Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN

“MASALAH PENDIDIKAN INDONESIA”

Disusun Oleh :

1. Julian Eka Pradana (16504241005)


2. Dinasti Sabda Dewaji (16504241007)
3. Alfian Nur Wahyudi (16504241012)
4. Hendrikus Praditya Bagus Perkasa (16504241018)
5. Nabila Naila Fatin (16504241025)

PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2016

i
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Ilmu Pendidikan dengan judul “Masalah Pendidikan Indonesia”.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas kelompok semester gasal 2016/2017.
Makalah ini diangkat sebagai upaya untuk mengetahui perihal masalah-
masalah yang ada dalam pendidikan. Kami menyadari banyak kesulitan yang
tidak mampu kami pecahkan secara mandiri. Untuk itu, kami mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah memberi bimbingan, arahan, bantuan, dan
motivasi. Semoga Allah Swt. melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada
semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari akan segala keterbatasan isi maupun tulisan makalah ini.
Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf. Kami juga
mengharapkan kritik dan saran yang membangun supaya makalah ini semakin
baik. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang
membacanya.

Yogyakarta, 18 Oktober 2016

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................. i


Kata Pengantar ................................................................................................ ii
Daftar Isi ........................................................................................................ iii
Bab I Pendahuluan ............................................................................................1
Bab II Isi ..........................................................................................................3
Bab III Penutup ..............................................................................................23
Daftar Pustaka ............................................................................................... iv

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Pendidikan berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan
kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi
latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran,
tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Pendidikan pada dasarnya pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan
manusia untuk menghadapi masa depan meningkatkan kesejahteraan baik
pribadi maupun secara kolektif sebagai warga negara. Hal ini berarti
pendidikan memiliki tugas untuk menyiapkan sumber daya manusia yang
baik yang berguna dalam pembangunan negara. Sehingga upaya
pembangunan sendiri dilakukan seirama dengan tutuntunan zaman. Tetapi,
semakin berkembangnya zaman masalah maupun rintangan dalam pendidikan
selalu bermunculan yang sulit untuk ditebak. Masalah-masalah tersebut
kemudian berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang akan
menghambat pembangunan negara.
Tugas pendidik adalah perantara atau penghubung aktif yang
menjabatani antara anak didik dengan tujuan pendidikan yang telah
dirumuskan. Tanpa pendidik, tujuan pendidikan manapun yang telah
dirumuskan tidak akan dapat dicapai oleh anak didik. Agar pendidik dapat
berfungsi sebegai perantara yang baik maka pendidik harus dapat melakuakn
tugas dengan baik pula, maka pendidik haruslah professional kreatif untuk

1
2

membentuk sumber daya manusia yang baik yang dapat berguna di masa
depan.
Dari hal tersbut terdapat banyak masalah masalah dalam pendidikan,
didalam makalah ini dibahasa masalah-masalah yang terjadi dalam
pendidikan yang menghambat jalannya pendidikan.

2. RUMUSAN MASALAH
1.) Bagaimana maksud dari pendidik dan anak didik?
2.) Bagaimana saja masalah dalam pendidikan?
3.) Bagaimana masalah pemerataan dalam pendidikan?
4.) Bagaimana penerapan sekolah sebagai lembaga sosial?

3. TUJUAN PENULISAN
1.) Makalah ini bertujuan untuk mengetahui maksud dari pendidik dan anak
didik.
2.) Makalah ini bertujuan untuk mengetahui masalah-masalah dalam
pendidikan.
3.) Makalah ini bertujuan untuk mengetahui masalah pemerataan dalam
pendidikan.
4.) Makalah ini bertujuan untuk mengetahui penerapan sekolah sebagai
lembaga sosial.
BAB II
ISI

1. PENDIDIK DAN ANAK DIDIK


1.1. Pengertian Pendidik
Pendidik adalah setiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi
orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi. (Sutari
Iman Barnadib, 1994). Pendidik adalah orang yang dengan sengaja
membantu orang lain untuk mencapai kedewasaan (Langeveld).
Setiap orang dewasa yang bertanggungjawab dengan sengaja
mempengaruhi orang lain (anak didik), memberi pertolongan kepada
anak yang masih dalam perkembangan dan pertumbuhan untuk mencapai
kedewasaan dapat dikatakan pendidik.
Orang dewasa yang bertanggung jawab atas pendidikan itu adalah :
a. Orang Tua
Orang tua menjadi pendidik utama dan pertama bagi anak-
anaknya. Orang tua sering pula disebut sebagai pendidik kodrat
atau pendidik asli dan berperan dalam lingkungan pendidikan in
formal atau keluarga.
b. Pengajar atau Guru di sekolah
Pengajar atau Guru adalah pendidik di lembaga pendidikan
formal, atau di sekolah.
c. Pemimpin atau Pemuka masyarakat
Adalah pendidik dalam lembaga pendidikan non formal, dalam
bermacam-macam perkumpulan di masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat, pendidik yang biasa ditemui adalah
guru. Pengertian guru menurut PP No. 74 Tahun 2008 tentang guru, guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik dalam
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.

