Anda di halaman 1dari 44

GTE – 03 = KAJIAN DATA GEOTEKNIK

PELATIHAN
AHLI PELAKSANA GEOTEKNIK
KONSTRUKSI SUMBER DAYA AIR
(GEOTECHNICAL ENGINEER WRD)

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

KATA PENGANTAR

Laporan UNDP tentang : Human Development Index (HDI) tertuang dalam Human
Development Report, 2004, mencantumkan Indeks Pengembangan SDM Indonesia pada
urutan 111, satu tingkat di atas Vietnam urutan 112 dan jauh di bawah dari Negara-
negara ASEAN terutama Malaysia urutan 59, Singapura urutan 25, dan Australia urutan
3, merupakan sebuah gambaran kondisi pengembangan SDM kita.

Bagi para pemerhati dan khususnya bagi yang terlibat langsung dalam pengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM), kondisi tersebut merupakan tantangan sekaligus sebagai
modal untuk berpacu mengejar ketinggalan dan obsesi dalam meningkatkan kemampuan
SDM paling tidak setara dengan Negara tetangga ASEAN, terutama menghadapi era
globalisasi.

Untuk mengejar ketinggalan telah banyak daya upaya yang dilakukan termasuk perangkat
pengaturan melalui penetapan undang-undang antara lain :

 UU. No. 18 Tahun 1999, tentang : Jasa Konstruksi beserta peraturan


pelaksanaannya, mengamanatkan bahwa setiap tenaga : Perencana, Pelaksana, dan
Pengawas harus memiliki sertifikat, dengan pengertian sertifikat kompetensi keahlian
atau ketrampilan kerja. Untuk melaksanakan kegiatan sertifikasi berdasarkan
kompetensi diperlukan tersedianya “Bakuan Kompetensi” untuk semua tingkatan
kualifikasi dalam setiap klasifikasi di bidang Jasa Konstruksi.

 UU. No. 13 Tahun 2003, tentang : Ketenagakerjaan, mengamanatkan (Pasal 10 Ayat


(2)). Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang mengacu
pada standard kompetensi kerja.

 UU. No. 20 Tahun 2003, tentang : Sistem Pendidikan Nasional, dan peraturan
pelaksanaannya, mengamanatkan Standar Nasional Pendidikan sebagai acuan
pengembangan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi).

 UU. No. 7 Tahun 2004, tentang : Sumber Daya Air menetapkan pada Pasal 71 Ayat 1
dan 2 bahwa :

- (1) Menteri yang membidangi sumber daya air dan menteri yang terkait dengan
bidang sumber daya air menetapkan standar pendidikan khusus dalam bidang
sumber daya air

i
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

(2) Penyelenggaraan pendidikan bidang sumber daya air dapat dilaksanakan, baik
oleh Pemerintah, pemerintah daerah maupun swasta sesuai dengan standar
pendidikan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Mengacu pada amanat undang-undang tersebut di atas, diimplementasikan kedalam


konsep Pengembangan Sistem Pelatihan Jasa Konstruksi, yang oleh PUSBIN KPK
(Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi) pelaksanaan programnya
didahului dengan mengembangkan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional
Indonesia), SLK (Standar Latih Kompetensi), dimana keduanya disusun melalui analisis
struktur kompetensi sektor/sub-sektor konstruksi sampai mendetail, kemudian dituangkan
dalam jabatan-jabatan kerja yang selanjutnya dimasukan ke dalam Katalog Jabatan
Kerja.

Modul Pelatihan adalah salah satu unsur paket pelatihan sangat penting karena
menyentuh langsung dan menentukan keberhasilan peningkatan kualitas SDM untuk
mencapai tingkat kompetensi yang ditetapkan, disusun dari hasil inventarisasi jabatan
kerja yang kemudian dikembangkan berdasarkan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja
Nasional Indonesia) dan SLK (Standar Latih Kompetensi) yang sudah disepakati dalam
suatu Konvensi Nasional, dimana modul-modulnya maupun materi uji kompetensinya
disusun oleh Tim Penyusun/tenaga professional dalam bidangnya masing-masing,
merupakan suatu produk yang akan dipergunakan untuk melatih, dan meningkatkan
pengetahuan dan kecakapan agar dapat mencapai tingkat kompetensi yang
dipersyaratkan dalam SKKNI, sehingga dapat menyentuh langsung sasaran pembinaan
dan peningkatan kualitas tenaga kerja konstruksi agar menjadi kompeten dalam
melaksanakan tugas pada jabatan kerjanya.

Dengan penuh harapan modul pelatihan ini dapat dimanfaatkan dengan baik, sehingga
cita-cita peningkatan kualitas SDM khususnya di bidang jasa konstruksi dapat terwujud.

Jakarta, Nopember 2006

Kepala Pusat
Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi

Ir. Djoko Subarkah, Dipl. HE.


NIP : 110016435

ii
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

PRAKATA

Usaha dibidang Jasa konstruksi merupakan salah satu bidang usaha yang telah
berkembang pesat di Indonesia, baik dalam bentuk usaha perorangan maupun sebagai
badan usaha skala kecil, menengah dan besar. Untuk itu perlu diimbangi dengan kualitas
pelayanannya. Pada kenyataannya saat ini bahwa mutu produk, ketepatan waktu
penyelesaian, dan efisiensi pemanfaatan sumber daya relatif masih rendah dari yang
diharapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah ketersediaan
tenaga ahli / trampil dan penguasaan manajemen yang efisien, kecukupan permodalan
serta penguasaan teknologi.

Masyarakat sebagai pemakai produk jasa konstruksi semakin sadar akan kebutuhan
terhadap produk dengan kualitas yang memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Untuk memenuhi kebutuhan terhadap produk sesuai kualitas standar tersebut, perlu
dilakukan berbagai upaya, mulai dari peningkatan kualitas SDM, standar mutu, metode
kerja dan lain-lain.

Salah satu upaya untuk memperoleh produk konstruksi dengan kualitas yang diinginkan
adalah dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik untuk bidang
pekerjaan jalan dan jembatan, pekerjaan sumber daya air maupun untuk pekerjaan
dibidang bangunan gedung.

Kegiatan inventarisasi dan analisa jabatan kerja dibidang sumber daya air, telah
menghasilkan sekitar 130 (seratus Tiga Puluh) Jabatan Kerja, dimana Jabatan Kerja Ahli
Pelaksana Geoteknik merupakan salah satu jabatan kerja yang diprioritaskan untuk
disusun materi pelatihannya mengingat kebutuhan yang sangat mendesak dalam
pembinaan tenaga kerja yang berkiprah dalam Geoteknik konstruksi bidang sumber daya
air.

Materi pelatihan pada Jabatan Kerja Ahli Pelaksana Geoteknik ini terdiri dari 8 (delapan)
modul yang merupakan satu kesatuan yang utuh yang diperlukan dalam melatih tenaga
kerja menjadi Ahli Pelaksana Geoteknik.

Namun penulis menyadari bahwa materi pelatihan ini masih banyak kekurangan
khususnya untuk modul Kajian Data Geoteknik pekerjaan konstruksi Sumber Daya Air.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, kami mengharapkan kritik, saran dan
masukkan guna perbaikan dan penyempurnaan modul ini.

Jakarta, Nopember 2006

Tim Penyusun

iii
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : AHLI PELAKSANA GEOTEKNIK


JUDUL MODUL : KAJIAN DATA GEOTEKNIK
Waktu : 4 X 45 MENIT ( 4 JPL)

TUJUAN PELATIHAN
A. Tujuan Umum Pelatihan
Mampu menyiapkan perencanaan dan penyelidikan Geoteknik sebelum pelaksanaan
konstruksi untuk mendukung perencanaan teknis pekerjaan konstruksi Sumber Daya
Air.

