Anda di halaman 1dari 10

TUGAS

MANAJEMEN INFRASTRUKTUR
TSI - 475

OLEH:

NAMA : AFDILLA YOFIANDA


NO. BP : 1510921030

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia. Di antara kebutuhan yang
lainnya, pangan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi agar kelangsungan hidup
seseorang dapat terjamin. Pangan juga merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus
dipenuhi oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama seperti yang tercantum
dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. Dalam UU tersebut
disebutkan Pemerintah menyelenggarakan pengaturan, pembinaan, pengendalian dan
pengawasan, sementara masyarakat menyelenggarakan proses produksi dan
penyediaan, perdagangan, distribusi serta berperan sebagai konsumen yang berhak
memperoleh pangan yang cukup dalam jumlah dan mutu yang aman, bergizi, beragam,
merata, dan terjangkau menurut kemampuan mereka untuk membeli. Ketahanan
pangan merupakan kondisi yang terjadi apabila semua orang secara terus menerus, baik
secara fisik, sosial,dan ekonomi mempunyai akses untuk pangan yang memadai/cukup,
bergizi, dan aman, yang memenuhi kebutuhan pangan mereka dan pilihan makanan
untuk hidup secara aktif dan sehat.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang hingga saat ini masih
terkenal dengan sebagian besar mata pencaharian penduduknya yaitu sebagai petani
atau bercocok tanam. Kondisi ketahanan pangan di Indonesia pada saat ini semakin
memburuk, dikarenakan lahan pertanian di Indonesia sudah beralih fungsi dan kualitas
para petani untuk mengolah sumber daya alam yang ada mengalami penurun.
ketahanan pangan menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Selain itu, Indonesia
sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang
sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Maka dari
permasalahan tersebut keberhasilan pembangunan ketahanan pangan sangat ditentukan
tidak hanya oleh performa salah satu sektor saja tetapi juga oleh sektor lainnya. Dengan
demikian sinergi antarsektor, sinergi pemerintah dan masyarakat (termasuk dunia
usaha), merupakan kunci keberhasilan pembangunan ketahanan pangan.
Kebutuhan pangan akan mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan
jumlah penduduk dan peningkatan kesempatan kerja bagi penduduk. Hal itu
dikarenakan agar penduduk memperoleh pendapat yang layak untuk mengakses
pangan sebagai komponen utama dalam perwujudan ketahanan pangan. Permasalahan
utama yang di alami Indonesia saat ini ialah fakta bahwa pertumbuhan permintaan
pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediannya. Permintaan yang mengalami
peningkatan disebabkan karena peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi,
peningkatan daya beli masyarakat dan perubahan selera. Sementara itu kapasitas
produksi pangan nasional pertumbuhannya tergolong lambat dikarenakan adanya
kompetisi pemanfaatan sumber daya, baik dari segi lahan, air, stagnannya pertumbuhan
produktivitas lahan dan tenaga kerja pertanian. Ketidakseimbangan antara tingkat
pertumbuhan permintaan pangan dan tingkat pertumbuhan produksi pangan nasional
tersebut menyebabkan adanya kecenderungan meningkatnya penyediaan pangan
nasional yang berasal dari impor.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan ketahanan pangan?
2. Bagaimanakah sistem ketahanan pangan?
3. Bagaimana pengaruh infrasturktur terhadap ketahanan pangan?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ketahanan pangan
2. Untuk mengetahui bagaimana sistem ketahanan pangan.
3. Untuk mengetahui pengaruh infrasturktur terhadap ketahanan pangan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan ialah kondisi dimana setiap individu mampu secara fisik dan
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pangan yang cukup, aman dan bergizi bagi
kehidupan yang aktif dan sehat. Pemenuhan kebutuhan pangan penduduk secara merata
dengan harga yang terjangkau juga tidak boleh dilupakan.
Kondisi iklim yang ekstrim di berbagai belahan dunia baru-baru ini secara
langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi ketersediaan pangan. Kekeringan
yang berkepanjangan, kebakaran hutan, banjir serta bencana alam lainnya di berbagai
wilayah dunia terutama di sentra-sentra produksi pangan, sangat mempengaruhi
ketersediaan gandum dan tanaman bijian-bijian lainnya yang tentu saja berdampak
pada ketersediaan produk pangan tersebut untuk marketing season 2010/2011.
Menurut FAO jumlah penduduk dunia yang menderita kelaparan pada tahun
2010 mencapai 925 juta orang. Situasi ini diperparah dengan semakin berkurangnya
investasi di sektor pertanian yang sudah berlangsung selama 20 tahun terakhir,
sementara sektor pertanian menyumbang 70% dari lapangan kerja baik secara langsung
maupun tidak langsung. Kekhawatiran akan makin menurunnya kualitas hidup
masyarakat, bahaya kelaparan, kekurangan gizi dan akibat-akibat negatif lain dari
permasalahan tersebut secara keseluruhan akan menghambat pencapaian goal pertama
dari Millennium Development Goals (MDGs) yakni eradication of poverty and
extreme hunger.
Bagi Indonesia, masalah ketahanan pangan sangatlah krusial. Pangan
merupakan basic human need yang tidak ada substitusinya. Indonesia memandang
kebijakan pertanian baik di tingkat nasional, regional dan global perlu ditata ulang.
Persoalan ketahanan pangan dan pembangunan pertanian harus kembali menjadi fokus
dari arus utama pembangunan nasional dan global. Oleh karena itu Indonesia
mengambil peran aktif dalam menggalang upaya bersama mewujudkan ketahanan
pangan global dan regional.
Upaya mengarusutamakan dimensi pembangunan pertanian, ketahanan pangan
dan pengentasan kemiskinan Indonesia selaku koordinator G-33 secara aktif
mengedepankan isu food security, rural development dan livelihood security sebagai
bagian dari hak negara berkembang untuk melindungi petani kecil dari dampak negatif
masuknya produk-produk pertanian murah dan bersubsidi dari negara maju, melalui
mekanisme special products dan special safeguard mechanism.
Sebagai negara dengan komitmen yang tinggi untuk menjaga stabilitas
ketahanan pangan global, Indonesia juga telah menandatangani Letter of Intent (LoI)
dengan FAO pada bulan Maret 2009 sebagai bentuk dukungan Indonesia terhadap
berbagai program peningkatan ketahanan pangan global dan pembangunan pertanian
negara-negara berkembang lainnya. terutama dalam kerangka Kerjasama Selatan-
Selatan (South-South Cooperation), kerjasama teknis negara-negara berkembang
(KTNB/TCDC) dan pencapaian goal dari MDGs. Penandatanganan LoI ini juga
diharapkan akan semakin memperkuat peran Indonesia dalam membantu peningkatan
pembangunan pertanian di negara-negara berkembang, terutama di negara-negara Asia
Pasifik dan Afrika yang telah berjalan sejak tahun 1980.

