Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MAKALAH

LIFE SAVING & SUPPORT


BUBBLE CPAP

Nama : Vina Lutfiana

NIM : 20173010081
Kelas : TEM C
Dosen Pengampu : Susilo Ari Wibowo, S.T.

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTROMEDIK


PROGRAM VOKASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Acute Respiratory Distress Syndrome atau disingkat ARDS adalah kondisi yang muncul
ketika cairan mengumpul di alveoli, yaitu kantung udara kecil dan elastis pada paru-paru.
Cairan biasanya merembes dari pembuluh darah kecil. Kumpulan cairan ini dapat membuat
paru-paru tidak cukup terisi udara dan pasokan oksigen ke aliran darah menjadi berkurang.
Hal tersebut mengakibatkan organ-organ, seperti ginjal dan otak, tidak dapat bekerja normal
atau bahkan berhenti berfungsi karena tidak mendapat cukup oksigen.

Penanganan ARDS pada bayi prematur memerlukan terapi alternatif dan suportif untuk
meningkatkan harapan hidup bagi bayi-bayi tersebut, pada awalnya pengobatan pada bayi-
bayi prematur memerlukan ventilasi mekanik berupa intubasi sejak dini. Sedangkan, studi
menunjukkan bahwa penggunaan ventilasi mekanik berhubungan dengan risiko terjadinya
penyakit paru kronik dan cedera pada paru. Oleh karenanya, banyak ahli yang menghindari
penggunaan intubasi dan beralih memanfaatkan tekanan negatif, hanya untuk memberikan
surfaktan. Keberhasilan ini mendorong munculnya studi-studi mengenai manfaat Bubble
CPAP dengan atau tanpa surfaktan, untuk bayi yang lahir pada usia kehamilan < 30 minggu
atau bayi prematur.

Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan CPAP pada bayi prematur sebagai
pencegahan atau terapi sindrom distres pernapasan, dapat menurunkan insidens terjadinya
displasia bronkopulmoner, tanpa pemberian ventilasi mekanik. Namun, hasilnya tidak lebih
baik dibandingkan penggunaan surfaktan dan intubasi atau ventilasi mekanik. Meski
demikian, bayi yang mendapat terapi CPAP diketahui memiliki angka intubasi dan angka
penggunaan kortikosteroid yang lebih rendah.

Berdasarkan hal ini, American Academy Pediatric menyimpulkan bahwa CPAP melalui
nasal, “Dapat digunakan sebagai alternatif bagi terapi surfaktan.” CPAP juga dapat diberikan
sejak dini, selagi surfaktan belum tersedia. Penggunaan CPAP sejak dini pada bayi-bayi ini,
dapat menurunkan diperlukannya ventilasi mekanik tanpa meningkatkan komplikasi.
2. Rumusan Masalah

1. Apa itu bubble CPAP?

2. Apa saja fungsi dan kegunaan bubble CPAP?

3. Bagaimana prinsip kerja dari bubble CPAP?

4. Bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) dari bubble CPAP?

3. Tujuan

Agar para mahasiswa mengetahui dan memahami definisi, fungsi dan kegunaan, prinsip
kerja, serta standar operasional prosedur (SOP) dari bubble CPAP.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian

Pengertian Bubble Cpap ( Continuos Positif Airways Pressure) merupakan suatu alat yang
dapat digunakan untuk memberikan tekanan positif kepada bayi baru lahir. Yang sudah bisa
bernapas spontan tetapi masih rentan mengalami apnea. Pada bayi prematur, CPAP
digunakan untuk menghantarkan oksigen berkonsentrasi tinggi, terutama pada mereka yang
sulit untuk mempertahankan kadar oksigen yang normal di dalam darah.

Bubble CPAP adalah bantuan pernapasan dengan cara meningkatkan tekanan pulmoner
secara artifisial pada saat fase ekspirasi pada bayi yang bernafas secara spontan.

