Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Bencana alam sudah bukan menjadi hal yang baru didengar di Indonesia. Gempa
bumi sering melanda di beberapa kota dan provinsi di wilayah-wilayah Indonesia,
gunung meletus, gempa bumi, tsunami, dan banjir bandang, mewarnai bencana-bencana
alam yang terjadi di Indonesia terutama akhir-akhir ini.
Tingginya tingkat bencana alam di Indonesia bisa di lihat dari posisi Indonesia
dihitung dari jumlah manusia yang terancam risiko kehilangan nyawa bila bencana alam
terjadi. Indonesia, menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat
Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, Indonesia
menduduki peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan
gunung berapi, dan menduduki peringkat tiga untuk ancaman gempa serta enam untuk
banjir. (BBC Indonesia 22 agustus 2011). United Nations International Stategy for
Disaster Reduction (UNISDR; Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan
Risiko Bencana) memberikan informasi Berbagai bencana alam mulai gempa bumi,
tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan
rawan terjadi di Indonesia. Bahkan dalam masalah korban bencana alam tsunami dari 265
negara indonesia berada di peringkat pertama dengan 5.402.239 orang terkena
dampaknya, bencana alam tanah longsor dari 162 negara Indonesia peringkat pertama
dengan 197.372 orang terkena dampaknya, bencana alam gempa bumi. Dari 153 negara
Indonesia meraih peringkat ketiga dengan 11.056.806 orang terkena dampaknya, dan
bencana alam banjir dari 162 negara Indonesia berada diurutan ke-6 dengan 1.101.507
orang yang terkena dampaknya. (alamandah’s :2011)
Indonesia menjadi daerah rawan bencana karena beberapa alasan. Pertama karena
faktor alam. Negeri kita ini berdiri di atas pertemuan rangkaian mediterania dan
rangkaian pasifik, dengan proses pembentukan pegunungan, hal ini yang menyebabkan di
Indonesia banyak terjadi gempa bumi. Gunung-gunung berapinya juga masih banyak
yang aktif sekitar 140 gunung yang masih aktif. Kedua adalah faktor iklim yang tropis di
Indonesia yang menyebabkan curah hujan yang cukup tinggi sehingga memudahkan
terjadinya pelapukan, tanah yang tidak stabil, banyak tanah yang rusak sehingga potensi
bencana longsor terjadi sangat memungkinkan.
Selain kedua faktor tempat bertemunya rangkaian mediterania dan rangkaian
pasifik juga faktor iklim, faktor lain yang mempengaruhi tingginya ancaman bencana di
Indonesia adalah dari sisi non alam. Negeri kita berpenduduk padat, terutama di Pulau
Jawa dan Sumatera. Kalau kawasan timur Indonesia mungkin belum begitu banyak.
Infrakstuktur kita tidak didesain sesuai dengan kondisi alam itu. Bangunan rumah, juga
bangunan besar seperti gedung, belum banyak disesuaikan dengan kondisi alam ini.
Akibat terjadinya bencana-bencana tersebut dampak yang ditimbulkan sangatlah
kompleks, selain masalah pengungsi, kerusakan infrastruktur, terputusnya jalur
komunikasi dan transportasi menjadi masalah kompleks lainnya. Kerusakan-kerusakan
fisik dan psikis pun tentunya menjadi meningkat. Bencana membuat mereka kehilangan
keluarga, sanak dan sodara, harta benda dan harus hidup di pengungsian. Hal ini memicu
terjadinya gangguan psikologi di diri mereka. Seperti yang di kemukakan oleh
Davison&Neale (1966) bahwa akibat terjadinya bencana alam seseorang yang berada di
lingkungan yang terkena bencana tersebut memungkinkan terkena gangguan psikologis,
dan gangguan psikologis tersebut diantaranya trauma, stres berat, stres akut dan Post-
Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Menurut Monahan (1993), trauma terjadi secara mendadak dan luar biasa,
sehingga memaksa seseorang untuk menguasai dan menghadapi perasaannya. Kejadian
yang mendadak ini membuat para korban menjadi bingung, timbulnya prilaku-prilaku
aneh akibat tekanan yang di hadapinya. Mereka yang merasakan penderitaan ini sangat
wajar, jika mengalami gangguan seperti bingung, sedih, takut dan merasa kehilangan.
Seperti yang di kemukanakan Midicastore, 2006) bahwa terdapat beberapa gejala stress
pasca trauma, yaitu respon emosi yang tumpul, lepas atau berkurang, merasa bahwa
dirinya tidak nyata, tidak mampu mengingat bagian yang penting dari peristiwa traumatik
itu sendiri.
2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep dasar dari stress release ?
2. Bagaimanakah konsep dasar dari bencana ?
3. Bagaimanakah assessment atau pengkajian yang dilakukan terhadap korban bencana
alam ?
4. Apa sajakah treatment/terapi yang diberikan pada korban bencana ?
5. Bagaimanakah evaluasi program treatment atau terapi pada korban bencana ?

3. Tujuan Penulisan
1. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami konsep dasar dari stress release.
2. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami konsep dasar dari bencana.
3. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami assessment atau pengkajian yang
dilakukan terhadap korban bencana.
4. Agar mahasiswa mengetahui jenis-jenis treatment/terapi yang diberikan pada korban
bencana.
5. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami evaluasi program treatment atau terapi
pada korban bencana.