B. Tujuan Khusus Pelatihan


Setelah mengikuti pelatihan, peserta mampu :
1. Melakukan pengumpulan data Geoteknik terdahulu
2. Mempelajari dan menguasai data terdahulu untuk daerah yang akan diselidiki
3. Membuat perencanaan penyelidikan Geoteknik
4. Melakukan pengendalian pekerjaan penyelidikan Geoteknik
5. Membuat laporan dan rekomendasi hasil penyeledikan Geoteknik
6. Melakukan analisa hasil penyelidikan Geoteknik untuk pekerjaan SDA

Seri Modul : GTE – 03/ Kajian Data Geoteknik

TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM (TPU)


Setelah modul ini dipelajari peserta mampu :
Menerapkan Kajian Data Geoteknik

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK)


Setelah modul ini selesai dipelajari peserta mampu :
1. Melakukan pemilahan data (shorting data) dengan benar
2. Melakukan kajian data dengan teliti
3. Membuat konsep perencanaan penyelidikan dengan benar.

iv
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................ i


PRAKATA .................................................................................................................. iii
LEMBAR TUJUAN ................................................................................................... iv
DAFTAR ISI ............................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... vi
DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL
PELATIHAN AHLI PELAKSANA GEOTEKNIK ........................................................ vii
DAFTAR MODUL .................................................................................................... viii
PANDUAN PEMBELAJARAN .................................................................................. ix
MATERI SERAHAN ................................................................................................. xiii

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................ 1-1


RANGKUMAN
LATIHAN

BAB 2 PEMILAHAN DATA (SHORTING DATA)


2.1 Pemilahan Data (shorting data) Berdasarkan Parameter Desain ........... 2-1
2.2 Pemilahan Data (shorting data) Berdasarkan Lapisan Tanah ................ 2-3
RANGKUMAN
LATIHAN

BAB 3 ANALISA DATA


3.1 Jenis Bangunan dan Parameter Desain ................................................ 3-1
3.2 Analisa Parameter Desain ..................................................................... 3-6
RANGKUMAN
LATIHAN

BAB 4 KONSEP PERENCANAAN


4.1 Penetapan Kekurangan Data Parameter Desain .................................. 4-1
4.2 Konsep Perencanaan Penyelidikan ....................................................... 4-3
RANGKUMAN
LATIHAN
DAFTAR PUSTAKA

v
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Contoh Pemilahan Data dari Pekerjaan Topografi .................................. 2-1
Tabel 2.2 Contoh Pemilahan Data dari Pekerjaan Geologi atau Geoteknik ........... 2-2
Tabel 3.1 Besaran Parameter Tanah untuk Bahan Timbunan Tanah ................... 3-7
Tabel 4.1 Data Peta Topografi ................................................................................ 4-1
Tabel 4.2 Data Pengujian Laboratorium (Bahan Bangunan) ................................. 4-2

vi
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL


PELATIHAN AHLI PELAKSANA GEOTEKNIK

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Pelaksana Geoteknik
dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang
didalamnya telah ditetapkan unit-unit kompetensi, elemen kompetensi, dan kriteria
unjuk kerja, sehingga dalam Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik, unit-unit kompetensi
tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.

2. Standar Latihan Kompetensi (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing


Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan
kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja melalui metoda pembelajaran
yang diberikan untuk mencapai indikasi keberhasilan dengan tingkat / level dari setiap
elemen kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan
silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan


Kurikulum dan Silabus sebagai suatu cerminan yang ditetapkan dalam SLK, disusun
seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus
menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik.

vii
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

DAFTAR MODUL

PELATIHAN : Ahli Pelaksana Geoteknik

NO. KODE JUDUL NO. REPRESENTASI UNIT


KOMPETENSI
Undang-Undang Jasa
Undang-Undang Jasa Konstruksi
Konstruksi (UUJK), Sistem
UUJK, Sistem Manajemen
1. GTE - 01 Manajemen Keselamatan
Keselamatan dan Kesehatan 1.
dan Kesehatan Kerja
Kerja (SMK3) dan Pengendalian
(SMK3) dan Pengendalian
Dampak Lingkungan
Dampak Lingkungan

2. GTE - 02 Melakukan Pengumpulan


Pengumpulan Data Geoteknik 2.
Data Geoteknik Terdahulu

Mempelajari dan
3. GTE - 03 Menguasai Data Terdahulu
Kajian Data Geoteknik 3.
untuk Daerah yang akan
Diselidiki

Perencanaan Penyelidikan
Geologi Teknik dan Mekanika
4. GTE - 04 Membuat Perencanaan
Tanah untuk Perencanaan Teknis 4.
Penyelidikan Geoteknik
Konstruksi Sumber Daya Air
(SDA)

Melakukan Pengendalian
5. GTE - 05 Pengendalian Pelaksanaan
5. Pekerjaan Penyelidikan
Penyelidikan Geoteknik
Geoteknik

Membuat Laporan dan


6. Laporan Hasil Penyelidikan
GTE-06 6. Rekomendasi Hasil
Geoteknik
Penyelidikan Geoteknik

Melakukan Analisa Hasil


Analisa Hasil Penyelidikan
7. GTE - 07 Penyelidikan Geoteknik
Geoteknik untuk Sumber Daya Air 7.
untuk Sumber Daya Air
(SDA)
(SDA)

Pedoman Praktek Sondir, Bor


8. GTE - 08 Pelatihan Penunjang Teori
Tangan, Sampling dan Densiti 8.
dan Praktek
Test (Sand Cone)

viii
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

PANDUAN PEMBELAJARAN

ix
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

JUDUL : KAJIAN DATA GEOTEKNIK KETERANGAN

KODE MODUL : GTE – 03

Deskripsi :
Modul ini membahas kajian data geoteknik
yang mencakup pemilahan data (shorting
data), baik berdasarkan parameter desain,
berdasarkan lapisan tanah sampai membahas
analisa data terhadap jenis bangunan,
parameter desain sampai kepada konsep
perencanaan penyelidikan.

Tempat Kegiatan : Di dalam ruangan kelas lengkap dengan


fasilitasnya serta dilengkapi dengan media
pembelajaran

Waktu Kegiatan : 4 x 45 menit (4 JPL)


Bahan : Materi serahan

x
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

1. PEMBUKAAN
 Menjelaskan Tujuan  Mengikuti penjelasan OHT1,2,3,4
Pembelajaran Umum (TPU) instruktur TPU dan TPK
dan Tujuan Pembelajaran dengan tekun dan aktif
Khusus (TPK)
 Memotivasi dan merangsang  Mengajukan pertanyaan
inovasi peserta dengan untuk hal-hal yang belum
pertanyaan atau jelas
pengalamannya di lapangan
atau di perusahaannya.