Bubble CPAP adalah strategi ventilasi non-invasif untuk bayi yang baru lahir dengan
sindrom gangguan pernapasan bayi (ARDS). Ini adalah salah satu metode dimana tekanan
udara positif terus menerus (CPAP) dikirim ke bayi yang baru lahir bernapas spontan untuk
mempertahankan volume paru-paru selama ekspirasi. Dengan metode ini, oksigen yang
dicampur dan dilembabkan dikirim melalui keping binasal pendek atau masker hidung dan
tekanan di sirkuit dipertahankan dengan merendam ujung distal dari tuba ekspirasi dalam air.
Kedalaman di mana tubing direndam di bawah air menentukan tekanan yang dihasilkan di
saluran napas bayi. Ketika gas mengalir melalui sistem, ia “menggelembung” keluar dan
mencegah penumpukan tekanan berlebih.

Bubble CPAP menarik karena kesederhanaan dan biaya rendah. Hal ini juga terkait
dengan penurunan insidensi displasia bronkopulmoner (BPD) dibandingkan dengan ventilasi
mekanis . Tidak semua bayi dengan ARDS adalah kandidat untuk pengobatan awal dengan
CPAP dan tidak semua orang yang diberi CPAP dapat berhasil dikelola dengan modalitas ini.

Buble CPAP dapat diberikan melalui sungkup wajah khusus yang dilengkapi dengan katup
pengatur tekanan. Sungkup wajah bubble CPAP (CPAP mask) telah terbukti berhasil untuk
menunda intubasi pada pasien dengan gagal nafas akut, tetapi sungkup wajah ini harus
dipasang dengan tepat dan kuat dan tidak dapat dan tidak dapat dilepas saat pasien makan,
sehingga hanya dapat digunakan sementara. Sungkup hidung khusus lebih dapat ditoleransi
oleh pasien terutama pasien dengan apnea obstruktif saat tidur, juga pada pasien dengan
penyakit paru obstruktif kronik eksaserbasi akut.
Gambar 2.1 Bubble CPAP

2. Fungsi dan Kegunaan

Tujuan dari Bubble CPAP adalah memberikan tekanan udara positif kepada pasien melalui
nasal prong. Bubble CPAP telah banyak digunakan untuk memperbaiki insufisiensi
pernapasan. Bubble CPAP telah digunakan untuk terapi orang dewasa sejak 1936 sedangkan
untuk ARDS pada bayi digunakan sejak 1971. Bubble CPAP berfungsi mempertahankan
tekanan positif pada jalan nafas pada nafas spontan, sehingga dapat meningkatkan fungsi
residual capacity dan meningkatkan oksigenasi pada bayi dengan ARDS. Pada umumnya
manfaat Bubble CPAP adalah:

- Menjaga jalan napas terbuka saat tidur

- Mengurangi bahkan menghilangkan dengkuran

- Meningkatkan kualitas tidur

- Meredakan gejala sleep apnea, seperti kantuk di siang hari yang berlebihan

- Mengurangi atau mencegah tekanan darah tinggi

Beberapa kegunaan bubble CPAP antara lain:

1. Meningkatkan tekanan transpulmonary

2. Meningkatkan functional residual capacity

3. Mencegah alveoli kolaps


4. Menurunkan shunt intrapulmo

5. Meningkatkan compliance paru

6. Meningkatkan diameter jalan napas

7. Menstimulasi pertumbuhan paru-paru

Bubble CPAP juga digunakan untuk mengobati bayi prematur yang paru-paru belum
sepenuhnya berkembang. Untuk pengobatan ini, garpu lembut ditempatkan dalam lubang
hidung bayi. Mesin bubble CPAP dengan lembut meniupkan udara ke dalam hidung bayi,
yang membantu membuat paru-paru mengembang, sehingga meningkatkan kelangsungan
hidup bayi. Ada beberapa kriteria terjadinya respiratory distress pada neonatus yang
merupakan indikasi penggunaan bubble CPAP. Kriteria tersebut meliputi:

a. Frekuensi napas >60 kali permenit

b. Merintih (Grunting) dalam derajat sedang sampai parah

c. Retraksi napas

d. Saturasi oksigen <93% (preduktal)

e. Kebutuhan oksigen >60%

f. Sering mengalami apnea

Semua bayi cukup bulan atau kurang bulan, yang menunjukkan salah satu kriteria tersebut
diatas, harus dipertimbangkan untuk menggunakan Bubble CPAP.

