Anda di halaman 1dari 13

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

BASAL CELL CARSINOMA

Telah disetuji pada :


Hari :
Tanggal :

DISUSUN OLEH

THALIA HANA SEPTIARA MULYANA

201820461011091

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING LAHAN


I. KONSEP DASAR TEORI
A. Definisi
Karsinoma sel basal ( BCC ) atau basalioma adalah neoplasma maligna yang
berasal dari sel basal epidermis ataupun sel folikel rambut sehingga dapat timbul pada
kulit yang berambut (Manuaba, 2010 dalam Pramitaningrum 2018 ).
Karsinoma sel basal merupakan suatu tumor ganas kulit yang berasal dari
pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit (Pramitaningrum,
2018).
B. Epidemiologi
Setiap tahun antara 900.000 dan 1,2 juta kasus baru kanker kulit non-
melanoma akan didiagnosis di Amerika Serikat. Ini terjadi peningkatan sekitar lebih
tinggi setengah juta setiap tahun daripada perkiraan sebelumnya. Berdasarkan hasil
statistik baru ini satu dari 5 penduduk Amerika akan mengalami kanker kulit jenis
non-melanoma dalam masa kehidupannya. Melanoma maligna yakni penyebab
kematian terbesar pada bentuk kanker kulit sedang mengalami peningkatan lebih
cepat dibandingkan dengan beberapa jenis kanker lainnya. Diperkirakan 32.000 kasus
baru akan didiagnosis per tahun atau sekitar 1 dari 105 penduduk orang Amerika
akan berkembang mengalami melanoma pada kehidupan mereka. Para ahli dari
universitas setuju bahwa alasan utama yang menjadi penyabab cepatnya peningkatan
kasus kanker kulit ini di Amerika serikat adalah kecintaan masyarakat Amerika
dengan matahari (berjemur). Selain adanya peningkatan ini, kanker kulit tetap
menjadi salah satu bentuk kanker yang paling dapat disembuhkan,dengan hanya
sekitar 2.500 kasus meninggal setiap tahunnya dengan jenis kanker kulit non-
melanoma dan sekitar 6.900 meninggal per tahun karena kanker kulit melanoma
(Pramitaningrum, 2018).
C. Etiologi
Kanker kulit telah menyebabkan banyak potensi, ini meliputi (Pramitaningrum,
2018):
1. Penelitian telah menunjukkan bahwa merokok tembakau dan produk-produk
terkait dapat melipatgandakan risiko kanker kulit.
2. Overexposure untuk UV-radiasi dapat menyebabkan kanker kulit baik melalui
kerusakan DNA langsung atau melalui mekanisme DNA kerusakan tidak
langsung. Overexposure (pembakaran) UVA & UVB memiliki keduanya telah
terlibat dalam menyebabkan kerusakan DNA mengakibatkan kanker. kekuatan
Sun 10:00-4:00 paling intens. Alam (matahari) & UV paparan buatan (tanning
salon) yang kemungkinan terkait dengan kanker kulit. UVB terutama
mempengaruhi epidermis menyebabkan sunburns, kemerahan, dan terik kulit
saat overexposed. Melanin dari epidermis diaktifkan dengan UVB sama dengan
UVA, namun efek yang lebih tahan lama dengan pigmentasi terus selama 24 jam.
3. Kronis non-penyembuhan luka, terutama luka bakar. Ini disebut tukak Marjolin
didasarkan pada penampilan mereka, dan dapat berkembang menjadi karsinoma
sel skuamosa.
4. Predisposisi genetik, termasuk “bawaan Melanocytic Nevi Syndrome”. CMNS
dicirikan oleh adanya “Nevi” atau mol dengan ukuran berbeda yang baik muncul
pada atau dalam 6 bulan kelahiran. Nevi lebih besar dari 20 mm (3 / 4) dalam
ukuran berada pada risiko tinggi untuk menjadi kanker.
5. Paparan arsenik,. Arsenik logam beracun yang ditemukan secara luas di
lingkungan, meningkatkan risiko karsinoma sel basal dan kanker lainnya. Setiap
orang memiliki beberapa paparan arsenik karena terjadi secara alami di udara,
tanah dan air tanah. Tetapi orang-orang yang mungkin terekspos pada tingkat
yang lebih tinggi dari arsenik termasuk petani, pekerja kilang, dan orang yang
minum air sumur yang tercemar atau tinggal di dekat pabrik peleburan.
6. Warisan sindrom yang menyebabkan kanker kulit. tertentu penyakit genetik yang
langka meningkatkan risiko karsinoma sel basal. Nevoid karsinoma sel basal
(Gorlin-Goltz sindrom) menyebabkan karsinoma basal sel banyak, serta pitting di
tangan dan kaki dan kelainan tulang belakang. pigmentosum xeroderma
menyebabkan kepekaan ekstrim untuk sinar matahari dan resiko tinggi kanker
kulit karena orang dengan kondisi ini memiliki kemampuan sedikit atau tidak
untuk memperbaiki kerusakan pada kulit dari sinar ultraviolet.
D. Stadium Klinis

