Anda di halaman 1dari 21

TUGAS RADIOLOGI

Oleh:
Wulan Noventi

Perceptor :

dr. Karyanto, Sp. Rad

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. H. ABDUL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
2018
SOAL-SOAL

1. Sebutkan differensiasi dan ciri-ciri radiologis bayangan opaque/semiopaque


lapangan paru! (15 macam)
2. Sebutkan differensiasi dan ciri-ciri radiologis gambaran radiolusen lapangan
paru! (10 macam)
3. Sebutkan klasifikasi TB!
4. Jelaskan patofisiologi dan ciri-ciri radiologis TB anak!
5. Jelaskan mengenai penyakit jantung bawaan (PJB), sianotic trap, nonsianotik
dan gambarannya pada foto thorax!
6. Buat skematik gambar dan terangkan proses terjadinya sinar x?
7. Buat skematik gambar dan terangkan proses mekanisme USG?
8. Buat skematik gambar dan terangkan proses mekanisme MRI?
1. Differensial Diagnosis dan ciri radiologis gambaran opaque & semiopaque pada
foto thorax

Densitas tiap organ / struktur tubuh bebeda-beda, ditentukan berdasarkan pada


kemampuan substansi menembus sinar X. Substansi yang mudah ditembus sinar X akan
memberikan bayangan hitam (radiolusen) sedangkan yang sulit ditembus akan
memberikan bayangan putih (radioopak).

Densitas Foto X-Ray


Radioopaque Logam, kontras media

Moderately Tulang, struktur yang mengalami kalsifikasi


Radioopaque
Intermediate Jaringan lunak, cairan/darah, pembuluh darah, otot,
kartilago
Moderately Jaringan lemak
Radioluscent
Radioluscent Udara, gas

Diagnosa Banding Gambaran Radiologis


1. Bronkitis Kronik  Golongan ringan: corakan peribronkial yang
ramai/bertambah di bagian basal paru oleh penebalan
dinding bronkus dan peribronkus.
 Golongan sedang juga disertai emfisema.
 Golongan berat ditemukan hal-hal tersebut diatas dan
disertai cor pulmonale (komplikasi bronkitis kronis).
2. Sindrom Loffler Bayangan kurang opak, dapat satu atau ganda, unilateral
atau bilateral. Tipe bayangan tersebut menempel (patchy
in type) biasanya kurang berbatas tegas. Densitas
homogen biasanya perifer dan cepat berubah.

3. Pneumonia Rheumatik Densitas berkabut, biasanya di daerah parahiler dan di


lapangan tengah paru. Bayangan ini dapat menyatu atau
bercak yang tidak rata dan acap kali berhubungan dengan
perubahan basal menunjukkan kongesti paru.

4. Pneumonia Alveolar Bayangan perselubungan homogen berdensitas tinggi


pada non segmental atau segmental, lobus paru, atau
pada sekumpulan segmen lobus yang berdekatan,
berbatas tegas. Air bronchogram biasanya ditemukan
diantara daerah konsolidasi.
5. Pneumonia Interstitial Gambaran bronchial cuffing, yaitu penebalan dan edema
pada dinding bronkiolus. Corakan bronkovaskular
meningkat, hiperaerasi, bercak-bercak infiltrat dan efusi
pleura juga dapat ditemukan.

6. Bronkopneumonia Bercak infiltrat pada lapangan bawah/tengah paru.

7. Tuberkulosis Paru  Tuberkulosis paru aktif


Bercak berawan disertai kavitas pada kedua lapangan
paru.

 Tuberkulosis paru lama aktif


Bercak berawan pada kedua
lapangan paru atas yang
disertai kavitas, bintik-bintik
kalsifikasi, garis fibrosis
yang menyebabkan retraksi
hilus ke atas.
 Tuberkulosis lama tenang
Bintik-bintik kalsifikasi serta garis fibrosis pada
kedua lapangan paru atas.

 Tuberkulosis Miliar
Bercak-bercak granuler pada seluruh lapangan keduaparu

8. Efusi Pleura Perselubungan homogen menutupi struktur paru bawah


yang biasanya relative radioopak dengan permukaan atas
cekung, berjalan dari lateral atas kearah medial bawah.
Jaringan paru akan terdorong kearah sentral/hilus dan
kadang mendorong mediastinum kearah kontralateral.

