Anda di halaman 1dari 23

MANAJEMEN RISIKO

Studi Kasus pada PT Gudang Garam Tbk


Karya Tulis ini Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Manajemen Risiko

Disusun Oleh :

Aini Nurul Fathonah NIM 4415070018


Elmash Neza NIM 4415070024
Laela Amanda NIM 4415070029
Liliana Eka Putri NIM 4415070009

Manajemen Keuangan 6A

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA


Jalan Prof. Dr. G.A. Siwabessy, Kampus UI, Depok 16425
Telp. 021-7270036, Fax. 021-7270042
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
kasih dan sayangnya yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya penyusun tidak akan sanggup
menyelesaikannya dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memaksimalkan pemahaman tentang


dasar studi manajemen risiko mengenai dampak dari penurunan nilai tukar rupiah
terhadap PT Gudang Garam Tbk. Penyusuan makalah ini dihadapkan dengan berbagai
kendala, baik karena dead line waktu maupun kurangnya referensi yang didapat. Namun
dengan kesabaran dan upaya yang dilakukan serta pertolongan dari Tuhan akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada
pembaca, walaupun makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Penyusun
membutuhkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Depok, 14 Mei 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 3

1.3 Tujuan Penulisan .............................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................ 5

2.1 Profil Perusahaan ............................................................................................. 5

2.2 Kronologi Kasus .............................................................................................. 8

2.3 Analisis Resiko .............................................................................................. 11

2.3.1 Sumber Penyebab Resiko ....................................................................... 11

2.3.2 Jenis-Jenis Resiko Dalam Kasus............................................................. 12

2.4 Pengendalian atau Mitigasi Resiko ................................................................ 14

2.5 Rekomendasi dan Solusi ................................................................................ 16

BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 17

3.1 Kesimpulan .................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kurs (exchange rate) adalah pertukaran antara dua mata uang yang
berbeda, atau merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang
tersebut. Nilai tukar biasanya berubah-ubah, perubahan kurs dapat berupa
depresiasi dan apresiasi. Pada dasarnya terdapat lima jenis sistem kurs utama
yang berlaku yaitu: sistem kurs mengambang (floating exchang rate), kurs
tertambat (pegged exchange rate), kurs tertambat merangkak (crawling pegs),
sekeranjang mata uang (basket of currencies), kurs tetap (fixed exchange rate).

Perlakuan akuntansi terhadap laba-rugi selisih kurs yang terjadi dari


transaksi mata uang asing ada tiga, yaitu: (1) diakui sebagai pendapatan (biaya)
pada periode tahun berjalan, (2) dikapitalisasi sebagian, dan (3) dikapitalisasi
penuh. Tiga metode pengakuan laba-rugi selisih kurs ini perlu untuk dikaji
secara mendalam karena masing-masing metode menimbulkan persepsi yang
berbeda-beda. Diantaranya, metode pertama dianggap tidak menimbulkan
konsekuensi ekonomik, sedangkan dua metode lainnya dianggap sebaliknya.

Perusahaan dapat menghindari keuntungan atau kerugian dari perubahan


nilai kurs dengan cara melunasi atau meminta pelunasan langsung (transaksi
tunai) atau dengan melakukan operasi hedging. Perusahaan yang melakukan
transaksi kas valuta asingnya relatif besar, manajemen menyadari bahwa risiko
transaksi tersebut relatif tinggi terutama terhadap fluktuasi nilai tukar karena itu
manajemen perusahaan harus mengendalikan transaction exposure dengan
melakukan hedging (memberikan nilai lindung terhadap valuta). (Wiene,
2011:72)

Industri rokok merupakan salah satu industri yang sangat dapat menunjang
pembangunan dan perkembangan ekonomi khususnya di Indonesia, baik dalam
skala kecil, menengah, maupun besar. Walaupun industri rokok adalah industri

1
yang kontroversial karena terbukti bahwa rokok dapat membahayakan kesehatan
bahkan keselamatan jiwa, namun dalam kenyataannya industri rokok dan mata
rantai distribusinya adalah penyerap tenaga kerja yang cukup besar dan menjadi
tumpuan ekonomi bagi masyarakat dan juga nilai cukai rook yang tinggi
menyebabkan tingginya pendapatan pajak yang diterima dari insdustri rokok, hal
itu menjadi landasan sebagai pergerakan pertumbuhan ekonomi karena
pendapatan negara yang meningkat. Di dalam kondisi yang penuh persaingan
ini, setiap perusahaan pasti selalu ingin mengetahui dan memperbaiki kinerja
perusahaan sesuai dengan visi dan misi yang dimiliki.

