Anda di halaman 1dari 7

1

Hubungan Tata Ruang Dan Lingkungan Terhadap Kenyamanan


Pasien Rawat Inap Di RSU Haji Medan
Tahun 2018

Oleh :
M. Ilham Maulana
160101136
Pembimbing 1: Prof. DR. dr. Myrnawati CH, MS, PKK
Pembimbing 2 : Surya Anita, SKM, M. Kes

Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat


Universitas Sari Mutiara
2018
BAB 1
PENDAHULUAN
2

1.1 Latar Belakang


Rumah sakit merupakan suatu industri jasa kesehatan. Pelayanan kesehatan
harus memperhatikan mutu pelayanan untuk meningkatkan dan menentukan
keberhasilan pelayanan kesehatan rumah sakit. Pencapaian mutu pelayanan yang
sesuai dengan standart pasar, maka rumah sakit senantiasa mengutamakan kepuasan
pelanggan melalui peningkatan mutu pelayanan berkesinambungan dengan
pelaksanaan praktek yang benar, peningkatan kompetensi sumber daya manusia
(SDM) dan penerapan teknologi yang memadai (Community Health Centre, 2017).
Salah satu upaya kuratif yang sangat penting peranannya dalam menciptakan
derajat kesehatan bagi masyarakat adalah rumah sakit. Rumah sakit adalah sarana
kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Rumah sakit juga
menyediakan pilihan untuk beberapa rawat tinggalnya yang diperuntukan dari
kalangan menengah keatas sampai pada kalangan menengah kebawah. Rumah
sakit berusaha untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata bagi setiap
kalangan tanpa melupakan fungsi sosialnya (An-nafi, 2009).
Layanan kesehatan yang bermutu tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan
akan pentingnya menjaga kepuasan pasien, termasuk dalam menangani keluhan yang
disampaikan oleh pasien. Kebutuhan pasien yang diutamakan sehingga pasien merasa
terpuaskan akan setiap pelayanan yang mereka terima dan kemudian dari kepuasan
itu lahirlah loyal atau kesetiaan mereka sehingga membuat mereka untuk tidak
beralih rumah sakit. Ramainya pasien yang eksodus ke luar negeri (Malaysia dan
Singapore) untuk berobat, membuat Pemerintah Indonesia mulai tersadar. Pemerintah
berusaha menghimbau semua pihak pengelola RS supaya menyadari dan bangkit dari
masalah ramainya pasien berobat ke luar negeri tersebut. Bila kondisi pelayanan
dan fasilitas di rumah sakit tidak segera dibenahi, maka negara akan dirugikan
oleh eksodusnya devisa ke luar negeri (Nehru, 2012).
3

Banyak warga Indonesia yang berobat ke luar negeri yang menghabiskan Rp.
100 milyar per tahun Departemen Kesehatan memperkirakan setiap tahunnya pasien
Indonesia yang berobat ke luar negeri menghabiskan biaya Rp. 100 milyar. Jumlah itu
didasarkan data dari Bank Dunia tahun 2004, bahwa devisa Indonesia yang keluar ke
luar negeri dari pasien-pasien yang berobat sekitar Rp. 70 milyar pada saat itu. “Jadi
kalau pada tahun itu saja jumlahnya sudah mencapai 70 milyar dan tidak ada
kecenderungan menurun, mungkin sekarang sudah mencapai sekitar Rp. 100 milyar,
dan ini bukan jumlah yang kecil” kata dr. Supriyantoro, Direktur Jenderal Bina
Upaya Kesehatan Kementrian Kesehatan (Nehru, 2012).
Pakar manajemen pelayanan rumah sakit di Indonesia Laksono Trisnantoro
mengutarakan bahwa paradigma pelayanan sosial murni dari rumah sakit-rumah sakit
di Indonesia perlu dibenahi menjadi paradigma pelayanan sosio ekonomis. Pelayanan
sosio ekonomis tetap berorientasi pada pelayanan kesehatan bersifat sosial pada
masyarakat yang kurang mampu, tetapi juga memberikan “pelayanan nyaman”
(convenient service) pada mereka yang membutuhkan dan mampu membayar biaya
(Trisnantoro, 2009).
Salah satu cara memberikan rasa nyaman kepada pasien yang berobat di
rumah sakit dengan memperhatikan tata ruangan. Tata ruang yang baik ditujukan
untuk memberi kenyamanan yang optimal pada penghuni atau pengguna
fasilitas. Tata ruang suatu rumah sakit misalnya, dikatakan baik bila disediakan
sesuai dengan standar-standar yang disediakan oleh pihak pengendali standar
perumah sakitan yaitu Departemen Kesehatan (Nehru, 2012).
Selain itu, kualitas pelayanan dalam rumah sakit dapat ditingkatkan
apabila didukung oleh peningkatan kualitas fasilitas fisik. Ruang rawat inap
merupakan salah satu wujud fasilitas fisik yang penting keberadaannya bagi
pelayanan pasien (Santosa, 2006). Kondisi lingkungan fisik ruang rawat inap juga
mempengaruhi psikologis pasien. Ruang rawat inap yang bising, suhu udara
terlalu panas, pencahayaan kurang, kebersihan dan kerapihan tidak terjaga akan
4

