Anda di halaman 1dari 16

Manajemen IKM, September 2014 (179-194) Vol. 9 No.

2
ISSN 2085-8418 http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalmpi/

Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha pada Outlet


Ayam Goreng Waralaba dan Mandiri

Feasibility and Business Development Strategy of Franchise and/or Independent Fried Chicken Outlet

Bambang Widuri1*, Amiruddin Saleh2# dan Nurheni Sri Palupi3#

1 PT
Arutmin Indonesia
Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia
2

Institut Pertanian Bogor


3Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

#Jl. Kamper, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680

ABSTRAK

Kunci keberhasilan usaha kecil dan menengah terletak pada kepemilikan pengetahuan, keberanian
dan kesungguhan dalam menjalankan usaha. Saat ini, untuk meminimalkan risiko yang mungkin timbul,
banyak pengusaha kecil, terutama pengusaha pemula, menggunakan sistem waralaba (franchise) sebagai
sarana dalam mengembangkan usaha. Kegagalan dalam berbisnis waralaba dapat ditelusuri melalui
beberapa aspek, yaitu aspek keuangan, manajemen dan aspek pemasaran Tujuan penelitian ini: (1)
mendeskripsikan kelayakan usaha ayam outlet ayam goreng waralaba dan mandiri, (2) mendeskripsikan
persepsi konsumen terhadap produk ayam goreng waralaba dan mandiri, (3) menyusun strategi yang
tepat untuk pengembangan usaha waralaba dan mandiri. Penelitian dilaksanakan di outlet waralaba
Sabana dan Mandiri, Bogor. Pengambilan responden dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan
124 responden. Teknik pengolahan data menggunakan analisis Net Present Value (NPV), Internal Rate of
Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP), Internal Factor Evaluation (IFE),
External Factor Evaluation (EFE), Internal-External (IE), Strenghts, Weaknesses, Opportunities and Threats
(SWOT) dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Berdasarkan analisis kelayakan usaha, outlet
penjualan ayam goreng secara waralaba maupun mandiri layak untuk dilakukan. Sistem usaha waralaba
mendapatkan tingkat pengembalian lebih tinggi dan lebih cepat mencapai titik impas daripada secara
mandiri. Outlet waralaba lebih mendapatkan kepercayaan dari konsumen karena lebih praktis, harga
lebih murah menyebabkan tingkat pengembalian modal lebih cepat. Alasan konsumen untuk membeli
produk adalah harga, praktek, dan higiene. Berdasarkan hasil perhitungan matriks QSP ayam goreng
waralaba, diperoleh strategi diterapkan adalah menjaga loyalitas konsumen, sementara usaha mandiri
adalah meningkatkan mutu produk dan layanan.

Kata kunci: ayam goreng, kelayakan usaha, pengembangan usaha, waralaba

ABSTRACT

The key to the success of small and medium enterprises located in the possession of knowledge,
courage and sincerity in running the business. Currently, in order to minimize the risks that may arise,
many small businesses, especially entrepreneurs, using the franchise system (franchise) as a means to
develop their business. Failure in business franchise can be traced through several aspects, namely
finance, management and marketing aspects. The purposes of the study are: (1) to describe the feasibility
of fried chicken business with franchise and independent system, (2) to describe the perception of
consumers towards the products of fried chicken business with franchise and independent system, (3) to
develop appropriate strategies for developing franchise and/or independent system. The study was
conducted at franchised/independent outlet located Bogor regency. Respondent has been collected by
purposive sampling with 124 respondens. The experiment was conducted from February to March 2012.
_____________
Korespondensi:
*) Bakrie Tower 14 floor, Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta; e-mail: b_widuri@yahoo.com
180 Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha

Kind of data processing technique we used was Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR),
Net Benefit Cost Ratio (Net B / C), Payback Period (PBP), Internal Factor Evaluation (IFE), External
Factor Evaluation (EFE), Internal-External (IE), Strength, Weaknesses, Opportunities and Threats (SWOT)
and Quantitative Strategic Planning (QSP) analysis system. Based on feasibility analysis, both fried
chicken business with franchise and independent systems are feasible to be implemented. Franchise
system offers more opportunity to get higher and faster returns, as well as to reach PBP faster than
independent system. Furthermore, fried chicken business with franchise system shall be easier to get the
trust of consumers because that system is more practical and besides, that system also offers cheaper
price which will drive someone to reach PBP and return on capital faster. The reason of consumer to buy
product are price, practice, and higiene. Based on the results of the matrix QSP fried chicken franchise,
earned the most interesting strategy to be applied is to maintain customer loyalty, while independent
business is improving the quality of products and services.

Key words: business development, customer behaviours, feasibility, franchise, fried chicken

PENDAHULUAN Saat ini terdapat beberapa waralaba ayam


goreng sebagai menu utama, dari yang berskala
Pengembangan sektor usaha mikro, kecil besar sampai kecil. Beberapa kelebihan bisnis
dan menengah di Indonesia masih mengalami waralaba bagi terwaralaba, yaitu memiliki keun-
berbagai kendala mulai dari akses pasar sampai tungan dari program penelitian dan pengembang-
akses permodalan. Kendala ini sekaligus men- an, jaminan territorial daerah bisnis, serta promosi
jadikan tantangan bagi pengusaha kecil untuk yang dilakukan oleh pewaralaba. Pewaralaba
berkembang. Kunci keberhasilan usaha kecil dan sudah memiliki tim manajemen yang kuat, pewa-
menengah terletak pada kepemilikan pengetahu- ralaba memiliki modal memadai untuk memulai
an, keberanian dan kesungguhan dalam men- dan mengembangkan program waralaba, iden-
jalankan usaha. titas dagang yang khas, unit, berbeda dengan
Di sisi lain, dengan semakin ketatnya per- usaha sejenis lain dan dilindungi oleh hukum,
saingan usaha kecil, sangat diperlukan agar usaha quality control yang jelas di bidang administrasi,
ini tidak terdesak dengan usaha besar dan dan sebagainya. Selain itu, keuntungan franchising
investor mancanegara (Wati, 2009). Untuk me- bagi franchisor adalah bisnisnya bisa berkembang
minimalkan risiko yang mungkin timbul, banyak dengan cepat di banyak lokasi secara bersamaan,
pengusaha kecil saat ini, terutama pengusaha meningkatnya keuntungan dengan memanfaat-
pemula, menggunakan sistem waralaba (franchise) kan investasi dari franchisee (Astuti, 2005).
sebagai sarana dalam mengembangkan usaha. Kegagalan dalam berbisnis waralaba dapat
Untuk mengembangkan usaha mikro dan kecil ditelusuri melalui beberapa aspek, yaitu aspek
memerlukan informasi yang menyeluruh (holistic) keuangan, manajemen dan aspek pemasaran.
dan serba cakup atau integratif sebagai acuan Ketiga aspek tersebut saling berhubungan dan
referensi untuk melihat secara mendalam kondisi secara sederhana bahwa usaha yang sehat adalah
dan perilaku dari suatu sektor sehingga dapat yang menghasilkan keuntungan.
ditentukan langkah kebijakan atau pembinaan Dalam meningkatkan penjualan produk,
yang akan diterapkan terhadap sektor tersebut ayam goreng bisnis waralaba ataupun produk
(Zabidi, 2001). ayam goreng mandiri, sangat tergantung dari
Karamoy (2005) berpendapat bahwa bidang selera konsumen. Untuk itu, perlu kiranya
usaha potensial dan prospektif untuk dikembang- mengetahui kebutuhan dan harapan konsumen
kan secara waralaba di Indonesia adalah bidang dan berupaya untuk memenuhi keinginan
usaha makanan yang meliputi restoran, café/sport tersebut, sehingga konsumen merasa puas.
bar, makanan siap saji (fast food), makanan Kepuasan atas pelayanan dapat menjadikan
bercirikan etnik (masakan padang, bakso, gado- konsumen loyal sehingga mempunyai potensi
gado, dan lain-lain). Namun demikian, upaya- sebagai iklan berjalan yang efektif dan efisien.
upaya penataan usaha warala di Indonesia Tujuan kajian ini: (1) menganalisis
hendaknya berorientasi untuk memberikan kelayakan usaha outlet ayam goreng waralaba
dukungan penuh pada waralaba berbasis UMKM dan mandiri, (2) menganalisis persepsi konsumen
(Rivai, 2012). terhadap produk ayam goreng, (3) menyusun
strategi yang tepat untuk pengembangan usaha.