Industri pengolahan tembakau mampu dalam menggerakkan ekonomi di


Indonesia, hal ini dikarena industri tembakau mempunyai multiplier effect yang
sangat luas, seperti menumbuhkan industri jasa terkait, penyediaan lapangan
usaha, dan penyerapan tenaga kerja. Koordinator Koalisi Nasional Masyarakat
Sipil untuk Pengendalian Tembakau Ifdhal Kasim mengatakan bahwa
penerimaan cukai dari rokok dari tahun ke tahun memang selalu meningkat,
bahkan melebihi target. Hal ini dikarenakan perusahaan rokok harus berjuang
keras untuk dapat memenuhi tariff cukai tersebut.

Tabel 1.1
Return saham yang diperoleh perusahaan rokok yang listing di Bursa Efek
Indonesia periode 2011-2014

No. Perusahaan 2011 2012 2013 2014


1. PT. Gudang Garam Tbk 69,27% -7,97% -23,98% 46,43%
PT. Handjaya Mandala
2. 59,80% 56,92% 9,85% 13,23%
Sampoerna Tbk
PT. Bentoel Internasional
3. 16,57% -23,29% 2,76% -4,21%
Investama Tbk

Selain pendapatan cukai yang memberatkan bagi perusahaan rokok tiap


tahunnya, tarif cukai juga membuat PT Gudang Garam juga mengalami tekanan
yang cukup kuat pada 2013. Pada tabel di atas jika dilihat dari permasalahan
perusahaan, penurunan return saham pada tahun 2012 hingga 2013 PT. Gudang

2
Garam disebabkan karena penurunan laba, laba yang dapat di atribusikan PT.
Gudang Garam Tbk hanya sebesar 20,84%, dimana berdasarkan laporan
perseroan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) disebutkan,
turunnya laba tersebut karena naiknya beban pokok penjualan PT. Gudang
Garam Tbk, kenaikan beban pokok penjualan juga disebabkan karena tarif cukai
yang dibebankan perusahaan rokok.

Sedangkan peningkatan return saham PT. Gudang Garam Tbk tahun 2014
disebabkan oleh laba bersih PT. Gudang Garam Tbk Rp 5,36 triliun tumbuh 24%
dibandingkan laba tahun sebelumnya Rp 4,32 triliun, harga saham PT. Gudang
Garam pun naik 825 poin (1,67%) ke level Rp 50.325 per lembar, dimana
sahamnya sudah diperdagangkan 1.697 kali dengan volume 6.762 lot senilai Rp
34 miliar.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi return dari suatu investasi
yaitu faktor internal dan faktor eksternal dari suatu perusahaan. Faktor internal
merupakan kualitas manajemen, struktur modal, dan struktur hutang yang dapat
dikendalikan oleh perusahaan. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor
yang berasal dari luar yang tidak mampu dikendalikan oleh perusahaan, seperti
inflasi dan naiknya kurs mata uang asing.

Pada makalah ini kami akan membahas mengenai dampak dari pelemahan
nilai tukar rupiah terhadap PT Gudang Garam Tbk, untuk mengetahui langkah
apa yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan untuk mengatasi pelemahan
nilai tukar rupiah pada tahun 2013 sehingga return saham dan juga laba
perusahaan dapat meningkat dan tidak mengalami penurunan kembali di tahun
berikutnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana kronologi kasus pelemahan nilai tukar rupiah terhadap PT


Gudang Garam Tbk?
2. Bagaimana analisis risiko dari kasus pelemahan nilai tukar rupiah
terhadap PT Gudang Garam Tbk?

3
3. Bagaimana cara PT Gudang Garam Tbk mengendalikan atau memitigasi
dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah?
4. Bagaimana solusi dari kasus pelemahan nilai tukar rupiah terhadap PT
Gudang Garam Tbk?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mampu memahami kronologi kasus pelemahan nilai tukar rupiah


terhadap PT Gudang Garam Tbk.
2. Mampu menganalisis risiko dari kasus pelemahan nilai tukar rupiah
terhadap PT Gudang Garam Tbk.
3. Mampu mengendalikan atau memitigasi dampak dari pelemahan nilai
tukar rupiah PT Gudang Garam Tbk.
4. Mampu memberikan rekomendasi serta solusi dari kasus pelemahan nilai
tukar rupiah terhadap PT Gudang Garam Tbk.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Profil Perusahaan

PT Gudang Garam, Tbk. (IDX: GGRM) merupakan produsen rokok kretek


terkemuka di Indonesia dan dikenal sebagai produsen rokok kretek bermutu
tinggi. Didirikan pada 26 Juni 1958 oleh Surya Wonowidjojo (Tjoa Ing Hwie)
dan perusahaan ini merupakan perusahaan tertua dan terbesar di Indonesia dalam
produksi rokok kretek. Perusahaan Gudang Garam, Tbk. berletak di Kediri Jawa
Timur. Dilihat dari asset yang dimiliki, nilai penjualan, pembayaran pita cukai
dan pajak kepadaPemerintah Indonesia serta jumlah karyawan, PT Gudang
Garam Tbk merupakan perusahaan terbesar dalam industri rokok kretek di
Indonesia. PT Gudang Garam Tbk telah mencatatkan sebagian saham-sahamnya
di lantai bursa.