9. Atelektasis Bayangan lebih suram (densitas


tinggi) pada bagian paru, baik
lobaris, segmental, atau seluruh
paru, dengan penarikan
mediastinum kearah atelektasis,
sedangkan diafragma tertarik
keatas dan sela iga menyempit.
10. Abses Paru Satu atau multi kavitas berdinding tebal, dapat pula
ditemukan permukaan udara dan cairan di
dalamnya.Bayangan dengan batas tidak tegas (irreguler),
dinding granulomatous/radang/jaringan atelektasis, bila
berhubungan dengan bronkus air fluid level (+), sering
dekat dengan permukaan pleura (fistula bronchopleura).

11. Tumor Paru Perselubungan homogen yang berbatas tegas pada daerah
paru.

12. Metastasis Paru Gambaran bayangan bulat berukuran beberapa milimeter


sampai beberapa centimeter, tunggal (soliter) atau ganda
(multiple), batas tegas yang sering disebut coin lesion
pada kedua lapangan paru. Bayangan tersebut dapat
mengandung bercak kalsifikasi. Dapat juga terdapat
pembesaran kelenjar mediastinum, penekanan trakea,
bronkovaskular kasar unilateral atau bilateral atau
gambaran garis-garis berdensitas tinggi halus seperti
rambut.
13. Edema Paru Perselubungan atau perbercakan di 2/3 medial(perihilar)
kedua paru(bilateral) yang memberikan gambaran “bat
wings appearance"

14. Hyalin Membran Lesi granuler yang merata di seluruh paru, ukuran paru
Disease mengecil, batas pembuluh darah tidak jelas, dan toraks
berbentuk bel. Pada kasus lebih berat didapatkan
bayangan paru lebih radioopak, adanya air bronkogram,
dan batas jantung dan mediastinum yang tidak jelas,
kadang-kadang diperoleh gambaran ground glass
appearance. Pada keadaan paling berat ditemukan
gambaran white lung.

15. Sindrom Aspirasi Bercak-bercak tersebar di kedua paru, kadang disertai


Mekonium atelektasis.
2. Differensial Diagnosis dan ciri radiologi gambaran ladiolusen pada foto thorax
Diagnosa Gambaran Radiologis
Banding
1. PPOK Thoraks berbentuk silindrik, diafragma letak rendah dengan bentuk
(Penyakit Paru datar, bayangan lebih radiolusen, sela iga melebar, gambaran fibrosis
Obstruktif dan vascular paru relative jarang; corakan jaringan paru tampak lebih
Kronik) jelas.

3. Pneumotoraks Bayangan radiolusen yang tanpa struktur jaringan paru (avascular


pattern) dengan batas paru berupa garis radioopak tipis berasal dari
pleura viseral. Jika pneumotoraks luas, akan menekan jaringan paru
kearah hilus atau paru menjadi kuncup/kolaps di daerah hilus dan
mendorong mediastinum kearah kontralateral. Sela iga menjadi lebih
lebar.

4. Tension Pada foto inspirasi, paru yang terkena seluruhnya kolaps tetapi
Pneumotoraks mediastinum ditengah. Pada foto ekspirasi, udara terjebak di
hemithorax yang terkena di bawah tekanan positif, jantung, dan paru
kontralateral tertekan ke arah yang sehat.

5. Bronkiektasis Bronkovaskular yang kasar yang umumnya terdapat di lapangan bawah


paru, atau gambaran garis-garis translusen yang panjang menuju ke
hilus dengan bayangan konsolidasi sekitarnya akibat peradangan
sekunder, kadang-kadang juga bias berupa bulatan-bulatan translusen
yang sering dikenal sebagai gambaran sarangtawon (honey comb
appearance). Bulatan-bulatan ini dapat berukuran besar (diameter 1-
10cm) yang berupa kista-kista translusen dan kadang-kadang berisi
cairan (air fluid level) akibat peradangan sekunder.

5. Emfisema Toraks berbentuk silindrik. Bayangan paru lebih radiolusen pada


seluruh paru atau lobaris ataupun segmental, corakan jaringan paru
tampak lebih jelas, vascular paru yang relative jarang. Diafragma letak
rendah dengan bentuk yang datar dan peranjakan yang berkurang.
Jantung ramping, sela iga melebar.

