Anda di halaman 1dari 44

2

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES RI PADANG

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN DENGAN


PERILAKU KEKERASAN DIRUANGAN NURI RUMAH
SAKIT JIWA PROF. HB SA’ANIN PADANG

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

TIYA PUTRI YUNI


NIM 1631102288

PRODI D III KEPERAWAT PADANG

JURUSAN KEPERAWATAN

TAHUN 2018

Poltekkes Kemenkes Padang


3

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Proposal karya tulis ilmiah berjudul “Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien
Dengan Perilaku Kekerasan di Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB
sa’anin padang Tahun 2018” siap untuk dipertahankan dihadapan Dewan
Penguji Proposal Karya Tulis Ilmiah Prodi Keperawatan Padang Politeknik
Kesehatan Kemenkes RI padang.

Padang, Desember 2018

Pembimbing I Pembimbing II

Heppi Sasmita, M.Kep, Sp.Jiwa N. Rachmadanur, SKp, MKM


NIP: 197010201993032002 NIP : 196811201993031003

Mengetahui,

Ketua Prodi D-III Keperawatan Padang

Politeknik Kesehatan Padang

Heppi Sasmita, M. Kep, Sp. Jiwa


NIP. 19701020 199003 2 002

Poltekkes Kemenkes Padang


4

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal karya
tulis ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien Dengan
Perilaku Kekerasan Di Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Sa’anin
Padang Tahun 2018”. penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan
dari Ibu Heppi Sasmita, M.Kep, Sp. Jiwa dan Bapak N. Rachmadanur, S.KP,
MKM selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga dan
pikiran untuk mengarahkan penulis dalam penyusunan proposal KTI ini . Oleh
karena itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Burhan Muslim, SKM, M.Si selaku Direktur Politeknik


Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Padang.
2. Ibu Ns. Hj. Sila Dewi Anggreni, S.Pd, M.Kep, Sp.KMB selaku ketua
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan RI
Padang.
3. Ibu Heppi Sasmita, M.Kep, Sp.Jiwa selaku Ketua Program Studi D III
Keperawatan Padang Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan
Padang.
4. Bapak/ibu dosen serta staf Program Studi Keperawatan Padang
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Padang yang telah
memberikan bekal ilmu untuk penulisan Proposal Karya Tulis Ilmiah
ini.
5. Ibu / Bapak selaku kepala RSJ. Prof. HB Sa’anin Padang dan staf
Rumah Sakit yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh
data yang diperlukan oleh penulis.
6. Kepada orang tua yang telah memberikan dorongan, semangat, do’a
restu dan kasih sayang.
7. Teman-teman dan semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu
persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan Proposal
Karya Tulis Ilmiah ini.

Poltekkes Kemenkes Padang


5

Akhir kata penulis berharap Proposal Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat
khususnya bagi penulis sendiri dan pihak yang telah membacanya, serta penulis
mendoakan semoga bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah
SWT. Semoga nantinya dapat membawa manfaat bagi penegmbangan ilmu
keperawatan.Amin.

Padang, Desember 2018

Penulis

Poltekkes Kemenkes Padang


6

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN................................................................ ii
KATA PENGANTAR............................................................................. iii
DAFTAR ISI........................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................. iv
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................... 1

A. Latar Belakang..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................ 6
C. Tujuan.................................................................................. 6
D. Manfaat penelitian............................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................... 8

A. Konsep Perilaku Kekerasan.................................................. 8


1. Pengertian........................................................................ 8
2. Rentang Respon............................................................... 9
3. Proses Terjadinya Masalah.............................................. 10
4. Tanda dan Gejala............................................................. 11
5. Mekanisme Komping....................................................... 12
6. Psikodinamika.................................................................. 13
7. Penatalaksanaan............................................................... 14
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Perilaku Kekerasan.... 16
1. Pengkajian........................................................................ 16
2. Diagnasa Keperawatan..................................................... 21
3. Intervensi Keperawatan.................................................... 21
4. Implementasi Keperawatan.............................................. 29
5. Evaluasi Keperawatan...................................................... 30
6. Dokumentasi keperawatan................................................ 30

BAB III METODE PENELITIAN........................................................ 31

A. Desain Penelitian..................................................................... 31
B. tempat dan Waktu penelitian................................................... 31
C. Populasi dan Sampel............................................................... 31
D. Istrumen Pengumpulan Data................................................... 31
E. Jenis dan metode Pengumpulan Data...................................... 33
F. Analisis Data............................................................................ 34
DAFTAR PUSTAKA

Poltekkes Kemenkes Padang


7

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Rentang Respon .................................................................... 9

Gambar 2.2 Psikodinamika......................................................................... 13

Gambar 2.3 Pohon Masalah........................................................................ 22

Poltekkes Kemenkes Padang


8

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar kegiatan penelitian

Lampiran 2 Lembaran konsultasi proposal penelitian pembimbing 1

Lampiran 3 Lembaran konsultasi proposal penelitian pembimbing 2

Lampiran 4 Lembar Surat Pengantar pengambilan data

Lampiran 5 Lembar persetujuan Responden

Lampiran 6 Format pengkajian Asuhan Keperawatan Jiwa

Poltekkes Kemenkes Padang


9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan jiwa menurut World Health Organization (2014) adalah ketika


seseorang tersebut merasa sehat dan bahagia, menghadapi tantangan hidup
serta menerima orang lain sebagaimana seharusnya serta mempunyai sikap
positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Kesehatan jiwa adalah dimana
seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial
sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dan mengatasi
tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi
untuk komunitasnya. Individu yang tidak dapat mengendalikan stress dan
tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan maka dikatakan
individu tersebut mengalami gangguan jiwa (UU Republik Indonesia, 2014).

Gangguan jiwa menurut American psychiatric Association (1994) adalah


sindrom atau pola psikologi atau pola perilaku yang penting secara klinis
yang terjadi pada individu. Sindrom itu dihubungkan dengan adanya distress (
misalnya, gejala nyeri yang menyakitkan) atau disabilitas (ketidakmampuan
pada salah satu bagian atau beberapa fungsi penting) atau disertai
peningkatan resiko secara bermakna untuk mati, sakit, ketidakmampuan, atau
kehilangan kebebasan (APA dalam Prabowo, 2014).

Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60
juta orang terkena bipolar, 21 juta orang terkena skizofrenia, serta 47,5 juta
orang terkena dimensia. Banyak faktor penyebab gangguan jiwa diantaranya
faktor biologis, psikologis, dan sosial dengan keanekaragaman penduduk
(kementrian kesehatan RI, 2016).

Riset Kesehatan Dasar (2013) mengatakan Indonesia menunjukkan prevelensi


gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau
sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk. Prevelensi gangguan jiwa tertinggi di
Indonesia terdapat di DI Yogyakarta dan Aceh (masing-masing 2,7 %)

Poltekkes Kemenkes Padang


10

sedangkan yang terendah di Kalimantan Barat (0,7%), prevelensi gangguan


jiwa berat nasional sebesar 1,7 per mil. Sumatera Barat menempati posisi ke
delapan prevelensi gangguan jiwa berat dengan persentase sekitar 1,9 %
setelah Nusa Tenggara Timur. Sedangkan Tahun 2018 Indonesia mengalami
peningkatan penderita gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai 7
per mil penduduk Indonesia (Riset kesehatan Dasar, 2018).

