Anda di halaman 1dari 45

TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

SUSPENSI UNTUK INJEKSI

Formulasi Suspensi Steril Hidrokortison Asetat 2,5 %

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
YOS SURYANA 16334009
FARAKH SHOFA A 16334010
SEINUL BAARY 16334011

DOSEN : AMELIA FEBRIANI, S.Farm., M.Si., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan
kekuatan dan kemampuan sehingga makalah ini bisa selesai tepat pada waktunya. Adapun tujuan
dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah TEKNOLOGI SEDIAAN
STERIL tentang SUSPENSI UNTUK INJEKSI.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing kami Amelia Febriani
S.Farm., M.Si., Apt. yang telah memberikan tugas untuk makalah ini.
Kami menyadari makalah ini belum sempurna dan memerlukan berbagai perbaikan, oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan. Akhir kata, semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak.

Jakarta, Desember 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................. 1


DAFTAR ISI................................................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 3
I.A Latar Belakang ................................................................................................................................. 3
I.B Tujuan................................................................................................................................................ 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................................. 5
II.A Dasar Teori ...................................................................................................................................... 5
II.B Formulasi ......................................................................................................................................... 6
II.C Penyimpanan ................................................................................................................................. 13
BAB III PEMBAHASAN ......................................................................................................................... 16
III.A Penggunaan Hidrokortison asetat.............................................................................................. 16
III.B Pembuatan.................................................................................................................................... 18
III.B.1 Praformulasi bahan aktif ..................................................................................................... 19
III.B.2 Praformulasi bahan tambahan ............................................................................................ 27
III.B.3 Formulasi ............................................................................................................................... 38
III.B.4 Alat dan bahan ...................................................................................................................... 40
III.B.5 Cara Kerja............................................................................................................................. 41
III.C EVALUASI .................................................................................................................................. 42
BAB IV KESIMPULAN ........................................................................................................................... 43
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................ 44

2
BAB I PENDAHULUAN
I.A Latar Belakang
Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda, sehingga
teknologi steril sebagai salah satu bagian dari ilmu farmasi mengalami dinamika yang begitu
cepat. Teknologi Steril merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana membuat suatu
sediaan (Injeksi volume kecil, Injeksi volume besar, Infus, Tetes Mata dan Salep Mata) yang
steril, mutlak bebas dari jasad renik, patogen, atau non patogen, vegetatif atau non vegetatif
(tidak ada jasad renik yang hidup dalam suatu sediaan). Teknologi steril berhubungan dengan
proses sterilisasi yang berarti proses mematikan jasad renik (kalor, radiasi, zat kimia) agar
diperoleh kondisi steril. Tentunya di setiap fakultas mendapatkan mata kuliah tersebut, karena
teknologi steril berperan penting dan menjadi mata kuliah pokok farmasi.

Dalam teknologi steril, kita dapat mempelajari tentang bagaimana menghasilkan atau
membuat sediaan yang steril, sediaan steril dapat dibuat secara sterilisasi kalor basah, kalor
kering, penyaringan, sterilisasi gas, radiasi ion dan teknik aseptik. Kemudian sediaan steril
tersebut dilakukan uji sterilitas, uji pirogenitas (ada atau tidaknya pirogen). Pada saat kuliah
teknologi steril akan kita dapatkan sediaan dalam bentuk larutan, emulsi, suspensi dan semi
solid yang steril (bebas dari pirogen).

Salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril
berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan
terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam
kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan
alat suntik.
Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang
sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal . Suspensi untuk
injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk
membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah
penambahan bahan pembawa yang sesuai.
Sediaan suspesi digunakan untuk mengatasi zat aktif yg tidak terlarut dalam pelarut,
kelarutan hidrokortison asetat praktis tidak larut dalam air, sukar larut dalam etanol dan dalam
kloroform, sehingga sediaan yang paling efektif adalah dalam bentuk suspensi injeksi.

3
I.B Tujuan
1. Memahami pembuatan sediaan steril dengan teknik aseptis
2. Memahami pembuatan injeksi hidrokortison asetat suspensi.

4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.A Dasar Teori
Suspensi farmasi adalah dispersi kasar, dimana partikel padat yang tak larut terdispersi
dalam medium cair. Partikelnya mempunyai diameter yang sebagian besar lebih dari 0,1
mikron. Beberapa partikel terlihat dibawah mikroskop menunjukan gerakan Brown bila
dispersinya mempunyai viskositas yang rendah, (Anief, 2000).

Suspensi dapat dibuat dengan cara :

1. Metode dispersi
2. Metode presipitasi dan ada 3 macam :
a. Presipitasi dengan pelarut organikA
b. Presipitasi dengan perubahan pH dari media
c. Presipitasi dengan dekomposisi rangkap, (Voight, 1994).
Suspensi obat suntik harus steril, mudah disuntikan dan tidak menyumbat jarum
suntik. Suspensi obat mata harus steril dan zat yang terdispersi harus sangat halus, bila untuk
dosis ganda harus mengandung bakterisida. Pada etiket harus tertera kocok dahulu dan
disimpan dalam wadah tertutup baik dan disimpan ditempat sejuk, (Anief, 1997).

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang
harus dilarutkan atau disespensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikan dengan
cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selput lendir. Injeksi diracik
dengan melarutkan, mengelmusikan atau mensuspensikan sejumlah obat dalam sejumlah
pelarut atau dengan mengisikan sejumlah obat ke dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis
ganda. Suatu kerja optimal dan tersatukan dari larutan obat yang diberikan secara parenteral
kemudian hanya diberikan jika persyaratan berikut terpenuhi :

o Penyesuaian dari kandungan bahan obat yang dinyatakan dan nyata-nyata terdapat, tidak
ada penurunan kerja selama penyimpanan melalui perusakan secara kimia dari obat dan
sebagainya.
o Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya menginginkan suatu pengambilan
steril, melainkan juga menolak antaraksi antara beban obat dan materi dinding.
Tersatukan tanpa reaksi. Untukitu yang bertanggungjawabterutamabebaskuman,

5
bebaspirogen, bahanpelarut yang netralsecarafisiologis, isotoni,isohidri,
bebasbahanterapung, (Depkes,1979).

Suspensi untuk injeksi terkontitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan
pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk
suspensi.Steril setelah penambahan bahan yang sesuai.

Keuntungan dari suspensi Parental :

o Hal ini lebih baik untuk penggunaan terapi obat yang tidak larut dalam pelarut
konvensi.
o Dalam dosis ini dari terjadi peningkatan resistensi terhadap hidrolisis & oksidasi
sebagai obat hadir dalam padat dari.
o Formulasi obat yang dilepaskan dikendalikan mungkin dalam bentuk sediaan ini.
o Ada penghapusan hati first fast effect.

Kekurangan dari suspensi Parental : Kesulitan dalam formulasi: parenteral suspensi


membatasi perumus dalam memilih bahan-bahan, yang parenteral diterima sebagai
pensuspensi, viskositas merangsang agen, membasahi agen, stabilisator dan pengawet.

Kesulitan dalam pembuatan: fasilitas khusus diperlukan untuk menjaga kondisi aseptik untuk
proses manufaktur seperti: kristalisasi, pengurangan ukuran partikel, pembasahan, sterilisasi
Stabilisasi suspensi untuk periode antara pembuatan & menggunakan hadir sejumlah masalah.
misalnya padatan secara bertahap menetap & Mei kue, menyebabkan kesulitan dalam
redispersion sebelum digunakan. Pemeliharaan stabilitas fisik sangat sulit dalam bentuk
sediaan ini. Mungkin ada kemungkinan non-keseragaman dosis pada saat administrasi.

Suspensi parenteral dikembangkan karena alasan berikut : Obat-obatan, yang tidak larut dan
sulit untuk dirumuskan sebagai solusi. Untuk obat yang lebih stabil ketika ditangguhkan dari
dalam bentuk larutan. Ketika ada kebutuhan untuk mengembangkan bentuk sediaan memiliki
rilis terbelakang atau dikendalikan obat.

II.B Formulasi
Formulasi pertimbangan parenteral suspensi Parameter berikut harus diambil dalam
pertimbangan saat merumuskan suspensi parenteral, sifat antarmuka: sifat antarmuka

6
partikel tersebar seperti peningkatan luas permukaan spesifik dengan pengurangan ukuran
partikel dan adanya muatan listrik pada permukaan partikel memainkan peran penting dalam
stabilitas suspensi.

Δ G = χ s / u Δ A……..persamaan 1

Dimana :

Δ G = perubahan energi bebas permukaan

χ s / u = tegangan antar muka di dyne / cm2 antara partikel terdispersi dan menengah
yang tersebar

Δ A = perubahan luas permukaan dalam cm2

Persamaan 1 Menggambarkan prinsip bahwa sebagai tegangan antar muka dan luas
permukaan mendekati nol, energi bebas permukaan minimum. Umumnya ukuran partikel
padatan berkurang dalam suspensi untuk mencegah pengendapan partikel terdispersi namun
hasil ini dalam penggumpalan partikel dalam upaya untuk mengurangi urutan permukaan
bebas energy.In untuk merumuskan sistem termodinamika stabil ketegangan antar muka
diminimalkan dengan menggunakan permukaan aktif agen.

