Anda di halaman 1dari 83

ANALISIS METODE PENYUSUTAN ASET TETAP UNTUK MENGHEMAT

BEBAN PAJAK PENGHASILAN BADAN PADA PT PEGADAIAN


(PERSERO) KANWIL JAKARTA 1

Skripsi

Diajukan Oleh :

Rani Widya Astuti


022114278

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR

MEI 2018
iii
ABSTRAK

Rani Widya Astuti, 022114278, Analisis Metode Penyusutan Aset Tetap Untuk
Menghemat Beban Pajak Penghasilan Badan Pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil
Jakarta 1, Dibawah bimbingan: Joko Supriyanto dan Haqi Fadillah, 2018.
Setiap tahun perusahaan diwajibkan untuk membayar pajak. Perusahaan pasti
ingin membayar pajak sehemat mungkin. Untuk dapat menghemat pajak dengan cara
memperbesar beban penyusutan pada aset tetap karena beban penyusutan merupakan
salah satu pengurang bruto. Semakin besar beban penyusutan maka beban pajak
penghasilan yang akan dibayarkan akan kecil sehingga sangat penting dalalm memilih
metode penyusutan aset tetap yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1)
Mendeskripsikan dalam pemilihan metode penyusutan aset tetap yang tepat pada PT
Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, (2) Untuk mengetahui jumlah pajak penghasilan
yang dapat dihematkan pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, (3)
Menganalisis pengaruh metode penyusutan aset tetap dalam menghemat beban pajak
penghasilan badan pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif
(non statistik) yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan setiap data mengenai suatu
variabel dan tidak dianalisis menggunakan metode statistik karena masing–masing
variabel akan dijelaskan hubungannya. Sumber data dalam penelitian ini data primer
yang diperoleh melalui penelitian langsung dengan cara observasi dan survey dari unit
analisis yang diteliti yaitu bagian divisi akuntansi.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pemilihan metode penyusutan aset
tetap yang dilakukan PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 sudah tepat. Metode
saldo menurun dapat menghemat beban pajak karena jumlah beban penyusutan metode
saldo menurun lebih besar dibandingkan jumlah beban penyusutan metode garis lurus.
Pada tahun 2016 beban penyusutan metode garis lurus sebesar Rp 5.931.321.270
sedangkan beban penyusutan metode saldo menurun sebesar Rp 6.143.263.248.
Dengan menggunakan metode saldo menurun pajak penghasilan yang telah
dihematkan sebesar Rp 52.985.493 dengan tingkat persentase 0,06%.
Saran dari penelitian ini diharapkan perusahaan tetap mempertahankan metode
penyusutan saldo menurun dalam menghitung penysutan aset tetap karena metode
yang dipilih sudah tepat.

Kata Kunci: Aset Tetap, Metode Penyusutan, Beban Pajak Penghasilan

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas berkat, rahmat, dan karunia dari Allah SWT
akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Metode
Penyusutan Aset Tetap Untuk Menghemat Beban Pajak Penghasilan Badan Pada PT
Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1”. Skripsi ini disusun dengan tujuan untuk
memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana S1 pada Fakultas Ekonomi
Universitas Pakuan Bogor.
Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis menyadari bahwa telah
mendapatkan banyak bantuan, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Hendro Sasongko, Ak., MM., CA. selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pakuan Bogor.
2. Bapak Dr. Arief Tri Hardiyanto, AK., MBA., CMA., CCSA., CA., CSEP., QIA.
selaku Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan
Bogor.
3. Ibu Retno Martanti Endah Lestari, S.E., M.Si. selaku Sekertaris Program Studi
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan Bogor.
4. Joko Supriyanto, Ak., M.Ak., CFrA., CA. selaku Ketua Komisi Pembimbing yang
telah membimbing dan mengarahkan selama penyusunan skripsi.
5. Haqi Fadillah, S.E., M.Ak. selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah
membimbing dan mengarahkan selama penyusunan skripsi.
6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi yang telah memberikan banyak ilmu
selama di perkuliahan.
7. Kedua orang tua saya yaitu Bawono dan Sri Ariyati, serta adik saya Sofyan Dwi
Candra yang selalu memberikan doa, dukungan, dorongan, masukkan, dan
motivasi.
8. Sahabat terdekat saya Kevin Alfindi yang selalu memberikan dukungan dan
masukkan.
9. Sahabat saya Dewi Agustin, Palupi Aftika Wardani, dan Safitri yang selalu
memberikan semangat.
10. Sahabat kuliah Ria Ristiana, Nisa Afifah, Siti Fauziah Sofinah, Triya wardah, dan
Rina Hannum Rangkuti yang selalu memberikan masukkan dan semangat.
11. Sahabat SMP Adinda Dwi Kresnaningrum, Siti Rahmawati, dan Rizka Khaerani
yang selalu memberiakan dukungan dan doa.
12. Sahabat SMK Diah Aishah Febrianti dan Maulita Dewi Iskandar yang selalu
memberikan motivasi.
13. Seluruh teman-teman akuntansi kelas G angkatan 2014 dan teman-teman
konsentrasi akuntansi perpajakan.

v
Penulis menyadari bahwa di dalam skripsi ini masih banyak terdapat
kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang
membangun demi kesempurnaannya skripsi ini. Penulis berusaha menyelesaikan
skripsi ini dengan menyajikan yang terbaik. Semoga dengan adanya skripsi ini dapat
memberikan manfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca.
Akhir kata penulis ucapkan terimakasih dan semoga Allah SWT senantiasa
selalu meridhai segala upaya dan usaha kita.

Bogor, Mei 2018

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Hal
JUDUL ................................................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ ii
ABSTRAK ........................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ......................................................................................... v
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xi
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian ............................................................ 1
1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah .......................................... 3
1.2.1 Identifikasi Masalah ........................................................ 3
1.2.2 Perumusan Masalah ........................................................ 4
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian .................................................... 4
1.3.1 Maksud Penelitian ............................................................ 4
1.3.2 Tujuan Penelitian ............................................................ 4
1.4. Kegunaan Penelitian .................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Studi Pustaka ............................................................................... 6
2.1.1 Tinjauan Umum Tentang Perpajakan............................... 6
Pengertian Pajak ............................................................... 6
Subjek Pajak ..................................................................... 6
Kewajiban Pajak Subjektif ............................................... 7
2.1.2 Perencanaan Pajak ........................................................... 7
Pengertian Perencanaan Pajak .......................................... 7
Tujuan Perencanaan Pajak ............................................... 8
Manfaat Perencanaan Pajak.............................................. 8
Motivasi Perencanaan Pajak............................................. 8
Strategi Dalam Perencanaan Pajak ................................... 9
2.1.3 Aset Tetap ....................................................................... 10
Pengertian Aset Tetap ...................................................... 10
Perolehan Aset Tetap ....................................................... 10
Karakteristik Dari Aset Tetap .......................................... 11
Penyusutan Aset Tetap ..................................................... 11
Saat Mulainya Penyusutan ............................................... 12
Kelompok Masa Manfaat Dan Tarif Penyusutan ............. 12
Metode Penyusutan .......................................................... 18

vii
Present Value (Nilai Sekarang) Pada Metode Penyusutan 19
2.1.4 Pajak Penghasilan ............................................................. 19
Pengertian Pajak Pengahsilan........................................... 19
Tarif PPh Badan ............................................................... 19
2.2. Penelitian Sebelumnya ................................................................ 20
2.3. Kerangka Pemikiran .................................................................... 23
2.4. Hipotesis Penelitian...................................................................... 24
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian ............................................................................ 25
3.2. Objek, Unit Analisis, dan Lokasi Penelitian ............................... 25
3.3. Jenis dan Sumber Data Penelitian ............................................... 25
3.4. Operasionalisasi Variabel ............................................................ 25
3.5. Metode Penarikan Sampel ........................................................... 26
3.6. Metode Pengumpulan Data ......................................................... 27
3.7. Metode Pengolahan/ Analisis Data ............................................. 27
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................... 28
4.1.1 Sejarah dan Perkembangan Pegadaian ............................. 28
Perubahan Status Pegadaian ............................................. 29
4.1.2 Kegiatan Usaha................................................................. 29
4.1.3 Struktur Organisasi........................................................... 33
4.2. Kebijakan Penyusutan Aset Tetap dan Laporan Laba Rugi......... 34
4.2.1 Jenis Aset Tetap Dan Masa Manfaat................................ 34
4.2.2 Perolehan Aset Tetap........................................................ 37
4.2.3 Laporan Laba Rugi........................................................... 38
4.3. Analisis Metode Penyusutan Aset Tetap Untuk Menghemat
Beban Pajak Penghasilan Dengan Present Value.......................... 41
4.3.1 Penyusutan Aset Tetap..................................................... 41
4.3.2 Present Value (Nilai Sekarang)........................................ 42
4.3.3 Penyusutan Aset Tetap Metode Garis Lurus Dan Metode
Saldo Menurun Dengan Present Value............................. 42
4.3.4 Penghematan Beban Pajak Penghasilan Badan
PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1........................ 53
4.4. Pembahasan................................................................................... 63
BAB V KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan .................................................................................. 66
5.2. Saran ............................................................................................. 66

LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

viii
DAFTAR TABEL

Hal
Tabel 1 : Beban Penyusutan Dan Beban Pajak Penghasilan Tahun 2012-2016...... .2
Tabel 2 : Tarif Penyusutan Pasal 11 Ayat (6) UU PPh No. 36 Tahun 2008........... .12
Tabel 3 : Jenis-Jenis Aset Berwujud Yang Termasuk Dalam Kelompok 1............ .13
Tabel 4 : Jenis-Jenis Aset Berwujud Yang Termasuk Dalam Kelompok 2..............14
Tabel 5 : Jenis-Jenis Aset Berwujud Yang Termasuk Dalam Kelompok 3..............16
Tabel 6 : Jenis-Jenis Aset Berwujud Yang Termasuk Dalam Kelompok 4............. .18
Tabel 7 : Operasional Variabel.................................................................................26
Tabel 8 : Harga Perolehan Aset Tetap Tahun 2012-2016....................................... .37
Tabel 9 : Harga Perolehan Aset Tetap Inventaris Tahun 2016................................ .38
Tabel 10: Harga Perolehan Dan Beban Penyusutan Inventaris tahun 2016...............41
Tabel 11 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap AC Metode Garis Lurus Dan
Metode Saldo Menurun Dengan Present Value................................…. 43
Tabel 12 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Bangku Besi Metode Garis Lurus
Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value.............................. 44
Tabel 13 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Proyektor Metode Garis Lurus
Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value.............................. 44
Tabel 14 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Mesin Hitung Uang Metode Garis
Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value.................... 45
Tabel 15 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Timbangan Digital Metode Garis
Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value................... 46
Tabel 16 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Brankas Metode Garis Lurus Dan
Metode Saldo Menurun Dengan Present Value...................................... 47
Tabel 17 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Lemari Arsip Metal Metode Garis
Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value.................... 48
Tabel 18 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Rak Besi Metode Garis Lurus Dan
Metode Saldo Menurun Dengan Present Value..................................... 48
Tabel 19 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Fax Email Metode Garis Lurus
Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value.............................. 49

ix
Tabel 20 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Meja Kayu Metode Garis Lurus
Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value.............................. 50
Tabel 21 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Televisi Metode Garis Lurus Dan
Metode Saldo Menurun Dengan Present Value...................................... 50
Tabel 22 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Komputer Metode Garis Lurus
Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value.............................. 51
Tabel 23 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Printer Metode Garis Lurus Dan
Metode Saldo Menurun Dengan Present Value...................................... 52
Tabel 24 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Alarm Metode Garis Lurus Dan
Metode Saldo Menurun Dengan Present Value...................................... 52
Tabel 25 : Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Lemari Kayu Metode Garis Lurus
Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value.............................. 53
Tabel 26 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap AC........................... 54
Tabel 27 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Bangku Besi............ 54
Tabel 28 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Proyektor................. 55
Tabel 29 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Mesin Hitung Uang. 56
Tabel 30 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Timbangan Digital... 56
Tabel 31 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Brankas.................... 57
Tabel 32 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Lemari Arsip Metal. 58
Tabel 33 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Rak Besi.................. 59
Tabel 34 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Fax Email................ 59
Tabel 35 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Meja Kayu............... 60
Tabel 36 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Televisi.................... 60
Tabel 37 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Komputer................. 61
Tabel 38 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Printer...................... 61
Tabel 39 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Alarm....................... 62
Tabel 40 : Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Lemari Kayu...................... 62
Tabel 41 : Total Beban Penyusutan Berdasarkan PV Setiap Aset Dan Penghematan
Pajak......................................................................................................... 64
Tabel 42 : Perhitungan Tingkat Diskon..................................................................... 65

x
DAFTAR GAMBAR

Hal
Gambar 1 : Kerangka Pemikiran………………………………………………… 23

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat Riset

iv
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Undang–Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan pada Pasal 1 angka 1 menyebutkan bahwa “Pajak adalah kontribusi wajib
kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang–undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara dan sebesar–besarnya kemakmuran rakyat”. Setiap
tahunnya perusahaan diwajibkan untuk membayar pajak, sehingga perusahaan pasti
memiliki tujuan untuk mengoptimalkan laba dan meminimalkan beban pajak
penghasilan karena dengan membayar pajak maka laba akan berkurang. Untuk
meminimalkan beban pajak penghasilan perlu dilakukannya suatu perencanaan yang
dapat dikenal dengan tax planning (perencanaan pajak). Tax planning (perencanaan
pajak) merupakan rangkaian strategi untuk mengatur akuntansi dan keuangan
perusahaan untuk meminimalkan kewajiban perpajakan dengan cara–cara yang tidak
melanggar peraturan perpajakan (Pohan 2015, 8).
Salah satu cara untuk meminimalkan beban pajak penghasilan yaitu dengan cara
memperbesar beban penyusutan pada aset tetap. Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI)
dalam SAK ETAP (2009, 68) menyatakan bahwa “Aset tetap adalah aset berwujud
yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk
disewakan ke pihak lain atau untuk tujuan administratif dan diharapkan akan
digunakan lebih dari satu periode”.
Perusahaan perlu melakukan pemilihan pada metode penyusutan aset tetap yang
tepat. Terdapat dua penerapan metode penyusutan, yaitu dapat berdasarkan standar
akuntansi keuangan serta dapat berdasarkan undang-undang perpajakan. Ada beberapa
metode penyusutan yang diperbolehkan dalam ketentuan standar akuntansi keuangan,
yaitu metode garis lurus, metode saldo menurun, metode saldo menurun ganda, metode
jumlah unit produksi, dan metode jumlah angka tahun. Sementara metode penyusutan
yang diperbolehkan dalam ketentuan undang–undang perpajakan, yaitu metode garis
lurus (straight line method) dan metode saldo menurun (declining balance method).
Aset tetap pada perusahaan yang disusutkan dapat dikatakan sebagai beban
penyusutan. Beban penyusutan dapat mempengaruhi laba yang sangat berpengaruh
terhadap pajak penghasilan. Semakin besar beban penyusutan maka jumlah beban
pajak penghasilan akan kecil dan apabila beban penyusutan kecil maka jumlah beban
pajak penghasilan akan besar, sehingga sangat penting untuk memilih metode
penyusutan yang tepat. Walau pada akhir masa manfaat besarnya akumulasi beban
penyusutan hasilnya sama dari setiap metode, namun apabila kedua metode tersebut
dilihat dari present value (nilai sekarang) atas beban penyusutan maka hasilnya akan
terlihat berbeda dari setiap metode penyusutan.

1
PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 merupakan bagian dari PT Pegadaian
(Persero) yang bergerak di bidang jasa keuangan nonperbankan yaitu pembiayaan
gadai, pembiayaan mikro fidusia, bisnis emas, dan aneka jasa lainnya. PT Pegadaian
(Persero) Kanwil Jakarta 1 memiliki tugas untuk membina kantor cabang serta
mengawasi jalannya perusahaan dan membentuk target perusahaan. Dalam
perhitungan penyustan aset tetap PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1
menggunakan ketentuan berdasarkan undang-undang perpajakan yaitu pasal 11 UU
PPh dengan menggunakan metode garis lurus untuk kelompok bangunan dan metode
saldo menurun untuk kelompok nonbangunan. Dalam pembayaran pajak penghasilan
PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 memiliki jumlah beban penyusutan dan
beban pajak yang setiap tahunnya berbeda-beda.
Tabel 1
Beban Penyusutan Dan Beban Pajak Penghasilan Tahun 2012-2016
(Dalam Rp)

2012 2013 2014 2015 2016


Beban
7.687.612.608 6.903.656.758 7.698.153.060 8.160.634.580 9.985.097.544
Penyusutan
Beban Pajak
54.300.753.136 37.773.182.547 61.198.919.675 82.075.903.153 91.295.859.116
Penghasilan
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1
Pada tahun 2012 ke tahun 2013 beban penyusutan mengalami penurunan sebesar
10%, tahun 2013 ke 2014 mengalami kenaikan sebesar 12%, tahun 2014 ke 2015
mengalami kenaikan sebesar 6%, tahun 2015 ke 2016 mengalami kenaikan sebesar
22%. Adapun pada tahun 2012 ke tahun 2013 beban pajak penghasilan mengalami
penurunan sebesar 30%, tahun 2013 ke 2014 mengalami kenaikan sebesar 62%, tahun
2014 ke 2015 mengalami kenaikan sebesar 34%, tahun 2015 ke 2016 mengalami
kenaikan sebesar 11%. Tampak terlihat setiap tahun adanya kenaikan dan penurunan
yang sama terhadap beban penyusutan dan beban pajak penghasilan, sehingga adanya
kemungkinan beban penyusutan dapat mempengaruhi beban pajak penghasilan.
Penelitian sebelumnya oleh Khaironi (2008) tentang perencanaan pajak
penyusutan aset tetap pada PT Asuransi Bintang Tbk menyatakan bahwa hasil
penelitian menunjukkan PT Asuransi Bintang Tbk tidak melakukan perencanaan pajak
terhadap penyusutan aset tetap. Dari selisih perbandingan hasil perhitungan antara data
komersial yang tidak melakukan tax planing dengan data komersial yang melakukan
tax planning, hasilnya terdapat selisih yang signifikan diantara keduanya sehingga
dapat disimpulkan bahwa PT Asuransi Bintang Tbk tidak melakukan penghematan
pajak terhadap penyusutan aset tetap.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Arifin (2016) yang mengenai perencanaan
pajak melalui metode penyusutan dan penyesuaian fiskal untuk meminimalkan beban
pajak pada PT Dwijaya Grasindo Makmur menyatakan bahwa hasil penelitian
menunjukkan PT Dwijaya Grasindo Makmur dalam menentukan metode penyusutan

2
sudah tepat tetapi perusahaan belum sepenuhnya memahami tentang penyesuaian
fiskal untuk tujuan meminimalkan beban pajak yang akan ditanggung.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh Pusparini dkk (2013) mengenai
implementasi tax planning dalam upaya penghematan pajak penghasilan (PPh) badan
pada PT Citra Perdana Kendedes Malang menyatakan bahwa hasil penelitian terdapat
selisih negatif antara biaya penyusutan aset tetap yang diakui oleh perusahaan karena
terdapat biaya yang tidak termasuk dalam biaya fiskal dan kondisi perusahaan masih
kurang efisien. Masih terdapat komponen biaya yang seharusnya dapat dihemat oleh
perusahaan namun tidak dimanfaatkan oleh perusahaan.
Penelitian oleh Windariyanti (2013) mengenai Perlakuan akuntansi penyusutan
aset tetap dan pengaruhnya terhadap kewajiban pajak pada PT Synergy Indonesia,
hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perhitungan penyusutan aset tetap pada PT
Synergy Indonesia dengan menggunakan metode saldo menurun akan lebih
menghemat pajak dibandingkan dengan metode garis lurus karena beban penyusutan
menggunakan metode saldo menurun lebih besar dari pada menggunakan metode garis
lurus.
Karena banyak penelitian terdahulu yang hasil kesimpulannya adalah banyak
perusahaan yang belum melakukan perencanaan pajak terhadap beban pajak
penghasilan maka penulis ingin melakukan penelitian apakah PT Pegadaian (Persero)
Kanwil Jakarta 1 sudah melakukan perencanaan pajak untuk melihat efisiensi dalam
pembayaran pajak atau belum, sehingga perlu untuk melakukan analisis metode
penyusutan untuk menghemat beban pajak penghasilan yang akan dibayarkan oleh
perusahaan. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitan dengan judul “Analisis Metode Penyusutan Aset Tetap Untuk
Menghemat Beban Pajak Penghasilan Badan Pada PT Pegadaian (Persero)
Kanwil Jakarta 1”.