Menurut Profil Kesehatan Kota Padang (2015) penderita gangguan jiwa di


Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2015 sekitar 320. 222 orang, sedangkan
pada tahun 2017 dari total seluruh kota di Provinsi Sumatera Barat
mengalami penurunan dengan jumlah penderita gangguan jiwa sebanyak
111.016 orang. prevelensi penderita gangguan jiwa di Kota Padang pada
tahun 2015 sebanyak 11.995 orang dan menempati peringkat ke dua setelah
Kabupaten Sijunjung dengan angka kejadian 277.683 orang. Pada tahun 2018
prevelensi tertinggi penderita gangguan jiwa ditempati oleh Kota Padang
dengan angka kejadian sebanyak 50.577 orang disusul kota Bukitinggi urutan
kedua dengan kejadian 20.317 orang gangguan jiwa. Berdasarkan data dari
Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Padang, jumlah
kunjungan rawat jalan dan rawat inap di RSJ Prof HB Sa’nin Padang dengan
klien rawat jalan laki-laki dan perempuan sebanyak 46.940 orang,
kunjungan rawat inap laki-laki dan perempuan sebanyak 2.350 orang (Dinas
Kesehatan Provinsi Sumatra Barat, 2017).

Gangguan jiwa terbagi atas dua jenis yaitu gangguan jiwa ringan dan
gangguan jiwa berat. Salah satu gangguan jiwa berat adalah Skizofrenia.
Skizofrenia merupakan satu gangguan jiwa berat yang dapat mempengaruhi
pikirian, perasaan dan perilaku individu. Skizofrenia adalah bagian dari
gangguan psikosis yang terutama ditandai dengan kehilangan pemahaman
terhadap realita dan hilangnya kemampuan pecaya diri. Pada ganggua
psikosis, termasuk skizofrenia ditemukan tanda dan gejala gangguan jiwa
berat seperti halusinasi, waham, dan perubahan perilaku, salah satu perubahan
perilaku pada pasien skizofrenia adalah perilaku kekerasan (Yudhantara,
2018).

Poltekkes Kemenkes Padang


11

Menurut Muhith (2015) Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku


yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologi.
Perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri
atau orang lain dan lingkungan. Perilaku kekerasan adalah perilaku yang
menunjukkan seseorang ingin melukai orang lain maupun dirinya baik secara
fisik, emosional, dan seksual yang individu tersebut tidak dapat
mengendalikan perilaku tersebut (Sutejo, 2016). Gangguan jiwa
menyebabkan penderita tidak dapat berpikir yang baik tentang suatu
kenyataan, tidak mampu menguasai diri untuk tidak menyakiti dirinya dan
orang lain (Davies, 2009).

Tanda dan gejala pada pasien perilaku kekerasan adalah muka merah dan
tegang, pandangan tajam, mengatupkan rahang dengan kuat, mengepalkan
tangan, jalan mondar mandir, bicara kasar, suara tinggi, menjerit atau
berteriak, mengancam secara verbal atau fisik, melempar atau memukul
benda atau orang lain, merusak barang atau benda. Penderita perilaku
kekerasan tidak mempunyai kemampuan mencegah atau mengontrol perilaku
kekerasan (Dermawan, 2013).

Dampak apabila perilaku kekerasan bagi penderita apabila tidak ditangani


dapat menciderai atau bahkan menimbulkan kematian. Menurut World Health
Organization (2018) hampir 800.000 kematian akibat bunuh diri didunia
terjadi pada tahun 2016 dengan persentase 75% pelaku bunuh diri adalah laki
- laki yang lebih tinggi dibanding wanita, rentang usia paling banyak pada
kasus bunuh diri adalah usia 15 - 34 tahun. Perilaku kekerasan Selain
membahayakan penderita juga membahyakan orang lain, dampak bagi orang
lain adalah penderita cenderung ingin menyakiti orang lain dengan cara
melempar dan memukul, sehingga orang takut berinteraksi dengan penderita.
Pada akhirnya dapat mempengaruhi stigma pada klien skizofrenia.
Masyarakat menganggap bahwa orang yang mengalami skizofrenia identik
dengan perilaku kekerasan. Masyarakat juga menganggap klien gangguan
jiwa berbahaya sehingga tidak mau mendekati klien gangguan jiwa yang
pernah melakukan perilaku kekerasan. Stigma yang berkembang di

Poltekkes Kemenkes Padang


12

masyarakat, dan penolakan terhadap orang gangguan jiwa Skizofrenia dan


gangguan mental lain justru menjadi penghalang dalam proses pemulihan
integrasi dalam masyarakat, dan peningkatan kualitas hidup gangguan jiwa.
Perlu adanya peran petugas kesehatan khusunya perawat dalam upaya
pencegahan terjadinya stigma pada masyarakat terhadap penderita gangguan
jiwa khususnya perilaku kekerasan.

Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan adalah sebagai


pelaksana pelayanan, pendidik, Pengelola, peneliti, dan narasumber
(Prabowo, 2014). Adapun peran perawat dalam penanganan perilaku
kekerasan di rumah sakit jiwa yaitu melakukan penerapan asuhan
keperawatan berupa penerapan strategi pelaksanaan perilaku kekerasan yaitu
melatih pasien teknik nafas dalam, memukul bantal, latihan patuh minum
obat, latihan cara sosial atau verbal, dan latihan cara spiritual (Irma, 2016).
Untuk hasil yang optimal dengan kemampuan mengontrol dan mencegah
perilaku kekerasan, maka petugas memberikan reinforcement kepada pasien
berupa pujian yang dapat memotivasi pasien untuk mampu menerapkan
strategi pelaksanan mengontrol perilaku kekerasan. Selain itu, perawat
sebagai petugas kesehatan yang sering berinteraksi dengan pasien harus
melibatkan keluarga dalam proses pemulihan pasien perilaku kekerasan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Krido Harmianto (2017) di


RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah, mengenai terapi
strategi pelaksanaan terhadap pengendalian marah klien perilaku kekerasan,
salah satunya penerapan strategi pelaksanaan (SP) satu teknik nafas dalam,
didapatkan hasil bahwa terapi relaksasi nafas dalam sangat efektif
diaplikasikan pada pasien perilaku kekerasan untuk mengontrol kemarahan.
Penelitian ini menggambarkan bahwa strategi pelaksanaan dapat
mengendalikan amarah pasien apabila diterapkan dengan sebaik mungkin,
sesuai dengan keadaan dan kondisi pasien saat itu.

Menurut pengalaman peneliti saat praktek klinik keperawatan jiwa pada


tanggal 2 April tahun 2018 di RS. Jiwa Prof. HB Saanin Padang pasien

Poltekkes Kemenkes Padang


13

dengan gangguan jiwa diruang Nuri sebanyak 34 jiwa dengan penderita


perilaku kekerasan ssebanyak 24 jiwa . Hasil Survey diatas menunjukkan
bahwa 80% pasien dirawat diruang tersebut menderita perilaku kekerasan.

