Anda di halaman 1dari 4

3.

Mendampingi Siswa Latihan Pelaksana Upacara

Kegiatan Mendampingi siswa latihan pelaksana upacara telah memberikan konstribusi


pada Misi SDN Beringin Indah yang ke 2 yaitu “Membentuk sumber daya manusia yang
aktif, kreatif, dan inovatif sesuai dengan perkembangan zaman”.

1) Menyampaikan kepada siswa yang mendapatkan giliran melaksanakan upacara


(Akuntabilitas: Kejelasan)
a. Capaian Hasil Kegiatan
Kegiatan mendampingi siswa latihan pelaksana upacara dilaksanakan di Lapangan
SDN Beringin Indah pada pukul 10.25-10.45 WITA. Tahapan pertama menyampaikan
kepada siswa kelas IV dan V dengan sopan dan santun sambil tersenyum, bahwa mereka
yang mendapatkan giliran melaksanakan upacara. Tujuan penyampaian ini agar siswa kelas
IV dan V bersiap untuk latihan (kejelasan/Akuntabilitas) dan tidak lagi saling menunjuk
atau mencari kelas yang akan menjadi pelaksana upacara.
b. Analisis Dampak
Jika tidak ada kejelasan (Akuntabilitas), maka siswa akan bingung mengenai kelas
yang akan mendapatkan giliran pelaksana upacara. Tiba waktu latihan, tidak ada siswa yang
hadir atau datang untuk latihan, dalam hal ini yang rugi adalah Guru Pendamping/Pelatih
Pelaksana Upacara dan Wali Kelas. Jika awalnya tidak disampaikan, siswa akan mengeluh
dan menganggap mereka tidak diperhatikan dan kadang pula beranggapan pada hari Senin
tidak akan dilaksanakan upacara karena tidak ada penyampaian latihan.
2) Berkoordinasi dengan guru dalam Menentukan waktu latihan (Nasionalisme:
Kerja sama)
a. Capaian Hasil Kegiatan
Menentukan waktu latihan bekerja sama (Nasionalisme) dengan pelatih upacara
yang lain, wali kelas dan siswa agar waktu yang ditentukan tidak mengganggu proses
pembelajaran.Waktu yang disepakati adalah jam istirahat kedua, kesepakatan berdasarkan
kesiapan siswa. Sebagian siswa tidak siap jika latihannya pada sore hari sehingga latihan
dilaksanakan pada jam istirahat agar tidak mengganggu proses pembelajaran. Penentuan
waktu latihan tersebut disampaikan kepada Wali Kelas agar waktu yang telah disepakati oleh
siswa diketahui oleh Wali Kelas. Kesepakatan waktu latihan disampaikan kepada Wali Kelas
agar bisa bekerja sama (Nasionalisme) dalam melatih pelaksana upacara.

39
b. Analisis Dampak
Jika tidak bekerja sama (Nasionalisme) dengan Wali kelas IV maka akan terjadi
kesalapahaman yang menyebabkan timbulnya kesenjangan hubungan antara sesama guru.
Kegiatan yang direncanakan tidak akan berjalan lancar dan imbasnya citra guru dihadapan
siswa rusak karena memberikan kesan guru yang tidak bisa bekerja sama (Nasionalisme)
dengan baik padahal harusnya memberikan contoh yang baik. Jika waktu yang ditentukan
mengganggu proses pembelajaran maka siswa akan dirugikan termasuk guru yang sedang
mengajar. Hal demikian telah merugikan banyak pihak baik siswa maupun guru.
3) Membagi tugas kepada siswa yang akan melaksanakan latihan pelaksana
upacara (Nasionalisme: Tidak mendiskriminasi, Kerja sama, Etika Publik:
Sopan, santun)
a. Capaian Hasil Kegiatan
Pada jam istirahat kedua, perangkat upacara (Susunan Acara, UUD 1945, Pancasila,
Doa, Janji Siswa) dibagikan kepada siswa yang akan latihan pelaksana upacara. Pembagian
tugas tersebut tidak mendeskriminasi (Nasionalisme) siswa. Setiap siswa bebas memilih
tugas yang akan dilaksanakan. Kegiatan membagikan perangkat upacara dilakukan dengan
sopan dan santun (Etika Publik) dan menanyakan kepada siswa perangkat upacara yang
diinginkan, ternyata siswa telah bersepakat dengan tugas masing-masing yang ditentukan
sendiri jauh hari sebelumnya, sehingga tidak ada tugas yang kosong. Saya menghargai
kesepakatan yang telah buat oleh siswa agar tercipta kerja sama yang dinamis dan
menyenangkan.
b. Analisis Dampak
Jika dalam pembagian tugas mendiskriminasi (Nasionalisme) siswa maka akan
membuat siswa tersinggung. Ketesinggungan yang timbul kemudian membuat siswa tidak
percaya diri dan selalu menggap diri rendah. Tidak percaya diri adalah penyakit yang
memngakibatkan seseorang tidak berpandangan jauh kedepan dan menghambat diri untuk
berkembang lebih baik. Perlakuan diskriminasi (Nasionalisme) ini sangat fatal akibatnya
baik dari contoh yang kecil maupun contoh yang besar. Contoh kecil orang yang
didiskriminasi (Nasionalisme) akan mengalami sedikit gangguan mental dan berpengaruh
terhadap kepribadiannya nanti. Jika perlakuan tersebut ditanggapi positif maka akan
dijadikan motivasi untuk lebih baik, namun jika tanggapanya negatif maka akan
menimbulkan kegagalan perkembangan yang akhirnya membuat seseorang jauh tertinggal
dan akhirnya memicu untuk dikucilkan.