2.2 Sistem Ketahanan Pangan


Ketahanan pangan diwujudkan oleh hasil kerja sistem ekonomi pangan yang
terdiri dari subsistem ketersediaan meliput produksi , pasca panen dan pengolahan,
subsistem distribusi dan subsistem konsumsi yang saling berinteraksi secara
berkesinambungan. Ketiga subsistem tersebut merupakan satu kesatuan yang didukung
oleh adanya berbagai input sumberdaya alam, kelembagaan, budaya, dan teknologi.
Proses ini akan hanya akan berjalan dengan efisien oleh adanya partisipasi masyarakat
dan fasilitasi pemerintah.
Partisipasi masyarakat ( petani, nelayan dll) dimulai dari proses produksi,
pengolahan, distribusi dan pemasaran serta jasa pelayanan di bidang pangan. Fasilitasi
pemerintah diimplementasikan dalam bentuk kebijakan ekonomi makro dan mikro di
bidang perdagangan, pelayanan dan pengaturan serta intervensi untuk mendorong
terciptanya kemandirian pangan. Output dari pengembangan kemandirian pangan
adalah terpenuhinya pangan, SDM berkualitas, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi
dan ketahanan nasional.
Subsistem ketersediaan pangan mencakup aspek produksi, cadangan serta
keseimbangan antara impor dan ekspor pangan. Subsistem ini berfungsi menjamin
pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk, baik dari sisi jumlah, kualitas,
keragaman maupun keamanannya. Acuan kualitatif untuk ketersediaan pangan adalah
Angka Kecukupan Gizi (AKG) rekomendasi Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi
VIII Tahun 2004, yaitu energi sebesar 2200 kkal/kapita/hari dan protein 57
gram/kapita/hari. Acuan untuk menilai tingkat keragaman ketersediaan pangan adalah
Pola Pangan Harpan dengan skor 100 sebagai PPH ideal. Dalam aspek ketersediaan
pangan, masalah pokok adalah semakin terbatas dan menurunnya kapasitas produksi
dan daya saing pangan nasional. Hal ini disebabkan oleh faktor faktor teknis dan sosial
– ekonomi;
1. Teknis
1. Berkurangnya areal lahan pertanian karena derasnya alih lahan pertanian ke non
pertanian seperti industri dan perumahan (laju 1%/tahun).
2. Produktifitas pertanian yang relatif rendah dan tidak meningkat.
3. Teknologi produksi yang belum efektif dan efisien.
4. Infrastruktur pertanian (irigasi) yang tidak bertambah selama krisis dan
kemampuannya semakin menurun.
5. Masih tingginya proporsi kehilangan hasil pada penanganan pasca panen (10-
15%).
6. Kegagalan produksi karena faktor iklim seperti El-Nino yang berdampak pada
musim kering yang panjang di wilayah Indonesia dan banjir .
2. Sosial-Ekonomi
1. Penyediaan sarana produksi yang belum sepenuhnya terjamin oleh pemerintah.
2. Sulitnya mencapai tingkat efisiensi yang tinggi dalam produksi pangan karena
besarnya jumlah petani (21 juta rumah tangga petani) dengan lahan produksi
yang semakin sempit dan terfragmentasi (laju 0,5%/tahun).
3. Tidak adanya jaminan dan pengaturan harga produk pangan yang wajar dari
pemerintah kecuali beras.
4. Tata niaga produk pangan yang belum pro petani termasuk kebijakan tarif
impor yang melindungi kepentingan petani.
5. Terbatasnya devisa untuk impor pangan sebagai alternatif terakhir bagi