Menurut Stadium Clarke I-V, kriteria berdasarkan ketebalan tumor (Pramitaningrum,


2018):

Stadium Clarke Ketahanan 5 tahun ( % ) Ketebalan tumor ( mm )

I ( Epidermis ) 100 < 0,76

II ( dermis papiler ) 90-10 0,76 – 1,49

III ( dermis papiler/retikuler ) 80 – 90 1,50 – 2,49

IV ( dermis retikuler ) 60 – 70 2,50 – 3,99

V ( lemak subkutan ) 15 – 30 4,00 – 7,99. >8,00

E. Klasifikasi
a. Nodular BCC : tipe klasik, berbentuk “pink” nodul (pada kulit putih ), pada kulit
bewarna akan terjadi pingmentasi, “pearly” dan kadang terjadiulserasi.
b. Superficial BCC : banyak dijumpai pada ekstremitas atau daerah yang terkena
eksposur sinar matahari, ber-squama (scaly) sering sulit dibedakan dengan SCC
ataupun Bowen disease.
c. Sclerosing or Morphea Form BCC : jarang dijumpai, dan berbentuk nodul yang
induratif dan tidak terbatas jelas, sering didiagnosa sebagai jaringan “parut”
d. Pigmented BCC : mungkin merupakan varian dari nodular BCC
e. Cystic BCC : jaringan sekali dijumpai
f. Fibroepithelioma of Pinkus (PEP) : varian yang jarang dijumpai
(Pramitaningrum, 2018)
F. Patofisiologi
Radiasi sinar ultraviolet adalah penyebab paling umum dari kanker kulit baik
yang melanoma maupun yang non melanoma. Berdasarkan percobaan yang
dilakukan oleh binatang, sinar ultraviolet dengan panjang gelombang yang paling
efektif adalah UVB. Hal ini disebabkan oleh karena kemampuan dari UVB itu sendiri
untuk menembus kedalam lapisan ozon dan juga startum korneum yang akhirnya
akan diabsorbsi oleh DNA. Langkah pertama dari proses karsinogenik ini adalah
penginduksian DNA oleh photon UVB. Photon UVB ini biasanya akan diabsorbsi
pada 5 – 6 ikatan dobel dari pyrimidine, yang akan menyebabkan terbukanya ikatan
tersebut. Sebagai hasilnya akan terbentuk cyclobutane dimmer atau pyrimidine-
pyrimidone photoproduct. Keduanya menyebabkan struktur DNA yang abnormal.
Pada saat terjadi replikasi DNA, DNA polymerase sering salah memasukkan
cytosine yang telah rusak berseberangan dengan thymine. Mutasi ini muncul hanya
apabila cytosine berada berseberangan dengan thymine atau dengan cytosine yang
lain, yang merefleksikan sisi spesifik dimana photoproduct UV muncul. Dua gen
yang secara normal dapat mencegah terjadinya kanker akan tetapi menjadi tidak aktif
pada kanker kulit adalah PTCH dan P53. PTCH yang merupakan komponen dari
jalur signal seluler, bermutasi pada sekitar 90% dari BCC. Sedangkan P53 yang
mengkode regulator dari siklus sel dan kematian sel bermutasi bermutasi pada sekitar
setengah dari BCC dan lebih dari 90% SCC.
Aspek terpenting dari basalioma adalah bahwa kanker kulit ini terdiri dari sel
tumor epithelial berasal dari sel primitive selubung akar rambut sementara komponen
stroma menyerupai lapisan papilaris dermis dan terdiri dari kolagen, fibroblast dan
subtansia dasar yang sebagian besar berupa berbagai jenis glukosa aminoglikans
(GAGs). Kedua komponen ini saling ketergantungan sehingga tidak bisa
berkembang tanpa komponen yang lainnya. Hubungan ketergantungan ini sifatnya
sangat unik, hal inilah yang dapat menjelaskan mengapa basalioma sangat jarang
bermetastase dan mengapa pertumbuhan basalioma pada kultur sel dan jaringan
sangat sulit terjadi. Hal ini dikarenakan bolus metastase yang besar dengan
komponen sel dan stroma didalamnya sulit memasuki system limfatik ataupun
system vascular. Dan inilah yang membedakan antara basalioma dengan melanoma
maligna dan karsinoma sel skuamosa yang keduanya sering mengadakan metastase.