Sifat penting dari suspensi parenteral untuk pengembangan formulasi kelarutan obat
dalam cairan biologis di tempat suntikan, kelarutan lemak dan koefisien partisi air minyak
obat, Pka obat, laju disolusi obat padat dari dosis yang dari. pH dari kendaraan & tonisitas
suspensi. ukuran partikel obat dalam suspensi. Kompatibilitas dari bahan-bahan lain dalam
dosis dari eksipien khas digunakan dalam suspensi parenteral meliputi berikut :

1. Flocculating \ suspending agents


2. Membasahi agen.
3. Sistem pelarut
4. Pengawet
5. Antioksidan
6. Cheating agents
7. Agen buffering
8. Agen tonisitas

7
a. Flocculating \ suspending agents:
Pada dasarnya ada tiga teknik yang digunakan untuk merumuskan suspensi.
(a) Dikontrol flokulas,
(b) kendaraan terstruktur,
(c) Kombinasi dari c & b.
Pilihan tergantung pada apakah partikel dalam suspensi yang tetap flocculated atau
deflocculated. (a) Pendekatan flokulasi dikontrol menggunakan agen flocculating ke dari
agregat longgar terikat atau gumpalan secara terkendali yang mengendap dengan cepat tetapi
redisperses dengan mudah setelah agitasi. Jumlah atau flocculating sesuai agen ditambahkan
hasil bahwa volume sedimentasi maksimal & mencegah pembentukan cake. Elektrolit,
surfaktan dan koloid hidrofilik telah biasanya digunakan sebagai agen
flocculating. Elektrolit & surfaktan mengurangi kekuatan listrik tolakan antara partikel &
memungkinkan gumpalan untuk membentuk, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh muatan
permukaan partikel. Misalnya Elektrolit yang digunakan dalam parenteral
Skorsing. Kalium \ natrium klorida kalium \ natrium sitrat kalium \ natrium asetat. Muatan
permukaan dari sistem dapat diukur dengan potensi zeta. Potensi zeta harus dikontrol
sehingga dapat terletak dalam kisaran (umumnya kurang dari 25 mV) untuk mendapatkan
flokulasi, noncaking suspensi dengan sedimentasi yang maksimal. koloid hidrofilik
(umumnya bermuatan negatif) tidak hanya mempengaruhi gaya tolak tetapi juga
memberikan penghalang mekanik untuk partikel.
Untuk misalnya larutan PVP 25% digunakan dalam kombinasi dengan polisorbat 80
(2%) bertindak sebagai stabilizer untuk memberikan stabil suntik 30% bubuk berair
suspensi. (B) Pendekatan kendaraan terstruktur digunakan untuk menjaga partikel tersebar
dalam suspensi dalam keadaan deflocculated. Agen ini berfungsi sebagai agen viskositas
menanamkan & mengurangi tingkat sedimentasi dari partikel tersebar. Berbagai koloid
hidrofilik yang digunakan sebagai kendaraan terstruktur. Idealnya, ini bentuk pseudo-plastik
atau sistem plastik yang mengalami penipisan belaka dengan beberapa derajat thixotropy.
Namun viskositas tinggi & syringeability miskin sistem seperti membatasi penggunaannya
dalam suspensi parenteral.

8
Pendekatan deflocculated digunakan untuk suspensi oleaginous dan suspensi yang
mengandung konsentrasi yang relatif tinggi padat misalnya dalam perumusan suspensi
injeksi prokain penisilin - G.
b. Pembasah agen
Membasahi dari bahan ditangguhkan adalah salah satu aspek yang paling penting
dari suspensi injeksi karena bubuk hidrofilik sering ditangguhkan dalam sistem berair.
Membasahi seperti yang dijelaskan oleh persamaan awal - menggambarkan bahwa θ (sudut
kontak) kurang dari 90 diamati dalam kasus bubuk hidrofobik yang biasanya membutuhkan
adjuvant untuk membantu dalam dispersi mereka. Berbagai surfaktan nonionik dan pelarut
non-air seperti gliserin, alkohol & propylene glycol adalah jenis agen pembasahan yang
biasa digunakan dalam suspense injeksi. Membasahi agen mengurangi sudut kontak antara
permukaan partikel & cairan pembasahan untuk mendapatkan efisiensi pembasahan
maksimum; surfaktan dengan nilai hidrofilik keseimbangan lipofilik (HLB) di kisaran 7
sampai 9 harus dipilih. Konsentrasi biasa surfaktan bervariasi dari 0,05% menjadi 0,5%
tergantung pada isi padat suspensi. Perawatan harus diambil dalam hal jumlah yang
digunakan; jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan berbusa atau caking atau
memberikan rasa yang tidak diinginkan / bau ke produk.
Surfaktan (pembasah)
Lecithin, Polysorbate 20, Polysorbate 80, Pluronic F-68, sorbitan trioleat (rentang
85) untuk misalnya dalam penyusunan suspensi non-berair dari cefazolin natrium dalam
minyak kacang, penambahan polisorbat 80 pada konsentrasi yang lebih besar dari 0,17%
mengakibatkan deflocculated suspensi yang sulit untuk redisperse. pemeriksaan
mikroskopis mengungkapkan luas pertumbuhan aglomerasi dan kristal cefazolin natrium
di hadapan polisorbat 80.
c. Sistem Pelarut :
Sistem pelarut yang digunakan dalam suspensi parenteral diklasifikasikan sebagai
kendaraan berair atau nonaqeous. Pilihan sistem pelarut yang khas tergantung pada
kelarutan, stabilitas & rilis yang diinginkan karakteristik obat.

kendaraan non-air mencakup baik larut air dan air kendaraan bercampur.

9
Air untuk injeksi umumnya sistem pelarut disukai. Namun, air non-berair agen
tercampur digunakan sebagai cosolvents dengan air untuk injeksi untuk mempromosikan
kelarutan & stabilitas dalam persiapan parenteral. Contoh air kendaraan berair larut termasuk
etanol, gliserin, propilen glikol & n-lactamide.
Yang digunakan dari cosolvents larut air dapat menyebabkan efek samping yang
tidak diinginkan untuk misalnya injeksi intramuskular propilen glikol-air, etil alkohol-air &
polietilen glikol (PEG) 400 campuran air ditemukan menyebabkan kerusakan otot yang
diukur dengan rilis in vitro kreatinin kinase dari tikus terisolasi otot rangka.
Pada konsentrasi sedang (20% t0 40% V / V) cosolvents organik PEG 400 kurang
myotoxic dari propilen glikol & etanol. Myotoxicity tidak berkorelasi secara eksklusif untuk
properti fisikokimia tunggal dari campuran cosolvent-air seperti konstanta dielektrik, pH
jelas, tegangan permukaan, viskositas atau kombinasi dari ini untuk serangkaian cosolvents.
Berdasarkan hasil ini disarankan bahwa interaksi biokimia antara organik cosolvents & serat
otot rangka mungkin terlibat dalam cosolvents diinduksi toksisitas.
Selain itu lisis sel darah merah manusia di hadapan cosolvents seperti propilen glikol,
gliserol, PEG 200.300 & 400 & etanol telah dilaporkan. Di hadapan 0,9% ke 2,7% natrium
klorida cosolvents selain PEG 300 & 400 kurang hemolitik dibandingkan bila dicampur
dengan air. Hemolisis disebabkan oleh cosolvents dapat releted untuk memungkinkan
mereka mengikat dengan membran sel darah merah.
Potensi hemolitik etil alkohol, PEG 400 rendah sedangkan propilen glikol memiliki
potensi hemolitik tinggi. kendaraan tak larut air berair digunakan dalam suspensi parenteral
meliputi minyak tetap etil oleat isopropil miristat dan benzil benzoat. minyak tetap harus
cairan pada suhu kamar dan sayuran asal & harus memiliki stabilitas termal yang baik pada
kedua suhu tinggi & rendah; umumnya merupakan antioksidan yang diperlukan untuk
menjamin stabilitas minyak tetap selama umur simpan produk obat.
Misalnya dari berbagai minyak tetap digunakan dalam formulasi suspensi termasuk
minyak wijen, minyak kacang & minyak jarak. Beberapa minyak lainnya yang dipelajari
dalam pengembangan suspensi parenteral meliputi minyak almond, minyak bunga matahari,
minyak biji poppy iodinasi, minyak biji kapas dan minyak jagung. jenuh yang berlebihan
minyak dapat menyebabkan iritasi jaringan.

10
Beberapa pasien mungkin memiliki reaksi alergi terhadap minyak nabati; maka
minyak khusus yang digunakan dalam produk harus tercantum pada label produk. Jenis
minyak & volumenya telah ditemukan untuk mempengaruhi pelepasan obat dari suspensi
untuk misalnya aktivitas androgenik testosteron andosterone dalam larutan oleaginous
tergantung pada jenis kendaraan minyak yang digunakan.

d. Agen tonisitas
Isotonisitas dari persiapan parenteral untuk pemberian subkutan atau intramuskular
diinginkan untuk mencegah rasa sakit; iritasi dan kerusakan jaringan di lokasi administrasi,
larutan berair agen tonisitas digunakan dalam suspensi parenteral meliputi dextrose &
berbagai elektrolit.

e. Pengawet
Agen antimikroba yang diperlukan untuk produk parenteral yang dimaksudkan untuk
beberapa dosis, untuk melindungi produk dari kontaminasi mikroba disengaja selama
penggunaan klinis & menjaga sterilitas. Demikian pula, pengawet harus ditambahkan ke
formulasi secara aseptik dikemas dalam botol dosis sinyal jika bahan aktif (s) tidak memiliki
bakterisida atau bakteriostatik sifat atau pertumbuhan mempromosikan. Sebuah studi
pertumbuhan mempromosikan harus dilakukan untuk menentukan sifat-sifat mikrobiologi
dari formulasi bebas pengawet.
Beberapa pengawet yang biasa digunakan dalam suspensi parenteral dan konsentrasi
mereka yang umum digunakan adalah sebagai berikut.
o Benzil alkohol (0,9% sampai 1,5%)
o Methylparaben (0,18% to0.2%)
o Propylparaben (0,02%)
o Benzalkonium klorida (0,01% sampai 0,02%)
o Thimerosal (0,001% ke 0,01%)
o Benzalkonium klorida digunakan dalam bentuk sediaan tetes mata & tidak dalam bentuk
sediaan injeksi.
o Propil dan metil paraben disebut kimia sebagai propil dan metil ester asam p-hidroksi
benzoat. Karena sifat kimia reaktif yang melekat pengawet, stabilitas & kompatibilitas