Waktu : 15 menit
Bahan : Materi serahan (TPU
dan TPK)

2. Ceramah : Pendahuluan
 Membahas tentang pemilahan  Mengikuti penjelasan OHT5
(shorting data) terdahulu instruktur TPU dan TPK
berdasarkan parameter dengan tekun dan aktif
desain.
 Mengajukan pertanyaan
Waktu : 20 menit untuk hal-hal yang belum
Bahan : Materi serahan jelas
(Bab 1)

3. Ceramah : Analisa Data

• Membahas mengenai :  Mengikuti penjelasan


 Pemilahan data berdasarkan instruktur dengan tekun
parameter desain dan aktif
 Pemilahan data berdasarkan  Mencatat hal-hal yang
data lapisan tanah dianggap perlu
 Mengajukan pertanyaan
bila belum jelas OHT6,7
Waktu : 90 menit
Bahan : Materi serahan (Bab 2)

xi
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

4. Ceramah : Analisa Data

 Membahas mengenai :
 Analisa data berdsarkan kajian  Mengikuti penjelasan
jenis bangunan dan parameter instruktur dengan seksama
desain  Mencatat hal-hal yang
 Analisa data berdasarkan belum jelas
OHT8,9,10,11
parameter desain dari hasil  Tanya jawab / diskusi
kajian data. berdasarkan pengalaman
peserta di lapangan
Waktu : 55 menit
Bahan : Materi serahan (Bab 3)

5. Ceramah : Konsep Perencanaan

 Mengikuti penjelasan OHT12,13,14,15,16


Membahas masalah :
instruktur dengan seksama
 Penetapan kekurangan
parameter desain berdasarkan  Mencatat hal-hal yang
keperluan perencanaan belum jelas
 Membuat konsep perencanaan  Tanya jawab / diskusi
sesuai dengan tujuan berdasarkan pengalaman
perencanaan danm jangkauan peserta di lapangan
perencanaan serta
kelengkapan data yang ada.

xii
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

MATERI SERAHAN

xiii
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

BAB 1
PENDAHULUAN

Seorang Ahli Pelaksana Geoteknik dalam merencanakan suatu pekerjaan penyelidikan


geoteknik pada suatu daerah yang akan didirikan suatu bangunan pada umumnya
maupun bangunan konstruksi Sumber Daya Air pada khususnya perlu mempelajari dan
menguasai data-data yang ada tersedia pada saat itu atau data terdahulu. Data tersebut
dibutuhkan untuk bahan lapisan agar diperoleh hasil suatu perencanaan penyelidikan
yang lebih akurat. Langkah-langkah kerja yang harus dilakukan oleh Ahli Pelaksana
Geoteknik adalah :
 Melakukan pemilahan data (shorting) untuk memperoleh data sesuai kebutuhan dan
sasaran daripada rencana penyelidikan geoteknik pada daerah tersebut.
 Melakukan kajian data untuk memperoleh gambaran/ informasi yang cukup untuk
dapat digunakan sebagai suatu bahan dalam menyusun rencana pekerjaan
penyelidikan terutama penyelidikan lapangan.
 Dari hasil kajian tersebut di atas, maka dapat disusun suatu konsep perencanaan
penyelidikan dan data apa saja yang sudah bisa dijadikan bahan perencanaan dan
data apa saja yang masih perlu dilengkapi, sehingga dihasilkan suatu perencanaan
penyelidikan yang sesuai dengan tujuan, sasaran dan jangkauan penyelidikan.
Hasil tujuan tersebut diharapkan tercakup sebuah informasi yang bisa merupakan hal
penting pada evaluasi geoteknik untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana suatu
bangunan yang direncanakan didirikan di permukaan bumi ini dapat berdiri kokoh dan
berfungsi sesuai dengan sasaran pembangunan.

1-1
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

RANGKUMAN

Menjelaskan masalah :
 Langkah-langkah kerja yang harus dilakukan seorang Ahli Pelaksana Geoteknik
 Penyusunan konsep perencanaan dari hasil kajian data.
 Menyusun kekurangan data baik data lapangan maupun data laboratorium.
 Menyusun jenis-jenis bangunan yang akan dijadikan sasaran penyelidikan geoteknik.

1-2
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

LATIHAN

1. Sebutkan apa yang harus dipelajari oleh seorang Ahli Pelaksana Geoteknik dalam
merencanakan suatu penyelidikan Geoteknik pada suatu daerah yng akan didirikan
suatu bangunan ?
2. Sebutkan apa yang dimaksud dengan shorting data dan tujuan dilakukanya shorting
data ?
3. Sebutkan apa yang dimaksud dengan kajian data dan tujuan dilakukan kajian data ?
4. Sebutkan apa yang Anda ketahui tentang konsep perencanaan penyelidikan
Geoteknik ?

1-3
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

BAB 2
PEMILAHAN DATA (SHORTING DATA)

Untuk mempelajari dan menguasai data terdahulu untuk daerah yang akan diselidiki perlu
dilakukan pemilahan data (shorting data), maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

2.1 Pemilahan Data (Shorting Data) Berdasarkan Parameter Desain


2.1.1 Contoh pemilahan data dari pekerjaan topografi

Tabel 2.1
Contoh Pemilahan Data dari Pekerjaan Topografi

Data yang Diperlukan


No Data yang Tersedia Keterangan
Ya Tidak
1. Pemotretan Udara √ -  Penetapan ukuran bangunan/
Vertikal bendungan
 Perkiraan kestabilan lereng
 Perkiraan pengeboran formasi
batuan dan struktur geologi
2. Pembuatan peta √ -  Garis-garis tinggi kontur, untuk
ortopoto luas daerah tertentu skala
1 : 5000 dan 1 : 2000
3. Peta garis - √ -
fotogrammetris
4. Pemetaan situasi √ -  Untuk garis-garis tinggi/ kontur
teristris 1 : 5000 0,50 m untuk daerah 100 m
5. Pemetaan situasi √  Untuk keperluan perencanaan
teristris 1 : 2000 teknis
6. Peta pengukuran √ -  Topografi sungai dan pemetaan
sungai dan lokasi situasi bendung
bendung  Penetapan benetimark tanda-
tanda azimut pelengkap,
pengukuran poligon
7. Pengukuran trace √ -  Diperlukan dalam situasi saluran
saluran sistem untuk proyek trigasi.
situasi

8. Pengukuran trace - √ -
saluran sistem IP
9 Pengukuran trace - √ -
saluran tersier
10. Pengukuran situasi √ -  Pembuatan peta topografi lokasi
lahan bangunan bangunan khusus untuk
khusus perencanaan bangunan-
bangunan

2 -1
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

2.1.2 Contoh pemilahan data dari pekerjaan geologi atau geoteknik

Tabel 2.2
Contoh Pemilahan Data dari Pekerjaan Geologi atau Geoteknik

Data yang
Penyelidikan Geoteknik yang
No. Diperlukan Keterangan
Pernah Dilakukan/ yang
Tersedia
Ya Tidak
1. Pemetaan geologi (1 : 2000) - √ Sudah masuk dalam
pemilahan data topografi,
pemetaan situasi simetris
(1 : 2000)

2. Pemetaan geologi ortopoto - √ Sudah masuk dalam


pemilahan data pekerjaan
topografi, pemetaan garis-
garis tinggi kontur untuk luas
daerah tertentu. (1 : 5000)
dan (1 : 2000)

3. Pemetaan geologi ( 1 : 1000) √ - Dibutuhkan untuk


memploting situasi rencana
titik-titik pengeboran,
penetrasi dan patok-patok
elevasi jenis penyelidikan
lapangan
4. Pemboran inti/ permeability √ - Dibutuhkan untuk
test setiap interval 3 m menyelidiki susunan lapisan
tanah pada kedalaman
tertentu dan untuk
mengetahui tingkat
permeabilitas tertentu untuk
rencana pondasi bendungan
pada setiap kedalaman 3 m.

2 -2
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

5. Test trench dan test pit √ - Diperlukan untuk uji paritan


dan uji sumuran biasanya
dilakukan untuk trenching
kanan trenching kiri.
Sumuran 13 – 16 m di hulu
sebanyak minimal 4 lubang

6. Insitu rock shear test √ - Untuk mengetahui tegangan


geser langsung pada lapisan
batuan pada kedalaman
tertentu sesuai keperluan
baik jumlahnya maupun
kedalamnnya

7. Sampling (pengambilan √ - Untuk dilakukan pengujian di


contoh tanah/ batuan) laboratorium biasanya
didapat dari hasil bor tangan
(tanah tidak terganggu) atau
dengan kantong-kantong
plastik untuk tanah
terganggu.

