Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tubuh manusia dikendalikan oleh sistem saraf, sistem indera, dan sistem endokrin.
Pengaruh sistem saraf yakni dapat mengambil sikap terhadap adanya perubahan keadaan
lingkungan yang merangsangnya. Semua kegiatan tubuh manusia dikendalikan dan diatur
oleh sistem saraf. Sebagai alat pengendali dan pengatur kegiatan alat-alat tubuh, susunan saraf
mempunyai kemampuan menerima rangsang dan mengirimkan pesan-pesan rangsang atau
impuls saraf ke pusat susunan saraf, dan selanjutnya memberikan tanggapan atau reaksi
terhadap rangsang tersebut. Impuls saraf tersebut dibawa oleh serabut-serabut saraf. (Kus
Irianto. 2004)
Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi.
Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas memungkinkan makhluk
hidup dapat menyesuaikan diri dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di
lingkungannya. Jadi, iritabilitas adalah kemampuan menanggapi rangsangan. Sistem saraf
mempunyai tiga fungsi utama, yaitu menerima informasi dalam bentuk rangsangan atau
stimulus; memproses informasi yang diterima; serta memberi tanggapan (respon) terhadap
rangsangan. Susunan saraf terutama dibentuk oleh jaringan yang memiliki sifat khusus yaitu
dengan cepat dapat mengahatar rangsangan dari satu bagian tubuh ke bagian lain. Sel khusus
yang membentuk satuan susunan fungsional susunan saraf disebut neuron. Neuron yang ada
di dalam otak dan medula spinalis ditunjang oleh jaringan ikat khusus disebut neuroglia.
Jaringan saraf terdiri atas neuron dan neuroglia banyak mengandung pembuluh darah tetapi
tidak ada pembuluh limfe. Susunan saraf manusia terdiri atas sangat banyak neuron yang
secara khusus saling berhubungan. Dengan adanya hubungan inilah tubuh dapat mengetahui
perubahan yang terjadi di lingkungannya atau di dalam tubuhnya sendiri, dan memberi respon
yang sesuai terhadap perubahan ini, misalnya berupa gerakan atau mempengaruhi kerja organ
tertentu dalam tubuh.
potensial aksi terus menyalurkannya tanpa kehilangan ambang atau kekuatannya.
Potensial aksi dimulai dari axon hillock karena memiliki nilai ambang yang terendah.
Potensial aksi terjadi apabila ada pembukaan saluran berpintu Na secara voltase yang lebih
dari 1 akan menyebabkan keadaan dalam sel menjadi lebih positif/depolarisasi, pada saat
depolarisasi mencapai potensial ambang (-50mV) akan terjadi depolarisasi secara eksplosif
hingga mencapai +30mV. Lalu secara cepat terjadi penurunan drastis sehingga terjadi
hiperpolarisasi (keadaan lebih negatif daripada polarisasi, bisa mencapai -80mV) untuk
beberapa saat dan akan kembali normal ke potensial istirahat.

4
1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk:
1. Mengetahui bagian-bagian sel saraf
2. Mengetahui pengertian potensial aksi
3. Mengetahui mekanisme potensial aksi
4. Mengetahui tahapan-tahapan potensial aksi
5. Mengetahui mekanisme penghantaran impuls pada sel saraf
6. Mengetahui proses terbentuknya potensial aksi

1.3 Manfaat
Adapun manfaat pembuatan makalah ini adalah:
1. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang potensial aksi
2. Memahami mekanisme potensial aksi
3. Mehamami proses dan tahapan dari potensial aksi

1.4 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pembuatan makalah ini adalah, sebagai berikut:
1. Bagaimana struktur sel saraf?
2. Apa yang dimaksud dengan potensial aksi?
3. Bagaimana mekanisme terjadinya potensial aksi?
4. Bagaimana proses potensial aksi pada sel saraf?

