sulfat” dengan bentuk lain sebagai sulfide dan sulfit yang merupakan
garam yang mudah larut dan merupakan racun. Barium sulfat adalah serbuk halus, tidak
kasar, putih, tidak berbau, dan tidak terasa. Apabila dibuat menjadi suspense dan
diberikan secara oral penggunaanya untuk mendiagnosis keadaan dari hypopharynx,
esophagus, lambung, usus kecil dan kolon. Barium sulfat menyebabkan saluran cerna
buram (tidak tembus cahaya) terhadap sinar X sehingga ia dapat dibuat foto guna
menunjukkan setiap ketidaknormalan dalam cirri anatomi dari rectum dan kolon.
Apabila diberikan secara rectal, barium sulfat dibiarkan memperagakan sifat dari rectum
dan kolon.
Modul Farmakologi 63

Diperdagangan, barium sulfat untuk diagnose tersedia sebagai serbuk bahan mentah
yang mengandung baku pensuspensi yang dibutuhkan untuk efektivitas pengecoran
pada suspense oral atau enema sebelum diberikan. Untuk enema terdiri dari suspense
yang sudah dibuat dalam kantung diposable dan siap untuk digunakan, jugatersedia
(Barosperse Disopable Barium Enema Unit (Mallinckrodt)

Fenoksimetilpenisilin= Penisilin V (Isocilin®), propolisin (Baycillin ®)

Stabil terhadap asam: zat ini dapat diberikan oral

Tidak stabil terhadap β-laktamase

i. Farmakodinamik

Mekanisme kerja: Penghambat sintesis dinding sel pada tahap terakhir dengan jalan
inaktivitas D-alanin0transpeptidase.

Tipe efek: bakterisid sekunder

Spectrum aktivitas: seperti Penisilin G

ii. Indikasi obat:

Penisilin Oral, penggunaan terapi: Infeksi pneumokokus dan Meningokokus, Gonore,


Lues, Lyme-Borreliosis, infeksi anaerob; pneumonia, arthritis, meningitis dan otitis
media yang disebabkan Streptokokus, serta sinusitis.

iii. Kontra Indikasi:

Penisilin oral, kontra indikasi: alergi penisilin.

iv. Farmakokinetik (Dosis)

v. Efek Samping

Penisilin Oral: reaksi alergi dari pembentukan eritema ringan hingga syok anafilatik dan
untuk mencegah perkembangan alergi, pengunaan topical dilarang

1. Penisilin spectrum luas terhadap kuman gram negative yang sulit dibasmi

Mezlosilin (Baypen®), Piperasilin (Pipril®)

Tidak stabil terhadap asam dan β laktamase

i. Indikasi:
Modul Farmakologi 64

Penggunaan terapi pada infeksi, juga infeksi campuran dengan penyebab gram
negative dan gram positif, aerob, dan anaerob, terutama Pseudomonas,
Klebsiella, Proteus, Serratia, E.coli, Neisseria, berbagai bentuk kelangsungannya
(juga yang berat). Untuk profilaksis perioperatif.

Kombinasi dengna Tazobaktam (Tazobac®) memungkinkan pelebaran nyata dari


spectrum efeknya (mirip Zienam®) dan suatu usaha pilihan uuntuk bidang pengobatan
intensif.

ii. Kontra Indikasi:

Penisilin spectrum luas terhadap kuman gram negative yang sulit dibasmi,
kontraindikasi: alergi penisilin.

iii. Farmakodinamik

Mekanisme kerja: penghambatan sintesis dinding sel pada tahap terakhir melalui
inaktivitas D-alanin-transpeptidase.

Tipe efek: bakterisid sekunder

Spectrum aktivitas:1) Proteus, pseudomonas, klebsiella dan enterobakter sensitive; 2)


serratia, salmonella dan E.coli kurang sensitive; 3) tidak efektif terhadap Stafilokokus
yang menghasilkan penisilinase; 4) terhadap Pseudomonas, Piperasilin bekerja lebih
kuat daripada Mezlosillin.

Penisilin spectrum luas terhadap kuman gram negative yang sulit dibasmi, penggunaan
terapi: infeksi, juga infeksi campuran dengan penyebab gram negative dan gram positif,
aerob, dan anaerob, terutama Pseudomonas, Klebsiella, Proteus, Serratia, E.coli,
Neisseria, berbagai bentuk kelangsungannya (juga yang berat). Untuk profilaksis
perioperatif.

Kombinasi dengan Tazobaktam (Tazobac®) memungkinkan pelebaran nyata dari


spectrum efeknya (mirip Zienam®) dan suatu usaha pilihan uuntuk bidang pengobatan
intensif.

iv. Farmakokinetik
Modul Farmakologi 65

Terutama pada Mezlosillin, tercapai dosis di empedu yang sangat tinggi

Petunjuk: 1) Pada pasien dengan diathesis alergis penggunaan parenteral harus dengan
hati-hati; 2) Pada pemberian bersama-sama dengan antikoagulan oral: kecenderungan
perdarahan lebih kuat; 3) Pada pasien dengan kecenderungan perdarahan perlu dikontrol
terhadap parameter pembekuan.

v. Pada Kehamilan dan masa menyusui

Sikap ketat untuk indkasi pada trimester ke-1 karena Mezlosillin dapat menembus sawar
plasenta.

1. Obat merek Amoksisilin, Golongan Penisilin

i. Indikasi:

strain bakteri yang peka infeksi kulit dan jaringan lunak: staphylococcus bukan
penghasil penisilinase, streptococcus, S. pneumonia. E. coli

infeksi sal genitourinary: E. coli, P. mirabilis dan Streptococcus faecalis.

Gonore: N. gonorrhoe (bukan penghasil penisiline)

ii. Kontra Indikasi: Obat merek Amoksisilin,


Golongan Penisilin. Kontra Indikasi: hipersensitif terhadap hipersensitivitas, pasien
dengan riwayat alergi terhadap penisilin.

iii. Dosis:

1) Dewasa dan anak-anak dengan Berat Badan lebih dari 20 kg 250-500


mg tiap 8 jam.
Modul Farmakologi 66

2) Anak-anak dengan Berat Bayi lahir kurang dari 20 kg: sehari 20-40 mg/kg/ BB
dalam dosis bagi tiap 8 jam.

3) Untuk penderita dengan gangguan ginjal perlu dilakukan pengurangan dosis.

4) Pada penderita yang menerima dialisa peritoneal: dosis maksimal yang dianjurkan
sehari 500 mg.

5) Gonokokkus uretritis: amoksilin 3 gram sebagai dosis tunggal

6) Anak-anak dengan BB<8 kg sebaiknya diberikan sediaan sirup kering.

7) Dosis sebaiknya diberikan sesudah makan.

iv. Efek Samping:

Obat merek Amoksisilin.

Reaksi kepekaan seperti erythematosus maculopapular, rash, urtikaria, serum sickness.

Reaksi kepekaan yang serius dengan fatal adalah anafilaksis terutama terjadi pada
penderita yang hipersensitif pada peniseilin.

Gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah dan diare

Reaksi hematologic (biasanya bersifat reversible).

2. Obat Antibiotik Golongan Sefalosporin

3. Pada Sefalosporin generasi ke1: Sefazolin (Gramaxin®) Sefalosporin basis

i. Indikasi obat. Obat pilihan ke-1 untuk profilaksis perioperatif.


Sefalosporin generasi ke-1, penggunaan terapi: alergi penisilin, infeksi Stafilokokus,
infeksi luka ringan. Obat pilihan ke-1 untuk profilaksis perioperatif.

ii. Farmakodinamik

1) Mekanisme kerja: seperti Penisilin G.

2) Tipe efek: bakterisid sekunder

3) Spectrum aktivitas: 1) Bakterisit terhadap sejumlah besar kuman gram positif dan
beberapa kuman gram negative; 2) Selain kuman yang sensitive terhadap Penisilin G,
batang gram positif dan gram negative juga peka. Aktivitas yang sangat baik terhadap
Stafilokokus (golongan Sefalosporin yang mempunyai efektivitas terhadap stafilokokus
Modul Farmakologi 67

yang paling tinggi adalah Sefazolin); 3) Proteus, Pseudomonas, Morganella morganii,


Klebsiella, Shigella dan Enterokokus adalah resisten

iii. Kontra Indikasi:

Sefalosporin generasi ke-1, kontraindikasi terhadap: hipersensitig terhadap antibiotic β-


laktam.

iv. Farmakodinamik (Dosis)

v. Efek samping:

Pada sefalosporin generasi ke-1, efek samping: reaksi hipersenitivitas (syok anafilatik
±1%), leucopenia (alergis), gangguan fungsional pada trombosit (jarang kecenderungan
perdarahan; antagonismus vitamin K), kenaikan konsentrasi transaminase yang
reversible, gangguan gastrointestinal.

Obat merek Brospec, golongan Sefalosporin.

i. Indikasi:

Infeksi saluran pernapasan, kulit dan jaringan lunak, ginjal dan saluran kemih, tulang
dan sendi dan pra operasi infeksi intra abdominal, GO tanpa komplikasi

ii. Kontra Indikasi:

Obat merek Brospec, golongan Sefalosporin. Kontra Indikasi: hipersensitif terhadap


sefalosporin.

iii. Dosis:

Obat merek Brospec, golongan Sefalosporin. Dosis:

1) Dewasa dan anak lebih dari 12 tahun: sehari 1x 1-2 gram atau dibagi dalam 2
dosis. Maksimal sehari 4 gram.

2) Go tanpa komplikasi: 250 mg dosis tunggal IM.

3) Terapi profilaksis: 1 dosis tunggal IV 1/2-2JAM PRA OP.

4) Anak lebih dari 12 tahun: infeksi kulit, sehari 1×50-75 mg/kgBB atau dibagi
dalam 2 dosis. Maksimal sehari 2 gram.
Modul Farmakologi 68

5) Infeksi berat selain meningitis 50-70 mg/kgBB/ hari dalam dosis terbagi tiap 12
jam. Maksimal 4 gram.