PT Gudang Garam, Tbk. memiliki fasilitas percetakan kemasan rokok, dan


di samping itu juga memiliki dua anak perusahaan utama yaitu PT Surya
Pemenang, yang memproduksi kertas karton untuk kemasan, dan PT Surya
Madistrido, sebagai distributor tunggal produk PT Gudang Garam, Tbk. Dua
anak perusahaan lainnya yang belum secara komersial beroperasi adalah PT
Graha Surya Media, yang bergerak dalam bidang jasa hiburan, dan PT Surya
Air, yang akan menjadi penyedia jasa pengangkutan udara niaga tidak berjadwal.
Dan pada 21 September 2012 mendirikan anak perusahaan baru bernama Surya
Inti Tembakau yang berfokus pada bidang pengolahan tembakau.

PT. Gudang Garam, Tbk. memiliki visi yaitu menjadi perusahaan


terkemuka kebanggaan nasional yang bertanggung jawab dan memberikan nilai

5
tambah bagi para pemegang saham, serta manfaat bagi segenap pemangku
kepentingan secara berkesinambungan.

Sedangkan pada misinya tertuang dalam Catur Dharma yang menjadi


filosofi tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) yang menjadi
nilai panduan bagi setiap karyawan, masyarakat, dan pemegang saham. Catur
Dharma tersebut yaitu :

1. Kehidupan yang bermakna dan berfaedah bagi masyarakat


luas merupakan suatu kebahagiaan.
2. Kerja keras, ulet, jujur, sehat dan beriman adalah prasyarat kesuksesan.
3. Kesuksesan tidak dapat terlepas dari peranan dan kerjasama dengan orang
lain.
4. Karyawan adalah mitra usaha yang utama.

Perjuangan PT Gudang Garam Tbk hingga mencapai sukses seperti


sekarang ini dimulai sejak tahun 1958. Pada tanggal 26 Juni 1958, Bapak Surya
Wonowidjojo memulai usaha membuat rokok kretek dengan merek dagang
"Gudang Garam" dengan bercirikan industri rumah tangga yang hanya
menggunakan alat tradisional sederhana. Pada saat itu jumlah tenaga kerjanya
hanya sekitar 50 orang dan menempati lahan sewaan seluas 1000 m2 yang
berlokasi di jalan Semampir II/1 Kediri. Gudang Garam memulai produksi
perdananya, berupa Sigaret kretek Klobot (SKL) dan Sigaret Kretek Tangan
(SKT), dengan hasil produksi hanya sekitar 50 juta batang pada tahun 1958.

Pada mulanya pemasaran hasil produksi hanya meliputi sekitar daerah


Kediri (Karesidenan Kediri). Setelah menjalankan usaha selama 10 tahun
Gudang Garam menjadi semakin terkenal sehingga pendirinya
mempertimbangkan untuk memperluas usaha. Pada tahun 1969, perusahaan
beralih status menjadi sebuah Firma guna mengikuti perkembangan dunia usaha.
Gudang Garam juga mendapat dukungan dari BNI 1946 untuk memenuhi
kebutuhan modal kerja yang berawal dari hanya jumlah jutaan rupiah hingga

6
menjadi milyaran rupiah. Kemudian pada tahun 1971, status perusahaan berubah
menjadi Perseroan Terbatas (PT) dan mendapatkan fasilitas PMDN. Dengan
status Perseroan Terbatas, PT. Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam semakin
berkembang, baik dari segi kualitas produksi, menejemen maupun teknologi,
sehingga pada tahun 1979 mulai memproduksi Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Produksi sigaret kretek mesin ini tidak merubah sifat PT. Gudang Garam
sebagai perusahaan yang menganut sistem padat karya, bahkan semakin
memperluas kesempatan kerja. Pada tahun 1985, Bapak Surya Wonowidjojo
wafat dengan meninggalkan kenangan indah kepada seluruh karyawan. Saat itu
justru persaingan di industri rokok semakin ketat, dengan kondisi demikian
perusahaan harus berjuang demi kelestarian perusahaan dan kesejahteraan
karyawan yang merupakan cita-cita beliau. Untuk memperkuat struktur
permodalan dan posisi keuangan perusahaan, maka pada tahun 1990 PT. Gudang
Garam melakukan penawaran umum untuk menjual sebagian saham perusahaan
kepada masyarakat melalui bursa effek. Pada tahun 1991, perusahaan
mengembangkan usaha di bidang kertas industri melalui PT Surya Pamenang,
berkedudukan di Kediri. Prosentase pemilikan saham PT Gudang Garam Tbk.
pada PT Surya Pamenang saat ini adalah 100% kurang 1 (satu) saham. Salah
satu tujuan pengembangan bidang usaha ini adalah untuk menjamin
kesinambungan akan pasok bahan pengepakan bermutu tinggi, yang sebelumnya
kebutuhan bahan pengepakan berkualitas tertentu masih harus diimpor. PT
Surya Pamenang akan ikut serta memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia dan di
luar negeri di samping juga untuk memenuhi kebutuhan kertas kemasan PT
Gudang Garam Tbk. sendiri.

