Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN PADA


KEGAWATDARURATAN PERSALINAN DENGAN EMBOLI
CAIRAN KETUBAN

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Asuhan Kegawatdaruratan


Maternal dan Neonatal yang dibina oleh Didien Ika Setyarini, S.Si.T., M.Keb.

Disusun Oleh:
Dwi Fransiska Natalia
NIM. P17310174058

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


KPOLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN MALANG
2019

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Emboli air ketuban (EAK) adalah masuknya cairan ketuban beserta
komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen di sini
ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban seperti lapisan kulit janin yang
terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental. Emboli air
ketuban atau EAK (Amniotic fluid embolism) merupakan kasus yang sangat
jarang terjadi. Kasusnya antara 1 : 8.000 sampai 1 : 80.000 kelahiran. Bahkan
hingga tahun 1950, hanya ada 17 kasus yang pernah dilaporkan. Sesudah tahun
1950, jumlah kasus yang dilaporkan sedikit meningkat (dr. Irsjad Bustaman,
SpOG).
Data AKI pada tahun 2015 menurut SDKI (Survei Demografi dan
Kependudukan Indonesia) sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup, padahal
salah satu target MDGs (Milenium Development Goals) pada tahun 2015
adalah meningkatkan kesehatan ibu dengan mengurangi resiko jumlah kematian
ibu sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup, sehingga diperlukan upaya-upaya
untuk bisa mencapai target MDGs tersebut (Evi dan Suhanda, 2014).
Emboli cairan ketuban sebagai salah satu penyebab kematian ibu dan anak.
Untuk itu sebagai tenaga kesehatan kita wajib ikut serta menurunkan angka
kematian ibu dan angka kematian anak. Salah satunya dengan mengetahui
manajemen asuhan kebidanan ibu bersalin dengan emboli cairan ketuban.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan emboli cairan ketuban ?
2. Bagaimana konsep manajemen pada kasus emboli cairan ketuban ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar emboli cairan ketuban
2. Untuk mengetahui manajemen pada kasus emboli cairan ketuban

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep dasar emboli cairan ketuban


1. Pengertian
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah
besar cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi
gangguan pernapasan akut dan shock. 25%wanita yang menderita keadaan
ini meninggal dunia dalam waktu 1 jam. Emboli cairan ketuban jarang
dijumpai. Kemungkinan banyak kasus tidak terdiagnosis, diagnosis yang
dibuat adalah shock obstetric, perdarahan post partum atau edema pulmoner
akut. (Oxorn, Harry dkk : 2010)
Emboli cairan ketuban ini akan ke paru-paru ibu dan menyumbat
arteri, penyumbatan ini disebut emboli pulmonet. Emboli cairan ketuban
merupakan masuknya cairan ketuban dan komponen-komponennya ke
dalam sirkulasi darah ibu. Komponen tersebut berupa unsur-unsur yang ada
di dalam air ketuban, misalnya lapisan kulit janin yang terlepas, rambut
janin, lapisan lemak janin, dan musin atau cairan kental (Nugroho, Taufan :
2010).

2. Gambaran Klinis
Gambaran klinik umumnya terjadi secara mendadak dan diagnose
emboli air ketuban harus pertama kali dipikirkan pada pasien hamil yang
tiba-tiba mengalami kolaps. Pasien dapat memperlihatkan beberapa gejala
dan tanda yang bervariasi, namun umumnya gejala dan tanda yang terlihat
adalah segera setelah persalinan berakhir atau menjelang akhir persalinan,
pasien batuk-batuk, sesak, terengah engah dan kadang cardiac arrest
(Nugroho, Taufan : 2010).

3. Gejala –gejala
Beberapa gejala yang timbul pada kasus emboli cairan ketuban, yaitu :
a. Sesak nafas

3
b. Cairan berlebih dalam paru-paru (edema paru)
c. Shock
d. Fetal distress (Irama jantung lambat)
e. syanosis

Shock terutama disebabkan reaksi anaphylactis terhadap adanya


bahan-bahan air tuban dalam darah, terutama emboli meconium bersifat
lethal juga terjadi coagulopathi karena disseminated intravascular
clotting.(Obstetri patologi ,1981)