3
4

1.2. Tugas Pendidik


Agar pendidik dapat berfungsi sebagai perantara yang baik makan
pendidik harus dapat melakukan tugas dengan baik pula. Tugas pendidik
itu dapat di kelompokan dalam :
a. Tugas Educational ( Pendidikan )
Dalam hal in pendidik mempunyai tugas memberi bimbingan yang
lebih banyak diarahkan pada pembentukan “kepribadian” anak didik,
sehingga anak didik akan menjadi manusia yang mempunyai sopan
santun tinggi, mengenal kesusilaan, dapat menghargai orang lain,
mempunyai tanggung jawab rasa terhadap sesama, rasa sosialnya
berkembang, dan lain-lain.
b. Tugas Instructional ( Pengajaran )
Dalam tugas ini kewajiban pendidik dititik beratkan pada
perkembangan kecerdasan dan daya intelaktual anak didik, dangan
tekanan perkembangan pada kemampuan kognitif, kemampuan
efektif dan kemampuan psikomotorik, sehingga anak dapat menjadi
manusia yang cerdas dan terampil.
c. Tugas Managerial ( Pelaksanaan )
Dalam hal ini pendidik berkewajiban mengelola kehidupan
lembaganya, dan pengelolaan itu meliputi :
a) Personal atau anak didik
b) Material atau sarana
c) Operasional
1.3. Syarat Pendidik
a. Umur
Menurut Negara seseorang dianggap dewasa sesudah berumur 18
tahun atau sudah menikah. Menurut ilmu pendidikan seseorang
dikatakan dewasa untuk laki-laki bila sudah berusia 21tahun, dan 18
tahun untuk perempuan.Bagi pendidikan pembantu atau guru di
sekolah umur dipersyaratkan minimal 18 tahun.
5

b. Kesehatan
Bagi pendidik pembantu di sekolah, harus sehat jasmani dan rohani
yang dinyatakan dengan surat keterangan dokter, dan harus melewati
pemeriksaan. Bahkan untuk guru dituntut pula dipersyaratkan tidak
mempunyai cacad jasmani yang dapat mengganggu tugas-tugasnya.
c. Keahlian atau Skill
Pendidik pembantu ( guru ) disekolah, diharuskan memiliki ijazah.
Ijazah inilah yang menjamin bahwa mereka yang memilikinya benar-
benar mempunyai pengetahuan, pengertian, kecakapan dan
kepandaian yang sesuai dengan tugasnya. Bagi pendidik pembantu di
masyarakat, tidak ada ketentuan keahlian yang disyaratkan atau
dituntut oleh masyarakat, tetapi dengan sendirinya mereka telah
mempunyai keahlian yang nyata, yang dapat dipertanggungjawabkan,
sehingga berdasarkan keahliannya itu seseorang dipercaya dan dipilih
oleh masyarakat untuk memimpin.
d. Kesusilaan dan Dedikasi
Bagi pendidik professional, dituntut memiliki surat keterangan yang
berisikan berkelakuan baik yang diberikan oleh pihak yang
berwenang, yang berisikan :
a) Tidak pernah tersangkut urusan criminal ( polisi )
b) Tidak menjadi anggota partai atau organisasi terlarang.
c) Surat ini dikeluarkan Pamong Praja atau kepolisian.
e. Sikap dan Sifat Pendidik
Sesuai dangan TAP MPR RI tentang GBHN, dalam bidang
pendidikan menetapkan diantaranya bahwa pendidikan diarahkan
untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang Pancasila.
Sehingga bagi setiap orang dewasa yang telah terdidik harus mampu
dengan penuh tanggung jawab menjalankan tugas-tugas tiap sila dari
Pancasila. Sesuai dengan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila, dan demi suksesnya pendidikan, maka pendidik wajib
memiliki sifat-sifat budi pekerti manusi bermoral Pancasila.
6

Sikap hidup dan sifat-sifat budi pekerti yang dimaksudkan adalah


sebagai berikut :
a) Sikap Ketuhanan
b) Sikap Perikemanusiaan yang adil dan beradab
c) Sikap Persatuan Indonesia
Dalam menghadapi anak didik sehari-hari pendidik memerlukan sifat
khusus yang sangat penting dan wajib dimiliki setiap pendidik. Sifat
tersebut terbagi menjadi sifat positif dan sifat negatif yang harus
dihindari.
1) Sifat positif
a) Rasa tanggung jawab dan dedikasi
b) Kecintaan, kebijaksanaan, dan kesabaran
2) Sifat negatif
a) Suka menyendiri
b) Ingin dihormati dan dipuji orang lain
c) Penggugup, bimbang, takut, dan ragu
d) Mudah kecewa
e) Mudah marah dan mudah berperasangka buruk
1.4. Pengertian Anak Didik
Peseta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan. Kemudian yang
dimaksud dengan anak didik atau peserta didik adalah anak yang belum
dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk
menjadi dewasa guna dapat melakasnakan tugasnya sebagai makhluk
Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga negara, sebagai anggota
masyarakat, dan sebagai pribadi atau individu. Ia adalah sosok yang
selalu mengalami perkembangan sejak lahir sampai meninggal dengan
perubahan-perubahan yang terjadi secara wajar (Sutari Imam Barnadib,
1995).
1.5. Pembawaan Anak Didik
7

Anak pada waktu lahir mendapat kemampuan berupa perbuatan


siap, yang pelaksanaannya berdasarkan instink. Disamping bekal berupa
instink itu anak mempunyai bekal berupa potensi yang mempunyai
kemungkinan untuk berkembang pada waktunya dan apabila ada
kesempatan atau rangsangnya benih. Bibit atau potensi ini sering disebut
dengan pembawaan.
Pembawaan-pembawaan itu tidak sama besarnya dalam
kemampuan berkembang. Ada yang mempunyai kemampuan besar untuk
berkembang dan ada yang kemampuan untuk berkembangnya sedikit.
1.6. Perkembangan Anak Didik
Pendidikan ditujukan untuk membantu anak dalam menghadapi
dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan yang dialami anak dalam
setiap periode.
Ciri-ciri perkembangan anak sebagai berikut:
1) Perkembangan anak akan berlangsung dengan sendirinya atas
kekuatan dari dalam.
2) Jalan perkembangan itu sendiri tidak dapat dicampuri dengan
mengubahnya.
3) Tingkat perkembangan yang dicapai adalah suatu perpaduan
kekuatan dari dalam yang mendorong untuk berkembang dan
situasi lingkungan yang mempengaruhi jalan perkembangan.

