Anda di halaman 1dari 39

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

PADA NY.N DENGAN NYERI AKUT BERHUBUNGAN DENGAN TINDAKAN


OPERASI LAPAROSCOPY
CHOLESISTEKTOMY DI INSTALASI BEDAH SENTRAL
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN BANJARMASIN

OLEH :
KELOMPOK E
Muhammad Arsyad, S.Kep NIM. 1830913320043
Irmawati, S.Kep NIM. 1830913320049
Muryani, S.Kep NIM. 1830913320027
Nor’alia, S.Kep NIM. 1830913320034
Vinalisa Ditha, S.Kep NIM. 1830913320026
Sari, S.Kep NIM. 1830913320021

PENDIDIKAN PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA Muhammad Arsyad, S.Kep


Irmawati, S.Kep
KELOMPOK Muryani, S.Kep
:
Nor’alia, S.Kep
Vinalisa Ditha, S.Kep
Sari, S.Kep

JUDUL : Asuhan Keperawatan Perioperatif


Pada Ny.N Dengan Nyeri Akut Berhubungan Dengan
Tindakan Operasi Laparoscopy
Cholesistektomy Di Instalasi Bedah Sentral
Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin

Banjarmasin, Agustus 2019


Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Hasby Pri Choiruna, S. Kep.,Ns,M.Kep Mahyudi, S.Kep, Ns


NIP. 19911008 201808 10 9001 NIP. 19670728 198802 1001

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, kami mengucapkan puji dan syukur yang sebesar-


besarnya kepada Allah SWT atas rahmat, hidayah dan petunjuk-Nya yang
berlimpah sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan asuhan
keperawatan di Kamar Operasi.

Terimakasih kami sampaikan kepada pembimbing lahan yaitu Bapak


Muhyadi, S.Kep,.Ners dan pembimbing akademik yaitu Bapak Hasby Pri
Choiruna, S. Kep,.Ners,M.Kep atas bimbingan dan saran dalam menyusun
laporan asuhan keperawatan di Kamar Operasi.

Adapun judul dari laporan ini yaitu “Asuhan Keperawatan Perioperatif


Pada Ny. N dengan Tindakan Operasi Laparoscopy Cholesistektomy di
Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin”.
Penyusunan laporan ini merupakan salah satu syarat untuk melengkapi tugas di
ruang Kamar Operasi. Dalam menyelesaikan laporan ini, kami mendapatkan
bantuan dari pembimbing lahan dan pembimbing akademik berupa bimbingan dan
saran akhirnya laporan ini dapat diselesaikan.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu, kami mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun demi
kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kelompok
kami dan mahasiswa keperawatan yang akan melakukan praktek keperawatan di
Kamar Operasi.

Kelompok E Ners

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ 1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................. 3
B. Tujuan Penulisan ........................................................................................... 3
C. Manfaat Penulisan ......................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Laparoscopy Cholelithiasis
1. Definisi ..................................................................................................... 5
2. Etiologi .................................................................................................... 7
3. Manifestasi Klinis .................................................................................... 9
4. Patofisiologi ............................................................................................. 9
5. Komplikasi .............................................................................................. 10
6. Pemeriksaan Penunjang........................................................................... 10
7. Penatalaksanaan Medis ........................................................................... 12
B. Teknik penyimpanan instrumen laparoscopy .............................................. 17
C. Pengkajian .................................................................................................... 21
D. Asuhan Keperawatan ................................................................................... 23
BAB III LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF
A. Pengkajian.................................................................................................. 25
I. Pre Operatif .......................................................................................... 25
II. Intra Operatif ....................................................................................... 26
III. Post Operatif ........................................................................................ 28
B. Analisa Data............................................................................................... 29
C. Rencana Keperawatan ............................................................................... 31
D. Intervensi ................................................................................................... 31
E. Implementasi.............................................................................................. 31
F. Evaluasi...................................................................................................... 31
BAB IV PENUTUP ............................................................................................ 35
A. Kesimpulan ................................................................................................ 35
B. Saran .......................................................................................................... 35

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 36

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini penyakit batu empedu (cholelitiasis) yang terbatas pada kantung
empedu biasanya asimtomatis dan menyerang 10 – 20 % populasi umum di
dunia. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan ultrasonografi abdomen. Kira-
kira 20% wanita dan 10 % pria usia 55 sampai 65 tahun memiliki batu empedu.
Cholesistektomi diindikasikan pada pasien simtomatis yang terbukti menderita
penyakit batu empedu (cholelitiasis). Indikasi laparoskopi untuk
Cholesistektomi sama dengan indikasi open Cholesistektomi. Karena teknik
minimal invasif memiliki aplikasi diagnosis dan terapi di banyak pembedahan,
bedah laparoskopi meningkat penggunaannya baik pada pasien rawat inap
ataupun rawat jalan.
Teknik laparoskopi atau pembedahan minimal invasif diperkirakan menjadi
trend bedah masa depan. Sekitar 70-80 persen tindakan operasi di negara-
negara maju akan menggunakan teknik ini. Di Indonesia, teknik bedah
laparoskopi mulai dikenal di awal 1990-an ketika tim dari RS Cedar Sinai
California AS mengadakan live demo di RS Husada Jakarta. Selang setahun
kemudian, Dr Ibrahim Ahmadsyah dari RS Cipto Mangunkusumo melakukan
operasi laparoskopi pengangkatan batu dan kantung empedu (Laparoscopic
Cholecystectomy) yang pertama. Sejak 1997, Laparoscopic Cholecystectomy
menjadi prosedur baku untuk penyakit-penyakit kantung empedu di beberapa
rumah sakit besar di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan perioperatif pada pasien dengan tindakan
operasi laparoscopy Cholesistektomy
2. Tujuan khusus

3
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan laparoscopy
cholesistektomy
b. Merumuskan diagnosis keperawatan yang tepat pada pasien dengan
laparoscopy cholesistektomy
c. Menetapkan perencanaan keperawatan pada pasien dengan
laparoscopy cholesistektomy
d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan laparoscopy
cholesistektomy
e. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada
pasien dengan laparoscopy cholesistektomy
f. Mengetahui instrumen yang dipakai dalam tindakan laparacopy
g. Mengetahui langkah-langkah prosedur laparoscopy cholesistektomy

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Rumah Sakit
Memberikan penanganan yang baik dan benar pada pasien dengan
laparoscopy cholesistektomy
2. Bagi Perawat
Mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada pasien
laparoscopy cholesistektomy