6. Flail Chest Bayangan udara yang terlihat akibat kontusio paru. Gambaran fraktur
kosta yang multipel.

7. Kista Paru Tampak hilus normal, corakan paru bertambah, rongaluscen/opak


berdinding tipis reguler, soliter/multipel di kedua lapang paru.

8. Pulmonary Tampak fissura horizontal pada paru kanan atas dimana daerah
Embolus tersebut terlihat lebih hitam dibandingkan bagian kontralateral pada
tinggi yang sama (Westermark’s sign) dari perfusi yang berkurang
pada daerah paru yang mengindikasikan bahwa arteri pada daerah ini
mengandung gumpalan besar. Daerah konsolidasi dibawah fissura
horisontal, merupakan titik kecil dari infarksi.

9. Stenosis Bayangan radiolusen pada bagian aorta karena terjadinya pengecilan


Pulmonary
aorta serta arteri pulmonalis menonjol. Pembuluh darah paru-paru
berkurang dan tampak kecil-kecil.

10. Bula Terdapat area fokal dengan gambaran radioluscent yang dapat dilihat
Emfisematus dengan jelas karena dilapisi oleh sebuah dinding tipis. Fluid level
memungkinkan adanya infeksi di dalam bula. Karakteristik dalam
fotothoraks lain ialah paru yang hiperekspansi dengan pendataran
kedua hemidiafragma.

3. Klasifikasi dan ciri-ciri radiologis pada TB!


Klasifikasi tuberkulosis:
 Tuberkulosis primer
Terjadi karena inhalasi Mycobacterium tuberculosis.
Biasanya pada anak. Dapat berlokasi dimana saja,
sarang dalam parenkim sering disertai oleh pembesaran kelenjar limfe regional
(kompleks primer).
 Tidak disertai gejala klinis
 Lokasi kelainan biasanya pada satu lobus, terutama lobus kanan bagian bawah,
tengah, dan lingula serta segmen anterior lobus atas
 15% pada foto thoraks terlihat normal
 Pada paru dijumpai infiltrat dan kavitas
 Kelainan: limfadenopati, parenchymal disease, miliary disease, dan efusi
pleura
 Tuberkulosis sekunder atau re-infeksi
Sarang-sarang terlihat pada lapangan atas dan segmen apikal lobi bawah, kadang-
kadang di lapangan bawah yang biasanya disertai pleuritis. Jarang ditemukan
pembesaran kelenjar limfe.

Klasifikasi tuberkulosis sekunder menurut American


Tuberculosis Association:
 Tuberkulosis minimal (minimal tuberculosis)
Luas sarang-sarang tidak melebihi daerah
yang dibatasi garis median, apeks, dan iga 2
depan. Sarang-sarang soliter terdapat dimana
saja. Tidak ditemukan kavitas.
 Tuberkulosis lanjut sedang (moderately
advanced tuberculosis)
Luas sarang-sarang yang bersifat bercak-
bercak tidak melebihi luas satu paru, bila ada
kavitas tidak melebihi 4 cm. Jika sarang
berupa awan menjadi daerah konsolidasi yang homogen, luasnya tidak lebih
dari luas 1 lobus.
 Tuberkulosis sangat lanjut (far advanced tuberculosis)
Luas daerah yang terdapat sarang melebihi kedua klasifikasi diatas, jika ada
kavitas lebih dari 4 cm.
Menurut bentuk kelainan pada radiologis kelainannya dapat dibagi menjadi:

 Sarang eksudatif, berbentuk awan-awan atau bercak, yang batasnya tidak tegas
dengan densitas rendah
 Sarang produktif, berbentuk butir-butir bulat kecil yang batasnya tegas dan
densitasnya sedang
 Sarang induratif atau fibrotik, yaitu yang berbentuk garis-garis, atau pita tebal,
berbatas tegas dengan densitas tinggi.
 Kavitas (lubang)
 Sarang kapur ( kalsifikasi)

Berdasarkan tipe pasien tuberkulosis dibagi menjadi:


 Kasus baru
 Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
 Kasus kambuh (relaps)
 Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahah BTA positif atau biakan
positif.Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi
aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
 Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkiektasis, jamur, keganasan dll)
 TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang berkompeten
menangani kasus tuberkulosis
 Kasus drop out
 Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan > 1 bulan dan tidak mengambil obat 2
bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
 Kasus gagal
 Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada
akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir pengobatan.
 Kasus kronik
 Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik
 Kasus bekas

Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran radiologi paru
menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial menunjukkan gambaran yang menetap.
Riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih mendukung. Pada kasus dengan gambaran
radiologi meragukan dan telah mendapat pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks
ulang tidak ada perubahan gambaran radiologi.
4. Patofisologi dan ciri radiologis TB anak
a. Patofisiologi TB
Infeksi TB ditularkan melalui inhalasi droplet saluran nafas yang mengandung kuman –
kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Basil tuberkel yang
mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu
sampai tiga basil. Setelah berada dalam ruang alveolus, biasanya dibagian bawah lobus
atas paru atau dibagian atas lobus bawah, basil tuberkel membangkitkan reaksi
peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit
bakteri tersebut, namun tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama,
leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi.
Bakteri terus difagositatau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui
getah bening menuju ke kelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan
infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel
epiteloid, yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10
sampai 20 hari.

Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumoni
kecil dan disebut sarang primer atau fokus Ghon. Dari sarang primer akan timbul
peradangan saluran getah bening menuju hilus dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah
bening hilus. Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. Kompleks primer ini
selanjutnya dapat menjadi :
1. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat.
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis
fibrotik, kalsifikasi di hilus dan dapat terjadi reaktivasi lagi karena
kuman yang dormant.
3. Berkomplikasi dan menyebar.

Kuman yang dormant akan muncul bertahun-


tahun kemudian sebagai infeksi endogen
menjadi tuberkulosis dewasa. TB sekunder ini
dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di
region atas paru. Sarang dini ini mula-mula
juga berbentuk tuberkel yakni suatu
granuloma yang dikelilingi oleh sel-sel
limfosit dan berbagai jaringan ikat. Sarang
dini yang meluas sebagai granuloma
berkembang menghancurkan jaringa n ikat
sekitar dan bagian tengahnya mengalami
nekrosis menjadi lembek membentuk
perkejuan. Bila jaringan perkejuan
dibatukkan, akan menimbulkan kavitas.
Perbedaan TB anak dan TB dewasa:
TB primer TB sekunder
(TB anak) (TB dewasa)
Lokasi Dapat di semua bagian paru Apeks dan infra klavikuler
Kelenjar limfe regional Membesar Tidak
Penyembuhan Perkapuran Fibrosis
Penyebaran Hematogen Sering Jarang

6. Skema gambar dan terangkan proses terjadinya sinar X


Sinar X :adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang
radio, panas, cahaya sinar ultraviolet, tetapi mempunyai panjang gelombang yang
sangat pendek sehingga dapat menembus benda-benda. Sinar X ditemukan oleh
sarjana fisika berkebangsaan Jerman yaitu W. C. Rontgen tahun 1895

Sifat-sifat sinar X :
 Mempunyai daya tembus yang tinggi Sinar X dapat menembus bahan dengan daya
tembus yang sangat besar, dan digunakan dalam proses radiografi.
 Mempunyai panjang gelombang yang pendek Yaitu : 1/10.000 panjang gelombang
yang kelihatan
 Mempunyai efek fotografi. Sinar X dapat menghitamkan emulsi film setelah
diproses di kamar gelap.
 Mempunyai sifat berionisasi.Efek primer sinar X apabila mengenai suatu bahan
atau zat akan menimbulkan ionisasi partikel-partikel bahan zat tersebut.
 Mempunyai efek biologi. Sinar X akan menimbulkan perubahan-perubahan biologi
pada jaringan. Efek biologi ini digunakan dalam pengobatan radioterapi

Proses Terjadinya sinar X


1. Di dalam tabung roentgen ada katoda dan anoda dan bila katoda (filament)
dipanaskan lebih dari 20.000 derajat C sampai menyala dengan mengantarkan
listrik dari transformator.
2. Karena panas maka electron-electron dari katoda (filament) terlepas,
3. Dengan memberikan tegangan tinggi maka electron-elektron dipercepat
gerakannya menuju anoda (target),
4. Elektron-elektron mendadak dihentikan pada anoda (target) sehingga terbentuk
panas (99%) dan sinar X (1%),
5. Sinar X akan keluar dan diarahkan dari tabung melelui jendela yang
disebut diafragma,
6. Panas yang ditimbulkan ditiadakan oleh radiator pendingin.
TABUNG ROENTGEN