2. MASALAH-MASALAH DALAM PENDIDIKAN


Masalah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sesuatu
yang harus diselesaikan; soal; persoalan. Dan problem berarti masalah;
persoalan. Pendidikan sebagai suatu aktivitas yang merupakan proses itu
banyak dijumpai problema yang memerlukan pemikiran pemecahannya.
Pendidikan yang merupakan alat memanusiakan manusia, perlu
memperhatikan sifat dan hakikat manusia itu sendiri, bahwa manusia adalah:
1) Homo Religious (mahluk beragama)
8

2) Homo Sapiens (mahluk berpikir/berakal)


3) Homo Faber (mahluk berikhtiar/berusaha)
4) Homo Economicus (mahluk berkesadaran ekonomi)
5) Homo Scre res homini (mahluk suci bagi manusia lain)
6) Homo Socius (mahluk berkawan bagi manusia lain)
7) Zon Politican (mahluk berkesadaran politik)
Problema yang menyangkut proses pendidikan menyangkut 5W dan
1H, yaitu :
1. Problema WHO
Dalam pendidikan, problema Who adalah masalah pendidikan (subyek}
yang melaksanakan aktivitas pendidikan dan masalah anak didik (Obyek)
yang dikenal sebagai sasaran aktivitas pendidikan.
a. Problem Pendidikan
Masalah yang berkaitan dengan pendidikan, baik pendidik dalam
keluarga, disekolah maupun dimasyarakat cukup banyak sekali.
Problem-problem itu akan menjadi penghambat apabila tidak
mendapat pemecahan antara lain:
1) Problem kemamapuan ekonomi
2) Proble kemampuan pengetahuan dan pengalaman
3) Problem kemampuan skill
4) Problem kewibawaan
5) Problem kepribadian
6) Problem ittiud (sikap)
7) Problem sifat
8) Problem kebijaksanaan
9) Problem kerajinan
10) Problem tanggung jawab
11) Problem kesehatan, dan sebagaimya.
b. Problem Anak didik
9

Anak didik adalah pihak yang digarap untuk dijadikan manusia yang
diharapkan, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Adapun
problem- problem yang ada pada anak didik antara lain:
1) Problem kemampuan ekonomi keluarga
2) Problem intelegensi
3) Problem bakat dan minat
4) Problem pertumbuhan dan perkembangan
5) Problem kepribadian
6) Problem sikap
7) Problem sifat
8) Problem kerajinan dan ketekunan
9) Problem pergaulan
10) Problem kesehatan.
2. Problematika WHY
Poblematika WHY (mengapa) menyangkut pelaksanaan pendidikan.
Kesulitan- kesulitan tersebut bias tedapat pada semua faktor pendidikan
yang menghambat jalannya proses pendidikan. Seperti mengapa :
a. Mengapa anak-anak sulit bekerja sama sesame mereka.
b. Mengapa masyarakat tidk menghargai jasa guru yang mendidik
putera-putera mereka.
c. Mengapa masyarakat sulit diminta sumbangan tenaga pikiran dan
dana dalam pembangunan prasarana, pendidikan untuk kepentingan
anak-anak mereka.
d. Mengapa orang tua anak-anak menghalangi kegiatan ekstrakurikuler
putera-puternya.
e. Mengapa pejabat setempat mengizinkan mendirikan pabrik di sebelah
sekolah yang mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f. Mengapa droping buku-buku paket tidak sampai/selalu terlambat
dating disekolah.
g. Mengapa terjadi kasus amoral dikalangan guru/murid/orang tua anak.
10

Dan banyak lagi hal-hal yang menjadikan hambatan pelaksannaan proses


pendidikan , yang memerlukan jalan keluar.
3. Problematika WHERE
Ada 3 (tiga) tempat pendidikan, yaitu di keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Problema pendidikan keluarga sebagai tempat pendidikan
anak-anak antara lain adalah situasi keluarga itu sendiri dan letak keluarga
yang berada ditengah-tengah lingkungan yang kurang menguntungkan.
Demikian pula sekolah sebaga tempat pendidikan murid-murid, bila letak
skolah itu di tengah-tengah lingkungan yang tidak menguntungkan, juga
akan menjadi problema. Apabila tempat pendidikan itu dimasyarakat, yang
menjadi problem tempat di masyarakat adalah jika kebudayaan dan
peradaban masyarakat itu bertentangan dengan norma-norma agama atau
norma-norma Pancasila.
4. Problematika WHEN
Problem When (bilamana/kapan) banyak menyangkut tentang timing
penyampaian sesuatu kepada anak didik, sehingga akan timbul beberapa
pertanyaan yaitu:
a. Kapan sesuatu materi itu disampaikan
b. Kapan sesuatu hukuman itu dijatuhkan
c. Kapan sesuatu ganjaran itu diberikan
d. Kapan sesuatu kewajiban itu bebankan
e. Kapan sesuatu perintah itu dilaksnakan
Masalah When (kapan) tidak hanya berkenaan dengan sesuatu yang
diberikan, tetapi juga berkenaan dengan usia anak, seperti:
a. Pada usia berapa anak akan mulai pendidikan
b. Pada usia berapa pendidikan berakhir.
Anak dari segi pertumbuhan dan perkembangan mengalami perubahan
dengan standar periodesasi usia, baik usia Kronologis, Psikologis,
Biologis, Kejasmaniaan, Pengalaman, dan sebagainya. Yang menjadi
problem lagi adalah berkenaan dengan anak yang kurang normal
11

