Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TAFSIR TAHLILI JUZ 1-5

SURAH AL-FATIHAH

Dosen pengampu: Dr. Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah

Disusun oleh:
Moh. Shidqi Fahriansyah Ath-thamumy
Faruq Azri

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QUR’AN

JAKARTA

TAHUN AJARAN : 2018-2019 M.


A. Pendahuluan
Al-fatihah merupakan surah pembuka dalam Al-Qur’an, maka dari itu surah
tersebut dinamakan dengan surah al-Fatihah, karena fatihah berarti pembuka.
Banyak sekali nama atau julukan bagi surah ini, surah ini disebut-sebut sebagai
ummul Al-Qur’an atau induk Al-Qur’an, juga disebut sebagai as-Sab’ al-Matsani.
Dalam doa pun dianjurkan mengawali dan mengakhirinya dengan surah ini, hal
ini karena sesuai dengan hadist Nabi yang mengatakan bahwa sebaik-baiknya doa
yakni al-Hamdulillah, sedangkan al-Hamdulillah yang paling lengkap yakni berada
dalam surah al-Fatihah ini.
B. Pembahasan

‫سورة الفاتحة‬

‫)ح ما ِو ِم ال ِد ين هي نِعبِ يهاك‬3( ‫) ال ن ال هرحي م‬2( ‫) ا ل ِمدِ ا ِلعالِ ِمين‬1( ‫س ِم ا هِللِ ال هر ِن ال هرحي م‬
‫)ك ي ا دِك و ِإ‬4( ِ ‫ِم‬ ‫هررب‬ ‫حم ِللهِح‬
‫ل‬
(7( ‫ِ ِل ِن‬ ‫ِ ِر ا ِل ضوب ي‬ ‫ي‬ ‫ا ِل ِقي ِم صرا ِذين أِ ِنع‬ ‫ستِ ِعي اه ِد ن‬
‫ِا الن‬
‫الو ضا ِل ي‬ ‫ِه‬ ‫ِغ‬
‫ِم غ‬ ‫ه‬ِ ‫ِمتط اله‬ ِ‫س)ت‬6( ‫ط‬‫م‬
ِ ‫را‬ ‫ص‬)5(
‫ِم‬ ‫ِي‬ ‫م‬
ِ
ِ‫عل‬ ِ‫عل‬

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 2.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Yang menguasai di Hari Pembalasan 5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan
hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. 6. Tunjukilah kami jalan yang
lurus, 7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka,
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

1. Makna ayat:
a. ‫ الرحمن الرحيم‬: akar katanya yakni ‫ رحم‬: yang maha murah lagi maha
penyayang.1
b. ‫ ا ِل ِعالِ ِمي ِن‬: diambil ِ‫ عال‬: duniawi atau yang meliputi seluruh dunia.2
dari kat ‫م‬
‫ما ك‬.c: diambil dari kata ‫ ( ِملِو و أمال ك )ج ال ك‬akar katanya ِ ‫ مل‬: asma
ِ ‫ِمل‬ ‫ك‬ yakni ِِ
‫ل‬ –‫ك‬
Allah, raja, pemilik.3
d. ِ‫ ِن ِعبِد‬: bentuk mudhori’ dari : beribadah, menyembah kepada.4
kata ِِ – ِ‫ع ِبد‬
1
1
Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir kamus Arab-Indonesia : surabaya, penerbit pustaka
progressif 1997 hal 483
2
Al-Munawwir, hal 966
3
Al-Munawwir, hal 1358
4
Al-Munawwir, hal 886