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Laparoscopy Cholelithiasis


2. Definisi
a. Cholelitiasis
Batu empedu atau cholelithiasis adalah timbunan kristal di
dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu atau kedua-
duanya. Batu kandung empedu merupakan gabungan beberapa unsur
dari cairan empedu yang mengendap dan membentuk suatu material
mirip batu di dalam kandung empedu atau saluran empedu.
Komponen utama dari cairan empedu adalah bilirubin, garam
empedu, fosfolipid dan kolesterol. Batu yang ditemukan di dalam
kandung empedu bisa berupa batu kolesterol, batu pigmen yaitu
coklat atau pigmen hitam, atau batu campuran.
Lokasi batu empedu bisa bermacam–macam yakni di kandung
empedu, duktus sistikus, duktus koledokus, ampula vateri, di dalam
hati. Kandung empedu merupakan kantong berbentuk seperti buah
alpukat yang terletak tepat dibawah lobus kanan hati. Empedu
yangdisekresi secara terus menerus oleh hati masuk kesaluran
empedu yang kecil di dalam hati. Saluran empedu yang kecil-kecil
tersebut bersatu membentuk dua saluran yang lebih besar yang keluar
dari permukaan bawah hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri
yang akan bersatu membentuk duktus hepatikus komunis. Duktus
hepatikus komunis bergabung dengan duktus sistikus membentuk
duktus koledokus. Pada banyak orang,duktus koledokus bersatu
dengan duktus pankreatikus membentuk ampula vateri sebelum
bermuara ke usus halus. Bagian terminal dari kedua saluran dan

5
ampula dikelilingi oleh serabut otot sirkular, dikenal sebagai sfingter
oddi.

b. Laparoscopy
Laparoskopi adalah sebuah prosedur pembedahan minimally
invasive dengan memasukkan gas CO2 ke dalam rongga peritoneum
untuk membuat ruang antara dinding depan perut dan organ viscera,
sehingga memberikan akses endoskopi ke dalam rongga peritoneum
tersebut.Teknik laparoskopi atau pembedahan minimally invasive
diperkirakan menjadi trend bedah masa depan.
Di Indonesia, teknik bedah laparoskopi mulai dikenal di awal
1990-an ketika tim dari RS Cedar Sinai California AS
mengadakan live demo di RS Husada Jakarta. Selang setahun
kemudian, Dr Ibrahim Ahmadsyah dari RS Cipto
Mangunkusumo melakukan operasi laparoskopi pengangkatan batu
dan kantung empedu (Laparoscopic Cholecystectomy) yang
pertama. Sejak 1997, Laparoscopic Cholecystectomy menjadi
prosedur baku untuk penyakit-penyakit kantung empedu di
beberapa rumah sakit besar di Jakarta dan beberapa kota besar di
Indonesia.
Beberapa keuntungan dari tindakan laparascopy ini antara
lain :
1) Nyeri pasca bedah jauh lebih ringan
2) Membantu menegakkan diagnosa lebih akurat
3) Proses pemulihan lebih cepat
4) Rawat inap lebih singkat
5) Luka bekas operasi lebih kecil

Posisi pasien operasi Laparascopy Cholelitiasis adalah pasien tidur


terlentang dalam posisi anti trendelenburg, miring kekiri 30° kearah
operator, operator berada disebelah kiri pasien, asisten dan
instrumen sebelah kanan pasien.

6
3. Etiologi
Etiologi batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna
namun yang paling penting adalah gangguan metabolisme yang
disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis empedu dan infeksi
kandung empedu. Batu empedu dapat terjadi dengan atau tanpa factor
resiko dibawah ini. Namun, semakin banyak factor resiko yang dimiliki
seseorang, semakin besar kemungkinan untuk terjadinya batu empedu.
a. Jenis Kelamin
Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena batu
empedu dibandingkan dengan pria. Ini dikarenakan oleh hormone
esterogen berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh
kandung empedu. Kehamilan, yang meningkatkan kadar esterogen
juga meningkatkan resiko terkena batu empedu. Penggunaan pil
kontrasepsi dan terapi hormone (esterogen) dapat meningkatkan

7
kolesterol dalam kandung empedu dan penurunan aktivitis
pengosongan kandung empedu.
b. Usia
Resiko untuk terkena batu empedu meningkat sejalan dengan
bertambahnya usia. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung
untuk terkena batu empedu dibandingkan dengan orang usia yang
lebih muda
c. Berat badan (BMI)
Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko
lebih tinggi untuk terjadi batu empedu. Ini dikarenakan dengan
tingginy BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun
tinggi, dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi
kontraksi/pengosongan kandung empedu.
d. Makanan
Intake rendah klorida, kehilangan berat yang cepat (seperti setelah
operasi gastrointestinal) mengakibatkan gangguan terhadap unsur
kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi
kandung empedu.
e. Riwayat keluarga
Orang dengan riwayat keluarga batu empedu mempunyai resiko
lebih besar dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga
f. Aktifitas fisik
Kurangnya aktifitas fisik berhubungan dengan peningkatan resiko
terjadi batu empedu. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu
lebih sedikit berkontraksi.
g. Penyakit usus halus
Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan batu empedu adalah
crhon disease, diabetes, anemia sel sabit, trauma, dan ileus paralitik
h. Nutrisi intravena jangka lama
Nutirisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu
tidak terstimulasi untuk berkontraksi, karena tidak ada
makanan/nutrisi yang melewati intestinal. Sehingga resiko untuk
terbentuknya batu menjadi meningkat dalam kandung empedu.

8
4. Manifestasi Klinis
b. Nyeri daerah midepigastrium
c. Mual dan muntah
d. Tachycardia
e. Diaphoresis
f. Demam
g. Flatus, rasa beban epigastrium, heart burn
h. Nyeri abdominal atas kronik
i. Jaundice
3. Patofisiologi
Batu empedu yang ditemukan pada kandung empedu di
klasifikasikan berdasarkan bahan pembentuknya sebagai batu kolesterol,
batu pigmen dan batu campuran. Lebih dari 90 % batu empedu adalah
kolesterol (batu yang mengandung > 50% kolesterol) atau batu campuran
( batu yang mengandung 20-50% kolesterol). 10 % sisanya adalah batu
jenis pigmen, yang mana mengandung <20% kolesterol. Faktor yang
mempengaruhi pembentukan batu antara lain adalah keadaan stasis
kandung empedu, pengosongan kandung empedu yang tidak sempurna
dan kosentrasi kalsium dalam kandung empedu.Batu kandung empedu
merupakan gabungan material mirip batu yang terbentuk di dalam
kandung empedu.
Pada keadaan normal, asam empedu, lesitin dan fosfolipid
membantu dalam menjaga solubilitas empedu. Bila empedu menjadi
bersaturasi tinggi (supersaturated) oleh substansi berpengaruh
(kolesterol, kalsium, bilirubin), akan berkristalisasi dan membentuk
nidus untuk pembentukan batu. Kristal yang terbentuk dalam kandung
empedu, kemudian lama kelamaan tersebut bertambah ukuran,
beragregasi, melebur dan membentuk batu. Factor motilitas kandung
empedu dan biliary stasis merupakan predisposisi pembentukan batu
campuran.