Dianggap berasal dari sel-sel pluripotensial (sel yang dapat berubah menjadi
sel-sel lain) yang ada pada stratum basalis epidermis atau lapisan follikuler. Sel ini
diproduksi sepanjang hidup kita dan membentuk kelenjar sebacea dan apokrin.
Tumor tumbuh dari epidermis dan muncul dibagian luar selubung akar rambut,
khususnya dan stem sel folikel rambut, tepat dibawah duktus glandula sebacea.
Sinar ultraviolet menginduksi mutasi pada gen suppressor tumor p53, yang
terletak pada kromosom 17p. Sebai tambahan mutasi gen suppressor tumor pada
lokus 9q22 yang menyebabkan sindrom nevoid basalioma, suatu keadaan autosomal
dominan ditandai dengan timbulnya basalioma secara dini. Mutasi pada gen supresi
tumor p53 ditemukan dalam hampir 50% kasus karsinoma sel basal secara sporadic.
Kebanyakan dari mutasi ini adalah translasi dari C → T dan CC → TT pada
susunan dipyrimidine, yang merupakaan mutasi khas yang mengindikasikan bahwa
adanya paparan terhadap radiasi ultraviolet B. Akhir-akhir ini terdapat nucleus β-
catenin yang menunjukkkan hubungannya dengan peningkatan proliferasi sel tumor.
Fungsi spesifik dari gen-gen ini masih belum diketahui.
(Pramitaningrum, 2018)
G. Manifestasi Klinis
Bagian tubuh yang terserang kanker sel basal biasanya wajah, leher dan kulit
kepala. Adapun tanda-tanda penyakit kanker berjenis ini adalah benjolan yang agak
berkilat, kemerahan dengan pinggir meninggi yang berwarna agak kehitaman,
kelainan seperti jaringan parut dan lecet/lika yang tidak sembuh-sembuh
(Pramitaningrum, 2018).
H. Pemeriksaan Penunjang
Penegakan diagnosis berdasarkan (Pramitaningrum, 2018):
1. Anamnesis
Dikeluhkan adanya lesi kulit seperti ‘’tahi lalat’’ yang berubah warnanya, gatal, nyeri,
berdarah, membesar atau timbul “tukak” atau ulkus. Kadang disebut sebagai “borok”
yang tidak sembuh-sembuh .
2. Pemeriksaan Fisik
Gambaran klinis dikenal sebagai ulkus Rodent, yaitu ulkus dengan satu sisi berbentuk tidak
rata, seakan –akan seperti gambaran “ gigitan rodent/tikus”. Biasanya seperti adanya
hiperpigmentasi pada bagian tepi dan ulkus di tengah.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Foto polos ( X-ray ) terutama pada lesi BCC yang besar dan luas untuk melihat
adanya inflitrasi sel tumor pada tulang di bawahnya.
b. CT Scan untuk melihat luas destruksi tulang, operabilitas dan perencanaan
pembedahan.
c. Biopsi jaringan
Bentuk klinis yang dijumpai pada BCC adalah :
a. Jenis nodulo-ulseratif (paling seringm : mula-mula berbentuk papul (papula)
meninggi, “pearly” atau permukaan mengilat seperti “mutiara”, sering terdapat
telengiectasi disentral yang biasanya mengalami ulseratif. Kadang berskuama halus dan
berkrusta tipis dan tumbuh lambat.
b. Jenis berpigmen : gambaran sama nodulo-ulseratif hanya bewarna coklat hitam,
berbintik dan homogen.
c. Jenis morphea liek atau fibrosis jarang : bentuk “plakat”, kekuningan, tepi tidak jelas,
kadang meninggi. Pada pada permukaan tampak beberapa folikel rambut yang
konkaf dan membentuk jaringan seperti sikratriks, dan kadang tertutup krusta.
Ulserasi jarang.
d. Jenis superficial : lokasi pada kepala, leher, badan berupa bercak kemerahan,
berskuamosa halus, tepi sedikit meninggi. Tumbuh dan meluas secara lambat,
ulserasi. Sering dijumpai multiple terutama pada pasien berkulit putih.
e. Jenis fibro-epitelial : Sering dijumpai dipunggung, soliter, bernodul padat, bertangkai
pendek, permukaan halus sedikit kemerahan seperti fibroma.
f. Nevoid Basal Cell Syndrome (Sindroma Gortin Galzt)