4. Manfaat Penulisan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada
mahasiswa mengenai bencana, dan bagaimana cara mengatasi bencana tersebut dan juga
efek samping yang ditimbulkan bencana tersebut pada warga yang menjadi korban.
Mahasiswa diharapkan mampu memberikan usaha terbaik pada pertolongan korban
bencana ketika dihadapkan pada kejadian yang sama.

BAB III

PEMBAHASAN

A. STRESS REALESE

1. Pengertian Stress

a. Menurut Hans Selye, “stress adalah respons manusia yang bersifat nonspesifik terhadap
setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya” (Pusdikes,Dep.Kes.1989).

b. ‘Stress adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental
atau beban kehidupan)” Dadang Hawari.2001
c. Stress adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam, yang menimbulkan suatu
ketegangan dalam diri seseorang (Soeharto Heerdjan,1987)

d. Secara umum yang dimaksud stress adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang dapat
menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi dan lain-lain

e. Stress adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan karena itu sesuatu yang
dapat mengganggu keseimbangan kita (Maramis,1999)

f. Menurut Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brect (2000) bahwa yang
dimaksud stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh
perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun
penampilan individu didalam lingkungan tersebut.

2. Penyebab Stress

Timbulnya stress pada seseorang diawali dengan adanya stimuli yang mengawali atau
mencetuskan perubahan yang disebut dengan stressor. Stressor menunjukan suatu
kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa saja kebutuhan fisiologis
psikologis sosial, lingkungan, perkembangan spiritual atau kebutuhan kulturan (Potter &
Perry,1997).

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stress diantaranya:


a. Faktor biologis, herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofsiologik dan
neurohormonal
b. Faktor sosio kultural, perkembangan kepribadian, pengalaman dan kondisi lain yang
mempengaruhi.

Macam-macam stressor:
a. Stressor internal
Berasal dari dalam diri seseorang
b. Stressor eksternal
Berasal dari luar diri seseorang
Karakteristik Stressor:
a. Makna stressor
Bila stressor tersebut bermakna dalam hidup individu tersebut maka responnya akan
besar
b. Lingkup stressor
Bila stressornya luas, maka responnya akan besar
c. Lamanya stressos
Bila stressor tersebut lama maka responnya akan besar
d. Jumlah stressor
Bila stressor yang ada bermacam-macam dalam waktu yang sama maka responnya
akan besar
e. Kuatnya stressor
Makin kuat stressor dirasakan maka makin tinggi pula responnya.

Dampak stressor dipengaruhi oleh berbagai faktor (Kozier & Erb,1983 dikutip Keliat
B.A.,1999) yaitu:
a. Sifat stressor
Pengetahuan individu tentang stressor tersebut dan pengaruhnya pada individu
tersebut.
b. Jumlah stressor
Banyaknya stressor yang diterima individu dala waktu bersamaan.
c. Lama stressor
Seberapa sering individu menerima stressor yang sama. Makin sering individu
mengalami hal yang sama maka akan timbul kelelahan dalam mengatasi masalah
tersebut.
d. Pengalaman masa lalu
Pengalaman individu yang lalu mempengaruhi individu menghadapi masalah.
e. Tingkat perkembangan
Tiap individu tingkat perkembangannya berbeda

Menurut Maramis (1999), ada empat sumber atau penyebab stress psikologis, yaitu:
a. Frustasi
Hal ini timbul karena kegagalan dalam mencapai tujuan selain itu adanya aral
melintang. Frustasi sendiri ada yang bersifat intrinsik dan frustasi ekstrinsik.
b. Koflik
Hal ini dapat terjadi karena seseorang tidak mampu memilih antara dua atau lebih
macam keinginan, kebutuhan atau tujuan.
c. Tekanan
Timbul karena adanya tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Tekanan ini dapat berasal
dari individu dan luar individu.
d. Krisis
Krisis adalah suatu keadaan yang terjadi secara mendadak. Hal ini dapat menimbulkan
terjadinya stress.

3. Penggolongan Stress
Apabila ditinjau dari penyebab stress, menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (1990),
dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Stress fisik
Disebabkan oleh adanya suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah,
suara amat bising, sinar yang terlalu terang atau tersengat arus listrik.
b. Stress kimiawi
Disebabkan oleh asam basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormon atau gas.
c. Stress mikrobiologik
Disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang dapat menimbulkan penyakit.
d. Stress fisiologik
Disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ atau sistemik sehingga
menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.
e. Stress proses pertumbuhan dan perkembangan
Disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga
tua.
f. Stress psikis atau emosional
Disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, sosial, budaya atau keagamaan.

Sedangkan menurut Brench Grand (2000), stress ditinjau dari penyebabnya hanya
dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Penyebab makro
Menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti: kematian, perceraian, pensiun,
luka batin dan kebangkrutan.
2. Penyebab mikro
Menyangkut peristiwa kecil dalam kehidupan sehari-hari, seperti: pertengkaran rumah
tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akan dimakan dan antri.