Produksi PT Surya Pamenang saat ini diantaranya adalah coated folding


boxboard, coated solid bleached board, dan coated duplex board. Sedangkan
produk PT Gudang Garam, Tbk. diantaranya jenis sigaret kretek tangan dengan
produk nusa, gudang garam merah, gudang garam djaja, sriwedari lurik, dan
sriwedari biru lurik; selain itu jenis sigaret kretek linting dengan produk klobot
manis; jenis full flavored dengan produk gudang garam internasional, surya 16,

7
surya 12, surya 12 premium, dan surya professional; dan jenis light & mild
dengan produk surya professional mild, surya slims, surya slims menthol, surya
slim premium.

2.2 Kronologi Kasus

Pelemahan mata uang rupiah dalam beberapa hari terakhir mempengaruhi


laba-laba perusahaan yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada hari ini, Rabu (21/8/2013)
sudah menyentuh ke level Rp 10.963 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pergerakan nilai tukar rupiah yang terjadi hari ini sangat mempengaruhi emiten-
emiten yang sudah melantai di bursa.

Kepala Strategi Riset dan Ekuitas Bahana Sekuritas Harry Su mengatakan,


akibat dampak pergerakan pelemahan rupiah, banyak emiten yang terkena
dampak dari pelemahan rupiah tersebut. "Jelaslah, pelemahan rupiah itu sangat
jelek untuk pasar. Tapi emiten yang mempunyai utang berdasarkan mata uang
dolar AS," ujar Harry ketika ditemui dalam acara Halal bi Halal Bahana Group
dan Market Update di Graha Cimb Niaga, Jakarta, Rabu (21/8/2013).

Menurut Harry, selain faktor pelemahan rupiah yang mempengaruhi laba


bersih di setiap emiten, dan juga kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI
Rate). Adapun saham yang sangat terpengaruh terhadap pelemahan nilai tukar
rupiah adalah, PT Indosat Tbk (ISAT). Saham telekomunikasi tersebut terkena
dampak 17,9% dari laba bersih, sedangkan pengaruh BI Rate hampir sebesar
24% dari raihan laba bersih.

Selain ISAT, laba bersih perusahaan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) juga
megalami penurunan hingga 0,9%. Laba PT Bakrie Telekomunikasi Tbk
(BTEL) juga mengalami penurunan hingga 5,9% dan laba bersih PT Gajah
Tunggal Tbk (GJTL) mengalami penurunan 5,9%.

Lanjut Harry, pelemahan rupiah juga menurunkan laba bersih emiten, tapi
juga memberikan dampak pada keuntungan emiten. PT Timah Tbk (TINS)
mengalami penurunan keuntungan hingga 5,2%, sedangkan PT Astra Agro

8
Lestari Tbk (AALI) mengalami penurunan laba bersih hingga 3,4%. "Pelemahan
mata uang rupiah juga berdampak pada PT Sarana Menara Nusantara Tbk
(TOWR) mengalami penurunan laba bersih hingga sebesar 3,9%," tegasnya.
Ditambahkannya, pelemahan rupiah yang semakin tajam, memang
mempengaruhi kinerja emiten, khususnya yang berpendapatan mata uang dolar
AS. Berdasarkan berita diatas PT Gudang Garam menjadi salah satu perusahaan
yang mengalami penurunan laba bersihnya yaitu sebesar 0,9% akibat
melemahnya nilai rupiah, dampak pelemahan rupiah terhadap PT Gudang
Garam lebih kecil jika dibandingkan dengan perusahaan yang lainnya.

Hal ini dialami oleh PT Gudang Garam karena perusahaan membutuhkan


bahan baku utama berupa tembakau dan cengkeh yang berkualitas untuk produk
mereka, sementara kualitas panen tembakau dan cengkeh lokal yang menjadi
bahan baku utama tersebut sangatlah bergantung pada cuaca, faktor cuaca yang
kini sering tidak menentu mengakibatkan penurunan kualitas panen kedua bahan
baku tersebut. Sehingga perusahaan terpaksa harus mengimpor persediaan bahan
baku mereka dari luar negeri agar kualitas atas produk yang dihasilkan tetap
terjaga. Inilah yang menyebabkan menurunnya pendapatan dan laba bersih
perusahaan.

