Anda di halaman 1dari 34

Turi

Turi

Turi

Klasifikasi ilmiah

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Subfamili: Faboideae

Bangsa: Robinieae

Genus: Sesbania
Spesies: S. grandiflora
Nama binomial

Sesbania grandiflora
(L.) Pers., 1807[1]

Sinonim

Robinia grandiflora L. (1753)[2]


Aeschynomene grandiflora L. (1763)
Sesban grandiflorus Poir. (1806)[3]
Agati grandiflora Desv. (1813)[4]
Turi (Sesbania grandiflora) merupakan
pohon kecil anggota suku Fabaceae.
Tumbuhan dengan banyak kegunaan ini
asalnya diduga dari Asia Selatan dan
Asia Tenggara, namun sekarang telah
tersebar ke berbagai daerah tropis dunia.

Di banyak daerah, pohon ini dikenal


sebagai turi (Jw., Sd., Tern., Tid., Hal.,
Sang., Alor); namun juga toroy (Md.), tuwi
(Bl.), turing, suri (Sulut), tuli (Tal.), palawu
(Bm.), gala-gala (Timor), ngganggala,
kalala (Rote),[5] suri (Mdw.), uliango (Gtl.),
tanunu (Smb.), kayu jawa (Baree dan
Mks.), ajatulama (Bgs.).[4] Nama
inggrisnya, agathi, dipinjam dari namanya
dalam bahasa Bengali, agati.[6]
Deskripsi

Turi, menunjukkan bunga dan buah

Turi merupakan pohon yang berkayu


lunak dan berumur pendek. Tingginya
dapat mencapai 5-12 m.[7] Akarnya
berbintil-bintil dan berguna untuk
menyuburkan tanah.[8] Bunganya besar
dan keluar dari rantingnya. Bunganya
apabila mekar, berbentuk seperti kupu-
kupu.[7] Warna bunganya ada yang merah
dan ada juga yang putih.[9] Ada juga yang
berwarna gabungan kedua-duanya.[8]
Letaknya menggantung dengan 2-4
bunga dan bertangkai, kuncupnya
berbentuk sabit.[7] Rantingnya
menggantung, kulit luar berwarna kelabu
hingga kecoklatan. Kulit luarnya ini tidak
rata dengan alur membujur dan
melintang tidak beraturan dengan
lapisan gabus yang mudah terkelupas.
Pada bagian dalam, batangnya berlendir
dan berair[9] yang berwarna merah, dan
rasanya pahit.[10] Percabangan baru
keluar apabila panjangnya sudah
mencapai 5 meter. Daunnya majemuk[9]
dan tersebar.[7]
Memiliki daun penumpu sepanjang 1/2-1
cm. Anak daunnya bentuknya jorong
memanjang, rata, dan menyirip genap.
Panjang tangkai daun 20–30 cm.
Tangkainya pendek, dan setiap tangkai
berisi 20-40 pasang anak daun. Warna
bunganya ada yang merah dan ada juga
yang putih.[9] Buahnya berbentuk polong,
meggantung, bersekat, dengan panjang
20-55 cm, sewaktu muda berwarna hijau,
dan sudah tua berwarna kuning keputih-
putihan. Sedangkan bijinya berbentuk
bulat panjang, dan berwarna coklat
muda.[4]

Persebaran dan habitat


 

Daun-daun majemuk

Spesies ini tersebar di India Timur


sampai Australia. Di Indonesia,
tumbuhan ini ditanam sebagai tumbuhan
hias di halaman-halaman rumah dan di
sawah-sawah sebagai tanaman
pelindung. Ia dapat pula hidup pada
tanah asam dan kadang juga tumbuh
subur di tanah berair.[11] Akan tetapi, turi
tidak baik ditanam pada ketinggian lebih
dari 1.500 mdpl.[9] Turi biasanya
digunakan sebagai tanaman pelidung[9]
pohon rambatan bagi tanaman lada atau
vanila.[12]
Perbanyakan turi dilakukan dengan biji
atau stek batang.[13] Biji-biji tersebut
disemai terlebih dahulu. Biji yang ditabur
tanpa naungan dapat berkecambah
hingga 80%, namun perkembangbiakan
dengan stek batang dilakukan kadang-
kadang saja.[14]

