Anda di halaman 1dari 13

PANDUAN ASESMEN TAMBAHAN

BAB I

DEFENISI

A. LATAR BELAKANG

Rumah sakit merupakan tempat pelayanan kesehatan secara bio,psiko,sosial dan spiritual
dengan tetap harus memperhatikan pasien dengan kebutuhan khusus dengan melakukan
penilaian secara individual serta harus dapat mewakili semua populasi yang ada diantara
nya pada pasien anak-anak, dewasa muda, lanjut usia yang lemah, dengan nyeri yang
kronis dan intens, infeksi atau penyakit menular. pada semua kasus ini pasien dan
keluarga sangat ketergantuangan bantuan pada pemberi pelayanan kesehatan khusus nya
rumah sakit.

Pelayanan kesehatan dengan kelompok khusus ini memerlukan penangan yang


tepat dan efektif dalam mengurangi risiko, serta perlu mendokumentasikan pelayanan
secara tim untuk bekerja dan berkomunikasi secara efektif.

Dengan disusun buku pedoman ini maka diharapkan dapat membantu


meningkatkan mutu pelayanan di seluruh aspek rumah sakit sampai pada tingkat
manajemen dan dapat mengurangi kesalahan dalam meningkatkan kepuasan bagi pasien
dan keluarga yang mendapatkan pelayanan.

B. TUJUAN

Rumah sakit dapat melakukan assesmen atau penilaian awal pada pasien dengan
tipe-tipe tertentu. Tanpa bermaksud untuk menemukan kasus secara proaktif.

C. PENGERTIAN

a. Neonatus : bayi baru lahir


b. Setiap pasien anak-anak :Dilakukan pada bayi umur 29 hari sampai dengan
anak usia 14 tahun
c. Pasien dewasa muda atau remaja :Usia 15 tahun sampai 30 tahun
d. Pasien geriatric :pasien yang berusia lebih dari 60 tahun
e. Pasien sakit terminal :pasien dengan kondisi sakit yang secara medis tidak
dapat disembuhkan
f. Pasien rasa sakit kronis atau kesakitan :pasien yang menderita penyakit yang
memerlukan perawatan dalam waktu lama.pada kondisi ini sebagian pasien
juga mengalami nyeri
g. Pasien dalam proses melahirkan (obstetric/maternitas):pasien hamil yang
datang untuk melahirkan
h. Pasien dengan gangguan emosional atau gannguan jiwa:pasien dengan
gangguan jiwa baik ringan ataupun berat
1
i. Pasien terlantar atau disakiti:pasien yang mendapatkan ruda paksa baik fisik
maupun mental
j. Pasien dengan penyakit infeksi atau menular:pasien dengan penyakit infeksi
yang sangat berbahaya dan beresiko tinggi ditularkan
k. Pasien dengan kondisi imunologik terganngu:pasien dengan kondisi daya
tahan tubuh yang lemah karena suatu penyakit
l. pasien yang menerima kemoterapi atau terapi radiasi
m. pasien dengan kebutuhan untuk p3k(perencanaan pemulangan pasien
n. pasien kecanduan obat terlarang atau alkohol

BAB II

RUANG LINGKUP

Ruang lingkup dari panduan pelayanan pasien dengan kebutuhan khusus hanya di
berlakukan pada semua staf pemberi pelayanan kesehatan di RSUD OKU Timur

Ruang lingkup Pasien yang termasuk dalam criteria asesmen tambahan antara lain :

a. Neonatus
b. Anak anak
c. Dewasa muda atau remaja
d. Geriatri
e. Sakit terminal:
f. Pasien rasa sakit kronis atau kesakitan
g. Pasien obstetric / maternitas
h. Pasien dengan gangguan emosional / gangguan jiwa
i. Pasien kecanduan obat terlarang atau alkohol
j. Pasien terlantar atau disakiti / korban kekerasan atau kesewenangan
k. Pasien dengan penyakit infeksi atau penyakit menular
l. Pasien dengan kondisi imunologik terganggu
m. Pasien dengan kebutuhan p3k(perencanaan pemulangan pasien
n. Pasien yang menerima kemoterapi atau terapi radiasi