2
‫ِعن‬.e ِ‫ ن‬: bentuk mudhori’ dari ‫استِعا ِن‬, berasal dari ِ ِ‫ عا‬yang
‫ ي‬kata kata ِ‫ِن‬
ِ‫ست‬ –
ditambahi huruf ‫ است‬: meminta pertolongan.5
f. ‫ ا ِه ِدنِا‬: bentuk amr dari kata ‫ هدِي‬: memberi petunjuk.6
g : ‫ ِريق ِط ج‬: jalan atau lorong.7
‫راط‬.‫ص‬
‫ ر‬:‫ط‬
‫ص‬
‫ِمت‬.h‫ أِ ِن ِع‬: diambil ‫ نِ ِع ِم‬diikuti dengan kata ‫عليه‬
dari kata setelahnya :
menganugerahi.8
‫ضوب‬ ‫ ا ِل ِم ِغ‬: asal katanya ِ– : kemarahan, murka.9
i. yakni ‫غضب‬
:
‫ضا‬
j. ‫ين‬ ‫ ال‬: merupakan bentuk jamak isim fa’il dari kata ‫ ضل‬: yang sesat,
‫ِل‬
menyimpang10
2. Syarah tafsir:
a.‫س ِم ا هِللِ ال هرح ِمن ال هر ِحي ِم‬
Dalam ayat ini dimulai dengan huruf ba’ (dibaca bi) yang ketika
diartikan yakni menjadi dengan dalam kaidah bahasa. Beberapa ulama tafsir
ada yang berpendapat bahwa huruf ba’ tersebut memiliki makna bahwa kata
tersebut mengandung kata atau kalimat yang tidak terucap tetapi harus
terlintas dalam benak ketika mengucapkannya yakni kata “memulai”
sehingga makna bismillah yakni “saya atau kami memulai apa yang kami
kerjakan ini (membaca surah dalam konteks ayat ini) dengan nama Allah”.
Ada juga yang berpendapat bahwa huruf ba’ tersebut memiliki makna
“perintah” sehingga maksud dari bismillah yakni mulailah pekerjaanmu
dengan nama Allah”. Ada juga yang mengaitkannya dengan “kekuasaan”
maknanya secara sadar kita mengucapkan bahwa jika tidak dengan
kekuasaan-Nya niscaya pekerjaan yang kita kerjakan tidak akan berhasil.11
Hadist Nabi menyebutkan bahwa “setiap amalan penting yang tidak
dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim maka amalan tersebut cacat”.
Hadist diatas secara gamblang mengisyaratkan kepada kita bahwa untuk
memulai segala sesuatu mulailah dengan membaca basmalah. Hal seperti

5
Al-Munawwir, hal 988
3
6
Al-Munawwir, hal 1496
7
Al-Munawwir, hal 773
8
Al-Munawwir, hal 1438
9
Al-Munawwir, hal 1008
10
Al-Munawwir, hal 826
11
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah:pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an volume 1:
jakarta : lentera hati, 2009. Hal 15

4
sebenarnya sudah sejak awal Allah ajarkan kepada Nabi Muhammad SAW,
ini terbukti dari ayat yang pertama kali Allah turunkan untuk Nabi
Muhammad SAW yakni “iqra’ bismirabbika”, hal ini tidak untuk
mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa dalam mengerjakan
segala sesuatu mulailah dengan menyebut nama Tuhan.
Kata isim )‫ (اسم‬dalam ayat ini menurut para ulama tafsir mengatakan
bahwa merupakan penguat dari kata Allah dalam ayat tersebut, maka makna
harfiah dalam ayat tersebut tidak digunakan.
Penulisan kata bisim )‫ (بسم‬dalam basmalah tidak menggunakan alif
)‫ (باسم‬yang sesuai dengan penulisan baku seperti dalam surah Iqra’. Terkait
hal ini, para ulama berbeda pendapat. Al-Qurthubi berpendapat bahwa hal
ini karena hanya pertimbangan praktis saja, yakni untuk mempersingkat
tulisan saja. Az-zarkasyi mengungkapkan dalam kitabnya al-Burhan bahwa
tata cara penulisan Al-Qur’an memiliki rahasia-rahasia tertentu yang mana
rahasia-rahasia tersebut tidak terjangkau oleh pancaindra. Berbeda dengan
Razyad Khalifah (w. 1990 M) yang meyatakan bahwa tidak ditulisnya
dengan menggunakan alif, hal ini agar huruf dalam basmalah berjumlah
19, yang mana angka 19 dalam Al-Qur’an memiliki rahasia. Dalam Al-
Qur’an kata “isim”, “Allah”, “ar-Rahman”, “ar-Rahim” memiliki jumlah
yang dapat dibagi habis 19. Kata “isim” terdapat 19 kali pengulangan dalam
Al-Qur’an, dibagi sembilan menjadi habis, kata “Allah” terdapat 2698 kali
(2698 : 19 = 142), kata “ar-Rahman” 57 kali (57 : 19 = 3), kata ar-Rahim
114 kali (114 : 19 = 6). Maka jika kata bismi ditulis dengan menggunakan
alif, maka jumlah hurufnya akan menjadi 20 huruf, dan dengan jumlah
tersebut tidak akan pernah bisa hitungan tersebut terjadi.12
Terkait kata atau lafadz Allah sudah menjadi bahasan para ulama
apakah lafadz tersebut memiliki akar kata atau tidak? Beberapa ulama
berpendapat bahwa kata atau lafadz Allah tidak memiliki akar kata, ada juga
yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata ilah )‫ (اله‬yang
diberikan atau dibubuhi alif lam sehingga maknanya menjadi ma’rifat atau
sesuatu yang diketahui. Dalam hal ini maksudnya yakni Tuhan yang