meningkatkan stres pada pasien. Ruang rawat inap seharusnya membangkitkan


optimisme sehingga dapat membantu proses penyembuhan pasien (Robby, 2006)
Penghawaan di rumah sakit penting untuk dicermati, sebab terkait
langsung dengan kenyamanan tubuh manusia. Disamping menyuplai udara segar
untuk pernafasan dan metabolisme tubuh, penghawaan yang baik juga
berhubungan dengan terciptanya suhu ruang yang kondusif bagi tubuh, sehingga
energi dari dalam tubuh tidak akan terkuras untuk beradaptasi dengan perbedaan suhu
ruang (Santosa, 2007). Pengaruh kebisingan terhadap manusia secara fisik tidak saja
mengganggu organ pendengaran, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan pada
organ-organ tubuh yang lain, seperti penyempitan pembuluh darah dan sistem
jantung (An-nafi, 2009).
Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan
ruang. Dengan demikian intensitas cahaya perlu diatur untuk menghasilkan
kesesuaian kebutuhan penglihatan di dalam ruang berdasarkan jenis
aktivitasaktivitasnya. Arah cahaya terhadap arah pandang mata secara langsung
dengan intensitas tinggi dapat menciptakan silau. Oleh karena itu arah cahaya
beserta efek-efek pantulan atau pembiasannya juga perlu diatur untuk
menciptakan kenyamanan penglihatan ruang (Santosa, 2006).
Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini yaitu pada
penelitian Muklis (2011) dari FKM USU, dengan judul Hubungan Desain Fisik
dengan Kenyamanan Instalasi Gawat Darurat di BPK RSUD Kota Langsa 2010.
Permasalahan mereka adalah penurunan angka kunjungan dari 10312 orang
tahun 2007 menjadi hanya 3364 pada tahun 2008 penelitian ini dihubungkan pada
masalah kenyamanan pasien terhadap desain fisik berkenaan dengan suhu, cahaya,
suara dan kelembaban, dari hitung statistik chi kuadrat terhadap hasil kuesioner
97 orang ditemukan bahwa ada hubungan bermakna dari masalah, suhu, cahaya,
suara dan kelembaban dengan kepuasan pasien. Begitu juga dengan penelitian Nehru
(2012) dengan judul pengaruh dari faktor tata ruang rumah sakit dan lingkungan
5

