Anda di halaman 1dari 92

KARYA ILMIAH NERS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PASCA OPERASI


SECTIO CAESAREA DENGAN MASALAH KEPERAWATAN NYERI AKUT
DI RUANG GARDENIA RUMAH SAKIT PMI BOGOR TAHUN 2019

Karya Ilmiah Ners Ini Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Ners (Ns)

Disusun oleh :
ERNIK TRI RAHAYU NINGSIH
18180100006

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU
JAKARTA 2019

i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya Ilmiah Ners ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang
dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Ernik Tri Rahayu Ningsih

NPM : 18180100006

Tanda Tangan :

Tanggal : Mei 2019

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Karya Akhir Ilmiah Ners ini diajukan oleh :

Nama : Ernik tri Rahayu Ningsih


NPM : 18180100006

Judul : Asuhan Keperawatan Pada Klien Pasca Operasi Sectio Caesarea


Dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut Di Ruang Gardenia
Rumah Sakit PMI BOGOR Tahun 2019

Program Study Ilmu Keperawatan, Profesi Ners

Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian
persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners pada Program Study Ilmu
Keperawatan, Profesi Ners Sekolah Tinggi Indonesia Maju

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Ns. Rina Afrina, S. Kep ( )

Penguji : Ns. Ruswanti, Sp. Kep. Mat ( )

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : Mei 2019

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan nikmat-
Nya yang telah Dia berikan sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah
ners yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Pasca Operasi Sectio
Caesarea Dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut Di Ruang Gardenia Rumah
Sakit PMI BOGOR Tahun 2019.” Tujuan penyusunan penelitian ini untuk memenuhi
syarat kelulusan program profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia
Maju Jakarta.

Pada penyusunan laporan ini banyak pihak-pihak yang secara langsung


maupun tidak langsung telah memberikan sumbangsih baik berupa tenaga, pikiran,
dorongan moril, maka kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan
terimakasih kepada :

1. Dr. Dr. dr. H. M. Hafizurrachman, MPH selaku Ketua Umum Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM).

2. Direktur Dr. Hj. Yuliantini, MARS selaku direktur RS PMI Bogor.

3. Ns. Eka Rokhmiati, S.Kep, M.Kep, selaku Ketua Jurusan Program Studi
Sarjana Keperawatan.
4. Ns. Bambang Suryadi, S.Kep, M. Kes, Selaku koordinator pendidikan profesi
Ners.

5. Ns. Rina Afrina, S.Kep, sebagai pembimbing yang selalu memberikan


waktunya, masukan dan dukungan penuh bagi penulis serta selalu sabar dalam
menghadapi penulis.

6. Ns. Ruswanti, Sp. Kep. Mat sebagai penguji yang memberikan masukan dan
ilmunya untuk peneliti.

iv
7. Teristimewa orang tua ku yang tak berhenti memberikan doa terbaik,
Suamiku, anak-anakku tersayang Naila Rifaya Meherunissa dan Faeyza
Nizzar Murtaza yang selalu rela melepaskan waktu bersama dan selalu
memberikan support, kekuatan, doa yang terindah.
8. Semua klien dan keluarga yang telah bekerjasama dengan baik selama asuhan
keperawatan.
9. Teman-teman seangkatan peneliti yang saling memberikan dukungan serta
motivasi dalam belajar.
10. Kawan–kawan di RS PMI BOGOR, khususnya Ruang Seruni yang selalu
memberikan dukungan dan pengertian selama proses belajar.
11. Semua pihak yang tidak penulis cantumkan yang telah bersedia membantu
dalam penyusunan karya tulis ini. Besar harapan penulis semoga Allah yang
membalas dan menambahkan nikmat bagi kita semua, Aamiin.

Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk kesempurnaan karya tulis ini di masa yang akan datang. Penulis
berharap karya tulis ini dapat berguna bagi semua pihak. Semoga AAlah SWT selalu
memberikan rahmat dan karunia untuk kita semua.

Jakarta, Mei 2019

Penulis

v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI LAPORAN
AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Sekolah Tinggi Indonesia Maju, saya yang bertanda tangan
dibawah ini:
Nama : Ernik Tri Rahayu Ningsih
NPM : 1818010006
Program Studi : Program Profesi Ners, Ilmu Keperawatan
Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir Ners

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Sekolah Tinggi Indonesia Maju Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive
Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
“Asuhan Keperawatan Pada Klien Pasca Operasi Sectio Caesarea Dengan Masalah
Keperawatan Nyeri Akut Di Ruang Gardenia Rumah Sakit PMI BOGOR Tahu2019”

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan).Dengan Hak Bebas Royalti


NonEksklusif ini Sekolah Tinggi Indonesia Maju berhak menyimpan, mengalih
media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan
memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di: Jakarata


Pada Tanggal: Mei 2019
Yang Menyatakan

(Ernik Tri Rahayu Ningsih)

vi
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU

Title : Nursing care for post operative clients sectio caesarean with pain
nursing problems in the room at the client in the surgery sectio
caesarea with the problem of nursing an acute pain at Gardenia ward
PMI Bogor Hospital in 2019
Name : Ernik Tri Rahayu Ningsih
NPM : 18180100006
ABSTRACT

Sectio Caesarea is an effort to the handling of the prosess of labor with complications aims
to save the mother and baby. Action section caesarea cause changes in the continuity of skin
tissue and will cause a pain response. Pain is a sensory experience that is brought by the
stimulus as a result of tissue damage and perceived in different of each individual. Acute pain
after surgery can cause a reaction of physical or psychological on the mother post partum
such as the mobilization of distracted, lazy activity, insomnia to impact on the care of the
baby. So need a way to control the pain so that the mother post partum quickly adapt to the
pain and accelerate healing. Intervention non pharmacological may be performed with the
relaxation of the handheld finger. handheld finger relaxation technique is an easy way to
manage emotions and develop emotional intelligence. Handheld finger relaxation technique
helps the body, mind and soul to achieve relaxation which will naturally triggers the release
of endhorphins which is a natural analgesic so pain is reduced. There is a significant
difference between before and after relaxation of the handheld finger on the mother post
section caesarea to lose the pain scale. It is recommended the nurse provides intervention
handheld finger relaxation to cope with pain in patients post surgery, especially post sectio
caesarea.

keywords : Sectio caesarea, the techniques relaxation handheld fingers, acute


pain

Biliography : 2007 - 2018

vii
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU

Judul : Asuhan Keperawatan Pada Klien Pasca Operasi Sectio Caesarea


Dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut Di Ruang Gardenia
Rumah Sakit PMI BOGOR Tahun 2019

Nama : Ernik Tri Rahayu Ningsih

NPM : 18180100006

ABSTRAK

Sectio Caesarea merupakan upaya penanganan proses persalinan dengan komplikasi yang
bertujuan menyelamatkan ibu dan bayi. Tindakan sectio caesarea menyebabkan terjadinaya
perubahan kontinuitas jaringan kulit dan akan menimbulkan respon nyeri.Nyeri merupakan
pengalaman sensori yang dibawa oleh stimulus sebagai akibat adanya kerusakan jaringan
dan di persepsikan secara berbeda –beda dari setiap individu. Nyeri akut pasca operasi dapat
menimbulkan reaksi fisik maupuan psikologis pada ibu post partum seperti mobilisasi
terganggu, malas beraktifitas, susah tidur hingga berdampak pada perawatan pada bayi.
Sehingga perlu cara mengontrol nyeri agar ibu post partum cepat beradaptasi dengan nyeri
dan mempercepat penyembuhan. Intervensi non farmakologi dapat dilakukan dengan
relaksasi genggam jari. Teknik relaksasi genggam jari merupakan cara mudah untuk
mengelola emosi dan mengembangkan kecerdasan emosional. Teknik relaksasi genggam jari
membantu tubuh, pikiran, dan jiwa untuk mencapai relaksasi dimana secara alamiah akan
memicu pengeluaran hormon endorfin yang merupakan analgesik alami sehingga nyeri
berkurang. Ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi
genggam jari pada ibu post sectio caesarea untuk menurunkan skala nyeri. Disarankan
perawat memberikan intervensi relaksasi genggam jari untuk mengatasi nyeri pada pasien
pasca operasi khususnya post sectio caesarea.

Kata kunci : Sectio caesarea, Teknik relaksasi genggam jari, Nyeri akut

Daftar pustaka : 2007 - 2018

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………………...…... I
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ……………………………… ii
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................. iii
KATA PENGANTAR ……………………………………………………..……. iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................... vi
ABSTRAK............................................................................................................ vii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. Ix
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………………………………………………………... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 6
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................. 6
1.4 Manfaat Penulisan................................................................................ 7
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Persalinan.......................................................................................... 8
2.1.1 Definisi Sectio Caesarea................................................................... 9
2.1 2 Indikasi Sectio Caesarea……………………………………….….. 9
2.1.3 Kontra Indikasi……………………………………………….……. 12
2.1.4 Fatofisiologi……………………………………………………….. 12
2.1.5 Komplikasi……………………………………………………....… 14
2.1.6 Teknik Sectio Caesarea……………………………………….…... 15
2.1.7 Penatalaksanaan Sectio Caesarea…………………………………. 18
2.1.8 Intervensi Keperawatan…………………………………………… 19
2.2 Nyeri………………………………………………………………. 24
2.2.1 Definisi…………………………………………………………….. 24
2.2.2 Etiologi…………………………………………………………….. 25
2.2.3 Patofisiologi……………………………………………………….. 26

ix
2.2.4 Faktor faktor Yang Mempengaruhi ................................................... 32
2.2.5 Manifestasi Klinis .............................................................................. 36
2.2.6 Pengkajian Nyeri ............................................................................... 37
2.2.7 Intervensi ........................................................................................... 40
2.2.8 Mekanisme Ambulasi Dini Untuk Menurunkan Skala Nyeri ……. 41
BAB III ANALISIS KASUS
3.1 Pengkajian ............................................................................................. 45
3.2 Analisa Data .......................................................................................... 53
3.3 Masalah Keperawatan ........................................................................... 57
3.4 Intervensi Keperawatan....................................................................... 59
3.5 Implementasi Keperawatan ................................................................... 64
3.6 Evaluasi ................................................................................................. 67
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Profil Lahan Praktik .............................................................................. 71
4.2 Anlisis Masalah Keperawatan Dengan Konsep Terkait ..................... 73
4. 3 Analisis Intervensi Keperawatan Dengan konsep dan Penelitian
Terkait.................................................................................................. 75
4.3 Implikasi Asuhan Keperawatan Pada Klien Post Sectio Caesarea
Dengan Nyeri....................................................................................... 80
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan........................................................................................... 81
5.2 Saran..................................................................................................... 82
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

x
BAB 1

PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG

Proses persalinan merupakan proses membuka dan menipisnya serviks,

dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir (Prawirohardjo,

2009). Pada proses persalinan tidak semua janin dapat lahir secara normal

dikarenakan beberapa faktor antara lain; Chepalo pelvik disprpotion, ibu

dengan pre eklamsia berat yang merupakan suatu kesatuan penyakit yang

disebabkan oleh kehamilan dan merupakan penyebab kematian maternal dan

perinatal, KPD (ketuban pecah dini), malposisi janin, plasenta previa, diabetes

pada ibu. Salah upaya untuk menyelamatkan ibu dan janin pada waktu proses

persalinan adalah dengan tindakan operasi Sectio caesarea. Sectio Caesarea

adalah jalan keluar untuk penanganan persalinan dengan komplikasi

(Muhtar, 2011).

Menurut (WHO, 2015) standar rata-rata Sectio Caesarea di sebuah

Negara adalah sekitar 5-15% dari semua proses persalinan. Peningkatan

persalinan dengan Sectio Caesarea di seluruh negara terjadi semenjak 2007-

2008 yaitu 110 per perkelahiran di seluruh asia ( Gibbsons 2010 dalam

Novianti, 2017). Di rumah sakit pemerintah rata-rata 11 % dan di rumah sakit

swasta bisa lebih dari 30 % (Dewi, 2007). Di Indonesia angka kejadian Sectio

1
2

Caesarea terus meningkat baik di rumah sakit pemerintah maupun rumah

sakit swasta. Selain sebagai tindakan untuk mengurangi terjadinya komplikasi

Sectio Caesarea juga menjadi alternative persalinan tanpa indikasi medis

karena di anggap mudah dan nyaman. Menurut data survey nasional pada

tahun 2007 adalah 921.000 dari 4.039.000 persalinan (22,8%) dari seluruh

persalinan (Riskesdas, 2010).

Sectio Caesarea akan mengakibatkan terjadinya perubahan kontinuitas

jaringan dikarenakan adanya pembedahan (Whalley, 2008). Sectio Caesarea

dapat menimbulkan keluhan nyeri akut. Rasa nyeri akut merupakan

pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan berkaitan dengan

kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang digambarkan sebagai

kerusakan (International Association for the study of pain); awitan yang tiba-

tiba atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, dengan berakhirnya

dapat diantisipasi atau diprediksi, dan dengan durasi kurang dari 3 bulan

(Heather, 2018). Nyeri akut diawali sebagai pesan yang diterima oleh saraf-

saraf perifer. Zat kimia (substansi P, bradikinin, prostaglandin) dilepaskan,

kemudian menstimulasi saraf perifer membantu menghantarkan pesan nyeri

dari daerah yang terluka ke otak. Sinyal nyeri dari daerah yang luka berjalan

sebagai impuls elektrokimia di sepanjang nervus ke bagian dorsal spinal cord.

Pesan kemudian dihantarkan ke thalamus, pusat sensoris di otak dimana

sensasi seperti rasa panas dingin, nyeri dan sentuhan pertama kali
3

dipersepsikan. Pesan kemudian dihantarkan ke kortek dimana intensitas dan

lokasi nyeri dipersepsikan. Ketidaknyamanan akan nyeri dirasakan pada

pasien dapat menyebabkan risiko komplikasi pada ibu maupun pada bayi. Ibu

dengan Post Sectio Caesarea merasakan nyeri yang akan berdampak pada

keterbatasan dalam mobilisasi dan dapat menyebabkan deep vein thrombosis

potensi penurunan otot-otot perut, Activity Daily Living (ADL) terganggu,

bonding attachment dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) tidak terpenuhi. Hal ini

mengakibatkan respon ibu terhadap bayi menjadi berkurang, sehingga ASI

sebagai makanan terbaik bagi bayi yang bermanfaat bagi ibu dan bayi tidak

dapat diberikan secara optimal (Purwandari, 2009 dalam Haniyah 2016).

Penatalaksanaan nyeri dalam menangani klien Post Sectio Caesarea

dapat dilakukan tindakan baik secara farmakologis maupun non farmakologis.

prosedur farmakologis dilakukan dengan pemberian analgesik yaitu untuk

mengurangi atau menghilangkan nyeri (Yulianto, 2008). sedangkan non

farmakaologis dapat diberikan antara lain; latihan relaksasi nafas progesif,

meditasi, guided imagery, operant conditioning, biofeedback, membina

hubungan terapeutik, sentuhan terapeutik, stimulus kutaneus, hypnosis, music,

accupressur, aromaterapi (Sulistyowati, 2009 dalam Haniyah 2016).

Salah satu teknik non farmakologis yang dapat digunakan adalah dengan

menggunakan teknik genggam jari. Menurut Liana (2008) dalam Pandita

(2011), teknik relaksasi genggam jari (finger hold) merupakan teknik relaksasi
4

dengan jari tangan serta aliran energi di dalam tubuh. Teknik relaksasi

genggam jari adalah suatu cara yang mudah untuk mengelola emosi dan

mengembangkan kecerdasan emosional. Disepanjang jari-jari tangan kita

terdapat saluran atau meridian energi yang terhubung dengan berbagai organ

dan emosi (Cane, 2013). Menggenggam jari sambil menarik nafas dalam-

dalam (relaksasi) dapat mengurangi dan menyembuhkan ketegangan fisik dan

emosi, karena genggaman jari tangan kita (Liana, 2008). Dalam keadaan

relaksasi secara alamiah akan memicu pengeluaran hormon endorphin,

hormon ini merupakan analgesik alami dari tubuh sehingga nyeri akan

berkurang. Beberapa penelitian penggunaan teknik relaksasi genggam jari

telah dilakukan, antara lain; penelitian Astutik (2017) teknik genggam jari

untuk mengurangi nyeri dilakukan pada pasien post sectio Caesarea di Ruang

Delima RSUD Kertosono didapatkan hasil 0,001 ≤ 0,05 menunjukkan ada

pengaruh teknik genggam jari terhadap penurunan nyeri, penelitian Linatu

Sofiyah (2014), hasil analisis menunjukkan perbedaan skala nyeri yang

signifikan setelah diberikan pegangan tangan teknik relaksasi antara kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol dengan nilai p 0,000 (p<α), dan penelitian

efektifitas relaksasi genggam jari terhadap penurunan skala nyeri post sectio

caesarea yang dilakukan Atun Raudatul (2015), hasil penelitian pada

kelompok kontrol nilai korelasi sebesar 0,41 dengan nilai R – square 18,6%

sedangkan kelompok eksperimen sebesar 0,671 dengan nilai R – square 45 %.


