Anda di halaman 1dari 30

RESPONSI

VISUM JENAZAH : PEMBUSUKAN

DISUSUN OLEH
KELOMPOK FK UNAIR KBK II
DOKTER MUDA ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
(Periode 1 Juli 2019 – 28 Juli 2019)

Pembimbing
Ariyanto Wibowo, dr., Sp.FM

DEPARTEMEN / INSTALASI ILMU KEDOKTERAN FORENSIK


DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA / RSUD DR. SOETOMO
SURABAYA
2019
LEMBAR PENGESAHAN
VISUM JENAZAH : PEMBUSUKAN

Telah disetujui dan disahkan sebagai salah satu tugas dokter muda di Departemen
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Surabaya pada:
Hari : Rabu
Tanggal : 24 Juli 2019
Tempat : Ruang Kuliah Dokter Muda Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya

Disusun oleh:
Dokter Muda Kelompok UNAIR II
(Periode 1 Juli 2019 – 28 Juli 2019)
1. Khen Mikhael 011823143015
2. Yudith Meityana H. 011823143016
3. Kadek Dhanya Chandita 011823143110
4. Safira Rahma 011823143111
5. Edward Adijaya Rusli 011823143112

Surabaya, 24 Juli 2019

Koordinator Pendidikan S1 Dosen Pembimbing


Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal

Nily Sulistyorini, dr., Sp.F Ariyanto Wibowo, dr., Sp.FM

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat-Nya sehingga responsi
yang berjudul “VISUM JENAZAH : PEMBUSUKAN” ini dapat diselesaikan.
Pembuatan makalah ini merupakat salah satu penilaian dalam menempuh studi pada
pendidikan profesi S1 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga. Ucapan terima kasih kami sampaikan karena bimbingan,
dukungan, dan bantuan yang telah diberikan pada penyusunan makalah ini kepada :
1. dr. H. Edi Suyanto, Sp.F, S.H, M.H.Kes selaku ketua Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Airlangga serta Ketua
SMF Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
2. dr. Abdul Aziz, Sp.F selaku Kepala Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
3. dr. Nily Sulistyorini, Sp.F selaku Koordinator Pendidikan Dokter Muda Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
4. dr. Ariyanto Wibowo, Sp.FM selaku pembimbing responsi di Departemen
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Airlangga.
5. Seluruh staf pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
FK Universitas Airlangga.
6. Seluruh karyawan Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
FK Universitas Airlangga.
7. Seluruh PPDS Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas
Airlangga.
Besar harapan penulis agar responsi ini dapat memperluas wawasan dan
menambah pengetahuan, khususnya pada para praktisi ilmu kedokteran forensik dan
medikolegal serta pembaca pada umumnya.

Tim Penyusun

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................................... ii


KATA PENGANTAR .................................................................................................. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................................. iv
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2. Tujuan Responsi ......................................................................................... 2
1.2.1 Tujuan Umum .................................................................................... 2
1.2.2 Tujuan Khusus ................................................................................... 2
1.3. Manfaat Responsi ....................................................................................... 2
1.3.1. Manfaat Teoritis ................................................................................. 2
1.3.2. Manfaat Praktis .................................................................................. 2
BAB II TATALAKSANA KASUS ................................................................................. 4
2.1. Identitas Pasien ................................................................................................ 4
2.2. Kronologi ......................................................................................................... 4
2.3. Surat Permintaan Visum et Repertum, Label, dan Segel ................................ 4
2.4. Hasil Pemeriksaan Visum et Repertum Jenazah ............................................. 4
2.5. Kesimpulan Visum et Repertum Jenazah ........................................................ 7
BAB III PEMBAHASAN KASUS .................................................................................. 8
3.1. Tanatologi ........................................................................................................ 8
3.2. Definisi Pembusukan ....................................................................................... 15
3.3. Mekanisme Pembusukan ................................................................................. 16
3.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembusukan ........................................... 19
3.5. Penentuan Saat Kematian dengan Metode Umur Larva Lalat ........................ 21
3.6. Pembahasan Kasus Visum Jenazah ................................................................. 22
BAB IV PENUTUP ......................................................................................................... 25
4.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 25
4.2 Saran ................................................................................................................ 25
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 26

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Menurut World Health Organization (WHO), kematian adalah


hilangnya tanda kehidupan secara permanen yang terjadi pada setiap
makhluk hidup. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Pasal 117: “Seseorang dinyatakan mati
apabila fungsi sistem jantung, sirkulasi, dan sistem pernapasan terbukti telah
berhenti secara permanen, atau apabila kematian batang otak telah dapat
dibuktikan”.1
Seorang dokter akan dihadapkan pada kasus kematian dalam
menjalankan profesinya, baik kematian wajar maupun kematian tidak wajar.
Pada kasus kematian tidak wajar, atas permintaan penyidik dokter akan
menentukan keadaan korban masih hidup atau sudah mati. Apabila korban
masih hidup, maka secepatnya membutuhkan perawatan dan apabila korban
sudah mati perlu ditentukaan saat kematian, cara kematian, dan sebab
kematian.
Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan
kematian) dan logos (ilmu). Tanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran
forensik yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang terjadi
setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.
Pengetahuan ini berguna untuk menentukan apakah seseorang benar-benar
sudah meninggal atau belum, menentukan berapa lama seseorang telah
meninggal, dan membedakan perubahan-perubahan post mortal dengan
kelainan-kelainan yang terjadi pada waktu korban masih hidup.
Dalam tanatologi, kematian memiliki dua stadium yang dikenal
dengan dua istilah somatic death (mati klinis) dan cellular death. Somatic
death ditentukan dari berhentinya sistem sirkulasi, sistem pernapasan, dan
sistem saraf. Sedangkan cellular death meliputi tanda-tanda kematian secara
pasti berupa penurunan suhu tubuh (Argor mortis), lebam mayat (Livor
mortis), kaku mayat (Rigor mortis), dan pembusukan.2

1
Pada kasus penemuan korban yang meninggal dalam keadaan sudah
membusuk, dokter akan memeriksa jenazah sesuai permintaan penyidik,
menentukan saat kematian, cara kematian, dan sebab kematian serta
membuat visum et repertum dari hasil temuan perubahan yang ada pada
tubuh korban, sesuai pengetahuan yang dimilikinya dalam menjalankan
standar profesi. Dalam makalah responsi ini akan dibahas lebih lanjut
mengenai pembusukan.

1.2. Tujuan Responsi

1.2.1. Tujuan Umum


Untuk mengetahui perubahan-perubahan pada tubuh seseorang
yang telah meninggal.

1.2.2. Tujuan Khusus


1. Mengetahui perubahan-perubahan pada tubuh seseorang yang telah
meninggal.
2. Mengetahui definisi pembusukan.
3. Mengetahui mekanisme pembusukan.
4. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pembusukan.
5. Mengetahui penentuan saat kematian dengan metode umur larva
lalat.

