Anda di halaman 1dari 32

A.

JUDUL PENELITIAN

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS VI SD NEGERI TEMU II KANOR


BOJONEGORO DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PADA POKOK BAHASAN FAKTOR
DAN KELIPATAN BILANGAN MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK

B. BIDANG KAJIAN

Desain dan Strategi Pembelajaran di Kelas

C. PENDAHULUAN

Peningkatan penguasaan, pemanfaatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah
satu tujuan yang sangat diinginkan oleh bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah dan
masyarakat pendidikan telah melakukan berbagai upaya pada berbagai jenjang persekolahan sesuai dengan
kurikulum yang diberlakukan secara nasional yang memuat berbagai mata pelajaran termasuk matematika.

Tidak sedikit sumbangan matematika untuk mengembangkan kemampuan manusia dalam memanfaatkan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesadaran terhadap hal ini telah mendorong berbagai
kalangan pendidikan untuk melakukan berbagai upaya, baik peningkatan sarana dan prasarana pendidikan,
perubahan kurikulum, pelatihan guru-guru dan tenaga dosen LPTK, peningkatan kualitas guru, dan
pelaksanaan perlombaan seperti Olimpiade Sains Nasional untuk menyeleksi putra-putri terbaik bangsa
dalam ajang menyeleksi bidang sains dan matematika pada skala nasional dan internasional. Semua upaya
tersebut merupakan bukti nyata kesungguhan berbagai kalangan untuk mengangkat derajat bangsa melalui
pendidikan. Walau demikian, harus disadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar sehingga
tantangan dan hambatan yang dihadapi untuk mewujudkan cita-cita tersebut juga tidak sedikit. Hal ini
dirasakan oleh keseluruhan komponen pendidikan khususnya guru matematika yang menjadi tulang
punggung pelaksana pendidikan matematika di sekolah-sekolah.

SD NEGERI TEMU II yang berlokasi di Perumahan Dosen Kampus Baru Universitas Haluoleo merupakan
salah satu SD yang guru-gurunya juga mengalami hal yang sama sebagimana diuraikan di atas. Namun
setelah dilakukan berbagai upaya perbaikan demi meningkatkan hasil belajar matematika siswa khususnya
minat dan motivasi belajar telah nampak berbagai perubahan secara klasikal baik hasil belajar maupun minat
dan motivasi belajar siswa.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Kadir (2005), pada pembelajaran matematika di kelas
VI SD Negeri temu II yang berakhir pada akhir September 2005 terlihat bahwa minat, motivasi, dan
kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika sudah cukup baik. Hal ini terbukti dari
banyaknya siswa yang memperoleh nilai di atas 6,5 lebih dari 80%. Namun demikian, dari hasil diskusi
dengan guru yang dilibatkan dalam penelitian tersebut diperoleh kenyataan bahwa jika dilihat dari komposisi
soal yang diteskan, secara umum siswa belum mampu menyelesaikan soal cerita. Para siswa masih
mengalami kesulitan untuk menyelesaikan soal-soal matematika bentuk cerita. Dari hasil pengamatan
terhadap lembar jawaban siswa terlihat bahwa ada beberapa penyebab hal ini bisa memungkinkan terjadi,
yaitu: kemampuan siswa dalam memaknai bahasa soal masih kurang, siswa belum dapat menentukan apa
yang diketahui dan apa yang ditanyakan, serta kemampuan siswa dalam menentukan model matematika yang
digunakan dalam penyelesaian soal.

Dari laporan hasil observasi yang dilakukan disimpulkan bahwa guru telah melaksanakan pembelajaran
dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PPMRII) sesuai dengan skenario yang
dirancang. Namun demikian, pada pemberian tugas latihan di kelas dan di rumah kepada siswa, guru masih
kurang memperhatikan aspek soal cerita sebagai salah satu bentuk soal latihan di rumah. Guru masih terfokus
pada soal-soal latihan yang ada di buku. Hal ini kurang memberi ruang kepada siswa untuk mengembangkan
idenya dalam melatih kemampuannya memecahkan masalah yang ada pada soal matematika berbentuk
cerita.