12
Misbah 19

5
diketahui oleh manusia, karena hakekatnya manusia mengetahui Tuhan
yang sebenarnya, yang dibenarkan dalam kesaksiannya saat sebelum
dilahirkan ke bumi )‫(الست بربكم؟ قالوا بلى شهدنا‬. Kemudian terkait alif yang
diapit oleh dua lam )‫ (هللا‬dihilangkan karena alasan untuk mempermudahkan
dalam pembacaannya.
Al-Qurthubi berkata : kata Allah adalah nama yang paling agung bagi-
Nya, nama yang mewakili seluruh asma-Nya, nama bagi Dzat yang haq
wujud-Nya, nama yang mencakup semua sifat uluhiyah-Nya, yang diikuti
dengan sifat-sifat rububiyyah.
Sedangkan kata ar-Rahman merupakan rahmat Allah di dunia ini untuk
seluruh makhluk-Nya baik mukmin, pendosa dan kafir. Allah memberi
mereka semua unsur-unsur kehidupan dan tidak mencegah pemberian
tersebut kepada mereka karena dosa-dosa yang mereka telah diperbuatnya,
baik yang iman maupun yang kafir. Jadi cangkupan rahmat Allah dari kata
ar-Rahman di dunia ini meliputi semua ciptaan-Nya. Terlepas dari iman
atau tidaknya mereka.
Berbeda dengan kata ar-Rahim, dalam kata ini bermaksud rahmat Allah
yang diberikan hanya khusus kepada hamba-Nya yang mukmin lagi beramal
sholeh. Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tidak termasuk dari
bagian yang mendapatkan rahmat dari Allah. Sedangkan rahmat Allah di
akhirat jauh lebih besar dari pada rahmat Allah di dunia.
‫ِدِ ا ِلعالِ ِمين‬ ‫ا ِل م‬
‫ب‬
ِ ‫ر‬b. ‫ِللهِح‬
Kata al-Hamd yang ditambah huruf alif lam menunjukkan atau
memiliki cangkupan segala sesuatu. Maka dalam penerjemahannya banyak
menggunakan “segala puji bagi Allah” inilah yang oleh pakar bahasa
disebut dengan istighraq.
Biasanya seseorang memberikan pujian terhadap seseorang karena
perbuatan baik orang tersebut, tentunya orang memberikannya pujian hanya
sekedar memberikan pujian saja tanpa ada sesuatu yang lain. Inilah yang
membedakan antara pujian dan syukur, kalau pujian lebih pada memuji
tanpa dibarengi dengan perbuatan, sedangkan syukur yakni pengakuan