1.3. Manfaat Responsi

1.3.1. Manfaat Teoritis


Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan pada
tubuh seseorang yang telah meninggal.

1.3.2. Manfaat Praktis


1. Memberikan informasi bagi dokter umum maupun spesialis
mengenai perubahan-perubahan pada tubuh seseorang yang telah
meninggal.

2
2. Memberikan informasi bagi dokter umum maupun spesialis
mengenai proses pembusukan pada tubuh seseorang yang telah
meninggal.
3. Memberikan informasi bagi dokter umum maupun spesialis
mengenai metode umur larva lalat untuk menentukan saat
kematian.

3
BAB II
TATALAKSANA KASUS

2.1. Identitas Pasien


Nama : Tn. M
Jenis Kelamin : Laki-laki
Bangsa : WNI
Umur : 63 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Kapasan Kidul Gg. IV No. 20 Surabaya

2.2. Kronologi
Pada hari Jumat, 05 Juli 2019, sekitar pukul 20.30 WIB, korban
ditemukan meninggal dunia dalam keadaan sudah membusuk di dalam rumah
Jl. Kapasan Kidul Gg. IV No. 20 Surabaya oleh kedua adiknya. Rumah
tersebut dibobol oleh keluarga yang khawatir karena tidak dapat menghubungi
korban. Menurut pengakuan keluarga, kontak terakhir dengan korban pada
tanggal 08 Juni 2019. Menurut keterangan tetangga sekitar rumah, korban
terakhir terlihat keluar rumah lima hari sebelum korban ditemukan.

2.3. Surat Permintaan Visum et Repertum, Label, dan Segel


Surat Permintaan Visum et Repertum : ada
Label : tidak ada
Segel : tidak ada

2.4. Hasil Pemeriksaan Visum et Repertum Jenazah


2.4.1 Pemeriksaan Luar
1. Jenazah berjenis kelamin laki-laki, berumur antara enam puluh tahun
sampai tujuh puluh tahun, panjang badan seratus lima puluh empat
sentimeter, berat badan enam puluh kilogram, warna kulit sawo
matang, status gizi lebih.
2. Properti jenazah :

4
a. Jenazah dibungkus kantong berwarna oranye bertuliskan
“DINAS SOSIAL KOTA SURABAYA” berukuran dua ratus
dua puluh sentimeter kali delapan puluh sentimeter.
b. Jenazah memakai baju lengan pendek berkerah dengan tulisan
“POLO JEANS” di bagian dada, merek “POLO”, berwarna abu-
abu, berbahan kaos, berukuran M.
c. Satu buah sarung berwarna hijau dengan motif garis-garis
berwarna kuning, tanpa merek, berbahan katun, berukuran
seratus dua puluh kali seratus dua puluh sentimeter.
d. Satu buah sarung bermotif kotak-kotak berwarna abu-abu, putih,
krem, dan oranye, tanpa merek, berbahan katun, berukuran
seratus dua puluh kali seratus dua puluh sentimeter.
e. Satu buah celana dalam, berwarna putih, tanpa merek, tanpa
ukuran.
3. Jenazah tidak berlabel dan tidak bersegel. Identitas dipastikan oleh
penyidik sesuai Surat Permintaan Visum et Repertum.
4. Ditemukan lebam mayat pada punggung dan sisi belakang tubuh,
berwarna keunguan, tidak hilang dengan penekanan. Tidak
ditemukan kaku mayat pada sendi lengan, sendi tungkai, maupun
rahang. Ditemukan tanda-tanda pembusukan lanjut.
5. Kepala
a. Bentuk: Bulat, simetris.
b. Rambut: Tidak ditemukan rambut.
c. Dahi: Ditemukan pengelupasan kulit ari akibat proses
pembusukan. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
d. Mata: Sulit dievaluasi. Ditemukan tanda-tanda pembusukan
berupa larva lalat pada kedua rongga mata. Tidak ditemukan
tanda-tanda kekerasan.
e. Telinga: Kanan dan kiri: Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
f. Hidung: Ditemukan tanda-tanda pembusukan berupa larva lalat
pada kedua rongga hidung. Tidak ditemukan tanda-tanda
kekerasan.
g. Mulut: Bibir atas dan bawah tampak kehitaman. Ditemukan
tanda-tanda pembusukan berupa larva lalat pada rongga mulut.

5
Kesan gigi tidak lengkap. Tidak ditemukan tanda-tanda
kekerasan.
h. Dagu: Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
i. Pipi: Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
6. Leher: Ditemukan pengelupasan kulit ari akibat proses pembusukan.
Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
7. Dada: Ditemukan pengelupasan kulit ari dan gelembung berisi cairan
akibat proses pembusukan. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
8. Perut: Ditemukan pengelupasan kulit ari dan gelembung berisi cairan
akibat proses pembusukan. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
9. Punggung: Ditemukan pengelupasan kulit ari akibat proses
pembusukan. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
10. Pinggang: Ditemukan pengelupasan kulit ari akibat proses
pembusukan. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
11. Anggota gerak atas:
1) Kanan: Pada seluruh lengan ditemukan pengelupasan kulit ari
akibat proses pembusukan. Pada telapak tangan ditemukan
gelembung berisi udara akibat proses pembusukan. Ujung-ujung
jari dan kuku tampak kebiruan. Kuku mudah terlepas. Tidak
ditemukan tanda-tanda kekerasan.
2) Kiri: Pada seluruh lengan ditemukan pengelupasan kulit ari
akibat proses pembusukan. Ujung-ujung jari dan kuku tampak
kebiruan. Kuku mudah terlepas. Tidak ditemukan tanda-tanda
kekerasan.
12. Anggota gerak bawah: Kanan dan kiri: Pada seluruh tungkai
ditemukan pengelupasan kulit ari karena proses pembusukan. Tidak
ditemukan tanda-tanda kekerasan.
13. Alat kelamin: Laki-laki. Buah zakar membengkak. Pada alat kelamin
ditemukan pengelupasan kulit ari akibat proses pembusukan. Tidak
ditemukan tanda-tanda kekerasan.
14. Dubur: Pada dubur ditemukan pengelupasan kulit ari akibat proses
pembusukan. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.

2.4.2 Pemeriksaan Dalam


6
Tidak dilakukan.

2.5. Kesimpulan Visum et Repertum Jenazah


1. Jenazah berjenis kelamin laki-laki, berumur antara enam puluh tahun
sampai tujuh puluh tahun, panjang badan seratus lima puluh empat
sentimeter, berat badan enam puluh kilogram, warna kulit sawo matang,
status gizi lebih.
2. Pada pemeriksaan luar ditemukan:
a. Tanda-tanda pembusukan lanjut pada seluruh tubuh berupa
pengelupasan kulit ari berwarna kehitaman dan gelembung berisi
cairan pada dada dan perut. Rongga mata, hidung, serta mulut dipenuhi
larva lalat.
b. Kebiruan pada ujung-ujung jari dan kuku kedua tangan dan kaki.
Kelainan tersebut lazim ditemukan pada mati lemas.
c. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
3. Sebab kematian tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan
pemeriksaan dalam.