Berdasarkan alasan di atas, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk lebih meningkatkan kemampuan
siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika khususnya soal berbentuk cerita. Hal ini dapat diwujudkan
karena guru telah dapat melaksanakan pembelajaran matematika dengan pendekatan Pendidikan Matematika
Realistik. Artinya, guru dan siswa telah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk melaksanakan
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ini dalam pembelajaran matematika. Pendekatan Matematika
Realistik digunakan karena pendekatan ini adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengarahkan siswa
pada pembelajaran secara bermakna, sesuai dengan kemampuan berpikir siswa serta berkaitan dengan
kehidupan siswa sehari-hari. Keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari ini akan mengarahkan siswa pada
pengertian bahwa matematika bukan hanya ilmu simbolik belaka tetapi dapat dimanfaatkan dalam kehidupan
sehari-hari untuk membantu dan mempermudah pekerjaan manusia dalam menyelesaikan permasalahan
hidupnya. Pemberian pembelajaran matematika yang bermakna kepada siswa dan tidak memisahkan belajar
matematika dengan pengalaman siswa sehari-hari, siswa akan dapat mengaplikasikan matematika dalam
kehidupan sehari-hari dan tidak cepat lupa.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka disarankan perlu dilaksanakannya penelitian ini yang merupakan
kerjasama antara dosen matematika FKIP Unhalu dengan guru matematika kelas VI SD NEGERI TEMU II
KANOR BOJONEGORO dengan judul: “Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas VI SD NEGERI TEMU II
KANOR BOJONEGORO dalam Menyelesaikan Soal Matematika Berbentuk Cerita pada Pokok Bahasan
Faktor dan Kelipatan Bilangan Melalui Pendekatan Matematika Realistik”.

D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH

1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: “apakah
kemampuan siswa kelas VI SD NEGERI TEMU II KANOR BOJONEGORO dalam menyelesaikan soal
matematika berbentuk cerita pada pokok bahasan faktor dan kelipatan bilangan dapat ditingkatkan melalui
pendekatan matematika realistik?”

2. Pemecahan Masalah

Untuk memecahkan permasalahan di atas, dilakukan tindakan-tindakan sesuai dengan kaidah penelitian
tindakan kelas, yaitu:

1. Mengadakan tes untuk mengetahui kemampuan awal matematika siswa. Hasil tes ini kemudian
menjadi dasar bagi peneliti untuk membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang masing-masing
beranggotakan 4-5 orang untuk merangsang pertukaran pendapat dan interaksi antar guru dengan
siswa dan antar siswa, saling menghormati pendapat yang berbeda, dan menumbuhkan konsep diri
siswa. Pembagian anggota kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan, jenis kelamin, status sosial
dan etnis.

2. Memberikan angket untuk diisi oleh siswa sehingga dapat diketahui tanggapan siswa mengenai
pelaksanaan pembelajaran matematika.

3. Mengadakan pembimbingan pada guru matematika SD NEGERI TEMU II tentang pendekatan


matematika realistik khususnya tentang pembelajaran matematika soal cerita.

4. Menyusun perangkat pembelajaran yang mengacu pada karakteristik PMRI yajng secara umum
meliputi komponen: tujuan, materi, kegiatan belajar mengajar di kelas, dan evaluasi.

5. Melaksanakan skenario pembelajaran yang mengacu pada pendekatan PMRI untuk tiap-tiap siklus
tindakan (direncanakan tiga siklus), evaluasi dan refleksi.

6. Tindakan di dalam kelas disesuaikan dengan sintaks implementasi PMRI dalam kegiatan belajar
mengajar di kelas, yaitu:

1. Melaksanakan skenario pembelajaran melalui penyajian masalah yang kontekstual untuk


menghubungkan matematika denga dunia sekitar (sebelum siswa masuk pada sistem formal,
terlebih dahulu siswa dibawa ke situasi informal).

2. Mengusahakan keterlibatan siswa dengan bantuan guru untuk menemukan kembali dan
mengkonstruksi konsep sendiri sesuai materi matematika yang dipelajari.

