Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN

PENGALAMAN BELAJAR LAPANGAN (PBL)

ANALISIS MASALAH DAN INTERVENSI KESEHATAN

DI KELURAHAN TANJUNG TIRAM KECAMATAN TANJUNG TIRAM


KABUPATEN BATU BARA

Oleh:

Kelompok 21

Annisa Fadhila Nasution 151000219

Nurul Dilla Delfia Sudirman 151000220

Novia Rahma Putri 151000222

Fuji Maryanti Aritonang 151000245

Ria Agnes Tambunan 151000247

Fransiska Tumangger 151000254

Haslinda 151000264

Yunita E. Siburian 151000327

Yuki Fransiscus Mandrofa 151000373

Fernando Tri Putra Marpaung 151000448

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan Laporan Pengalaman Belajar (PBL) ini. Pengalaman
Belajar Lapangan (PBL) ini merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi
mahasiswa di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Laporan Pengalaman Belajar Lapangan ini disusun sebagai bahan laporan hasil
kegiatan selama PBL dan sebagai informasi mengenai masalah kesehatan dan
intervensi belajar lapanganyang telah dilaksanakan 9 minggu di Kelurahan
Tanjung Tiram Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara. Proses
penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bimbingan, dukungan, dan bantuan
dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu
Rusmalawaty sebagai dosen pembimbing lapangan PBL, Kepala Kelurahan dan
Perangkat Kelurahan Tanjung Tiram Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu
Bara, Bidan Kelurahan Tanjung Tiram dan masyarakat Kelurahan Tanjung Tiram.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi
materi mapun penyajiannya. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat
diharapkan dalam penyempurnaan laporan kami.
Harapannya, semoga laporan ini dapat memberikan hal yang bermanfaat dan
menambah wawasan bagi pembaca dan khususnya bagi kelompok.

Kelurahan Tanjung Tiram, 12 April 2019


Penyusun,

Kelompok 21
RINGKASAN

Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) merupakan implementasi bagi mahasiswa


dalam menerapkan ilmu yang diperoleh dalam bidang kesehatan masyarakat
secara langsung untuk melakukan pendampingan dalam upaya pemberdayaan
masyarakat untuk sehat serta dapat melakukan upaya penanggulangan masalah
kesehatan masyarakat dengan mengedepankan upaya preventif dan upaya
promotif melalui penyusunan skala prioritas. PBL dilaksanakan dimasyarakat
pada suatu wilayah Kabupaten / Kota di Provinsi Sumatera Utara dan termasuk
wilayah kerja Puskesmas untuk membantu masyarakat dalam memahami masalah
kesehatan dan menentukan alternatif pemecahan permasalahan kesehatan yang
timbul didalam masyarakat, sehingga masyarakat mampu berperan aktif dalam
upaya meningkatkan kesehatannya. Kelompok 21 PBL FKM USU ditempatkan di
Kelurahan Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara. Dalam pelaksanaan
PBL tersebut dilakukan analisas situasi dengan cara observasi langsung dan
menggunakan kuesioner yang disediakan oleh pihak fakultas. Kuesioner
dilaksanakan terhadap 85 sample KK dari 572 KK yang ada di kelurahan Tanjung
Tiram. Dalam perhitungan sample menggunakan rumus Slovin dengan tingkat
kesalahan sebesar 10%. Dalam teknik sampling digunakan teknik Simple Random
Sampling. Hasil data dari hasil analisis data dari kuesioner digunakan sebagai
dasar pelaksanaan rembug desa yang mengangkat tiga masalah kesehatan yang
ada di Kelurahan Tanjung Tiram yaitu masalah Kebiasaan merokok didalam
rumah, Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menangani permasalahan
sampah, Tidak tersedianya Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL). Rembug
desa dilaksanakan pada Senin, 18 Maret 2019. Dalam penentuan prioritas masalah
digunakan metode CARL (Capability, Accesiblity, Readiness, dan Leverage).
Pengisian scor dilakukan terhadap seluruh peserta rembug yang terdiri atas unsur-
unsur kelurahan. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode CARL dan
diperoleh prioritas masalah yang ada di Kelurahan Tanjung Tiram yaitu
kurangnya kesadaran masyarakat dalam menangani permasalahan sampah dengan
scor sebesar 144.Maka disepakati hal yang harus dibenahi di Kelurahan Tanjung
Tiram adalah mengajak warga untuk melakukan gotong royong disetiap
dusunnya, dan melakukan penyuluhan cara penanganan sampah yang benar.

Intervensi yang disepakati bersama dengan warga Kelurahan Tanjung Tiram


adalah mengajak warga untuk melakukan gotong royong membersihkan sampah
di Lingkungan 1,2,3,4,5,6,7,8, dan 9. Melakukan Door to Door mengenai
pentingnya menjaga kebersihan Lingkungan. serta penyuluhan tentang cara
penanganan sampah yang benar.Penyuluhan telah dilakukan di Kelurahan
Tanjung Tiram.Masyarakat setuju dan tertarik terhadap berbagai intervensi yang
dilaksanakan. Terdapat berbagai kegiatan tambahan yang dilakukan seperti
penyuluhan CTPS pada anak SD, Senam Lansia, Gotong-royong,
pengajian/perwiritan, dan mengikuti beberapa kegiatan dari puskesmas.
Diharapkan seluruh masyarakat beserta seluruh unsur Kelurahan mampu bekerja
sama dalam menanggulangi masalah yang ada di Kelurahan Tanjung Tiram, dan
harus berpartisipasi dalam setiap kegiatan penanggulangan, mampu bertanggung
jawab, dan bagi setiap penanggung jawab Lingkungan diharapkan terus memantau
setiap kegiatan penanggulangan. Dan diharapkan pula seluruh warga Kelurahan
Tanjung Tiram mampu mempertahankan setiap prestasi-prestasi yang ada.

Kata Kunci :Slovin, Simple Random Sampling, Metode CARL, Penanganan


Sampah
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………..

ABSTRAK…………………………………………………………………………

DAFTAR ISI…………...…………………………………………………………..

DAFTAR TABEL………………………………………………………………….

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………...

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG …………………………………………………………

1.2 TUJUAN PBL…………………………………………………………………..

1.3 MANFAAT PBL………………………………………………………..............

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 UPAYA PENANGANAN SAMPAH ……………………………………...

2.1.1 PENGERTIAN SAMPAH …………………………………………………

2.1.2 SUMBER-SUMBER SAMPAH ………………………………………….

2.1.3 JENIS SAMPAH …………………………………………………………..

2.1.4 KOMPOSISI SAMPAH …………………………………………................

2.1.5 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUANTITAS DAN

KUALITAS SAMPAH……………………….............................................

2.1.6 HUBUNGAN SAMPAH TERHADAP MASYARAKAT DAN

LINGKUNGAN ……………………………………………………………

2.1.7 SISTEM PEMBUANGAN SAMPAH ……………………………………..

2.1.8 KONDISI DAN SYARAT-SYARAT PEMBUANGAN AIR LIMBAH …

2.2 SPAL (SALURAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH)……………………..


2.2.1 PENGERTIAN SPAL ……………………………………………………..

BAB III METODE PELAKSAAN PBL

3.1 LOKASI DAN WAKTU PBL……………………………….. ………………..

3.2 TEKNIK PENGUMPULAN SAMPEL……………………...............................

3.3 TEKNIK PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA......................................

3.3.1. DATA PUSKESMAS………………………………………………………..

3.3.2. DATA KESEHATAN MASYARAKAT……………………………………

3.3.3. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA………………………………….

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PELAKSANAAN PBL………………………………………………...