Manfaat

Bunga turi, biasa dijadikan lalap atau pecel

Lalapan
Daun, bunga dan polongnya yang masih
muda dapat dimakan sebagai sayur atau
lalap setelah direbus terlebih dahulu.
Daun muda ini baunya tetap tidak enak
dan berlendir, sekalipun telah dikukus.
Namun lalapan daun ini baik dimakan ibu
untuk menambah ASI. Bunganya terasa
gurih dan manis, sehingga digemari
sebagai campuran pecel.[15] Untuk
membuat pecel ini, bunga turi (bisa juga
diganti kacang panjang) ini dicampur
dengan "ganteng" taoge, bersama
dengan kulit melinjo yang sudah dikukus
direbus sampai cukup masak. Kalau
merebus bahan-bahan ini hanya
setengah matang, akan menyebabkan
rasa "gatal" di tenggorokan karena
bulunya belum rontok.[16] Buah turi yang
berwarna putih merupakan sayur yang
sangat digemari di Jawa. Polongnya pun
dapat dimakan layaknya kacang
panjang.[8]

Obat tradisional

Turi merah

Pepagannya dapat dipergunakan sebagai


obat. Kulit kayu ini diremas dalam air
atau direbus, dan airnya diminum untuk
mengobati seriawan, disentri, murus
darah, atau menceret pada umumnya.
Namun jika terlalu banyak diminum, air
rebusan ini akan bekerja sebagai obat
muntah (emetik).[5]

Bunganya yang berwarna merah


bermanfaat sebagai obat.[a] Kulit kayunya
yang berwarna merah dijual dengan
nama kayu timor. Kadar tanin yang tinggi
inilah yang menyebabkan dapat
digunakan untuk penyembuhan luka atau
disentri.[15][b] Pada umumnya kayu timor
ini digunakan untuk mengobati berak
darah dan mengatasi peradangan,
memar, dan bengkak-bengkak.[5]
 

Polongan buah

Dalam pengobatan, turi dapat digunakan


untuk sariawan, radang usus (dengan
cara meminum rebusan pepagan turi)[4]
disentri, diare, scabies (yakni dengan
tumbukan kulit kayu yang dibubuhkan di
tempatnya[15]), cacar air, keseleo,
terpukul,[17] keputihan, batuk, beri-beri,
sakit kepala, radang tenggorokan;
demam nifas, produksi ASI, hidung
berlendir, batuk, rematik, dan luka.[13]
Adapun, oleh etnis Sumba, daun dan
pepagan turi digunakan untuk
ditempelkan pada bagian yang patah
tulang, yang kemudian diikat dengan kain
dan dibungkus oleh pelepah daun pisang
selama seharian.[18]

Menurut penelitian ilmiah, getah


tumbuhan ini merupakan astringen. Ia
mengandung zat pewarna utama, yakni
agatin dan zantoagatin, kemudian
basorin, dan tanin. Biji tumbuhan ini
mengandung 70% protein, dan daunnya
mengandung saponin yang tidak
berbahaya,[10] sekalipun dapat dijadikan
pengganti sabun untuk mencuci
pakaian.[15] Bunganya mengandung
konten gula variabel dan sumber vitamin
B. Semua bagian tumbuhan ini
dilaporkan dapat menyembuhkan rabun
senja; kalau memang demikian,
tumbuhan ini mengandung vitamin A.[10]

Penelitian terbaru mendapatkan bahwa


akar turi mengandung bahan-bahan aktif
yang bersifat anti-tuberkulosis terhadap
bakteria Mycobacterium tuberculosis.
Bahan-bahan itu di antaranya adalah
asam betulinat dan tiga macam
isoflavanoid.[19]

Penyamak dan pewarna


Pepagan turi mengeluarkan getah bening
yang akan mengeras menjadi gom
apabila kena udara. Gom ini
dimanfaatkan sebagai pengganti gom
arab, dan digunakan dalam makanan dan
perekat.[6] Di Karimunjawa, lendirnya
digunakan untuk pewarna.[8]