4. Tahapan Stress
Menurut Dr.Robert J.Van Amberg (1979) sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dadang
Hawari (2001), bahwa tahapan stress adalah sebagai berikut:
a. Stress tahap pertama (paling ringan)
Stress yang disertai dengan perasaan nafsu bekerja yang besar dan berlebihan,
mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki dan
penglihatan menjadi tajam.

b. Stress tahap kedua


Stress yang disertai keluhan, seperti bangun pagi badan tidak tersasa segar dan
merasa letih, lekas capek pada saat menjelang sore hari, lambung atau perut tidak
nyaman, jantung berdebar, otot tengkuk dan punggung menjadi tegang. Hal ini
disebabkan karena cadangan tenaga yang tidak memadai.
c. Stress tahap ketiga
Tahapan stress dengan keluhan, seperti defekasi yang tidak teratur, otot semakin
tegang, emosional, imsomnia, mudah terjaga dan sulit untuk tidur kembali, bangun
terlalu pagi, koordinasi tubuh terganggu dan mau jatuh pingsan.
d. Stress tahap keempat
Tahapan stress dengan keluhan, seperti tidak mampu bekerja sepanjang hari (loyo),
aktivitas pekerjaan terlalu sulit dan menjenuhkan, kegiatan rutin terganggu dan
gangguan pada pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat
menurun, serta dapat menimbulkan ketakutan serta kecemasan.
e. Stress tahap kelima
Tahapan stress yang disertai dengan kelelahan secara fisik dan mental,
ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan
pencernaan berat, meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung dan panik.
f. Stress tahap keenam
Tahapan stress dengan tanda-tanda seperti jantung berdebar keras, sesak nafas, badan
gemetar, dingin dan keluar banyak keringat.

5. Reaksi Tubuh Terhadap Stress


Menurut Dadang Hawari (2001) bahwa dampak dari stress sendiri dapat mengenai
hampir seluruh sistem tubuh, seperti hal-hal berikut:
a. Perubahan pada warna rambut dari hitam menjadi kecoklat-coklatan, ubanan atau
kerontokan.
b. Gangguan pada penglihatan.
c. Tinitus (pendengaran berdering).
d. Daya mengingat, konsentrasi dan berpikir menurun.
e. Wajah nampak tegang, serius, tidak santai, sulit senyum dan kerutan pada kulit dan
wajah.
f. Bibir dan mulut terasa kering dan tenggorokan terasa tercekik.
g. Kulit menjadi dingin atau panas, banyak berkeringat, biduran dan gatal-gatal.
h. Nafas terasa berata dan sesak.
i. Jantung berdebar-debar, muka merah dan pucat.
j. Lambung mual, kembung atau pedih.
k. Sering berkemih.
l. Otot sakit, seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang.
m. Kadar gula meninggi.
n. Libido menurun atau meningkat.

6. Reaksi Psikologis Terhadap Stress


a. Kecemasan
Respons yang paling umum merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri dengan
suatu penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan adalah emosi yang tidak
menyenangkan dengan istilah kuatir, tegang, prihatin, takut seperti jantung berdebar-
debar, keluar keringan dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan susah tidur.
b. Kemarahan dan agresi
Perasaan jengkel sebagai respons terhadap kecenasan yang dirasakan sebagai
ancaman. Merupakan reaksi umum lain terhadap situasi stress yang mungkin dapat
menyebabkan agresi.
c. Depresi
Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat. Terkadang disertai
rasa sedih,
7. Cara Mengedalikan Stress
Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam meyelesaikan masalah, menyesuaikan
diri dengan keinginan yang akan dicapai dan respons terhadap situasi yang menjadi
ancaman bagi individu.
Cara yang dapat dilakukan adalah :
a. Individu
1). Kenali diri sendiri
2). Turunkan kecemasan
3). Tingkatkan harga diri
4). Persiapan diri
5). Pertahankan dan tingkatkan cara yang sudah baik.
b. Dukungan sosial
1). Pemberian dukungan terhadap peningkatan kemampuan kognitif.
2). Ciptakan lingkungan keluarga yang sehat.
3). Berikan bimbingan mental dan spiritual untuk individu tersebut dari keluarga.
4). Berikan bimbingan khusus untuk individu.
Ada beberapa kiat untuk mengedalikan stress menurut Grand Brecht (2000),
diantaranya sebagai berikut:
a. Sikap, keyakinan dan pikiran kita harus positif, fleksibel, rasional dan adaptif
terhadap orang lain.

b. Mengendalikan faktor penyebab stress dengan jalan:

1). Kemampuan menyadari

2). Kemampuan untuk menerima

3). Kemampuan untuk menghadapi

4). Kemampuan untuk bertindak


c. Perhatikan diri anda, proses interpersonal dan interaktif, serta lingkungan anda.

d. Kembangkan sikap efisien

e. Relaksasi

f. Visualisasi

Selain kiat diatas ada beberapa teknik singkat untuk menghilangkan stress,
misalnya melakukan pernafasan dalam, mandi santai dalam bak, tertawa, pijat,
membaca, kecanduan positif (melakukan sesuatu yang disukai secara teratur),
istirahat teratur dan mengobrol.

B. BENCANA

1. Definisi Bencana (Disaster)

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia definisi bencana adalah


peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan ekologi, kerugian
kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang
bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar.

Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dikenal


pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana.
Bencana adalah peristiwa atau masyarakat rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa
nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah
penyakit.

Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau
antar komunitas masyarakat, dan teror. Sedangkan definisi bencana (disaster) menurut
WHO adalah setiap kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya
nyawa manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala
tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena.

Bencana adalah situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Tergantung pada cakupannya, bencana ini bisa merubah pola kehidupan dari kondisi
kehidupan masyarakat yang normal menjadi rusak, menghilangkan harta benda dan jiwa
manusia, merusak struktur sosial masyarakat, serta menimbulkan lonjakan kebutuhan dasar
(BAKORNAS PBP).

2. Jenis Bencana

1. Usep Solehudin (2005) mengelompokkan bencana menjadi 2 jenis yaitu:


Bencana alam (natural disaster) yaitu kejadian-kejadian alami seperti kejadian-kejadian
alami seperti banjir, genangan, gempa bumi, gunung meletus, badai, kekeringan, wabah,
serangga dan lainnya.
2. Bencana ulah manusia (man made disaster) yaitu kejadian-kejadian karena perbuatan
manusia seperti tabrakan pesawat udara atau kendaraan, kebakaran, huru-hara, sabotase,
ledakan, gangguan listrik, ganguan komunikasi, gangguan transportasi dan lainnya.

Sedangkan berdasarkan cakupan wilayah, bencana terdiri dari:

1. Bencana Lokal
Bencana ini biasanya memberikan dampak pada wilayah sekitarnya yang berdekatan.
Bencana terjadi pada sebuah gedung atau bangunan-bangunan disekitarnya. Biasanya
adalah karena akibat faktor manusia seperti kebakaran, ledakan, terorisme, kebocoran
bahan kimia dan lainnya.

2. Bencana Regional
Jenis bencana ini memberikan dampak atau pengaruh pada area geografis yang cukup
luas, dan biasanya disebabkan oleh faktor alam, seperti badai, banjir, letusan gunung,
tornado dan lainnya.
3. Fase-fase Bencana

Menurut Barbara Santamaria (1995), ada 3 fase dalam terjadinya suatu bencana, yaitu fase
preimpact, fase impact dan fase postimpact.

a. Fase preimpact merupakan warning phase, tahap awal dari bencana. Informasi didapat
dari badan satelit dan meteorologi cuaca. Seharusnya pada fase inilah segala persiapan
dilakukan baik oleh pemerintah, lembaga, dan warga masyarakat.
b. Fase impact merupakan fase terjadinya klimaks dari bencana. Inilah saat-saat dimana
manusia sekuat tenaga mencoba untuk bertahan hidup (survive). Fase impact ini terus
berlanjut hingga terjadi kerusakan dan bantuan-bantuan darurat dilakukan.
c. Fase postimpact adalah saat dimulainya perbaikan dan penyembuhan dari fase darurat,
juga tahap dimana masyarakat mulai berusaha kembali pada fungsi komunitas normal.
Secara umum dalam fase postimpact ini para korban akan mengalami tahap respon
psikologis mulai penolakan, marah, tawar-menawar, depresi hingga penerimaan.

4. Evolusi pandangan terhadap bencana


a. Pandangan Konvensional
Bencana merupakan sifat alam
Terjadinya bencana:
– kecelakaan (accident);
– tidak dapat diprediksi;
– tidak menentu;
– tidak terhindarkan;
– tidak terkendali.
b. Pandangan Ilmu Pengetahuan Alam
Bencana merupakan unsur lingkungan fisik yang membahayakan kehidupan manusia.
Karena kekuatan alam yang luar biasa. Proses geofisik, geologi dan hidrometeorologi.
Tidak memperhitungkan manusia sebagai penyebab bencana.
c. Pandangan Ilmu Terapan
Besaran (magnitude) bencana tergantung besarnya ketahanan atau kerusakan akibat
bencana. Pengkajian bencana ditujukan pada upaya meningkatkan kekuatan fisik
struktur bangunan untuk memperkecil kerusakan.
d. Pandangan Progresif
Menganggap bencana sebagai bagian dari pembangunan masyarakat yang ‘normal’.
Bencana adalah masalah yang tidak pernah berhenti. Peran sentral dari masyarakat
adalah mengenali bencana itu sendiri.
e. Pandangan Ilmu Sosial
Fokus pada bagaimana tanggapan dan kesiapan masyarakat menghadapi bahaya.
Ancaman adalah alami, tetapi bencana bukan alami. Besaran bencana tergantung
perbedaan tingkat kerawanan masyarakat.
f. Pandangan Holistik
Menekankan pada ancaman (threat) dan kerentanan (vulnerability), serta kemampuan
masyarakat dalam menghadapi risiko. Gejala alam menjadi ancaman jika mengancam
hidup dan harta-benda. Ancaman akan berubah menjadi bencana jika bertemu dengan
kerentanan.

C. Assessment Bencana
Indonesia merupakan salah satu negara yang tergolong rawan terjadinya bencana alam,
hal ini terkait dengan keadaan geografisnya yang terletak antara dua samudra besar,
berada diwilayah lempeng tektonik, dan dilewati oleh jalur gunung berapi. Kondisi ini
berpotensi menimbulkan bencana seperti tsunami, gunung meletus, banjir, longsor, dll.