9
4. Komplikasi
Komplikasi dari kolelitiasis diantaranya adalah :
a. Empiema kandung empedu, terjadi akibat perkembangan kolesistitis
akut dengan sumbatan duktus sistikus persisten menjadi superinfeksi
empedu yang tersumbat disertai kuman kuman pembentuk pus.
b. Hidrops atau mukokel kandung empedu terjadi akibat sumbatan
berkepanjangan duktus sitikus.
c. Gangren, gangrene kandung empedu menimbulkan iskemia dinding
dan nekrosis jaringan berbercak atau total.
d. Perforasi : Perforasi lokal biasanya tertahan oleh adhesi yang
ditimbulkan oleh peradangan berulang kandung empedu. Perforasi
bebas lebih jarang terjadi tetapi mengakibatkan kematian sekitar
30%.
e. Pembentukan fistula
f. Ileus batu empedu : obstruksi intestinal mekanik yang diakibatkan
oleh lintasan batu empedu yang besar kedalam lumen usus.
g. Empedu limau (susu kalsium) dan kandung empedu porcelain.

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Sinar-X Abdomen


Pemeriksaaan sinar-X abdomen dapat dilakukan jika terdapat
kecurigaan akan penyakit kandung empedu dan untuk
menyingkirkan penyebab gejala yang lain. Namun demikian, hanya
15% hingga 20% batu empedu yang mengalami cukup kalsifikasi
untuk dapat tampak melalui pemeriksaan sinar-X.
b. Ultrasonografi.
Pemeriksaan USG telah menggantikan kolesistografi oral
sebagai prosedur diagnostic pilihan karena pemeriksaan ini dapat
dilakukan dengan cepat serta akurat, dan dapat digunakan pada
penderita disfungsi hati dan ikterus. Disamping itu, pemeriksaan
USG tidak membuat pasien terpajan radiasi ionisasi. Prosedur ini
akan memberikan hasil yang paling akurat jika pasien sudah
berpuasa pada malam harinya sehingga kandung empedunya berada

10
dalam keadaan distensi. Penggunaan ultrasound berdasarkan pada
gelombang suara yang dipantulkan kembali. Pemeriksaan USG
dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau duktus
koledokus yang mengalami dilatasi. Dilaporkan bahwa USG
mendeteksi batu empedu dengan akurasi 95%.
c. Pemeriksaan Radionuklida atau Koleskintografi
Koleskintografi telah berhasil dalam membantu menegakkan
diagnosis kolelisistitis. Dalam prosedur ini, preparat radioaktif
disuntikkan melalui intravena. Preparat ini kemudian diambil oleh
hepatosit dan dengan cepat diekskresikan dalam system bilier.
Selanjutnya dilakukan pemindaian saluran empedu untuk
mendapatkan gambar kandung empedu dan percabangan bilier.
Pemeriksaan ini lebih mahal daripada USG, memerlukan waktu
yang lebih lama untuk mengerjakannya, membuat pasien terpajan
sinar radiasi, dan tidak dapat mendeteksi batu empedu.
Penggunaannya terbatas pada kasus-kasus yang dengan pemeriksaan
USG, diagnosisnya masih belum dapat disimpulkan.
d. Kolesistografi.
Meskipun sudah digantikan dengan USG sebagai pemeriksaan
pilihan, kolesistografi masih digunakan jika alat USG tidak tersedia
atau bila hasil USG meragukan. Kolangiografi oral dapat dilakukan
untuk mendeteksi batu empedu dan mengkaji kemampuan kandung
empedu untuk melakukan pengisian, memekatkan isinya,
berkontraksi serta mengosongkan isinya. Media kontras yang
mengandung iodium yang diekskresikan oleh hati dan dipekatkan
dalam kandung empedu diberikan kepada pasien. Kandung empedu
yang normal akan terisi oleh bahan radiopaque ini. Jika terdapat batu
empedu, bayangannya akan tampak pada foto rontgen.
Preparat yang diberikan sebagai bahan kontras mencakup
asam iopanoat (Telepaque), iodipamie meglumine (Cholografin) dan
sodium ipodat (Oragrafin). Semua preparat ini diberikan dalam dosis
oral, 10-12 jam sebelum dilakukan pemeriksaan sinar-X. sesudah
diberikan preparat kontras, pasien tidak boleh mengkonsumsi

11
apapun untuk mencegah kontraksi dan untuk pengosongan kandung
empedu.
Kepada pasien harus ditanyakan apakah ia mempunyai riwayat
alergi terhadap yodium atau makanan laut. Jika tidak ada riwayat
alergi, pasien mendapat preparat kontras oral pada malam harinya
sebelum pemeriksaan radiografi dilakukan. Foto rontgen mula-mula
dibuat pada abdomen kuadaran kanan atas. Apabila kandung
empedu tampak terisi dan dapat mengosongkan isinya secara normal
serta tidak mengandung batu, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak
terjadi penyakit kandung empedu. Apabila terjadi penyakit kandung
empedu, maka kandung empedu tersebut mungkin tidak terlihat
karena adanya obstruksi oleh batu empedu. Pengulangan pembuatan
kolesistogram oral dengan pemberian preparat kontras yang kedua
mungkin diperlukan jika kandung empedu pada pemeriksaan
pertama tidak tampak.
Kolesistografi pada pasien yang jelas tampak ikterik tidak
akan memberikan hasil yang bermanfaat karena hati tidak dapat
mengekskresikan bahan kontras radiopaque kedalam kandung
empedu pada pasien ikterik. Pemeriksaan kolesistografi oral
kemungkinan besar akan diteruskan sebagai bagian dari evaluasi
terhadap pasien yang telah mendapatkan terapi pelarutan batu
empedu.

