Anda di halaman 1dari 23

MANUAL No.

002-3/ BM / 2007
Konstruksi dan Bangunan

Pemeriksaan Peralatan Pemecah Batu


(Stone Crusher)

Buku 3
Perawatan peralatan

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

1
Prakata

Salah satu aspek penting dalam menunjang keberhasilan pembinaan jalan adalah
tersedianya Standar, Pedoman dan Manual (SPM) yang dapat diterapkan dengan mudah
didalam penerapannya.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen


Pekerjaan Umum, menyusun manual pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher),
merupakan pengganti petunjuk pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher)
Nomor : 031/T/BM/1996 yang dikeluarkan oleh Ditjen Bina Marga Departemen PU. Manual
ini disusun dengan memperhatikan masukan masukan dari para narasumber yang ahli
dibidang pekerjaan jalan serta peralatan.

Pada manual pemeriksaan pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher) ini terdiri
dari 3 (tiga) seri buku yaitu :

1. Fungsi dan cara kerja pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher), diuraikan
mengenai fungsi dan cara kerja dari setiap tipe peralatan pemecah batu (stone
Cruisher) serta seluruh komponen pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone
Crusher) serta persyaratan teknis yang harus dimiliki.

2. Pemeriksaan kelaikan operasi pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher)


diuraikan mengenai tahapan-tahapan pemeriksaan yaitu mulai dari tahap Pemeriksaan
tahap I adalah pemeriksaan komponen Pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone
Crusher) dengan kondisi tidak hidup, sedangkan pemeriksaan tahap II adalah
pemeriksaan komponen Pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher)
dengan kondisi dihidupkan. Sedangkan pemeriksaan tahap III adalah pemeriksaan
kelaikan operasi Pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher) dalam kondisi
produksi (beroperasi).

3. Perawatan peralatan pemecah batu (Stone Crusher) diuraikan tahap perawatan


seluruh komponen peralatan pemecah batu (Stone Cruisher), yang dilengkapi dengan
cara mengatasi gangguan (Trouble Shooting) yang meliputi permasalahan, penyebab
dan cara mengatasinya.

Tatacara penulisan manual ini mengacu pada Pedoman BSN (Badan Standardisasi
Nasional) No. 8 tahun 2000.

Akhir kata dengan telah diterbitkannya manual pemeriksaan pemeriksaan peralatan


pemecah batu (Stone Crusher) diharapkan dapat memberikan andil dalam upaya untuk
meningkatkan kualitas agregat sebagai bahan campuran aspal sesuai dengan persyaratn
teknis.

Jakarta, Desember 2007

DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA

A. Hermanto Dardak

i
Daftar isi

Prakata …………………………………………………………………………………………
Daftar isi …………………………………………………………………………………………
Daftar tabel ……………………………………………………………………………………
Pendahuluan ……………………………………………………………………………………
1. Ruang lingkup ..........................................................................................................
2. Acuan normatif .........................................................................................................
3. Istilah dan definisi ....................................................................................................
4. Perawatan peralatan ...............................................................................................
4.1. Perawatan roll crusher ...................................................................................
4.1.1. Pelumasan .......................................................................................
4.1.2. Pemeriksaan susunan crusher .........................................................
4.1.3. Pengangkatan crusher .....................................................................
4.1.4. Ban karet penggerak untuk movable roll .........................................
4.1.5. Kecepatan feed ................................................................................
4.1.6. Ukuran partikel feed .........................................................................
4.1.7. Penyebaran material pada roll .........................................................
4.1.8. Pemeriksaan terhadap hubungan antar roll .....................................
4.1.9. Menjaga kekencangan tekanan pegas (spring) ..............................
4.2. Perawatan jaw crusher ..................................................................................
4.2.1. Pelumasan .....................................................................................
4.2.2. Pemeriksaan susunan crusher .......................................................
4.2.3. Pengangkatan crusher ...................................................................
4.2.4. Pengangkatan pasangan pitman ...................................................
4.2.5. Menjaga kekencangan stationary jaw ............................................
4.2.6. Pemutaran stationary jaw agar pemakaiannya seragam ...............
4.2.7. Penggantian stationary jaw dan movable jaw ................................
4.2.8. Penggantian key plate ...................................................................
4.2.9. Menjaga kekencangan movable jaw wedge ..................................
4.2.10. Penggantian toggle plate ...............................................................
4.2.11. Menjaga kekencangan tegangan pegas toggle plate .....................
4.2.12. Menjaga kebersihan crusher discharge .........................................
4.2.13. Menjaga kondisi hydraulic pump dan ram ......................................
4.2.14. Menjaga kekencangan toggle seat wedge .....................................
4.3. Perawatan impact breaker .............................................................................
4.3.1. Pelumasan ......................................................................................
4.3.2. Pemeriksaan susunan breaker ........................................................
4.3.3. Pengangkatan breaker ....................................................................
4.3.4. Menghindari penimbunan keluaran .................................................
4.3.5. Memisahkan potongan batu yang besar .........................................
4.3.6. Mengatur penembusan feed ...........................................................
4.3.7. Menjaga feed tersebar merata ........................................................
4.3.8. Menjaga feed untuk double impeller unit berada di tengah .............
4.4. Perawatan hammermill dan impactmill ..........................................................
4.4.1. Pelumasan ......................................................................................
4.4.2. Pemeriksaan susunan breaker ........................................................
4.4.3. Perawatan hammermill ....................................................................
4.5. Perawatan cone crusher ................................................................................
4.5.1. Pelumasan .......................................................................................
4.5.2. Perawatan mingguan ......................................................................
4.5.3. Perawatan setiap setengah bulan ...................................................
ii
4.5.4 Perawatan bulanan ..........................................................................