Getah turi itu dimanfaatkan nelayan


zaman dahulu untuk mengolesi tali
pancing dan jala agar lebih awet. Getah
ini juga dapat dicampurkan ke dalam cat
hitam yang dipakai untuk mengawetkan
tambang atau kayu bangunan; selain itu
getah juga bersifat mengikat cat. Gom
turi digunakan pula sebagai perekat
dalam penjilidan buku.[5]
Di samping getah, cairan rebusan
pepagan turi dipakai untuk merendam
alat-alat penangkap ikan sehingga tahan
lama. Di Kebumen, air rebusan yang
dicampur dengan jelaga dipakai untuk
memberi warna hitam pada kerajinan
anyaman bambu.[5]

Pakan ternak

Daun-daun turi juga dapat dipergunakan


untuk makanan ternak[9] dan pupuk
hijau.[12]

Banyak catatan yang menunjukkan


bahwa turi merupakan hijauan pakan
yang disukai ruminansia dan bernilai
nutrisi tinggi.[20] Setiap 100 g berat
kering, daun-daun turi mengandung
sekitar 36% protein kasar dan 9600 IU
vitamin A.[6] Konsentrasi N pada
dedaunan itu sekitar 3,0–5,5%, dan lebih
tinggi lagi pada biji, yakni hingga 6,5%.
Ketecernaan dedaunan itu berkisar
antara 65–73%, dengan kandungan serat
kasar yang rendah (5–18%). Dan
meskipun hijauan ini diketahui
mengandung saponin dan tanin, sejauh
ini tidak ada reaksi toksik yang terjadi
pad ruminansia. Akan tetapi
pemanfaatannya bagi hewan berperut
tunggal (monogastrik) perlu berhati-hati,
karena pakan ini bersifat mematikan bagi
ayam.[20]
Berikut ini adalah zat kimia yang
terkandung dalam turi yang
menyebabkan baik untuk dimakan
ternak:[21]

Kandungan zat Jumlah

Protein kasar 27,3%[c]

Energi kasar 4.825 kkal/kg

SDN 24,4%

Lignin 2,7%

Abu 7.5%

Kalsium 1,5%

P 0,4%

Kayu

Kayu turi tergolong ringan; BJ-nya


berkisar antara 0,38 hingga 0,50 dan
digolongkan dalam kelas awet V (tidak
awet). [14][6]
Kayu ini juga kurang baik untuk dijadikan
kayu bakar, karena banyak menghasilkan
asap. Meskipun demikian, turi menjadi
sumber kayu bakar yang populer di
pedesaan karena lekas tumbuh dan telah
menghasilkan kayu pada umur
setahun.[6] Turi dapat mencapai tinggi 2
m dalam 12 minggu, dan 4–5 m dalam
setahun; di Indonesia dapat
menghasilkan 20–25 m³/ha per tahun
apabila ditanam rapat-rapat. Kayunya
lunak, berwarna putih, dan lekas
rusak.[20]

Batang/kayu turi dapat diolah menjadi


kertas[8] dengan campuran bambu.
Dengan rotasi penanaman 3-4 tahun, turi
mampu menghasilkan lebih banyak
bahan mentah selulosa per satuan luas
jika dibandingkan jenis kayu penghasil
pulp yang lain. Akan tetapi serat kayu turi
ini pendek-pendek, sehingga perlu
dicampur dalam proporsi yang cukup
dengan serat bambu yang lebih panjang,
agar dapat menghasilkan kertas yang
lumayan kuat. Bubur kayu turi dapat
dipakai untuk membuat kertas kelas
menengah ke bawah:kertas koran,
majalah, kertas tulis, atau untuk barang
cetakan murah.[6]

Kayu ini digunakan pula untuk papan.[10]


Dengan bertambahnya umur, kepadatan
kayu turi pun turut meningkat. Kayu yang
dihasilkan turi berumur 5–8 tahun telah
cukup besar dan cukup kuat untuk
dipergunakan sebagai ramuan rumah
atau untuk membuat peralatan. Kayu ini
mungkin pula untuk dijadikan tiang, akan
tetapi kurang awet karena kayu turi
mudah diserang cendawan dan
serangga.[6]

Kulit pohon turi yang sudah dijadikan


bubuk dapat digunakan untuk
kosmetik.[12] Daunnya yang mengandung
saponin dapat digunakan untuk
menggantikan sabun setelah diremas-
remas dalam air untuk mencuci
pakaian.[15]
Kegunaan lain