8. Uji laboratorium mekanika √ - Untuk mengetahui sifat-sifat


tanah dan karakteristik tanah dari
lapangan digunakan untuk
mendapatkan parameter
desain dari batuan.

2.2 Pemilahan Data (Shorting Data) Berdasarkan Lapisan Tanah


Pemilahan ini dimaksudkan untuk mengetahui struktur geologi yang ada di bawah
permukaan pada daerah penyelidikan, pada umumnya dilakukan dengan bor mesin.
Hasil dari beberapa lokasi dan beberapa titik lubang pemboran dipilah-pilah
dikelompokan berdasar satuan lapisan tanah dan kedalamannya, sebagai contoh
misalnya terdiri dari :

2 -3
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

 Satuan lanau gampingan


 Satuan pasir kwarsa
 Satuan batu gamping
 Satuan alluvial
 Satuan lanau gampingan, satuan merupakan satuan tertua di daerah penyelidikan
terdiri lanau berwarna abu-abu kecoklatan dan sisipan batu gamping pasiran
setebal 20 sampai 40 cm, bagian bawah berselang-seling dengan batu gamping
pasiran tipis dan pipih dengan ketebalan 2 sampai 10 cm. Beberapa dijumpai
konkresi (nodule) batu gamping relatif keras dan kedap air.
 Satuan pasir kwarsa, satuan ini terdiri dari pasir kwarsa halus beberapa berselang-
seling dengan pasir lempungan berbutir halus dan sisipan batu gamping dengan
ketebalan 1 sampai 3 meter. Pada puncak lereng perbukitan sering ditemukan pasir
kwarsa lebas berbutir sedang sampai kasar. Sebagian besar pasir lempungan pada
satuan ini telah lapuk menjadi tanah berwarna merah kecoklatan dan kohesif
dengan ketebalan 1 sampai 2 meter. Penyebaran satuan ini berada di bagian
tengah daerah penyelidikan, karena daerah ini pada umumnya menjadi daerah
genangan, dan beberapa lokasi digunakan sebagai daerah borrow area untuk
lokasi penyediaan material tanah ini timbunan (core material).
 Satuan batu gamping terdiri dari batuan gamping, terdiri dari batu gamping berfosil
berbutir pasir halus sampai kasar. Terdapat pula sisipan mapal (marbel) berwarna
abu-abu muda setebal sekitar 1,5 meter. Singkapan satuan batuan ini tersebut baik
di sekitar poros bendungan, di daerah perbukitan maupun dekat sungai. Batu
gamping berfosil pada umumnya telah mengalami beberapa tingkat pelapukan
mulai yang segar (fresh) sampai yang sudah terubahkan menjadi tanah
(decomposed). Kadang banyak terdapat kekar dan beberapa relatif lolos air karena
sistem sesar. Kekar yang dijumpai umumnya sudah teroksidasi lapuk dan berwarna
kecoklatan, terubahnya menjadi limonit (teroxidation) dan menempel pada bidang-
bidang kekar. Hasil pelapukan yang lebih lanjut (decomposed) berupa tanah coklat
kemerahan disertai fragmen batu gamping berupa kerikil, kerakal sering dijumpai
bersama-sama dengan bahan rombakan dengan ketebalan 0,5 sampai 1,0 meter.
Penyebarannya terletak terutama di depan maupun belakang rencana bendungan
dengan ketebalan biasa mencapai 2 meter.
 Satuan aluvial terdiri dari bahan rombakan dan endapan sungai. Bahan rombakan
terdapat di lereng-lereng perbukitan berupa fragmen batu gamping berukuran kerikil
sampai bongkahan dan tercampur dengan tanah ketebalan sekitar 1 meter.
Sedangkan endapan sungai terdiri dari 2 (dua) macam, yaitu endapan teras dan

2 -4
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

endapan sungai. Endapan teras berupa konglomerat dengan fragmen batu


gamping 5 cm, tersemen kompak dan tersebar tidak merata di tebing sungai.

2 -5
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

RANGKUMAN

Menjelaskan mengenai :
 Pemilahan data berdasarkan parameter desain.
 Pemilahan data berdasarkan lapisan tanah dan bentuk lapisan tanah yang ada di bawah
permukaan, termasuk mekanika batuannya.

2 -6
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

LATIHAN

1. Sebutkan kegunaan dari pemotretan udara dari data topografi dalam suatu perencanaan
penyelidikan geoteknik !
2. Sebutkan kegunaan pemetaan situasi teristis skala 1 : 5000 dan skala 1 : 2000 dalam
suatu rencana penyelidikan geoteknik !
3. Sebutkan kegunaan pemetaan geologi skala 1 : 1000 dalam suatu rencana penyelidikan
geoteknik !
4. Sebutkan maksud dan tujuan dilakukan pemboran inti dan permeability test setiap
interval 3 m !
5. Sebutkan tujuan dari uji laboratorium mekanika tanah !

2 -7
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

BAB 3
ANALISA DATA

Data hasil penyelidikan dianalisa mendapatkan parameter-parameter berdasarkan jenis-jenis


bangunan dan parameter desain dan analisa parameter desain sebagai berikut :

3.1 Jenis Bangunan dan Parameter Desain


Sebagai contoh penyelidikan geoteknik yang pernah dilakukan berkaitan dengan
perencanaan bendungan meliputi pemboran inti, sumuran dan paritan uji, pemetaan
geologi “insitu rock shear test” serta pengujian dan batuan di laboratorium.
 Poros bendungan
Secara umum batu gamping merupakan batuan yang paling dominan menutupi
hampir seluruh areal rencana bendungan. Batu gamping bertekstur klastik, berbutir
pasir halus sampai kasar, berfosil jenis foraminifera besar. Batuan ini tidak terlalu
keras, umumnya bisa digores dengan kuku tangan, mengalami tingkat pelapukan
yang bervariasi mulai kondisi segar sampai lapuk lanjut menjadi tanah
(decomposed). Pengamatan petrografi berdasarkan 26 sampel yang diambil dari
lubang pemboran dan dilakukan oleh DPMA (1976), batuan ini disebut
Batugamping Bioklastik. Kadang-kadang mengandung pula butir kwarsa pada DH-
3 kedalaman 1,4 sampai 7,4 m dan DH-2 kedalaman 5,4 m. Batugamping yang
tersingkap umumnya bersifat keras sekali dengan ketebalan sekitar 1 m. Hal ini
diakibatkan oleh proses permukaan, atau yang dikenal dengan case hardening.
Penampang harga lugeon dan geologi sumbu bendungan dapat dilihat bahwa batu
gamping di daerah ini dibedakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu Batugamping Bagian
Atas dan Batugamping Bagian Bawah. Berdasarkan klasifikasi batuan menurut
“Japanese National Committee of the International Commission on Large Dams :
1978”, maka Batugamping Bagian Atas secara umum dikelompokkan pada gologan
D sampai CL namun kadang-kadang CM. Pada bagian yang sudah lapuk lanjut
(decomposed) sering bercampur dengan kerakal dari rombakan Batugamping
dengan ketebalan sekitar 0,5 m. Umumnya Batugamping Bagian Atas mempunyai
penyebaran harga lugeon 10 sampai 100. Pada sandaran kiri ketebalannya
mencapai 20 m, sedang pada sandaran kanan menunjukkan penipisan ke arah
yang berdekatan dengan sungai Blega tersingkap segar, kompak sekali di dasar
sungai. Batuan ini di bagian atas pada sandaran kanan menunjukkan penyebaran
harga lugeon yang bervariasi sekali. Pada lubang bor DH-2, DH-4, DH-6, DH-20