7
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

3.1 Tanatologi
Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan
kematian) dan logos (ilmu). Tanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran
forensik yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang terjadi
setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.
Pengetahuan ini berguna untuk menentukan apakah seseorang benar-benar
sudah meninggal atau belum, menentukan berapa lama seseorang telah
meninggal, dan membedakan perubahan-perubahan post mortal dengan
kelainan-kelainan yang terjadi pada waktu korban masih hidup. Seseorang
dikatakan meninggal apabila fungsi sistem pernapasan dan sistem peredaran
darah berhenti secara lengkap dan permanen. Dalam tanatologi, dikenal dua
istilah somatic death dan cellular death.
Somatic death (mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem
utama penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskuler,
dan sistem pernapasan, secara menetap dan irreversible. Pada pemeriksaan
klinis, refleks-refleks batang otak sudah negatif, EEG mendatar, nadi tidak
teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak napas, dan suara napas
tidak terdengar sewaktu auskultasi. Dalam stadium somatic death, perlu
diketahui suatu keadaan yang dikenal dengan istilah mati suri (apparent
death). Mati suri terjadi karena proses vital dalam tubuh menurun sampai taraf
minimum untuk kehidupan, sehingga secara klinis sama dengan orang mati.
Mati suri sering ditemukan pada kasus-kasus seperti terkena aliran listrik atau
petir, tenggelam, dan keracunan obat tidur. Apabila korban yang mengalami
mati suri ini diberi pertolongan yang baik serta pada saat yang tepat, maka dia
akan hidup kembali.
Dalam keadaan ragu-ragu apakah seseorang sudah meninggal atau
belum, maka dokter harus menganggap korban masih hidup dan harus diberi
pertolongan sampai menunjukkan tanda-tanda hidup atau sampai timbul
tanda-tanda kematian yang pasti. Cellular death (mati molekuler) adalah
kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah
kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan

8
berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau
jaringan tidak terjadi secara bersamaan. Pengetahuan ini penting ketika akan
melakukan transplantasi organ. Tanda-tanda cellular death meliputi
penurunan suhu mayat (argor mortis), timbulnya lebam mayat (livor mortis),
terjadinya kaku mayat (rigor mortis), perubahan pada kulit, perubahan pada
mata, proses pembusukan dan kadang-kadang ada proses mummifikasi dan
adipocere.
3.1.1 Penurunan Suhu Mayat (Argor Mortis)
Setelah seseorang meninggal, produksi panas berhenti
sedangkan pengeluaran panas terus berlangsung sehingga suhu jenazah
akan turun. Cara mengukur penurunan suhu jenazah adalah dengan
thermo couple. Penurunan suhu jenazah dapat dipakai untuk
memperkirakan saat kematian korban, yaitu dengan memakai rumus
berikut :
Lama kematian (jam) = (98,4oF – suhu rectal jenazahoF)/1,5
Kecepatan penurunan suhu jenazah dipengaruhi oleh beberapa
faktor terkait dengan keberadaan jenazah. Apabila korban meninggal
di atas tanah, dipengaruhi oleh :
- Suhu udara : makin besar perbedaan suhu udara dengan suhu tubuh
jenazah, maka penurunan suhu jenazah makin cepat.
- Pakaian : makin tebal pakaian maka penurunan suhu jenazah makin
lambat.
- Aliran udara dan kelembapan : aliran udara mempercepat
penurunan suhu jenazah, sedangkan udara yang lembap merupakan
konduktor yang baik, sehingga penurunan suhu lebih cepat.
- Keadaan tubuh korban : apabila korban gemuk, dengan kata lain
memiliki banyak jaringan lemak, maka penurunan suhu jenazah
menjadi lambat. Jika korban berotot dan memiliki permukaan
tubuh yang relatif lebih besar, maka penurunan suhu jenazah lebih
lambat dibandingkan pada korban yang kurus.
- Aktifitas : apabila sesaat sebelum meninggal, korban melakukan
aktifitas yang hebat, maka suhu tubuh waktu meninggal lebih
tinggi.

9
- Sebab kematian : bila korban meninggal karena peradangan
(sepsis), suhu tubuh waktu meningkat cenderung meningkat.
Sementara itu, apabila korban meninggal di dalam air, maka
penurunan suhu jenazah dipengaruhi oleh suhu air, aliran air, dan
keadaan air.
3.1.2 Lebam Mayat (Livor Mortis)
Lebam mayat (Livor mortis) dapat disebut juga dengan lividity,
yaitu perubahan warna merah keunguan pada kulit setelah kematian.
Apabila seseorang meninggal, peredaran darah akan berhenti dan
terjadi stagnasi. Darah akan mencari tempat yang terendah akibat dari
gaya gravitasi. Bintik-bintik perdarahan ini muncul akibat penekanan
yang meningkat karena gravitasi sehingga pembuluh darah pecah. Pada
umumnya lebam mayat sudah timbul dalam waktu 15-20 menit setelah
orang meninggal. Lebam mayat ini mirip dengan luka memar, oleh
karena itu lebam mayat harus dibedakan dengan luka memar.
Tabel 3.1 Perbedaan Lebam Mayat dan Luka Memar
Lebam Mayat Luka Memar
Lokalisasi Bagian tubuh terendah Sembarang tempat
Dampak setelah
Biasanya hilang Tidak hilang
penekanan
Pembengkakan Tidak ada Sering ada
Bintik-bintik darah Bintik-bintik darah
Insisi
intravaskuler ekstravaskuler
Tanda intravital Tidak ada Ada
Lokalisasi lebam mayat pada bagian tubuh yang rendah, kecuali
pada bagian tubuh yang tertekan dasar atau tertekan pakaian. Pada
jenazah dengan posisi terlentang, lebam mayat ditemukan pada bagian
kuduk, punggung, pantat, dan bagian flexor tungkai. Selain itu,
terkadang lebam mayat juga ditemukan pada bagian depan dan
samping leher yang disebabkan oleh pengosongan vena-vena
superfisialis seperti vena jugularis externa serta vena colli superfisialis
yang kurang sempurna. Pada korban dengan posisi telungkup, lebam
mayat ditemukan pada dahi, pipi, dagu, dada, perut, dan bagian
ekstensor tungkai. Kadang-kadang stagnasi darah begitu hebat
sehingga pembuluh darah dalam rongga hidung pecah dan keluar darah
dari lubang hidung. Pada korban yang meninggal dalam posisi