Pada penggunaa bubble CPAP, pernapasan spontan dengan tekanan positif dipertahankan
selama siklus respirasi, hal ini yang disebut dengan continuous positive airway pressure. Pada
mode ventilasi ini, pasien tidak perlu menghasilkan tekanan negatif untuk menerima gas yang
diinhalasi. Hal ini dimungkinkan oleh katup inhalasi khusus yang membuka bila tekanan
udara di atas tekanan atmosfer. Keistimewaan bubble CPAP dapat digunakan pada pasien-
pasien yang tidak terintubasi. Beberapa gangguan nafas atau respiratory distress yang dapat
diatasi dengan menggunakan bubble CPAP antara lain:

a. Bayi kurang bulan dengan respiratory distress syndrom

b. Bayi dengan transient takipneu of the newborn


c. Bayi dengan sindroma aspirasi mekoneum

d.Bayi yang sering mengalami apneu dan bradikardia karena kelahiran kurang bulan
(prematur)

3. Komplikasi Bubble CPAP

Pemasangan nasal CPAP pada beberapa kasus dapat mengakibatkan komplikasi.


Komplikasi pemasangan CPAP antara lain :

1. Cedera pada hidung, misalnya erosi pada septal nasi, dan nasal snubbing. Penggunaan

nasal prong atau masker CPAP dapat mengakibatkan erosi pasa septal nasi, sedangkan

penggunaan CPAP dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan snubbing

hidung

2. Pneumothorak. Kejadian Pneumothorak dapat terjadi karena proses penyakit dari

Respiratory Distress Syndrom ( karena alveolar yang over distensi) , dan angka

kejadian tersebut meningkat dengan penggunaan CPAP.

3. Impedasi aliran darah paru. Terjadi karena peningkatan resistensi vaskularisasi paru,

dan penurunan cardiac output, yang disebabkan oleh peningkatan tekanan inthorakal

karena penggunaan CPAP yang tidak sesuai.

4. Distensi abdomen. Pada kebanyakan neonatus tekanan spingkter oeshiphagus bagian

bawah cukup baik untuk dapat menahan distensi abdomen karena tekanan CPAP.

Tetapi distensi abdomen dapat terjadi sebagai komplikasi dari pemaangan CPAP.

Resiko terjadinya distensi abdomen dapat berkurang dengan pemasangan orogastric

tube (OGT)

5. Nasal prong atau masker pada CPAP dapat menyebabkan ketidaknyamanan bayi,

yang dapat menyebabkan agitasi dan kesulitan tidur pada bayi.


4. Jenis-jenis Bubble CPAP

Ada dua jenis bubble CPAP yaitu:

1. Bubble CPAP tanpa kompressor

2. Bubble CPAP dengan kompressor

Kompressor adalah alat mekanik yang digunakan untuk memampatkan atau menahan gas
atau udara sehingga memiliki tekanan yang lebih tinggi.

5. Komponen Utama

Komponen utama yang paling penting dari sebuah alat bubble CPAP adalah wadah
udara. Udara didalam wadah dipertahankan pada tingkat konstan. Udara dipompa melalui
tabung tipis ke masker ketat yang dikenakan di atas hidung. Udara membangun tekanan di
dalam masker dan mendorong ke dalam lubang hidung, sehingga proses pernapasan tetap
terjadi secara otomatis setiap kali pasien mendapat serangan sleep apnea. Masker untuk
alat bubble CPAP tersedia dalam bentuk yang berbeda-beda. Ada full face mask, total face
mask, sungkup nasal, mouthpiece, nasal pillow, atau plugs dan helmet.

Gambar 2.2 Sistem Bubble CPAP


Sistem CPAP sendiri terdiri dari 3 komponen yaitu :

1. Sebuah sirkuit yang mengalirkan gas terus menerus, untuk diisap. Sunber oksigen
dan udara bertekanan yang menghasilkan gas untuk dihirup. Pencampur oksigen
yang memungkinkan gas dapat diberikan sesuai FiO2 yang sesuai. Sebuah flow
meter yang mengkontrol kecepatan aliran terus menerus dari gas yang dihirup (
biasanya dipertahankan pada kecepatan 5-7 liter ). Sebuah humidifier yang
melembabkan dan menghangatkan gas yang dihirup.

