Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KADAR NO2 SERTA

KELUHAN KESEHATAN PETUGAS PEMUNGUT KARCIS TOL


Environmental Health Risk Assessment of NO2 Ambient Level and Toll Collectors Officer‘S
Health Complaints

Romi Darmawan
Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga
romiedprivat@gmail.com

Abstrak: Saat ini kadar NO2 udara ambien semakin meningkat setiap tahunnya. Kadar NO2 yang melebihi standar baku
mutu akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan maupun kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis kadar NO2 serta keluhan kesehatan petugas pemungut karcis tol Gerbang Tol Dupak 1, Kota Surabaya
dengan pendekatan analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL). Penelitian ini bersifat deskriptif dengan design
penelitian cross sectional. Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepada 17 responden yang sesuai
dengan kriteria inklusi untuk mengetahui keluhan kesehatan responden. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
kadar NO2, jenis kelamin, umur, berat badan, lama bertugas per hari dan masa kerja. Sedangkan variabel terikat dalam
penelitian ini adalah keluhan kesehatan petugas pemungut karcis tol Gerbang Tol Dupak 1 Surabaya yaitu, pusing,
perih pada mata, mata merah, sesak nafas dan batuk. Hasil ARKL menunjukkan bahwa petugas pemungut karcis
tol dengan rata-rata berat badan 62 kg tidak aman bekerja di Gerbang Tol Dupak 1 Surabaya jika laju asupan udara
sebesar 0,83 m3/jam, bekerja 8 jam/hari dalam 350 hari/tahun selama 30 tahun ke depan jika nilai konsentrasi NO2
maksimal 0,1183 ppm (RQ > 1). Keluhan kesehatan yang terjadi pada responden adalah batuk 82,3%, mata merah
70,5%, perih pada mata 64,7%, pusing 53% serta sesak nafas 47%. Berdasarkan hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa
tingkat risiko paparan NO2 bagi responden tidak aman dan hendaknya melakukan upaya preventif seperti konsumsi
kaya vitamin C dan E, dan memakai masker N95. Penerapan peraturan untuk pemakaian masker dan kawasan tanpa
rokok harus diterapkan secara tegas.

Kata kunci: kadar NO2, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan, keluhan kesehatan, petugas pemungut karcis Tol

Abstract: Nowadays NO2 ambient level has been increasing in year to year. Pollutant level which has over level from the
threshold limit will give some of bad effects to environment and human health. The aim of this study was to measure the
environmental health risk assessment of NO2 ambient level and toll collectors officer ‘s health complaints at Toll gate of
Dupak 1, Surabaya. This was descriptive study with cross sectional design. Interview was done to 17 respondents who
met the conclusion criteria to know respondent’s health complaints. Independent variables were NO2 level, sex, age,
weight, length of work in a day and work period. Where as dependent variabel was toll collectors officer’s of Toll gate
of Dupak 1 Surabaya health complaints, such as: headache, eyes irritation, red eyes, hard to breath and cough. Result
shown that respondent with 62 weight average were not safe work in Toll gate of Dupak 1 if the air velocity was 0.83 m3/
hour, in 8 hour/day, average of time in 350 days/year for next 30 years if NO2 level had maximal concentration 0.1183
ppm (RQ > 1). The majority of health complaints were cough 82.3%, red eyes 70.5%, eyes irritation 64.7%, headache
53%, and hard to breath 47%. However risk quotient of NO2 exposure was not safe for respondent with pollutants level
appropriate to the measurement result and should have preventive action like as consume vitamin C and E and use N95
and regulations for using masker and not smoking while work have to applied strictly.

Keywords: NO2 level, Environmental Health Risk Assessment (EHRA), health complaints, Toll collectors officer

PENDAHULUAN Berdasarkan hasil pemantauan Kementerian


Lingkungan Hidup melalui Air Quality Monitoring
Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat
Station (AQMS), enam dari sepuluh kota besar
merupakan bagian pokok di bidang kesehatan.
di Indonesia yaitu Jakarta, Surabaya, Medan,
Udara sebagai komponen lingkungan yang
Bandung, Jambi, dan Pekanbaru memiliki kualitas
penting dalam kehidupan perlu dipelihara
udara berkategori baik hanya selama 22 hingga
dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat
62 hari dalam setahun.
memberikan daya dukung bagi makhluk hidup
untuk hidup secara optimal (Depkes RI, 2004).