1.5 Alat dan Bahan


1. Nerve chamber
2. Akson
3. Oscilloscope
4. Stimulator
5. Kabel stimulasi
6. Elektroda perekam (kabel R1, 2 cm dan R2, 2 cm dari R1)

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Saraf


Sistem saraf adalah suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling
berhubungan satu dengan yang lain. Sistem saraf mengkoordinasi, menafsirkan dan
mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan lainnya. Sistem tubuh yang penting
ini juga mengatur kebanyakan aktivitas sistem-sistem tubuh lainnya, karena pengaturan saraf
tersebut maka terjalin komunikasi antara berbagai sistem tubuh hingga menyebabkan tubuh
berfungsi sebagai unit yang harmonis. Dalam sistem inilah berasal segala fenomena
kesadaran, pikiran, ingatan, bahasa, sensasi dan gerakan. Jadi kemampuan untuk dapat
memahami, belajar dan memberi respon terhadap suatu rangsangan merupakan hasil kerja
integrasi dari system saraf yang puncaknya dalam bentuk kepribadian dan tingkah laku
individu. Jaringan saraf terdiri Neuroglia dan Sel schwan (sel-sel penyokong)
serta Neuron (sel-sel saraf). Kedua jenis sel tersebut demikian erat berkaitan dan terintegrasi
satu sama lainnya sehingga bersama-sama berfungsi sebagai satu unit.
Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan
rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf
memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi di lingkungan luar maupun dalam. Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen
yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu:

1. Reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang
bertindak sebagai reseptor adalah organ indera.

6
2. Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas
serabut penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus
yang memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron.
3. Efektor, adalah bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh
penghantar impuls. Efektor yang paling penting pada manusia adalah otot dan
kelenjar.

Sebagai alat pengatur dan pengendali alat-alat tubuh, maka sistem saraf mempunyai
fungsi sebagai berikut:
a) Menerima rangsangan (oleh indera)
b) Meneruskan impuls saraf ke sistem saraf pusat (oleh saraf sensorik)
c) Mengolah rangsangan untuk menentukan tanggapan (oleh sistem saraf pusat)
d) Meneruskan rangsangan dari sistem saraf pusat ke efektor (oleh saraf motorik).

2.2 Struktur Sel Saraf


2.2.1 Neuron
Unit terkecil dari system saraf adalah neuron. Neuron terdiri dari dendrit dan badan sel
sebagai penerima pesan, dilanjutkan oleh bagian yang berbentuk seperti tabung, disebut
dengan akson dan berakhir pada ujung yang membentuk tonjolan kecil yang disebut dengan
terminal sinaptik.
Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut
saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang
merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia
yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Membran plasma sel
Schwann disebut neurilemma. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi.
Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi
mempercepat penghantaran impuls.

7
a) Badan sel atau perikarion
Suatu neuron mengendalikan metabolisme keseluruhan neuron. Bagian ini tersusun dari
komponen berikut :
 Satu nukleus tunggal, nucleolus yang menonjol dan organel lain sepertikompleks
golgi dan mitochondria, tetapi nucleus ini tidak memiliki sentrioldan tidak dapat
bereplikasi.
 Badan nissi, terdiri dari reticulum endoplasma kasar dan ribosom-ribosom bebas serta
berperan dalam sintesis protein.
 Neurofibril yaitu neurofilamen dan neurotubulus yang dapat dilihat melaluimikroskop
cahaya jika diberi pewarnaan dengan perak.
b) Dendrit
Perpanjangan sitoplasma yang biasanya berganda dan pendek serta berfungsiuntuk
menghantar impuls ke sel tubuh.
c) Akson
Suatu prosesus tunggal, yang lebih tipis dan lebih panjang dari dendrite. Bagianini
menghantar impuls menjauhi badan sel ke neuron lain, ke sel lain (sel otot ataukelenjar) atau
ke badan sel neuron yang menjadi asal akson.