Lampiran A Mengatasi gangguan (trouble shooting) ..................................................


Lampiran B Bibiliografi ...............................................................................................

Daftar Tabel

Tabel 1. Pelumasan roll crusher ………………….......................................................


Tabel 2. Tabel tekanan ban.........................................................................................
Tabel 3. Tabel pelumasan jaw crusher.......................................................................
Tabel 4. Instruksi pelumasan untuk jaw crusher…………………………………………
Tabel 5. Tabel pelumasan impact breaker..................................................................
Tabel 6. Tabel pelumasan hammermill dan impactmill...............................................

iii
Pendahuluan

Manual pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Cruisher), merupakan acuan teknis
bagi para pemilik/pengelola, pengguna dan operator Peralatan tersebut guna mengetahui
kelaikan sebelum peralatan tersebut dioperasikan.

Manual ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan berkaitan dengan peralatan yang
digunakan untuk memproduksi agregat agar mendapatkan suatu lmaterial agregat sesuai
dengan persyaratan.

Untuk memudahkan dalam pemahaman terhadap manual ini telah disusun menjadi 3 (tiga)
seri buku yaitu :
1. Fungsi dan cara kerja pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher).
2. Pemeriksaan kelaikan operasi pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher)
3. Perawatan peralatan pemecah batu (Stone Crusher).

Buku 1 : Fungsi dan cara kerja pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher),
diuraikan mengenai fungsi dan cara kerja dari setiap tipe peralatan pemecah batu (stone
Cruisher) serta seluruh komponen pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher)
serta persyaratan teknis yang harus dimiliki.

Buku 2 : Pemeriksaan kelaikan operasi pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone


Crusher) diuraikan mengenai tahapan-tahapan pemeriksaan yaitu mulai dari tahap
Pemeriksaan tahap I adalah pemeriksaan komponen Pemeriksaan peralatan pemecah batu
(Stone Crusher) dengan kondisi tidak hidup, sedangkan pemeriksaan tahap II adalah
pemeriksaan komponen Pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher) dengan
kondisi dihidupkan. Sedangkan pemeriksaan tahap III adalah pemeriksaan kelaikan operasi
Pemeriksaan peralatan pemecah batu (Stone Crusher) dalam kondisi produksi (beroperasi).

Buku 3 : Perawatan peralatan pemecah batu (Stone Crusher) diuraikan tahap perawatan
seluruh komponen peralatan pemecah batu (Stone Cruisher), yang dilengkapi dengan cara
mengatasi gangguan (Trouble Shooting) yang meliputi permasalahan, penyebab dan cara
mengatasinya.

iv
Manual pemeriksaan peralatan pemecah batu
(Stone crusher)
Perawatan peralatan

1 Ruang lingkup
Manual ini menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan perawatan peralatan pemecah batu
(Stone Cruisher) yang dilengkapi dengan cara mengatasi gangguan (trouble shooting) yang
meliputi permasalahan, penyebab dan cara mengatasinya guna menjaga agar peralatan
selalu dalam kondisi baik dan laik operasi untuk menghasilkan produk material agregat yang
memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan.

2 Acuan normatif
American Association Of State Highway And Transportation Officials (AASTHO), AASTHO
Materials, Part I Specification, 13th Edition, 1982.
American Association Of State Highway And Transportation Officials (AASTHO), AASTHO
Materials, Part II Test, 13th Edition, 1982.
Ir. Jac Sttolk – Ir. C. Kros,1986, Elemen Bangunan Mesin, Erlangga.
Kurimoto Iron Work, LTD, Hydraulic Cone Crusher, Operation Manual, Osaka – Japan, 26
April 1990
Nakayama Cone Crusher.
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Petunjuk Pemeriksaan
Peralatan Peralatan Pemecah Batu atau Stone Crusher, Peralatan No. 031/T/BM/1996, Maret
1996

3. Istilah dan definisi

3.1
stone crusher
adalah peralatan pemecah batu untuk menghasilkan batu pecah berukuran kecil atau
agregat.

3.2
feeder
bagian atau komponen tempat batu yang akan dipecah dituangkan ke dalam pemecah

1
3.3
jaw
bagian atau komponen dari pemecah batu yag berhubungan langsung dengan batu yang
dipecah, disebut juga rahang

3.4
conveyor
ban berjalan yang memindahkan batu hasil pecahan.

3.5
screen
ayakan yang akan memisah-misah batu pecah ke dalam beberapa kelompok ukuran.

3.6
stock pile
tumpukan batu pecah atau agregat hasil dari peralatan pemecah batu.

4. Perawatan peralatan pemecah batu (stone cruiser)


4.1. Perawatan roll crusher
4.1.1. Pelumasan
Pelumasan roll crusher yang benar adalah sebuah perawatan yang mutlak dibutuhkan dan
tidak boleh diabaikan. Salinan perintah pelumasan harus di simpan dalam bungkus
transparan dan ditempatkan di rumah persediaan pelumas untuk referensi.