4. Etiologi
Faktor predisposisi

a. Multiparitas dan usia lebih dari 35 tahun


Shock yang dalam yang terjadi secara tiba – tiba tanpa diduga pada
wanita yang proses persalinanya sulit atau baru saja menyelesaikan
persalinan yang sulit . Khususnya kalau wanita itu multipara berusia
lanjut dengan janin yang amat besar, mungkin sudah meningal dengan
meconium dalam cairan ketuban, harus menimbulkan kecurigaan, pada
kemungkinan ini (emboli cairan ketuban ).
b. Janin besar intrauteri
Menyebabkan rupture uteri saat persalinan, sehingga cairan ketuban pun
dapat masuk melalui pembuluh darah.
c. Kematian janin intrauteri
Juga akan menyebabkan perdarahan didalam, sehingga kemungkinan
besar akan ketuban pecah dan memasuki pembuluh darah ibu. Setelah
memasuki pembuluh darah ibu akan menyubat aliran darah, sehingga
lama kelamaan ibu akan mengalami gangguan pernapasan karena cairan
ketuban menyubat aliran ke paru yang lama kelamaan akan menyumbat
aliran darah ke jantung. Dengan ini bila tidak tangani dengan segera
dapat menyebabkan iskemik bahkan kematian mendadak.
d. Menconium dalam cairan ketuban
e. Kontraksi uterus yang kuat

4
Kontraksi uterus yang sangat kuat dapat memungkinkan terjadinya
laserasi atau rupture uteri, hal ini juga menggambarkan pembukaan
vena, dengan pembukaan vena, maka cairan ketuban dengan mudah
masuk ke pembuluh darah ibu, yang nantinya akan menyumbat aliran
darah, yang mengakibatkan hipoksia, dispue dan akan terjadi gangguan
pola pernapasan pada ibu.
f. Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi.
Dengan prosedur operasi tidak jauh dari adanya pembukaan pembuluh
darah, dan hal ini dapat terjadi ketuban pecah dan masuk ke pembuluh
darah ibu.
Faktor Resiko

Beberapa faktor resiko dalam emboli air ketuban dalah sebagai berikut
a. Meningkatnya usia ibu
b. Multiparitas (banyak anak)
c. Adanya mekoneum
d. Laserasi serviks
e. Kematian janin dalam kandungan
f. Kontraksi yang terlalu kuat
g. Persalinan singkat
h. Plasenta akreta
i. Air ketuban yang banyak
j. Robeknya rahim
k. Adanya riwayat alergi atau atopi pada ibu
l. Adanya infeksi pada selaput ketuban
m. Bayi besar

5. Patofisiologi
Emboli air ketuban menyebabkan komplikasi dan gejala klinik yang
bersumber dari :
a. Kardiovaskuler kolap
1) Mekanisme Kardiovaskuler kolap

5
Air ketuban yang terhisap dengan benda padatnya (rambut lanugo,
lemah dan lainnya) menyumbat kapiler paru, sehingga terjadi
hipertensi arteri pulmonum, edema paru, dan gangguan pertukaran
oksigen dan karbondioksida.
2) Akibat hipertensi pulmonum menyebabkan :
 Tekanan atrium kiri turun
 Cadiac output menurun
 Terjadi penurunan tekanan darah sistemik yang mengakibatkan
syok berat
Gangguan pertukaran oksigen dan karbondioksida menyebabkan
sesak napas, sianosis dan gangguan pengaliran oksigen ke jaringan
yang mengakibatkan edema paru dan gangguan pertukaran oksigen
dan karbondioksida. Kemudian dapat terjadi refleks nervus vagus
yang menyebabkan menyebabkan syok dalam ,kedinginan dan
sianosis. Sehingga kematian dapat berlangsung sangat singkat dari
20 menit sampai 36 jam.
b. Gangguan pembekuan darah
Partikel air ketuban dapat menjadi inti pembekuan darah. Mengandung
faktor X ,yang dapat menjadi treger terjadinya intravaskuler koagulasi.
Mengaktifkan sistem fibrinolisis dan bekuan darah sehingga terjadi
hipofibrinogemia dan menimbulkan perdarahan dari bekas implantasi
plasenta. Sehingga menyebabkan kekurangan oksigen dan terjadinya
anaerobik metabolisme dalam otot uterus ,menyebabkan atonia uteri
sehingga terjadi perdarahan.