Data yang ditemukan di semua ruangan RS. Jiwa Prof. HB Saanin Padang
dari 3 bulan terakhir dimulai dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2018
jumlah pasien dengan gangguan perilaku kekerasan mengalami peningkatan,
bulan Agustus didapatkan data sebanyak 191 orang, pada bulan September
sebanyak 185 orang, dan bulan Oktober sebanyak 211 orang. Survey awal
data 1 bulan terkhir pada tanggal 11 Desember 2018 dari semua ruangan
tersebut , ruangan nuri menempati peringkat pertama penderita perilaku
kekerasan sebanyak 33 orang dari 76 penderita gangguan jiwa.

Berdasarkan study pendahuluan dari 33 orang pasien dilakukan observasi


pada 2 orang pasien didapatkan gejala perilaku kekerasan seperti, muka
merah dan tegang, pandangan tajam, dan jalan mondar-mandir. Hasil
wawancara didapatkan pada pasien 1 penyebab pasien marah karena kesal
keinginannya terhadap sesuatu tidak tercapai, sehingga dia melampiaskan
kemarahannya dengan berbicara kasar, dan menjerit atau berteriak, sedangkan
pada pasien 2 penyebab pasien marah karena dia merasa tidak dihargai oleh
keluarga dan orang sekitar, oleh sebab itu pasien melampiaskan kekesalannya
dengan berbicara kasar, suara tinggi, dan mengancam secara verbal atau fisik.
Wawancara yang dilakukan dengan perawat bahwa banyak keluarga yang
tidak mengunjungi dan menjemput pasien yang telah dinyatakan boleh pulang
oleh medis, sehingga hal tersebut membuat pasien kembali dalam kondisi
marah, yang mengakibatkan berulangnya tindakan perilaku kekerasan.

Penerapan strategi pelaksanaan pengontrolan perilaku kekerasan sudah


diterapkan di ruangan. Strategi pelaksanaan di laksanakan oleh perawat dan
mahasiwa yang sedang praktek klinik di ruangan. Kesenjangan yang
ditemukan adalah kurang optimalnya pelaksanaan penerapan Strategi
pelaksanaan karena perawat meyerahkan secara sepenuhnya pelaksaanaan
strategi pelaksanaan pada mahasiswa yamg sedang praktek klinik, sehingga

Poltekkes Kemenkes Padang


14

ketika mahasiwa telah selesai melaksanakan praktek klinik, maka proses


evalaluasi kurang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh perawat
sehingga, tejadi tumpang tindih dalam pelaksanaan strategi pelaksanaan
pengentrolan perilaku kekerasan pada pasien.

Berdasarkan kondisi diatas maka peneliti tertarik untuk mengangkat kasus


penerapan asuhan keperawat pada pasien dengan perilaku kekerasan di
Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB Saanin Padang Tahun 2018.

B . Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana penerapan asuhan


keperawatan pada pasien dengan perilaku kekerasan di Ruangan Nuri Rumah
Sakit Jiwa Prof. HB Sa’anin Padang Tahun 2018.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan perilaku


kekerasan di Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang
Tahun 2018.

2. Tujuan Khusus

Berdasarkan tujuan umum dapat dibuat tujuan khusus sebagai berikut :

a. Mampu mendeskripsikan hasil pengkajian keperawatan dengan


perilaku kekerasan di Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB.
Saanin Padang Tahun 2018
b. Mampu mendeskripsikan rumusan diagnosa keperawatan pada pasien
dengan perilaku kekerasan di Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof.
HB. Saanin Padang Tahun 2018.
c. Mampu mendeskripsikan rencana keperawatan pada pasien dengan
perilaku kekerasan di Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB.
Saanin Padang tahun 2018.

Poltekkes Kemenkes Padang


15

d. Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan pada pasien dengan


perilaku kekerasan di Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB.
Saanin Padang Tahun 2018.
e. Mampu mendeskripsikan evaluasi keperawatan pada pasien dengan
perilaku kekerasan di Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB.
Saanin Padang Tahun 2018.

D. Manfaat penelitian

1. Aplikatif

a. Bagi Penulis

Sebagai pedoman untuk aplikasi ilmu keperawatan dan menambah


wawasan ilmu pengetahuan serta kemampuan penulis dalam
menerapkan asuhan keperawatan klien dengan perilaku kekerasan di
Ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB Saanin Padang Tahun 2018.

b. Bagi Klien

Sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan dan mengendalikan


perilaku kekerasan yang dialami klien.

2. Pengembangan Keilmuan

a. Bagi Institusi Kesehatan

Sebagai sumbangan pikiran dalam menerapkan asuhan keperawatan


jiwa meliputi pengkajiana keperawatan, penegakan diagnosa
keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, dan
evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada pasien dengan
perilaku kekerasan.

b. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai sumber bacaan dan acuan dalam kegiatan proses belajar


mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan perilaku kekerasan.

Poltekkes Kemenkes Padang


16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Perilaku Kekerasan

1. Pengertian

Perilaku kekerasan merupakan salah respon terhadap stressor yanng dihadapi


oleh seseorang. Respon ini dapat mengakibatkan kerugian pada individu, orang
lain, maupun lingkungan(Keliat & akemat, 2014).

Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang


bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologi. Marah tanpa
terarah, tapi lebih merujuk pada suatu perangkat perasaan - perasaan tertentu
yang biasanya disebut perasaaan marah (Berkowitz dalam Dermawan, 2013).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik, baik pada dirinya maupun orang lain,
disertai amuk dan gelisah yang tak terkontrol (Farida & Yudi, 2010).

Resiko perilaku kekerasan merupakan perilaku seseorang yang menunjukkan


bahwa penderita dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan
lingkungannya, baik secara fisik, emosional, seksual, maupun verrbal
(NANDA, 2016 dalam Sutejo 2017 ). Sedangkan, Prabowo (2014) menyatakan
perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk ekspresi kemarahan yang tidak
sesuai dimana seseorang meelakukan tindakan-tindakan yang dapat
membayangkan/mencederai diri sendiri, orang lain bahkan merusak lingkungan.

Menurut Badan PPSDM (2012) Perilaku Kekerasan adalah respon emosi yang
timbul sebagai reaksi kecemasan yang meningkat dan dirasakan sebagai
ancaman. Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang secara fisik maupun psikologi, yang dilakukan secara verbal,
diarahkan pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan (Muhith, 2015).

Poltekkes Kemenkes Padang


17

2. Rentang Respon

Adaptif Maladaptif

Asersif Frustasi Pasif Agresif Perilaku Kekerasan

Gambar 2.1 :Rentang Respon Perilaku Kekerasan Menurut (Stuart dan Larai,
2005).

a. Respon Adaptif
1) Pernyataan (Assertion)

Respon marah dimana individu mampu menyatakan atau


mengungkapkan rasa marah, atau tidak setuju, tanpa menyalahkan atau
menyakiti orang lain. hal ini biasanya memberikan kelegaan pada
individu.

2) Frustasi

Respon yang terjadi akibat individu tidak dapat mencapai tujuan,


kepuasan, atau rasa aman yang tidak biasanya dalam keadaan tersebut
individu tidak menemukan alternatif lain.

b. Respon maladaktif

1) Pasif

Individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang sedang dialami

2) Agresif

Perilaku yang menyertai marah, dan merupakan dorongan individu


untuk menuntut suatu yang dianggap benar tapi masih terkontrol.

