Anda di halaman 1dari 2

(Ali Imran 103).

Sesuai dengan sabda nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam "Taraktu fiikum amraini maa in", kutinggalkan padamu dua perkara "tamassaktum bihimaa", kalau
kamu pegang teguh yang dua ini, "lan tadhilluu'abadan", kamu tidak akan tersesat untuk selamanya, "Kitaaballaahi wa sunnata rasuulihi", Al Quran dan sunnah nabi
Muhammad salallahu alaihi wassalam. Hadis riwayat Al Hakim dalam Kitab Al Mustadrak, Imam Malik dalam Kitab Al-Muwaththa. Kalau kita tidak paham Al Quran,
tidak mengerti hadis, kemana kita pergi, taatlah kepada Allah, lihat Al Quran, taatlah kepada rasul, lihat sunnah nabi. Jika tidak paham, wa ulil amri mingkum maka
bertanyalah kepada ulama. Itu yang disebut dalam hadis "al-'ulama warasatul anbiya".

Kita tidak langsung kembali kepada Al Quran, karena ada ulama yang mengerti bagaimana mereka menafsirkan Al Quran.

Seandainya hilang tali ontaku, kata Abdullah Ibnu Abbas, pastilah aku akan mendapatkannya dalam Al Quran. Sampai-sampai tali onta yang hilangpun dia temukan
dalam Al Quran, lalu mengapa kita menemukan jawaban atas segala problematika masalah keumatan? Karena sesungguhnya kelemahan akal kita. Allah tidak mencabut
ilmu seperti tercabutnya akar pokok kayu dari tanah, tapi Allah mencabut ilmu dengan matinya para ulama. Meninggal Hadratus Syekh Hasyim Ashari sampai hari ini
belum tergantikan bagaimana ilmu pengetahuannya. Meninggal Kyai Haji Ahmad Dahlan belum tergantikan bagaimana kehebatan ilmunya, meninggal Buya Haji
Abdul Malik Karim Amrullah, bagaimana keindahan tulisan sastranya, bagaimana tafsir Al Azharnya. Ini semua adalah bagaimana cara Allah mencabut ilmu sehingga
di akhir zaman tinggallah juhala, orang-orang jahil yang mengeluarkan fatwa tanpa ilmu. Alhamdulillah, hari ini kita masih berpegang teguh.

Nah, tentang persatuan umat ini. Kita malam ini melihat beraneka ragam. Bangunan ini ada lantai, ada tiang, ada atap, ada kubah. Menjadi indah karena ada
keberanekaragaman. Tuan guru, qori kita tadi membacakan ayat-ayat Al Quran. Ada lagu nahawan, ada sikah ada shoba rost ada jaharkah, bayati. Itu yang membuat
suara itu menjadi indah. Kalau satu saja maka tidak indah. Maka orang yang mengerti persatuan umat, bukan disatukan umat ini menjadi satu tetapi menjadikan kita
menjadi satu arah. Ini yang disebut oleh Syekh Yusuf Qardawi, jalannya macam-macam tapi tujuannya tetap satu. Sama seperti kita sampai ke mesjid yang besar ini
pada malam ini. Ada yang datang naik mobil, ada yang datang naik kereta api, ada yang datang naik pesawat, ada yang datang naik ojek, semuanya sampai. Kita tidak
mempermasalahkan kita datang naik apa, tapi yang kita jadikan tujuan adalah satu. Begitu juga dengan berpegang teguh pada tali Allah.