10
menggantung, lebam mayat terdapat pada ujung-ujung ekstremitas dan
genitalia eksterna.
Empat jam setelah orang meninggal, terjadi proses hemolisis
sel-sel darah sehingga pigmen darah akan masuk ke dalam jaringan-
jaringan sekitar. Akibatnya, lebam mayat tidak akan hilang bila posisi
jenazah diubah. Selain pada kulit, lebam mayat juga dapat ditemukan
pada alat tubuh, seperti bagian belakang otak, bagian belakang paru,
bagian belakang hati, serta bagian belakang lambung. Kondisi ini perlu
dibedakan dengan keadaan patologis seperti pneumonia dan lambung
yang mengalami keracunan.
Umumnya lebam mayat berwarna merah kebiruan. Pada korban
yang meninggal akibat keracunan gas CO dan keracunan sianida,
lebam mayat berwarna cherry red. Pada korban yang meninggal
karena keracunan nitrobenzena atau potassium chlorat, maka lebam
mayat berwarna chocolate brown. Pada korban yang meninggal akibat
asfiksia, lebam mayat mendekati kebiruan. Sementara itu, pada jenazah
yang disimpan dalam lemari pendingin, lebam mayatnya berwarna
merah terang atau pink.
Kecepatan timbulnya lebam mayat tergantung pada :
- Volume darah yang beredar dalam tubuh.
Pada korban dengan perdarahan, timbulnya lebam mayat lebih
lambat, sedangkan pada korban dengan gagal jantung kongestif,
lebam mayat timbul lebih cepat.
- Lamanya darah dalam keadaan tetap mencair.
Bila proses koagulasi darah terganggu, lebam mayat lebih cepat
timbul.
3.1.3 Kaku Mayat (Rigor Mortis)
Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam
tiga tahap :
- Periode relaksasi primer (primary flaccidity)
Hal ini terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung
selama 2-3 jam. Seluruh otot tubuh mengalami relaksasi, dan bisa
digerakkan ke segala arah. Iritabilitas otot masih ada tetapi tonus
otot menghilang. Pada korban yang meninggal dalam posisi

11
berbaring, rahang bawah akan jatuh serta kelopak mata akan turun
dan lemas.
- Kaku mayat (rigor mortis)
Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer. Keadaan
ini berlangsung setelah terjadinya kematian tingkat sel, dimana
aktivitas listrik otot sudah tidak ada, sehingga otot menjadi kaku.
Fenomena kaku mayat ini pertama sekali terjadi pada otot-otot
mata, bagian belakang leher, rahang bawah, wajah, bagian depan
leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir pada otot tungkai.
Kaku mayat ini mengakibatkan seluruh bagian tubuh mayat
menjadi kaku, otot memendek, dan persendian akan terlihat dalam
posisi sedikit fleksi. Kondisi ini berlangsung selama 24-48 jam
pada musim dingin dan 18-36 jam pada musim panas.
- Periode relaksasi sekunder (secondary flaccidity)
Otot menjadi lemas dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena
pemecahan protein dan otot tidak mengalami reaksi secara fisik
maupun kimia. Proses pembusukan juga mulai terjadi. Pada
beberapa kasus, kaku mayat sangat cepat berlangsung sehingga
sulit membedakan antara relaksasi primer dengan relaksasi
sekunder.

Gambar 3.1 Perubahan Post Mortem


Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kaku mayat (rigor
mortis):

12
- Suhu lingkungan
Bila suhu lingkungan tinggi, rigor mortis akan cepat timbul dan
cepat hilang. Sebaliknya bila suhu lingkungan dingin, rigor mortis
lebih lama timbul serta lebih lama hilang.
- Keadaan otot saat meninggal
Apabila korban meninggal dalam keadaan kejang atau lelah, rigor
mortis akan cepat timbul. Sebaliknya bila korban meninggal secara
mendadak atau dalam keadaan relaks, timbulnya rigor mortis lebih
lambat.
- Umur dan gizi
Pada anak-anak timbulnya rigor mortis relatif lebih cepat daripada
orang dewasa. Keadaan gizi korban yang kurang juga mempercepat
timbulnya rigor mortis.

Diagnosis banding kaku mayat :


- Heat stiffening
Didefinisikan sebagai kondisi kaku sendi yang disebabkan oleh
koagulasi protein otot akibat suhu yang tinggi. Otot yang telah
menjadi kaku akibat heat stiffening ini tidak dapat mengalami rigor
mortis. Tetapi sebaliknya heat stiffening dapat terjadi pada otot
yang sudah mengalami rigor mortis. Heat stiffening terdapat pada
korban yang mati terbakar, korban yang tersiram cairan panas, dan
jenazah yang dibakar. Jenazah yang mengalami heat stiffening
mengambil posisi tertentu yang dikenal sebagai pugillistic attitude.
Heat stiffening ini berlangsung terus sampai terjadi proses
pembusukan.
- Freezing (cold stiffening)
Merupakan suatu kondisi kaku sendi yang disebabkan karena
cairan synovial yang membeku. Bila sendi digerakkan, akan
terdengar suara krepitasi. Untuk membedakannya dengan rigor
mortis, jenazah diletakkan dalam ruangan dengan suhu yang lebih
tinggi, maka otot-otot akan menjadi lemas akibat mencairnya
kembali bekuan cairan synovial.
- Cadaveric spasm (instantenous rigor)

13
Didefinisikan sebagai suatu kontraksi otot dalam stadium somatic
death pada saat otot-otot lain dalam fase primary flaccidity dan
berlangsung terus sampai timbul secondary flaccidity. Cadaveric
spasm dapat terjadi pada otot seluruh tubuh, pada korban yang
meninggal dengan stadium somatic death yang sangat cepat
disertai emosi yang hebat sesaat sebelum korban meninggal, pada
kelompok otot tertentu, misal otot tangan, sebagai contoh : korban
yang bunuh diri dengan senjata api atau pisau, korban yang
meninggal sewaktu mendaki gunung tinggi, serta korban
pembunuhan yang menggenggam robekan pakaian si pembunuh.
3.1.4 Perubahan pada Kulit
- Hilangnya elastisitas kulit.
- Adanya lebam mayat yang berwarna merah kebiruan.
- Terdapat kelainan yang dikenal sebagai Cutis Anserina sebagai
akibat kontraksi mm. erector pillae.
3.1.5 Perubahan pada Mata
- Refleks cahaya dan refleks kornea negatif.
- Kornea menjadi keruh karena tertutup oleh lapisan tipis sekret mata
yang mengering. Keadaan ini diperlambat bila kelopak mata
tertutup.
- Bulbus oculi melunak dan mengkerut akibat turunnya tekanan
intra-okuler.
- Pupil dapat berbentuk bulat, lonjong, atau ireguler sebagai akibat
menjadi lemasnya otot-otot iris.
- Perubahan pada pembuluh darah retina. Setelah orang meninggal,
aliran darah dalam pembuluh darah retina berhenti dan mengalami
segmentasi. Tanda ini timbul beberapa menit setelah orang
meninggal.
3.1.6 Pembusukan
Proses pembusukan disebabkan oleh pengaruh enzim proteolitik
(autolytic) dan mikroorganisme (putrefaction). Pada umumnya proses
pembusukan dimulai 18-24 jam setelah seseorang meninggal. Adapun
tanda-tanda pembusukan yang dapat diperiksa adalah :