2
BAB III

TATA LAKSANA

Rumah sakit menetapkan kriteria tertulis tentang asesmen tambahan, khusus atau lebih
mendalam perlu dilaksanan populasinya seperti pasien anak-anak, dewasa muda, lanjut
usia yang lemah, pasien dengan rasa nyeri yang kronis dan intens, pasien dengan infeksi
atau penyakit menular. Kriteria tentang asesmen tambahan, khusus atau lebih mendalam
disusun oleh Kelompok Staf Medis Rumah Sakit. Proses asesmen untuk populasi pasien
dengan kebutuhan khususnya dapat dimodifikasi secara tepat sehingga mencerminkan
kebutuhannya, dengan melibatkan keluarga bila perlu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi
yang dapat diterima oleh budaya dan diperlakukan secara konfidensial
Bila Pasien yang teridentifikasi kebutuhan tambahan asesmen khusus seperti
kebutuhan khusus akan jantung, hipertensi, diabetes mellitus dan lain-lain dirujuk ke
pemberi pelayanan kesehatan yang berkompeten baik di internal rumah sakit maupun
eksternal rumah sakit apabila pelayanan yang dibutuhkan tidak tersedia di dalam rumah
sakit pasien dirujuk keluar rumah sakit. Asesmen khusus yang dilakukan dilengkapi dan
dicatat dalam rekam medis pasien.

Berikut ini adalah panduan tatalaksana pelayanan Asesmen tambahan / khusus:

1. Asuhan pasien lanjut usia


dengan ketergantngan bantuan diarahkan oleh kebijakan dan prosedur yang sesuai
dengan yang telah ditetapkan oleh RSUD OKU Timur. Pemberian asuhan untuk
pasien yang rentan dan lanjut usia dengan ketergantungan sesuai dengan kebijakan
dan prosedur meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.

Pasien yang rentan, lanjut usia yang tidak mandiri menerima asuhan sesuai kebijakan
dan prosedur dengan tujuan untuk menghasilkan proses asuhan yang efisien dan
lebih efektif dalam bentuk pelayanan dan didokumentasikan dalam rekam medis

2. Pasien dengan rasa nyeri yang kronis dan intens


a. Asesmen nyeri dapat menggunakan Numeric Rating Scale
Gambar NRS (Numerical Rating Scale)

a. Indikasi: digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia > 9 tahun yang dapat
menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyeri yang dirasakannya

3
b. Instruksi: pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan
dilambangkan dengan angka antara 0 – 10
 0 = tidak nyeri
 1 – 3 = nyeri ringan (sedikit menganggu aktivitas sehari-hari).
 4 – 6 = nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari).
 7 – 10 = nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari).
c. Pada pasien yang tidak dapat menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka,
gunakan asesmen Wong Baker FACES Pain Scale sebagai berikut:

d. Perawat menanyakan mengenai faktor yang memperberat dan memperingan nyeri


kepada pasien.
e. Tanyakan juga mengenai deskripsi nyeri :
1)Lokasi nyeri
2)Kualitas dan atau pola penjalaran / penyebaran
3)Onset, durasi, dan faktor pemicu
4)Riwayat penanganan nyeri sebelumnya dan efektifitasnya
5)Efek nyeri terhadap aktivitas sehari-hari
6)Obat-obatan yang dikonsumsi pasien
f. Pada pasien dalam pengaruh obat anestesi atau dalam kondisi sedang, asesmen dan
penanganan nyeri dilakukan saat pasien menunjukkan respon berupa ekspresi tubuh
atau verbal akan rasa nyeri.
g. Asesmen ulang nyeri: dilakukan pada pasien yang dirawat lebih dari beberapa jam
dan menunjukkan adanya rasa nyeri, sebagai berikut:

Asesmen ulang nyeri adalah prosedur menilai ulang derajat nyeri pada pasien
yang bertujuan untukmengevaluasi intervensi yang telah dilakukan terkait
penatalaksanaan nyeri yang telah diberikan, dengan interval waktu sesuai kriteria
sebagai berikut :
1. menit setelah intervensi obat injeksi
2. 1 jam setelah intervensi obat oral atau lainnya
3. 1 x / shift bila skor nyeri 1 – 3
4. Setiap 3 jam bila skor 4 -6
5. Setiap 1 jam bila skor nyeri 7 – 10
6. Dihentikan bila skor nyeri 0