11
masalah kebutuhan pengawet untuk dievaluasi untuk penggunaan mereka dalam
perumusan akhir.
Kelarutan air rendah paraben dan penurunan stabilitas dengan peningkatan pH
mempersulit penggunaannya dalam formulasi parenteral.
Umumnya paraben dilarutkan dengan menambahkan mereka ke UPS alkohol atau
volume kecil air dipanaskan sampai sekitar 80'C. Solusi dipanaskan memerlukan
pengenceran lebih lanjut untuk mencegah pengendapan di paraben sebelum mendingin
secara signifikan.
Parabens sensitif terhadap paparan cahaya yang berlebihan dan tidak sesuai dengan
eksipien alkali dan polisorbat 80. Benzil alkohol dapat menyebabkan kejang pada neonatus
sehingga harus dihindari dalam produk obat tertentu dengan indikasi neonatal. Kebanyakan
pengawet antimikroba & antioksidan diketahui menguap atau menyerap penutupan karet &
dapat menyebabkan hilangnya kemandulan & stabilitas & potensi masalah dengan flokulasi
& resuspendability produk. Sebuah USP pengawet antimikroba uji efektifitas harus
dilakukan pada persiapan diformulasikan dengan, misalnya 90%, 75% dan 50% dari
konsentrasi pengawet awal untuk menentukan konsentrasi minimal yang efektif dari
pengawet selama umur simpan produk obat.
f. Antioksidan / agen chelating
Oksidasi dapat menyebabkan perubahan warna tidak dapat diterima dari produk obat
tanpa harus menyebabkan kehilangan potensi signifikan. Obat dirumuskan dalam bentuk
tereduksi memiliki potensi oksidasi rendah dan rentan terhadap oksidasi. degradasi oksidatif
obat dalam larutan dimediasi baik oleh redicals gratis atau dengan molekul oksigen dan dapat
dikatalisis oleh logam, panas, cahaya, dan ion hidrogen. Antioksidan ditambahkan dalam
formulasi untuk meminimalkan degradasi ini dengan istimewa menjalani oksidasi sebagai
akibat dari potensi oksidasi yang lebih rendah atau dengan mengakhiri langkah propagasi
dalam mekanisme oksidasi redical gratis. Antioksidan yang baik digunakan sendiri atau
dalam kombinasi dengan agen chelating atau antioksidan lainnya. senyawa tertentu (asam
askorbat asam sitrat) telah ditemukan untuk bertindak sebagai sinergis & meningkatkan
efektivitas antioksidan yang menghalangi reaksi oksidatif. agen chelating menyerap logam
berat, sehingga mencegah katalisis reaksi oksidasi misalnya antioksidan cocok & chelating
agen & konsentrasi khas mereka

12
Membersihkan sistem pelarut (yaitu air untuk injeksi USP) dan produk obat massal
dengan disaring (0,22 μ m) nitrogen selama proses pembuatan dengan mengendalikan
kecepatan pencampuran dan laju alir nitrogen, tingkat oksigen dapat ditingkatkan.
Menyelimuti produk obat massal dengan disaring (0,22 μ m) nitrogen / argon selama operasi
pengisian Menggusur oksigen dari ruang kepala wadah diisi dengan disaring (0,22 μ m)
nitrogen.
g. Stabilisator lain.
Berbagai stabilisator lainnya telah digunakan dalam suspensi parenteral tertentu
yang berbeda dari obat-obatan. Untuk misalnya gula seperti sorbitol, sukrosa atau fruktosa
telah dikaitkan dengan peningkatan stabilitas prokain benzil penisilin dan natrium benzil
penisilin suspensi parenteral. berdasarkan minyak suspensi injeksi tetrasiklin di migliol
yang stabil dengan Selain di asam maleat atau maleat sebuah garam. D-Glukosa, polietilen
glikol atau adenin menghambat agregasi suspensi berair nitrozepam selama pembekuan &
defrost untuk memungkinkan bagian halus melalui jarum suntik.

II.C Penyimpanan
Wadah untuk sediaan injeksi dibagi menjadi dua macam antara lain: dosis tunggal
(single dose) dan dosis ganda (multiple doses). Wadah dosis tunggal adalah suatu wadah yang
kedap udara yang mempertahankan jumlah obat steril yang dimaksudkan untuk pemberian
parenteral sebagai dosis tunggal, dan yang bila dibuka tidak dapat ditutup rapat kembali
dengan jaminan tetap steril. Sedangkan wadah dosis ganda adalah wadah yang memungkinkan
pengambilan isinya perbagian berturut- turut tanpa terjadi perubahan kekuatan, kualitas atau
kemurnian bagian yang tertinggal (Ansel, 2005).
Pada umumnya, wadah untuk sediaan dosis ganda mempunyai bentuk vial atau flakon.
Wadah dosis ganda dilengkapi dengan penutup karet dan plastik untuk memungkinkan
penusukan jarum suntik tanpa membuka atau merusak tutup. Bila jarum ditarik kembali ke
wadah, lubang bekas tusukan akan tertutup rapat kembali dan melindungi isi dari pengotoran
udara bebas (Ansel, 2005).
United State Pharmacopenia (USP) mempersyaratkan vial dosis ganda untuk injeksi
diberikan batas penggunaan 28 hari setelah penggunaan pertama kali kecuali label produk
(dalam bungkusnya) menyatakan sebaliknya. Produk obat yang akan dibuat harus mempunyai
kemampuan untuk bertahan dalam bentuk spesifikasi yang ditetapkan sepanjang waktu

13
penyimpanan dan penggunaan untuk menjamin identitas, kekuatan, kualitas, kemurnian
produk, dan terutama sterilitas produk.
Penggunaan vial dosis ganda harus memperhatikan hal berikut yaitu mematuhi teknik
aseptik yang ketat saat penggunaan vial, menggunakan jarum steril baru dan alat suntik steril
baru untuk setiap penggunaannya, melepas semua alat akses vial, menyimpan vial di tempat
yang bersih dan terlindung menurut petunjuk pabrik (misalnya, pada suhu ruang atau lemari
pendingin) dan memastikan vial yang sterilitasnya terganggu untuk segera dibuang. Selain itu,
karena pengambilannya dilakukan secara berulang, maka sediaan injeksi dosis ganda
diharuskan mengandung zat pengawet antimikroba (antimicrobial preservative) untuk
menjaga stabilitas sediaan. Efektivitas dari pengawet itu sendiri umumnya dipengaruhi oleh
dua hal yaitu konsentrasi dari pengawet dan jumlah mikroorganisme yang mengontaminasi.
Contoh pengawet yang lazim digunakan dalam formulasi sediaan parenteral adalah Benzil
alkohol 1% - 2%, klorobutanol 0,2% - 0,5%, dan klorokresol 0,1% - 0,2%.
Salah satu sediaan injeksi dosis ganda yang banyak beredar di pasaran adalah
difenhidramin hidroklorida, sediaan ini masih sering digunakan di beberapa puskesmas,
praktek dokter serta rumah sakit untuk berbagai keadaan seperti alergi, mual, muntah, batuk
karena alergi dan anafilaksis. Sediaan injeksi difenhidraminhidroklorida merupakan sediaan
antihistamin yang dipasaran terdiri dari ampul 1-2 ml dan vial 10 ml. Pada kenyataannya
penggunaan sediaan injeksi di beberapa puskesmas, rumah sakit, dan praktek dokter masih
belum melakukan teknik aseptis dengan baik dikarenakan ketersediaan sarana dan prasarana
yang tidak memadai dan kurangnya pengetahuan tentang teknik aseptis. Berdasarkan hasil
penelitian, penggunaan sediaan farmasi intravena pada salah satu rumah sakit swasta di Kota
Bandung menyimpulkan bahwa penyiapan sediaan intravena belum dilakukan dengan teknik
aseptis yang baik. Pada penelitian ini digunakan sediaan injeksi dibuat sedian difenhidramin
klorida dosis ganda dengan menggunakan pengawet klorobutanol 0,35 %b/v. Klorobutanol
paling utama digunakan pada sediaan optalmik atau dosis parenteral sebagai pengawet dengan
konsentrasi sampai dengan 0,5 %b/v (Rowe, 2006). Alasan pengguanaan klorobutanol sebagai
pengawet dikarenakan klorobutanol dapat bertindak sebagai antibakteri dan antifungi, sangat
efektif melawan bakteri Gram-negatif dan bakteri Gram-positif, dan beberapa fungi seperti
Candida albicans, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococus albus, serta aktivitas
antimikrobanya dapat bersifat bakteriosida dan bakteriostatika (Rowe, 2006). Tujuan

14
dilakukannya uji efektivitas klorobutanol sebagai pengawet karena pada sediaan ini berupa
sediaan injeksi dosis ganda yang nantinya pada proses uji akan dilakukan penyuntikan
pertama pada lingkungan yang tidak aseptis atau di luar Laminar Air Flow Cabinet pada tutup
sediaan sehingga sangat memungkinkan adanya kontaminasi yang akan mempengaruhi
sterilitas sediaan. Berdasakan uraian di atas maka telah dilakukan penelitian untuk mengetahui
berapa lama klorobutanol 0.35 %b/v masih memiliki efektifitas sebagai pengawet pada
sediaan injeksi difenhidramin klorida dosis ganda setelah segel kemasan dibuka dan dilakukan
penusukan di lingkungan yang tidak aseptis seperti yang dilakukan di puskesmas, rumah sakit
atau tempat praktek dokter.