6. Penatalaksanaan Medis
Laparoscopy cholelitiasis diindikasikan pada pasien simtomatis
yang terbukti menderita penyakit batu empedu (cholelitiasis). Indikasi
laparoskopi untuk Cholesistektomi sama dengan indikasi open
Cholesistektomi.Keuntungan melakukan prosedur laparoskopi pada
cholesistektomi yaitu: laparoscopic cholesistektomi menggabungkan
manfaat dari penghilangan gallblader dengan singkatnya lama tinggal di
rumah sakit, cepatnya pengembalian kondisi untuk melakukan aktivitas
normal, rasa sakit yang sedikit karena torehan yang kecil dan terbatas,

12
dan kecilnya kejadian ileus pasca operasi dibandingkan dengan teknik
open laparotomi.
Namun kerugiannya, trauma saluran empedu lebih umum terjadi
setelah laparoskopi dibandingkan dengan open cholesistektomi dan bila
terjadi pendarahan perlu dilakukan laparotomi.. Kontra indikasi pada
Laparoskopi cholesistektomi antara lain: penderita ada resiko tinggi
untuk anestesi umum; penderita dengan morbid obesity; ada tanda-tanda
perforasi seperti abses, peritonitis, fistula; batu kandung empedu yang
besar atau curiga keganasan kandung empedu; dan hernia diafragma
yang besar.

13
14
Pathway Kolesistektomi

Pola hidup, pola makan , usia

Pembentukan batu empedu

Menyumbat saluran kantong empedu

Nyeri, mual, kembung

Indikasi operasi Kolesistektomi

Pre operasi Intra operasi Post operasi Resiko infeksi

Gugup, panik Kurang informasi pembedahan Mengaktivasi reseptor Trauma jaringan,


jaringan kulit
Ansietas Defisiensi pengetahuan insisi Nyeri akut

Terputusnya Resiko kerusakan


pembuluh darah integritas kulit

Resiko pendarahan

16
16
16
B. Teknik Penyimpanan Instrumen Laparascopy

Instrumen- instrumen laparascopy idealnya disimpan dalam almari kaca disertai


dengan penghangat sebesar 45 watt.

Teknik Mensterilkan

Alat medis harus didekontaminasi secara menyeluruh sebelum digunakan,


termasuk instrumen laparascopy. Bahan untuk mensterilkan harus mendapatkan kontak
dengan permukaan alat agar proses sterilisasi pada objek tersebut dapat terjadi. Ada 2
macam sterilisasi yang dapat digunakan, yaitu :

1. Sterilisasi Suhu Tinggi


Teknik sterilisasi suhu tinggi menggunakan uap air sebagai medianya, dengan
mekanisme koagulasi sel protein. Suhu yang digunakan antara 1100 – 1340 C. Tetapi,
tidak semua instrumen dapat disterilkan dengan suhu tinggi, contohnya : instrumen
yang terbuat dari kaca/lensa, karet, atau plastik
Keuntungannya :
- Tidak beracun
- Ramah lingkungan
- Waktu pemrosesan yang cepat
- Ekonomis
- Efektif untuk alat-alat logam dan tenun

17
Mesin Autoclave

2. Sterilisasi Suhu Rendah


Teknik sterilisasi suhu rendah digunakan untuk memproses instrumen yang tidak
tahan panas. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan mesin Sterrad / Plasma
(hydrogen Peroxide), mesin EO gas / ethylene oxide (EtO), atau menggunakan cairan
cidex / Glutaraldehyde (Desinfektan Tingkat Tinggi).
Sterilisasi dengan menggunakan mesin Sterrad / Plasma (hydrogen Peroxide)
membutuhkan waktu selama 45 menit. Sebelumnya, instrumen dikemas dalam kantong
medipac.

Sterilisasi dengan mesin EO gas / ethylene oxide (EtO) hanya dapat diterapkan
pada instrumen fiber optic, alat-alat anestesi, alat-alat respirator, dan alat-alat implant.
Waktu yang dibutuhkan adalah 3,5 jam.

18
Sterilisasi dengan menggunakan cairan cidex / Glutaraldehyde (Desinfektan
Tingkat Tinggi) digunakan untuk mensterilkan alat-alat laparascopy. Dilakukan dengan
merendam instrumen dalam campuran 16 cc cidex dan 4 liter steril water selama 30
menit. Selama proses merendam, pastikan semua bagian instrumen terendam, atur
posisi agar tidak saling silang, untuk kabel sebaiknya direndam dalam posisi melingkar.
Selanjutnya, tutup bak perendaman, agar tidak terjadi penguapan konsentrat cidex.
Setelah perendaman selesai, bilas dengan steril water, kemudian keringkan dengan lap
kain steril.

Teknik Pencucian
Instrumen habis pakai dibersihkan dari kotoran dan darah. Kemudian dilepas
perbagian dengan hati-hati dan direndam dalam cairan cidex.

19
20
C. Proses Keperawatan
1. Pengakajian
a. Pengkajian fase Pre Operatif
1) Pengkajian Psikologis pasien meliputi perasaan takut / cemas dan keadaan
emosi pasien
2) Pengkajian Fisik pasien pengkajian tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi,
pernafasan dan suhu.
3) Sistem integumen pasien apakah pasien pucat, sianosis dan adakah penyakit
kulit di area badan.
4) Sistem Kardiovaskuler pasien apakah ada gangguan pada sisitem cardio,
validasi apakah pasien menderita penyakit jantung, kebiasaan minum obat
jantung sebelum operasi., Kebiasaan merokok, minum alcohol, Oedema,
Irama dan frekuensi jantung.
5) Sistem pernafasan pasien apakah pasien bernafas teratur dan batuk secara
tiba-tiba di kamar operasi.
6) Sistem gastrointestinal pasien apakah pasien diare ?
7) Sistem reproduksi pasien apakah pasien wanita mengalami menstruasi ?
8) Sistem saraf pasien bagaimana kesadaran ?
9) Validasi persiapan fisik pasien. Apakah pasien puasa, lavement, kapter,
perhiasan, Make up, Scheren, pakaian pasien / perlengkapan operasi dan
validasi apakah pasien alaergi terhadap obat ?
b. Pengkajian fase Intra Operatif
Hal-hal yang dikaji selama dilaksanakannya operasi bagi pasien yang diberi
anaesthesi total adalah yang bersifat fisik saja, sedangkan pada pasien yang
diberi anaesthesi lokal ditambah dengan pengkajian psikososial. Secara garis
besar yang perlu dikaji adalah :
1) Pengkajian mental pasien bila pasien diberi anaesthesi lokal dan pasien
masih sadar atau terjaga maka sebaiknya perawat menjelaskan prosedur
yang sedang dilakukan terhadapnya dan memberi dukungan agar pasien
tidak cemas atau takut menghadapi prosedur tersebut.
2) Pengkajian fisikpasienTanda-tanda vital (bila terjadi ketidaknormalan
maka perawat harus memberitahukan ketidaknormalan tersebut kepada ahli
bedah).
3) Transfusi dan infuse pasien. Monitor flabot sudah habis apa belum.