3. Mengaplikasikan konsep yang telah ditemukan ke dalam masalah sehari-hari atau dalam
bidang lain.

7. Evaluasi dilaksanakan selama dan setelah proses pembelajaran. Evaluasi selama proses pembelajaran
dilakukan melalui observasi bagaimana siswa mengkomunikasikan matematika. Sedangkan setelah
pembelajaran dapat dilakukan dengan memberikan pekerjaan rumah untuk mengerjakan soal beserta
alasannya dan mengajukan soal kepada siswa untuk dikerjakan beserta alasannya. Pada akhir setiap
siklus tindakan dilakukan evaluasi untuk mengetahui kemajuan hasil belajar yang telah dicapai siswa.
Hasil dari evaluasi pada akhir setiap siklus akan direfleksi untuk memperbaiki pelaksanaan tindakan.

8. Tindakan pada setiap siklus dikatakan berhasil bila telah minimal 80% siswa mencapai nilai paling
rendah 6,5.

E. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan
siswa kelas VI SD NEGERI TEMU II KANOR BOJONEGORO dalam menyelesaikan soal matematika
berbentuk cerita pada pokok bahasan faktor dan kelipatan bilangan melalui pendekatan matematika realistik.

6. MANFAAT HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bererti seperti berikut:

1. Bagi guru: dengan penelitian ini, (1) guru dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendekatan
pembelajaran di kelas, shingga konsep-konsep matematika yang diajarkan guru dapat dikuasai siswa,
(2) guru akan terbiasa untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan merancang pendekatan-
pendekatan pembelajaran yang baru guna meningkatkan prestasi belajar siswanya, dan (3) guru dapat
meningkatkan kemampuan meneliti dan menyusun laporan dalam bentuk karya ilmiah yang baku,
sehingga dapat meningkatkan rasa ingin tahu, yang lebih kuat dan mendorong terciptanya disposisi
matematika (mathematical disposition)

2. Bagi siswa: hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi untuk meningkatkan minat, motivasi, dan
kemampuannya dalam memahami konsep-konsep matematika sehingga prestasi belajarnya dapat
meningkat.

3. Bagi dosen: dengan melakukan penelitian tindakan kelas dengan sekolah mitra, dosen akan lebih
memahami masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi guru di sekolah yang sangat membantu
dosen dalam mendidik calon guru matematika di LPTK.

4. Bagi sekolah: hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi positif pada sekolah dalam rangka
perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran.

5. Bagi FKIP Unhalu: hasil penelitian ini sangat bermanfaat untuk perbaikan pembelajaran di LPTK,
khususnya Program Studi Pendidikan Matematika sebagai lembaga yang mencetak calon guru
matematika.

6. KAJIAN PUSTAKA

1. Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar merupakan sebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah nilai (norma) yang
merupakan substansi, sebagai medium antara guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan.

Dalam proses belajar mengajar terdapat dua kegiatan yakni kegiatan guru dan kegiatan siswa. Guru mengajar
dengan gayanya sendiri dan siswa juga belajar dengan gayanya sendiri. Sebagai guru, tugasnya tidak hanya
mengajar tetapi juga belajar memahami suasana psikologis siswanya dan kondisi kelas. Dalam mengajar,
guru harus memahami gaya-gaya belajar siswanya sehingga kerelavansian antara gaya-gaya mengajar guru
dan siswa akan memudahkan guru menciptakan interaksi edukatif dan kondusif. Hal ini sejalan dengan
pendapat Ametembun (1985) bahwa suatu interaksi yang harmonis terjadi bila dalam prosesnya tercipta
keselarasan, keseimbangan, keserasian antara kedua komponen yaitu guru dan siswa.
Dalam proses edukatif guru harus berusaha agar siswanya aktif dan kreatif secara optimal. Guru tidak harus
terlena dengan menerapkan gaya konvensional. Karena gaya mengajar seperti ini tidak sesuai dengan
konsepsi pendidikan modern. Pendidikan modern menghendaki siswa lebih aktif dalam kegiatan interaktif
edukatif. Guru bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing sedangkan siswa aktif dalam belajar.