4.1.1 GAMBARAN DAERAH PBL……..………………………………………..

4.2 REMBUG KELURAHAN……………………………………………………...

4.2.1. METODE PELAKSANAAN REMBUG KELURAHAN…………………...

4.2.2. PESERTA REMBUG DKELURAHAN…………………………………......

4.2.3. ALAT BANTU REMBUG KELURAHAN……………………………........

4.2.4. TAHAPAN PELAKSANAAN REMBUG KELURAHAN…………………

.4.3. MINILOKAKARYA PUSKESMAS………………………………………….

4.4. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBERDAYAAN


MASYARAKAT………………………………………………………..

4.4.1. RENCANA INTERVENSI REMBUG KELURAHAN…………………...

4.4.2. INTERVENSI………………………………………………………………

4.4.3. HASIL INTERVENSI……………………………………………………….


4.5. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN TAMBAHAN……………………….

4.5.1. CUCI TANGAN PAKAI SABUN DI SDN KELURAHAN………………..

4.5.2. SOSIALISASI HIDUP SEHAT TANPA ROKOK DI SMP SWASTA


KELURAHAN……………………………………………………………….

4.5.3. PARTISIPASI POSYANDU IBU HAMIL………………………………….

4.5.4. PARTISIPASI POSYANDU BALITA………………………………………

4.5.5 PARTISIPASI DALAM PENGAJIAN………………………………………

4.5.6. PARTISIPASI DALAM PERWIRITAN LAKI-LAKI……………………...

4.5.7. PARTISIPASI PADA HARI GIZI NASIONAL KE 59 KECAMATAN


TANJUNG TIRAM…………………………………………………………..

4.5.8. KEGIATAN MINILOKAKARYA…………………………………………..

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN………………………………………………………….....

5.2 SARAN…………………………………………………………………......
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Komposisi Sampah……..………………………………………………….


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Gotong Royong………………………………………………………….

Gambar 2 Gerakan Pungut Sampah………………………………………………...

Gambar 3 Kegiatan Cuci Tangan Pakai Sabun……………………………………..

Gambar 4 Sosialisasi Bahaya Merokok…………………………………………….

Gambar 5 Posyandu Ibu Hamil……………………………………………………..

Gambar 6 Posyandu Balita………………………………………………………….

Gambar 7 menghadiri Perwiritan di Kelurahan…………………………………….


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang PBL


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sebagai salah
satu institusi penyelenggaraan pendidikan nasional dengan kekhususan Ilmu
Kesehatan Masyarakat, bertanggung jawab dalam mempersiapkan tenaga
kesehatan masyarakat yang berkualitas. Salah satu misi FKM USU yaitu
menyelenggarakan dan mengembangkan kegiatan pengabdian masyarakat secara
konseptual maupun secara langsung dalam pembangunan kesehatan. Oleh sebab
itu, untuk meningkatkan kompetensi dan eksistensi mahasiswa dalam
mengaplikasikan teori yang telah diperoleh selama kegiatan perkuliahan dan
sesuai dengan salah satu misi FKM USU maka sangat diperlukan adanya kegiatan
Pengalaman Belajar Lapangan dalam tulisan ini disingkat dengan PBL.

Pengalaman Belajar Lapangan adalah bagian dari proses belajar mengajar


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dimana mahasiswa
diberi kesempatan untuk lebih memahami serta mampu dan terampil
menggunakan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah di pelajari di kelas untuk di
implementasikan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan dapat membantu
masyarakat dalam memahami kesehatan dan membantu alternatif pemecahan
masalah kesehatan yang timbul dalam masyarakat, sehingga masyarakat mampu
dan mau berperan aktif dalam meningkatkan kesehatannya.

Mahasiswa FKM USU hadir di masyarakat sebagai agent of change yang


akan melakukan pendampingan dengan memberikan alternatif, saran dan bantuan
konsultatif (peran konsultatif dan partisipatif) terhadap masalah kesehatan yang
dialami oleh masyarakat dengan melakukan kemitraan dengan instansi setempat
untuk mendukung proses pelaksanaan pembelajaran di masyarakat. Sehingga
dengan demikian secara spesifik peran mahasiswa sebagai pendamping di
masyarakat :
a) Peran motivator yaitu menyadarkan dan mendorong kelompok untuk
mengenali potensinya untuk memecahkan permasalahan yang dialami oleh
masyarakat

b) Peran fasilitator yakni bertanggung jawab untuk menciptakan,


mengkondisikan iklim kelompok yang harmonis, serta memfasilitasi terjadinya
proses saling belajar dalam kelompok

c) Peran katalisator melakukan aktvitas sebagai penghubung antara


kelompok pendampingan dengan lembaga di luar kelompok maupun lembaga
teknis lainnya, dalam rangka pengembangan jaringan.

Pada tahun 2019 semester ini Pengalaman Belajar Lapangan FKM USU
dilaksanakan di Kabupaten Batu Bara yang terdiri dari 4 kecamatan yaitu:
Kecamatan Sei Balai, Kecamatan Datuk Tanah Datar, Kecamatan Talawi dan
Kecamatan Tanjung Tiram

Kabupaten Batu Bara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera


Utara yang berada dikawasan Pantai Timur Sumatera yang berbatasan langsung
dengan Selat Malaka. Batu Bara memiliki luas wilayah 90.496 Ha dan masalah
kesehatan yang terdapat di Kabupaten Batu Bara adalah Malaria, DBD, Filariasis
dan Narkoba

Tanjung Tiram adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Batu


Bara, Sumatera Utara, Indonesia.Sebagian besar wilayahnya ini berada dipingiran
laut, dan karena itu nelayan menjadi mata pencarian utama, disamping pertanian
dan perkebunan. Kecamatan Tanjung Tiram memiliki luas wilayah 173,79 km²,
masalah kesehatan yang terdapat di Kecamatan Tanjung Tiram yaitu: kebiasaan
masyarakat membuang sampah sembarangan, kebiasaan merokok di dalam
rumah/ruangan, dan kuranganya pemahaman orang tua untuk memberikan ASI
Ekslusif kepada bayi yang berusia di bawah 6 bulan.

Kelurahan Tanjung Tiram merupakan satu-satunya kelurahan yang berada di


Kecamatan Tanjung tiram dan terletak di dataran rendah dengan ketinggian 1 m
diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata 30-310C dengan curah hujan rata-
rata berkisar 1.395 mm/tahun. Kelurahan Tanjung Tiram terdiri dari 9
lingkungan. Penduduk Kelurahan Tanjung Tiram berjumlah 2517 jiwa pada
tahun 2018. Jika dihitung berdasarkan jumlah Kepala Keluarga Kelurahan ini
dihuni oleh 572 KK. Sebagian besar penduduk Kelurahan Tanjung Tiram bermata
pencarian sebagai nelayan, sebagian lainnya bekerja sebagai wiraswasta,
pedagang, ibu rumah tangga, dan sebagian kecil sebagai pegawai negeri sipil.
Rata-rata pendapatan penghasilan masyarakat Kelurahan Tanjung Tiram berkisar
1.000.000 s/d 3.000.000 perbulan.

Masyarakat kelurahan Tanjung Tiram masih banyak memiliki kondisi


kesehatan yang buruk salah satunya adalah penggunaan narkoba yang cukup
tinggi dan merokok di dalam rumah/ruangan, kebiasaan masyarakat yang
membuang sampah secara sembarangan dikarenakan tidak memiliki tempat
sampah. Kelurahan Tanjung Tiram sangat dekat dengan laut sehingga pemikiran
masyarakat setempat jika laut sedang pasang maka sampah yang berada di
lingkungan mereka akan terbawa oleh air laut, namun pada kenyataannya ketika
air laut sudah surut maka sampah yang tadinya tergenang akan kembali
bertumpuk di lingkungan rumah mereka akibatnya banyak terdapat vector di
setiap rumah warga seperti tikus, lalat dan nyamuk Anopheles sehingga
menimbulkan masalah kesehatan lainnya seperti PES, malaria, diare dan
kecacingan.