5

Menurut data persalinan dengan tindakan Sectio Caesarea di Rumah

Sakit PMI Bogor bulan Januari tahun 2018 sebanyak 153 pasien persalinan

dengan tindakan sectio caesarea dari 97 persalinan dengan indikasi yang

bervariasi. Penatalaksanaan pesalinan dengan Section Caesarea berpengaruh

pada respon psikologis pada ibu. Beberapa pasien dengan Post Sectio

Caesarea yang membatasi pergerakan di tempat tidur dengan alasan terasa

sakit bahkan bertambah sakit jika bergerak, kawatir mengenai luka operasi,

takut jahitan pada luka operasi akan terlepas, dan lain-lain. Penanganan nyeri

yang di gunakan menggunakan teknik farmakologi sesuai dengan program

terapi medik dan manajemen nyeri yang sering dilakukan perawat secara non

farmakologi dan adalah tehnik relaksasi nafas dalam dan distraksi.

Adanya fenomena tersebut menarik perhatian penulis untuk membuat

karya tulis tentang pengaruh teknik relaksasi menggenggam jari terhadap

penurunan nyeri kepada pasien Post Sectio Caesarea. Dengan edukasi terus

menerus yang diberikan perawat diharapkan latihan teknik relaksasi genggam

jari dapat sedikit demi sedikit dapat dilakukan oleh pasien sendiri sehingga

kejadian-kejadian tak terduga bisa dicegah sedini mungkin dan kejadian nyeri

dapat dikurangi atau ditekan.


6

1.2. Rumusan Masalah

Implementasi manajemen nyeri dengan teknik relaksasi genggam jari dari

beberapa penelitian dapat mengurangi keluhan nyeri pada pasien dengan Post

Sectio Saecarea, berdasarkan hal tersebut penulis mengaplikasikan

implementasi keperawatan managemen nyeri dengan teknik relaksasi

genggam jari, serta mengidentifikasi apakah implementasi tersebut dapat

mengurangi keluhan nyeri pada pasien Post Sectio Caesaera.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien Post Sectio Caesarea.

1.3.2. Tujuan Khusus

a. Melakukan pengkajian pada pasien Post Sectio Caesarea.

b. Mengidentifikasi masalah keperawatan pada pasien Post Sectio

Caesarea.

c. Membuat intervensi keperawatan pada pasien Post Sectio Caesarea,

dengan tehnik relaksasi genggam jari.

d. Mengaplikasikan tehnik relaksasi genggam jari pada pasien Post

Sectio Caesarea.

e. Mengevaluasi pengaruh tehnik relaksasi genggam jari pada pasien

Post Sectio Caesare


7

1.4. Manfaat Penulisan

1.4.1 Bagi Ilmu Keperawatan

a. Sebagai bahan masukan bagi bidang Keperawatan, khususnya

Keperawatan Maternitas dalam memberikan asuhan keperawatan

pada pasien yang mengalami nyeri Post Sectio Caesarea.

b. Sebagai bahan masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan

khususnya tentang pengaruh latihan relaksasi genggam jari terhadap

pasien Post Sectio Caesarea yang mengalami nyeri serta dapat

digunakan sebagai bahan pustaka atau bahan perbandingan untuk

penelitian selanjutnya.

1.4.2 Bagi Peneliti

Pengalaman yang berharga bagi peneliti untuk menambah wawasan,

pengetahuan dan pengalaman serta mengembangkan diri khususnya

dalam bidang penelitian keperawatan maternitas.

1.4.3 Bagi Perawat

Pengetahuan yang bermanfaat bagi perawat untuk memberikan

intervensi keperawatan manajemen nyeri berupa latihan relaksasi

genggam jari kepada pasien Post Sectio Caesarea.

1.4.4 Bagi Masyarakat

Pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat untuk dapat melakukan

latihan relaksasi genggam jari sedini mungkin untuk menurunkan rasa

nyeri pasca operasi khususnya Post Sectio Caesara.


BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1. Persalinan

2.1.1 Definisi

Persalinan adalah proses dimana janin, plasenta dan selaput ketuban

keluar dari uterus ibu (Depkes, 2008). Sedangkan menurut Sumarah (2009),

persalinan merupakan proses membuka serta menipisnya serviks dan janin

turun ke luar jalan lahir. Menurut Manuaba (2008), ada beberapa teori

penyebab persalinan antara lain; 1) Teori kadar progesteron yang berfungsi

untuk mempertahankan kehamilann semakin tua kehamilan semakin

menurun sehingga otot rahim mudah dirangsang oleh oksitosin; 2) Teori

Oksitosin dimana menjelang persalinan oksitosin semakin meningkat

sehingga akan merangsang terjadinya persalinan; 3) Teori regangan otot

rahim, meregangnya otot rahim dalam batas tertentu akan menimbulkan

kontraksi persalinan; 4) Teori Prostaglandin, banyak dihasilkan oleh lapisan

dalam rahim yang diduga juga akan menyebabkan kontraksi rahim.

Menurut Sumarah (2009), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi

keberhasilan persalinan, antara lain; 1) Passage (jalan lahir) yang terdiri dari

panggul ibu; 2) Passanger (janin dan plasenta) yang berhubungan dengan

presentasi, letak, sikap dan posisi janin; 3) Power yaitu kemapuan ibu

melakukan kontraksi involunter maupun involunter secara bersamaan untu

8
9

mengeluarkan janin dan plasenta dari uterus ; 4) Posisi ibu yang

mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan; 5) Psikologis

dimana tingkat kecemasan wanita selama bersalin akan meningkat. Jenis-

jenis persalinan menurut Manuaba (2008) antara lain; persalinan spontan

yang berlangsung dengan tenaga sendiri, persalinan buatan dengan

rangsangan sehingga terdapat kekuatan untuk persalinan, dan persalinan

anjuran yaitu persalinan yang tidak dimulai sendiri tetapi dengan tindakan

Sectio Caesarea yang bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayi dengan

indikasi tertentu.

Sectio Caesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan

melalui insisi pada dinding perut dan rahim dengan saraf rahim dalam

keadaan utuh serta berat diatas 500 gram (Mitayani, 2009). Sectio Caesarea

adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara melahirkan janin

dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut

atau vagina (Gurusinga, 2015).

2.1.2 Indikasi Section Caesarea

A. Indikasi Sectio Caesarea menurut Rasjidi (2009) antara lain :

1. Indikasi Mutlak

a). Indikasi Ibu

(1). Panggul sempit absolut.

(2). Kegagalan melahirkan secara normal karena kurang adekuat

stimulasi.
10

(3) Tumor-tumor jalan lahir yang membuat obtruksi.

(4) Stenosis serviks atau vagina.

(5) Plasenta previa.

(6) Disproporsi sefalopelvik.

(7) Ruptur uteri membakat.

b). Indikasi Janin

(1) Kelainan letak.

(2) Gawat janin.

(3) Prolapsus plasenta.

(4) Perkembangan bayi yang terhambat.

(5) Mencegah hipoksia janin, misalnya karena pre eklamsia.

c). Indikasi Relatif

(1) Riwayat Seksio Caesarea sebelumnya.

(2) Presentasi bokong.

(3) Distosia.

(4) Pre eklamsia berat, penyakit kardiovaskuler, dan diabetes.

(5) Ibu dengan HIV positif sebelum inpartu.

(6) Gemeli, Sectio Caesarea di anjurkan :

(1). Bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu.

(2). Bila terjadi interlock.

(3). Distosia oleh karena tumor.

(4). IUFD (Intra Uterine Fetal Death).


11

d). Indikasi Sosial

(1). Wanita yang takut melahirkan berdasarkan pengalaman sebelumnya.

(2). Wanita yang ingin Sectio Caesarea elektif karena takut bayinya mengalami

cidera atau asfiksia selama persalinan atau mengurangi risiko kerusakan

dasar panggul.

(3). Wanita yang takut perubahan pada tubuhnya atau sexuality image setelah

melahirkan.

2. Indikasi Sectio Caesarea Ketuban Pecah Dini

Menurut manuaba (2009) salah satu penyebab dilakukan tindakan Sectio

Caesarea adalah ketuban pecah dini. Penyebab ketuban pecah dini belum di

ketahui secara pasti. preventif tidak dapat dilakukan kecuali dalam usaha menekan

infeksi. Adapun penyebab ketuban pecah dini karena faktor infeksi, berkurangnya

kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uteri pada tri semester ke dua

serviks inkompeten (berkontraksi), selaput ketuban yang terlalu tipis, prolaps tali

pusat, mal presentasi janin dan uterus yang menegang berlebihan. ketuban pecah

dini terjadi sebelum persalinan berlangsung.

Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan

dengan penyakit, kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai

terjadi sepsis yang akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas perinatal.

Selain itu juga akan menyebabkan infeksi pada ibu (Muchtar, 2009).
12

2.1.3 Kontra Indikasi

Kontra indikasi dari Sectio Caesarea menurut Rasjidi (2009) adalah :

a. Janin mati

b. Syok

c. Anemia berat

4. Kelainan kongenital berat

d. Infeksi piogenik pada dinding abdomen

f. Minimnya fasilitas operasi Sectio Caesarea

2.1 4. Fatofisiologi

Adanya beberapa kelainan atau hambatan pada proses persalinan yang

menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta

previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture

uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks,

dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu

tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea.

Amnion terdapat pada plasenta dan berisi cairan yang didalamnya adalah

sifat dari kantung amnion adalah bakteriostatik yaitu untuk mencegah

karioamnionistis dan infeksi pada janin. Atau disebut juga sawar mekanik

terhadap infeksi. Setelah amnion terinfeksi oleh bakteri dan disebut kolonisasi

bakteri maka janin akan berpotensi untuk terinfeksi juga pada 25% klien cukup

bulan yang terkena infeksi amnion, persalinan kurang bulan terkena indikasi

ketuban pecah dini daripada 10% klien persalinan cukup bulan indikasi ketuban
13

pecah dini akan menjadi tahap karioamnionitis (sepsis, infeksi menyeluruh).

Keadaan cerviks yang baik pada kontraksi uterus yang baik, maka persalinan per

vagina dianjurkan, tetapi apabila terjadi gagal induksi cerviks atau induksi

cerviks tidak baik, maka tindakan sectio caesarea tepat dilakukan secepat

mungkin untuk menghindari kecacatan atau terinfeksinya janin lebih parah.

Uterus yang memiliki jaringan parut dianggap sebagai kontra indikasi untuk

melahirkan karena dikhawatirkan akan terjadi rupture uteri. Resiko ruptur uteri

meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya, klien dengan jaringan perut

melintang yang terbatas disegmen uterus bawah, kemungkinan mengalami

robekan jaringan parut simtomatik pada kehamilan berikutnya. Wanita yang

mengalami ruptur uteri beresiko mengalami kekambuhan , sehingga tidak

menutup kemungkinan untuk dilakukan persalinan pervaginam tetapi dengan

beresiko ruptur uteri dengan akibat buruk bagi ibu dan janin.

Proses pembedahan melalui tindakan insisi pada dinding abdomen akan

menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan, pembuluh darah dan saraf-saraf

sekitar daerah insisi. Hal tersebut akan merangsang pengeluaran histamine dan

prostaglandin, merangsang neuro reseptor dan akan menimbulkan perasaan nyeri

akut. Mobilitas fisik ikut terganggu akibat dari nyeri yang disarakan saat klien

beraktifitas. Rassa nyeri membuat klien cenderung mengurangi pergerakan.


14

2.1.5 Komplikasi

Komplikasi Sectio Caesarea menurut Chamberlian, dkk (2012) adalah:

a. Hemoragik

Hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah pada otak. Paling buruk dari

sudut insisi atau pada plasenta previa.

b. Infeksi

Infeksi memiliki 5 tanda utama yaitu calor (panas), dolor (nyeri), rubor

(kemerahan), tumor (bengkak), functiolaesa (gangguan fungsi). Antibiotik

profilaktis biasanya diberikan untuk Sectio Caesarea, terutama jika operasi

dilakukan setelah ketuban pecah.

c. Trombosis

Trombosis adalah proses koagulasi dalam pebuluh darah yang berlebihan

sehingga menghambat aliran darah atau bahkan menghentikan aliran darah.

Risiko 8 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelahiran melalui vagina.

Biasanya terjadi pada vena tungkai atau panggul. Risiko berupa embolisme

trombus pada pembuluh darah paru. Antikoagulan profilaktik diberikan

terutama pada ibu yang berisiko tinggi (usia diatas 35 tahun, anemia, riwayat

trombosit, obesitas)

d. Ileus

Ileus adalah keadaan dimana pergerakan kontraksi normal dinding usus

untuk sementara terhenti. Ileus ringan dapat berlangsung selama 1 hari


15

setelah operasi. Tangani secara konservatif dengan memberikan cairan

intravena dan jangan berikan cairan oral hingga ibu flatus.

f. Gangguan rasa nyaman

Rasa nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh, rasa nyeri timbul bila

ada jaringan rusak dan hal ini menyebabkan individu bereaksi dengan cara

memindahkan stimulus nyeri. Nyeri yang dirasakan klien merupakan gejala

sisa yang diakibatkan oleh operasi Sectio Caesarea yang dilakukan

(Tazkiyah, 2014).

g. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila

reperitonealisasi terlalu tinggi (Yuli, 2017).

h. Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang (Yuli, 2017).

2.1.6 Teknik Sectio Caesarea

Teknik Sectio Caesarea menurut Yuli (2017) adalah :

a. Sectio Transperitonealis Profunda

Sectio Caesarea transperitonealis profunda dengan insisi di segmen bawah

uterus. Insisi pada bawah rahim, bisa dengan teknik melintang atau

memanjang.

Keunggulan atau kelebihan cara ini anatara lain seabagai berikut:

1. Perdarahan insisi tidak banyak.

2. Penjahitan luka lebih mudah.

3. Penutupan luka dengan reperitonial yang baik.

4. Bahaya peritonitis tidak besar.


16

5. Tumpang tindih dari peritonial flap baik sekali untuk menahan penyebaran

isi uterus ke rongga peritonium.

6. Perut pada uterus umumnya kuat, sehingga bahaya ruptur uteri tidak besar di

kemudian hari.

Kelemahan atau kerugian adalah sebagai berikut:

a). Luka dapat menyebar ke kiri, kanan dan bawah, yang dapat menyebabkan

putusnya ateri uterina.

b). Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi.

b. Sectio Caesarea Klasik

Teknik ini dengan menginsisi uterus dibuat menurut panjangnya pada korpus.

Karena meningkatnya risiko ruptura dalam kehamilan berikutnya maka operasi ini

jarang dibenarkan.

Kerugian lainnya berupa adanya kesukaran dalam peritonealisasi.

Indikasi dilakukannya Sectio Caesarea klasik adalah :

1. Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandungan kencing untuk mencapai

segmen bawah rahim, misalnya karena adanya perlekatan-perlekatan akibat

pembedahan Sectio Caesarea yang lalu, atau adanya tumor-tumor di daerah

segmen bawah rahim.

2. Janin besar dan letak lintang.

3. Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim.
17

c. Sectio Caesarea Peritoneum

Dilakukan tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak

membuka kavum abdominal. Dulu dilakukan untuk mengurangi bahaya infeksi,

akan tetapi dengan kemajuan pengobatan infeksi pembedahan ini jarang

dilakukan. Rongga peritoneum tak dibuka, dilakukan pada klien infeksi uterin

berat.

Menurut arah sayatan pada rahim sectio dapat dilakukan, sebagai berikut :

1. Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kroning.

2. Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr.

d. Sectio Caesarea-Histerektomi

Tindakan Sectio Caesarea-histerektomi total memerlukan perluasan operasi

untuk mengangkat tunggul serviks. Pengupasan lapisan jaringan dipermudah oleh

keadaan kehamilan. Umumnya peningkatan perdarahan tidak menimbulkan

kesukaran teksis apapun.

Indikasi teknik Sectio Caesarea - hiperektomi menurut menurut Rasjidi (2009)

adalah:

1. Ruptur uteri

2. Atonia uteri

3. Perdarahan akibat solusio plasenta, plasenta previa, dan plasea akreta.

4. Fibroid
18

2.1.7 Penatalaksanaan Sectio Caesarea

Menurut Yuli (2017) penatalaksanaan Sectio Caesarea adalah :

1). Perawatan Awal

a). Yakinkan jalan napas bersih dan cukup ventilasi.

b). Pemeriksaan tanda -tanda vital.

c). Periksa kesadaran ibu.

d). Transfusi darah bila perlu.

e). Beri posisi nyaman.

2). Fungsi Gastrointestinal

a). Jika tindakan bedah tidak berat, berikan klien diet cair.

b). Jika ada tanda infeksi, atau jika Sectio Caesarea karena partus macet

atau rupture uteri, tunggu sampai bising usus timbul.

c). Jika klien bisa flatus mulai berikan makanan padat.

d). Pemberian infus diteruskan hingga klien dapat minum dengan baik.

e). Jika pemberian infus melebihi 48 jam berikan cairan elektrolit untuk

keseimbangan cairan seperti kalium klorida 40 mg.

f). Sebelum keluar dari rumah sakit pastikan klien dapat minum dan makan

biasa.

3). Perawatan Luka

Perawatan luka diperlukan untuk mencegah terjadinya perdarahan

yang berlebih dan menghindari terjadinya infeksi. Sectio caesarea

merupakan pembedahan bersih. Prinsip dalam pemberian perawatan luka


19

adalah pembersihan, penutupan dan perlindungan luka (Sjamsuhidajat,

2010).

4). Analgesik

Pemberian analgesik sangat penting untuk mengurangi rasa nyeri.

5). Perawatan Fungsi Kandung Kemih

a). Jika urine jernih, kateter dilepas 8 jam setelah bedah.

b). Jika urine tidak jernih, biarkan kateter terpasang sampai urin jernih.

c). Kateter dipasang 48 jam jika pada kasus bedah karena rupture uteri,

partus macet, edema perineum yang luas, sepsis puerperalis atau

pelvic peritonitis.

d). Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih pasang kateter sampai

minimal 7 hari atau hingga urine jernih.

e). Jika sudah tidak menggunakan antibiotik, berikan nitrofurantoin 100

mg per oral per hari sampai kateter dilepas (untuk mencegah sistitis).

6). Antibiotik

Jika ada tanda infeksi atau klien demam berikan antibiotik hingga klien

bebas dari demam sampai 48 jam.

7). Mengambil Jahitan

Pelepasan jahitan kulit dilakukan setelah 5 hari dari hari dilakukannya

pembedahan.
20

8). Ambulasi atau Mobilisasi

Ambulasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam dan

menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal. Ambulasi dini sesuai

tahapan prosedur yaitu setelah 6 jam pertama ibu dengan Post Sectio Caesarea

sebaiknya melakukan tirah baring dengan menggerakan lengan tangan, kaki

dan tungkai bawah, serta miring kiri dan miring kanan. Setelah itu, ibu mulai

dapat duduk setelah 6-10 jam Post Sectio Caesarea. Kemudian, secara bertahap

dapat mulai belajar berjalan secara perlahan dan perlu pengawasan (Puji, dkk,

2016).

2.I.8 Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan yang muncul pada kasus post sectio caesarea

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

Intervensi :

Manajemen nyeri

a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

b. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan

c. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

d. Ajarkan tentang teknik non farmakologi : relaksasi genggam jari

e. Berikan informasi tentang penyebab nyeri, berapa lama akan

berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur.

f. Kolaborasi Pemberian analgesik.


21

Manajemen obat

a. Cek intruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi

b. Cek riwayat alergi

c. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama

kali

d. Evaluasi efektifitas analgesik, tanda dan gejala

Manajemen Lingkungan

a. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu

ruangan, pencahayaan dan kebisingan

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler:

nyeri

Intervensi:

Terapi latihan:ambulasi

a. Monitoring vital sign sebelum dan sesudah latihan dan lihat respon

pasien setelah latihan

b. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi

c. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika

diperlukan

d. Latih pasien dalam pemenuhan ADLs pasien

e. Libatkan keluarga dalam aktifitas pemenuhan ADLs

Peningkatan mekanika tubuh

a. Kaji pemahaman pasien mengenai mekanika tubuh dan latihan/aktifitas


22

b. Edukasi pasien tentang pentingnya postur tubuh yang benar untuk

mencegah kelelahan, ketegangan dan nyeri.

3. Ketidakefektifan pemberan asi berhubungan dengan kecemasan pada ibu

Intervensi:

Konseling laktasi

a. Evaluasi pola menghisap/menelan bayi

b. Kaji keinginan dan motivasi ibu untuk menyusui

c. Evaluasi pemahaman ibu tentang isyarat menyusui dan bayi

d. Kaji kemampuan bayi untuk lacth-on dan menghisap secara efektif

e. Pantau keterampilan ibu dalam menempelkan bayi pada putting

f. Ajarkan ibu untuk posisi yang sesuai

g. Diskusikan kebutuhan untuk istirahat yang cukup, hidrasi, dan diet yang

seimbang

Breast examination

a. Fasilitasi proses bantuan interaktif untuk membantu mempertahankan

keberhasilan proses pemberian ASI

b. Sediakan informasi tentang laktasi

c. Identifikasi sistem pendukung untuk mempertahankan menyusui

d. Rujuk konselor laktasi jika perlu


23

4. Risiko infeksi area pembedahan

Intervesi

a. Cuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan perawatan pasien

b. Pastikan perawatan luka yang tepat

c. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi yang tepat

d. Berikan antibiotik yang tepat sesusai yang di resepkan

e. Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi dan laporkan

kepada penyedia perawatan kesehatan

f. Edukasi pasien dan keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi


24

2.2 Nyeri

2.2.1 Definisi Nyeri

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan

yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang

digambarkan sebagai kerusakan (Interpersonal association for the study of

pain) yang tiba-tiba atau lambat dari intensitaas ringan hingga berat dengan

akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi (Nanda, 2017) Nyeri

merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan, bersifat sangat

subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala

atau tingkatanya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau

mengevaluaso rasa nyeri yang dialaminya (Hidayat, 2016). Sehingga dapat

disimpulkan nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional tidak

menyenangkan bersifat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap

orang dalam hal skala atau tingkatannya dari intensitaas ringan hingga

berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi.

Nyeri dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu :

A. Nyeri akut

Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dan

muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau

digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International

Association for the Studi of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari

intensitas ringan hingga berat dan berakhirnya dapat diantisipasi atau


25

diprediksi dan dengan durasi kurang dari 3 bulan (NANDA

International, 2018).

B. Nyeri kronis

Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan dengan

kerusakan jaringan actual atau potensial, atau digambarkan sebagai

suatu kerusakan (International Association for the Study of Pain);

awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat,

terjadi konstan atau berulang yang berakhirnya tidak dapat di antisipasi

atau perbaiki, dan berlangsung lebih dari 3 bulan (NANDA

International, 2018).

2.2.2 Etiologi Nyeri

Nyeri akut

a. Agen cidera fisik : penyebab nyeri karena trauma fisik

b. Agen cidera biologis : penyebab nyeri karena kerusakan fungsi

organ atau jaringan tubuh

c. Agen cidera kimia : penyebab nyeri karena bahan zat kimia

Nyeri kronis

a. Perubahan pola tidur

b. Distres emosi

c. keletihan

d. peningkatan indeks masa tubuh

e. Malnutrisi
26

f. kerusakan system saraf

g. gangguan musculoskeletal kronis

h. gangguan imun, metabolic

2.2.3 Patofisiologi Nyeri

Nyeri merupakan mekanisme fisiologis yang bertujuan untuk melindungi

diri (Perry& Potter, 2008). Bagaimana nyeri merambat dan dipersepsikan oleh

individu masih belum sepenuhnya dimengerti.Akan tetapi, bisa tidaknya nyeri

dirasakan dan hingga derajat mana nyeri tersebut mengganggu dipengaruhi

oleh interaksi antara sistem algesia tubuh dan transmisi sistem saraf serta

interpretasi stimulus.

Apabila seseorang merasakan nyeri, maka perilakunya akan berubah.

Misalnya, seseorang yang kakinya terkilir menghindari aktifitas mengangkat

barang yang memberi beban penuh pada kakinya untuk mencegah cedera

lebih lanjut. Seorang klien yang memiliki riwayat nyeri dada belajar untuk

menghentikan semua aktifitas saat timbul nyeri.

Sistem saraf tepi meliputi saraf sensorik primer yang khusus mendeteksi

kerusakan jaringan dan menimbulkan sensasi sentuhan, panas, dingin, nyeri

dan tekanan. Reseptor yang menyalurkan sensasi nyeri disebut nosiseptor.

Reseptor nyeri atau nosiseptor ini dapat dieksitasi oleh stimulus mekanis, suhu

atau kimia. Proses mekanisme nyeri melewati beberapa tahap, yaitu diawali

dengan adanya stimulus, transduksi, transmisi, modulasi, dan persepsi

(Andarmoyo, 2013).
27

A. Stimulus

Seperti halnya berbagi stimulus yang didasari lainnya, persepsi nyeri

diantarkan oleh neuron khusus yang bertindak sebegai reseptor, pendeteksi

stimulus, penguat, dan penghantar menuju sistem safar pusat. Reseptor khusus

tersebut dinamakan nociceptor. Mereka tersebar luas dalam lapisan superficial

kulit dan juga dalam jaringan dalam tertentu, seperti periosteum, dinding arteri,

permukaan sendi serta falks dan tentorium serebri (Guyton, 1995 dalam

Andarmoyo, 2013).

Terdapat tiga kategori reseptor nyeri, yaitu nosiseptor mekanis yang

berespon terhadap kerusakan mekanis, misalnya tusukan, benturan, atau

cubitan; nosiseptor termal yang berespon terhadap suhu yang berlebihan terutama

panas; nosiseptor polimodal yang berespon setara terhadap semua jenis

rangsangan yang merusak, termasuk iritasi zat kimia yang dikeluarkan dari

jaringan yang cedera (Sherwood, 2001 dalam Andarmoyo, 2013). Nociceptor

(ujung-ujung saraf bebas pada kulit yang berespon terhadap stimulus)

berhubungan dengan saraf aferen primer dan berujung di spinal cord (SSP). Bila

ada suatu stimulasi yang berasal dari bahan kimia, mekanik, listrik, atau panas,

stimulasi itu diubah menjadi impuls saraf pada saraf aferen primer. Selanjutnya

akan ditransmisikan sepanjang saraf aferen ke spinal cord. Stimulus tersebut

dapat berupa protopatik (noxious) dan epikritik (nonnoxious). Stimulasi epikritik

(sentuhan ringan, tekanan, propriosepsi, dan perbedaan temperatur) ditandai

dengan reseptor ambang rendah yang secara umum dihantarkan oleh serabut
28

saraf bermielin. Sebaliknya, stimulus protopatik (nyeri) ditandai dengan reseptor

ambang tinggi yang dihantarkan oleh serabut saraf bermielin lebih kecil (A

Delta) serta serabut saraf tak bermielin (serabut C).

Meskipun aktivasi yang kuat dari serabut reseptor nyeri pada kulit akan

menyebabkan hubungan visceral dari serabut yang sama, hal sebaliknya juga

terjadi. Stimulasi kuat pada serabut cabang visceral dapat mengakibatkan

vasodilatasi dan nyeri pada area tubuh yang berkaitan dengan serabut tersebut.

Hasilnya disebut dengan nyeri alih.

B. Transduksi

Tranduksi merupakan proses ketika suatu stimuli nyeri (noxious stimuli)

diubah menjadi suatu aktivitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf.

Stimuli ini dapat berupa stimuli fisik (tekanan), suhu (panas), atau kimia

(substansi nyeri). Terjadi perubahan patofisiologi karena mediator-mediator

kimia seperti prostaglandin dari sel rusak, bradikinin dari plasma, histamin dari

sel mast, serotonin dari trombosit dan substansi P dari ujung saraf nyeri

memengaruhi juga nosiseptor di luar daerah trauma sehingga lingkaran nyeri

meluas. Selanjutnya, terjadi proses sensitisasi perifer, yaitu menurunnya nilai

ambang rangsang nosiseptor karena pengaruh mediator-mediator tersebut di atas

dan penurunan pH jaringan. Akibatnya, nyeri dapat timbul karena rangsang yang

sebelumnya tidak menimbulkan nyeri misalnya rabaan.

Sensitisasi perifer ini mengakibatkan terjadinya sensitisasi sentral, yaitu

hiperkistabilitasneuron pada spinalis, terpengaruhnya neuron simpatis dan


29

perubahan intraseluler yang menyebabkan nyeri dirasakan lebih lama.

Rangsangan nyeri diubah menjadi depolarisasi membrane reseptor yang

kemudian menjadi impuls saraf.

Transmisi merupakan proses penerusan impuls nyeri dari nociceptor

secara perifer melewati cornus dorsalis dan corda spinalis menuju korteks

serebri. Cornus dorsalis dari medulla spinalis dapat dianggap sebagai tempat

memproses sensori.Sebarut perifer (misal : reseptor nyeri) berakhir di sini dan

serabut traktus sensori asenden berawal di sini. Juga terdapat interkoneksi

antara sistem neuronal desenden dan traktus sensori asenden. Traktus asenden

berakhir pada otak bagian bawah dan bagian tengah dan impuls-impuls

dipancarkan ke korteks serebri.

Agar nyeri dapat diserap secara sadar, neuron pada sistem asenden harus

diaktifkan. Aktivasi terjadi sebagai akibat input dari reseptor yang terletak

dalam kulit dan organ internal. Terdapat interkoneksi neuron dalam cornus

dorsalis yang ketika diaktifkan menghambat atau memutuskan transmisi

informasi yang menyakitkan atau yang menstimulasi nyeri dalam jaras asenden

dan megaktifkan nyeri. Namun demikian, jika kecenderungan ini berlalu tanpa

perlawanan, banyak aktivitas kehidupan sehari-hari yang akan terganggu.

Akibat sistem yang akan menutup “gerbang”. Stimulasi dari neuron inhibitori

sistem asenden menutup gerbang untuk input nyeri dan mencegah transmisi

sensasi nyeri.
30

C. Transmisi

Transmisi nyeri terjadi melalui serabut saraf aferen (serabut nociceptor)

yang terdiri dari dua macam, yaitu serabut A (A delta) yang peka terhadap nyeri

tajam dan panas disebut juga dengan first pain/ fast pain dan serabut C (C fiber)

yang peka terhadap nyeri tumpul dan lama yang disebut second pain/ slow pain.

Zat-zat kimia yang meningkatkan transmisi atau persepsi nyeri meliputi

histamine, bradikinin, asetilkolin, dan substensi P.Prostaglandin adalah zat

kimia yang diduga dapat meningkatkan efek yang menimbulkan nyeri dari

bradikinin (Smeltzer & Bare, 2002). Di sisi lain, tubuh juga mengeluarkan

endorphin dan enkefalin. Substansi ini berfungsi sebagai inhibitor terhadap

transmisi nyeri. Apabila tubuh mengeluarkan substansi-substansi ini maka satu

efeknya adalah perbedaan nyeri.