Banyak kegiatan yang harus dilakukan gurudalam proses belajar mengajar seperti memahami prinsip-prinsip
proses belajar mengajar, menyiapkan bahan dan sumber belajar, memilih metode yang tepat, menyiapkan alat
bantu pengajaran, memilih pendekatan, dan mengadakan evaluasi. Semua kegiatan yang dilakukan guru
harus didekati dengan pendekatan sistem, sebab pengajaran adalah suatu sistem yang melibatkan sejumlah
kompenen pengajaaran dan semua komponen tersebut saling berkaitan dan saling menunjang dalam rangka
pencapaian tujuan pengajaran.

Sehubungan dengan diberlakukannya kurikulum 2004, maka salah satu pendekatan pembelajaran matematika
yang digunakan adalah pendekatan matematika realistik Indonesia (PMRI). Kemahiran matematia yang
diharapkan dapat diwujudkan adalah sebagaimana tertuang dalam peta kompetensi mata pelaaran matematika
di kelas VI SD, yaitu (1) menjelaskan gagasan atau pernyataan matematika (termasuk peran definisi), (2)
memecahkan dan menafsirkan masalah soal cerita, dan (3) menghargai matematika sebagai suatu yang
berguna dan bermanfaat dalam kehidupan. Berdasarkan uraian tersebut maka soal cerita merupakan soal yang
seharusnya mendapat porsi cukup besar dalam setiap pembelajaran yang dilaksanakan. Artinya, pembelajaran
seharusnya dimulai dengan penggunaan masalah kontekstual dalam bentuk soal cerita sehingga siswa
memiliki kepekaan dalam memahami suatu persoalan dan bagaimana memecahkannya sehingga bermanfaat
dalam kehidupannya.

2. Soal Cerita Matematika dan Langkah-lankah Menyelesaikannya

Permasalahan matematika yang berkaitan dengan kehidupan nyata biasanya dituangkan melalui soal-soal
berbentuk cerita (verbal). Menurut Abidia 1989:10), soal cerita adalah soal yang disajian dalam bentuk cerita
pendek. Cerita yang diungkapkan dapat merupakan masalah kehidupan sehari-hari atau masalah lainnya.
Boot masalah yang diungkapkan akan mempengaruhi panjang pendeknya cerita tersebut. Makin besar bibot
masalah yang diungkapkan, memungkinkan semakin panjang cerita yang disajikan. Sementara itu, menurut
Haji (1994:13), soal yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bidang matematika
dapat berbentuk cerita dan soal bukan cerita/soal hitungan. Dilanjutkannya, soal cerita merupakan modifikasi
dari soal-soal hitungan yang berkaitan dengan kenyataan yang ada di lingkungan siswa. Soal cerita yang
dmaksudkan dalam penelitian ini adalah soal matematika yang berbentuk cerita yang terkait dengan berbagai
pokok bahasan yang diajarkan pada mata pelajaran matematika di kelas VI SD.

Untuk dapat menyelesaikan soal cerita, siswa harus menguasai hal-hal yang dipelajari sebelumnya, misalnya
pemahaman tentang sartuan ukuran luas, satuan ukuran panjang dan lebar, satuan berat, satuan isi, nilai tukar
mata uang, satuan waktu, dan sebagainya. Di samping itu, siswa juga harus menguasai materi prasyarat,
seperti rumus, teorema, dan aturan/ hukum yang berlaku dalam matematika. Pemahaman terhadap hal-hal
tersebut akan membantu siswa memahami maksud yang terkandung dalam soal-soal cerita tersebut.