7. Skema gambar dan terangkan mekanisme USG


USG adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang
ultrasonik, yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz –
2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor. Pada
awalnya penemuan alat USG diawali dengan penemuan gelombang ultrasonik
kemudian bertahun-tahun setelah itu, tepatnya sekira tahun 1920-an, prinsip kerja
gelombang ultrasonik mulai diterapkan dalam bidang kedokteran. Penggunaan
ultrasonik dalam bidang kedokteran ini pertama kali diaplikasikan untuk
kepentingan terapi bukan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Dalam hal ini yang
dimanfaatkan adalah kemampuan gelombang ultrasonik dalam menghancurkan
sel-sel atau jaringan “berbahaya” ini kemudian secara luas diterapkan pula untuk
penyembuhan penyakit-penyakit lainnya. Misalnya, terapi untuk penderita
arthritis, haemorrhoids, asma, thyrotoxicosis, ulcus pepticum (tukak lambung),
elephanthiasis (kaki gajah), dan bahkan terapi untuk penderita angina pectoris
(nyeri dada). Baru pada awal tahun 1940, gelombang ultrasonik dinilai
memungkinkan untuk digunakan sebagai alat mendiagnosis suatu penyakit, bukan
lagi hanya untuk terapi. Hal tersebut disimpulkan berkat hasil eksperimen Karl
Theodore Dussik, seorang dokter ahli saraf dari Universitas Vienna, Austria.
Bersama dengan saudaranya, Freiderich, seorang ahli fisika, berhasil menemukan
lokasi sebuah tumor otak dan pembuluh darah pada otak besar dengan mengukur
transmisi pantulan gelombang ultrasonik melalui tulang tengkorak. Dengan
menggunakan transduser (kombinasi alat pengirim dan penerima data), hasil
pemindaian masih berupa gambar dua dimensi yang terdiri dari barisan titik-titik
berintensitas rendah. Kemudian George Ludwig, ahli fisika Amerika,
menyempurnakan alat temuan Dussik.

Teknologi transduser digital sekira tahun 1990-an memungkinkan sinyal


gelombang ultrasonik yang diterima menghasilkan tampilan gambar suatu
jaringan tubuh dengan lebih jelas. Penemuan komputer pada pertengahan 1990
jelas sangat membantu teknologi ini. Gelombang ultrasonik akan melalui proses
sebagai berikut, pertama, gelombang akan diterima transduser. Kemudian
gelombang tersebut diproses sedemikian rupa dalam komputer sehingga bentuk
tampilan gambar akan terlihat pada layar monitor. Transduser yang digunakan
terdiri dari transduser penghasil gambar dua dimensi atau tiga dimensi. Seperti
inilah hingga USG berkembang sedemikian rupa hingga saat ini.

Ultrasonography adalah salah satu dari produk teknologi medical imaging yang
dikenal sampai saat ini Medical imaging (MI) adalah suatu teknik yang digunakan
untuk mencitrakan bagian dalam organ atau suatu jaringan sel (tissue) pada tubuh,
tanpa membuat sayatan atau luka (non-invasive). Interaksi antara fenomena fisik
tissue dan diikuti dengan teknik pendetektian hasil interaksi itu sendiri untuk
diproses dan direkonstruksi menjadi suatu citra (image), menjadi dasar bekerjanya
peralatan MI.

SKEMA CARA KERJA USG


1. Transduser
Transduser adalah komponen USG yang ditempelkan pada bagian tubuh yang
akan diperiksa, seperti dinding perut atau dinding poros usus besar pada
pemeriksaan prostat. Di dalam transduser terdapat kristal yang digunakan untuk
menangkap pantulan gelombang yang disalurkan oleh transduser. Gelombang
yang diterima masih dalam bentuk gelombang akusitik (gelombang pantulan)
sehingga fungsi kristal disini adalah untuk mengubah gelombang tersebut menjadi
gelombang elektronik yang dapat dibaca oleh komputer sehingga dapat
diterjemahkan dalam bentuk gambar.
2.Monitor Monitor yang digunakan dalam USG
3. Mesin USG
Mesin USG merupakan bagian dari USG dimana fungsinya untuk mengolah data
yang diterima dalam bentuk gelombang. Mesin USG adalah CPUnya USG
sehingga di dalamnya terdapat komponen-komponen yang sama seperti pada CPU
pada PC cara usg merubah gelombang menjadi gambar