1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah


1.2.1 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka kesimpulannya
bahwa identifikasi masalah yang terdapat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Setiap perusahaan pasti ingin laba yang optimal sehingga mereka berusaha untuk
meminimalkan beban pajak penghasilan.
2. Untuk menghemat beban pajak penghasilan yang akan dibayarkan oleh perusahaan
perlu dilakukannya pembesaran beban pada penyusutan.
3. Data yang ditampilkan pada latar belakang mengidentifikasi adanya penurunan
terhadap beban penyusutan pada tahun 2012 ke tahun 2013 sebesar 10%, dan
mengalami kenaikan tahun 2013 ke 2014 sebesar 12%, tahun 2014 ke 2015
mengalami kenaikan sebesar 6%, tahun 2015 ke 2016 mengalami kenaikan sebesar
22%. Adapun beban pajak penghasilan pada tahun 2012 ke tahun 2013 mengalami
penurunan sebesar 30%, tahun 2013 ke 2014 mengalami kenaikan sebesar 62%,

3
tahun 2014 ke 2015 mengalami kenaikan sebesar 34%, tahun 2015 ke 2016
mengalami kenaikan sebesar 11%, sehingga adanya kemungkinan beban
penyusutan dapat mempengaruhi beban pajak penghasilan.
4. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui metode penyusutan mana yang tepat
untuk menghemat beban pajak penghasilan dan apakah PT Pegadaian (Persero)
Kanwil Jakarta 1 sudah efisien atau belum dalam pembayaran beban pajak
penghasilan.

1.2.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dijelaskan di atas, maka beberapa
masalah di dalam penelitan ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pemilihan metode penyusutan aset tetap yang tepat pada PT Pegadaian
(Persero) Kanwil Jakarta 1 ?
2. Apakah pajak penghasilan dapat dihematkan pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil
Jakarta 1 ?
3. Bagaimana pengaruh metode penyusutan aset tetap dalam menghemat beban pajak
penghasilan badan pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 ?

1.3 Maksud dan Tujuan


1.3.1 Maksud penelitian
Maksud penelitian adalah untuk menganalisis metode-metode penyusutan aset
tetap terhadap beban pajak penghasilan, serta dapat memberikan saran pemilihan
metode yang tepat yang dapat menghemat beban pajak penghasilan.

1.3.2 Tujuan Penelitian


Berdasarkan maksud penelitian di atas yang sebelumnya telah dijelaskan, maka
dapat disimpulkan bahwa tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan dalam pemilihan metode penyusutan aset tetap yang tepat pada
PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1.
2. Untuk mengetahui jumlah pajak penghasilan yang dapat dihematkan pada PT
Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1.
3. Menganalisis pengaruh metode penyusutan aset tetap dalam menghemat beban
pajak penghasilan badan pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1.

4
1.4 Kegunaan Penelitian
Dari hasil penelitian ini penulis mengharapkan penelitian ini dapat memberikan
manfaat dan dapat berguna untuk semua pihak baik untuk penulis, pembaca, dan
perusahaan dalam hal sebagai berikut:
1. Kegunaan Teoritik
a. Bagi penulis yaitu dengan adanya penelitian ini dapat memberikan informasi
yang luas dan menambah wawasan untuk penulis sehingga penulis dapat
mengembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan.
b. Bagi pembaca / pihak lain yaitu diharapkan penelitian ini dapat dijadikan
sebagai bahan kajian dan dapat memberikan informasi bagi penelitian
selanjutnya agar dapat memahami tentang bagaimana cara untuk menghemat
beban pajak penghasilan badan yang akan dibayarkan oleh perusahaan.
2. Kegunaan praktik
Bagi perusahaan yaitu diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat
memberikan saran dan masukkan yang bermanfaat serta positif dalam menghemat
beban pajak penghasilan agar langkah selanjutnya perusahaan dapat
mengembangkan kinerja semakin lebih baik.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Studi Pustaka


2.1.1 Tinjauan Umum Tentang Perpajakan
Pengertian Pajak
Pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk meningkatkan pembangunan
yang bertujuan untuk memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat. Tanpa adanya
pajak maka akan menghambat kegiatan negara. Dalam Undang–Undang 1945 Pasal
23 Ayat (2) dinyatakan bahwa segala jenis pajak untuk keperluan negara harus
bedasarkan undang–undang.
Definisi pajak menurut Undang–Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pada Pasal 1 angka 1 menyebutkan bahwa
“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang–undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara dan
sebesar–besarnya kemakmuran rakyat”.
Menurut Agoes dan Trisnawati (2013, 6) definisi pajak yaitu “Pajak adalah iuran
rakyat kepada kas negara berdasarkan undang–undang (yang dapat dipaksa) dengan
tidak mendapat jasa timbal balik yang langsung dapat ditunjukkan, dan yang
digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.
Dari definisi pajak diatas yang dikemukakan oleh para ahli, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa pajak adalah iuran wajib yang harus dibayarkan oleh wajib pajak
orang pribadi atau badan yang memiliki penghasilan yang sifatnya memaksa
berdasarkan undang-undang untuk kesejahteraan bersama.
Subjek Pajak
Setiap orang atau badan yang memiliki penghasilan yang besarnya sesuai dengan
aturan pajak negara dan dikenai kewajiban untuk melaksanakan perpajakan dapat
dikatakan sebagai subjek pajak. Menurut Mardiasmo (2011, 135-137) yang menjadi
subjek pajak adalah sebagai berikut :
1. Orang pribadi.
2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.
3. Badan, terdiri dari perseroan terbatas, perseroan comonditer, perseroan lainnya,
BUMN/BUMD dengan nama dan bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana
pensiun, persekutuan perkumpulan, yayasan, organisasi, lembaga dan bentuk
badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif.
4. Bentuk Usaha Tetap (BUT).

6
Kewajiban Pajak Subyektif
Subjek pajak memiliki kewajiban dalam pembayaran pajak. Menurut Sudirman
dan Amiruddin (2016, 59–60) kewajiban pajak subyektif pada subjek pajak yaitu:
1. Orang pribadi yaitu dimulai sejak orang tersebut dilahirkan di Indonesia atau
berniat untuk brtempat tinggal di Indonesia dan berakhir pada saat orang tersebut
meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia selama–lamanya
2. Badan yaitu dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan
di Indonesia dan berakhir pada saat badan tersebut dibubarkan atau tidak lagi
bertempat kedudukan di Indonesia.
3. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau badan yang tidak
didirikan di Indonesia, yang melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia yaitu
dimulai sejak melakukan kegiatan BUT di Indonesia dan berakhir pada saat tidak
lagi melakukan kegiatan BUT di Indonesia.
4. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau badan yang tidak
didirikan di Indonesia yang memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari
melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia yaitu dimulai saat orang pribadi
atau badan tersebut memperoleh penghasilan dari Indonesia dan berakhir pada saat
tidak lagi memperoleh penghasilan tersebut.
5. Warisan yang belum terbagi yaitu dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum
terbagi dan berakhir pada saat warisan tersebut selesai dibagi.

2.1.2 Perencanaan pajak


Pengertian perencanaan pajak
Pajak merupakan salah satu faktor dalam pengurangan laba perusahaan. Perlu
adanya suatu rencana dalam perpajakan untuk mencapai laba yang optimal. Salah satu
cara yang dapat dilakukan yaitu dengan meminimalkan beban pajak penghasilan tanpa
melanggar aturan. Semakin besar penghasilan pada perusahaan maka semakin besar
pula pajak yang akan terutang. Perusahaan membutuhkan tax planning (perencanaan
pajak) yang tepat agar perusahaan dapat membayar beban pajak penghasilan dengan
efisien.
Menurut Pohan (2015, 8) “Perencanaan pajak merupakan rangkaian strategi
untuk mengatur akuntansi dan keuangan perusahaan untuk meminimalkan kewajiban
perpajakan dengan cara–cara yang tidak melanggar peraturan perpajakan (in legal
way). Dalam arti yang lebih luas meliputi keseluruhan fungsi menejemen pajak”.
Menurut Suandy (2011, 6) “Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam
menejemen pajak. pada tahap ini dilakukan pengumpulan data dan penelitian terhadap
peraturan perpajakan agar dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan
dilaksanakan”.
Dari definisi perencanaan pajak diatas yang dikemukakan oleh para ahli, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa perencanaan pajak merupakan salah satu cara yang

7
bisa dilakukan oleh wajib pajak untuk mengurangi beban pajak yang harus dibayarkan
tanpa melakukan pelanggaran dalam undang–undang perpajakan.
Tujuan Perencanaan Pajak
Dengan dilakukannya suatu perencanaan pajak pasti ada sebuah tujuan yang
ingin dicapai. Menurut Pohan (2015, 21) tujuan pokok yang ingin dicapai dari
perencanaan pajak yang baik adalah:
1. Meminimalisasi beban pajak yang terutang
Tindakan yang harus diambil dalam rangka perencanaan pajak berupa usaha–usaha
mengefisiensikan beban pajak yang masih dalam ruang lingkup pemajakan dan
tidak melanggar peraturan perpajakan.
2. Memaksimalkan laba setelah pajak.
3. Meminimalkan terjadinya tax surprise jika terjadi pemeriksaan pajak oleh fiskus.
4. Memenuhi kewajiban perpajakan secara benar, efisien dan efektif sesuai dengan
ketentuan perpajakan, yang antara lain meliputi:
a. Mematuhi segala ketentuan administratif, sehingga terhindar dari pengenaan
sanksi, baik sanksi administratif maupun pidana.
b. Melaksanaakn secara efektif segala ketentuan undang–undang perpajakan
yang terkait dengan pelaksanaan pemasaran, pembelian dan fungsi keuangan
seperti pemotongan dan pemungutan pajak.
Manfaat Perencanaan Pajak
Perencanaan pajak (Tax Planning) dapat memberikan suatu manfaat untuk suatu
perusahaan. Menurut Pohan (2015, 20) ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari
perencanaan pajak yang bisa dilakukan secara cermat yaitu:
1. Penghematan kas keluar, karena beban pajak yang merupakan unsur biaya dapat
dikurangi.
2. Mengatur aliran kas masuk dan keluar (cash flow), karena dengan perencanaan
pajak yang matang dapat diperkirakan kebutuhan kas untuk pajak dan menentukan
saat pembayaran sehingga perusahaan dapat menyusun anggaran kas secara lebih
akurat.
Motivasi Perencanaan Pajak
Perencanaan pajak dapat terjadi karena adanya beberapa hal yang dapat
mempengaruhi prilaku wajib pajak untuk meminimalkan kewajiaban pembayaran
pajak baik secara legal maupun ilegal sehingga adanya suatu motivasi dilakukannya
perencanaan pajak menurut Pohan (2015, 18 – 19) adalah sebagai berikut:
1. Tingkat kerumitan suatu peraturan
Makin rumitnya peraturan perpajakan maka akan muncul kecenderungan wajib
pajak untuk menghindarinya karena biaya untuk mematuhinya menjadi lebih
tinggi.
2. Besarnya pajak yang dibayarkan

8
Makin besarnya jumlah pajak yang akan dibayarkan maka makin besar pula
kecenderungan wajib pajak untuk memperkecil jumlah pembayaran pajaknya.
3. Biaya untuk negosiasi
Terkadang wajib pajak melakukan negosiasi dan memberikan uang sogokan
kepada fiskus dalam plaksanaan hak dan kewajiban perpajakan. Makin tinggi uang
sogokan yang dibayarkan maka semakin kecil pula kecenderungan wajib pajak
untuk melakukan pelanggaran.
4. Resiko deteksi
Makin rendah resiko terdeteksi maka wajib pajak cenderung untuk melakukan
pelanggaran. Sebaliknya bila suatu pelanggaran mudah diketahui maka wajib
pajak akan memilih posisi konservatif dengan tidak melanggar aturan.
5. Besarnya denda
Makin berat sanksi perpajakan yang bisa dikenakan maka wajib pajak akan
cenderung mengambil posisi konservatif dengan tidak melanggar ketentuan
perpajakan. Sebaliknya makin ringan sanksi atau bahkan ketiadaan sanksi atas
pelanggaran yang dilakukan wajib pajak, maka kecenderungan untuk melanggar
akan lebih besar.
6. Moral masyarakat
Moral masyarakat akan memberi warna tersendiri dalam menentukan kepatuhan
dan kesadaran mereka dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan.
Strategi Dalam Perencanaan Pajak
Perlu adanya sebuah strategi yang tepat dalam melakukan perencanaan pajak.
Menurut Rahman (2010, 231 - 232) strategi dalam perencanaan pajak yaitu:
1. Tax saving
Tax saving merupakan upaya untuk mengefisiensikan beban pajak melalui
pemilihan alternatif pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah.
2. Tax avoidance
Tax avoidance merupakan upaya mengefisiensikan beban pajak dengan cara
menghindari pengenaan pajak melalui transaksi yang bukan ojek pajak.
3. Menghindari pelanggaran terhadap peraturan perpajakan yang berlaku
Dengan menguasai peraturan pajak yang berlaku, perusahaan dapat menghindari
timbulnya sanksi perpajakan yaitu:
a. Sanksi administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan
b. Sanksi pidana berupa pidana atau kurungan
4. Penundaan pembayaran kewajiban pajak
Menunda pembayaran kewaiban pajak tanpa melanggar peraturan perpajakan yang
berlaku dapat dilakukan melalui penundaan pembayaran PPN.
5. Mengoptimalkan kredit pajak yang diperkenankan
Wajib pajak seringkali kurang mendapat informasi mengenai pembayaran pajak
yang dapat dikreditkan.
6. Hindarkan lebih bayar akibat salah tulis atau salah hitung

9
Lebih bayar akibat salah tulis dan salah hitung akan mengakibatkan resiko
pemeriksaan pajak yang berdampak kepada penyisihan waktu kantor yang
berharga untuk kegiatan bisnis harus disediakan untuk pelayanan bagi pemeriksa
pajak.
7. Hindarkan pelanggaran terhadap peraturan perpajakan
Menghindari pelanggaran terhadap peraturan perpajakan dapat dilakukan dengan
cara berusaha menguasai peraturan perpajakan yang berlaku sehingga terhindar
dari sanksi perpajakan.

2.1.3 Aset Tetap


Pengertian Aset Tetap
Aset tetap merupakan harta berwujud yang dimiliki oleh perusahaan yang dapat
memberikan manfaat untuk perusahaan sebagai salah satu berlangsungnya kegiatan
oprasional perusahaan dan memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun.
Dalam SAK ETAP yang diatur oleh IAI (2009, 68) “Aset tetap adalah aset
berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau
jasa, untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif dan diharapkan
akan digunakan lebih dari satu periode”.
Pengertian aset tetap menurut Rudianto (2012, 256) “Aset tetap adalah barang
berwujud milik perusahaan yang sifatnya relatif permanen dan digunakan dalam
kegiatan normal perusahaan, bukan untuk diperjual belikan”.
Menurut pajak sesuai dengan pasal 11 UU PPh Nomor 36 tahun 2008 “Aset tetap
adalah harta berwujud yang dapat disusutkan dan terletak atau berada di Indonesia,
dimiliki dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan
yang merupakan objek pajak serta mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun”.
Dari definisi aset tetap di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa aset tetap
adalah harta berwujud yang dimiliki oleh perusahaan yang digunakan untuk kegiatan
oprasional perusahaan yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun.
Perolehan Aset Tetap
Terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh aset tetap.
Menurut Rudianto (2012, 259) perolehan aset tetap antara lain:
1. Pembelian tunai, aset tetap yang diperoleh melalui pembelian tunai dicatat dalam
buku dengan jumlah sebesar uang yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap
tersebut.
2. Pembelian angsuran, apabila aset tetap diperoleh melalui pembelian angsuran,
harga perolehan aset tetap tersebut tidak termasuk bunga.
3. Ditukar dengan surat berharga, aset tetap yang ditukar dengan surat berharga, baik
saham atau obligasi perusahaan tertentu, dicatat dengan buku besar harga pasar
saham atau obligasi yang digunakan sebagai penukaran.