3) Kekerasan

Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai hilang kontrol,


dimana individu dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Poltekkes Kemenkes Padang


18

3. Proses Terjadinya masalah Perilaku Kekerasan

a. Faktor Predisposisi

Menurut Dermawan (2013) faktor-faktor yang mendukung terjadinya masalah


perilaku kekerasan adalah :

1) Faktor Biologis

a) Instinctual Drive Theory (Teori Dorongan Naluri)

Teori ini menyatakan bahwa perilaku kekerasan oleh dorongan


kebutuhan yang sangat kuat.

b) Psichosomatic Theory (Teori Psikosomatic)

Pengalaman marah adalah akibat dari respon psikologi terhadap


ransangan ekternal, internal, maupun lingkungan. Dalam hal ini
sisitem limbik berperan sebagai pusat untuk mengekspresikan
ataupun menghambat rasa marah.

2) Faktor Psikologi

a) Frustation Agresion Theory (Teori Agresif-Frustasi)

Menurut teori ini perilaku kekerasan terjadi sebagai hasil dari


akumulasi frustas. Frustasi apbila keinginan individu untuk
mencapai gagal atau mengalami hambatan. Keadan ini dapat
mendorong inidividu berperilaku agresif karena perasaan frustasi
akan berkuruang melalui perilaku kekerasan .

b) Behavior Theory (Teori Perilaku)

Kemarahan adalah proses belajar, hal ini dapat dicapai apabila


tersedia fasilitas dan situasi yang mendukung.

Poltekkes Kemenkes Padang


19

c) Ektensial Theory (Teori Ekstensi)

Bertingkah laku adalah krbutuhan dasar manusia, apabila kebutuhan


ini tidak dapat terpenuhi melalui perilaku kontruksi, maka individdu
akan memenuhinya dengan perilaku dekstruksi.

3) Faktor Sosialkultural

a) Sosial Enviroment Theory ( Teori Lingkungan Sosial)

Lingkungan sosial akan mempengaruhi sikap individu dalam


mengekspresikan marah. Norma budaya dapat mendukung individu
untuk merespon asersif atau agresif.

b) Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial)

Perilaku kekerasan dapat dipelajari secara langsung maupun proses


sosialisasi.

b. Faktor Presipitasi

Menurut Sutejo (2016) faktor presipitasi berhubungan dengan pengaruh


stressor yang mencetuskan perilaku kekerasan bagi setiap individu. Stressor
dapat disebabkan dari luar maupun dari dalam dapat berupa kehilangan
keluarga atau sahabat yang dicintai, ketakukatan terhadapat penyakit fisik,
peyakit dalam, dan lain-lain. Selain itu, lingkungan yang kurang kondusif
seperti penuh penghinaan, tindakan kekerasan, dapat memicu perilaku
kekerasan.

4. Tanda dan Gejala Perilaku Kekerasan

Data perilaku kekerasan dapat diperoleh melalui observasi atau wawancara.


Tanda dan gejala perilaku kekerasan menurut Keliat & Akemat (2014) adalah
sebagai berikut :

a. Muka merah dan tegang

b. Pandangan tajam

c. Mengatupkan rahang dengan kuat

Poltekkes Kemenkes Padang


20

d. Mengepalkan tangan

e. Bicara kasar

f. Suara tinggi, menjerit atau berteriak

g. Mengancam secara verbal dan fisik

h. Melempar atau memukul benda/orang lain

i. Merusak barang atau benda

j. Tidak mempunyai kemampuan mencegah/mengontrol perilaku kekerasan.

5. Mekanisme Koping

Menurut Eko Prabowo (2014) mekanisme koping yang dipakai pada pasien
perilaku kekerasan untuk melindungi diri antara lain:

a. Sublimasi
Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata
masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan
penyalurannya secara normal. Aritnya seseorang marah dan
melampiaskan kemarahannya pad objek, seperti mninju tembok.
b. Proyeksi
Menyalahkan orang lain atas keinginannya yang tidak baik.
c. Represi
Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk
kealam sadar.
d. Reaksi
Mencegah keinginan yang berbahaya bila di ekspresikan. Dengan
melebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya
sebagai rintangan.
e. Deplacement
Melepaskan perasaan yang membuat tertekan biasanya bermusuhan.
Pada objek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada awalnya
membangkitkan emosi.

Poltekkes Kemenkes Padang


21

6. Psikodinamika terjadinya Perilaku Kekerasan

Ancaman Atau
kebutuhan

Stres

Ansietas

Marah

Merasa Mengungkapkan Merasa kebutuhan


berkuasa Kemarahan tidak terpenuhi

Menantan Menyadarkan orang Menantan


g lain akan g
kebutuhannya
Tidak ada Mengingkari
Memenuhi
penyelesaian Kemarahan
kebutuhanya
masalah

Marah Marah teratasi Tidak


berkepanjangan mengespresika
n
Pengembangan
Kemarahan

Bermusuhan

Kemarahan Kemarahan
diarahkan pada diri diarahkan keluar
sendiri
 Depresi
 Agresif
 Penyakit Fisik
 Perilaku Kekerasan

Gambar 2.2 : Proses Terjadinya Masalah Perilaku Kekerasan (Rawlies et all, 1993 dalam Depkes RI 2000)
Poltekkes Kemenkes Padang
22

7. Penatalaksanaan

Menurut Eko Prabowo (2014) penatalaksanaan pada klien dengan perilaku


kekerasan adalah sebagai berikut:

a. Penatalaksanaan Medik

1) Terapi Farmakologi

Pasien dengan perilaku kekerasan perlu perawatan dan pengobatan yang


tepat. Adapun pengobatan dengan neuroleptika yang mempunyai dosis
efektif tinggi contohnya: Clorpromazine HCL yang berguna untuk
mengendalikan psikomotornya. Bila tidak ada dapat digunakan dosis
efektif rendah, contohnya Trifluoperazine estelasine, bila tidak ada juga
maka dapat digunakan Transquilizer bukan obat antipsikotik seperti
neuroleptika, tetapi meskipun demikian keduanya mempunyai efek anti
tegang, anti cemas, dan anti agitasi.

2) Terapi Okupasi

Terapi ini sering diartikan dengan terapi kerja, terapi ini bukan
pemberian pekerjaan atau kegiatan itu sebagai media untuk melakukan
kegiatan dan mengembalikan kemampuan berkomunikasi, karena itu
dalam terapi ini tidak harus diberikan pekerjaan tetapi segala bentuk
kegiatan seperti membaca Koran, bemain catur. Terapi ini merupakan
langkah awal yang harus dilakukan oleh petugas terhadap rehabilitasi
setelah dilakukannya seleksi dan ditentukan nya program kegiatannya.

3) Terapi Somatik
Menurut Depkes RI (2000) menerangkan bahwa terapi somatik terapi
yang diberikan kepada pasien dengan gangguan jiwa dengan tujuan
mengubah perilaku yang maladaptif menjadi perilaku adaptif dengan
melakukan tindakan yang ditunjukkan pada kondisi fisik pasien, tetapi
target terapi adalah perilaku pasien.