Di samping hal-hal di atas, seorang siswa yang diperhadapkan dengan soal cerita harus memahami langkah-
langkah sistematik untuk menyelesaikan suatu masalah atau soal cerita matematika. Haji (1994:12)
mengungkapkan bahwa untuk menyelesaikan soal cerita dengan benar diperlukan kemamuan awal, yaitu
kemamuan untuk: (1) menentukan hal yang diketahui dalam soal; (2) menentukan hal yang ditanyakan; (3)
membuat model matematika; (4) melakukan perhitungan; dan (5) menginterpretasikan jawaban model ke
permasalahan semua. Hal ini sejalan dengan langkah-langkah penyelesaian soal cerita sebagaimana
dituangkan dalam Pedoman Umum Matematika Sekolah Dasar (1983), yaitu: (1) membaca soal dan
memikirkan hubungan antara bilangan-bilangan yang ada dalam soal; (2) menuliskan kalimat matematika;
(3) menyelesaikan kalimat matematika; dan (4) menggunakanan penyelesaian untuk menjawab pertanyan.

Dari kedua pendapat di atas terlihat bahwa hal yang paling utama dalam menyeesaikan suatu soal cerita
adaah pemahaman terhadap suatu masalah sehingga dapat dipilah antara yang diketahui dengan yang
ditanyakan. Untuk melakukan hal ini, Hudoyo dan Surawidjaja (1997:195) memberikan petunjuk: (1) baca
dan bacalah ulang masalah tersebut; pahami kata demi kata, kalimat demi kalimat; (2) identifikasikan apa
yan diketahui dari masalah tersebut; (3) identifikasikan apa yang hendak dicari; (4) abaikan hal-hal yang
tidak relevan dengan permasalahan; (5) jangan menambahkan hal-hal yang tidak ada sehingga masalahnya
menjadi berbeda dengan masalah yang dihadapi.

Pendapat-pendapat di atas sejalan dengan pendapat Soedjadi (192), bahwa untuk menyelesaikan soal
matematika umumnya dan terutama soal cerita dapat ditempuh langkah-langkah: (1) membaca soal dengan
cermat untuk menangkap makna tiap kalimat; (2) memisahkan dan mengungkapkan apa yang diketahui
dalam soal, apa yang diminta/ditanyakan dalam soal, operasi pengerjaan apa yang diperlukan; (3) membuat
model matematika dari soal; (4) menyelesaikan model menurut aturan-aturan matematika sehingga
mendapatkan jawaban dari model tersebut; dan (5) mengembalikan jawaban soal kepada jawaban asal.

Mencermati beberapa pendapat di atas, maka langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan soal
bentuk cerita yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) menentukan hal yang diketahui dalam soal; (2)
menentukan hal yang ditanyakan dalam soal; (3) membuat model/kalimat matematika; (4) melakuka
perhitungan (menyelesaikan kalimat matematika), dan (5) menuliskan jawaban akhir sesuai dengan
permintaa soal.

3. Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)

Istilah matematika realistik semula muncul dalam pembelajaran matematika di negeri Belanda yang dikenal
dengan nama Realistic Mathematics Education (RME). Pendekatan pembelajaran ini merupakan reaksi
terhadap pembelajaran matematika modern (new math) di Amerika dan pembelajaran matematika di Belanda
sebelumnya yang dipandang sebagai “mechanistic mathematics education”.

PMRI pada dasarnya merupakan pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami siswa untuk
memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai pendidikan matematika secara
lebih baik dari pada masa yang lalu. Seperti halnya pandangan baru tentang proses belajar mengajar, dalam
PMRI juga diperlukan upaya mengaktifkan siswa. Upaya tersebut dapat diwujudkan dengan cara (1)
mengoptimalkan keikutsertaan unsur-unsur proses belajar mengajar dan (2) mengoptimalkan keikutsertaan
seluruh sense peserta didik. Salah satu kemungkinannya adalah dengan memberi kesempatan kepada siswa
untuk dapat menemukan atau mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang akan dikuasainya.
Dalam pandangan PMRI, pembelajaran matematika lebih memusatkan kegiatan belajar pada siswa dan
lingkungan serta bahan ajar yang disusun sedemikian rupa sehingga siswa lebih aktif mengkonstruksi
pengetahuan untuk dirinya sendiri. Peran guru lebih banyak sebagai motivator terjadinya proses
pembelajaran, bukan sebagai pengajar atau penyampai ilmu. Ini berarti materi matematika yang disajikan
kepada siswa harus berupa suatu “proses” bukan sebagai barang “jadi”.
Marpaung dalam Hartadji dan Ma’nar (2001) menyatakan bahwa RME atau PMRI bertolak dari masalah-
masalah yang kontekstual, siswa aktif, guru berperan sebagai fasilitator, anak bebas mengeluarkan idenya,
siswa berbagi ide-idenya, artinya mereka bebas mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain. Guru
membantu mereka membandingkan ide-ide itu dan membimbing mereka untuk mengambil keputusan tentang
ide mana yang lebih baik buat mereka.