4
h. Tatalaksana nyeri:
1. Berikan analgesik sesuai dengan anjuran dokter
2. Perawat secara rutin (setiap 4 jam) mengevaluasi tatalaksana nyeri kepada
pasien yang sadar / bangun
3. Tatalaksana nyeri diberikan pada intensitas nyeri ≥4. Asesmen dilakukan 1
jam setelah tatalaksana nyeri sampai intensitas nyeri ≤ 3
4. Sebisa mungkin, berikan analgesik melalui jalur yang paling tidak
menimbulkan nyeri
5. Nilai ulang efektifitas pengobatan
6. Tatalaksana non-farmakologi
a) Berikan heat / cold pack
b) Lakukan reposisi, mobilisasi yang dapat ditoleransi oleh pasien
c) Latihan relaksasi, seperti tarik napas dalam, bernapas dengan irama /
pola teratur, dan atau meditasi pernapasan yang menenangkan
d) Distraksi / pengalih perhatian
i. Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai:
1. Faktor psikologis yang dapat menjadi penyebab nyeri
2. Menenangkan ketakutan pasien
3. Tatalaksana nyeri
4. Anjurkan untuk segera melaporkan kepada petugas jika merasa nyeri
sebelum rasa nyeri tersebut bertambah parah

3. Asesmen Pediatrik
Penting untuk melakukan pemeriksaan sistematis karena anak sering tidak dapat
mengungkapkan keluhannya secara verbal.Amati adanya pergerakan spontan
pasien terhadap area tertentu yang di lindungi. Tahapan asesmen berupa:
1) Keadaan umum:
a) Tingkat kesadaran, kontak mata, perhatian terhadap lingkungan sekitar
b) Tonus otot: normal, meningkat, menurun/fleksid
c) Respons kepada orang tua/pengasuh: gelisah, menyenangkan
2) Kepala:
a) Tanda trauma
b) Ubun – ubun besar (jika masih terbuka): cekung atau menonjol

3) Wajah:

a) Pupil: Ukuran, kesimetrisan, refleks cahaya


b) Hidrasi: air mata, kelembaban mukosa mulut

5
4. Anak - Anak
Penting untuk melakukan pemeriksaan karena anak atau bayi sering tidak dapat
mengungkapkan keluhannya secara verbal dan amati adanya pergerakan spontan
anak atau bayi terhadap area tertentu yang dilindungi.Tahapan asesmen
keperawatan anak dan neonatus :
1) Identitas meliputi nama, tanggal lahir, jenis kelamin, tanggal dirawat, tanggal
pengkajian dan diagnose
2) Keluhan utama :

a) Riwayat penyakit sekarang

b) Riwayat penyakit dahulu


c) Riwayat penyakit keluarga
d) Riwayat imunisasi BCG, DPT, Polio, Hepatitis dll
e) Riwayat alergi

3) Pertumbuhan dan perkembangan


4) Rasa nyaman Neonatal Infant Paint Scale (NIPS) rentang 0-7 semakin tinggi
score semakin nyeri
5) Dampak hospitalisasi (Psikososial): orang tua,anak tenang, takut, marah, sedih,
menangis, gelisah
6) Pemeriksaan fisik :
a) Acral hangat, kering, merah, pucat dingin
 Conjungtiva anemis ya/tidak
b) Sklera mata icterus, hiperemis
 Panca indera tidak ada gangguan/ada
 Tingkat kesadaran berespon terhadap nyeri ya/tidak
 Tangisan kuat, lemah, tidak ada, melengking, merintih
 Kepala lingkar kepala, kelainan ada/tidak ada dan ubun-ubun datar
,cekung /cembung
 Pupil bereaksi terhadap cahaya ya/tidak
c) B4
 Kebersihan bersih, kotor, dan secret ada/tidak
d) B5
e) Sosial ekonomi

 Kontak mata ya/tidak

6
7) persiapan pemberian obat
keamanan penanganan obat sitostatika merupakan hal yang penting yang
harus diperhatiakan oleh dokter, perawat, farmasi, penderita,
gudang/distribusi, oleh karena itu persiapan harus sesuai prosedur.