2
Tabel 1 Pelumasan roll crusher
Bagian Frekwensi dan Metode Pelumas yang disarankan
Main drive gear case (ju ga Pertahankan ketersediaan Di atas 320 : Crater 0
finger gear case jika ada) oli setinggi sumbat. Jaga
Di bawah 320 : Crater 00
lubang pernapasan tetap
bersih untuk aliran udara.
Setiap 1.000 jam pindahkan
tutup aliran (drain plug)
ketika oli panas. Alirkan,
bilas dan isi lagi gear case
sampai level yang sesuai.
Countershaft housing (roller Setiap 48 jam operasi pindah Marfak 00
bearing) tutup (level plug dan fill plug)
Isi dengan SAE 10 oil yang
ketika pelumas panas.
dipanasi 1500F. Jalankan
Tambahkan pelumas segar
crusher setidaknya 20 menit.
yang dipanasi sampai penuh.
Kemudian tutup kembali.
Setiap 1.000 jam pindahkan
tutup aliran (drain plug)
ketika oli panas. Alirkan dan
isi lagi sampai level yang
sesuai.
Roll shaft bearing dan Setiap 8 jam, atau Di atas 900F : Marfak 1
countershaft dust seal seperlunya, periksa seal
32-900F: Marfak 0
untuk grease yang terlihat.
0-320F: Marfak 00
dibawah 00: Regal AFB2
Snub bolt dan lock screw Sesering yang diperlukan, Marfak 0
grease untuk menghindari
berkarat.
Gas hydraulic cylinder Setiap bulan beri grease Marfak 0

Umumnya perakitan shaft bearing roll crusher menyertakan satu atau lebih oil seal. Penting
untuk mengetahui fungsi dari seal dan dipasang dengan benar pada saat overhaul.
Jika pemasangan seal tidak benar, dapat menghasilkan kegagalan bearing karena
pelumasan yang tidak tepat dan kehilangan perlindungan terhadap kotoran.

4.1.2. Pemeriksaan susunan crusher


Jaga crusher shaft tetap horisontal sehingga beban bearing seragam dan pendistribusian
pelumas benar. Metode terbaik adalah secara berkala letakkan spirit level vertikal terhadap
permukaan mesin flywheel. Betulkan keadaan yang tidak rata dengan segera.

4.1.3. Pengangkatan crusher


Ketika perlu untuk mengangkat crusher, ikatkan rantai hoist atau kabel hanya pada titik
angkat yang telah ditentukan oleh pabrik. Masalah serius dapat disebabkan oleh
penggunakan gaya angkat pada bagian yang lain dari crusher.
3
4.1.4. Ban karet penggerak untuk movable roll
Periksa tekanan ban sesering mungkin untuk memelihara pemompaan yang benar. Ketika
ada kehilangan tekanan berulang kali dan dicurigai ada kebocoran, temukan penyebabnya
dan segera betulkan.
Ban harus dijaga terpompa setiap saat selama operasi. Disebabkan oleh perbedaan jarak
antara roll shaft untuk menghasilkan ukuran partikel yang berbeda, tekanan ban harus
disetel setiap ada perubahan ukuran produk. Jika ban terlalu lunak, material keras yang
dihancurkan dapat tergelincir/slip. Sehingga terjadi kerusakan yang serius pada ban dengan
cepat karena panas gesekan. Jika ban terlalu keras dapat mengakibatkan pengelupasan
karet terjadi sebelum waktunya.
Prosedur pemompaan ban :
1. Atur bukaan keluaran crusher dan atur hopper liner ke roll.
2. Ukur jarak antar pusat roll shaft.
3. Gunakan tekanan ban yang disarankan pabrik.
4. Pompa setiap ban 4 – 5 Psi kurang dari tekanan operasi.
5. Operasikan crusher dengan beban.
Periksa tanda-tanda slip atau pengelupasan partikel karet. Pada saat dimatikan periksa
kembali tekanan ban. Panas gesekan selama operasi biasanya akan menaikkan tekanan
tiap ban 4 – 5 Psi. Pertahankan tekanan selalu sama untuk setiap ban, meskipun ada
perbedaan jarak antara roll shaft atas, roll shaft bawah dan fixed roll shaft (untuk three-roll
crusher).
Tabel 2. Tabel tekanan ban
Jarak pusat – pusat, inchi
Ukuran
Minimum Normal Maksimum
Crusher
15 psi 20 – 25 psi 30 psi
2416 22⅞ - 25¼ 25⅞
3018
28¾ - 30 30 - 32½ 32⅝
3025
3025 30¾ - 32 32 – 34
3030 28¾ - 30 30 – 32½ 32⅝
3136 28¾ - 30 30 - 33¼ 33½
4026 37¾ - 39½ 39½ - 42 42½
4130 38½ - 40 40 – 44 44¼
4132 38½ - 40 40 – 44 44¼
4136 38½ - 40 40 – 44 44¼
5530 53 – 54 54 – 58 58 – 59¼

4
4.1.5. Kecepatan feed
Operasi crusher paling effisien terjadi ketika ukuran partikel sesuai dan seragam serta
kecepatan feed menjaga daerah penghancuran terisi pada sudut jepit, melintang selebar roll.
Feed yang terlalu banyak hanya meningkatkan sentuhan permukaan antara kulit roll (roll
shell) dan material, yang menghasilkan pemakaian shell yang tidak perlu.

4.1.6. Ukuran partikel feed


Tumpukan material yang berlebih di feed hopper mungkin karena kecepatan feed yang
terlalu banyak atau bisa juga karena ukuran feed terlalu besar. Jika ukuran partikel terlalu
besar, material yang ada di atas sudut jepit tidak terkena gaya hancur sampai kumpulan
berat material di atas mendorongnya berada di antara roll.
Ketika feed terhenti, material di dalam hopper harus dikosongkan. Jika masih ada dalam
jumlah besar, kurangi ukuran parikel feed atau ganti roll shell bermanik (beaded) atau
dengan jenis lain yang mampu menangani ukuran yang lebih besar.