PMRI sejalan dengan teori psikologi kognitif dan pembelajaran matematika. Menurut pandangan psikologi
kognitif, yang bermakna itu lebih mudah dipahami siswa daripada yang tidak bermakna. Bermakna disini
dimaksudkan, bahwa informasi baru mempunyai kaitan dengan informasi yang sudah tersimpan dalam
memori. Memori kita menyimpan pengalaman-pengalaman yang memiliki arti bagi kita, yang kontekstual,
yang realistik.

PMRI memberikan kemudahan bagi guru matematika dalam pengembangan konsep-konsep dan gagasan-
gagasan matematika bermula dari dunia nyata. Dunia nyata tidak berarti konkrit secara fisik dan kasat mata,
namun juga termasuk yang dapat dibayangkan oleh pikiran anak. Jadi dengan demikian PMRI menggunakan
situasi dunia nyata atau suatu konteks nyata sebagai titik tolak belajar matematika.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, PMRI mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) menggunakan konteks
yang nyata sebagai titik awal belajar, (2) menggunakan model sebagai jembatan antara real dan abstrak, (3)
belajar dalam suasana demokratis dan interaktif, dan (4) menghargai jawaban informal siswa sebelum mereka
mencapai bentuk formal matematika.

Dalam pelaksanaannya, PMRI menganut lima prinsip utama, yaitu: (1) penggunaan konteks, sebagai sumber
belajar dalam menemukan kembali ide matematika dan secara bersamaan menerapkan ide tersebut; (2)
menggunakan model produksi dan konstruksi siswa; (3) menolak proses yang mekanistik, saling terlepas dan
tak bermakna, prosedur rutin, dan sering bekerja individual; (4) siswa bukan penerima informasi, tetapi
subyek aktif dalam menemukan kembali; dan (5) menggunakan berbagai teori belajar yang relevan dan
saling terkait.

Beberapa keuntungan dalam PMRI antara lain: (1) Melalui penyajian yang kontekstual, pemahaman konsep
siswa meningkat dan bermakna, mendorong siswa melek matematika, dan memahami keterkaitan
matematika dengan dunia sekitarnya; (2) siswa terlibat langsung dalam proses doing math sehingga mereka
tidak takut belajar matematika; (3) siswa dapat memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya dalam
kehidupan sehari-hari dan mempelajari bidang studi lainnya; (4) memberi peluang pengembangan potensi
dan kemampuan berfikir alternatif; (5) kesempatan cara penyelesaian yang berbeda; (6) melalui belajar
kelompok berlangsung pertukaran pendapat dan interaksi antar guru dengan siswa dan antar siswa, saling
menghormati pendapat yang berbeda, dan menumbuhkan konsep diri siswa; dan (7) melalui matematisasi
vertikal, siswa dapat mengikuti perkembangan matematika sebagai suatu disiplin.

Dengan melhat keuntungan dalam PMRI di atas mengarahkan kita pada suatu kesimpulan bahwa dengan
menggunakan pendekatan PMRI dalam pembelajaran matematika siswa akan terbiasa memahami suatu
persoalan dengan suatu sudut pandang yang bervariasi sehingga permasalahan tersebut dapat diselesaikan
dengan berbagai cara. Potensi siswa akan berkembang baik minat dan motivasinya dalam belajar matematika
karena pembelajaran yang dimulai dengan konteks mengarahkan siswa pada pentingnya matematika dalam
kehidupan sehari-hari. Siswa dipahamkan tentang kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena pentingnya pendekatan ini digunakan dalam pembelajaran matematika, maka seharusnyalah
setiap guru memperhatikan bagaimana sintak pelaksanaan pendekatan PMRI dalam pembelajaran
matematika. Adapun sintaks implementasi matematika realistik (PMRI) adalah:
Tabel 1 Sintaks Implementasi Matematia Realistik (PMRI)

Aktivitas Guru Aktivitas Siswa

Guru memberikan siswa masalah Siswa secara sendiri atau kelompok


kontekstual kecil mengerjakan masalah dengan
strategi-strategi informal.