2.2.2 Klasifikasi Sel Saraf


Ada tiga macam sel saraf yang dikelompokkan berdasarkan struktur dan fungsinya,
yaitu:
1) Sel saraf sensorik, adalah sel saraf yang berfungsi menerima rangsangan dari reseptor
yaitu alat indera.
2) Sel saraf motorik, adalah sel saraf yang berfungsi mengantarkan rangsangan ke efektor
yaitu otot dan kelenjar. Rangsangan yang diantarkan berasal atau diterima dari otak dan
sumsum tulang belakang. Perbedaan struktur dan fungsi dari ketiga jenis sel saraf
tersebut lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel Perbedaan sel saraf
sensorik, penghubung, dan motorik.
3) Sel saraf penghubung adalah sel saraf yang berfungsi menghubungkan sel saraf satu
dengan sel saraf lainnya. Sel saraf ini banyak ditemukan di otak dan sumsum tulang
belakang. Sel saraf yang dihubungkan adalah sel saraf sensorik dan sel saraf
motorik.Saraf yang satu dengan saraf lainnya saling berhubungan. Hubungan antara
saraf tersebut disebut sinapsis. Sinapsis ini terletak antara dendrit dan neurit. Bentuk
sinapsis seperti benjolan dengan kantung-kantung yang berisi zat kimia seperti

8
asetilkolin (Ach) dan enzim kolinesterase. Zat-zat tersebut berperan dalam mentransfer
impuls pada sinapsis.

Berdasarkan bentuknya, neuron dapat diklasifikasikan menjadi :


1) Neuron unipolar hanya mempunyai satu serabut yang dibagi menjadi satu cabang sentral
yang berfungsi sebagai satu akson dan satu cabang perifer
yang berguna sebagai satu dendrite. Jenis neuron ini merupakan neuron-neuron sensorik
saraf perifer (misalnya sel-sel ganglion cerebrospinalis).
2) Neuron bipolar mempunyai dua serabut, satu dendrite dan satu akson. Jenis ini banyak
dijumpai pada epithel olfaktorius dalam retina mata dan dalam telinga dalam.
3) Neuron multipolar mempunyai banyak dendrit dan satu akson. Jenis neuron ini
merupakan yang paling sering dijumpai pada sistem saraf sentral (sel saraf motoris pada
cornu anterior dan lateralis medulla spinalis, sel-sel ganglion otonom).

2.2.3 Sinaps
Susunan saraf memiliki banyak neuron yang saling berhubungan membentuk jaras
konduksi fungsional (functional conducting pathway). Potensial aksi di neuron prasinaps
menyebabkan pengeluaran neurotransmitter yang berikatan dengan reseptor di neuron
pascasinaps. Impuls saraf dipindahkan dari neuron satu ke neuron lain pada tempat kontak
yang secara morfologis dapat dikenali dan dikenal sebagai sinaps.Telah diketahui bahwa
sinaps merupakan tempat pertemuan antara neuron. Sinaps hanya menghantar impuls dalam
satu arah. Kedua unsur yang membentuk sinaps dapat disebut sebagai pra-sinaps dan pascaca
sinaps. Sinaps dapat digolongkan berdasarkan posisinya pada neuron pasca-sinaps. Hanya
jenis yang umum saja yang akan dibicarakan disini. Akson yang berakhir pada dendrit
membenuk disebut sinaps aksoden-dritik. Beberapa diantaranya memiliki tonjolan-tonjolan

9
kecil pada dendritnya yang disebut durt dendrik,dan tepat pada atau melingkupinya terdapat
“end bulb” terminal akson. Ujung akson yang berakhir pasa badan sel neuron membentuk
yang disebut sinaps aksosomatik. Kurang lebih setengah permukaan total badan sel neuron
dan hampir seluruh permukaan dendritnya dapat terlihat dalam kontak sinaptik dengan neuron
lain. Akson yang berakhir pada akson lain membentuk apa yang disebut sinaps aksoaksonik.
Sebuah akson hanya membentuk sinaps dengan akson lain pada tempat yang tidak bermielin.
Hal ini terdapat pada segmen proksimal suatu akson karena pada tempat ini akson itu tetap
terbuka karena meilinisasi tidak dimulai pada akson hillock namun berjarak sedikit darinya.
Tempat di mana terminal akson bertemu sel lain disebut sinapsis. Terminal akson dan sel
lainnya dipisahkan oleh ruang sempit yang dikenal sebagai celah sinaptik (lihat Gambar di
bawah). Ketika potensial aksi mencapai terminal akson, terminal akson melepaskan molekul
kimia yang disebut neurotransmitter. Molekul-molekul neurotransmitter melakukan
perjalanan melintasi celah sinapsis dan mengikat ke reseptor pada membran sel lainnya. Jika
sel lain adalah neuron, ini dimulai potensial aksi pada sel lain.