4.1.7. Penyebaran material pada roll


Jika feed pada roll crusher memusatkan material ke salah satu bagian dari lebar roll, shell
akan dipakai lebih cepat pada wilayah tersebut. Hasilnya adalah dua kulit roll cekung yang
akan sulit untuk memperbaiki dan sulit untuk mengatur ukuran produk yang tepat. Spreader
bar di tengah crusher hopper mengalihkan material ke arah akhir roll untuk menghindari
pemusatan penghancuran di tengah. Operator harus memeriksa secara berkala penyebaran
feed untuk menghindari pemakaian yang terpusat. Beberapa crusher hopper dilengkapi
dengan adjustable deflector plate yang dapat disetel untuk menghasilkan beragam derajat
pembelokan material untuk menjaga distribusi feed dan pemakaian roll shell yang seragam.

4.1.8. Pemeriksaan terhadap hubungan antar roll


Sebelum menjalankan roll crusher setelah mengubah setelan roll atau perbaikan roll shell
selesai dilakukan, jalankan kemudi pelan-pelan dan periksa dengan hati-hati adanya
hubungan langsung antar permukaan roll. Jika digunakan beaded roll shell, pastikan jarak
antar manik (bead) yang berhadapan langsung sedikitnya 1/16 inchi. Hubungan langsung
antar roll dapat menyebabkan tekanan getar yang keras.

4.1.9. Menjaga kekencangan tekanan pegas (spring)


Pegas yang menjaga tekanan pada roll bergerak untuk menghasilkan penghancuran harus
dijaga tetap kencang untuk menghindari gerakan yang terlalu banyak pada roll. Gerakan roll
yang terlalu banyak atau disebut chatter menghasilkan pemakaian bearing block dan slide
bar yang cepat aus. Kecenderungan ini paling besar ketika menghancurkan material ukuran
¾ inchi dan yang lebih kecil. Roll chatter juga menunjukkan effisiensi penghancuran yang
rendah, dengan dihasilkan material yang melebihi ukuran (oversize) terlalu banyak.

4.2. Perawatan jaw crusher


4.2.1. Pelumasan
Pelumasan jaw crusher yang benar adalah sebuah perawatan yang mutlak dibutuhkan dan
tidak boleh diabaikan. Salinan perintah pelumasan harus di simpan dalam bungkus
transparan dan ditempatkan di rumah persediaan pelumas untuk referensi setiap saat.

5
Tabel 3. Tabel pelumasan jaw crusher
Bagian Instruksi Pelumas yang disarankan
Pitman bearing Setiap 48 jam periksa seal. Di atas 900F : Marfak 1
Lumasi dengan grease 9 oz
32 – 900F : Marfak 0
pada tiap sisi bearing dan 18
0
oz dalam pitman Di bawah 32 F: Marfak 00
menggunakan pressure gun
injection.
Toggle plate, Tension rod Setiap 48 jam beri pelumas. Regal Oil E ( R & O )
thread, Tension rod pin, Adj.
rod thread (jika digunakan),
Adj. sprocket (jika
digunakan), Adj. chain (jika
digunakan)
Adjusting mechanis Lumasi saat pemasangan Marfak 0
Drain plug Setiap 1.000 jam : alirkan, Bilas dengan SAE 10 oil; isi
bilas dan isi dengan pelumas dengan pelumas yang
panas. sesuai.
Level plug (jika dipakai) Level plug tersedia di dalam
pitman dan bearing samping
yang digunakan untuk
memeriksa secara visual
level pelumas.

Tabel 4. Instruksi pelumasan untuk jaw crusher


Kapasitas grease bearing, pt atau lb
Ukuran crusher
Side bearing Pitman bearing
1016,1020,1024 3 8
1036,1236,1524,1824 5 10
1536,1836,2236 8 15
2225 8 12
1242 8 20
2540 10 20
2436 12 20
1648 10 25
3040,3242,2248 12 25
4248 16 16 (tiap bearing)
tambahan 20% setelah overhaul

6
4.2.2. Pemeriksaan susunan crusher
Jaga crusher shaft tetap horisontal sehingga beban bearing seragam dan pelumas
terdistribusi dengan benar. Secara berkala letakkan spirit level vertikal terhadap permukaan
mesin flywheel untuk memeriksa kerataan mesin. Betulkan keadaan yang tidak rata dengan
segera.

4.2.3. Pengangkatan crusher


Ketika perlu untuk mengangkat crusher, ikatkan rantai hoist dan kabel hanya pada titik
angkat yang telah ditentukan oleh pabrik. Jangan pernah melilitkan rantai atau kabel
disekitar pitman shaft untuk mengangkat dasarnya.

4.2.4. Pengangkatan pasangan pitman


Pemasangan pitman dengan bearing, dan dengan atau tanpa movable jaw dan flywhell,
dapat diangkat dari crusher dengan mengikatkan rantai hoist pada pitman shaft.

4.2.5. Menjaga kekencangan stationary jaw


Jika crusher ditinggalkan untuk beroperasi dengan stationary jaw yang kendor, maka jaw
akan dipakai terlalu banyak dan kapasitas crusher berkurang. Kebanyakan crusher
stationary jaw dijepit pada dasar dengan key plate. Setelah 100 jam operasi baut dari key
plate tersebut harus dikendorkan dan key plate diturunkan sehingga kekencangan stationary
jaw terjaga. Baut dari key plate harus selalu kencang setiap saat.

4.2.6. Pemutaran stationary jaw agar pemakaiannya seragam


Stastionary jaw harus diputar secara berkala agar umur dari bagian yang vital ini maksimum.
Selisih waktu pemutaran akan bervariasi sesuai dengan kekerasan dan kualitas abrasive
dari material yang dihancurkan. Stationary jaw biasanya dipakai lebih cepat dan butuh lebih
sering diputar untuk keseimbangan jaw dari pada movable jaw. Setiap kali jaw diputar,
permukaan dan dasar jaw harus benar-benar bersih dari partikel material yang dapat
menahan jaw dari kedudukan yang benar dan menghasilkan kekencangan yang salah.