penyediaan pangan.
Subsistem distribusi pangan yang efektif dan efisien sebagai prasyarat untuk
menjamin agar seluruh rumahtangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan
kualitas yang baik sepanjang waktu. Subsistem ini mencakup aspek aksesibilitas secara
fisik, ekonomi maupun sosial atas pangan secara merata sepanjang waktu. Akses
pangan didefinisikan sebagai kemampuan rumahtangga untuk secara periodik
memenuhi sejumlah pangan yang cukup, melalui berbagai sumber atau kombinasi
cadangan pangan yang dimiliki, hasil produksi pangan, pembelian/barter, pemberian,
pinjaman dan bantuan pangan. Akses pangan secara fisik ditunjukkan oleh kemampuan
memproduksi pangan, infrastruktur dasar maupun kondisi sumberdaya alam dan
lingkungan. Dengan demikian akses fisik lebih bersifat kewilayahan dan dipengaruhi
oleh ciri dan pengelolaan ekosistem. Akses pangan secara ekonomi menyangkut
keterjangkauan masyarakat terhadap pangan yang ditunjukkan oleh harga, sumber
mata pencaharian dan pendapatan. Sumber mata pencaharian meliputi kemampuan,
asset dan aktivitas yang dapat menjadi sumber pendapatan. Seringkali, sumber mata
pencaharian sangat dipengaruhi oleh kondisi maupun pengelolaan sumberdaya alam
dan lingkungan. Akses pangan secara sosial antara lain dicerminkan oleh tingkat
pendidikan, bantuan sosial, kebiasaan makan, konflik sosial/keamanan. Dalam
subsistem distribusi, hambatan yang terjadi antara lain :
1. Teknis
1. Belum memadainya infrastruktur, prasarana distribusi darat dan antar pulau
yang dapat menjangkau seluruh wilayah konsumen.
2. Belum merata dan memadainya infrastruktur pengumpulan, penyimpanan dan
distribusi pangan , kecuali beras.
3. Sistem distribusi pangan yang belum efisien.
4. Bervariasinya kemampuan produksi pangan antar wilayah dan antar musim
menuntut kecermatan dalam mengelola sistem distribusi pangan agar pangan
tersedia sepanjang waktu diseluruh wilayah konsumen.
2. Sosial-ekonomi
1. Belum berperannya kelembagaan pemasaran hasil pangan secara baik dalam
menyangga kestabilan distribusi dan harga pangan.
2. Masalah keamanan jalur distribusi dan pungutan resmi pemerintah pusat dan
daerah serta berbagai pungutan lainnya sepanjang jalur distribusi dan
pemasaran telah menghasilkan biaya distribusi yang mahal dan meningkatkan
harga produk pangan.
Subsistem konsumsi pangan berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan
pangan memenuhi kaidah mutu, keragaman dan keseimbangan gizi, keamanan dan
halal, serta efisiensi untuk mencegah pemborosan. Subsistem ini menyangkut upaya
peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mempunyai pemahaman
atas pangan, gizi dan kesehatan yang baik sehingga dapat mengatur menu beragam,
bergizi, seimbang secara optimal, pemeliharaan sanitasi dan hygiene serta pencegahan
penyakit infeksi dalam lingkungan rumahtangga. Hal ini bertujuan untuk
mengoptimalkan pemanfaatan pangan oleh tubuh. Kondisi konsumsi pangan
rumahtangga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain ekonomi, sosial dan budaya
setempat.