8. Skema gambar dan terangkan mekanisme MRI

Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu alat kedokteran di bidang


pemeriksaan diagnostik radiologi , yang menghasilkan rekaman gambar potongan
penampang tubuh / organ manusia dengan meng-gunakan medan magnet
berkekuatan antara 0,064 – 1,5 tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dan resonansi getaran
terhadap inti atom hidrogen. Beberapa faktor kelebihan yang dimiliki-nya,
terutama kemampuannya membuat potongan koronal, sagital, aksial dan oblik
tanpa banyak memanipulasi posisi tubuh pasien sehingga sangat sesuiai untuk
diagnostik jaringan lunak. Teknik penggambaran MRI relatif komplek karena
gambaran yang dihasilkan tergantung pada banyak parameter. Bila pemilihan
para-meter tersebut tepat, kualitas gambar MRI dapat memberikan gambaran
detail tubuh manusia dengan perbedaan yang kontras, sehingga anatomi dan
patologi jaringan tubuh dapat dievaluasi secara teliti.

Untuk menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal sebagai alat
diag-nostik, maka harus memperhitungkan hal-hal yang berkaitan dengan teknik
penggambaran MRI, antara lain :
a. Persiapan pasien serta teknik pemeriksaan pasien yang baik, ;
b. Kontras yang sesuai dengan tujuan pemeriksaanya
c. Artefak pada gambar, dan cara mengatasinya ;
d. Tindakan penyelamatan terhadap keadaan darurat.

Selanjutnya MRI bila ditinjau dari tipenya terdiri dari : a. MRI yang memiliki
kerangka terbuka (open gantry) dengan ruang yang luas dan b. MRI yang
memiliki kerangka (gantry) biasa yang berlorong sempit. Sedangkan bila ditinjau
dari kekuatan magnetnya terdiri dari ; a. MRI Tesla tinggi ( High Field Tesla )
memiliki kekuatan di atas 1 – 1,5 T ; b. MRI Tesla sedang (Medium Field Tesla)
memiliki kekuatan 0,5 – T ; c. MRI Tesla rendah (Low Field Tesla) memiliki
kekuatan di bawah 0,5 T. Sebaiknya suatu rumah sakit memilih MRI yang
memiliki tesla tinggi karena alat tersebut dapat digunakan untuk tehnik Fast Scan
yaitu suatu tehnik yang memungkinkan 1 gambar irisan penampang dibuat dalam
hitungan detik, sehingga kita dapat membuat banyak irisan penampang yang
bervariasi dalam waktu yang sangat singkat. Dengan banyaknya variasi gambar
membuat suatu lesi menjadi menjadi lebih spesifik.

Perkembangan MRI.
Pada tahun 1946, Felix Bloch dan Purcell mengemukakan teori, bahwa inti atom
bersifat sebagai magnet kecil, dan inti atom membuat spinning dan precessing.
Dari hasil penemuan kedua orang diatas kemudian lahirlah alat Nuclear Magnetic
Resonance (NMR) Spectrometer, yang penggunaannya terbatas pada kimia saja.
Setelah lebih dari sepuluh tahun Raymond Damadian bekerja dengan alat NMR
Spectometer, maka pada tahun 1971 ia menggunakan alat tersebut untuk
pemeriksaan pasien. Pada tahun 1979, The University of Nottingham Group
memproduksi gambaran potongan coronal dan sagittal (disamping potongan
aksial) dengan NMR.Selanjutnya karena kekaburan istilah yang digunakan untuk
alat NMR dan di bagian apa sebaiknya NMR diletakkan, maka atas
saran dari AMERICAN COLLEGE of RADIO-LOGI (1984), NMR dirubah
menjadi Magnetic Resonance Imaging ( MRI) dan diletakkan di bagian Radiologi.