pikirannya, sedang dirundung malang, sangat perasa, sangat acuh dan


sebagainya.
5. Problematika WHAT
Problematika What (apa) menyangkut dasar, tujuan, bahan/materi,
sarana, prasarana dan media. Masalah dasar, dan tujuan, apabila berkenaan
atas Pancasila bagi bangsa Indonesia tidaklah menjadi problem tetapi bila
berkeaan dengan agama atau aliran, maka pendidikan perlu berhati hati.
Masalah agama/aliran adalah masalah rawan dan oleh karenanya pimpinan
sekolah atau guru agama tida boleh main paksa pada anak untuk harus
mengikuti pelajaran agama yang bukan fahamnya si anak. Masalah bahan /
materi erat hubungannya dengan kurikulum, silabi dan SAP. Apakah
kurikulum silabi dan SAP tidak sesuai dengan situasi saat itu dan kondisi
anak?
Perubahan sistem pendidikan secara otomatis juga mempengaruhi
perubahan kurikulum, silabi dan SAP. Apabila kurikulum selalu berubah,
maka pendidikan dan anak didik di sekolah akan terombang ambing.
Masalah sarana adalah bila tidak ada/tidak lengkap sarana pendidikan
yang hal ini akan mengganggu jalannya pendidikan, seperti kursi kurang,
meja kurang, buku kurang dan sebagainya. Masalah saranan pendidikan di
beberapa daerah ada yang tidak memenuhi syarat sebagai tempat belajar-
mengajar. Seperti di suatu daerah ada yang tidak punya/kekurangan
gedung sekola atau ada tapi membahayakan.
6. Problematia HOW
Masalah How (bagaimana) berkenaaan dengan cara/metode yang
digunakan dalam proses pendidikan. Anak didik mempunyai sifat dan
bakat yang berbeda-beda pendidik harus mengikuti adanya perbedaan
tersebut.

3. MASALAH PEMERATAAN DALAM PENDIDIKAN


Amatlah besar pengaruh pendidikan demi keberlangsungan hidup suatu
bangsa, maka maka pelaksanaannya perlu diratakan dalam arti penyebaran
12

pelayanan pendidikan dan atau peningkatan setara kuantitatip maupun


kualitatif.
Sejak proklamasi kemerdekaan 1945 perkembangan pendidikan di
Indonesia sangat pesat. Jumlah sekolah-sekolah makin banyak. Ini berarti
jumlah guru dan murid pun semakin bertambah bayak. Jadi secara kuantitatif
perkembangan pendidikan cukup memadahi namun dilihat dari:
1. Segi pemerataan, kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak-anak
Indonesai memanng cukup meluas. Tetapi pengadaan sekolah masih
terbatas di kota-kota saja. Sehingga anak anak yang jauh dari kota masih
belum dapat menikmati pendidikan.
Baru pada dekade akhir ini kita sudah melihat usaha pemerintah dalam
pemerataan pendidikan ini, baik lewat departemen maupun instruksi
presiden (SD inpres, SDLB, dan lain-lain), sehingga tidak hanya di kota-
kota sekolah dibangu, tetapi smapai di pelosok-pelosok pun sudah banyak
didirikan sekolah. Sehingga anak kota maupun desa dapat memperoleh
pendidikan.
2. Segi mutu, pada awal perkembangannya memang menitik beratkan kepada
segi kuantitatif dan usaha pemerataan. Selanjutnya baru segi kualitatif atau
mutu diperhatikan. Misalnya dengan jalan penyempurnaan perundang-
undangan pendidikan, penyempurnaan kuruikulum, pengngadaan buku,
penataran guru-guru, penyempurnaan sistem KBM, dan sebagainya. Usaha
peningkatan mutu tersebut sampaai sekarang terus dilaksanankan dengan
berbagai cara, contoh terakhir daalam rangkaian menunjang CBSA bagi
siswa, pihak guru diberikan pendalama materi dengan KBMG.
Amanat yang menghendaki terciptanya pemerataan pendidikan antara
lain:
a) Asas demokrasi dalam pendidikan:
Sebagaimana diketengahkan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 ahwa tiap-
tiap warga negara berhak mendapat pengajaran, maka pemerintah
mengadakan suatu siste pengajaaran nasional yang diatur denga Undang-
undang (ayat 2). Sehingga semua warga Indonesia yang usia sekolah wajib
13

