Anda di halaman 1dari 5

5.2.

1 Pengalaman mengikuti pelatihan dengan pengetahuan perawat dalam perawatan

paliatif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan mengikuti pelatihan

terhadap pengetahuan perawat dalam perawatan paliatif.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kim & Hwang (2014) bahwa

pengalaman mengikuti pelatihan tidak berhubungan dengan pengetahuan perawat dalam

perawatan paliatif. Hal ini juga selaras dengan penelitian yang dilakukan Turangan, Kumaat

& Malara (2017) menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pelatihan dan

pengetahuan perawat, dikarenakan terdapat responden yang telah mengikuti pelatihan

lanjutan dan memiliki pengetahuan yang cukup disebabkan oleh responden yang kurang

melakukan tindakan pertolongan pada klien cardiac arrest serta kurangnya motivasi ketika

mengikuti pelatihan. Namun tidak senada dengan penelitian yang dilakukan Wulandari

(2012) bahwa terdapat hubungan antara pelatihan dalam mendukung program keselamatan

pasien.

Berdasarkan teori Lawrence Green, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi perilaku

seseorang, diantaranya yaitu faktor pendukung (predisposing factor), faktor pemungking

(enabling factor) dan faktor penguat (reinforcing factor). Pengalaman mengikuti pelatihan

merupakan salah satu faktor pemungkin yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Faktor

pemungkin mencakup berbagai keterampilan dan sumber daya yang diperlukan untuk

melakukan perilaku. Pelatihan merupakan serangkaian aktivitas individu yang dilakukan

untuk meningkatkan keahlian dan pengetahuan secara sistematis, sehingga diharapkan

memiliki kinerja yang profesional di bidangnya (Widodo, 2016). Pelatihan perawatan paliatif

dapat memberikan kontribusi pada pengetahuan dan wawasan perawat (Andriaansen, 2005).

Berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 15 Tahun 1974 tentang pokok-pokok

pelaksanaan pembinaan pendidikan dan pelatihan, pelatihan merupakan proses belajar


mengajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang

berlaku, dalam waktu yang singkat, dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek

daripada teori. Perawat merupakan salah satu tenaga medis yang berperan di rumah sakit.

Rumah sakit seringkali menghadapi kesulitan dimana perawat baru yang masih memiliki

sedikit pengalaman kerja perlu diberikan pelatihan agar dapat meningkatkan pengetahuan

dari perawat itu sendiri. Peneliti berasumsi bahwa dengan adanya pelatihan maka akan

memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan perawat mengenai

pekerjaannya.

Data distribusi penelitian menunjukkan bahwa terdapat 59 perawat yang pernah

mengikuti pelatihan tentang perawatan paliatif dan sisanya tidak mengikuti. Dari tiga aspek

mengenai pengetahuan perawata dalam perawatan paliatif, terdapat dua aspek yang masih

kurang yaitu dalam aspek filosofi dan prinsip perawatan paliatif serta penanganan nyeri dan

gejala lainnya. Sedangkan aspek psikososial perawatan EOL, seluruh responden sudah

memiliki pengetahuan yang baik. Peneliti berasumsi bahwa dapat saja mayoritas responden

yang telah mengikuti pelatihan mengenai perawatan paliatif tidak mendapatkan semua materi

yang disampaikan sehingga masih adanya kekurangan tentang pengetahuan yang dimilikinya.

5.2.2 Lama bekerja dan pengetahuan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara lama bekerja dan

pengetahuan perawat dalam perawatan paliatif. Mayoritas responden sebanyak 56 perawat

memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun.

Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan Morsy, Elfeky & Mohammaed (2014)

yang menyatakan bahwa responden memiliki lama bekerja lebih dari 10 tahun dalam

merawat pasien kanker. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Burns & Grove

(2005) bahwa perawat yang melakukan perawatan paliatif adalah perawat yang mahir

dibidangnya.
Lama bekerja merupakan salah satu faktor pendukung yang mempengaruhi

pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2014). Lama bekerja merupakan waktu lama bekerja

seseorang dalam melakukan aktivitas. Ditinjau dari jenis pekerjaan yang sering berinteraksi

dengan orang lain akan lebih banyak pengetahuannya bila dibandingkan dengan orang tanpa

ada interaksi dengan orang lain. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan

memberikan pengetahuan serta pengalaman belajar dalam bekerja akan mengembangkan

kemampuan dalam mengambil keputusan yang merupakan keterpaduan menalar secara

ilmiah dan etik (Ratnawati, 2009).