Prinsip Dasar MRI


Struktur atom hidrogen dalam tubuh manusia saat diluar medan magnet
mempunyai arah yang acak dan tidak membentuk keseimbangan. Kemudian saat
diletakkan dalam alat MRI (gantry), maka atom H akan sejajar dengan arah medan
magnet . Demikian juga arah spinning dan precessing akan sejajar dengan arah
medan mag-net. Saat diberikan frequensi radio , maka atom H akan mengabsorpsi
energi dari frequensi radio tersebut. Akibatnya dengan bertambahnya energi, atom
H akan mengalami pembelokan, sedangkan besarnya pembelokan arah,
dipengaruhi oleh besar dan lamanya energi radio frequensi yang diberikan.
Sewaktu radio frequensi dihentikan maka atom H akan sejajar kembali dengan
arah medan magnet . Pada saat kembali inilah, atom H akan memancarkan energi
yang dimilikinya. Kemudian energi yang berupa sinyal tersebut dideteksi dengan
detektor yang khusus dan diper-kuat. Selanjutnya komputer akan mengolah dan
merekonstruksi citra berdasarkan sinyal yang diperoleh dari berbagai irisan.

Instrumen M R I
Secara garis besar instrumen MRI terdiri dari: a. Sistem magnet yang berfungsi
membentuk medan magnet. Agar dapat mengoperasikan MRI dengan baik, kita
perlu mengetahui tentang : tipe magnet, efek medan magnet, magnet shielding ;
shimming coil dari pesawat MRI tersebut ; b. Sistem pencitraan berfungsi
membentuk citra yang terdiri dari tiga buah kumparan koil, yaitu : 1.Gradien koil
X, untuk membuat citra potongan sagittal. 2 . Gardien koil Y, untuk membuat
citra potongan koronal. 3. Gradien koil Z untuk membuat citra potongan aksial .
Bila gradien koil X, Y dan Z bekerja secara bersamaan maka akan terbentuk
potongan oblik; c. Sistem frequensi radio berfungsi mem-bangkitkan dan
memberikan radio frequensi serta mendeteksi sinyal ; d. Sistem komputer
berfung-si untuk membangkitkan sekuens pulsa, mengon-trol semua komponen
alat MRI dan menyim-pan memori beberapa citra; e. Sistem penceta-kan citra,
berfungsinya untuk mencetak gambar pada film rongent atau untuk menyimpan
citra.

Aplikasi Klinik Pemeriksaan M R I


Pemeriksaan MRI bertujuan mengetahui karakteristik morpologik (lokasi, ukuran,
bentuk, perluasan dan lain lain dari keadaan patologis. Tujuan tersebut dapat
diperoleh dengan menilai salah satu atau kombinasi gambar penampang tubuh
akial, sagittal, koronal atau oblik tergantung pada letak organ dan kemungkinan
patologinya. Adapun jenis pemeriksaan MRI sesuai dengan organ yang akan
dilihat, misalnya : 1. Pemeriksaan kepala untuk melihat kelainan pada : kelenjar
pituitary, lobang telinga dalam , rongga mata , sinus ; 2. Pemeriksaan otak untuk
mendeteksi : stroke / infark, gambaran fungsi otak, pendarahan, infeksi; tumor,
kelainan bawaan, kelainan pembuluh darah seperti aneurisma, angioma, proses
degenerasi, atrofi; 3. Pemeriksaan tulang belakang untuk melihat proses
Degenerasi (HNP), tumor, infeksi, trauma, kelainan bawaan. 4. Pemeriksaan
Musculo-skeletal untuk organ : lutut, bahu , siku, pergelangan tangan, pergelangan
kaki , kaki , untuk mendeteksi robekan tulang rawan, tendon, ligamen, tumor,
infeksi/abses dan lain lain ;5. Pemeriksaan Abdomen untuk melihat hati , ginjal,
kantong dan saluran empedu, pakreas, limpa, organ ginekologis, prostat, buli-buli
6. Pemeriksaan Thorax untuk melihat : paru –paru, jantung.

Kelebihan MRI Dibandingkan dengan CT Scan


Ada beberapa kelebihan MRI dibandingkan dengan pemeriksaan CT Scan yaitu :
1. MRI lebih unggul untuk mendeteksi beberapa kelainan pada jaringan lunak
seperti otak, sumsum tulang serta muskuloskeletal.
2. Mampu memberi gambaran detail anatomi dengan lebih jelas.
3. Mampu melakukan pemeriksaan fungsional seperti pemeriksaan difusi, perfusi
dan spektroskopi yang tidak dapat dilakukan dengan CT Scan.
4. Mampu membuat gambaran potongan melintang, tegak, dan miring tanpa
merubah posisi pasien.
5. MRI tidak menggunakan radiasi pengion.