g. Sindroma Xeroderma Pigmentosum.
h. Jenis linear and generalized follicular basal cell nevi.
i. Jenis generalized follicular : disertai kerontokan rambut sebagai akibat kerusakan folikel
rambut karena pertumbuhan tumor.
j. Albinism : sensitif terhadap UV (tidak adanya “melanin” perlindung kulit ) mudah
terjadi BCC, SCC ataupun melanoma.
I. Penatalaksanaan
Penggunaan agen kemoterapi seperti 5-Fluorourasil atau Imiquimod, dapat
mencegah perkembangan kanker kulit. Hal ini biasanya dianjurkan untuk individu
dengan kerusakan akibat sinar matahari yang luas, sejarah kanker kulit beberapa, atau
pertumbuhan prekanker. Hal ini sering diulang setiap 2 sampai 3 tahun untuk lebih
mengurangi risiko kanker kulit. Metode berikut ini digunakan dalam pengobatan
karsinoma sel basal (BCC) :
1. Standar bedah eksisi
Tingkat obat untuk metode ini, baik yang dilakukan oleh dokter ahli bedah
plastik, dokter keluarga, atau dokter kulit benar-benar tergantung pada margin
bedah. Ketika margin bedah standar diterapkan (biasanya 4 mm atau lebih),
tingkat kesembuhan tinggi dapat dicapai dengan eksisi standar dermatoscope A
dapat membantu ahli bedah yang berpengalaman dapat mengidentifikasi tumor
tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Semakin sempit margin bedah ( terlihat
kulit dengan tumor yang bebas dibuang ) semakin tinggi tingkat kekambuhan.
Kelemahan dengan eksisi bedah standar adalah tingkat kekambuhan tinggi kanker
sel basal dari wajah, terutama di sekitar kelopak mata, hidung, dan struktur wajah.
Sebuah diagram pada halaman 33 dari publikasi NCCN menunjukkan daerah
risiko tinggi kambuh karena kebanyakan wajah dengan pengecualian pada pipi
pusat dan dahi atas) menggunakan bagian histologi yang dibekukan.
2. Mohs pembedahan (atau Mohs operasi mikrografi)
Mohs pembedahan (atau Mohs operasi mikrografi) adalah prosedur rawat
jalan di mana tumor pembedahan dipotong dan kemudian segera diperiksa di
bawah mikroskop. Ini adalah bentuk pengolahan patologi yang disebut
CCPDMA. Hal ini diklaim memiliki tingkat penyembuhan tertinggi 97% menjadi
99,8% oleh beberapa individu. Dasar dan ujung-ujungnya mikroskopis diperiksa
untuk memverifikasi margin yang cukup sebelum bedah perbaikan situs. Jika
margin tidak cukup, lebih akan dihapus dari pasien sampai margin yang cukup.
Hal ini juga digunakan untuk karsinoma sel skuamosa, namun, tingkat
penyembuhan tidak setinggi operasi Mohs untuk karsinoma sel basal.
3. Kemoterapi
Beberapa kanker dangkal menanggapi terapi lokal dengan 5-fluorouracil, agen
kemoterapi. pengobatan topikal dengan krim Imiquimod 5%, dengan lima
aplikasi per minggu selama enam minggu memiliki tingkat dilaporkan 70-90%
keberhasilan untuk mengurangi bahkan menghilangkan karsinoma sel BCC.
4. Imunoterapi
Imunoterapi penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan menggunakan
peplus Euphorbia, gulma kebun yang umum, mungkin efektif. perusahaan
Australia Peplin biofarmasi adalah mengembangkan pengobatan topikal untuk
BCC. Imiquimod atau Aldara adalah sebuah immunotherapy tetapi yang
tercantum di sini di bawah kemoterapi.
5. Radiasi
Terapi radiasi yang sesuai untuk semua bentuk BCC sebagai dosis memadai
akan memberantas penyakit tersebut. Terapi radiasi dapat disampaikan baik
sebagai sinar radioterapi eksternal atau sebagai brachytherapy (radioterapi
internal). Meskipun radioterapi umumnya digunakan pada pasien yang lebih tua
yang tidak kandidat untuk operasi, itu juga digunakan dalam kasus-kasus di mana