4.2.7. Penggantian stationary jaw dan movable jaw


Effisiensi penghancuran dari jaw biasanya tergantung pada kedalaman gigi, celah, atau
pengerutan. Karena terpakai, titik yang tinggi berkurang dan effisiensi pemecahan material
berkurang. Material antara jaw terangkat oleh gaya tekan naik dari penghancuran. Bisa jadi
material tersusun padat dan tidak terangkat, dan gaya yang besar mendesak pada bearing,
shaft, toggle plate, dan base. Kegagalan dari bagian ini dapat dihindari dengan penggantian
jaw yang sudah terpakai, sebelum effisiensi penghancurannya mencapai 50 %. Stationary
jaw menyerap pemakaian lebih dari pada movable jaw dan biasanya memerlukan lebih
sering pemutaran dan penggantian.

4.2.8. Penggantian key plate


Key plate merupakan bagian samping crusher dan menahan stationary jaw tetap kencang
pada tempatnya terkikis material dan akan habis. Ganti key plate segera jika ada tanda
berlobang. Jangan biarkan material mengenai sisi dasar plate melalui lobang pada key plate.
Key plate bawah akan terpakai lebih cepat dari pada yang key plate atas.

7
4.2.9. Menjaga kekencangan movable jaw wedge
Wedge yang mengkelem movable jaw terhadap pitman harus selalu kencang untuk
menghindari movable jaw kendor. Jaw yang kendor akan terpakai lebih cepat dari normal
dan mengurangi kapasitas crusher.

4.2.10. Penggantian toggle plate


Toggle plate yang menahan movable jaw bagian bawah mempunyai dua bulatan atau bola
yang berporos dalam toogle set. Toogle plate harus diganti ketika setengah dari diameter
bola sudah terpakai. Toggle plate yang lebih tajam akan habis terpakai lebih cepat. Ketika
mengganti toggle plate harus tepat disisipkan ditengah-tengah lebar pitman. Pelumasan dari
tiap ujung toggle plate akan memperpanjang umur toggle plate.

4.2.11. Menjaga kekencangan tegangan pegas toggle plate


Tegangan yang menahan kekencangan pitman terhadap toggle plate harus selalu punya
tegangan pegas yang kuat. Pegas yang dipasang harus tertekan ⅓ - ½ dari panjangnya
ketika baru. Pegas yang lama mungkin perlu pengencangan sampai ¾ atau hampir tertekan
seluruh panjangnya. Pemasangan tegangan yang kendor dapat dideteksi dengan terdengar
suara bising saat crusher dijalankan kosong. Akibat pemukulan terus-menerus akan
menghasilkan sisipan dan tempat toggle plate lebih cepat aus atau rusak.

4.2.12. Menjaga kebersihan crusher discharge


Material yang dikeluarkan dari jaw crusher harus dipindah dengan cepat untuk menghindari
timbunan di bawah ruang penghancuran mencapai pitman. Dasar pitman dapat cepat habis
jika tergosok material keluaran. Lakukan pemeriksaan hal ini secara berkala.

4.2.13. Menjaga kondisi hydraulic pump dan ram


Periksa secara berkala pipa-pipa hidrolik terhadap keretakan dan kikisan. Jika pump atau
ram bocor atau effisiensinya rendah, ganti bungkus dan seal untuk menghasilkan operasi
yang bagus.

4.2.14. Menjaga kekencangan toggle seat wedge


Beberapa crusher dilengkapi dengan pasak (wedge) di ujung toogle seat untuk menjaga seat
tetap kencang. Wedge bawah disetiap ujungnya ada baut untuk mengatur kekencangan
wedge. Baut tersebut harus dikendorkan setiap toogle seat dipindah untuk mengubah
discharge opening (ukuran produk). Jaga baut tetap kencang selalu selama operasi untuk
menghindari toggle seat kendor.

4.3. Perawatan impact breaker


4.3.1. Pelumasan
Pelumasan yang benar pada impeller shaft bearing adalah sebuah perawatan yang tidak
boleh diabaikan. Salinan perintah pelumasan harus di simpan dalam bungkus transparan
dan ditempatkan di rumah persediaan pelumas untuk referensi setiap saat.

8
Tabel 5. Tabel pelumasan impact breaker
Bagian Instruksi Pelumas yang disarankan
Bearing Setiap 48 jam : beri grease pada Regal AFB 2
setiap bearing. Biasanya 4 – 6
pemompaan pelumas dari grease
gun pada tiap bearing.
Drain plug Setiap 1000 jam : alirkan keluar dan Bilas : Texaco Rando AA Oli
bilas, kemudian isi lagi dengan
pelumas yang sesuai.

4.3.2. Pemeriksaan susunan breaker


Jaga breaker shaft tetap horisontal sehingga beban bearing seragam dan pelumas
terdistribusi dengan benar. Secara berkala letakkan spirit level vertikal terhadap permukaan
mesin driven pulley pada impeller shaft. Betulkan keadaan yang tidak rata dengan segera.

4.3.3. Pengangkatan breaker


Ketika perlu untuk mengangkat dasar breaker, ikatkan rantai hoist dan kabel hanya pada titik
angkat yang telah ditentukan oleh pabrik. Jangan pernah melilitkan rantai atau kabel
disekitar impeller shaft untuk mengangkat dasarnya. Impeller sendiri dapat diangkat dengan
memasang rantai atau kabel disekitar shaft yang dekat dengan body impeller.