10
4. Ditukar dengan aset tetap yang lain, jika aset tetap diperoleh melalui pertukaran
dengan aset lain, maka prinsip harga perolehan tetap harus digunakan untuk
memperoleh aset tetap yang baru tersebut, yaitu aset baru harus dikapitalisasi
dengan jumlah sebesar harga pasar aset lama ditambah uang yang dibayarkan (jika
ada). Selisih antara harga perolehan tersebut dan nilai buku aset lama diakui
sebagai laba atau rugi pertukaran.
5. Diperoleh dengan donasi, jika aset tetap diperoleh sebagai donasi, maka aset
tersebut dicatat dan diakui sebesar harga pasarnya.
Karakteristik Dari Aset Tetap
Menurut Suandy (2011, 31) aset tetap yang dapat disusutkan memiliki enam
karakterisktik yaitu:
1. Aset yang digunakan dalam kegiatan usaha
Aset tetap yang boleh disusutkan adalah aset yang dipakai dalam usaha atau
menjalakan usaha.
2. Nilainya menurun secara bertahap
Nilai aset yang dapat disusutkan harus menurun secara bertahap, baik karena faktor
kualitas atau karena semakin buruk fisiknya. Kalau nilainya tidak menurun secara
bertahap maka tidak dapat disusutkan tetapi langsung dibiayakan.
3. Aset berwujud dan aset tidak berwujud
Aset berwujud maupun aset tidak berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih
dari satu tahun dapat disusutkan. Untuk aset tetap tidak berwujud penyusutannya
disebut dengan amortisasi.
4. Pihak yang berhak melakukan penyusutan
Pihak yang berhak melakukan penyusutan yaitu pihak yang menggunakan aset
tersebut dalam kegiatan usaha dan pemilik yang dapat dibagi menjadi legal owner
dan beneficial owner.
5. Saat dilakukan penyusutan
Secara umum saat dilakukan penyusutan adalah saat digunakannya aset tetap
terebut, tetapi adakalanya pada tahun perolehan.
6. Dasar untuk melakukan penyusutan
Pada umumnya dapat dibedakan menjadi 3 sebagai berikut:
a. Harga perolehan
b. Harga penggantian
c. Revaluasi
Penyusutan Aset Tetap
Setiap aset tetap yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun yang
digunakan dalam kegiatan oprasional perusahaan pasti mengalami penurunan nilai
setiap tahunnya yang dapat dikenal dengan penyusutan. Berdasarkan UU PPh Nomor
36 Tahun 2008 perolehan aset tetap berwujud yang memiliki masa manfaat lebih dari
satu tahun harus dibebankan sebagai pengeluaran untuk mendapatkan, menagih dan

11
memelihara pengahsilan dengan mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa
manfaat harta tersebut melalui penyusutan.
Menurut PSAK 17 “Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat
disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi”.
Menurut Agoes dan Trisnawati (2013, 132 – 133) Metode penysutan yang
diperbolehkan dalam ketentuan perpajakan adalah sebagai berikut:
1. Metode garis lurus (straight line method) untuk kelompok bangunan dan bukan
bangunan.
2. Metode saldo menurun (declining balance method) untuk kelompok bukan
bangunan saja dan pada akhir masa manfaat disusutkan sekaligus.
Saat Mulainya Penyusutan
Setiap tahun semua aset tetap pasti mengalami penyusutan. Mardiasmo(2011,
180) mengungkapkan bahwa penyusutan pada aset tetap dapat dimulai pada saat:
1. Bulan dilakukannya pengeluaran aset tetap
2. Untuk harta yang masih dalam pengrajinan, penyusutannya dimulai pada bulan
pengerjaan harta tersebut selesai.
3. Dengan ijin Direktur Jendral Pajak, penyusutan dapat dimulai pada bulan harta
berwujud mulai digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai mengahsilkan.
Kelompok Masa Manfaat dan Tarif Penyusutan
Pasal 11 ayat (6) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 dalam mengatur kelompok
masa manfaat harta berwujud dan tarif penyusutan baik menurut metode garis lurus
(straight line methode) maupun metode saldo menurun (declining balance method)
adalah sebagai berikut:

Tabel 2
Tarif Penyusutan Pasal 11 Ayat (6) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008
Tarif Penyusutan
Kelompok Harta
Masa Manfaat Garis Saldo
Berwujud
Lurus Menurun
1. Bukan Bangunan
kelompok 1 4 Tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 Tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 Tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 Tahun 5% 10%
2. Bangunan
Permanen 20 Tahun 5% -
Tidak Permanen 10 Tahun 10% -
Sumber: Dirjen pajak, undang-undang republik indonesia no.36 tahun 2008
tentang pajak penghasilan

12
Dari tabel tersebut terdapat dua kelompok harta berwujud yaitu kelompok bukan
bangunan dan kelompok bangunan. Kelompok harta berwujud berupa bangunan hanya
dapat disusutkan dengan metode garis lurus. Kelompok harta berwujud selain
bangunan dapat disusutkan dengan metode garis lurus dan metode saldo menurun.
Dalam kelompok harta berwujud yang dimaksud bangunan yang tidak permanen
adalah bangunan yang sifatnya hanya sementara yang terbuat dari bahan yang tidak
tahan lama atau bangunan yang dapat dipindah–pindahkan dan masa manfaatnya tidak
lebih dari sepuluh tahun.
Jenis–jenis harta berwujud yang termasuk dalam kelompok bukan bangunan
menurut dasar hukum peraturan menteri keuangan nomor 96/PMK.03/2009 untuk
keperluan penyusutan adalah sebagai berikut:

Tabel 3
Jenis–Jenis Harta Berwujud Yang Termasuk Dalam Kelompok 1
Nomor Jenis Usaha Jenis Harta
1. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan
termasuk meja, bangku, kursi, lemari dan
sejenisnya yang bukan bagian dari bangunan.
2. Mesin kantor seperti mesin tik, mesin hitung,
duplikator, mesin fotokopi, mesin
akunting/pembukuan, komputer, printer,
scanner dan sejenisnya.
3. Perlengkapan lainnya seperti amplifier,
1 Semua jenis usaha tape/cassette, video recorder, televisi dan
sejenisnya.
4. Sepeda motor, sepeda dan becak.
5. Alat perlengkapan khusus (tools) bagi
industri/jasa yang bersangkutan.
6. Dies, jigs, dan mould.
7. Alat-alat komunikasi seperti pesawat telepon,
faksimile, telepon seluler dan sejenisnya.

Pertanian, perkebunan, Alat yang digerakkan bukan dengan mesin seperti


2
kehutanan, perikanan. cangkul, peternakan, perikanan, garu dan lain-lain.

Mesin ringan yang dapat dipindah-pindahkan seperti,


Industri makanan dan
3 huller, pemecah kulit, penyosoh, pengering, pallet,
minuman
dan sejenisnya.
Transportasi dan Mobil taksi, bus dan truk yang digunakan sebagai
4
Pergudangan angkutan umum.

13
Nomor Jenis Usaha Jenis Harta
Falsh memory tester, writer machine, biporar test
5 Industri semi konduktor
system, elimination (PE8-1), pose checker.
Jasa Persewaan
Anchor, Anchor Chains, Polyester Rope, Steel Buoys,
6 Peralatan Tambat Air
Steel Wire Ropes, Mooring Accessoris.
Dalam
Jasa telekomunikasi
7 Base Station Controller
selular
Sumber: Peraturan dirjen pajak nomor PER-20/PJ/2014

Tabel 4
Jenis–Jenis Harta Berwujud Yang Termasuk Dalam Kelompok 2
Nomor Jenis Usaha Jenis Harta
1. Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja,
bangku, kursi, lemari dan sejenisnya yang bukan
merupakan bagian dari bangunan. Alat pengatur udara
1 Semua jenis usaha seperti AC, kipas angin dan sejenisnya.
2. Mobil, bus, truk, speed boat dan sejenisnya.
3. Container dan sejenisnya.

1. Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan mesin


bajak, penggaruk, penanaman, penebar benih dan
Pertanian,
sejenisnya.
perkebunan,
2 2. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau
kehutanan,
memproduksi bahan atau barang pertanian,
perikanan
perkebunan, peternakan dan perikanan.

1. Mesin yang mengolah produk asal binatang, unggas


dan perikanan, misalnya pabrik susu, pengalengan ikan
.
2. Mesin yang mengolah produk nabati, misalnya mesin
minyak kelapa, margarin, penggilingan kopi, kembang
Industri makanan gula, mesin pengolah biji-bijian seperti penggilingan
3
dan minuman beras, gandum, tapioka.
3. Mesin yang menghasilkan/memproduksi minuman dan
bahan-bahan minuman segala jenis.
4. Mesin yang menghasilkan/memproduksi bahan-bahan
makanan dan makanan segala jenis.

14
Nomor Jenis Usaha Jenis Harta

Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin ringan


4 Industri mesin
(misalnya mesin jahit, pompa air).

1. Mesin dan peralatan penebangan kayu.


Perkayuan, 2. Mesin yang mengolah atau menghasilkan atau
5
kehutanan memproduksi bahan atau barang kehutanan.

Peralatan yang dipergunakan seperti truk berat, dump truck,


6
Konstruksi crane buldozer dan sejenisnya.

1. Truk kerja untuk pengangkutan dan bongkar muat, truk


peron, truck ngangkang, dan sejenisnya;
2. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat
untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya
gandum, batu - batuan, biji tambang dan sebagainya)
termasuk kapal pendingin, kapal tangki, kapal
penangkap ikan dan sejenisnya, yang mempunyai berat
Transportasi dan sampai dengan 100 DWT;
7
Pergudangan 3. Kapal yang dibuat khusus untuk menghela atau
mendorong kapal-kapal suar, kapal pemadam
kebakaran, kapal keruk, keran terapung dan sejenisnya
yang mempunyai berat sampai dengan 100 DWT;
4. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai
berat sampai dengan 250 DWT;
5. Kapal balon.

1. Perangkat pesawat telepon;


2. Pesawat telegraf termasuk pesawat pengiriman dan
8 Telekomunikasi
penerimaan radio telegraf dan radio telepon.

Auto frame loader, automatic logic handler, baking oven, ball


shear tester, bipolar test handler (automatic), cleaning
machine, coating machine, curing oven, cutting press, dambar
cut machine, dicer, die bonder, die shear test, dynamic burn-in
Industri semi
9 system oven, dynamic test handler, eliminator (PGE-01), full
konduktor
automatic handler, full automatic mark, hand maker,
individual mark, inserter remover machine, laser marker
(FUM A-01), logic test system, marker (mark), memory test
system, molding, mounter, MPS automatic, MPS manual, O/S

15
Nomor Jenis Usaha Jenis Harta
tester manual, pass oven, pose checker, re-form machine,
SMD stocker, taping machine,
tiebar cut press, trimming/forming machine, wire bonder, wire
pull tester.

Jasa Persewaan
10 Peralatan Tambat Spoolling Machines, Metocean Data Collector
Air Dalam

Mobile Switching Center, Home Location Register, Visitor


Jasa Location Register. Authentication Centre, Equipment Identity
11 Telekomunikasi Register, Intelligent Network Service Control Point, intelligent
Seluler Network Service Managemen Point, Radio Base Station,
Transceiver Unit, Terminal SDH/Mini Link, Antena

Sumber: Peraturan dirjen pajak nomor PER-20/PJ/2014

Tabel 5
Jenis–Jenis Harta Berwujud Yang Termasuk Dalam Kelompok 3
Nomor Jenis Usaha Jenis Harta

Pertambangan
Mesin-mesin yang dipakai dalam bidang pertambangan,
1 selain minyak dan
termasuk mesin-mesin yang mengolah produk pelikan.
gas

1. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-


produk tekstil (misalnya kain katun, sutra, serat-
serat buatan, wol dan bulu hewan lainnya, lena
Permintalan,
rami, permadani, kain-kain bulu, tule).
2 pertenunan dan
2. Mesin untuk yang preparation, bleaching, dyeing,
pencelupan
printing, finishing, texturing, packaging dan
sejenisnya.

1. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-


produk kayu, barang-barang dari jerami, rumput
3 Perkayuan dan bahan anyaman lainnya.
2. Mesin dan peralatan penggergajian kayu.

16
Nomor Jenis Usaha Jenis Harta

1. Mesin peralatan yang mengolah/menghasilkan


produk industri kimia dan industri yang ada
hubungannya dengan industri kimia (misalnya
bahan kimia anorganis, persenyawaan organis dan
anorganis dan logam mulia, elemen radio aktif,
isotop, bahan kimia organis, produk farmasi,
pupuk, obat celup, obat pewarna, cat, pernis,
minyak eteris dan resinoida-resinonida wangi-
wangian, obat kecantikan dan obat rias, sabun,
4 Industri kimia
detergent dan bahan organis pembersih lainnya, zat
albumina, perekat, bahan peledak, produk
pirotehnik, korek api, alloy piroforis, barang
fotografi dan sinematografi.
2. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk
industri lainnya (misalnya damar tiruan, bahan
plastik, ester dan eter dari selulosa, karet sintetis,
karet tiruan, kulit samak, jangat dan kulit mentah).

Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin menengah


5 Industri mesin
dan berat (misalnya mesin mobil, mesin kapal).
1. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus
dibuat untuk pengangkutan barang-barang tertentu
(misalnya gandum, batu-batuan, biji tambang dan
sejenisnya) termasuk kapal pendingin dan kapal
tangki, kapal penangkapan ikan dan sejenisnya,
yang mempunyai berat di atas 100 DWT sampai
dengan 1.000 DWT.
2. Kapal dibuat khusus untuk mengela atau
Transportasi dan mendorong kapal, kapal suar, kapal pemadam
6
Pergudangan kebakaran, kapal keruk, keran terapung dan
sejenisnya, yang mempunyai berat di atas 100
DWT sampai dengan 1.000 DWT.
3. Dok terapung.
4. Perahu layar pakai atau tanpa motor yang
mempunyai berat di atas 250 DWT.
5. Pesawat terbang dan helikopter-helikopter segala
jenis.

7 Telekomunikasi Perangkat radio navigasi, radar dan kendali jarak jauh.


Sumber: Peraturan dirjen pajak nomor PER-20/PJ/2014

17
Tabel 6
Jenis–jenis harta berwujud yang termasuk dalam kelompok 4
Nomor Jenis Usaha Jenis Harta

1 Konstruksi Mesin berat untuk konstruksi


1. Lokomotif uap dan tender atas rel.
2. Lokomotif listrik atas rel, dijalankan dengan batere
atau dengan tenaga listrik dari sumber luar.
3. Lokomotif atas rel lainnya.
4. Kereta, gerbong penumpang dan barang, termasuk
kontainer khusus dibuat dan diperlengkapi untuk
ditarik dengan satu alat atau beberapa alat
pengangkutan.
5. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat
Transportasi
untuk pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya
2 dan
gandum, batu-batuan, biji tambang dan sejenisnya)
Pergudangan
termasuk kapal pendingin dan kapal tangki, kapal
penangkap ikan dan sejenisnya, yang mempunyai
berat di atas 1.000 DWT.
6. Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong
kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal
keruk, keran-keran terapung dan sebagainya, yang
mempunyai berat di atas 1.000 DWT.
7. Dok-dok terapung.

Sumber: Peraturan dirjen pajak nomor PER-20/PJ/2014


Metode Penyusutan
Untuk menghitung penyusutan perlu adanya suatu metode. Semua aset tetap
berwujud kecuali tanah dapat disusutkan. Aset tetap yang memiliki umur lebih dari
satu tahun pasti mengalami penyusutan setiap tahunnya. Menurut Tmbooks (2013, 44)
dalam ketentuan perpajakan terdapat dua metode penyusutan yang diperbolehkan
yaitu:
1. Metode garis lurus yaitu penyusutan berupa bagian – bagian yang sama besar
selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut.
Rumus = harga perolehan x tarif penyusutan.
2. Metode saldo menurun yaitu penyusutan berupa bagian – bagian yang menurun
dengan cara menetapkan tarif pnyusutan atas nilai sisa buku.
Rumus = tarif penyusutan x nilai sisa buku.

18
Present Value (Nilai Sekarang) Pada Metode Penyusutan
Dalam buku perencanaan pajak menurut Suandy (2011,39) untuk menghitung
tax planning dalam rangka menghemat PPh badan dapat dilakukan dengan cara
memilih metode penyustan pada aset tetap. Dari setiap metode penyustan, besarnya
beban penyusutan per tahun berbeda-beda tetapi pada akhir masa manfaat jumlah
akumulasi penyusutan adalah sama, sehingga dalam perpajakan perbedaan tersebut
dapat dikenal dengan beda waktu. Walaupun jumlah akumulasi penyusutan hasilnya
sama namun jika ditinjau dari present value (nilai sekarang) jumlahnya akan berbeda.
Present value atau nilai sekarang merupakan besarnya jumlah uang pada awal
periode yang diperhitungkan dengan tingkat suku bunga tertentu dari suatu jumlah
uang yang baru akan diterima atau dibayarkan dalam suatu periode dimasa yang akan
datang. Present value dilakukan untuk mengetahui berapa nilai uang sekarang dari
suatu nilai dimasa yang akan datang. (Harjito dan Martono 2012, 25)
Rumus PV = FVn [1/(1+i)^n]
Keterangan :
PV = Nilai sekarang dari jumlah uang masa yang akan datang
FV = Nilai uang yang di investasikan pada tahun ke-n
i = Tingkat suku bunga
n = Jangka waktu
Dengan menghitung present value (nilai sekarang) pada metode penyusutan
maka akan diketahui metode penyusutan manakah yang dapat menghemat pajak.

2.1.4 Pajak Penghasilan


Pengertian Pajak Penghasilan
Setiap penghasilan yang dikenakan tarif dapat dikatakan sebagai pajak
penghasilan. Priantara (2012, 173) menyatakan bahwa pajak penghasilan yang
dikenakan oleh subjek pajak dikelola oleh pemerintah pusat dan memberikan
konstribusi yang signifikan terhadap penerimaan negara.
Menurut Resmi (2017, 70) “Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan
terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun
pajak”.
Dari definisi di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pajak penghasilan
adalah penghasilan yang diperoleh subjek pajak akan dikenakan tarif berdasarkan
undang–undang perpajakan dan akan dimasukkan ke kas negara untuk pembangunan
Negara.
Tarif PPh Badan
Setiap wajib pajak yang telah memenuhi syarat perpajakan yang memperoleh
penghasilan akan dikenakan tarif pajak pada penghasilannya. Menurut Resmi (2017,

19
118-125) untuk menghitung besarnya PPh didasarkan pada tarif pajak berdsarkan
persentase tertentu. Tarif pajak di kelompokan menjadi dua yaitu:
1. Tarif umum, berdasarkan SE No. SE-66/PJ/2010, penerapan tarif umum bagi wajib
pajak badan dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a. Tarif 12,5% untuk sebagian penghasilan kena pajak dan 25% untuk sebagian
penghaislan kena pajak lainnya bagi wajib pajak dengan peredaran bruto
melebihi Rp 4.800.000.000 dan tidak melebihi Rp 50.000.000.000 dengan
ketentuan sebagai berikut:
1. Mendapat fasilitas dikenakan tarif 12,5% yaitu penghasilan kena pajak
dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas di kali 12,5%.
Perhitungan penghasilan kena pajak dari bagian peredaran bruto yang
Rp 4.800.000.000
memperoleh fasilitas yaitu x Pengahsilan kena pajak
Peredaran bruto
2. Tidak mendapat fasilitas dikenakan tarif 25% yaitu penghasilan kena
pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas di kali
25%.
b. Tarif 25% bagi wajib pajak badan dengan peredaran bruto melebihi jumlah
Rp50.000.000.000 seluruh penghasilan kena pajak dikalikan tarif 25%.
2. Tarif khusus PPh terutang sebesar 1% dari perolehan bruto usaha bagi wajib pajak
orang pribadi dan badan kecuali Bentuk Usaha Tetap yang memiliki penghasilan
dari peredaran bruto usaha tertentu sebesar Rp 4.800.000.000 setahun.