Poltekkes Kemenkes Padang


23

4) Terapi Kejang Listrik (ECT)

Terapi kejang listrik atau electronic convulsive therapy (ECT) adalah


bentuk terapi yang diberikan kepada pasien dengan menimbulkan kejang
dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan di
pelipis pasien. Terapi ini awalnya untuk menangani skizofrenia
membutuhkan 20-30 kali terapi biasanya dilaksanakan adalah setiap 2-3
kali sehari dalam seminggu (seminggu 2 kali).

b. Penatalaksanaan keperawatan

Perawat dapat mengimplementasikan berbagai intervensi untuk mencegah


dan memanajemen perilaku agresif, intervensi tersebut dapat melalui rentang
intervensi keperawatan berupa strategi preventif diantaranya kesadaran diri,
pendidikan klien, dan latihan asertif. Strategi antisipasif berupa komunikasi,
perubahan lingkungan, dan tindakan psikofarmakologi, sedangkan strategi
pengurungan berupa manajemen kritis, seluction dan restrain (Farida & Yudi,
2010).

1) Strategi pelaksanaan pasien perilaku kekerasan

Menurut Sutejo (2016) SP Terdiri dari :

Latihan 1 : pengkajian dan latihan nafas dalam memukul bantal

Latihan 2 : latihan patuh minum obat

Latihan 3 : latihan cara sosial dan verbal

Latihan 4 : latihan cara spiritual

2) Terapi Aktivitas Kelompok

Menurut Irman (2016) terapi aktivitas kelompok merupakan suatu


psikoterapi yang dilakukan suatu kelompok pasien bersama- sama dengan
jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh perawat
atau petugas jiwa yang telah terlatih.

Poltekkes Kemenkes Padang


24

3) Terapi Modalitas

Terapi modalitas adalah terapi untuk mengisi waktu luang.


ada beberapa jenis terapi modalitas :

1. Terapi individual

2. Terapi biologis

3. Terapi lingkungan

4. Terapi kelurga

5. Terapi kelompok

6. Terapi perilaku

7. Terapi bermain

B. Konsep Dasar Asuhan keperawatan

1. Pengkajian keperawatan

a. Identitas

1) Perawat melakukan perkenalan dan kontrak waktu dengan klien yaitu :


nama perawat, nama klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik yang
akan dibicarakan

2) Usia dan No. Rekam Medik klien

b. Alasan masuk

Biasanya alasan utama pasiem masuk rumah sakit adalah pasien


menunjukkan tanda-tanda perilaku kekerasan seperti mengungkapkan kata-
kata kasar, ancaman, ungkapan memukul dan menghancurkan alat-alat
rumah tangga. pada saat berbicara klien tampak mengatupkan rahang
dengan kuat, wajah memerah dan tengang, pandangan mata tajam, dan klien
mengepalkan tangan. Biasanya keluarga akan mengikat atau memasung
klien.

Poltekkes Kemenkes Padang


25

c. Faktor predisposisi

Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan meliputi :

1) Faktor Bioneurologi

Biasanya faktor biologi penyebab pasien mengalami perilaku kekerasan


meliputi adanya faktor hereditas mengalami gangguan jiwa, riwayat
penyakit atau trauma kepala dan riwayat penggunaan NAPZA,
kerusakan system limbic, lobus frontal, lobus temporal dan ketidak
simbangan neurotransmitter.

2) Faktor Psikologi

Biasanya pengalaman marah adalah akibat dari psikologis terhadap


ransangan dari eksternal, internal maupun lingkungan. Perilaku
kekerasan sebagai hasil akumulasi frustasi. Frustasi terjadi apabila
keinginan seseorang mencapai sesuatu mendapatkan kegagalan dan
hambatan, seperti kondisi fisik yang terganggu, hubungan sosial yang
terganggu, perasaan ditolak, dihina dan penganiayaan. Salah satu
kebutuhan manusia adalah berperilaku apabila kebutuhan tersebut tidak
dapat dipenuhi melalui berperilaku konstruktif, maka akan muncul
individu berperilaku destruktif.

3) Faktor Sosial budaya

Biasanya fungsi dari hubungan sosial yang terganggu disertai


lingkungan sosial yang mengancam individu, yang mempengaruhi sikap
individu dalam mengekspresikan marah. Norma budaya dapat
mempengaruhi indivvidu untuktuk berespon asertif atau agresif.
Perilaku kekerasan dapat dipelajari secara langsung proses meniru dari
lingkungan yang menggunakan perilaku kekerasan untuk
menyelasaikan masalah.

Poltekkes Kemenkes Padang


26

d. Faktor Presipitasi

Biasanya faktor presipitasi yang dapat menimbulkan perilaku kekerasan


pada setiap individu bersifat unik. Berbeda satu orang dengan orang lain.
Stressor tersebut dapat merupakan penyebab yang bersifat faktor eksternal
maupun internal dari individu. Biasanya faktor internal meliputi keinginan
yang tidak terpenuhi, perasaan kehilangan dan kegagalan atau kehidupan
(pekerjaan, pendidikan, dan kehilangan orang yang dicintai. Sedangkan
faktor ekternal biasanya meliputi kegiatan atau kejadian sosial yang berubah
seperti serangan fisik atau tindakana kekerasan, kritik yang mengina,
lingkungan yang terlalu rebut, dan putusnya hubungan sosia, kerja dan
sekolah.

e. Mekanisme Koping

Biasanya mekanisme koping yang umumnya digunakan adalah mekanisme


pertahanan ego seperti displacement, sublimasi, proyeksi, represi, denial dan
reaksi formasi.

f. Perilaku

Biasanya perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :

1) Menyerang atau menghindar

Biasanya pada keadaan ini respon fisiologi timbul karena kegiatan sitem
syaraf otonom beraksi terhadap sekresi ephineprin yang menyebabkan
tekanan darah meningat, takikardia, wajah merah, pupil melebar, mual,
sekresi Hcl meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran urin dan
saliva meningkat diserai ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan
dikepal, tubuh menjadi kaki disertai reflek yang cepat.

Poltekkes Kemenkes Padang


27

2) Menyatakan secara asertif

Biasanya perilaku yang sering ditampilkan indivu dalam


mengekspresikan kemarahan yaitu dengan perilaku pasif, agresif dan
asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk mengekspresikan
rasa marah tanpa meyakiti orang lain secara fisik maupun psikologi.
Disamping itu perilaku ini dapat mengembangkan diri pasien.

3) Memberontak

Biasanya perilaku yang muncul disertai kekerasan akibat konflik perilaku


memberontak untuk menarik perhatian orang lain.

4) Perilaku Kekerasan

Biasanya tindakan kekerasan atau tindakan amuk yang ditujukan kepada


diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.

g. Afek

Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan berada pada afek yang labil
dengan perubahan irama perasaan yang cepat dan tiba-tiba.

h. Proses Pikir

Biasanya pasien perilaku kekerasan mengalami penghambatan proses


berpikir yaitu terputusnya aliran berpikir secara tiba-tiba sebelum pikiran
diselesaikan, setelah suatu periode terhenti singkat, pasien tampak tidak
teringat dengan apa yang telah dikatakan.

i. Persepsi

Biasanya pasien perilaku kekerasan juga megalami gangguan presepsi


seperti halusinasi pendengar, penciuman, pengecapan, dan perabaan.