Di samping itu turi juga ditanam untuk


pelbagai kegunaan: peneduh, pagar
hidup, penahan angin, pohon rambatan,
pohon hias, dan juga untuk
menghijaukan lahan kritis.[20] Bintil-bintil
akar pada turi mengikat nitrogen dalam
tanah, dan dengan demikian
memperbaiki kesuburan tanah. Daun-
daun, bunga, dan buah yang berjatuhan
menjadi mulsa dan pupuk hijau yang
baik. Karena pertumbuhannya yang
cepat, turi sangat baik ditanam sebagai
tanaman antara –misalnya pada masa
bera– untuk memulihkan kesuburan
tanah.[6]
Pada tahun 1984, belalang kayu
menyerang tanaman kelapa, pisang,
cemara, dan juga turi di wilayah
Kebumen dan Tegal.[22] Beruntung, salah
satu cara untuk mengusir hama belalang
kayu adalah dengan menanam turi yang
mengundang kumbang endol (Mylabris
putulata). Turi juga ditanam untuk
membasmi belalang kayu (Valanga
nigricornis zehntneri). Ini dimaksudkan
untuk mengundang kumbang endol.
Kumbang dewasa menyukai bunga turi,
sementara larvanya akan memakan telur-
telur belalang.[23]

Turi juga bermanfaat sebagai pagar


hidup. Maksudnya disini adalah sebagai
penghalang bibit sayuran dari gangguan-
gangguan ruminansia seperti ayam
kampung. Slamet Soeseno, penulis buku
sayuran Indonesia mencatat bahwa
pagar hidup dapat dibuat berselang-
seling. Misalnya, turi berselang-seling
dengan kelor dan singkong.[24][25]
Sehingga, tidak perlu membuat biaya
banyak untuk memagari bibit tanaman
sayuran, semisal dengan bambu ataupun
tembok setengah badan berkawat
kasa.[24]

Referensi
1. ^ P , C.H. 1807. Syn. pl. 2(2):
316 .
2. ^ L , C. 1753. Species
Plantarum 2: 722 .
3. ^ L , J.B. 1806. Encycl. Méth.
Bot. 7: 127 .
4. ^ a b c d "Sesbania grandiflora Pers"
(PDF). Departemen Kesehatan. 15
November 2001. Diakses tanggal 20 April
2013.
5. ^ a b c d e f H , K. 1987. Tumbuhan
Berguna Indonesia 2: 971-972. Badan
Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan, Bogor.
6. ^ a b c d e f g h ICRAF Agroforestry Tree
Database: Sesbania grandiflora , diakses
pada 5/02/2013
7. ^ a b c d Tim Redaksi, hlm. 249.
8. ^ a b c d e Sastrapradja et al. 1980c,
hlm. 73.
9. ^ a b c d e f g Sastrapradja et al. 1980a,
hlm. 115.
10. ^ a b c d Dharma 1987, hlm. 202.
11. ^ Rukmana 2005, hlm. 28-29.
12. ^ a b c Ong 2008, hlm. 27.
13. ^ a b "Turi" . IPTEKnet. Diarsipkan dari
versi asli tanggal 22 December 2012.
Diakses tanggal 23 December 2012.
14. ^ a b Sastrapradja et al. 1980b,
hlm. 103.
15. ^ a b c d e Dalimartha 2009, hlm. 163-
166.
16. ^ Soeseno 1985, hlm. 32-33.
17. ^ Tim Redaksi, hlm. 250.
18. ^ Hidayat 2005, hlm. 192.
19. ^ H , N., H. O , S. M ,
K.C. W , K. A , A.S.M.
Z . 2012. The Chemical
Components of Sesbania grandiflora
Root and Their Antituberculosis Activity .
Pharmaceuticals 5: 882-889.
20. ^ a b c d H , J.H. R.C.
G . 1992. Sesbania grandiflora
(L.) Poir. [Internet] Record from
Proseabase. L.'t Mannetje and R.M.
Jones. (Editors). Forages. : Plant
Resources of South-East Asia 4: 196-198.
PROSEA (Plant Resources of South-East
Asia) Foundation, Bogor, Indonesia.
Accessed from Internet: 5-Feb-2013
21. ^ Rukmana 2005, hlm. 29.
22. ^ Pracaya 2008, hlm. 42-43.
23. ^ Pracaya 2008, hlm. 45.
24. ^ a b Soeseno 1985, hlm. 8.
25. ^ Soeseno 1985, hlm. 3.