Contoh transmisi nyeri yang melalui serabut saraf C adalah nyeri cedera

dan nyeri inflamasi. Pada kondisi inflamasi, akan meningkatkan pengeluaran

mediator inflamasi seperti sitokin proinflamasi, kemokin, yang dapat

meningkatkan sensitivitas nociceptor sehingga akan menurunkan ambang rasa

nyeri sehingga terjadilah nyeri. Contoh mediator inflamasi yang terstimulasi

akibat proses infeksi diantaranya mediator inflamasi yang terstimulasi akibat

proses infeksi diantaranya prostaglandin, leukotriene, bradikinin yang

terstimulasi pada nyeri inflamasi, sedangkan substansi P, CGRP (Calcitonin

Gene-related, Peptide) terstimulasi pada myeri neurogenic

.
31

D. Modulasi

Modulasi adalah poses pengendalian internal oleh sistem sadar, dapat

meningkatkan atau mengurangi penerusan impuls nyeri. Hambatan terjadi

melalui sistem analgesia endogen yang melibatkan bermacam-macam

neurotransmitter antara lain endorphin yang dikeluarkan oleh sel otak dan neuron

di spinalis. Impuls ini bermula dari area periaquaductuagrey (PAG) dan

menghambat transmisi impuls pre maupun pascasinaps di tingkat spinalis.

Modulasi nyeri dapat timbul di nosiseptor perifer medula spinalis atau

supraspinalis.

E. Persepsi

Persepsi adalah hasil rekonstruksi susunan safar pusat tentang impuls nyeri

yang diterima. Rekonstruksi merupakan hasi interaksi sistem safar sensoris,

informasi kognitif (korteks serebri) dan pengalaman emosional (hipokampus dan

amigdala). Persepsi menentukan berat ringannya nyeri yang dirasakan. Setelah

sampai ke otak, nyeri dirasakan secara sadar dan menimbulkan respon berupa

prilaku dan ucapan yang merespon adanya nyeri. Perilaku yang ditunjukkan

seperti menghindari stimulus nyeri, atau ucapan akibat respon nyeri seperti

“aduh”, “auw”, “ah”.


32

2.2.4 Faktor – faktor yang mempengaruhi nyeri

Berbagai faktor dapat mempengaruhi persepsi dan reaksi seseorang

terhadap nyeri. Faktor ini mencakup nilai etnik dan budaya seseorang, tahap

perkembangan, lingkungan dan orang pendukung, pengalaman nyeri

sebelumnya, dan makna nyeri saat ini, serta ansietas dan stress.

a. Usia

Pengaruh usia pada persepsi nyeri dan toleransi nyeri tidak diketahui

secara luas. Anak-anak yang belum mempunyai kosakata yang banyak

mempunyai kesulitan mendeskripsikan secara verbal dan mengekspresikan

skala nyeri kepada orangtua atau perawat. Pada masa orang dewasa kadang

melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi

(Tamsuri, 2007). Pada lansia, mereka lebih untuk tidak melaporkan nyeri

karena persepsi nyeri yang harus mereka terima, menyangkal merasakan

nyeri karena takut akan konsekuensi atau tindakan media yang dilakukan

dan takut akan penyakit dan rasa nyeri itu.

b. Jenis Kelamin

Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara signifikan dalam

berespon terhadap nyeri. Toleransi nyeri sejak lama telah menjadi subjek

penelitian yang melibatkan pria dan wanita. Aka n tetapi, toleransi terhadap

nyeri dipengaruhi oleh faktor-faktor biokimia dan merupakan hal yang unik

pada setiap individu, tanpa memperhatikan jenis kelamin (Perry & Potter,

2008).
33

c. Nilai Etnik dan Budaya

Latar belakang etnik dan warisan budaya telah lama dikenal sebagai faktor-

faktor yang mempengaruhi reaksi seseorang terhadap nyeri dan ekspresi nyeri

tersebut. Perilaku yang berhubungan dengan nyeri adalah sebuah bagian dari

proses sosialisasi. Misalnya, individu dalam sebuah budaya mungkin belajar

untuk ekspresif terhadap nyeri, sementara individu dari budaya lain mungkin

belajar untuk menyimpan perasaan nyerinya tersebut dan tidak mengganggu

orang lain.

Walaupun tampaknya variasi ambang batas nyeri kecil, latar belakang

budaya dapat mempengaruhi tingkat nyeri yang ingin ditoleransi oleh seorang

individu. Di beberapa budaya Timur Tengah dan Afrika, nyeri karena menyakiti

diri sendiri adalah sebuah tanda berduka atau berkabung. Pada kelompok lain,

nyeri mungkin terjadi sebagai bagian dan praktik ritual dan oleh karena itu

menoleransi nyeri menandai kekuatan dan daya tahan. Selain itu, terdapat variasi

bermakna dalam ekspresi nyeri.Beberapa studi menunjukkan bahwa individu

turunan Eropa Utara cenderung lebih menyembunyikan dan kurang ekspresif

terhadap rasa nyeri mereka dibandingkan individu yang berasal dari latar

belakang Eropa Selatan.

d. Lingkungan dan Orang Pendukung

Lingkungan yang tidak dikenal seperti rumah sakit, dengan kebisingannya,

cahaya, dan aktivitasnya, dapat menambah rasa nyeri. Selain itu, orang kesepian yang

tidak memiliki jaringan pendukung dapat mempersepsikan nyeri sebagai sesuatu yang
34

berat, sementara orang yang memiliki orang pendukung di sekitarnya dapat

mempersepsikan nyeri sebagai sesuatu lebih ringan. Beberapa orang memilih untuk

menarik diri jika mereka sedang merasa nyeri, sementara orang lain lebih memilih

untuk mengalihkan rasa nyerinya kepada orang-orang dan aktivitas di sekitar mereka.

Harapan orang terdekat dapat mempengaruhi persepsi seseorang dan

responnya terhadap nyeri. Dalam suatu situasi, misalnya, anak perempuan mungkin

diperbolehkan untuk mengekspresikan rasa nyerinya secara lebih terbuka

dibandingkan anak laki-laki. Peran keluarga juga dapat mempengaruhi bagaimana

seseorang mempersepsikan atau berespons terhadap nyeri. Misalnya, seorang ibu

tunggal yang menjadi pendukung ketiga anaknya dapat mengabaikan rasa nyeri

karena ia perlu tetap bekerja. Keberadaan orang pendukung seringkali mengubah

reaksi klien terhadap nyeri. Misalnya, balita sering kali lebih menoleransi nyeri saat

orang tua atau perawat pendukung berada di dekat mereka.

e. Pengalaman Nyeri di Masa Lalu

Pengalaman nyeri di masa lalu mengubah sensitivitas klien terhadap nyeri.

Individu yang mengalami nyeri secara pribadi atau yang melihat penderitaan orang

terdekat sering kali lebih terancam oleh kemungkinan nyeri dibandingkan individu

yang tidak memiliki pengalaman nyeri. Selain itu, barhasil atau tidak berhasilnya

upaya pereda nyeri mempengaruhi harapan seseorang mengenai pereda nyeri.

Misalnya, seseorang yang telah mencoba beberapa tindakan pereda nyeri namun tidak

berhasil mungkin memiliki sedikit harapan mengenai manfaat intervensi

keperawatan.
35

f. Makna Nyeri

Beberapa klien dapat lebih mudah menerima nyeri dibandingkan klien lain,

bergantung pada keadaan dan interpretasi klien mengenai makna nyeri tersebut.

Seorang klien yang menghubungkan rasa nyeri dengan hasil akhir yang positif dapat

menahan nyeri dengan sangat baik. Misalnya, seorang wanita yang melahirkan anak

atau seorang atlet yang menjalani bedah lutut untung memperpanjang karirnya dapat

menoleransi rasa nyeri dengan lebih baik karena manfaat yang dikaitkan dengan rasa

nyeri tersebut. Klien ini dapat memandang nyeri sebagai sebuah ketidaknyamanan

sementara dan bukan ancaman atau gangguan terhadap kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, klien yang nyeri kroniknya tidak mereda dapat merasa lebih

menderita. Mereka dapat berespons dengan putus asa, ansietas, dan depresi karena

mereka tidak dapat menghubungkan makna positif atau tujuan nyeri. Dalam situasi

ini, nyeri mungkin dilihat sebagai sebuah ancaman bagi citra tubuh atau gaya hidup

dan sebagai sebuah tanda kemungkinan menjelang kematian.

Ansietas dan stress Ansietas sering kali menyertai nyeri. Ancaman dari

sesuatu yang tidak diketahui dan ketidakmampuan mengontrol nyeri atau peristiwa

yang menyertai nyeri sering kali memperburuk persepsi nyeri. Keletihan juga

mengurangi kemampuan koping seseorang, sehingga meningkatkan persepsi nyeri.

Apabila nyeri mengganggu tidur, keletihan dan ketegangan otot seringkali terjadi dan

meningkatkan nyeri sehingga terbentuk siklus nyeri-letih-nyeri. Individu yang

mengalami nyeri yang percaya bahwa mereka dapat mengontrol nyeri akan

mengalami penurunan rasa takut dan ansietas, yang akan menurunkan persepsi nyeri
36

mereka. Persepsi berupa tidak dapat mengontrol nyeri atau merasa tidak berdaya

cenderung meningkatkan persepsi nyeri. Klien yang mampu mengekspresikan nyeri

kepada seorang pendengar yang perhatian dan berpartisipasi dalam membuat

keputusan penatalaksanaan nyeri dapat meningkatkan sensasi kontrol dan

menurunkan persepsi nyeri.

2.2.5 Manisfestasi Klinik

Karakteristik Nyeri Akut Nyeri Kronis

Pengalaman Suatu kejadian. Jika klien baru


Suatu situasi, status eksistensi nyeri.
pertama kali mengalami episodeJika klien telah sering mengalami
nyeri, persepsi pertama tentang
episode nyeri tanpa pernah sembuh
nyeri akan menggangguatau klien mengalami nyeri yang
mekanisme kopingnya. Setiap berat, rasa cemas atau bahkan takut
orang belajar dari pengalaman dapat muncul. Sebaliknya, jika klien
nyerinya. Akan tetapi,
pernah mengalami nyeri yang sama
pengalaman nyeri sebelumnya berulang-ulang dan ia berhasil
tidak selalu membuat individu mengatasinya, akan lebih mudah
mampu menerima nyeri dengan bagi klien untuk menginterpretasikan
mudah sensasi nyeri yang muncul. Dengan
demikian, klien akan lebih siap untuk
melakukan tindakan yang diperlukan
guna menghilangkan nyeri
Sumber Sebab eksternal atau penyakit Sumber nyeri tidak diketahui; klien
yang berasal dari dalam sukar menentukan sumber nyeri
karena penginderaan nyeri yang
sudah lebih dalam
Serangan Mendadak Bisa mendadak atau bertahap
Durasi Transien (sampai 6 bulan) Beberapa bulan hingga beberapa
tahun.
Pernyataan Daerah nyeri umumnya diketahui Daerah yang nyeri dan yang tidak,
nyeri dengan pasti. Klien yang intensitasnya menjadi sukar di
mengalmi nyeri ini sering kali evaluasi. Klien yang mengalami
merasa takut dan khawatir dan nyeri ini kerap merasa tidak aman
berharap nyeri dapat segera karena mereka tidak tahu apa yang
teratasi. Nyeri ini dapat hilang mereka rasakan. Dari hari ke hari
setelah area yang mengalami klien mengeluh mengalami keletihan,
gangguan kembali pulih. insomnia, anoreksia, depresi, putus
asa, dan sulit mengontrol emosi
Gejala klinis Pola respons khas, dengan gejala Pola respons bervariasi. Terkadang
37

yang lebih jelas. klien bisa mengalami remisi (gejala


hilang sebagian atau seluruhnya) dan
eksaserbasi (gejala semakin parah)
Perjalanan Penderita biasanya melaporkan Berlangsung terus atau intermiten,
berkurangnya gejala setelah intensitas bervariasi atau tetap
beberapa waktu. konstan.

Prognosis Baik dan mudah untuk Penyembuhan yang sempurna


dihilangkan. biasanya tidak mungkin.

2.2.6 Pengkajian Nyeri

Respon fisiologi terhadap nyeri dapat ditunjukkan keberadaan dan sifat

nyeri dan ancaman yang potensial terhadap kesejahteraan klien. Nyeri post

operasi akan meningkatkan stress post operasi dan memiliki pengaruh negatif

pada penyembuhan nyeri. Kontrol nyeri sangat penting sesudah pembedahan

sehingga dapat mengurangi kecemasan, bernafas lebih mudah dan dalam dan

dapat mentoleransi mobilisasi yang cepat.

Pada pengkajian nyeri respon tersebut dapat ditunjukkan melalui:

1. Data Subjektif

a. Provokatif/paliatif

penyebab timbulnya nyeri seperti berupa luka sayatan.

b. Kualitas/kuantitas

Seberapa berat nyeri terasa, bagaimana rasanya seperti tertusuk,

tertekan/tertimpa benda berat, diiris-iris dan lain-lain.

c. Region
38

Lokasi dimana keluhan nyeri dirasakan/ditemukan, apakah ada

penyebaran di area/daerah lain.

d. Skala/Severitas

Skala kegawatan dapat dilihat menggunakan GCS untuk gangguan

kesadaran, skala nyeri/ukuran lain yang berkaitan dengan keluhan.

Skala Numerik 0-10 (NRS)

0 : Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan

4-7 : Nyeri sedang

8-10 : Nyeri berat

e. Timing

Kapan keluhan nyeri mulai ditemukan/dirasakan, berapa sering/terjadi,

apakah mendadak atau bertahap.

1. Data Objektif

a. Perubahan tanda-tanda vital

Perubahan nilai GCS atau gangguan kesadaran, peningkatan tekanan

darah, nadi, respirasi.

b. Ekspresi wajah

Ekspresi wajah yang dapat menggambarkan gejala nyeri diantaranya

meringis, menggeletukkan gigi, mengernyitkan dahi, menutup mata atau

mulut dengan rapat, membuka mata atau mulut dengan lebar, menggigit

bibir, dan lain-lain.


39

c. Vokalisasi

Vokalisasi seseorang yang mengalami nyeri dapat ditunjukkan dengan

mengaduh, menangis, merintih, mendengkur, dan sebagainya.

d. Gerakan tubuh

Kondisi tubuh terlihat gelisah, keterbatasan gerak (imobilisasi),

ketegangan otot, peningkatan gerakan jari dan tangan, serta gerakan

melindungi tubuh merupakan gerakan tubuh yang dapat menggambarkan

nyeri yang dialami seseorang.

e. Interaksi sosial

Gejala nyeri juga dapat diindentifikasi ketika seseorang menghindari

percakapan, fokus hanya pada aktivitas untuk menghilangkan nyeri,

menghindari kontak sosial, dan menurunkan rentang perhatian.

f. Perubahan pola tidur

Rasa nyeri membuat kesulitan memulai tidur, mempertahankan tetap

tidur/mudah terjaga.

g. Pemenuhan kebutuhan nutrisi

Perubahan selera makan ; anoreksia


40

2.2.7 Intervesi Keperawatan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam rasa

nyeri klien akan berkurang / hilang.

Kriteria hasil:

NOC : Pain level

Pain Control

Rencana tindakan :

Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

Intervensi :

Managemen nyeri

a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,

durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

b. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan

c. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

d. Ajarkan tentang teknik non farmakologi : relaksasi genggam jari

e. Berikan informasi tentang penyebab nyeri, berapa lama akan berkurang dan

antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur.

f. Kolaborasi Pemberian analgesik

Managemen obat

a. Cek intruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi

b. Cek riwayat alergi

c. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
41

d. Evaluasi efektifitas analgesik, tanda dan gejala

Managemen Lingkungan

a. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,

pencahayaan dan kebisingan

2.2.8 Mekanisme Untuk Menurunkan Skala Nyeri.

Nyeri dapat dikurangi atau diatasi secara farmakologi maupun non farmakologi.

a. Farmakologi

Prinsip penatalaksanaan pada nyeri adalah penilaian nyeri secara

menyeluruh. Pemeriksaan harus percaya laporan nyeri penderita karena nyeri

bersifat subjektif. Derajat nyeri penderita bisa ditentukan dengan skala nyeri 0 -

10 dimana 0 tanpa nyeri dan 10 nyeri terberat. Pada pengobatan dengan analgetik

faktor-faktor fisik turur serta menyertai, misalnya kesabaran individu dan daya

menerima rasa dari pasien. Secara umum analgetika di bagi dua golongan yaitu

analgetik non narkotik atau non opoid atau analgetik asetasol dan paracetamol

dan analgetika narkotik atau analgetik opoid misalnya morfin. Penatalaksanaan

nyeri secara farmakologis dilakukan dengan berkolaborasi dengan tenaga

kesehatan lain dalam pemberian terapi analgesik.

b. Nonfarmakologi

Menurut Tamsuri (2007), selain tindakan farmakologis untuk menanggulangi nyeri

ada pula tindakan nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri terdiri dari :

1) Stimulasi kulit
42

Messase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan ketegangan

otot. Rangsangan massase otot ini dipercaya akan merangsang serabut

berdiameter besar, sehingga mampu memblok atau menurunkan impuls nyeri

2) Stimulasi elektrik (TENS)

Cara kerja dari system ini masih belum jelas, sehingga bisa memblok

stimulasi nyeri. Bisa dilakukandengan messase, mandi air hangat , kompres

dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS/

Transcutaneus electrical nerve stimulation). TENS merupakan stimulasi pada

kulit dengan menggunakan arus listrik ringan yang dihantarkan melalui

elektroda luar.