WIDURI ET AL Manajemen IKM


Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha 181

METODOLOGI mengkonsumsi produk pada masing-masing


usaha ayam goreng tersebut.
Lokasi utama penelitian di outlet ayam Pengolahan data yang digunakan untuk
goreng waralaba maupun mandiri, dimana menjawab tujuan dalam penelitian ini dapat
pemilihan lokasi dilakukan secara purposive. dilihat pada Tabel 1. Data yang diperoleh, baik
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif untuk data primer maupun sekunder dilakukan peng-
mendeskripsikan kelayakan usaha, perilaku olahan, agar dapat dibaca dan dianalisis lebih
konsumen dan alternatif strategi ayam goreng lanjut, sehingga dapat diinterpretasikan.
waralaba dan mandiri. Penelitian dilakukan pada Data yang telah diperoleh dalam kajian ini,
bulan Februari-Maret 2012. baik primer maupun sekunder diolah secara
Pengumpulan data dengan melakukan deskriptif dalam bentuk frekuensi, persentase,
pengamatan (observasi) di lapangan, wawancara rataan skor dan tabulasi silang. Data yang telah
dan pengisian kuesioner oleh pengusaha ayam diolah, kemudian dianalisis dengan (1) analisis
goreng waralaba dan mandiri, serta konsumen- kelayakan yang meliputi NPV, IRR, Net B/C dan
nya. Kuesioner disusun dengan mengacu pada Payback Period, dimana batasan analisisnya pada
kuesioner yang dibuat oleh Aryanti (2010) dengan aspek finansial, teknis/teknologi, manajemen
beberapa modifikasi. Data primer kuantitatif yang operasional; (2) analisis SWOT dan (3) QSPM.
dibutuhkan dalam menganalisa kelayakan usaha
antara lain aset, modal, omset penjualan, biaya, HASIL DAN PEMBAHASAN
laba kotor dan laba bersih.
Penentuan responden menggunakan meto- Usaha Terwaralaba
de judgement sampling berdasarkan penilaian
bahwa responden tersebut adalah orang yang Outlet Sabana 1
tepat dan baik untuk dijadikan responden, karena Outlet Sabana 1 beroperasi mulai pukul
merupakan faktor penentu dalam pengambilan 11.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB, libur pada
keputusan di perusahaan. Jumlah responden yang satu pekan satu hari dan pada hari raya Idul
diteliti sebanyak 120 orang yang masing masing Fitri/Idul Adha. Untuk menarik pembeli, pema-
terdiri atas: (a) responden untuk mendapatkan saran dilakukan melalui penyebaran brosur ke
informasi tentang kelayakan dan pengembangan rumah-rumah di dalam kompleks. Selain penjual-
usaha, yaitu 2 responden pemilik outlet ayam an di outlet, terwaralaba juga melayani penjualan
goreng waralaba, 2 responden pemilik outlet ayam secara pesanan, tetapi penjualan dengan cara
goreng mandiri, (b) responden untuk mengetahui semacam ini belum banyak menarik pembeli.
perilaku atau preferensi konsumen diperoleh dari Terwaralaba tidak memberikan fee atau komisi
60 responden konsumen outlet ayam goreng kepada pewaralaba, tetapi diwajibkan untuk
waralaba dan 60 responden konsumen outlet ayam membeli daging ayam segar beserta tepung
goreng mandiri. Konsumen yang dijadikan bumbunya kepada pewaralaba atau agen yang
responden, yaitu konsumen yang sudah pernah ditunjuk.

Tabel 1. Metode analisis data berdasarkan tujuan penelitian

Data Metode
No Tujuan Penelitian
Jenis Sumber Analisis
1. Mendeskripsikan kelayakan Aset, Modal, Omset Penjualan, Survei, pembu- Deskriptif, NPV,
usaha outlet ayam goreng Biaya, Laba Kotor, Laba Bersih kuan usaha dan IRR, Net B/C dan
waralaba dan mandiri. dan Operasional tahun 2009- kuesioner Payback Period
2011
2. Mendeskripsikan persepsi Proses keputusan pembelian Survei, kuesioner Deksriptif
konsumen terhadap produk terhadap produk ayam goreng
ayam goreng waralaba dan
mandiri
3. Menyusun strategi yang tepat Identifikasi faktor internal dan Kuesioner, Faktor IFE, EFE, IE,
untuk pengembangan usaha eksternal perusahaan, pem- lingkungan (faktor SWOT dan QSPM
waralaba dan mandiri bobotan, rating dan skor internal dan eks-
Tahap pencocokan ternal perusahaan)
Rumusan strategi

Vol. 9 No.2 September 2014


182 Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha

Ayam goreng terwaralaba Sabana 1 memili- Outlet Crunchys Fried Chicken


ki struktur organisasi yang bersifat sederhana, Ayam goreng Crunchys Fried Chicken memili-
terdiri dari pemilik dan karyawan. Pemilik ber- ki struktur organisasi sederhana, yang terdiri dari
tugas memimpin, mengawasi dan bertanggung pemilik dan karyawan. Pemilik bertugas memim-
jawab penuh terhadap seluruh kegiatan outlet pin, mengawasi dan bertanggung jawab penuh
miliknya. Mencatat pemasukan dan pengeluaran terhadap seluruh kegiatan outlet miliknya.
uang setiap hari. Karyawan bertugas mengambil Karyawan pertama mencatat pemasukan dan
bahan mentah di distributor, berbelanja minyak pengeluaran uang setiap hari, berbelanja, mem-
goreng dan peralatan lain yang diperlukan, persiapkan perlengkapan, berbelanja bahan baku
menjaga outlet, menyiapkan pesanan pembeli, dan menyiapkan bumbu, serta mengantarkannya
serta menjaga kebersihan outlet. Selain memimpin ke outlet. Karyawan kedua bertugas melayani
jalannya operasional outlet, pemilik juga berfungsi pembeli dan menjaga kebersihan outlet.
sebagai pengganti jika karyawan tidak masuk.
Kelayakan Usaha
Outlet Sabana 2 1. Aspek keuangan
Outlet ayamg goreng terwaralaba Sabana 2 Kriteria yang digunakan dalam perhitungan
didirikan pada tahun 2009. Menu utama yang meliputi NPV, Net B/C, IRR, dan PBP. Tingkat
ditawarkan adalah berupa paha, dada dan sayap diskonto yang digunakan 5% per tahun merupa-
ayam goreng. Outlet Sabana 2 beroperasi mulai kan tingkat suku bunga deposito Bank Mandiri
pukul 11.00-20.00 WIB. Ayam goreng Sabana 2 ini periode Maret 2012. Analisis kelayakan finansial
juga memiliki struktur organisasi sederhana, yang yang dilakukan adalah aspek finansial kelayakan
terdiri dari pemilik dan karyawan. Pemilik usaha.
bertugas memimpin, mengawasi, dan bertang- Pembelian peralatan investasi dilaksanakan
gung jawab penuh terhadap seluruh kegiatan pada tahun ke 0, yaitu tahun 2010. Perhitungan
outlet miliknya. Outlet Sabana 2 memiliki dua laba rugi dan cashflow merupakan data yang
orang karyawan. Karyawan pertama bertugas dimulai di tahun 2011-2014, dan dengan asumsi
mencatat pemasukan dan pengeluaran uang, sampai dengan tahun keempat umur proyek besar
mengambil bahan mentah di agen, berbelanja inflow dibuat rataan mulai tahun 2009- 2011. Hasil
minyak goreng dan peralatan lain yang diperlu- rataan dianggap sampai dengan tahun 2014.
kan, menggantikan menjaga outlet jika karyawan
kedua tidak masuk kerja. Karyawan kedua ber- Nilai Penjualan Total
tugas melayani pembeli maupun menjaga Nilai penjualan total outlet waralaba berasal
kebersihan outlet. dari data penjualan keseluruhan produk Sabana 1
dan 2. Total penjualan pada tahun pertama sama
Usaha Mandiri dengan keadaan nyata. Untuk tahun kedua hing-
Outlet Asoka ga keempat pada setiap tahunnya diasumsikan
Ayam goreng Asoka memiliki struktur konstan. Pada tahun ke nol perusahaan melaku-
organisasi sederhana, terdiri dari pemilik dan kan kegiatan investasi, sehingga pada tahun
karyawan. Pemilik bertugas memimpin, meng- pertama perusahaan baru dapat melakukan
awasi, dan bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan usahanya. Data Penjualan rataan ayam
seluruh kegiatan outlet miliknya. Mencatat goreng waralaba dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3.
pemasukan dan pengeluaran uang setiap hari,
berbelanja, mempersiapkan perlengkapan. Pemi- Nilai Sisa
lik bertugas berbelanja daging ayam, menyiapkan Nilai sisa adalah nilai barang atau
bumbu dan mengantarkannya ke outlet. Karya- peralatan yang tidak habis selama umur
wan betugas berbelanja minyak goreng, gas, penghitungan dan dinilai masih memiliki umur
menjaga outlet, menyiapkan pesanan pembeli, dan ekonomis karena belum terpakai seluruhnya.
menjaga kebersihan outlet. Selain memimpin Nilai sisa dihitung ditahun keempat, dan
jalannya operasional outlet, pemilik juga berfungsi dimasukkan ke dalam komponen inflow. Pada
sebagai pengganti, jika karyawan tidak masuk, usaha ayam goreng waralaba dan mandiri nilai
melakukan sebagian tugasnya. sisa yang diakui adalah 1 juta rupiah setelah
pemakaian selama lima tahun.