6) Profilaksis 1 gram dosis tunggal IV 1/2 -2 jam pra op.

iv. Efek Samping:

Obat merek Brospec, golongan Sefalosporin. Efek samping: pruritis, dermatitis,


urtikaria, edema, eritema multiformis, mual, muntah, diare, stomatis, glositis, sakit
kepala, pusing, peningkatan enzim hati dan keratin, serum, mikosis, saluran genital,
reksi anafilatik, eosinofilia, tromositopenia, leucopenia, granulositopenia, anemia
hemolitik.

3. Obat Antibiotik Golongan Kloramfenikol

Serupa dengan tetraksilin, maka kloramfenikol juga berspektrum luas dan spesifik
terhadap bakteri Salmonella typhosa, Hemophilus infulenze dan Bordetella pertussis,
meskipun telah banyak bakteri yang resisten. Pemberian utama per os diserap dengan
baik dan distribusinya luas. Biotransformasinya terjadi di hati dan dikeluarkan melalui
air kemih serta empedu. Karena kloramfenikol toksik terhadap sumsum tulang, maka
pemakaiannya sangat terbatas terutama untuk penyakit berat dan penyakit tifus.

Bayi dapat mengalami keracunan yang disebut “Greby-baby syndrome” yaitu bayi
berwarna abu-abu, lemah terjadi syok dan meninggial. Pemberiannya sebagai salep
mata untuk konjungtivitas memberi rasa pedih. Superinfeksi dapat terjadi setelah 5-10
hari pemberian dan juga dapat terjadi depresi sumsum tulang yang mungkin menetap.
Pemeriksaan hitung jenis darah agar dilakukan secara periodik.

Kloramfenikol juga memberi kebutaan dan alergik yang dapat berakibat fatal. Perlu
diperhatikan untuk tidak memberikan koramfenikol pada ibu yang menyusui, karena
kloramfenikol dikeluarkan bersama ASI. Dosis kloramfenikol 50 mg/kg BB dan untuk
tiamfenikol 1 gram sehari.

Contohnya obat golongan kloramfenikol antara lain: Hufatichol, Dionicol,


Thiampenicol, Suprachlor, Zenichlor, dan sebagainya

Obat Merek Thiamfenikol, golongan Kloramfenikol


Modul Farmakologi 69

i. Indikasi:

Infeksi yang disebabkan H influenza, ricketsia, lymphogranuloma-psittacosis, bakteri


gram negative penyebab bakteremia-maningitis.

ii. Kontra Indikasi:

Obat merek Thiamfenikol, golongan Kloramfenikol. Kontra indikasi: hipersensitif


terhadap tiamfenikol, gangguan faal hati berat, gangguan ginjal, hamil dan menyusui.

iii. Dosis:

Obat merek Thiamfenikol, golongan Kloramfenikol. Dosis:

1) Dewasa, anak-anak dan bayi lebih dari 2 minggu: 50 mg/kg BB, terbagi dalam
sehari 3-4 x.

2) Bayi premature atau kurang dari 2 minggu: 25 mg/kg BB, dalam dosis terbagi 4,
infeksi gonokokal 5000 mg sehari dalam dosis tunggal, dilanjutkan 500 mg sehari 3x
selama 5 hari

iv. Efek Samping:

Obat merek Thiamfenikol, golongan Kloramfenikol. Efek samping:

1) Diskraksia darah, seperti anemia plastic, anemia hipoplastik, trombositopenia, dan


granulositopenia,

2) reaksi hipersensitif seperti demam, ruam, agloderma dan urtikarta.

3) Gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, glositis, stomatitis, dan diare.

4) Efek samping lainnya seperti sakit kepala, depresi migrant, gangguan mental
neuritis optic dan perifer dan sindrom gray

4. Obat Antibiotik Golongan Tetrasikllin

Golongan tetrasiklin merupakan antibiotika berspektrum luas. Pengembangan golongan


ini memiliki sifat farmakologi yang sama dan hanya berbeda potensi yaitu: doksisilin>
metasilin> klortetrasiklin= demoksiklin> tetrasiklin> oksitetraksiklin

Selain terhadap bakteri Gram negatif dan Gram positif, golongan ini juga membunuh
riketsia, amuba, mikoplasma, trakoma dan beberapa lagi. Resistensi dapat terjadi pada
Modul Farmakologi 70

pemakaian yang kurang tepat. Penyerapannya per os baik, tetapi terikat oleh logam Al,
Mg, Ca, Fe dan makanan. Distribusi golongan tetraksilin dalam tubuh luas dan ditimbun
di dalam tulang dan gigi, karena terikat oleh kalsium. Ekskresinya melalui air kemih
dan tinja. Toksisitasnya berupa mual, muntah dan diare dengan dehidrasi berat;
superinfeksi sering terjadi setelah pemberian selama 3 hari. Karena tetrasiklin ditimbun
di dalam gigi dan tulang, maka pada pemberian pada anak berusia di bawah 12 tahun
dapat menyebabkan kerusakan gigi. Pada wanita hamil trisemester terakhir, dapat terjadi
gangguan perkembangan tulang pada bayi yang akan dilahirkan. Yang berbahaya adalah
toksisitasnya pada ginjal dan hati, karena berakibat fatal. Pada pemberian yang lama
mengakibat anemia, fotosensitivitas dan gangguan pembekuan darah.

Tetrasiklin yang kadaluarsa dapat mengakibatkan sindrom Fanconi. Penggunaan


klinisnya cukup luas dan di Indonesia masih merupakan obat pilihan terhadap “kolera”.
Selain itu, diberikan pula untuk terapi infeksi pernapasan, gonore, akne, enteritis dan
meningokok. Pemberian per injeksi sangat nyeri dan hanya diberikan pada keadaan
gawat. Dosis tetrasiklin, oksitetrasiklin dan klortetrasiklin masing-masing 1-2 gram per
oral, doksisiklin 200 mg dosis awal diusul 100-200 mg dosis penunjang, demoksilin 600
mg.

Contohnya merek golongan tetraksilin: Silidon, novabiotic, kemoclin, suprabiotic, dan


sebagainya.

1. Tetrasiklin (Oxytetracyclin JENAPHARM), Rolitetrasilin (Revin®),


Doksisiklin (Vibramycin®), Minosiklin (Klinomycin®), Tetrasiklin
(Supramycin®)

i. Indikasi:

1) Antibiotik spectrum luas pilihan kedua; 2) Bronkitis kronis, infeksi pulmonal karena
mikoplasma, infeksi saluran empedu dan banyak infeksi lainnya, untuk terapeutik lain
yang diindikasi primer; 3) obat pilihan ke-1 pada infeksi langka seperti kolera atau pes.

Petunjuk: tetrasiklin dengna ion logam bervalensi 2 atau lebih membentuk kompleks
kelat. Tetrasiklin dapat melewati sawar plasenta dan berdifusi ke dalam ASI. Di tulang,
tetrasiklin disimpan dalam bentuk kelat –Ca2+ yang inaktif dan selama fase mineralisasi
terkumulasi secara ireversibel pada email gigi.
Modul Farmakologi 71

ii. Kontra indikasi tetrasiklin:

Hipersenitivitas terhadap tetrasiklin, kehamilan dan masa menyusui, gangguan fungsi


ginjal yang berat (tidak berlaku untuk Doksisiklin dan Minosiklin), gangguan fungsi
hati, anak-anak berusia di bawah 8 tahun, penggunaan parenteral pada Miastenia gravis
(karena kadar Mg yang tinggi pada sediaannya).

iii. Farmakodinamik

Mekanisme kerja: biosintesis protein (inisiasi dan elongasi) dihambat melalui ikatan
pada subunit 30S.

Tipe efek: bakteriostatik

Spectrum aktivitas: 1) sangat luas 2) mencakup bakteri gram positif dan gram negative,
mikoplasma, klamida, dan riketsia, serta dalam dosis tinggi terhadap amuba.

Jenis proteus dan enterobakteri, serati dan pseudomonas bersifat resisten.


Perkembangan resistensi berlangsung lambat mengikuti suatu pola langkah majemuk.

iv. Farmakokinetik (Dosis)

v. Efek Samping:

Efek samping (±5-10%): efek gastroinstestinal, gangguan fungsi hati (fatty liver),
dermatosis fotoalergik, eksantema, perlambatan pembekuan darah (pembentukan
kompleks dengan Ca 2+?). gangguan fungsi ginjal karena hasil peruraian, kerusakan
gigi, superinfeksi oleh jamur dan bakteri.

1. Obat merek Doxacin, golongan Tetrasiklin.


Modul Farmakologi 72

i. Indikasi:

infeksi saluran nafas bawah termasuk pneumonia disebabkan H. influenza, Klebsiella


sp, S. Pneumoniae; pneumonia disebabkan Mycosplasma pneumonia, bronchitis dan
sinus kronis, ISK disebabkan fleksibella sp, Enterobacter, S. Faecallis, E. Colli; infeksi
kulit; penyebab karena hubungan seksual; gonore dan sifilis; injeksi mata disebabkan
Gonococci, Staphylococci, dan H. influenza; infeksi Rickettsia.

ii. Kontra Indikasi:

Obat merek Doxacin, golongan Tetrasiklin. Kontra Indikasi: hipersensitif, hamil,


menyusui dan anak kurang dari 8 tahun.

iii. Dosis:

Obat merek Doxacin, golongan Tetrasiklin. Dosis:

1) Dewasa dan anak-anak lebih dari 2 tahun BB>45 kg: hari pertama 200mg dosis
tunggal atau terbagi 2 dosis; dilanjutkan dengan pemeliharaan sehari 1×100 mg atau
sehari 2×50 mg

2) Infeksi berat: sehari 200mg

3) Anak-anak lebih dari 8 tahun BB kurang dari 45 kg: hari pertama 4 mg/kgBB/ hari
terbagi dalam 2 dosis, selanjutnya 2 mg/kgBB/hari

4) Infeksi berat: 4mg/ kgBB tiap 12 jam.

iv. Efek Samping:

Obat merek Doxacin, golongan Tetrasiklin. Efek samping: gangguan fungsi hati, control
fungsi dan ginjal

5. Obat Antibiotik Golongan Aminoglikosid

Aminoglikosid berkhasiat bakteriostatik terhadap bakteri Gram negatif. Termasuk


dalam kelompok ini adalah streptomisin, neomisin, kanamisin, amikasin, veomisin,
gentamisin, tobramisin, sisomisin dan beberapa jenis lainnya. Toksisitas golongan
aminoglikosid sama yaitu pada ginjal dan otovestibuler.