2.2 Penelitian Sebelumnya


Dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan
penelitian ini yaitu:

1. Khaironi (2008) melakukan penelitian mengenai “Perencanaan pajak penyusutan


aset tetap pada PT Asuransi Bintang Tbk”. Tujuan penelitian dilakukan adalah
untuk mengetahui apakah PT Asuransi Bintang Tbk melakukan perencanaan pajak
terhadap penyusutan aset tetap. Metode analisis data menggunakan metode analisis
kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan melakukan
perhitungan penyusutan metode garis lurus dan penysutan metode saldo menurun
dengan disertai discount factor nilai tunai (present value) maka akan diketahui
perbandingan hasil perhitungan beban penyusutan antara data komersial dengan
data fiskal hasilnya terdapat selisih yang signifikan diantara keduanya sehingga
dapat dismipulkan bahwa PT Asuransi Bintang Tbk tidak melakukan penghematan
pajak terhadap penyusutan aset tetap karena PT Asuransi Bintang Tbk dalam
melakukan perhitungan penyusutan aset tetap masih menggunakan metode garis
lurus. Sebaiknya PT Asuransi Bintang Tbk mengevaluasi kebijakan terhadap
penyusutan aset tetap, karena apabila perusahaan memakai metode saldo menurun
maka penghematan pajak yang dapat dilakukan akan menjadi besar.

20
2. Ratag (2013) melakukan penelitian mengenai “Perencanaan pajak melalui metode
penyusutan aset tetap untuk menghitung PPh badan pada PT Bank Sulut”. Tujuan
penelitian dilakukan adalah untuk mengetahui perencanaan pajak melalui metode
penyusutan aset tetap untuk menghitung PPh badan pada PT Bank Sulut. Metode
analisis data menggunakan metode data deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa PT Bank Sulut dalam menjalankan aktifitasnya belum sepenuhnya
melakukan perencanaan pajak melalui metode penyusutan aset tetap. Sebaiknya
perencanaan pajak atas aset tetap pada PT Bank Sulut memilih metode penyusutan
aset tetap secara tepat yaitu dengan menggunakan metode penyusutan garis lurus.
3. Windariyanti (2013) melakukan penelitian mengenai “Perlakuan akuntansi
penyusutan aset tetap dan pengaruhnya terhadap kewajiban pajak pada PT Synergy
Indonesia”. Tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui perbandingan
perhitungan penyusutan aset tetap PT Synergy Indonesia dengan
mempertimbangkan nilai waktu uang sekarang (present value) serta pengaruhnya
terhadap penghematan pajak yang di dapat perusahaan. Metode analisis data
menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dalam perhitungan penyusutan aset tetap pada PT Synergy Indonesia dengan
menggunakan metode saldo menurun akan lebih menghemat pajak dibandingkan
dengan metode garis lurus karena beban penyusutan menggunakan metode saldo
menurun lebih besar dari pada menggunakan metode garis lurus.
4. Pusparini dkk (2013) melakukan penelitian mengenai “Implementasi tax planning
dalam upaya penghematan pajak penghasilan (PPh) badan pada PT Citra Perdana
Kendedes Malang”. Tujuan penelitian dilakukan adalah untuk mengetahui
implementasi tax planning yang dapat dilakukan perusahaan dalam upaya
meminimalkan beban pajak penghasilan yang terutang dan untuk mengetahui
dampak dilaksanakannya tax planning pada pajak penghasilan bagi perusahaan.
Metode analisis data menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat selisih negatif antara biaya penyusutan aset tetap
yang diakui oleh perusahaan karena terdapat biaya yang tidak termasuk dalam
biaya fiskal dan kondisi perusahaan masih kurang efisien. Masih terdapat
komponen biaya yang seharusnya dapat dihemat oleh perusahaan namun tidak
dimanfaatkan oleh perusahaan.
5. Christovint dkk (2015) melakukan penelitian mengenai “Evaluasi perhitungan
penyusutan aset tetap menurut peraturan perpajakan serta pengaruhnya terhadap
pajak pengahsilan (PPh) Pada Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Kantor
Cabang Manado”. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui bagaimana penerapan
metode penyusutan dan pengaruh perhitungan penyusutan terhadap pajak
pengahsilan (PPh) Pada Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Kantor Cabang
Manado berdasarkan perhitungan perpajakan. Metode analisis data menggunakan
metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan
perhitungan metode penyusutan telah sesuai dengan ketentuan perpajakan namun

21
terdapat kekeliruan dalam perhitungan penyusutan sehingga akan berpengaruh
terhadap beban pajak pengahsilan yang akan dibayarkan.
6. Arifin (2016) melakukan penelitian mengenai “Perencanaan pajak melalui metode
penyusutan dan penyesuaian fiskal untuk meminimalkan beban pajak studi kasus
pada PT Dwijaya Grasindo Makmur”. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah
untuk mengetahui perencanaan pajak melalui metode penyusutan aset tetap dan
penyesuaian fiskal dalam rangka meminimalkan beban pajak. Metode analisis data
menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT
Dwijaya Grrasindo Makmur dalam menentukan metode penyusutan sudah tepat
tetapi perusahaan belum sepenuhnya memahami tentang penyesuaian fiskal untuk
tujuan meminimalkan beban pajak yang akan ditanggung. Sebaiknya PT Dwijaya
Grasindo Makmur memahami tentang penyesuaian fiskal serta mengikuti
perkembangan aturan–aturan pajak yang berlaku.
7. Yulianti (2017) melakukan penelitian mengenai “Penerapan perencanaan pajak
atas penyusutan aset teap terhadap efisiensi beban pajak penghasilan badan pada
PDAM Tirta Pakuan Bogor”. Tujuan penelitian dilakukan yaitu untuk mengetahui
bagaimana penerapan perencanaan pajak atas aset tetap, untuk mengetahui
besarnya penghematan beban pajak penghasilan badan, dan untuk mengetahui
pengaruh penerapan perencanaan pajak atas pemilihan metode penyusutan aset
tetap terhadap efisiensi beban pajak penghasilan badan. Metode analisis data
menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa beban pajak yang dikenakan pada PDAM Tirta Pakuan Bogor
belum efisien. Dalam penyusutan aset tetap PDAM Tirta Pakuan Bogor masih
menggunakan metode garis lurus dan dalam penerapan metode penyusutan telah
sesuai dengan undang-undang perpajakan.
8. Kartika (2017) melakukan penelitian mengenai “Pengaruh perencanaan pajak
sebagai upaya untuk meminimalkan beban pajak penghasilan badan pada PT Fajar
Benua Indopack”. Tujuan penelitian dilakukan adalah untuk mendeskripsikan
pengaruh perencanaan pajak dan menganalisis besarnya pajak penghasilan
terutang. Metode analisis data menggunakan metode analisis kuantitatif dan
kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pajak yang dilakukan
PT Benua Fajar Indopack belum optimal. Dengan menghitung beban penyusutan
yang diukur dengan nilai waktu uang sekarang (present value) maka telah terlihat
perbedaan hasil beban penyusutan antara metode garis lurus dengan metode saldo
menurun pada PT Fajar Benua Indopack yaitu metode penyusutan yang digunakan
belum tepat sehingga masih ada biaya–biaya pajak yang masih bisa dimaksimalkan
yaitu dalam penggunaan metode penyusutan aset tetap serta melakukan pemberian
tunjangan pajak penghasilan yang dimasukkan dalam daftar gaji karyawan.
Sebaiknya perusahaan mempertimbangkan dalam memilih metode perhitungan
penyusutan aset tetap karena apabila perusahaan merubah metode yang semula
garis lurus menjadi saldo menurun maka jumlah pajak penghasilan dapat
diminimalkan. Serta perusahaan dapat mempertimbangkan pemberian tunjangan

22
pajak kepada karyawan yang dimasukkan ke dalam daftar gaji sehingga
memperbesar biaya oprasional gaji.
2.3 Kerangka Pemikiran
Pajak merupakan iuran wajib yang harus dibayarkan oleh wajib pajak orang
pribadi atau badan yang memiliki penghasilan yang sifatnya memaksa berdasarkan
undang–undang perpajakan untuk kepentingan kesejahteraan bersama. Wajib pajak
telah diberikan kesempatan untuk menghitung, melapor, dan menyetor pajak sendiri
sehingga perusahaan dapat menghitung sendiri jumlah pajak penghasilan yang akan
dibayarkan. Setiap perusahaan pasti menginginkan untuk mengoptimalkan laba karena
besar kecilnya laba akan mempengaruhi beban pajak penghasilan yang akan
dibayarkan oleh perusahaan. Salah satu cara yang dapat digunakan dalam
meminimalkan jumlah pajak yang akan dibayarkan oleh perusahaan yaitu dengan
memperbesar beban penyusutan karena penyusutan merupakan salah satu faktor
pengurangan bruto, sehingga akan memperkecil laba pada perusahaan dan pajak
penghasilan yang akan dibayarkan menjadi lebih hemat. Perlu memperhatikan dalam
pemilihan metode penyusutan aset tetap yang tepat. Dalam ketentuan perpajakan
terdapat dua metode penysutan yang diperbolehkan yaitu metode garis lurus dan
metode saldo menurun. Metode penyusutan yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah metode garis lurus dan metode saldo menurun, sehingga akan di hitung beban-
beban penysutan dari setiap metode. Dari masing–masing beban penyusutan metode
garis lurus dan metode saldo menurun kemudian diukur dengan tingkat nilai sekarang
(present value) dengan rumus PV = FVn [1/(1+i)^n], maka akan terlihat metode
penyusutan mana yang dapat menghemat beban pajak. Selisih dari beban penyusutan
tersebut selanjutnya dikalikan tarif PPh badan sehingga akan terlihat hasil akhir berapa
pajak penghasilan yang dapat dihematkan. Dengan memilih salah satu metode yang
tepat maka akan mempengaruhi jumlah laba yang akan berpengaruh terhadap pajak
penghasilan badan. Berikut ini gambar kerangka pemikiran mengenai hubungan
anatara variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y) yang akan diteliti.

Metode garis lurus


(X1)
Beban pajak penghasilan
(Y)

Metode saldo menurun


(X2)

Gambar 1
Kerangka Pemikiran

23
2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka hipotesis untuk penelitian ini yaitu:

 Hipotesis 1 : Metode penyusutan yang digunakan oleh PT Pegadaian (Persero)


Kanwil Jakarta 1 dalam penghematan pajak belum tepat.
 Hipotesis 2 : Pajak penghasilan yang dikenakan oleh PT Pegadaian (Persero)
Kanwi Jakarta 1 dapat dihematkan.
 Hipotesis 3 : Metode penyusutan berpengaruh dalam penghematan beban pajak
penghasilan.

24
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang
menjelaskan hubungan setiap data mengenai suatu variabel dan tidak dianalisis
menggunakan metode statistik karena masing–masing variabel akan dijelaskan
hubungannya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pemilihan metode
penyusutan mana yang tepat untuk menghemat beban pajak penghasilan yang akan
dibayarkan.

3.2 Objek, Unit Analisis, dan Lokasi Penelitian


Objek penelitian terdiri dari variabel independen yaitu metode penyusutan aset
tetap dan variabel dependen yaitu beban pajak penghasilan. Dimana variabel
independen mempengaruhi variabel dependen yaitu metode penyusutan aset tetap
sangat berpengaruh terhadap beban pajak penghasilan yang akan dibayarkan oleh
perusahaan. Unit analisis yang digunakan adalah unit analisis group yaitu sumber data
dan informasi dari bagian divisi akuntansi pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil
Jakarta1 yang beralokasi di Jl. Senen Raya No 36 Jakarta Pusat.

3.3 Jenis dan Sumber Data Penelitian


Jenis data yang diteliti dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang
merupakan sumber data primer yang diperoleh melalui penelitian langsung dengan
cara observasi dan survey dari unit analisis yang diteliti yaitu bagian divisi akuntansi.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan laba rugi dan daftar aset tetap
yang ada di PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1.

3.4 Oprasionalisasi variabel


Penulis akan mengklasifikasi variabel independen dengan variabel dependen
yaitu:
1. Variabel independen adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi
variabel lain dan variabel independen juga diduga sebagai sebab dari variabel
dependen. Variabel tersebut yaitu metode penyusutan aset tetap.
2. Variabel dependen adalah variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel
independen dan variabel dependen juga diduga sebagai akibat dari variabel
independen. Variabel tersebut yaitu beban pajak penghasilan.

25
Tabel 7
Oprasionalisasi Variabel
Analisis Metode Penyusutan Aset Tetap Untuk Menghemat Beban Pajak Penghasilan
Badan Pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1
Variabel Indikator Ukuran Skala
Metode garis lurus Rumus garis lurus Harga perolehan x tarif
penyusutan Rasio

Metode saldo Rumus saldo Tarif penyusutan x nilai sisa


menurun menurun buku Rasio

Pajak penghasilan Rumus PPh Peredaran bruto di bawah Rp


badan badan 4.800.000.000 dikenakan
tarif 1% yaitu omzet x 1%.

Peredaran bruto di atas


Rp4.800.000.000 sampai
dengan Rp 50.000.000.000
dikenakan tarif 12,5% dan
25% yaitu (12,5% x PKP dari
peredaran bruto yang
Rasio
memperoleh fasilitas) + (25%
x PKP dari bagian peredaran
bruto yang tidak memperoleh
fasilitas).

Peredaran bruto yang


melebihi Rp 50.000.000.000
dikenakan tarif 25% yaitu
PKP x25%

3.5 Metode Penarikan Sampel


Dalam penelitian ini peneliti tidak menggunakan metode penarikan sampel,
karena data penelitian hanya sedikit sehingga semua data harus diperoleh dan
dianalisis. Meskipun tidak melakukan penarikan sampel penulis tetap melakukan
pengolahan data yang berhubungan dengan variabel–variabel yang terkait.

26
3.6 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penyusunan makalah ini dikumpulkan melalui
metode pengumpulan data primer. Cara pengumpulan data dilakukan dengan cara
survey dan observasi. Teknik yang dilakukan untuk metode survey yaitu wawancara
tentang sejarah perusahaan, visi dan misi, serta struktur organisasi. Teknik yang
digunakan untuk metode observasi yaitu observasi langsung dalam mengambil laporan
laba rugi serta data aset tetap.
3.7 Metode Pengolahan / Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis dengan
menggunakan analisis deskriptif kualitatif (non statistik). Dengan menggunakan
analisis tersebut maka variabel–variabel yang akan diteliti akan dijelaskan
hubungannya yaitu dengan menganalisis aset tetap yang akan disusutkan dengan
menghitung beban penyusutan berdasarkan perpajakan yaitu metode garis lurus
dengan rumus = harga perolehan x tarif penyusutan dan metode saldo menurun dengan
rumus = tarif penyusutan x nilai sisa buku. Kemudian masing-masing beban
penyusutan tersebut diukur dengan tingkat nilai sekarang (present value) dengan
rumus PV = FVn [1/(1+i)^n], maka akan terlihat metode penyusutan mana yang dapat
menghemat beban pajak. Selisih dari beban penyusutan tersebut selanjutnya dikalikan
tarif PPh badan sehingga akan terlihat hasil akhir berapa pajak penghasilan yang dapat
dihematkan.

27
BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian


4.1.1 Sejarah dan Perkembangan PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1
PT Pegadaian (Persero) adalah suatu badan yang bergerak di bidang jasa
keuangan nonperbankan yaitu pembiayaan gadai, pembiayaan mikro fudisia, bisnis
emas, dan aneka jasa lainnya. Sejarah PT Pegadaian (Persero) dikelompokkan dalam
dua era yaitu era kolonial/penjajahan dan era kemerdekaan.
Era Kolonial
Pada tahun 1746 sejarah Pegadaian dimulai saat VOC mendirikan Bank Van
Leening sebagai lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai.
Awal pendirian lembaga Pegadaian di Indonesia pada tanggal 20 Agustus 1746 di
Batavia.
Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda tahun
1811, Bank Van Leening dibubarkan dan masyarakat diberi keleluasaan mendirikan
usaha Pegadaian. Kemudian pada tanggal 12 Maret 1901 diterbitkannya peraturan
Staatsblad (Stbl) No. 131 yang mengatur bahwa usaha Pegadaian merupakan usaha
monopoli pemerintah sehingga berdirilah lembaga Pegadiaan Negara pertama di
Sukabumi (Jawa Barat) pada tanggal 1 April 1901. Momentum itulah yang menjadikan
tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian.
Pada tahun 1905 Pegadaian membentuk lembaga resmi “Jawatan” , Gedung
Kantor Pusat Jawatan Pegadaian yang terletak di Jalan Kramat Raya 162 sempat
dijadikan sebagai tempat tawanan perang, sehingga Kantor Pusat Jawatan Pegadaian
dipindahkan ke Jalan Kramat Raya 132.
Era Kemerdekaan
Pada awal pemerintahan Republik Indonesia, kantor Jawatan Pegadaian sempat
berpindah ke Karanganyar, Kebumen (Jawa Tengah) dikarenakan situasi perang yang
semakin memanas. Kemudian agresi militer Belanda kedua memaksa kantor Jawatan
Pegadaian kembali mengalami perpindahan ke Magelang (Jawa Tengah). Pasca
perang kantor Jawatan Pegadaian kembali berkantor pusat di Jakarta dan dikelola oleh
Pemerintahan Republik Indonesia. Sejak dikelola Pemerintah, Pegadaian telah
mengalami sejumlah pergantian status, mulai dari Perusahaan Negara (PN) pada 1
Januari 1961 dan menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN) pada tahun 1969
berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 1969.

28
Perubahan Status Pegadaian

Pegadaian mengalami beberapa kali perubahan status badan hukum yaitu:


1. Perusahaan Negara (PN) berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang (Perpu) No. 19 Tahun 1960 Jo Peraturan Pemerintah (PP) No. 178 Tahun
1961.
2. Perusahaan Jawatan (Perjan) berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun
1969.
3. Perusahaan Umum (Perum) berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 10 Tahun
1990 yang diperbaharui dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 103 Tahun 2000.
4. Perusahaan Perseroan (PT Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 51
Tahun 2011 Sebagai Perusahaan Perseroan, PT Pegadaian (Persero) didirikan
dengan Akta Pendirian No. 01 tanggal 1 April 2012 yang dibuat dihadapan Nanda
Fauz Iwan,SH., M.Kn, Notaris di Jakarta Selatan dan kemudaian disahkan
berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia No. AHU-17525.H.01.01 tahun 2012 tanggal 4 April 2012 tentang
Pengesahan Badan Hukum Perseroan, telah disahkan Badan Hukum Perseroan
(Persero) Pegadaian (Persero). Akta Pendirian mengalami penyempurnaan dengan
perubahan terakhir dengan Akta No. 6 Tanggal 26 Juli 2016 yang dibuatkan
dihadapan Nanda Fauz Iwan, SH., MKn., Notaris di Jakarta Selatan yang telah
diterima pemberitahuannya oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia dengan surat No. AHU-AH.01.03-0067050 tanggal 27 Juli 2016.
Hingga saat ini PT Pegadaian (Persero) telah berkembang dengan pesat dan
memiliki jaringan pelayanan yang terdiri 1 kantor pusat, 12 kantor wilayah, 59 kantor
area, 629 kantor cabang, dan 3826 kantor unit pelayanan cabang. PT Pegadaian
(Persero) Kanwil Jakarta 1 memegang 5 kantor area dan 439 outlet yang terletak di
beberapa area yaitu: Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Bogor, Bekasi, dan Depok.
4.1.2 Kegiatan Usaha
Pegadaian memiliki maksud dan tujuan untuk menyelenggarakan kegiatan usaha
dalam bidang gadai dan fidusia, baik secara konvensional maupun syariah, dan jasa
lainnya di bidang keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kegiatan usaha tersebut bertujuan untuk membantu masyarakat berpenghasilan
menengah ke bawah, usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah, serta optimalisasi
pemanfaatan sumber daya Pegadaian dengan menerapkan prinsip perseroan terbatas.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Pegadaian melaksanakan kegiatan usaha
sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha utama:
a. Penyaluran pinjaman berdasarkan hukum gadai termasuk gadai efek.
b. Penyaluran pinjaman berdasarkan jaminan fidusia.