2.3 Pengaruh Infrasturktur terhadap Ketahanan Pangan


Pembangunan infrastruktur pertanian menjadi syarat penting guna mendukung
pertanian yang maju. Contohnya di Jepang, survei infrastruktur selalu dilakukan untuk
menjamin kelancaran distribusi produk pertanian. Perbaikan infrastruktur di negara
maju ini terus dilakukan sehingga tidak menjadi kendala penyaluran produk pertanian,
yang berarti juga tidak mengganggu atau mengganggu arus pendapatan ke petani.
Irigasi (termasuk waduk sebagai sumber air) merupakan bagian terpenting dari
infrastruktur pertanian. Ketersediaan jaringan irigasi yang baik, dalam pengertian tidak
hanya kuantitas tetapi juga kualitas, dapat meningkatkan volume produksi dan kualitas
komoditas pertanian, terutama tanaman pangan, secara signifikan. Jaringan irigasi yang
baik akan mendorong peningkatan indeks pertanaman.
Ada sejumlah indikator atau semacam proxy untuk mengukur tingkat
penguasaan teknologi oleh petani. Salah satunya adalah pemakaian traktor.
Sebenarnya, laju pertumbuhan pemakaian traktor untuk semua ukuran, baik yang dua
maupun empat ban (diukur dalam tenaga kuda yang tersedia), di Indonesia pernah
mengalami suatu peningkatan dari sekitar 7,5% per tahun sebelum era revolusi hijau
(pra 1970-an) ke sekitar 14,3% per tahun selama pelaksanaan strategi tersebut. Namun
demikian, pemakaian input ini per hektarnya di Indonesia tetap kecil dibandingkan di
negara-negara Asia lainnya tersebut; terkecuali China yang kurang lebih sama seperti
Indonesia. Hal ini bisa memberi kesan bahwa tingkat mekanisasi dari pertanian
Indonesia masih relatif rendah, walaupun pemerintah telah berupaya meningkatkannya
selama revolusi hijau.

BAB III
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari pembahasan makalah ini adalah :

1. Ketahanan pangan ialah kondisi dimana setiap individu mampu secara fisik dan
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pangan yang cukup, aman dan bergizi
bagi kehidupan yang aktif dan sehat. Pemenuhan kebutuhan pangan penduduk
secara merata dengan harga yang terjangkau juga tidak boleh dilupakan.

2. Subsistem ketersediaan pangan mencakup aspek produksi, cadangan serta


keseimbangan antara impor dan ekspor pangan. Subsistem ini berfungsi
menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk, baik dari sisi
jumlah, kualitas, keragaman maupun keamanannya.

3. Pentingnya peran infrastrukrut akan berpengaruh besar pada perkembangan


peningkatan ketahanan pokok yang berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA

Tambunan, Tulus. 2003. Perkembangan Sektor Pertanian di Indonesia.Jakarta : Ghalia


Indonesia.
http://www.academia.edu/8345749/MAKALAH_KETAHANAN_PANGAN_DI_INDO
NESIA
http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2014/05/18/kondisi-ketahanan-pangan-
indonesia-saat-ini-657635.html
http://ceritanegeriku.wordpress.com/2012/01/11/sistem-ketahanan-pangan/
http://cynthiawidowati.blogspot.com/2013/06/meningkatkan-ketahanan-pangan-
di.html
http://rufinaaristyani.blogspot.com/2013/06/makalah-ketahanan-pangan-di-
indonesia.html