21
4) Pengeluaran urin pasien. Normalnya pasien akan mengeluarkan urin
sebanyak 1 cc/kg BB/jam.
c. Pengkajian fase Post Operatif
1) Status respirasi pasienMeliputi : kebersihan jalan nafas, kedalaman
pernafasaan, kecepatan dan sifat pernafasan dan bunyi nafas.
2) Status sirkulatori pasienMeliputi : nadi, tekanan darah, suhu dan warna
kulit.
3) Status neurologis pasien meliputi tingkat kesadaran.
4) Balutan pasien meliputi : balutan luka
5) Kenyamanan pasien Meliputi : terdapat nyeri, mual dan muntah
6) Keselamatan pasien meliputi : diperlukan penghalang samping tempat
tidur, kabel panggil yang mudah dijangkau dan alat pemantau dipasang dan
dapat berfungsi.
7) Perawatan pasien meliputi : cairan infus, kecepatan, jumlah cairan,
kelancaran cairan.
8) Nyeri pasien meliputi : waktu, tempat, frekuensi, kualitas dan faktor yang
memperberat atau memperingan.

22
D. ASUHAN KEPERAWATAN

DIAGNOSA KEPERAWATAN :
1. Nyeri akut
2. Defisiensi Pengetahuan
3. Ansietas
4. Resiko Infeksi
5. Resiko Kerusakan Integritas Kulit
6. Resiko pendarahan

Nyeri akut Defisiensi pengetahuan Ansietas


NOC : Pain Level, Pain control, Comfort level
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 60 menit pasien NOC : Anxiety control
NOC : Knowledge : disease process
tidak mengalami nyeri dengan kriteri :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 60 menit Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 60
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi
pasien menunjukkan pengetahuan tentang proses penyakit, menit kecemasan pasien teratasi dengan kriteria hasil :
nyeri, mencari bantuan ) dengan kriteria hasil:  Klien mampu mengidentifikasi dan
2. Melaporkan nyeri berkurang dengan managemen nyeri  Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang
mengunkapkan gejala cemas
3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
tanda nyeri)
 Mengidentifikasi, mengunkapkan dan
NIC : Teaching disease
4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang 1. Gambarkan tanda dan gejala yang bisa muncul pada menunjukkan teknik untuk mengontrol cemas
NIC : Pain Management penyakit dengan cara yang tepat  Vital sign dalam batas normal
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, 2. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang  Postur tubuh, ekpresiwajah, bahasa tubuh dan
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas)
tepat tingkat aktivitas menunjukkan
2. Eksplorasi pengetahuan pasien tentang nyeri 3. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan
3. Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri klien tentang proses penyakit yang spesifik NIC : Anxiety reduction
(distraksi, napas dalam, relaksasi) 4. Diskusikan dengan klien tentang pemilihan terapi 1. Kaji tingkat kecemasan klien
4. Anjurkan pasien untuk istirahat yang adekuat
NIC : Analgesic Administration 2. Jelaskan penjelasan proses penyakit
NIC : Teaching procedur/treatment
1. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi 3. Instruksikan pasien menggunakan teknik
1. Informasikan kepada klien berapa lama operasi
2. Cek riwayat alergi relaksasi
berlangsung
3. Tentukan pilihan analgesic dari tipe dan beratnya nyeri 4. Bantu pasien mengenal situasi yang
4. Berikan obat sesuai rute pemberian
2. Informasikan kepada klien bagaimana prosedur operasi
5. Monitor ttv pasien sebelum dan sesudah pengobatan 3. Intruksikan kepada klien agar kooperatif sebelum menimbulkan kecemasan
6. Berikan obat tepat waktu dilakukannya operasi

23
Resiko Infeksi Resiko Kerusakan Integritas Kulit Resiko perdarahan
NOC : Risk control NOC
Setelah dilakukan tindakan selama 1x24 jam, masalah NOC : Tissue Integrity
Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam, masalah Status sirkulasi
teratasi dengan kriteria hasil:
teratasi dengan kriteria hasil: Status koagulasi
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
Kontrol resiko
2. Jumlah leukosit dalam batas normal (4.300-  Perfusi jaringan baik Kontrol resiko: kesehatan kardiovaskular
10.800/mm3)  Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
(sensasi temperatur, hidrasi, pigmentasi) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 60
NIC : Infection protection menit, perdarahan tidak terjadi dengan kriteria hasil:
1. Monitor tanda dan gejala sitemik dan lokal dari NIC : Insision Site Care
infeksi 1. Membersihkan, memantau dan meningkatkan
NIC
2. Batasi jumlah pengunjung proses penyembuhan pada luka yang ditutup
Pencegahan perdarahan
3. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap dengan jahitan, klip atau staples - Memonitor pasien secara ketat untuk perdarahan
adanya kemerahan, rasa panas atau drainase 2. Monitor proses kesembuhan area insisi - Catat tingkat hemoglobin/hematokrit sebelum dan
4. Mempertahankan asepsis untuk pasien beresiko 3. Bersihkan area sekitar jahitan atau staples, sesudah kehilangan darah
menggunakan lidi kapas steril - Memantau tanda dan gejala perdarahan yang presisten
4. Gunakan preparat antiseptik sesuai program (misalnya memeriksa semua sekresi atau darah
5. Ganti balutan pada interval waktu yang sesuai atau okultisme
- Memantau koagulasi termasuk waktu prothombin (PT),
biarkan luka tetap terbuka (tidak dibalut) sesuai
waktu tromboplastin parsial (PTT), fibrinogen,
program degredasi/split fibrin produk, jumlah trombosit, jika
diperlukan
- Menjaga istirahat selama perdarahan aktif
- Mengelola produk darah
- Melindungi pasien dari trauma yang dapat
menyebabkan perdarahan
- Mengkoordinasi waktu prosedur invasif dengan tranfusi
trombosit atau plasma beku segar
Pengurangan perdarahan
- Identifikasi penyebab perdarahan
- Monitor pasien secara ketat untuk perdarahan
- Monitor jumlah dan sifat dari kehilangan darah
- Catat tingkat Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan
darah
- Monitor TTV
- Pantau status cairan intake dan output
- Mengatur ketersediaan produk darah untuk transfusi
- Menjaga akses IV klien

24
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN
INSTALASI BEDAH SENTRAL
Jl. A. Yani No. 43 Telp ( 0511 ) 252180 ext.5212
BANJARMASIN

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

I. PENGKAJIAN
A. PRE OPERASI/PRE MEDIKASI
1. Serah terima pasien
Check In: Pada tanggal 5 agustus 2019 pasien masuk ke ruang operasi diantar
dari ruang Anggrek lama pada pukul 10.00 WITA, petugas ruangan
menyerahkan status pasien dan petugas di ruang OK memeriksa kelengkapan
berkas meliputi identitas pasien, diagnosa medis pasien, rencana tindakan
operasi, pemeriksaan penunjang dan informed concent serta menanyakan
menggunakan gigi palsu ataupun perhiasan lainnya, perawat juga menanyakan
apakah pasien mempunyai riwayat alergi ataupun penyakit asma (pasien tidak
ada alergi atau penyakit asma) setelah itu pasien dibawa ke ruang ganti untuk
ganti baju dengan pakaian yang disediakan dari ruang OK.