5. Pasien korban kekerasan / kesewenangan


1. Tata laksana Perlindungan Tindak Kekerasan secara Umum
a. Petugas medis dimasing-masing unit pelayanan mengidentifikasi
pasien yang berisiko terkenanya tindak kekerasan / yang
memerlukan perlindungan.
b. Petugas medis menempatkan pasien / tempat tidur pasien sesuai
dengan kategori setiap kasus yang diderita pasien
c. Petugas medis menginformasikan/meminta keluarga pasien untuk
dapat membantu menjaga pasien Selama proses pengobatan di
Rumah Sakit Bhayangkara Tulungagung.
d. Dilakukannya sistem jam berkunjung pasien, dengan batasan-
batasan tertentu untuk dapat memonitor kondisi pasien, baik
memonitor dari sisi kesehatan maupun risiko kekerasan, meliputi
: jam : 07.00 s/d 23.00 WIB
e. Disediakan kartu jaga/penunggu pasien selama proses rawat inap
untuk keluarga pasien yang mendampingi pasien jaga malam.
f. Dilakukan monitor dengan media CCTV pada lokasi
terpencil/terisolasi, pemantauan individu yang dicurigai akan
melakukan tindakan kekerasan, identifikasi pengunjung dan
pengawasan keamanan.
g. Pada saat shift I dan shift kedua CCTV diawasi oleh PDE apabila
terjadi kekerasan fisik kemudian lapor ke security dan untuk shift
III diawasi langsung oleh security.
h. Disusun mekanisme/sistem pengawasan yang terpadu antara
perawat/petugas dengan satuan pengamanan rumah sakit untuk
mengantisipasi kondisi terjadinya kekerasan fisik, dsb.
i. Petugas medis ruang rawat inap melakukan penguncian akses
pintu yang terhubung dengan jalan keluar masuk pengunjung
dengan rang rawat inap pasien setelah jam berkunjung selesai.

7
2. Tata laksana Perlindungan Terhadap Pasien yang berisiko disakiti
(Risiko Penyiksaan, tersangka tindak pidana, korban kekerasan,
napi, dsb)
a. Pasien ditempatkan di ruang isolasi untuk kasus-kasus
khusus dan dijaga oleh tenaga keamanan rumah sakit.
Kasus-kasus khusus diantaranya
- Napi dilaporkan ke polisi
- Kasus pidana dilaporkan ke polisi
- Kasus KDRT dilaporkan ke satpam atau staf bidang umum

b. Pengunjung, keluarga dan orang yang melakukan kontak


dengan pasien agar dilakukan pencatatan identifikasi, agar
memudahkan petugas bila sewaktu-waktu bila terjadi
tindakan yang tidak diinginkan.
c. Memasang bel/alarm disetiap ruangan/tempat-tempat
tertentu untuk memudahkan pasien bila dilakukan kekerasan
oleh orang lain.
d. Petugas berkoordinasi dengan satuan pengamanan rumah
sakit untuk tetap melakukan pemantauan kondisi dan
perilaku pasien, bila diperlukan bekerjasama dengan pihak
yang berwajib.

6.Pasien sakit terminal

Perawat harus memahami apa yang dialami pasien dalam kondisi terminal, tujuannya untuk
dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi pasien sehingga pada saat-saat terakhir dalam
hidupnya bisa bermakna dan akhirnya dapat meninggal dengan tenang dan damai.

Masalah yang perlu dilakukan pengkajian /asesmen pada pasien dalam tahap terminal
antara lain :
- Masalah Oksigenisasi :
Respirasi irregular, cepat atau lambat, pernafasan cheyne stokes, sirkulasi perifer
menurun.perubahan mental : Agitasi - gelisah, tekanan darah menurun, hypoksia,
akumulasi secret, dan nadi ireguler .

- Masalah Eliminasi :
Konstipasi, medikasi atau imobilitas memperlambat peristaltic, kurang diet serat dan
asupan makanan jugas mempengaruhi konstipasi, inkontinensia fekal bisa terjadi
oleh karena pengobatan atau kondisi penyakit (mis Ca Colon), retensi urin,
inkopntinensia urin terjadi akibat penurunan kesadaran atau kondisi penyakit

8
misalnya : Trauma medulla spinalis, oliguri terjadi seiring penurunan intake cairan
atau kondisi penyakit mis gagal ginjal.
- Masalah Nutrisi dan Cairan :
Asupan makanan dan cairan menurun, peristaltic menurun, distensi abdomen,
kehilangan BB, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kering dan membengkak, mual,
muntah, cegukan, dehidrasi terjadi karena asupan cairan menurun.
- Masalah suhu :
Ekstremitas dingin, pasien kedinginan sehingga harus memakai selimut.
- Masalah Sensori :
Penglihatan menjadi kabur, refleks berkedip hilang saat mendekati kematian,
menyebabkan kekeringan pada kornea, Pendengaran menurun, kemampuan
berkonsentrasi menjadi menurun, pendengaran berkurang, sensasi menurun .