WIDURI ET AL Manajemen IKM


Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha 183

Tabel 2. Data penjualan rataan outlet ayam goreng waralaba dari tahun 2010-2011

Rataan harga Total penjualan Total penjualan rataan


No. Menu Satuan
produk (Rp) rataan per hari (Rp) per bulan (Rp)
1. Paha atas dan dada Potong 6.500 292.500 8.775.000
2. Sayap dan paha bawah Potong 5.000 210.000 6.300.000
Total Penjualan 502.000 15.075.000

Tabel 3. Data penjualan rataan outlet ayam goreng mandiri dari tahun 2010-2011

Rataan harga Total Penjualan Total Penjualan


No Menu Satuan
produk (Rp) rataan per hari (Rp) rataan per bulan (Rp)
1. Paha atas dan dada Potong 7.000 105.000 3.178.000
2. Sayap dan paha bawah Potong 5.000 140.000 4.290.000
Total Penjualan 245.000 7.468.000

Arus Pengeluaran d. Biaya Penyusutan


Arus pengeluaran (outflow) dalam usaha Perhitungan nilai penyusutan aset per
ayam goreng waralaba dan mandiri terdiri dari tahun sesuai dengan perkiraan umur ekono-
biaya investasi dan biaya operasional perusahaan. mis. Dalam penelitian ini digunakan metode
Struktur pembiayaan pada usaha ayam goreng ini garis lurus, sehingga penyusutan semua aset
terdiri atas biaya investasi, biaya reinvestasi, biaya perusahaan diasumsikan sama untuk setiap
operasional, dan biaya penyusutan. tahunnya. Pada nilai penyusutan per tahunnya
a. Biaya Investasi diperoleh dari total harga investasi dikurangi
Ayam goreng waralaba menginvestasikan nilai sisa dibagi umur ekonomis, dan memiliki
Rp20 juta untuk pertama keikutsertaan pada total hasil nilai penyusutan adalah 3,5 juta
waralaba sampai outlet tersebut masih buka. rupiah untuk ayam goreng waralaba dan 1,65
Ayam goreng mandiri rataan mengeluarkan juta rupiah untuk ayam goreng mandiri.
dana Rp9,25 juta untuk investasi pertama.
b. Biaya Reinvestasi Tabel 4. Biaya operasional rata-rata usaha ayam goreng
Biaya reinvestasi dikeluarkan untuk aset waralaba dan mandiri setiap bulan selama
yang memiliki umur ekonomis selama dua dan Tahun 2011
tiga tahun, karena umur ekonomis kurang dari Waralaba Mandiri
No. Biaya operasional
umur proyek, yaitu lima tahun. Pada saat Rp) (Rp)
pembelian peralatan investasi dilakukan tahun A. Biaya peubah
2010 akhir, data yang dimasukan pada 1. Bahan baku utama 11.369.500 4.199.000
perhitungan laba rugi dan cashflow merupakan 2. Tepung 1.032.000 391.000
data yang dimulai di tahun 2010, dengan 3. Minyak goreng 327.500 133.000
4. Gas 271.000 110.000
asumsi sampai dengan tahun keempat umur
5. Saos/sambal 172.000 69.500
proyek besar inflow dan outflow disamakan
Jumlah 13.172.000 4.902.500
dengan data tahun 2011. Pada tahun ke nol
B. Biaya Tetap
yang dimulai pada tahun 2010 merupakan 1. Gaji karyawan 1.275.000 850.000
tahun awal dimulai investasi dan persiapan 2. Sewa tempat 375.000 350.000
komponen peralatan investasi. 3. THR 200.000 50.000
c. Biaya Operasional 4. Lain- lain 42.500 35.000
Besarnya biaya operasional dapat dilihat Jumlah 1.892.500 1.285.000
pada Tabel 4 yang dikeluarkan pada tahun Total biaya operasional 15.064.500 6.187.500
pertama penelitian, yaitu tahun 2011, di tahun
kedua sampai keempat diasumsikan konstan. Analisis Kriteria Kelayakan Finansial
Besar biaya operasional rataan per bulan Analisis kelayakan finansial yang diguna-
yang dikeluarkan ayam goreng sabana pada kan dalam penelitian ini adalah NPV, Net B/C,
tahun 2011 terdiri dari biaya variabel dan IRR dan PBP. Tingkat diskonto yang digunakan
biaya tetap Rp15,065 juta, sedangkan mandiri pada periode Maret 2012 sebesar 5% per tahun.
Rp6,188 juta. Perhitungan kelayakan ini menggunakan manfaat

Vol. 9 No.2 September 2014


184 Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha

bersih (net benefit) yang diperoleh dari selisih Perkembangan teknologi lainnya yang telah
antara biaya dan manfaat setiap tahunnya. dilakukan outlet waralaba dan mandiri dalam hal
Berdasarkan kriteria kelayakan finansial diperoleh keuangan adalah menggunakan komputer untuk
nilai NPV ayam goreng waralaba Rp73,19 juta mencatat dan menghitung aliran kas masuk mau-
(positif) dan ayam goreng mandiri Rp3,70 juta pun ke luar. Pemanfaatan teknologi oleh outlet
(positif) atau lebih besar dari nol. Hal ini berarti mandiri dalam produksi antara lain dengan
bahwa usaha ayam goreng waralaba dan mandiri menggunakan deep fryer atau kompor yang sudah
layak untuk dilaksanakan. diatur dengan suhu tertentu dan akan mati secara
Net B/C yang dihasilkan adalah 4,66 untuk otomatis jika suhu terlalu panas. Diharapkan de-
waralaba dan 1,57 untuk mandiri. Nilai tersebut ngan adanya beberapa alat tersebut dapat mem-
menunjukkan setiap pengeluaran biaya Rp1 akan permudah dan mempercepat proses produksi.
menghasilkan manfaat 4,66 kali pada waralaba
atau 1,57 kali pada mandiri dari biaya yang 3. Manajemen Operasional
dikeluarkan. Nilai Net B/C lebih besar daripada Di outlet ayam goreng waralaba, satu ekor
nol menunjukkan bahwa usaha ini layak untuk ayam mentah menjadi sembilan potong daging
dilaksanakan. yang telah dicampur bumbu dengan standar
Nilai IRR yang diperoleh 21,30% untuk mutu dan harga yang telah ditentukan. Bahan
waralaba dan 18,14 untuk mandiri dan IRR > 5%, baku tersebut diambil setiap hari di distributor.
artinya proyek yang dilakukan oleh perusahaan Rataan kebutuhan ayam mentah setiap outlet 15-
memiliki tingkat pengembalian proyek terhadap 20 ekor setiap hari. Sebagian dibawa ke outlet
investasi yang dikeluarkan 21,30 dan 18,14%. untuk langsung dilakukan peng-gorengan. Bahan
Hasil analisis tingkat pengembalian investasi baku lain yang harus dipersiap-kan adalah
(PBP), memperlihatkan bahwa untuk waralaba minyak goreng dan gas, sedangkan perlengkapan
diperlukan waktu selama 1,9 tahun dan 24 hari tambahan seperti sterofoam, kantong plastik harus
untuk waralaba dan 3,8 tahun dan 4 hari untuk belanja sendiri di pasar.
mandiri. Outlet mandiri membeli bahan baku lang-
Hal ini menunjukkan bahwa usaha outlet sung dari pasar tradisional atau diantar oleh
ayam goreng dapat mengembalikan modal pemasok daging ayam. Satu ekor ayam mentah
sebelum umur lima tahun, sehingga usaha yang menjadi 12-15 potong daging, dilakukan pen-
dilakukan masuk ke dalam kriteria layak untuk campuran dengan adonan tepung yang sudah
dilaksanakan. Dari keempat kriteria kelayakan, diberikan bumbu khusus. Sistem waralaba mau-
yaitu NPV, IRR, Net B/C, dan PBP menunjukkan pun mandiri menggunakan prinsip pemakaian
bahwa usaha ayam goreng, baik waralaba bahan baku pola first in first out (FIFO) sesuai
maupun mandiri layak untuk dilakukan dan tanggal pembelian bahan baku dari distributor/
waralaba memberikan tingkat pengembalian hasil pasar tradisional, sehingga diharapkan tidak ada
lebih cepat daripada mandiri. bahan baku yang kadaluwarsa.
Untuk efisiensi dan kelancaran tugas, pada
2. Aspek Teknis/Teknologi outlet waralaba dan mandiri yang mempunyai
Outlet Waralaba dan Mandiri harus menge- lebih dari satu karyawan semua proses pengam-
luarkan ide-ide baru dalam mengikuti perkem- bilan bahan baku sampai pelayanan kepada
bangan teknologi pangan, khususnya yang ber- konsumen dilakukan karyawan, sedangkan bagi
kaitan dengan pengelolaan produk, pemprosesan yang mempunyai satu karyawan, pada umumnya
dan pelayanan yang baik. Kemajuan teknologi kegiatan membeli ayam, mencatat transaksi,
dalam perusahaan dapat menciptakan keunggul- mengantarkan ke outlet, berbelanja keperluan
an komparatif baru yang lebih baik dari outlet dilakukan oleh pemilik, sedangkan karya-
keunggulan saat ini. Hal ini didukung dengan wan bertugas melakukan penggorengan dan
pengetahuan mendalam mengenai penggunaan melayani pembeli di outlet saja.
teknologi yang dipakai. Perkembangan komuni-
kasi yang telah dilakukan adalah penggunaan 4. Perbandingan Kelayakan Usaha Outlet
telepon dan layanan pesan singkat (short message). Ayam Goreng Waralaba dan Mandiri
Namun sayang, pengusaha outlet mandiri belum
Hasil perbandingan analisis kelayakan usaha
mencantumkan nomor telepon yang bisa
ayam goreng waralaba dan mandiri dapat dilihat
dihubungi pada outletnya.
pada Tabel 5. Pada Tabel 5 terlihat bahwa usaha