1. Streptomisin
Modul Farmakologi 73

Streptomisin dan dihidrostreptomisin berkhasiat bakteriostatik terhadap bakteri Gram


negatif dan mikrobakteri (TBC, lepra). Resistensi terhadap streptomisin dapat terjadi
dengan cepat. Penyerapannya per os buruk dan harus diberikan i.m.. pemberian per os
ditujukan untuk terapi infeksi saluran cerna dan sterilisasi usus. Eksresinya melalui
ginjal dan empedu, sehingga bila terdapat insufisiensi akan memberi peningkatan kadar
obat dalam darah.

Toksisitasnya berupa reaksi alergi hingga syok anafilaktik berat, ketulian untuk
dihidrostreptomisin dan kehilangan keseimbangan untuk streptomisin, dan pada dosis
tinggi terjadi kerusakan ginjal.

1. Kanamisin, Neomisin, Amikasin, Gentamisin dan Tobramisin

Aktifitas antibiotik ini bersifat bakterisid terhadap Gram positif dan Gram negatif.
Kanamisin dan neomisin juga efektif terhadap mikrobakteri. Penyerapan neomisin dan
kanamisin per os buruk, sedangkan gentamisin dan tobramisin cukup baik.

Kelompok antibiotik ini memberi keracunan yang sama dengan streptomisin yaitu pada
ginjal dengan saraf pendengaran/ keseimbangan.

Penggunaan klinisnya sama dengan streptomisin, dengan dosis 1-2 gram i.m., dosis
gentamisin dan tobramisin 300-500 mg i.m., dosis kanamisin dan neomisin 500 mg i.m.
sediaan salep gentamisin banyak diberikan sebagai salep luka bakar dan luka pada kulit.

Contohnya merek lainnya: zithromax, zycin, vipram, tromilin, twintic, rovamycin,


spiradan, dan sebagainya.

Berikut keriteria mengenai Aminoglokoid, yakni:

Cara Kerja Obat Golongan Aminoglokoid:

1. Streptomisin (Strepto-Fatol), Gentamisin (Refobacin®), Kanamisin


(Kanamytrex®)

i. Indikasi:

1) antibiotic untuk indikasi khusus;2) kelompok streptomisin: tuberculosis (terapi


basis), bruselosis; 3) Kelompok Gentamisin: infeksi dengan Pseudomonas, sepsin,
endoktarditis, osteomielitis; 4) Kelompok Kanamisin: infeksi Pseudomonas, Proteus,
Modul Farmakologi 74

Serratia dan local untuk mata; 5) Kelompok Neomisin: local untuk infeksi kulit dan
usus; 6) Spektinomisin: gonore.

ii. Kontra Indikasi:

Aminoglikosida, memiliki kontra indikasi: kehamilan, adanya cacat pendengaran dan


vestibular, gangguan ginjal yang berat, alergi terhadap aminoglikosid.

iii. Dosis:

iv. Farmakodinamik

Mekanisme kerja: penghambat biosintesis Protein (inhalasi dan elongasi) melalui ikatan
pada subunit 30S. selain itu, menyebabkan salah baca pada mRNA, yang
mengakibatkan pembentukan protein “nonsense”. Namun efek bakterisid senyawa ini
disebabkan oleh gangguan permeabilitas dari membrane sitoplasma.

Tipe efek: bakterisid primer (juga kuman dalam fase istirahat dapat dibasmi)

Spectrum aktivitas: 1) sedang; 2) terutama bakteri gram negative, yang penting adalah
efek dari senyawa baru (kelompok Gentamisin) terhadap kelompok Pseudomonas.

Perkembangan resistensi terjadi dengan cepat (resistensi satu langkah). Di antara


anggota aminoglikosid terdapat resistensi silang parsial (untuk sebagian bersifat
sepihak).
Modul Farmakologi 75

v. Farmakokinetik

Aminoglikosid menembus sawar plasenta dan mencapai fetus. Kadar yang tercapai di
ASI rendah (±2% nilai serum).

vi. Efek Samping:

Golongan aminoglikosida, memiliki efek samping: ototoksik dan nefrotoksik karena


kumulasi selektif di perilimfa telingah sebelah dalam dan dengan ikatan pada asam
fosfolipid di mikrovili tubulus proksimal. Karena menghambat pembebasan asetikolin
pada lempeng akhir motorik, aminoglokolisid juga memiliki efek relaksasi otot.
Penggunaan secara local dapat menyebabkan sensibilisasi disertai perkembangan alergi
terhadap golongan obat ini.

1. Obat merek Gentamycn Tia, golongan aminoglikosida

i. Indikasi:

infeksi Pseudomonas, Proteus, Serratia dan local untuk mata

ii. Kontra indikasi:

Hipersensitif, insufiensi ginjal, miastenia jangka panjang.

iii. Dosis:

Obat merek Gentamycn Tia, golongan aminoglikosida. Dosis:

1) Dewasa: 3 mg/ kg/BB/ hari terbagi dalam 3 dosis.


Modul Farmakologi 76

2) Infeksi mengancam jiwa 5 mg/kg/ BB/ hari terbagi dalam 4 dosis. Kemudian
diturunkan menjadi 3 mg/kg/BB/ hari.

3) Anak-anak 3-5: mg/kg/BB/ hari terbagi dalam 3 dosis.

4) Bayi dan neonates:6mg/kg/BB/hari terbagi dalam 2-3 dosis.

5) Bayi premature atau bayi matur usia 1 minggu: 6 mg/ kg/BB/ hari terbagi dalam 2
dosis. GO 280 mg IM dosis tunggal.

iv. Efek samping:

Obat merek Gentamycn Tia, golongan aminoglikosida. Efek Samping: ototoksitas,


nefrotoksisitas, blockade, neuromuskluer, superinfeksi.

6. Obat Antibiotik Golongan Kuinlon

Contohnya obat merek abaktal, akilen, armolec 500, avelox, bactiprox, baquinor,
bernoflox, dan lain-lain.

1. Asam Nalidiksat (Nogram®), Asam Pipemidat (Deblaston®), Norfloksasin


(Barazan®).

i. Indikasi Penggunaan terapi: karena pada dosis yang


umum konsentrasi antibakteri hanya tercapai di dalam urine, senyawa ini cocok untuk
infeksi saluran kemih, infeksi organ (jalan pernapasan, ruang abdomen, kulit dan
jaringan lunak) oleh kuman yang sensitive, infeksi urologis, gonore, infeksi deengan
klamidia dan mikoplasma, tuberculosis. Karena efektifitasnya terhadap helicobacter
pylori juga digunakan pada gastritis kronis ulkus duodenum.

ii. Farmakokinetik:

Mekanisme kerja: subunit A dari DNA-girase dihambat dengan demikian, penghambat


gilase menghambat puntiran DNA (supercoiling) yang mutlak diperlukan untuk fase
istirahat.
Modul Farmakologi 77

iii. Farmakodinamik:

1) Mekanisme kerja: subunit A dari DNA girase dihambat. Dengan demikian


penghambat girase menghambat puntiran DNA (supercoiling) yang mutlak diperlukan
untuk fase istirahat.

2) Tipe efek bakterisid primer

3) spectrum aktivitas: kuman gram negative (inklusif spesies Pseudomonas dan


Salmonela) dan Gram positif. Klamidia, mikoplasma dan legionela kepekaan sedang.

4) Efek terhadap beberapa mikobakteria juga bermakna (ofloksasin).

Perkembangan resistensi selama terapi berlangsung lambat. Kuman yang resisten


terhadap nalidiksin sensitive terhadap senyawa yang lebih baru.

iv. Dosis:

v. Efek Samping:

Mual, rasa tidak enak diperut, dyspepsia, kembung, diare danstomatitis, colitis
psedomembranosa, sakit kepala, pusing, tidak enak badan, mengantuk, rasa capek,
kegelisahan, insomnia (sulit tidur), terkadang depresi, halusinasi, pandangan kabur,
psikosis dan kejang, kulit kemerahan.
Modul Farmakologi 78

1. Obat merek Ciprofloxacin OGB Dexa, golongan Kuinolon

i. Indikasi:

infeksi ringan, berat, gonore.

ii. Dosis:

Obat merek Ciprofloxacin OGB Dexa, golongan Kuinolon. Dosis:

1) Infeksi ringan: sehari 2×250 mg.

2) Infeksi berat: sehari 2×500 mg.

iii. Efek Samping:

Mual, rasa tidak enak diperut, dyspepsia, kembung, diare danstomatitis, colitis
psedomembranosa, sakit kepala, pusing, tidak enak badan, mengantuk, rasa capek,
kegelisahan, insomnia (sulit tidur), terkadang depresi, halusinasi, pandangan kabur,
psikosis dan kejang, kulit kemerahan.

7. Obat Antibiotik Golongan Makrolid

8. Eirtromisin (Erythrocyn ®), Josamycin (Wilprafen®), Spiramisin


(Selectomycin®), Roksitromisin (Rulid®), Klaritromisin (Klacid®).

Penggunaan

Contohnya obat merek: abbotic/ abbotic XL, anbiolid, aztron, bannthrocin, bicrolid,
binoklar, binozyt, biostatic, clanine, clapharma, colistine, comtro, corsatrocin, dan
sebagainya.

i. Farmakokinetik:

1) Eritromisindiinaktivitasi oleh asam lambung. Untuk memperbaiki abasorpsinya


pada pemakaian oral, maka digunakan bentuk ester. Pemberian bersama makanan
mengurangi bioavailablitias sistemik.

2) Roksitromisin setelah pemberian oral diabsorbsi cepat dan baik (→dosis rendah).
Bioavailablitias oral tidak dipengaruhi oleh penyerapan makanan pada waktu yang
Modul Farmakologi 79

sama. Karena t1/2 panjang (pada orang lanjut usia hingga 27 jam) pemberian dapat
dilakukan 1 -2 kali sehari.

3) Klaritomisin sebagai 6- metoksieritromisin bersifat stabil terhadap asam.


Pemberian makanan waktu yang sama tidak mempengaruhi biovalibilitas sistemik.

ii. Indikasi Penggunaan Terapi:

1) Pada alergi penisilin dan kuman yang resisten terhadap Peniseilin, serta penting
untuk infeksi dengan Mycoplasma pneumonia, Legionella dan Kampilobakter.

