Anda di halaman 1dari 9

NAMA : CICI PETRISIA PANJAITAN

NIM : 04011281520128
KELAS : BETA

CARA KERJA STETOSKOP DAN TENSIMETER


1. STETOSKOP
1.1. Pengertian
Stetoskop merupakan alat untuk memeriksa maupun mendiagnosa penyakit. Alat ini
bisa menyalurkan suara tertentu serta bisa menghilangkan suara yang tidak dibutuhkan yang
selanjutnya diterjemahkan oleh dokter atau ahli kesehatan sebagai suatu keadaan yang
terjadi pada tubuh pasien. Stetoskop mempunyai banyak fungsi dalam bidang kesehatan
yaitu untuk memeriksa tekanan darah, memeriksa saluran pencernaan, memeriksa janin
dalam kandungan, memeriksa jantung serta mendengarkan suara paru-paru. Ketika
digunakan untuk mengukur tekanan darah, stetoskop membutuhkan alat berupa tensimeter
atau sphygmomanometer.
1.2. Penggunaan Stetoskop untuk mengukur tekanan darah
1.2.1. Pasang earpiece stetoskop ke telinga, pastikanlah earpiece menutupi
seluruh lubang telinga anda. Semakin berkembangnya jaman, saat ini semua
stetoskop sudah di desain ergonomis atau dapat mengikuti posisi pada
kedua telinga, apabila anda merasa kurang nyaman maka stetoskop dapat
dibalik atau ditukar sebelah kiri serta kanannya.
Saat ini stetoskop mempunyai dua muka yang bisa dipakai untuk 2
pemeriksaan yang berbeda serta jenis suara yang dihasilkan pun berbeda.
Stetoskop ini disebut dengan dua had, pada umumnya mempunyai tanda
yaitu kepala bagian depannya lebih lebar memakai membran serta pada
bagian kepala belakang ukurannya lebih kecil dan tanpa membran. Putarlah
bagian pipa besi yang ada pada chestpiece guna memilih atau menentukan
kepala belakang atau kepala depan yang hendak digunakan. Apabila
digunakan dalam pemeriksaan tekanan darah lebih baik menggunakan
kepala depan.
1.2.2. Letakkanlah stetoskop di bagian arteri brachialis supaya stetoskop tidak
terlepas, anda mesti menjepit stetoskop di bawah manset
spigmomanometer. Langkah selanjutnya yaitu pompalah manset stetoskop
hingga angka 130mmHg kemudian buka pembuang udara secara perlahan
sembari mendengarkan bunyi yang ada.
2. TENSIMETER
2.1. Pengertian
Tensimeter dikenalkan pertama kali oleh dr. Nikolai Korotkov, seorang ahli bedah
Rusia, lebih dari 100 tahun yang lalu. Tensimeter adalah alat pengukuran tekanan
darah yang sering juga disebut sphygmomanometer. Ada dua jenis tensimeter, yaitu
tensimeter air raksa dan tensimeter digital. Akan tetapi, penggunaan tensimeter air
raksa di luar negeri sudah dilarang penggunaannya karena bahaya dari air raksa,
dimana jika pecah air raksanya akan terpapas oleh kulit atau saluran pernapasan.
Walaupun demikian sampai saat ini sphygmomanometer air raksa masih menjadi
standar para dokter untuk mengukur tekanan darah. Berbeda dengan tensimeter air
raksa, tensimeter digital tidak memerlukan stetoskop sebagai alat bantu untuk
mendengarkan tekanan sistolik dan diastolik. Tensimeter digital menggunakan
sensor sebagai alat pendeteksinya.
2.2. Komponen Tensimeter Air Raksa
Tensimeter air raksa memiliki bagian-bagian komponen antara lain :
 Manset
 Bola tensi
 Selang/tubing
 Tabung skala
 Air raksa
2.3. Cara Pengukuran Tekanan Darah dengan Tensimeter Air Raksa
2.3.1. Pemeriksa memasang kantong karet terbungkus kain (cuff) pada lengan atas
2.3.2. Stetoskop ditempatkan pada lipatan siku bagian dalam
2.3.3. Kantong karet kemudian dikembangkan dengan cara memompakan udara
ke dalamnya. Kantong karet yang membesar akan menekan pembuluh darah
lengan (brachial artery) sehingga aliran darah terhenti sementara.
Tujuannya adalah untuk menjepit pembuluh darah arteri brachial hingga
tidak ada sedikitpun darah yang mengalir hingga ujung jari.
2.3.4. Udara kemudian dikeluarkan secara perlahan dengan memutar sumbat
udara untuk mengalirkan darah lagi ke jari tanpa hambatan.
2.3.5. Saat tekanan udara dalam kantong karet diturunkan, ada dua hal yang harus
diperhatikan pemeriksa. Pertama, jarum penunjuk tekanan, kedua bunyi
denyut pembuluh darah lengan yang dihantarkan lewat stetoskop. Saat
terdengar denyut untuk pertama kalinya, nilai yang ditunjukkan jarum
penunjuk tekanan adalah nilai tekanan sistolik. Nilai ini ditulis sebagai nilai
pertama tekanan darah, misal 120/80.
2.3.6. Seiring dengan terus turunnya tekanan udara, bunyi denyut yang terdengar
lewat stetoskop akan menghilang. Nilai yang ditunjukkan oleh jarum
penunjuk tekanan saat bunyi denyut menghilang disebut tekanan diastolik.
Nilai ini ditulis sebagai nilai terakhir tekanan darah, misal 120/80
2.4. Cara Pengukuran Tekanan Darah dengan Tensimeter Digital