2. Identitas Pasien
Nama : Ny. N

Umur : 37 Tahun

Alamat : Jl. Komplek Adiyaksa

Diagnosa Medik : Multiple Choletitiasis

Tindakan Op. : Laparoscopy Cholesistektomy

3. Pemeriksaan Fisik/Psikologi
TTV : TD: 125/85 mmHg, Nadi: 82 x/menit RR: 20x/menit,
T: 36,30C SPO2 99% tanpa O2

Reaksi Fisik : pasien berbaring di atas tempat tidur, tampak meringis


kesakitan dan sering memegang perut.

25
Reaksi Psikologi : Pasien mengatakan cemas dengan tindakan yang akan
dilakukan dan pasien tampak sedang berdo’a

Persiapan Operasi :

Informed Concent/Ijin Anestesi Puasa √ Cukur √


Pemeksaan Penunjang: Lab √ Radiologi √ EKG √ USG √

Pre medikasi

Pasien tampak cemas, terpasang infus pada lengan kiri dengan terpasang
cairan Nacl 0,9%. Pasien mengatakan telah puasa pada tanggal 5 agustus 2019
mulai pukul 24.00 wita.

B. INTRA OPERASI
1. Kelengkapan Tim Operasi
Bedah : Operator, Asisten I, Asisten II, Asisten Instrumen (scrub ners),
perawat sirkuler

Anestesi : Dokter Anastesi dan Perawat Anastesi

Jenis Anestesi : GA ETT

2. Tanda daerah operasi: Lokasi Abdomen


3. Kelengkapan Anestesi: IV Line: Ringer laktat, Nacl 0,9%
Obat anestesi yang digunakan

1) Profopol 100 mg untuk induksi


2) Atracurium 40 mg untuk pelumpuhan otot
3) Remyfentanyl 2 mg untuk analgetik
4) Tramadol 100 mg untuk analgetik
5) O2 2 lpm
6) Air 2 lpm
7) Cevoplurane 2 Vol % sebagai agent anastesi inhalasi
8) SA 3 ampul
9) Neofigimine 3 ampul
4. Posisi operasi: Posisi pasien supinasi
5. Rencana dilakukan tindakan:
Pasien akan dilakukan tindakan laparoscopy Cholisistectomy yaitu
pengangkatan batu empedu bersama dengan kantong empedu, karena dari hasil

26
USG adanya multiple soft stone GB, setelah kantong empedu diangkat akan
dilakukan pemeriksaan PA untuk mengetahui jenis batu empedu.

6. Observasi tindakan anestesi


Fase sign in dimulai pada pukul 10.00 wita pasien masuk ke ruang OK, Pukul
11.00 wita dilakukan induksi anastesi, pasien tampak dilakukan intubasi dan
di pasang ETT (Endo Trakheal Tube).
Dokter dan perawat anastesi memantau kondisi pasien selama tindakan
operasi berlangsung tampak dilakukan pemasangan infus 2 line dengan
jumlah dan jenis cairan yang diberikan sebagai berikut:

1. Pre Anastesi : Nacl 0,9% 500 cc


2. Intra Anestesi: Nacl 0,9 % 500 cc dan Ranger Laktat 500 cc
Cairan keluar : Darah 100 cc, Urine 250 cc

Obat-obatan anestesi yang diberikan:

1) Profopol 100 mg untuk induksi


2) Atracurium 40 mg untuk pelumpuhan otot
3) Remyfentanyl 2 mg untuk analgetik
4) Tramadol 100 mg untuk analgetik
5) O2 2 lpm
6) Air 2 lpm
7) Cevoplurane 2 Vol % sebagai agent anastesi inhalasi
8) SA 3 ampul
9) Neofigimine 3 ampul

Observasi tanda tanda vital :

a. pre operatif : TD : 125/85 mmhg, N: 82x/m,R 20 x/m, T 36,20C Spo2 99%


b. Intra operatif : TD :110/80 mmhg, N 78x/m, R :16 x/m, T 360C Spo2 92%
c. Post operatif : TD: 114/70 mmhg, N 80 x/m, R 12 x/m, T 36,00 C Spo2 100%

7. Observasi tindakan operasi


Time out dimulai pukul 11.15 Wita, dengan memperkenalkan semua anggota
tim operasi dan membaca do’a bersama-sama. Setelah itu tampak pada
abdomen pasien, operator mengoleskan kassa bethadin dengan 2 kali olesan
dan 1 kali olesan kapas alkohol. Kemudin operator melakukan insisi pada 3

27
sisi abdomen yang masing-masing insisi di daerah umbilikus lebar 1 cm, di
kuadran kanan atas 0,5 cm dan di bawah procesus xypoidius 1 cm. Kemudian
laparoscopi dimasukkan melalui umbilikus yang di insisi, operator melakukan
pengangkatan kantong empedu memakai alat laparscopi, kantong empedu
berhasil di angkat pada pukul 12.15 wita, tampak kantong empedu berbentuk
bulat dan lembek masih utuh tidak ada sobekan kemudian kantong empedu
dimasukkan dalam toples untuk dikirim dilakukan pemeriksaan PA yang
tujuan nya untuk mengetahui jenis batu empedu.

Sign out pada pukul 12.30 wita dengan mengecek kelengkapan bahan dan alat
yang digunakan selama operasi, yaitu kassa 15 buah, bikhas 4 lembar ,jarum
heating lengkap dan instrumen alat lengkap. Jumlah perdarahan ± 100 cc.
Urine 250 cc. TD: 110/80 mmhg, N 78x/m, R :16 x/m, T 360C Spo2 92%. Luka
insisi di hecting dan di tutup kassa steril

C. POST OPERASI/PASCA ANESTESI


Post Anestesi diberikan Cairan NS 300 cc. Observasi yang dilakukan meliputi
1. Air way
Sumbatan jalan nafas (-), pasien tampak mulai sadar dengan aldere score 1

2. Breathing
Pasien bernafas spontan, SPO2 100%, terpasang O2 2 lpm dengan simple
mask.dengan nilai aldere score 2

3. Cirkulasi
Tekanan Darah: 114/70 mmHg, akral dingin Temperature: 36oC, dengan nilai
aldere score 2

4. Observasi RR Aldrete Score


Penilaian Jam 5” Tanda Penilaian

Aktivitas 12.50 1 Bergerak 2 ekstremitas atas perintah/ volunter

Pernafasan 12.50 2 Nafas dalam dan batuk

Sirkulasi 12.50 2 TD +/- 20 preanastesi

Kesadaran 12.50 1 Sadar penuh

Warna kulit 12.50 2 Kemerahan

28
Total 8 Pasien boleh pindah ke ruangan jika hasil
pertemuan ≥8

Total score pada 5 menit pertama adalah 8 tanpa nilai 0, pasien dapat
dipindahkan keruang perawatan.