belajar di tingkat pendidikan dasar. Di dalam pendidikan maka perlu


adanya asas demokrasi untuk kemajuan perkembangan pendidiakn di
Indonesia. Oleh sebab itu aspek-aspek yang mempengaruhi asas demokrasi
dalam pendidikan adalah :
1. Formal, menjelaskan cara parisipasi masyarakat/rakyat terhadap
pendidikan yang diatur penyelengaraannya.
2. Material, memberikan pengakuan bahwa pendidiakn hendaknya
manusiawi demi kebahagiaan manusia selanjutnya.
3. Kaidah, yang mengikat warga/rakyat untuk bertindak sesuatu demi
pendidikan dengan mempraktekkan hak, kewajiban, dan wewenang.
4. Tujuan, pendidikan mempunyai tujuan untuk ingin menjangkau
terciptanya tujuan pembangunan nasional.
5. Organisasi, di lingkungan pendididkan demokrasi pancasila hendaknya
dapat terwujud.
6. Semangat, tiapmwarga negara demi pengembangan pendidikan harus
berdedikasi, jujur, dan rela mengabdi.
b) Massalah geografis, ekonomi, dan sosial:
Ketiga masalah diatas jelas melatar belakangi timbulnya pemerataan
pelayanan pendidikan :
1. Amatlah penting dipandang dari segi peledakan penduduk, karena
jumlah penduduk yang sangat besar sangatlah menguntungkan demi
pembangunan nasional. Maka sebagai satu modal bagi bangsa
Indonesia adalah Geografis, karena letak negara Indonesia sebagai
engara yang posisi slang maka pengaruh yang tibul positif dan atau
yang negatif banyak menggangu bangsa Indonesia. Maka karena tiap
warga Indonesia perlu diperkuat kepribadiannya, salah satu caranya
melalui pendidikan.
2. Ekonomis, dalam hal ini pelayanan pendidikan diharapkan mampu
membuka bangsa Indonesia mampu berfikir ekonomis dalam arti dapat
mampu mengembangkan potensi yang ada untuk memperoleh hasil
yang semaksimal mungkin.
14

3. Sosial, status sosial bangsa Indonesiai termasuk bangsa yang sedang


berkembang. Maka harus diusahakan untuk mampu menunjukan
kepada dunia internasional tentang pendikannya, agar daat bertindak
sesuai norma yang mengaturnya.
c) Masalah Ledakan Penduduk:
Pemerataan pendidikan diberikannya pelayanan pendidikan.
d) Keragaman kemampuan jasani dan mental peserta didik:
Bangsa Indonesia yang begitu sarat penduduk, kalau diperhatikan tentang
anak usia sekolah saja sudah terlihat betapa banyaknya anak tuna/berbakat
yang perlu mendapatkan pelayanan yang khusus.
Ketentuan itu antara lain:
1. Tuna Netra
2. Tuna Rungu
3. Tuna Grahita
4. Tuna Dagsa
5. Tuna Laras/sosial
Sedangkan anak yang berbakat digolongkan sebagai anak yang super
normal. Kepada mereka baik yang ab normal, normal, maupu super normal
haruslah memeperoleh layanan pendidiakn yang baik dan sempurna
sebagai mana amanat di UUD 1945 pasal 31.
e) Masalah penyediaan sarana dan prasarana:
Pendidikan di Indonesia memang perlu diratakan dalam arti semua lapisa
masyarakat harus mengenyam pendidikan. Otomatis penyediaan sarana
dan prasarana haruslah memadahi keperluan anak/peserta didik yang
memerlukan layanan pendikan.

4. PENERAPAN SEKOLAH SEBAGAI LEMBAGA SOSIAL


Dalam membahas Persoalan sekolah sebagai salah satu lingkungan
dalam pendidikan maka muncullah pertanyaan : Mengapa sekolah itu perlu
diadakan? Apa sebab pndidiakn itu sepenuhnya tidak menjadi tugas keluarga?
Ketika corak dan sift kehidupan manusia masih sangat sederhana, orangtua
15

masih sanggup sepenuhnya memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.


Namun masyarakat makin lama makin maju. Alat komunikasi yang telah
diciptakan manusia memungkinkan pertemuan dan pergaulan atara manusia
dari berbagai wilayah, dari berbagai derah dan kota, bahkan juga dari
berbagai negara dan benua. Pergaulan antar daerah dan antar benua
menimbulkan pergaulan benda-benda baru yang akan mempermudah dalam
mencari nafkah. Tetapi orang tidak selalu menguasai cara memproduks benda
benda baru yang diperlukan itu. Maka terjadilah persoalan di sekitar distribusi
dan pengangkutan barang-barang dari suatu daerah ke dadrah lain.
Keadaan inilah munculnya spesialisasi dalam cara-cara memproduksi.
Dan justru munculnya spesialisasi dalam mengakibatkan orang tua tidak
mampu memberikan pendidiakn kepada anak-anaknya segala macam
keterampilan, di samping waktu yang terbatas pengetahuan mereka juga
terbatas.
Padahal perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri
semakin maju. Dengan perkembangan kebudayaan maka harus didukung
dengan perkembangan pendidikan. Alasan itulah yang menjadi menjadi sebab
utama munculnya lembaga, yang kusus diadakan untuk mendidik anak-anak
setelah merekan ini mecapai umur tertentu; dan lembaga inilah yang disebut
“sekolah”.
1.) Fungsi Sosial Sekolah
Sebagai lembaga sosial, sekoalah mengembangkan dan melaksanakan ber
macam-macam fungsi yaitu:
a) Sekolah berfungsi untuk sosial.
Sosialisasi adlaha suatu proses belajar, dimana kita mempelajar cara-
cara hidup masyarakat. Dalam proses sosialisasi itu individu
mempelajari kebiasaan , sikap ,ide-ide, pola nilai, dan tingkah laku
dalam masyarakat dimana individu tersebut berada.
Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialaisai itu
disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri
atau pribadinya.
16