2) Spiramisin digunakan terhadap Toksoplasmosis selama kehamilan.

Mekanisme kerja: Biosintesis protein (elongasi→inhibisi terhadap translokasi) dihambat


oleh pengikat pada subunit 50S.

Tipe efek: bakteriostatik

Spectrum aktivitas: mencakup terutama kokus positif dan gram negative, legionella,
klamida dan mikoplasma. Di antara anggota golongan Makrolid, terhadap Linkosamid
serta Kloramfenikol ada resistensi silang parsial. Perkembangan tensi terjadi dengan
cepat menurut pola langkah tunggal.

iii. Kontraindikasi:

Kontra indikasi pada kerusakan hati (Eritromisinestolat dan TAO), massa menyusui.

iv. Dosis:

v. Efek Samping:
Modul Farmakologi 80

Efek samping (±10%): sangat jarang bersifat serius: keluhan lambung karena iritasi
lokal, hepatitis kolestatis disebabkan oleh Eritromisinestolat dan Triasetiloleandromisin
(TAO), pada dosis tinggi, kerusakan pendengaran, reaksi alergis.

1. Obat merek Binozyt, golongan Makrolida

i. Indikasi:

1) Pengobatan pada usia lebih dari 16 tahun dengan infeksi saluran pernafasan atas
(misalnya Sinusitis, faringitis, tonsillitis, dan media otitis akut)

2) Infeksi saluran pernapasan bawah (misalnya Bronkitis akut dan ringan sampai
pneumonia berat sedang)

3) Infeksi kulit dan jaringan lunak

4) Infeksi genitalia tanpa komplikasi karena Chlamydia trachomatis

5) Faringitis karena strep pyogenes

6) Profilaksis karena demam rematik.

ii. Kontra Indikasi:

Obat merek Binozyt, golongan Makrolida. Kontra Indikasi: hipersensitif terhadap


azitromisin atau makrolid.

iii. Dosis:

1) Obat merek Binozyt, golongan Makrolida. Dosis:

2) Penyembuhan hubungan seksual dewasa dan lansia karena Chlamydia


trachomatis:100 mg dosis tunggal oral

3) Dewasa lebih dari 16 tahun:1500 mg dalam 3 hari (500 mg/ hari) atau
rejimen 5 hari (500mg dosis tunggal pada hari 1, kemudian sehari 250 mg pada hari 2-5)

4) Dapat diminum dengan makaann untuk mengurangi ketidaknyamanan


gigi.
Modul Farmakologi 81

5) Pasien dengan penyakit neurologic atau psikiatrik, immunodefisiensi


atau asplenia fungsional, kerusakan hati yang berat, diare, pasien lansia dan lemah.

iv. Efek Samping:

Obat merek Binozyt, golongan Makrolida. Efek samping: moniliasis, vaginitis,


trombositopenia, anafilaksis termasuk syok anafilatik, reaksi agresif, gelisah, gangguan
urat saraf, pusing, thesia, konfulsi, sakit kepala, somnolen, hiperaktif, paresthesia, rasa
tidak enak, diperut (sakit/ keram), muntah, kembung, gangguan pencernaan, penurunan
nafsu makan, konstipasi, pseudomembranous colitis, lidah kotor, intrahepatic cloestatic,
hepatitis, ruam, pruritis, angioedema, urtikaria, fotosensitif, erythema multi forme,
sindrom Steven-Johnson, nekrolitik epidermal toksik, artralgia, interstitial nefritis, gagal
ginjal akut, asthenia.

8. Obat Antibiotik Golongan Lain-lain

9. Eritromisin

Aktivitas eritromisin mirip dengan penisilin, tetapi kekuatannya lebih rendah. Karena
banyak individu yang alergi terhadap penisilin, maka eritromisin bermanfaat sebagai
penggantinya. Indikasi klinisnya sama dengan golongan penisilin.

Juga bila terdapat resistensi terhadap penisilin, maka eritromisin dapat digunakan
sebagai pengganti. Penyerapan per os baik, sulit memasuki SSP dan eksresinya melalui
tinja. Toksisitasnya berupa mual, muntah, superinfeksi dan alergi seperti penisilin.

Pemberian i.m. menimbulkan rasa nyeri, tetapi dapat diberikan secara i.v. untuk
beberapa preparat. Dosis eritromisin 2 gram diawali dengan dosis 500 mg. Yang mirip
golongan eritromisin adalah spiramisin dengan dosis 1,5-2 gram per os.

1. Kelompok polimiksin

Terdapat 5 jenis polimiksin yang ditemukan yaitu plimiksin A, B, C, D, dan E, tetapi


yang digunakan hanyalah polimiksin B dan E. Keduanya hanya aktif terhadap Gram
negatif.

Polimiksin tidak diserap di usus dan tidak dapat memasuki cairan serebrospinal.
Eksresinya melalui ginjal dan sangat toksik terhadap ginjal. Obat ini juga dapat
Modul Farmakologi 82

memberi gejala kelumpuhan dan penghentian pernapasan. Pemakaiannya klinisnya


hanya untuk infeksi: pseudomonas, shigela, disentri dan enterobakteri. Pemakaian yang
luas hanyak akan menambah kasus toksisitas. Lebih banyak digunakan secara topikial
untuk kulit, buli dan saluran napas.

Contohnya obat merek: aditrim, aditrim force, andrizen, anerocid, anamerob, bactoprim,
bactricid, dan sebagainya

Obat merek Novagyl, metronidazol 125 mg/5ml suspense; 500 mg/ tablet, golongan
lain-lain.

i. Indikasi:

infeksi tratus urinarius, infeksi traktus, saluran cerna, infeksi traktus respiratorius.

ii. Kontraindikasi:

Obat merek Novagyl, metronidazol 125 mg/5ml suspense; 500 mg/ tablet, golongan
lain-lain. Kontra Indikasi: penderita yang diketahui hipersensitif terhadap Metronidazol
atay derivate nitromidazole lainnya, trimester pertama kehamilan.

iii. Dosis:

Obat merek Novagyl, metronidazol 125 mg/5ml suspense; 500 mg/ tablet, golongan
lain-lain. Dosis

1) Dianjurkan minum 1 jam sebelum makan

2) Amubiasis: Dewasa instestinal amoebasis: 750mg 3kali sehari selama 5-10


hari; Dewasa hepatic amoebasis:750mg 3 kali sehari selama 5-10 hari; anak: 35-50/
kgBB sehari dibagi dalam 3 dosis dalam 10 hari;

3) Trichomomiasis: Dewasa 2 g dalam dosis tunggal selama 1 hari atau dalam


dosis tunggal selama 1 hari atau dalam dosis terbagi sehari 2×500 mg atau sehari
3x250mg selama 7 hari berturut-turut; anak-anak: 15mg/kgBB hari sehari dalam dosis
terbagi 3 selama 7-10 hari;

4) Giardiasis: dewasa: sehari3x250 mg-500 mg selama 5-7hari atau sehari 2 g


dalam dosis tunggal selama 3 hari; anak-anak: sehari 3×5 mg/kbBB selama 5-7hari;
Modul Farmakologi 83

5) Infeksi bakteri anaerobic: untuk infeksi yang serius, metronidazol IV


diberikan pada awal pengobatan; Dewasa: 7,5mg/kgBB setiap 6 jam (±500mg untuk
dewasa dengan BB 70 kg) maksimal sehari 4 gram selama 7-10 hari.

iv. Efek Samping

Obat merek Novagyl, metronidazol 125 mg/5ml suspense; 500 mg/ tablet, golongan
lain-lain. Efek samping: anoreksia, nyeri pada epigastrum, convulsive seizure dan
neuropati perifer, rasa tidak enak di mulut, furred tongue, mual, muntah atau gangguan
pada saluran cerna sering dilaporkan, urtikaria, kemerahan pada kulit, pruritus,
angioderma dan anafilasi; pernah terjadi: mengantuk, pusing, sakit kepala, ataksia dan
urin berwarna.

Latihan :
1. Jelaskan macam-macam antibiotik
2. Jelaskan jenis-jenis antibiotik berdasarkan struktur kimianya
3. Jelaskan resistensi antibiotik

Petunjuk Latihan
1. Perhatikan pembahasan macam-macam antibiotik berdasarkan targetnya
2. Perhatikan pembahasan macam-macam antibiotik berdasarkan struktur kimianya
3. Perhatikan pembahasan resistensi antibiotik

Kesimpulan

1. Obatan antibiotic dapat berupa antibakteri (misalnya gentamisin), antivirus


(misalnya asiklovir), antifungi (misalnya flukonazol), antiprotozoa (misalnya
metronidazol) atau antihelmintes (misalnya mabendazol).

2. Jenis antibiotik berdasarkan struktur kimianya adalah golongan penisilin,


sefalosporin, kloramfenikol, dan tetrasiklin.

3. Penggunaan antibiotik harus bijaksana untuk mencegah resistensi antibiotik


Modul Farmakologi 84

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :


90 – 100% = Baik sekali
80- 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 85

MODUL X

OBAT ANALGESIK/ANTIPIRETIK

Pendahuluan

Assalamualaikum, hari ini kita akan mempelajari tentang analgesik dan antipiretik.
Karena pengggunaannya yang sangat luas, maka kita sebagai perawat harus
memperhatikan golongan obat ini.

Analgesik

Analgesik atau analgetik, adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran.

Obat ini digunakan untuk membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita sering
mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu komponen
obat yang kita minum biasanya mengandung analgesik atau pereda nyeri.

Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu tubuh atau obat untuk
menurunkan panas. Hanya menurunkan temperatur tubuh saat panas tidak berefektif
pada orang normal. Dapat menurunkan panas karena dapat menghambat prostatglandin
pada CNS.

Analgetika Narkotik

Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja
yangterletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan
danmenidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan
toleransidan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan
adiksi) dengangejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya
adiksi ini, makakebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam
Undang-UndangNarkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen
Modul Farmakologi 86

POM.Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai
berikut:

Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin,


hidromorfon,hidrokodon, dan dionin.2. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari :

Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil

Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan

d-ptopoksifen

Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.2. Analgetika Perifer


(non-narkotik)Obat obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak
mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan
ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan
suhu badan pada keadaan demam, makadisebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya
berdasarkan rangsangannya terhadap pusatpengatur kalor di hipotalamus, yang
mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) denganbertambahnya pengeluaran kalor
dan disertai keluarnya banyak keringat.

Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut:

• salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat

• Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol

• Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon danturunan-


turunannya

• Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat.

Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung-


usus,kerusakan darah, merusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit.
Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar,
maka sebaiknyajanganlah menggunakan analgetika ini secara terus-menerus.

Analgetika-Antipiretik Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa


nyeri tanpa menghilangkankesadaran. Sedangkan antipiretik adalah obat yang dapat
Modul Farmakologi 87

menurunkan suhu tubuh yang tingi.Jadi, analgetik-antipiretik dalah obat yang


mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkansuhu tubuh yang tinggi.

Sebagai mediator nyeri, antara lain adalah sebagai berikut:

Histamin

Serotonin

Plasmokinin (antara lain Bradikinin)

Prostaglandine.

Analgetik diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang


dapatditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis yang melampaui
suatunilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri). Rasa nyeri tersebut terjadi akibat
terlepasnyamediator-mediator nyeri (misalnya bradikinin, prostaglandin) dari jaringan
yang rusak yang kemudian merangsang reseptor nyeri di ujung saraf perifer ataupun
ditempat lain.Dari tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat
nyeri di korteksserebri oleh saraf sensoris melalui sumsum tulang belakang dan
thalamus.Peran Hipotalamus Sebagai Termostat

Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan mekanis, fisik, atau kimiawi yang
dapatmenimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu
yang disebutmediator-mediator nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di
kulit, selaput lendir, ataujaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat ini
rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui
sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudianke pusat nyeri di dalam otak besar,
dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator nyeri yang terpenting
adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan prostaglandin-prostagladin,
serta ion-ion kalium. Jadi peran hipotalamus adalah sebagai control pusat nyeri.Indikasi
dan KontraindikasiEfek Samping dan Gejala Toksik Efek samping yang paling umum
adalah gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hatidan ginjal dan juga
reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaanlama atau
dalam dosis tinggi. Oleh karena itu penggunaan anal-getika secara kontinu tidak
dianjurkan.
Modul Farmakologi 88

ANTIPIRETIKA

Definisi Obat analgetik adalah obat penghilang demam yang banyak digunakan untuk
mengatasi demam tanpa menghilangkan kesadaran.

Jenis-Jenis Obat Demam (Antipiretika):

SalisilatSalisilat, khususnya asetosal merupakan obat yang paling banyak digunakan


sebagai analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat dan
efektif sebagai antipiretika.

Farmakokinetika: Pemberian oral, sebagian salisilat akan diabsorpsi dengan cepat


dalambentuk yang utuh di lambung, tetapi sebagian besar di usus bagian atas. Kadar
tertinggidicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Setelah diabsorpsi, salisilat akan
menyebar diseluruh jaringan tubuh dan cairan transeluler. Obat ini mudah menembus
sawar darah otak dan sawar urin. Biotransformasi salisilat terjadi di banyak jaringan
terutama di mikosom danmitokondria hati. Salisilat akan diekskresi dalam bentuk
metabolitnya melalui ginjal,keringat dan empedu.Asetosal/aspirin dapat menimbulkan
perdarahan lambung, sindroma Reye (tidak bolehdiberikan pada anak usis kurang dari
12 tahun).

Dosis: Untuk dewasa 325 mg- 650 mg, diberikan secara oral tiap 3 atau 4 jam. Untuk
anak 15-20 mg/kgBB diberikan tiap 4-6 jam dengan dosis total tidak melebihi 3,6 gr per
hari.

Salisilamid adalah amida asam salisilat yang memperlihatkan efek analgetik-


antipiretikamirip asetosal, walaupun badan salisilamid tidak diubah menjadi salisilat.
Efek analgetika-antipiretika salisilamid lebih lemah dari salisilat karena salisilamid
dalam mukosa ususmengalami metabolisme lintas pertama, sehingga salisilamid yang
diberikan masuk sirkulasisebagai zat aktif.Dosis: Untuk dewasa 3-4 kali 300-600 mg
sehari. Untuk anak 65 mg/kgBB/hari diberikan 6kali/hari.

Diflunisal
Modul Farmakologi 89

Diflunisal merupakan derivate difluorofenil dari asam salisilat, tetapi in vivo diubah
menjadiasam salisilat.Farmakokinetika: Setelah pemberian oral, kadar puncak dicapai
dalam 2-3 jam. 99% akanterikat di albumin dan waktu paruh berkisar 8-12 jam.

Dosis: Dosis awal 500 mg disusul 250-500 mg sehari dengan dosis pemeliharaan tidak
melebihi 1,5 gram sehari

Para Amino FenolDerivat para amino fenol yaitu asetaminophen dan fenasetin.
Mekanisme: menghambatbiosintesis PGE2 yang lemah.Farmakokinetika: Diabsorpsi
cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasitertinggi dalam plasma dicapai
dalam waktu 0,5 jam dan masa paruh dalam plasma adalah1-3 jam. Dalam plasma,
asetaminofen 25% dan fenasetin 30% terikat dalam protein plasma.

Ekskresi melalui ginjal dan sebagian asetaminofen dalam bentuk terkonjugasi.Peran


Hipotalamus Sebagai TermostatHipotalamus merupakan pusat pengaturan suhu tubuh.
Hipotalamus akan menjaga kestabilam suhutubuh dengan mengatur keseimbangan
antara pengeluaran panas dengan produksi panas yang berlebihan bila terjadi demam.

Tubuh kita sendiri sebenarnya memiliki analgesik alami Tubuh, analgesik tersebut
adalah Endorfin.

ANALGETIK

Analgesik di bagi menjadi 2 yaitu:

Analgesik Opioid/analgesik narkotika

Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memilikisifat-sifat seperti opium atau
morfin. Golongan obat ini digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri
seperti pada fractura dan kanker.

Macam-macam obat Analgesik Opioid:

Metadon.

Mekanisme kerja : Kerja mirip morfin lengkap, sedatif lebih lemah.

Indikasi : Detoksifikas ketergantungan morfin, Nyeri hebat pada pasien yang di rumah
sakit.

Efek tak diinginkan:


Modul Farmakologi 90

Depresi pernapasan

Konstipasi

Gangguan SSP

Hipotensi ortostatik

Mual dam muntah pada dosis awal

Fentanil.

Mekanisme kerja : Lebih poten dari pada morfin. Depresi pernapasan lebih kecil
kemungkinannya.

Indikasi : Medikasi praoperasi yang digunakan dalan anastesi.

Efek tak diinginkan : Depresi pernapasan lebih kecil kemungkinannya. Rigiditas otot,
bradikardi ringan.

c. Kodein

Mekanisme kerja : Sebuah prodrug 10% dosis diubah menjadi morfin.

Kerjanya disebabkan oleh morfin. Juga merupakan antitusif (menekan batuk)

Indikasi : Penghilang rasa nyeri minor

Efek tak diinginkan : Serupa dengan morfin, tetapi kurang hebat pada dosis yang
menghilangkan nyeri sedang. Pada dosis tinggi, toksisitas seberat morfin.

2. Obat Analgetik Non-narkotik

Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan
istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Analgetika perifer (non-narkotik),
yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.

Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini


cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh
Modul Farmakologi 91

pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat
kesadaran.

Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan
efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat
Analgetika jenis Analgetik Narkotik).

Efek samping obat-pbat analgesik perifer: kerusakan lambung, kerusakan darah,


kerusakan hati dan ginjal, kerusakan kulit.

Macam-macam obat Analgesik Non-Narkotik:

a. Ibupropen

Ibupropen merupakan devirat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara.


Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek
analgesiknya sama dengan aspirin.

Ibu hamil dan menyusui tidak di anjurkan meminim obat ini.

b. Paracetamol/acetaminophen

Merupakan devirat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai


analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai
analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat
menimbulkan nefropati analgesik.

Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong.
Dalam sediaannya sering dikombinasikan dengan cofein yang berfungsi
meningkatkan efektinitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.

c. Asam Mefenamat

Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat
pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus
Modul Farmakologi 92

diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia
dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.

Biasanya analgesik di golongkan menjadi beberapa kelompok, antara lain:

1. Analgesik – Antipiretik Contoh parasetamol, fenasetin

2. Analgesik – AntiInflamasi contoh ibuprofen, asam mefenamat

3. Analgesik – Antiinflamasi kuat contoh Aspirin, Natrium Salisilat

Selain digolongkan berdasarkan efeknya, analgesik juga di golongkan berdasar


tempat kerjanya. Penggolongan ini membedakan analgesik menjadi:

1. Analgesik Sentral

Yaitu analgesik yang menduduki reseptor miu contohnya tramadol, morphine

2. Analgesik Perifer

Yaitu analgesik yang bekerja pada saraf perifer contohnya parasetamol

Atas kerja farmakologisnya, analgesic dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu:

1. Analgetik Perifer (non narkotik)

Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.

2. Analgetik Narkotik

Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker.

Berikut jenis obat analgetik narkotik :

a. Morfin dan derivatnya : Morfin, Heroin, Hidromorfon, Oksimorfon, Levorfanol

Levalorfan, Kodein, Hidrokodon, Oksikodon, Nalorfin, Nalokson, Nalbufin, Tebain

a. Meperidin dan derifat fenilpiperidin : Meperidin, Alfaprodin,


DifenoksilatFentanil, Loperami,

b. Metadon Dan Opioid lainx : Metadon, Propoksifen, Dekstromoramida, Bezitramida

Obat-obat golongan analgetik dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu: parasetamol,


salisilat, (asetasol, salisilamida, dan benorilat), penghambat Prostaglandin (NSAID);
ibuprofen, derivate-derivat antranilat ( mefenamilat, asam niflumat glafenin,
Modul Farmakologi 93

floktafenin, derivate-derivat pirazolinon (aminofenazon, isoprofilpenazon,


isoprofilaminofenazon), lainnya benzidamin.Obat golongan analgesic narkotik
berupa, asetaminofen dan fenasetin. Obat golongan anti-inflamasi nonsteroid berupa
aspirin dan salisilat lain, derivate asam propionate, asam indolasetat, derivate
oksikam, fenamat, fenilbutazon.