6. Patogenesis

Cairan amnion masuk ke dalam sirkulasi akibat rusaknya sawar


fisiologis yang secara normal terdapat antara kompartemen ibu dan
janin.Kejadian semacam ini tampaknya sering, kalau bukan universal
dengan skuama yang diperkirakan berasal dari janin dan trofoblast sering
ditemukan di dalam darah ibu. Ibu mungkin terpajan ke berbagai unsur janin
selama terminasi kehamilan, setelah amniosentesis atau trauma, atau yang

6
lebih sering selama persalinan dan pelahiran saat terjadinya laserasi kecil di
segmen bawah uterus atau serviks. Selain itu sesar merupakan salah satu
kesempatan tercampurnya darah ibu dan jaringan janin.

Pada ibu hamil pajanan tersebut memicu terjadinya serangkaian


reaksi fisiologis yang mirip dengan yang dijumpai pada anafilaksis dan
sepsis.Setelah suatu fase awal singkat hipertensi paru dan sistemik, terjadi
penurunan resistensi vaskular sistemik dan indeks stroke work ventrikel.
Pada fase awal sering dijumpai desaturasi oksigen sementara namun
hebat,yang menyebabkan cedera neurologis pada sebagian besar pasien
yang bertahan hidup.Pada wanita yang bertahan hidup melewati kolaps
kardiovaskular awal ,sering terjadi fase sekunder berupa cedera paru dan
koagulopati. Keterkaitan hipertonus uterus dengan kolaps kardiovaskuler
tampaknya lebih merupakan efek dari embolisme cairan ketuban daripada
kasusnya.

7. Upaya preventif
a. Perhatikan indikasi induksi persalinan
b. Memecahkan ketuban saat akhir his, sehingga tekanannya tidak terlalu
besar dan mengurangi masuk ke dalam pembuluh darah
c. Saat seksio sesarea, lakukan pengisapan air ketuban perlahan sehingga
dapat mengurangi Asfiksia intrauterine dan emboli air ketuban melalui
perlukaan lebar insisi operasi.

8. Pengobatan
a. Tindakan umum:
1) Segera memasang infus dua tempat sehingga cairan segera dapat
diberikan,untuk mengatasi syok
2) Berikan oksigen dengan tekanan tinggi sehingga dapat menambah
oksigen dalam darah
b. Untuk jantung dapat diberikan
1) Resusitasi jantung dengan:
a. Masase
b. Mesin kardiopulmonari

7
2) Atropin untuk mengurangi vasokonstriksi pembuluh darah dan
paru
3) Vasopresor
4) Diuretik untuk mengurangi edema
c. Untuk paru obat”spasmolitik” : Papaverine sehingga mengurangi
spasme bronkus dan pembuluh darah paru
d. Mengatasi anafilaksis syok :
1) Antihistamin: promethazine
2) Kortison dosis tinggi
e. Mengatasi intravaskuler koagulasi
Dipertimbangkan untuk memberikan heparin. Keberhasilan pengobatan
dan pengalaman untuk mengatasi emboli air ketuban tidak banyak
(Manuaba,2001).

8
B. Konsep Manajemen Kebidanan Pada Kegawatdaruratan Persalinan
dengan Emboli Cairan Ketuban
1. Pengkajian

Tanggal dan Waktu Pengkajian, Tempat Pengkajian, dan Pengkaji

Data Subjektif
a. Identitas
1) Nama Istri
Untuk memudahkan memanggil dan menjalin hubungan saling
percaya. Untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan dengan
pasien lain.
2) Umur
Untuk mengetahui kehamilan yang terjadi pada wanita, masih dalam
usia reproduksi antar 20-35 tahun atau diatas usia reproduksi.
3) Agama
Untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan
klien.Akan memudahkan bidan dalam melakukan pendekatan di
dalam melakukan asuhan.
4) Pendidikan
Untuk memberikan bimbingan sesuai dengan tingkat pendidikan
dan mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang kesehatannya.
5) Pekerjaan
Untuk mengetahui bagaimana taraf hidup keluarga dan sosial
ekonomi agar asuhan yang diberikan bidan dapat sesuai.
6) Alamat
Memudahkan komunikasi dan kunjungan rumah. Untuk
membedakan ibu dengan klien lain apabila kemungkinan ada klien
yang mempunyai nama yang sama.
7) Biodata suami
Sangat diperlukan sebagai pengambilan keputusan jika terjadi
kegawatdaruratan.