116
R Darmawan, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Kadar NO2 117

Udara merupakan campuran beberapa pemukim di sekitar jalan, petugas pemungut karcis
macam gas yang perbandingannya tidak tetap, tol dan sopir) (Layalia, 2009).
tergantung pada suhu udara, tekanan udara, dan Jalan tol merupakan salah satu jalur umum
lingkungan sekitarnya. Apabila susunan udara yang manfaatnya untuk bebas dari kepadatan di
mengalami perubahan dari susunan keadaan jalan raya. Di Surabaya ada banyak titik gerbang
normal dan mengganggu kehidupan manusia, tol salah satunya adalah Gerbang Tol Dupak.
hewan, dan tumbuhan maka berarti udara telah Gerbang Tol Dupak merupakan salah satu gerbang
tercemar. Salah satu teknologi yang menyebabkan tol dari dua gerbang tol kawasan Surabaya dengan
pencemaran udara adalah kendaraan bermotor. kuantitas kendaraan beroda empat yang cukup
Sebagian besar polusi udara (70%) disebabkan tinggi. Gerbang tol biasanya terdiri dari beberapa
oleh kegiatan transportasi (Arifin dan Sukoco, gardu dengan petugas pemungut karcis tol 3
2009). shift dalam sehari. Petugas pemungut karcis tol
Laju pertumbuhan kendaraan bermotor yang bekerja 8 jam per hari di gardu tol, memiliki
memberi kontribusi besar terhadap pencemaran risiko yang membahayakan kesehatannya akibat
udara. Zat pencemar udara utama di dunia paparan polutan udara di sekitar gerbang tol,
adalah gas buang dari sisa hasil pembakaran akibat kendaraan bermotor yang melintas, apalagi
bahan bakar fosil dari kendaraan bermotor. jika tol tersebut termasuk loket dengan kuantitas
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kendaraan yang cukup tinggi.
kendaraan bermotor merupakan kendaraan yang Dampak negatif yang ditimbulkan oleh gas
berkontribusi besar dalam pencemaran udara pencemar udara seperti NO2 dapat diperkirakan
(Budiyono, 2011). besar risiko kesehatannya. Untuk mengetahui
Dari lima kelompok polutan yaitu karbon seberapa besar risiko kesehatan yang ditimbulkan
monoksida, nitrogen dioksida, hidrokarbon, sulfur oleh gas pencemar udara tersebut, maka penelitian
oksida, dan partikel, yang tingkat toksisitasnya ini menggunakan suatu pendekatan yang disebut
paling tinggi adalah partikulat atau debu disusul Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).
nitrogen dioksida (Ferdiaz, 1992). Nitrogen Pendekatan ini digunakan untuk memprediksi
dioksida (NO2) termasuk polutan yang diemisikan besarnya risiko di masa yang akan datang (BBTKL
dari berbagai sumber di suatu kawasan terutama PP, 2012).
sektor transportasi. Sebagai gambaran umum,
sektor transportasi menyumbang pencemar NO2
METODE PENELITIAN
sebesar 69% di perkotaan, diikuti industri dan
rumah tangga (Mukono a, 2006). Penelitian ini dilakukan di Gerbang Tol Dupak
Kadar NO2 di udara jika terlalu tinggi diatas 1 Surabaya dan merupakan jenis penelitian
Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) 100 deskriptif dengan rancang bangun cross sectional.
akan mengakibatkan dampak negatif, yaitu: Pada penelitian ini hanya mengobservasi
terjadinya hujan asam, menyebabkan kesulitan fenomena pada satu titik pada waktu tertentu
bernafas bagi penderita asma, menyebabkan (Notoatmodjo, 2010). Populasi pada penelitian
batuk untuk anak-anak dan orang tua, menurunan ini adalah semua petugas pemungut karcis tol
visibilitas dan berbagai gangguan pernafasan, Gerbang Tol Dupak 1 Kota Surabaya. Sampel
serta dapat menyebabkan kematian. Selain itu, penelitian ini ada dua jenis; sampel lingkungan
masyarakat perlu mengetahui kadar nitrogen yaitu kadar NO2 yang terdapat di Gerbang Tol
dioksida (NO 2 ) yang aman bagi kesehatan Dupak 1 Kota Surabaya yang diukur sebanyak 3
(Prayudi dkk, 2010) kali pada hari jumat; pengukuran pertama pada
Petugas pemungut karcis tol adalah salah pukul 08.20–08.50 WIB, pengukuran kedua pada
satu kelompok masyarakat yang berisiko terpapar pukul 11.00–11.30 WIB dan pengukuran ketiga
NO2. Selain lingkungan kerja mereka yang berada pada pukul 14.00–14.30 WIB dan sampel manusia
di jalan raya, juga ruang kerja mereka yang sering yaitu petugas pemungut karcis tol Gerbang Tol
kali masih terbuka (ukuran jendela luas) sehingga Dupak 1 Kota Surabaya yang memenuhi adalah
gas pencemar udara termasuk NO 2 mudah inklusi. Adapun kriteria inklusinya responden bukan
memapar mereka. Masyarakat yang memiliki perokok aktif, responden berada di tempat tersebut
risiko tinggi adalah mereka yang memiliki aktivitas selama 8 jam per hari atau lebih, bekerja sebagai
tinggi di sekitar jalan (pedagang kaki lima, polisi, petugas pemungut karcis tol selama lebih dari 1
118 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No.1 Januari 2018: 116–126

tahun di daerah tersebut dan bersedia bekerja yaitu hasil uji kadar NO2. Keempat menghitung
sama dalam penelitian. kepadatan kendaraan yaitu dengan cara
Cara pengambilan sampel lingkungan yaitu menghitung jumlah kendaraan yang melintas di
pengambilan sampel udara parameter NO2 yaitu Gerbang Tol Dupak 1 Surabaya selama satu jam
pertama mengisi botol impinger dengan larutan di setiap pengukuran. Untuk pengambilan data
penyerap Griess Saltzman 10 ml, kemudian sekunder yaitu mengambil data kualitas udara
impinger dan erlenmeyer dengan tutup asah lingkungan kerja di Gerbang Tol Dupak 1 Kota
dihubungkan dengan selang silikon yang terdapat Surabaya dan data kepadatan kendaraan yang
pada alat yang tersambung dengan flow meter dan melintasi Gerbang Tol Dupak 1 Kota Surabaya.
pompa vakum dengan kecepatan aliran 0,4 liter/ Pengolahan data ARKL untuk memperkirakan
menit kemudian proses pemompaan dilakukan tingkat risiko kesehatan akibat paparan udara
selama 1 jam, setelah proses pemompaan, larutan emisi yang mengandung NO 2 dari populasi
penyerap didiamkan selama 15 menit untuk berisiko. Kadar tersebut kemudian dinyatakan
diukur absorpsi pada panjang gelombang 500 sebagai konsentrasi risk agent yang masuk ke
nm. Pada pembuatan kurva kalibrasi dilakukan tubuh manusia melalui inhalasi. Pengolahan
dengan memasukkan masing-masing 0,0 ml; data menggunakan perhitungan analisis risiko
0,1 ml; 0,2 ml; 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml; 1 ml larutan yaitu dengan menghitung asupan (intake), untuk
standar natrium nitrit 0,0164 gr/liter pada tabung mengetahui tingkat risiko risk agent (RQ) terhadap
uji 25 ml dengan menggunakan pipet volumetrik, responden. Perhitungan asupan (intake) diperoleh
kemudian larutan tersebut ditambahkan larutan berdasarkan data konsentrasi NO2 sebagai risk
penyerap sampai tanda batas pada tabung uji, agent dalam udara (mg/m³), laju asupan paparan
tabung uji dikocok kemudian didiamkan 15 menit (m³/hari), frekuensi paparan tahunan (hari/tahun),
untuk memperoleh perubahan warna, masing- durasi paparan (real time) dalam tahun, berat
masing campuran diukur absorbansinya dengan badan (kg), periode waktu rata-rata (30 tahun ×
alat spektrofotometer pada panjang gelombang 365 hari/tahun untuk nonkarsinogen) (Rahman,
550 nm (Dirjen PP PL, 2011). Sampel NO2 diukur 2007). Data asupan konsentrasi NO2 dalam udara
di laboratorium Hyperkes Kota Surabaya. diperoleh dengan menggunakan persamaan
Sedangkan cara pengambilan sampel berikut (Rahman, 2007).
manusia pada petugas pemungut karcis tol
menggunakan purposive sampling. Pengambilan C × R × tE × fE ×Dt
sampel dengan cara purposive didasarkan pada I =
Wb × t avg
suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh
peneliti sendiri berdasarkan ciri atau sifat populasi. I = Intake (asupan), jumlah risk agent yang masuk,
Berdasarkan kriteria inklusi terdapat 17 responden (mg/kg/hr)
dari 30 calon responden. C = Konsentrasi risk agent, mg/m3 untuk medium
udara, mg/L untuk air minum, mg/kg untuk
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
makanan atau pangan
kadar NO2, jenis kelamin, umur, berat badan, lama R = Laju (rate) asupan, 20 m3/hr atau 0.83 m3/jam
bertugas per hari dan masa kerja. Sedangkan (udara), 2 L/hr (air minum)
variabel terikat dalam penelitian ini adalah tE = Waktu pajanan harian, 24 jam/hari (hanya
keluhan kesehatan petugas pemungut karcis tol untuk pajanan inhalasi)
fE = Frekuensi pajanan tahunan, 350 hari/tahun
diantaranya, pusing, perih pada mata, mata merah,
Dt = Durasi pajanan, real time atau 30 tahun
sesak nafas dan batuk. proyeksi
Pengumpulan data dalam penelitian ini Wb = Berat badan, 70 kg atau 55 kg (70 kg dari US-
menggunakan data primer dan data sekunder. EPA, 1990)
Untuk pengumpulan data primer; pertama tavg = Periode waktu rata-rata, 30 tahun × 365 har/
tahun (non karsinogenik) atau 70 tahun × 365
melakukan wawancara dengan menggunakan
hari/tahun (karsinogenik)
kuesioner. Kuesioner ditujukan kepada responden
yang berisi beberapa pertanyaan yang sesuai
Karakterisasi risiko kesehatan dinyatakan
variabel penelitian meliputi karakteristik
sebagai Risk Quotient (RQ, tingkat risiko) untuk
individu, dan gangguan kesehatan yang dialami
efek non karsinogenik dan Excess Cancer Risk
oleh responden. Kedua, dengan melakukan
(ECR) untuk efek karsinogenik. Dihitung dengan
penimbangan berat badan responden. Ketiga
rumus:
berupa hasil uji laboratorium udara ambien
R Darmawan, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Kadar NO2 119