4.3.4. Menghindari penimbunan keluaran


Periksa conveyor di bawah breaker secara berkala untuk meyakinkan tidak adanya
penimbunan batu pecah yang kembali ke impeller bar. Hal ini dengan mudah dapat
meyebabkan kemacetan dari breaker.

4.3.5. Memisahkan potongan batu yang besar


Jangan menambahkan potongan batu yang besar ke ruang penghancuran ketika sebagian
masih diisi dengan potongan yang lebih kecil. Semua material yang sudah dimasukkan ke
dalam breaker mengembang (karena ruang antara pecahan). Potongan yang besar
memerlukan ruang yang cukup memadai untuk mengembang.

4.3.6. Mengatur penembusan feed


Jika permukaan bar atau impeller mulai terkikis, kurangi kecepatan pasokan ke dalam ruang
penghancur (bukan volume). Kecepatan harus minimum agar masukan ke ruang
penghancuran dapat memuaskan.

4.3.7. Menjaga feed tersebar merata


Atur cara pemasokan agar material tersebar selebar ruang penghancur, sehingga
pemakaian impeller bar dapat merata. Pengumpulan material pada satu area akan
menyebabkan pemakaian bar tidak merata, dan kemampuan output dari breaker tidak dapat
tercapai.

9
4.3.8. Menjaga feed untuk double-impeller unit berada di tengah
Untuk impact breaker jenis double-impeller, feed harus diatur agar batu jatuh diantara dua
impeller yang berputar dan tersebar selebar ruang penghancuran, sehingga seluruh impeller
bar terpakai merata. Jika batu diarahkan pada salah satu impeller atau terpusat di salah satu
sisi ruang, pemakaian jelas tidak merata dan merupakan indikasi bahwa kemampuan
maksimum ouput breaker tidak tercapai.

4.4. Perawatan hammermill dan impactmill


4.4.1. Pelumasan
Pelumasan yang benar pada hammermill adalah sebuah perawatan vital yang tidak boleh
diabaikan. Salinan perintah pelumasan harus di simpan dalam bungkus transparan dan
ditempatkan di rumah persediaan pelumas untuk referensi setiap saat.
Tabel 6. Tabel Pelumasan Hammermill Dan Impactmill
Bagian Instruksi Pelumas yang disarankan
Bearing housing Periksa setiap hari, beri grease jika Di atas 900F : Marfak 1
grease fitting perlu. Biasanya 10 pemompaan
32 – 900F : Marfak 0
pelumas dari grease gun pada tiap
bearing. 0 – 320F : Marfak 00
Di bawah 320F: Regal AFB2
Bearing housing Setiap 1.000 jam : alirkan keluar Bilas : Texaco Rando AA Oil
grease fitting dan dan bilas, kemudian isi lagi dengan
drain plug pelumas yang sesuai

4.4.2. Pemeriksaan susunan breaker


Jaga shaft spinner tetap horisontal sehingga beban bearing seragam dan pelumas
terdistribusi dengan benar. Secara berkala letakkan spirit level vertikal terhadap permukaan
mesin driven pulley. Betulkan keadaan yang tidak rata dengan segera.

4.4.3. Perawatan hammermill


Untuk mendapatkan operasi hammermill yang maksimal, disarankan operator melakukan
pemeriksaan, pelumasan, penyetelan dan perbaikan berkala. Selang waktunya beragam
berdasarkan jenis batu, keseragaman, dan kelembabannya.
Selama operasi harian operator harus memeriksa secara visual, suara atau tanda-tanda
operasi yang tidak normal yang nantinya dapat menimbulkan masalah jika tidak diperbaiki,
yaitu :
- Bearing. Periksa apakah terjadi panas berlebihan, jangan mengoperasikan hammermill
jika bearing terlalu panas.
- Getaran. Sejumlah getaran yang tidak normal harus diperiksa dan dibenarkan sebelum
merusakkan frame atau bearing.
- Grate pin. Setiap 8 atau 10 jam grate pin harus digerakkan ke body untuk
mengencangkan grate dan kemudian dikunci dengan setscrew. Tetapi jika hammermill
dilengkapi dengan grate bukaan kecil untuk menghasilkan produk yang halus dalam

10
prosentase besar, grate pin jangan digunakan karena akan memberikan ruang antara
grate pertama dan body dimana material yang besar dapat keluar sebelum dihancurkan.
- Baut (bolt). Periksa dan kencangkan semua baut dan sekrup.
- Hammer tip. Periksa pemakaian hammer tip, untuk merawat efisiensi operasi dan gradasi
posisi hammer harus diubah jika sudah terpakai.
- Breaker plate. Periksa pemakaian brake plate, terutama bagian bawah. Balik jika sudah
terpakai atau ganti jika kedua bagiannya sudah habis terpakai.
- Liner. Periksa pemakaian liner dan kencangkan baut liner. Ganti liner sebelum habis
terpakai seluruhnya yang bisa menyebabkan kerusakan hammermill body.
- Grate. Periksa pemakaian grate dan ganti jika sudah terpakai. Grate merupakan salah
satu faktor penentu gradasi produk.
-
4.5. Perawatan cone crusher
4.5.1. Pelumasan
Hal yang paling penting dari pelumas bearing adalah viskositas oli. Viskositas oli harus
cukup untuk menopang beban selama operasi. Selain itu harus dipilih pelumas yang sesuai
dengan temperatur bearing selama operasi.

4.5.2. Perawatan mingguan


1. Pelumasan pada spherical bearing, tambahkan grease kira-kira 100 cc.
2. Pembersihan counter shaft bearing, perhatikan material mentah yang berlumpur.
3. Bersihkan filter pada oil feeding unit.
4. Bersihkan tangki oil feeding unit dari kotoran yang ada.