3 -1
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

dan C-1 semakin ke bawah justru semakin jelek kondisinya dengan harga lugeon
10. Hal ini disebabkan oleh proses pelarutan pada daerah fluktuasi air tanah,
melalui sistem kekar yang diakibatkan oleh sesar di sandaran kanan.
Batugamping Bagian Bawah umumnya digolongkan pada kelompok CH, dengan
harga lugeon < 10 bahkan seringkali Lu < 1. Batuannya relatif keras dengan sistem
kekar yang relatif jarang pula. Pada lubang bor DH-48 dan DH-20 sandaran kanan,
bagian bawah mengalami fractured dan beberapa cermin sesar, tetapi kondisi
batuannya sendiri masih relatif keras. Umumnya pada permukaan rekahan sudah
mengalami oksidasi, lapuk dan berwarna kecoklatan.
Berdasarkan kenyataan bahwa di bagian atas relatif lebih baik dibanding bagian
bawah, kemudian rekahannya juga mengalami pelapukan pada permukaannya,
maka dapat disimpulkan bahwa sistem sesar yang terjadi di sandaran kanan ini
sudah lama terjadi dan tidak aktif lagi. Mengingat kondisi Batugamping terutama
Bagian Atas yang relatif dalam dan kurang bagus, serta batuan dasarnya sendiri
juga tidak terlalu keras, serta kondisi perlemahan adanya sesar di sandaran kanan
(meskipun tidak aktif lagi), maka disarankan untuk membuat bendungan isian batu,
tanah atau kombinasi keduanya agar beban pondasi bangunan tidak terlalu berat.
Pengujian insitu rock shear test di sandaran kanan oleh CV Jaya Consultant (1981)
diperoleh harga C (kohesi) 2,45 kg/ cm2 dan sudut geser dalam 53°/ 24°.
Sedangkan pengujian kuat tekan dari batuan hasil pemboran di laboratorium DPMA
(1976) diperoleh hasil berkisar antara 26,5 sampai 56,24 kg/ cm2. Dan pada
Batugamping yang keras sekali pada DH-2 (22 m) dan DH-3 (49 m) kadang
mencapai 98,48 – 116,24 kg/ cm2. Sebagian kecil di daerah sesar sandaran kanan
mempunyai kuat tekan 8,4 sampai 19,08 kg/ cm2. Sedangkan dari hasil uji “direct
shear” harga sudut geser dalam berkisar antara 20 sampai 50 atau umumnya 30°,
sedangkan C (kohesi) berkisar antara 6,18 sampai 33,6 kg/ cm2, rata-rata sekitar
20 kg/ cm2.
Dari sumuran uji SU-13 sampai SU-16 dapat dijelaskan bahwa pengupasan tanah
masih diperlukan sekitar 1m, dan harus diamati oleh seorang ahli agar bila ditemui
daerah yang hancur akibat kekar maupun sesar dapat segera diketahui dan
diusahakan perbaikannya, misalnya dengan dental grout atau shotcrete. Di
samping itu consolidation grout yang menyeluruh di bawah pondasi bendungan
diperlukan mengingat banyaknya kekar di daerah rencana bendungan.
Curtain grout pada kedua sandaran masih diperlukan pula untuk mencegah
rembesan air yang berlebihan, sekitar 20 m di sandaran kiri. Tetapi pada sandaran
kanan akan lebih dalam lagi mencapai 30 m bahkan bisa mencapai 50 meter pada
zona sesar akibat Sesar Telok yang berada di sandaran kanan. Grouting test yang

3 -2
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

berbeda disarankan untuk dilaksanakan pada sandaran kanan sedalam 50 meter di


daerah yang terdapat zona sesar serta sandaran kiri sedalam 25 meter pada awal
konstruksi nanti. Hal ini dilakukan untuk menegaskan pola grouting yang akan
diperoleh dengan lebih seksama.
 Sistem pengelak
 Terowongan pengelak
Penampang harga lugeon dan geologi terowongan pengelak yang terletak pada
sandaran kiri rencana bendungan, maka akan melewati Batugamping Bagian
Bawah yang relatif seragam, kompak dan bagus, jarang terdapat rekahan,
harga lugeon < 10 serta digolongkan pada kelompok batuan CH.
Untuk mengatasi keruntuhan terowongan yang mungkin timbul (over break)
akibat kekar, maka disarankan untuk membuat temporary support atau rock
bolting pada dinding terowong. Demikian pula di daerah in-let maupun out-let
terowong, perlu dilengkapi pula dengan penyangga sementara. Data air tanah
berada sekitar 10 meter di bawah muka tanah, atau menutupi rencana
terowong pengelak. Namun dengan angka kelulusan yang relatif kecil (Lu < 10)
maka air tanah ini tidak terlalu menjadi masalah karena mudah sekali dilakukan
pengurasan air dalam terowong mempergunakan pompa kecil.
 Bendung pengelak (coffer dam)
Bendung pengelak terletak sekitar 50 m di depan rencana sumbu Bendungan
Blega, dengan tinggi sekitar 15 m. Kondisi geologi bendung pengelak relatif
sama dengan poros bendungan, terdiri Batugamping berfosil dan berlapis
sekitar 40 cm, relatif keras dan kompak, miring ke Selatan sekitar 15°.
Hasil pemboran DH-15 (30 m) yang dilakukan di tengah sungai di daerah ini, di
bagian atas dijumpai endapan sungai berupa pasir dan kerikil setebal 0,9 m. Di
bawahnya adalah Batugamping berwarna abu-abu, berbutir halus sampai
kasar, keras dan kompak, jarang dijumpai kekar serta mempunyai harga lugeon
maksimum 2,5. Batuan pondasi pada bendung pengelak dikelompokkan pada
golongan batuan CH, relatif keras dan kompak.
Berhubung kondisi sungai di sekitar rencana bendungan relatif lurus, maka
disarankan agar tubuh bendung pengelak mempergunakan urugan batu, tanah
atau kombinasi keduanya, kemudian nantinya dipergunakan pula sebagai kaki
tubuh bendungan. Pengupasan tanah sekitar 1 m, tetapi disarankan diawasi
seorang ahli agar kalau dijumpai kekar atau zona lemah dapat segera dilakukan
dental grout ataupun consolidation grout.

3 -3
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

 Saluran pelimpah
Penampang harga lugeon dan geologi saluran pelimpah, maka akan melewati
Batugamping bagian atas maupun Bagian Bawah yang relatif kompak dan bagus.
Bila pondasi pelimpah diletakkan pada elevasi sekitar 40 m, maka galian
maksimumnya akan mencapai sekitar 20 m. Berhubung kedalaman air tanah di
daerah ini sekitar saring 10 m, dengan harga lugeon antara 31 sampai 65 atau
–4
koefisien kelulusan air sekitar 3,18 x 10 cm/ sec2 pada Batugamping Bagian atas
maka perlu dipikirkan pemakaian pompa air selama penggalian.
Arah out-let pelimpah relatif sudah searah dengan sungai Blega, dan bertumpu
pada dinding sungai terdiri Batugamping yang relatif keras dan kompak sehingga
tidak memerlukan konstruksi apa-apa pada dinding di seberang sungai.
Injeksi tirai semen (injection cement grout) masih diperlukan di bawah saluran
pelimpah, untuk mencegah rembesan air pada pondasi pelimpah yang mempunyai
harga lugeon antara 6,93 sampai 72,57. Jadi tirai semen menerus dari poros
bendungan sampai ke saluran pelimpah.
Mengacu pada pengujian insitu rock direct shear test yang dilakukan oleh CV Jaya
Consultant (1981) di lokasi dekat out-let saluran pelimpah, diperoleh hasil sebagai
berikut :
 C (kohesi) : 4,502 kg/ cm2
 Sudut geser dalam : 42°
 E (modulus elastisitas) : 2,51 x 104 cm2