9
b. Keluhan Utama
Merupakan alasan utama klien untuk datang ke rumah sakit dan apa saja
yang dirasakan klien. Kemungkinan yang terjadi pada klien :
1) Pasien dispne dan perdarahan pervaginam yang hebat.
2) Adanya dispne akut dan tiba-tiba segera setelah kelahiran yang
tergesa-gesa atau selama persalinan yang tergesa-gesa.
3) Pasien syok dengan perdarahan pervaginam yang hebat
4) Syok diikuti dengan syanosis
c. Riwayat Kesehatan
Penyakit kronis misalnya Hipertensi, diabetes melitus, anemia berat,
penyakit jantung, paru-paru, gangguan kelenjar gondok
d. Riwayat Kesehatan Lalu
Untuk mengetahui apakah ibu pernah menderita penyakit jantung,
hipertensi, diabetes melitus dan asma yang mungkin kambuh pada
kehamilan sekarang sehingga memperberat kehamilan.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Dari keluarganya dan keluarga suaminya ada atau tidak ada yang
memiliki penyakit menurun (hipertensi, diabetes), menahun (asma), dan
menular (TBC, PMS).
f. Riwayat Menstruasi (Haid)
Dari amnorea atau siklus haid dapat menentukan Usia Kehamilan dan
normalnya organ-organ reproduksi.
g. Riwayat Pernikahan
1) Berapa kali menikah
Memastikan bahwa tidak ada penyakit menular seksual
2) Usia menikah
Menentukan apakah perkawinan dilakukan pada usia dini atau tidak
karena dapat menentukan matangnya organ-organ reproduksi.
h. Riwayat Psiko-sosio-ekonomi
Gangguan psikologis pada ibu dapat dijadikan sebagai suatu landasan
untuk menentukan penyebab dari emboli cairan ketuban ini. Misalnya

10
keadaan psikologis ibu yang jelek menyebabkan persalinan yang sulit
pada ibu.
i. Riwayat kehamilan sekarang
Untuk mengkaji ibu ini kehamilan ke berapa, frekuensi pemeriksaan
ANC ibu untuk mengetahui resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat
kehamilan multipara. Untuk mengetahui ibu pernah mengalami
perdarahan, kejang, pusing hebat dan tanda bahaya lainnya.
j. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
Untuk mengkaji ibu adanya riwayat kehamilan , persalinan dan nifas
yang buruk di kehamilan yang lalu. Terutama pada persalinan yang
disertai dengan penyulit. Mengetahui jarak kehamilan sekarang dengan
persalinan yang lalu serta usia ibu saat melahirkan yang lalu.Untuk
mengetahui ibu pernah mengalami perdarahan, kejang, pusing hebat dan
tanda bahaya lainnya.
k. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Selama Hamil
1) Personal Hygiene
Mengetahui tingkat kebersihan ibu
2) Istirahat
Jumlah istirahat normal untuk malam hari kurang lebih 7-8 jam dan
siang hari 1-2 jam sehari.
Mengetahui tingkat aktivitas ibu dan ada tidaknya gangguan pada
istirahat ibu.
3) Nutrisi
 Gizi yang dikonsumsi ibu mencukupi atau tidak
 Jenis makanan yang di konsumsi
 Berapa kali dalam sehari
 Apakah ada pantangan makanan tertentu
 Mengetahui cairan yang dikonsumsi ibu, apakah sudah 7-8 gelas
sehari
4) Pola eliminasi
Mengetahui frekuensi BAK dan BAB ibu dalam sehari.

11
l. Riwayat KB
Untuk mengkaji tentang jenis atau metode KB yang pernah digunakan
klien, keluhan, dan rencana KB yang akan digunakan.
m. Pola kebiasaan konsumsi jamu, minuman beralkohol dan obat-
obatan.
Mengetahui ibu memiliki kebiasaan minum jamu , minuman beralkohol
dan obat-obatan .Kebiasaan minum jamu menyebabkan cairan ketuban
keruh.
n. Keadaan Psikososial, social, budaya
Bagaimana tanggapan ibu dan suami tentang kehamilannya dan
bagaimana dukungan ibu dan keluarga mengenai kehamilan ibu
sekarang.Ibu merasa senang atau tidak terhadap kehamilannya.
Mengetahui kepercayaan terhadap tahayul, upacara adat yang pernah
dilakukan, ada pantangan makanan atau tidak.