Poltekkes Kemenkes Padang


28

j. Tingkat kesadaran

Biasanya pasien berada dalam tingkat kesadaran stupor, bingung, kacau,


perubahan status mental dan daya ingat menurun.

k. Tindakan Medis

Biasanya obat yang diberikan pada pasien perilaku kekerasan adalah jenis
obat antiansietas dan sedatif hipnotik, obat- obatan ini dapat
mengendalikan agitas akut. Benzodiazepine seperti lorazepam dan
clonazepam sering digunakan dalam kedaruratan psikiatris untuk
menenangkan perlawananklien. Tapi obat ini tidak direkomendasikan
untuk pengguanaan dalam waktu yang lama karena dapat menyebabkan
kebingungan dan ketergantungan, juga bisa mempeburuk simpom depresi.
Buspirone obat ansietas efektif dalam mengendalikan perilaku kekerasan
yang berkaitan dengan kecemasan dan depreesi. ini ditunjukkan dengan
menurunnya perilaku agresif klien (Muhith, 2015)

l. Daftar masalah Keperawatan

a) Resiko Perilaku kekerasan

b) Resiko tinggi cidera

c) Defisit perawatan Diri

d) Gangguan interaksi sosial

e) Gangguan Komunikasi

f) Gangguan Identitas diri

g) Gangguan proses pikir

h) Distres Spiritual

Poltekkes Kemenkes Padang


29

2. Diagnosa Keperawatan

a. Pohon Masalah

Menurut Deden Dermawan (2013)

Resiko Bunuh Diri

Perilaku Kekerasan
Core Problem

Harga Diri Rendah dan


Halusinasi

Gambar 2.3 :Pohon Masah Perilaku Kekerasan

b. Diagnosa Keperawatan

a) Perilaku Kekerasan

b) Harga Diri Rendah

c) Resiko Bunuh diri

3. Tindakan Keperawatan Perilaku Kekerasan

Menurut Muhith (2015) Tindakan keperawatan pada pasien dan keluarga yaitu:

A. Diagnosa perilaku Kekerasan

1. Tindakan keperawatan dengan pendekatan strategi pelaksanaan (SP) pada


pasien

a. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 1 pada pasien

Mengidentifikasi perilaku kekerasan, dan melatih cara mengontrol


perilaku kekerasan secara fisik latihan nafas dalam dan memukul kasur
dan bantal.

Poltekkes Kemenkes Padang


30

a) Membina hubungan saling percaya

Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan


agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan
perawat. Tindakan yag harus dilakukan berupa mengucapkan salam
terapeutik, berjabat tangan, menjelaskan tujuan berinteraksi, dan
membuat kontrak topik, waktu,dan tempat setiap kali bertemu
pasien,

b) Diskusikan dengan pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan


yang lalu

c) Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku


kekerasan meliputi :

1) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik

2) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara psikologi

3) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial

4) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual

5) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekeraan secara intelektual

d) Diskusikan dengan pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan


pada saat marah secara verterhadap orang lain, terhadap diri sendiri
dn terhadap lingkungan.

1) Diskusikan bersama pasien akibat perilaku kekerasan

2) Menjelaskan dan melatih mengontrol perilaku kekerasan secara


fisik latihan nafas dalam dan memukul bantal .

3) Tanyakan perasaan pasien setelah melakukan kegiatan

4) Berikan reinforcement setelah pasien dapat melakukan kegiatan

5) Masukkan ke jadwal kegiatan harian

Poltekkes Kemenkes Padang


31

b. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 2 pada pasien

Melatih pasien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara minum


obat (6 benar).

1) Evaluasi cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara latihan


fisik 1 dan 2

2) Menjelaskan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara


minum obat (6 benar)

3) Berikan reinforcement setelah pasien dapat melakukan kegiatan


Masukkan pada jadwal kegiatan harian

c. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 3 pada pasien

Melatih pasien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara sosial atau


verbal.

1) Evaluasi cara mengontrol kemarahan dengan latihan fisik 1& 2 dan


minum obat (6 benar)

2) Menjelaskan dan melatih cara mengontrol perilaku kekerasan


dengan cara verbal yaitu : menolak dengan baik, meminta dengan
baik, mengungkapkan perasaan dengan baik.

3) Berikan reinforcement setelah pasien dapat melakukan kegiatan

4) Tanyakan perasaan pasien

5) Masukkan ke jadwal harian

d. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 4 pada pasien

Melatih cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara spiritual (2


kegiatan)

Poltekkes Kemenkes Padang


32

1) Evaluasi cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara


latihan fisik 1 & 2, minum obat (6 benar), dan cara sosial atau
verbal

2) Menjelaskan cara mengontrol perilaku kekerasan cara spiritual


(sholat dan do’a)

3) Tanya perasaan klien setelah melakukan kegiatan

4) Berikan reinforcement setelah pasien dapat melakukan kegiatan

5) Memasukkan pada jadwal kegiatan harian

2. Tindakan Keperawatan dengan pendekatan strategi pelaksanaan (SP)


pada keluarga

a. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 1 pada keluarga

1) Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat


pasien

2) Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala beserta proses


terjadinya perilau kekerasan.

3) Menjelaskan dan melatih cara merawat perilaku kekerasan.

4) Melatih salah satu cara merawat perilaku kekerasan dengan cara


latihan fisik 1 & 2.

5) Anjurkan keluarga membantu pasien sesuai jadwal dan memberi


pujian.

b. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 2 pada keluarga

1) Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi serta merawat


dan melatih pasien cara fisik 1 & 2.

2) Beri pujian atas upaya yang dilakukan pada keluarga

3) Menjelaskan dan melatih keluarga 6 benar cara pemberian obat

Poltekkes Kemenkes Padang


33

4) Anjukan melakukan kegiatan latihan/kegiatan sesuai jadwal dan


memberikan pujian

c. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 3 pada keluarga

1) Evaluasi dan kemampuan keluarga mengidentifikasi serta


merawat, melatih pasien fisik 1 & 2, dan minum obat (6 benar)

2) Beri Pujian atas upaya yang dilakukan keluarga

3) Menjelaskan dan melatih keluarga cara membimbing pasien


perilaku kekerasan dengan cara verbal (mengungkapkan,
meminta, dan menolak dengan baik)

4) Anjurkan melatih pasien melakukan kegiatan sesuai jadwal dan


memberi pujian

d. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan ke 4 pada keluarga

1) Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi serta merawat,


melatih pasien fisik 1 & 2, minum obat (6 benar), dan cara
verbal.

2) Beri pujian atas upaya yang dilakukan keluarga.

3) jelaskan dan latih cara mengontrol kemarahan dengan spriritual


(sholat dan do’a)

4) Jelaskan follow up ke pelayanan kesehatan masyarakat, tanda


kambuh, identifikasi kendala atau kesulitan dalam melakukan
kegiatan dan jelaskan cara mengontrol rasa marah pasien jika
sudah terjadi perilaku merusak diri dan atau lingkungan

5) Latih cara pengekangan dan proses rujukan

6) Ajurkan pasien melakukan kegiatan/latihan sesuai jadwal dan


memberikan pujian.