Wilayah lingkungan VI dan VII adalah daerah yang langsung


membelakangi sungai dan masyarakat setempat membuang sampah dan tinja
mereka lansung ke sungai tersebut, padahal pada sore hari jika air laut sedang
pasang terdapat banyak anak-anak yang mandi di sungai tersebut, dari hasil
wawancara singkat kami menemukan beberapa keluhan kesehatan pada mereka
diantaranya gatal-gatal pada kulit bahkan sampai diare, hal itu dikarenakan
mereka telah terkontaminasi bahkan tertelan dengan tinja yang di buang dengan
sebarangan di sungai dan mungkin saja tinja yang dibuang ke sungai tersebut
terdapat banyak bakteri dan salah satunya adalah E-coli yang mengakibatkan
mereka diare.
Sampah yang dibuang secara sembarangan akan menjadi bencana dan
berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat setempat. Pengelolaan sampah
yang kurang baik akan menjadikan sampah sebagai tempat perkembangbiakan
vector penyakit seperti lalat dan tikus, sampah juga dapat mengakibatkan
gangguan psikosomatis seperti stress karena pemandangan yang tidak baik akibat
tumpukan sampah. Bagi lingkungan sampah dapat mengurangi nilai estetika
lingkungan, proses pembusukan oleh mikroorganisme akan menghasilkan gas-
gas tertentu yang menimbulkan bau busuk, pembuangan sampah kedalam saluran
pembuangan air akan menyebabkan aliran air terganggu dan saluran air akan
menjadi dangkal. Sampah juga berpengaruh terhadap social ekonomi dan budaya
masyarakat seperti, pengelolaan sampah yang kurang baik, mencerminkan
keadaan social budaya masyarakat setempat, keadaan lingkungan yang kurang
baik dan kotor akan menurunkan minat wisatawan untuk datang berkunjung
kedaerah tersebut, angka kesakitan meningkat dan mengurangi hari kerja dan
produktifitas masyarakat.

Selain permasalahan kesehatan terdapat juga permasalahan social di


Kelurahan Tanjung Tiram yaitu kebiasaan anak di bawah umur setiap malam hari
melakukan tawuran antar desa, hal tersebut terjadi akibat kurangnya perhatian
orang tua terhadap anaknya.

1.2. Tujuan PBL


1.2.1 Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Mahasiswa mampu mengimplementasikan Ilmu Kesehatan Masyarakat


yang dikuasai untuk mengenal, mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat,
menetapkan penyebab terjadinya kesehatan masyarakat, dan memberikan
alternative penyelesaian masalah kesehatan masyarakat diwilayah PBL, serta
memahami layanan kesehatan di Puskesmas.
1.2.2 Tujuan Instruksional Khusus PBL

1. Melaksanakan dan menerapkan Ilmu kesehatan Masyarakat secara Team work


dengan tahapan:

˗ Mampu bersosialisasi dengan masyarakat Tanjung Tiram

˗ Mampu memahami layanan kesehatan di Puskesmas Tanjung Tiram

˗ Mampu mengidentifikasi masalah kesehatan yang timbul dimasyarakat


Tanjung Tiram

˗ Mampu menentukan prioritas masalah kesehatan yang timbul


dimasyarakat Tanjung Tiram

˗ Mampu merumuskan rencana pemecahan masalah kesehatan yang timbul


dimasyarakat Tanjung Tiram

˗ Mampu menentukan intervensi program pemecahan masalah kesehatan


yang timbul dimasyarakat yang menjadi prioritas masalah

˗ Mampu mengevaluasi intervensi program yang telah dilaksanakan, dengan


melibatkan seluruh komponen masyarakat Tanjung Tiram

˗ Alternative perbaikan intervensi program dalam langkah pengembangan


selanjutnya, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat Tanjung Tiram

2. Mampu mengidentifikasi permasalahan dan memberikan solusi pada 5


keluarga yang menjadi tugas individu mahasiswa

3. Mengembangkan soft skill mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran


masyarakat dalam berperan serta aktif dalam menangani permasalahan kesehatan
di wilayah PBL serta berprilaku sehat.

4. Meningkatkan empathy dan kepedulian mahasiswa terhadap peningkatan


prilaku hidup bersih dan sehat masyarakat

5. Mengembangkan masyarakat menuju desa sehat.

1.2.3 Kompetensi
Mahasiswa mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat,
memahami layanan kesehatan di Puskesmas, menganalisis situasi permasalahan
kesehatan yang terjadi di masyarakat, mengenali tipologi masyarakat, mampu
mengembangkan masyarakat agar dapat menangani permasalahan yang terjadi
dan mampu menggerakkan masyarakat agar berpartisipasi dalam pemanfaatan
pelayanan kesehatan yang ada.

1.3. Manfaat PBL


1.3.1 Manfaat Untuk Masyarakat

a. Masyarakat mengetahui dampak negatif masalah kesehatan yang terjadi


di Kelurahan Tanjung Tiram.

b. Masyarakat mengetahui dampak positif perilaku hidup bersih dan sehat.

1.3.2 Manfaat untuk Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera


Utara

a. Laporan Praktek Belajar Lapangan ini dapat dijadikan sebagai salah


satu bahan referensi tambahan untuk mahasiswa/i pada masa
mendatang.
b. Memperoleh masukan yang positif untuk diterapkan dalam program
PBL selanjutnya.

1.3.3 Manfaat Untuk Kelurahan

a. Menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat


antara Kelurahan Palopat Maria dengan mahasiswa PBL.
b. Kelurahan Palopat Maria menjadi Kelurahan yang sadar Hidup Sehat.

1.3.4 Manfaat Untuk Mahasiswa

a. Mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan baik secara teoritis maupun


aplikasi dalam kegiatan di lapangan.
b. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan pemecahan
masalah yang terdapat di lapangan.
c. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menemukan dan
menentukan prioritas masalah yang terdapat dilapangan.
d. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar dan keterampilan
untuk dapat menjadi sarjana kesehatan masyarakat yang berkualitas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Upaya Penanganan Sampah


2.1.1 Pengertian Sampah
Pengertian sampah menurut World Health Organization (WHO)
adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau
sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi
dengan sendirinya. Undang-Undang Pengelolaan Sampah No. 18 Tahun
2008 menyatakan sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia
dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat.

2.1.2 Sumber-Sumber Sampah


Sumber-sumber sampah berasal dari berbagai tempat yaitu:
a. Sampah yang berasal dari pemukiman (domestic wastes)
Sampah ini terdiri dari bahan-bahan padat sebagai hasil kegiatan
rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang, seperti sisa-sisa
makanan baik yang sudah dimasak atau belum, bekas pembungkus
baik kertas, plastik, daun dan sebagainya, pakaian-pakaian bekas,
bahan-bahan bacaan, perabot rumah tangga, daun-daunan dari
kebun atau taman.
b. Sampah yang berasal dari tempat-tempat umum
Sampah ini berasal dari tempat-tempat umum, seperti pasar,
tempat-tempat hiburan, terminal bus, stasiun kereta api, dan
sebagainya. Sampah ini berupa kertas, plastik, botol dan
sebagainya.
c. Sampah yang berasal dari perkantoran
Sampah ini dari perkantoran baik perkantoran pendidikan,
perdagangan, departemen, perusahaan, dan sebagainya. Umumnya
sampah ini bersifat anorganik dan mudah terbakar (rubbish).
d. Sampah yang berasal dari jalan raya
Sampah ini berasal dari pemebersihan jalan, yang umunya terdiri
dari kertas-kertas, kardus-kardus, debu, batu-batuan, daun-daunan,
plastik dan sebagainy..
e. Sampah yang berasal dari industri (industrial wastes)
Sampah ini berasal dari kawasan industri, termasuk sampah yang
berasal dari pembangunan industri. Misalnya: sampah-sampah
pengepakan barang, logam, plastik, kayu, potongan tekstil, kaleng
dan sebagainya.
f. Sampah yang berasal dari pertanian atau perkebunan
Sampah ini sebagai hasil dari perkebunan dan pertanian misalnya
jerami, sisa sayur mayur, batang padi, batang jagung, batang kayu
dan sebagainya.
g. Sampah yang berasal dari pertambangan
Sampah ini berasal dari daerah pertambangan dan jenisnya
tergantung jenis usaha pertambangan itu sendiri, misalnya: batu-
batuan, tanah/cadas, pasir, sisa-sisa pembakaran (arang) dan
sebagainya.
h. Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan
Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan ini berupa
kotoran-kotoran ternak, sisa-sisa makanan bangkai binatang dan
sebagainya. (Notoadmojo, 2003).