Dengan proses sosialisasi individu dapat berkembang menjadi suatu


pribadi dan mahluk sosial. Setiap masyarakat mempunyai cara sendiri
dalam upaya membawa seorang anak menjadi dewasa. Pada
masyarakat yang masih primiif dengan strukturnya masih sederhana,
maka anak mempelajari sebagian besar pengetahuan dan
keterampilannya dalam keluarga dan masyarakat sendiri.
Sudah barang tentu proses sosialisasi semacam ini sudah tidak sesuai
lagi untuk diterapkan pada kehidupan masyarakat yang sudah maju.
Anak sebagai penerus da pewaris kebudayaan harus dipersiapkan
sesuai kebutuhan dan perkembangaan yang pesat. Anak harus dibekali
dengan berbagai ketereampilan agar dapat mengikuti perkembangan
yang begitu cepat itu.
Dengan cara memperluas pengalaman sosial anak maka sekolah
merupakan agen sosialisai anak yang masih dalam taraf
perkembangan menuju kedewasaan.
Selain itu sekolah juga diharapkan dapat membentuk manusia sosial
yang dapat bergaul dengan sesama manusia secara serasi walaupun
terdapat unsur perbedaan tingkat sosal ekonominya, perbedaan agama,
ras, peradaban, bahasa, dan lain sebagainya.
b) Fungsi transmisi dan transformasi kebudayaan
Fungsi transmisi dan kebudayaan masyarakat kepada anak dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1) Transmisi pengetahuan dan ketrampilan
2) Transmisi sikap, nilai-nilai, dan norma-norma.
Transmisi pengetahuan mencakup berbagai macam pengetahuan
seperti bahasa, matematika, pengetahuan alam dan sosial, serta penemuan
teknologi. Sekolah juga berfungsi untuk mentransformasi kebudayaan agar
tetap sesuai bentuknya dan tidak usang dalam kehidupan masyarakat yang
semakin maju.
c) Sekolah sebagai lembaga seleksi
17

Sekolah tidak hanya melaksanakan sosialisasi kepada generasi muda


dan mentransmisi nilai-nilai luhur serta mentransformasi nilai-nilai dan
tingkah laku agar sesuai dengan perkembangan zaman melainkan sekolah
juga membantu dalam menentukan cara hidup mana, nilai-nilai apa serta
kemampuan dan ketrampilan yang bagaimana yang harus ditempuh oleh
para anak didik. Jadi sekolah membantu murid dalam menentukan
perubahan kehidupan kearah yang lebih baik.
Kriteria yang digunakan oleh sekolah dalam memilih murid
berdasarkan prestasi akademiknya. Dengan kriteria tersebut sekolah
membantu murid dalam menentukan pilihan spesialisasi apa yang akan
dipilih.
Masyarakat kita telah mengenal deferensisasi dan spesialisasi
pekerjaan ini dapat menimbulkan berbagai masalah antara lain :
a. Masyarakat harus mempunyai fasilitas untuk mengerjakan bermacam-
macam spesialisasi itu.
b. Masyarakat harus mengusahakan agar orang-orang yang mempunyai
spesialisasi itu jumlahnya seimbang sesuai dengan kebutuhan.
c. Masyarakat harus menciptakan mekanisme yang mampu
menyerasikan antara bakat dan kemampuan individu dengan tuntutan
spesialisasi.
d. Sekolah bertugas menghasilkan tenaga kerja yang berspesialisasi
2.) Kebudayaan Sekolah
Yang dimaksud kebudayaan sekolah adalah kehidupan di sekolah,
nilai-nilai, tingkah laku serta norma-norma yang berlaku di sekolah
tersebut. Sekolah merupakan bagian masyarakat; sebagai masyarakat kecil
maka sekolah wajar bila memiliki kebudayaan tersendiri.
W. Waller mengatakan bahwa sekolah ibaratnya sebagai musium
kebajikan (Saleh Sugiyanto, 1986 : 83). Sedang menurut Emile Durkheim
sekolah di sebutkan sebagai penjaga karakter nasional. Guru di sekolah
melatih anak-anak agar mereke menjadi dambaan masyarakat dan bangsa.
18

