Anda di halaman 1dari 10

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Analisa Kebutuhan


Recloser (pemutus Balik Otomatis /PBO) pada dasarnya adalah pemutus
tenaga yang dilengkapi dengan peralatan control. peralatan ini dapat merasakan
arus gangguan dan memintahkan operasi buka tutup kepada pemutus tenaga.
Untuk jaringan yang panjang (>20 km) perlu dipasang 2 atau lebih PBO pada
jarak tertentu dengan koordinasi yang baik, agar gangguan yang terjadi dapat
segera dibebaskan. Di dalam recloser dilengkapi dengan peralatan proteksi
gangguan fasa – fasa maupun fasa ke tanah. Recloser dilengkapi dengan kotak
control elektronik, yaitu suatu peralatan elektronik sebagai kelengkapan recloser
dimana peralatan ini tidak berhubungan dengan tegangan menengah dan pada
peralatan ini recloser dapat dikendalikan cara pelepasannya. Dari dalam kotak
control inilah pengaturan (setting) recloser dapat ditentukan. Alat pengaman ini
bekerja secara otomatis guna mengamankan suatu system dari arus lebih yang
diakibatkan adanya gangguan hubung singkat
Pada penyulang Hilbron terdapat 3 recloser yang terpasang di jaringan
sampai kepada GH Bayan diantaranya, Recloser Malimbu, Recloser Klui dan
Recloser Tanak Song. Recloser terdiri dari beberapa macam merk dan media
pemadam busur apinya juga berbeda. Recloser yang digunakan di jaringan
penyulang Hilbron yang disuplai oleh GI Ampenan yaitu menggunakan recloser
mek NULEC (Schneider) sedangkan media pemadam busur apinya yaitu
berupa gas SF6. Minyak sudah tidak digunakan lagi sebagai media peredam
busu api karena minyak semakin mahal dan langka. Selain itu, media peredam
minyak juga kurang ramah lingkungan.
Pada penyulang Hilbron ini sering terjadi gangguan temporer maupun
permanen, hal ini dikarenakan pada jaringan hilbron terdapat sangat banyak
pepohonan yang tinggi dan rimba, sehingga ranting – ranting pohon tersebut
sering mengenai jaringan apabila tertiup angin. Dalam mengatasi gangguan
arus hubung singkat ini diperlukan koordinasi antar pengaman jaringan distribusi
agar dapat mengisolasi gangguan dan melindungi jaringan distribusi serta
peralatan yang berada di jaringan tersebut.
3.1.1 Jenis Penelitian
Metode yang digunakan pada proyek akhir ini adalah metode kuantitatif.
Metode kuantitatif adalah bentuk penelitian yang secara sistematis, terstruktur,
serta terperinci. Pada pelaksanaannya, metode riset ini berfokus pada
penggunaan angka, table, grafik dan diagram untuk menampilkan hasil
data/informasi yang diperoleh. Digunakannya metode kuantitaf pada penelitian
ini dikarenakan sebuah pertimbangan yaitu dari rumusan masalah proyek akhir
ini yang menuntun untuk menggunakan metode kuantitatif.
3.1.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian untuk proyek akhir ini berada di jaringan Penyulang Hilbron
yang dipasok oleh GI Ampenan. Observasi lapangan dilakukan selama 4 bulan
dari Februari 2019 – Mei 2019.
3.1.3 Populasi dan Sampel
Populasi yang diambil dalam penyusunan proyek akhir ini adalah daerah
Lombok Utara dan sampelnya adalah penyulang Hilbron yang banyak terdapat
pepohonan yang rindang (lebat).
3.1.4 Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode wawancara
langsung dengan supervisor operasi distribusi dan observasi di lapangan.

3.2 Perancangan Penelitian


3.2.1 Data Teknis
Untuk mendapatkan nilai setting relai proteksi pada jaringan distribusi, perlu
dilakukan beberapa tahap perhitungan dan data teknis dari penyulang.
Data yang diperlukan untuk perhitungan arus gangguan hubung singkat dan
koordinasi recloser antara lain :
1. MVA short circuit di bus 150 kV
2. Data transformator tenaga
a. Kapasitas transformator tenaga (MVA)
b. Reaktansi urutan positif transformator tenaga (%)
c. Rasio tegangan
d. Rasio CT di penyulang masuk (Incoming Feeder)
e. Neutral Grounding Resistance (NGR) yang terpasang
3. Data penyulang
a. Single Line Diagram
b. Panjang Penghantar
c. Impedansi urutan positif, negatif dan nol penghantar
d. Rasio CT di penyulang keluar (Outgoing Feeder)
4. Data Arus Hubung Singkat
a. Data hubung singkat pada bus 3 (150 kV) GI Ampenan
4.2.2 Pehitungan Impedansi
1. Impedansi Sumber
Impedansi sumber dapat dihitung dengan mengetahui data hubung singkat
dari sumber yang akan kita hitung, yaitu
𝐾𝑉 2
𝑋𝑆𝐶 = 𝑀𝑉𝐴 (3.1)
𝑆𝐶