2.1.3 Jenis Sampah


1. Sampah berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya:
a. Sampah anorganik
Sampah anorganik adalah sampah yang umunya tidak dapat membusuk,
misalnya logam/besi, pecahan gelas, plastic, dan sebagainya.
b. Sampah organik
Sampah organik adalah sampah yang pada umunya dapat membusuk,
misalnya sisa-sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan, dan sebagainya.
2. Sampah berdasarkan dapat tidaknya terbakar
a. Sampah yang mudah terbakar, misalnya: kertas, karet, kayu, plastik, kain
bekas dan sebagainya.
b. Sampah yang tidak dapat terbakar, misalnya: kaleng-kaleng bekas,
besi/logam bekas, pecahan gelas, kaca dan sebagainya.
3. Sampah berdasarkan karakteristiknya
a. Abu (ashes)
Abu merupakan sisa pembakaran dari bahan yang mudah terbakar, baik di
rumah, di kantor maupun industri.
b. Sampah jalanan (street sweeping)
Berasal dari pembersihan jalan dan trotoar, terdiri dari kertas-kertas,
kotoran, dan daun.
c. Bangkai binatang (death animal)
Yaitu bangkai binatang yang mati karena bencana alam,
penyakit/kecelakaan.
d. Sampah pemukiman (household refuse)
Yaitu sampah campuran yang berasal dari daerah perumahan.
e. Bangkai kendaraan (abandoned vehicles)
Yang termasuk jenis sampah ini adalah bangkai mobil, truk, kereta api,
satelit, kapal laut, dan alat transportasi lainnya.
f. Sampah industri
Terdiri dari sampah padat yang berasal dari pengolahan hasil bumi,
tumbuh-tumbuhan dan industri lainnya.
g. Sampah hasil dari penghancuran gedung/bangunan (demolotion
waste)Yaitu sampah yang berasal dari perombakan gedung/bangunan.
h. Sampah dari daerah pembangunan
Yaitu sampah yang berasal dari sisa pembangunan gedung, perbaikan,
dan pembaharuan gedung. Sampah dari daerah ini mengandung tanah
batu-batuan, potongan kayu, alat perekat, dan lain-lain.
i. Sampah padat pada air buangan (sewage solid)
Sampah yang terdiri dari benda yang umumnya zat organik, hasil
saringan pada pintu masuk suatu pusat pengolahan air buangan.
j. Sampah khusus
Yaitu sampah yang memerlukan penanganan khusus dalam
pengelolaannya, misalnya kaleng cat, film bekas, za radioaktif, dan zat
yang toksis. (Mukono, 2006).

2.1.4 Komposisi Sampah


Menurut Achmadi (2004) secara umum komposisi sampah di setiap kota
bahkan Negara hampir sama, yaitu :
Tabel 1. Komposisi Sampah
No. Sampah Persentase
1 Kertas dan Karton ± 35%
2 Logam ± 7%
3 Gelas ± 5%
4 Sampah Halaman dan Dapur ± 37%
5 Kayu ± 3%
6 Plastik, Karet, Dan kulit ± 7%
7 Lain – Lain ± 6%

Komposisi atau susunan bahan bahan sampah merupakan hal yang


perlu di ketahui, hal ini penting kegunaannya untuk pemilihan sampah
serta pemilihan alat atau sarana yang di perlukan untuk pengolahan
sampah.

2.1.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kuantitas dan Kualitas Sampah


Menurut Slamet (2004) sampah baik kualitas maupun kuantitasnya sangat
di pengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor
yang penting antara lain :
1. Jumlah penduduk
Dapat di pahami dengan mudah bahwa semakin banyak penduduk,
semakin banyak pula sampahnya.
2. Keadaan sosial ekonomi
Semakin tinggi keadaan sosial ekonomi masyarakat, semakin banyak
jumlah perkapita sampah yang di buang. Perubahan kualitas sampah ini,
tergantung pada bahan yang tersedia, peraturan yang berlaku serta
kesadaran masyarakat akan persoalan persampahan. Kenaikan
kesejahteraan ini pun akan meningkatkan kegiatan konstruksi dan
pembaharuan bangunan-bangunan, transportasi pun bertambah, dan
produk pertanian, industri dan lain-lain akan bertambah dengan
konsekuensi bertambahnya volume dan jenis sampah.
3. Kemajuan teknologi
Kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun kualitas sampah,
karna pemakaian bahan baku yang semakin beragam, cara pengepakan
dan produk manufaktur yang semakin beragam pula.
4. Tingkat pendidikan
Menurut Hermawan (2005) yntuk meningkatkan mutu lingkungan,
pendidikan, mempunyai peranan penting karna melalui pendidikan,
manusia makin mengetahui dan sadar akan bahaya limbah rumah
tangga terhadap lingkungan, terutama bahaya pencemaran terhadap
kesehatan manusia dan dengan pendidikan dapat ditamkan berfikir
kritis, kreatif, dan rasional. Semakin tinggi tingkat pendidikan
selayaknya semakin tinggi kesadaran dan kemampuan masyarakat
dalam pengelolaan sampah.

2.1.6 Hubungan Sampah Terhadap Masyarakat dan Lingkungan


Menurut Chandra, Budiman (2006) pengelolaan sampah di suatu
daerah akan membawa pengaruh bagi masyarakat dan lingungan dari
daerah itu sendiri. Pengelolaan sampah dapat memberikan pengaruh
positif maupun negative terhadap suatu masyarakat dan lingkungan.
Pengaruh positif dari pengelolaan sampah terhadap masyarakat dan
lingkungan antara lain:
1. Sampah dapat di manfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-
rawa dan dataran rendah.
2. Sampah dapat di manfaatkan untuk pupuk
3. Pengelolaan sampah menyebabkan berkurangnya tempat untuk
berkembang biak serangga atau binatang pengerat.
4. Menurunkan insidensi kasus penyakit menular yang erat hubungannya
dengan sampah.
5. Keaadaan estetika lingkungan yang bersih menimbulkan kegairaan
hidup masyarakat.
6. Keadaan lingkungan yang baik mencerminkan kemajuan budaya
masyarakat
7. Keaadan lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran dana
kesehatan suatu Negara sehingga dana itu dapat di gunakan untuk
keperluan lain.
Sedangkan pengaruh negatif sampah terhadap kesehatan dan
lingkungan maupun sosial ekonomi dan budaya masyarakat, antara
lain :
1. Pengaruh terhadap kesehatan
a. Pengelolaan sampah Yang kurang baik akan menjadikan sampah
sebagai tempat perkembangbiakan vektor penyakit seperti lalat,
kecoa.
b. Insidensi penyakit demam berdarah dengue akan meningkat karena
vektor penyakit hidup dan berkembang biak dalam sampah secara
sembarangan misalnya luka akibat benda tajam seperti besi, kaca,
dan sebagainya.
c. Gangguan psikosomatis misalnya sesak nafas, insomnia, stress, dan
lain-lain.
2. Pengaruh terhadap lingkungan
a. Mengurangi nilai estetika lingkungan.
b. Proses pembusukan oleh mikroorganisme akan menghasilkan gas-
gas Tertentu yang menimbulkan bau busuk.
c. Pembakaran sampah dapat menimbulkan pencemaran udara dan
bahaya kebakaran yang lebih luas.
d. Pembuangan sampah kedalam saluran pembuangan air akan
menyebabkan aliran air terganggu dan saluran air akan menjadi
dangkal.
e. Apabila musim hujan datang, sampah yang menumpuk akan
menyebabkan banjir dan mengakibatkan pencemaran pada sumber
air permukaan atau sumur dangkal.
f. Banjir dapat mengakibatkan kerusakan pasa fasilitas masyarakat
seperti jalan, jembatan, dan saluran air.
3. Pengaruh terhadap sosial ekonomi dan budaya masyarakat
a. Pengelolaan sampah yang kurang baik, mencerminkan keadaan
sosial budaya masyakat setempat.
b. Keadaan lingkungan yang kurang baik dan kotor akan menurunkan
minta orang lain (wisatawan) untuk datang berkunjung ke daerah
tersebut.
c. Angka kasus kesakitan meningkat dan mengurangihari kerja dan
produktifitas masyarakat
d. Kegiatan perbaikan lingkungan yang rusak memerlukan dana yang
besar sehingga dana untuk sector lain berkurang.
e. Penurunan pemasukan daerah atau devisa akibat penurunan jumlah
wisatawan yang diikuti dengan penurunan penghasilan masyarakat
setempat.
f. Penurunan mutu dan sumber daya alam sehingga mutu produksi
menurun dan tidak memiliki nilai ekonomis.