5. Lain-lain
- Pasien tampak sadar penuh, pasien sudah merasakan nyeri, tampak pasien
menangis mengeluarkan air mata karena kesakitan
- Pasien post anastesi general
6. Serah terima pasien
Pasien dijemput oleh perawat ruangan dengan Alderete score 9. Perawat ruang
operasi memberikan status pasien dan box tempat medikasi pasien serta
menjelaskan anestesi yang digunakan oleh pasien yaitu general anestesi dan
Pasien dijemput dengan menggunakan branker.

II. ANALISA DATA


A. Pre Operasi
DATA ETIOLOGI MASALAH

DS : Pasien mengatakan cemas dengan Prosedur Tindakan Ansietas


tindakan yang akan dilakukan Pembedahan

DO:

- Pasien tampak cemas, pasien


tampak sedang membaca do’a
- Pasien baru pertama kali
melakukan operasi
- pasien akan dilakukan
tindakan laparoscopy

B. Intra Operasi
DATA ETIOLOGI MASALAH

DS: - Faktor risiko kehilangan Risiko Perdarahan


cairan aktif
DO:

- Perdarahan ± 100cc
- Urine 250 cc
- Insisi pembedahan 3 titik
- Tekanan darah: 110 /80 mmHg
- Terpasang infus 2 line

29
- Line 1 Nacl 0,9 %
- Line 2 Ranger Laktat
- N: 82 x/menit
- R: 16 x/menit
- SPO2 : 92 %

C. Post Operasi
DATA ETIOLOGI MASALAH

DS: - Pasien mengatakan nyeri di pinggang dan Agen cidera fisik Nyeri akut
di bagian perut yang di operasi

P : Nyeri akibat insisi

Q : nyeri seperti di iris-iris

R : nyeri dirasakan di perut dan


pinggang

S : skala nyeri 10 nyeri berat ( skala 0-


10)

T: sejak pasien sadar dari general


anastesi

DO:

- Pasien tampak sadar


- Pasien bisa diajak bicara dan
bicaranya dapat dimengerti
tapi pelan suaranya.
- Pasien post anastesi general
- Pasien tampak meringis
kesakitam
- TTV :
TD 114/70 mmhg
Nadi 80 kali/menit
RR 12 kali/menit
T 36 °C
Spo2 100 %

30
III. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
A. PRE OPERASI
NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI IMPLEMENTASI EVALUASI

1. Ansietas berhubungan NOC: Anxiety Reduction 1. Menanyakan bagaimana S: Pasien mengatakan cemasnya
dengan prosedur 1. Kaji tingkat kecemasan pearsaan pasien dan berkurang dan pasien mengerti
pembedahan Anxiety control klien dan reaksi fisik mendengarkan apa yang dengan prosedur yang akan
akibat kecemasan. pasien keluhakan dan yang dilakukan
Setelah dilakukan
2. Berikan informasi factual dirasakan.
tindakan keperawatan
mengenai prosedur 2. Menjelaskan tentang
selama 1 x 15 menit
tindakan tindakan operasi yang akan
kecemasan pasien 3. Jelaskan semua prosedur dilakukan O:
teratasi dengan kriteria dan apa yang dirasakan 3. Mengajarkan pasien teknik
hasil: - Pasien tampak rileks
selama prosedur relaksasi nafas dalam dengan
- Tekanan Darah: 125/82
4. Bantu pasien mengenal menarik nafas dalam lewat
- Klien mampu mmHg
mengidentifikasi dan
situasi yang menimbulkan hidung dan menghembuskan
kecemasan lewat mulut. - Nadi: 82 x/menit
mengungkapkan - R: 20 x/menit
gejala cemas (skala 2 5. Jelaskan mengenai 4. Mendampingi pasien dan
tindakan yang akan mengajak berbincang - T: 36oC
ke 4)
- Mengidentifikasi, dilakukan pada klien bincang selama di ruang pre - Spo2 99 %
mengungkapkan dan dengan menggunakan medikasi A: masalah ansietas teratasi
menunjukkan tehnik bahasa yang mudah 5. Melakukan pemeriksaan
untuk mengontol dimengerti. TTV P: Intervensi dihentikan
cemas (skala 2 ke 4) 6. Ajarkan teknik untuk
- Vital sign dalam batas mengurangi kecemasan
normal
Keterangan :
misalnya dengan
1: tidak pernah dilakukan mendengarkan musik atau
2: jarang dilakukan teknik relaksasi nafas
3: kadang-kadang dilakukan dalam.
4: sering dilakukan
5: dilakukan secara konsisten

31
B. INTRA OPERASI

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI IMPLEMENTASI EVALUASI

1. Resiko Perdarahan NOC: NIC: pencegahan perdarahan 1. Memonitor ketat S: -


Kontrol resiko terjadinya perdarahan (
Status sirkulasi 1. Monitor dengan ketat risiko perdarahan dalam maupun O:
terjadinya perdarahan pada
perdarahan luar) - TD: 110/80 mmHg
pasien.
Setelah dilakukan 2. Lindungi daerah luka insisi 2. Menutup luka bekas insisi - N: 78x/m
tindakan keperawatan menutup dengan kassa steril dengan kasssa steril. - R: 16x/m
1x60 menit tidak terjadi 3. Monitor tanda-tanda vital 3. Mengukur tanda – tanda
- T:36 0C
perdarahan dengan 4. Pantau cairan intake dan output vital seperti tekanan darah,
- Spo2 92 %
kriteria hasil : nadi, respirasi, suhu dan
- Perdarahan luka
saturasi oksigen)
- Kehilangan darah operasi ±100cc
4. Memantau cairan urine
yang terlihat ( skala 1 - Tampak diberikan
250 cc cairan input Nacl
ke 5) cairan Nacl 500 cc dan
0,9 % 500 cc dan RL 500
- Perdarahan pasca Ranger Laktat 500cc
cc
bedah - Urine output 250 cc
(skala 1 ke 5)
A: Masalah resiko perdarahan
Keterangan: dapat teratasi

