Anda di halaman 1dari 26

PEDOMAN PEMBERIAN ASUHAN

KEPERAWATAN
BIDANG KEPERAWATAN
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM PATI
Nomor: ………………………
TENTANG
KEBIJAKAN PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN BIDANG KEPERAWATAN
DI RUMAH SAKIT ISLAM PATI

‫الرحيم‬
ّ ‫الرحمن‬
ّ ‫للا‬
ّ ‫بسم‬

DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM PATI,


Menimbang : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit Islam
Pati, maka diperlukan pemberian asuhan keperawatan dalam
penyelenggaraan pelayanan Rawat Inap dan Rawat Jalan yang
bermutu tinggi;
b. Bahwa agar pelayanan pasien Rawat Inap maupun rawat jalan di
Rumah Sakit Islam Pati dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya
kebijakan Direktur Rumah Sakit Islam Pati sebagai landasan bagi
pemberian asuhan keperawatan penyelenggaraan pelayanan Rawat
Inap dan Rawat Jalan di Rumah Sakit Islam Pati.
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan
b, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit Islam Pati

Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
3. Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan;
4. Undang- Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Tenaga Keperawatan;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691 Tahun 2011 Tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 012 Tahun 2012
Tentang Akreditasi Rumah Sakit;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 /Menkes/Per/III/2008 tentang
Rekam Medis
8. Surat Keputusan Pengurus Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) NU
Kabupaten Pati Nomor : 12/SK/YKMNU/III/2014, Tanggal 18 Maret 2014
tentang Perubahan Struktur Organisasi Rumah Sakit Islam Pati.
9. Surat Keputusan Pengurus Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) NU
Pati Nomor : 15/SK/YKMNU/IV/2016, Tanggal 13 April 2016 tentang
Pengangkatan Direktur Rumah Sakit Islam Pati.
M E M U T U S K A N:
Menetapkan KKEPUTUSAN
: DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM PATI TENTANG
PEDOMAN PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN PELAYANAN
RAWAT INAP DAN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT ISLAM PATI

KESATU : Kebijakan tentang Pedoman Pemberian Asuhan Keperawatan pelayanan rawat


inap dan rawat jalan di Rumah Sakit Islam Pati adalah sebagaimana terlampir
dan merupakan satu bagian dalam Surat Keputusan ini.
KEDUA : Bidang dan bagian terkait supaya mempersiapkan segala sesuatunya untuk
implementasi kebijakan sebagaimana diktum kesatu.
Pembinaan dan pengawasan pemberian asuhan keperawatan di Rawat Inap
dan Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Pati dilaksanakan oleh Bidang
Keperawatan di Rumah Sakit Islam Pati.
KETIGA : Surat Keputusan ini berlaku mulai tanggal ditetapkan, apabila dikemudian
terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : PATI
Pada tanggal : 1 November
2017
Direktur Rumah Sakit Islam
Pati,

dr. H. Muhammad Nadhirin


BAB I

PENDAHULUAN

Saat ini dunia keperawatan semakin berkembang. Perawat dianggap sebagai salah
satu profesi kesehatan yang harus dilibatkan dalam pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan yang baik di dunia maupun Indonesia.

Sebagai pemberi asuhan keperawatan perawat membantu klien mendapatkan kembali


kesehatannya melalui proses penyembuhan. Secara umum mutu pelayanan kesehatan di
Indonesia masih relatif belum profesional terbatas, pengaturan tugas yang kurang efektif,
fasilitas maupun alat yang kurang memadai. Kondisi seperti ini akibat relatif masih
kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan maupun adanya krisis moral para pelaku
dibidang kesehatan . disisi lain era globalisasi menuntut pelayanan rumah sakit lebih
kompetitif , dimana petugas khususnya perawat dituntut untuk lebih profesional dalam
memberikan asuhan keperawatan.

Situasi ini menuntut para pembaharu dibidang keperawatan untuk mengembangkan


suatu metode pemberian asuhan keperawatan untuk dapat diimplementasikan dalam
pengorganisasian ruang keperawatan sehingga dapat menjamin dan meningkatkan mutu
pelayanan melalui pemberian asuhan keperawatan.

Asuhan keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik


keperawatan yang diberikan secara langsung pada klien / pasien di berbagai tatanan
pelayanan kesehatan . dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah keperawatan sebagai
suatu profesi yang berdasar ilmu dan kiat keperawatan, bersifat humanistik dan
berdasarkan pada kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi
klien.