RQ = Ink / RfC Tabel 1.


Distribusi Karakteristik Responden di Gerbang Tol
RQ : Risk Quotient Dupak 1 Kota Surabaya Tahun 2014
Ink : Intake (asupan) non karsinogenik
RfC : Reference Concentration (untuk pajanan melalui Karakteristik Jumlah Persentase
inhalasi) Responden (orang) (%)
Jenis Kelamin
Risk agent dari udara belum memiliki Cancer Laki-laki 5 29,4
Slope Factor (CSF), oleh karena itu hanya bisa Perempuan 12 70,6
dihitung risiko nonkarsinogeniknya saja (RQ). Umur (tahun)
RQ < 1 berarti pemajanan risk agent masih 21–40 3 17,7
relatif aman bagi kesehatan tetapi jika RQ > 1, 41–60 14 82,3
maka pemajanan risk agent bisa menimbulkan Berat Badan (Kg)
dampak berbahaya atau gangguan kesehatan 51–60 9 52,9
bagi kesehatan petugas pemungut karcis tol 61–70 6 35,3
yang terpajan. Sedangkan analisis statistik 71–80 2 11,8
dilakukan dengan cara deskriptif yaitu dengan Lama Bertugas (Jam)
menggambarkan besar risiko gangguan kesehatan 8 17 100
yang akan dialami oleh petugas pemungut karcis Masa Kerja (tahun)
tol Gerbang Tol Dupak 1 Kota Surabaya akibat ≤ 10 2 11,7
adanya NO2 di udara. > 10 15 88,3

HASIL DAN PEMBAHASAN


Semua responden dalam penelitian ini
bertugas di lokasi penelitian selama 8 jam per hari
Karakteristik Responden
sesuai peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan
Berdasarkan hasil analisis, didapatkan yang berada dalam pengawasan Dinas Tenaga
beberapa hasil mengenai karakteristik 17 Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan yang
individu yang bertugas di Gerbang Tol Dupak 1 mengatur jam kerja pekerja adalah 8 jam per
Kota Surabaya. Karakteristik responden dalam hari.
penelitian antara lain: umur, jenis kelamin, berat Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa
badan, lama bertugas per hari atau lamanya masa kerja responden terbagi dalam 2 kategori
responden bertugas di lokasi penelitian per hari yaitu kurang dari atau sama dengan 10 tahun dan
dan masa kerja atau berapa lama responden di lebih dari 10 tahun. Hasil menunjukkan bahwa
lokasi tersebut dalam hitungan tahun. sebagian besar responden sudah bekerja selama
Sebagian besar petugas pemungut karcis tol lebih dari 10 tahun. Berdasarkan penelitian yang
di Gerbang Tol Dupak 1, Kota Surabaya adalah dilakukan oleh Pamungkas (2012), jika semakin
perempuan. Menurut penelitian Raharjo (2009), lama seseorang bekerja maka semakin banyak
banyaknya pekerja perempuan dipengaruhi oleh orang tersebut terpapar bahaya yang ditimbulkan
faktor kebutuhan akan biaya hidup yang secara oleh lingkungan kerja tersebut.
langsung dirasakan oleh perempuan sehingga
mereka lebih termotivasi bekerja untuk kebutuhan Jumlah Kendaraan, Kadar NO2 dan
hidup mereka. Pengukuran Meteorologi di Gerbang Tol
Umur responden dibagi ke dalam 2 kategori Dupak 1 Surabaya
yakni usia 21–40 tahun dan 41–60 tahun. Sebagian Berikut tabel yang menunjukkan hasil
besar responden adalah petugas dengan umur besar kadar NO 2 , jumlah kendaraan pada
41–60 tahun (82,3%). Distribusi responden saat pengukuran kadar NO 2, dan parameter
berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 1. meteorologi pada saat pengukuran kadar NO2.
Berdasarkan hasil pengukuran didapatkan Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa terjadi
berat badan dari 17 responden dan sesuai dengan pengurangan jumlah kendaraan pada pengukuran
penelitian Nurbiantara (2010) dikategorikan dalam kedua dan terjadi penambahan jumlah kendaraan
3 kategori, yaitu 51–60 kg, 61–70 kg dan 71–80 2,5 kali pada pengukuran ketiga jika dibandingkan
kg. Mayoritas responden memiliki berat badan dengan jumlah kendaraan pada pengukuran
antara 51 kg–60 kg (52,9%). pertama yaitu sebesar 1230 kendaraan per jam.
120 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No.1 Januari 2018: 116–126

