Anda di halaman 1dari 14

JURNAL PRAKTIKUM LIQUIDA

“SIRUP PARASETAMOL”
Dosen Pengampu: Putri Nur Rahmawati S,farm., Apt

Disusun oleh :
1. Asterina Try Ayuning Tias (1012016008)
2. Julia Dwi Nur Maulidiah (1012016015)
3. Indri Dewi Yunitasari (1012016020)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


STIKES HARAPAN BANGSA JEMBER
2019-2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sirup adalah cairan berkadar gula tinggi. Untuk rasa flavour, gula sirup
dilarutkan dengan sari buah, atau larutan gula ditambahkan dengan sari buah.
Sirup jeruk dapat disimpan lama tanpa penambahan bahan pengawet dan tanpa
proses sterilisasi dalam pengemasannya karena tingginya kadar gula (67,5%) dan
rendahya pH (dibawah 4,0).sirup adalah salah satu bentuk sediaan cair yang
dalam dunia farmasi yang dikenal luas oleh masyarakat saat ini, banyak sediaan
sirup yang beredar di pasaran dari berbagai macam merk, baik yang generik
maupun yang paten.biasanya orang-orang menggunakan sediaan sirup karena
disampingmudah penggunaanya, sirup juga mempunyai rasa yang manis dan
aroma yang harum serta warna yang menarik sehingga disukai oleh berbagai
kalangan, terutama anak-anak dan orang yang susah menelan obat dalam
bentuksediaan lainnya.
Sirup didefinisikan sebagai sediaan cair yang mengandung sakarosa.
Kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64% dan tidak lebih
dari 66%. Secara umum sirup dibagi menjadi dua non medicated sirup(flavored
vehicle syrup) seperti cerry syrup, cocoa syrup,orange syrup dan medicated syrup
(sirup obat) seperti sirup paracetamol, sirup isoniazid.
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui rancangan formula dalmpembuatan sirup
parasetamol
2. Mahasiswa dapat memahami proses pembuatan sediaan sirup parasetamol.
3. Mahasiswa mampu memahami evaluasi paa sediaan sirup.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sirup