1. Rapid Need Assessment pada Bencana


Salah satu bentuk pengumpulan data itu adalah Rapid Needs Assessment yang
merupakan serangkaian kegiatan dilakukan untuk medapatkan informasi dan data yang
berguna untuk melakukan tindakan intervensi pasca bencana yang dilakukan secara
cepat. Pengumpulan data ini dilakukan kurang dari 1 pekan setelah kejadian bencana,
sehingga dapat digunakan untuk mengambil keputusan segera.
Rapid needs assessment sudah menjadi komponen penting dari program bantuan pasca
bencana. Dengan adanya metode ini akan memungkinkan petugas kesehatan
masyarakat secara cepat mengidentifikasi dan memprioritaskan daerah yang
membutuhkan dan target sumber daya yang tepat.
Informasi yang dihasilkan oleh penilaian adalah aset dan komoditas yang baik.
Informasi ini harus digunakan untuk pengambilan keputusan penting, dan untuk
umpan balik. Tidak hanya sektor kesehatan saja, tapi juga dapat digunakan oleh sektor
lain. Saling tukar informasi adalah langkah pertama dalam koordinasi yang efektif,
dan diakui sebagai sumber informasi terpercaya , adalah cara terbaik bagi suatu
organisasi untuk menegaskan klaimnya ke koordinasi peran.
Assessment (penilaian) adalah identifikasi dan analisa atas sebuah situasi tertentu.
Assessment menjadi dasar tindakan relawan, termasuk pertolongan pertama.
a. Siklus Assessment
Bencana- rapid assessment- detail assessment- continual assessment
b. Tujuan dari Assessment
- Mengidentifikasi dampak suatu situasi
- Mengumpulkan informasi dasar
- Mengidentifikasi kelompok yang paling rentan
- Upaya mengobservasi situasi
- Mengidentifikasi kemampuan respons semua pihak yang terkait (pada saat
darurat)
- Mengidentifikasi jenis bantuan yang dibutuhkan (pada saat darurat)

c. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Assessment


- Daftar pertanyaan
- Komposisi anggota tim yang baik
- Sarana transportasi yang baik
- Kerangka waktu yang jelas
- Menggunakan bahasa lokal
- Kebutuhan darurat harus dapat dibedakan dari masalah yang memang telah ada
- Mempertimbangkan kesetaraan jender
- Tidak memberikan harapan
- Menghindari bias dalam membuat kesimpulan
- Membuat catatan
d. Metode Assessment
- Mengumpulkan dan mengobservasi data sekunder
- Observasi langsung di lapangan
- Menanyakan pendapat para ahli
- Mewawancarai lawan bicara yang kapabel
- Diskusi grup
- Survei
e. Perbedaan Assessment Cepat , Assessment Detil dan Assessment Continual

CONTINUAL
INDIKATOR RAPID ASSESMENT DETAIL ASSESSMENT
ASSESSMENT

Waktu 1 X24 Sekitar 1 bulan Informasi


Jam(Maks1 dikumpulkan secara
minggu) reguler berdasarkan
periode waktu
operasi
Akses Terbatas Tidak Memungkinkan Akses luas
Mendapatkan ada waktu yang mengunjungi sejumlah
Informasi cukup untuk lokasi dan wawancara
mengunjungi kepada sejumlah nara
seluruh lokasi dan sumber
berbicara dengan
nara sumber Atau
Situasi keamanan
yang mengambat
kegiatan dan
akses kepada
orang

Sumber Data sekunder, Data sekunder, Data sekunder,


Informasi pelayanan sosial sejumlah nara sumber nara sumber
(kesehatan,air sumber yang terpilih,
dll) LSM, petunjuk lain,
Pemerintah, relawan PMI
masyarakat yang
terkena dampak