Pengalaman merupakan suatu gabungan antara pengetahuan dan perilaku seseorang,

dimana pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah seseorang melakukan penginderaan

suatu objek tertentu, sementara perilaku merupakan segala bentuk tanggapan dari individu

terhadap lingkungannya. Lama kerja identik dengan pengalaman, semakin lama masa kerja

seseorang maka pengalamannya menjadi semakin bertambah. Pengalaman akan berpengaruh

dalam meningkatkan pengetahuan seseorang, karena pengetahuan seseorang juga diperoleh

dari pengalaman (Wibowo, Suryani & Sayono, 2013). Pengalaman kerja adalah latar

belakang yang menentukan secara tidak langsung kinerja dan perilaku seorang individu

(Andriani, 2012). Lama kerja dapat memberikan pengaruh pada seorang perawat dalam

pengetahuan dan memberikan perawatan paliatif (Giarti, 2018). Hal ini sesuai dengan

penelitian Iswanto & Purwanti (2008) yang menyatakan bahwa semakin lama kerja seseorang

maka semakin meningkat pula pengetahuannya. Menurut Kemenkes RI (2015) kriteria

perawat yang memberikan perawatan paliatif adalah perawat yang berpendidikan minimal

Diploma 3 dan telah mengikuti pelatihan perawatan paliatif.

Data distribusi menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengalaman lama

bekerja lebih dari 10 tahun, walaupun diketahui bahwa sebagian responden berusia muda.

Responden dengan nomor 84 yang berusia 40 tahun dengan masa kerja antara 5 hingga 10
tahun memiliki pengetahuan yang baik. Pendidikan responden tersebut yaitu D3. Hal ini

menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki masa kerja lama akan mempengaruhi

pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu lamanya masa kerja juga akan memberikan

informasi-informasi baru. Sehingga masa kerja yang semakin lama akan membuat

pengetahuan perawat semakin bertambahkan dan semakin baik dalam membuat asuhan

keperawatan.

5.2.3 Jenjang karir dan pengetahuan perawat dalam perawatan paliatif

Hasil analisis dengan Spearman Rho didapatkan bahwa jenjang karir tidak berhubungan

dengan pengetahuan perawat dalam perawatan paliatif. Data distribusi menunjukkan bahwa

mayoritas responden sejumlah 48 perawat yang berjenjang karir sebagai PK 1 memiliki

pengetahuan dalam katagori kurang, serta hanya ada satu responden berjenjang karir sebagai

PK 2 yang berpengetahuan baik. Mayoritas responden pada penelitian ini berjenjang karir

PK1 dan ada satu responden yang berjenjang karir PK 4.

Belum ada penelitian yang membahas mengenai jenjang karir yang berhubungan

dengan pengetahuan perawat dalam perawatan paliatif. Sistem jenjang karir profesional

perawat meliputi tiga aspek yang saling berhubungan, yaitu kinerja, orientasi profesional dan

kepribadian perawat, serta kompetensi yang menghasilkan kinerja profesional. Perawat

profesional diharapkan mampu berpikir rasional, mengakomodasi kondisi lingkungan,

mengenal diri sendiri, belajar dari pengalaman dan mempunyai aktualisasi diri sehingga dapat

meningkatkan jenjang karir profesinya. Jenjang karir perawat dapat dicapai melalui

pendidikan formal dan pendidikan berkelanjutan berbasis kompetensi serta pengalaman kerja

di sarana kesehatan (Depkes, 2006). Marquis & Huston (2010) menyampaikan bahwa

penerapan sistem jenjang karir merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk

menghindari kebosanan dan indiferensi pekerjaan. Kebosanan dalam pekerjaan terbukti dapat

meningkatkan terjadinya pemutusan kerja sejalan dengan waktu dan pekerjaan yang sama.