2.1.7 Sistem Pembuangan Sampah


Sistem pembuangan sampah terdiri dari (Azwar, 2000):
1. Hot feeding
Pada zaman dahulu, beberapa kota sengaja mengorganisir penggunaan
berbagai makanan babi tetapi pada saat ini jumlahnya tidak layak lagi.
Diperkirakan 25% dari jumlah garbage yang diproduksi setiap hari
yang dipergunakan manusia untuk makanan babi, ditinjau dari dari
segi ekonomi pemusnahan sampah ini menguntungkan.
2. Incenaration
Artinya pembakaran sampah secara besar-besaran melalui fasilitas
(pabrik) yang khusus dibangun.
3. Sanitary landfill
Pembuangan sampah dengan cara menimbundengan tanah tanpa
dilakukan lapis demi lapis, sedemikian rupa sehingga sampah tidak
berada di alam terbuka, jadi tidak sampai menimbulkan bau serta tidak
menjadi tempat binatang bersarang.
4. Composting
Pengolahan sampah menjadi pupuk, yakni dengan terbentuknya zat-zat
organik yang dapat menyuburkan tanah.
5. Discharge to sweers
Di sini sampah harus dilakukan dahulu dan kemudian dibuang ke
dalam saluran pembuangan air bekas.
6. Dumping
Pembuangan dengan diletakkan begitu saja di tanah. Cara ini banyak
dilakukan di Negara-Negara yang masih berkembang.
7. Dumping in water
Yaitu prinsip sama dengan dumping tetapi dibuang ke dalam air
(sungai atau laut).
8. Landfill
Yaitu sampah dibuang tanpa di timbun dengan lapisan tanah.
9. Individual inceneration
Yaitu pembakaran sampah yang dilakukan perorangan di rumah
tangga.
10. Recycling
Pengelolaan sampah dengan maksud pemakaian kembali hal – hal
yang masih bisa dipakai missal kaleng, kaca dan sebagainya.
11. Reduction
Penghancuran sampah menjadi yang lebih kecil dan hasilnya
dimanfaatkan.
12. Reuse
Pemanfaatan beberapa macam sampah yang dipakai kembali.

2.2 SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah)

2.2.1 Pengertian SPAL

Menurut Sugiharto (1987), Air Limbah (waste water) adalah kotoran dari
masyarakat dan rumah tangga dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air
permukaan serta buangan lainnya. Dengan demikian air buangan ini merupakan
hal yang bersifat kotoran umum.

2.2.2 Kondisi dan Syarat-Syarat Pembuangan air Limbah

Untuk mencegah atau mengurangi akibat-akibat buruk dari air limbah


diperlukan kondisi, persyaratan dan upaya-upaya sedemikian rupa sehingga air
limbah tersebut memenuhi kondisi dan persayaratan sebagai berikut :

a. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber air minum.


b. Tidak mengakibatkan pencemaran terhadap permukaan tanah
c. Tidak menyebabkan pencemaran air untuk mandi mandi, perikanan dan air
sungai.
d. Tidak dapat dihinggapi serangga atau tikus dan tidak menjadi tenmpat
berkembang biaknya berbagai bibit penyakit dan vector.
e. Tidak terbuka kena udara luar (jika tidak diolah) serta tidak dapat dicapai oleh
anak-anak.
f. Baunya tidak menganggu
BAB III
METODE PELAKSANAAN PBL

3.1. Lokasi dan Waktu Pengalaman Belajar Lapangan

Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) ini dilaksanakan di Kelurahan


Tanjung Tiram, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara. Pelaksanaan
Pengalaman Belajar Lapangan di laksanakan sejak tanggal 20 Februari sampai
dengan 12 April 2019 dan dilaksanakan di 4 kecamatan yaitu, Tanjung Tiram,
Talawi, Datuk Tanah Datar dan Sei Balai.

3.2. Teknik Pengambilan Sampel


Populasi dalam pelaksanaan Pengalaman Belajar Lapangan ini adalah
seluruh warga Kelurahan Tanjung Tiram Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten
Batu Bara yang berjumlah 2.517jiwa dan 572 KK yang terdiri dari 9 Lingkungan.
Sampel dalam pelaksanaan Pengalaman Belajar Lapangan ini adalah sebagian
warga Kelurahan Tanjung Tiram Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara
yang diambil dengan menggunakan teknik random sampling karena adanya
kerangka sampling di Kelurahan Tanjung Tiram.
Teknik random sampling dapat diterapkan dalam beberapa rumus, namun dalam
kegiatan ini menggunakan rumus Slovin (Sevilla et. al., 1960:182), yaitu :

𝑁 572
𝑛 = 1+𝑁 (𝑑2 )n= n = 85,1 85
1+572(0,12 )

Dimana:
n : jumlah sampel
N : jumlah populasi
e : batas toleransi kesalahan (error tolerance)
Berdasarkan rumus besar sampel minimal diatas, maka n= 85 ≈
85KK. Maka besar sampel minimal sebanyak 85 KK.
3.3. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.
Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi dan wawancara
langsung dengan responden berdasarkan pedoman berupa kuesioner yang telah
diselesaikan sebelumnya. Sedangkan data sekunder diperoleh dari profil
Kelurahan Tanjung Tiram dan profil Puskesmas Pembantu Kelurahan Tanjung
Tiram.

3.3.1. Data Puskesmas


Data yang diperoleh dari Puskesmas Pembantu Kelurahan Tanjung Tiram
merupakan data sekunder. Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan
oleh lembaga pengumpul data dan di publikasikan kepada masyarakat pengguna
data. Metode pengumpulan/pencarian dilakukan secara manual yang berarti
penelusuran data sekunder secara fisik melalui penggunaan indeks, bibliografi,
dan referensi pustakawan. Data yang diperoleh adalah data internal (data yang
sudah tersedia di dalam puskesmas pembantu).