Data Obyektif
a. Pemeriksaan Keadaan umum dan TTV
1) Mengetahui bagaimana kondisi ibu saat itu dan secara umum
biasanya terdapat syok dan sianosis.
 Kesadaran umum : Composmentis/somnolen
 Kesadaran umum : Baik/sedang/lemah
2) Pemeriksaan TTV
 Tekanan darah : Menurun atau normal (110-120/70-80 mmHg ),
biasanya disertai tekanan darah yang menurun drastis.
 Nadi : meningkat atau normal (70-80 x/menit).Biasanya disertai
dengan peningkatan denyut nadi yang cepat tetapi lemah.
 Suhu : menurun atau normal (36.5-37.5 ºC).Biasanya disertai
dengan penurunan suhu ibu
 Pernafasan : melemah atau normal (16-24 x/menit).Biasanya
disertai sesak napas /dispnea.

12
b. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi

Muka : Muka bengkak/oedema tanda eklampsi, terdapat


cloasma gravidarum atau tidak. Muka pucat tanda
anemia, perhatikan ekspresi ibu, kesakitan atau
meringis. (Romauli, 2011).
Mata : Konjungtiva pucat menandakan anemia pada ibu
yang akan mempengaruhi kehamilan dan
persalinan yaitu perdarahan, sklera ikterus perlu
dicurigai ibu mengidap hepatitis. (Romauli,
2011).
Hidung : Adakah secret, polip, ada kelainan lain.
(Romauli, 2011). Kaji kebersihan jalan nafas.
Mulut : Bibir pucat tanda ibu anemia, bibir kering tanda
dehidrasi, sariawan tanda ibu kurang vitamin C.
(Romauli, 2011).
Gigi : Karies gigi menandakan ibu kekurangan
kalsium. Saat hamil terjadi karies yang berkaitan
dengan emesis, hyperemesis gravidarum.
(Romauli, 2011).
Telinga : Tidak ada serumen yang berlebih, dan tidak
berbau, serta bentuk simetris. (Romauli, 2011)
Leher : Adanya pembesaran kelenjar tyroid menandakan
ibu kekurangan iodium, sehingga dapat
menyebabkan terjadinya kretinisme pada bayi
dan bendungan vena jugularis/tidak. (Romauli,
2011).
Payudara : Mengetahui ada tidaknya benjolan atau massa
pada payudara. Memeriksa bentuk, ukuran,
simetris atau tidak. Putting susu pada payudara
menonjol, datar atau masuk ke dalam.
Abdomen : Bekas luka operasi, terdapat linea nigra, stria
livida dan terdapat pembesaran abdomen.
(Romauli, 2011).
Genetalia : Bersih/tidak, varises/tidak, ada condiloma/tidak,
keputihan atau tidak. (Romauli, 2011).
Anus : Tidak ada benjolan abnormal/pengeluran darah
dari anus. (Romauli, 2011)
Ekstremitas : Adanya varises sering terjadi karna kehamilan
berulang dan bersifat herediter, edem tungkai

13
sebagai tanda kemungkinan terjadinya
preeklamsi, bendungan kepala sudah masuk PAP
dan tekanan pada kava inverior. (Manuaba,
2007)

2. Auskultasi
Denyut jantung Janin (DJJ) : Mengetahui penurunan denyut jantung
janin kurang dari 120 per menit. Normalnya 120-160 kali per menit.
Mengetahui ada tidaknya denyut jantung janin (janin mati dalam
kandungan)
3. Palpasi

Leher : Tidak teraba bendungan vena jugularis. Jika ada ini


berpengaruh pada saat persalinan terutama saat
meneran. Hal ini dapat menambah tekanan pada
jantung. Potensi gagal jantung.
Tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid, jika ada
potensial terjadi kelahiran premature, lahir mati,
kretinisme dan keguguran.
Tidak tampak pembesaran limfe, jika ada
kemungkinan terjadi infeksi oleh berbagai penyakit
missal TBC, radang akut dikepala. (Romauli, 2011).
Payudara : Adanya benjolan pada payudara waspadai adanya
Kanker Payudara dan menghambat laktasi. Kolostrum
mulai diproduksi pada usia kehamilan 12 minggu tapi
mulai keluar pada usia 20 minggu. (Romauli, 2011).
Abdomen :
Tujuan : a) Untuk mengetahui umur kehamilan.
b) Untuk mengetahui bagian-bagian janin.
c) Untuk mengetahui letak janin.
d) Janin tunggal atau tidak.
e) Sampai dimana bagian terdepan janin masuk
kedalam rongga panggul.