14
- Warna kehijauan pada dinding perut daerah caecum, yang
disebabkan reaksi hemoglobin dengan H2S (hidrogen sulfida)
menjadi sulf-met-hemoglobin.
- Wajah dan bibir membengkak.
- Scrotum dan vulva membengkak.
- Distensi dinding abdomen sebagai akibat adanya gas pembusukan
dalam usus, sehingga mengakibatkan keluarnya feses dari anus dan
keluarnya isi lambung dari mulut dan lubang hidung.
- Vena-vena superfisialis pada kulit berwarna kehijauan dan disebut
marbling.
- Pembentukan gas-gas pembusukan di bawah lapisan epidermis
sehingga timbul bullae.
- Akibat tekanan gas-gas pembusukan, maka gas dalam paru akan
terdesak sehingga menyebabkan darah keluar dari mulut dan
hidung.
- Bola mata menonjol keluar akibat gas pembusukan dalam orbita.
- Kuku dan rambut dapat terlepas, serta dinding perut dapat pecah.2

3.2 Definisi Pembusukan


Pembusukan adalah suatu kondisi dimana jaringan tubuh mengalami
dekomposisi akibat proses autolisis dan aktivitas mikroorganisme.
Dekomposisi mencakup dua proses, yaitu autolisis dan putrefaksi. Pada
autolisis, sel-sel dan organ tubuh mengalami perlunakan dan pencairan yang
terjadi pada proses kimia yang steril. Hal ini disebabkan karena adanya
berbagai enzim intraseluler yang dilepaskan oleh sel-sel yang sudah mati.
Proses autolisis dipercepat dengan panas, diperlambat dengan dingin, dan
dapat dihambat dengan pembekuan atau rusaknya enzim pada kondisi suhu
yang terlalu tinggi. Organ yang memiliki banyak enzim, seperti pankreas, hati,
dan usus halus mengalami proses autolisis lebih cepat dibandingkan dengan
organ-organ seperti jantung, paru, dan ginjal yang memiliki lebih sedikit
enzim.3,4,5
Proses kedua dekomposisi adalah putrefaksi, yang selanjutnya lebih
dikenal dengan istilah pembusukan. Proses ini disebabkan oleh bakteri dan
fermentasi. Setelah kematian, flora normal yang ada di sistem pencernaan

15
menyebar ke seluruh bagian tubuh lalu menyebabkan pembusukan. Adanya
penurunan kadar oksigen dalam tubuh menyebabkan kondisi anaerob sehingga
jaringan tubuh mudah dirusak oleh bakteri yang berperan dalam proses
pembusukan. Sebagian besar bakteri pada tubuh terletak di caecum, oleh
karena itu tanda-tanda eksternal pembusukan pertama kali terlihat di
abdomen. Mikroorganisme penyebab utama pembusukan adalah Clostridium
welchii yang biasanya ditemukan di dalam usus besar. Apabila Clostridium
welchii mulai tumbuh pada suatu organ parenkim, maka sitoplasma sel-sel
yang menyusun organ tersebut akan mengalami disintegrasi dan nukleusnya
akan dirusak sehingga sel menjadi lisis. Kemudian sel-sel menjadi lepas
sehingga jaringan kehilangan strukturnya. Secara mikroskopis, dapat terlihat
bakteri yang menggumpal pada rongga-rongga jaringan, dimana bakteri
tersebut memproduksi banyak gelembung gas. Ukuran gelembung gas yang
semula kecil dapat membesar dengan cepat hingga menyerupai honey comb
appearance. Lesi ini dapat dilihat pertama kali pada hati. Pada orang yang
telah meninggal, sistem pertahanan tubuh akan hilang sehingga bakteri yang
berperan dalam pembusukan dapat memasuki pembuluh darah dan
menggunakan darah sebagai media bakteri untuk berkembang biak yang
selanjutnya menyebabkan terjadinya proses pembusukan dalam waktu kurang
lebih 48 jam setelah kematian.3,4

3.3 Mekanisme Pembusukan


Pada orang yang sudah meninggal, seluruh sistem pertahanan tubuh akan
hilang sehingga bakteri yang berperan dalam pembusukan dapat memasuki
pembuluh darah dan menggunakan darah sebagai media untuk berkembang
biak. Bakteri tersebut menyebabkan hemolisis, pencairan bekuan-bekuan
darah yang terjadi sebelum atau sesudah mati, pencairan trombus atau emboli,
perusakan jaringan-jaringan, dan pembentukan gas-gas pembusukan. Proses
tersebut mulai tampak dalam waktu kurang lebih 48 jam setelah kematian.3
Tanda awal yang dapat terlihat pada proses pembusukan adalah adanya
warna kehijauan di daerah dinding abdomen bawah, lebih banyak terlihat pada
fossa iliaca kanan tepatnya di daerah organ caecum, karena banyak
mengandung cairan dan bakteri serta letaknya dekat dengan dinding perut.
Warna hijau disebabkan karena suatu marbling, yaitu hemolisis sel-sel darah