eksisi bedah akan menodai atau sulit untuk merekonstruksi (terutama pada ujung
hidung, dan rims lubang hidung). pengobatan Radiasi sering mengambil sesedikit
5 kunjungan ke sebanyak 25 kunjungan untuk terapi radiasi. Biasanya, kunjungan
lebih dijadwalkan untuk terapi, komplikasi kurang atau kerusakan yang dilakukan
terhadap jaringan normal yang mendukung tumor. Cure rate bisa setinggi 95%
untuk tumor kecil, atau serendah 80% untuk tumor yang besar. Biasanya, tumor
berulang setelah radiasi diperlakukan dengan operasi, dan tidak dengan radiasi.
perlakuan radiasi lebih lanjut lebih lanjut akan merusak jaringan normal, dan
tumor mungkin resisten terhadap radiasi lebih lanjut.
6. Terapi Photodynamic
Terapi Photodynamic adalah modalitas baru untuk pengobatan karsinoma sel
basal, yang dikelola oleh aplikasi photosensitizers ke daerah sasaran. Ketika
molekul ini diaktifkan oleh cahaya, mereka menjadi beracun, sehingga
menghancurkan sel target. Metil aminolevulinate disetujui oleh Uni Eropa
sebagai fotosensitizer sejak tahun 2001. Terapi ini juga digunakan dalam jenis
kanker kulit lainnya.
7. Cryosurgery
Cryosurgery adalah suatu modalitas tua untuk pengobatan kanker kulit
banyak. Ketika akurat digunakan dengan probe temperatur dan instrumen
cryotherapy, dapat menghasilkan angka kesembuhan sangat baik. Kekurangan
termasuk kurangnya kontrol margin, nekrosis jaringan, atas atau di bawah
pengobatan tumor, dan waktu pemulihan yang lama. Beberapa buku diterbitkan
pada terapi, dan beberapa dokter masih menerapkan perlakuan untuk pasien
tertentu.
8. Electrodessication dan kuret atau EDC
EDC dilakukan dengan menggunakan pisau bulat, atau kuret, untuk mengikis
pergi kanker lembut. Kulit kemudian dibakar dengan arus listrik. Hal ini semakin
melembutkan kulit, memungkinkan untuk pisau untuk memotong lebih dalam
dengan lapisan berikutnya kuretase. Siklus ini berulang, dengan margin keamanan
kuretase kulit normal di sekitar tumor terlihat. Siklus ini diulang 3 sampai 5 kali,
dan margin kulit bebas diperlakukan biasanya 4 sampai 6 mm. Cure rate sangat
banyak digunakan tergantung pada ukuran dan jenis tumor.
J. Pencegahan
1. Perlindungan Sun – memakai topi bertepi lebar, UV-pelindung kacamata hitam,
kemeja lengan panjang dan celana
2. Gunakan tabir surya (SPF> 30) dan berlaku sebelum berenang atau olahraga dan
ulangi setiap 2-3 jam. Tetap di bawah naungan.
3. Monitor mencurigakan bintik-bintik atau mol. Periksa bintik-bintik atau tahi lalat
yang baru, tumbuh cepat, gatal-gatal, berdarah atau perubahan warna.
4. Temui dokter Anda jika Anda memiliki borok yang tidak sembuh.
(Pramitaningrum, 2018)
K. Komplikasi
1. Sebuah risiko kekambuhan karsinoma basal. Sel umumnya kambuh. Bahkan
setelah pengobatan berhasil, mereka mungkin kambuh, sering di tempat yang
sama.
2. Peningkatan risiko jenis lain kanker kulit. Sebuah sejarah karsinoma sel basal juga
dapat meningkatkan kemungkinan mengembangkan jenis lain kanker kulit,
seperti karsinoma sel skuamosa dan melanoma.
3. Kanker yang menyebar di luar kulit. Langka, bentuk agresif karsinoma sel basal
dapat menyerang dan merusak otot di dekatnya, saraf dan tulang. Sangat jarang,
karsinoma sel basal dapat menyebar ke area lain dari tubuh.
(Pramitaningrum, 2018)
L. Pathway
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Biodata Pasien
1. Data Demografi
2. Faktor Sosial Ekonomi dan Budaya
3. Faktor Lingkungan
2. Pola Kesehatan Fungsional Gordon