3.3.2. Data Kesehatan Masyarakat


Data kesehatan masyarakat yang didapatkan merupakan data primer
dengan cara observasi dan wawancara langsung dari responden melalui suatu
pertemuan atau percakapan dan interview berdasarkan pedoman – pedoman
berupa kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya. Dengan beberapa tahap
berikut :

1. Tahap Pendekatan
Untuk mendapatkan data kesehatan masyarakat, lebih dahulu
dilakukanpendekatan kepada penduduk, kader kesehatan, dan tokoh – tokoh yang
berperan penting seperti kepala Kelurahan Tanjung Tiram, bidan desa, serta tokoh
– tokoh agama dan masyarakat. Pendekatan dilakukan melalui kunjungan dari
rumah ke rumah (door to door).
2. Observasi
Observasi dilakukan dengan melihat langsung keadaan lingkungan
Kelurahan Tanjung Tirambaik rumah penduduk maupunsarana air
bersih,SaluranPembuangan Air Limbah (SPAL), sampah dan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS). Data kesehatan masyarakat dikumpulkan melalui
observasi menggunakan kuesioner.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan secara langsung kepada masyarakat di Kelurahan
Tanjung Tiram dengan menggunakan kuesioner tertulis yang telah dipersiapkan,
dengan cara mengunjungi rumah penduduk satu persatu. Data kesehatan
masyarakat yang dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner,
meliputi :

1) Data Sosiodemografi :nama anggota rumah tangga, jenis kelamin, umur,


pendidikan, pekerjaan.
2) Data Epidemiologi :penyakit yang diderita masyarakat satu bulan terakhir,
nama penderita, tempat berobat, sumber biaya, umur, penyakit menular yang
diderita.
3) Data kesehatan lingkungan : komponen rumah, sarana dan sanitasi, sumber air
bersih, SPAL, dan pengelolahan sampah.
4) Data perilaku : pola hidup bersih dan sehat, gizi KIA, dan kesehatan
lingkungan.
5) Data Gizi : Jumlah konsumsi keluarga, ASI dan Makanan Pendamping ASI.
6) Data kesehatan ibu dan anak : umur WUS, bayi dan balita, ibu hamil,
kepemilikan KMS dan pemeriksaan kehamilan (antenatal care), penggunaan
KB.
7) Data pelayanan kesehatan : sarana dan pelayanan kesehatan, frekuensi berobat
dan sumber biaya.
Setelah dilakukan observasi dan wawancara, data yang telah dikumpulkan
diolah dan dianalisis secara deskriptif, kemudian hasil disajikan dalam bentuk
tabel.
3.3.3. Pengolahan dan Analisis Data
a. Pengolahan data
Pengolahan data adalah suatu proses pemasukan data (input), transformasi
data, penyajian data dan terinterpretasi data. Pengolahan data menggunakan
beberapa tahapan, yaitu:
1. Penyuntingan (editing) adalah proses memeriksa kelengkapan kuesioner,
konsistensi jawaban responden, serta melakukan perbaikan apabila terdapat
kesalahan dalam pengisian kuesioner.
2. Pemasukan data ke dalam aplikasi komputer. Aplikasi yang digunakan
adalah SPSS. Aplikasi ini dapat menangani pengolahan data mulai dari
pemasukan data, penyuntingan, dan analisis data.
3. Tabulasi adalah mengelompokkan data atau menyusun data secara
deskriptif dalam tabel yang telah dibuat sesuai tujuan.
b. Analisis data
Setelah data dikelompokkan dan disusun secara deskriptif dalam bentuk tabel
(tabulasi), kemudian data dianalisis. Analisis data ini hanya menghasilkan
distribusi dan persentase dari tiap variable secara deskriptif.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PELAKSANAAN PBL

4.1.1 ANALISIS SITUASI

Survey analisa situasi dilakukan dengan metode observasi dan wawancara


menggunakan alat bantu berupa kesioner kesehatan yang disebarkan ke 85 KK
dari 572 KK yang berada di Kelurahan Tanjung Tiram.Dari analisa situasi
diangkat 3 prioritas masalah, diantaranya Merokok di dalam rumah (77,9%),
Tempat pembuangan air limbah dari kamar mandi/ tempat cuci/dapur langsung ke
got/sungai (50,0%), Buang sampah sembarangan (35,7%). Tiga prioritas masalah
tersebut dibawa ke rembug kelurahan.

4.2. REMBUG KELURAHAN

4.2.1. Metode Pelaksanaan Rembug Kelurahan


Rembug kelurahan adalah kegiatan musyawarah kelurahan dalam usaha
untuk menyelesaikan pemecahan permasalahan kesehatan dengan kesepakatan
bersama untuk memilih prioritas masalah oleh tokoh-tokoh masyarakat kelurahan.
Tujuan dari kegiatan Rembug Kelurahan adalah mencari prioritas masalah dari
beberapa masalah yang ditemukan melalui survei, lalu dipecahkan bersama
melalui kegiatan diskusi bersama masyarakat sehingga diperoleh suatu intervensi
yang sesuai.
Penentuan prioritas masalah merupakan bagian penting dalam proses
pemecahan masalah dikarenakan terbatasnya sumber daya yang tersedia, dan
karena adanya hubungan antara satu masalah dengan masalah lainnya dan karena
itu tidak perlu semua masalah diselesaikan. Selain itu diharapkan masalah yang
menjadi prioritas merupakan masalah yang lebih dominan dan dapat diselesaikan
bersama dengan masyarakat setempat.
Dalam menentukan prioritas masalah di dalam Rembug Kelurahan kami
menggunakan metode CARL, dimana metode CARL dilakukan dengan
membagikan angket kepada tiap perwakilan baik dari perangkat kelurahan
maupun masyarakat untuk diisi dengan skor CARL yang telah tersedia. Setelah
masing-masing anggota memberikan penilaian dengan mengisi angket, salah satu
tim angket mengumpulkan dan menghitung rata-rata skor dari semua variabel.
Setelah semua variabel diberikan penilaian antara 1-5, maka masing-masing kasus
kita hitung skor totalnya dengan cara : C x A x R x L kemudian diurutkan
berdasarkan skor yang tertinggi. Masalah kesehatan yang mendapat skor tertinggi
merupakan masalah kesehatan yang menjadi prioritas.
Kriteria Teknik C A R L yaitu sebagai berikut:

a. Capability (kemampuan untuk memecahkan masalah) yaitu ketersediaan


sumber daya (dana, sarana, dan peralatan)
b. Accesibility (kemudahan pemecahan masalah) yaitu kemudahan masalah
yang ada mudah diatasi atau tidak. Kemudahan dapat didasarkan pada ketersedian
metode/cara/teknologi serta penunjang pelaksanaan seperti peraturan.
c. Readiness (kesiapan untuk memecahkan masalah) yaitu kesiapan dari
tenaga pelaksana maupun kegiatan sasaran meliputi keahlian, kemampuan,
ataupun motivasi.
d. Leverage (sumber daya yang dapat digali) yaitu sumber daya yang dapat
digali dan seberapa besar pengaruh criteria yang satu dengan yang lain dalam
pemecahan masalah yang dibahas.

4.2.2. Peserta Rembug Kelurahan


Kegiatan rembug di Kelurahan Tanjung Tiram dilaksanakan pada Senin,
18 Maret 2019 pukul 10.00-12.00 WIB di Aula Kelurahan Tanjung Tiram yang
diikuti oleh 25 orang yang terdiri dari Kepala Lurah ,Sekertaris Kelurahan,
Perangkat Kelurahan, Perwakilan PKK Kelurahan, Perwakilan Tokoh Agama,
Kepala Puskesmas, Karang Taruna, Bidan Desa Kelurahan Tanjung Tiram,
Perwakilan Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama.
4.2.3. Alat Bantu Rembug Kelurahan
Adapun peralatan serta perlengkapan yang dibutuhkan dalam Rembug
Desa diantaranya daftar hadir, pena, angket, dan media penyajian materi berupa
proyektor dan laptop.