Kita lihat bagaimana Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam. Ada sahabat nabi itu orang arab quraish, ada sahabat nabi itu orang arab tapi tidak quraish, inilah
orang-orang Madinah yang disebut dengan anshor, seperti Saad bin Robik, Muaz bin Jabbal. Ada sahabat nabi itu bukan orang arab, orang Nubia. Mesir di atas (di
peta), Libya di samping, di bawah Mesir ada Sudan, dan satu kota di perbatasan Mesir dan Sudan disebut Nubia. Itulah kampung Bilal bin Abi Rabbah. Lalu kemudian
ada sahabat-sahabat yang berasal dari Habasah, yaitu Ethiopia, Abesenia. Mereka adalah orang-orang berkulit hitam dari Afrika dan sahabat nabi pernah hijrah kesana.
Ada pula sahabat yang dari ujung namanya kita tau asal kampungnya, Salman Al Farisi. Farisi adalah Persia, Iran sekarang. Adapula sahabat nabi bernama Suhaib Ar
Rumi. Dari akhir namanya menunjukkan dia berasal dari Rum, Roma. Bahkan ada sahabat nabi itu yang berasal, bahkan menjadi istri nabi, dia adalah Sofiah, nama
ayahnya Huyai dan nama datuknya adalah Akhtab. Sofiah binti Huyai bin Akhtab adalah orang Yahudi. Ada pula yang berasal dari Koptik, yaitu suku asli Mesir, dia
adalah seorang perempuan bernama Maria Al Kiptia, dan ada lagi seorang laki-laki yahudi bernama Hussoin yang masuk Islam pada awal-awal hijrah, dirubah nabi
namanya menjadi Abdullah bin Salam. Ada pula seorang laki-laki dari Yaman, datang ke kota Madinah Al Munawarah. Laki-laki itu bernama Abdusyam (hamba
matahari). Nama ini tidak baik maka diganti nabi menjadi Abdurrahman, nama bapaknya Sakhar, nama kampungnya Daus sehingga nama lengkapnya adalah
Abdurrahman ibnu Sakhar at-dausi. Nama ini baik, tetapi karena selalu membawa kucing maka dipanggil ya abahir. Nabi yang memanggil dia, dikenal dengan nama
Abu Hurairah. Inilah sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadist-hadist. Sahabat-sahabat nabi itu berasal dari bermacam-macam negeri, menunjukan
beranekaragam dan nabi tidak pernah mengucilkan karena suku mereka. Nabi mengajarkan (Surat Al-Hujurat Ayat 13):

َ َّ َّ‫َّللاِ أَتْقَا ُك ْم ۚ إِن‬


ٌ ِ‫َّللا َعلِي ٌم َخب‬
‫ير‬ َّ َ‫ارفُوا ۚ إِنَّ أَ ْك َر َم ُك ْم ِع ْند‬ ُ ‫اس إِنَّا َخلَ ْقنَا ُك ْم مِ نْ ذَك ٍَر َوأ ُ ْنثَ ٰى َو َجعَ ْلنَا ُك ْم‬
َ َ‫شعُوبًا َوقَبَائِ َل ِلتَع‬ ُ َّ‫يَا أَيُّ َها الن‬

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ketika nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam sampai ke kota mekkah al mukarommah, lalu kemudian dibersihkan ka'bah dari berhala. Diambil satu lukisan di
dalam Kabah, yaitu lukisan nabi Ibrahim sedang mengundi anaknya diantara Ishak dan Ismail, siapa agaknya yang akan disembelih. Ini adalah cerita bohong, palsu,
dusta maka diperintahkan membakar lukisan tersebut karena khawatir nanti di akhir zaman orang akan menyembah lukisan nabi Ibrahim ketika mengundi anaknya,
padahal penyembelihan Ismail bukan karena undian tapi karena mimpi. Kedatangan nabi Muhammad untuk meluruskan pemahaman yang keliru maka lukisan itu
dibakar.Kemudian setelah (kabah) bersih, Safiur Rahman Mubarakpuri dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum, menceritakan bagaimana 360 berhala yang terbuat dari
batu, kayu, tulang, tepung dibersihkan dari Masjidil haram. Setelah itu nabi memerintahkan Bilal Bin Abi Rabbah naik ke atas Kabah. Wahai Bilal, kumandangkan
azan. Azan pertama berkumandang di atas kabah, dikumandangkan oleh orang bukan arab qurais, tetapi oleh yang berkulit hitam. Sampai-sampai orang musrik
jahiliyah berkata "syukur bapakku sudah mati, sehingga dia tidak melihat burung gagak naik ke atas kabah". Menghina orang kulit hitam bernama Bilal bin Abi Rabbah.
Mengapa nabi tidak memerintahkan Sayidina Ali yang naik mengumandangkan azan? Ali adalah sepupu nabi. Kakek mereka sama, yakni Abdul Muthalib. Seandainya
dia yang naik ke atas orang akan berkata dia naik ke atas karena keluarga nabi. Saat itu yang diperintahkan adalah Bilal, nabi ingn menunjukkan orang mulia bukan
karena darahnya, orang mulia karena keimanannya.