Dimana :
XSC = Impedansi sumber yang dicari
KV2 = Tegangan fasa-fasa system 150 kV
MVASC = Data hubung singkat di bus 150 kV (data dari UP3B Mataram)
2. Reaktansi Transformator Tenaga
a. Reaktansi urutan positif dan Negatif (XT1 dan XT2)
Nilai reaktansi didapat dari data transformator, untuk mendapatkan
nilainya dalam ohm, dihitung dengan cara sebagai berikut :
Cari nilai ohm pada 100% daya transformator :
𝐾𝑉 2
XT (pada 100%) = 𝑀𝑉𝐴 (3.2)
Dimana :
XT = Reaktansii pada 100% daya transformator
KV2 = Tegangan fasa-fasa system 20 kV
MVA = Daya transformator tenaga
Nilai reaktansi transformator daya ini adalah niali reaktansi urutan
positif, negatif (XT1 dan XT2), jadi :
XT = XT (data trafo %) x XT (pada 100%) (3.3)
b. Reaktansi Urutan Nol (XT0)
Reaktansi urutan nol ini diperoleh dengan memperlihatkan data
transformator itu sendiri, yaitu melihat belitan yang ada di dalam
transformator itu :
 Untuk trafo tenaga hubungan belitan ∆Y dimana kapasitas belitan
delta sama besar dengan kapasitas belitan Y, maka Xt0 = Xt1.
 Untuk trafo tenaga dengan hubungan belitan YYd dimana kapasitas
belitan delta (d) biasanya adalah sepertiga dari kapasitas belitan Y
(belitan yang dipakai untuk menyalurkan daya, sedangkan belitan
delta tetap ada didalam tetapi tidak dikeluarkan kecuali satu terminal
delta untuk ditanahkan) maka nilai Xt0 = 3 x Xt1
 Untuk trafo tenaga dengan hubungan belitan YY dan tidak
mempunyai belitan delta di dalamnya, maka untuk menghitung
besarnya Xt0 berkisar antara 9 sampai dengan 14 x Xt1

3. Impedansi Jaringan Distribusi


Perhitunga impedansi jaringan distribusi 20 kV adalah impedansi (ohm/km)
yang besarnya tergantung pada luas penampang, nilai impedansi dalam
ohm yang tergantung pada panjang kawat, dengan perhitungan :
Z1 jar = Z2 jar = (R1 + j X1) ohm/km x km (3.4)
Z0 jar = (R0 + j X0) ohm/km x km (3.5)
Dimana :
Z1 jar = Impedansi urutan positif jaringan
Z2 jar = Impedansi urutan negatif jaringan
Z0 jar = Impedansi urutan nol jaringan
R = besar resistansi dalam ohm/km
jX = nilai reaktansi dalam ohm/km
Karena dalam hitungan untuk memperoleh arus gangguan, dimana titik
gangguan terjadi di jaringan 20 kV, maka impedansi ini dikalikan dengan
panjang jaringan.
4. Impedansi Ekivalen
Perhitungan Z1 ekivalen = Z2 ekivalen dapat langsung menjumlahkan impedansi
sebagai berikut :
Z1 ekivalen = Z2 ekivalen = Xsc + XT1 + Z1 jar (3.6)
Sedangkan untuk perhitungan Z0 ekivalen dimulai dari titik gangguan sampai
ke transformator tenaga yang netralnya ditanahkan (hubungan belitan
YNyn0), sebagai berikut :
Z0 ekivalen = (12xRN) + XT0 + Z0 jar (3.7)
Dimana :
RN = Nilai tahanan NGR
XT1 = Reaktansi transformator tenaga urutan positif
XT0 = Reaktansi transformator tenaga urutan nol
Z1 jar = Impedansi urutan positif jaringan (Z1 jar = Z2 jar)
Z0 jar = Impedansi urutan nol jaringan