2.4.1. Duduk dengan posisi tegak


2.4.2. Kenakan manset pas melingkar pada bagian lengan kiri atas, jika lengan
terlalu besar sehingga manset tidak cukup maka kenakan manset pada
pergelangan tangan
2.4.3. Atur letak manset hingga 1-2 cm di atas siku lengan, selangd manset sejajar
dengan jari tengah, rekatkan manset hingga pas di lengan
2.4.4. Atur posisi manset hingga sejajar dengan posisi jantung
2.4.5. Pada waktu pengukuran, usahakan lengan tidak bergerak, seperti menumpu
di atas meja
2.4.6. Tekan tombol ON/OFF

Tekanan sistolik adalah besarnya tekanan yang timbul pada pembuluh arteri saat
jantung memompa darah (berkontraksi). Sedangkan tekanan diastolik adalah
tekanan saat jantung dalam fase istirahat.
Agar sphygmomanometer air raksa masih dapat digunakan untuk mengukur tekanan
darah dengan baik, perlu dilakukan kalibrasi. Cara melakukan kalibrasi yang
sederhana adalah sebagai berikut:
 Sebelum dipakai, air raksa harus selalu tetap berada pada level angka nol (0
mmHg)
 Pompa manset sampai 200 mmHg, kemudian tutup katup buang rapat-rapat.
Setelah beberapa menit, pembacaan mestinya tidak turun lebih dari 2 mmHg (ke
198 mmHg). Disini kita melihat apakah ada bagian yang bocor.
 Laju penurunan kecepatan dari 200 mmHg ke 0 mmHg harus 1 detik, dengan
cara melepas selang dari tabung kontainer air raksa
 Jika kecepatan turunnya air raksa di sphygmomanometer lebih dari 1 detik,
berarti harus diperhatikan keandalan dari sphygmomanometer tersebut. Karena
jika kecepatan penurunan terlalu lambat, akan mudah untuk terjadi kesalahan
dalam menilai. Biasanya tekanan darah sistolik pasien akan terlalu tinggi
(tampilan) bukan hasil sebenarnya. Begitu juga dengan diastolik.

ANALISIS MASALAH TERKAIT LI:


1. Bagaimana mekanisme kerja stetoskop?
Jawab: Pasang earpiece stetoskop ke telinga, pastikanlah earpiece menutupi seluruh lubang
telinga anda. Letakkanlah stetoskop di bagian arteri brachialis supaya stetoskop
tidak terlepas, anda mesti menjepit stetoskop di bawah manset spigmomanometer.
Langkah selanjutnya yaitu pompalah manset stetoskop hingga angka 130 mmHg
kemudian buka pembuang udara secara perlahan sembari mendengarkan bunyi
yang ada.
2. Ada berapa macam tensimeter? Yang mana yang lebih baik digunakan?
Jawab: Ada 2 macam, yaitu tensimeter air raksa dan digital. Yang lebih baik adalah digital
dikarenakan tidak memerlukan air raksa. Air raksa dapat terpapas kulit dan saluran
pernapasan jika menguap.
3. Bagaimana tekanan darah normal orang berusia 30-40 tahun?
Jawab: 120/50 mmHg
4. Apa penyebab hipertensi?
Jawab: Sebagian besar ( 90 % ) kasus hipertensi tidak diketahui penyebabnya (kelompok
hipertensi primer) dan diduga ada faktor genetik. Sedangkan kelompok hipertensi
sekunder terjadi akibat komplikasi penyakit ginjal dan tumor kelenjar anak ginjal
(adrenal). Faktor risiko lain yang berpengaruh terhadap terjadinya hipertesi ialah
usia, konsumsi garam yang berlebihan, diabetes dan pecandu alcohol.
5. Apa gejala hipertensi?
Jawab: Sering merasa pusing atau sakit kepala, rasa pegal dan tidak nyaman di tengkuk,
tiba-tiba benda yang ada di sekelilingnya terasa bergerak sehingga ada rasa ingin
jatuh (vertigo), dada berdebar-debar karena detak jantung yang cepat sekali, telinga
terasa berdengung.
6. Apa saja penyakit yang terkait tekanan darah?
Jawab: Diabetes, hypertiroid, hypotiroid, kolesterol tinggi, obesitas yang mengacu kepada
hiperinsulinemia
7. Bagaimana cara pengobatan hipertensi?
Jawab: Lebih tepatnya adalah pencegahan, yaitu dengan diet rendah lemak, diet rendah
garam, hindari memakan daging kambing, buah durian, minuman beralkohol,
olahraga teratur, berhenti merokok, berhenti minum kopi (bagi pecandu), serta
menghindari gaya hidup stres.