15
BAB III PEMBAHASAN
III.A Penggunaan Hidrokortison asetat
Hidrokortison asetat digunakan pada heumatoid arthritis sebagai antiinflamasi dan
immunosuppresif. Hidrokortison asetat mengganggu antigen T limfosit, menginhibisi
prostaglandin dan sintesis leukotrin, menghibisi neutrofil dan turunan monosit superoksida radikal.
Hidrokortison asetat juga mengganggu migrasi seldan menyebabkan redistribusi monosit, limfosit,
dan neutrofil, sehingga menumpulkan respon inflamasi dan autoimun. Dalam membran sinovial,
sel CD4 + T berlimpah dan berkomunikasi dengan makrofag, osteoklas, fibroblas dan kondrosit,
baik melalui interaksi sel-sel langsung menggunakan reseptor permukaan sel atau melalui sitokin
proinflamasi seperti TNF-α, IL-1, dan IL-6. Sel-sel ini menghasilkan metaloproteinase dan zat
sitotoksik lainnya, yang menyebabkan erosi tulang dan tulang rawan (Dipiro et al., 2008).
Suspensi hidrokortison asetat steril digunakan untuk mengobati rheumatoid pada
sendi dan penggunaannya disuntikkan di intraartikular. Inflamasi kronik jaringan sinovial
yang melapisi kapsul sendi dihasilkan dalam proliferasi jaringan ini. Karakteristik sinovium
yang mengalami proliferasi dari rheumatoid diseut pannus. Pannus ini menyerang kartilago
dan akhirnya permukaan tulang, memproduksi erosi tulang dan kartilago dan menyebabkan
kerusakan sendi. (Dipiro, 2008)
Sendi sinovial adalah sendi yang paling umum dari kerangka apendikular manusia.
Meskipun sendi ini dianggap bergerak bebas, tingkat kemungkinan gerak bervariasi sesuai
dengan desain struktural individu dan fungsi utama (gerakan vsstabilitas). Komponen dari
sendi sinovial yang khas mencakup unsur-unsur tulang, tulang subkondral, Kartilago
artikular, membran sinovial, kapsul sendi fibroligamentous, dan reseptor sendi artikular.
Pemahaman tentang anatomi dasar dari bentuk sendi synovial dasar untuk perubahan klinis yang
signifikan pada sendi yang menyebabkan disfungsi sendi.
Meskipun peran yang tepat dari cairan sinovial masih belum diketahui, diperkirakan
untuk melayani sebagai pelumas sendi atau setidaknya untuk berinteraksi dengan tulang
rawan artikular untuk mengurangi gesekan antara permukaan sendi. Ini adalah relevansi
klinis karena sendi amobil telah terbukti untuk menjalani degenerasi dari kartilago artikular.
Cairan sinovial mirip dalam komposisi plasma, dengan penambahan asam hialuronat yang
memberikan berat molekul tinggi dan viskositas khas. Membran bagian dalam sendi sinovial
disebut membran sinovial dan mengeluarkan cairan sinovial ke dalam rongga sendi. Cairan

16
mengandung asam hialuronat yang disekresikan oleh selfibroblast dalam membran sinovial
(Tortora G. J., Derrickson B, 2009). Bentuk cairan ini adalah lapisan tipis (kira-kira50 µm) di
permukaan kartilago dan juga ke dalam microcavities dan penyimpangan dalam permukaan
kartilago artikular, mengisi semua ruang kosong (Edwards, 2000).
Cairan dalam kartilago artikular secara efektif berfungsi sebagai cadangan cairan
sinovial. Selama gerakan, cairan sinovial hadir dalam kartilago, dikeluarkan untuk menjaga
lapisan cairan pada permukaan kartilago (disebut pelumasan). Diperkirakan, fungsi cairan
sinovial meliputi mengurangi gesekan dimana cairan sinovial akan melumasi sendi, shock
absorption yaitu sebagai cairan dilatant, cairan sinovial ditandai dengan menjadi lebih
kental di bawah tekanan, cairan sinovial dalam sendi diarthrotic menjadi tebal saat
diterapkan untuk melindungi sendi dan selanjutnya menipis ke viskositas normal untuk
melanjutkan fungsi pelumas. Fungsi ketiga yaitu transportasi nutrisi dan limbah dimana
cairan mensuplai oksigen dan nutrisi dan menghilangkan karbon dioksida dan limbah
metabolik dari kondrosit dalam kartilago. Jaringan sinovial terdiri dari jaringan ikat
vascularized yang tidak memiliki membran basement. Dua jenis sel (tipe A dan tipe B) yang
hadir: Tipe A berasal dari monosit darah. Tipe B menghasilkan cairan sinovial. Cairan
sinovial terbuat dari asam hialuronat dan lubricin, proteinase, dan kolagenase. Cairan
sinovial menunjukkan karakteristik aliran non-Newtonian; koefisien viskositas tidak konstan
dan cairan tidak linear kental. Cairan sinovial memiliki karakteristik tiksotropi; viskositas
menurun dan menipis cairan selama stres berlanjut. Cairan sinovial yang normal mengandung 3-
4mg/ml asam hialuronat (Hui, Alexander, 2012). Polimer disakarida yang terdiri dari asam D-
glukuronat dan DN asetil glukosamin yang bergabung bergantian dengan ikatan beta-1,4 dan beta-
1,3 glikosidiki. Asam hialuronat disintesis oleh membran sinovial dan disekresikan ke dalam
rongga sendi untuk meningkatkan viskositas dan elastisitas kartilago artikular dan untuk melumasi
permukaan antara sinovium dan kartilago. Cairan sinovial mengandung lubricin (juga
dikenal sebagai PRG4) sebagai komponen pelumas kedua, disekresikan oleh fibroblas
sinovial (Jay et al, 2000). Terutama, ia bertanggung jawab untuk mengurangi gesekan antara
permukaan berlawanan kartilago. Ada juga beberapa bukti bahwa hal itu membantu
mengatur pertumbuhan sel sinovial (Warman M, 2003)

17
Gambar 3. Cairan Sinovial, Struktur komponen Chondroitin dan keratin, Model Lubrikan Untuk
Sendi Sinovial

Viskositas cairan sinovial hampir seluruhnya tergantung pada keberadaan asam


hialuronat. Ada dua faktor yang menentukan viskositas cairan sinovial yaitu:
1) konsentrasi asam hialoronat dalam cairan; dan
2) polimerisasi dari molekul asam hialuronat (Jebens, et al,1959).

Penelitian menunjukkan bahwa viskositas cairan sinovial yang diperoleh dari pasien
dengan efusi sendi yang terkait dengan penyakit jaringan ikat akan menurun.
Pada pasien osteoarthitis maupun trauma sendi terdapat perbedaan pH cairan sinovial jika
dibandingkan manusia normal. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut
(Jebens, et al,1959)
III.B Pembuatan
Permasalahan dalam pembuatan:
o Hidrokortison asetat tidak larut dalam air.
o Sediaan harus dapat melalui syiringe injeksi 18-21 gauge
Penyelesaian permasalahan dalam pembuatan:
o Dibuat sediaan suspense
o Ukuran partikel suspensi hidrokortison yang akan dibuat hendaklah lebih kecil atau
sama dengan ukuran suspensi yang ideal dan dapat melewati syringe injeksi ukuran
tersebut.

18
Oleh karena itu, dalam proses pembuatan dilakukan proses pengecilan ukuran partikel
bahan aktif dengan cara digerus. Kesetaraan ukuran syringe 18 - 21 gauge sama dengan
1,2/1,3 mm – 0,8 mm (www.unimed.ch). Sedangkan menurut Martin et al., 1993 sediaan
suspensi yang ideal memiliki ukuran partikel sebesar 0,5 – 1,0 μm atau 0,0005 – 0,01
mm.

III.B.1 Praformulasi bahan aktif


Karakteristik Karakteristik
No. Bahan Aktif Efek Utama Efek Samping Sifat Lain
Fisik Kimia
Diberikan secara per kelarutan pada
oral bebas alkohol suhu 25˚C
terutama untuk adalah : 0,28
terapi pengganti mg/ml dalam
pada insufisiensi air ; 15 mg/ml
adrenokortikal akut dalam etanol;
Efek samping
atau kronis. serbuk 6,2 mg/ml
lebih kecil
Penggunaan 20 hablur putih/ dalam etanol;
pada kulit dan
sampai 30 mg per hamper 9,3 mg/ml
kecil
hari (umumnya putih. Tidak dalam aseton;
kemungkinan
digunakan dalam 2 berbau, rasa 1,6 mg/ml
1. Hidrokortison mengakibatkan
dosis, pagi hari lebih pahit, dalam
supresi adrenal
besar dan malam berbentuk kloroform ;
daripada
hari lebih kecil). polimorf 72,3 mg/ml
kortikosteroid
Untuk anak-anak (Martindale, dalam eter dan
topical
diberikan 400-800 1535) 12,7 mg/ml
lainnnya.
mikrogram/kg dalam
perhari dalam 2 atau propilenglikol.
3 dosis terbagi, Larut dalam
adjust jika asam sulfat
diperlukan. pekat dengan
Penambahan sodium memberikan

19
klorida mungkin fluoresensi
dibutuhkan jika hijau yang
terjadi sekresi kuat
aldosteron defektif, (Stabilitas
tetapi aktivitas Obat
mineralokortikostero Kimiawi, 353)
id umumnya tidak larut
dalam air,
sedikit larut
dalam alkohol
dan aseton,
sedikit larut
dalam
diklorometana
(Ph.Eur6,2)