f. Asumsi Yang Digunakan


- Tinggi Waktu yang digunakan tidak cukup.
- Asumsi didasari oleh pengalaman sebelumnya
- Rendah Waktu yang cukup memadai untuk mendapatkan informasi
- Menengah Asumsi didasari oleh petunjuk dan informasi, tetapi dapat
disesuaikan dengan sumber lainnya
g. Tim Assessment
- Berpengalaman melakukan assessment secara umum untuk berbagai jenis
bencana
- Berpengalaman melakukan assessment secara umum dan didukung oleh
orang yang memiliki kemampuan khusus
- Staff PMI yang melaksanakan kegiatan secara normal
h. Jenis Data :
- Data Primer: data-data yang diperoleh dari sumber-sumber terkait secara
langsung dengan kejadian bencana. Diperoleh melalui pengamatan
langsung, wawancara atau diskusi kelompok.
- Data Sekunder: data-data pendukung yang dapat melengkapi informasi
yang diperoleh dari dalam data primer. Diperoleh melalui dokumen resmi.
i. Pengamatan Langsung :
- Pengamatan langsung di lokasi bencana
- Lokasi vs wilayah
- Lakukan dengan lembar isian ASSESSMENT.
- Perhatikan hal – hal seperti: Masyarakat, pengungsian, air dan sanitasi 
sumber air, pembuangan, gudang, logistik, titik distribusi, fasilitas umum
yang masih ada (RS, pasar, sekolah, tempat ibadah), dan keamanan.
j. Wawancara :
- Wawancara perorangan
- Informan utama adalah: Orang yang mempunyai informasi yang
berkaitan, yang berkenan untuk diwawancarai, Orang yang memiliki
pengetahuan mengenai masalah yang terjadi.
- Siapkan pertanyaan sebelum melakukan wawancara
k. Diskusi Kelompok :
- Bentuk kelompok: bisa beragam, ataupun yang memiliki kesamaan
- Anggota 5 – 10 orang
- Siapkan bahan diskusi terlebih dahulu.
l. Data Sekunder :
- SEBELUM : Cari informasi sebanyak – banyaknya mengenai lokasi, serta
hal – hal lain yang berkaitan dengan bencana yang terjadi
- Di LOKASI : Cari informasi yang berasal dari: Data pemerintah, Data
bencana sebelumnya, Hasil sensus, Laporan – laporan yang sudah ada,
atau berita dari media.
m. Analisis Data :
- GIGO (Garbage in, Garbage Out) - Penyaringan hasil assessment. Mana
yang perlu, mana yang tidak perlu.
- Lengkapi data yang diperoleh berdasarkan wawancara, dengan apa yang
dilihat di lapangan.
- Triangulasi data - Cek silang data.
n. Beberapa hal yang dapat menghambat kegiatan assessment :
- Keterbatasan waktu, dan perubahan situasi yang tiba – tiba
- Kurangnya sumber daya manusia dan sumber daya lainnya
- Sulitnya berkoordinasi dengan lembaga – lembaga lain
- Kesulitan untuk bekerjasama dengan banyak orang, banyak pihak, dan
situasi darurat
- Area assessment yang seringkali sulit untuk dicapai, ataupun
membutuhkan waktu yang lebih lama
o. Hal-hal yang harus diperhatikan

No
Hal-hal yang harus diperhatikan selama menjalankan assessment
1. Perhatikan data yang sudah ditemukan oleh JANGAN beri pengharapan
sumber lain. atau janji-janji pada semua
pihak
2. Fokuskan pada kebutuhan yang darurat/ JANGAN abaikan sumber-
mendesak sumber yang tersedia
3. Dalam mengumpulkan data, mulailah dari pihak
berwenang lokal, kemudian cek silang dengan
masyarakat
4. Katakan pada semua pihak bahwa pekerjaan kita
hanyalah mengumpulkan data, dan keputusan
bukan diambil oleh kita