4.2.3 Perhitungan Arus Gangguan Hubung Singkat

Perhitungan gangguan hubung singkat adalah suatu analisa untuk


menentukan titik lokasi gangguan pada system tenaga listrik. Analisa hubung
singkat digunakan untuk menentukan setting relai proteksi yang digunakan
untuk melindungi system tersebut dari kemungkinan adanya gangguan hubung
singkat. Tujuan dari perhitungan gangguan hubung singkat adalah untuk
menghitung arus maksimum dan minimum gangguan dan tegangan pada
lokasi yang berbeda dari system tenaga untuk jenis gangguan yang berbeda
dari system tenaga untuk jenis gangguan yang berbeda sehingga rancangan
pengaman, relai dan pemutus yang tepat bisa dipilih untuk melindungi system
dari kondisi yang tidak normal dalam waktu yang singkat. Gangguan hubung
singkat di definisikan sebagai gangguan yang terjadi akibat adanya penurunan
kekuatan dasar isolasi antara sesama kawat fasa dengan tanah yang
menyebabkan kenaikan arus secara berlebihan.

Arus gangguan hubung singkat dapat dihitung dengan menggunakan rumus


umum (hokum ohm), yaitu :

𝑉
𝐼=𝑍 (3.8)

Dimana :

I = Arus gangguan yang mengalir pada hambatan Z (Amp)


V = Tegangan sumber (V)
Z = Impedansi sumber (Ω)
Hal yang membedakan antara gangguan hubung singkat 3 fasa, 2 fasa dan 1
fasa ke tanah adalah impedansi yang terbentuk sesuai dengan macam
gangguan hubung singkat itu sendiri, Penjelasannya seperti di bawah ini :
1. Z untuk gangguan hubung singkat 3 fasa = Z1
2. Z untuk gangguan hubung singkat 2 fasa = Z1 + Z2
3. Z untuk gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah = Z0
dimana :
Z1 = Impedansi urutan positif
Z2 = Impedansi urutan negatif
Z0 = Impedansi urutan nol
1. Perhitungan Arus Gangguan Hubung Singkat 3 Fasa ke Tanah
Untuk gangguan hubung singkat 3 fasa, impedansi yang digunakan adalah
urutan positif dengan nilai ekivalen Z1
𝑉𝑝ℎ−𝑁
𝐼𝑓 3 𝑓𝑎𝑠𝑎 = (3.9)
𝑍1 𝑒𝑞
Dimana :
If 3 fasa = Arus gangguan 3 fasa yang dicari (Amp)
Vph-N = Tegangan fasa netral system 20 kV = 20.000/√3 volt
Z1eq = Impedansi ekivalen urutan positif (Ω)
2. Perhitungan Arus Gangguan Hubung Singkat 2 fasa
Untuk gangguan hubung singkat fasa – fasa, impedansi yang digunakan
adalah urutan positif dengan nilai ekivalen Z1 dan Z2
𝑉𝑝ℎ−𝑝ℎ
𝐼𝑓 2 𝑓𝑎𝑠𝑎 = 𝑍 (3.10)
1 𝑒𝑞 +𝑍2 𝑒𝑞

Dimana :
If 2 fasa = Arus hubung singkat yang dicari (Amp)
Vph-ph = Tegangan fasa – fasa system 20 kV = 20.000 V
Z1 eq + Z2 eq = penjumlahan dari impedansi ekivalen Z1 dan Z2 (Ω)
3. Perhitungan Arus Gangguan Hubung Singkat 1 Fasa ke Tanah
Untuk gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah, impedansi yang
digunakan adalah urutan nol dengan nilai ekivalen Z0
3 𝑥 𝑉𝑝ℎ−𝑁
𝐼𝑓 1 𝑓𝑎𝑠𝑎−𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ = (3.11)
𝑍0 𝑒𝑞