Kortikosteroid (BP -Lindungi dari


- Rumus
2006) dimana dapat cahaya
molekul :
dibuat menjadi : -Stabilitas : stabil,
C23H32O6
sediaan injeksi - sensitive terhadap
- BM : 404,5
Hidrokortiso berupa suspense Penampilan cahaya dan
- Kelarutan :
n (sebagai : putih atau kelembaban,
praktis tidak
Asetat kortikosteroid) hampir inkompatibel
(sama dengan larut dalam air,
2 - Ear Drops bersama putih, dengan agen
Hidrokortison) sedikit larut
- Neomycin (sebagai serbuk pengoksidasi kuat
dalam etanol
- kortilosteroid dan Kristal -Kesetaraan
anhidrat dan
- antibakteri Salep (Clarke, dengan 100mg
dalam metilene
(sebagai 2003) hidrokortison
klorida
kortikosteroid) adalah 112 mg
- Titik lebur :
Salep bersama -Digunakan untuk
220°C, dengan
Neomycin (sebagai injeksi

20
kortikosteroid dan dekomposisi intraartikular
antibakteri) (Clarke, 2003) dengan dosis 5-50
-Krim (sebagai mg tergantung
kortikosteroid) ukuran sendi
(BP 2006) (Martindale, 2009)
-pH Hidrokortison
asetat suspense
injeksi antara 5,0-
7,0 (USP 29)
-Injeksi suspense
memiliki viskositas
antara 15 hingga 80
centipoise pada
suhu 25°C
(Chronin John p. et
al, 1959. Low
Viscosity CMC
Pharmaceutical
Vehicle.United
State Patent Office)

-Penyimpanan
Sebagai pada suhu ruang
antiinflamasi (untuk - Biasanya
topical) tergantung Rumus Kimia : digunakan dalam
Hidrokortison pada pembawa, (sama dengan C28H40O7 sediaan topical
3 -
Buteprate tempat aplikasi, Hidrokortison) - BM : 488,613 seperti krim atau
konsentrasi (AHFS (PubChem) salep dengan
Drug Information, rentang dosis 0,1 –
2006) 2,5 % (martindale,
2009)

21
- Kesetaraan
dengan 100 mg
Hidrokortison
adalah 135 mg
(Martindale,2009)

Praktis tidak
larut dalam air.
Larut dalam
- Bubuk alcohol
- Simpan dalam
higroskopis dehidrasi dan
Hidrokortison wadah kedap
(sama dengan (sama dengan putih atau dalam aseton.
4 hydrogen udara. Lindungi
Hidrokortison) Hidrokortison) hamper Larut dalam
succinate dari cahaya.
putih. larutan encer
(Ph.Eur.6.2)
(Ph.Eur.6.2) karbonat alkali
dan hidroksida
alkali
(Ph.Eur.6.2)
-Bubuk Mudah larut
higroskopis dalam air,
putih atau praktis larut
hampir dalam alkohol
putih (BP dehidrasi dan
2008) dalam - Lindungi dari
Hidrokortison (sama dengan (sama dengan
5 - Serbuk kloroform. cahaya. (BP
sodium fosfat Hidrokortison) Hidrokortison)
berwarna 0,5% larutan 2008)
putih dalam air
sampai mempunyai
kuning pH 7,5-9,0 (BP
terang. 2008)
Tidak Kelarutan

22
berbau atau dalam air
hamper 1:1,5; sedikit
tidak larut dalam
berbau. alkohol:
Sangat praktis tidak
higroskopis. larut dalam
(USP 31) kloroform,
dalam dioksan
dan dalam eter.
(USP 31)

- Larut dalam - Apabila dijadikan


Berwarna air dengan sediaan
putih, perbandingan intramuscular
higroskopis 1:3 dan larut absorpsinya
dan dalam etanol tergolong cepat
bentuknya dengan (martindale, 2009)
serbuk perbandingan - Disimpan
kristalin 1:34; praktis dalam wadah kedap
atau serbuk tidak larut udara dan terhindar
Hidrocortison
(sama dengan (sama dengan amorf. Titik dalam dari cahaya
6 e Sodium
Hidrokortison) Hidrokortison) leleh: kloroform (martindale, 2009).
Succintae
169°C dan eter. Tidak - Kesetaraan dg
hingga stabil dalam hidrokortison:
172°C bentuk larutan 134mg
(Clarke’s (Clarke’s - Digunakan pada
Analysis of Analysis of sediaan injeksi
Drug and Drug and untuk keadaan
Potions; Potions; 2005). emergency karena
2005). - Sedikit larut larut air dan
dalam aseton absorbsinya cepat

23
(Martindale, - Biasanya
2009; USP 31) digunakan pada
injeksi untuk
jaringan yang lunak
dengan dosis
100mg- 200mg
(martindale,2009)

- Biasanya
- Praktis digunakan
tidak larut dalam sediaan
- Berbentuk
dalam air, topical seperti krim
serbuk
larut dalam atau salep dengan
kristalin
etanol dan rentang dosis 0,1 –
Hydrocortiso (sama dengan (sama dengan berwarna
7 metanol; 2,5 % (martindale,
ne Valerate Hidrokortison) Hidrokortison) putih, titik
sedikit larut 2009)
leleh 217 -
dalam - Kesetaraan
20°C) (USP
propylengly dengan
SDS US)
col (USP hidrokortison
SDS US) sebesar 123mg
(martindale, 2009)

Efek samping Praktis tidak


Hidrokortison
lebih kecil larut dalam air,
Untuk penggunaan butirat 119 mg
pada kulit dan Putih, tidak larut dalam
topikal mengatasi setara dengan 100
kecil berbau, alcohol, dalam
Hydrocortiso gangguan kulit, mg hidrokortison.
8 kemungkinan berbentuk aseton, dan
ne Butyrate sediaan dalam Konsentrasi
mengakibatkan serbuk dalam metal
bentuk krim, salep, penggunaan pada
supresi adrenal kristal. alkohol.
atau lotion. umumnya dari 0.1
daripada Mudah larut
hingga 2.5%.
kortikosteroid dalam

24
topical kloroform,
lainnnya. sedikit larut
dalam eter.
Diberikan secara per
oral bebas alkohol
terutama untuk terapi
pengganti pada
insufisiensi
adrenokortikal akut
atau kronis.
Penggunaan 20
sampai 30 mg per
hari (umumnya
digunakan dalam 2
dosis, pagi hari lebih
Hidrokortison
besar dan malam hari
cipionat 134 mg
Hydrocortiso lebih kecil). Untuk (sama dengan
9 - - setara dengan
ne Cipionate anak-anak diberikan Hidrokortison)
100 mg
400-800
hidrokortison.
mikrogram/kg
perhari dalam 2 atau
3 dosis terbagi,
adjust jika
diperlukan.
Penambahan sodium
klorida mungkin
dibutuhkan jika
terjadi sekresi
aldosteron defektif,
tetapi aktivitas
mineralokortikostero

25
id umumnya
digunakan sebagai
suplemen seperti
fludrokortison asetat
secara per oral.
Kondisi yang sama
juga digunakan
untuk memperbaiki
defisiensi
glukokortikoid
dalam penurunan
kadar garam dari
congenital adrenal
hyperplasia.

Alasan Pemilihan Bahan Aktif


a. Sediaan yang akan dibuat diindikasikan untuk mengobati rheumatoid pada sendi. Dengan
demikian dibuat sediaan injeksi lokal bukan sistemik dengan harapan efek langsung pada sendi
dan tidak berefek pada organ lain sehingga mengurangi efek samping.
b. Dipilih hidrokortison asetat karena obat inilah yang biasanya digunakan untuk injeksi secara
lokal dimana penggunaannya secara intraartikular pada sendi.
c. Sediaan dibuat suspensi agar dapat berefek secara long acting (sehingga tidak diinjeksi berkali-
kali) dan hidrokortison asetat terabsorbsi secara lambat apabila diadministrasikan secara
intraartikular.
Pada sediaan injeksi yang akan kami buat mengandung hidrokortison asetat sebesar
2,5% (25 mg/ml). Hidrokortison 2,5% artinya 2,5 g dalam 100 ml. Sehingga tiap ml
mengandung 25 mg hidrokortison.
British National Formulation edisi 57 hal 562, dosis hidrokortison asetat sebagai sediaan
yang diadministrasikan secara intra-artikular atau injeksi intrasinovial memiliki dosis sebesar 5
– 50 mg tergantung dari ukuran sendi, interval pemberian selama 21 hari, dan dalam sehari
tidak boleh lebih dari 3 sendi yang menerima terapi atau injeksi.

26
Menurut Dipiro et al., 2008, suntikan intraartikular kortikosteroid dapat digunakan untuk
mengobati sinovitis dan rasa sakit pada persendian. Rute intraartikular lebih disukai karena efek
samping sistemik yang lebih kecil dibanding rute lain. Jika berkhasiat, suntikan intraartikular dapat
diulang setiap 3 bulan. Tetapi tidak ada satu sendi yang disuntikkan lebih dari dua sampai tiga kali
per tahun karena dapat meningkatkan resiko kerusakan sendi dan atrofi tendon. Jaringan lunak
seperti tendon dan bursae juga dapat disuntikkan untuk mengontrol rasa sakit dan peradangan yang
terkait dengan struktur ini (Dipiro et al., 2008).
Dosis :
a) Dosis hidrokortison asetat bila digunakan untuk injeksi intraartikular adalah 5-50 mg
tergantung ukuran sendi.
b) Sediaan dibuat 2 vial dengan kandungan 2,5% dengan volume masing-masing 10 mL.
Sehingga dalam 10 mL sediaan mengandung 25 mg hidrokortison asestat.