 Bendung hilir
Bendung hilir ini terletak pada sungai Blega, sekitar 5 km di hilir rencana
Bendungan Blega untuk mengatur distribusi air ke saluran irigasi maupun ke pipa
air untuk kebutuhan air baku di daerah Bangkalan dan sekitarnya. Dari gambar
penampang geologi Bendung Hilir dapat dijelaskan bahwa bagian dasar sungai
selebar sekitar 15 meter terdiri dari endapan sungai pasir dan kerikil lepas-lepas.
Endapan sungai ini berdasarkan pemboran C-9 didapati setebal 1,70 meter. Di
bawah endapan sungai ini berupa batuan dasar Batugamping yang relatif keras,
massif dengan permeabilitas relatif kedap antara 10-4 sampai 10-5 cm/ sec2. Dengan
demikian dasar pondasi bendung sebaiknya diletakkan pada kedalaman sekitar 2
meter di bawah dasar sungai, yaitu pada batugamping yang berwarna keputihan
sampai abu-abu.
Pada sandaran kanan berupa tebing sungai setinggi sekitar 6 meter dan pundak
sungai sudah nampak singkapan batuan batugamping keras, sehingga perletakan
pondasi pada sandaran kanan ini bisa langsung atau cukup dengan galian yang
3 -4
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

tidak dalam untuk perataan perletakan dasar pondasi. Pada sandaran kiri berupa
tebing sungai setinggi sekitar 6 meter dan dataran pundak sungai di sebelah kiri
merupakan tanah penutup lempung sedalam 3,5 m. Di bawahnya sampai
kedalaman 5 meter berupa batugamping sangat lapuk (higly weathered limestone)
dan di bawah kedalaman 5 meter sudah berupa batugamping relatif keras dan
massif. Saluran pengelak dalam rangka pembuatan bendung seyogyanya
diletakkan di daerah ini, karena relatif mudah penggaliannya (berupa tanah dan
batugamping lapuk) dibanding pada sandaran kanan yang berupa Batugamping
segar dan keras.

 Daerah genangan
Rencana daerah genangan Bendungan Blega seluas sekitar 21 km2 merupakan
cekungan yang relatif landai, hanya daerah di sekitar depan rencana bendungan
yang relatif curam. Daerah genangan tersebut meliputi desa-desa Telok, Klebung,
Duren Barat, Duren Timur, Galis Dajah, Kanigoro, Batukaban, Telaga dan Debung.
Sebagian besar daerah genangan akan menempati satuan batuan Lanau
Gampingan dan Batupasir Kwarsa. Satuan-satuan batuan ini umumnya sudah
mengalami tingkat pelapukan lanjut bahkan sudah terubahkan menjadi tanah
(decomposed) yang relatif kedap air. Hal ini membantu pula sebagai selimut alam,
sehingga bisa menutupi bocoran-bocoran bila mungkin ada di daerah genangan.
Di depan poros bendungan pada bukit sandaran sebelah kanan relatif agak curam
dengan kemiringan sekitar 50°, tetapi melihat kenyataan di daerah ini banyak
tersingkap Batugamping, dan berdasarkan pengamatan pada sumur uji SU-13
sampai SU-16 lapisan penutup hanya tipis sekali maksimum hanya 1 meter, maka
tidak perlu dikuatirkan kemungkinan longsoran di daerah ini. Bahkan kalau diamati
dari beberapa galian yang dibuat penduduk untuk mencetak batu putih (gergajian
batu gunung) pada bukit di sandaran kanan, batuan ini memang relatif mudah
digores dengan kuku tetapi masih stabil terhadap longsoran.
Gua-gua alam yang ditemukan di belakang bendungan, masing-masing berada
pada elevasi lebih besar 55 meter. Sehingga tidak perlu dikuatirkan terjadi bocoran
melalui dinding bukit daerah genangan sampai keluar melalui gua-gua tersebut.

3 -5
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

3.2 Analisa Parameter Desain


Analisa parameter desain ini lebih ditentukan oleh lokasi bahan quarry area
pengambilan contoh bahan yang akan digunakan sebagai bahan bangunan sebagai
berikut (sebagai contoh) :
 Bahan tanah
Lokasi bahan tanah terletak di borrow area A, B, C dan D masing-masing umumnya
terletak di rencana daerah genangan dan di depan bendungan sekitar 400, 600,
800 dan 2,5 km, atau pada elevasi berkisar antara 27 sampai 60 meter. Adapun
detil macam dan lokasi penyelidikan yang telah dilakukan pada masing-masing
borrow area dapat dilihat pada Gambar G.16 Peta Situasi Borrow Area A, B, C dan
Gambar G.17 Peta Situasi Borrow Area D.
Umumnya bagian atas berupa top soil yang berupa lempung pasiran coklat
kehitaman berkisar antara 20 sampai 30 cm. Di bawahnya berupa lempung pasiran
berwarna coklat kehitaman, plastisitas menengah sampai tinggi, bagus untuk bahan
timbunan dengan maksimum kedalaman bervariasi mulai 1 sampai 4 meter.
Sedang di bagian paling bawah adalah pelapukan dan rombakan Batugamping
atau napal yang tidak bagus untuk bahan timbunan.
Berdasarkan hasil penyelidikan PT Indra Karya tahun 1992, maka khusus borrow
area pada lokasi B kurang bagus untuk lokasi borrow area karena bahan tanah
hanya tipis sekali sekitar 0,5 meter, di bawahnya sudah berupa rombakan dan
batuan dasar Batugamping. Sehingga borrow area disarankan untuk diperoleh dari
lokasi A, C dan D.
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang telah dilaksanakan baik pada tahun
1976 oleh DPMA, kemudian dilanjutkan PT Indra Karya tahun 1992 dan 2003,
maka besaran parameter tanah untuk bahan timbunan tanah dapat diringkas
sebagai berikut :

3 -6
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

Tabel 3.1
Besaran Parameter Tanah untuk Bahan Timbunan Tanah

Minimal Mean Maksimal


Bulk density (t/m3) 1,85 2,02 2,14
Dry density (t/ m3) 1,45 1,66 1,86
Specific Gravity 2,59 2,68 2,78
Kadar air asli (%) 10,19 26,39 39,5
Sudut geser dalam (°) 7,25 19,28 31,01
2
Kohesi (t/ m ) 0,20 0,56 0,9
Kadar air optimum (%) 14,52 22,53 31,01
3
Maksimal density gama dmax (gr/ cm ) 1,378 1,489 1,581
Diameter > 0,074 mm (no,200) in % 33,02 75,44 97,21
Diameter > 0,002 mm in % 12,73 38,27 63,55
D 60 – mm 0,007 0,046 0,18
Batas cair (%) 26,85 49,20 89,5
Batas plastis (%) 14,63 24,33 32,88
Palastisitas Index (%) 12,22 31,17 61,77
Batas susut (%) 13,89 18,24 32,40

Bahan tanah ini dikelompokkan sebagai “inorganic clay” dengan plastisitas


menengah sampai tinggi, dengan simbol CH sampai CL menurut Unified Soil
Classification Symbol. Sedangkan hasil pengujian mekanikal (mechanical test) di
laboratorium pada kondisi 95% kepadatan maksimal menurut standard proctor
dalam kondisi optimum moisture content, berdasarkan sample tanah yang diambil
dari 6 (enam) sumur uji di borrow area A, C dan D oleh PT. Indra Karya tahun 2003
diperoleh hasil sebagai berikut :
- Harga koefisien permeabilitas tanah K (cm/ sec.2)
Minimal 5,27 x 10 –6 Mean 4,61 x 10 –7 Maksimal 4,61 x 10 –7
- Triaxial compression (effective stress)
Cohession C Min 0,28 Mean 0,36 Max. 0,36
2
(kg/ cm )
Sudut geser dalam Min 11°23’ Mean 14°46’ Max. 16°10’
- Consolidation (oedometer test)
Initil void ratio eo Min 0,772 Mean 0,869 Max. 0,981