14
f) Adakah keseimbangan antara ukuran kepala dan
janin.
g) Untuk mengetahui kelainan abnormal ditubuh.

Leopold I

Tabel 2.3
Perkiraan TFU Terhadap Umur Kehamilan

Usia kehamilan Tinggi fundus uteri


28 minggu 1/3 di atas pusat atau 3 jari diatas pusat
32 minggu pertengahan antara pusat dan procesus
xyphoideus

36 minggu setinggi procesus xyphoideus

40 minggu Dua jari di bawah px

Sumber: Hani, Ummi, 2011. Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Fisiologis,


Jakarta

Tanda kepala : keras, bundar, melenting.


Tanda bokong : lunak, kurang bundar, kurang melenting.

Leopold II
Normal : Teraba bagian panjang, keras seperti papan
(punggung) pada satu sisi uterus dan pada sisi lain
teraba bagian kecil janin.

Tujuan : Untuk mengetahui batas kiri atau kanan pada


uterus ibu, yaitu punggung pada letak bujur dan
kepala pada letak lintang. (Romauli, 2011).

15
Leopold III
Normal : Pada bagian bawah janin teraba bagian yang bulat,
keras dan melenting (kepala janin).

Tujuan : Mengetahui presentasi/bagian terbawah janin


yang ada di sympisis. (Romauli, 2011).

Leopold IV
Posisi tangan masih bisa bertemu, dan belum masuk PAP
(konvergen), posisi tangan tidak bertemu dan sudah masuk PAP
(divergen).
Tujuan : Untuk mengetahui seberapa jauh masuknya bagian
terendah janin ke dalam PAP. (Romauli, 2011).

4. Perkusi
Reflek patella normalnya tungkai bawah akan bergerak sedikit
ketika tendon diketuk. Bila gerakannya berlebihan dan cepat, maka
hal ini mungkin merupakan preeklamsia. Bila reflek patella negatif
kemungkinan pasien mengalami kekurangan vitamin B1.
c. Pemeriksaan dalam
1) Terdapat perdarahan pervaginam yang persisten biasanya akibat
atonia uteri, dengan atau tanpa koagulasi intravaskular diseminata
2) Terdapat ruptur uteri yang merupakan salah satu penyebab
masuknya cairan ketuban ke dalm pembuluh balik vena.
d. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan sel darah lengkap dan apusan darah merupakan
indikasi hilangnya darah dan anemia yang ada.Gas darah arteri : pO²
biasanya menurun.
2) Tekanan vena sentralis dapat meningkat, normal, atau subnormal
tergantung pada kuantitas hilangnya darah. Darah vena sentralis
dapat mengandung debris selular cairan amninon.

16
3) Golongan darah dan Rhesus untuk tranfusi seperti yang
diindikasikan. Defek koagulasi segera diduga bila darah dalam
selang membeku.
4) EKG untuk melihat regangan jantung kanan.
5) Keluaran urin dapat menurun,menunjukkan perfusi ginjal yang tidak
adekuat.
6) Foto toraks untuk menunjukkan defek perfusi yang sesuai dengan
emboli paru.

2. Interpretasi Data Dasar


Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagosa
atau masalah dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar atas
data-data yang telah didapatkan dan dikumpulkan baik subjektif, objektif,
maupun data penunjang. (Sutanto,2018)
Diagnosa : G_P_ _ _ _Ab_ _ _ UK_ _ minggu T/H/I letak
kepala/sungsang/lintang, Kala 1 fase laten/aktif
persalinan dengan emboli cairan ketuban.
Data Subjektif : Ibu mengatakan kenceng-kenceng sejak jam …
Ibu mengatakan keluar cairan, lender, dan darah
Ibu mengeluh sesak nafas
Data Objektif : Keadaan umum : Baik/lemah
Kesadaran : Composmentis / samnolen
Tekanan darah : 110-120/70-80 mmHg, biasanya
disertai tekanan darah yang menurun
drastis
Nadi : 70-80 x/menit. Biasanya disertai
dengan peningkatan denyut nadi yang
cepat tetapi lemah
Pernafasan : 16-24 x/menit. Biasanya disertai
sesak napas /dyspnea
Suhu : 36.5-37.5ºC. Biasanya disertai
dengan penurunan suhu ibu