4.2.4. Tahapan Pelaksanaan Rembug Kelurahan


Adapun tahapan pelaksanaan Rembug Kelurahanadalah:

1. Pembukaan oleh moderator yang berisi ucapan selamat datang dan ucapan
terima kasih.
2. Kata Sambutan dari Kepala Lurah Tanjung Tiram Kecamatan Tanjung
Tiram Kabupaten Batu Bara.
3. Kata sambutan dari Ketua Kelompok PBL FKM USU sekaligus
penjelasan mengenai tujuan diadakannya Rembug Kelurahan.
4. Penyajian masalah kesehatan yang diperoleh dari analisis data primer dan
data sekunder yang telah diperoleh sebanyak tiga masalah di Kelurahan
Tanjung Tiramadalah Kurangnya Kesadaran masyarakat dalam menangani
permasalahan sampah, Tidak tersedianya saluran pembuangan air limbah
(SPAL) yang memadai, dan kebiasaan merokok didalam dan diluar rumah.
5. Peserta rembug Kelurahan diperkenankan mengajukan pertanyaan
mengenai masalah yang dipaparkan.
6. Penyajian penjelasan tentang pemberian skor dengan metode CARL.
7. Setelah memberikan paparan tentang masalah yang diangkat, peserta
Rembug Kelurahan diperkenankan untuk memberikan penilaian (skor).
8. Setelah peserta Rembug Kelurahan memberikan nilai (skor), selanjutnya
dilakukan perhitungan untuk menentukan nilai tertinggi yang dijadikan
prioritas masalah.
9. Setelah didapatkan prioritas masalah, selanjutnya musyawarah penentuan
intervensi yang akan dilakukan terhadap prioritas masalah.
Cara penilaian menggunakan metode CARL adalah dengan cara memberi skor
sebagai berikut :

- Angka 5 akurasi sangat kuat


- Angka 4 akurasi kuat
- Angka 3 akurasi sedang
- Angka 2 akurasi lemah
- Angka 1 akurasi sangat lemah

Peserta rembug desa memberi skor 1 sampai dengan 5 terhadap masalah


kesehatandan selanjutnya ditentukan prioritas masalahnya dengan cara mengkali
seluruh kriteria Teknik CARL (Cx AxR x L) maka hasil pengkalian dengan skor
tertinggi adalah prioritas utama.

CxAxRxL

Adapun pembagian tugas dalam kegiatan rembug desa ini adalah:


1. Penanggung Jawab : Yuki Fransiscus Mandrofa
2. Moderator : Novia Rahma Putri Siregar
3. Presentator : Yunita Siburian
4. Pemateri Teknik : Fransiska Tumangger
5. Operator : Ria Agnes Tambunan
6. Notulen : Fuji Maryanti Aritonang
7. Konsumsi : Nurul Dilla Delfia Sudirman
8. Pendamping Warga : Fernando Tri Putra Marpaung
9. Pendamping Unsur Kelurahan : Haslinda
10. Dokumentasi : Annisa Fadhilla Nst
4.3. Minilokakarya Puskesmas

Mahasiswa PBL yang berada di Kecamatan Tanjung Tiram tidak


mengikuti kegiatan minilokakarya puskesmas namun mengikuti kegiatan rapat
minilokakarya yang dilaksanakan pada tanggal 11 April 2019 di Puskesmas
Tanjung Tiram

4.4. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat

4.4.1. Rencana Intervensi Hasil Rembug Kelurahan


1. Melaksanakan Gotong Royong bersama Masyarakat Kelurahan Tanjung
Tiram
2. Melaksanakan Gerakan Pungut Sampah

4.4.2. Intervensi
1. Gotong Royong
Mengajak masyarakat dengan bergotong royong bersama di kelurahan
dengan cara mendatangi rumah warga setiap lingkungan di Kelurahan
Tanjung Tiram.
Teknik gotong royong dilakukan dengan membagi kelompok berdasarkan
lingkungan. Setiap mahasiswa PBL di bagi menjadi tiga kelompok
dimana satu kelompok terdiri dari tiga orang, ketiga orang tersebut turut
membantu kepala lingkungan dan warga dalam membersihkan sampah

2. Gerakan Pungut Sampah


Kelurga yang menjadi sampel diberikan kantong sampah yaitu plastik
yang berukuran 50x7 bewarna hitam dimana kantong plastik tersebut
digunakan secara terus-menerus sampai bentuk fisik dari kantong plastik
tidak dapat digunakan lagi.
Dilakukan investigasi dua hari kemudian
Setiap sampel yang terpilih dijadikan sebagai keluarga percontohan bagi
keluarga lain dengan memberikan stiker pada bagian depan rumah.
Gambar 1 Gotong Royong Gambar 2 Gerakan Pungut Sampah

4.4.3. Hasil Intervensi


1. Gotong Royong
Pemerintah Kelurahan Tanjung Tiram melaksanakan jumat bersih setiap minggu
dimana sebelumnya gotong royong hanya dilakukan oleh pihak Kecamatan sekali
sebulan
Beberapa masyarakat sudah mulai ikut bergotong royong
2. Gerakan Pungut Sampah
Masyarakat sudah tidak membuang sampah sembarangan dan mau untuk membuang
sampah di TPS
4.5. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Tambahan
4.5.1. Cuci Tangan Pakai Sabun di SD Negeri Kelurahan Tanjung Tiram

Penyuluhan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)


Hari/Tanggal : Senin, 01 April 2019
Waktu : 08.00-11.00 WIB
Tempat : SDN Kelurahan Tanjung Tiram
Peserta : Mahasiswa PBL FKM USU dan siswa SD kelas5
Alat Bantu :Sabun,ember,cendera mata berbentuk Poster bergambar tangan yang diletak
diatas kepala dan hadiah berupa permen bagi peserta yang aktif menjawab
pertanyaan.
Teknis : Basahi kedua telapak tangan memakai air yang di siram pakai gayung, di
kasih sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak tangan, usap dan gosok
juga kedua punggung tangan secara bergantian, kemudian gosok jari – jari
tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih, bersihkan ujung jari secara
bergantian dengan mengantupkan, gosok dan putar kedua ibu jari secara
bergantian, letakkan ujung jari ke telapak kemudian gosok perlahan, bersihkan
kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan cara memutar, kemudian
di akhiri dengan air bersih yang di siram dengan menggunakan gayung lalu di
keringkan memakai handuk.

Gambar 3 Kegiatan Cuci Tangan Pakai Sabun


4.5.2. Sosialisasi Hidup Sehat Tanpa Rokok di SMP Swasta Kelurahan Tanjung Tiram

Penyuluhan tentang bahaya merokok di SMP Swasta Tanjung Tiram


Hari/Tanggal : Selasa, 02 April 2019
Waktu : 10.00-11.30 WIB
Tempat : Ruangan Kelas
Peserta :Siswa/I SMP Swasta Tanjung Tiram dan Mahasiswa PBLFKM USU
Alat Bantu : Botol Air Mineral, Rokok, Tissue, Korek Api
Langkah Kerja:1. Siapkan botol air mineral beserta tutup botol yang sudah dilubangi.

2. Masukkan batang rokok ke tutup botol yang sudah dilubangi,pasang ujung


rokok menghadap ke dalam botol.