III.B.2 Praformulasi bahan tambahan


a. Agen tonisitas
1. Gliserin (HPE 2009, 283)
o Fungsi : pengawet, cosolvent, emollient, humectant, plasticizer, pelarut, pemanis, aden
tonisitas
o Sifat Fisika Kimia
o Pemerian : bening, tidak berwarna,tidak berbau, viscous, larutan higroskopis; rasa
manis 0,6 x sukrosa
o Kelarutan :
o Stabilitas : Gliserin bersifat higroskopis, gliserin terdekomposisi dengan pemanasan
dan berubah menjadi acrolein toksik, campuran gliserin dengan air, alkhohol 95% dan
propilen glikol stabil secara kimia. Gliserin mengalami kristalisasi pada suhu rendah
Cara sterilisasi:-
o Inkompatibilitas: Gliserin dapat meledak jika dicampur dengan agen pengoksidasi
kuat seperti khromium triokside, potassium khlorat, or potassium permanganat.
Dengan adanya cahaya, gliserin berubah warna menjadi hitam atau ketika kontak
dengan zink oksida atau bismuth nitrat.
o Konsentrasi: -

27
2. Hidroksipropil Betadex (HPE 2009, 315)
o Fungsi : agen pengompleks; enhancer; release-modifying agent; sequestering agent;
solubilizing agent; stabilizing agent; agen tonisitas.
o Sifat Fisika Kimia
o Pemerian : putih sampai hampir putih, amorf dan serbuk kristal.
o Kelarutan : mudah larut dalam air dan propilen glikol. Larut dalam metanol,
dimethyl sulfoxide dan dimethylformamide.
o Stabilitas : Simpan dalam wadah tertutup
o Inkompatibilitas: -
o Konsentrasi: -

3. Mannitol (HPE 2009, 424)


o Fungsi : Pengisi; plasticizer; agen pemanis; pengisi tablet dan kapsul; agen terapetik ; agen
tonisitas.
Sifat Fisika Kimia
o Pemerian : putih, tidak berbau, serbuk kristalin, or freeflowing granules. Mempunyai
rasa manis, polimorfism.
o Kelarutan :
o Stabilitas : manitol stabil pada keadaan kering. Larutan disterilisasi dengan filtrasi
dan autoklave.
o Inkompatibilitas: Larutan Mannitol, 20% w/v, mengalami salting out dengan adanya
KCl atau NaCl. Manitol 25% w/v mengalami pengendapan jika kontak dengan
plastik. Sodium cephapirin at 2 mg/mL and 30 mg/mL incompatibel dengan larutan
mannitol 20% w/v. Mannitol is inkompatibel dengan infus xylitol dan membentuk
kompleks dengan logam seperti aluminum, tembaga, and besi. Mannitol menurunkan
bioavaibilitas oral dari cimetidine dibanding sucrose.
o Konsentrasi: -

4. NaCl

28
o Fungsi : Agen tonisitas (HPE 6th, 2009: 637)
o Konsentrasi untuk injeksi ≤ 0,9% w/v. Jadi pada resep, konsentrasi NaCl sesuai dengan
literatur
Pemerian : serbuk kristal, tidak berwarna atau warna putih, rasa asin, dalam kondisi
padat tidak mengandung air meskipun mengkristal pada suhu di bawah 0oC, garam
mengkristal sebagai dihidrat.
o Kelarutan : 1:2,8 dalam air; 1:2,6 dalam air mendidih; 1:10 dalam gliserin; 1:250
dalam etanol.
o Stabilitas : Stabil tetapi saat disimpan menyebabkan pemisahan partikel padat dari
wadah gelas tertentu, sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup, sejuk dan kering.
o Cara sterilisasi : Autoklaf/filtrasi
o Inkompatibilitas : Lrutan NaCl korosif terhadap besi, bereaksi membentuk endapan
dengan perak, timbal dan garam merkuri; oksidator kuat membebaskan klorin dari
pengasaman larutan NaCl; Larutan NaCl menurunkan kelarutan dari metil paraben;
viskositas karbomer gel dan larutan hidroksi etil selulosa atau hidroksi propil selulosa
berkurang dengan penambahan NaCl. Dipilih NaCl karena merupakan agen mengisotonis
yang membuat sediaan dapat masuk dan diterima tubuh saat penyuntikan. Dimana, NaCl
ini berfungsi untuk mencegah peradangan akibat tekanan osmotis sediaan tidak sama
dengan tekanan tonisitas cairan tubuh pada daerah sendi.

Bahan tambahan suspending agent


1. CMC-Na
2. HPMC
3. Metil selulosa
4. Carbopol

• CMC-Na (HPE, 2009)


A. TINJAUAN FARMAKOLOGI
- Fungsi : Suspending agent, agen peningkat viskositas
- Efek samping : Reaksi hipersensitivitas dan anafilaksis
B. TINJAUAN SIFAT FISIKA KIMIA

29
- Pemerian :
Putih sampai hampir putih, tidak berbau, tidak berasa, bersifat higroskopis setelah
pengeringan.
- Kelarutan :
Praktis tidak larut dalam aseton, etanol 95%, eter, dan toluena. Mudah didispersikan
dalam air pada semua temperatur membentuk koloidal.
- Stabilitas :
CMC-Na stabil meskipun higroskopis. Dibawah kondisi kelembaban tinggi, dapat
menyerap > 50% air, larutan stabil pada pH 2-10, presipitasi terjadi dibawah pH 2 dan
viskositas menurun secara cepat diatas pH 10. Secara umum, larutan menunjukkan
viskositas dan stabilitas maksimum pada pH 7-9.
- Cara sterilisasi :
Oven pada suhu 1600C selama 1 jam menyebabkan penurunan viskositas yang
signifikan dan beberapa kerusakan dalam sifat sediaan yang dipreparasi. Sterilisasi
autoklaf menyebabkan penurunan viskositas 25% dimana tingkat penurunannya lebih
kecil daripada sterilisasi menggunakan oven. Radiasi sinar gamma juga menyebabkan
penurunan viskositas.
- Inkompatibilitas :
CMC-Na inkompatibel dengan larutan asam kuat dan dengan garam besi yang mudah
larut serta beberapa logam lain seperti alumunium, merkuri, dan zinc. Presipitasi
terjadi pada pH dibawah 2 dan juga saat dicampur dengan etanol 95%, CMC-Na
membentuk komplek dengan kolagen dan mampu mengendapkan protein tertentu
yang bermuatan positif.
- Konsentrasi :
CMC-Na menggunakan konsentrasi dalam sediaan injeksi, yaitu 0,05 - 0,75%.
Didalam formula jumlah bobot CMC-Na sudah sesuai dengan konsentrasi yang tertera
yaitu 5 mg. Digunakannya CMC-Na karena dapat diaplikasikan pada sediaan injeksi
daripada menggunakan bahan suspending agent yang lain.

• HPMC
A. TINJAUAN FARMAKOLOGI

30
- Fungsi : suspending agent
B. TINJAUAN SIFAT FISIKA KIMIA
- Pemerian :
Tidak berbau, tidak berasa, putih atau cream putih berserat, serbuk granul.
- Kelarutan :
Larut dalam air dingin, membentuk larutan koloidal, praktis larut dalam campuran etanol
dan diklorometan, & campuran air – alkohol. Sejumlah tertentu larut dalam aseton,
campuran diklorometan dan propan-2-ol, dan pelarut organik lain.
- Stabilitas :
Stabil pada pH 3-11, peningkatan temperatur menyebabkan penurunan viskositas larutan.
HPMC mengalami perubahan reversibel antara sol- gel apabila mengalami pemanasan
dan pendinginan yang berturut- turut. Titik perubahan gel adalah sekitar 50ᵒC- 90ᵒC,
tergantung pada grade dan konsentrasi material.
- Cara sterilisasi:
Disterilisasi menggunakan autoclave HPMC digunakan pada formulasi oral, ophthalmic
dan topical. Sehingga HPMC tidak dipilih pada formulasi hidrokortison, karena formula
kami adalah sediaan injeksi.

• Metilselulosa
A. TINJAUAN FARMAKOLOGI
- Fungsi : Suspending agent, emulsifying agent
B. TINJAUAN SIFAT FISIKA KIMIA
- Pemerian :
Berwarna putih, granul berserat, tidak berbau, dan tidak berasa.
- Kelarutan :
Praktis tidak larut dalam aseton, metanol, kloroform, etanol 95%, eter, garam jenuh,
toluen, dan air panas. Larut dalam asam asetat glacial dan campuran etanol dan
kloroform dengan perbandingan volume yang sama. Metilselulosa mengembang dalam
air dingin.
- Stabilitas :

31
Sedikit higroskopis. Sebaiknya disimpan dalam wadah dingin kedap udara, dan
ditempatkan didaerah kering. Stabil pada larutan basa dan asam pada pH 3-11 suhu
temperatur.
- Cara sterilisasi:
Disterilisasi menggunakan autoklaf, namun dapat menurunkan viskositas. Pada pH <4
dapat mengurangi viskositas lebih dari 20%
- Inkompatibilitas :
Metylcelulosa inkompatibel dengan aminacrine hidroklorid, klorocresol, merkuri klorida,
fenol, resorcinol. Selain itu juga inkompatibel dengan pengoksidasi kuat.
Metylselulosa dalam keamanannya tidak boleh digunakan dalam sediaan parenteral (HPE,
hal.464). Sehingga tidak digunakan metylselulosa dalam formula kali ini.

• Karbopol
A. TINJAUAN FARMAKOLOGI
- Fungsi : Bahan bioadesiv, suspending agent, emulsifying agent, stabilitas agent.
B. TINJAUAN SIFAT FISIKA KIMIA
- Pemerian :
Putih, serbuk higroskopis, dan sedikit berbau.
- Kelarutan :
Larut dalam air, gliserin dan etanol 95% netral.
- Stabilitas :
Stabil, bahan higroskopi sehingga dapat dipanaskan pada 104 0C . apabila dipanaskan
pada 30 0C selama 260 0C dapat meyebabkan dekomposisi.
- Cara sterilisasi:
Dengan autoklaf
- Inkompatibilitas :
Inkompatibel dengan fenol, asam kuat, resorsinol.
Carbopol tidak digunakan dalam formulasi ini, karena tidak ada penggunaan carbopol
pada formulasi injeksi.