40
Jika tidak meminta dengan sopan dan santun (Etika Publik) pada siswa untuk
mengisi tugas kosong maka siswa enggan untuk mengambil tugas kosong tersebut. Jangankan
dengan kata kasar dan sikap tak sopan (Etika Publik), diminta dengan baik saja kadang
siswa enggan untuk melaksanakan apalagi dengan sikap yang tidak menyenangkan. Perilaku
sopan (Etika Publik) dan santun adalah awal kerjasama yang baik, namun perlakukan
kurang sopan (Etika Publik) dan kasar adalah awal dari konflik batin dan konflik fisik. Bisa
jadi jika selanjutnya dilakukan pelatihan pelaksana upacara, siswa tidak mau lagi dilatih oleh
guru berilaku kasar dan kurang sopan (Etika Publik). Sehingga akan tercipta jarak yang
berakibat buruk antara siswa dan guru.
4) Membimbing siswa latihan pelaksana upacara (Komitmen Mutu: Empaty, Etika
Publik: Sopan, santun)
a. Capaian Hasil Kegiatan
Selanjutnya siswa diarahkan menuju lapangan dan membimbing mereka latihan
pelaksana upacara. Saya mendampingi siswa latihan dan memberikan arahan dengan penuh
rasa empaty (Komitmen Mutu) yakni bimbingan dengan tulus. Meskipun siswa melakukan
kesalahan tetap dimaklumi dan diberikan semangat karena kesalahan adalah jalan menuju
sesuatu yang jauh lebih baik. Saya menggunakan bahasa yang santun dan sikap yang sopan
(Etika Publik) saat mengarahkan agar siswa betah latihan. Matahari yang bersinar terik bisa
saja memicu mereka untuk mengeluh dan kesal, apalagi jika mendengarkan nada suara yang
keras dan sikap yang menujukkan kurang penghargaan atas usaha untuk latihan. Latihan
pelaksanaan upacara berlangsung sekitar 15 menit.
b. Analisis Dampak
Tujuannya mendampingi dengan empaty (Komitmen Mutu) agar siswa bersemangat
untuk latihan karena merasa dihargai dan dibutuhkan sehingga proses latihan berjalan lancar
sesuai harapan. Jika siswa dibimbing tanpa rasa empaty (Komitmen Mutu) maka akan
menyurutkan semangat siswa untuk latihan. Semangat yang surut saat latihan tidak
membuahkan hasil yang maksimal dan secara tidak langsung akan menghasilkan sesuatu
yang tidak memuaskan. Apalagi siswa latihan saat matahari bersinar terik, maka siswa akan
meresa tertekan, terpaksa latihan dan menimbulkan rasa jengkel bagi siswa dan terciptalah
hubungan yang tidak harmonis. Jika tidak menggunakan bahasa santun dan sikap sopan
(Etika Publik) saat mengarahkan, maka siswa akan kecewa karena merasa diperlakukan
semena-mena sehingga tidak menunjukkan sikap kerja sama yang baik. Jika sudah terjadi
demikian, latihan yang dilakukan sia-sia dan hanya membuang waktu. Dilain waktu, ketika

41
siswa akan dilatih kembali oleh pelatih yang sama maka mereka enggan latihan dan bersikap
apatis dengan tugas pelaksana upacara yang telah menjadi kewajiban rutin mereka.
5) Mengoreksi kesalahan siswa (Etika Publik: Tepat)
a. Capaian Hasil kegiatan
Setelah selesai latihan siswa berkumpul di depan kelas untuk melakukan evaluasi
latihan. Kesalahan maupun kekurangan yang dilakukan saat latihan pelaksana upacara
dikoreksi dengan tepat (Etika Publik). Artinya, dikoreksi sesuai dengan kesalahan yang
masih dilakukan seperti pada pembacaan Susunan Acara, Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945, pembacaan Doa, dan pembacaan Janji Siswa. Tujuan mengoreksi kekurangan dan
kesalahan dengan tepat (Etika Publik) untuk menjaga semangat dan tidak menyinggung
perasaan siswa, dan memberikan motivasi bahwa mereka bisa melakukan yang terbaik.
b. Analisis Dampak
Menyampaikan kekurangan dan kesalahan yang masih dilakukan saat latihan dengan
tepat (Etika Publik) untuk menjaga semangat dan tidak menyinggung perasaan siswa.
Sehingga, siswa merasa dihargai dan memotivasi mereka untuk melakukan yang lebih baik.
Jika menyampaikan kekurangan dan kesalahan dengan tidak tepat (Etika Publik), maka
akan menyinggung perasaan siswa. Ketersinggungan tersebut akan melukai perasan dan
membuat siswa kurang percaya diri, sehingga pada pelaksanaan upacara, siswa tersebut
hanya melaksanakan tugas dengan tujuan menggugurkan tanggung jawab, bukan atas dasar
keinginan hati.
Kegiatan “Mendampingi siswa latihan pelaksana upacara” telah memberikan
konstribusi terhadapa Misi SDN Beringin Indah yang ke 2 yaitu “Membentuk sumber daya
manusia aktif, kreatif, dan inovatif sesuai dengan perkembangan zaman”.

42