29
c. Pelayanan jasa titipan, pelayanan jasa taksiran, sertifikat, dan perdagangan
logam mulia.
2. Kegiatan usaha lainnya:
a. Jasa transfer uang, jasa transaksi pembayaran, dan jasa administrasi pinjaman.
b. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya Pegadaian.
Pegadaian memiliki produk atau jasa unggulan sebagai berikut:
1. Bisnis Gadai
a. Pegadaian KCA (Kredit Cepat Aman)
Pegadaian KCA atau kredit cepat aman merupakan pemberian pinjaman
berdasarkan hukum gadai dengan prosedur pelayanan yang mudah, cepat dan aman.
Barang jaminan yang menjadi agunan meliputi perhiasan emas/permata, logam mulia,
kendaraan bermotor, elektronik, kain, dan alat rumah tangga lainnya. Kredit yang
diberikan mulai dari Rp50.000 dengan pengenaan sewa modal yang bervariatif
tergantung pada jenis barang jaminan dan besaran uang pinjaman, dengan maksimum
1,15% (dari uang pinjaman) per15 hari dengan jangka waktu kredit maksimum 4
(empat) bulan, tetapi dapat diperpanjang dengan cara mengangsur ataupun mengulang
gadai, serta dapat dilunasi sewaktu-waktu dengan perhitungan bunga proporsional
selama masa pinjaman.
b. Pegadaian Krasida (Kredit Angsuran Sistem Gadai)
Pegadaian krasida atau kredit angsuran sistem gadai merupakan pemberian
pinjaman berdasarkan hukum gadai dengan sistem pelunasan secara angsuran tiap
bulan. Jangka waktu yang diberikan mulai 6 (enam) bulan hingga 36 bulan, dimana
kredit dapat dilunasi sewaktu-waktu dengan pemberian diskon sewa modal. Tarif sewa
modal ditetapkan sesuai dengan jangka waktu kredit dengan nilai maksimal 1,4% per
bulan flat.
2. Bisnis Kredit Mikro Fidusia
a. Pegadaian Kreasi (Kredit Angsuran Sistem Fidusia)
Pegadaian Kreasi merupakan pemberian pinjaman kepada para pengusaha
mikro-kecil termasuk petani untuk pengembangan usaha dengan skema penjaminan
secara fidusia (jaminan berupa BKPB kendaraan bermotor, emas/perhiasan, alat
produksi, dan atau persediaan). Pengembalian pinjaman dilakukan melalui angsuran
dengan opsi secara bulanan, 3 bulanan, 4 bulanan, atau 6 bulanan sesuai dengan siklus
arus kas masuk usaha nasabah, dalam jangka waktu kredit 12 hingga 36 bulan. Tarif
sewa modal yang dibebankan kepada nasabah rata-rata sebesar 1% per bulan flat.

b. Pegadaian Kresna (Kredit Serba Guna)


Pegadaian Kresna atau Kredit Serba Guna merupakan pemberian pinjaman yang
dikhususkan kepada karyawan tetap maupun karyawan outsourcing guna pemenuhan

30
keperluan investasi maupun serba guna (konsumtif) dengan pengembalian secara
angsuran dalam jangka waktu 1 (satu) tahun hingga maksimum 10 tahun (untuk
kebutuhan serba guna) dan maksimum 15 tahun (untuk kebutuhan investasi).
Khusus Kresna untuk kebutuhan investasi, wajib menyerahkan jaminan berupa
sertifikat, BPKB, atau logam mulia.
3. Bisnis Syariah
a. Pegadaian Rahn
Pemberian pinjaman dengan perikatan gadai yang berlandaskan pada prinsip-
prinsip syariah. Alur dan proses layanan yang diberikan sama dengan Pegadaian KCA,
namun nasabah tidak dikenakan sewa modal, melainkan dikenakan ujrah yang
dihitung dari taksiran barang jaminan yang diserahkan. Besaran tarif ujrah yang
bervariatif tergantung pada jenis jaminan dan besaran uang jaminan maksimal adalah
0,71% (dari taksiran barang jaminan) per 10 hari. dengan jangka waktu maksimum 4
(empat) bulan, tetapi dapat diperpanjang dengan cara mengangsur ataupun mengulang
gadai, serta dapat dilunasi sewaktu-waktu dengan perhitungan ujrah secara
proporsional selama masa pinjaman.
b. Pegadaian Arrum
Layanan pembiayaan dengan skim syariah, baik yang diperuntukkan untuk
pengusaha mikro dan kecil guna pengembangan usaha dengan jaminan BPKB
kendaraan bermotor, maupun bagi masyarakat yang belum/tidak mempunyai usaha
dengan jaminan emas. Pengembalian pembiayaan dilakukan secara angsuran dengan
jangka waktu mulai dari 12 bulan hingga 36 bulan yang dapat dilunasi sewaktu-waktu.
Disamping itu, Pegadaian juga telah meluncurkan produk bagi masyarakat yang ingin
menunaikan ibadah Haji melalui Arrum Haji dengan jaminan berupa emas dan bukti
setoran BPIH.
c. Pegadaian Amanah
Pemberian pinjaman atau kredit untuk kepemilikan kendaraan bermotor kepada
para karyawan tetap pada suatu instansi atau perusahaan tertentu atau bagi para
pengusaha mikro kecil. Dasar pemberian pinjaman dengan menghitung repayment
capacity yang ditentukan atas dasar besarnya penghasilan/ gaji bagi karyawan tetap
atau berdasar kelayakan usaha bagi pengusaha mikro kecil. Pola perikatan jaminan
dilakukan dengan akad rahn tasjily.
3. Bisnis Emas (Angsuran dan Tunai)
a. Pegadaian MULIA
Pegadaian MULIA merupakan penyediaan sarana investasi emas bagi
masyarakat melalui pembiayaan kepemilikan logam mulia secara angsuran dalam
jangka waktu tertentu. Logam mulia yang ditawarkan berlogo PT Antam maupun logo
PT Pegadaian dengan ukuran mulai dari 5 (lima) gram, 10 gram, 25 gram, 50 gram,

31
100 gram, 250 gram, hingga 1 (satu) kilogram. Apabila pembiayaan belum dilunasi,
logam mulia yang dibeli disimpan di Pegadaian sebagai jaminan.
b. Pegadaian Galeri 24
Penyediaan sarana investasi emas bagi masyarakat melalui penyediaan emas
logam mulia secara tunai dengan ragam pecahan/satuan keping mulai dari 1 (satu)
gram.
c. Tabungan Emas Pegadaian
Penyediaan layanan jual, beli dan titip emas logam mulia secara ritel mulai dari
pecahan 0,01 gram, dimana pembelian emas tersebut dicatat dalam suatu rekening
tabungan emas. Fisik emas dapat dicetak apabila akumulasi emas yang ditabung
minimal mencapai 5 (lima) gram.
5. Aneka Jasa Lainnya
a. Pegadaian Properti
Bisnis properti Pegadaian dengan mengoptimalkan aset-aset strategis yang
dimiliki melalui persewaan gedung guna berbagai keperluan (acara pernikahan, reuni,
rapat, seminar, dan lain-lain), sewa menyewa ruko, penyediaan lahan untuk kegiatan
ekonomi kerakyatan (pasar bersih Pegadaian), dan bisnis hotel pada 9 (sembilan)
lokasi di seluruh Indonesia.
b. Pegadaian MPO (Multi Pembayaran Online)
Layanan transaksi keuangan bagi masyarakat dalam melakukan berbagai
aktivitas pembayaran, diantaranya pembayaran listrik, telpon, air, angsuran kendaraan,
pembelian pulsa, token listrik, serta tiket kereta api.
c. Jasa Taksiran
Layanan yang diberikan kepada masyarakat yang ingin mengetahui karatase,
kualitas, serta taksiran harga perhiasan, emas dan berlian baik untuk keperluan
investasi atau keperluan bisnis.
d. Jasa Titipan
Pemberian pelayanan kepada masyarakat yang ingin menitipkan barang-barang
atau surat berharga yang dimiliki dengan keamanan terjamin dan tarif kompetitif.
Media penyimpanan berupa khazanah/ strong room maupun Safe Deposit Box.
e. Pegadaian Remittance
Layanan pengiriman dan penerimaan uang lingkup dalam negeri maupun luar
negeri bekerja sama dengan beberapa vendor melalui sistem online di seluruh outlet.
f. Pegadaian G-Lab

32
Layanan pemeriksaan batu mulia meliputi identifikasi spesies dan varitas,
treatments, serta inclusion mapping sebagai identitas bagi batu permata yang
dinyatakan dalam memo dan sertifikat dengan biaya terjangkau.
Pegadaian G-Lab juga menawarkan kursus gemologi guna mengetahui teknik
identifikasi dan penilaian kualitas batu mulia.
4.1.3 Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan suatu susunan tugas dan pembagian posisi yang
terdapat pada suatu organisasi dalam menjalankan operasional perusahaan. Agar dapat
berjalannya suatu perusahaan secara sistematis dan terstruktur perlu adanya
pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing yang diberikan kepada anggota
perusahaan agar dapat tercapainya maksud dan tujuan perusahaan yang perlu di
dukung dengan struktur organisasi.
Tujuan struktur organisasi dibuat oleh perusahaan agar dapat mengetahui secara
jelas batasan-batasan, tugas, wewenang, dan tanggung jawab anggota perusahaan agar
perusahaan dapat dikendalikan dan berjalan secara efektif sehingga tujuan perusahaan
dapat tercapai.
Berikut uraian tugas dari masing-masing bagian yang terdapat dalam struktur
organisasi PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 sebagai berikut:
1. Pimpinan Wilayah
Dalam struktur organisasi kantor wilayah di rancang dengan pola menempatkan
pimpinan wilayah sebagai CEO sehingga perannya selain untuk mengembangkan
bisnis berdasarkan potensi wilayah juga diberikan kelelueasaan dalam
menggerakan organisasi di bawah koordinasinya untuk mencapai tujuan yang di
tetapkan. Dalam pelaksanaan pekerjaan seorang pemimpin wilayah akan dibantu
oleh deputy bisnis, deputy operasional, dan menager bussines analiyst.
2. Deputy Bisnis
Deputy bisnis merupakan pejabat struktural yang bertugas untuk memimpin suatu
kantor area.
3. Deputy Operasional
Deputy operasional merupakan pejabat struktural yang bertugas untuk memimpin
bidang opersional. Dalam pelaksanaan pekerjaan deputy operasional dibantu oleh
manager operasioanal human capital, manager keuangan, dan manager logistik.
4. Manager operasioanal human
Manager operasional human yaitu sebagai pemimpin bagian bidang operasional
sumber daya manusia di bawah pimpinan deputy operasional. Manager
operasional human memiliki tugas untuk membina dan mengelola tugas pokok
perusahaan yaitu menyelenggarakan pembinaan, pengembangan, dan pemasaran.
Human capital merupakan faktor penggerak atau pengelola bagi sumber daya
lainnya yang ada di perusahaan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.
Manager operasional human dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh assistant

33
manager operasional human capital, asisstant manager pengembangan dan diklat,
dan asisstant manager budaya kerja dan pelayanan.
5. Manager keuangan
Manager keuangan yaitu sebagai pemimpin bagian bidang keuangan perusahaan
di bawah pimpinan deputy operasional. Dalam menjalankan tugasnya manager
keuangan di bantu oleh asisstant manager tresuri dan akuntansi, serta dibantu oleh
asisstant manager budget dan planning.
a. Asisstant manager tresuri memiliki tugas yaitu:
 Bagian anggaran dan investasi bertugas untuk menetapkan anggaran
belanja jangka pendek yang rutin di laksanakan setiap setahun sekali dan
anggaran jangka panjang yaitu 5 tahun.
 Bagian permodalan bertugas untuk mencari tambahan modal.
b. Asisstant manager akuntansi memiliki tugas yaitu:
 Bagian verifikasi memiliki tugas untuk memeriksa cap keuangan.
 Bagian pembukuan memiliki tugas untuk membukukan setiap
pengeluaran yang tejadi dan mengemukakan kepada publik tentang
keadaan kekayaan perusahaan.
c. Asisstant manager budget bertugas untuk melakukan perhitungan pajak,
pembayaran pajak, pembayaran untuk semua keperluan operasional
perusahaan.
d. Asisstant manager planning bertugas untuk membuat perencanaan anggaran
apa saya yang akan di kluarkan.
6. Manager logistik yaitu sebagai pemimpin bagian bidang logistik perusahaan di
bawah pimpinan deputy operasional. Manager logistik memiliki tugas untuk
memenuhi kebutuhan operasional perusahaan sebagai pengadaan dan
pemeliharaan sarana dan prasarana operasional perusahaan. Dalam menjalankan
tugasnya manager logistik di bantu oleh asisstant manager procurement,
perlengkapan dan pengelolaan aset tetap.
7. Manager business analiyst merupakan pejabat struktural yang bertugas sebagai
pelaksana dalam menjalin bisnis kerjasama antar peusahaan. Dalam melaksanakan
tugasnya business analiyst di bantu oleh assistant manager business analiyst dan
kinerja, asisstant manager risiko, dan assistant manager jaringan dan distribusi
emas.

4.2 Kebijakan Penyusutan Aset Tetap dan Laporan Laba Rugi


4.2.1 Jenis Aset Tetap Dan Masa Manfaat
Semua jenis aset tetap memiliki peran penting dalam kegiatan operasional
perusahaan. Jenis–jenis aset tetap yang dimiliki oleh PT Pegadaian (Persero) Kanwil
Jakarta 1 adalah sebagai berikut:
1. Tanah
Tanah merupakan suatu aset yang dipergunakan oleh perusahaan untuk
mendirikan bangunan atau tanah yang dibeli oleh pegadaian dan belum

34
dipergunakan. Perusahaan menetapkan bahwa tanah memiliki umur manfaat tidak
terbatas dan tidak disusutkan.
2. Bangunan
Bangunan merupakan gedung yang digunakan untuk kegiatan operasional
perusahaan baik bangunan kantor, gudang, maupun rumah dinas. Bangunan terdiri
dari dua jenis yaitu bangunan permanen dan bangunan tidak permanen dengan
kriteria sebagai berikut:
a. Bangunan permanen adalah bangunan yang bersifat tetap dan tidak dapat
dipindah-pindahkan dengan kontruksi utamanya terdiri dari beton, baja, atau
bahan lain yang umur bangunannya 20 tahun atau lebih.
b. Bangunan tidak permanen adalah bangunan yang bersifat sementara, terbuat
dari bahan yang tidak tahan lama yang umur bangunannya 10 tahun atau
kurang, seperti gudang yang sebagian tembok.
Untuk mempermudah pengadministrasian dan pengendalian perhitungan
penyusutan aset tetap bangunan (pagar, taman, instalasi listrik, instalasi AC,
instalasi lift, instalasi telepon, dan instalasi air) dicatat sebagai aset tetap berupa
bangunan.
3. Kendaraan
Kendaraan merupakan aset tetap yang digunakan untuk alat transportasi
perusahaan. Aset tetap kendaraan terdiri dari kendaraan mobil dan motor yang
terdiri dari jeep, minibus, sedan, dan sepeda motor. Aset tetap kendaraan yang
dicatat sebagai harga perolehan adalah harga beli ditambah dengan biaya-biaya
lain sampai dengan kendaraan tersebut siap digunakan.
4. Inventaris
Inventaris merupakan peralatan yang digunakan untuk menunjang
keberlangsungan kegiatan operasional perusahaan yang terdiri dari Ac, fax email,
bangku besi, meja kayu, proyektor, telepon, mesin penghitung uang, timbangan
digital, komputer, brankas, lemari arsip metal, rak besi, printer, alarm, dan
amplifier.
Seluruh aset tetap kecuali tanah pada akhir periode penyusutan akan disusutkan
sekaligus sebesar nilai buku, kecuali jika aset tetap tersebut masih digunakan maka
nilai bukunya tetap Rp 1,- dan untuk tahun berikutnya tidak dihitung beban
penyusutan. PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 menggunakan perhitungan
penyusutan berdasarkan PPh pasal 11 UU PPh dengan kelompok bangunan metode
garis lurus sedangkan untuk jenis aset tetap kelompok bukan bangunan metode saldo
menurun.