3. Nyalakan rokok menggunakan korek api.


4. Pasangkan tutup botol ke botol.
5. Tutupilah batang rokok yang ada diluar botol menggunakan kapas.
6. Tekan badan botol secara perlahan sampai rokok terbakar habis.
7. Lepas tutup botol lalu pasang kapas yang lain menutupi lubang botol,ikat
dengan karet.
8. Tekan lagi badan botol secara perlahan sampai asap didalam botol habis.
Percobaan 1
Warna kuning kecokelatan, kotoran pekat dan menempel diseluruh permukaan kapas.
Percobaan 2
Warna cokelat, kotoran menempel pada sebagian permukaan kapas.
Pembahasan
kami melakukan dua percobaan dalam satu waktu. Pada percobaan pertama menguji kadar
asap rokok bagi perokok aktif dan percobaan kedua menguji kadar asap rokok bagi perokok
pasif.
Pada percobaan pertama, kami memasukkan ujung batang rokok yang kondisinya
sudah terbakar pada tutup botol yang sudah dilubangi dan dipasangkan ke botol. Dengan
menyumbat pangkal batang rokok yang berada diluar botol menggunakan kapas,kami
menyimulasikan rokok yang sedang dihisap masuk ke dalam mulut. Hasilnya terdapat
gumpalan residu asap rokok berwarna kuning kecokelatan yang menempel pada permukaan
kapas. Hal ini membuktikan bahwa kandungan zat didalam rokok akan menimbulkan bekas
kotoran pada paru-paru perokok aktif.
Sedangkan pada percobaan kedua,setelah tutup botol dilepas dan diganti ditutupi
menggunakan kapas lain yang diikatkan pada lubang botol,lalu menekan bagian badan botol.
Kami menyimulasikan asap rokok yang dihirup oleh orang lain. Asap rokok yang terdapat di
dalam botol ditekan sehingga keluar melalui kapas. Kapas yang diikatkan pada lubang botol
perlahan berubah warna menjadi cokelat gelap dan meninggalkan gumpalan residu di
permukaan. Hal ini membuktikan bahwa orang yang menghirup asap rokok (perokok pasif)
dapat menyebabkan masuknya kotoran kedalam paru-paru.

Kesimpulan
Pada percobaan pertama,setelah kapas di sumbatkan ke pangkal rokok,terdapat
gumpalan residu asap rokok pada permukaan kapas dan kapas berubah warna menjadi kuning
kecokelatan. Dan pada percobaan kedua,kapas yang diikatkan pada lubang botol berubah
warna menjadi cokelat gelap setelah asap rokok yang ada didalam botol ditekan keluar.
Terdapat perbedaan yang jelas dari kedua kapas yang digunakan untuk percobaan.
Kapas pada percobaan pertama mengumpulkan kotoran yang lebih pekat. Sedangkan kapas
pada percobaan kedua mengumpulkan kotoran tidak sepekat kapas yang pertama.
Jadi,baik perokok aktif maupun perokok pasif merasakan dampak buruk dari paparan
asap rokok. Asap rokok yang dihirup masuk kedalam paru-paru akan menimbulkan
permasalahan pada bagian sistem pernapasan.

Gambar 4 Sosialisasi Bahaya Merokok


4.5.3. Partisipasi Posyandu Ibu Hamil
Hari/ Tanggal : Kamis, 28 Februari 2019
Waktu : 10.00-12.00 WIB
Tempat : Puskesmas Pembantu Kelurahan Tanjung Tiram
Peserta : Tenaga Medis, Bidan Desa, kader Posyandu Ibu Hamil setiap Lingkungan
dan Mahasiswa PBL FKM USU
Alat Bantu : Leaflet, Buku dan Pulpen.

Gambar 5 Posyandu Ibu Hamil


4.5.4. Partisipasi Posyandu Balita
Hari/ Tanggal : Rabu, 06 Maret 2019
Waktu : 09.00 s/d Selesai
Tempat : Puskesmas Pembantu Kelurahan Tanjung Tiram
Peserta : Tenaga Medis Puskesmas Tanjung Tiram, Bidan Desa, Kader Lingkungan
6,7,8,Orang Tua dan Balita, Mahasiswa PBL FKM USU
Alat Bantu : Timbangan Balita, Alat ukur tinggi, alat-alat untuk imunisasi Buku
danPulpen.

Gambar 6 Posyandu Balita


4.5.5. Partisipasi dalam Pengajian
Hari/Tanggal : Setiap Malam Selasa
Waktu : 20.30-22.00 WIB
Tempat : bergantian di salah satu rumah anggota pengajian
Peserta : Warga Tanjung Tiram, Ustadz dan Mahasiswa PBL FKM USU
Alat Bantu : Buku Yasin, Speaker, Microfone

Gambar 7 menghadiri Perwiritan di Kelurahan


4.5.6 Partisipasi dalam Perwiritan Laki-Laki
Hari/Tanggal : Setiap Hari Kamis
Waktu : 19.05 / 20.15 WIB
Tempat : bergantian di salah satu rumah warga Kelurahan
Peserta : Kaum Laki-LakiUstadz dan Mahasiswa PBLFKM USU
Alat Bantu : Buku Yasin, Speaker, Microfone

4.5.7 Partisipasi pada Hari Gizi Nasional Ke- 59 Kec. Tanjung Tiram Kab.Batu bara
Hari/Tanggal : Minggu, 24 Maret 2019
Waktu : 08.00- 12.00 WIB
Tempat : Kantor Camat Tanjung Tiram Kab. Batu Bara
Peserta : Mahasiswa PBL FKM USU

4.5.8 Kegiatan Minilokakarya


Hari/Tanggal : Kamis, 11 April 2019
Waktu : 09.00-11.00 WIB
Tempat : Puskesmas Tanjung Tiram
Peserta : Ketua dan Sekertaris Mahasiswa PBL FKM USU
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat kami ambil selama 9 minggu kegiatan Pengalaman Belajar
Lapangan (PBL) di Kecamatan Tanjung Tiram Kelurahan Tanjung Tiram sebagai
berikut:

1. Survey analisa situasi dilakukan dengan metode observasi dan wawancara


menggunakan alat bantu berupa kesioner kesehatan yang disebarkan ke 85 KK dari
572 KK yang berada di Kelurahan Tanjung Tiram.

2. Dari analisa situasi diangkat 3 prioritas masalah, diantaranya Merokok di dalam


rumah (77,9%), Tempat pembuangan air limbah dari kamar mandi/ tempat cuci/dapur
langsung ke got/sungai (50,0%), Buang sampah sembarangan (35,7%).

3. Tiga prioritas masalah tersebut dibawa ke rembug kelurahan yang dihadiri oleh Lurah,
Kepala pusekesmas, Bidan Kelurahan, Ibu PKK, Kepala lingkungan, Karang Taruna
(ketua karang taruna),Tokoh Masyarakat dan tokoh Agama. Untuk menentukan
masalah yang perlu diprioritaskan kami menggunakan formulir CARL yang berisi tiga
prioritas masalah yang disebarkan ke semua unsur yang hadir. Sehingga disimpulkan
prioritas masalah adalah Buang sampah sembarangan.

4. Dari prioritas masalah yang sudah di rembugkan, kegiatan intervensi yang dilakukan
berupa gotong royong dilakukan 2 kali dalam sebulan yaitu pada tanggal 27 Maret
dan 3 April 2019 dan gerakan pungut sampah (GPS) .

5. Kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat Kelurahan Tanjung Tiram berupa


mengikuti pengajian, kelas ibu hamil, posyandu balita, sosialisasi hidup sehat tanpa
rokok, cuci tangan pakai sabun, dan senam lansia.
6. Masyarakat Tanjung Tiram menyambut kami dengan baik, beberapa kegiatan kami
dibantu oleh masyarakat, dan apabila kami mengadakan kegiatan masyarakat turut
berpartisipasi untuk hadir maupun meminjamkan peralatan yang kami butuhkan.

5.2 SARAN

Adapun saran yang dapat di berikan berdasarkan hasil dari kegiatan Pengalaman
Belajar Lapangan (PBL) yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Diharapkan keluarga yang menjadi sampel percontohan gerakan pungut sampah (GPS)
perpanjangan tangan dari kami jika menemukan ada tetangga atau saudara yang buang
sampah sembarangan baik ke sungai maupun sekitar pekarangan rumah supaya tidak buang
sampah sembarangan.

2. Diharakan program yang telah dilaksanakan dapat menambah wawasan masyarakat di


Tanjung Tiram.

3. Diharapkan peran Kepala Lingkungan diperkuat sehingga perilaku masyarakat untuk


buang sampah sembarangan di Tanjung Tiram berkurang.

4. Diharapkan kepada mahasiswa yang selanjutnya melakukan kegiatan Pengalaman Belajar


Lapangan (PBL) dapat melanjutkan atau memantau kegiatan atau program yang sudah ada di
Kelurahan Tanjung Tiram.