4.5.3. Perawatan setiap setengah bulan


Lakukan pemutaran pada bowl liner setiap setengah bulan sekali.

4.5.4. Perawatan bulanan


1. Beri pelumas pada thrust bearing part.
2. Pemeriksaan dust sealring. Jika sudah terpakai sekitar 3 – 4 mm maka perlu diganti.
3. Penggantian oli pada oil feeding unit.

11
LAMPIRAN A
(Informatif)
Mengatasi gangguan (trouble shooting)

1. Roll crusher
1.1 Kapasitas rendah
a. Kecepatan roll tidak benar.
Mungkin karena tenaga penggerak kurang atau belt slip. Tentukan penyebabnya dan
betulkan.
b. Roll shell dipakai terlalu banyak.
Di dalam rangkaian tertutup, material oversize bersirkulasi terlalu banyak. Perbaiki
shell atau ganti.
c. Discharge opening tidak benar.
Atur roll lebih dekat bersama-sama jika tidak produksi yang halus akan terlalu besar.
d. Feed ke crusher tidak teratur.
Tentukan penyebabnya dan betulkan masalahnya.
e. Feed material terlalu besar (oversize).
Feed hopper mengisi penuh ketika roll tidak dapat menerima partikel yang lebih besar.
Ganti screen untuk mengurangi bukaan sehingga ukuran maksimum yang dilewatkan
lebih kecil.

1.2 Bearing kepanasan


a. Pelumasan tidak benar karena satu atau lebih hal-hal berikut :
- Pelumas teralalu banyak
- Pelumas tidak cukup
- Pelumas kotor. Bearing harus dikeluarkan dan dilumasi lagi.
- Pelumas yang tidak cocok.
b. Pengoperasian di atas kecepatan roll yang disarankan.
c. Bearing mulai aus.
d. Mesin tidak rata.

1.3 Pemakaian roll shell berlebihan (aus)


a. Pengoperasian di atas kecepatan roll yang disarankan.
b. Pengoperasian dengan level material pada hopper di atas sudut jepit.
c. Pengelasan atau prosedur yang digunakan untuk membuat shell yang tidak benar.
d. Material sangat abrasive.
e. Shell tidak asli buatan pabrik.

12
2 Jaw crusher
2.1 Kapasitas rendah
a. Arah putaran tidak benar.
b. Stationary jaw kendor.
c. Kecepatan tidak benar.
d. Jaw terpakai terlalu banyak (aus).
e. Usaha memberikan material mentah lebih besar dari pada ruang penghancuran.
f. Toggle plate tidak sesuai dengan ukuran bukaan keluaran crusher.
g. Material mentah kurang/tidak ada atau pengisisan crusher tidak menentu.
h. Power tidak cukup atau V-belt selip.

2.2 Bearing kepanasan


a. Pelumas terlalu banyak atau pelumas kurang banyak.
b. Pelumas kotor.
c. Pelumas yang salah.
d. Operasi lebih cepat dari yang disarankan.
e. Mesin tidak rata.
f. Side bearing outer seal dan flinger tidak berputar dengan shaft.
g. Kebersihan radius antara side bearing outer seal kurang.
h. Toggle plate tidak didudukkan dengan benar.
i. Kegagalan bearing.
j. Movable jaw menggesek dasar atau key plate.
k. Bearing terkena percikan mesin las listrik.
l. Ledakan batu besar di dalam crusher.

2.3 Pemakaian jaw berlebihan (aus)


a. Stationary jaw kendor.
b. Menutup crusher di bawah discharge opening yang disarankan.
c. Operasi lebih cepat dari yang disarankan.
d. Tidak menggunakan jaw yang asli buatan pabrik.
e. Material yang sangat abrasive.

2.4 Penyetelan crusher discharge opening susah


a. Tegangan pegas tidak dilepaskan.
b. Penyangganya tidak dikendorkan.

13
3 Impact breaker
3.1 Pemakaian impeller bar berlebihan (aus)
a. Pasokan material tidak benar.
b. Material sangat abrasive.
c. Kecepatan impeller tidak benar.
d. Pengelasan tidak sesuai.

3.2 Kapasitas rendah


a. Impeller bar terpakai berlebihan (aus).
b. Kecepatan impeller tidak benar.
c. Breaker bar terlalu dekat dengan impeller bar.
d. Pasokan material tidak benar.

3.3 Frame pecah/patah


a. Breaker tidak rata.
b. Frame tidak tersangga dengan benar.
c. Impeller bar terpakai berlebihan (aus).

3.4 Getaran (vibration)


a. Impeller bar tidak pada berat yang telah ditentukan masing-masing.
b. Pemasangan bearing kendor.
c. Sheave tidak seimbang.
d. Bearing gagal.

3.5 Pengaman shearing horizontal lepas


a. Pemasangan diameter shear bolt tidak benar.
b. Shear block adapter habis terpakai (aus) atau rusak.
c. Ada besi di dalam crusher.

4 Hammermil
4.1 Pemakaian hammer berlebihan
a. Pasokan material tidak benar.
b. Kecepatan tidak benar.
c. Kombinasi grate tidak benar.
d. Posisi hammer tidak benar.
e. Material sangat abrasiv.
f. Tidak menggunakan komponen yang sesuai dengan spesifikasi.

14
4.2 Kapasitas rendah
a. Hammer atau grate terpakai berlebihan (aus).
b. Kecepatan tidak benar.
c. Grate terlalu dekat ke hammer.
d. Power tidak cukup atau V-belt slip.
e. Pasokan material tidak benar.