Bilal pernah perutnya di timpakan batu besar, dibuka jubahnya, menempel kulitnya yang tipis ke atas pasir yang panas. Dan dia hanya berteriak dengan satu teriakan
"ahad, ahad". Esa, tunggal, tak berbilang. Qulhuallahu ahad. Allahu somad, lam yalid, dia tidak beranak, walam yulad, dia tidak diperanakkan, dia tidak keluar dari
rahim. Walam yakullahu kufuan ahad, tidak satupun yang setara dengan dia. Diambil (dipanggil) anak-anak kafir musrik di kota Mekah, diberikan tali temali, mereka
ikat bilal bin Rabbah, mereka bawa berkeliling kota Mekah. Tapi Bilal tetap berkata "ahad, ahad".

Tak bergoncang imannya, tak bergeser keyakinannya. Itu yang membuat dia mulia.

Sampai akhirnya nabi memanggil Bilal. "Kemari wahai Bilal", ada apa ya rasul? Aku dengar suara gesekan terompah/selopmu dalam surga.
Andai nabi memanggil Umar, "hai Umar, aku mendengar suara sendalmu didalam surga". Tentu orang akan berkata Umar didengar nabi karena di quraish, Umar
mertua nabi, ayah Hafsah istri nabi, Umar adalah orang hebat. Tetapi yang dipanggil nabi ini hamba sahaya, berkulit hitam, miskin, susah, budak, tetapi nabi
memuliakannya. Itulah yang membangkitkan semangat umat Islam. Kita jaga persatuan, tidak lagi saling membanggakan antar orang Kalimantan, Sulawesi, Papua,
Sumatera, Jawa.

Kita semua disatukan dalam bingkai kerangka Lailahailallah Muhammadarrasulullah. Kalimat itu yang membuat kita agung dan mulia. Dengan itu kita hidup, mati,
dengan itu kita akan dibangkitkan menghadap Allah, dengan itu juga kita akan mati dalam husnul khotimah, dengan itu kita akan dimasukkan dalam surga Allah,
dengan kalimat itu juga kita akan bersama dengan Sayyiduna wa maulana Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam.

Urgensi persatuan umat.