3) Akupuntur

Akupuntur merupakan pengobatan yang sudah sejak lama digunakan untuk

mengobati nyeri. Jarum-jarum kecil yang dimasukkan pada kulit, bertujuan

menyentuh titik-titik tertentu, tergantung pada lokasi nyeri, yang dapat

memblok transmisi nyeri ke otak.

4) Ambulasi

Ambulasi adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya gangguan

mobilitas yang disebabkan post operasi karena dengan ambulasi dapat

memperbaiki sirkulasi, mencegah flebotrombosis (thrombosis vena

profunda/DVT). Mengurangi komplikasi immobilisasi pasca operasi,

mempercepat pemulihan peristaltic usus, mempercepat pasien pasca operasi.

(kozier, 2010).
43

5) Relaksasi Genggam Jari

a. Pengertian

Menurut Tamsuri (2006) dalam Zees (2012), teknik relaksasi genggam

jari adalah merupakan tindakan relaksasi otot rangka yang dipercaya dapat

menurunkan nyeri dengan merileksasikan ketegangan otot yang mendukung

rasa nyeri. Menurut Liana (2008) dalam Pinandita (2011), teknik relaksasi

genggam jari (finger hold) merupakan teknik relaksasi dengan jari tangan

serta aliran energi didalam tubuh. Relaksasi genggam jari menghasilkan

impuls yang dikirim melalui serabut saraf aferen non-nosiseptor. Serabut saraf

non nosiseptor mengakibatkan “gerbang” tertutup sehingga stimulus pada

kortek serebri berupa nyeri dapat dihambat atau dikurangi.

b. Tujuan

Untuk menurunkan rasa nyeri pada pasien post operasi Sectio Caesarea dan

mengurangi efek samping jika menggunakan obat-obatan penurun nyeri ( Liana,

2008).

c. Mekanisme relaksasi genggam jari dalam menurunkan nyeri

Jenis relaksasi ini sederhana dan sangat mudah dilakukan oleh siapapu yang

berhubungan dengan jari tangan serta aliran energy dalam tubuh kita. apabila

individu mempersepsikan sentuhan sebagai stimulus untuk rileks, kemudian akan

muncul respon relaksasi. mekanisme relaksasi genggam jari dijelaskan melalui

teori gate kontrol yang menyatakan bahwa stimulasi kutaneus mengaktifkan

transmisi srabut saraf sensori A-beta yang lebih besar dan cepat. proses ini
44

menurunkan transmisi nyeri melalui serabut C dan delta-A yang berdiameter

lebih kecil. proses ini terjadi dalam kornu medulla spinalis yang dianggap

sebagai tempat memproses nyeri. sel-sel inhibitori dalam kornu dorsalis medulla

spinalis mengandung enkefalin yang menghambat transmisi nyeri, gerbang

sinaps menutup transmisi impuls nyeri sehingga bila tidak ada informasi nyeri

yang disampaikan melalui saraf asenden menuju otak maka tidak ada nyeri yang

dirasakan (Pinandita, Purwanti & Utoyo, 2012).

d. Teknik Relaksasi Genggam Jari

Langkah-langkah teknik relaksasi genggam jari menurut Liana (2001) adalah

sebagai berikut:

1) Cara melakukan teknik genggam jari peganglah tiap jari mulai dari ibu jari

selama 2-3 menit.

2) Dapat gunakan tangan yang mana saja

3) Tarik nafas yang dalam dan lembut hembuskan nafas secara perlahan dan

lepaskan dengan teratur.

4) Ketika menarik nafas panjang, hiruplah rasa dengan harmonis, damai,

nyaman dan kesembuhan.

5) Ketika menghembuskan nafas, hembuslah secara perlahan sambil

melepaskan perasaan yang mengganggu pikiran dan bayangkan emosi yang

mengganggu/rasa nyeri tersebut keluar dari pikiran kita.

6) Sekarang pikirkanlah yang nyaman dan damai, sehingga hanya fokus

pada perasaan yang nyaman dan damai saja.


BAB III

ANALISIS KASUS

3.1 Pengkajian

A. Kasus Pertama

Klien yang pertama bernama nyonya S, umur 18 tahun, berjenis kelamin

perempuan, menikah 1 kali, klien beralamat di Jampang kabupaten Bogor

berasal dari suku sunda. Klien menganut agama Islam. Latar pendidikan

SMA. Sehari - hari hari kegiatan klien adalah seorang ibu rumah tangga.

Klien masuk rawat di RS pada tanggal 06 Februari 2018 pukul 22.50 WIB,

rujukan dari klinik bersalin dengan G 1 P 0 A 0 hamil 40 - 41 minggu dengan

keluhan perut mules masih hilang timbul sejak pukul 17.30 WIB dan air

ketuban mulai mengalir pada pukul 18.00 WIB. Hasil pemeriksaan kala 1 fase

laten, denyut jantung bayi 159 x/menit regular. Pada tanggal 6 februari 2019

pukul 13.00 WIB di lakukan persalinan dengan tindakan Sectio Caesarea.

Pada waktu dilakukan pengkajian pada pukul 18.30 WIB keluhan

utama klien saat dikaji adalah rasa nyeri terutama saat mau melakukan

pergerakan merubah posisi, rasa nyeri seperti teriris –iris, nyeri pada daerah

luka operasi pada perut bagian bawah, tidak menyebar, skala nyeri 8 (1-10),

terasa nyeri antara 10-15 menit. Ekspresi wajah tampak meringis menahan

sakit. klien sudah di perbolehkan mobilasasi miring kanan dan kiri, tetapi

klien mengatakan tambah sakit jika bergerak. Terlihat memegangi bagian

45
46

perut. Klien belum dapat beraktifas memenuhi kebutuhan sehari – hari seperti

makan dan minum.

Riwayat penyakit sebelumnya belum pernah mengalami tindakan

operasi, tidak mempunyai penyakit hipertensi, diabetes militus maupun

penyakit jantung. Riwayat penyakit keluarga menurut klien tidak ada yang

mempunyai penyakit seperti hipertensi diabetes militus, menular maupun

penyakit jantung.

Pemeriksaan tanda-tanda vital di dapatkan Tekanan Darah 140/90

mmhg, Nadi 108x/menit irama teratur, repirasi 26 x/menit, tidak ada sumbatan

jalan nafas, suhu kulit teraba hangat 37 C. Tidak ada distensi tekanan vena

jugolaris. Tidak ada kelainan system neurologis, system endokrin,

sensori/persepsi, maupun sistem imun dan haematologi.

Pada pemeriksaan dada dan aksila didapatkan mamae membesar aerolla

hiperpigmentasi, papilla mamae menonjol, pengeluara asi (kolostrum sudah

ada), ASI sudah mulai berikan bada bayi. Pada abdomen tampak cembung

terdapat luka opersai tertutup verban 18 cm, tidak tampak kemerahan maupun

pembengkakan sekitar luka operasi, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat,

kontraksi uterus baik tidak teraba lembek, nyeri tekan pada daerah luka operasi.

peristaltik usus 14 kali/menit. Anogenital lochea rubra, kemerahan kurang lebih

15 cc. Haemoriod tidak ditemukan.

Pemenuhan nutrisi sebelumnya tidak ada keluhan ataupun pantangan, diet

saat ini diberikan lunak TKTP , keluhan mual tidak ada, menelan baik, , diet
47

yang disajikan ¾ porsi habis sedikit demi sedikit karena mengeluh sakit pada

daerah operasi. minum 300 cc/ 4 jam.

Pola eliminasi bak sebelum di rawat lebih dari 8 kali/hari, tidak ada

keluhan sakit saat bak, warna kuning saat ini bak melalui folly kateter no 16

jumlah urine 300 cc / 6 jam warna kuning keruh. BAB biasa 1 kali terakhir

sebelum dilakukan operasi. Aktifitas sehari-hari sebelumnya dilakukan mandiri,

saat ini klien masih terbaring di tempat tidur, pemenuhan aktifitas ADL di

bantu oleh petugas dan keluarga. Pemenuhan istirahat terganggu menurut kilen

karena adanya rasa nyeri luka operasi. Kebiasaan yang mempengaruhi

kesehatan klien tidak ada, masalah gangguan seksualitas menurut klien tidaka

ada.

Kesepakatan secara khusus untuk merencanakan kehamilan saat ini tidak

ada, bagaimana diberikan yang maha kuasa saja. Klien dan keluarga merasa

bahagia bersyukur kehamilannya sampai dengan kelahiran bayinya walaupun

klien kawatair dan takut melahirkan harus dengan tindakan operasi. Klien akan

berusaha belajar merawat bayinya. Ketika menghadapi suatu masalah kilen

akan bercerita pada suami dan keluarga terutama pada ibu klien. Klien masih

tinggal bersama orang tua berperan sebagai istri dan anak dari orang tua klien .

Klien akan berusaha belajar merawat bayinya dengan bantuan orang tuanya,

dan berharap keadaan dirinya maupun bayinya selalu diberikan kesehatan. Nilai

kebudayaan yang mempengaruhi kesehatan tidak ada. Klien belum pernah

mengikuti program KB dan rencana akan mengikuti program KB setelah masa


48

nifas. Riwayat imunisasi selama kehamilan klien sudah mendapatkan 2 kali

pemberian yang didapatkan di puskesmas.

Hasil nilai labolatorium yang di periksa meliputi hemoglobin 9,9 g/dl,

leokosit 10.00 ribu/ul, trombosit 189 ribu/ul, haematrokit 30%, clooting time 3

x/menit, blooding time 5 x/menit. Terapi yang berikan infus RL 1500cc/24 jam

drip oksitosin 10 U selama 12 jam post SC, antibiotik cefriaxon 1 x 2000 gr,

ketolorac 3 x 30 mg 24 jam pertama selanjutnya asam mefenamat 3 x 500 mg

dan paracetamol 3 x 500 mg.

B. Kasus Kedua

Klien yang ke dua bernama nyonya Y, umur 31 tahun, berjenis kelamin

perempuan, menikah 1 kali, klien beralamat di Bojong koneng bukit aladin

Bogor berasal dari suku sunda. Klien menganut agama Islam. Latar pendidikan

Strata I. Sehari - hari hari kegiatan klien adalah seorang ibu rumah tangga.

Klien masuk rawat di RS pada tanggal 18 Februari 2018 pukul 11.00 WIB,

kiriman dari dokter obgyin dengan G 3 P 2 A 0 hamil 38-39 minggu post SC

1,3 tahun yang lalu. Dengan keluhan perut mules masih hilang timbul sejak

pukul 03.00 WIB, denyut jantung bayi 155 x/menit regular dan akan di lakukan

tindakan Sectio Caesarea pada pukul 13.00 WIB.

Pada waktu dilakukan pengkajian pada tanggal 19 februari 2019 pukul

15.00 WIB keluhan utama klien saat dikaji adalah rasa nyeri terutama saat mau

melakukan pergerakan merubah posisi seperti miring dan duduk, rasa nyeri

seperti teriris –iris dan berdenyut - denyut, nyeri pada daerah luka operasi pada
49

perut bagian bawah, tidak menyebar, skala nyeri 8 (1-10), terasa nyeri antara

10-15 menit. Ekspresi wajah tampak meringis menahan sakit. klien sudah di

perbolehkan mobilisasi duduk dan belajar jalan, tetapi klien baru mencoba

duduk dengan bantuan sandaran tempat tidur saja karena bertambahnya rasa

sakit luka operasi, terlihat memegangi bagian perut bawah. Klien belum dapat

beraktifas memenuhi kebutuhan sehari – hari seperti makan dan minum secara

mandiri.

Riwayat penyakit sebelumnya klien pernah mengalami tindakan operasi

Sectio Caesarea 1,3 tahun yang lalu. Menurut klien opersai saat ini lebih terasa

sakit di bandingkan dengan yang lalu. Klien mempunyai riwayat anemia sejak

SMA tetapi tidak menjalani ada pengobatan tertentu, tidak mempunyai penyakit

hipertensi, diabetes militus maupun penyakit jantung. Riwayat penyakit

keluarga menurut klien ada yang mempunyai penyakit seperti hipertensi yaitu

ayah dari suami pengobatan terkontrol, diabetes militus, menular maupun

penyakit jantung tidak ada.

Pemeriksaan tanda-tanda vital di dapatkan Tekanan Darah 130/90 mmhg,

Nadi 100 x/menit irama teratur, repirasi 24 x/menit, tidak ada sumbatan jalan

nafas, suhu kulit teraba hangat 37,2 C. Tidak ada distensi tekanan vena

jugolaris. Tidak ada kelainan system neurologis, system endokrin,

sensori/persepsi, maupun system imun, haematologi riwayat anemia.

Pada pemeriksaan dada dan aksila didapatkan mamae membesar aerolla

hiperpigmentasi, papilla mamae menonjol, pengeluara asi (kolostrum ada warna


50

ASI bening keputihan), pembengkakan pada payudara tidak ada. ASI sudah

berikan bada bayi. Klien mengeluh kawatir bayi belum bisa menyusu dengan

baik, rewel/menangis saat menyusu. Klien mengatakan ASI ada tetapi belum

banyak. Ekspresi wajah ibu terlihat tegang saat menyusui ketika bayinya

menangis, perlekatan belum tepat (latch-on), bayi terlihat sering melepas

hisapan/putting susu dan rewel/menangis, reflek hisap bayi cukup kuat. Posisi

ibu saat menyusui terlihat tidak nyaman.

Pada abdomen tampak cembung terdapat luka opersai tertutup verban 18

cm, tidak tampak kemerahan sekitar luka operasi, tinggi fundus uteri 2 jari

dibawah pusat, kontraksi uterus baik tidak teraba lembek, nyeri tekan pada

daerah luka operasi. peristaltik usus 17 kali/menit. Anogenital lochea rubra,

lender kemerahan kurang lebih 20 cc. Haemoriod tidak ditemukan.

Pemenuhan nutrisi sebelumnya tidak ada keluhan ataupun pantangan, diet

saat ini diberikan lunak TKTP , keluhan mual tidak ada, menelan baik, , diet

yang disajikan 1 porsi habis sedikit demi sedikit karena mengeluh sakit pada

daerah operasi. minum 2000 cc/ 24 jam.

Pola eliminasi bak sebelum di rawat lebih dari 7 kali/hari, tidak ada keluhan

sakit saat bak, warna kuning saat ini bak melalui folly kateter no 16 jumlah

urine 1800 cc / 24 jam warna kuning. BAB biasa 1 kali terakhir sebelum

dilakukan operasi. Aktifitas sehari-hari sebelumnya dilakukan mandiri, saat ini

klien masih di tempat tidur, pemenuhan aktifitas ADL di bantu oleh petugas

dan keluarga. Pemenuhan istirahat terganggu menurut kilen karena adanya rasa
51

nyeri luka operasi. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan klien tidak ada,

masalah gangguan seksualitas menurut klien tidaka ada.

Kesepakatan secara khusus untuk merencanakan kehamilan saat ini tidak

ada, Klien dan suami menerima dengan kehamilan saat ini walaupun di berikan

dengan jarak yang dekat. Klien dan keluarga merasa bahagia bersyukur

kehamilannya sampai dengan kelahiran bayinya walaupun klien kawatair dan

takut melahirkan dengan tindakan operasi kembali. Klien akan berusaha belajar

merawat bayinya seperti yang dilakukan pada anak sebelumnya. Ketika

menghadapi suatu masalah kilen akan bercerita pada suami. Klien masih tinggal

di rumah sendiri berperan sebagai istri dan ibu dari anak – anak klien . Klien

akan merawat bayinya dengan bantuan orang tua dan pengasuh karena klien

masih mempunyai balita, dan berharap keadaan dirinya maupun bayinya selalu

diberikan kesehatan. Nilai kebudayaan yang mempengaruhi kesehatan tidak

ada. Klien pernah mengikuti program KB suntik 3 bulan sekali selama 5 tahun

setelah kelahiran anak pertama, dan rencana akan mengikuti program KB

setelah masa nifas. Riwayat imunisasi selama kehamilan saat ini tidak ada.