Poltekkes Kemenkes Padang


34

B. Diagnosa Harga Diri Rendah

1. Tindakan keperawatan dengan pendekatan strategi pelaksanaan (SP) pada


pasien

a. Strategi pelaksanaan (SP) Pertemuan ke 1 pada pasien : latihan


kegiatan pertama

1) Identifikasi pandangan/penilaian pasien tentang diri sendiri dan


pengaruhnya terhadap hubungan dengan orang lain, harapan yang
telah dan belum tercapai, upaya yang dilakukan untuk mencapai
harapan yang belum terpenuhi

2) Indentifikasi kemampuan melakukan kegiatan dan aspek positif


pasien dan bantu pasien menilai kemampuan kegiatan yanang
dapat dilakukan saat ini (pilih dari daftar kegiatan yang dapatr
dilaksanakan)

3) Buat daftar kegiatan yang dapat dilakukan saat ini

4) Bantu pasien memilih kegiatan yang dapat dilakukan saat ini


untuk dilatih

5) Latih kegitan yang dipilih ( alat dan cara melakukannya)

6) Masukkan kegiatan yang telah dilatih pada jadwal kegitan harian

b. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 2 pada pasien : latihan kegitan ke


dua

1) Evaluasi tanda dan gejala harga diri rendah

2) Validasi kemampuan pasien melakukan kegiatan pertama yang


telah dilatih dan berikan pujian

3) Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama

Poltekkes Kemenkes Padang


35

4) Bantu pasien memilih kegiatan kedua yang akan dilatih

5) Latih kegiatan kedua (alat dan cara)

6) Berikan reinforecement ketika pasien mampu melakukan kegiatan

7) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan dua kegiatan

c. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 3 pada pasien : Latihan kegiatan


ketiga

1) Evaluasi tanda dan gejala harga diri rendah

2) Validasi kemampuan melakukan kegiatan pertama, dan kedua yang


telah dilatih dan berikan pujian

3) Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama dan kedua

4) Bantu pasien memilih kegitan ketiga yang akan dilatih

5) Latih kegiatan ketiga (alat dan cara)

6) Berikan reinforecement ketika pasien mampu melakukan kegiatan

7) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan tiga kegiatan

d. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 4 pada pasien : Latihan kegiatan


keempat

1) Evaluasi tanda dan gejala harga diri rendah

2) Validasi kemampuan melakukan kegiatan pertama, kedua dan


ketiga yang telah dilatih dan berikan pujian

3) Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama, kedua dan ketiga

4) Bantu pasien memilih kegiatan keempat yang akan dilatih

5) Latih kegiatan keempat (alat dan cara)

6) Berikan reinforecement ketika pasien mampu melakukan kegiatan

Poltekkes Kemenkes Padang


36

7) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan

2. Tindakan keperawatan dengan pendekatan strategi pelaksanaan keluarga

a. Strategi pelaksanaan (SP) pertemuan 1 pada keluarga Mengenal


masalah harga diri rendah dan latihan cara merawat : melatih kegitan
pertama

1) Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien harga


diri rendah, jelaskan pengertian, tanda dan gejala, proses
terjadinya, dan akibat harga diri rendah, jelaskan merawat harga
diri rendah

2) Berikan pujian terhadap upaya yang dilakukan keluarga

3) Latih keluarga memberi tanggung jawab kegiatan yang dipilih


pasien , bimbing memberikan bantuan pada pasien

4) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian

b. Strategi pelaksanaan pertemuan 2 pada keluarga ; Latihan cara


merawat : membimbing melakukan kegiatan ke 2

1) Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi gejala harga diri


rendah

2) Validasi kemampuan keluarga dalam membimbing pasien


melaksanakan kegiatan yang telah dilatih

3) Evaluasi manfaat yang dirasakan keluarga dalam merawat, beri


pujian, bersama keluarga melatih pasien dalam melakukan
kegiatan kedua yang dipilih pasien

4) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan


pujian

Poltekkes Kemenkes Padang


37

c. Strategi pelaksanaan pertemuan 3 pada keluarga : Latihan cara


merawat: membimbing melakukan kegitan ke 3

1) Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi gejala harga diri


rendah

2) Validasi kemampuan keluarga dalam membimbing pasien


melaksanakan kegiatan yang telah dilatih

3) Evaluasi manfaat yang dirasakan keluarga dalam merawat, beri


pujian, bersama keluarga melatih pasien dalam melakukan kegiatan
ketiga yang dipilih pasien

4) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian

d. Strategi pelaksanaan pertemuan 4 pada keluarga : Latihan cara


merawat : membimbing melakukan kegiatan keempat

1) Evaluasi kemampuan keluarga mengidentifikasi gejala harga diri


rendah.

2) Validasi kemampuan keluarga dalam membimbing pasien


melaksanakan kegiatan yang telah dilatih.

3) Evaluasi manfaat yang dirasakan keluarga dalam merawat, beri


pujian, bersama keluarga melatih pasien dalam melakukan kegiatan
keempat yang dipilih pasien.

4) Jelaskan follow up ke puskesmas, tanda kambuh dan rujukan

5) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian.

4.Implementasi Keperawat

Menurut Budiono, dkk (2016) Implementasi adalah realisasi rencana


tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. kegitan dalam
implementasi meliputi, pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi
respon pasien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data

Poltekkes Kemenkes Padang


38

yang baru. Kemampuan yang harus dimiliki perawat pada tahap


implementasi adalah kemampuan komunikasi yang efektif, kemampuan
untuk menciptakan hubungan saling percaya dan saling bantu, kemampuan
melakukan teknik psikomotor, kemampuan untuk melakukan observasi
sistematis, kemampuan untuk memberikan pendidikan kesehatan, advokasi
dan kemampuan evaluasi.

5.Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dari proses kepererawatan yang


merupakan perbandingan yang sistematis danterencana antara hasil akhir
yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap
perencanaan. evaluasi dilakukan secara bersinambungan dengan melibatkan
klien dan tenaga kesehatan lainnya. Evaluasi dilakukan segera setelah
perawat mengimplementasikan rencana keperawatan guna menilai
keefektifan tindakan keperawatan yang dilaksanakan. perumusan evaluasi
meliputi empat komponen yang dikenal dengan istilah soap, yaitu subjektif,
objektif analisa data, dan perencanaan (Asmadi, 2008).

6.Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi keperawatan merupakan catatan otentik dalam penerapan


manajemen asuhan keperawatan profesiol dan sarana komunikasi dari satu
profesi ke profesi lain terkait kasus pasien. Sebagai alat komunikasi , tulisan
dalam dokumentasi keperawatan harus jelas terbaca, tidak boleh memakai istilah
atau singkatan – singkatan yang tidak lazim, berisi uraian yang jelas, tegas dan
sistematis. Hal ini dimaksud untuk mengindari kesalahan komunikasi.
Kesalahan komunikasi ini bisa membahayakan keselamatan pasien (Nursalam &
Fery, 2012).