Selain itu penurunan pendapatan dan laba bersih Gudang Garam dapat
disebabkkan juga oleh aturan pemerintah, karena sebelumnya industri
rokok diberatkan dengan aturan pemerintah yaitu regulasi mengenai rokok, PP
Nomor 109 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa
produk Tembakau bagi kesehatan yang dikeluarkan pemerintah tahun 2012
kemarin yang mengacu pada Framework Convention on Tobacco
Control (FCTC) yang dicanangkan oleh WHO pada tahun 2003, salah satu
aturannya yang berupa kenaikan bea pita cukai yang secara terus menerus dan
juga kewajiban menampilkan gambar-gambar seram dari bahayanya rokok pada
kemasan dan iklan rokok.

Biaya pita cukai dan PPN Gudang Garam pada tahun 2013 mencapai 29
triliun, atau setara 67% dari total beban biaya pokok penjualan Gudang Garam.

9
Dan jika dibandingkan dengan pendapatan penjualan, biaya pita cukai Gudang
Garam tahun 2013 setara dengan 54% hasil pendapatan penjualan perusahaan.
Artinya, 54% dari total pendapatan penjualan Gudang Garam tahun 2013
digunakan untuk membayar bea pita cukai dan PPN. Dan jika dilihat dalam
beberapa tahun belakang, kontribusi biaya pita cukai dan PPN tersebut nilainya
selalu diatas 50% dari total pendapatan penjualan Gudang Garam. Bagaimana
pun itu perusahaan harus tetap mengeluarkan dana untuk membayar besarnya
biaya pita cukai sesuai aturan.

Serta kewajiban perusahaan menampilkan gambar-gambar dari bahaya


dan dampak negatif rokok pada kemasan serta iklan produk secara tidak
langsung akan mengurangi minat para konsumen untuk merokok, hal ini tentu
saja akan menurunkan penjualan rokok, termasuk rokok Gudang Garam itu
sendiri, dan dampak lainnya dari ketatnya aturan pemerintah dalam industri
rokok adalah Gudang Garam harus mengurangi dan menghemat biaya
perusahaan yang lainnya. Banyak dampak yang dirasakan perusahaan akibat dari
penurunan nilai tukar rupiah salah satunya adalah menurunnya laba bersih
perusahaan yang akan berdampak pada pembagian dividen kepada para
pemegang saham, serta peraturan pemerintah yang dapat menurunkan penjualan
produk rokok serta pendapatan perusahaan. Salah satu cara untuk menaggulangi
risiko dari pelemahan nilai tukar rupiah adalah dengan melakukan kebijakan
penawaran pensiun dini kepada para karyawannya terutama karyawan borongan
sigaret kretek tangan (SKT) dan operasional dengan alasan untuk mengantisipasi
dampak buruk yang akan terjadi pada perusahaan dimasa mendatang akibat
bertambah ketatnya peraturan industri rokok yang telah ditetapkan oleh
pemerintah.

10
2.3 Analisis Resiko

2.3.1 Sumber Penyebab Resiko

1. Politik

Lingkungan politik sangat berpengaruh dalam setiap perusahaan global.


Baik yang dipengaruhi oleh lingkungan politik negara asal atau negara
tujuan pemasarannya. Lingkungan politik yang ideal bagi perusahaan
adalah pemerintah yang stabil dan barsahabat.

Sebelumnya industri rokok diberatkan dengan kebijakan pemerintah yaitu


regulasi mengenai rokok, PP Nomor 109 tentang Pengamanan Bahan yang
Mengandung Zat Adiktif berupa produk Tembakau bagi kesehatan yang
dikeluarkan pemerintah tahun 2012 kemarin yang mengacu pada
Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang dicanangkan
oleh WHO pada tahun 2003, salah satu aturannya yang berupa kenaikan
bea cukai yang secara terus menerus dan juga kewajiban menampilkan
gambar-gambar seram dari bahaya merokok pada kemasan dan iklan
rokok.

2. Ekonomi

Kondisi ekonomi di negara tempat organisasi beroperasi memiliki dampak


yang kuat terhadap kinerja dari setiap bisnis karena dapat mempengaruhi
pendapatan atau beban dari bisnis tersebut. Ketidakpastian ekonomi
(economic uncertainty) yaitu kejadian-kejadian yang timbul sebagai akibat
kondisi dan perilaku dari pelaku ekonomi, misalnya: perubahan sikap
konsumen, perubahan selera konsumen, perubahan harga, perubahan
teknologi, penemuan baru dan sebagainya.

Pelemahan mata uang rupiah yang terjadi, peristiwa tersebut


mempengaruhi laba bersih emiten termasuk PT Gudang Garam Tbk dan
juga kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate.