Peter L. Berger menyebutnya sekolah sebagai musium perjuangan


untuk menegakkan demokrasi Saleh Sugiyanto, 1986:83. Di sekolah anak-
anak diajarkan tentang sejarah perjuangan bangsanya. Sekolah juga
mengajarkan pola tingkah laku yang sesuai dengan harapan masyarakat
dan bangsa. Norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Kita ketahui bahwa sekolah bertugas mewariskan kebudayaan
kepada generasi baru, generasi penerus, oleh karena itu sekolah harus
selalu memperhatikan kebudayaan umum yang berlaku di masyarakat.
Namun di sekolah itu sendiri juga terdapat pola tingkah laku tertentu. Hal
ini wajar sebab sekolah mempunyai kedudukan yang agak terpisah dari
kebudayaan masyarakat umum. Sekolah sebagai sub masyarakat maka
kebudayaan sekolah juga merupakan sub kebudayaan umum.
Timbulnya kebudayaan sekolah ini disebabkan oleh adanya tugas
sekolah yaitu endidik generasi penerus dengan jalan menyampaikan
pengetahuan, keterampilan, sikap, tingkah laku sesuai dengan kurikulum
yang berlaku.
Norma yang berkembang disekolah banyak bersifat hierrarchical
relationships antara orang dewasa dengan anak (murid) yang bersifat
formal, grading sistem, adanya tata tertib yang mengikat dan lain
sebagainya.
3.) Peranan Sekolah dalam Sistem Pendidikan
Sebagai masyarakat kecil disekolah terjadi hubungan antar individu.
Disekolah terjadi interaksi antara warga sekolah kepala sekolah, guru,
murid dan perangkat sekolah lainnya misalnya tata laksana, dokter sekolah
dan lain-lain. Kedudukan setara guru sangat mempengaruhi dan
menentukan dalam sistem sosial sekolah.
Dalam sistem sosial sekolah seseorang yang berkedudukan sebagai
guru ia mengharapkan tingkah laku tertentu dari murid, sudah barang tentu
tingkah laku yang positif (rajin, pandai, penurut).
Guru bertanggung jawab terhadap kemajuan belajar murid-murid.
Murid-murid merupakan client dari suatu sistem sekolah. Dilihat dari
19

kaitan dengan tanggung jawab dan otoritas maka murid berda pada tingkat
yang paling bawah dari suatu herarki organisasi sekolah, mengingat murid
masih perlu mendapatkan pengawasan dan bimbingan dalam menuju
kedewasaannya.
Disamping disekolah terdapat herarki sistem sosial sekolah formal
yang nampak tingkatan secara jelas yaitu Depdikbud-Kanwil Depdikbud –
Kandepdikbud - kepala sekolah - guru dan – murid, juga terdapat sistem
sosial yang bersifat informal.
Sistem sosial yang bersifat informal ini bagi sekolah satu dengan
sekolah lain terdapat perbedaan atau fariasi karena tidak diikat oleh ataran
dan ketentuan yang jelas dan baku. Dalam sistem sosial yang bersifat
informal ini herarki dan hubungan vertikal tidak begitu jelas, misalnya
kepala sekolah - guru – murid – orang tua sesama murid.
Depdikbud

Kanwil depdikbud

Kandepdikbud tk II

Kepala sekolah

Guru

Murid
Struktur : sistem sosial sekolah yang bersifat formal
20

4.) Iklim Sosial di Sekolah


Ada setidak-tidaknya enam iklim sosial yang timbul disekolah karena
hubungan informasi antara guru dan kepala sekolah. Keenam iklim
tersebut yaitu:
a. Iklim terbuka
Dalam iklim terbuka ini tingkah laku kepalasekolah menggambarkan
suatu integrasi antara kepribadian kepala sekolah sebagai individu dan
peranannya sebagai pimpinan sekolah. Ia selain memberikan keritik
juga mau menerima keritaik. Hubungan kepala sekolah dan guru
bersifat fleksibel, suasana ini dapat mempertinggi kreatifitas guru.
Guru dapat berkerja bersama-sama tanpa adanya beban mental.
Kebijakan yang diambil oleh kepala sekolah biasanya memberikan
kemudahan bagi setiap guru untuk melak sanakan tugasnya dengan
baik. Sehingga guru biasanya dapat memperoleh kepuasan dalam
melaksanakan tugas hubungan ini juga dapat memperlancar jalannya
organisasi sekolah.
b. Iklim mandiri
Dalam iklim mandiri ini para guru mendapatkan kebebasan dari
kepala sekolah untuk mendapatkan kebebasan kebutuhan sosial
mereka.
Para guru tidak terlalu disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan
administrasi dan tidak dituntut menyerahkan laporan yang
menyusahkan dan menyulitkan.
Untuk memperlancar tugas-tugas guru kepala sekolah membuat
prosedur dan peraturan yang jelas. Yang lebih esensial dalam sekolah
yang beriklim mansiri ini para guru berkerja sama dengan baik, penuh
tenggang rasa dan penuh kesungguhan hati. Kontrol yang ketat tidak
perlu sebab guru mempunyai moral berkerja yang cukup tinggi.
c. Iklim terkontrol.
Dalam iklim terkontrol ini sekolah menekan pada prestasi tetapi
mengorbankan keppuasan kebutuhan sosial. Karena mengejar prestasi
21

maka guru berkerja keras dengan kesibukannya sendiri-sendiri


sehingga tidak ada kesempatan untuk membentuk hubungan kerja
yang lebih akrab dan sosialitas yang tinggi hubungan pribadi sesama
guru jarang dilaksanakan karena mereka sibuk dengan kerja sendiri-
sendiri, yang dituntut prestasi dan laporan-laporan.
Fungsi pimpinan sangat dominan karena tidakadanya fleksibilitaas
dalam organisasi tersebut. Jadwal berkerja yang sudah diprogramkan
harus diikuti secara ketat. Umumnya sekolah cenderung untuk
membuat peraturan yang disertai petunjuk teknis.
d. Iklim persaudaraan
Dalam iklim persaudaraan ini hubungan guru dan kepala sekolah
sangat erat. Kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan sosial sangat
menonjol tetappi umumnya guru kurang mempunyai kegiatan task
oriented.
Guru tidak dibebani dengan laporan-laporan rutin, sebab kepala
sekolah berusaha agar para guru dapat berkerja sumudah mungkin,
dan mereka merasa bahagia. Sekolah merupakan satu ikatan keluarga,
maka saling menasehati diantara para guru banyak kita jumpai.
Pendekatan kepala sekolah terhadap para guru sangat personal
walaupun masih memerankan diri sebagai seorang kepala. Dalam
sekolah ini tidak banyak aturan yang digunakan sebagai pedoman
akibatnya produksi kerja kurang diperhatikan. Dan biasanya perestasi
kerja kurang optimal karena tidak pernah mendapat keritik.
e. Iklim kebapakan
Dalam iklim ini biasanya guru banyak memperoleh pekarjaan yang
bersifat rutin misalnya laporan periodik. Akibatnya guru merasa tidak
puas karena tidak dapat menyelesaikan pekerjaan akademik dengan
baik.
Kepala sekolah biasanya dekat dengan guru. Monitoraing, petunjuk
sering ia berikan. Jadwal yang sudah direnvanakan guru mungkin
diubah oleh kepala sekolah bila menurut penilaiannya tidak cocok,
22

