Anda di halaman 1dari 4

Learning Issue

1. Patofisiologi Pernafasan

2. Croup
a. Patofisiologi

b. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis croup adalah batuk kasar yang dideskripsikan seperti menggonggong
(barking cough) atau suara tiupan (brassy), suara serak, stridor inspirasi, demam ringan, dan
gangguan pernapasan yang dapat timbul secara lambat atau cepat. Stridor adalah bunyi
respiratori bernada tinggi dan kasar akibat timbulnya turbulensi aliran udara. Umumnya
timbul saat inspirasi, tetapi dapat juga bersifat bifasik dan merupakan tanda adanya sumbatan
jalan napas atas. Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan repiratori atas, seperti sesak napas
dan retraksi suprasternal, interkostal dan subkostal, dapat ditemukan jelas pada pemeriksaan
fisik. Mengi dapat timbul apabila saluran respiratori bawah juga ikut terlibat.
Gejala/ Tanda Laringotrakeobronkitis Epiglotitis Trakeitis Croup
Viral Bakterial Spasmodik
Penyakit ++ ─ + +
prodormal
akibat virus
Rerata usia 6-36 bulan (60% <24 3-4 tahun 4-5 tahun 6-36 bulan
bln) (25% <2 (60% <24
tahun) bulan)
Onset Gradual (2-3 hari) Akut (6-24 Akut (1-2 Mendadak
penyakit jam) hari) (waktu
malam)
Demam ± + + ─
Toksisitas ─ + ++ ─
Kualitas Kasar/keras Ringan Kasar/keras Kasar/keras
stridor
Hiperekstensi ─ ++ + ─
leher, drooling
Batuk ++ ─ ++ ++
Nyeri ± ++ ± ─
tenggorokan
Kultur darah ─ + ± ─
positif
Leukositosis ─ + + ─
Rekurensi + ─ ─ ++
Rawat inap Jarang Sering Sering Jarang
dan
intubasi
endotrakeal
Catatan: +, Seringkali timbul; ─, tidak ada; ±, dapat timbul dapat tidak; ++, timbul
dan umumnya menonjol.
Sumber: Bell LM. Middle respiratory tract infections. In: Jenson HB, Baltimore RS, editors.
Pediatric infectious diseases: principles and practice. 2nd ed, Philadelphia, 2002, Saunders, p
722.

c. Klasifikasi

d. Tatalaksana (assessment pernafasan, terapi oksigen)


Pemberian deksametason oral ataupun intramuskular pada anak dengan croup ringan,
sedang ataupun berat akan meringankan gejala, dan kebutuhan rawat di rumah sakit, serta
memperpendek masa perawatan. Deksametason tosfat (0,6-1 mg/kg) dapat diberikan 1 kali
secara intramuskular atau deksametason (0,6-1 mg/kg) sekali secara oral. Sebagai alternatif,
dapat diberikan prednisolon (2 mg/kg/hari) diberikan terbagi 2-3 kali sehari secara oral.
Untuk hambatan jalan napas yang signifikan, pemberian rasemik aerosol (D- dan L-) atau L-
epinefrin akan mengurangi edema subglotis dengan cara vasokonstriksi adrenergik, sehingga
dihasilkan perbaikan klinis yang harmakna secara sementara. Pengobatan ini mencapai elek
puncak dalam waktu 10-30 menit dan akan berkurang dalam waktu 60-90 menit. Efek
rebound dapat teriadi dengan gejala klinis lebih memburuk saat efek obat menghilang.
Pengobatan dengan menggunakan aerosol harus diulang setiap 20 menit (tidak lebih dari 1-2
jam) pada kasus yang berat.
Anak harus tetap berada dalam keadaan tenang untuk meminimalisasi inspirasi paksa.
Metode menenangkan yang efektif pada anak dengan croup adalah dengan cara
mendudukkannya di pangkuan orang tua si anak. Pemberian preparat sedatif harus dilakukan
dengan hati-hati dan hanya dlberikan di unit perawatan intensif. Pemberian uap dingin
dengan menggunakan masker oksigen dapat membantu mencegah kekeringan sekret di
sekeliling laring.
Perawatan di rumah sakit seringkali diperlukan pada anak dengan stridor saat istirahat. Anak
yang menerima terapi aerosol harus dirawat inap dan dilakukan observasi minimal 2-3 jam
untuk menjaga timbulnya kondisi obstruksi respiratori akibat efek rebound. Berkurangnya
gejala klinis menandakan adanya perbaikan atau justru kelelahan anak untuk bernapas dan
tanda gagal napas yang akan terjadi.

Daftar Pustaka

Analisis Masalah
1. Yudi, anak laki-laki 2 tahun, BB 12 kg. TB 87 cm dibawa ibunya ke UGD RSMH
karena mengalami kesulitan bernafas.
a. Apa saja kemungkinan penyebab kesulitan bernapas pada anak?
2. Pada penilaian umum terlihat:
Anak sadar, menangis terus dengan suara sekali terdengar parau. Masih bisa
ditenangkan oleh ibunya. Sewaktu anak hendak diperiksa anak berontak dan langsung
menangis memeluk ibunya. Bibir dan mukosa tidak sianosis, kulit tidak pucat dan
tidak motled. Nafas terlihat cepat dengan peningkatan usaha nafas. Terdengar stridor
inspirasi.
a. Bagaimana penilaian kegawatdaruratan pada anak?
3. Kemudian dokter melakukan survey primer.
Jalan nafas tidak terlihat lendir maupun benda asing, tonsil T1/T1 dan faring dalam
batas normal. Respiratory rate: 45 kali/menit. Nafas cuping hidung (+) gerakan dinding
dada simetris kiri dan kanan, tampak retraksi suprasternal dan sela iga. Suara nafas
vesikuler. Tidak terdengar ronkhi. Tidak terdengar wheezing. SpO2 95%. Bunyi
jantung dalam batas normal, bising jantung tidak terdengar. Nadi brachialis kuat, nadi
radialis kuat. Laju nadi 135 kali/menit. Kulit berwarna merah muda, hangat, capillary
refill time kurang dari 2 detik. Tidak ditemukan kelainan pada survey disability.
a. Bagaimana mekanisme abnormalitas survey primer di atas? 5,6
4. Dokter jaga memutuskan memberikan O2 dengan sungkup rebreathing, tetapi anak
menolak, menghindar serta berontak.
a. Apa indikasi dan kontra indikasi pemberian oksigen dengan sungkup
rebreathing pada anak?