2. Sebuah alat untuk menghubungkan sirkuit ke saluran nafas neonatus. Dalam


prosedur ini, nasal prong merupakan metode yang paling banyak digunakan. Berikut
adalah macam-macam patient interface untuk bubble CPAP:

a. Hudson’s prongs

b. Bi-nasopharyngeal prongs

c. ET tube

d. Short bi-nasal prongs

e. Argyle prongs

3. Sebuah alat untuk menghasilkan tekanan positif pada alat sirkuit. Tekanan positif

dalam sirkuit dapat dicapai dengan memasukkan pipa ekspirasi bagian distal dalam

larutan asam asetat 0,25% sampai kedalaman yang diharapkan ( 5cm) atau katup

CPAP.

Ukuran Berat
Size 0 <700g
Size 1 700-1000g
Size 2 1000-2000g
Size 3 2000-3000g
Size 4 3000-4000g
Size 5 >4000g
6. Bagian-bagian Bubble CPAP

Berikut ini bagian-bagian dari alat bubble CPAP merk Fisher & Paykel:

1. Humidifier = Terdiri dari kontrol dan display panel, heater plate, finger guard, colour
coded sockets (penghubung probe sensor dan adaptor). Humidifier berfungsi untuk
menghangatkan dan melembabkan udara.

2. Humidification Chamber = Tempat untuk menahan udara.

3. Expiratory Limb (breathing circuit) = Untuk membawa udara ekspirasi ke CPAP generator

4. Inspiratory Limb (breathing circuit) = Untuk membawa gas yang telah dilembabkan dan
dihangatkan ke pasien

5. Infant Interface = Alat yang melekat ke hidung pasien berupa nasal prong.

6. CPAP Generator = Untuk mempertahankan tekanan rata-rata dari CPAP

7. Oxygen Blender (mixer) = Untuk mencampur oksigen sesuai dengan yang dibutuhkan

8. Oxygen Tubing = Untuk membawa oksigen ke humidifier

9. Pressure Manifold = Untuk membatasi tekanan 17cm udara 8 liter permenit

Gambar 2.3 Bagian-bagian Bubble CPAP


7. Prinsip Kerja Bubble CPAP

Gambar 2.4 Blok Diagram Bubble CPAP

Adapun prinsip kerja Continous Positive Airway Pressure (CPAP) secara teknis

sebagai berikut :

1. Oksigen dan udara tekan masuk ke inlet blender atau O2 mixer dengan tekanan1 : 1
antara 3 – 7 bar dengan bersamaan melalui pipa oksigen warna putih garis merah dan pipa
udara tekan warna putih garis biru, agar tidak salah dalam pemasangan dan biasanya ada
penulisan pada bagian inletnya, Jika perbandingan masukan inlet tidak sesuai dengan
perbandingan 1 : 1 maka alaram akan berbunyi ini menandakan masukan gas inlet tidak
sesuai.

2. Blender atau O2 mixer menerima inputan dua jenis udara dengan tekanan masuk yang
sama, dua udara tersebut tercampur sehingga keluaran konsentrasi gas oksigen sesuai dengan
kebutuhan dosis setingan pada blender / O2 mixer mulai dari 21%, 30%, 40 %, 50 %, 60 %,
70 %, 80 %, 90 % dan 100 %.

3. Konsentrasi gas oksigen yang dibutuhkan oleh pasien dilewati melalui circuit CPAP
menuju heated humidifier untuk pasien non – invasive mulaisuhu 32 ºC (padapasien)
dantoleransi - 2ºC (pada chamber) sehingga kabut kondensasi di dalam circuit menuju
humidifier cukup. Apabila tidak ada kabut sama sekali makanaikkan suhu pada chamber, jika
terlalu banyak diturunkan dengan pengaturan setingan parameter humidifier, ini justru
aplikasi dokter.
4. Oksigen dari heated humidifier masukke CPAP generator dan dipasang pada pasien
melalui masker agar oksigen tetap stabil. Pada circuit suhu dapat dipantau melalui sensor
suhu antara ouput heated humidifier dengan input CPAP generator.

5. Setelah terpasang CPAP Generator, pasien bernafas spontan dengan menerapkan


tekanan udara positif terus menerus membantu pembukaan paru-paru dan membantu
pertukaran gas tingkatkan.

6. Aliran gas yang bertekanan antara 3-7 bar juga dapat dipantau pada manometer yang
terpasang pada CPAP generator.

7. Semakin besar tekanan yang diatur pada flow meter maka semakin besar pula aliran
udara yang diteruskan pada CPAP generator.