Hasil nilai labolatorium yang di periksa sebelum operasi meliputi

hemoglobin 9,7 g/dl, leokosit 7.58 ribu/ul, trombosit 310 ribu/ul, haematrokit

30 %, clooting time 2 x/menit, blooding time 4 x/menit. setelah opersai nilai

laboratorium hemoglobin 8.0 g/dl, leokosit 11.0 ribu/ul, trombosit 196 ribu/ul,

haematrokit 25 %.
52

Terapi yang berikan infus RL 2000 cc/24 jam drip oksitosin 10 U selama

12 jam post SC, antibiotik Ceforim 2 x 1000 gr selama 2 hari post SC

selanjutnya antibiotik cefspan 2 x 200 mg, kaltropen sub 3 x 1, maltofer 2 x 1

tablet.
53

3.2 Analisa Data

Tabel 3.2.1 Analisis Data

1. Kasus pertama

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1 Data Subyektif Kehamilan 40 – 41 minggu


Kien mengeluh nyeri :
P : Luka operasi Post Sectio KPD Nyeri akut
Caesarea, terutama jika mau
merubah posisi
Q : Nyeri seperti teriris – iris Resiko tinggi maternal dan
R : Daerah perut bagian bawah neonatal
pada luka operasi
S : Skala nyeri 8 ( 0 – 10 )
T : Terasa nyeri 15 menit pada Persalianan buatan
waktu mau melakukan Sectio Caesarea
pergerakan

Data Obyektif Terputusnya kontinuitas


 Ekspresi wajah meringis. jaringan kulit
 Tampak kesakitan terutama
ketika akan merubah posisi
tidur miring. Pelepasan mediator nyeri
 Tekanan Darah 140/90 mmhg. ( histamine, serotonin,
 Nadi 108 x/menit. bradikinin, leukotriene, dan
 Respirasi 26 X/menit. prostaglandin)
 Terlihat memegangi bagian
perut.
 Terdapat luka post Sectio Merangsang nosiceptor
Caesarea bagian perut bawah
tertutup verban 18 cm, area
sekitar luka operasi tidak Thalamus
tampak kemerahan dan
pembengkakan.
Kortek cerebri

Nyeri akut
54

2 Data Subyektif:
Kien mengeluh nyeri luka operasi Post Sectio Caesarea
terutama ketika akan melakukan Hambatan
pergerakan.
Terputusnya kontinuitas
mobilitas fisik
Data Obyektif: jaringan kulit
 Post SC 5 jam 30 menit
 klien tampak berbaring
membatasi pergerakan Pelepasan mediator nyeri
 Tampak meringis menahan ( histamine, serotonin,
sakit terutama saat merubah bradikinin, leukotriene, dan
posisi miring prostaglandin)
 Pemenuhan ADL di bantu oleh
keluarga dan petugas
Merangsang nociseptor

Thalamus

Kortek cerebri

Nyeri

Penurunan rentang gerak

Hambatan mobilitas fisik


55

2. Kasus kedua

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1 Data Subyektif Kehamilan 38 – 39 minggu


Kien mengeluh nyeri :
P : Luka operasi Post Sectio Post SC 1,3 tahun yang lalu Nyeri akut
Caesarea, terutama jika mau
merubah posisi
Q : Nyeri seperti teriris – iris dan Resiko tinggi maternal dan
berbenyut - denyut neonatal
R : Daerah perut bagian bawah
pada luka operasi
S : Skala nyeri 8 ( 0 – 10 ) Persalianan buatan
T : Terasa nyeri 15 menit pada Sectio Caesarea
waktu mau melakukan
pergerakan
Terputusnya kontinuitas
Data Obyektif jaringan kulit
 Ekspresi wajah meringis.
 Tampak kesakitan terutama
ketika akan merubah posisi Pelepasan mediator nyeri
tidur miring dan duduk. ( histamine, serotonin,
 Tekanan Darah 130/90 mmhg. bradikinin, leukotriene, dan
 Nadi 100 x/menit. prostaglandin)
 Respirasi 24 X/menit.
 Terlihat memegangi bagian
perut bawah. Merangsang nosiceptor
 Terdapat luka post Sectio
Caesarea bagian perut bawah
tertutup verban 18 cm, area Thalamus
sekitar luka operasi tidak
tampak kemerahan dan
pembengkakan. Kortek cerebri

Nyeri akut

2 Data Subyektif:
Kien mengeluh nyeri luka operasi Post Sectio Caesarea
terutama ketika akan melakukan Hambatan
pergerakan. Operasi sekarang lebih
sakit di bandingkan operasi Terputusnya kontinuitas mobilitas fisik
sebelumnya jaringan kulit
56

Data Obyektif
 Post SC 5 1 hari
 klien tampak bersandar dengan Pelepasan mediator nyeri
bantuan dari sandaran tempat ( histamine, serotonin,
tidur bradikinin, leukotriene, dan
 Klien masih membatasi prostaglandin)
pergerakan walaupun sudah di
perbolehkan mobilisasi
berjalan. Merangsang nociseptor
 Tampak meringis menahan
sakit terutama saat merubah
posisi miring dan duduk dan Thalamus
akan berdiri
 Pemenuhan ADL di bantu oleh
keluarga dan petugas Kortek cerebri

.
Nyeri

Pembatasan rentang gerak

Hambatan mobilitas fisik

3 Data sobyektif Proses menyusui Ketidakefektifan


Klien mengeluh kawatir beyi belum
bisa menyusu dengan baik, dan pemberia ASI
rewel saat menyusu, ASI sudah ada Adaptasi ibu dan bayi
tetapi belum banyak

Data obyektif Latch – on kurang tepat


 Ekspresi wajah terlihat tegang
saat akan menyusui ketika
bayinya menangis. Ketidak adekuatan hisapan
 Posisi perlekatan (latch – on) bayi
bayi belum tepat
 Posisi ibu terlihat tidak nyaman Kurang tampak pelepasan
 bayi sering melepas oksitosin
hisapan/putting susu ketika
menyusu dan rewel/menangis
 Reflek hisap cukup kuat Kecemasan pada ibu
 Pembengkakan payudara tidak
ada
 pengeluaran ASI ada warna Ketidakefektifan pemberian
bening keputihan ASI
57

3.3 Masalah Keperawatan

Berdasarkan analisis hasil pengkajian ditegakkan beberapa masalah

keperawatan klien post sectio caesarea. adapaun prioritas masalah keperawatan

terdiri dari:

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik

2. Hambatan mobilitas fisik berubungan dengan ganngguan neuromuskuler :

nyeri

3. Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kecemasan pada ibu.


59

3.4 Intervensi Keperawatan

3.4.1 Kasus 1
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteri Hasil Intervensi Keperawatan
Noc Nic
1 Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan agen cedera fisik o pain control Manajement nyeri
06 Data Subyektif o pain level  Lakukan pengkajian nyeri
02 Kien mengeluh nyeri : secara komprehensif termasuk
20 P: Luka operasi Post Setelah dilakukan tindakan keperawatan lokasi, karakteristik, durasi,
I9 Sectio Caesarea, selama 3x24 jam Pasien tidak mengalami frekuensi, kualitas
terutama jika mau nyeri, dengan kriteria hasil: dan faktor presipitasi
Jam merubah posisi Indikator Saat di Target  Observasi reaksi nonverbal
18. Q: Nyeri seperti teriris – kaji dari ketidaknyamanan
30 iris Mampu mengontrol 1 5  Bantu pasien dan keluarga
R: Daerah perut bagian nyeri (tahu penyebab untuk mencari dan
bawah pada luka nyeri, Mampu menemukan dukungan
operasi menggunakan  Gunakan teknik teknik
S: Skala nyeri 8 ( 0 – 10 ) tehnik komunikasi terapeutik untuk
T: Terasa nyeri 15 menit nonfarmakologi mengetahui pengalaman nyeri
pada waktu mau untuk mengurangi pasien
melakukan pergerakan nyeri,  Ajarkan tentang teknik non
mencari bantuan) farmakologi:relaksasi
Data Obyektif Melaporkan bahwa 2 5 genggam jari
 Ekspresi wajah nyeri  Berikan informasi tentang
meringis. berkurang dengan nyeri seperti penyebab nyeri,
 Tampak kesakitan menggunakan berapa lama nyeri akan
terutama ketika akan manajemen nyeri berkurang dan antisipasi
merubah posisi tidur Melaporkan bahwa 2 5 ketidaknyamanan dari
miring. nyeri prosedur
 Tekanan Darah 140/90 berkurang dengan  Kolaborasi pemberian
mmhg. menggunakan analgesik
 Nadi 108 x/menit. manajemen nyeri
 RR 26 x/menit. Mampu mengenali 2 5 Manajemen analgesic
 Terlihat memegangi nyeri
bagian perut. (skala, intensitas,  Cek intruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan
 Terdapat luka post frekuensi dan tanda
nyeri) frekuensi
Sectio Caesarea
bagian perut bawah Tanda vital dalam 2 5  Cek riwayat alergi
rentang  Monitor vital sign sebelum
tertutup verban 18 cm,
Normal dan sesudah pemberian
area sekitar luka
Tidak mengalami 2 5 analgetik pertama kali
operasi tidak tampak
gangguan istirahat  Evaluasi efektivifas
kemerahan dan
Keterangan analgesic, tanda dan gejala
pembengkakan
1: Berat
2: Cukup berat Manajemen lingkungan
3: Sedang
4: Ringan Kontrol lingkungan yang dapat
5: tidak ada mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan
60

Data Subyektif: NOC kebisingan.


Kien mengeluh nyeri luka Joint Movement NIC
operasi terutama ketika Transfer performance
akan melakukan Self Care : ADLs Exercice therapy: ambulasi
pergerakan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan  Lonitoring vital sign sebelum
Data Obyektif: selama 3x24 jam Pasien tidak mengalami dan sesudah latihan dan lihat
 Post SC 5 jam 30 nyeri, dengan kriteria hasil: respon pasien setelah latihan
menit  kaji kemampuan pasien
 klien tampak berbaring Indikator Saat di Target dalam mobilisasi
membatasi pergerakan kaji  Ajarkan pasien bagaimana
 Tampak meringis Klien meningkat 1 5 merubah posisi dan berikan
menahan sakit dalam aktifitas fisik bantuan jika diperlukan
terutama saat merubah Mengerti tujuan dan 1 5  Latih pasien dalam
posisi miring peningkatan aktifitas pemenuhan ADLs secara
 Pemenuhan ADL di Memverbalisasikan 2 5 mandiri sesuai dengan
bantu oleh keluarga perasaan dalam kemampuan
dan petugas meningkatkan  Dampingi dan bantu pasien
kekuatan dan saat mobilisasi dan bantu
kemampuan penuhi kebutuhan ADLs
berpindah pasien
Bergerak dengan 2 5  Libatkan keluarga dalam
mudah aktifitas pemenuhan ADLs

Keterangan Peningkatan mekanika tubuh


1 : Sangat terganggu
2 : Banyak terganggu  Kaji pemahaman pasien
3 : Cukup terganggu mengenai mekanika tubuh
4 : Sedikit terganggu dan latihan/aktifitas
5 : Tidak terganggu  Edukasi pasien tentang
pentingnya postur tubuh yang
benar untuk mencegah
kelelahan, ketegangan dan
nyeri
61

3.4.2 Kasus 2

No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteri Hasil Intervensi Keperawatan


Noc Nic
1 Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan agen cedera fisik o pain control Manajement nyeri
18 Data Subyektif o pain level  Lakukan pengkajian nyeri
02 Kien mengeluh nyeri : secara komprehensif termasuk
20 P: Luka operasi Post Setelah dilakukan tindakan keperawatan lokasi, karakteristik, durasi,
I9 Sectio Caesarea, selama 3x24 jam Pasien tidak mengalami frekuensi, kualitas
terutama jika mau nyeri, dengan kriteria hasil: dan faktor presipitasi
Jam merubah posisi Indikator Saat di Target  Observasi reaksi nonverbal
15. Q: Nyeri seperti teriris – kaji dari ketidaknyamanan
00 iris dan berdenyut- Mampu mengontrol 2 5  Bantu pasien dan keluarga
denyut nyeri (tahu untuk mencari dan
R: Daerah perut bagian penyebab nyeri, menemukan dukungan
bawah pada luka Mampu  Gunakan teknik teknik
operasi menggunakan komunikasi terapeutik untuk
S: Skala nyeri 8 ( 0 – 10 ) tehnik mengetahui pengalaman nyeri
T: Terasa nyeri 15 menit nonfarmakologi pasien
pada waktu mau untuk mengurangi  Ajarkan tentang teknik non
melakukan pergerakan nyeri, farmakologi:relaksasi
mencari bantuan) genggam jari
Data Obyektif Melaporkan bahwa 2 5  Berikan informasi tentang
 Ekspresi wajah nyeri nyeri seperti penyebab nyeri,
meringis. berkurang dengan berapa lama nyeri akan
 Tampak kesakitan menggunakan berkurang dan antisipasi
terutama ketika akan manajemen nyeri ketidaknyamanan dari
merubah posisi tidur Melaporkan bahwa 2 5 prosedur
miring dan duduk nyeri  Kolaborasi pemberian
 Tekanan Darah 130/90 berkurang dengan analgesik
mmhg. menggunakan
 Nadi 100 x/menit. manajemen nyeri Manajemen analgesic
 RR 24 x/menit. Mampu mengenali 2 5
 Terlihat memegangi nyeri  Cek intruksi dokter tentang
bagian perut. (skala, intensitas, jenis obat, dosis, dan
frekuensi
 Terdapat luka post frekuensi dan tanda
Sectio Caesarea nyeri)  Cek riwayat alergi
Tanda vital dalam 3 5  Monitor vital sign sebelum
bagian perut bawah
rentang dan sesudah pemberian
tertutup verban 18 cm,
Normal analgetik pertama kali
area sekitar luka
Tidak mengalami 2 5  Evaluasi efektivifas
operasi tidak tampak
gangguan istirahat analgesic, tanda dan gejala
kemerahan dan
pembengkakan Keterangan
1: Berat Manajemen lingkungan
2: Cukup berat
3: Sedang Kontrol lingkungan yang dapat
4: Ringan mempengaruhi nyeri seperti suhu
5: tidak ada ruangan, pencahayaan dan
kebisingan.
62

2 Data Subyektif: NOC NIC


Kien mengeluh nyeri luka
operasi terutama ketika Joint Movement Exercice therapy: ambulasi
akan melakukan Transfer performance
pergerakan. Operasi Self Care : ADLs  Lonitoring vital sign sebelum
sekarang lebih sakit dan sesudah latihan dan lihat
dibandingkan operasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan respon pasien setelah latihan
yang dahulu selama 3x24 jam Pasien tidak mengalami  kaji kemampuan pasien
nyeri, dengan kriteria hasil: dalam mobilisasi
Data Obyektif:  Ajarkan pasien bagaimana
 Post SC 1 hari Indikator Saat di Target merubah posisi dan berikan
 klien tampak bersandar kaji bantuan jika diperlukan
dengan bantuan dari Klien meningkat 1 5  Latih pasien dalam
sandaran tempat tidur dalam aktifitas fisik pemenuhan ADLs secara
 Klien masih Mengerti tujuan dan 1 5 mandiri sesuai dengan
membatasi pergerakan peningkatan aktifitas kemampuan
walaupun sudah di Memverbalisasikan 2 5  Dampingi dan bantu pasien
perbolehkan mobilisasi perasaan dalam saat mobilisasi dan bantu
berjalan. meningkatkan penuhi kebutuhan ADLs
 Tampak meringis kekuatan dan pasien
menahan sakit kemampuan  Libatkan keluarga dalam
terutama saat merubah berpindah aktifitas pemenuhan ADLs
posisi miring dan Bergerak dengan 2 5
duduk dan akan berdiri mudah Peningkatan mekanika tubuh
 Pemenuhan ADL di
bantu oleh keluarga Keterangan  Kaji pemahaman pasien
dan petugas 1 : Sangat terganggu mengenai mekanika tubuh
2 : Banyak terganggu dan latihan/aktifitas
3 : Cukup terganggu  Edukasi pasien tentang
4 : Sedikit terganggu pentingnya postur tubuh yang
5 : Tidak terganggu benar untuk mencegah
kelelahan, ketegangan dan
nyeri