Tabel 2. dan ketiga cuaca cerah dengan arah angin ke


Jumlah kendaraan, Kadar NO2 dan Pengukuran utara. Kecepatan angin mempunyai korelasi yang
Meteorologi di Gerbang Tol Dupak 1 Kota Surabaya bersifat negatif. Bila kecepatan angin tinggi maka
Tahun 2014
kadar NO2 yang terukur rendah.
Pengukuran ke-
Keberadaan Tanaman, Ventilasi, APD dan
1 2 3
Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Gerbang
Kadar NO2 (ppm) 0,0084 0,0080 0,1183
Tol Dupak 1
Konversi NO2 (mg/m3) 0,0160 0,0150 0,2224
Jumlah Kendaraan Selain aspek meteorologis juga ada aspek lain
480 420 1230
(Kend/Jam) yang juga berpengaruh pada besar kecilnya kadar
Parameter Meteorologi polutan udara. Dalam penelitian ini diobservasi
Suhu Udara (°C) 30,8 32,1 33,2 4 aspek yaitu ada tidaknya tanaman di lokasi
Kelembapan Nisbi (%) 78 59 48 lingkungan kerja, ada tidaknya ventilasi berupa AC
Kecepatan Angin (m/dt) 2–2,6 2–2,4 1,5–2,2 ataupun jendela, ada tidaknya peraturan tentang
kawasan tanpa rokok dan peraturan penggunaan
Arah Angin Utara Utara Utara
masker sebagai APD petugas.
Cuaca Berawan Cerah Cerah
Adanya tanaman bisa menjadi pencegah
alami petugas dari paparan polutan udara.
Bertambahnya jumlah kendaraan sebanding Tanaman mampu menyerap bahan kimia di
dengan naiknya kadar NO2 yang terukur, karena udara maupun tanah melalui akar. Tanaman juga
berdasarkan Tabel 2, kadar NO 2 mengalami menghalangi pergerakan angin sehingga hal ini
peningkatan pada waktu pengukuran ketiga juga berdampak pada paparan gas pencemar.
dimana pada pengukuran Berdasarkan Tabel Adanya AC di dalam suatu ruangan adalah
2 terlihat bahwa terjadi pengurangan jumlah satu cara pencegahan dengan menggunakan
kendaraan pada pengukuran kedua dan terjadi ventilasi buatan, yang cukup efektif dalam
penambahan jumlah kendaraan 2,5 kali pada mengupayakan kondisi ruangan tetap memiliki
pengukuran ketiga jika dibandingkan dengan kualitas udara yang aman bagi manusia. Pada
jumlah kendaraan pada pengukuran pertama yaitu penelitian ini, petugas pemungut karcis tol bekerja
sebesar 1230 kendaraan per jam. di ruangan kecil di mana terdapat ventilasi buatan
ketiga juga terjadi penambahan jumlah berupa AC namun juga ada jendela yang cukup
kendaraan. Hal ini dikarenakan pengukuran besar yang digunakan oleh petugas untuk
dilakukan pada hari jumat yang umumnya pegawai memungut karcis tol bagi pengguna jalan tol.
pulang kerja lebih awal dan bersamaan selesainya Sehingga ventilasi buatan seperti jendela yang
jam bongkar muat barang truk di pelabuhan. terbuka juga dapat mempengaruhi besar kadar
Hasil pengukuran kadar NO 2 baik pada polutan udara yang akan memapar petugas.
pengukuran pertama, kedua maupun ketiga tidak Jendela yang terbuka di ruangan petugas
melebihi baku mutu yang ditetapkan yaitu sebesar pemungut karcis tol akan memungkinkan
3 ppm berdasarkan Permenakertrans nomor 10 masuknya polutan udara ke tubuh meskipun
Tahun 2011 tentang nilai ambang batas faktor di dalam ruangan sudah ada AC. Kondisi AC
fisika dan faktor kimia di lingkungan kerja. juga perlu untuk diperhatikan, kondisi AC yang
Pada data meteorologi dapat dilihat jika tidak rutin dibersihkan juga akan mengurangi
terjadi peningkatan suhu udara, berdasarkan keefektifan dalam mencegah paparan polutan
penelitian Adi dkk (2011), pada saat suhu udara udara.
tinggi, gas dan partikel udara di permukaan naik Adanya asap rokok juga bisa menjadi variabel
akibat pemanasan. pengganggu dalam penelitian ini sehingga ada
Sehingga ada kecenderungan jika suhu tidaknya peraturan kawasan tanpa rokok juga
udara meningkat maka akan menaikkan kadar perlu diperhatikan. Juga APD berupa masker
gas dan partikel yang ada termasuk kadar NO2. juga sangat perlu dalam hal pencegahan paparan
Bila kelembapan udara meningkat, suhu udara polutan udara yang melewati jendela ruangan
menurun juga berdampak pada besar kadar NO2 responden.
yang terukur. Dari hasil observasi menunjukkan keempat
Kondisi cuaca pada saat pengukuran pertama aspek ini sudah ada di Gerbang Tol Dupak 1
adalah berawan dan pada saat pengukuran kedua Kota Surabaya, namun berdasarkan survey
R Darmawan, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Kadar NO2 121

pendahuluan menunjukkan bahwa pengadaan es di daerah kutub. Udara yang tercemar dapat
masker baru diterapkan tahun lalu 2013 dan meningkatkan berbagai jenis penyakit seperti ISPA
ketika observasi juga beberapa responden tidak (Infeksi Saluran Pernapasan Atas). Untuk jangka
memakai masker meskipun sudah ada peraturan waktu yang panjang penurunan kualitas udara
pemakain masker ketika bertugas di Gerbang tol dapat menyebabkan kematian, penyakit kanker
dupak 1 Kota Surabaya. Selain itu masker yang yang disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor,
digunakan hanya masker biasa bukan masker asap kebakaran hutan dan emisi kegiatan industri
dengan pori-pori sangat kecil khusus mencegah maupun rumah tangga.
paparan gas seperti masker N95. Keluhan kesehatan yang ditanyakan ketika
Pengadaan tanaman dan ruangan ber-AC wawancara berhubungan dengan paparan gas
juga baru diterapkan berdasarkan wawancara NO2. Berikut diagram hasil wawancara mengenai
dengan kepala gerbang tol termasuk peraturan keluhan kesehatan yang dialami petugas.
kawasan tanpa rokok sudah diterapkan sejak Dari diagram di atas dapat diketahui bahwa
tahun 2010. Jadi bisa disimpulkan bahwa keluhan kesehatan yang paling banyak dialami
keempat aspek ini sudah diterapkan di Gerbang responden adalah batuk sebanyak 14 responden
Tol Dupak 1 meskipun belum lama, sedangkan (82,3%), kemudian yang paling banyak kedua
masa kerja petugas yang bekerja di gerbang adalah mata merah sebanyak 12 responden
tol ini sebagian besar lebih dari 10 tahun, hal (70,5%) sedangkan yang keluhan terbanyak ketiga
ini juga akan mempengaruhi hubungan keluhan adalah perih pada mata sebanyak 11 responden
kesehatan dengan besarnya kadar polutan udara (64,7%). Sedangkan keluhan pusing di alami
yang diukur di lokasi. sebanyak 9 responden (53%). Keluhan paling
Keempat aspek ini bisa mengurangi kadar sedikit yaitu sesak nafas, sebanyak 8 responden
polutan udara yang terukur namun pelaksanaan (47%).
keempat aspek ini yang baru saja dilaksanakan Berdasarkan hasil wawancara, Sebanyak 10
juga akan mempengaruhi hubungan keluhan responden perempuan sering mengalami batuk,
kesehatan yang dialami petugas pemungut karcis 9 responden perempuan mengalami mata merah
tol dengan besar kadar NO2 yang terukur. dan 8 responden perempuan mengalami perih
pada mata. Sedangkan sebanyak 6 responden
Keluhan Kesehatan Petugas Pemungut Karcis perempuan sering mengalami pusing dan sesak
Tol di Gerbang Tol Dupak 1 Surabaya nafas. Sedangkan untuk responden laki-laki,
sebanyak 4 responden mengalami sesak batuk
dan sebanyak 3 responden mengalami pusing,
Pusing perih pada mata dan mata merah dan 2 responden
mengalami pusing. Menurut Madina (2007), daya
Jumlah Responden