Manajemen adalah proses bekerja melalui upaya orang lain untuk mencapai tujuan
bersama. Manajemen keperawatan merupakan suatu proses pelaksanaan pelayanan
keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan,
pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat.

Proses manajemen meliputi kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi


melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian sumber daya
manusia, fisik dan tehnologi. Manajemen keperawatan merupakan suatu tugas
khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola keperawatan sehingga dapat
memberikan pelayanan keperawatan yang efektif dan memuaskan.

Keberhasilan suatu asuhan keperawatan oleh klien sangat ditentukan pada


pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan profesional. Dengan semakin
meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan dan tuntutan
perkembangan iptek, maka metode sistem pemberian asuhan keperawatan harus
efektif dan efisien. Ada kurang lebih Lima (5 ) model Asuhan Keperawatan yang
umum dikenal yaitu: Fungsional , Metode Tim , Metode Kasus , Metode Primer ,
Metode Moduler / Tim Modifikasi. Tetapi setiap unit keperawatan mempunyai
riwayat sendiri dalam menyeleksi model dalam pengelolaan asuhan
keperawatan berdasarkan kesesuaian antara ketenagaan, sarana dan prasarana
serta kebijakan rumah sakit.
BAB II

VISI, MISI, MOTTO DAN TUJUAN

1. VISI

Rumah sakit :

Rumah sakit Islami, Terpercaya, Pilihan Masyarakat

Keperawatan :

Mewujudkan pelayanan dan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Islam


Pati yang Islami, Terpercaya, Pilihan masyarakat.

2. MISI

Rumah sakit :

a. Memperkuat keberlangsungan usaha pelayanan kesehatan di rumah sakit sesuai


dengan standar peraturan perundangan yang berlaku
b. Meningkatkan kompetensi SDM rumah sakit melalui pendidikan dan pelatihan
yang berkesinambungan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
tehnologi yang didasari nilai – nilai islami
c. Mengembangkan bangunan gedung rumah sakit yang modern, artistik dengan
ciri arsitektur islami menyatu dengan budaya arsitek local / daerah dan serasi
dengan bangunan RSI lama sesuai dengan kebutuhan pelayanan rumah sakit
yang ideal, efesien dan efektif.
d. Meningkatkan dan menyediakan peralatan medis, non medis dan farmasi yang
diperlukan dalam memperkuat diagnosis, terapi dan rehabilitasi medic.
e. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan terkait dengan pelayanan
kesehatan masyarakat yang bermutu, santun, islami, dengan pelayanan unggulan
kesehatan wanita dan anak, termasuk penurunan angka kematian ibu melahirkan
dan bayi baru lahir.
f. Memberikan pelayanan yang cepat,tepat, waktu konsultasi yang memadai,
mempersingkat waktu tunggu, komunikasi santun dan penampilan menarik
g. Mengembangkan system keuangan yang akuntabel dan transparan, melalui
penguatan penggunaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit ( SIMRS )
dalam rangka mengembangkan manajemen berbasis data dari informasi sebagai
basis dalam pengambilan keputusan (evidence based decision making ).
h. Meningkatkan kegiatan pemasaran pelayanan melalui promosi kepada
masyarakat dan pengembangan jejaring dengan pemangku kepentingan (
stakeholder ) dan pihak eksternal lainnya
i. Meningkatkan upaya pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi penyakit melalui
penyuluhan kesehatan, terpadu dengan kegiatan tanggung jawab social
perusahaan

Keperawatan

a. Memperkuat keberlangsungan usaha pelayanan asuhan Keperawatan dan


Asuhan Kebidanan di rumah sakit sesuai dengan standar peraturan perundangan
yang berlaku
b. Meningkatkan kompetensi SDM perawat / bidan melalui pendidikan dan
pelatihan yang berkesinambungan sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan tehnologi yang didasari nilai – nilai islami
c. Mengajukan , menginventaris dan memelihara peralatan medis, non medis serta
farmasi dalam mendukung pelaksanaan Asuhan Keperawatan maupun Asuhan
Kebidanan.
d. Menyelenggarakan pelayanan Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan
terkait dengan pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu, santun, islami,
dengan pelayanan unggulan kesehatan wanita dan anak, termasuk penurunan
angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir.
e. Memberikan pelayanan yang cepat,tepat, komunikasi santun dan penampilan
menarik
f. Mengembangkan pelayanan Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan,
melalui penguatan penggunaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (
SIMRS ) dalam rangka mengembangkan manajemen Keperawatan berbasis data
dari informasi sebagai basis dalam pengambilan keputusan (evidence based
decision making ).