3. Lingkungan

11
Lingkungan bisnis merupakan segala sesuatu yang mempengaruhi
aktivitas bisnis dalam suatu lembaga organisasi atau perusahaan. Faktor –
factor yang mempengaruhi tersebut berada diluar jangkauan perusahaan
yang dapat menimbulkan suatu peluang atau ancaman.

Perusahaan membutuhkan bahan baku yang berkualitas untuk


memproduksi produknya namun banyak kendala yang harus dihadapi
karena kualitas panen bahan baku yang sering berubah yang tentu saja
akan mengganggu proses produksi. Akibat dari kurangnya bahan baku
yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya permintaan perusahaan kepada
supplier, mengharuskan perusahaan untuk melakukan impor bahan baku
dari luar negeri.

2.3.2 Jenis-Jenis Resiko Dalam Kasus

1. Risiko Bisnis dan Risiko Pasar

Risiko bisnis merupakan ketidakpastian arus pendapatan yang muncul


karena kondisi bisnis perusahaan. Semakin fluktuatif pendapatan yang
masuk ke perusahaan berarti semakin fluktuatif pula arus pendapatan yang
diterima investor. Sedangkan risiko pasar berupa fluktuasi pasar secara
keseluruhan mempengaruhi variabilitas return suatu investasi.

Sesuai dengan pembahasan studi kasus, perusahaan ini yaitu PT Gudang


Garam merasakan dampak dari penurunan nilai tukar rupiah yang
berakibat menurunnya laba bersih perusahaan yang akan berdampak pada
membagian deviden kepada para pemegang saham, serta peraturan
pemerintah yang dapat menurunkan penjualan produk serta pendapatan
perusahaan.

2. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas merupakan ketidakpastian yang muncul saat investor


merubah sekuritasnya menjadi kas, yang akan digunakan untuk konsumsi
saat ini atau investasi lainnya. Semakin cepat dan mudah suatu asset

12
diubah menjadi kas, berarti asset itu semakin likuid. Penilaian likuiditas
tersebut terdiri atas berapa lama waktu yang diperkenalkan untuk merubah
asset menjadi kas serta seberapa besar kepastian akan harga yang
diperoleh.

Karena perusahaan berhutang maka perusahaan memiliki risiko tidak


dapat melunasi seluruh utang dan kewajibannya kepada sejumlah bank dan
para investornnya.

3. Risiko Operasional

Risiko operational merupakan risiko yang umumnya bersumber dari


masalah internal perusahaan, dimana risiko tersebut terjadi disebabkan
oleh lamanya sistem kontrol manajemen (management control system)
yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan. Risiko operasional dapat
menimbulkan kerugian keuangan secara langsung maupun tidak langsung
dan kerugian potensial atas hilangnya kesempatan memperoleh
keuntungan.

Perusahaan membutuhkan bahan baku yang berkualitas untuk


memproduksi produknya namun banyak kendala yang harus dihadapi
karena kualitas panen bahan baku yang sering berubah yang tentu saja
akan mengganggu proses produksi.

4. Risiko Peraturan Pemerintah (Legal)

Sebagai perusahaan yang memproduksi rokok yang mempunyai dampak


negatif pada kesehatan, tentu saja akan ada peraturan khusus dari
pemerintah untuk mengawasi penjualan produk rokok tersebut, peraturan
yang berupa pengetatan dalam iklan yang tentu akan mempengaruhi
penjualan produk mau tidak mau harus dihadapi oleh perusahaan.

5. Risiko Karyawan

Resiko sumberdaya manusia adalah masalah yang ditimbulkan oleh tenaga


kerja sehingga berdampak negatif terhadap perusahaan. Resiko ketenaga

13
kerjaan berupa resiko kehilangan pekerjaan, kehilangan kompensasi atau
hilangnya reputasi manajerial.

PT Gudang Garam Tbk melakukan rekomendasi pensiun dini kepada


karyawannya. Apabila hal tersebut tidak efektif dalam penanganannya
maka perusahaan perlu melakukan pengurangan karyawan yang lebih
banyak.

2.4 Pengendalian atau Mitigasi Resiko

1. Risiko Bisnis dan Risiko Pasar

PT Gudang Garam sebaiknya membuat atau memperbesar kebun


tembakau atau cengkeh dan secara teratur tetap memperhatikan serta
memelihara perkebunan tersebut walaupun terkendala dengan keadaan
cuaca yang tidak menentu. Sehingga apabila PT Gudang Garam
mempunyai perkebunan tembakau dan cengkeh yang lebih luas lagi, maka
dapat menurunkan komoditi impor cengkeh dan tembakau dari luar negeri
hal ini berdampak pada biaya produksi yang dikeluarkan semakin kecil
dari sebelumnya dan juga berdampak pada meningkatnya laba perusahaan
karena biaya produksi yang terpengaruh oleh pelemahan nilai tukar hanya
sedikit. Pembagian dividen akan tetap berjalan lancar apabila laba yang
diterima oleh perusahaan tetap atau mengalami peningkatan, tetapi
sebaiknya perusahaan tidak membagikan dividen apabila perusahaan
mengalami kerugian, dan juga perusahaan sebaiknya menyisihkan laba
sebagai laba ditahan agar perusahaan tetap dapat mempertahankan
perumbuhan perusahaan untuk ekspansi.