16 14
14
Perih Mata tahan perempuan dan laki-laki tidak berbeda,
12
12
11 tetapi setelah usia 21 tahun lebih rendah 15–25%
9
10 8 Mata Merah dari pria. Perbedaan ini antara lain disebabkan
8
6 oleh perbedaan kekuatan otot maksimal, luas
4 Sesak permukaan tubuh, komposisi tubuh, kekuatan
2 otot, jumlah hemoglobin dan kapasitas paru.
0
Batuk Sebagian besar responden yang berumur
Keluhan Kesehatan
41–60 tahun mengalami keluhan kesehatan.
Banyak dari responden tersebut sering mengalami
Gambar 1. keluhan iritasi mata (perih pada mata dan
Diagram Keluhan Kesehatan yang Dialami oleh mata merah) dan batuk. Hal ini didukung pula
Petugas Pemungut Karcis Tol di Gerbang Tol Dupak 1 dengan pendapat Sutiastuti (2011), yaitu dengan
Surabaya Tahun 2014
bertambahnya usia lanjut seseorang akan diikuti
penurunan semua fungsi organ tubuh sehingga
Pencemaran udara berdampak sangat pada masa lanjut usia akan terjadi penurunan
luas bagi kehidupan makhluk hidup terutama daya tahan tubuh atau dengan kata lain rentan
manusia. Pencemaran udara menimbulkan terhadap penyakit.
dampak contohnya pemanasan global pada Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan,
planet bumi yang mengakibatkan mencairnya diketahui jika sebagian besar responden yang
122 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No.1 Januari 2018: 116–126

mengalami keluhan pusing, perih pada mata, wawancara menunjukkan keluhan kesehatan
mata merah, sesak nafas dan batuk adalah yang petugas juga sudah ada. Ini juga bisa disebabkan
memiliki berat badan 51–60 kg. Menurut penelitian oleh paparan polutan udara terhadap petugas
Yulaekha (2007), menyatakan bahwa berat badan terjadi sebelum diterapkannya keempat aspek
berlebih dapat mengurangi umur seseorang. ini. Hal ini bersesuaian dengan hasil penelitian ini
Bahkan orang yang memiliki berat badan di mana kadar NO2 yang terukur kecil sehingga
berlebih yang tidak merokok berarti hidupnya cukup aman bagi pekerja namun dari hasil
lebih sehat, memiliki risiko kematian dini yang wawancara mengenai keluhan kesehatan terhadap
lebih tinggi dibanding orang yang lebih kurus. responden menunjukkan bahwa sebagian besar
Namun dalam hal intake polutan udara terhadap responden pernah mengalami keluhan kesehatan
tubuh, berat badan berbanding terbalik dengan yang berkaitan dengan paparan NO2.
besarnya intake, semakin berat badan seseorang
juga semakin aman orang tersebut dari paparan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan
polutan udara. Dari informasi ini jelas terlihat Petugas Pemungut Karcis Tol terhadap
bahwa besar berat badan juga berpengaruh pada Paparan NO2 Di Gerbang Tol Dupak 1
besarnya intake seseorang atas polutan udara. Surabaya
Dari hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebagian
besar responden dengan berat badan 51–60 Kg Identifikasi Bahaya
lebih tidak aman berada di lokasi dibandingkan Gerbang Tol Dupak 1 adalah salah satu
dengan responden dengan berat badan gerbang tol yang padat di Surabaya. Padatnya
61–70 Kg kendaraan bisa meningkatkan polusi di lokasi
Menurut penelitian Sandra (2008), tersebut termasuk kadar NO2. Tingginya kadar
menyatakan bahwa pekerja yang berada NO2 dapat membahayakan kesehatan responden
di lapangan tidak lebih dari 10 tahun, apabila dalam hal ini petugas pemungut karcis tol.
lebih dari 10 tahun, maka sudah seharusnya Nitrogen dioksida (NO2) adalah salah satu
dipindahkan untuk bekerja di dalam ruangan. pencemar yang timbul akibat proses pembakaran.
Namun, dalam prakteknya, petugas pemungut Kapanpun NO muncul, NO2 juga selalu ditemukan,
karcis tol memang berada di dalam ruangan karena NO yang diemisikan pada proses
dengan ventilasi yang tetap terbuka meskipun pembakaran, akan segera bereaksi dengan
sudah terdapat AC di dalam ruangan. Hal oksigen di udara untuk membentuk Nitrogen
ini sesuai dengan hasil analisis wawancara Dioksida (NO2) sebagai senyawa oksidasi nitrogen
responden yang menyatakan jika sebagian besar yang lebih stabil.
responden telah bertugas selama lebih dari 10 Gas NO 2 dapat merusak tubuh manusia
tahun. Mayoritas responden yang telah bertugas dan lingkungannya. Jika NO2 bertemu dengan
selama lebih dari 10 tahun, mengalami iritasi mata uap air di udara atau dalam tubuh manusia akan
(perih pada mata dan mata merah) dan batuk. terbentuk segera HNO3 yang amat merusak tubuh.
Sehingga dapat disimpulkan jika, semakin lama Karena itulah NO2 terasa pedih jika mengenai
seseorang bekerja di ruangan di lapangan terbuka mata, hidung, saluran pernapasan dan jantung.
jika ruangan tersebut tidak diperhatikan aspek Konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan
kesehatan lingkungannya maka semakin rentan kematian (Sandra, 2008).
pula untuk mengalami keluhan kesehatan akibat Konsentrasi NO 2 yang tinggi dapat
paparan polusi udara di sekitar tempat bekerja. mempengaruhi pernafasan. NO 2 merupakan
Di samping itu, ada tidaknya tanaman, gas berbahaya yang dapat mengganggu sistem
ada tidaknya ventilasi, ada tidaknya masker pernafasan dengan menurunkan fungsi paru, serta
sebagai APD petugas pemungut karcis tol dan melemahkan sistem pernafasan paru (Handayani
ada tidaknya peraturan kawasan tanpa rokok dkk, 2003). Jumlah kendaraan bermotor yang
juga mempengaruhi keluhan kesehatan yang meningkat setiap tahun juga sangat berpengaruh
dialami responden. Karena dari hasil yang terhadap pengeluaran emisi gas buang kendaraan
didapat keempat aspek ini sudah ada dan sudah ke udara. Semakin banyak emisi gas buang, maka
diterapkan di Gerbang Tol Dupak 1 Surabaya akan semakin tercemarlah udara jika tidak diiringi
meskipun tergolong baru dan belum maksimal. dengan upaya penurunan polutan. Peningkatan
Adanya keempat aspek ini bisa mengurangi kendaraan bermotor diproyeksikan akan terus
kadar polutan udara yang terukur, namun hasil terjadi seiring meningkatnya mobilitas manusia
R Darmawan, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Kadar NO2 123

yang membutuhkan kendaraan (Pamungkas, diperbolehkan. Hubungan antara nilai intake