C. Pemberian treatment/terapi
Setelah dilakukan assessment dan korban bencana alam telah dibagi kedalam
kelompok-kelompok sesuai dengan jenis gangguan yang mereka alami dan berdasarkan
usia korban, maka tindakan psikolog selanjutnya adalah memutuskan terapi apa yang
sesuai untuk menangani gangguan psikologis tersebut agar gangguan psikologis tersebut
tidak berkepanjangan dan tidak berkembang menjadi lebih buruk. Terapi yang tepat
adalah menggunakan gabungan terapi kelompok dengan terapi yang lain. Ada berbagai
macam terapi yang bisa digabungkan dengan terapi kelompok, diantaranya yaitu terapi
person centered; terapi behavioral; terapi bermain (terutama untuk anak-anak); terapi
agama; terapi menulis; terapi musik; terapi kognitif behavioral; dll. Pemberian terapi ini
dilakukan untuk mengatasi konflik a-sadar klien (pendekatan psikoanalitik), membantu
penerimaan diri klien secara optimal (pendekatan humanistik dengan klien sebagai pusat
dalam proses terapi), mengintegrasikan perasaan-perasaan yang konflik (pendekatan
gestalt), mendapat makna kehidupan (pendekatan existensial), restrukturisasi pola piker
yang cenderung memojokkan diri sendiri (kognitif), mengajarkan keterampilan untuk
perilaku yang lebih efektif (behavioristic). Dalam melakukan terapi psikologis tersebut,
diharapkan psikolog klinis mampu :
a. Menjalin relasi menolong dengan korban bencana alam melalui pendekatan psikologis;
b. Mendengar aktif terhadap eksplorasi psikis yang dilakukan oleh korban bencana alam
melalui keluhan-keluhannya;
c. Menjalin kerja sama dengan korban bencana alam untuk mencari jalan keluar bagi
persoalan psikologis yang sedang mereka dihadapi, sekaligus meningkatkan optimasi
potensi fungsi mental mereka;
d. Mengajarkan keterampilan dalam mengatasi tekanan (stres) dan mengendalikan otonomi
para korban dalam meningkatkan efektivitas kehidupan mereka bersikap empatik, artinya
psikolog memasuki dunia pengalaman para korban secara utuh dan penuh, melihat dunia
mereka seperti mereka melihat dunianya , tanpa ada penilaian. Psikolog tetap netral dan
otonom; tidak kehilangan otonomi dan tidak hanyut dalam pengalaman itu (seperti dalam
simpati).
f. Membantu para korban untuk mengatur diri mereka sendiri, memilih prioritas dan
membuat perencanaan akan kehidupan mereka di masa depan.
g. Menggunakan bahasa non-verbal seperti sentuhan tangan, penumpangan tangan,
penggunaan minyak dan sebagainya untuk trauma, stress and distress releasing, bila
memungkinkan dan sesuai dengan budaya setempat.
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa dalam pemberian terapi seorang psikolog
harus memperhatikan faktor usia karena mengingat bahwa masing-masing kelompok
umur memiliki ciri khas dengan penanganan yang berbeda pula. Oleh karena itu, terapi
yang diberikan pun tidak bisa disamaratakan. Terapi untuk orang tua, remaja dan anak-
anak harus berbeda. Terapi untuk orang tua bisa berupa terapi kelompok yang
dikombinasikan dengan terapi terapi person centered, terapi agama, dan terapi kognitif
behavioral. Bentuk dari terapi tersebut bisa berupa briefing (penerangan ringkas) dan
debriefing (tanya jawab/ wawancara), stress relief exercise (latihan membebaskan diri
dari stress), dll. Menurut Prof Tian Oei, Ph.D (Senin, 31 Januari 2005), dalam
memberikan terapi tersebut seorang psikolog harus melakukan empowerment (member
kuasa) pada para korban bencana, agar mereka tidak helpless/bergantung pada seorang
psikolog. Jadi, tugas seorang psikolog hanyalah menunjukkan jalan yang harus mereka
tempuh dan meyakinkan mereka bahwa mereka dapat melakukannya. Contoh dari bentuk
terapi yang bisa dilakukan untuk orang tua adalah tanya jawab mengenai keluhan rasa
jenuh tinggal dikam pengungsi dengan menggunakan pendekatan person centered. Dari
tanya jawab tersebut seorang psikolog dapat memberikan penjelasan mengenai masalah
yang sebenarnya dialami korban, misalnya ternyata permasalahan pokok mereka adalah
kurangnya kegiatan yang dilakukan seperti memasak, sehingga para ibu-ibu bisa
melakukan kegiatan tersebut untuk membantu melupakan beban psikologis yang
menimpa mereka. Begitu juga dengan bapak-bapak bisa melakukan kerja bakti
membersihkan lingkungan sekitar misalnya. Tetapi tetap harus diingat bahwa seorang
psikolog hanya berfungsi sebagai supervisor, sehingga seorang psikolog harus
mengizinkan mereka untuk memutuskan apa yang ingin mereka lakukan.
Terapi untuk remaja juga bisa berupa terapi kelompok yang dikombinasikan dengan
terapi terapi person centered, terapi agama, dan terapi kognitif behavioral. Bentuk dari
terapi tersebut bisa berupa briefing (penerangan ringkas) dan debriefing (Tanya jawab/
wawancara), stress relief exercise (latihan membebaskan diri dari stress) dan juga berupa
sekolah darurat. Dalam sekolah darurat pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
terapi kelompok dan terapi agama. Sedangkan bentuk terapi yang lain yaitu briefing
(penerangan ringkas) dan debriefing (tanya jawab/ wawancara), stress relief exercise
(latihan membebaskan diri dari stress) bisa dilakukan pada saat liburan sekolah selama 18
jam dengan melibatkan guru-guru dari sekolah yang bangunannya hancur dan rusak
berat. Untuk mengefektifkan terapi tersebut, seorang psikolog harus meningkatkan
ketrampilan dari guru-guru yang mengajar yaitu berupa ketrampilan psikologis untuk
menangani siswa korban gempa, keterampilan pengelolaan diri (self-management),
memahami kharakteristik siswa korban gempa baik dilihat dari budaya dan psikologis,
ketrampilan untuk mendeteksi trauma bagi siswa SMP dan SMA. Sedangkan terapi untuk
anak-anak bisa berupa terapi kelompok yang dikombinasikan dengan terapi bermain dan
terapi agama. Bentuk dari terapi tersebut bisa berupa sekolah darurat. Menurut Dra Avin
Fadila Helmi Msi secara umum sekolah darurat tersebut menyelenggarakan proses belajar
mengajar dengan memperhatikan aspek lingkungan, psikis, sosial, dan tetap mengacu
pada konsep religiusitas. Persiapan proses pembelajaran di sekolah darurat itu disusun
dalam tiga fase, yakni menyiapkan model, modul, dan pematangan relawan yang akan
diterjunkan di lapangan. Selain melalui sekolah darurat tersebut beberapa kegiatan yang
bisa diterapkan untuk mengurangi beban psikologis anak adalah menghimpun anak-anak
dan mendongeng untuk menghibur mereka, serta mengajak mereka bermain untuk
melupakan trauma. Hal ini bisa dilakukan dengan membentuk Trauma Center seperti
yang telah dilakukan oleh Kak Seto bersamasama dengan pemerintah. Pendirian Trauma
Center tersebut ditujukan untuk menangani gangguan traumatis pada anak-anak yang
menjadi korban bencana alam. Menurut Kak Seto cara yang paling cepat membantu
menyembuhkan trauma anak adalah dengan memberikan cinta, perhatian, dan dunia
indah untuk bermain.
Perlu diingat bahwa kehidupan anak-anak tidak bisa lepas dari orang tuanya. Oleh karena
itu, selain pemberian terapi tersebut Dr Michael Wasserman dari Ochsner Clinic
Foundation di New Orleans, Louisiana, menghimbau kepada para orang tua agar mereka
berhati-hati dalam memberikan informasi mengenai bencana alam tersebut kepada anak
anak karena kemungkinan besar secara emosi anak-anak masih belum mampu
"mengunyah"-nya. Selain itu, Wasserman juga menghimbau agar orangtua jangan
menghindari topik tersebut, tetapi menyampaikannya dalam bahasa yang sesuai untuk
umur anak. Orang tua seharusnya mendengarkan dan menjawab pertanyaan yang
diajukan anak, namun orang tua sebaiknya tidak terlalu banyak memberikan informasi.
Menurut Wasserman orang dewasa dapat menenteramkan hati anak tanpa harus terlalu
banyak memperingatkan (over-alarming). Selain metode terapi yang telah dijelaskan di
atas, dr G Pandu Setiawan, SpKJ, (Direktur Pelayanan Medik dan Gigi Spesialis Depkes)
menyatakan bahwa penanganan korban bencana alam juga perlu diupayakan melalui
media intervensi seperti pemberian obat-obatan serta metode pendampingan yang
dilakukan relawan sampai para korban
merasa nyaman dan aman untuk melanjutkan hidup mereka lagi. Oleh karena itu, dalam
penanganan korban bencana alam seorang psikolog klinis harus bekerjasama dengan
pihak lain yaitu dokter, psikiater, perawat, pekerja sosial, petugas psiko-sosial, pemuka
agama, pemuka adat, tokoh masyarakat dan para relawan