2.3 Pengertian Potensial Aksi


Tidak seperti potensial berjenjang, potensial aksi terus menyalurkannya tanpa kehilangan
ambang atau kekuatannya. Potensial aksi dimulai dari axon hillock karena memiliki nilai
ambang yang terendah. Potensial aksi terjadi apabila ada pembukaan saluran berpintu Na
secara voltase yang lebih dari 1 akan menyebabkan keadaan dalam sel menjadi lebih
positif/depolarisasi, pada saat depolarisasi mencapai potensial ambang (-50mV) akan terjadi
depolarisasi secara eksplosif hingga mencapai +30mV. Lalu secara cepat terjadi penurunan
drastis sehingga terjadi hiperpolarisasi (keadaan lebih negatif daripada polarisasi, bisa
mencapai -80mV) untuk beberapa saat dan akan kembali normal ke potensial istirahat.
Potensial aksi ini berjalan dari axon hillock hingga menuju ke ujung axon melalui 2 cara,
1) merambat sepanjang akson
2) berloncatan sepanjang akson.
Potensial aksi juga memiliki periode refrakter, yaitu sel yang sudah dilewati oleh
potensial aksi tidak akan dilewati kedua kalinya. Contohnya kita analogikan pada saat
menonton pertandingan sepak bola di stadion. Penonton akan mulai berdiri (fase potensial

10
aksi naik) lalu duduk kembali (fase turun potensial aksi) dan akan menyalur ke penonton
kesampingnya hingga memutari stadion. Tetapi saat sudah sampai ke penonton yang pertama
berdiri, dia tidak akan berdiri lagi.
Potensial aksi adalah peristiwa listrik yang terlokalisir yaitu depolarisasi membran pada
titik perangsangan yang spesifik. Potensial aksi tidak bergantung pada kekuatan stimulus
pendepolarisasi. Potensial aksi timbul karena membran plasma sel- sel yang dapat dirangsang,
mempnyai saluran ion bergerbang voltase, mempunyai gerbang yang membuka dan menutup
sebagai respon terhadap perubahan potensial membran serta adanya peningkatan
permeabilitas membran terhadap ion Na secara transien (dalam rentang fraksi dari satu
milidetik) kemudian diikuti oleh peningkatan permeabilitas membran terhadap ion K secara
transien serta penurunan drastis pada permeabilitas membran terhadap ion Na.
Semakin besar diameter akson semakin cepat penghantaran potensial aksi karena tahanan arus
listrik berbanding terbalik dengan luas penampang penghantar arus tersebut. Potensial aksi di
bangkitkan ketika ion Natrium mengalir ke dalam melintasi membran. Depolarisasi potensial
pertama telah menyebar ke wilayah bersebelahan pada membran tersebut, mendepolarisasi
wilayah ini dan memulai potensial aksi kedua. Pada lokasi potensial aksi pertama membran
mengalami repolarisasi ketika K+ mengalir keluar. Potensial aksi ketiga merambat secara
berurutan saat repolarisasi berlangsung. Melalui mekanisme ini aliran ion lokal menembus
membran plasma dan menghasilkan impuls saraf yang merambat sepanjang akson tersebut.
Saluran ion yang pembukaan gerbangnya diatur oleh voltase yang menghasilkan potensial
aksi hanya berkonsentrasi di sekitar nodus Ranvier. Cairan ekstraseluler juga berhubungan
dengan membran akson namun melompat dari satu nodus kenodus lain melewati daerah yang
berinsulasi myelin pada membran di antara nodus itu. Mekanisme
ini disebut penghantaran bersalto salvatory conduction. Dalam potensial aksi, faktor yang
mempengaruhi dan terkait diantaranya kanal Na+, pompa Na-K, ion Na+, ion K+, kanal K+.
Setiap jenis kanal tersebut memiliki fungsi spesifik dalam aktifitas elektriksaraf. Kanal-kanal
ion tersebut berfungsi menjaga potensial sel.
1) Ion Na+
Ion Na+ merupakan ion yang bermuatan positif. Ion Na+ berada dibagian luar sel dari
sistem saraf.Hanya sedikit ion Na+ yang berada di dalam sel. Perbedaan jumlah ini
membuat perbedaan gradienkonsentrasi dan dapat menyebabkan ion Na melewati
membran. Ion Na+ membantu dalam potensialaksi ketika penghantaran sel saraf
2) Ion K+
Ion K+ merupakan ion yang bermuatan positif,kebanyakan ion K+ berada di dalam
sel. Pada keadaantertentu ion K+ ini akan keluar sel sehingga akan mengurangi
muatan positif di dalam sel.
3) Kanal ion Na+