Pengawet

32
1. Benzalkanium klorida
• Pemerian
Serbuk amorf berwarna putih atau putih kekuningan, higroskopis, rasa pahit, bau
aromatik, berbentuk gel kental atau serpihan seperti gelatin.
• Konsentrasi
Untuk sediaan parenteral digunakan sebesar 0,01 % w/v
• Kelarutan
Praktis tidak larut dalam eter, sangat larut dalam aseton, etanol (95%), metanol,
propanolol dan air. Larutan berair benzalkonium klorida dapat berbusa ketika
dikocok, mempunyai tegangan permukaan rendah.
• Stabilitas
Higroskopis dapat dipengaruhi cahaya, udara dan logam. Larutan benzalkonium
klorida stabil pada rentang pH dan suhu yang luas. Serbuk benzalkonium klorida
harus disimpan dalam wadah tertutup, terlindung dari cahaya dan tempat kering.
• Cara sterilisasi
Dengan metode autoklaf
• Inkompatibilitas
Inkompatibel dengan alumunium, surfaktan anionik, sitrat, hidrogen peroksida,
kaolin, salisilat, zink oksida, garam, protein.
2. Benzil Alkohol
• Pemerian
Bentuk cair, tidak berwarna, tidak berbau, berasa seperti terbakar
• Konsetrasi
Untuk sediaan parenteral konsentrasi yang digunakan hingga 2 %
• Kelarutan
Dalam air 3,5 bagian pada suhu 20°C; Larut dalam alkohol, eter, kloroform,
aseton, benzena, dan pelarut Aromatik
• Stabilitas
Benzil alkohol dapat teroksidasi perlahan di udara menjadi benzaldehida dan
asam benzoat; tidak bereaksi dengan air harus disimpan dalam wadah kaca atau

33
logam. Benzil alkohol harus disimpan dalam wadah kedap udara, terlindung
dari cahaya, di tempat yang sejuk dan kering.
• Cara sterilisasi
Larutan air dapat disterilkan dengan filtrasi atau autoklaf
• Inkompatibel
Benzil alkohol inkompatibel dengan oksidator dan kuat asam. Hal ini juga
dapat mempercepat autoksidasi lemak. Aktivitas antimikroba berkurang
dengan adanya surfaktan nonionik, seperti polisorbat 80, pengurangan aktivitas
ini kurang dengan ester hidroksibenzoat atau kuaterner senyawa amonium.
Benzil alkohol tidak kompatibel dengan metilselulosa.

3. Metilparaben (Metil Hidroksi Benzoat) (HPE edisi 5, hal 466)


• Pemerian
Kristal tidak berwarna atau serbuk kristal putih dan tidak berbau.
• Konsentrasi
Injeksi IM, IV, SC sebesar 0.065–0.25%
• Kelarutan
Kelarutan pada suhu 25°C:
Ethanol 1 pada 2
Ethanol (95%) 1 pada 3
Ethanol (50%) 1 pada 6
Ether 1 pada 10
Glycerin 1 pada 60
Minyak mineral praktis tidak larut
Minyak kacang 1 pada 200
Propilen glikol 1 pada 5
Water 1 pada 400, 1 pada 50°C, 1 pada 3 bagian pada suhu 80°C
• Stabilitas :
Stabil pada pH 3-6 (kurangdari 10% dekomposisi), bertahan hingga 4 tahun
pada temperatur ruang, ketika pH 8 akan megalami hidrolisis.

34
• Cara sterilisasi :
Larutan berair dari metilparaben pada pH 3–6 disterilisasi menggunakan
autoklaf 120°C selama 20 menit, tanpa dekomposisi.
• Inkompatibel :
Metilparaben dan paraben lainnya inkompatibel dengan surfaktan nonionik,
sehingga surfaktan akan mengalami reduksi, contohnya polisorbat 80.

4. Propil Paraben
• Pemerian
Putih, Kristal, tidak berbau, tidak berasa.
• Konsentrasi
0.005–0.2% untuk injeksi IM, IV dan SC
• Kelarutan
Kelarutan pada suhu 200°C
Aseton sangat larut
Etanol (95%) 1 pada 1.1
Etanol (50%) 1 pada 5.6
Eter sangat larut
Gliserin 1 pada 250
Propilen glikol
1 pada 3.9
Propilen glikol (50%)
1 pada 110
Air
1 pada 4350 150 C, 1 pada 2500, 1 pada 225 di
800 C

• Stabilitas:
Stabil pada pH 3-6 (dekomposisi kurang dari 10%)
• Cara sterilisasi:
Larutan berair propil paraben pH 3-6 dapat disterilisasi menggunakan
autoklaf tanpa dekomposisi.
• Inkompatibel:
Propil paraben dapat berinteraksi dengan surfaktan nonionik sehingga

35
menurunkan aktivitasnya.

Dipilih pengawet benzyl alcohol


Alasan : karena merupakan pengawet yang biasa digunakan untuk sediaan
injeksi, merupakan agen bakteriostatik spectrum luas yang digunakan pada
produk injeksi multi dosis.

Wetting agent
1. Polioksietilen sorbitan fatty acid esters / Polisorbat
A. Tinjauan Farmakologi
Fungsi : Wetting Agent
B. Tinjauan Sifat Fisika Kimia
• Penggunaan : Dispersing agent, emulsifying agent, surfaktan, suspending agent,
dan wetting agent
• Pemerian : Mempunyai bau yang khas, rasa pahit, cairan berminyak warna kuning
(intensitas warna berbeda dari batc ke batc dan dari produksi satu ke produksi
yang lain)
• Kelarutan : larut dalam etanol dan air, tidak larut dalam minyak mineral dan
minyak sayur
• Stabilitas : polisorbat stabil terhadap elektrolit, asam dan basa lemah;
saponifikasi terjadi dengan adanya asam dan basa kuat; bersifat higroskopik dan
sebaiknya diuji kandungan airnya sebelum digunakan; dikeringkan bila perlu;
penyimpanan dalam waktu yang panjang dapat mendukung terbentuknya
peroksida; polisorbat sebaiknya disimpan dalam pada wadah tertutup rapat,
kering, sejuk dan hindarkan dari sinar
• Inkompatibilitas : penghilangan warna dan presipitasi terjadi dengan banyak zat
khususnya, fenol, tannin, tar dan bahan lain yang mirip tar. Aktivitas antimicrobial
preservative paraben berkurang dengan adanya polisorbat. Saat terjadi
dekomposisi karena pemanasan dapar mengeluarkan asap tajam dan uap yang
iritatif.

36
• Cara penggunaan dan dosis : wetting agent (0.1%-3%), solubilizing agent dan
suspending agent (1%-15%),

2. Sodium Lauril Sulfat


A. Tinjauan Farmakologi
Fungsi : Wetting Agent
B. Tinjauan Sifat Fisika Kimia
• Pemerian : kristal berwarna putih atau krem sampai kekuningan, serbuk halus,
• Kelarutan : mudah larut dalam air, membentuk larutan putih, praktis tidak larut
dalam kloroform fan eter
• Stabilitas : stabil dalam kondisi dibawah normal, tapi pada kondisi yang extrem
misal pada pH <2,5 terjadi hidrolysis menjadi lauryl alkohol dan sodium bisulfat.
Sebaiknya dikemas dalam wadah tertutup baik dan disimpan ditempat yang sejuk
dan kering agar terlindungi dari oksidator kuat.
• Inkompatibilitas : Dapat bereaksi dengan surfaktan kationik, inkompatibel dengan
ion polifalen seperti aluminium, membentuk endapan dengan garam potasium.
• Konsentrasi :

3. Sorbitan esters / Span


A. Tinjauan Farmakologi
Fungsi : Wetting Agent
B. Tinjauan Sifat Fisika Kimia
• Pemerian : Span memberikan warna krem sampai kuning pucat pada sediaan cair
dan padat dengan warna dan rasa yang jelas.
• Kelarutan : Span larut atau terdispersi dalam minyak, dapat larut dalam sebagian
besar pelarut organik. Didalam air, meskipun tidak larut tapi Span dapat
terdispersi.
• Stabilitas : Span stabil dalam asam dan basa lemah, sebaiknya dikemas dalam
wadah tertutup baik dan disimpan di tempat yang sejuk dan kering.
• Inkompatibilitas : -
• Konsentrasi :

37
• Penggunaan : dispersing agent, emulsifying agent, surfaktan, suspending agent,
dan wetting agent

Kesimpulan
Pada formulasi ini digunakan Polisorbat 80 karena span larut dalam minyak dan pelarut
organik, sedangkan sediaan yang diinginkan adalah sediaan injeksi yang bersifat hidrofilik.