16
merah yang menimbulkan reaksi antara hemoglobin dan hidrogen sulfida
menjadi sulfmethemoglobin, sehingga pembuluh darah terlihat berwarna
coklat kehijau-hijauan. Perubahan warna ini juga tampak pada seluruh
abdomen, bagian depan genitalia eksterna, dada, wajah, dan leher. Bakteri
yang berperan dalam proses pembusukan juga banyak ditemukan pada sistem
vena, sehingga gambaran marbling ini terlihat jelas pada bahu, dada bagian
atas, abdomen bagian bawah, dan paha. Apabila proses pembusukan
berlangsung dengan cepat, gambaran pembuluh darah balik yang menyerupai
jaring-jaring (marbling) akan tampak dalam waktu 24 jam setelah kematian.
Dengan semakin berlalunya waktu, maka warnanya menjadi semakin ungu.
Jangka waktu mulai terjadinya perubahan warna ini adalah 6-12 jam pada
musim panas dan 1-3 hari pada musim dingin.3,4,5
Awal minggu kedua setelah jenazah meninggal dunia, terjadi
pembentukan gas-gas dalam tubuh yang dimulai dari organ lambung dan usus.
Pembentukan gas ini menyebabkan tegangan abdomen meningkat dan perut
akan tampak menggelembung. Peningkatan tekanan pada abdomen akan
menyebabkan keluarnya cairan berwarna merah kehitaman dari mulut dan
hidung. Sebagian besar cairan berasal dari saluran pernapasan dan pencernaan,
utamanya lambung. Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh
mengakibatkan bertambahnya berat badan sebanyak 40-50 kg sesudah mati.
Gas-gas yang ada dalam jaringan tubuh akan menimbulkan kesan seperti
krepitasi, yaitu adanya derik udara ketika dilakukan perabaan pada daerah
tersebut. Biasanya pembusukan akan tampak jelas pada daerah scrotum, penis,
dan glandula mammae. Terbentuknya gelembung-gelembung pembusukan
menyebabkan kulit ari akan mudah terlepas bila tergeser atau tertekan.
Gelembung-gelembung pembusukan berisi cairan berwarna merah kehitaman
yang disertai bau pembusukan, jika dipecah akan tampak dasar gelembung
yang licin dan berwarna merah jambu pada kulit.4
Tiga atau empat minggu sesudah kematian, kuku-kuku akan terlepas
serta rambut yang ada di kepala, aksila, dan pubis menjadi mudah dicabut
karena adanya disintegrasi pada bagian akarnya. Wajah akan tampak
menggembung dan pucat dengan pewarnaan kehijauan yang selanjutnya
berubah menjadi hitam kehijauan, dan pada akhirnya akan berwarna hitam.
Mata akan tertutup erat karena penggembungan pada kedua kelopak mata

17
serta bola mata akan menjadi lunak, bibir akan menggembung, lidah akan
menggembung dan terjulur keluar sehingga identitas mayat menjadi sulit
dikenali.3,4,5
Peningkatan tekanan intra-abdominal dapat menyebabkan pengeluaran
urin dan feses. Prolaps uteri dan pengeluaran fetus setelah kematian pada
wanita hamil juga disebabkan oleh adanya tekanan intra-abdominal yang
meningkat. Tekanan pada rongga dada juga meningkat karena adanya gas
pembusukan di dalam rongga abdomen, sehingga menyebabkan udara dan
cairan pembusukan yang berasal dari trakea dan bronkus terdorong keluar,
bersamaan dengan keluarnya darah melalui mulut dan hidung.6
Pada proses pembusukan yang lebih lanjut, organ-organ dalam akan
mengecil tetapi masih dapat dikenali. Pembusukan organ dalam terjadi dengan
kecepatan yang bervariasi. Salah satu faktor yang berperan dalam kecepatatan
pembusukan adalah banyak sedikitnya darah yang terdapat pada organ dalam
tersebut. Organ dalam yang paling cepat membusuk ialah otak, hati, lambung,
usus halus, limpa, rahim wanita hamil atau nifas. Perubahan warna pada
dinding lambung, terutama di bagian fundus, dapat dilihat dalam 24 jam
pertama setelah kematian. Difusi cairan dalam kandung empedu menuju
jaringan di sekitarnya menyebabkan perubahan warna pada jaringan di
sekitarnya menjadi coklat kehijauan. Otak menjadi lunak sampai seperti
bubur. Paru-paru akan menjadi lembek. Organ hati, jantung, limpa, dan ginjal
masih dapat dikenali. Pada hati terdapat gambaran honeycomb appearance,
limpa lunak dan mudah hancur, otot jantung akan tampak keunguan dan
menjadi suram. Organ yang lambat membusuk ialah esofagus, jantung, paru-
paru, diafragma, ginjal, dan kandung kemih. Organ yang paling lambat
mengalami pembusukan adalah prostat pada laki-laki dan rahim pada wanita
yang tidak dalam kondisi hamil atau nifas, karena strukturnya terdiri dari
jaringan fibrous, sehingga apabila telah terjadi pembusukan lanjut, kedua
organ tersebut dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menentukan jenis
kelamin mayat.3,4
Tahap terakhir dari pembusukan adalah skeletonization, yaitu jaringan
lunak tubuh sudah tinggal sedikit atau bahkan tidak ada, sehingga hanya
terlihat tulang saja. Proses ini dapat bertahan selama berbulan-bulan bahkan
sampai tahunan, hingga akhirnya terjadi penghancuran tulang. Proses

18
skeletonization dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Mikroorganisme dalam
tanah, cuaca, dan tingkat keasaman tanah berpengaruh terhadap keutuhan
tulang. Ketika sudah sampai tahap ini, penentuan waktu kematian menjadi
sangat sulit.6,7

3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembusukan


Aktivitas enzim yang dihasilkan oleh bakteri yang menguraikan mayat
dapat dipengaruhi oleh temperatur, selain itu perbedaan media dimana mayat
berada seperti jenis tanah dapat mempengaruhi proses pembusukan mayat.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembusukan mayat dibedakan
menjadi dua, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal
merupakan faktor-faktor yang berasal dari luar tubuh mayat, sedangkan faktor
internal berasal dari tubuh mayat itu sendiri.
3.4.1 Faktor Eksternal
- Suhu lingkungan dan tekanan atmosfer
Tekanan atmosfer dan suhu yang tinggi dapat mempercepat proses
pembusukan. Proses pembusukan paling optimal terjadi pada suhu
70oF-100oF atau setara dengan 21oC-38oC. Pada suhu yang optimal,
proses pemecahan kimiawi jaringan dan perkembangan
mikroorganisme akan membantu terjadinya pembusukan. Pada suhu
di bawah 50oF (0oC) atau di atas 100oF (45oC), proses pembusukan
menjadi lebih lambat karena pertumbuhan mikroorganisme
terhambat.
- Kelembapan
Proses pembusukan memerlukan kelembapan udara, sehingga proses
pembusukan terjadi lebih cepat pada kondisi kelembapan udara yang
tinggi.
- Udara
Kondisi angin yang tetap/statis tidak akan membantu evaporasi
cairan tubuh, serta dapat membantu mempertahankan kondisi tubuh
dan menahan laju pembusukan. Kandungan oksigen yang berkurang
akan memperlambat terjadinya proses pembusukan karena oksigen
diperlukan oleh bakteri-bakteri aerob yang berperan dalam proses
pembusukan.