B. Antipiretik

Macam-macam obat Antipiretik:

1. Benorylate

Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan
sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat
ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan
yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini tidak boleh
digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.

2. Fentanyl

Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika


digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM
(intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan
kanker.

Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit
secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap.
Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik
narkotika.

Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit.
Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat.
Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering
terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.
Modul Farmakologi 94

Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga


untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara
bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.

3. Piralozon

Di pasaran piralozon terdapat dalam antalgin, neuralgin, dan novalgin. Obat ini amat
manjur sebagai penurun panas dan penghilang rasa nyeri. Namun piralozon
diketahui menimbulkan efek berbahaya yakni agranulositosis (berkurangnya sel
darah putih), karena itu penggunaan analgesik yang mengandung piralozon perlu
disertai resep dokter.

Jenis Obat Baru

Obat golongan Antiinflamasi non Steroid

1.Turunan asam salisilat : aspirin, salisilamid,diflunisal.

2.Turunan 5-pirazolidindion : Fenilbutazon, Oksifenbutazon.

3.Turunan asam N-antranilat : Asam mefenamat, Asam flufenamat

4.Turunan asam arilasetat : Natrium diklofenak, Ibuprofen, Ketoprofen.

5.Turunan heteroarilasetat : Indometasin.

6.Turunan oksikam : Peroksikam, Tenoksikam.

Latihan :
1. Jelaskan definisi obat analgesik dan antipiretik
2. Jelaskan obat-obat antipiretik
3. Jelaskan obat-obat analgesik

Petunjuk Latihan
1. Perhatikan pembahasan definisi obat analgesik dan antipiretik
2. Perhatikan pembahasan obat-obat antipiretik
3. Perhatikan pembahasan obat-obat analgesik
Modul Farmakologi 95

Kesimpulan

1. Analgesik atau analgetik, adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran.

2. Obat antipiretik adalah obat penghilang demam yang banyak digunakan untuk
mengatasi demam tanpa menghilangkan kesadaran.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :


90 – 100% = Baik sekali
80- 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 96
Modul Farmakologi 97

MODUL XI

OBAT SISTEM PERNAFASAN

Pendahuluan

Infeksi pada saluran nafas merupakan penyakit yang umum terjadi pada masyarakat.
Infeksi saluran nafas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran
nafas atas dan infeksi saluran anfas bawah. Infeksi salurna nafas atas meliputi rhinitis,
sinusitis, faringitis, laringitis, epiglotitis, tonsilitis, dan otitis. Sedangkan saluran anfas
bawah meliputi infeksi pada bronkus, alveoli seperti bronkhitis, bronkhiolitis,
penumonia. Infeksi saluran nafas atas bila tidak diatasi dapat menjadi infeksi saluran
nafas bawah.

Tingginya prevalensi infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) serta dampak yang
ditimbulkannya membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas (seperti obat anti
influenza, obat abtuk, multivitamin0 dan antibiotika.

Obat Batuk

Kodein (bentuk garam: HCl/Fosfat)

Farmakologi dan Indikasi

Kodein merupakan 3 metoksimorfin yang menunjukkan aktifitas sebagai analgetik dan


antitusif narkotika yang sifatnya menyerupai morfin namun efek analgetika jjauh lebih
lemah, efek samping dan resiko adiksinya juga lebih ringan. Sebgai antitusif bekerja
dengan cara menekan langsung pada pusat batuk dimedulla dan digunakan untuk
mengurangi frekuensi batuk kering non produktif.

Farmakokinetik

Penggunaan oral, sub kutan onzet 15-30 menit durasi 4-6 jam. Pada penggunaan i.m
mencapai puncak setelah 0,5 – 1 jam.

Pendosisan

Dosis dewasa

Per oral,sc, atau i.m sepagai analgesik 15-60 mg tiap 4-6 jam. Per oral dan sc sebagai
antitusif 10-20 mg tiap 4-6 jam maksimal 120 mg per hari.
Modul Farmakologi 98

Dekstromethorphan

Farmakologi dan indikasi

Dekstrometorfan merupakan D isomer dari kodein,namun tidakmenunjukkan sifat


sebagaianal getika dantidak menimbulkan adiktif. Obat ini bekerja sebagai antitusif
(penekan batuk) pada batuk keringnon produktif dengan aksi sentral. Pada dosis lazim,
obat ini dapat menakan pusat batuk di medulla, namun hanya sedikit berpengaruh
menekan pernafasan, sistem kardio vaskular dan saluran pencernaan. Kerja antitusifobat
ini dapat juga melalui blokade reseptor batuk di saluran pernafasan.

Farmakokinetik

Per oral onset 1-2 jam, durasi 6-8 jam. Sediaan lepas lambat durasi 12 jam.

Dosis

Dewasa; sebagai penekan abtuk 10 – 30 mg tiap 4-8 jam, maksimal 120 mg per ahri.
Pediatri: untuk anak kurang dari 2 tahun tidak dianjurkan, 2-6 tahun 2,5-7,5 mg tiap 4-8
jam, maksimal 30 mg per hari.

Guaifenisin (gliseril Guaiakolat)

Farmakologi

Bekerja sebagai ekspektorat sebagai suatu aksi meningkatkan sekresi saluran pernafasan
sehingga viskositas dahak berkurang, meningkatkan aksi cilia dan dengan demikian
dahak akan lebih mudah dikeluarkan.

Indikasi

Untuk meringankan batuk yang berhubungan dengan infeksi pada saluran pernafasan

Farmakokinetik

GG diabsorpsi dengan baik melalui saluran pencernaan dan cepat dimetabolisme


melalui hepar dan eiekskresi melalui urin.

Pendosisan

Dosis dewasa; per oral 100-400 mg tiap 4 jam

Peiatri; 2-6 tahun 50-100 mg tiap 4 jam maksimal 600 mg per hari.
Modul Farmakologi 99

Bromheksin

Farmakologi

Bromheksin bekerja sebagai mukolitika dengan jalan memutus serat-serat


mukopolisakarida yang terdapat pada dahak sehingga viskositas dahak berkurang dan
mudah dikeluarkan.

Indikasi

Bromheksin HCl digunakan sebagai mukolitik pada batuk dengan dahak yang kental.

Pendosisan

Dewasa per oral 3-4 x sehari 8-16 mg

Pediatri; 3x sehari 1,6 – 8 mg tergantung usia

Ambroksol Hidroklorida

Farmakologi

Ambroksol bekerja sebagai mukolitika dengan jalan memutus serat-serat


mukopolisakarida yang terdapat pada dahak sehingga viskositas dahak berkurang,
dengan demikian dahak mudah dikeluarkan.

Pendosisan

Dewasa per oral 2-3 x sehari 1 tablet (30 mg)

Pediatri 2-6 tahun 3 x sehari ½ sendok teh (2,5 ml) sirup

Chlorpheniramin Maleat

Farmakologi dan indikasi

Sebagai antihistamin, CTM merupakan antagonis kompetitif histamin pada reseptor H1-
histamin. CTM juga merupakan anticholinergik dan mempunyai efek sedative
menengah.

Farmakokinetik

Onset dan durasi : onset 0,5 – 1 jam

Pendosisan
Modul Farmakologi 100

Per oral pada rhinitis alergi (efeknya akan maksimum jika diberikan terus menerus)
dengan dosis inisial 4 mg, peningaktan secara gradually lebih dari 10 hari yang
ditoleransi sampai 24 mg/hari dibagi dalam 1-2 dosis sampai selesai.

Latihan :
1. Jelaskan farmakologi dan farmakokinetik obat antitusif
2. Jelaskan farmakologi, farmakokinetik, dan pendosisan mukolitik.

Petunjuk Latihan
1. Perhatikan pembahasan antitusif
2. Perhatikan pembahasan mukolitik
3. Perhatikan pembahasan obat-obat analgesik

Kesimpulan

1. Infeksi salauran pernafasan dibagi menjadi infeksi saluran pernafasan atas dan
infeksi saluran pernafasan bawah.

2. Contoh obat yang digunakan adalah cetirizine, DMP, CTM, GG, Kodein dan
Bromheksin.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal
Modul Farmakologi 101

Arti tingkat penguasaan :


90 – 100% = Baik sekali
80- 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 102

MODUL XII

OBAT SISTEM JANTUNG

Pendahuluan

Penyakit jantung koroner (PJK) atau penyakit kardiovakuler saat ini merupakan salah
satu penyebab utama dan pertama kematian di negara maju dan berkembang, termasuk
Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan satu dari tiga orang di
seluruh dunia pada tahun 2001, meninggal dunia karena penyakit kardiovaskuler.

Obat kardiovaskuler merupakan kelompok obat yang mempengaruhi dan memperbaiki


sistem kardiovaskuler secara langsung ataupun tidak langsung.

Bretilium Tosilat

Farmakologi dan indikasi

Bretilium adalah suatu antiaritmia tipe 3 dengan aksi sedikit karena pelepasan
katekholamin dan urutan penempatan katekholamin dan/atau efek langsung yang tidak
tergantung sistem syaraf adrenergik. Aksi langsung dapat dihubungkan dengan
penghambatan saluran kalium. Bretilium menyebabkan meningkatnya tekanand arah,
denyut jantung, dan kontaktilitas miokardial (dari pelepasn aktekholamin), diikuti oleh
hipotensi.

Farmakokinetik

Onset dan durasi IV biasanya 5-10 menit tetapi dapat tertunda sampai 20-60 menit,
mutu miokardial meningkat berangsur-angsur setelah 6-12 jam. Durasi biasanya 6-12
jam setelah dosis tunggal. Disebabkan oleh mutu miokardial menetap, durasi setelah
dosis ganda dapat jauh lebih panjang.