17
LILA : ≥ 23 cm
Tinggi Badan : ≥ 145 cm
BB hamil : … kg
Tafsiran persalinan : …
Palpasi Abdomen :
Leopold I : TFU sesuai usia
kehamilannya, teraba lunak, kurang
bundar, kurang meleting (bokomg).
Bisa juga teraba keras, bundar,
melenting (kepala)
Leopold II : Teraba datar, keras,
memanjang kanan/kiri (punggung)
dan bagian kecil janin pada
kanan/kiri.
Leopold III : Pada bagian bawah
janin teraba bagian yang bulat, keras
dan melenting (kepala janin) atau
teraba lunak, kurang bundar, kurang
melenting (bokong)
Leopold IV : Posisi tangan masih
bisa bertemu, dan belum masuk PAP
(konvergen), posisi tangan tidak
bertemu dan sudah masuk PAP
(divergen).
Auskultasi : DJJ 120-160x/menit.

3. Identifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial


Pada langkah ini mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa
potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan
pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah
diagnosa atau masalah potensial ini mejadi benar-benar terjadi. Langkah ini

18
penting sekali dalam melakukan asuhan kebidanan yang aman. Untuk
antisipasi masalah potensial dan diagnosa pada bayi dengan mengkaji ulang
data subjektif dan data objektifnya. (Sutanto,2018)
Diagnosa : G_P_ _ _ _Ab_ _ _ UK_ _ minggu T/H/I letak
kepala/sungsang/lintang, Kala 1 fase laten/aktif persalinan dengan emboli
cairan ketuban

Diagnosa Potensial : Edema paru yang berujung kematian

Masalah Aktual :
a. Perdarahan pervaginam
b. Sesak napas
Jika sesak juga didahului dengan gejala mengigil yang diikuti dyspnea ,
vomitus , gelisah , dll disertai penurunan tekanan darah yang cepat serta
denyut nadi yang lemah dan cepat
c. Syanosis
Disebabkan karena aliran darah menuju jantung yang terhambat
Masalah Potensial :
a. shock obstetrik
b. perdarahan post partum
Perdarahan ini bisa disebabkan karena ruptur uteri, perdarahan dari
tempat perlekatan plasenta.
c. edema pulmoner akut.

4. Identifikasi Kebutuhan Segera


Tindakan yang dilakukan segera mungkin terhadap pasien agar
masalah atau penyulit yang dihadapi dapat terserlesaikan dengan baik dan
yang tidak bisa ditangani sendiri, dilakukan secara kalaborasi dengan dokter
atau tenaga kesehatan lain. Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari
proses manajemen kebidanan, mengidentifikasi perlunya tindakan segera
oleh tenaga kesehatan sesuai dengan kondisi klien. (Sutanto,2018)
Tindakan Segera
a. Penilaian keadaan umum ibu.
b. Melakukan bantuan pernafasan pada ibu dengan memasang oksigen

19
c. Pemberian infuse Dopamine untuk memperbaiki cardiac output
d. Segera merujuk ibu ke rumah sakit.

5. Intervensi
Menyusun rencana sistematis untuk memberikan pengobatan dan
pertolongan seacra, teapt baik dan sesuai kebutuhan yang dibutuhkan
pasien. Pada langkah ini merupakan langkah kelanjutan dari maslah atau
diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi terhadap kondisi klien
secara menyeluruh meliputi setiap masalah yang berkaitan. Gambaran
tentang apa yang terjadi beserta pengajaran, konseling dan ujukan untuk
maslah sosial ekonomi kultural serta maslah psikologi. Rencana asuhan
kebidanan harus disetujui antara bidan dan keluarga klien, karena klien yang
mengambil keputusan tentang dilaksanakan atau tidak direncanakan asuhan
tersebut. (Sutanto,2018). Rencana tindakan pada kasus emboli cairan
ketuban :
a. Penilaian keadaan umum ibu.
b. Merencakan tindakan kolaborasi dengan dokter spesialis paru yang
bersangkutan
c. Merencanakan pemberian infuse Dopamine untuk memperbaiki cardiac
output
d. Merencanakan pemberian bantuan pernafasan pada ibu dengan
memasang oksigen
e. Merencanakan melakukan rujukan ke Rumah Sakit
f. Merencanakan pemeriksaan X-ray untuk memperlihatkan adanya
edema paru dan bertambahnya ukuran atrium kanan dan ventrikel kiri
g. Laboratorium : asidosis metabolik (penurunan paO2 dan PaCO2 )