6
secara sadar atas segala hal yang diberikan kepadanya yang mana dibarengi
dengan perbuatan terhadap rasa syukur tadi.
Dalam kalimat )‫(الحمد هلل‬, kata hamd disandingkan dengan lafadz Allah
yang menunjukkan bahwa pujian tersebut hanya dikhususkan semata-mata
hanya kepada Allah SWT. dengan ini, maksud ayat ini yakni bahwa segala
pujian hanya wajar dipersembahkan kepada Allah SWT.13
Ulama berbeda pendapat terkait fungsi kalimat al-hamdulillah apakah
kalimat tersebut berfungsi sebagai kalimat berita terkait segala pujian hanya
wajar diberikan kepada Allah SWT semata atau kalimat tersebut memiliki
makna perintah, yakni dengan bermaksud memerintahkan untuk memuji-
Nya serta mengucapkan kalimat yang semacam dengannya.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa kalimat tersebut memiliki makna
perintah sekalipun ayat tersebut berbentuk kalimat berita, sedang kalimat
tersebut secara dhohir merupakan kalimat berita merupakan sebagai
pemantapan dan kekhususan pujian tersebut kepada Allah SWT.
Kalimat )‫(رب العالمين‬, kata )‫ (رب‬satu akar dengan kata )‫ (تربية‬yakni
mendidik atau mengatur. Sedangkan kata )‫ (العالمين‬merupakan bentuk jamak
dari kata ‘alam )‫ (عالم‬yang mana masih satu akar kata dengan kata ilmu atau
alamat. Para pakar tafsir memahami kata ‘alam sebagai kumpulan makhluk
Allah yang hidup.14 Kalimat ini memeberikan penegasan bahwa Allah
merupakan rabbul ‘alamien, yang mana akan mengatur segala kebutuhan
makhluk-Nya untuk menggapai kelangsungan kehidupan. Sebagaimana hal
ini dijelaskan dalam surah Ibrahim: 34
‫ِللِ لِ صوها‬ ‫كل ما ِلتِ م تِعدِِ ِع‬ ‫وآتِا‬
‫ت ِحتا‬ ‫وهسأ ِ واِوإن م‬ ‫ِكم م‬
‫ن‬
“Dia (Allah) telah menganuggerahkan kepadamu (keperluanmu) dari
segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. dan jika menghitung nikmat
Allah niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya”

13
Misbah 33
14
Misbah 37
7
Alhamdulillah dalam ayat ini memiliki dua sisi makna, pertama berupa
pujian dalam bentuk ucapan, kedua berupa syukur dalam bentuk
perbuatan.15
c.‫ال هرح ِمن ال هر ِحي ِم‬
Terkait ayat ini sudah dibahas sebelumnya diayat pertama yakni dalam
ayat basmalah, bahwa Allah SWT menyifati diri-Nya dengan ar-Rahman
dan ar-Rahim sebagai bentuk kasih sayang dan belas kasihnya yang tiada
batas terhadap semua makhluk-Nya. Dalam Al-Qur’an Allah juga disebut
sebagai )‫(أرحام الراحمين‬, bahkan juga disebut dengan )‫(خير الراحمين‬.16 Hal ini
karena betapa besar kasih sayang yang Allah limpahkan kepada seluruh
hamba-Nya.
d. ‫ما ِلك ِد ي ِن‬
‫ِو ِم ال‬
Kata al-maalik, seseorang dapat melakukan apa yang tidak al-malik
lakukan, begitu pun sebaliknya. Masing-masing kata mempunyai kelebihan
yang tidak ada dikata lainnya dalam dalam beberapa hal. Kaitannya dengan
Tuhan, al-malik lebih kepada sifat Allah sedangkan al-maalik lebih kepada
sifat dari pekerjaanNya.17
Allah sering kali menyebutkan diri-Nya dalam Al-Qur’an sebagai malik
atau raja, hal ini mengisyaratkan bahwa memang tidak ada raja yang pantas
disembah kecuali diri-Nya, namun walau demikian, Allah juga
menyebutkan dalam Al-Qur’an kata malik yang tidak diperuntukkan untuk
diri-Nya, ayat tersebut berada pada surah al-Baqorah:247
‫هن ا ِللِ قِد ثكم طالت م ِلكا‬
ِ
ِ‫ع‬
‫و‬
“sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja bagi kalian.”
Dalam ayat ini Allah menyebutkan raja selain diri-Nya yakni Thalut,
menurut Ibnu Katsir dalam tafsir mengatakan bahwa penyebutan kata malik
selain Dzat Allah merupakan majaz semata tidak pada makna hakikat.18
Dikatakan yaumiddin, para ulama sepakat bahwa maksudnya yakni
adalah hari pembalasan atau hari kiamat, banyak nama lain dari hari kiamat,
15
Misbah 38
16
Misbah 41
17
Abu at-Thib muhammad shodiq khan bin ali bin luthfillah al-husaini al-bukhori al-qoyyuji,
fathul bayan fi maqasid al-quran, beirut : maktabah ‘ashriyyah, 1992, hal 47
8
18
Ibnu katsir al-Qurasyi, tafsir qur’anul ‘adim juz 1 : dar thayibah linasyri wa tauzi’, 1999, hal 48