8. Standar Operasional Prosedur (SOP) Bubble CPAP

Pra Pengoperasian

1. Persiapkan alat CPAP dan semua kelengkapann

2. Hubungkan semua komponen pendukungnya dengan unit alat CPAP

3. Isikan aquades pada botol FEED ( botol kolep ) dengan cara membuka

atas dan memperhatikan garis level minimum dan maksimum.

4. Isi aquabides untuk kedalam chamber humidifier melalui lubang atas

dan perhatikan garis level minimum dan maksimum

5. Dan gantungkan aquabides untuk menhindari kekurangan aquabides

pada humidifier ( saat terjadinya pemanasan pada chamber )

6. Sambungkan semua breating circuit secara benar dan tepat.

7. Jika menggunakan oksigen tabung pastikan gas oksigen penuh.

Pengoperasian

1. Perhatikan SOP
2. Atur tekanan bar yang akan keluar dari tabung dengan cara memutar saklar regulator
warna biru ( biasanya diberikan 50 bar) dan angka pemberiannya bisa diamati pada
skala meter kedua skala meter pertama menunjukkan angka isi dalam tabung oksigen.

3. Hidupkan kompressor medical grid

4. Atur tekanan inlet oksigen dari tabung dan tekanan udara inlet kompressor 1 banding 1
dengan menarik keatas dan memutar kemudian tekan kembali untuk mengunci.

5. Tekan tombol hudimifier untuk mengaktifkannya, tunggu sesaat hingga muncul


tampilan digital pada layar, lalu pindahkan menu sesuai dengan pemakaian infasive
ataun on-invasive, atur suhu yang diinginkan (AplikasiDokter)

6. Atur besaran parameter mixer untuk memberikan besaran persentase oksigen yang
hendak diberikan ke pasien 21 % sampai dengan 100% (aplikasi dokter ).

7. Atur jumlah besaran Lpm yang hendak diberikan ke pasien dengan cara memutar saklar
regulator flow meter dan biasanya diberikanantara 1 – 3 Lpm tergantung diagnose (
aplikasi dokter )

8. Atur besaran PEEP dengan cara menarik dan menekan gagang PEEP besaran skala
parameter yang diberikan tergantung pada kasus atau biasanya 3 sampai 5 ( aplikasi
dokter ) .

9. Tes kebocoran sebelum alat disambungkan kepasien dengan menghubungkan antara


ujung breating circuit inpirasi dan expirasi.

Perhatikan: Keadaan normal tanpa bocorakan terjadi gelembung air pada botol PEEP.
Jika tidak ada gelembung pastikan kembali semua breating circuit tersambung dengan
benar.

10. Ukur besarnya kepala bayi dengan pita meter untuk menentukan besarnya topi yang
digunakan.

11. Ukur jarak lubang hidung dan besarnya lubang hidung bayi dengan rol khusus
menentukan nasal yang digunakan

12. Pasang topi, dan nasal pada bayi lalu ikatkan nasal. Kunci nasal dengan benar

13. Catatan : breating circuit harus sama data antara pasien dengan botol PEEP
14. Pasang Spo2 pada ibu jari bayi jika tidak mungkin, pasang Spo2 pada ibu jari di kaki
bayi dan perhatikan pembacaan saturasi kadar konsentrasi oksigen.

15. Lakukan tindakan parameter medis selanjutnya (aplikasi dokter)

16. Catat semua tindakan yang dilakukan

17. CATATAN KHUSUS TEKNISI : Jangan pernah merubah aplikasi medis (Tindakan
ini hanya aplikasi dokter)

9. Standar Maintenance Prosedur Alat CPAP

1) SDM terlatih

2) Perhatikan Protap Pemeliharan

3) Lakukan pemeliharaan dan catat :

No Tanggal Bagian Alat Uraian Waktu Petugas Ket.


Pemeliharaan
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Bubble CPAP adalah metode atau alat yang mempertahankan tekanan positif pada saluran
napas neonatus selama pernapasan spontan. Berbagai keunggulan didapat dari penggunaan
bubble CPAP.

Indikasi penggunaan bubble CPAP antara lain gangguan napas serta penyapihan dari
vertilisasi mekanik

Bahaya dari Nasal CPAP adalah distensi paru, lambung, kerusakan hidung, dan PVR.