Poltekkes Kemenkes Padang


39

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Peneltian
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu studi
kasus. Penelitian ini untuk mendeskripsikan atau menggambarkan
bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan perilaku
kekerasan diruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian akan dilaksanakan di ruangan Nuri Rumah Sakit Jiwa Prof. HB.
Saanin Padang. Rentang penelitian dimulai dari ACC judul sampai sidang
akhir yaitu bulan November 2018 sampai Mei 2019.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi adalah kumpulan individu atau objek yang secara potensial
dapat diukur sebagai bagian dari penelitian (Swarjana, 2015). Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh pasien skizofrenia yang didiagnosa
mengalami perilaku kekerasan pada rentang November 2018 sampai Mei
ruangan nuri RSJ. Prof. HB Sa’anin Padang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian kecil dari populasi Atau objek yang memilik
karakteristik sama (Lapau, 2012). Sampel penelitian ini adalah pasien
perilaku kekerasan yang berada diruangan Nuri RSJ. Prof. HB Sa’anin
Padang pada rentang bulan November 2018 sampai bulan Mei 2019.
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu
pengambilan sampel yang dilakukan dengan pertimbangan berdasarkan
kriteria, apabila sampel masih melebihi satu, maka akan dilakukan simple
random sampling dengan mengumpulkan nama-nama pasien lalu
dilakukan lotre sehingga didapatkan 1 orang pasien.

Poltekkes Kemenkes Padang


40

Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :

a. Kriteria inklusi
1) Pasien bersedia menjadi responden
2) Pasien sudah kooperatif dan sudah bisa berkomunikasi verbal
dengan cukup baik.
3) Pasien memiliki tanda dan gejala perilaku kekerasan
b. Kriteria ekslusi
1) pasien mengundurkan diri sebelum wawancara selesai
2) pasien gangguan jiwa yang mengalami kecacatan fisik yang
dapat menganggu proses penelitian
D. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah format
pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencananaan
keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan, dan alat
pemeriksaan fisik yang terdiri dari tensimeter, stetoskop, termometer.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik,
observasi langsung, wawancara dan studi dokumentasi.

1. Format pengkajian keperawatan terdiri dari: identitas pasien, alasan


masuk, faktor predisposisi, pemeriksaan fisik, psikososial,
genogram, konsep diri, dan program pengobatan.
2. Format analisa data terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik,
data, masalah, dan pohon masalah.
3. Format diagnosa keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor
rekam medik, diagnosa keperawatan, tanggal dan paraf saat saat
ditemukannya masalah, seta tanggal dan paraf terselesaikan masalah.
4. Format rencana asuhan keperawatan teridiri dari: nama pasien,
nomor rekam medis, diagnosa keperawatan dan intervensi
keperawatan,
5. Format implementasi keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor
rekam medis, hari dan tanggal, diagnosa keperawatan, implementasi

Poltekkes Kemenkes Padang


41

keperawatan, dan paraf setelah melakukan implementasi


keperawatan.
6. Format implementasi keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor
rekam medis, hari dan tanggal, diagnosa keperawatan, evaluasi
keperawatan, dan paraf setelah melakukan evaluasi.
E. Jenis dan Metode pengumpulan Data

1. Jenis Data

a. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari
responden berdasarkan format pengkajian asuhan keperawatan
kesehatan jiwa. Data primer pada penelitian ini diperoleh dari hasil
wawancara dan observasi secara langsung dengan responden.

b. Data Sekunder
Data pasien perilaku kekerasan yang diperoleh dari Medical Record
Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang.

2. Cara Pengumpulan Data


Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
anamnesa, pemeriksaan fisik, observasi langsung, wawancara dan
studi dokumentasi. Adapun langkah-langkah pengumpulan data
yang dilakukan oleh peneliti adalah:

a. Peneliti meminta izin untuk melakukan penelitian dari institusi


peneliti yaitu Poltekkes Kemenkes Padang.
b. Meminta surat rekomendasi ke Rumah Sakit Jiwa Prof. HB.
Saanin Padang
c. Meminta izin ke Kepala Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin
Padang
d. Meminta izin ke Kepala Ruangan Rawat Inap Rumah Sakit
Jiwa Prof. HB. Saanin Padang

Poltekkes Kemenkes Padang


42

e. Melakukan pemilihan sampel dengan mencatat jumlah pasien


yang sedang dirawat di ruangan nuri, memilih sampel sesuai
kriteria yang didapatkan dilakukan dengan purposive sampling.
f. Mendatangi responden dan menjelaskan tentang tujuan
penelitian
g. Informed Consent diberikan kepada responden dan keluarga
h. keperawatan.Responden menandatangani Informed Consent,
peneliti meminta waktu responden untuk melakukan asuhan
keperawatan.
F. Analisis Data
Analisis data yang dilakukan peneliti membandingkan asuhan keperawatan
keperawatan yang telah dilakukan pada partisipan. Selanjutnya dibandingkan
dengan teori dan penelitian yang telah ada untuk mengetahui persamaan dan
perbedaan dalam pemberian asuhan keperawatan, berdasarkan hasil
pengamatan peneliti dengan teori dan penelitian yang sudah ada.

Poltekkes Kemenkes Padang


43

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi (2008) Konsep dasar keperawatan. Jakarta: EGC.

Badan PPSDM (2012) Modul Pelatihan Keperawatan Kesehatan Jiwa


Masyarakat. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Davies (2009) ABC Kesehatan Mental. Jakarta: EGC.

Dermawan, Deden. (2013) Konsep dan Kerangka Kerja Asuhan keperawatan


Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishing,2013.

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat (2015) 'Profil Dinas Kesehatan


Sumatera Barat Tahun 2015'.

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat (2017) 'Profil Dinas Kesehatan Sumatera
Barat Tahun 2017'.

Farida & Yudi (2010) Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Harmianto, Krido (2017) Penerapan Terapi Relaksasi Nafas Dalam Terhadap


Pengendalian Marah Klien Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Daerah
DR. Amino Gondohuthomo Provinsi Jawa Tengah.

Irma, Dkk. (2016) Buku Ajar ilmu keperawatan Jiwa 1. padang: UNP Press
Padang.

Keliat & akemat (2014) Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta:
EGC.

Kementrian Kesehatan RI (2014) Stop Stigma Diskirminasi Terhadap Orang


Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Kementrian Kesehatan RI (2016) Peran Keluarga Dukung Kesehatan Jiwa


Masyarakat’.

Lapau, B. (2012) Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor


Indonesia.

Poltekkes Kemenkes Padang


44

Muhith, Abdul. (2015) Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: CV Andi


Offset.

M. Subu, dkk (2016) Stigmatisasi dan Perilaku Kekerasan pada Orang dengan
Gangguan Jiwa (ODGJ) di Indonesia : Jurnal Keperawatan Indonesia.

Notoadmodjo, Soekidjo (2010) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT


Rineka Cipta.

Nursalam & Fery (2012) Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba


Medika.

Prabowo, Eko. (2014) Konsep dan Aplikasi Asuhan keperawatan Jiwa.


Yogyakarta: Nuha Medika.

Riset kesehatan Dasar (2013) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan


Kementrian Kesehatan RI.

Riset kesehatan Dasar (2018) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan


Kementrian Kesehatan RI.

Sutejo (2016) Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa.


Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Swarjana, I. K. (2015) Metodologi penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Penerbit


Andi.

UU Republik Indonesia (2014) ‘Undang-Undang REPUBLIK INDONESIA NO.


18 Tentang Kesehatan Jiwa’.

Yudhantara, S. (2018) Sinopsis Skizofrenia untuk Mahasiswa kedokteran. Malang:


UB press.

World Health Organization (2014) Mental Health : A State Of Well- Being.

World Health Organization (2018) World Health Statistics 2018

Poltekkes Kemenkes Padang


45

Poltekkes Kemenkes Padang