9
salah satunya yakni yaumuddin ini. Kata yaum dalam Al-Qur’an disebutkan
sebanyak 365 kali. Menggunakan kata yaum menunjukkan periode atau
waktu, hal ini menunjukkan hari pembalasan tersebut memiliki periode yang
panjang, tidak diketahui terkait seberapa lama hari tersebut.19
Ditambah dengan kata malik sebelumnya sehingga menjadi
malikiyaumiddin memiliki arti bahwa tidak ada kekuatan pada hari tersebut
kecuali kekuatan Allah SWT sebagai maalik yaumiddin.
e. ‫يها نِعبِ يهاك ِعن‬
‫دِك و ِإ ي‬
ِ‫ست‬
Para ulama salaf berpendapat bahwa al-Fatihah merupakan rahasia dari
Al-Qur’an dan rahasia dari al-Fatihah yaitu ayat ini.20
Dalam ayat ini terjadi perubahan dhomir dari yang sebelumnya
berbentuk dhomir ghoib (kata ganti orang ketiga) menjadi mukhatab (kata
ganti orang kedua). Hal ini menunjukkan akan kedudukan hamba Allah saat
dalam beribadah memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan Allah
SWT. Quraish Shihab berpendapat bahwa ayat ini mengajarkan kepada kita
bahwa ketika mengucapkan kata )‫(ايك‬ agar memunculkan atau
menghadirkan Allah dalam benak kita.21
Pada kalimat ini objeknya didahulukan yakni )‫ (ايك‬yang kemudian
dilakukan pengulangan, hal ini bertujuan sebagai pemberi perhatian dan
pembatasan. Maknanya yakni “kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu dan
kami juga tidak bertawakkal kecuali kepada-Mu.” Dan inilah merupakan
puncak kesempurnaan dalam beragama.22
Ibnu katsir menjelaskan bahwa kata )‫ ( ِإ هياك نِ ِعبِد‬didahulukan dari
pada kata
(‫ ) ِإ هياك نِستِ ِعين‬karena ibadah keapada-Nya merupakan tujuan,
sedangkan
permohonan pertolongan merupakan sarana untuk ibadah. Disini yang
terpenting lebih didahulukan dari pada yang hanya sekedar penting.23
‫ِقي ِم‬ ‫ِا ال ص ا ِل‬
‫اه ِد ن‬
ِ‫ست‬
f. ‫ِ ِمط‬ ‫را‬
Kata )‫ (اهدنا‬terambil dari akar yang terdiri dari huruf ha’, dal, dan ya’.
Menurut Quraish Shihab maknanya berkisar dua hal yakni pertama, tampil
19
Misbah 51
7
20
Ibnu Katsir 49
21
Misbah 61
22
Ibnu katsir 49
23
Ibnu katsir 50