19
- Pakaian
Pakaian yang menutupi tubuh dapat mencegah mikroorganisme
masuk ke dalam tubuh melalui media udara. Saat udara dingin,
pakaian yang melekat pada tubuh dapat mempertahankan suhu tubuh
sehingga pertumbuhan mikroorganisme dapat dihambat.
- Medium tempat mayat berada
Berdasarkan postulat Carper Dictum “Perbandingan kecepatan
pembusukan berbeda antar media, udara: air: tanah sebesar 8:2:1”.
Pada medium udara, proses pembusukan lebih cepat dibandingkan
pada medium air, sedangkan pada medium air proses pembusukan
lebih cepat terjadi dibandingkan pada medium tanah. Bagian
permukaan tanah mengandung lebih banyak bakteri dan cenderung
lebih lembap dibandingkan bagian tanah yang lebih dalam sehingga
proses pembusukan lebih cepat terjadi pada mayat yang terletak di
permukaan tanah. Jika tubuh terendam air, kecepatan dekomposisi
akan berkurang karena pendinginan pada tubuh. Sementara jika
tubuh diangkat dari air, dekomposisi akan meningkat karena sudah
diencerkan oleh air dan tekanan atmosfer yang tinggi akan
membantu proses dekomposisi.
- Invasi hewan dan serangga
Hewan dan serangga dapat merusak tubuh mayat dan mempercepat
proses pembusukan, serta membantu masuknya bakteri-bakteri yang
berperan dalam pembusukan mayat.
3.4.2 Faktor Internal
- Umur
Pembusukan terjadi lebih lambat pada mayat orang yang lanjut usia
karena komposisi lemak yang lebih sedikit. Selain itu, pembusukan
juga terjadi lebih lambat pada mayat bayi yang belum pernah diberi
makan karena mikroorganisme yang berperan dalam proses
pembusukan belum masuk ke dalam tubuh.
- Jenis kelamin
Wanita memiliki lemak subkutan lebih banyak sehingga apabila
meninggal lebih cepat membusuk.
- Kondisi tubuh

20
Pada tubuh yang berlemak, proses pembusukan terjadi lebih cepat
karena jumlah air lebih banyak pada tubuh yang berlemak sehingga
memberikan media berkembangnya mikroorganisme.
- Penyebab kematian
Mayat penderita penyakit kronis akan lebih cepat membusuk
dibandingkan dengan mayat yang mati secara mendadak. Mayat
yang meninggal karena infeksi atau sepsis akan lebih cepat
membusuk akibat adanya bakteri.
- Perlukaan luar pada tubuh
Perlukaan pada tubuh dapat mempercepat proses pembusukan karena
adanya mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh melalui luka di
bagian luar tubuh.3,7,8,9

3.5 Penentuan Saat Kematian dengan Metode Umur Larva Lalat


Larva lalat yang ada pada jenazah dapat dipakai untuk memperkirakan
saat kematian dengan cara menentukan umut larva dalam siklus hidupnya.
Siklus :
Telur (8-14 jam) → larva (9-12 hari) → kepompong (12 hari) → lalat dewasa
Syarat metode larva lalat adalah tidak boleh ada kepompong dan dicari
larva lalat yang berukuran paling besar. Bila sudah ada kepompong, maka
penentuan saat kematian berdasarkan umur larva tidak dapat dipakai karena
besar kepompong selalu tetap meskipun isinya bertumbuh. Bila belum ada
kepompong dan hanya ada larva lalat, maka dapat dipakai untuk menentukan
umurnya karena larva lalat yang tumbuh akan bertambah besar.
Cara pengambilan larva lalat :
- Cari larva yang paling gemuk karena larva ini merupakan larva yang
tertua.
- Beberapa larva tersebut dimasukkan ke dalam botol yang sudah berisi
alkohol 70%.
- Botol ditutup dengan paraffin, kemudian dimasukkan ke dalam kotak.
- Kotak dibungkus dan diikat dengan tali yang tidak ada sambungannya.
Pada tempat ikatan tali diberi label dan segel.

21
- Kemudian dikirim ke laboratorium biologi dengan menyertakan surat
permohonan pemeriksaan umur larva lalat, surat tentang laporan peristiwa,
berita acara pembungkusan disertai dengan contoh segel.
Bila umur larva sudah ditentukan, maka dapat diketahui berapa lama korban
telah meninggal. Sebagai contoh, jika didapatkan larva yang berumur 3 hari,
maka saat kematian korban adalah (3 hari + 1 hari) = 4 hari yang lalu.
Keterangan :
- Lalat akan meletakkan telur pada jenazah yang sudah mulai membusuk.
- Proses pembusukan dimulai dalam waktu 18-24 jam setelah kematian.
- Telur untuk menjadi larva membutuhkan waktu minimal 8 jam. Jadi 18
jam + 8 jam = 26 jam (kurang lebih 1 hari).2

3.6 Pembahasan Kasus Visum Jenazah


Pada kasus visum jenazah yang diangkat, Tn. M selaku korban
sesampainya di Instalasi Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD
Dr. Soetomo Surabaya telah dinyatakan meninggal beberapa hari sebelumnya.
Dengan mengacu pada Tanatologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang
perubahan kematian, seorang dokter perlu mengamati dan memastikan adanya
tanda-tanda kematian pasti (cellular death) yakni meliputi penurunan suhu
tubuh (Argor mortis) yang muncul 15-30 menit setelah kematian, lebam mayat
(Livor mortis) yaitu perubahan warna merah keunguan pada kulit setelah
kematian, yang hilang dengan penekanan, kaku mayat (Rigor mortis) yang
muncul 2-3 jam setelah kematian dan dipertahankan hingga 24 jam setelah
kematian, serta tanda pembusukan yang muncul 18-24 jam setelah kematian.
Setelah itu, seorang dokter berdasarkan pengetahuan yang didapatnya,
menentukan perkiraan waktu kematian, cara kematian, sebab kematian, dan
mekanisme kematian seseorang dalam pembuatan visum atas permintaan
penyidik.
Pada kasus Tn. M, ditemukan adanya penurunan suhu tubuh, tampak
lebam mayat yang tidak hilang dengan penekanan, tidak ditemukan kaku
mayat, namun ditemukan tanda-tanda pembusukan berupa pengelupasan kulit
ari berwarna kehitaman pada seluruh tubuh dan gelembung berisi cairan pada
dada dan perut, serta rongga mata, hidung, mulut yang dipenuhi larva lalat.
Pada kasus ini, ditemukan penurunan suhu tubuh setelah kematian yang terjadi