Catatan bawah

1. ^ Turi dengan bunga yang berwarna


merah pada sisi sampingnya disebut turi
merah (Dharma 1987, hlm. 201).
2. ^ Menurut Heyne, ada beberapa
macam kulit kayu yang dinamai kayu
timor, di antaranya termasuk pepagan
soga (Peltophorum pterocarpum).[5]
3. ^ Referensi dari LIPI menyebut jumlah
proteinnya hingga 45% (Sastrapradja et
al. 1980c, hlm. 73).

Bacaan

AgroMedia Pustaka, Tim Redaksi; Utami,


Prapti (2008). Buku Pintar Tanaman
Obat:431 Tanaman Penggempur Aneka
Penyakit . Tangerang: AgroMedia.
ISBN 979-006-194-3.
Dalimartha, Setiawan (2009). Atlas
Tumbuhan Obat Indonesia. 6. Depok:
Puspa Swara. ISBN 978-979-1480-19-2.
Dharma, A.P. (1987). Indonesian Medicinal
Plants (dalam bahasa Inggris). Jakarta:
Balai Pustaka. ISBN 979-407-032-7.
Hidayat, Syamsul (2005). Ramuan
Tradisional ala 12 Etnis Indonesia. Jakarta:
Penebar Swadaya. ISBN 979-489-944-5.
Ong, Hean Chooi (2008). Vegetables for
Health and Healing . Kuala Lumpur: Utusan
Publications & Distributors Sdn Bhd.
ISBN 978-967-61-2102-9 Periksa nilai:
checksum |isbn= (bantuan).
Pracaya (2008). Hama & Penyakit
Tanaman . Jakarta: Penebar Swadaya.
ISBN 979-489-098-7.
Rukmana, Rahmat (2005). Seri Budi Daya;
Rumput Unggul Hijauan Makanan Ternak .
Yogyakarta: Kanisius. ISBN 979-21-0675-8.
Sastrapradja, Setijati; Lubis, Siti Harti
Aminah; Djajasukma, Eddy; Soetarno, Hadi;
Lubis, Ischak (1980a). Proyek Penelitian
Potensi Sumber Daya Ekonomi:Sayur-
Sayuran. 6. Jakarta: LIPI bekerja sama
dengan Balai Pustaka. OCLC 66307472 .
Sastrapradja, Setijati; Lubis, Siti Harti
Aminah; Djajasukma, Eddy; Soetarno, Hadi;
Lubis, Ischak (1980b). Proyek Penelitian
Potensi Sumber Daya Ekonomi:Kayu
Indonesia. 14. Jakarta: LIPI bekerja sama
dengan Balai Pustaka. OCLC 11804239 .
Sastrapradja, Setijati; Naiola, Beth Paul;
Rasmadi, Endi Rochandi; Soepardiyono,
Ernawati Kasim; Waluyo, Eko Baroto
(1980c). Proyek Penelitian Potensi Sumber
Daya Ekonomi:Kayu Indonesia. 16. Jakarta:
LIPI bekerja sama dengan Balai Pustaka.
Soeseno, Slamet (1985). Sayur Mayur untuk
Karang Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya.

Pranala luar
(Belanda) BHL: Sesbania grandiflora,
Pers. @ K. Heyne. De Nuttige Planten
van Ned. Indie, II: 281 (1916)
(Inggris) Duke energy: Sesbania
grandiflora
(Inggris) EOL: Sesbania grandiflora

(Inggris) FAO: Sesbania grandiflora


(umum)
(Inggris) FAO: Sesbania grandiflora
(pakan ternak)
(Inggris) Feedipedia: Agati Sesbania
grandiflora (pakan ternak)
(Inggris) NFTA: Sesbania grandiflora

(Inggris) NTBG: Sesbania grandiflora

(Inggris) Philipina Med. Plants: Katurai


Sesbania grandiflora (obat)
(Inggris) Trop. Forages: Sesbania
grandiflora (pakan ternak)
(Inggris) USDA: Sesbania grandiflora

Diperoleh dari
"https://id.wikipedia.org/w/index.php?
title=Turi&oldid=14928484"

Terakhir disunting 1 bulan yang lal…

Konten tersedia di bawah CC BY-SA 3.0 kecuali


dinyatakan lain.