Sirup adalah sediaan cair yang berupa larutan mengandung sakrosa,
kecuali dinyatakan lain, kadar sakrosa, C12H22O11 tidak kurang dari 64% dan tidak
lebih dari 66,0% (Farmakope Indonesia III, 1979). Sirup merupakan sediaan cair
ang ditandai dengan rasa manis serta memiliki konsistensi kental. Kemungkinan
mengandung sukrosa pada konsistensi minimal yaitu 45% m/m. Rasa yang manis
juga diperoleh dari penggunaan pemanis atau poliol. Sirup pada umumnya
mengandung aromatic atau perasa. Setiap dosis dari wadah multidose dielola
dengan perangkat yang cocok gar data mengukur volume yang telah ditentukann.
Perangkat ini dapat nerupa sendok atau cup untuk volume 5 ml ataupun
kelipatannya (British Pharmacopea, 2009).
Sirup sangat terkonsentrasi, larutan air gula ataupun pengganti yang secara
tradisional mengandung zat penyedap, misalnya cherry, cokelat, jeruk, raspberry.
Sebuah sirup yang tidak diberi prasa terdiri dari larutan yang mengandung 85%
sukrosa. Agen terapetik mungkin baik jika langsung dimasukkan ke dalam sistem
ini atau dapat ditambahkan sebagai sirup yang sedang dipersiapkan. Komponen
utama dari sirup adalah air yang terpurifikasi, gula atau sukrosa pengganti gula
(pemanis buatan), bahan pengawet, perasa, pewarna (Jones, 2008).
Co-solvent merupakan komponen utama cair yang dimasukkan menjadi
formulasi untuk meningkatkan kelarutan yang buruk menjadi tingkat kelarutan
yang dibutuhkan. Dalam formulasi farmasi solusi untuk pembeian oral, larutan air
lebih disukai karena kurngnya toksisitas air sebagai pelarut. Co-solvent yang
umum digunakan adalah gliserol, peropilenglikol, etanol, polietilenglikol. Prediksi
kelarutan agen terapetik dalam suatu campuran system pelarut (pelarut, air, dan
co-solvent yang dipilih) adalah sulit karena dapat menimbulkan efek dari banyak
variable kelarutan (Jones, 2008). Ada tiga macam sirup yaitu :
1. Sirup simpleks mengandung 65% gula dalam larutan nipagin 0,25% b/v.
2. Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat
tambahan dan digunakan untuk pengobatan.
3. Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi
atau penyedap lain. Tujuan pengembangan sirup ini adalah untuk
menutupi rasa tidak enak dan bau obat yang tidak enak (Anief, 1994)
2.2 Komponen sirup
Sebagian besar sirup mengandung komponen-komponen berikut
disamping air murni dan semua zat-zat obat yang ada:
1. Gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula yang digunakan untuk
memberi rasa manis dan kental
2. Pengawet antimikroba
Digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam penyimpanan agar
dapat bertahan lebih lama dan tidak ditumbuhi oleh mikroba atau
jamur.
3. Pemberi Rasa
Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau
bahan-bahan yang berasal dari alam untuk membuat sirup
mempunyai rasa yang enak. Karena sirup adalah sediaan cair,
pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup.
Pengaroma ditambahkan ke dalam sirup untuk memberikan aroma
yang enak dan wangi. Pemberian pengaroma ini harus sesuai
dengan rasa sediaan sirup, misalkan sirup dengan rasa jeruk diberi
aroma citrus.
4. Pewarna
Pewarna yang digunakan umumnya larut dalam air dan tidak
bereaksi dengan komponen lain dalam sirup dan warnanya stabil
dalam kisaran pH selama penyimpanan. Penampilan keseluruhan
dari sediaan cair terutama tergantung pada warna dan kejernihan.
Pemilihan warna biasanya dibuat konsisen dengan rasa. Juga
banyak sediaan sirup, terutama yang dibuat dalam perdagangan
mengandung pelarut-pelarut khusus, pembantu kelarutan,
pengental dan stabilisator.
2.3 Sifat Fisika Kimia Sirup
1. Viskositas
Viskositas atau kekentalan adalah suatu sifat cairan yang berhubungan erat
dengan hambatan untuk mengalir. Kekentalan didefinisikan sebagai gaya
yang diperlukan untuk menggerakkan secara berkesinambungan suatu
permukaan datar melewati permukaan datar lainnya dalam kondisi mapan
tertentu bila ruang diantara permukaan tersebut diisi dengan cairan yang
akan ditentukan kekentalannya. Untuk menentukan kekentalan, suhu zat
uji yang diukur harus dikendalikan dengan tepat, karena perubahan suhu
yang kecil dapat menyebabkan perubahan kekentalan yang berarti untuk
pengukuran sediaan farmasi. Suhu dipertahankan dalam batas idak lebi
dari 0,1 C.
2. Uji mudah tidaknya dituang
Uji mudah tidaknya dituang adalah salah satu parameter kualitas sirup. Uji
ini berkaitan erat dengan viskositas. Viskositas yang rendah menjadikan
cairan akan smakin mudah dituang dan sebaliknya. Sifat fiik ini digunakan
untuk melihat stabilitas sediaan cair selama penyimpanan.Besar kecilnya
kadar suspending agent berpengaruh terhadap kemudahan sirup untuk
dituang. Kadar zat penstabil yang terlalu besar dapat menyebabkan sirup
kental dan sukar dituang.
3. Uji Intensitas Warna
Uji intensitas warna dilakukan dengan melakukan pengamatan pada warna
sirup mulai minggu 0-4. Warna yang terjadi selama penyimpanan
dibandingkan dengan warna pada minggu 0. Uji ini bertujuan untuk
mengetahui perubahan warna sediaan cair yang disimpan Selama waktu
tertentu.
2.4 Keuntungan dan Kerugian Sediaan Sirup
Adapun keuntungan dari sediaan sirup yaitu :
1. Merupakan campuran yang homogen.
2. Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan.
3. Obat lebih mudah diabsorbsi.
4. Mempunyai rasa manis.
5. Mudah diberi bau-bauan dan warna sehingga menimbulkan daya tarik
untuk anak.
6. Membantu pasien yang mendapat kesulitan dalam menelan obat tablet.
Sedangkan kerugian dari sediaan sirup yaitu :
1. Ada obat yang tidak stabil dalam larutan.
2. Volume dan bentuk larutan lebih besar.
3. Ada yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam sirup.