1. Riwayat keperawatan untuk pola persepsi kesehatan – penanganan kesehatan
Pola sehat – sejahtera yang dirasakan, Pengetahuan tentang gaya hidup dan
berhubungan dengan sehat, Pengetahuan tentang praktik kesehatan
preventif, Ketaatan pada ketentuan medis dan keperawatan.
2. Riwayat keperawatan untuk pola nutrisi – metabolic
Pola makan biasa dan masukan cairan, Tipe makanan dan cairan,
Peningkatan/penurunan berat badan, Nafsu makan, pilihan makanan.
3. Riwayat keperawatan untuk pola eliminasi
Defekasi, berkemih, Penggunaan alat bantu, Penggunaan obat-obatan.
4. Riwayat keperawatan untuk pola aktifitas
Pola aktivitas, latihan dan rekreasi, Kemampuan untuk mengusahakan
aktivitas sehari-hari (merawat diri, bekerja, dll).
5. Riwayat keperawatan untuk pola istirahat – tidur
Pola tidur – istirahat dalam 24 jam, Kualitas dan kuantitas tidur.
6. Riwayat keperawatan untuk pola kognitif perseptual
Penglihatan, perasa, pembau, Kemampuan bahasa, belajar, ingatan dan
pembuatan keputusan.
7. Riwayat keperawatan untuk pola konsep diri
Sikap klien mengenai dirinya, Persepsi klien tentang kemampuannya, Pola
emosional, Citra diri, identitas diri, ideal diri, harga diri dan peran diri.
8. Riwayat keperawatan untuk pola peran / hubungan
Persepsi klien tantang pola hubungan, Persepsi klien tentang peran dan
tanggung jawab.
9. Riwayat keperawatan seksualitas / reproduksi
Kepuasan dan ketidakpuasan yang dirasakan klien terhadap seksualitasnya,
Tahap dan pola reproduksi, termasukdidalamnyapenggunaanalatkontrasepsi.
10. Riwayat keperawatan untuk koping / toleransi stress
Kemampuan mengendalian stress, Sumber pendukung.
11. Riwayat keperawatan untuk nilai / kepercayaan
Nilai, tujuan dan keyakinan, Spiritual/agama, Konflik.
3. Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
Rambut bersih atau kotor, warna rambut, ada lesi atau tidak
2. Mata dan telinga
Konjungtiva anemis atau tidak, pupil isokor anisokor, lubang telinga kotor
atau tidak
3. Hidung
Lubang hidung sama besar atau tidak, sekitar hidung kotor atau bersih, ada
polip atau tidak.
4. Mulut
Sianosis atau tidak, sekitar mulut kotor atau bersih.
5. Kulit
Inspeksi : ada perubahan warna atau tidak, ada lesi, warna lesi, luas lesi,
banyak area yang terkena
Palpasi : kering atau lembab, halus atau kasar, nyeri atau tidak saat
ditekan, teraba hangat atau dingin, acral dingin atau panas.
Dada/jantung/paru
6. Paru-paru :
Inspeksi : Bagaimanakembangkempis dada, simetrisatau tidak
Palpasi : Bagaimanasterfimituskanankirisamaatautidak
Perkusi : Pekakseluruhlapangparuatautidak
Auskultasi : Suaracordiustampakatautidak
7. Jantung :
Inspeksi : Ictus cordistampakatautidak
Palpasi : Ictus cordisterabaatautidak
Perkusi : Konfigurasi normal atautidak
Auskultasi :Terdapatsuara abnormal atautidak
8. Perut
Inspeksi : Tidak asites
Auskultasi : Terdengar bising usus
Palpasi : Ada nyeri atau tidak
Perkusi : kembung atau tidak
9. Genitalia
Apakah terpasang kateter atau tidak, bersih atau tidak.
10. Extremitas
Atas : oedem atau tidak, terpasang infus atau tidak
Bawah : oedem atau tidak
B. Diagnosa Keperawatan
1) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terdapat benjolan
2) Ansietas berhubungan dengan pre operasi
3) Resiko infeksi dengan factor post operasi
C. Intervensi Keperawatan
1. Ansietas berhubungan dengan pre operasi.
NOC : Anxiety control dan Coping
a. Identifikasi cemas 4
b. Kontrol Cemas 4
c. Tanda-tanda vital 4
d. Postur tubuh 4
e. Ekspresi wajah 4
f. Bahasa tubuh 4
g. Tingkat aktivitas 4

Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)


1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
4. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
5. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
6. Dorong keluarga untuk menemani anak
7. Lakukan back / neck rub
8. Dengarkan dengan penuh perhatian
9. Identifikasi tingkat kecemasan
10. Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
11. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
12. Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
13. Kolaborasi pemberian obat untuk mengurangi kecemasan
2. Resiko infeksi dengan faktor resiko ketuban pecah dini.
NOC : Deteksi Resiko dan Kontrol Resiko
a. Mengenali tanda dan gejala yang mengidentifikasi resiko 4
b. Memonitor perubahan status kesehatan 4
c. Mengidentifikasi faktor resiko 4
d. Mengenali faktor resiko 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal
NIC : Kontrol Infeksi, Perlindungan Infeksi

1. Ganti peralatan perawatan per pasien sesuai protocol.


2. Anjurkan pasien mengenai teknik mencuci tangan dengan benar.
3. Pasikan penanganan aseptic dari semua saluran IV.
4. Monitor kerentanan terhadap infeksi.
5. Berikan perawatan kulit yang tepat periksa kulit dan selaput lendir untuk
adanya kemerahan, kehangatan ekstrim atau drainage.
6. Ajarkan pasien dan keluarga bagaimana cara menghindari infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing Interventions
Classification (NIC), edisi ke-6. Singapore: Elsevier.

Herdman, H. T., & Kamitsuru, S. (2015). Nanda International Inc. diagnosis keperawatan: definisi dan
klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC),
5th edition. Singapore: Elsevier.

Pramitaningrum, G. (2018). Penatalaksanaan Karsinoma Sel Basal. ejournal kesehatan.