WIDURI ET AL Manajemen IKM


Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha 185

outlet ayam goreng sistem waralaba dan mandiri tidak selalu mempunyai cukup waktu untuk
layak untuk dilaksanakan. Tingkat pengembalian mengerjakan semua hal sekalipun mampu. Ketika
outlet waralaba lebih tinggi daripada outlet man- terjadi halangan sementara terhadap karyawan
diri karena pengaturan manajemen operasional untuk masuk kerja, pemilik yang menggantikan
yang teratur, terarah dan terencana, menyebabkan tugas karyawan, tetapi manakala pemilik tidak
sistem waralaba memberikan tingkat pengembali- mempunyai keluasaan waktu untuk mengganti-
an modal yang lebih cepat daripada yang ditun- kan, maka outlet sementara ditutup. Kepercayaan
jukkan dengan Net B/C 4,66 daripada mandiri konsumen akan berkurang ketika terjadi ketidak-
1,57. IRR mandiri lebih tinggi karena biaya tetap pastian waktu buka outlet. Sama halnya dengan
dan variabel yang harus dikeluarkan oleh outlet penelitian Rivai (2012), memajukan dan menum-
mandiri lebih sedikit daripada outlet waralaba. buhkan bisnis waralaba membutuhkan kredibili-
Outlet Sabana 1 yang mempunyai karyawan satu tas, kemampuan diferensiasi produk dan jasa
orang mempunyai tingkat pendapatan lebih yang manajemennya tertata secara baik.
rendah daripada Sabana 2, karena satu orang

Tabel 5. Perbandingan kelayakan usaha ayam goreng waralaba dan mandiri

Usaha Ayam Goreng


Indikator
Waralaba Mandiri
a. Keuangan
- NPV (Rp) 73.192.780 3.703.077
- IRR 21,30 28,14
- Net B/C 4,66 1,57
- PBP satu tahun sembilan bulan dan dua tiga tahun delapan bulan
puluh empat hari empat hari
- Modal Awal (Rp) 20.000.000 9.250.000
- Omset/ tahun (Rp) 180.734.200 91.451.514
- Laba/ tahun (Rp) 22.549.455 1.770.909
b. Teknis/teknologi
- Lokasi Di depan minimarket Di depan minimarket
Kompleks perumahan menengah ke Kompleks perumahan
bawah menengah ke bawah
- Peralatan yang dipergunakan Kompor Kompor
Alat penggorengan Alat penggorengan
- Proses pemasakan Bahan baku utama dan tambahan, Bahan baku utama dan
harus membeli dari Pewaralaba tambahan membeli dari pasar
tradisional atau penjual ayam
mentah keliling
Bumbu harus membeli dari Pewaralaba Bumbu meracik sendiri
c. Manajemen operasional Ada pelatihan karyawan, cara Latihan diadakan sendiri
menggoreng dan melayani pembeli
dari Pewaralaba
Karyawan mendapatkan baju seragam Karyawan tidak mendapatkan
Setiap berhasil menjual jumlah baju seragam
tertentu, mendapatkan bonus Tidak diberlakukan bonus
tambahan pencapaian penjualan
Karyawan mendapatkan gaji pokok Gaji pokok
dan insentif kehadiran
- Waktu outlet 11.00 – 20.00 WIB 11.00 – 21.00 WIB
- Libur Satu pekan sekali dan hari raya Idul Satu pekan sekali dan hari raya
Fitri/Idul Adha. Idul Fitri/Idul Adha
- Absensi Karyawan 1-2 orang, jika salah satu Karyawan 1-2 orang, jika salah
karyawan berhalangan digantikan oleh satu karyawan berhalangan
karyawan yang lain/pemilik atau digantikan oleh karyawan
ditutup. yang lain/pemilik atau ditutup.
- Persentase rataan outlet buka Sabana 1 - 85% Asoka – 75%
dalam satu bulan sesuai dengan Sabana 2 – 95% CFC – 90%
jadwal buka tahun 2011

Vol. 9 No.2 September 2014


186 Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha

Persepsi Konsumen ibu rumah tangga. Pendapatan maupun penge-


luaran sebagian besar responden rumah tangga
Responden yang menjadi obyek penelitian
sudah mencapai lebih dari Rp3,9 juta per bulan.
terdiri atas 4 orang nara sumber pemilik outlet
Pendidikan responden sebagian besar lulusan
ayam goreng, 4 orang nara sumber karyawan
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan
outlet ayam goreng dan 120 orang responden
perguruan tinggi. Lebih tinggi dari-pada Upah
konsumen/pembeli produk ayam goreng yang
Minimum Regional (UMR) Kabupaten Bogor
masing-masing terbagi atas 60 konsumen ayam
yaitu 1,3 juta rupiah.
goreng waralaba dan 60 konsumen ayam goreng
Usia responden yang sebagian besar antara
mandiri. Karakteristik umum responden dapat
usia 37-46 tahun didominasi oleh kelompok yang
ditunjukkan dari usia, pekerjaan, jumlah anggota
secara emosional sudah cukup dewasa. Pekerja-
keluarga, pendidikan terakhir, status dalam ke-
an sebagai ibu rumah tangga, karena di kompleks
luarga dan besar pengeluaran keluarga per bulan.
perumahan sebagian besar suami sebagai pekerja
Berdasarkan data pada Tabel 6, dapat
di luar kompleks. Sebagian besar responden ber-
dilihat bahwa responden konsumen ayam goreng
pendidikan diploma/sarjana, semakin menguat-
waralaba maupun mandiri didominasi oleh kaum
kan daya rasionalitas responden ketika melaku-
perempuan yang sudah menikah, berusia lebih
kan pengisian kuesioner.
dari 36 tahun dan sebagian besar bekerja sebagai

Tabel 6. Karakteristik umum responden ayam goreng

Waralaba Mandiri
No. Karakteristik responden Jumlah Persentase Jumlah Persentase
(orang) (%) (orang) (%)
1 Jenis kelamin
Laki-laki 3 5 8 13
Perempuan 57 95 52 87
2 Usia (tahun)
17 – 26 6 10 8 13
27 – 36 23 38 20 33
37 – 46 31 52 28 47
> 47 4 7
3 Pekerjaan
Mahasiswa/Pelajar/PNS/Swasta 6 10 9 15
Wirausaha 3 6 8 13
Ibu rumah tangga 38 63 39 65
Lainnya, 13 21 4 7
4 Pendapatan keluarga/bulan (Rp)
< 1.300.000 11 18 5 9
1.300.000 – 3.900.000 7 12 14 23
> 3.900.000 42 70 41 68
5 Pengeluaran keluarga/bulan (Rp)
< 1.300.000 15 25 12 20
1.300.000 – 3.900.000 10 17 9 15
> 3.900.000 35 58 39 65
6 Pendidikan terakhir
SD 1 2 1 2
SLTP 7 11 6 10
SLTA 18 30 24 40
Diploma/Sarjana 34 57 29 48
7 Status pernikahan
Belum menikah 6 10 8 13
Sudah menikah 54 90 49 82
Pernah menikah 3 5