35
Taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap PT Pegadiaan (Persero) Kanwil
Jakarta 1 adalah sebagai berikut:
Jenis Aset Tetap Masa Manfaat
Bangunan
 Bangunan permanen 20 tahun
 Bangunan tidak permanen 10 tahun
 Pagar 10 tahun
 Taman 10 tahun
 Instalasi listrik 8 tahun
 Instalasi AC 8 tahun
 Instalasi lift 8 tahun
 Instalasi telepon 8 tahun
 Instalasi air 8 tahun
Kendaraan
 Jeep 8 tahun
 Sedan 8 tahun
 Minibus 8 tahun
 Sepeda motor 4 tahun
Inventaris
 Ac 8 tahun
 Bangku besi 8 tahun
 Proyektor 8 tahun
 Mesin penghitung uang 8 tahun
 Timbangan digital 8 tahun
 Brankas 8 tahun
 Lemari arsip metal 8 tahun
 Rak besi 8 tahun
 Fax email 4 tahun
 Meja kayu 4 tahun
 Telepon 4 tahun
 Komputer 4 tahun
 Printer 4 tahun
 Alarm 4 tahun
 Amplifier 4 tahun
 Lemari kayu 4 tahun
 Kipas angin 4 tahun
 Televisi 4 tahun

36
4.2.2 Perolehan Aset Tetap
Harga perolehan merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh
aset tetap hingga aset tersebut siap untuk digunakan. Berikut harga perolehan aset tetap
PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 :
Tabel 8
Harga Perolehan Aset Tetap Tahun 2012-2016
(Dalam Rp)
2012 2013 2014 2015 2016
Bangunan 25.594.618.772 27.463.252.272 69.210.029.318 75.166.776.114 88.528.094.303
Inventaris 14.352.206.680 17.004.535.080 17.337.725.591 21.696.998.786 28.635.537.638
Kendaraan 3.961.157.925 3.961.157.925 4.066.407.925 4.066.407.925 3.232.757.500
Total 43.907.983.377 48.428.945.277 90.614.162.834 100.930.182.825 119.681.533.116
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1
Tampak terlihat dari total harga perolehan masing-masing aset tetap dapat
disimpulkan bahwa aset tetap setiap tahunnya mengalami kenaikan. Total aset tetap
pada tahun 2012 sebesar Rp 43.907.983.377, pada tahun 2013 sebesar Rp
48.428.945.277, pada tahun 2014 sebesar Rp 90.614.162.834, pada tahun 2015 sebesar
Rp 100.930.182.825, dan pada tahun 2016 sebesar Rp 119.681.533.116. Kenaikan
pada total aset tetap terjadi karena adanya penambahan pada aset tetap.
Setiap aset tetap akan mengalami penurunan nilai setiap tahunnya sehingga dari
harga perolehan tersebut akan di hitung penyusutannya. Tampak terlihat dari setiap
aset tetap kelompok bukan bangunan, pada tahun 2016 inventaris merupakan
kelompok aset yang harga perolehannya paling besar dan adanya penambahan aset
baru pada tahun 2016 sebesar Rp 6.938.538.852 (Rp 28.635.537.638 – Rp
21.696.998.786) sehingga penulis memilih untuk menganalisis aset tetap inventaris
pada tahun 2016 karena tahun 2016 merupakan data terbaru di antara tahun-tahun
sebelumnya. Karena aset tetap PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 rincian
tanggal beli dari satu jenis aset nya banyak dan berbeda-beda maka untuk
mempermudah penelitian ini di asumsikan dengan menganggap bahwa setiap aset
dibeli pada awal tahun bulan januari.

37
Berikut rincian harga perolehan aset tetap inventaris tahun 2016 pada PT
Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 :
Tabel 9
Harga Perolehan Aset Tetap Inventaris Tahun 2016
Aset Tetap Inventaris Harga Perolehan
Ac Rp 1.115.661.100
Bangku besi Rp 380.465.000
Proyektor Rp 74.030.000
Mesin penghitung uang Rp 232.547.440
Timbangan digital Rp 1.019.864.336
Brankas Rp 259.046.900
Lemari arsip metal Rp 293.605.350
Rak besi Rp 7.478.557
Fax email Rp 42.240.000
Meja kayu Rp 189.171.000
Televisi Rp 111.974.000
Komputer Rp 1.722.133.489
Printer Rp 1.233.310.961
Alarm Rp 33.970.400
Lemari kayu Rp 223.040.319
Total harga perolehan Rp 6.938.538.852
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1

4.2.2 Laporan Laba Rugi

Besarnya beban penyusutan dapat mempengaruhi laba karena beban penyusutan


merupakan pengurang bruto. Berikut laporan laba rugi PT Pegadaian (Persero) Kanwil
Jakarta 1 pada tahun 2012 sampai dengan tahun 2016.

38
Laporan Laba Rugi

PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1

Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal 31 Desember 2012 dan 2013

(Disajikan dalam Rupiah)

Keterangan 2012 2013

PENDAPATAN USAHA
Pendapatan Sewa Modal 519.020.284.075 473.711.149.884
Pendapatan Administrasi 44.065.307.255 49.196.422.500
Pendapatan usaha lainnya 630.523.355 138.862.491
Jumlah Pendapatan Usaha 563.716.114.685 523.046.434.875
PENDAPATAN LAIN-LAIN
Pendapatan Sewa Gedung 60.750.000 27.000.000
Pendapatan Jasa Giro 68.337.179 75.577.543
Uang Kelebihan Lewat Waktu 4.490.191.972 3.788.006.184
Pendapatan Lainnya 2.332.870.012 2.319.034.052
Jumlah Pendapatan Lain-Lain 6.952.149.163 6.209.617.779
JUMLAH PENDAPATAN 570.668.263.848 529.256.052.654

BEBAN USAHA
Beban Bunga 155.551.287.489 174.351.805.520
Beban Pegawai 114.981.530.923 105.104.918.917
Beban Administrasi dan Pemasaran 8.628.698.579 6.769.349.035
Beban Umum 63.911.545.594 82.019.623.242
Beban Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) 383.058.191 523.634.317
Jumlah Beban Usaha 343.456.120.776 368.769.331.031
BEBAN PENYUSUTAN DAN AMORTISASI
Beban Penyusutan 7.687.612.608 6.903.656.758
Beban Amortisasi & Penyisihan Piutang 2473092495 2.623.435.763
Jumlah Beban penyusutan dan
Amortisasi 10.160.705.103 9.527.092.521
RUGI LAIN-LAIN
Rugi Penjualan Aset Tetap 6.269.938 0
Jumlah Rugi Lain-Lain 6.269.938 0
JUMLAH BEBAN 353.623.095.817 378.296.423.552

Laba Sebelum Pajak Penghasilan 217.045.168.031 150.959.629.102


Beban Pajak Penghasilan 54.300.753.136 37.773.182.547
Laba Bersih Tahun Berjalan 162.744.414.895 113.186.446.555

39
Laporan Laba Rugi
PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1
Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal 31 Desember 2014, 2015, dan 2016
(Disajikan dalam Rupiah)
Keterangan 2014 2015 2016

PENDAPATAN USAHA
Pendapatan Sewa Modal 693.564.686.698 796.170.235.672 881.211.666.364
Pendapatan Administrasi 59.046.866.573 64.519.691.800 68.706.190.341
Pendapatan usaha lainnya 491.331.696 1.144.397.964 2.530.972.722
Jumlah Pendapatan Usaha 753.102.884.967 861.834.325.436 952.448.829.427
PENDAPATAN LAIN-LAIN
Pendapatan Investasi 57.058.377.310 67.344.048.600 57.218.552.385
Pendapatan Pengembalian
4.621.028 13.543.115 133189127
Subrogasi/Recovery
Penjualan Tabungan Emas 0 5.692.737.840 59.341.363.565
Harga Pokok Penjualan (HPP) -55.076.396.666 -69.321.124.579 -110.259.408.060
Pendapatan Jasa Giro 84.618.014 44.998.442 34.074.491
Selisih Perhitungan 5.708.803 5.527.220 14.955.423
Pendapatan SBK/SBR/Kartu Nasabah
42.610.000 42.468.000 51739000
Hilang
Pendapatan Lainnya 1.976.089.967 3.351.607.100 4.440.309.788
Jumlah Pendapatan Lain-Lain 4.095.628.456 7.173.805.738 10.974.775.719
LABA PENJUALAN
Laba Penjualan Aset Tetap 38.593.571 0 0
Jumlah Laba Penjualan 38.593.571 0 0
JUMLAH PENDAPATAN 757.237.106.994 869.008.131.174 963.423.605.146

BEBAN USAHA
Beban Bunga 236.502.386.443 263.992.207.647 285.968.137.393
Beban Pegawai 177.205.439.112 177.101.692.953 197.579.919.217
Beban Administrasi dan Pemasaran 7.381.246.653 7.001.804.868 10727325664
Beban Umum 80.319.495.803 81.965.504.946 90095347856
Beban Pendidikan dan Pelatihan
1.135.033.938 983.189.237 1.280.657.751
(DIKLAT)
Jumlah Beban Usaha 502.543.601.949 531.044.399.651 585.651.387.881
BEBAN PENYUSUTAN DAN AMORTISASI
Beban Penyusutan 7.698.153.060 8.160.634.580 9.985.097.544
Beban Amortisasi & Penyisihan Piutang 2.348.134.788 1.732.347.821 2.978.675.355
Beban Penyisihan Penurunan Nilai PYD 0 0 11.643.356.198
Kerugian Penurunan Nilai Persediaan 0 90.823.635 0
Jumlah Beban penyusutan dan
10.046.287.848 9.983.806.036 24.607.129.097
Amortisasi

40
RUGI LAIN-LAIN
Rugi Penjualan Aset Tetap 0 782.336 0
Jumlah Rugi Lain-Lain 0 782.336 0
JUMLAH BEBAN 512.589.889.797 541.028.988.023 610.258.516.978

Laba Sebelum Pajak Penghasilan 244.647.217.197 327.979.143.151 353.165.088.168


Beban Pajak Penghasilan 61.198.919.675 82.075.903.153 91.295.859.116
Laba Bersih Tahun Berjalan 183.448.297.522 245.903.239.998 261.869.229.052

Pada tahun 2012 ke tahun 2013 beban penyusutan mengalami penurunan sebesar
10%, tahun 2013 ke 2014 mengalami kenaikan sebesar 12%, tahun 2014 ke 2015
mengalami kenaikan sebesar 6%, tahun 2015 ke 2016 mengalami kenaikan sebesar
22%.
Adapun pada tahun 2012 ke tahun 2013 beban pajak penghasilan mengalami
penurunan sebesar 30%, tahun 2013 ke 2014 mengalami kenaikan sebesar 62%, tahun
2014 ke 2015 mengalami kenaikan sebesar 34%, tahun 2015 ke 2016 mengalami
kenaikan sebesar 11%. Tampak terlihat setiap tahun adanya kenaikan dan penurunan
yang sama terhadap beban penyusutan dan beban pajak penghasilan, sehingga adanya
kemungkinan beban penyusutan dapat mempengaruhi penghematan beban pajak
penghasilan.

4.3 Analisis Metode Penyusutan Aset Tetap Untuk Menghemat Beban Pajak
Penghasilan Dengan Present Value
4.3.1 Penyusutan Aset Tetap
PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 dalam perhitungan penyusutan
menggunakan ketentuan undang-undang perpajakan yaitu menggunakan metode garis
lurus pada kelompok bangunan dan metode saldo menurun untuk kelompok bukan
bangunan. Pada tahun 2016 PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 menambahkan
aset tetap inventaris sebesar Rp 6.938.538.852. Berikut data harga perolehan dan
beban penyusutan invetaris tahun 2016 dengan menggunakan metode saldo menurun
pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1:

Tabel 10
Harga Perolehan Dan Beban Penyusutan Inventaris Tahun 2016
Beban Penyusutan
Aset Tetap Inventaris Harga Perolehan
2016
Ac Rp 1.115.661.100 Rp 278.915.275
Bangku besi Rp 380.465.000 Rp 95.116.250
Proyektor Rp 74.030.000 Rp 18.507.500

41
Beban Penyusutan
Aset Tetap Inventaris Harga Perolehan
2016
Mesin penghitung
Rp 232.547.440 Rp 58.136.860
uang
Timbangan digital Rp 1.019.864.336 Rp 254.966.084
Brankas Rp 259.046.900 Rp 64.761.725
Lemari arsip metal Rp 293.605.350 Rp 73.401.338
Rak besi Rp 7.478.557 Rp 1.869.639
Fax email Rp 42.240.000 Rp 21.120.000
Meja kayu Rp 189.171.000 Rp 94.585.500
Televisi Rp 111.974.000 Rp 55.987.000
Komputer Rp 1.722.133.489 Rp 861.066.745
Printer Rp 1.233.310.961 Rp 616.655.481
Alarm Rp 33.970.400 Rp 16.985.200
Lemari kayu Rp 223.040.319 Rp 111.520.160
Total Rp 6.938.538.852 Rp 2.623.594.755
Sumber : Data diolah penulis

4.3.2 Present Value (Nilai Sekarang)


Konsep nilai waktu uang (time value of money) yaitu suatu konsep yang
menyatakan bahwa nilai uang saat ini lebih berharga daripada nilai uang yang akan
diterima dimasa yang akan datang. Present value (nilai sekarang) merupakan salah
satu metode dari time value of money.
Present value yaitu nilai uang saat ini yang akan diperoleh atau dibayarkan
dalam suatu periode dimasa yang akan datang dengan tingkat suku bunga tertentu.
Rumus dari present value yaitu PV = FVn [1/(1+i)^n]. Tingkat suku bunga present
value di tentukan oleh Bank Indonesia dengan bunga 4,75% pada tahun 2016.

4.3.3 Penyusutan Aset Tetap Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun
Dengan Present Value
PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 dalam perhitungan penyusutan
menggunakan ketentuan undang-undang perpajakan. Dalam ketentuan perpajakan
terdapat dua metode penyusutan yang diperbolehkan yaitu metode garis lurus dan
metode saldo menurun. Metode garis lurus yaitu penyusutan yang selalu sama setiap
tahunnya, sedangkan metode saldo menurun yaitu penyusutan yang besarnya semakin
kecil atau menurun setiap tahunnya. Penyusutan aset tetap dapat mempengaruhi pajak
yang akan di bayarkan oleh perusahaan, sehingga perlu dilakukannya analisis dalam
metode penyusutan aset tetap.

42
Berikut ini perhitungan penyusutan aset tetap kelompok inventaris yang baru di
beli tahun 2016 pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1:
1. AC harga perolehan Rp 1.115.661.100
Tabel 11
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap AC
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun
Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 139.457.637,5 278.915.275 133.133.782,8 266.267.565,6
2017 139.457.637,5 209.186.456,3 127.096.690 190.645.035,1
2018 139.457.637,5 156.889.842,2 121.333.355,6 136.500.025,1
2019 139.457.637,5 117.667.381,6 115.831.365,8 977.32.714,8
2020 139.457.637,5 88.250.536,2 110.578.869,5 69.975.690,8
2021 139.457.637,5 66.187.902,2 105.564.553,2 50.101.926,6
2022 139.457.637,5 49.640.926,6 100.777.616,4 35.872.501,1
2023 139.457.637,5 148.922.780 96.207.748,4 102.737.473,6
Rp 1.115.661.100 Rp 1.115.661.100 Rp 910.523.982 Rp 949.832.933
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Ac merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 2 yang memiliki tarif
12,5% untuk garis lurus dan tarif 25% untuk saldo menurun. Pada akhir tahun
penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara metode
garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 1.115.661.100 sehingga perlu untuk
membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present value
(nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present value
maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan jumlah
beban penyusutan sebesar Rp 910.523.982 sedangkan metode saldo menurun lebih
besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 949.832.933.
2. Bangku besi harga perolehan Rp 380.465.000
Tabel 12
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Bangku Besi
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)

43
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 47.558.125 95.116.250 45.401.551,3 90.803.102,6
2017 47.558.125 71.337.187,5 43.342.769,7 65.014.154,6
2018 47.558.125 53.502.890,6 41.377.345,8 46.549.514,1
2019 47.558.125 40.127.168 39.501.046,1 33.329.007,7
2020 47.558.125 30.095.376 37.709.829,2 23.863.251,3
2021 47.558.125 22.571.532 35.999.837 17.085.860,1
2022 47.558.125 16.928.649 34.367.386,1 12.233.312,7
2023 47.558.125 50.785.947 32.808.960,5 35.035.740,6
Rp 380.465.000 Rp 380.465.000 Rp 310.508.726 Rp 323.913.944
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Bangku besi merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 2 yang
memiliki tarif 12,5% untuk garis lurus dan tarif 25% untuk saldo menurun. Pada akhir
tahun penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara
metode garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 380.465.000 sehingga perlu
untuk membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present
value (nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present
value maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan
jumlah beban penyusutan sebesar Rp 310.508.726 sedangkan metode saldo menurun
lebih besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 323.913.944.
3. Proyektor harga perolehan Rp 74.030.000
Tabel 13
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Proyektor
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 9.253.750 18.507.500 8.834.128,9 17.668.257,8
2017 9.253.750 13.880.625 8.433.535,9 12.650.303,9
2018 9.253.750 10.410.468,8 8.051.108,3 9.057.496,8
2019 9.253.750 7.807.851,6 7.686.022,2 6.485.081,3
2020 9.253.750 5.855.888,7 7.337.491,4 4.643.256,3

44
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2021 9.253.750 4.391.916,5 7.004.765 3.324.527,2
2022 9.253.750 3.293.937,4 6.687.126,5 2.380.329,7
2023 9.253.750 9.881.812,1 6.383.891,7 6.817.173,4
Rp 74.030.000 Rp 74.030.000 Rp 60.418.070 Rp 63.026.426
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Preyoktor merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 2 yang memiliki
tarif 12,5% untuk garis lurus dan tarif 25% untuk saldo menurun. Pada akhir tahun
penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara metode
garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 74.030.000 sehingga perlu untuk
membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present value
(nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present value
maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan jumlah
beban penyusutan sebesar Rp 60.418.070sedangkan metode saldo menurun lebih besar
dengan jumlah beban penyusutan Rp 63.026.426.
4. Mesin hitung uang harga perolehan Rp 232.547.440
Tabel 14
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Mesin Hitung Uang
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 29.068.430 58.136.860 27.750.291,2 55.500.582,3
2017 29.068.430 43.602.645 26.491.924,7 39.737.887,1
2018 29.068.430 32.701.983,8 25.290.620,3 28.451.947,8
2019 29.068.430 24.526.487,8 24.143.790,2 20.371.323
2020 29.068.430 18.394.865,9 23.048.964,4 14.585.672,8
2021 29.068.430 13.796.149,4 22.003.784,7 10.443.202,5
2022 29.068.430 10.347.112 21.005.999,7 7.477.233,3
2023 29.068.430 31.041.336,1 20.053.460,3 21.414.510,6
Rp 232.547.440 Rp 232.547.440 Rp 189.788.836 Rp 197.982.360
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis

45
Mesin hitung uang merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 2 yang
memiliki tarif 12,5% untuk garis lurus dan tarif 25% untuk saldo menurun. Pada akhir
tahun penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara
metode garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 232.547.440 sehingga perlu
untuk membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present
value (nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present
value maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan
jumlah beban penyusutan sebesar Rp 189.788.836 sedangkan metode saldo menurun
lebih besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 197.982.360.
5. Timbangan digital harga perolehan Rp 1.019.864.900
Tabel 15
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Timbangan Digital
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 127.483.112,5 254.966.225 121.702.255,4 243.404.510,7
2017 127.483.112,5 191.224.668,8 116.183.537,3 174.275.306
2018 127.483.112,5 143.418.501,6 110.915.071,5 124.779.455,4
2019 127.483.112,5 107.563.876,2 105.885.509,7 89.340.898,8
2020 127.483.112,5 80.672.907,1 101.084.018,8 63.967.230,7
2021 127.483.112,5 60.504.680,3 96.500.256,7 45.799.926,5
2022 127.483.112,5 45.378.510,3 92.124.350 32.792.310,1
2023 127.483.112,5 136.135.530,8 87.946.873,5 93.915.924
Rp 1.019.864.900 Rp 1.019.864.900 Rp 832.341.873 Rp 868.275.562
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis

Timbangan digital merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 2 yang


memiliki tarif 12,5% untuk garis lurus dan tarif 25% untuk saldo menurun. Pada akhir
tahun penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara
metode garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 1.019.864.900 sehingga perlu
untuk membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present
value (nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present
value maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan
jumlah beban penyusutan sebesar Rp 832.341.873 sedangkan metode saldo menurun
lebih besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 868.275.562.