1. Berat
2. Cukup berat
P: Hentikan Intervensi
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

32
C. POST OPERASI

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI IMPLEMENTASI EVALUASI

Nyeri akut berhubungan NOC: Kontrol nyeri NIC: Manajemen nyeri 1. Mengkaji tingkat nyeri S: Pasien mengatakan masih nyeri
dengan agen cidera fisik P : Nyeri akibat insisi di pinggang dan daerah perut yang
Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat nyeri di insisi
tindakan keperawatan 2. Ajarkan intervensi non Q : nyeri seperti di iris-iris
3x60 menit nyeri pasien farmakologi P : Nyeri akibat insisi
3. Mobilisasi pasien untuk R : nyeri dirasakan di perut dan
terpenuhi dengan
memilih teknik pengalihan pinggang Q : nyeri seperti di iris-iris
kriteria hasil : yang diinginkan.
4. Kolaborasi pemberian S : skala nyeri 10 nyeri berat ( R : nyeri dirasakan di perut dan
- Mampu melaporkan
analgetik, sesuai tipe dan skala 0-10) pinggang
nyeri yang terkontrol beratnya nyeri
- Dapat menggunakan 5. Anjurkan pasien latihan T: sejak pasien sadar dari S : skala nyeri 10 nyeri berat (
analgetik yang di distraksi (nafas dalam) general anastesi skala 0-10)
rekomendasikan 6. Evaluasi respon pasien
(skala 2 ke 4) terhadap kegiatan pengalihan 2. Mengajarkan teknik nafas T: sejak pasien sadar dari
5. Cek perintah pengobatan
dalam general anastesi
seperti obat, dosis dan
frekuensi. 3. Berkolaborasi pemberian
analgetik dengan

33
Keterangan: memberikan injeksi
ketorolac 15 mg / iv
1:sangat terganggu 4. Mengevaluasi respon O:

2:banyak terganggu pasien terhadap tarik nafas - Pasien tampak sadar


dalam - Pasien bisa diajak bicara
3:cukup terganggu 5. Mengecek terapi yg di
dan bicaranya dapat
instruksikan dokter seperti dimengerti tapi pelan
4:sedikit terganggu dosis, nama obat dan
suaranya.
frekuensi. - Pasien post anastesi
5:tidak terganggu
6. Mencek tanda-tanda vital
general
7. Memberikan obat-obatan
- Pasien tampak meringis
yang diresepkan dokter
kesakitam
- seperti injeksi ketorolac,
- TTV :
inj. Ceftriaxone 2x1 gr,
TD 114/70 mmhg
lantoprazole 2x1 gr.
Nadi 80 kali/menit
RR 12 kali/menit
T 36 °C
- Spo2 100 %
A: Masalah nyeri akut belum
teratasi

P: hentikan intervensi pasien


dipindahkan ke ruang anggrek
lama

34
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kolesistektomi (cholecystectomies) adalah operasi pengangkatan kantong empedu
melalui proses bedah. Kolesistektomi adalah suatu tindakan pembedahan dengan
cara mengangkat kandung empedu dan salurannya dengan cara membuka dinding
perut. Kolesistektomi (cholecystectomies) adalah operasi pengangkatan kantong
empedu melalui proses bedah.
Kolesistektomi adalah suatu tindakan pembedahan dengan cara mengangkat
kandung empedu dan salurannya dengan cara membuka dinding perut.
Kolesistektomi laparoskopik kini menggantikan kolesistektomi terbuka sebagai
pilihan pertama atas tindakan pada batu empedu dan peradangan kantung empedu,
kecuali jika terdapat kontra-indikasi terhadap pendekatan laparoskopik. Ini karena
bedah terbuka memiliki risiko infeksi yang lebih besar bagi pasien.

B. Saran
Agar lebih menjaga pola makan dan gaya hidup karena batu empedu masih
belum diketahui dengan sempurna namun yang paling penting adalah
gangguan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu,
stasis empedu dan infeksi kandung empedu. Batu empedu dapat terjadi
dengan atau tanpa factor resiko dibawah ini. Namun, semakin banyak factor
resiko yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinan untuk
terjadinya batu empedu.

35
DAFTAR PUSTAKA

Laurentius A. Lesmana. 2006. PenyakitBatuEmpedu. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit


Dalam. Jakarta :Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Edisi
Ke-4.h481-483
Friedman LS. 2007. Liver, Biliary Tract,& Pancreas. In: LM Tierney, SJ McPhee, MA
Papadakis (eds), Current Medical Diagnosis & Treatment, 46e. New York,
McGraw-Hill
R. Sjamsuhidayat. Wim de Jong. 2005. Saluran empedu dan hati. Dalam: R.
Sjamsuhidayat, Wim de Jong, ed. Buku Ajar IlmuBedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. h.
561,570-73
Bland K. I, Beenken S.W, and Copeland E.E (from e-book). 2007. Gall Blader and
ExtrahepaticBilliary System. In: Brunicardi F.C., Andersen D.K., Billiar T.R.,
Dunn D.L., Hunter J.L., Pollock R.E, ed. Schwartz’s Manual Surgery. Eight edition.
United States of America: McGraw-Hill Books Company.
Ahrendt. S.A and Pitt.H.A. 2004.Billiary Tract. In: Townsend C.M., Beauchamp
R.D., Evers B.M., Mattox K.M.,ed. Sabiston Textbook of Surgery. 17th edition.
Philadelphia: Elsevier Saunders. P. 1606-1608.
Dan L. Longo and Anthony S. Fauci. 2010. Gastroenterology and Hepatology.
Harrison’s 17th Edition. China: 439-455.
Concept of The Pathogenesis and treatment of cholelithiasis. World J Hepatol 2012;
4(2): 18-34 available from: URL: http://www.wjgnet.com/1948-
5182/full/v4/i2/18.htm DOI: http//dx.doi.org/10.4254/wjh.v4.i2.18.
Penatalaksanaan Batu Empedu. A. Nurman. http://www.univmed.org/wp-
content/uploads/2011/02/Vol.18_no.1_1.pdf
Herdman, T. Heather. 2015. NANDA International Inc. nursing diagnoses : definitions
& classification 2015-2017. Jakarta: EGC.
Herdman, T. Heather. 2018. NANDA International Inc. nursing diagnoses : definitions
& classification 2018-2020. Jakarta: EGC.
Moorhead, Sue, et al. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC)5th edition Edisi
Bahasa Indonesia Editor Intansari Nurjannah dan Rosana Devi Tumanggor.
United Kingdom : Elsevier.Bulechek, Gloria M, et al. 2013.
Nursing Interventions Classification (NIC) 6th edition Edisi Bahasa Indonesia Editor
Intansari Nurjannah dan Rosana Devi Tumanggor. United Kingdom Elsevier.

36

Anda mungkin juga menyukai