WIDURI ET AL Manajemen IKM


Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha 187

Perbandingan Perilaku Konsumen pada Usaha informasi secara internal. Respon-den waralaba
Outlet Ayam Goreng Waralaba dan Mandiri memberikan jawaban tersebut 60% dan responden
mandiri 35%. Sumber informasi lainnya (teman,
Berdasarkan Engel et al., (1994) terdapat
keluarga, dan orang lain) menjadi faktor kecil dari
lima tahapan proses keputusan pembelian
sumber informasi (Gambar 3).
konsumen, yaitu (a) pengenalan kebutuhan, (b)
pencarian informasi, (c) evaluasi alternatif, (d)
pembelian dan (e) perilaku setelah pembelian. Waralaba Mandiri
a. Pengenalan kebutuhan
Hasil analisis menunjukkan keseluruhan
responden menyatakan bahwa manfaat yang
dicari dari pembelian ayam goreng waralaba dan
mandiri adalah praktis dan terjamin mutunya.
Manfaat dominan yang dicari dari pembelian
ayam goreng mandiri adalah kepraktisan.
Responden waralaba memilih 57%, sedangkan
mandiri 80%. Perbandingan manfaat ini bisa
dilihat pada Gambar 1. Gambar 2. Persentase motivasi pembelian konsumen
ayam goreng waralaba dan mandiri
Waralaba Mandiri

Waralaba Mandiri

Gambar 1. Persentase manfaat yang dirasakan


konsumen ayam goreng waralaba dan
mandiri
Gambar 3. Persentase sumber informasi konsumen
ayam goreng waralaba dan mandiri
Setelah diketahui manfaat yang dicari, maka
ada beberapa motivasi tertentu yang mendorong c. Evaluasi alternatif
konsumen dalam pembelian ayam goreng. Harga merupakan hal utama yang
Responden waralaba memilih faktor harga (42%), menjadi pertimbangan awal bagi konsumen
kemudahan memperoleh (22%), higienis (15%), dalam pembelian. Responden ayam goreng
mutu (13%), serta faktor lain seperti kemasan dan waralaba memilih harga (60%) sebagai faktor
pelayanan (7%). Motivasi dominan yang men- dominan. Selain itu, faktor mudah didapatkan/
dorong konsumen dalam pembelian ayam goreng diperoleh (25%) menjadi pertimbangan awal
mandiri adalah harga (39%), faktor kemudahan konsumen dalam pembelian ayam goreng
memperoleh produk (25%), higienis (18%), mutu waralaba. Faktor utama yang menjadi per-
(10%) dan pelayanan (8%). timbangan awal konsumen dalam membeli
Harga menjadi pertimbangan awal dalam ayam goreng mandiri adalah harga (38%) dan
pembelian bagi kedua outlet karena konsumen ibu mudah diperoleh (37%). Selengkapnya dapat
rumah tangga cukup rentan dengan selisih harga dilihat pada Gambar 4.
walaupun kecil. Konsumen yang tinggal di Bukti lain yang menunjukkan peubah
kompleks perumahan menengah ke bawah, harga ini cukup penting adalah dengan pilihan
pertimbangan semacam itu wajar. Persentase konsumen untuk pindah ke outlet yang lain
motivasi pembelian dapat dilihat pada Gambar 2. seandainya harga ayam goreng di outlet
b. Pencarian informasi dinaikkan. Kemampuan pengelola outlet untuk
Hasil kajian menunjukkan, baik konsu-men mencermati loyalitas konsumen pada harga ini
ayam goreng waralaba dan mandiri memperoleh harus dijadikan perhatian yang cukup serius.

Vol. 9 No.2 September 2014


188 Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha

Saat ini, outlet yang berada di area mini tempat di daerah yang berdekatan dengan
market tidak diperbolehkan menjual jenis lokasi outlet, tidak sedang memasak untuk
barang yang sama, maka bagi pengusaha outlet keluarga di rumah atau secara mendadak
ayam goreng cukup aman, karena tidak ada anak menginginkan menu ayam goreng.
pengusaha lain yang berjualan jenis barang
sama di area dan sekitar mini market. e. Perilaku setelah pembelian
Berdasarkan Gambar 7, diketahui bahwa
Waralaba Mandiri 88% konsumen waralaba menyatakan puas,
12% menyatakan tidak puas. Semakin besar
kepuasan konsumen, maka semakin besar
peluang melakukan pembelian ulang. Hal
tersebut dapat disimpulkan bahwa kepuasan
terhadap produk atau jasa yang diberikan
memengaruhi pada pembelian selanjutnya
menimbulkan kesetiaan terhadap merek. Di-
ketahui bahwa dari 60 responden ayam goreng
mandiri, 90% di antaranya menyatakan ke-
Gambar 4. Persentase alternatif pertimbangan konsu- puasan, 10% menyatakan ketidakpuasan. Ting-
men membeli ayam goreng waralaba dan kat kepuasan terhadap produk atau jasa yang
mandiri diberikan mempengaruhi pada pembelian
yang selanjutnya menimbulkan kesetiaan
d. Proses pembelian
terhadap merek.
Berdasarkan Gambar 5, dapat diketahui
bahwa dalam rumah tangga konsumen ayam Waralaba Mandiri
goreng waralaba, menyatakan bahwa keputus-
an pembelian lebih banyak dipengaruhi oleh
anak-anak (40%) dan ibu/istri (37%). Pada
ayam goreng mandiri, penyebab melakukan
pembelian oleh anak anak (45%) dan ibu/istri
(37%).

Waralaba Mandiri
Gambar 6. Persentase penyebab keputusan pembelian
ayam goreng waralaba dan mandiri

Waralaba Mandiri

Gambar 5. Persentase penentu keputusan pembelian


ayam goreng waralaba dan mandiri

Gambar 6 menunjukkan penyebab


Gambar 7. Persentase tingkat loyalitas konsumen
kebanyakan konsumen membeli ayam goreng ayam goreng waralaba dan mandiri
waralaba adalah tidak terencana sebelumnya.
Konsumen ayam goreng waralaba 42% dan Hasil kuesioner terhadap 60 responden
mandiri 57% menyatakan bahwa pembelian ayam goreng waralaba menyatakan tindakan
dilakukan secara mendadak karena merasa konsumen, jika harga di outlet tersebut mengalami
perlu atau sekedar singgah ke outlet ayam kenaikan harga, maka sebanyak 33% menyatakan
goreng. Konsumen melakukan pembelian akan membeli ayam goreng merek lain. Dari 60
pada saat sedang berkunjung pada suatu responden ayam goreng mandiri, sebagian besar