Dosis

Dewasa; IV loading dose 5 mg/kg didorong dengan dosis tambahan 10 mg/kg ila tidak
ada respon. Dosis pemeliharaan IM atau IV (diatas 8 menit aatau lebih) 5-10 mg/kg
setiap 6 jam atau sebagai infus 1-2 mg/menit.
Modul Farmakologi 103

Digoxin

Farmakologi dan indikasi

Digoxin adalah glikosida digitalis dapat menimbulkan efek inotropik positif melalui
perbaikan kemampuan kalsium terhadap kontraktilitas otot jantung, yang menaikkan
cardiac output dalam CHF. Dalam CHF digoxin memperbaiki gejala-gejala CHF tetapi
tidak merubah kematian masa panjang. Aksi antiaritmia digoxin utamanya disebabkan
oleh suatu kenaikan masa refrakter nodus AV melalui naiknya tonus vagus, withdrawal
simpatetik, dan mekanisme secara langsung. Digoxin juga menimbulkan vasokonstriksi
yang sedang secara langsung pada otot polos pembuluh darah vena. Digoxin digunakan
untuk pengobatan gagal jantung, aritmia supraventrikular (terutama fibrilasi atrium).

Farmakokinetik

Onset dan durasi IV 14-30 menit, emncapai puncak 1,5 – 5 jam.Sedikit lebih lambat
setelah pemakaian oral.

Dosis

Dewasa; IV loading dose 10-15 ʯg/kg dalam dosis yang terbagi lebih dari 12-24 jam
pada interval 6-8 jam.

Captopril

Farmakologi dan indikasi

Captopril adalah suatu inhibitor ACE (Angiotensin Converting Enzyme). Onset cepat
dan durasi pendek yang dipunyai kaptopril adalah secara menguntungkan untuk menilai
pasien yang toleran terhadap onhibitor ACE tetapi tidak tepat selama penggunaan
jangka panjang.

Farmakokinetik

Bioavailabilitas oral sekitar 65%, makanan menurunkan absorpsi, sebaiknya obat ini
digunakan saat perut kosong. Sekitar 30% terikat dengn protein plasma.

Dosis
Modul Farmakologi 104

PO untuk hipertensi; permulaan 12,5 – 25 mg dua sampai tiga kasi sehari, yang
meningkat setelah 1-2 minggu sampai 50 mg dua sampai tiga kali sehari, sampai
maksimum 450 mg/hari.

Diltiazem

Farmakologi dan indikasi

Diltiazem adalah sautu obat yang menghambat saluran alsium, menurunkan frekuensi
denyut jantung, memperpanjang konduksi nodus AV dan menurunkan tonus pembuluh
darah arteri dan pembuluh darah koroner.

Farmakokinetik

Onset dan durasi; onset per oral selama 0,5 – 3 jam, durasi selama 6-10 jam, 12 – 24
jam dengan kapsul SR, tergantung pada produk.

Bioavailabilitas oral sebesar 38±11% dengan dosis pertama dam 90±21% dengan terapi
panjang.

Dosis

Dewasa; Iv loading dose 0,25 mg/kg (kira-kira 20 mg) lebih 2 menit; dapat diulang
dalam 15 menit dengan 0,35 mg/kg.

Verapamil

Farmakologi dan indikasi

Verapamil adalah obat penghambat saluran kalsium yang memperpanjang konduksi


nodus AV. Digunakan untuk mengubah kembalinya lagi takhikardia supraventrikular
dan irama ventrikular lambat pada fibralasi atau flater atrial.

Farmakokinetik

Onset dan durasi; pemberian iv, onset segera terjadi; duasi 2-6 jam, sampai 12 jam apda
pemakaian lama.

Dosis

Dewasa; per oral untuk angina permulaan 80-120 3x sehari, yang meningkat setiap hari

Per oral untuk hipertensi; biasanya 240 mg/hari yang menggunakan tablet SR.
Modul Farmakologi 105

Latihan :
1. Jelaskan farmakologi dan farmakokinetik captoril
2. Jelaskan farmakologi, farmakokinetik, dan pendosisan verapamil

Petunjuk Latihan
1. Perhatikan pembahasan captopril
2. Perhatikan pembahasan verapamil

Kesimpulan

1. Penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu untuk penyakit tidak menular.

2. Contoh obat yang digunakan adalah captopril, verapamil, diltiazemdan bretilium.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :


90 – 100% = Baik sekali
80- 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
Modul Farmakologi 106

anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 107

MODUL XIV

OBAT SISTEM ENDOKRIN

Pendahuluan

Assalamualaikum. Hari ini sampailah kita pada pembahasan obat sistem endokrin.
Penyakit endokrin ini dibagi 2, yaitu hipotiroid dan hipertiroid.

Hipotiroid

Kekurangan hormon tiroid mempengaruhi setiap sistem organ pada tubuh. Terapi yang
digunakan adalah levotiroksin. Dosis pengganti rata-rata 1,6 ʯg/kg BB PO sekali sehari.

Hipertiroid

Tirotoxicosis adalah sautu keadaan klinis yang disebabkan oleh hormon tiroid yang
berlebihan dalam sirkulasi darah.

Terapi yang digunakan :

Propanolol

Dosis 10-20 mg PO setiap 6 jam dan sedikit demi sedikit dinaikkan sampai simptom
hilang. Untuk sebagian besar kasus, dosis harian 80-320 mg telah mencukupi.

Diltiazem

Suatu antagonis saluran kalsium. Dosis 30 mg PO setiap 6 jam dan sedikit demi sedikit
dinaikkan sampai simptom hilang.

Iodida

Dosis lazim 75 mg PO 2 x sehari

Obat-obat anti tiroid

Propiltiourasil (PTU) dan methimazole (tapazole) hanya tersedia dalam bentuk preparat
oral. Dosis awal PTU 100 mg PO 3x sehari.
Modul Farmakologi 108

Latihan :
1. Jelaskan obat-obat yang digunakan pada hipotiroid
2. Jelaskan obat pada hipertiroid

Petunjuk Latihan
1. Perhatikan pembahasan hipotiroid
2. Perhatikan pembahasan hipertiroid

Kesimpulan

1. Obat pada sistem endokrin dibagi menjadi obat untuk hipotiroid dan hipertiroid.

2. Obat unutk hipotiroid adalah levotiroksin.

3. Obat untuk hipertiroid adalah propanolol, diltiazem, yodida, propiltiourasil dan


methimazole,

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :


90 – 100% = Baik sekali
80- 89% = Baik
Modul Farmakologi 109

70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 110

MODUL XIV

OBAT DALAM KONDISI KHUSUS

Diperkirakan 2-3% dari seluruh kehamilan di United Kingdom mengalami


kelainan bawaan. Hampir setengah dari ketidakabnormalan ini disebabkan oleh sebab
yang tidak jelas. 25% dihubungkan dengan kelainan variasi genetic dan hanya 2%
dihubungkan karena factor lingkungan, termasuk obat-obatan.

Walaupun proporsi yang sangat kecil dalam seluruh keinan dalam kelahiran,
penghindaran penggunaan beberapa obat mesti dihindari untuk menghindari
ketidaknormalan tersebut.

Hari ke18 – 55 setelah konsepsi merupakan waktu yang sangat potensial dalam
menimbulkan efek teratogenik, yaitu ketika organ berdifensiasi. Efek teratogenik dari
obat dapat mempengaruhi struktur organ dan fungsi organ. Pemeriksaan USG janin oleh
tenaga yang terlatih dapat mendeteksi keabnormalan mayor, namun keabnormalan yang
minor biasanya sulit untuk dideteksi. Pasien dengan resiko neural tube defect (NTDs)
seaiknya mengkonsumsi 5 mg asam folat setiap hari untuk sekurang-kurangnya 6
minggu sebelum konsepsi.

Tragedi Talidomid merupakan tragedy terbesar dalam dunia pengoabtan, yang


mana telah menimbulkan efek teratogen pada banyak bayi.

Gambar 17. Janin dalam kandungan ibu


Modul Farmakologi 111

Klasifikasi keamanan obat dalam kehamilan :

Kategori Kriteria

A Penelitian terkontrol menunjukkan tidaka da resiko.


Penelitian terkontrol dan memadai pada wanita hamil tidak
menunjukkan adanya resiko pada janin

B Tidak ada bukti resiko pd manusia. Penelitian pd hewan


menunjukkan danya resiko tp penelitian pd manusia tidak ATAU
penelitian pd hewan menunjukkan tidak ada resiko tp penelitian pd
manusia belum memadai

C Resiko tdk dapat dikesampingkan. Penelitian pd manusia


tdk memadai, penelitian pd hewan menunjukkan tesiko atau tidak
memadai

D Resiko pd janin terbukti positif, baik mll penelitian atau


post marketing study

X Kontraindikasi pd kehamilan. Penelitian pd hewan atau


manusia, atau data post marketing study menunjukkan adanya
resiko pd janin yg secara jelas lbh merugikan dibanding manfaaat

Nama Obat Efek Pada Janin

Androgen Maskulinisasi janin perempuan

Agens sitotoksik Malformasi berat, abortus

Etil Alkohol Sindrom alkohol janin (termasuk malformasi kraniofasial)

Etretinat dan Deformasi struktur, deformasi resuksi-tungkai


isotretinon

Iodine dan obat Goiter janin


antitiroid

Stilbestrol Karsinoma vagina stlh 15-20 th, peny.reproduksi boys

Tetrasiklin Hipolasia email dan gigi berwarna, retardasi


pertumb.kerangka

Talidomid Fokomelia, defek kardiovaskuler

Metotrexat Malformasi SSP, mata, telinga, tangan, kaki


Modul Farmakologi 112

Karbamazepin Cacat tabung saraf

Asam valproat Cacat tabung saraf

Fenitoin Fetal Hydantoin syndrome

Warfarin Tulang rangka, SSP

ACE inhibitor Gagal ginjal, tengkorak

Siklofosfamid Cleft palate, ginjal tidak terbentuk

Tabel 4. Obat yang mesti dihindari selama kehamilan (1)

Tabel 5. Obat yang dihindari selama kehamilan (2)

Prinsip penggunaan obat dalam kehamilan :

a. Sedapat mungkin hindari penggunaan obat terutama pd trisemester pertama


kehamilan. Upayakan terapi non farmakologik

b. Obat hanya diberikan jika jelas diperlukan dgn mempertimbangkan manfaat dan
resikonya.

c. Hindari obat baru karena datanya masih terbatas


Modul Farmakologi 113

d. Pilih obat dgn profil keamanan sudah diketahui

e. Gunakan dosis efektif yg terendah, tetapi perlu juga diingat bahwa perubahan fisiologis
ibu selama kehamilan akan mengubah farmakokinetika obat, sehingga pd beberapa obat
mungkin perlu peningkatan dosis u mempertahankan kadar terapeutiknya.