2.5 Paracetamol
Acetaminophen adalah salah satu derivate dari para aminofenol.
Acetaminophen merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang
sama. Efek antipiretik ditimbulkan oleh gugus aminobenzen.
Acetaminophen di Indonesia lebih dikenal dengan nama paraceta mol
dan tersedia dalam golongan obat bebas. Walaupun demikian, laporan
kerusakan fatal hepar akibat over dosis akut perlu diperhatikan. Efek
samping dari paracetamol dapat beruapa reaksi alergi terhadap derivate para –
aminofenol tetapi hal ini jarang terjadi. Manifestasinya berupa aritema atau
urtikaria dan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa.
Penggunaan semua jenis analgesic dosis besar secara menahun terutama dalam
kombinasi berpotensi menyebabkan nefropati analgesic dan kerusakan hati.
Efek analgesic parasetamol serupa dengan salisilat yaitu
menghilangkan atau mengurangi rasa n ye r i ringan sampai
s e d a n g . K e d u a n ya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang
diduga juga berdasarkan efek sentral seperti pada salisilat. Efek anti
inflamasinya sangat lemah, oleh karena itu paracetamol tidak digunakan sebagai
antireumatik. Paracetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah.
Efek iritasi, erosi dan pendarahan lambung tidak terlihat pada obat ini,
demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam –
basa.(Farmakologi FK UI, edisi 5; halaman : 238).
Paracetamol di absorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.
Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan
waktu paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh.
Dalam plasma 25% paracetamol dan 30% fenasetin terikat protein plasma. Kedua
obat ini d i m e t a b o l i s m e o l e h e n z i m m i c r o s o m h a t i . S e b a g i a n
p a r a c e t a m o l ( 8 0 % ) d i konjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil
lainnya dengan asam sulfat. Selain itu kedua obat ini di ekskresi melalui
ginjal, sebagian kecil paracetamol(3%) dan sebagian besar dalam bentuk
konjugasi.
Paracetamol digunakan sebagai analgesik dan antipiretik. Sebagai analgetik
lainnya paracetamol sebaiknya tidak di berikan terlalu lama karena
kemungkinan menimbulkan nefropati. Jika dosis terapi tidak memberikan
manfaat, biasanya dosis besar tidak menolong. Karena hamper tidak mengiritasi
lambung, paracetamol sering dikombinasikan dengan AINS untuk analgesic.
Penggunaan paracetamol tidak diberikan kepada penderita yang hipersensitiv
terhadap acetaminophen dan penderita yang mempunyai ganguan fungsi
hati. Efek samping jarang sekali terjadi adanya alergi pada kulit, alergi silang
dengan salisilat, leucopenia, neutropenia, panzikopenia,
methemoglobinemia, nefopati analgesic(pada penyalahgunaan kronis), tumor
pada saluran pembuangan urine. Pada dosis tinggi, kerusakan hati yang berat dan
mungkin lethal disebabkan oleh pembentukan metabolit yang reaktif dan toksik
(Farmakologi danToksikologi III : 225)
2.6 Monografi Bahan
a. Paracetamol (Asetaminopen)

- Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, pahit.


- Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
(95%) P, dalam 13 bagian aseton P,dalam 40 bagian gliserol P dan
dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali
hidroksida.
- Titik lebur : 111oC
- pH larutan : 5-7 oC
- Bobot molekul : 151, 163
- Penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
- Stabilitas : Pada suhu ˃ 40 akan lebih mudah, Terdegradasi, lebih
mudah terurai dengan adanya udara dari luar dan adanya cahaya,
pH jauh dari rentang pH optimum.
- Khasiat dan kegunaan : Analgetikum, antipiretikum.
b. Sirplus simplex
- Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna.
- Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol
(95%) P, dalam metanol P dan dalam asam asetat P.
- Titik lebur : 186oC
- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
- Stabilitas : Lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar.
- Khasiat dan kegunaan : Zat tambahan.
c. Propilen glikol
- Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
rasa agak manis, higroskopik.
- Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan
dengan kloroform P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat
campur dengan eter minyaktanah P, dan dengan minyak lemak.
- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
- Khasiat dan kegunaan : Zat tambahan, pelarut.
d. Metil paraben
- Pemerian: Serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak
mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.
- Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air
mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%) P dan dalam 3 bagian
aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali
hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40
bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetap
jernih.
- Titik lebur : 125oC -128oC
- pH : 3-6
- Bobot molekul : 152, 15
- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
- Stabilitas : Lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar.
- Khasiat dan kegunaan : Zat tambahan, zat pengawet.
e. Propil paraben
- Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa.
- Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 3,5 bagian
etanol (95%) P, dalam 3 bagian aseton P, dalam 140 bagian
gliserol P dan dalam 40 bagian minyak lemak, mudah larut dalam
larutan alkali hidroksida.
- Titik didih : 95oC – 98oC
- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
- Khasiat dan kegunaan : Zat pengawet.
f. Aquadest
- Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik (Anonim,1979).
BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan
Bahan
a. Paracetamol 120 ml / 5 cc
b. Sirplus simplex 25%
c. Propilen glikol 22,5%
d. Metil paraben - Propil paraben (3:2 ) 0.12%
e. Etanol 96% qs
f. Aquadest ad 60 ml
Alat
a. Gelas ukur 100 ml
b. Kaca arloji
c. Corong kaca
d. Kertas saring
e. Spatula
f. Botol obat 60 ml
g. Gelas kimia 100 ml
h. Mortil dan stemper
i. Batang pengaduk
j. Pipet
k. Botol semprot
l. Piknometer
m. Oven
3.2 Prosedur Kerja
Siapkan alat dan bahan,
Setarakan timbangan
kalibrasi botol ad 60ml

Timbang paracetamol Timbang propil paraben 0,029 g


sebanyak1,476 g masukkan ke dan Timbang metil paraben
dalam campuran propil paraben sebanyak 0,044 larutkan pada
dan metil paraben gerus ad etanol 96% add larut.
homogen

Timbang propilenglikol
Timbang sirup simplex 15, 3 ml
sebanyak 13,5 ml campurkan
masukkan kedalam campuran
ke dalam campuran di atas
bahan diatas aduk ad homogen
aduk ad larut

Masukkan campuran di atas ke


Tambahkan adua dest ad 60
dalam botol dan saring menggunakan
ml
kertas saring

Masukkan obat ke dalam


wadah dan beri etiket
3.3 Perhitungan Bahan
1. Sirup paracetamol untuk 1 botol = 60 + ( 60 + 2% ) = 61,2 ml
2. Paracetamol 120mg/ 5ml = 61,2ml / 5 ml x 120 mg = 1476 mg =1,476
gram
3. Sirup Simplex
25 : 100 x 61,2 ml = 15,3 ml
4. Propilenglikol
22,5 : 100 x 61,2 ml = 13,5 ml
5. Metil Paraben : Propil Paraben (3: 2) 0,12 % = 0,12/100 x 61,2 = 0,07344
gram
 Metil paraben = 3/5 x 0,07344 = 0,044 gram
 Propil paraben = 2/5 x 0,07344 gram = 0,029 gram
6. Etanol = sampai larut
7. Aquaest ad 60 ml

3.4 Desain Kemasan


DAFTAR PUSTAKA

Ansel, Howard C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat.


Penerbut Universitas Indonesia. Jakarta

Anief, Moh. 1988. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada.

Anief, M. 2007. Farmasetika. Yogjakarta: Gadjah Mada University Press,

Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1979 . Farmakope Indonesia Edisi


III . Jakarta : Dekpes RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1995 . Farmakope Indonesia Edisi
IV . Jakarta : Dekpes RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978 . Formularium Nasional Edisi
2 .Jakarta : Dekpes RI

Depkes RI, 2005. Ilmu Resep Teori. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Fessenden dan Fessenden. 1992. Kimia Organik, Cetakan ketiga, Jilid I. Jakarta :
Penerbit.
Erlangga.

Lachman, L., H.A. Lieberman, and J.L. Kanig. 1994. Teori dan Praktek
Farmasi Industri, Jilid II, Edisi III. Jakarta : Universitas Indonesia.
.

Mitzui, T. 1997. The Cosmetic Science. Amsterdan: Elsevier Scienc B.V.

Rowe, Raymond C., Paul J. S., Paul J. W. 2003. Handbook of Pharmaceutical


Exipients.

Pharmaceutical Press. London.4.