3 -7
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

Preconsolidation Min 0,60 Mean 0,78 Max. 1,04


Load Po (kg/ cm2)
Compression index Min 0,148 Mean 0,192 Max. 0,263
Cc
Coef. of Min 1,95 E-02 Mean 2,55 E - 02 Max. 3 E-20
Consolidation Cv
(cm/ sec2)
Coef. of Vol. Comp. Min 3,30 E-05 Mean 5,35 E-05 Max. 6,0 E-05
2
mv (cm / gr)

Pada tabel T 5 hasil pengujian analisa butiran ditunjukkan pula kaitannya dengan
kisaran standar material urugan tanah untuk bendungan besar (USBR) maka
bahan-bahan tanah dari borrow area untuk rencana timbunan Bendungan Blega
masih memenuhi persyaratan.
Total bahan tanah dari masing-masing borrow area ini diperkirakan minimal
mencapai sebagai berikut :
 Borrow area A : 48.000 m3
 Borrow area C : 25.000 m3
 Borrow area D : 280.000 m3
Total semua : 353.000 m3
Disarankan agar pada awal konstruksi dilakukan pula “embankment test” pada
timbunan tanah inti (lempung), agar dapat diketahui dengan jelas ketebalan setiap
lapisan penimbunan, jenis peralatan yang dipergunakan, serta jumlah lintasannya
untuk memperoleh standar pemadatan lebih besar 95% dibandingkan dengan
maksimal kering tanah, serta parameter teknis tanah lainnya.

 Bahan batuan
Dari penyelidikan terdahulu telah dilakukan pemilihan lokasi quarry, yaitu di daerah
sandaran kanan poros bendungan, perbukitan Batukucing, Banyubunih dan
Peterongan. Di daerah sandaran kanan poros bendungan, perbukitan Batukucing
dan Banyubunih beberapa sudah dilakukan pemboran, hasilnya Batugamping keras
hanya didapatkan sekitar 0,5 meter saja di permukaan tanah, semakin ke bawah
justru semakin lunak. Hal ini diakibatkan oleh proses pengerasan permukaan “case
hardening”, bahkan kadang-kadang tercampur pula dengan bahan rombakan
batugamping dan tanah, sehingga pada lokasi tersebut di atas tidak diusulkan
untuk lokasi quarry.
Satu-satunya lokasi quarry yang diusulkan adalah di Peterongan, terletak sekitar 5
3 -8
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

km sebelah Selatan rencana Bendungan Blega, atau tepatnya berada di pinggir


jalan antara Galis – Blega pada Km Kamal 47. Pada lokasi ini telah dilakukan
investigasi dan pemboran oleh DPMA (1976/ 1979), dimana peta geologi maupun
lokasi penyelidikan dapat dilihat pada gambar G.18 Peta geologi quarry
perorangan. Hasil pemboran DPMA (1976) sedalam 10 sampai 12 m pada DH-31
sampai DH-38 di lokasi ini di bagian atas maksimal 1 meter terdiri dari bahan
rombakan Batugamping, sedang di bawahnya adalah Batugamping, keputihan
sampai abu-abu, massif, berfosil dan sering tersingkap di permukaan dengan
morfologi berbentuk kerucut.
Hasil penelitiahn di laboratorium DPMA (1976) menunjukkan parameter sebagai
berikut :
 Kuat tekan : 500 sampai 785 kg/ cm2
 Sepecific Gravity : 2,47 sampai 2,76
 Absorption : 2 sampai 5 %
Sedangkan pengujian gravel dari quarry ini dengan ukuran < 5 mm sampai 40 mm
yang dilakukan oleh PT. Indra Karya 1992 diperoleh hasil sebagai berikut :
 Sepecific Gravity : 2,587 - 2,59
 Unit weight : 1,38 - 1,451
 Absorbtion : 3,1 %
 Decantation : 0,14 % - 1,24 %
 Clay lumps : 0,69 %
 Soundness : 5,7 % - 10,82%
 Less than 1,95 Gs in coarse agregat : 2,13% - 7,51%
 Sedang pasir lolos saringan 5 mm
Fitness modulus : 2,13
Unit weight : 1,534 ton/ m3
Spesific gravity : 2,525
Absorbtion : 2,21 %
Pada bagian bawah dari daerah lokasi pengambilan batu quarry Peterongan,
terdapat batugamping berlapis N 130° E / 12 E / 12°, putih, berongga-rongga,
berbutir halus sampai kasar dan poros. Pada Batugamping berlapis jenis ini dari
hasil pengujian PT Indra Karya 1992 mempunyai kuat tekan relatif kecil 62 kg/
cm2. Bagian ini sebaiknya tidak dipergunakan baik untuk bahan timbunan
bendungan maupun bahan beton.
Cadangan batuan Batugamping massif pada lokasi quarry Peterongan ini
diperkirakan sebesar 300.000 m3. Pada awal pelaksanaan konstruksi

3 -9
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

disarankan untuk dilaksanakan “embankment test” pada timbunan batu ini, agar
diperoleh ketebalan perlapisan batuan setiap pemadatan, jenis peralatan untuk
pemadatan, jumlah lintasannya serta karakteristik parameter teknis bahan
timbunan yang diperoleh.

 Bahan filter
Semula dari laporan terdahulu direncanakan pemilihan lokasi bahan filter meliputi
K. Kemuning (Sampang), K. Penyiburan (Blega) serta G. Gigir (Galis), namun
semuanya relatif kotor tercampur dengan tanah (decantation sampai > 28%)
sehingga perlu pencucian terlebih dahulu dan tidak disarankan untuk bahan filter
rencana Bendungan Blega. Bahan filter yang baik untuk rencana Bendungan Blega
harus didatangkan dari Jawa, diambil bersamaan dengan kebutuhan bahan pasir
untuk beton. Lokasi yang disarankan adalah dari Mlirip (Mojokerto) atau dari Tlocor
(Porong) masing-masing sebagai endapan sungai yang banyak dipergunakan untuk
bahan beton proyek-proyek besar di Surabaya. Hasil pengujian ini selengkapnya
dapat dilihat pada penjelasan Pasir Beton pada Sub Bab berikut ini. Seperti halnya
penimbunan pada inti tanah lempung (clay core) dan timbunan batu (rock fill), maka
pada timbunan filter juga disarankan untuk dilaksanakan (embankment test).

 Pasir beton
Pasir beton diperoleh dari Jawa tepatnya di sekitar Mlirip (Mojokerto) atau di Tlocor
(Porong).
Berdasarkan pengujian DPMA (1976) maka bahan pasir di Mlipir (Mojokerto) relatif
halus dengan parameter selengkapnya sebagai berikut :
 Gradasi butiran 10 cm > 65 % > 2 cm
2 cm > 25 % > 0,25 cm
10% < 0,25 cm
 Koefisien permeabilitas (k) = 10 –2 cm/ detik.
 E minimum = 0,63
 E maksimum = 0,69
 Relatif Density (Dr)
Dr = 60 % maka nilai e lapangan (ef) = 0,654
Dr = 70 % maka nilai e lapangan (ef) = 0,648
Dr = 80 % maka nilai e lapangan (ef) = 0,642

3 -10
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

Sedangkan pasir Tlocor sekitar 15 km dari Porong ke arah pantai, berdasarkan


pengujian Indra Karya (1992) dan (2003) dengan ukuran maksimum 5 mm adalah
sebagai berikut :
 Decantation (lolos saringan 200) : 3,1 % - 6,42 %
 Soundness : 3,61 % - 10,35 %
 Coef. Permeabilitas –3
: 4,9 x 10 cm/ sec. 2

 Less than 1,95 Gs in coarse aggregate: 1,87


 Pasir lolos 5 mm : :
Fineness modulus : 1,87
Specific gravity : 2,577
Unit weight : 1,491 t/ m3 - 1,499 t/ m3
Absorption : 3,705 % - 4,54 %

3 -11
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

RANGKUMAN

Menjelaskan masalah jenis-jenis bangunan dan parameter desainnya yang akan dijadikan
desain dalam proses dan metode penyelidikan geoteknik dan penetapan parameter desain
sebagai aturan di lapangan maupun di laboratorium.