h. Bila anak belum lahir, lakukan SC dengan catatan dilakukan setelah


keadaan umum ibu stabil
(Nugroho, Taufan : 2010)

6. Implementasi

20
Pelaksanaan diagnoasa yang telah dibuat dan ditetapkan, sehingga
petugas kesehatan memberikan pengobatan secara tepat, benar, sesuai
dengan kebutuhan dan dapat berdampak positif bagi kesembuhan pasien.
Implementasi yang komprehensif merupakan perwujudan dari rencana yang
telah disusun pada tahap-tahap perencanaan. Pelaksanaan dapat berjalan
dengan baik apabila diterapkan. (Sutanto,2018). Penatalaksanaan pada
kasus emboli cairan ketuban :
a. Melakukan penilaian keadaan umum ibu
b. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis paru yang bersangkutan
c. Pemberian infuse Dopamine untuk memperbaiki cardiac output
d. Melakukan bantuan pernafasan pada ibu dengan memasang oksigen
e. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis paru yang bersangkutan
f. Melakukan rujukan ke Rumah Sakit
g. Melakukan pemeriksaan X-ray untuk memperlihatkan adanya edema
paru dan bertambahnya ukuran atrium kanan dan ventrikel kiri
h. Melakukan tes taboratorium untuk mengetahui asidosis metabolik
(penurunan paO2 dan PaCO2 )
i. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk melakukan Sectio Caesar
dengan catatan dilakukan setelah keadaan umum ibu stabil
(Nugroho, Taufan : 2010)

7. Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang
diberikan , meliputi apakah pemenuhan kebutuhan telah terpenuhi sesuai
diagnosis dan masalah. (Sutanto,2018)

21
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Emboli cairan ketuban ini akan ke paru-paru ibu dan menyumbat arteri,
penyumbatan ini disebut emboli pulmonet. Emboli cairan ketuban merupakan
masuknya cairan ketuban dan komponen-komponennya ke dalam sirkulasi
darah ibu. Komponen tersebut berupa unsur-unsur yang ada di dalam air
ketuban, misalnya lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak
janin, dan musin atau cairan kental. Gambaran klinik umumnya terjadi secara
mendadak dan diagnose emboli air ketuban harus pertama kali dipikirkan pada
pasien hamil yang tiba-tiba mengalami kolaps.
Tindakan yang dilakukan segera mungkin terhadap pasien dengan emboli
cairan ketuban adalah Penilaian keadaan umum ibu, melakukan bantuan
pernafasan pada ibu dengan memasang oksigen, pemberian infuse Dopamine
untuk memperbaiki cardiac output dan segera merujuk ibu ke rumah sakit.
Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk melakukan Sectio Caesar dengan
catatan dilakukan setelah keadaan umum ibu stabil

B. Saran
Bidan sebagai lini terdepan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak harus
memiliki kemampuan, ketrampilan dan performa yang mumpuni agar asuhan
kebidanan yang diberikan dapat maksimal. Bangun hubungan yang baik dan
saling percaya dengan pasien agar dapat memberikan asuhan kebidanan yang
terbaik. Sehingga tidak didapatkan hambatan, mulai dari proses pengkajian,
analisis, penatalaksanaan hingga evaluasi.

22
DAFTAR PUSTAKA

Oxorn, harry dkk. 2010. Ilmu Kebidanan : Patologi & Fisiologi Persalinan.
Yogyakarta : Yayasan essential Medica (YEM)

Nugroho, Taufan. 2010. Kasus Emergency Kebidanan Untuk Kebidanan


dan Keperawatan. Yogyakarta : Nuha Medika

23