3. MOTTO RUMAH SAKIT

“KEPUASAN ANDA ADALAH AMANAH KAMI”


BAB III

STRUKTUR ORGANISASI BIDANG KEPERAWATAN

DIREKTUR

Dr. H. Muhammad Nadhirin

Nurcahyono,M.Kes

MANAGER KEPERAWATAN

Johar Nuraini, S.Kep. Ners.

ASISTEN MANAGER RAWAT INAP ASISTEN MANAGER RJ

Yusuf Effendi, AMd. Kep. Siti Sahara, AMd. Kep.

RUANG RAWAT INAP 1 INSTALASI RAWAT JALAN


RUANG RAWAT INAP 2
INSTALASI IGD dan PONEK
RUANG RAWAT INAP 3
INSTALASI IKB
RUANG RAWAT INAP 4 ( PAVYLIUN )
INSTALASI HD
RUANG ICU
INSTALASI IBS & ANESTESI
RUANG PERINATAL
BAB IV

PANDUAN KEPERAWATAN MODULAR

Metode yang dilaksanakan di keperawatan Rumah Sakit Islam Pati adalah


Metode keperawatan Modular / Tim Modifikasi.
Metode keperawatan modular adalah suatu variasi metode keperawatan primer
dan metode Tim. Metode ini memiliki kesamaan dengan metode primer dan metode tim
(Gillies, 1994).Metode ini sama dengan metode keperawatan tim karena baik perawat
profesional maupun non profesional bekerjasama dalam memberikan askep di bawah
kepemimpinan seorang perawat profesional. di samping itu dikatakan memiliki
kesamaan dengan metode keperawatan primer karena dua atau tiga orang perawat
bertanggung jawab atas sekelompok pasien sejak masuk dalam perawatan hingga
pulang, bahkan sampai dengan waktu Follow up care. Dalam memberikan asuhan
keperawatan dengan memberikan metode keperawatan moduler, satu tim yang terdiri
dua hingga perawat memiliki tanggung jawab penuh pada sekelompok pasien sekitar 8-
12 orang (Magargal, 1987). Hal ini tentu saja dengan suatu persyaratan perawatan yang
di butuhkan perawat cukup memadai.
Sekalipun dalam memberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan
metode ini dilakukan oleh dua hingga tiga perawat,tanggung jawab paling besar tetap
ada pada perawat profesional/ketua tim/ penanggung jawab shift. Perawat
profesional/ketua tim/penanggung jawab shift juga memiliki kewajiban untuk
membimbing dan melatih non profesional/anggota tim. Apabila perawat profesional
sebagai ketua tim/ Penanggung jawab shift tidak masuk tugas dan tanggung jawab
dapat digantikan oleh perawat profesional lainya. Peran perawat Kepala Ruang
diarahkan dalam hal membuat jadwal dinas dengan mempertimbangkan kecocokan
anggota untuk bekerja sama, dan berperan sebagai fasilitator, pembimbing serta
motivator.

Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus berdasarkan pada
konsep berikut :
a. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan teknik
kepemimpinan.
b. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.
c. Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.
d. Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila
di dukung oleh kepala ruang.
Ketua tim/Penanggung jawab shift mempunyai tanggung jawab untuk
mengkoordinasikan seluruh kegiatan asuhan keperawatan untuk dikoordinasikan
dengan anggota tim. Tujuan penugasan keperawatan modular untuk memberikan
keperawatan yang berpusat pada pasien, dan anggota tim bertanggung jawab
melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah
dibuat. Oleh karena kegiatan dilakukan bersama-sama oleh kelompok, maka ketua tim /
Penanggung jawab Shift sering kali melakukan pertemuan bersama dengan anggota
timnya (konferensi tim) guna membahas kejadan-kejadian yang dihadapi dalam
pemberian asuhan keperawatan.

Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam
memberikan asuhan keperawatan pada sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi
menjadi 2-3 tim/group atau sesuai kondisi ruangan yang terdiri dari tenaga profesional,
vokasional dan pembantu perawat dalam satu tim yang saling membantu.