2012). dengan risiko kesehatan adalah berbanding
Berdasarkan Permenakertrans nomor 10 lurus. Apabila nilai intake semakin besar maka
tahun 2011 tentang nilai ambang batas faktor semakin besar pula risiko kesehatan yang diterima
fisika dan faktor kimia, kadar NO2 adalah 3 ppm. manusia.
Sehingga kadar NO2 yang terukur pada penelitian Pada penelitian ini dalam perhitungan RQ
ini masih jauh dari nilai ambang batas tersebut. dilakukan dua kali yaitu perhitungan nilai RQ
dengan angka default yaitu angka standar yang
Analisis Dosis Respons sudah ada (laju asupan 0,83 m 3/jam, waktu
Tahapan selanjutnya adalah menganalisis pajanan harian 24 jam per hari, frekuensi pajanan
dosis respons. Analisis dosis respons merupakan tahunan 350 hari per tahun, durasi pajanan 30
tahapan untuk menetapkan kuantitas toksisitas tahun, dan berat badan orang dewasa 70 kg) dan
risk agent untuk setiap spesi kimia. Toksisitas perhitungan RQ dengan data primer yaitu data
dinyatakan sebagai dosis referensi, yaitu dari hasil pengukuran di lokasi penelitian.
menggunakan RfC (Reference Concentration)
untuk pajanan melalui inhalasi. RfC dari NO2 di Tabel 3.
tetapkan dalam tabel EPA (Environment Protecting Nilai Kadar NO2 Serta Perhitungan Nilai RQ Dengan
Agent) tahun 2012. Besar RfC untuk kadar NO2 Angka Default dan Data Primer di Gerbang Tol Dupak
1 Surabaya Tahun 2014
sebesar 0,02.
Pengukuran NO2 dengan Angka Default
Analisis Pemajanan Ke-
C Ink RQ
Menurut Pamungkas (2012), nilai intake
1 0,016 0,0014 0,072
adalah nilai yang menunjukkan dosis sebenarnya
2 0,015 0,0013 0,069
yang diterima oleh pekerja setiap hari per
kilogram berat badan. Dalam penelitian ini, 3 0,2224 0,0198 1,001
perhitungan intake atau asupan dilakukan dengan Pengukuran NO2 dengan data primer
menggunakan durasi pajanan lifetime. Pajanan Ke- C Ink RQ
lifetime yaitu durasi pajanan seumur hidup. Pada 1 0,016 0,0016 0,08
pajanan non karsinogenik periode waktu rata-rata 2 0,015 0,0015 0,077
selama 30 tahun untuk orang dewasa. 3 0,2224 0,0230 1,15
Besarnya nilai intake atau asupan berbanding
lurus dengan nilai konsentrasi bahan kimia, laju Perhitungan RQ dengan angka default
asupan, frekuensi pajanan dan durasi pajanan menunjukkan nilai RQ pada ketiga pengukuran
yang artinya, semakin besar nilai tersebut untuk kadar NO2 hanya pada pengukuran ketiga
maka akan semakin besar asupan seseorang yang memiliki RQ > 1 selain itu RQ < 1. Nilai
(Pamungkas, 2012). RQ < 1, bermakna bahwa petugas pemungut
Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilihat karcis tol dengan berat badan 70 kg aman berada
bahwa durasi pajanan sangat berpengaruh di daerah tersebut dari paparan NO2 jika laju
terhadap hasil intake atau asupan. Semakin lama asupan 0,83 m3/jam, dengan jam kerja 8 jam
petugas bekerja maka hasil intake akan semakin perhari dalam 350 hari/tahun untuk jangka waktu
tinggi dan risiko terkena efek kesehatan yang 30 tahun ke depan. Untuk RQ > 1 yang artinya
merugikan akan semakin tinggi pula. responden dengan berat 70 kg dengan laju
Apabila melihat hasil intake sebelumnya asupan 0,83 mg/m3 dengan jam kerja 8 jam sehari
didapatkan hasil bahwa dosis yang diterima oleh tidak aman berada di daerah tersebut dari paparan
petugas telah melebihi RfC untuk kadar NO2. Hal NO2 dalam jangka waktu 30 tahun kedepan.
itu akan mempengaruhi tingkat risiko kesehatan Berdasarkan perhitungan RQ pada ke-
yang diterima untuk masing-masing waktu 17 responden di Gerbang Tol Dupak 1 Kota
pemajanan. Surabaya didapatkan nilai RQ untuk kadar NO2
Karakteristik Risiko terendah adalah 0,08 dan tertinggi adalah 1,15
dan RQ > 1 sebanyak 15 petugas. Nilai rata-
Karakteristik risiko kesehatan didapatkan rata RQ kadar NO2 seluruh responden adalah
dari hasil perbandingan nilai intake atau asupan 0,08 (pengukuran pertama), 0,077 (pengukuran
dengan nilai referensi bahan kimia yang
124 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No.1 Januari 2018: 116–126

kedua) dan 1,15 (pengukuran ketiga). Besar kadar Tabel 4.


pencemar udara juga mempengaruhi nilai RQ dan Distribusi Nilai RQ Responden Menurut Berat Badan,
besar kadar udara juga berhubungan langsung Lama Bertugas dan Masa Kerja Responden di
Gerbang Tol Dupak 1 Kota Surabaya Tahun 2014
dengan banyaknya sumber pencemar udara
(Mukono b, 2006). Berikut diagram perbandingan RQ Berat Badan (Kg)
besar jumlah kendaraan dan nilai RQ (risk Total %
NO2 51 – 60 61 – 70 71– 80
quotient) di Gerbang Tol Dupak 1 Surabaya. <1 0 0 2 2 11,8
>1 9 6 0 15 88,2
Lama bertugas per hari
RQ
(Jam) Total %
NO2
8 >8
<1 2 0 2 11,8
>1 15 0 15 88,2
RQ Masa kerja (Tahun) Total %
NO2
≤ 10 > 10
<1 0 2 2 11,8
>1 2 13 15 88,2