3 -12
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

LATIHAN

1. Sebutkan jenis-jenis bangunan apa saja yang perlu dilakukan suatu penyelidikan
pemboran inti, paritan dan sumuran uji dalam rencana pembangunan suatu bendungan !
2. Sebutkan maksud dari pada uji paritan !
3. Sebutkan maksud dari pada uji sumuran !
4. Sebutkan apa maksud dari pada adit test ?
5. Sebutkan apa keperluan dilakukannya consolidation grout di bawah pondasi bendungan?

3 -13
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

BAB 4
KONSEP PERENCANAAN

Konsep perencanaan harus mengacu pada spesifikasi teknik dan ditunjang oleh data-data
hasil penyelidikan geologi tanah dan mekanika tanah yang memenuhi persyaratan dalam
suatu perencanaan teknis penyelidikan geoteknik untuk bangunan SDA seperti berikut :

4.1 Penetapan Kekurangan Data Parameter Desain


Untuk mengetahui kekurangan data dalam menentukan kriteria desain, yaitu dengan
cara melakukan evaluasi hasil investigasi seperti contoh berikut :
 Data peta topografi
Tabel 4.1
Data Peta Topografi

Peta yang
Kekurangan Data
No. Jenis Peta Dibutuhkan
Ya Tidak Ya Tidak
1. Pemotretan udara vertikal 1 : 10.000 √ - - √
2. Peta ortofoto 1 : 5000 dan 1 : 2000 √ - √ -
3. Peta garis fotogrametris skala besar √ - √ -
4. Peta situasi teristris skala 1 : 500 √ - - √
5. Peta pengukuran sungai lokasi √ - √ -
bendung 1 : 1000, 1 : 500
6. Peta trace saluran sistem IP √ - √ -
7. Peta situasi lahan bangunan utama √ - √ -

4-1
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

 Data pengujian laboratorium (bahan bangunan)

Tabel 4.2
Data Pengujian Laboratorium (Bahan Bangunan)

Data Pengujian Kekurangan Data


Jenis Bangunan/ Pekerjaan Lengkap Pengujian
Ya Tidak Ya Tidak
Bendungan
 Pekerjaan Tanah
 Kuat jenis (2,68) √ - - √
 Kadar air (27%) √ - - √
 Berat isi (1,50) - √ √ -
 Sudut geser dalam (18%) - √ √ -
 Kohesi (0,58%) √ - - √
 OMC (25%) √ - - √
 d maksimal (1,46 gr/ cm ) 3
- √ √ -
 Batas cair (48%) √ - - √
 Batas plastis (24%) √ - - √
 Plestisity hidde (32%) √ - - √
 Batas susut (18%) - √ √ -

 Bahan untuk Beton dan Pasir


 Gradasi butiran
10 cm = 65 % √ - - √
2 cm = 25 % - √ √ -
 Koefisien permeabilitas (K) (10 )-6
√ - - √
 C minimum = 0,60 - √ √ -
 C maksimum = 0,65 - √ √ -
 Relatif density
DR 60 % Cl = 0,654 √ - - √
DR 70 % Cl = 0,648 √ - - √
DR 80 % Cl = 0,642 √ - - √

4-2
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

4.2 Konsep Perencanaan Penyelidikan


4.2.1 Perencanaan penyalidikan di bidang konstruksi SDA khususnya untuk
perencanaan teknis contohnya di Direktorat Irigasi ditujukan untuk
bangunan-bangunan sebagai berikut :
 Bangunan utama
 Bendung
 Tanggul
 Bangunan pemasukan bebas (free intake)
 Stasion pompa
 Bendungan/ waduk
 Bangunan pembana
 Saluran
 Syphon
 Talang
 Terowongan
 Bangunan pelengkap
 Jembatan
4.2.2 Tahapan penyelidikan
 Tahapan reconnaissance
 Pengumpulan data
 Pekerjaan penyelidikan
 Evaluasi data
4.2.3 Metode penyelidikan geoteknik meliputi
 Pekerjaan lapangan
 Pemetaan geologi
 Penyelidikan geofisika
 Pemboran
 Penetrasi test (SPT)
 Permeability test
 Paritan uji (trench)
 Galian menembus bukit (adit)
 Penyondiran
 Pemboran tangan
 Sumuran uji
 Pengambilan contoh tanah

4-3
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

 Pekerjaan laboratorium
 Penelitian petrografi tanah
 Penelitian mekanika batuan
 Penelitian bahan bangunan (tanah, bahan beton dan batu)
4.2.4 Pembuatan laporan
 Bentuk laporan
 Buku laporan dicetak dengan ukuran kertas A4
 Isi laporan
 Maksud dan tujuan penyelidikan
 Lokasi dan kesempurnaan daerah penyelidikan
 Waktu pelaksanaan
 Tata cara kerja
 Pekerjaan lapangan
 Pekerjaan laboratorium
 Evaluasi penyelidikan
 Kesimpulan dan rekomendasi
 Lampiran-lampiran

4-4
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

RANGKUMAN

Menjelaskan masalah-masalah penetapan kekurangan parameter desain secara lengkap,


sebagai evaluasi hasil pekerjaan yang telah dilakukan dan apa saja yang perlu dilengkapi
sehingga penyusunan konsep perencanaan sesuai dengan jangkauan penyelidikan.

4-5
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

LATIHAN

1. Sebutkan dalam suatu konsep perencanaan harus didukung data apa saja ?
2. Sebutkan pengujian laboratorium apa saja yang perlu dilakukan, khususnya untuk
pekerjaan bendungan ?
3. Sebutkan urutan-urutan dari suatu penyusunan konsep perencanaan penyelidikan
dalam bidang SDA ?
4. Sebutkan isi dari suatu tahapan penyelidikan geoteknik !
5. Sebutkan metode penyelidikan geoteknik khususnya untuk pekerjaan lapangan, terdiri
dari pekerjaan apa saja ?

4-6
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Kajian Data Geoteknik

DAFTAR PUSTAKA

1. Attewell PB and Farmer EW, “Principles of Engineering Geology”, (1976)


2. Beel F.G, “Fundation Engineering in Difficult Ground”, (ed 1978)
3. Beel F.G, “Engineering Properties of Soil and Rocks” (ed 1981)
4. Blyth FGH and MH de Frietes, “A Geology for Engineers” (ed 1974)
5. Krynine, DP and Judd WR, “Prinsiples of Engineering Geology and
Geotechnic”, (ed 1957)

6. Legger PF and Karren PF, “Hand Book of Geology in Civil Engineers”,


(ed 1983)

7. Mc. Lean AC and CD Gribble, “Geology for Civil Engineers”, (ed 1979)
8. Brown ET, “Rocks Charracterisation, Testing and Monitoring” (ed 1981)
9. Farmer EW, “Engineering Behavior of Rocks” (ed 1983)
10. Goodman RF, “Introduction to Rock Mechanical” (ed 1980)
11. Hoek E and JW Brown, “Rocks Sloep Engineering” (ed 1981)
12. Hoek ET Brown, “Underground Excavation in Rocks” (ed 1980)
13. Drs. P.N.W Verhoek, “Geologi untuk Teknik Sipil” (ed 1989)