Akan tetapi karena tenaga / SDM Keperawatan yang belum memungkinkan satu
ruang Rawat Inap itu ada 2 – 3 tim serta minimnya perawat Profesional ( Ners ) yang
ada, maka Bidang Keperawatan Rumah Sakit Islam Pati baru bisa melaksanakan
penerapan metode diatas dengan cara 1 tim dengan 1 penanggung jawab shift di setiap
shiftnya. Akan tetapi untuk Ruang Rawat Inap tertentu ( ICU, Perinatal dan HD ) bisa
diterap metode modular / modifikasi tim tersebut akan tetapi penerapan diruangan
tidak sama dengan ruangan lain karena dalam 1 shift hanya ada 1 orang perawat yang
jaga dan otomatis perawat yang jaga sekaligus sebagai penanggung jawab shift .
Peran kepala ruangan :

1. Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf.


2. Membantu staf menetapkan sasaran dalam unit/ruangan.
3. Memberi kesempatan katim /penanggung jawab shift pengembangan
kepemimpinan.
4. Mengorientasikan tenaga baru tentang fungsi metode modular / modifikasi tim
keperawatan.
5. Menjadi narasumber bagi ketua tim / penanggung jawab shift.
6. Mendorong staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset keperawatan.
7. Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka.

Tanggung jawab kepala ruang :


1. Perencanaan
a) Menunjuk ketua tim pengganti / kepala jaga / Penanggungjawab Shif
( PJ Shif )yang akan bertugas di ruangan masing-masing jika kepala
ruang tidak ada.
b) Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya.
c) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat, transisi dan
persiapan pulang bersama penanggung jawab shift.
d) Mengidentifikasi jumlah perawat yang di butuhkan berdasarkan
aktifitas kebutuhan klien bersama ketua tim / penanggung jawab shift,
mengatur penugasan / penjadwalan.
e) Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.
f) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologis,
tindakan medis yang dilakukan, progam pengobatan dan
mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan
terhadap pasien.
g) Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan :

- Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan.


- Membimbing penerapan proses keperawatan dan menilai asuhan
keperawatan.
- Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah.
- Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru
masuk RS.
h) Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan ( bila
ada )
i) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan di rumah sakit.
2) Pengorganisasian
a) Memutuskan metode penugasan yang digunakan.
b) Merumuskan tujuan metode penugasan.
c) Membuat rincian tugas katim / penanggung jawab shift dan anggota
tim secara jelas.
d) Membuat rentang kendali kepala ruang membawahi 1 ketua tim /
penanggung jawab shift dan penanggung jawab shift membawahi 2-3
perawat.
e) Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat proses
dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dan lain- lain.
f) Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.
g) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik ( jika ada ).
h) Mendelegasikan tugas kepala ruang jika tidak berada di tempat,
kepada ketua tim / penanggung jawab shift.
i) Memberi wewenang kepada administrasi ruang untuk mengurus
administrasi pasien.
j) Identifikasi masalah dan cara penangananya.
3) Pengarahan
a) Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim /
penanggung jawab shift.
b) Memberikan pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas
dengan baik.
c) Memberikan motivasi dalam peningkatan pengetahuan, ketrampilan
dan sikap.
d) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan
dengan asuhan keperawatan pasien.
e) Melibatkan bawahan sejak awal hinggan akhir kegiatan.
f) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam tugasnya.
g) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lainnya.
4) Pengawasan
a) Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi langsung
dengan ketua tim / penanggung jawab shift dalam pelaksanaan
mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
b) Melalui supervisi :
- Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau
melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki /
mengawasi kelemahannya yang ada saat itu juga.
- Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua tim
/ penanggung jawab shift, membaca dan memeriksa rencana
keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses
keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar laporan
ketua tim / penanggung jawab shift tentang pelaksanaan tugas.
c) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan
rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim /
penanggung jawab shift.
d) Audit keperawatan.

Komunikasi diantara anggota tim sangat penting, meliputi :

 Penugasan asuhan secara tertulis.


 Rencana asuhan keperawatan tertulis.
 Laporan kepada dan dari ketua tim / penanggung jawab shift.
 Konferensi tim : membahas asuhan pasien dan masalah tim.
 Umpan balik informal yang sering di antara anggota tim.

Tugas dan Tanggung jawab ketua tim / penanggung jawab shift :

1. Bertanggung jawab atas pengelolaan asuhan keperawatan klien sejak masuk


sampai pulang.
2. Mengorientasikan pasien yang baru dan keluarganya.
3. Mengkaji kesehatan klien dan keluarganya.
4. Membuat diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan.
5. Mengkomunikasikan rencana keperawatan kepada anggota tim.
6. Mengarahkan dan membimbing anggota tim dalam melakukan tindakan
keperawatan.
7. Mengevaluasi tindakan dan rencana keperawatan.
8. Melaksanakan tindakan dan rencana tertentu
9. Mengembangkan perencanaan pulang.
10. Memonitor pendokumentasian tindakan keperawatan yang dilakukan oleh
anggota tim.
11. Melakukan / mengikuti pertemuan dengan anggota tim / tim kesehatan lainya
untuk membahas perkembangan kondisi pasien.
12. Membagi tugas yang harus dilakukan oleh setiap anggota kelompok dan
memberikan bimbingan melalui konferensi.
13. Mengevaluasi pemberian asuhan keperawatan dan hasil yang dicapai serta
pendokumentasiannya.