TEKANAN OSMOTIK AIR LAUT DAN CAIRAN TUBUH


1. AIR LAUT
Air laut memiliki kadar garam sekitar 3,5% garam-garam, gas terlarut, bahan organik,
dan partikel-partikel tak terlarut, artinya dalam 1 liter air laut terdapat 35 gram garam
(terutama, namun tidak seluruhnya, garam dapur /NaCl). Air laut memiliki kadar garam
karena bumi dipenuhi dengan garam mineral yang terdapat di dalam batu-batuan dan tanah.
Contohnya natrium, kalium, kalsium, dll. Keberadaan garam-garaman ini memengaruhi sifat
fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas
menjadi maksimum) beberapa tingkat, tapi tidak menentukannya. Dua sifat yang sangat
ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan
tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium
(31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%), dan sisanya (<1%) terdiri
dari bikarbonat, asam borak, strontium, dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di
laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanikdari sirkulasi lubang-lubang
hidrotermal di laut dalam.
Air laut memiliki khasiat yang baik bagi tubuh dan kecantikan kulit. Ion dan mineral
yang terkandung di dalamnya berupa mineral seperti magnesium, potasium, kalsium sulfat,
dan sodium memiliki manfaat, di antaranya:
 Melancarkan sirkulasi darah
 Memperkuat otot jantung
 Melancarkan sistem pernapasan
 Meningkatkan produksi sel darah merah
 Menyehatkan dan menutrisi kulit tubuh sehingga lebih bercahaya
Salah satu alternatif penyediaan air minum di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil
berpenduduk, serta para nelayan yang masih belum terjangkau oleh pelayanan air minum
dari PAM adalah mengolah air asin menjadi air minum dengan proses osmosis balik (reserve
osmosis). Prosesnya terdiri dari dua tahap yakni pengolahan awal yang terdiri dari
penghilangan zat besi dan mangan dengan penambahan KmnO4, penyaringan dengan filter
pasir, filter managn zeolit dan filter karbon aktif, dan dilanjutkan dengan proses desalinasi
dengan membran osmosis balik (RO). Air hasil olahan adalah air yang dapat langsung
diminum. Proses Osmosis adalah proses pemisahan dua jenis larutan dengan konsentrasi
encer dan pekat melalui membran semi-permeable, hasilnya larutan encer dan pekat
melalui larutan encer akan terdifusi melalui membran semi-permeable ke dalam larutan
pekat sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi. Jadi jika air tawar dan air asin dipisahkan
dengan membran semi-permeable, maka air tawar akan terdifusi ke dalam air asin sampai
kesetimbangan.
Daya penggerak (driving force) yang menyebabkan terjadinya aliran difusi air tawar
ke dalam air asin melalui membran semi-permeable tersebut dinamakan tekanan osmosis.
Besarnya tekanan osmosis tersebut tergantung dari karakteristik membran, temperatur air,
dan konsentrasi garam yang terlarut dalam air. Tekanan osmotik normal air-laut yang
mengandung TDS 35.000 ppm dan suhu 25o C adalah kira-kira 56,7 kg/cm2 dan untuk air laut
di daerah timur tengah atau laut merah yang mengandung TDS 42,000 ppm, dan suhu 30o C,
tekanan osmotik adalah 32,7 kg/m2. Apabila pada suatu sistem osmotis tersebut, diberikan
tekanan yang lebih besar dari tekanan osmosisnya, maka aliran air tawar akan berbalik,
yakni dari air asin ke air tawar melalui membran semi-permeable, sedangkan garamnya
tetap tinggal di dalma larutan garamnya sehingga menjadi lebih pekat. Proses tersebut
dinamakan osmosis balik (reserve osmosis/RO).
Dalam proses desalinasi air asin dengan sistem osmosis balik (RO), tidak
memungkinkan untuk memisahkan seluruh garam daria ir lautnya, karena akan
membutuhkan tekanan yang sangat tinggi. Oleh akrena itu pada prakteknya, untuk
menghasilkan air tawar maka air asin dipompa denagn tekanan tinggi ke dalam suatu modul
membrane RO yang mempunyai dua buah outlet yakni outlet untuk air tawar dan outlet
untuk air garam yang telah dipekatkan (reject water). Oleh akrena itu air yang akan masuk
ke dalam membran RO harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus
nol, kadar besi harus < 0,1 mg/l, PH harus dikontrol agar tidak terjado pergerakan Scale di
dalam membran osmosa balik. Air baku asin yang masih mengandung partikel padatan
tersuspensi, mineral, plankton dan lainnya, perlu dilakukan pengolahan awal sebelum
diproses di dalam unit Osmosis Balik. Unit pengolahan pendahuluan tersebut terdiri dari
beberapa peralatan utama yakni pompa air baku, tangki reaktor (kontaktor), saringan pasir,
filter mangan, zeolit, dan filter untuk penghilangan warna (color removal), dan filter
cartridge ukuran 1-5 µm. Sedangkan unit RO terdiri dari pompa tekanan tinggi dan membran
RO, serta pompa dosing KMnO4 dan sterilisator ultra violet. Air asin dipompa ke tangki
reaktor (kontaktor), sambil diinjeksi dengan larutan kalium permanganat agar zat besi atau
mangan yang larut dalam air baku dapat dioksidasi menjadi bentuk senyawa oksida besi atau
mangan yang tak larut dalam air. Selain itu, pembubuhan kalium permanganat dapat
berfungsi untuk membunuh mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyumbatan di
dalam membran osmosa balik (RO).
Dari tangki reaktor, air dialirkan ke saringan pasir cepat agar senyawa besi atau
mangan yang telah teroksidasi dan juga padatan tersuspensi (SS) yang berupa partikel halus,
plankton dan lainnya dapat tersaring. Air yang keluar dari saringan pasir selanjutnya
dialirkan ke filter mangan zeolit untuk menghilangkan zat besi atau managn yang belum
teroksidasi di dalam tangki reaktor sampai konsentrasi < 0,1 mg/l. Dari filter mangan zeolit,
air dialirkan ke filter karbon aktif untuk menghilangkan senyawa warna dalam air baku yang
dapat mempercepat penyumbatan membran osmosa balik. Setelah melalui filter karbon
aktif, air dialirkan ke filter cartridge yang dapat menyaring partikel dengan ukuran 1-5 µm.
Setelah melalui filter cartridge, air dialirkan ke unit Osmosa Baik dengan menggunakan
pompa tekanan tinggi sambil diinjeksi dengan zat anti biofouling. Akhirnya, Air yang keluar
dari modul membran Osmosa Balik yakni air tawar dan air buangan garam yang telah
dipekatkan. Air hasil olahan atau produk RO merupakan air yang dapat langsung diminum
atau air siap minum, dan ditampung di dalam tangki air siap minum. Sedangkan air
garamnya (brine water) dibuang.
Gambar 1 : Diagram Proses Pengolahan Air Payau Menjadi Air Siap Minum Dengan Proses Reverse
Osmosis. Pompa Air Baku,
Pompa Dosing dan Tangki Larutan Kalium Permanganat, Static Mixer dan Tangki Reaktor.