WIDURI ET AL Manajemen IKM


Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha 189

menyatakan akan membeli ayam goreng merek Faktor Internal


lain atau akan mencari di tempat lain produk Kekuatan yang diidentifikasi terdiri dari
ayam goreng mandiri apabila tidak ada produk manajemen usaha berjalan baik, lokasi yang
ayam goreng mandiri pada outlet atau produk nyaman dan strategik, tersedianya bahan baku,
mengalami kenaikan harga (Gambar 7). alat produksi memadai dan kecepatan pelayanan.
Walaupun hampir semua konsumen me- Dalam kegiatan operasionalnya, suatu usaha
ngaku puas dengan produk ayam goreng outlet dituntut untuk selalu melakukan tindakan yang
waralaba dan mandiri, perlu dijadikan nilai efektif dan efisien, dikarenakan dalam bisnis/
tambah sekaligus kewaspadaan bagi pengusaha usaha, selain produk yang dijual, faktor pelayan-
bahwa penilaian itu muncul karena kurangnya an atau jasa juga diperhitungkan. Untuk itu suatu
persaingan di area yang sama atau area terdekat. usaha perlu menerapkan manajemen usaha yang
Seandainya terdapat penjual jenis produk yang baik, yaitu mulai dari perencanaan usaha, modal,
sama di dekat area mini market mungkin pengadaan bahan baku proses pengolahan sampai
situasinya bisa berbeda. dengan penyajian kepada konsumen. Usaha ayam
Kombinasi terhadap pilihan konsumen goreng waralaba, secara manajemen sudah
bahwa faktor harga, jaminan mutu dan higienes/ terbentuk, sehingga terwaralaba bisa langsung
kebersihan merupakan faktor pertimbangan di meniru manajemen pewaralaba.
atas 50% dari semua outlet waralaba dan mandiri, Seperti halnya pada ayam goreng waralaba,
menegaskan bahwa adanya nama merek tertentu, faktor-faktor yang menjadi kekuatan usaha ayam
dan kemasan yang menarik kurang mendapatkan goreng mandiri terdiri dari manajemen usaha
minat bagi konsumen outlet ayam goreng. berjalan baik, lokasi yang nyaman dan strategik,
Kesepakatan tidak tertulis bahwa merek yang tersedianya bahan baku, alat produksi memadai,
terkenal dan ketertarikan terhadap kemasan dan kecepatan pelayanan. Yang menjadi kelemah-
adalah untuk konsumsi kelas menengah ke atas an usaha ayam goreng mandiri adalah modal
ternyata mendapatkan kesesuaian data. usaha terbatas, biaya produksi meningkat, kapa-
Kepercayaan pada pemilik outlet menda- sitas produksi terbatas dan kurangnya promosi.
patkan cukup banyak pilihan. Pada outlet
waralaba 46% dan mandiri 33%. Hal ini Faktor Eksternal
menunjukkan bahwa penilaian bagi pengusaha Peluang yang diidentifikasi terdiri dari
yang tinggal di kompleks perumahan menjadi jumlah konsumen yang semakin meningkat,
perhatian cukup penting dan tidak terlepas dari kemitraan dengan pemasok bahan baku yang
sorotan pembeli, apalagi jika diketahui sebagian harmonis, pemasaran ayam goreng terbuka lebar,
besar pembeli adalah ibu rumah tangga, perubahan gaya hidup dan perekonomian
walaupun nilai persentase kurang dari 50%. semakin baik. Ancaman yang dihadapi terdiri
Cerminan bagi para pengusaha untuk menjaga dari kesadaran konsumen terhadap mutu, tingkat
citra baik di kalangan warga kompleks perumah- persaingan usaha yang ketat, daya saing dan citra
an sebagai suatu simbol kepercayaan. produk meningkat, akses permodalan lemah dan
isu flu burung. Dengan jumlah penduduk hampir
Strategi Pengembangan Usaha men-capai lima juta jiwa di wilayah Bogor, telah
menjadi salah satu wilayah sasaran penjualan
Berdasarkan hasil analisis lingkungan, baik
produk, atau pangsa pasar yang besar, memberi-
internal maupun eksternal, usaha ayam goreng
kan peluang besar untuk meningkatkan penjualan
berupa faktor kekuatan dan kelemahan, serta faktor
produk ayam goreng waralaba.
peluang dan ancaman yang berpengaruh terhadap
pengembangan usaha, ditetapkan posisi usaha ayam
Matriks IFE dan EFE
goreng waralaba menggunakan matriks IFE dan
1. IFE
EFE, serta dirumuskan strategi yang akan diterap-
Matriks IFE menggambarkan kondisi
kan dengan analisis SWOT dan QSPM. Proses
internal usaha yang terdiri dari kekuatan dan
manajemen strategik pada hakikatnya adalah
kelemahan yang dihitung berdasarkan rating
serangkaian penuh komitmen, keputusan dan
dan bobot melalui kuesioner dari pemilik dan
tindakan yang diperlukan sebuah perusahaan untuk
karyawan usaha ayam goreng waralaba. Tabel 7
mencapai daya saing strategik dan mendapatkan
menunjukkan matriks IFE yang menganalisis
laba di atas rataan (Lee and Tsai, 2005).
sembilan faktor sukses kritis yang terdiri dari
lima kekuatan dan empat kelemahan.

Vol. 9 No.2 September 2014


190 Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha

Berdasarkan hasil analisis matriks IFE pada lebih menyukai jarak yang dekat dengan rumah.
Tabel 16 terlihat faktor kekuatan utama usaha Kelemahan utamanya adalah modal usaha yang
waralaba adalah manajemen usaha yang telah terbatas (0,141). Outlet terwaralaba mandiri didiri-
berjalan dengan baik (0,534), dikarenakan pada kan oleh pengusaha yang mempunyai misi men-
bentuk usaha waralaba manajemen usaha sudah jadi pewaralaba, tetapi terhambat oleh terbatas-
diatur atau mengikuti manajemen pewaralaba. nya modal yang dimiliki. Keterbatasan modal ini
Manajemen berfungsi untuk mengatur agar segala mempengaruhi kemampuan untuk menggantikan
hal dapat berjalan dengan baik. Kelemahan utama biaya yang timbul tatkala penjualan sedang sepi.
adalah kurangnya promosi dengan nilai ter- Faktor internal ayam goreng waralaba
timbang terkecil (0,097). Waralaba dikembangkan dengan total skor 2,916 dan ayam goreng mandiri
melalui sistem jaringan dari mulut ke mulut, dengan total skor 2,495 menunjukan keduanya
tanpa seorangpun menyadari bahwa suatu mampu memanfaatkan kekuatan internal untuk
pengembangan usaha melalui promosi atas mengatasi kelemahan.
inovasi produk akan menentukan perkembangan
usaha. Promosi sangat diperlukan untuk penge- 2. EFE
nalan produk dan pengembangan usaha baik Matriks EFE menggambarkan kondisi
melalui orang per orang ataupun media massa. eksternal usaha yang terdiri dari peluang dan
Hasil penelitian Bridges et al. (2009), Nagar (2010) ancaman. Tabel 8 menunjukkan matriks EFE yang
dan Omotayo (2011) menemukan bahwa promosi menganalisis 10 faktor sukses kritis yang terdiri
penjualan adalah faktor penting dalam menentu- dari lima peluang dan lima ancaman
kan loyalitas pelanggan dan mampu memengaru-
hi secara langsung minat pelanggan untuk mela- Tabel 8. Faktor eksternal usaha ayam goreng waralaba
kukan pembelian ulang pada masa mendatang. dan mandiri

FAKTOR Skor Skor


Tabel 7. Faktor internal usaha ayam goreng waralaba EKSTERNAL Waralaba Mandiri
dan mandiri Peluang
Skor Skor A Konsumen yang 0,458 0,329
Faktor Internal semakin meningkat
Waralaba Mandiri
Kekuatan B Kemitraan dengan 0,298 0,350
A Manajemen usaha 0,534 0,261 pemasok bahan baku
berjalan baik yang harmonis
B Lokasi nyaman dan 0,462 0,482 C Pemasaran ayam 0,334 0,302
strategik goreng terbuka lebar
C Tersedianya bahan baku 0,375 0,316 D Perubahan gaya hidup 0,349 0,321
D Alat produksi memadai 0,449 0,293 E Perekenomian semakin 0,221 0,226
E Kecepatan pelayanan 0,430 0,328 baik
Kelemahan Ancaman
F Modal usaha terbatas 0,191 0,141 F Kesadaran konsumen 0,200 0,085
G Biaya produksi 0,148 0,222 terhadap mutu
meningkat G Tingkat persaingan 0,165 0,181
H Kapasitas produksi 0,229 0,231 usaha yang ketat
terbatas H Daya saing dan citra 0,175 0,225
I Kurang promosi 0,097 0,221 produk meningkat
I Akses permodalan 0,264 0,222
TOTAL 2,916 2,495
lemah
J Isu flu burung 0,217 0,160
Matriks IFE untuk usaha ayam goreng TOTAL 2,681 2,402
mandiri menunjukkan bahwa faktor yang menjadi
kekuatan utama adalah lokasi nyaman dan Analisis matriks EFE menunjukkan bahwa
strategic (0,482). Lokasi di depan mini market faktor yang menjadi peluang utama pada usaha
dalam kompleks perumahan menjadi kekuatan ayam goreng mandiri adalah kemitraan dengan
ayam goreng mandiri. Konsumen sebagian besar pemasok bahan baku yang harmonis (0,350). Hal
warga kompleks perumahan yang membutuhkan ini menjadi penting, karena hubungan baik
ketersediaan barang ketika diperlukan. Kecepatan dengan pemasok untuk menjaga kontinuitas
dalam memberikan pelayanan termasuk dalam kelangsungan penjualan, mendapatkan harga di
faktor lokasi yang strategis karena konsumen