f. Gunakan obat dgn durasi sesingkat mungkin

g. Hindari obat yg bersifat teratogen pd manusia produktif

h. Jika obat yg digunakan diduga kuat dpt menyebabkan kecacatan, maka lakukan
USG.

i. Utamakan monoterapi

Prinsip penggunaan obat untuk ibu menyusui:

 Pertimbangkan apakah obat dpt diberikan secara langsung dgn aman pd bayi

 Pilih obat yg sedikit melalui ASI dgn memprediksikan ratio M/P paling rendah

 Hindari formulasi obat yg long acting (mis: sustain release)

 Pertimbangkan rute pemberian oabt yg dpt menurunkan ekskresi obat ke dalam


ASI. Jika memungkinkan, hindari penggunaan jangka panjang

Obat Keterangan

Antikoagulan (kec.warfarin dan Dpt meningkatkan kecenderungan pendarahan pd bayi yg


heparin) mendapat ASI

Obat antitiroid dan yodium Menekan fungsi tiroid dan goiter pd bayi

Benzodiazepin (mis:diazepam) Sindrom “flat baby”, letargi, kurang nafsu minum, kemungkinan
ikterus

Kloramfenikol Kemungkinan diskrasia darah bayi

Preparat ergot Dapat meningkatkan gejala ergotisme (muntah, diare)


Modul Farmakologi 114

Senyawa lithium Hipotonia, sukar minum, pertumbuhan kurang baik, hidrasi


neonatus yg adekuat dan akdar serum maternal yg tepat dpt
meminimalkan resiko

Estrogen Efek hormonal pd bayi

Preparat radioaktif Dapat diteruskan menyusui jika ASI tdk mengandung radioaktif

Reserpin Hidung tersumbat, sukar bernafas, kurang nafsu minum

Sulfonamid Dapat menimbulkan ikterus neonatorum dan kernikterus

Waktu Menyusui:

 Hindari menyusui selama konsentrasi obat mencapai puncak plasmanya

 Jika memungkinkan rencanakan menyusui sblm pemberian dosis obat


berikutnya.

 Obat yg diberikan dosis tunggal harus diminum sesaat sblm periode tidur bayi
yg paling lama.

 Untuk mengurani lagi obat tsb, stlh minum obat n I sebelumnya. Hindadberikan
terlebih dahulu ASI yg telah ditampung. Hindari kongesti dgn memompa ASI.

Perimbangan Lain

 Selalu mengamati bayi thd tanda-tanda ygnt idak biasa atau gejala kliniknya (spt
sedasi, iritasi, rash, menurunkan nafsu makan, kesukaran menelan)

 Tidak melanjutkan menyusui selama terapi obat jika resiko thd bayi lebih berat

 Berikan pengetahuan yg cukup kpd pasien u meningkatkan pemahaman thd


faktor-faktor beresiko

Obat yang biasa digunakan saat kehamilan :

 Zat besi

 Anti muntah
Modul Farmakologi 115

 Analgesik

Preparat Besi

 Bentuk obat yg paling banyak diresepkan u wanita hamil.

 Jika tdk ada indikasi medis, terapi besi dimulai selama kehamilan trisemester kedua

 Efek : iritasi lambung, mual, muntah, diare, konstipasi.

 Dianjurkan diminum stlh makan dan stlh memakan makanan yg memaksimalkan


penyerapan, mis : daging, as,folat, vit c.

 Jangan diminum bersama kalsium, susu.

Obat Anti Muntah

Digunakan untuk mengatasi Morning-sickness/Hiperemesis gravidarum . iperemesis


gravidarum dpt membahayakan janin akibat ketosis, dehidrasi, dan malnutrisi yg
mengakibatkan retardasi pertumbuhan

Tata laksana :

1. Anjurkan roti bakar atau biskuit

2. Anjurkan minum minuman yg mengandung glukosa-garam (mis; oralit)

3. Mulai pengobatan terapeutik dgn memberi vitamin B6, 50-100 mg 2 x sehari

4. Jika belum ada perbaikan, berikan 1 tablet meklozin 25 mg bersama piridoksin pd


pagi dan malam hari.

5. Jika belum ada perbaikan juga, mungkin perlu masuk Rs u menghindari resiko
ketosis dan dehidrasi. Beri cairan intravena ditambah metoklopramid atau
proklorperazin. Obat lain yg jg dipakai adalah prometazin, ttietlperazin, dan
promazin

6. Bagi sebagian kecil ibu hamil, jika gejala muntah berkaitan dgn faktor psikotik, perlu
diberi klorpromazin atau haloperidol
Modul Farmakologi 116

Analgesik

 Bukti menunjukkan bahwa paracetamol, atau kombinasi parasetamol dan kodein


dalam dosis normal adalah obat pilihan selama kehamilan.

 Aspirin adalah obat pilihan bagi sejumlah penyakit virua akut dan gangguan radang,
tetapi harus diberikan berdasarkan anjuran dokter.

Latihan :
1. Jelaskan kelas keamanan obat selama masa kehamilan
2. Jelaskan obat-obat yang memiliki efek teratogenik pada janin

Petunjuk Latihan
1. Perhatikan pembahasan keamanan obat
2. Perhatikan pembahasan obat teratogen

Kesimpulan

1. Kelas keamanan obat pada ibu hamil adalah A,B,C.D, dan X.

2. Obat yang memiliki sifat teratogen harus dihindari penggunaannya selama


kehamilan.

Tes Formatif 1

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terletak pada bagian
akhir modul 1 ini. Hitunglah jawaban benar selanjutnya berikanlah penilaian dengan
menggunakan rumus untuk mengetahui tingkat pengusaan anda terkait materi pada
kegiatan belajar 1.

Tingkat Pengetahuan = Jumlah Jawaban benar x 100%


Jumlah soal

Arti tingkat penguasaan :


Modul Farmakologi 117

90 – 100% = Baik sekali


80- 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
<70% = kurang
Apabila anda mencapai nilai 80% atau lebih, anda dapat meneruskan mempelajari kegiatan
belajar 2. BAGUS, TINGKATKAN KEMAMPUAN ANDA! Jika masih di bawah 80% berarti
anda harus mengulangi kembali mempelajari materi kegiatan belajar 1 terutama pada bagian
yang belum anda kuasai.
Modul Farmakologi 118
Modul Farmakologi 119

DAFTAR PUSTAKA

1. Syarif, Amir (1995),”Farmakologi dan Therapi”,Edisi IV, Universitas Indonesia,


(BU I)

2. Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

3. The Midwifes Pharmacopia, Banister, 1997.

4. James Olson, M.D., Ph.D., (1993)“ Belajar Mudah Farmakologi( Clinical


Pharmacology : made Ridiculously Simple), terjemahan de.Linda Chandranata,
EGC.

5. Aoes, Azwar, dkk (1991),’Catatan Kuliah Farmakologi bagian I”, Laboratorium


Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, EGC.

6. Kee, Joyce L.; Hayes, R.Evelyn ,”Farmakologi, Pendekatan Proses


Keperawatan”, EGC, Penerbit Buku Kedokteran

7. Radde, Ingeborg C.Radde; MecLeod, Stuart, M.(Farmakologi & Terapi Pediatri

8. Marie a.Chrisholm (dkk), (2008),”Pharmacoterapy, Principles & Practice”,


Mc.Graw Hill Medical, New York, 721-777.

9. Barbara G.Wells (dkk), 2009,”Pharmacoterapy Handbook”, 7th edition,


Mc.Graw Hill, New York, 321-493.

10. BMA Royal Pharmaceutical Society (2011), “British National Formulary 61


edition”.

11. Christin M.Thorp, dkk.,(2008),”Pharmacology for the Health Care Professions”,


A John Wiley & Sons Ltd Publication.

12. Shargel,dkk (2005),”Applied Biopharmaceutikcs & Pharmacokinetics”, 5th


edition,Mc Graw Hill, Singapore.

13. Jordan,Sue (2004),”Farmakologi Kebidanan”, EGC, Jakarta.

14. Rubin, Peter (2008), Prescribing in Pregnancy,4th edition,Blackwell Publishing.

15. Tambayong, Jan (2014) “ Farmakologi Keperawatan”, EGC, Jakarta.


Modul Farmakologi 120

16. Priharjo, Robert, (1995), “ Teknik Dasar Pemberian Obat bagi Perawat”, EGC,
Jakarta.

17. Depkes, (2009),” Informasi tentang Obat-Obat yang Memerlukan Perhatian


Khusus”, Jakarta.
Modul Farmakologi 121
DAFTAR PUSTAKA

- Syarif, Amir, dkk. (1995),”Farmakologi dan Terapi”, Edisi IV, Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
- Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
- The Midwifes Pharmacopia, Banister, 1997.
- Goodman & Gilman (2008), “Dasar Farmakologi Terapi”, EGC.
- James Olson, M.D., Ph.D., (1993)“ Belajar Mudah Farmakologi( Clinical
Pharmacology : made Ridiculously Simple), terjemahan de.Linda Chandranata,
EGC.
- Aoes, Azwar, dkk (1991),’Catatan Kuliah Farmakologi bagian I”, Laboratorium
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, EGC.
- Kee, Joyce L.; Hayes, R.Evelyn ,”Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan”,
EGC, Penerbit Buku Kedokteran
- Radde, Ingeborg, MecLeod, Stuard M. (1999); Farmakologi & Terapi Pediatri, Edisi
II, Mosby Year Book, Jakarta.
- Marie a.Chrisholm (dkk), (2008),”Pharmacoterapy, Principles & Practice”, Mc.Graw
Hill Medical, New York, 721-777.
- Barbara G.Wells (dkk), 2009,”Pharmacoterapy Handbook”, 7 th edition, Mc.Graw Hill,
New York, 321-493.
- BMA Royal Pharmaceutical Society (2011), “British National Formulary 61 edition”.
- Christin M.Thorp, dkk.,(2008),”Pharmacology for the Health Care Professions”, A
John Wiley & Sons Ltd Publication.
- Shargel,dkk (2005),”Applied Biopharmaceutikcs & Pharmacokinetics”, 5th edition,Mc
Graw Hill, Singapore.
- Rubin, Peter (2008), Prescribing in Pregnancy,4 th edition,Blackwell Publishing,