3 Data sobyektif NOC NIC


Klien mengeluh kawatir  Keberhasilan menyusui : bayi
beyi belum bisa menyusu  Keberhasilan menyusui : maternal Breastfeding assistance
dengan baik, dan rewel
saat menyusu, ASI sudah Setelah dilakukan tindakan keperawatan  Evaluasi pola menghisap /
ada tetapi belum banyak selama 3x24 jam Pasien tidak mengalami menelan bayi
nyeri, dengan kriteria hasil:  Kaji keinginan dan motivasi
ibu untuk menyusui
Data obyektif Indikator Saat di Target  Evaluasi pemahaman ibu
 Ekspresi wajah terlihat kaji tentang isyarat menyusui dan
tegang saat menyusui Posisi bayi 2 5 bayi
ketika bayinya menempel pada  Kaji kemampuan bayi untuk
menangis payudara dengan latch-on dan menghisap
 Posisi perlekatan baik (latch-on tepat) secara efektif
(latch – on) bayi  Pantau keterampilan ibu
belum tepat Reflek menggisap 3 5 dalam menempelkan bayi ke
63

 Posisi ibu terlihat bayi putting


tidak nyaman  Ajarkan ibu untuk posisi yang
 bayi sering melepas Bayi tampak puas 1 5 sesuai
hisapan/putting susu minum ASI  Diskusikan kebutuhan untuk
ketika menyusu dan istirahat yang cukup, hidrasi,
rewel/menangis Posisi ibu nyaman 2 5 dan diet yang seimbang
 Reflek hisap cukup pada saat menyusui
kuat Breast examination
 Pembengkakan Teknik menyusui 2 5 Lactation Suprresion
payudara tidak ada
pengeluaran ASI ada  Fasilitasi proses bantuan
warna bening Keterangan interaktif untuk membantu
keputihan 1 : Tidak adkuat mempertahankan
2 : Sedikit adekuat keberhasilan proses
3 : Cukup adekuat pemberian ASI
4 : Sebagian besar adekuat  Sediakan informasi tentang
5 : Sepenuhnya adekuat laktasi
 Identifikasi system
pendukung untuk
mempertahankan menyusui
 Rujuk Konselor Laktasi jika
perlu
64

3.5 Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan

sesuai dengan intervensi yang telah di rencanakan dalam mengatasi masalah

utama pada kasus post sectio caesarea.

Implementasi yang telah dilakukan pada kedua kasus adalah sebagai berikut;

1). Manajemen nyeri; a. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif

termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi, b.

Melakukan observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan, c. Membantu

pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan, d. Mengajarkan

tentang teknik non farmakologi : relaksasi genggam jari, e. Memberikan

informasi tentang penyebab nyeri, berapa lama akan berkurang dan antisipasi

ketidaknyamanan dari prosedur, f. Kolaborasi pemberian analgesik.

2).Manajemen obat; a. Melakukan cek intruksi dokter tentang jenis obat, dosis,

dan frekuensi, b. Melakukan cek riwayat alergi, c. Memonitor vital sign sebelum

dan sesudah pemberian analgesik pertama kali, d.Melakukan evaluasi efektifitas

analgesik, tanda dan gejala. 3).Managemen Lingkungan; a. Mengontrol

lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan

dan kebisingan.
65

3.4.1 Pada kasus Ny. S

Implemnentasi keperarawatan Ny S dengan masalah utama nyeri akut

dilakukan selama 3 hari dari tanggal 6 - 8 Februari 2019. Teknik relaksasi

genggam jari dilakukan setelah 5 jam 30 menit post operasi sectio caesarea

pada pukul 18.30 WIB. Klien mengeluh nyeri ketika akan merubah posisi

miring dengan skala nyeri 8 (0-10). Respon klien hanya mampu melakukan 3

jari disertai tarik nafas dalam selama ± 6 menit, klien belum tampak rileks,

mengeluh nyeri luka operasi tidak menyebar seperti teriris-iris terutama pada

awal pergerakan selama 10-15 menit. Kemudian klien diberi extra pengurang

nyeri dengan obat analgesik yang di resepkan yaitu injeksi ketorolac 30 mg via

bolus. Pukul 19.30 WIB skala nyeri berkurang menjadi 6.

Pada hari kedua tindakan relaksasi genggan jari dilakukan 3 kali yaitu

pada pukul 15.00 WIB, pukul 17.00 WIB dan pukul 19.00 WIB. Pada waktu

klien mengeluh nyeri pada saat merubah posisi miring, duduk dan ketika akan

menyusui bayinya. Respon klien mampu melakukan selama 10-15 menit, klien

mulai terlihat rileks, kooperatif selama tindakan, skala nyeri menjadi 5 (0-10),

rasa nyeri sekitar 5-10 menit seperti teriris dan tertarik tidak menjalar ke bagian

lain. terapi analgesik diberikan oral terjadwal pada pukul 17.30 WIB asam

mefenamat 500 mg.

Pada hari ketiga, tindakan relaksasi genggam jari dilakukan 3 kali pada

pukul 14.30 WIB, 16.00 WIB dan pukul 17.30 WIB, ketika klien masih
66

mngeluh nyeri pada saat klien awal melakukan pergerakan seperti dari tidur ke

posisi duduk, duduk ke berdiri kemudian berjalan sekitar 15 menit. tidak

menyebar seperti tertarik berdenyut-denyut. Skala nyeri sebelum tindakan pada

awal bergerak menurut klien 8 menjadi 4 (nyeri sedang).

3.4.2 Pada kasus Ny. Y

Pada kasus ke dua pada Ny Y dilakukan teknik relaksasi genggam jari

setelah 24 jam post sectio caesarea pada tanggal 19 - 21 Februari 2019 .

Relaksasi genggam jari dilakukan 2 kali pada waktu /pukul 15.00WIB dan

pukul 18.00 WIB. Pada waktu Klien mengeluh nyeri ketika akan merubah

posisi miring, akan duduk dan menyusui bayinya dengan skala nyeri 8 (0-10).

Respon klien mampu melakukan 8 jari disertai tarik nafas dalam selama 15

menit, klien belum tampak rileks, meringis, nyeri terasa teriris-iris, kemudian

klien diberi extra obat analgesik yang di resepkan kaltropen 1 sub. pukul 19.00

WIB skala nyeri berkurang menjadi 6 (nyeri sedang).

Pada hari kedua tindakan relaksasi genggan jari dilakukan 3 kali pada

pukul 14.00 WIB, pukul 16.00 WIB, dan pukul 19.30 WIB. Ketika klien

mengeluh nyeri pada saat merubah posisi tidur ke duduk menyusui bayinya

dan akan melakukan pergerakan berdiri latihan jalan. Respon klien mampu

melakukan selama 20 menit, klien mulai terlihat rileks, kooperatif selama

tindakan, duduk tidak menggunakan sandaran, skala nyeri menjadi 5 dari 8 (0-

10), rasa nyeri seperti teriris-iris sekitar 5-10 menit. Obat analgesik kaltropen

sub sesuai yang di jadwal pemberian obat pukul 16.00WIB.


67

Pada hari ketiga, tindakan relaksasi genggam jari dilakukan 3 kali pada

pukul 08.00 WIB, 10.30 WIB dan pukul 13.00 WIB, ketika klien masih

mngeluh nyeri pada saat klien awal melakukan pergerakan seperti dari duduk

ke berdiri kemudian berlajan. Rasa nyeri awal pergerakan seperti tertarik dan

berdenyut-denyut tidak menyebar sekitar 10- 15 menit. Skala nyeri sebelum

tindakan menurut klien 7 menjadi 5 (nyeri sedang).

3.6 Evaluasi Keperawatan

3.5.1 Evaluasi keperawatan kasus 1 Ny. S

Evaluasi keperawatan dari tindakan keperawatan dilakukan setelah 3 x

24 jam pada kasus utama nyeri pada tanggal 8 Februari 2019 pada pukul

20.00 WIB. Kondisi klien keadaan umum baik, kesadaran compos mentis,

didapatkan data subyektif keluhan P : Nyeri luka operasi bertambah jika

akan melakukan pergerakan seperti pada perubahan posisi duduk, berdiri,

dan akan berjalan.Rasa nyeri berkurang setelah dilakukan relaksasi

genggam jari dan setelah di berikan obat analgesik. Q: Rasa nyeri seperti

tertarik dan berdenyut-denyut. R: Daerah luka operasi tetapi tidak

menyebar bagian lain. S: Skala nyeri sebelum relasksasi genggam jari 8

setelah relaksasi menjadi 4 (0 -10). T: Ketika awal pergerakan saja sekitar

10 menit.

Dari data objektif di dapatkan ekspresi wajah terlihat meringis ketika

awal melakukan pergerakan, tekanan darah 120/85 mmhg, Nadi 90


68

x/menit, respirasi 24 x/ menit, terlihat memegangi area perut ketika akan

melakukan pergerakan, luka operasi tertutup verband ± 18 cm, tidak

tampak kemerahan atau pembengkakan.

Analisa di dapatkan masalah nyeri belum teratasi dengan indikator

mampu mengontrol nyeri dari 1 (berat) dengan target 5 menjadi 3 (nyeri

sedang), melaporkan nyeri berkurang menggunakan managemen nyeri dari

2 (berat) menjadi 3 (sedang), Mampu mengenali nyeri (skala nyeri,

intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) dari 2 menjadi 4 (ringan), tanda-tanda

vital dalam rentang normal dari 2 menjadi 4 (ringan), tidak mengalami

gangguan tidur dari 2 menjadi 3 (sedang).

Planning perawat yang dilakukan adalah tindakan keperawatan akan

dilakukan mandiri di rumah karena klien di ijinkan pulang, menganjurkan

klien menggunakan relaksasi genggam jari ketika timbul nyeri dan

kolaborasi pemberian analgesik untuk pengobatan lanjutan di rumah.

Kontrol sesuai yang di anjurkan 5-7 hari di poliklinik jika tidak ada

keluhan lain.
69

3.5.2 Evaluasi keperawatan kasus 2 Ny. Y

Evaluasi keperawatan dari tindakan keperawatan dilakukan setelah

3 x 24 jam pada kasus utama nyeri pada tanggal 21 Februari 2019 pada

pukul 14.00 WIB. Kondisi klien keadaan umum baik, kesadaran compos

mentis, didapatkan data subyektif keluhan P : Nyeri luka operasi bertambah

jika akan melakukan pergerakan seperti pada perubahan posisi duduk,

berdiri, dan akan berjalan.Rasa nyeri berkurang setelah dilakukan relaksasi

genggam jari dan setelah di berikan obat analgesik. Q: Rasa nyeri seperti

di iris iris dan berdenyut-denyut. R: Daerah luka operasi tetapi tidak

menyebar bagian lain. S: Skala nyeri sebelum relasksasi genggam jari 7

setelah relaksasi menjadi 4 (0 -10). T: Ketika awal pergerakan saja sekitar

10 – 15 menit.

Dari data objektif di dapatkan ekspresi wajah terlihat meringis ketika

awal melakukan pergerakan, tekanan darah 120/80 mmhg, Nadi 92

x/menit, respirasi 24 x/ menit, terlihat memegangi area perut ketika akan

melakukan pergerakan, luka operasi tertutup verband ± 18 cm, tidak

tampak kemerahan atau pembengkakan.

Analisa di dapatkan masalah nyeri belum teratasi dengan indikator

mampu mengontrol nyeri dari 2 (berat) dengan target 5 menjadi 3 (nyeri

sedang), melaporkan nyeri berkurang menggunakan managemen nyeri dari

2 (berat) menjadi 3 (sedang), Mampu mengenali nyeri (skala nyeri,


70

intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) dari 2 menjadi 4 (ringan), tanda-tanda

vital dalam rentang normal dari 3 menjadi 4 (ringan), tidak mengalami

gangguan tidur dari 2 menjadi 3 (sedang).

Planning perawat yang dilakukan adalah tindakan keperawatan akan

dilakukan mandiri di rumah karena klien di ijinkan pulang, menganjurkan

klien menggunakan relaksasi genggam jari ketika timbul nyeri dan

kolaborasi pemberian analgesik untuk pengobatan lanjutan di rumah.

Kontrol sesuai yang di anjurkan 3 hari di poliklinik jika tidak ada keluhan

lain.
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Profil Lahan Praktek

Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) merupakan rumah sakit

rujukan untuk daerah Kota Bogor dan sekitarnya, juga merupakan rumah sakit

swasta tipe B yang telah terakreditasi paripurna. Pemilik dari RS PMI adalah

Perhimpunan Palang Merah Indonesia versi KARS 2012. RS PMI Bogor terletak

di Jl. Pajajaran no 80 Bogor, didirikan pada tahun 1931 oleh Belanda dan

dikelola oleh NERKAI, pada tahun 1951 diserahkan ke Markas Besar PMI. Saat

ini RS PMI Bogor memiliki kapasitas yang digunakan 257 tempat tidur.

Visi RS PMI Bogor adalah menjadi rumah sakit yang memberikan pelayanan

berkualitas. Untuk mencapai visi tersebut, ada beberapa misi yang dilakukan RS

PMI yaitu memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pasien,

mengembangkan unggulan pelayanan di bidang kegawatdaruratan medik,

membina profesionalisme kerja, dan melaksanakan penanganan medis pada

kegawatdaruratan dan bencana.

RS PMI Bogor memiliki beberapa unit pelayanan terdiri dari Instalasi Rrawat

Jalan, Instalasi Rawat Inap, Ruang Intensif Care HCU/ICU dan ICCU, Instalasi

Bedah Central, pelayanan haemodialisa, dalan lain-lain. Dalam pelayanan

keperawatan, RS PMI Bogor telah mengembangkan model praktik keperawatan

metode tim. Pada pelaksanaannya, perawat dalam satu ruangan

71
72

dibagi dalam beberapa tim dan diketuai oleh ketua tim. Salah satunya adalah ruang

rawat inap Gardenia. Ruang Gardenia merupakan salah satu pelayanan dengan

masalah atau gangguan ginekologi maupun obstetrik dan perawatan rawat gabung.

Ruang perawatan terdiri dari 2 tempat tidur untuk tindakan persalinan, 4 tempat

tidur untuk ruang observasi, 1 tempat tidur untuk ruang tindakan kelas VIP, 1

tempat tidur untuk ruang isolasi, 6 tempat tidur perawatan kelas 1, 5 tempat tidur

untuk perawatan kelas 2 dan 6 tempat tidur untuk perawatan kelas 3. Rumah Sakit

PMI merupakan rumah sakit tipe B sehingga pasien yang dilakukan perawatan

maupun tindakan lebih dari 50% dari rujukan fasilitas kesehatan lain, seperti pada

kasus persalinan dengan penyulit yang berisiko kematian ibu maupun bayi

sehingga harus segera di akhiri/dilahirkan dengan tindakan sectio caesarea.

Tindakan sectio caesarea rata-rata setiap bulan di atas 70 % dari jumlah

persalinan dengan indikasi yang bervariasi salah satunya pada kasus ketuban pecah

dini, pre eklamsia, gawat janin, CVD, kelainan letak seperti letak sungsang,

plasenta previa, partus tak maju, tindakan induksi gagal, bekas sectio caesarea dan

juga atas indikasi sosial atau permintaan sediri oleh pasien.

