Anda di halaman 1dari 2

Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami

lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat
laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha
memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya.

Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu
membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang
unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.

Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi
siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah
keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari
yang lain. Adalah kesalahan jika berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi
pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya.
Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah
bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran
tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang
mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah
menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai
makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa
dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.

Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman
belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya
secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.

Sebagai contoh yang memberikan gambaran tentang ketertarikan, keinginan yang tinggi untuk
tahu tentang isi materi dan simulasi yang dikemas dengan percobaan menggunakan alat
peraga sederhana, interaktif yang diberikan peserta didik sebelum pembelajaran berlangsung
untuk belajar
mandiri sehingga peserta didik mampu melihat matematika sebagai studi tentang pola-
pola, serta mengembangkan sikap kemandirian, kemerdekaan dan rasa ingin tahu
dengan cara guru menempatkan peserta didik pada posisi penyelidik.
Dan kemampuan yang
tinggi diperoleh selama berproses, baik dengan diskusi, tanya jawab, kuis yang
dilaksanakan selama proses pembelajaran menyenangkan selama belajar peserta didik
mampu belajar berbagai cara untuk memecahkan masalah dengan cara saling membantu
memahami masalah sehingga kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik yang
melebihi ketuntasan belajar yang diprogramkan. Secara umum, upaya menempatkan peserta
didik sebagai penyelidik dengan memanfaatkan
alat peraga, lembar tugas mandiri (LTM) melalui tahap persepsi dan eksplorasi sehingga
peserta didik menjadi lebih mandiri dan lebih matang dalam menguasai
konsep.
Konsep berdiskusi menggunakan alat peraga sederhana, akan menstimulus keaktifan
peserta didik.
Sedangkan penggunaan kalimat terbuka dalam Lembar Tugas Mandiri (LTM) akan menstimulus
kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik. Stimulus keaktifan peserta didik akan
berkembang ketika peserta didik diminta untuk
mempertanggungjawabkan laporan individu LTM melalui kegiatan presentasi sehingga
peserta didik akan saling menghargai pendapat dengan peserta didik lainnya, hal ini terlaksana
dalam tahap diskusi dan penjelasan konsep. Selain itu dalam tahap pengembangan dan
aplikasi konsep, menstimulus keaktifan peserta didik juga berkembang ketika bekerja sama
dengan peserta
didik lain dan ketika mereka menemukan teman yang tidak bisa mengerjakan maka mereka
akan berempati untuk saling membantu menyelesaikan kartu masalah (kartu soal) yang dibuat
oleh kelompok lain. Penggunaan kartu masalah, membuat penilaian menjadi beragam karena
peserta didik yang membuat (tidak hanya menggunakan soal kuis buatan guru) untuk
mengembangkan konsep.
Pengamatan keaktifan peserta didik menggunakan lembar pengamatan aktifitas peserta
didik (keaktifan peserta didik).
Dari penjelasan dan pengalaman saya, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan
karakteristik kelas humanistik dalam pembelajaran matematika, efektif terhadap
berkembangnya karakteristik peserta didik dengan tercapainya ketuntasan dalam
pembelajaran, pengaruh karakter terhadap prestasi belajar peserta didik, serta prestasi belajar
peserta didik yang lebih baik.