2. Risiko Likuiditas

Perusahaan menahan laba yang didapat untuk membayar hutang lebih


dahulu daripada membagikan dividen kepada investor. Perusahaan
mengurangi kegiatan-kegiatan yang mengeluarkan banyak biaya untuk
pelaksanaannya contohnya adalah CSR atau sponsor terhadap event-event

14
yang ada, agar tidakterlalu banyak biaya yang dikeluarkan yang tidak
berpengaruh terhadap kenaikan laba atau pendapatan perusahaan.

Untuk pembayaran kredit pinjaman jangka pendek kepada sejumlah bank


perusahaan berusaha untuk melunasinya sebelum jatuh tempo, sementara
kepada investor pelunasannya dilakukan pembagian deviden kepada
pemegang saham ketika perusahaan mendapatkan laba

3. Risiko Operasional

Memperbesar dan memperluas perkebunan tembakau dan cengkeh


merawat dan menjaga kesuburan tembakau dan cengkeh agar kualitasnya
tetap terjaga sehingga tidak perlu mengimpor tembakau dan cengkeh dari
luar negeri, seperti yang kita ketahui bahwa indonesia kaya akan rempah-
rempah yang dimiliki, seharusnya kitalah yang mengekspor tumbuhan
tersebut bukan mengimpor dari luar

4. Risiko Peraturan Pemerintah (Legal)

Peraturan Pemerintah tidak dapat diganggu gugat karena sudah ditetapkan


lewat UU, maka dari itu perusahaan hanya dapat menerima dan
mejalankan peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah agar tetap bisa
bertahan di industry perdagangan dan tetap terlihat baik dimata masyarakat
dengan cara mematuhi peraturan pemerintah

5. Risiko Karyawan

Perusahaan mengurangi jumlah pekerja untuk efisiensi akibat terkendala


regulasi konsumsi rokok. Menurut manajemen perusahaan, langkah itu
dilakukan dengan menawarkan program pensiun dini kepada karyawan
dengan alasan situasi yang dihadapi perusahaan, salah satunya semakin
ketatnya aturan tentang industri rokok.

Menurut dia, perusahaan telah menyosialisasikan program pensiun dini


sejak awal Oktober dan sudah ada 2.088 karyawan yang mengikuti
program tersebut. Kebijakan ini diambil mengantisipasi situasi yang lebih
buruk terjadi.

15
2.5 Rekomendasi dan Solusi

Perusahaan dapat mengefisienkan pengeluaran dan memaksimalkan kinerja


operasional serta penggunaan asset perusahaan yang ada agar dapat menyisihkan
dana untuk melakukan promosi produk seperti menjadi sponsorship untuk acara-
acara besar misalnya pertandingan olahraga bertaraf internasional, selain demi
penaikan penjualan produk cara ini dilakukan agar tetap bisa berpromosi
ditengah ketatnya peraturan iklan dan penjualan rokok oleh pemerintah.
Perusahaan juga dapat melakukan investasi dengan menanamkan modal dan
membeli saham perusahaan lain agar mendapatkan sebagian deviden dari
perusahaan tersebut untuk tambahan modal kerja. Selain itu PT Gudang Garam
dapat melakukan kebijakan penawaran pensiun dini kepada para karyawannya
terutama karyawan borongan sigaret kretek tangan (SKT) dan operasional
dengan alasan untuk mengantisipasi dampak buruk yang akan terjadi pada
perusahaan dimasa mendatang akibat bertambah ketatnya peraturan industri
rokok yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Dari peristiwa diatas maka dapat disimpulkan bahwa nilai tukar rupiah
terhadap mata uang asing sangat berpengaruh terhadap return saham PT
Gudang Garam, tentunya apabila return sahamnya mengalami penurunan
maka laba yang diterima oleh perusahaan akan ikut mengalami penurunan
pula. Cara yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan adalah dengan
melakukan ekspor dan mengurangi impor dari luar negeri agar dapat
menekan biaya produksi. Hal yang sulit diantisipasi oleh perusahaan adalah
kebijakan pemerintah dimana pemerintah mencanangkan UU periklanan
yang ketat untuk industri rokok , dan mau tidak mau perusahaan harus taat
akan peraturan yang telah ditetapkan tersebut, hal ini membuat PT Gudang
Garam tidak dapat memaksimalkan pemasarannya melalui iklan.
Pemerintah juga menetapkan pajak cukai yang tinggi untuk industri rokok
dimana cukai rokok pada tahun 2013 mencapai 8,5%, hal ini juga menjadi
salah satu penyebab utama menurunnya laba perusahaan. Pada
kenyataannya meskipun industri rokok sangat kontroversi dikalangan
masyarakat pemerintah tidak menutup dan memberhentikan perdagangan
dari industri ini disebabkan oleh industri rokok merupakan penyumbang
dana pajak terbesar di Indonesia. Meskipun pelemahan rupiah menurunkan
laba perusahaan tetapi perusahaan masih tetap bisa menanggulangi hal ini
karena pada tahun 2014 return saham PT Gudang Garam sudah mengalami
kenaikan kembali dan tetap bisa bertahan sampai dengan saat ini.
2. Sumber Penyebab Resiko dari kasus Gudang Garam diantaranya adalah,
politik yaitu kebijakan pemerintah mengenai rokok yang berupa kenaikan
bea cukai dan kewajiban menampilkan bahaya merokok pada kemasan dan
iklan rokok, selain itu kondisi ekonomi berupa pelemahan mata uang rupiah
yang terjadi dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate

17
yang dapat mempengaruhi laba bersih bisnis tersebut, serta lingkungan
bisnis yaitu kendala kurangnya bahan baku dari supplier.
3. Jenis-jenis resiko dalam kasus tersebut diantaranya risiko bisnis dan risiko
pasar yang berakibat pada menurunnya laba bersih perusahaan sehingga
berdampak pada membagian deviden kepada para pemegang saham, risiko
likuiditas yaitu perusahaan tidak dapat melunasi seluruh utang dan
kewajibannya kepada bank dan para investornnya, risiko operasional
dengan kendala kualitas panen bahan baku yang sering berubah akan
mengganggu proses produksi, risiko legal berupa pengawasan produk rokok
yang akan mempengaruhi penjualan, dan risiko sumberdaya manusia
dengan melakukan pensiun dini maupun pengurangan karyawan.
4. Pengendalian atau mitigasi resiko yang dilakukan terhadap risiko bisnis dan
risiko pasar yaitu dengan memperluas perkebunan tembakau dan cengkeh,
sedangkan risiko likuiditas dengan cara menahan laba yang didapat untuk
membayar hutang lebih dahulu daripada membagikan dividen kepada
investor, risiko operasional yaitu dengan memperluas perkebunan tembakau
dan cengkeh serta mengurangi impor, risiko karyawan berupa mengurangi
jumlah pekerja dengan menawarkan program pensiun dini.

18
DAFTAR PUSTAKA

Web resmi PT Gudang Garam, Tbk. (https://www.gudanggaramtbk.com/tentang-


kami/)

PT Gudang Garam, Tbk. 2013. Annual Report 2013. (PDF).


https://www.gudanggaramtbk.com/media/uploads/files/GGRM_AR_201
3.pdf

Siregar, Dian Ihsan. 2013 Agustus 21. Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Terasa
ke Emiten. Liputan 6. (Online).
https://m.liputan6.com/amp/671019/dampak-pelemahan-rupiah-mulai-
terasa-ke-emiten

Kertiyasa, Martin Bagya. 2018 Maret 22. Penjualan Rokok Melambat, Kinerja
Gudang Garam dan Sampoerna Terancam. Okezone. (Online).
https://economy.okezone.com/amp/2018/03/22/278/1876486/penjualan-
rokok-melambat-kinerja-gudang-garam-dan-sampoerna-terancam

Sekolah Pendidikan. 2017. Pengertian Risiko Beserta Jenis, Sumber, Dan


Contohnya Terlengkap. (Online).
https://www.sekolahpendidikan.com/2017/11/pengertian-risiko-beserta-
jenis-sumber.html?m=1

Seputar Pengetahuan. 2017. Pengertian Risiko Jenis-jenis Sumber Contoh.


(Online). http://www.spengetahuan.com/2017/12/pengertian-risiko-jenis-
jenis-sumber-contoh.html

Maulidina, Nurizzah. 2017. Contoh Kasus Manajemen Risiko. (Online).


http://nurizzahmaulidina.blogspot.co.id/2017/04/contoh-kasus-
manajemen-risiko.html

Putri, Genia Prima. 2016. Studi Kasus Manajemen Risiko Berserta Analisisnya.
(Online). http://94genia.blogspot.co.id/2016/02/studi-kasus-manajemen-
risiko-berserta.html

19
Jelang, Afkar. 2016. Analisis Produk PT Gudang Garam Tbk. (Online).
http://afkarjelang.blogspot.co.id/2017/04/analisis-produk-ptgudang-
garam-tbk.html

Iqbal, Faizal. Pelemahan Rupiah. (PDF). http://unsoed.academia.edu/faizaliqbal

20