8
kedepan dan memberi petunjuk, dan kedua yakni menyampaikan dengan
lembut. Dari sini terlahirlah kata hadiah yang merupakan penyempaian
sesuatu dengan lemah lembut.24
Hidayah yang diberikan kepada Allah untuk seluruh makhluk-Nya tidak
hanya untuk makhluk tertentu, seperti Allah memberikan hidayah-Nya
kepada lebah untuk membuat sarang dengan bentuk segienam, karena hal ini
sesuai dengan bentuk tubuh dan kondisinya.
Sedangkan ulama membagi hidayah agama dalam beberapa bagian atau
tingkatan, ada yang membaginya menjadi dua, ada juga yang membagi
menjadi empat bagian atau tingkatan seperti Thahir Ibn ‘Asyur.
Tingkatan pertama yakni, potensi penggerak dan tahu. Kedua yakni
hidayah teoritis, maksudnya hidayah yang disertai dengan dalil-dalil yang
dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Ketiga yakni hidayah
yang tidak dapat dijangkau oleh analisis dan macam-macam argumentasi,
hidayah ini diberikan kepada Rosul saja. Keempat yakni hidayah yang
merupakan puncak dari hidayah Allah SWT.
Terkait kata ‫ا ِل ِقي‬ ‫ (ال‬Abu Ja’far bin Jarir berpendapat bahwa
) ‫صرا ِمط ِم‬
ِ‫ست‬
seluruh ulama sepakat bahwa maksud dari kalimat tersebut yakni jalan yang
terang dan lurus.25 Mengenai kata shirath para mufassir berbeda pendapat
baik dari kalangan salaf maupun khalaf, walau berujung pada satu titik temu
yakni mengikuti Allah dan Rosul-Nya.
Kata shirath berbeda dengan kata sabil walaupun jika diterjemahkan
sama-sama diartikan dengan kata jalan. Jika diperhatikan, kata shirath hanya
digunakan disandingkan dengan kata yang haq atau yang benar (positif),
berbeda dengan sabil yang kadang dinisbatkan kepada hal yang batil
(negatif), seperti sabili thaguth, sabili mujrimien.26
g. ‫ِن‬ ‫ِل‬ ‫ِ ِر ا ِل ضوب ِي‬‫ي‬ ‫صرا ِذين أِ ِنع‬
‫ضا ِل ي‬ ‫الو‬ ‫ِه‬ ‫ِمتط اله ِه ِم غ‬
‫ِغ‬
‫ِم‬ ‫ِي‬ ‫ِم‬
ِ‫عل‬ ِ‫عل‬
Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa terkait firman Allah
shirathal ladzina an’amta alaihim ‫علِ ي‬
‫ِ ِه‬ ‫ِع‬‫ن‬ ِ‫ه ت أ‬
‫ِذين لا‬
) ‫ِم‬ ‫م‬
9
‫(ص ِراط‬ meru
paka
n
tafsiran dari ayat sebelumnya yakni terkait shiratal mustaqiem. Sedang