46
6. Brankas harga perolehan Rp 259.046.900
Tabel 16
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Brankas
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun

2016 32.380.862,5 64.761.725 30.912.517,9 61.825.035,8


2017 32.380.862,5 48.571.293,8 29.510.756,9 44.266.135,4
2018 32.380.862,5 36.428.470,3 28.172.560,3 31.694.130,4
2019 32.380.862,5 27.321.352,7 26.895.045,7 22.692.694,8
2020 32.380.862,5 20.491.014,6 25.675.461,3 16.247.752,8
2021 32.380.862,5 15.368.260,9 24.511.180,2 11.633.235,9
2022 32.380.862,5 11.526.195,7 23.399.694,7 8.329.285,9
2023 32.380.862,5 34.578.587,1 22.338.610,7 23.854.756,6
Rp 259.046.900 Rp 259.046.900 Rp 211.415.828 Rp 220.543.028
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Brankas merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 2 yang memiliki
tarif 12,5% untuk garis lurus dan tarif 25% untuk saldo menurun. Pada akhir tahun
penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara metode
garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 259.046.900 sehingga perlu untuk
membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present value
(nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present value
maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan jumlah
beban penyusutan sebesar Rp 211.415.828 sedangkan metode saldo menurun lebih
besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 220.543.028.
7. Lemari arsip metal harga perolehan Rp 293.605.350
Tabel 17
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Lemari Arsip Metal
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)

47
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 36.700.668,8 73.401.337,5 35.036.437,9 70.072.875,9
2017 36.700.668,8 55.051.003,1 33.447.673,5 50.171.510,2
2018 36.700.668,8 41.288.252,3 31.930.953,2 35.922.322,3
2019 36.700.668,8 30.966.189,3 30.483.010,2 25.720.039,9
2020 36.700.668,8 23.224.641,9 29.100.725,7 18.415.303
2021 36.700.668,8 17.418.481,5 27.781.122,4 13.185.181,1
2022 36.700.668,8 13.063.861,1 26.521.357,9 9.440.463,8
2023 36.700.668,8 39.191.583,3 25.318.718,8 27.037.127,9
Rp 293.605.350 Rp 293.605.350 Rp 239.620.000 Rp 249.964.824
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis

Lemari arsip metal merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 2


yang memiliki tarif 12,5% untuk garis lurus dan tarif 25% untuk saldo menurun. Pada
akhir tahun penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama
antara metode garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 293.605.350 sehingga
perlu untuk membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan
present value (nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan
present value maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil
dengan jumlah beban penyusutan sebesar Rp 239.620.000 sedangkan metode saldo
menurun lebih besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 249.964.824.
8. Rak besi harga perolehan Rp 7.478.557
Tabel 18
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Rak Besi
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 934.819,6 1.869.639,3 892.429,2 1.784.858,5
2017 934.819,6 1.402.229,4 851.961,1 1.277.941,6
2018 934.819,6 1.051.672,1 813.328 914.994
2019 934.819,6 788.754,1 776.446,8 655.127
2020 934.819,6 591.565,5 741.238 469.064,7

48
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2021 934.819,6 443.674,2 707.625,8 335.845,8
2022 934.819,6 332.755,6 675.537,7 240.462,4
2023 934.819,6 998.266,9 644.904,7 688.675,1
Rp 7.478.557 Rp 7.478.557 Rp 6.103.471 Rp 6.366.969
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Rak besi merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 2 yang memiliki
tarif 12,5% untuk garis lurus dan tarif 25% untuk saldo menurun. Pada akhir tahun
penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara metode
garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 7.478.557 sehingga perlu untuk
membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present value
(nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present value
maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan jumlah
beban penyusutan sebesar Rp 6.103.471 sedangkan metode saldo menurun lebih besar
dengan jumlah beban penyusutan Rp Rp 6.366.969.
9. Fax email harga perolehan Rp 42.240.000
Tabel 19
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Fax Email
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)

Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%


Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 10.560.000 21.120.000 10.081.145,6 20.162.291,2
2017 10.560.000 10.560.000 9.624.005,3 9.624.005,3
2018 10.560.000 5.280.000 9.187.594,6 4.593.797,3
2019 10.560.000 5.280.000 8.770.973,4 4.385.486,7
Rp 42.240.000 Rp 42.240.000 Rp 37.663.719 Rp 38.765.580
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Fax email merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 1 yang
memiliki tarif 25% untuk garis lurus dan tarif 50% untuk saldo menurun. Pada akhir
tahun penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara
metode garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 42.240.000 sehingga perlu
untuk membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present
value (nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present

49
value maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan
jumlah beban penyusutan sebesar Rp 37.663.719 sedangkan metode saldo menurun
lebih besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 38.765.580.
10. Meja kayu harga perolehan Rp 189.171.000
Tabel 20
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Meja Kayu
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 47.292.750 94.585.500 45.148.210 90.296.420
2017 47.292.750 47.292.750 43.100.916,5 43.100.916,5
2018 47.292.750 23.646.375 41.146.459,7 20.573.229,8
2019 47.292.750 23.646.375 39.280.629,7 19.640.314,9
Rp 189.171.000 Rp 189.171.000 Rp 168.676.216 Rp 173.610.881
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis

Meja kayu merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 1 yang


memiliki tarif 25% untuk garis lurus dan tarif 50% untuk saldo menurun. Pada akhir
tahun penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara
metode garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 189.171.000 sehingga perlu
untuk membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present
value (nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present
value maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan
jumlah beban penyusutan sebesar Rp 168.676.216 sedangkan metode saldo menurun
lebih besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 173.610.881.

11. Televisi harga perolehan Rp 111.974.000


Tabel 21
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Televisi
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 27.993.500 55.987.000 26.724.105 53.448.210
2017 27.993.500 27.993.500 25.512.272,1 25.512.272,1

50
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2018 27.993.500 13.996.750 24.355.391 12.177.695,5
2019 27.993.500 13.996.750 23.250.969,9 11.625.485
Rp 111.974.000 Rp 111.974.000 Rp 99.842.738 Rp 102.763.663
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Televisi merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 1 yang memiliki
tarif 25% untuk garis lurus dan tarif 50% untuk saldo menurun. Pada akhir tahun
penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara metode
garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 111.974.000 sehingga perlu untuk
membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present value
(nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present value
maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan jumlah
beban penyusutan sebesar Rp 99.842.738 sedangkan metode saldo menurun lebih
besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 102.763.663.
12. Komputer harga perolehan Rp 1.722.133.489
Tabel 22
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Komputer
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 430.533.372,30 861.066.744,50 411.010.379,20 822.020.758,50
2017 430.533.372,30 430.533.372,30 392.372.677,10 392.372.677,10
2018 430.533.372,30 215.266.686,10 374.580.121,40 187.290.060,70
2019 430.533.372,30 215.266.686,10 357.594.387,90 178.797.193,90
Rp1.722.133.489 Rp1.722.133.489 Rp1.535.557.566 Rp1.580.480.690
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Komputer merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 1 yang
memiliki tarif 25% untuk garis lurus dan tarif 50% untuk saldo menurun. Pada akhir
tahun penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara
metode garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 1.722.133.489 sehingga perlu
untuk membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present
value (nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present
value maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan

51
jumlah beban penyusutan sebesar Rp 1.535.557.566 sedangkan metode saldo menurun
lebih besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 1.580.480.690.
13. Printer harga perolehan Rp 1.233.310.961
Tabel 23
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Printer
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 308.327.740,3 616.655.480,5 294.346.291,4 588.692.582,8
2017 308.327.740,3 308.327.740,3 280.998.846,3 280.998.846,2
2018 308.327.740,3 154.163.870,1 268.256.655,1 134.128.327,5
2019 308.327.740,3 154.163.870,1 256.092.272,2 128.046.136,1
Rp1.233.310.961 Rp1.233.310.961 Rp1.099.694.065 Rp1.131.865.893
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Printer merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 1 yang memiliki
tarif 25% untuk garis lurus dan tarif 50% untuk saldo menurun. Pada akhir tahun
penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara metode
garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 1.233.310.961 sehingga perlu untuk
membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present value
(nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present value
maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan jumlah
beban penyusutan sebesar Rp 1.099.694.065 sedangkan metode saldo menurun lebih
besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 1.131.865.893.
14. Alarm harga perolehan Rp 33.970.400
Tabel 24
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Alarm
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 8.492.600 16.985.200 8.107.494 16.214.988,1
2017 8.492.600 8.492.600 7.739.851,1 7.739.851,1
2018 8.492.600 4.246.300 7.388.879,3 3.694.439,7
2019 8.492.600 4.246.300 7.053.822,8 3.526.911,4
Rp 33.970.400 Rp 33.970.400 Rp 30.290.047 Rp 31.176.190
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis

52
Alarm merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 1 yang memiliki
tarif 25% untuk garis lurus dan tarif 50% untuk saldo menurun. Pada akhir tahun
penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara metode
garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 33.970.400 sehingga perlu untuk
membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present value
(nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present value
maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan jumlah
beban penyusutan sebesar Rp 30.290.047 sedangkan metode saldo menurun lebih
besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 31.176.190.
15. Lemari kayu harga perolehan Rp 223.040.319
Tabel 25
Perhitungan Penyusutan Aset Tetap Lemari Kayu
Metode Garis Lurus Dan Metode Saldo Menurun Dengan Present Value
(Dalam Rp)
Penyusutan Fiskal Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun Lurus Menurun
2016 55.760.079,8 111.520.159,5 53.231.579,7 106.463.159,4
2017 55.760.079,8 55.760.079,8 50.817.737,2 50.817.737,2
2018 55.760.079,8 27.880.039,9 48.513.352,9 24.256.676,5
2019 55.760.079,8 27.880.039,9 46.313.463,4 23.156.731,7
Rp 223.040.319 Rp 223.040.319 Rp 198.876.133 Rp 204.694.305
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Lemari kayu merupakan harta berwujud bukan bangunan kelompok 1 yang
memiliki tarif 25% untuk garis lurus dan tarif 50% untuk saldo menurun. Pada akhir
tahun penyusutan tampak terlihat adanya jumlah beban penyusutan yang sama antara
metode garis lurus dan saldo menurun yaitu sebesar Rp 223.040.319 sehingga perlu
untuk membandingkan metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan present
value (nilai sekarang). Dari hasil beban penyusutan yang telah dihitung dengan present
value maka akan terlihat perbedaannya bahwa metode garis lurus lebih kecil dengan
jumlah beban penyusutan sebesar Rp 198.876.133 sedangkan metode saldo menurun
lebih besar dengan jumlah beban penyusutan Rp 204.694.305.

4.3.3 Penghematan Beban Pajak Penghasilan Badan PT Pegadaian (Persero)


Kanwil Jakarta 1
Perencanaan pajak dilakukan agar pajak yang akan dibayarkan oleh perusahaan
dapat dihematkan. Dari data aset tetap kelompok inventaris yang telah dihitung

53
penyusutannya dengan present value maka akan dihitung selisihnya agar dapat
diketahui berapa beban pajak yang akan dihematkan.
Berikut perhitungan penghematan pajak pada penyusutan aset tetap kelompok
inventaris tahun 2016 PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1:
1. AC
Tabel 26
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap AC
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 133.133.782,80 266.267.565,60 133.133.782,80
2017 127.096.690 190.645.035,10 63.548.345,10
2018 121.333.355,60 136.500.025,10 15.166.669,50
2019 115.831.365,80 97.732.714,80 -18.098.650,90
2020 110.578.869,50 69.975.690,80 -40.603.178,70
2021 105.564.553,20 50.101.926,60 -55.462.626,60
2022 100.777.616,40 35.872.501,10 -64.905.115,30
2023 96.207.748,40 102.737.473,60 6.529.725,20
Rp910.523.982 Rp949.832.933 Rp39.308.951
Penghematan Pajak 25% x Rp 39.308.951 = Rp 9.827.238
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap ac dengan present value tampak bahwa metode saldo
menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban penyusutan sebesar
Rp 39.308.951. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan diketahu berapa PPh
badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah selisih penyusutan di
kali tarif PPh badan. Pada aset tetap ac penghematan pajak yang dapat dilakukan yaitu
sebesar Rp 9.827.238.
2. Bangku besi
Tabel 27
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Bangku Besi
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 45.401.551,30 90.803.102,60 45.401.551,30
2017 43.342.769,70 65.014.154,60 21.671.384,90
2018 41.377.345,80 46.549.514,10 5.172.168,20
2019 39.501.046,10 33.329.007,70 -6.172.038,50

54
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2020 37.709.829,20 23.863.251,30 -13.846.577,90
2021 35.999.837 17.085.860,10 -18.913.976,90
2022 34.367.386,10 12.233.312,70 -22.134.073,40
2023 32.808.960,50 35.035.740,60 2.226.780
Rp310.508.726 Rp323.913.944 Rp13.405.218
Penghematan Pajak 25% x Rp 13.405.218 = Rp 3.351.304
Sumber : PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap bangku besi dengan present value tampak bahwa
metode saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban
penyusutan sebesar Rp 13.405.218. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan
diketahu berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah
selisih penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap bangku besi penghematan
pajak yang dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 3.351.304.
3. Proyektor
Tabel 28
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Proyektor
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 8.834.128,90 17.668.257,80 8.834.128,90
2017 8.433.535,90 12.650.303,90 4.216.768
2018 8.051.108,30 9.057.496,80 1.006.388,50
2019 7.686.022,20 6.485.081,30 -1.200.941
2020 7.337.491,40 4.643.256,30 -2.694.235,10
2021 7.004.765 3.324.527,20 -3.680.237,90
2022 6.687.126,50 2.380.329,70 -4.306.796,80
2023 6.383.891,70 6.817.173,40 433.281,70
Rp60.418.070 Rp63.026.426 Rp2.608.356
Penghematan Pajak 25% x Rp2.608.356 = Rp 652.089
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap proyektor dengan present value tampak bahwa
metode saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban
penyusutan sebesar Rp2.608.356. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan
diketahu berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah
selisih penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap proyektor penghematan
pajak yang dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 652.089.

55
4. Mesin hitung uang
Tabel 29
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Mesin Hitung Uang
(Dalam Rp)

Present Value 4,75%


Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 27.750.291,20 55.500.582,30 27.750.291,20
2017 26.491.924,70 39.737.887,10 13.245.962,40
2018 25.290.620,30 28.451.947,80 3.161.327,50
2019 24.143.790,20 20.371.323 -3.772.467,20
2020 23.048.964,40 14.585.672,80 -8.463.291,60
2021 22.003.784,70 10.443.202,50 -11.560.582,20
2022 21.005.999,70 7.477.233,30 -13.528.766,40
2023 20.053.460,30 21.414.510,60 1.361.050,30
Rp189.788.836 Rp197.982.360 Rp8.193.524
Penghematan Pajak 25% x Rp 8.193.524 = Rp 2.048.381
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap mesin hitung uang dengan present value tampak
bahwa metode saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban
penyusutan sebesar Rp 8.193.524. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan
diketahu berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah
selisih penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap mesin hitung uang
penghematan pajak yang dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 2.048.381.
5. Timbangan digital
Tabel 30
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Timbangan Digital
(Dalam Rp)

Present Value 4,75%


Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 121.702.255,40 243.404.510,70 121.702.255,40
2017 116.183.537,30 174.275.306 58.091.768,70
2018 110.915.071,50 124.779.455,40 13.864.383,90
2019 105.885.509,70 89.340.898,80 -16.544.610,90
2020 101.084.018,80 63.967.230,70 -37.116.788,20
2021 96.500.256,70 45.799.926,50 -50.700.330,20

56
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2022 92.124.350 32.792.310,10 -59.332.039,90
2023 87.946.873,50 93.915.924 5.969.050,50
Rp832.341.873 Rp868.275.562 Rp35.933.689
Penghematan Pajak 25% x Rp 35.933.689 = Rp8.983.422
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis

Hasil penyustan aset tetap timbangan digital dengan present value tampak bahwa
metode saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban
penyusutan sebesar Rp 35.933.689. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan
diketahu berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah
selisih penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap timbangan digital
penghematan pajak yang dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 8.983.422.
6. Brankas
Tabel 31
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Brankas
(Dalam Rp)

Present Value 4,75%


Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 30.912.517,90 61.825.035,80 30.912.517,90
2017 29.510.756,90 44.266.135,40 14.755.378,50
2018 28.172.560,30 31.694.130,40 3.521.570
2019 26.895.045,70 22.692.694,80 -4.202.350,90
2020 25.675.461,30 16.247.752,80 -9.427.708,40
2021 24.511.180,20 11.633.235,90 -12.877.944,30
2022 23.399.694,70 8.329.285,90 -15.070.408,80
2023 22.338.610,70 23.854.756,60 1.516.145,90
Rp211.415.828 Rp220.543.028 Rp9.127.200
Penghematan Pajak 25% x Rp 9.127.200 = Rp 2.281.800
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap brankas dengan present value tampak bahwa metode
saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban penyusutan
sebesar Rp 9.127.200. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan diketahu

57
berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah selisih
penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap brankas penghematan pajak yang
dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 2.281.800.
7. Lemari arsip metal
Tabel 32
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Lemari Arsip Metal
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 35.036.437,90 7.007.875,90 35.036.437,90
2017 33.447.673,50 50.171.510,20 16.723.836,70
2018 31.930.953,20 35.922.322,30 3.991.369,10
2019 30.483.010,20 25.720.039,90 -4.762.970,30
2020 29.100.725,70 18.415.303 -10.685.422,70
2021 27.781.122,40 13.185.181,10 -14.595.941,30
2022 26.521.357,90 9.440.463,80 -17.080.894,10
2023 25.318.718,80 27.037.127,90 1.718.409,10
Rp239.620.000 Rp249.964.824 Rp10.344.824
Penghematan Pajak 25% x Rp 10.344.824 = Rp 2.586.206
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap lemari arsip metal dengan present value tampak
bahwa metode saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban
penyusutan sebesar Rp 10.344.824. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan
diketahu berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah
selisih penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap lemari arsip metal
penghematan pajak yang dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 2.586.206.
8. Rak besi
Tabel 33
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Rak Besi
(Dalam Rp)

58
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 892.429,20 1.784.858,50 892.429,20
2017 851.961,10 1.277.941,60 425.980,50
2018 813.328 914.994 101.666
2019 776.446,80 655.127 -121.319,80
2020 741.238 469.064,70 -272.173,30
2021 707.625,80 335.845,80 -371.779,90
2022 675.537,70 240.462,40 -435.075,30
2023 644.904,70 688.675,10 43.770,40
Rp 6.103.471 Rp 6.366.969 Rp 263.498
Penghematan Pajak 25% x Rp 263.498 = Rp 65.874
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap rak besi dengan present value tampak bahwa metode
saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban penyusutan
sebesar Rp 263.498. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan diketahu berapa
PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah selisih penyusutan
di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap rak besi penghematan pajak yang dapat
dilakukan yaitu sebesar Rp 65.874.
9. Fax email
Tabel 34
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Fax Email
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 10.081.145,60 20.162.291,20 10.081.145,60
2017 9.624.005,30 9.624.005,30 0
2018 9.187.594,60 4.593.797,30 -4.593.797,30
2019 8.770.973,40 4.385.486,70 -4.385.486,70
Rp 37.663.719 Rp 38.765.580 Rp 1.101.861
Penghematan Pajak 25% x Rp1.101.861 = Rp 275.465
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap fax email dengan present value tampak bahwa metode
saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban penyusutan
sebesar Rp1.101.861. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan diketahu
berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah selisih
penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap fax email penghematan pajak yang
dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 275.465.