III.B.3 Formulasi

Formulasi yang dibuat:


R/ Hidrokortison 25 mg
NaCl 9 mg
Polisorbat 80 4 mg
CMC-Na 5 mg
Benzylalcohol 0,9%
Aqua p.i. ad 1 cc

Perhitungan
Sediaan vial @ 10 ml, yang dimasukkan 10,7 ml
Hidrokortison asetat 10,7 ml / 1 ml x 25 mg = 0,2675 g
Polisorbat 80 10 ml / 1 ml x 4 mg = 0,0428 g
CMC-Na 10 ml / 1 ml x 5 mg = 0,0535 g
Benzyl alcohol 0,9 g/100 ml x 10 = 0,0963 g

38
Kelarutan bahan
1. Hidrkortison asetat 1 : 10.000
2. Polisorbat 80 1 : 10
3. CMC-Na 1 : 20
4. Benzil alcohol 1 : 25

Ekivalen bahan terhadap NaCl


1. Hidrokortison asetat 0,08
2. Polisorbat 80 0,02
3. CMC Na 0,03
4. Benzyl alcohol 0,17

Perhitungan tonisitas
1. Hidrokortison asetat
10.000 ml / 1 g x 0,2675 g = 2675 ml
10,7 ml/2675x 0,2675 g = hidrokortison yang terlarut
0,00107 x 0,08 = 0,0000856

2. Polisorbat 80
10 ml / 1 g x 0,0428 = 0,428 ml
10,7 ml / 0,428 ml x 0,0428 = 1,07 polisorbat 80 yang terlarut
0,0428 x 0,02 = 0,000856

3. CMC Na
20 ml / 1 g x 0,0535 g = 1,07 ml
10,7 ml / 1,07 x 0,0535 = 0,535
0,0535 x 0,03 = 0,001605

4. Benzyl alcohol
25 ml / 1 ml x 0,0963 = 2,4075 ml
10,7 ml / 2,4075 ml x 0,0963 = 0,428

39
0,0963 x 0,17 = 0,016371
Jumlah ekivalen semua bahan  0,0000856 + 0,000856+ 0,001605+ 0,016371=
0,0189176
Jumlah NaCl dalam formula  10,7 ml / 1 ml x 9 mg = 96,3 mg
Jumlah NaCl  0,009/1 x 100= 0,9 % NaCl (sudah memenuhi tonisitas yang diharapkan)
bila ditambahkan jumlah ekivalen semua bahan kecuali NaCl maka sediaan akan menjadi
sedikit hipertonis. Hal ini masih diijinkan dari pada sediaan yang hipotonis. Sediaan
hipotonis akan mengakibatkan pecahnya sel, sedangkan hipertonis mengakibatkan sel
mengkerut dan bisa kembali ke bentuk semula.

III.B.4 Alat dan bahan

Penyiapan Alat
a. Alat – alat yang digunakan

No
Nama Alat Jumlah Ukuran Sterilisasi Waktu
.
1. Kaca Arloji 2 Ø 5 cm Oven – 180oC 30’
2. Kaca arloji 2 Ø 3 cm Oven – 180oC 30’
3. Beaker glass 1 250 ml Oven – 180oC 30’
4. Beaker glass 1 100 ml Oven – 180oC 30’
5. Erlenmeyer 1 100 ml Oven – 180oC 30’
6. Erlenmeyer 2 250 ml Oven – 180oC 30’
7. Pengaduk 2 Oven – 180oC 30’
8. Pinset 2 Oven – 180oC 30’
9. Sendok porselen 2 Oven – 180oC 30’
Autoklaf –
10. Gelas ukur 1 50 ml 15’
115oC
11. Pipet tetes pendek 2 Oven – 180oC 30’
Autoklaf –
12. Tali q.s 15’
115oC

40
13. Kertas saring 3 Oven – 180oC 15’
14. Corong 1 Ø 5 cm Oven – 180oC 30’
Autoklaf –
15. Gelas ukur 1 100 ml 15’
115oC

b. Pencucian, Pengeringan dan Pembungkusan Alat


c. Sterilisasi Alat
 Oven 1800C selama 30 menit
1. Waktu pemanasan : 38 menit
2. Waktu kesetimbangan : 0 menit
3. Waktu pembinasaan : 30 menit
4. Waktu tambahan jaminan sterilitas : 0 menit
5. Waktu pendinginan : 15 menit
TOTAL WAKTU : 78 menit

 Autoklaf 1210C selama 15 menit


1. Waktu pemanasan : 12 menit
2. Waktu pengeluaran udara : 7 menit
3. Waktu menaik : 9 menit
4. Waktu kesetimbangan : 0 menit
5. Waktu pembinasaan : 15 menit
6. Waktu tambahan jaminan sterilitas : 0 menit
7. Waktu penurunan : 10 menit
8. Waktu pendinginan : 10 menit
TOTAL WAKTU : 73 menit

III.B.5 Cara Kerja


Pembuatan sediaan suspensi Hidrokortison Asetat 2,5%
a. Siapkan alat dan bahan
b. Menimbang bahan- bahan yang dibutuhkan (2vial): hidrokortison asetat 0,535g, polisorbat
0,0856g, CMC Na 0,107g dan benzil alkohol 0,1926g

41
c. Sterilkan serbuk NaCl, hidrokortison asetat, benzil alkohol dan polisorbat pada oven pada
suhu 160◦C selama 1 jam, lalu sisihkan
d. Masukan air panas sebanyak 3ml dalam beaker glass, taburkan CMC Na di atasnya hingga
mengembang kemudian sisihkan
e. Sterilkan CMC Na yang telah dikembangkan menggunakan autoklaf suhu 1150 C selama 30
menit
f. Campurkan CMC Na yang telah mengembang dengan hidrokortison dan polisortbat 80
hingga homogen
g. Larutkan NaCl dengan sedikit API, masukan ke dalam campuran di atas dan sampur sampai
homogen
h. Larutkan benzil alcohol dengan sebagian API, masukan ke campuran di atas hingga
homogen
i. Suspense hidrokortison asetat telah jadi

III.C EVALUASI
1. Kejernihan
Kejernian sediaan ditandai dengan tidak adanya kotoran atau zahra pada sediaan,
larutan jernih /transparan jika bewarna maka sesuai dengan warna zat yang terdapat pada
sediaan. Prosedur kejernihan adalah melihat ampul pada latar yang gelap lalu dilihat adakah
kotoran yang mengapung pada sediaan.

2. pH

Alat : kertas pH dan pH meter

Prosedur :

a. pH meter di kalibrasi dengan larutan dapar standar yang pH sama dengan pH yang
akan diukur.
b. Batang elektrode pH meter dibersihkan dengan aquadest dan dikeringkan.
c. Batang elektrode dicelupkan dalam sediaan injeksi yang akan dikur pH nya.
d. Menekan auto read lalu enter.
e. Tunggu angka sampai berhenti lalu catat pH.
3. Tes Kebocoran

42
Ambil beaker glass, letakkan kapas dibawah beaker glass.
Tutup beaker glass dengan perkamen lalu ikat dengan benang
Beri 10 lubang kecil pada perkamen dan masukkan 10 ampul dalam lubang tersebut
dengan posisi terbalik.
Lalu amati ampul tersebut.
4. Uji keseragaman Volume
Ampul diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat keseragaman
volume secara visual

BAB IV KESIMPULAN

Obat Suspensi Injeksi adalah sediaan suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan
tidak disuntikan secara intravena atau ke dalam saluran spinal. Obat Suspensi Injeksi ditujukan
untuk pemakaian dengan cara menyuntikkannya ke dalam tubuh secara intramuscular. Obat
Suspensi Injeksi merupakan salah satu jenis sediaan obat suspensi berdasarkan penggunaannya.
StabilitasoObat suspensi injeksi bergantung kepada ukuran partikel, kekentalan, jumlah partikel
(konsentrasi), dan sifat partikel.

Penyimpanan sediaan injeksi:


a. Wadah dosis tunggal adalah suatu wadah yang kedap udara yang mempertahankan jumlah obat
steril yang dimaksudkan untuk pemberian parenteral sebagai dosis tunggal, dan yang bila
dibuka tidak dapat ditutup rapat kembali dengan jaminan tetap steril.
b. Wadah dosis ganda adalah wadah yang memungkinkan pengambilan isinya perbagian berturut-
turut tanpa terjadi perubahan kekuatan, kualitas atau kemurnian bagian yang tertinggal.

43
DAFTAR PUSTAKA
1. Ansel, Howard C., et al. “Bentuk Sediaan Farmasetis & Sistem Penghantaran Obat Edisi
9.” Penerbit Buku Kedokteran, 2013.
2. Aulton Michael E, Taylor Kevin M.G, 2013. Aulton's Pharmaceutics: The Design and
Manufacture of Medicines. Elsevier Healt Science
3. Bolet, A. J. 1956. The Intrinsic Viscosity of Synovial Fluid Hyaluronic Acid. Journal of
Laboratory and Clinical Medicne, 48, 721.
4. Edwards, Jo, ed. 2000.Normal Joint Structure. Notes on Rheumatology.University
College London. Archived.
5. Hui, Alexander et al. 2012. A Systems Biology Approach to Synovial Joint Lubrication
in Health, Injury, and Disease. Systems Biology and Medicine. Wiley Interdisciplinary
Reviews 4 (1): 15–7.
6. Jay et al. 2000. Lubricin is A Product of Megakaryocyte Stimulating Factor Gene
Expression by Human Synovial Fibroblasts.J Rheumatol. 27 (3): 594–600.
7. Jebens, H. E, dan Jones. 1959. On The Viscosity and pH of Synovial Fluid and The pH of
Blood. Batersea General Hospital and Royal Fre Hospital Schol of Medicne. 388-400
7. Rowe J, Raymond. Sheskey J, Paul. Quinin E, Marian. 1986. Handbook of
Pharmaceutical Excipients. London
8. Sundblad, L. 1953. Studies on Hyaluronic Acid in Synovial Fluids. Acta Societais
Medicorum Upsaliensi, 58, 13.
9. Teller MN, Brown GB. 1977.Carcinogenicity of carboxymethylcellulose in rats. Proc Am
Assoc Cancer Res; 18: 225
10. Tortora G. J., Derrickson B. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. 12th ed. John
Wiley & Sons
11. Warman M. 2003. Delineating Biologic Pathways Involved in Skeletal Growth and
Homeostasis Through The Study of Rare Mendelian Diseases that Affect Bones and
Joints. Arthritis Research & Therapy. 5 (Suppl 3): S2

44