sehingga guru sering mersa terganggu. Kepala sekolah yang demikian


mungkin beranggapan bahwa ia adalah yang terbaik disekolah
tersebut.
f. Iklim tertutup
Dalam iklim tertutup ini kepala sekolah tidak memberikan
kepemimpinannya yang menendai kepada para guru. Ia mengharapkan
agar setiap guru mengembangkan inisiatifnya masing-masing. Namun
ia tidak memberi kebebasan kepada para guru untuk merealisasi
inisiatifnya tersebut.
Para guru tidak dapat berkerja sama dengan baik. Perstasi kerja rendah
walaupun guru menuntut prestasi kerja guru lebih tinggi. Kepala
sekolah membuat aturan-aturan untuk menunjang tuntutan tersebut.
Kesejahteraan sosial guru kurang diperhatikan.
BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Pendidik adalah orang yang dengan sengaja mempengaruhi dan
membantu orang lain untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi atau
lebih dewasa. Pendidik mempunyai tugas pendidikan, pengajaan, dan
pelaksanaan. Syarat-syarat seseorang bisa menjadi pendidik adalah sudah
dewasa, sehat jasmani dan rohani, mempunyai kemampuan atau skill, serta
mempunyai dedikasi yang tinggi.
Kemudian anak didik adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan. Perkembangan anak
memiliki ciri-ciri perkembangan anak akan berlangsung dengan sendirinya atas
kekuatan dari dalam, jalan perkembangan itu sendiri tidak dapat dicampuri
dengan mengubahnya, dan tingkat perkembangan yang dicapai adalah suatu
perpaduan kekuatan dari dalam yang mendorong untuk berkembang dan situasi
lingkungan yang mempengaruhi jalan perkembangan.
Masalah-masalah dalam pendidikan Indonesia meliputi problematika
who (siapa) yang menyangkut pendidikan dan anak didik, problematika why
(mengapa) yang menyangkut pelaksanaan pendidikan, problematika where
(dimana) yang menyangkut tempat pelaksanaan pendidikan, problematika
when (kapan) yang menyangkut waktu pelaksanaan pendidikan, problematika
what (apa) yang menyangkut dasar, bahan, dan tujuan pendidikan, dan
problematika how (bagaimana) yang menyangkut metode yang digunakan
untuk melaksanakan pendidikan.
Masalah pemerataan pendidikan di Indonesia dapat tercapai apabila asas-
asas demokrasi dalam pendidikan terlaksana, masalah geografis, ekonomi,
sosial, ledakan penduduk, dan sarana prasarana teratasi, serta keragaman
kemampuan jasmani dan mental peserta didik sudah tidak mempengaruhi
proses pendidikan.

23
24

Dalam kehidupan sosial masyarakat, lembaga yang sering digunakan


untuk pelaksanaan pendidikan adalah sekolah. Sehingga disini sekolah disebut
sebagai lembaga sosial. Sekolah memiliki fungsi sosial, fungsi transmisi dan
transformasi kebudayaan, serta sebagai lembaga seleksi. Setiap sekolah pasti
memiliki kebudayaan sekolah atau kehidupan disekolah, nilai-nilai atau norma-
norma yang berlaku di sekolah. Di sekolah terjadi hubungan antara warga
sekolah, kepala sekolah, guru, murid, dan warga sekolah yang lain. Disini
posisi guru adalah kedudukan yang paling penting dan sangat berpengaruh.

2. SARAN
Di Indonesia pendidikan memang belum bisa dijangkau oleh semua
masyarakatnya. Walaupun sudah banyak upaya yang dilakukan oleh
pemerintah tapi tetap saja masalah-masalah tersebut belum bisa terselasaikan.
Kita sebagai warga masyarakat sebaiknya tidak menambah masalah pendidikan
di Indonesia, tetapi harus bersama-sama dengan pemerintah untuk mengatasi
masalah tersebut. Di sisi lain kita sebagai calon guru harus bisa mempersiapkan
diri untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia agar tidak memperburuk
masalah atau bahkan menambahkan masalah pendidikan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Drs. H. Abu, dan Drs. Nur Uhbiyati. 2015. Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT
Rineka Cipta.
Siswoyo, Dwi, dkk. 2013. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. http://kbbi.web.id/problem. (16 Oktober 2016)
Kamus Besar Bahasa Indonesia. http://kbbi.web.id/masalah. (16 Oktober 2016)
Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang No. 23 tahun 2000 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2008. Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008 tentang Guru.
Sekretariat Negara. Jakarta.

iv