Tugas dan Tanggung Jawab Anggota Tim :

1. Melaksanakan kegiatan keperawatan yang telah direncanakan ketua tim /


penanggung jawab shift.
2. Mendokumentasikan kegiatan keperawatan yang telah dilakukan.
3. Membantu ketua tim / penanggung jawab shift melakukan pengkajian,
menentukan diagnosa keperawatan dan membuat rencana keperawatan.
4. Membantu ketua tim / penanggung jawab shift mengevaluasi hasil keperawatan.
5. Membantu / bersama ketua tim / penanggung jawab shift mengorientasikan
pasien baru.
6. Mengganti tugas pembantu keperawatan bila perlu.

Tugas dan tanggung jawab pembantu keperawatan :

1. Membersihkan ruangan dan meja pasien.


2. Menyediakan alat-alat yang diperlukan dalam tindakan keperawatan.
3. Membantu perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.
4. Membersihkan alat-alat yang telah digunakan.
5. Mengurus pemberangkatan dan pemulangan pasien konsul.
6. Mengatur urinal dan pispot pasien.

Dalam keperawatan tim modifikasi ( modular ), perawat profesional dapat


mempraktekan kemampuan kepemimpinanya secara maksimal. Kepemimpinan perawat
ini menjadi kunci keberhasilan praktek keperawatan dan menjamin asuhan keperawatan
bermutu bagi pasien.

Keperawatan Tim – Primer ( Modular )

Kepala Ruang

Penanggung jawab shift

Anggota Tim

PASIEN / Klien
BAB V

PANDUAN STRATEGI KERJA TIM

Saat pasien baru masuk di ruang rawat, Pasien dan keluarga akan diterima oleh
ketua tim / penanggung jawab shift dan diperkenalkan kepada anggota tim yang ada.
Kemudian ketua tim akan memberikan orientasi tentang ruangan, Perawat yang
bertanggung jawab ( penanggung jawab shift ) dan anggota tim.

Ketua tim / penanggung jawab shift (dapat dibantu oleh anggota tim) melakukan
pengkajian, kemudian membuat rencana keperawatan berdasarkan rencana keperawatan
yang sudah ada setelah terlebih dahulu melakukan analisa dan modifikasi terhadap
rencana keperawatan tersebut sesuai dengan kondisi pasien.

Setelah menganalisa dan memodifikasi rencana keperawatan, ketua tim /


penanggung jawab shift menjelaskan rencana keperawatan tersebut kepada anggota tim,
selanjutnya anggota tim akan melaksanakan rencana keperawatan tersebut dan rencana
tindakan medis yang dituliskan pada format tersendiri. Tindakan yang dilakukan oleh
anggota tim lalu didokumentasikan pada format yang tersedia.

Bila anggota tim yang menerima pasien baru pada sore atau malam hari atau
pada saat hari libur, pengkajian awal dilakukan oleh anggota tim terutama yang terkait
dengan masalah kesehatan pasien, anggota tim membuat masalah keperawatan yang
utama dan melakukan tindakan keperawatan dengan terlebih dahulu mendiskusikannya
dengan penanggung jawab shift sore / malam / hari libur. Saat kepala ruang tidak ada,
pengkajian dilengkapi oleh penanggung jawab shift, kemudian membuat rencana yang
lengkap dan akan menjadi panduan bagi anggota tim dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien.

Pada dinas pagi, kepala ruang,ketua tim / penanggung shift bersama anggota
tim melakukan operan dari dinas malam (semua pasien yang dirawat ). Selanjutnya
dengan anggota tim pagi melakukan konferensi tentang permasalahan pasien,
pembagian pengelolaan pasien untuk tiap anggota tim, dan mengkoordinasikan tugas
yang harus dilakukan oleh anggota tim.