Sebelum berbicara tentang Daulah Islamiah di kota Madinah al munawaroh, sebelum berbicara tentang hukum potong tangan, sebelum bercerita tentang zina, sebelum
bercerita tentang apapun, maka yang pertamakali dirangkul nabi adalah persatuan umat. Terjadi gesekan-gesekan antar suku, sampai ada seorang perempuan yang
mencuri. Perempuan itu bernama Fatimah binti Aswad. Ketika ia mencuri maka akan diterapkan hukum potong tangan yang berlaku pada siapapun. Akhirnya mereka
melobi. Mereka tidak berani langsung menghadap nabi, tetapi mengutus orang yang dekat dengan nabi, bernama Usamah Ibnu Zaid. Zaid adalah anak angkat nabi,
sampai-sampai mereka mengatakan Zaid bin Muhammad. Turun Ayat "Ma kana muhammadun aba ahadin min rijalikum", Muhammad bukan bapak kamu, "walakin
rasoola Allahi", dia rasulullah, "Wa khataman nabiyyin", penutup para nabi. Anaknya kesayangan nabi, dia adalah Usamah Ibnu Zaid yang diangkat menjadi panglima
perang pada saat usia 18 tahun. Maka datanglah Usamah menghadap nabi. Ya Rasulullah, ini ada seorang perempuan bernama Fatimah dan dia anak kepala suku, kira-
kira bisa tidak hukuman potong tangan diturunkan, direndahkan. Karena kalau dipotong tangan anak kepala suku akan turun derajatnya, hilang kewibawaannya. Merah
wajah nabi, "orang-orang sebelum kamu dibinasakan Allah gara-gara ini. Kalau yang mencuri itu orang yang lemah, rakyat jelata, mereka tegakkan hukum. Tapi kalau
yang mencuri itu orang yang mulia, mereka tinggalkan (hukum). Demi Allah, jangankan Fatimah anak Aswad kepala suku itu, Fatimah anak Muhammad yang mencuri,
aku sendiri yang akan memotong tangannya.

Prinsip persamaan dihadapan hukum. Hukum dilambangkan sebagai seorang perempuan yang memegang neraca sama tinggi dengan mata tertutup. Artinya dia tidak
melihat. Itu yang dijalankan sejak 14 abad. Hari ini kita tidak boleh di guru-gurui oleh siapapun karena nabi kita Muhammad salallahu alaihi wassalam sudah
mengajarkan persamaan. Urgensi persatuan umat, umat ini disatukan oleh satu kalimat.

Ketika nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam pindah ke kota Madinah al Munawaroh, terjadi juga gesekan diantara para sahabat. Nabi satukan mereka, tidak
dengan menyatukan sukunya, warna kulitnya, tapi yang disatukan adalah bagaimana memahamkan bahwa perbedaan menjadi kekayaan. Suatu ketika dua orang sahabat
pergi musafir. Dalam perjalanan panjang itu, mereka tidak menemukan air, sehingga air hanya cukup untuk minum saja. Pada akhirnya mereka harus bertayamum
kemudian shalat. Selesai shalat mereka melanjutkan perjalanan. Tapi kemudian mereka menemukan oase, kolam air ditengah gurun pasir. Seorang sahabat mengulangi
shalatnya dan dia berwudhu karena menurut ijtihadnya tadi shalat dengan tayamum sekarang sudah ada air mengapa shalat tidak pakai air. Tadi dia bertayamum dan dia
shalat lagi dengan wudhu. Sahabat yang satu lagi tidak mengulang shalatnya karena menurut pemahamannya shalatnya dengan tayamum sudah sah, sehingga dia tidak
perlu mengulang shalatnya sampai dua kali. Mereka tidak berkelahi gara-gara itu. Mereka tidak saling membidahkan. Mereka tidak saling menyalahkan. Lalu mereka
kembali menjumpai nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam dan mereka bertanya menceritakan apa yang terjadi "Ya rasulullah, dalam suatu perjalanan panjang
kami tidak menemukan air, kami bertayamum. Setelah itu kami menemukan air dan kamipun mengulang shalat. Saya mengulang dan teman saya tidak. Bagaimana ini
ya rasulullah? Rasul menjawab. Engkau yang shalat dengan tayamum tidak mengulang shalatmu, kau sudah melakukan perbuatan sesuai dengan sunnah. Sedangkan
engkau orang yang melaksanakan shalat dengan tayamum satu kali dan dengan wudhu satu kali, kau dapat dua balasan pahala. Pahala pertama karena engkau shalat
dengan tayamum dan pahala kedua karena engkau shalat dengan wudhu. Kedua-duanya benar. Begitulah nabi menjaga persatuan umat ketika terjadi perbedaan
diantara mereka.