Gambar 2. pajanan. Sedangkan asupan berbanding terbalik


Nilai RQ berdasarkan jumlah kendaraan per jam di
dengan nilai berat badan dan periode waktu
Gerbang Tol Dupak 1 Kota Surabaya Tahun 2014
rata-rata. Sehingga semakin besar berat badan
maka akan semakin kecil risiko kesehatannya.
Berdasarkan Gambar 2 terlihat adanya
Berat badan berimplikasi pada nilai numeric
pola yang sama antara besar nilai RQ dengan
standar atau baku mutu sebagai salah satu bentuk
jumlah kendaraan. Jika terjadi penurunan jumlah
pengendalian risiko. Temuan survey lainnya yang
kendaraan, hal ini juga diikuti dengan turunnya
penting adalah frekuensi pajanan atau pajanan
nilai RQ. Pengukuran ketiga menunjukkan adanya
tahunan. Lama pajanan didefinisikan sebagai
peningkatan jumlah kendaraan, hal ini juga
banyaknya jumlah jam kerja yang dilakukan
mengakibatkan meningkatnya nilai RQ kadar.
pekerja setiap hari di lingkungan kerja.
Berikut tabel distribusi RQ menurut
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
berat badan, lama bertugas dan masa kerja
semua petugas pemungut karcis tol bertugas
responden.
selama 8 jam/hari. Lama pajanan pada petugas
Perhitungan intake berdasarkan rumus
pemungut karcis tol ini berkaitan langsung dengan
intake ARKL menunjukkan bahwa semakin berat
banyaknya NO2 yang memapar mereka selama
seseorang maka semakin kecil efek dari suatu
bertugas di gerbang tol. Walaupun jumlah intake
paparan.
kadar NO2 yang dihirup setiap hari masih kecil dan
Dari Tabel 4, terdapat 15 responden dengan
berada di bawah baku mutu udara ambien, namun
berat < 70 kg yang memiliki RQ > 1 dan hanya 2
apabila kadar NO2 ini dihirup setiap hari dalam
responden dengan berat > 70 kg yang memiliki
waktu yang lama maka akan mempengaruhi
RQ < 1, hal ini menunjukkan bahwa semakin berat
jumlah asupan dari NO2 itu sendiri.
seseorang maka nilai RQ kurang dari satu dari
Sedangkan hubungan masa kerja dengan
pada berat badan yang lebih ringan. Sehingga
nilai RQ menunjukkan bahwa sebanyak 15
responden dengan berat badan > 70 kg lebih
responden berisiko oleh paparan NO2 atau bernilai
aman di lokasi penelitian daripada responden
RQ > 1 dengan rincian 2 responden dengan masa
dengan berat badan < 70 kg.
kerja ≤ 10 tahun dan 13 responden yang sudah
Menurut Nukman dkk (2005), berat
memiliki masa kerja > 10 tahun.
badan adalah salah satu faktor penentu yang
Berdasarkan penelitian Lovita dkk (2001),
mempengaruhi jumlah asupan yang masuk ke
menyatakan bahwa masa kerja menentukan lama
dalam tubuh melalui inhalasi. Besarnya nilai intake
paparan seseorang terhadap faktor risiko. Lama
berbanding lurus dengan nilai konsentrasi bahan
masa kerja seseorang meningkatkan risiko terkena
kimia, laju asupan, frekuensi pajanan dan durasi
penyakit pernafasan. Hal ini menunjukkan bahwa
R Darmawan, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Kadar NO2 125

semakin lama kerja seseorang akan semakin Kedua, perlu memaksimalkan upaya
lama pula waktu terjadi paparan terhadap gas pencegahan yang sudah diterapkan selama
pencemar. Inhalasi benda asing ke dalam saluran ini seperti pemakaian masker sebagai APD
pernafasan dapat menyebabkan peradangan bagi petugas, peraturan kawasan tanpa rokok,
di saluran nafas yang menimbulkan adanya pengadaan ventilasi berupa AC dan pengadaan
manifestasi klinis. tanaman. Pihak PT Jasamarga baiknya memberi
Walaupun kadar NO2 yang terukur di bawah ketegasan dalam pemakaian APD serta penertiban
baku mutu, namun untuk perhitungan nilai RQ pemakaian APD berupa masker N95 oleh petugas
menunjukkan kadar NO 2 belum aman bagi pemungut karcis tol dengan sanksi dan kamera
sebagian besar responden. Hal ini dilihat dari pengontrol, dilakukan pembersihan AC secara
perbedaan masing-masing berat badan, masa berkala dan memperkecil ukuran jendela ruangan
kerja dan frekuensi paparan pertahun. Sebanyak petugas pemungut karcis tol serta upaya untuk
15 responden (88,2%) dari 17 responden yang mengurangi polutan udara dengan merawat dan
memiliki nilai RQ > 1 untuk kadar NO2. menambah tanaman yang sudah ada di sekitar
Meskipun kini berbagai upaya pencegahan gerbang tol. Beberapa tanaman penyerap NO2
sudah dilakukan seperti adanya tanaman, AC, yang bisa ditanam seperti lidah mertua, dadap
peraturan kawasan tanpa rokok serta pemakaian kuning dan cemara. Ketiga, sebaiknya Badan
APD berupa masker namun keluhan kesehatan Lingkungan Hidup Kota Surabaya dan Balai Besar
juga masih tinggi Jadi tingginya keluhan Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian
kesehatan bisa disebabkan oleh paparan polutan Penyakit Surabaya serta Dinas Tenaga Kerja,
udara sebelum diterapkannya semua upaya Transmigrasi dan Kependudukan Bagian Teknik
pencegahan. Sedangkan kecilnya NO 2 yang Lingkungan perlu menyampaikan informasi
terukur bisa disebabkan oleh pengambilan kadar mengenai hasil pengawasan dan pemantauan
NO2 dilakukan pada saat sudah diterapkannya udara secara berkala. Keempat, pihak yang
berbagai pencegahan dari paparan polutan udara berwenang dalam penetapan baku mutu NO2
di Gerbang Tol Dupak 1 Kota Surabaya. hendaknya meninjau kembali nilai baku mutu NO2
yang sudah ditetapkan.
Pengelolaan Risiko
Hasil perhitungan analisis risiko didapatkan KESIMPULAN DAN SARAN
kadar NO 2 pada pengukuran sore bernilai
RQ lebih dari satu, ini artinya perlu adanya Kesimpulan penelitian ini yaitu responden
pengelolaan risiko untuk mengurangi besarnya sebagian besar adalah wanita dengan usia 41-60
dampak serta memperpanjang durasi pajanan tahun. Berat badan sebagian besar responden
yang akan berdampak pada responden adalah 51–60 kg dengan jam kerja selama 8 jam
(Nukman dkk, 2005). per hari. Parameter pencemar udara yang diukur
Berikut pengelolaan risiko yang disarankan adalah NO2, pengukuran NO2 dilakukan sebanyak
antara lain: Pertama, melakukan berbagai 3 kali yaitu pengukuran pertama pada pukul
upaya preventif mandiri atau proteksi diri 08.20–08.50 WIB, pengukuran kedua pada pukul
untuk menjaga daya tahan tubuh. Misalnya 11.00–11.30 WIB dan pengukuran ketiga pada
dengan mengonsumsi asupan makanan yang pukul 14.00–14.30 WIB. Sedangkan jumlah
mengandung vitamin (vitamin A untuk menjaga kendaraan terpadat adalah pada pengukuran
kesehatan mata dan imunitas yang bersumber ketiga sebesar 1230 kendaraan perjam. Keluhan
dari sayuran yang berwarna hijau tua dan buah- kesehatan yang paling banyak dialami petugas
buahan yang berwarna kuning atau jingga, pemungut karcis tol Gerbang Tol Dupak 1 Kota
vitamin E untuk memelihara fungsi paru yang Surabaya yaitu batuk, mata merah dan perih
bersumber dari bahan pangan kacang-kacangan pada mata. Hasil perhitungan ARKL menunjukkan
dan sayur berwarna hijau, dan vitamin C untuk sebanyak 2 responden memiliki nilai RQ < 1 dan
mencegah adanya benda asing yang masuk ke 15 responden yang memiliki RQ > 1 yang berada
tubuh yang bersumber dari jambu biji dan jeruk) di Gerbang Tol Dupak 1 Kota Surabaya untuk
dan menyediakan air hangat sebagai upaya kadar NO2.
pertolongan apabila mata terasa pedih atau mata Dari kesimpulan ini maka disarankan bagi
berwarna merah. petugas pemungut karcis tol dan instansi untuk
126 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No.1 Januari 2018: 116–126