WIDURI ET AL Manajemen IKM


Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha 191

bawah harga pasar. Sementara pada ayam goreng laba harus memberikan yang terbaik untuk
waralaba adalah konsumen yang semakin konsumen, baik dari segi kualitas produk
meningkat (0,458). maupun pelayanannya.
Ancaman terbesarnya adalah kesadaran 2) Strategi kelemahan dan peluang (weaknesses-
konsumen terhadap mutu dengan nilai 0,085. opportunities): Melakukan promosi melalui
Konsumen perumahan yang sebagian besar lulus- penyebaran leaflet, radio lokal dan internet.
an sarjana/diploma mulai memahami tentang kerja sama dengan komunitas perumahan,
risiko terhadap kesehatan akibat penggunaan menjalin kemitraan dengan perusahaan yang
minyak goreng secara berulang bisa mengganggu lebih besar (W4,W1, O1,O3,O4,O5).
kesehatan. Pemilik ayam goreng mandiri harus 3) Strategi kekuatan dan ancaman (strengths-
melakukan antisipasi dengan membuat jadwal threats): Menjaga brand image (S1,S2,S5,T2,T1,T5)
penggantian penggunaan minyak goreng secara Dengan banyak pesaing pada usaha
teratur. Pada ayam goreng waralaba, yang sejenis, penjagaan image produk harus dilaku-
menjadi ancaman utamanya adalah Tingkat kan, diantaranya dengan konsisten memperta-
persaingan usaha yang ketat (0,165). hankan kelezatan dan cita rasa cryspy yang
Total skor EFE ayam goreng waralaba 2,681 bersih dengan tidak lembek setelah penggo-
dan ayam goreng mandiri 2,402 menunjukkan rengan dan mengoptimalkan pelayanan de-
posisi eksternal yang kuat, karena mampu me- ngan bersikap ramah, serta menggunakan kaos
manfaatkan peluang untuk mengatasi ancaman. tangan ketika transaksi.
4) Strategi kelemahan dan ancaman (weaknesses-
3. Matriks Internal-Eksternal treaths): Menghadiri dan mengikuti pameran-
Berdasarkan analisis matriks IFE ayam pameran makanan (W4,W1,T2,T1, T3)
goreng waralaba didapatkan nilai skor 2,916 dan Melakukan promosi melalui kegiatan
matriks EFE 2,681, menempatkan usaha ayam pameran-pameran makanan atau terlibat
goreng waralaba masuk pada sel V dalam matriks memberikan hadiah pada acara peringatan
IE. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan hari kemerdekaan di perumahan, memasang
berada pada posisi Hold and Maintain (pertahan- banner produk, kerjasama acara khitanan, pesta
kan dan pelihara), maka digunakan strategi pernikahan dan kegiatan lain yang sejenis
penetrasi pasar dan pengembangan produk. dapat meningkatkan pengetahuan tentang
Analisis matriks IFE dan EFE usaha ayam produk agar lebih dikenal di masyarakat.
goreng mandiri menghasilkan nilai IFE 2,495 dan
Berdasarkan matriks SWOT usaha ayam
nilai EFE 2,402, yang menunjukkan posisi
goreng mandiri (Gambar 9), maka alternatif
eksternal usaha rataan dalam memanfaatkan
strategi yang dapat dilakukan untuk penetrasi
peluang dan mengatasi ancaman yang ada.
pasar dan pengembangan produk adalah:
Berdasarkan hasil tersebut, usaha ayam goreng
1) Strategi kekuatan dan peluang (strengths-
mandiri berada pada sel V dari matriks IE. Hal ini
opportunities): Mempertahankan kesetiaan kon-
menunjukkan bahwa usaha ayam goreng mandiri
sumen dan hubungan baik dengan pemasok
berada pada posisi Hold and Maintain (pertahan-
(S2,S3,S5,O2,O1,O3).
kan dan pelihara), maka digunakan penetrasi
Strategi ini dapat dilakukan dengan
pasar dan pengembangan produk.
memberikan yang terbaik untuk konsumen,
baik dari segi mutu produk maupun pela-
4. Matriks SWOT
yanannya. Menjaga hubungan baik dengan
Uraian strategi pada Matriks SWOT ayam
pemasok, dilakukan dengan menjalin hubung-
goreng waralaba dapat dilihat pada Gambar 8.
an dengan pemasok, antara lain melakukan
Pada tabel tersebut diketahui alternatif strategi
pembelian bahan baku secara kolektif, sehing-
yang dapat dilakukan untuk penetrasi pasar dan
ga bahan baku tetap terjaga dan mampu men-
pengembangan produk, yaitu:
jamin kontinuitas ketersediaan bahan baku,
1) Strategi kekuatan dan peluang (strengths-
membuat kesepakatan harga maksimum antar
opportunities): Menjaga loyalitas konsumen
pemilik outlet.
dengan mengoptimalkan mutu produk dan
2) Strategi kelemahan dan peluang (weaknesses-
pelayanan (S1,S2,S5, O1,O3,O4,O5).
opportunities): Gencar melakukan pencarian
Meningkatkan loyalitas konsumen ter-
alternatif tambahan modal (W1,W2,W3,W4,
hadap suatu usaha/perusahaan sangat penting,
O2,O1,O3).
dalam hal ini adalah usaha ayam goreng wara-

Vol. 9 No.2 September 2014


192 Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha

Modal adalah hal mutlak yang harus dimiliki lewat lembaga keuangan perbankan, koperasi,
untuk pengembangan usaha. Pegiat usaha lembaga keuangan mikro, maupun lembaga
ayam goreng mandiri harus melakukan penca- keuangan lain.
rian alternatif untuk mendapatkan modal, baik

Kekuatan (S) Kelemahan (W)


Faktor Internal 1.Manajemen usaha berjalan baik 1. Modal usaha terbatas
2.Lokasi nyaman dan strategik 2. Biaya produksi meningkat
3.Tersedianya bahan baku 3. Kapasitas produksi terbatas
Faktor Eksternal 4.Alat produksi memadai 4. Kurang promosi
5.Kecepatan pelayanan
Peluang (O) Strategi S-O Strategi W-O
1. Konsumen yang semakin meningkat Menjaga loyalitas konsumen Promosi melalui penyebaran
2. Kemitraan dengan pemasok bahan dengan mengoptimalkan mutu leaflet, radio lokal dan internet,
baku yang harmonis produk dan pelayanan dengan kerja sama dengan komunitas
3. Pemasaran ayam goreng terbuka cara menjaga rasa tetap crispy dan perumahan, menjalin
lebar mempercepat proses transaksi kemitraan dengan perusahaan
4. Perubahan gaya hidup (S1,S2,S5,O1,O3,O4,O5) yang lebih besar
5. Perekenomian semakin baik (W4,W1,O1,O3,O4,O5)
Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T
1. Kesadaran konsumen terhadap mutu Menjaga brand image dengan Menghadiri dan mengikuti
2. Tingkat persaingan usaha yang ketat menjaga harga tetap murah dan pameran-pameran makanan,
3. Daya saing dan citra produk petugas menggunakan kaos konsolidasi usaha antar
meningkat tangan ketika melayani pembeli, terwaralaba ayam goreng,
4. Akses permodalan lemah ramah (S1, S2,S5,T2,T1,T5) memasang banner, aktif pada
5. Isu flu burung kegiatan warga.
(W4,W1,T2,T1, T3)

Gambar 8. Matriks SWOT usaha ayam goreng waralaba

Kekuatan (S) Kelemahan (W)


Faktor Internal 1. Manajemen usaha berjalan 1. Modal usaha terbatas
baik 2. Biaya produksi meningkat
2. Lokasi nyaman dan strategik 3. Kapasitas produksi
3. Tersedianya bahan baku terbatas
4. Alat produksi memadai 4. Kurang promosi
Faktor Eksternal
5. Kecepatan pelayanan
Peluang (O) Strategi S-O Strategi W-O
1. Konsumen yang semakin Mempertahankan kesetiaan Gencar melakukan pencarian
meningkat konsumen dan hubungan baik alternatif tambahan modal
2. Kemitraan dengan pemasok dengan pemasok. dengan melalui pembentukan
bahan baku yang harmonis kesepakatan harga maksimum, kelompok outlet mandiri
3. Pemasaran ayam goreng terbuka pembelian bahan baku secara untuk mengurangi biaya
lebar kolektif, antar outlet bahan baku.
4. Perubahan gaya hidup (S2,S3,S5,O2,O1,O3) (W1,W2,W3,W4,O2,O1,O3)
5. Perekonomian semakin baik
Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T
1. Kesadaran konsumen terhadap Meningkatkan mutu produk dan Melakukan promosi,
mutu layanan dengan cara membuat terutama melalui internet,
2. Tingkat persaingan usaha yang produk tetap cryspy dan ramah penyebaran leaflet, radio
ketat pada pembeli. (S1,S2,S5,T2,T1,T5) lokal (W1,W2,W4,T1,T2, T4)
3. Daya saing dan citra produk
meningkat
4. Akses permodalan lemah
5. Isu flu burung