Struktur organisasi Ruang Gardenia terdiri dari 1 Penangguang jawab/kepala

ruangan dengan latar belakang pendidikan AMD Keb, 2 orang katim,

6 penanggung jawab dinas sore atau malam, (I orang katim bertanggung jawab

pelayanan asuhan kebidanan ruang bersalin/tindakan/observasi, 1 orang

bertanggung jawab pada kasus rawat inap biasa dan asuhan


73

keperawatan/kebidanan rawat gabung). 1 Tim terdiri dari petugas yang diantaranya

ada penanggung jawab dan bidan/perawat pelaksana. Jumlah dokter spesialis

ginekologi dan obstetri ada 4 dokter. Jumlah tenaga bidan ada 18 orang dengan

latar belakang pendidikan D 3 kebidanan dan satu orang D 4 Kebidanan. Untuk

menunjang pengetahuan, keterampilan dari petugas dalam memberikan pelayanan

asuhan keperawatan/kebidanan, Beberapa petugas sudah mendapatkan/mengikuti

pelatihan baik pelatihan yang di selenggarakan di luar rumah sakit maupun yang

dilakukan di dalam rumah sakit/inhause training. Seperti pelatihan APN sebanyak

12 orang, yang telah mengikuti pelatihan kegawatan maternatal dan neonatal

sebanyak 14 orang, komuniksasi terapeutik, Managemen Laktasi dan lain

sebagainya.

4.2 Analisis Masalah Keperawatan Dengan Konsep Terkait

Adanya beberapa kelainan atau hambatan pada proses persalinan yang

menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta

previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture

uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks,

dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu

tindakan pembedahan yaitu sectio caesarea.

Pada pembedahan sectio caesarea akan timbul rasa nyeri pada pasca

melahirkan kareana pada waktu proses pembedahan dokter telah melakukan

pembiusan terlebih dahulu. Pengaruh obat bius biasanya akan menghilang sekitar
74

2 jam setelah persalinan selesai. Setelah selesai efek obat bius, rasa nyeri akan

mulai dirasakan dan akan menimbulkan reaksi fisik maupun psikologi pada ibu

post partum.

Masalah keperawatan yang menjadi fokus utama penulis adalah masalah

nyeri akut. Pemilihan masalah nyeri karena nyeri merupakan salah satu masalah

utama yang muncul pada pasien pasca operasi.

Nyeri akut merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak

menyenangkan dan muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau

digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International Association for

the Studi of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga

berat dengan akhir yang diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung kurang dari

3 bulan (NANDA International, 2018).

Pada kasus pertama dan kasus kedua, di dapatkan ke dua pasien

mengalami masalah utama yaitu nyeri akut. Berdasarkan dari pengkajian yang

telah dilakukan pada kasus pertama dan kedua nyeri disebabkan oleh agen cedera

fisik yang berupa terdapatnya luka post pembedahan sectio caesarea. Proses

pembedahan melalui tindakan insisi pada dinding abdomen akan menyebabkan

terputusnya kontinuitas jaringan, pembuluh darah dan syaraf-yaraf sekitar daerah

insisi.

Nyeri akut diawali sebagai pesan yang diterima oleh saraf-saraf perifer.

Zat kimia (substansi P, bradikinin, prostaglandin) dilepaskan, kemudian

menstimulasi saraf perifer membantu menghantarkan pesan nyeri dari daerah


75

yang terluka ke otak. Sinyal nyeri dari daerah yang luka berjalan sebagai impuls

elektrokimia di sepanjang nervus ke bagian dorsal spinal cord. Pesan kemudian

dihantarkan ke thalamus, pusat sensoris di otak dimana sensasi seperti rasa panas

dingin, nyeri dan sentuhan pertama kali dipersepsikan. Pesan kemudian

dihantarkan ke kortek dimana intensitas dan lokasi nyeri dipersepsikan.

4.3 Analisis Intervensi Keperawatan Dengan Konsep Dan Penelitian Terkait

Penatalaksanaan nyeri dalam menangani klien dengan post sectio caesarea

dapat dilakukan baik secara farmakologis maupun non farmakologis. prosedur

farmakologis dilakukan dengan pemberian analgesik yaitu untuk mengurangi

nyeri atau menghilangkan nyeri. Pemberian analgesik dapat diberikan melalui

tindakan kolaborasi dengan penanggung jawab pelayanan medis terlebih dahulu,

sedangkan intervensi keperawatan secara mandiri melalui teknik non

farmakologi pada masalah nyeri salah satunya dengan teknik relaksasi genggam

jari (finger hold).

Menurut Liana (2008) dalam Pandita (2012), teknik relaksasi genggam

jari (finger hold) merupakan teknik relaksasi dengan jari tangan serta aliran

energi di dalam tubuh. Teknik relaksasi genggam jari adalah suatu cara yang

mudah untuk mengelola emosi dan mengembangkan kecerdasan emosional.

Disepanjang jari-jari tangan kita terdapat saluran atau meridian energi yang

terhubung dengan berbagai organ dan emosi (Cane, 2013). Menggenggam jari

sambil menarik nafas dalam-dalam (relaksasi) dapat mengurangi dan


76

menyembuhkan ketegangan fisik dan emosi, karena genggaman jari tangan kita

(Liana, 2008). Dalam keadaan relaksasi secara alamiah akan memicu

pengeluaran hormon endorphin, hormon ini merupakan analgesik alami dari

tubuh sehingga nyeri akan berkurang.

Penelitian Astutik (2017) menggunakan desain penelitian pre-

eksperimental dengan menggunakan one group pre-post design. Teknik genggam

jari untuk mengurangi nyeri dilakukan pada pasien post sectio caesarea di Ruang

Delima RSUD Kertosono sebanyak 20 responden. Hasil penelitian menunjukkan

sebelum pemberian relaksasi genggam jari sebagian besar mengalami nyeri

sedang sebanyak 13 rerponden (65%). Setelah pemberian relaksasi genggam jari

sebagian besar mengalami nyeri ringan (60%). Didapatkan hasil 0,001 ≤ 0,05

menunjukkan ada pengaruh teknik genggam jari terhadap penurunan nyeri,

Penelitian Linatu Sofiyah (2014), hasil analisis menunjukkan perbedaan

skala nyeri yang signifikan setelah diberikan pegangan tangan teknik relaksasi

antara kelompok eksperimen menyatakan nyeri sedang (56,2%) dan nyeri ringan

(50%) yang sebelumnya pada kelompok kontrol nyeri berat (62.5%). Ada

pengaruh relaksasi genggam jari terhadap perubahan skala nyeri pada pasien post

sectio caesarea di RSUD Soekarjo Purwokerto dengan nilai p 0.000(p˂α).

Penelitian efektifitas relaksasi genggam jari terhadap penurunan skala nyeri

post sectio caesarea yang dilakukan Atun Raudatul (2015), hasil penelitian

kelompok kontrol nilai korelasi sebesar 0,41 dengan nilai R- square 18,6% dan

kelompok eksperimen sebesar 0,671 dengan nilaiR - square 45.


77

Hal ini sama dengan yang penulis lakukan pada kasus/masalah utama yaitu

masalah nyeri akut yang ada pada ke dua pasien post sectio caesarea dengan

menggunakan teknik relaksasi genggam jari, dimana tindakan menggabungkan

antara relaksasi nafas dalam dengan menggam jari sampai dengan ke lima jari

lain dengan waktu 3 menit setiap jari tangan. kemudian klien di minta menarik

nafas dalam-dalam kemudian dihembuskan perlahan sambil melepaskan perasaan

yang mengganggu seperti ketidaknyaman, nyeri keluar dari pikiran. Teknik

relaksasi genggam jari dilakukan selama kurang lebih 30 menit.

Pada kasus pertama Ny. S dilakukan teknik relaksasi genggam jari

setelah 5 jam 30 menit post sectio caesarea. Klien mengeluh nyeri ketika akan

merubah posisi miring dengan skala nyeri 8 (0-10). Klien hanya mampu

melakukan 3 jari disertai tarik nafas dalam selama ± 6 menit, klien belum

tampak rileks kemudian klien diberi extra pengurang nyeri dengan obat analgesik

yang di resepkan. Skala nyeri berkurang menjadi 6. Pada hari kedua tindakan

relaksasi genggan jari dilakukan 3 kali ketika klien mengeluh nyeri pada saat

merubah posisi miring, duduk dan ketika akan menyusui bayinya. Klien mampu

melakukan selama 10-15 menit, klien mulai terlihat rileks, kooperatif selama

tindakan, skala nyeri menjadi 5 (0-10), rasa nyeri sekitar 5-10 menit. Pada hari

ketiga, tindakan relaksasi genggam jari dilakukan 3 kali ketika klien masih

mngeluh nyeri pada saat klien awal melakukan pergerakan seperti dari tidur ke
78

posisi duduk, duduk ke berdiri kemudian berjalan sekitar 15 menit. Skala nyeri

sebelum tindakan pada awal bergerak menurut klien 8 menjadi 4 (nyeri sedang).

Pada kasus ke dua pada Ny. Y dilakukan teknik relaksasi genggam jari

setelah 24 jam post sectio caesarea. Klien mengeluh nyeri ketika akan merubah

posisi miring, akan duduk dan menyusui bayinya dengan skala nyeri 8 (0-10).

Klien mampu melakukan 8 jari disertai tarik nafas dalam selama 15 menit, klien

belum tampak rileks kemudian klien diberi extra pengurang nyeri dengan obat

analgesik yang di resepkan. Skala nyeri berkurang menjadi 6. Pada hari kedua

tindakan relaksasi genggan jari dilakukan 3 kali ketika klien mengeluh nyeri pada

saat merubah posisi tidur ke duduk menyusui bayinya dan akan melakukan

pergerakan berdiri latihan jalan. Klien mampu melakukan selama 20 menit, klien

mulai terlihat rileks, kooperatif selama tindakan, skala nyeri menjadi 5 dari 8 (0-

10), rasa nyeri sekitar 5-10 menit. obat analgesik sesuai yang di jadwal

pemberian obat. Pada hari ketiga, tindakan relaksasi genggam jari dilakukan 3

kali ketika klien masih mngeluh nyeri pada saat klien awal melakukan

pergerakan seperti dari duduk ke berdiri kemudian berlajan. Rasa nyeri awal

pergerakan sekitar 10- 15 menit. Skala nyeri sebelum tindakan pada awal

bergerak menurut klien 7 menjadi 5 (nyeri sedang).

Penurunan keluhan nyeri antara pasien pertama dan kedua di dapatkan

hasil yang sama yaitu nyeri sedang akan tetapi pada skala nyeri yang berbeda

setelah dilakukan tindakan relaksasi genggam jari. Rasa nyeri belum hilang, hal

tersebut dapat terjadi karena beberapa hal seperti luka post operasi masih dalam
79

fase inflamasi sampai hari ke lima pasca operasi.

Makna nyeri bagi beberapa individu dipersepsikan berbeda-beda, jika

individu memandang nyeri bukanlah suatu ancaman, maka individu tersebut akan

dapat beradaptasi dengan baik. Menurut Patastik ( 2013 dalam Haniyah 2016 ),

menyatakan bahwa tidak semua orang terpajan terhadap stimulus yang sama

mengalami intensitas nyeri yang sama. Perbedaan nyeri yang dirasakan oleh

setiap individu di dukung oleh teori yang di jelaskan oleh Hidayat dan Uliyah

(2008) menyatakan bahwa nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak

menyenangkan. Sifatmya sangat subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada

setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebut yang

dapat menjelaskan atau mengevaluasi nyeri yang dialaminya.

Rasa nyeri yang dirasakan klien berbeda, hal tersebut di dukung oleh teori

Potter & Perry (2006), bahwa kemampuan seseorang dalam mempersepsikan

nyeri di pengaruhi oleh sejumlah faktor seperti usia, Jenis kelamin, lingkungan,

kecemasan, pengalaman nyeri masa lalu, dan lain-lain. Dimana faktor tersebut

dapat meningkatkan ataupun menurunkan persepsi, meningkatkan atau

menurunkan toleransi terhadap nyeri dan mempengaruhi sikap respons terhadap

nyeri. Upaya pereda nyeri mempengaruhi harapan seseorang mengenai pereda

nyeri, misalnya seseorang yang telah mencoba beberapa tindakan pereda nyeri

namun tidak berhasil mungkin memiliki sedikit harapan mengenai manfaat

intervensi keperawatan.
80

4.4 Implikasi Asuhan Keperawatan Pada Klien post sectio caesarea

Implikasi asuhan keperawatan yang dilakukan pada klien dengan masalah

nyeri akut akan sangat berdampak pada perawat dan pasien. Peran perawat dalam

melakukan tindakan mandiri berupa mengatasi masalah yang dialami klien yaitu

salah satunya dengan teknik relaksasi genggam jari untuk mengatasi atau

mengurangi nyeri sesuai dengan prosedur yang ada, maka hasil yang di harapkan

kepada klien dapat di capai secara optimal, klien akan terhindar dari resiko

komplikasi yang akan terjadi.

Berdasarkan pengkajian pada kedua kasus pada pasien post sectio caesarea

dengan masalah utama yang sama yaitu nyeri akut, di akibatkan oleh agen cidera

fisik. Intervensi berupa teknik relasasi genggam jari untuk mengurangi nyeri

yang sederhana mudah dilakukan akan tetapi mempunyai manfaat yang besar

untuk mencegah terjadinya komplikasi, perawat di harapkan secara konsisten,

benar dan tepat dalam melakukan intervensi keperawatan.

Edukasi berupa teknik relaksasi genggam jari sebaiknya di lakukan

pada klien dan keluarga sebelum menjalani tindakan operasi. Hal ini bertujuan

selain membina hubungan yang baik, klien akan mempersiapakan baik fisik

maupun psikologis, dan keluarga merupakan salah satu yang dapat berperan

dalam keberhasilan pemberian asuhan keperawatan pada klien.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan

melalui insisi pada dinding perut dan rahim dengan saraf rahim dalam keadaan

utuh serta berat diatas 500 gram.Tindakan sectio caesarea dilakukan bertujuan

sebagai upaya penyelamatan ibu dan bayi.

Sectio caesarea menyebabkan perubahan kontinuitas jaringan dan akan

menyebabkan rasa nyeri. Makna nyeri dari beberapa individu dipersepsikan

berbeda-beda. Kemampuan seseorang dalam mempersepsikan nyeri di pengaruhi

oleh sejumlah faktor seperti usia, Jenis kelamin, lingkungan, kecemasan,

pengalaman nyeri masa lalu, dan lain-lain. Dimana faktor tersebut dapat

meningkatkan ataupun menurunkan persepsi, meningkatkan atau menurunkan

toleransi terhadap nyeri dan mempengaruhi sikap respons terhadap nyeri.

Intervensi keperawatan secara mandiri melalui teknik non farmakologi pada

masalah nyeri salah satunya dengan teknik relaksasi genggam jari (finger hold).

Menggenggam jari sambil menarik nafas dalam-dalam (relaksasi) dapat

mengurangi dan menyembuhkan ketegangan fisik dan emosi. Disepanjang jari-

jari tangan terdapat saluran atau meridian energi yang terhubung dengan

berbagai organ dan emosi. Dalam keadaan relaksasi secara alamiah akan memicu

81
82

pengeluaran hormon endorphin, hormon ini merupakan analgesik alami dari

tubuh sehingga nyeri akan berkurang.

Pada kedua klien dengan masalah utama nyeri akut post sectio caesarea

dilakukan relaksasi genggam jari selama 20-30 menit terbukti dapat mengurangi

nyeri seperti penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, walaupun terdapat

perbedaan yang tidak terlalu mencolok, hal ini dapat disebabkan oleh faktor-

faktor yang mempengaruhi nyeri seperti yang sudah disebutkan diatas juga luka

post operasi masih dalam fase inflamasi sampai hari ke lima pasca operasi.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi ilmu Keperawatan

Diadakannya pelatihan managemen nyeri tindakan mandiri perawat

khususnya dalam penatalaksanaan masalah keperawatan nyeri pada

pasien post sectio caesarea.

5.2.2 Diadakannya pelatihan secara berkala managemen nyeri relaksasi

genggam jari sebagai upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan

perawat dalam pemberian intervensi keperawatan mengatasi masalah

nyeri.

5.2.3 Bagi Peneliti

Hasil karya ilmiah ini dapat menambah pengetahuan dan informasi

mengenai efektifitas dari tindakan relaksasi genggam jari terhadap

penurunan skala nyeri pada klien dengan post sectio caesarea.


83

5.2.4 Bagi Perawat

Perawat dapat menerapkan teknik relaksasi genggam jari dalam

memberikan intervesi keperawatan pada klien dengan masalah

keperawatan nyeri post sectio casarea.

5.2.5 Bagi Masyarakat

Sebagai upaya mencegah komplikasi akibat nyeri, klien dan keluarga

dapat menerapkan teknik relaksasasi genggam jari selama dalam

perawatan post section caesarea.