D. Evaluasi program treatment/ terapi


Setelah dilakukan terapi pada korban bencana alam, maka tugas psikolog klinis
selanjutnya adalah melakukan evaluasi program terapi untuk melihat efek terapi yang
telah diberikan. Seorang tim psikolog harus mengevaluasi apakah terapi yang diberikan
kepada korban bencana alam sudah efektif atau masih perlu diperbaiki dan ditambah
dengan terapi yang lain. Oleh karena itu, tim psikolog harus selalu memantau bagaimana
perkembangan psikologis korban yang mendapat penanganan psikologis. Jika terapi yang
diberikan sudah membawa sedikit perubahan ke arah positif maka tim psikolog harus
menjalankan cvfterapinya secara intensif sampai korban bencana benar-benar mampu
untuk membangun keseimbangan psikologis yang baru, sehingga psikolog bisa
meninggalkan lokasi bencana alam. Namun, jika terapi yang sudah diberikan masih
belum menghasilkan ke arah positif maka tim psikolog harus mencari penyebab
kegagalan terapi tersebut dan berusaha untuk mencari jalan keluarnya, misalnya dengan
menambah terapi yang lain.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Stress itu adalah gangguan yang berasal dari lingkungan atau pun penampilan individu
di dalam lingkungan itu yang menyebabkan berubahkan kebutuhan seseorang sehingga
dapat mengganggu keseimbangan individu di dalam lingkungan. Bencana merupakan
peristiwa yang mengakibatkan kerugian dalam aspek ekologi, ekonomi , psikologi dan lain
sebagainya,tentunya akan memberikan dapat stress dalam jumlah besar kepada individu.
Agar stress tersbut dapat ditanggulangi dengan sebaik-baiknya seharusnya kita dapat
melakukan assessment bencana secara rinci, tepat, cepat , akurat serta dapat memilih
metode assessment bencana yang sesuai dengan keadaan di lapangan. Dari sana kita akan
mampu memberikan terapi/treatment yang tepat untuk para korban bencana, dapat
dikelompokan sesuai dengan gangguan psikologisnya dan umur. Dalam memberikan terapi
psikolog harus dapat menjalin relasi, kerjasama, pendengar yang aktif, melatih
keterampilan korban, dan bahasa non verbal. Yang terakhir psikolog juga harus melakukan
evaluasi terhadap terapi yang diberikan agar mengetahui kemajuan psikologis korban
bencana, apakah metode terapi yang diberikan sudah sesuai dan menambah perkembangan
psikologis para korban bencana.
2. Saran
Bagi mahasiswa keperawatan agar materi ini benar-benar dipahami karena akan
membantu juga dalam memberikan pelayanan di masyarakat ketika terjadi bencana
sehingga kita mampu mengimplementasikan materi ini .

DAFTAR PUSTAKA

Dhe Josmorha Riddo. 2014. Definisi Bencana. (Online) Available:


https://www.scribd.com/doc/70339439/Definisi-Bencana#download (3 Desember 2015)

Keliat, B. A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi I. Jakarta: EGC.

Pujiono. 2007. Paragdima Penanggulangan Bencana. Jakarta:

Potter, Perry. 2007. Basic Nursing Essentials for Practise. 6th Ed. Canada: Mosby Elsevier.

UURI. 2007. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2007


TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA

Wisesa Lintang. 2013. Modul KSR Assessment Bencana. (online). Available:


https://www.scribd.com/doc/207495062/Modul-KSR-8-Assessment-Bencana#download

STRESS REALESE PASKA BENCANA


OLEH

KELOMPOK 4

NI PUTU DIAN APRILIA (P07120215002)


NI PUTU PUTRI ASMARIANI (P07120215004)
NI PUTU SUDIANI (P07120215006)
TRIANA SAVITRI (P07120215008)
LUH GEDE DWIRINI NOVITHA PUTRI (P07120215012)
NI PUTU CANDRA DEWI (P07120215028)
NI MADE WHASU PRAMESTY (P07120215030)
NI LUH NILAM SHANTI CAHYANI (P07120215033)
I GEDE PERI ARISTA (P07120215036)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2017
1