Selain dengan anggota tim, ketua tim / penanggung jawab shift juga melakukan
komunikasi langsung dengan dokter, ahli gizi dan tim kesehatan lain untuk membahas
perkembangan pasien dan perencanaan baru yang perlu di buat. Selain itu
mengidentifikasi pemeriksaan penunjang yang telah ada dan yang perlu dilakukan
selanjutnya. Bila ada rencana baru atau ada tindakan tertentu yang harus di
lakukan,maka ketua tim / penanggung jawab shift akan mengkomunikasikan kepada
anggota tim untuk melaksanakanya. Jika ada tindakan yang spesifik yang mungkin tidak
dapat dilakukan oleh anggota tim maka ketua tim yang akan langsung melakukan
tindakan tersebut. Terutama dalam melakukan tindakan intervensi pendidikan kesehatan
pada pasien dan keluarga akan dilakukan oleh ketua tim / penanggung jawab tim yang
didasarkan atas hasil pengkajian pada kebutuhan peningkatan pengetahuannya.
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan mandiri oleh ketua tim / penanggung jawab shift
atau kolaborasi, misalnya dengan ahli gizi untuk penjelasan mengenai diet pasien yang
benar.

Setiap hari ketua tim / penanggung jawab shift mengevaluasi perkembangan


pasien ,ketua tim / penanggung jawab shift akan memonitor tindakan yang dilakukan
dan memberi bimbingan pada anggota tim. Anggota tim selama melakukan asuhan
keperawatan harus mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan pada
format-format yang terdapat di lembar dokumentasi /Rekam Medik . Kemudian ketua
tim / penanggung jawab shift akan memonitor dan mengevaluasi dokumentasi yang
dibuat oleh anggota tim.

Setiap hari ketua tim / penanggung jawab shift mengevaluasi perkembangan


pasien dengan mendokumentasikan pada format catatan perkembangan dengan metode
SOAP (data Subjekti, data Objektif, Analisa, dan Perencanaan) catatan perkembangan
pasien ini juga menuntun anggota tim dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien.

Bila ada pasien yang akan pulang atau pindah ke unit perawatan lain, ketua tim /
penanggung jawab shift akan membuat resume keperawatan informasi tentang asuhan
keperawatan yang telah diberikan keadaan pasien selama dirawat, yang berisi masalah-
masalah pasien yang timbul dan masalah yang telah teratasi, tindakan keperawatan yang
telah dilakukan dan pendidikan kesehatan yang telah diberikan.

Pada penggantian dinas Pagi - Sore dilakukan peran anggota tim sore yang
didampingi oleh ketua tim / penanggung jawab. Komponen utama yang diinformasikan
dalam operan antara lain keadaan umum pasien, tindakan / intervensi yang telah
dilakukan dan atau tindakan yang belum di lakukan, hal-hal penting yang harus di
perhatikan perawat dinas sore dan malam yang berkaitan dengan perencanaan
keperawatan pasien yang akan di buat oleh ketua tim / penanggung jawab shift.
Selanjutnya bila perlu, ketua tim/penanggung jawab shift melengkapi informasi-
informasi penting yang belum disampaikan kepada dinas sore. Anggota tim juga menulis
laporan pagi / siang / malam pada buku laporan.
BAB VI

PANDUAN TIMBANG TERIMA

Timbang terima dalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima suatu
(laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien.

1) Tujuan Umum
Mengkomunikasikan keadaan pasien dan menyampaikan informasi yang penting
2) Tujuan khusus
a) Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien.
b) Menyampaikan hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya.
c) Tersusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.
3) Manfaat bagi perawat
 Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat
 Menjalin hubungan kerjasamadan bertanggung jawab antar perawat
 Pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap pasien yang berkesinambungan
 Perawat dapat mengikuti perkembanganpasien secara paripurna
4) Manfaat bagi pasien
Pasien/keluarga dapat menyampaikan masalah secara langsung, bila ada yang
belum terungkap
5) Langkah-langkah
a) Kedua shif dalam keadaan siap.
b) Shif yang akan menyiapkan perlu mempersiapkan hal apa yang akan
disampaikan.
c) Ketua tim /penanggung jawab shift menyampaikan kepada ketua tim /
penanggung jawab shif yang selanjutnya meliputi kondisi, tindak lanjut,
rencana kerja.
d) Dilakukan dengan jelas dan tidak terburu-buru.
e) Secara langsung melihat keadaan klien.