4.3 Bearing terlalu panas


a. Pelumas terlalu banyak.
b. Pelumas kurang.
c. Pelumas kotor.
d. Salah pelumas.
e. Operasi di atas RPM yang disarankan.
f. Mesin tidak rata.
g. Outer bearing grease seal tidak berputar dengan shaft.
h. Jarak antara bearing cap dan outer grease seal kurang
i. Bearing gagal.
j. Bearing terkena percikan mesin las.

5 Cone crusher
5.1 Crusher body
5.1.1 Produk berukuran besar tidak pecah
a. Pemakaian mantle dan bowl liner. Lakukan kalibrasi titik-nol.
b. Terjadi deviasi pemakaian bowl liner. Lakukan pemutaran bowl liner setiap setengah
bulan sekali.
c. Terjadi beban lebih (overload).
d. Mengenai benda yang tidak bisa pecah. Keluarkan benda tersebut.

5.1.2 Crushing head tidak turun


Ada dua cara untuk menurunkan crushing head, yaitu :
a. Gunakan jack antara spherical bearing dari frame atas dan mur pengunci (lock nut)
mantle.
b. Dengan cara memukul fitting wedge setelah melepas tutup yang ada di tengah luar
upper frame.

5.1.3 Crushing head berosilasi naik-turun


Ada udara yang menggangu pressure oil yang menyangga crushing head dan berada
dibawah permukaan piston. Ini terjadi karena pompa mengisap udara ketika crushing head

15
terangkat terdapat kebocoran oli di tangki oli pada oil feeding unit. Tambahkan oli ke dalam
tangki pada saat crushing head berada di bawah dan keluarkan udaranya.

5.1.4 Thrust bearing hangus


Ini memerlukan overhaul frictional surface dan mengganti thrust bearing. Dengan pemberian
grease setiap bulan, hal ini tidak akan terjadi tidak. Grease lama harus diganti.

5.1.5 Mantle mulai bergerak dengan cepat


Eksentrik bush hangus pada suhu tinggi dalam main shaft bearing.

5.1.6 Timbul puing metal kasar pada filter oil feeding unit
Bearing bawah hangus, perbaiki atau ganti bearing tergantung pada tingkat kerusakannnya.

5.1.7 Kebocoran oli pada silinder


V packing pada piston sudah habis terpakai. Ganti V packing.

5.1.8 Counter shaft bearing terlalu panas


Dapat terjadi karena :
- Minyak pelumas terlalu banyak.
- Minyak pelumas kurang.
- Bearing rusak.

5.1.9 Suara aneh ketika operasi


Terjadi kerusakan pada bearing dari counter shaft atau pada gear. Ganti bearing dan gear
harus diperbaiki atau diganti.

5.1.10 V-belt slip atau putus


Tentukan dengan tepat pusat dari V-pulley dan ganti V-belt jika sudah rusak dengan ukuran
yang sesuai.

5.1.11 Motor utama berhenti


Hal ini dapat disebabkan karena :
a. Terjadi arus beban lebih
b. Terjadi over load
c. Motor oil feeding unit berhenti

5.1.12 Dust seal ring habis terpakai (aus)


Ganti segera dengan yang baru untuk menghalangi kotoran.

16
5.1.13 Suspension bolt dari bowl liner patah
Dapat terjadi karena kendornya permukaan fitting pada taper antara bowl liner dan frame
atas.

5.2 Hydraulic Unit


- Crushing head bergerak ke atas sangat lambat. Berkurangnya volume oli ke dalam
crusher.
- Terjadi masalah pada solenoid valve, menyebabkan crushing head tidak mau turun
atau tidak mau naik.
- Masalah pada hydraulic pressure switch, menyebabkan crushing head tidak mau turun.
- Masalah pada pressure gauge hand. Biasanya terjadi karena keran udara lupa ditutup
kembali pada saat terjadi osilasi

5.3 Oil Feeding Unit


- Perbedaan antara dua pressure gauge lebih besar dari biasanya. Terjadi penyumbatan
pada lubang filter
- Aliran dan tekanan oli berkurang. Terjadi pengikisan pada gear pump.
- Temperatur oli tinggi. Bagian bearing bawah hangus.
- Pengaruh oli pendingin berkurang.
- Gear pump bersuara aneh. Oli bersuhu rendah dan viskositas tinggi dapat
menimbulkan suara, tapi seiring dengan kenaikan suhu maka suara berkurang. Atau
dapat pula karena gear pump yang sudah rusak.
- Pressure gauge hand mulai rusak.

17
LAMPIRAN B
(Informatif)

Bibliografi

1. American Association Of State Highway And Transportation Officials (AASTHO),


AASTHO Materials, Part I Specification, 13th Edition, 1982.
2. American Association Of State Highway And Transportation Officials (AASTHO),
AASTHO Materials, Part II Test, 13th Edition, 1982.
3. Ir. Jac Sttolk – Ir. C. Kros,1986, Elemen Bangunan Mesin, Erlangga.
4. Kurimoto Iron Work, LTD, Hydraulic Cone Crusher, Operation Manual, Osaka – Japan,
26 April 1990
5. Kurimoto Iron Work, LTD, Crushing Equipment Manitenance, Osaka – Japan, 26 April
1990
6. Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Petunjuk Pemeriksaan
Peralatan Pemecah Batu (Stone Crusher), Peralatan No. 030/T/BM/1996, Maret 1996.
7. Departemen Pemukiman Dan Prasarana Wilayah, Spesifikasi Jalan Dan Jembatan,
2002.
8. Tim Kerja Quesioner Kunjungan Kerja Di Tempat Operasional Alat, 2004
9. Cedarapids, Crushing Equipment Maintenance.
10. Nakayama Cone Crusher.

18