Gambar 9. Matriks SWOT usaha ayam goreng mandiri

WIDURI ET AL Manajemen IKM


Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha 193

3) Strategi kekuatan dan ancaman (strengths- diantisipasi, karena konsumen tidak terlalu mem-
threats): Meningkatkan mutu produk dan permasalahkan merk, maka organisasi modern
layanan (S1,S2,S5,T2,T1,T5). perlu melakukan penjagaan merk melalui citra
Agar dapat bersaing dengan usaha sebagai faktor penentu utama pada masa
sejenis maupun usaha ayam goreng waralaba mendatang. Wang et al. (2012) menemukan bahwa
yang sudah memiliki mutu yang diakui, maka citra perusahaan memiliki hubungan langsung
usaha ayam goreng mandiri harus mulai dan berpengaruh nyata terhadap loyalitas
mempertahankan konsistensi kelezatan, cita pelanggan.
rasa dan mutu produk dengan tetap menjaga
5. Analisis QSPM
produk tetap cryspy dan mengoptimalkan
Tahap akhir dalam penentuan urutan
pelayanan dengan cara bersikap ramah kepada
alternatif strategi sebagai strategi prioritas yang
pembeli.
dilakukan menggunakan alat analisis QSPM
4) Strategi kelemahan dan ancaman (weaknesses-
berdasarkan pengembangan David (2006). Ber-
threats): Melakukan promosi sendiri, terutama
dasarkan hasil perhitungan matriks QSPM ayam
melalui internet, penyebaran leaflet, dan radio
goreng waralaba, diperoleh strategi yang paling
lokal (W1,W2,W4,T1,T2, T4).
menarik untuk diterapkan adalah menjaga loyali-
Adanya keterbatasan dana (modal yang
tas konsumen. Adapun urutan strategi prioritas
terbatas), maka usaha promosi dilakukan
hasil QSPM ayam goreng waralaba adalah:
sendiri dengan mengefisienkan biaya. Promosi
a. Menjaga loyalitas konsumen dengan meng-
usaha ayam goreng yang paling murah adalah
optimalkan mutu produk dan pelayanan
lewat mulut ke mulut, kemudian memanfaat-
antara lain cita rasa yang tidak berubah, sikap
kan internet, leaflet sederhana, dan radio lokal.
ramah pada konsumen, mempercepat pe-
nyelesaian transaksi (TAS = 0,37).
Posisi yang sama di kuadran V membukti-
b. Menjaga brand image (TAS = 0,36).
kan bahwa pada dasarnya manajemen outlet ayam
c. Melakukan promosi melalui penyebaran leaflet,
goreng waralaba dan mandiri sudah pada posisi
radio lokal dan internet (TAS 0,33).
bagus secara pengelolaan, walaupun masing
d. Menghadiri dan mengikuti pameran-pameran
masing mempunyai keunggulan relatif. Posisi S-
makanan (TAS = 0,33).
O yang menjadikan, baik waralaba dan mandiri
Dari analisis QSPM ayam goreng mandiri,
perlu menjaga loyalitas konsumen di kompleks
diperoleh strategi untuk diterapkan adalah
perumahan kelas menengah ke bawah, tidak ada
meningkatkan mutu produk dan layanan. Urutan
persaingan yang cukup berarti di sekitar mini
strategi prioritas hasil QSPM ayam goreng
market. Perilaku konsumen yang setia pada harga,
mandiri adalah:
mutu produk terjamin, kebersihan harus dijaga.
a. Meningkatkan mutu produk dan layanan
Perlu dipikirkan secara cermat ketika suatu saat
(TAS = 0,37)
terjadi peningkatan harga peubah terhadap biaya
b. Gencar melakukan pencarian alternatif
produksi bahan baku, terutama harga gas, bahan
tambahan modal (TAS = 0,34).
baku daging ayam mentah. Menghadiri dan
c. Melakukan promosi sendiri terutama melalui
mengikuti pameran makanan membuat outlet
internet, penyebaran leaflet, dan radio lokal
waralaba tidak kehilangan jati diri, karena men-
(TAS = 0,33).
dapatkan informasi baru mengenai perkembang-
d. Mempertahankan kesetiaan konsumen dan
an outlet ayam goreng di tempat lain. Bagi outlet
hubungan baik dengan pemasok (TAS = 0,32.
mandiri, hubungan baik dengan pemasok perlu
dijaga supaya tidak terjadi keko-songan pasokan
ketika terjadi fluktuasi harga bahan baku. KESIMPULAN
Strategi W-O pada outlet waralaba segera
digencarkan dengan penyebaran leaflet, radio 1. Kelayakan usaha dilihat dari empat kriteria
kelayakan analisis keuangan dengan tingkat
lokal, internet untuk menunjukkan positioning dari
pengembalian lebih dari bunga deposito 5%,
produk ayam goreng, sedangkan bagi mandiri
membina jaringan dengan lembaga-lembaga atau menunjukkan usaha ayam goreng, baik
waralaba maupun mandiri layak dilakukan.
pribadi di luar untuk mencari pendanaan
tambahan guna meningkatkan mutu persaingan, Usaha ayam goreng waralaba memberikan
tingkat pengembalian hasil lebih cepat 1,10
karena secara pondasi dasar outlet mandiri lebih
efisien secara biaya. Brand image waralaba perlu

Vol. 9 No.2 September 2014


194 Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha

tahun dan 15 hari dari pada usaha ayam Bridges, E., Briesch. R. A. and Yim, C. K. 2009.
goreng mandiri. Effects of Prior Brand Usage and Promo-
2. Berdasarkan analisis persepsi konsumen, tion on Consumer Promotion Response.
faktor yang memengaruhi pembelian, baik Journal of Retailing, 82(4): 295-307
usaha ayam goreng waralaba maupun usaha David, F.R. 2006. Strategic Management: Prentice
ayam goreng mandiri adalah harga, mutu, Hall International Inc., New Jersey
higienisitas, kepraktisan dan kemudahan Engel, F.J., R.D. Blackwell dan P.W. Miniard. 1994.
diperoleh. Perilaku Konsumen (Terjemahan). Binarupa
3. Berdasarkan hasil analisis faktor lingkungan, Aksara, Jakarta.
IFE, EFE, IE, SWOT dan QSPM pada masing- Karamoy, A. 2005. Menjadi Kaya Lewat Waralaba.
masing usaha, didapatkan urutan alternatif Pustaka Bisnis Indonesia, Jakarta.
strategi untuk usaha ayam goreng waralaba Lee, T.S. and Tsai, H.J. 2005. The Effects of
maupun mandiri adalah: (a) Usaha ayam Business Operation Mode on Market
goreng waralaba melakukan penjagaan Orientation and Innovativeness. Emerald
loyalitas konsumen dengan cara menjaga rasa Group Publishing Limited, Industrial
produk tetap renyah dan bersih, sikap ramah Management and Data System, 105(3): 325-
dalam pelayanan, menjaga kebersihan outlet, 348.
tidak menaikan harga, menjaga brand image, Nagar, K. 2010. Evaluating the Effects of
melakukan promosi melalui penyebaran Consumer Sales on Brand Loyal and Brand
leaflet, radio lokal dan internet, menghadiri Switching segments. VISSION-Journal of
dan mengikuti pameran makanan; dan (b) Business Perspective, 13(4): 35-48.
Usaha ayam goreng mandiri dengan mem- Omotayo, O.A. 2011. Sales Promotion and
pertahankan mutu produk dan pelayanan Consumer Loyalty: A Study of Nigerian
dengan cara membuat rasa produk tidak Financial Industry. Journal of Competitive-
berubah, melakukan pembelian bahan baku ness, 3(1): 73-84.
kepada pemasok secara kolektif bersama Rivai, M.M. 2012. Pengaturan Waralaba di
outlet lain, pencarian alternatif tambahan Indonesia; Perspektif Hukum Bisnis. Jurnal
modal melalui program kemitraan. Liquidity, 1(2): 159-166.
Wang, C.M., Tu, Y.T, and Chang, H.C. 2012.
Corporate Brand Image and Customer
DAFTAR PUSTAKA
Satisfaction on Loyalty: An Empirical Study
Aryanti, D.A. 2010. Kajian Preferensi Konsumen of Financial Service in Taiwan. Journal of
terhadap Beras Berlabel di Wilayah Keca- Social and Development Sciences, 3(1): 24-32.
matan Koja Jakarta Utara [Tesis]. Bogor: Wati, Y.D., M. Hubeis dan A. Saleh. 2009. Kajian
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Program Penyaluran Kredit Usaha Kecil
Bogor. Melalui Program Kemitraan (Kasus PT BNI
Astuti, D. 2005. Kajian Bisnis Franchise Makanan dengan Lembaga Pendamping IPB). Jurnal
di Indonesia. Jurnal Manajemen & Kewira- MPI, 4(1): 17-37.
usahaan, 7(1): 83-98. Zabidi, Y. 2001. Supply Chain Management : Teknik
Terbaru.

WIDURI ET AL Manajemen IKM