24
Misbah 74
25
Ibnu Katsir 53
26
Misbah 80

1
0
menurut para ahli nahwu, ini merupakan badal atau bisa juga menjadi ‘athaf
bayan.
Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang diberikan nikmat
dalam ayat ini yakni yangsudah tertulis dalam surah an-Nisa’:69-70
‫ِ ِيي وال ي ِقي وال ِهد والصا ِل ِحين‬
‫النه ب‬ ‫ِي‬ ‫ا وال هر فِأ ِ ولِـ ِذين أِ ِنع ِم‬ ‫و ِمن‬
‫ِاء‬ ‫صِد‬‫ن‬ ‫ن من‬ ‫ِهم‬ ‫ا ِللِم ِع لاه‬ ‫ل‬
‫و‬
‫س‬ ‫ك‬‫ئ‬ ِ ‫ل‬
ِ
‫ل‬ ِ‫ي‬
‫ش‬ ِ‫عل‬ ِ‫ع‬ ‫ط‬
70‫ا ع ِليما‬ ِ‫ ذِ ا من ا ِلل‬69 ‫وحسن أ ِولِـ‬
ِ‫ِلل‬ ‫ضل ِكف‬ ‫ِيقا ِلف‬
‫ِك ِلر ف‬ ‫ئ‬
‫ِىو‬ ِ
‫ك‬
“Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah,
yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.69 Yang
demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.70”
Mengenai kalimat ) ‫ِل ين‬ ‫ِم ضوب ِي‬‫ِ ل‬
‫ ( ي‬para mufassir sepakat
‫الو ضا ِل‬
‫ِه‬ ‫رغ غ ا‬
‫ِم‬
ِ‫عل‬
bahwa yang dimaksud dengan al-maghdub yakni orang-orang yahudi,
sedang adh-dholien adalah orang-orang nasrani, hal ini sesuai dengan sabda
Rasulullah SAW.
Orang-orang yahudi dikatakan al-maghdub tentu bukan tanpa alasan,
dikatakan demikian karena mereka (orang-orang yahudi) mengenal
kebenaran akan tetapi enggan untuk melakukannya,27 sehingga pantaslah
mereka dikatakan demikian, keengganan mereka untuk meniti jalan yang
benar setelah banyak dan jelas bagi mereka ayat-ayat yang telah diturunkan
untuk mereka, inilah yang membuat mereka mendapat maghdub, dalam ayat
lain juga dijelaskan terkait hal ini.
‫ِهِ ا غضب علِ ِي ِه‬ ‫من لهع ن‬
‫ِللِ و‬
“orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah”(al-Maidah:60)
Tentunya yang dimaksudkan disini bukanlah berarti seluruh orang
yahudi mendapatkan murka maghdub karena perbuatan mereka, jika
demikian maka akan membuat rancu sifat Allah SWT, maksud disini adalah
yang mendapat murka yakni amal perbuatannya, jadi walaupun bukan orang
1
1
yahudi sekalipun jika melakukan hal yang sama seperti orang-orang yahudi
yakni paham ilmunya tapi masih melakukan pelanggaran atau enggan

27
Misbah 87

1
2
mengikuti kebenaran tersebut maka sama pantasnya juga mereka mendapat
maghdub.
Sedangkan orang-orang nasrani dikatakan sebagai adh-dhalien disini
karena mereka menempuh jalan yang sesat, hal ini karena mereka tidak
mendapat petunjuk. Menurut Ibnu Katsir sifat khusus mereka yakni
kesesatan.28 Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Maidah:77
‫ِي ل‬
‫ِواءس ب‬ ِ‫ِيرا ضلِِوا‬
‫قِ ضلِِوا ِب وأ ضلِ ث‬
‫الس‬ ‫عن‬ ‫وك‬ ِ ِ ‫د ِ من ل‬
‫وا‬
ِ
“yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka
telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan
yang lurus”
C. Penutup
Dengan ini kami berharap makalah ini bisa bermanfaat baik bagi diri kami
pribadi maupun bagi agama dan negara secara umum, terkait kesalaha-
kesalahan yang ada dalam makalah ini, kami hanya bisa meminta maaf dengan
sebenar-benarnya atas kesalahan-kesalahan pada makalah ini.

Analisis,

1. Huruf ba’ (istianah, ta’zim, tabarruk, mushohabah)


2. Kata Allah, jg punya makna rububiyah, jg uluhiyah
3. Makna ism, hakikat ism, beda dgn dzat atau sifat
4. Pemilihan kata arRohman arRohim, dua kali disebut
Tidak ada sesuatu yg tdk ada solusi, inna rohmati wasiat ghodhobi
5. Bentuk pujaan menyertakan namaNya dlm semua aktifitas kita
6. Ibadah atau istianah (uluhiyah)
7. Bedanya hidayah atau taufiq (tuntun)
8. Shighot amr ayat 6
9. Cara minta hidayah, bentuknya shirotol mustaqim
10. Manusia 3 klompok, dimana munafiq, kafir, fasiq?

28
Ibnu Katsir 56

10