Ada satu negeri bernama Bani quraizhah. Nabi berpesan kepada pasukan yang bertolak dari Madiah ke Bani Quraizhah "jangan kalian shalat ashar kecuali setelah
kalian sampai ke Bani Quraizhah". Tapi takdir berkata lain, sampai ditengah jalan, waktu shalat sudah masuk, sahabat terpecah dua. Yang pertama mengatakan kita
mesti shalat di tangah jalan, karena waktu sudah masuk. Shalat tepat pada waktunya. Satu kelompok lagi berkata "kita mesti shalat di Bani Quraizhah karena nabi
berpesan tidak boleh shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah". Sahabat terpecah dua. Lalu kemudian setelah selesai urusan di Bani Quraizhah mereka pulang ke kota
Madiah al munawaroh menceritakan kisah itu kepada rasulullah "ya rasulullah, kami ikhtilaf ditengah jalan, sebagian kami shalat di jalan karena waktu shalat sudah
masuk. Tapi sebagian lagi menunda sampai di Bani Quraizhah karena engkau berpesan jangan shalat kecuali di Bani Quraizhah. Kata nabi, keduanya benar, aku
katakan jangan shalat ashar sebelum sampai ke Bani Quraizhah maksudnya percepatlah perjalanan kalian dari Madinah sehingga ketika masuk waktu ashar kalian sudah
berada di Bani Quraizhah. Shalat asharlah di Bani Quraizhah. Tetapi jika telah masuk waktu shalat, kalian shalat di tengah jalanpun sah. Kedua-duanya benar. Kedua-
duanya sama-sama shalat, kedua-duanya sama-sama mengikut rasululllah.

Hari ini kita ada berbagai macam organisasi sosial kemasyarakatan. Ada Nahdatul Ulama, ada Muhammadiah, ada Persatuan Islam Persis, ada Perti Persatuan Tarbiyah
Islamiah, ada Hidayatullah, ada Aljamiatun wasliah, ada front pembela Islam, ada macam-macam. Itu semua masih ahlussunnah waljamaah. Itu hanyalah organisasi
sosial kemasyarakatan bergerak dibidang pendidikan, bidang kesehatan mendirikan rumah sakit, bidang dakwah mengirim para dai, bidang ekonomi umat sehingga
umat menjadi bangkit. Termasuk mesjid Istiqlal mengakomodir semuanya. Shalat taraweh ada yang delapan rakaat ditutup dengan witir tiga menjadi sebelas rakaat.
Setelah itu gelombang kedua yang duapuluh rakaat ditambah dengan witir tiga menjadi duapuluh tiga rakaat. Kedua-duanya diterima di mesjid ini menunjukkan bahwa
ada hal-hal prinsipil yang kita mesti bersatu didalamnya.

Pada perkara-perkara yang kita ada perbedaan, mari kita berlapang dada menerima perbedaan. Pada perkara-perkara yang baik mari kita bekerja sama.

wala tanaza’u fatafSalu wa tadhabarihukum wasbiru, Jangan berkelahi, kalau berkelahi maka akan gagal, akan kehilangan semangat, bersabarlah. Kenapa sabar diujung,
karena banyak orang yang tidak sabar ketika melihat perbedaan-perbedaan. Tidak ada kesabarannya melihat saudaranya. Latanaza'u, jangan berkelahi, jangan
bertengkar, jangan bertikai. Fatafsalu, kalian akan gagal dalam urusan kalian dimasa yang akan datang. Kalian akan kehilangan semangat akhirnya kalian bertikai,
berkonflik. Washabiru, bersabarlah. innallaha ma‘assabirin, Allah akan memberikan pertolongan pada orang-orang yang sabar.

Alhamdulillah, malam ini kita sabar menerima perbedaan, menerima beberapa hal yang kita tidak sependapat. Tapi kita semua sepakat bahwa shalat isya berjamaah,
mendengarkan tazkirah, tausiah shalat taraweh berjamaah.

Duapuluh menit telah berlalu, mudah-mudahan bermanfaat. Terimakasih segala perhatian, mohon maaf segala kekhilafan.
...
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.