59
10. Meja kayu
Tabel 35
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Meja Kayu
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 45.148.210 90.296.420 45.148.210
2017 43.100.916,50 43.100.916,50 0
2018 41.146.459,70 20.573.229,80 -20.573.229,80
2019 39.280.629,70 19.640.314,90 -19.640.314,90
Rp 168.676.216 Rp 173.610.881 Rp 4.934.665
Penghematan Pajak 25% x Rp 4.934.665 = Rp 1.233.666
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap meja kayu dengan present value tampak bahwa
metode saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban
penyusutan sebesar Rp 4.934.665. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan
diketahu berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah
selisih penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap meja kayu penghematan
pajak yang dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 1.233.666.
11. Televisi
Tabel 36
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Televisi
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 26.724.105 53.448.210 26.724.105
2017 25.512.272,10 25.512.272,10 0
2018 24.355.391 12.177.695,50 -12.177.695,50
2019 23.250.969,90 11.625.485 -11.625.485
Rp99.842.738 Rp102.763.663 Rp2.920.925
Penghematan Pajak 25% x Rp 2.920.925 = Rp 730.231
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap televisi dengan present value tampak bahwa metode
saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban penyusutan
sebesar Rp2.920.925. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan diketahu
berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah selisih
penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap televisi penghematan pajak yang
dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 730.231.

60
12. Komputer
Tabel 37
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Komputer
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 411.010.379,20 822.020.758,50 411.010.379,20
2017 392.372.677,10 392.372.677,10 0
2018 374.580.121,40 187.290.060,70 -187.290.060,70
2019 357.594.387,90 178.797.193,90 -178.797.194
Rp1.535.557.566 Rp1.580.480.690 Rp44.923.124
Penghematan Pajak 25% x Rp 44.923.124 = Rp 11.230.781
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap komputer dengan present value tampak bahwa metode
saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban penyusutan
sebesar Rp 44.923.124. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan diketahu
berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah selisih
penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap komputer penghematan pajak yang
dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 11.230.781.
13. Printer
Tabel 38
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Printer
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 294.346.291,40 588.692.582,80 294.346.291,40
2017 280.998.846,30 280.998.846,20 0
2018 268.256.655,10 134.128.327,50 -134.128.327,60
2019 256.092.272,20 128.046.136,10 -128.046.136,10
Rp1.099.694.065 Rp1.131.865.893 Rp32.171.828
Penghematan Pajak 25% x Rp 32.171.828 = Rp 8.042.957
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap printer dengan present value tampak bahwa metode
saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban penyusutan
sebesar Rp 32.171.828. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan diketahu
berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah selisih
penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap printer penghematan pajak yang
dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 8.042.957.

61
14. Alarm
Tabel 39
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Tetap Alarm
(Dalam Rp)
Present Value 4,75%
Tahun Metode Garis Metode Saldo Selisih
Lurus Menurun
2016 8.107.494 16.214.988,10 8.107.494
2017 7.739.851,10 7.739.851,10 0
2018 7.388.879,30 3.694.439,70 -3.694.439,70
2019 7.053.822,80 3.526.911,40 -3.526.911,40
Rp30.290.047 Rp31.176.190 Rp886.143
Penghematan Pajak 25% x Rp 886.143 = Rp 221.536
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap alarm dengan present value tampak bahwa metode
saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban penyusutan
sebesar Rp 886.143. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan diketahu berapa
PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah selisih penyusutan
di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap alarm penghematan pajak yang dapat dilakukan
yaitu sebesar Rp 221.536.
15. Lemari Kayu
Tabel 40
Perhitungan Penghematan Pajak Pada Aset Lemari Kayu
(Dalam Rp)

Present Value 4,75%


Tahun Selisih
Metode Garis Metode Saldo
Lurus Menurun
2016 53.231.579,70 106.463.159,40 53.231.579,70
2017 50.817.737,20 50.817.737,20 0
2018 48.513.352,90 24.256.676,50 -24.256.676,50
2019 46.313.463,40 23.156.731,70 -23.156.731,70
Rp198.876.133 Rp204.694.305 Rp5.818.172
Penghematan Pajak 25% x Rp 5.818.172 = Rp 1.454.543
Sumber: PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1, data diolah penulis
Hasil penyustan aset tetap lemari kayu dengan present value tampak bahwa
metode saldo menurun lebih besar dari metode garis lurus dengan selisih beban
penyusutan sebesar Rp 5.818.172. Dari hasil selisih penyusutan tersebut maka akan
diketahu berapa PPh badan yang dapat dihematkan dengan cara menghitung jumlah
selisih penyusutan di kali tarif PPh badan. Pada aset tetap lemari kayu penghematan
pajak yang dapat dilakukan yaitu sebesar Rp 1.454.543.

62
Setelah diketahui berapa penghematan pajak dari masing-masing aset tetap
kelompok inventaris tersebut maka di hitung total keseluruhannya yaitu:

Penghematan pajak AC 25% x Rp 39.308.951 = Rp 9.827.238


Penghematan pajak bangku besi 25% x Rp 13.405.218 = Rp 3.351.304
Penghematan pajak proyektor 25% x Rp2.608.356 = Rp 652.089
Penghematan pajak mesin hitung uang 25% x Rp 8.193.524 = Rp 2.048.381
Penghematan pajak timbangan digital 25% x Rp 35.933.689 = Rp 8.983.422
Penghematan pajak brankas 25% x Rp 9.127.200 = Rp 2.281.800
Penghematan pajak lemari arsip metal 25% x Rp 10.344.824 = Rp 2.586.206
Penghematan pajak rak besi 25% x Rp 263.498 = Rp 65.874
Penghematan pajak fax email 25% x Rp1.101.861 = Rp 275.465
Penghematan pajak meja kayu 25% x Rp 4.934.665 = Rp 1.233.666
Penghematan pajak televisi 25% x Rp 2.920.925 = Rp 730.231
Penghematan pajak komputer 25% x Rp 44.923.124 = Rp 11.230.781
Penghematan pajak printer 25% x Rp 32.171.828 = Rp 8.042.957
Penghematan pajak alarm 25% x Rp 886.143 = Rp 221.536
Penghematan pajak lemari kayu 25% x Rp 5.818.172 = Rp 1.454.543
Total penghematan pajak Rp 52.985.493

Persentase tingkat penghematan pajak tahun 2016 pada beban penyusutan yaitu:
Total penghematan
x 100
PPh badan tahun 2016
Rp 52.985.493
x 100 = 0,06 %
Rp 91.295.859.116

4.4 Pembahasan
Berdasarkan pembahasan dari sub-sub bab sebelumnya maka penulis
menyimpulkan bahwa hasil penelitian analisis metode penyusutan aset tetap untuk
menghemat beban pajak penghasilan telah sesuai, yaitu metode penyusutan yang
digunakan oleh PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 telah sesuai dengan
menggunakan metode saldo menurun untuk menghemat pajak. Terlihat bahwa jumlah
beban penyusutan metode saldo menurun lebih besar dibandingkan dengan jumlah
beban penyusutan metode garis lurus, hal ini akan mengakibatkan jumlah laba yang
rendah sehingga beban pajak yang akan dibayarkan oleh perusahaan akan lebih hemat
dibandingkan dengan menggunakan metode garis lurus.
Berikut rincian tabel hasil dari keseluruhan penelitian yang telah dianalisis oleh
penulis yaitu:

63
Tabel 41
Total Beban Penyusutan Berdasarkan PV Setiap Aset Dan Penghematan Pajak
Metode Garis Metode Saldo Penghematan
Aset Tetap Selisih
Lurus (PV) Menurun (PV) Pajak
Ac Rp910.523.982 Rp949.832.933 Rp39.308.951 Rp9.827.238
Bangku besi Rp310.508.726 Rp323.913.944 Rp13.405.218 Rp3.351.304
Proyektor Rp60.418.070 Rp63.026.426 Rp2.608.356 Rp652.089
Mesin Hitung Uang Rp189.788.836 Rp197.982.360 Rp8.193.524 Rp2.048.381
Timbangan Digital Rp832.341.873 Rp868.275.562 Rp35.933.689 Rp8.983.422
Brankas Rp211.415.828 Rp220.543.028 Rp9.127.200 Rp2.281.800
Lemari Arsip Metal Rp239.620.000 Rp249.964.824 Rp10.344.824 Rp2.586.206
Rak Besi Rp6.103.471 Rp6.366.969 Rp263.498 Rp65.874
Fax Email Rp37.663.719 Rp38.765.580 Rp1.101.861 Rp275.465
Meja Kayu Rp168.676.216 Rp173.610.881 Rp4.934.665 Rp1.233.666
Televisi Rp99.842.738 Rp102.763.663 Rp2.920.925 Rp730.231
Komputer Rp1.535.557.566 Rp1.580.480.690 Rp44.923.124 Rp11.230.781
Printer Rp1.099.694.065 Rp1.131.865.893 Rp32.171.828 Rp8.042.957
Alarm Rp30.290.047 Rp31.176.190 Rp886.143 Rp221.536
Lemari Kayu Rp198.876.133 Rp204.694.305 Rp5.818.172 Rp1.454.543
Total Rp5.931.321.270 Rp6.143.263.248 Rp211.941.978 Rp52.985.493
Sumber: Data diolah oleh penulis

Metode garis lurus (pv) dihitung dari harga perolehan aset tetap dikali dengan
tarif penyusutan metode garis lurus. Setelah diketahui besarnya akumulasi penyustan
pertahun, maka akumulasi penysutan pertahun dari metode garis lurus dikali dengan
perhitungan tingkat diskon yaitu 1/(1+i)^n. Setelah diketahui hasil dari present value
pertahun maka di akumulasi agar dapat diketahui berapa jumlah beban penyustan
metode garis lurus (pv) dari setiap aset tetap.

Metode saldo menurun (pv) dihitung dari harga perolehan aset tetap dikali
dengan tarif penyusutan metode saldo menurun. Setelah diketahui besarnya akumulasi
penyustan pertahun, maka akumulasi penysutan pertahun dari metode saldo menurun
dikali dengan perhitungan tingkat diskon yaitu 1/(1+i)^n. Setelah diketahui hasil dari
present value pertahun maka di akumulasi agar dapat diketahui berapa jumlah beban
penyusutan metode saldo menurun (pv) dari setiap aset tetap.

Setelah diketahui masing-masing beban penysutan metode garis lurus (pv) dan
beban penyustan metode saldo menurun (pv) maka akan dihitung selisih antara metode
penyustan dengan cara dari jumlah beban penysutan metode garis lurus (pv) dikurang
dengan jumlah beban penyustan metode saldo menurun (pv). Kemudian dari selisih
tersebut maka akan diketahui berapa penghematan pajak yang dapat dihematkan
dengan cara hasil dari selisih kedua metode penysutan dikali dengan tarif 25% PPh
badan.

64
Perhitungan tingkat diskon disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 42
Perhitungan Tingkat Diskon

Tahun ke- Tingkat Diskon 4,75%


1 0,954653938
2 0,911364141
3 0,870037366
4 0,830584598
5 0,792920857
6 0,756965019
7 0,722639636
8 0,689870774
Sumber : Data diolah penulis
Perhitungan tingkat diskon dengan rumus [1/(1+i)^n] , “i” merupakan tingkat
suku bunga pada tahun 2016 yang terdaftar di Bank Indonesia dengan bunga 4,75%
dan “n” menunjukan tahun.

65
BAB V
SIMPULAN

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dari pembahasan yang telah dilakukan penulis, maka
penulis menaik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 sudah tepat dalam memilih metode
penyusutan aset tetap yaitu dengan menggunakan metode saldo menurun karena
metode saldo menurun memiliki jumlah beban penyusutan yang lebih besar
dengan jumlah Rp 5.931.321.270 dibandingkan dengan metode garis lurus dengan
jumlah Rp 6.143.263.248, maka dengan beban penyusutan yang besar akan
mengurangi laba pada perusahaan karena beban penyusutan merupakan pengurang
bruto pada laba sehingga dengan laba yang rendah maka beban pajak pengahsilan
yang akan dibayarkan perusahaan pun rendah. Apabila menggunakan metode garis
lurus maka akan menghasilkan laba yang lebih tinggi dan akan berdampak pada
beban PPh lebih tinggi.
2. Pajak penghasilan yang telah dihematkan PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta
1 dengan menggunakan metode saldo menurun dalam penyusutan yaitu sebesar Rp
52.985.493 dengan cara selisih beban penyusutan dari masing-masing aset tetap
kelompok inventaris antara metode garis lurus dengan metode saldo menurun
dikalikan dengan tarif 25% PPh badan.
3. Metode penyusutan pada aset tetap berpengaruh terhadap penghematan beban
pajak penghasilan badan pada PT Pegadaian (Persero) Kanwil Jakarta 1 yaitu
berpengaruh sebesar 0,06% terhadap pajak penghasilan.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil pembahasan mengenai analisis metode penyusutan aset tetap
untuk menghemat beban pajak pengahsilan badan pada PT Pegadaian (Persero)
Kanwil Jakarta 1 maka dapat diambil beberapa saran yang dapat disampaikan adalah
sebagai berkut:
1. Bagi perusahaan
Sebaiknya perusahaan tetap mempertahankan metode penyusutan saldo menurun
dalam menghitung penysutan aset tetap karena metode yang dipilih sudah tepat.
Metode saldo menurun beban penyusutannya lebih besar dibandingkan dengan
metode garis lurus sehingga metode saldo menurun dapat menghemat pajak yang
akan dibayarkan oleh perusahaan.
2. Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan dapat memperluas penelitian di PT Pegadaian (Persero) Kanwil
Jakarta 1 dengan meneliti faktor lain yang dapat menghemat pajak penghasilan
selain berfokus pada beban penyusutan karena dalam melakukan penghematan

66
pajak ada beberapa upaya yang bisa dilakukan yaitu pemilihan pemberian
kesejahteraan kepada karyawan dalam bentuk natura, dan memilih metode
pemotongan PPh Pasal 21 yang tepat.

67
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rahman (2010), Panduan Pelaksanaan Adminitrasi Perpajakan Untuk


Karyawan, Pelaku Bisnis Dan Perusahaan, Bandung, Penerbit Nuansa.

Agus Harjito dan Martono (2012), Menejemen Keuangan, Yogyakarta, Penerbit


Ekonisia.

Ambar Kartika (2017), Pengaruh Perencanaan Pajak Sebagai Upaya Untuk


Meminimalkan Beban Pajak Penghasilan Badan Pada PT Benua Fajar
Indopack, Skripsi, Bogor, Universitas Pakuan.

Chairil Anwar Pohan (2015), Menejemen Perpajakan Strategi Perencanaan Pajak


Dan Bisnis, Jakarta, Penerbit PT Gramedia Pustaka Indonesia.

Christovint, Jullie J Sondakh, Harijanto Sabijono. (2015), Evaluasi Perhitungan


Penyusutan Aktiva Tetap Menurut Peraturan Perpajakan Serta Pengaruhnya
Terhadap Pajak Penghasilan (PPh) Pada PT Bank Tabungan Negara (Persero)
Tbk Kantor Cabang Manado, Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, Vol. 15, No. 50.

Diaz Priantara (2012), Perpajakan Indonesia, Edisi 2, Jakarta, Penerbit Mitra Wacana
Media.

Erly Suandy (2011), Perencanaan Pajak, Jakarta, Penerbit Salemba Empat.

Fitrima Windariyani (2013), Perlakuan Akuntansi Penyusutan Aktiva Tetap Dan


Pengaruhnya Terhadap Kewajiban Pajak Pada PT Synergy Indonesia, Jurnal
Akuntansi Ekonomi Dan Menejemen Bisnis, Vol. 1, No. 2.

Giantino A. Ratag (2013), Perencanaan Pajak Melalui Metode Penyusutan Aktiva


Tetap Untuk Mengitung PPh Badan Pada PT Bank Sulut, Jurnal Ekonomi
Manajemen Bisnis Dan Akuntansi, Vol. 1, No. 3, Hal 950-958.

Indah Ayu Pusparini, Moch. Dzulkirom AR, Devi Farah Azizah (2013), Implementasi
Tax Planning Dalam Upaya Penghematan Pajak Penghasilan (PPh) Badan
Studi Kasus Pada PT. Citra Perdana Kendedes Malang, Malang, Universitas
Brawijaya Malang.

68
M. Burhan Khaironi (2018), Perencanaan Pajak Penyusutan Aktiva Tetap Pada PT.
Asuransi Bintang Tbk, Skripsi, Jakarta, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah.

Mardiasmo (2011), Perpajakan Edisi Revisi 2011, Yogyakarta, Penerbit CV Andi


Offiset.

Ranti Yulianti (2017), Penerapan Perencanaan Pajak Atas Penyusutan Aset Tetap
Terhadap Efisiensi Beban Pajak Penghasilan Badan Pada PDAM Tirta Pakuan
Bogor, Skripsi, Bogor, Universitas Pakuan.

Rismawati Sudirman dan Antong Amirdin (2016), Perpajakan Pendekatan Teori Dan
Praktek, Malang, Penerbit Empat Duamedia.

Rudianto (2012), Pengantar Akuntansi, Jakarta, Penerbit Erlangga.

Siti Resmi (2017), Perpajakan Teori Dan Kasus, Buku 1, Edisi 10, Jakarta, Penerbit
Salemba Empat.

Sukrisno Agoes dan Estralita Trisnawati (2013), Akuntansi Perpajakan, Jakarta,


Penerbit Salemba Empat.

TMbooks (2013), Perpajakan Esensi Dan Aplikasi, Yogyakarta, Penerbit CV. Andi
Offiset.

Zainal Arifin (2016), Perencanaan Pajak Melalui Metode Penyusutan Dan


Penyesuaian Fiskal Untuk Meminimalkan Beban Pajak Studi Kasus Pada PT
Dwijaya Grasindo Makmur, Jember, Universitas Negeri Jember.

69
LAMPIRAN

70
71