- Masalah nyeri :
Ambang nyeri menurun, pengobatan nyeri dilakukan secara intra vena, klien harus
selalu didampingi untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan kenyamanan.
- Masalah Kulit dan Mobilitas :
Seringkali tirah baring lama menimbulkan masalah pada kulit sehingga pasien
terminal memerlukan perubahan posisi yang sering.
- Masalah Psikologis :
Pasien dalam tahap terminal dan orang terdekatnya biasanya mengalami banyak
respon emosi seperti : perasaaan marah dan putus asa . Problem psikologis lain yang
muncul pada pasien terminal antara lain ketergantungan, hilang control diri, tidak
mampu lagi produktif dalam hidupnya, kehilangan harga diri dan harapan, dan
kesenjangan komunikasi.
- Perubahan Sosial-Spiritual :
Pasien mulai merasa hidup sendiri, terisolasi akibat kondisi terminal dan menderita
penyakit kronis yang lama . Pasien memaknai kematian sebagai kondisi peredaan terhadap
penderitaan. Sebagian pasien beranggapan bahwa kematian sebagai jalan menuju
kehidupan kekal yang akan mempersatukannya dengan orang-orang yang dicintai.
Sedangkan yang lain beranggapan takut akan perpisahan, dikuncilkan, ditelantarkan,
kesepian, atau mengalami penderitaan sepanjang hidup .

Faktor-faktor yang perlu dilakukan pengkajian/asesmen :


- Faktor Fisik.
perubahan pada penglihatan, pendengaran, nutrisi, cairan, eliminasi, kulit,
tanda-tanda vital, nyeri dan mobilisasi.
- Faktor Psikologis.
Perubahan Psikologis yang menyertai pasien dalam kondisi terminal yaitu
ekspresi wajah yang ditunjukan apakah sedih, depresi, atau marah. Problem
psikologis lain yang muncul seperti ketergantungan, kehilangan harga diri dan
harapan.
- Faktor Sosial.
Pada kondisi terminal pasien cenderung menarik diri, mudah tersinggung, tidak
ingin berkomunikasi, dan sering bertanya tentang kondisi penyakitnya.
Ketidakyakinan dan keputusasaan sering membawa pada perilaku isolasi.
Dalam kondisi terminal, dukungan social sangat penting , bisa dari teman dekat,
kerabat/keluarga terdekat untuk selalu menemani klien.
9
- Faktor Spiritual.
Perawat harus mengkaji bagaimana keyakinan klien akan proses kematian,
bagaimana sikap pasien menghadapi saat-saat terakhirnya. Apakah semakin
mendekatkan diri pada Tuhan ataukah semakin berontak akan keadaannya.
Perawat juga harus mengetahui disaat-saat seperti ini apakah pasien
mengharapkan kehadiran tokoh agama untuk menemaninya disaat-saat
terakhirnya .

7.Pasien dengan system imunolgi terganggu

1. Menanyakan riwayat penyakit dahulu kemungkinan terjadinya alergi, penyakit auto


imun, kebiasaan merokok, alkohol, pasangan sex multiple, peningkatan stress,
penggunaan obat-obatan, proses infeksi dan penyakit transmisi seksual, riwayat
keluarga dengan penyakit kanker, gangguan imun, alergi.
2. Memeriksa kondisi fisik pasien apakah pasien merasa kelelahan, demam, diuresis,
kemerahan, kelemahan muskuler, nyeri / pembengkakan sendi, penurunan berat
badan, apakah terdapat massa, limfadenopati, proses pemulihan buruk, hepatomegali
dan perubahan tanda – tanda vital.
3. Memeriksa tanda – tanda vital, TB, BB.
4. Pemeriksaan sistem integument.
Konsultasi spesialistik sesuai dengan penyebab penyakit rendahnya sistem imun.