11
Kanal ini berfungsi dalam meneruskan potensial aksi dengan membuka jika terjadi
depolarisasimembran. Pembukaan kanal ion ini menyebabkan ion Na+ dapat masuk
melintasi membran danmenyebabkan depolarisasi.
4) Kanal ion K+
Kanal ini berperan sebagai kekuatan penstabil (stabilizing force). Beberapa fungsinya
antara lainrepolarisasi setelah terjadinya potensial aksi dan mengatur potensial
istirahat (resting potensial).
Besarnya potensial aksi tidak bergantung pada kekuatan stimulus pendepolarisasi yang
menyebabkan potensial aksi tersebut. Selama fase depolarisasi, polaritas membran berbalik
sebentar, bagian dalam sel lebih positif dibandingkann bagian luar. Depolarisasi yang kuat
dari suatu potensial aksi akan menyebabkan daerah disekitar titik membran yang mengalami
depolarisasi itu jug aterdepolarisasi di atas harga ambang, yang memicu potensiakl aksi baru
pada posisi tersebut dan demikian seterusnya sampai ke ujung akson.

2.4 Mekanisme Potensial Aksi


Komponen penyusun membran sel ini terdiri dari fosfolipid, protein, oligosakarida,
glikolipid, dan kolesterol. Ada tiga macam molekul lipid yang terdapat pada membran, yaitu
phospolipid, cholesterol, dan glicolipid. Fungsi dari ketiga lipid tersebut adalah sebagai fungsi
membran yang berperan dalam fungsinya untuk peka terhadap molekul air
(hidrophilic dan hidrophopbic). Gugus protein kebnayakan terdapat dalam lipid bilayer, yang
berfungsi sebagai transport aktif molekul tertentu, sebagai enzim yang berfungsi untuk
mengkatalis, serta juga dapat menjadi penghubung struktur membran plasma dengan sitoskeleton
atau matriks dengan sel yang berdekatan.
Spesifikasi komponen penyusun membran sel yang banyak berkaitan dengan fungsi
transport zat, banyak menciptakan lalu lintas membran. Lalu lintas membran digolongkan
menjadi dua cara yaitu dengan cara transport pasif untuk memindahkan molekul tanpa mekanisme
khusus dan transport aktif untuk memindahkan molekul dengan mekanisme khusus (dengan
bantuan beberapa fungsi protein).
Sebagian besar fungsi transport ini akan menghasilkan aktivitas sel dimana aktivitas sel
ini akan berfokus pada keadaan polarisasi menjadi depolarisasi dan kembali ke polarisasi lagi
disertai dengan terjadinya perubahan pada potensil membran sel. Perubahan tersebut juga dapat
mengakibatkan berubahnya keadaan kenegatifan dari sebuah membran sel, perubahan tersebut
dapat berubah dari negatif berubah menjadi positif dan kemudian kembali ke negatif lagi.
Perubahan tersebut akan menghasilkan impuls tegangan yang dinamakan potensial aksi.
Mekanisme potensial aksi adalah sebagai berikut:

12
1. Tahap Polarisasi
Merupakan tahapan potensial membran istirahat sebelum adanya potensial aksi. Pada
membran negatif sebesar -900 mV. Pada sebuah sel meskipun dalam keadaan istirahat masih
terdapat beda potensial diantara kedua sisi membran
2. Tahap Depolarisasi
Bila sel yang istirahat diberi rangsangan dengan level yang cukup maka sel tersebut akan
berubah ke keadaan aktif. Dalam keadaan aktif potensial membran sel mengalami perubahan dari
negatif menjadi positif di sisi dalam. Keadaan inilah yang dinamakan depolarisasi. Kejadian ini
dimulai dari satu titik di permukaan membran dan akan merambat ke seluruh permukaan
membran. Pada tahap ini membran sangat permeabel sangat reaktif terhadap ion Na+ sehingga
kanal Na+ terbuka sehingga Na+ akan masuk kedalam sehingga potensial membran meningkat
sehingga terjadi overshoot jika potensial berada diatas 0.
3. Tahap Repolarisasi
Dalam keadaan repolarisasi, potensial membran berubah dari positif di sisi dalam menuju
kembali ke negatif di sisi dalam. Tahapan Repolarisasi diawali dari suatu titik dan merambat ke
seluruh permukaan membran sel. Bila seluruh membran sel sudah bermuatan negatif di sisi
dalam, maka dikatakan sel dalam keadaan istirahat atau keadaan polarisai kembali dan siap untuk
menerima rangsangan berikutnya. Pada tahap ini kanal Na+ mulai tertutup, kanal ion K+ terbuka
dan ion K+ keluar sehingga membran potensial kembali ke fase istirahat.
4. Tahap Hiperpolarisasi
Jika repolarisasi berlebihan, keadaan potensial membran berada di bawah nilai normal
sehinggan ion Na+ dan K+, kembali pada keadaan normal dan membran sudah selesai melakukan
transport zat.

13
Grafik Tipe-tipe Perubahan dalam Potensial Aksi
(Sumber: Campbell, et al., 2011: 1068)

Untuk dapat memulai suatu potensial aksi diperlukan suatu kejadian yang memicu
depolarisasi pada membran. Depolarisasi hanya bisa terjadi jika mencapai suatu tingkat
potensial tertentu yang disebut potensial ambang (threshold potential) berkisar antara -50
mV sampai -55 mV.
Pada saat membran mengalami depolarisasi potensial membrannya akan naik tajam
sampai mencapai potensial puncak terukur +30 mV.
Setelah mencapai potensial puncak dengan cepat potensial akan turun kembali ke arah
potensial istirahat. Perubahan ini dikenal dengan repolarisasi membran. Repolarisasi biasanya
akan mendorong terlalu jauh, sehingga menyebabkan hiperpolarisasi.
Keseluruhan perubahan potensial yang cepat dari ambang ke puncak dan kembali ke
potensial istirahat inilah yang disebut potensial aksi.
Potensi Aksi dihasilkan oleh jenis khusus dari gated ion channel-tegangan tertanam
dalam sel membran plasma . Saluran ini tertutup ketika potensial membran dekat potensial
istirahat sel, tetapi mereka dengan cepat mulai terbuka jika potensial membran meningkat ke
nilai ambang didefinisikan secara tegas. Ketika saluran terbuka, mereka mengijinkan arus
batin natrium ion, yang mengubah gradien elektrokimia, yang pada gilirannya menghasilkan
peningkatan lebih lanjut dalam potensial membran. Hal ini kemudian menyebabkan lebih
banyak saluran untuk membuka, menghasilkan arus listrik yang lebih besar, dan sebagainya.
Proses Hasil eksplosif sampai semua saluran ion yang tersedia adalah terbuka, mengakibatkan
kenaikan besar dalam potensial membran. Cepat masuknya ion natrium menyebabkan