Langkah a – e informasi kondisi pasien disampaikan di Nurse Station tidak di


depan pasien / klien sesuai Akreditasi Rumah Sakit, kemudian keliling melihat
keadaan semua klien untuk memperkenalkan petugas (perawat / bidan) yang
jaga selanjutnya (sore / malam).
6) Prosedur timbang terima
a) Persiapan
 Kedua kelompok sudah siap.
 Kelompok yang bertugas menyiapkan buku catatan.
b) Pelaksanaan
 Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shif.
 Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan serah terima
dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan dengan masalah
keperawatan, rencana tindakan yang sudah dan belum dilakukan serta hal
penting lainya.
 Hal yang bersifat khusus dan memerlukan perincian yang lengkap dicatat
secara khusus untuk kemudian diserahkan kepada perawat jaga berikutnya.
 Hal yang perlu diberitahukan dalam timbang terima : identitas dan
diagnosa medis, masalah keperawatan, tindakan yang sudah dan belum
dilakukan, intervensi.
7) Alur Timbang Terima

PASIEN

Diagnosa Medis ,Masalah Diagnosa Keperawatan


Kolaboratif

Rencana Tindakan

Yang telah dilakukan Yang akan dilakukan

Perkembangan Keadaan
Klien

Masalah : Teratasi dan belum teratasi

Gambar. Alur Timbang Terima


BAB VII

METODE KASUS ( TOTAL CARE )

Pemberian semua asuhan keperawatan langsung kepada pasien oleh perawat


profesional. Dasar pemikiran perawat yang paling siap untuk melaksanakan semua
asuhan keperawatan yang diperlukan.
Ketenagaan, harus mempertimbangkan :
* Tingkat ketergantungan / keparahan pasien
* Standar asuhan yang ditetapkan institusi,
* Perlu lebih banyak perawat profesional,
* Pembantu keperawatan berfungsi membantu.

Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat yang melayani seluruh


kebutuhannya pada saat perawat dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda
untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang
sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu
perawat, umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk perawatan khusus
seperti : isolasi, ICU, IBS, Rawat Jalan dan IGD .

Kelebihan :
1) Perawat lebih memahami kasus per kasus
2) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah
Kekurangan :
1) Tidak dapat diidentifikasi perawat penanggungjawab
2) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama.

Dari berbagai metode penugasan yang ada, setiap ruangan / unit perawatan
dapat mempertimbangkan kemungkinan penerapan dari salah satu metode di atas
berdasarkan prinsip pemilihan penugasan yang tepat, efektif, dan efisien.
BAB VIII

PANDUAN RONDE KEPERAWATAN

Ronde keperawatan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi


masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping pasien
dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi
pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat profesional dengan kepala
ruang, dan juga melibatkan seluruh anggota tim ( Nursalam , 2002 ).
1) Tujuan
a) Menumbuhkan cara berfikir secara kritis.
b) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal
dari masalah klien.
c) Meningkatkan validitas data klien.
d) Meningkatkan kemampuan justifikasi.
e) Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja.
f) Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi rencana keperawatan.
2) Peran
a) Ketua Tim / penanggung jawab shift dan Anggota Tim
 Menjelaskan keadaan dan data demografi klien.
 Menjelaskan masalah keperawatan utama.
 Menjelaskan intervensi yang belum dan akan dilakukan.
 Menjelaskan tindakan selanjutnya.
 Menjelaskan alasan ilmiah yang akan diambil.
b) Peran Ketua Tim lain / penanggung jawab shift lain
 Memberikan justifikasi.
 Memberikan Reinforcement.
 Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta
tindakan yang rasional.
 Mengarah pada koreksi.
 Mengintegrasi teori dan konsep yang telah dipelajari.
3) Persiapan
a) Menetapkan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde.
b) Pemberian Inform consent kepada klien atau keluarga.
4) Pelaksanaan
a) Penjelasan tentang klien oleh perawat profesional ( ketua tim /
penanggung jawab shift ). Dalam hal ini penjelasan difokuskan dalam
masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah
dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan.
b) Diskusikan antar anggota tim tentang kasus tersebut.
c) Pemberian justifikasi oleh perawat profesional / ketua tim / penanggung
jawab shift / perawat konselor / kepala ruangan tentang masalah klien
serta tindakan yang akan dilakukan.
d) Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan akan
ditetapkan.
BAB IX

MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan di bidang keperawatan


Rumah Sakit Islam Pati adalah dengan cara supervisi yang dilakukan oleh Kepala Bidang
Keperawatan bersama Asisten Manager Keperawatan Rawat Jalan dan Asisten Manager
Keperawatan Rawat Inap bekerja sama dengan Komite Keperawatan. Supervisi
dilakukan minimal satu kali dalam sebulan untuk tahun pertama pelaksanaan kemudian
3 bulan sekali untuk tahun kedua dan seterusnya , tiap ruangan kecuali ada kejadian
insidentil tanpa perencanaan dengan cara keliling ruangan. Supervisi dilakukan dengan
cara mendadak untuk mengetahui pemberian asuhan keperawatan secara langsung
tanpa persiapan dari perawat diruangan. Kepala ruang juga berkewajiban untuk
membuat laporan tentang metode modular / modifikasi tim yang dipakai diruangan
sudah berjalan atau belum. Laporan tersebut diberikan 1 bulan sekali ke Bidang
Keperawatan secara tertulis dan disertai dengan permasalahan – permasalahan yang ada,
guna untuk mengetahui kekurangan – kekurangan yang menjadi kendala di ruangan
sehingga bisa dicarikan solusi – solusi terbaik guna untuk selalu meningkatkan
pelayanan keperawatan di Rumah Sakit Islam Pati.

Evaluasi peningkatan asuhan keperawatan adalah dengan peningkatan semua aspek


baik itu peningkatan evaluasi Instrumen “A” yaitu kepatuhan perawat dalam
pendokumentasian asuhan keperawatan , Peningkatan evaluasi Instrumen “B” yaitu
angket kepuasan pasien , dan juga peningkatan evaluasi Instrumen “C” yaitu kepatuhan
perawat dalam menjalankan perasat sesuai prosedur ( kepatuhan terhadap SPO ). Jadi
Bidang Keperawatan bekerja sama dengan Komite Keperawatan akan selalu berusaha
untuk selalu meningkatkan pelayanan keperawatan pada khususnya dan peningkatan
pelayanan rumah sakit pada umumnya.

Disamping evaluasi yang disebutkan diatas , dalam memberikan pelayanan


keperawatan juga berpegang pada pedoman Akreditasi Rumah Sakit Versi Baru 2012 dan
juga berpedoman pada semua peraturan perundang – undangan baik yang berhubungan
dengan Pelayanan Umum , maupun perundangan Bidang Kesehatan maupun
perundangan bidang Perumahsakitan.
BAB X

PENUTUP

Pedoman pemberian asuhan keperawatan yang dibuat oleh bidang keperawatan ini
dibuat agar menjadi acuan bagi seluruh perawat di Rumah Sakit Islam Pati dalam
memberikan asuhan keperawatan yang cepat, tepat, dan aman yang dilandasi moral dan
etika profesi. Pedoman ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan upaya
meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan di rumah sakit.

Dalam memberikan asuhan keperawatan, baik perawat atau bidan di Rumah Sakit
Islam Pati menggunakan metode Keperawatan Modular. Dengan metode itu diharapkan
antara Kepala Ruang, Ketua Tim / penanggung jawab shift, dan Staf diruangan dapat
saling melengkapi dan menjalankan tugas sesuai tupoksi masing-masing. Memang tidak
semua metode asuhan keperawatan di ruangan di Rumah Sakit Islam Pati menggunakan
metode Moduler ( Tim Modifikasi ) karena ada yang memakai Metode Kasus seperti di
ICU , Rawat Jalan , IGD , IKB dan Isolasi.

Pemberian Asuhan Keperawatan bidang keperawatan ini akan lebih berhasil dengan
kerjasama dari berbagai pihak , baik pihak manajemen dan seluruh staf di ruangan
perawatan pasien khususnya dan seluruh karyawan Rumah Sakit Islam Pati pada
umumnya. Karena yang bertanggung jawab terhadap pelayanan di rumah sakit tidak
hanya tenaga keperawatan saja namun seluruh komponen yang berada di rumah sakit
ikut bertanggung jawab terhadap mutu pelayanan. Sangat ironis jika yang menjaga mutu
pelayanan dari pihak medis dan keperawatan saja, maka perlu di dukung komitmen
bersama seluruh karyawan rumah sakit. Pelayanan Keperawatan yang baik akan bisa
terwujud dengan maksimal apabila disertai dengan fasilitas rumah sakit yang memadai.
Sehingga didapatkan pelayanan keperawatan yang baik , prima demi keberhasilan
rumah sakit dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan atau para pasiennya. Hal
ini sesuai dengan visi dan misi rumah sakit maupun visi dan misi dari Bidang
Keperawatan dan yang lebih luas yaitu Rumah Sakit Islam Pati ikut mensukseskan
Program Pemerintah yaitu meningkatkan derajat kesehatan setinggi tingginya seluruh
lapisan masyarakat Indonesia.