2. CAIRAN TUBUH
2.1. Pengertian
Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap
sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu
bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi
dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air (
pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan
partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan
elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intraseluler.
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan
ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh,
sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga
kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler.
Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah
cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus
seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.
1.2. Kandungan dalam cairan tubuh
Presentase dari total cairan tubuh bervariasi tergantung pada beberapa hal, yaitu:
 Umur
 Kondisi lemak tubuh
 Sex
1.3. Elektrolit Utama Tubuh Manusia
Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non
elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik,
seperti : protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan
elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++),
Klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-). Konsenterasi elektrolit
dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun
konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa
jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif.
Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intarseluler maupun pada plasma terinci
di bawah ini :
 Kation :
NO ELEKTROLIT EKSTRASELULER INTRASELULER PLASMA INTERSTITIAL
1. Natrium 144 mEq 137 mEq 10 mEq
2. Kalium 5 mEq 4.7 mEq 141 mEq
3. Kalsium 2.5 mEq 2.4 mEq 0
4. Magnesium 1,5 mEq 1.4 mEq 31 mEq
 Anion :
NO ELEKTROLIT EKSTRASELULER INTRASELULER PLASMA INTERSTITIAL
1. Klorida 107 mEq 112.7 mEq 4 mEq
2. Bikarbonat 27 mEq 28.3 mEq 10 mEq
3. Fosfat 2.0 mEq 2.0 mEq 11 mEq
4. Sulfat 0.5 mEq 0.5 mEq 1 mEq
5. Protein 1.2 mEq 0.2 mEq 4 mEq
1.4. Pengaturan Volume Cairan Tubuh
Di dalam tubuh seorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia dari
cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang nyaman. Dalam kondisi normal
intake cairan sesuai dengan kehilangan cairan tubuh yang terjadi. Kondisi sakit dapat
menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Dalam rangka
mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh akan kehilangan cairan antara lain melalui
proses penguapan ekspirasi, penguapan kulit, ginjal (urine), ekresi pada proses metabolisme.
a. Intake Cairan
Selama aktifitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-lira 1500
ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga
kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses
metabolisme.Berikut adalah kebutuhan intake cairan yang diperlukan berdasarkan umur dan
berat badan, perhatikan tabel di bawah ini :
No. Umur Berat Badan (kg) Kebutuhan Cairan (mL/24 Jam).
1. 3 hari 3,0 250-300
2. 1 tahun 9,5 1150-1300
3. 2 tahun 11,8 1350-1500
4. 6 tahun 20,0 1800-2000
5. 10 tahun 28,7 2000-2500
6. 14 tahun 45,0 2200-2700
7. 18 tahun(adult) 54,0 2200-2700
Pengatur utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus dikendalikan
berada di otak sedangkan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, sekresi
angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah, perdarahan yang
mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi
bersama dengan sensasi haus walupun kadang terjadi secara sendiri. Sensasi haus akan
segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh tractus gastrointestinal.
b. Output Cairan
Kehilangan caiaran tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :
 Urine
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius
merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal
output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam.
Pada orang dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine
bervariasi dalam setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka
produksi urine akanmenurun sebagai upaya tetap mempertahankan
keseimbangan dalam tubuh.
 IWL (Insesible Water Loss)
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan mekanisme
difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini
adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu tubuh
meningkat maka IWL dapat meningkat.
 Keringat
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon
ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui
sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada
kulit.
 Feces
Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per hari, yang diatur
melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).
1.5. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh
Tiga kategori umum yang menjelaskan abnormalitas cairan tubuh adalah volume,
osmolalitas, dan komposisi. Ketidakseimbangan volume terutama mempengaruhi
cairan ekstraseluler (ECF) dan menyangkut kehilangan atau bertambahnya natrium
dan air dalam jumlah yang relatif sama, sehingga berakibat pada kekurangan atau
kelebihan volume ekstraseluler (ECF). Ketidakseimbangan osmotik terutama
mempengaruhi cairan intraseluler (ICF) dan menyangkut bertambahnya atau
kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif tidak seimbang. Gangguan
osmotik umumnya berkaitan dengan hiponatremia dan hipernatremia sehingga nilai
natrium serum penting untuk mengenali keadaan ini. Kadar dari kebanyakan ion di
dalam ruang ekstraseluler dapat berubah tanpa disertai perubahan yang jelas dari
jumlah total dari partikel-partikel yang aktif secara osmotik sehingga mengakibatkan
perubahan komposisional.
 Ketidakseimbangan Volume
Kekurangan volume ECF atau hipovolemia didefinisikan sebagai kehilangan
cairan tubuh isotonik, yang disertai kehilangan natrium dan air dalam jumlah
yang relatif sama. Kekurangan volume isotonik sering kali diistilahkan
dehidrasi yang seharusnya dipakai untuk kondisi kehilangan air murni yang
relatif mengakibatkan hipernatremia.
Kelebihan cairan ekstraseluler dapat terjadi bila natrium dan air kedua-
duanya tertahan dengan proporsi yang kira- kira sama. Dengan
terkumpulnya cairan isotonik yang berlebihan pada ECF (hipervolumia) maka
cairan akan berpindah ke kompartement cairan interstitial sehingga
menyebabkan edema. Edema adalah penunpukan cairan interstisial yang
berlebihan.
 Ketidakseimbangan Osmolalitas dan perubahan komposisional
Ketidakseimbangan osmolalitas melibatkan kadar zat terlarut dalam cairan-
cairan tubuh. Karena natrium merupakan zat terlarut utama yang aktif
secara osmotik dalam ECF maka kebanyakan kasus hipoosmolalitas
(overhidrasi) adalah hiponatremia yaitu rendahnya kadar natrium di dalam
plasma dan hipernatremia yaitu tingginya kadar natrium di dalam plasma.
Pahami juga perubahan komposisional di bawah ini :

 Hipokalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum kurang


dari 3,5 mEq/L.
 Hiperkalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum lebih dari
atau sama dengan 5,5 mEq/L.
 Hiperkalemia akut adalah keadaan gawat medik yang perlu segera
dikenali, dan ditangani untuk menghindari disritmia dan gagal
jantung yang fatal.

ANALISIS MASALAH TERKAIT LI


1. Berapa pH normal cairan tubuh?
Jawab: 7
2. Apa saja kandungan yang terdapat dalam air laut?
Jawab: Sebagian besar terdiri dari garam mineral seperti klorida (55%), natrium (31%), sulfat
(8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%), dan sisanya (<1%) terdiri dari
bikarbonat, asam borak, strontium, dan florida.
3. Kondisi tubuh apa saja yang dapat dipengaruhi jika kita meminum air laut?
Jawab: Tekanan Darah, cairan dalam tubuh, keseimbangan garam dan asam-basa dalam
tubuh
4. Apa saja kandungan mineral pada cairan tubuh?
Jawab:
Kation : Anion :
 Natrium (Na+)  Klorida (Cl-)
 Kalium (K+)  Bikarbonat (HCO3-)
 Kalsium (Ca++)  Fosfat (HPO42-)
 Magnesium  Sulfat (SO42-)
 Protein

DAFTAR PUSTAKA
 (2014, http://zakia.griyasantun.com/2014/04/belajar-mengukur-tekanan-darah-dengan-
tensimeter/, diperoleh 14 Oktober 2015)
 (http://darahtinggihipertensi.com/, diperoleh 14 Oktober 2015)
 (2013, http://dokita.co/blog/hipertensi-tekanan-darah-tinggi/, diperoleh 14 Oktober 2015)
 (http://www.menshealth.co.id/kesehatan/waras/tekanan.darah.pada.manusia/004/003/73,
diperoleh 14 Oktober 2015)
 (2010, http://www.kelair.bppt.go.id/Berita/Data/08062010.htm, diperoleh 14 Oktober
2015)
 (2015, https://www.boundless.com/biology/textbooks/boundless-biology-textbook/structure-
and-function-of-plasma-membranes-5/passive-transport-65/tonicity-334-11471/, diperoleh 14
Oktober 2015
 (2013, http://news.ralali.com/seperti-ini-cara-menggunakan-stetoskop-yang-benar/,
diperoleh 14 Oktober 2015)