22
sejak 30 menit post mortem. Ditemukan lebam mayat yang tidak hilang
dengan penekanan, sehingga diperkirakan kematian Tn. M sudah terjadi lebih
dari 12 jam. Disebut sebagai lebam mayat adalah ketika terjadi stagnasi darah
pada pembuluh darah 15-20 menit post mortem dan hilang dengan penekanan.
Ketika 8-12 jam post mortem, terjadi ekstravasasi darah dari pembuluh darah
ke jaringan sekitar dan terjadi fiksasi sehingga lebam mayat tidak hilang
dengan penekanan. Kondisi otot-otot yang lemas dan mudah digerakkan serta
adanya tanda-tanda pembusukan menandakan bahwa otot-otot telah memasuki
periode relaksasi sekunder (secondary flaccidity).
Pada pembusukan, terjadi proses autolisis endogen oleh flora normal
tubuh dan putrefaksi oleh bantuan mikroorganisme eksternal. Ketika kematian
terjadi, seluruh fungsi tubuh berhenti termasuk sistem imun tubuh yang
berhenti sehingga bakteri flora normal akan menyebar ke seluruh tubuh.
Daerah caecum adalah bagian tubuh yang pertama kali membusuk yaitu pada
perut kuadran kanan bawah, akan berubah warna menjadi hijau sekitar 24-36
jam setelah kematian. Warna hijau sepanjang pembuluh darah vena
(marbling) terlihat di bawah permukaan kulit. Hal ini terjadi karena hemolisis
sel-sel darah merah yang menimbulkan reaksi antara hemoglobin dan
hidrogen sulfida menjadi sulf-met-hemoglobin. Gelembung yang terbentuk
pada jenazah yang telah mengalami pembusukan terjadi karena pembentukan
gas yang dihasilkan oleh bakteri yang dimulai 2-3 hari setelah kematian. Gas
yang dihasilkan dapat berupa hidrogen sulfida atau metana, diproduksi di
organ dan jaringan subkutan, serta dapat memisahkan lapisan epidermis dan
dermis sehingga terbentuklah bulla atau vesikel epidermis yang berisi cairan.
Bentukan ini membuat permukaan tubuh yang membusuk menjadi licin.
Pengelupasan kulit ari (degloving of skin), terutama pada kulit, telapak tangan,
dan telapak kaki terjadi selama pembusukan sama halnya pada kasus
kebakaran dan tenggelam.10
Lalat yang hinggap pada jenazah dan meletakkan telurnya akan
mempercepat proses pembusukan. Telur lalat biasanya diletakkan di tempat
yang lembap seperti mata, hidung, dan mulut. Telur dapat bermigrasi ke
daerah wajah. Telur lalat akan menetas dalam 1-2 hari menjadi larva lalat
(maggot). Larva lalat akan memakan jaringan pada jenazah dan tumbuh dalam
3 tahap yang disebut dengan instar. Larva muda tampak seperti telur lalat

23
namun bergerak. Selain itu, tidak menutup kemungkinan muncul berbagai
predator serangga seperti kecoak dan semut yang akan memakan jenazah dan
larva lalat. Serangga yang memakan jenazah akan meninggalkan bekas luka
kuning kemerahan, abrasi yang berbentuk tidak beraturan, dan biasanya dapat
dikenali polanya. Semut yang memakan larva lalat akan memperlambat proses
pembusukan jenazah.10
Pada kasus ini, dilakukan pengumpulan larva lalat yang paling besar
sebanyak 5 ekor dari jenazah untuk dihitung panjangnya dengan syarat tidak
ditemukan pupa/kepompong. Kemudian larva lalat dimasukkan dalam wadah
berisi air bersuhu 70oC-80oC supaya larva mati dan dapat diukur panjangnya.
Didapatkan rata-rata panjang larva lalat sebesar 20 mm. Sesuai teori
entomologi forensik, larva lalat yang berukuran lebih dari atau sama dengan
17 mm berumur 4-5 hari, serta perubahan telur lalat menjadi larva
membutuhkan waktu 24 jam. Oleh karena itu, apabila ditemukan larva lalat
terbesar dengan panjang rata-rata 20 mm, maka perkiraan saat kematian
adalah 5-6 hari sebelum jenazah dibawa ke Instalasi Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Pada pemeriksaan luar, tidak didapatkan tanda-tanda kekerasan tajam,
sedangkan tanda-tanda kekerasan tumpul sulit dievaluasi karena jenazah telah
mengalami pembusukan. Cara kematian, mekanisme kematian, dan sebab
kematian Tn. M tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan
dalam (otopsi).

24
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Tanatologi digunakan untuk menentukan apakah seseorang benar-benar
sudah meninggal atau belum, memperkirakan rentang kematian seseorang,
dan membedakan perubahan-perubahan post mortem dengan kelainan-
kelainan yang terjadi pada waktu korban masih hidup.
2. Kematian dalam tanatologi memiliki dua istilah somatic death (kematian
klinis) dan cellular death. Pembusukan termasuk dalam salah satu tanda
kematian pasti pada cellular death. Pembusukan terjadi 18-24 jam setelah
kematian karena autolysis dan putrefaction. Pembusukan memiliki
berbagai tanda khas yang perlu diketahui oleh seorang dokter dalam
memeriksa (melihat dan mengamati) jenazah, terutama ketika diminta oleh
penyidik membuat visum et repertum.

4.2 Saran
1. Seorang dokter umum dan dokter spesialis forensik mengetahui
perubahan-perubahan pada tubuh seseorang yang telah meninggal,
khususnya tanda-tanda pembusukan serta mengetahui metode umur larva
lalat untuk menentukan saat kematian.
2. Seorang dokter umum dan dokter spesialis forensik menggunakan
keilmuan yang didapatnya sesuai standar profesinya sehingga mampu
membantu penyidik dalam memberikan hasil visum et repertum sebagai
barang bukti serta memberikan manfaat bagi korban dan keluarga korban.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang


Kesehatan.
2. Hariadi A, Hoediyanto. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal. Edisi Kedelapan. 2012. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.
3. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak
Hukum. Semarang: Universitas Semarang; 2000: 47-62.
4. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta Barat: Binarupa
Aksara; 1997: 67-72.
5. Di Maio Domnick J, Di Maio Vincent J.M. Time of Death Forensic
Pathology. CRC Press: Inc; 2000: 21-41.
6. Knight Bernard. The Pathophysiology of Death; Forensic Pathology. 2nd
edition. Oxford University Press: Inc; 1996: 65-72.
7. Dautartas Angela Madeleine. The Effect of Various Coverings on the Rate of
Human Decomposition [Thesis]. University of Tennessee; 2009. Available
from: http://trace.tennessee.edu/utk_gradthes/69 [Diakses pada 20 Juli 2019].
8. Miller R. A. The Affects of Clothing on Human Decomposition: Implications
for Estimating Time Since Death. Master’s Thesis, University of Tenessee,
2002.
9. Gleason Mark. The Search for Human Remains in the Search and Rescue
Enviroment. Search and Rescue Traking Institute Virginia; 2008. Available
from: http://www.sarti.us/sarti/files/SearchForHumanRemains.pdf [Diakses
pada 20 Juli 2019].
10. Harle, L. 2019. Postmortem changes. [online] pathologyoutlines.com.
Available from:
https://www.pathologyoutlines.com/topic/forensicspostmortem.html [Diakses
pada 20 Juli 2019].

26

Anda mungkin juga menyukai