8.Pasien dengan kebutuhan untuk p3k(perencanaan pemulangan pasien)


1. Informasi kesehatan
 pemberian informasi tentang hasil pengkajian
medis,diagnosis,tatalaksana,prognosis,rencana pemulangan pasien
 rencana pemulangan pasien di diskusikan dengan keluarga / pj perawat
 pemberitahuan tanggal rencana pemulangan pasien
 tanda dan gejala yang perlu dilaporkan
2. Edukasi kesehatan untuk pasien dirumah
 Pemberian edukasi kesehatan sesuai dengan diagnosis
 Informasi tentang clinical pathway
 Pemberian leaflet edukasi kesehatan
 Pemberian edukasi tentang pemberian obat obatan,aktivitas dirumah
3. Persiapan pemulangan pasien
 Tempat perawatan selanjutnya
 Obat untuk dirumah
 Alat bantu / peralatan kesehatan untuk dirumah
 Rencana control
 Format ringkasan pulang
 Format ringkasan keperawatan yang sudah terisi
 Alat transportasi yang digunakan untuk pulang
 Kelengkapan administrasi

9.pasien dengan gangguan emosional atau gangguan jiwa


 Keluhan utama dan keluarga
 Tanyakan alas an dirawat:marah-marah,ngomel-ngomel,tidak mau bicara,tidak mau
makan minum,tidak mau mandi susah tidur,gelisah
 Riwayat penyakit dahulu :gangguan jiwa,gangguan fisik,perkembangan pribadi
 Periksa status mental
 Periksa status internus neurologis

10
 Konsulkan dengan dokter spesialis kedokteran jiwa

10.maternitas

1. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan kebidanan


2. keluhan utama masuk Rumah sakit,Riwayat penyakit atau keluhan saat ini,Riwayat
penyakit terdahulu (Riwayat masuk RS sebelumnya,riwayat di operasi,riwayat penyakit
,riwayat alergi)
3. asesmen psiko sosio spiritual ekonomi
4. Riwayat kehamilan,persalinan,nifas yang lalu
5. penilaian resiko jatuh
6. asessmen kebutuhan pendidikan dan hambatan komunikasi pada pasien. Hal ini
dimaksudkan untuk memperoleh data tentang kemampuan klien dalam menerima
informasi dan kebutuhan terhadap informasi.
7. anamnesa tentang activity daily life ( aktivitas sehari hari )
8. asesmen nyeri
9. penilaian gangguan pernapasan
10. penilaian integritas kulit / luka
11. pengkajian status nutisi
12. pengkajian eliminasi pasien
13. orientasi pasien baru
14. Rencana pemulangan pasien
15. menyimpulkan masalah kebidanan pasien dan menegakkan diagnose awal
kebidanan serta membandingkannya dengan diagnose staf klinis di UGD/poliklinik dan
dokter ruangan.
16. menyusun rencana asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa kebidanan awal sesuai
dengan prioritas masalah.

11.penyakit menular atau infeksi


1. keluhan utama
2. riwayat penyakit
3. riwayat alergi,riwayat pengobatan
4. riwayat penyakit dalam keluarga
5. psikososiospiritual
6. pemeriksaan fisik
7. pemeriksaan penunjang (rontsen thorak) dan BTA
8. kebutuhan edukasi
9. penempatan ruang isolasi dan penggunaan APD

11
BAB IV
DOKUMENTASI

Semua asesmen tambahan didokumentasikan direkam medis meliputi:


1. Pengkajian secara keseluruhan terhadap pasien, menegakkan diagnosa,
menyusun intervensi, melakukan implementasi dan membuat evaluasi akhir dari
pelayanan yang telah kita berikan kepadan pasien tersebut.
2. Pembuatan asuhan pasien secara tim yang berkesinambungan antara dokter,
perawat, PPA lain yang memberikan asuhan pasien serta staf rehabilitasi medik
pasien.
3. Melakukan ronde pasien dengan multi departemen agar dapat mengetahui
keadaan pasien serta dapat membuat asuhan yang berkesinambungan.
4. Membuat dokumentasi dalam bentuk rekam medis terhadap pelayanan yang
telah diberikan kepada pasien baik secara verbal maupun nonverbal.

12
13