Dimana :
If 1 fasa – tanah = Arus gangguan yang dicari
3 x Vph-N = Tegangan fasa-netral system 20 kV = 20.000/√3
Z0 eq = impedansi ekivalen urutan nol (Ω)
3.2.4 Perhitungan Setting Relai Arus Lebih
Hasil perhitungan arus gangguan hubung singkat digunakan untuk
menentukan nilai TMS (Time Multiple Setting) dan waktu kerja relai pada
OCR/GFR dan recloser yang menggunakan karakteristik jenis invers.
Disamping itu setelah nilai setting diperoleh, nilai – nilai arus gangguan
hubung singkat pada setiap lokasi gangguan yang di asumsikan ( 1%, 25%,
50%, 75% dan 100%), dipakai untuk memeriksa relai arus lebiih tersebut
apakah masih dapat dinilai selektif atau niali setting harus diubah ke nilai lain
yang memberikan kerja relai lebih selektif atau didapatkan kerja selektifitas
yang optimum (relai bekerja tidak terlalu lama tetapi menghasilkan selektifitas
yang baik).sedangkan untuk setelan arus dari Relai Arus Lebih dihitung
berdasarkan arus beban, yang mengalir di penyulang atau incoming feeder,
artinya :
1. Untuk relai arus lebih yang terpasang di penyulang keluar (outgoing feeder)
dihitung berdasarkan arus beban maksimum (beban puncak) yang
mengalir di penyulang tersebut.
2. Untuk relai arus lebih yang terpasang di penyulang masuk (incoming
feeder) dihitung berdasarkan arus nominal transformator tenaga.
Sesuai British Standard untuk :
 Relai Inverse biasa diset sebesar 1,05 s/d 1,3 x Ibeban (3.12)
 Relai Definite diset sebesar 1,2 s/d 1,3 x Ibeban (3.13)
Pernyataan lain yang harus dipenuhi adalah penyetelan waktu minimum dari
relai arus lebih (terutama di penyulang) tidak lebih kecil dari 0,3 detik.
Pertimbangan ini diambil agar relai tidak sampai trip lagi, akubat arus Inrush
current dari transformator distribusi yang memang sudah tersambung di
jaringan distribusi, sewaktu PMT penyulang tersebut dioperasikan. Penyetelan

3.2.5 Ground Fault Relay (GFR), dapat di setting mulai dari 6% s/d 12% x arus
gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah (terjauh/terkecil) :
6% s/d 12% x If1fasa-tanah terkecil (3.13)
Nilai ini untuk mengantisipasi jika penghantar tersentuh pohon, dimana
tahanan pohon besar (tahanan pohon 26 ohm s/d 52 ohm) yang dapat
memperkecil besarnya arus gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah.

3.2.6 Setting TMS (Time Multiple Setting)


Setelan Time Multiple Setting (Tms) dan setelan waktu relai pada jaringan
distribusi mempergunakan standard inverse. Karakteristik inverse sesuai IEC
60255-3 dan BS 142 1966, sebagai berikut :
𝛽
𝑡 = ((𝐼 𝛼
𝑥 𝑇𝑚𝑠 (𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘) (3.14)
𝑓 /𝐼𝑠𝑒𝑡 ) −1)

((𝐼𝑓 /𝐼𝑠𝑒𝑡 )𝛼 −1
𝑇𝑚𝑠 = 𝑥𝑡 (3.15)
𝛽

Tabel 3.1 Faktor 𝞪 dan ꞵ tergantung pada kurva vs arus

Nama Kurva 𝞪 ꞵ
Standard Inverse 0,02 0,14
Very Inverse 1 13,2
Extremely Inverse 2 80
Long Inverse 1 120

Dimana :
t = Waktu tripnya relai (detik)
If = Arus gangguan hubung singkat (Amp atau pu)
Iset = Arus Setting yang dimasukkan ke relai (Amp)
Tms = Time multiple setting, nilai ini yang diset kan ke relai sebagai
konstanta (tanpa satuan)
Setelan relai dengan menggunakan karakteristik Inverse biasanya
digunakan pada system distribusi tenaga listrik sebagai setelan relai yang
terpasang di incoming feeder, outgoing feeder atau relai yang terpasang di
gardu hubung atau recloser, dimana penyetelan arus dan waktu pada relai
OCR & GFR didasarkan pada besarnya arus gangguan hubung singkat
yang disetel dari sisi hilir sampai dengan sisi hulu (dari gardu hubung
sampai dengan gardu induk).
3.2.7 Setting Recloser
Untunk setting relai proteksi yang berada di jaringan distribusi, diperlukan
data-data pendukung antara lain :
1. Datta setting relai proteksi pada sumber penyulang
2. Perhitungan arus beban dan arus hubung singkat pada kawasan
pengamanan recloser dan PMCB
3. Data teknik recloser dan PMCB
Setting recloser meliput :
1. Setting operasi cepat dan operasi lambat, dibedakan atas waktu
bekerjanya recloser terhadap arus gangguan
2. Setting urutan kerja
Ada dua kali operasi recloser, diantaranya :
a. 2 kali operasi cepat, 2 kali operasi lambat
b. 3 kali operasi cepat, 1 kali operasi lambat