melakukan berbagai upaya preventif. Misalnya, Lovita, D., dan A.A. Miftah. 2001. Gambaran Nilai Peak
bagi petugas pemungut karcis tol mengonsumsi Expiratory Flow Rate (PEFR) dan Keluhan Respirasi
Pada Petugas Kebersihan Dinas Kota Pekanbaru.
makanan yang kaya vitamin A, C dan E. Di
Laporan Penelitian. Riau: Universitas Riau.
samping itu peraturan yang sudah ada seperti Madina, D.S. 2007. Nilai Kapasitas Vital Paru dan
pemakaian masker sebagai APD petugas Hubungannya dengan Karakteristik Fisik pada Atlet
pemungut karcis tol, pelaksanaan peraturan Berbagai Cabang Olahraga. Skripsi. Bandung:
kawasan tanpa rokok perlu dilaksanakan dengan Universitas Padjajaran.
Mukono, H.J. 2006.a. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya
tegas. Pemakaian masker juga disarankan
terhadap Gangguan Saluran Pernafasan. Surabaya:
menggunakan masker N95. Perawatan ventilasi Airlangga University Press.
berupa AC dan pengadaan tanaman penyerap Mukono, H.J. 2006.b. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan
polutan seperti lidah mertua, dadap kuning dan Edisi Kedua. Surabaya: Airlangga University Press.
cemara juga perlu dimaksimalkan. Pengawasan Notoatmodjo, S. 2010. Metode Penelitian Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta.
dan pemantauan udara secara berkala di beberapa
Nukman. Atrisman, Rahman. Abdur, Warouw, Sonny,
titik gerbang tol serta penertiban pemakaian APD Setiadi. Moh Ichsan. 2005. Analisis dan Manajemen
pada petugas pemungut karcis tol perlu dilakukan Risiko Kesehatan Pencemaran Udara: Studi Kasus
instansi luar di bidang lingkungan. di Sembilan Kota Besar Padat Transportasi. Jurnal
Ekologi Kesehatan. Vol. 4 No. 2, Agustus 2005:
270–289.
DAFTAR PUSTAKA Nurbiantara, S. 2010. Pengaruh Polusi Udara terhadap
Fungsi Paru pada Polisi Lalu Lintas di Surakarta.
Adi K, Bimo, Saraswati, Nadira., S.P, Nurfiena, Skripsi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Ricardo L.G, Rico. 2011. Simulasi Penyebaran NO2 Pamungkas, R.K. 2012. Kadar NO2 di Udara Ambien
dan Emisi Kendaraan Bermotor di Bandung dengan Hubungannya dengan Keluhan Pernafasan
Menggunakan TAQM. Makalah. Bandung: Institut Penduduk Berdasarkan Kajian Arkl dan Sebaran
Teknologi Bandung. Tanaman (Studi di Jalan Raya Greges Kelurahan
Arifin, Z.M.T, dan Sukoco. 2009. Pengendalian Polusi Greges Kecamatan Asemrowo Kota Surabaya).
Kendaraan. Bandung: Alfabeta. Skripsi.
BBTKLPP. 2012. Laporan Monitoring dan Evaluation Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Airlangga.
Pencemaran Udara dan Endemis Penyakit di Surabaya.
Kawasan Padat Lalu Lintas. Surabaya. Permenakertrans. 2011. Permenakertrans nomor 10
Budiyono, A. 2001. Pencemaran Udara: Dampak tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika
Pencemaran Udara Pada Lingkungan. Jurnal Berita dan Faktor Kimia di Lingkungan Kerja.
Dirgantara Vol. 2 No. 1, Mei 2001: 15–17. Prayudi, T. dan J. P. Susanto. 2001. Kualitas Debu dalam
Depkes RI. 2004. Parameter Pencemaran Udara dan Udara Sebagai Dampak Industri Pengecoran Logam
Dampaknya Terhadap Kesehatan. Artikel. http:// Ceper. Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol. 2, No. 2,
www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF. Disitasi Mei 2001: 168–174.
18 Mei 2014. Rahardjo, K. 1988. Pertimbangan Anastasia untuk Usia
Ferdiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta: Lanjut. Cermin Dunia Kedokteran.
Kanisius. Raharjo, M. 2009. Dampak Pencemaran Udara pada
Handayani, D., F. Yunus, dan W.H. Wiyono. 2003. Pola Lingkungan dan Kesehatan Manusia. Skripsi.
Penyebaran Gas NO2 di Udara Ambien Kawasan Semarang: Universitas Diponegoro.
Utara Kota Semarang pada Musim Kemarau Rahman, 2007. Pelatihan Analsis Risiko Kesehatan
Menggunakan Program ISCST3. Jurnal Presipitasi. Lingkungan. Bahan Ajar. Jakarta: Universitas
Vol. 1 No. 1, Agustus 2003: 8–9. Indonesia.
Kementrian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Analisis Risiko Sandra, C. 2008. Pengaruh Penurunan Kualitas Udara
Kesehatan Lingkungan (ARKL). Jakarta: Direktorat Ambien Terhadap Fungsi Paru dan Keluhan
Jenderal PP PL. Pernafasan Pada Polisi Lalu Lintas Polwiltabes
Layalia, A. 2009. Kajian Analisis Risiko Kesehatan Surabaya. Tesis. Surabaya: Universitas Airlangga.
Lingkungan (ARKL) Kualitas Udara Ambien dan Sutiastuti. 2011. Faktor yang Memengaruhi Penurunan
Hubungannya dengan Gangguan Pernafasan Fungsi Organ Tubuh Manusia. Semarang: Tirta
Pedagang Kaki Lima di Sekitar Perempatan Mulya.
Jl. Demak dan Perempatan PT. Sier Kota Surabaya. Yulaekha. 2007. Pengaruh Gizi Seimbang Pada Manusia.
Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga. Laporan Penelitian. Semarang: Universitas Negeri
Semarang.

Anda mungkin juga menyukai