14
polaritas membran plasma untuk membalikkan, dan saluran ion kemudian cepat
menginaktivasi. Sebagai saluran natrium dekat, ion natrium tidak dapat lagi memasuki
neuron, dan mereka secara aktif diangkut keluar dari membran plasma. Kalium saluran
kemudian diaktifkan, dan ada sebuah arus luar ion kalium, gradien elektrokimia
mengembalikan ke keadaan istirahat . Setelah potensial aksi telah terjadi, ada pergeseran
negatif sementara, yang disebut afterhyperpolarization periode refraktori atau, karena arus
kalium tambahan. Ini adalah mekanisme yang mencegah potensi tindakan perjalanan kembali
cara baru saja datang.
Mekanisme perambatan potensial aksi :
a. Potensial aksi pertama : Potensial aksi dibangkitkan ketika ion natrium mengalir ke
dalam melintasi membran pada satu lokasi, membran mengalami repolarisasi ketika
K+ mengalir keluar
b. Potensial aksi kedua : Depolarisasi potensial aksi pertama telah menyebar ke wilayah
yang bersebelahan pada membran tersebut, mendepolarisasi wilayah itu dn memulai
potensial aksi kedua
c. Potensial aksi ketiga : Merambat secara berurutan saat repolarisasi berlangsung.
Melalui mekanisme ini aliran ion lokal menembus membran plasma dan
menghasilakan impuls saraf yang meeambat di sepanjang akson itu.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Hasil Praktikum


Hasil Kuis Post-lab
Anda mendapat skor 100% dengan menjawab 3 dari 3 pertanyaan dengan benar.

1. Tegangan ambang pada akson biasanya


Anda menjawab dengan benar:
Sebuah. kurang negatif dari potensial membran istirahat.

2. Jika potensial reseptor bergradasi membuat potensial membran istirahat akson lebih negatif
(misalnya, -70 mV berubah menjadi -75 mV), Anda akan mengharapkan
Anda menjawab dengan benar:
d. akan lebih sulit bagi akson ini untuk mencapai ambang tegangan.

3. Kegagalan untuk mencapai ambang tegangan pada akson neuron sensorik dapat disebabkan
oleh
Anda menjawab dengan benar:
d. semua yang di atas.

Lembar Hasil Review


1. Tetapkan ambang batas istilah yang berlaku untuk potensial aksi.
Jawabanmu:
Potensial aksi hanya dapat terjadi jika stimulus mencapai ambang batas

2. Apa perubahan potensial membran (depolarisasi atau hiperpolarisasi) yang memicu


potensial aksi?
Jawabanmu:
Potensial aksi pemicu adalah depolarisasi

3. Bagaimana potensial aksi pada R1 (atau R2) berubah ketika Anda meningkatkan tegangan
stimulus di atas ambang tegangan? Seberapa baik hasil dibandingkan dengan prediksi Anda?
Jawabanmu:
Potensial aksi tidak akan berubah hanya karena tegangan stimulus meningkat. ambang
tegangan merupakan satu-satunya titik yang akan membuat potensi aksi menjadi tetap.

16
4. Potensial aksi adalah peristiwa "semua atau tidak sama sekali". Jelaskan apa yang
dimaksud dengan frasa ini. Jawaban Anda:
Hanya ada dua hasil, antara terjadi atau tidak. Ketika potensial terjadi, maka nilai
potensialnya selalu sama

5. Bagian mana dari neuron yang diselidiki dalam aktivitas ini?


Jawabanmu:
Akson

3.2 Kesimpulan
1. Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel.
Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (neurit).
2. Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan
(impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan.
3. Potensial aksi adalah tahan short event di mana listrik potensial membran dari sel dengan
cepat naik dan turun, mengikuti lintasan konsisten.
4. Perubahan-perubahan potensial seperti itu dinamakan potensial elektronik, potensial yang
terbentuk di katoda dinamakan katelektrotonik dan yang dihasilkan di anoda dinamakan
anelektrotonik

17
DAFTAR PUSTAKA

Irfanuddin. (2019). FungsiTubuhManusia. Palembang: FakultasKedokteranUniversitasSriwijaya.

Guyton A.C., Hall J.E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke-11. Alih Bahasa: Irawati, Ramadani
D, Indriyani. Editor Bahasa Indonesia: Setiawati. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2006;
597-607, 627- 631.

Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi ManusiadariSelkeSistemEdisi 6. Jakarta:EGC.

18