terhadap kenyamanan pasien, didapati hasil penelitian regresi multivariat dengan


tingkat kebermaknaan konstanta pada 0,046, koefisien VX1= 0,101 dan VX2 =
0,140, dengan kebermaknaan 0,00 dan 0,017 untuk tata ruang dan lingkungan
tersebut. Yang dapat disimpulkan ada pengaruh kedua faktor variabel independent
terhadap kenyamanan.
Untuk mempertahankan pelanggan, pihak rumah sakit maupun institusi
kesehatan lainnya dituntut selalu menjaga kepercayaan konsumen dengan
memperhatikan secara cermat kebutuhan konsumen sebagai upaya untuk memenuhi
keinginan dan harapan atas pelayanan yang diberikan. Konsumen dalam hal ini
pasien tidak hanya mengharapkan pelayanan medik dankeperawatan tetapi juga
mengharapkan kenyamanan, akomodasi yang baik dan hubungan yang harmonis
antara staf rumah sakit dan pasien. Dengan demikian perlu adanya peningkatan
kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit dan institusi kesehatan lainnya (Arifah,
2013).
Rumah sakit dapat mengukur kenyamanan dan kepuasan pelayanan dari para
pasien melalui umpan balik terhadap apa yang diterima atau bagaimana pelayanan
yang didapatkan pasien kepada rumah sakit tersebut sehingga dapat menjadi masukan
untuk meningkatkan kualitas pelayanan tata ruang dan lingkungan rumah sakit. Oleh
karena itu penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh tata ruang dan lingkungan
terhadap kenyamanan pasien rawat inap di RSU Haji Medan Tahun 2018.

1.2 Perumusan Masalah


Dari uraian pada latar belakang di atas yang menjadi permasalahan sehagai
berikut bagaimana pengaruh tata ruang dan lingkungan terhadap kenyamanan pasien
rawat inap di RSU Haji Medan Tahun 2018.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
6

Untuk mengetahui hubungan tata ruang dan lingkungan terhadap kenyamanan


pasien rawat inap di RSU Haji Medan Tahun 2018.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui hubungan tata ruang terhadap kenyamanan pasien rawat
inap di RSU Haji Medan Tahun 2018.
2. Untuk mengetahui hubungan lingkungan terhadap kenyamanan pasien rawat
inap di RSU Haji Medan Tahun 2018.

1.4 Manfaat Penelitian


a. Hasil penelitian ini sebagai informasi dalam evaluasi di Rumah Sakit Umum
Haji Medan Tahun 2017, sehingga dapat dilakukan perbaikan untuk
meningkatkan kenyamanan pelayanan di Rumah Sakit Umum Haji Medan
Tahun 2018.
b. Hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai informasi dan masukan bagi
masyarakat tentang hubungan tata ruang dan lingkungan terhadap
kenyamanan pasien rawat inap di RSU Haji Medan Tahun 2018.
c. Sebagai bahan masukan bagi mahasiswa dalam mengembangkan penelitian-
penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan pengaruh tata ruang dan
lingkungan terhadap kenyamanan pasien rawat inap di RSU Haji Medan
Tahun 2018.

DAFTAR PUSTAKA

An-nafi, AF., 2009. Pengaruh Kenyamanan Lingkungan Fisik Ruang Rawat Inap
Kelas III Terhadap Kepuasan Pasien Di Rsui Kustati Surakarta. Skripsi.
7

Arifah, U., 2013. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat
Jalan Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta.
Skripsi
Community Health Center. 2017. Menjaga Mutu Pelayanan (QualityAssurance).
Diakses:
https://puskesmasbatuputihberau.wordpress.com/2011/12/11/menjaga-mutu-
pelayanan-kesehatan-quality-assurance/.
Mukhlis, 2011, Hubungan Desain Fisik Dengan Kenyamanan Pengguna Instalasi
Gawat Darurat di BPK RSUD Kota Langsa Tahun, 2010, Pasca Sarjana
FKM USU, Medan.
Nehru, 2012. Pengaruh Tata Ruang Dan Lingkungan Rumah Sakit Terhadap
Kenyamanan Pasien Selama Menerima Perawatan Di Rsu Dr. R.M. Djoelham
Binjai Tahun 2012. Tesis. Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Santosa Adi, 2006. Pencahayaan Pada Interior Rumah Sakit: Studi Kasus Ruang
Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Skripsi
Trisnantoro L. 2009. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi Dalam Manajemen
Rumah Sakit, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press