Guru merespon secara positif jawaban


siswa. Siswa diberikan kesempatan
untuk memikirkan strategi siswa yang
paling efektif.

Guru mengarahkan siswa pada Siswa secara sendiri-sendiri atau


beberapa masalah kontekstual dan berkelompok menyelesaikan masalah
selanjutnya meminta siswa tersebut.
mengerjakan masalah dengan
menggunakan pengalaman mereka

Guru mengelilingi siswa sambil Beberapa siswa mengerjakan di


memberikan bantuan seperlunya. papan tulis. Melalui diskusi kelas,
jawaban siswa dikonfrontasikan.

Guru mengenalkan istilah konsep Siswa merumuskan bentuk


matematika formal.

Guru memberikan tugas di rumah, Siswa mengerjakan tugas rumah dan


yaitu mengerjakan soal atau membuat menyerahkannya kepada guru
masalah cerita beserta jawabanya yang
sesuai dengan matematika formal.

(I Gusti Putu Suharta, 2001)

4. Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Kadir (2005) menyimpulkan bahwa melalui penggunaan pendekatan
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI), hasil belajar matematika siswa kelas V SD NEGERI
TEMU II Kota KANOR BOJONEGORO dapat ditingkatkan. Dari hasil penelitiannya juga tergambar adanya
peningkatan minat dan motivasi belajar siswa setelah siswa di ajar dengan pendekatan PMRI.
Hasil penelitian Ahmad Fauzan (2001) tentang pengembangan dan implementasi protype I dan II perangkat
pembelajaran geometri untuk siswa kelas IV SD berdasarkan pendekatan Realistic Mathematics Education
(RME) diperoleh hasil bahwa pada tahap awal penelitian ditemukan banyak kendala seperti siswa mengalami
kesulitan untuk memahami contextual problem, tidak terbiasa bekerja berkelompok, sangat tergantung
kepada guru, tidak aktif dan kreatif, sangat lemah dalam penalaran dan penguasaan konsep-konsep yang
sudah dipelajari, hanya tertarik pada hasi akhir dan mengabaikan proses untuk menemukan jawaban. Setelah
dilakukan beberapa usaha diperoleh bebarapa perubahan positif pada siswa. Usaha dimaksud adalah:
mengadakan diskusi sebelum siswa memecahkan contextual problem, membuat catatan-catatan pada buku
latihan siswa, dan tidak memberi nilai maksimal kepada siswa yang tidak memberi alasan untuk jawabannya.
Beberapa perubahan psotif yang didapat adalah siswa menjadi lebih aktif dan kreatif, kemampuan siswa
dalam memahami soal cerita semakin baik, beberapa siswa menunjukkan kemajuan yang baik dalam
penalaran, dan hasil postes lebih baik daripada hasil pretes pada semua kelompok siswa yang diteliti.

5. Keranga Berpikir

Pendekatan Pendidika Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan suatu pendekatan yang digunakan
dalam pembelajaran matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman
siswa sebagai titik awal pembelajara. Melalui matematisasi horizontal-vertikal siswa diharapkan dapat
menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.
Seanjutnya, siswa diberi kesempatan menerapkan konsep-kosep matematika untuk memecahkan masalah
sehari-hari atau masalah dalam bidang lain. Dengan kata lain pembelajaran PMRI mengarahkan siswa pada
belajar dengan bermakna.

Kebermaknaan yang timbul sebagai akibat pembelajaran PMRI akan memberi peluang kepada siswa
mengembangkan potensi dan kemampuan berpikir alternatif, mengembangkan cara penyelesaian berbeda
terhadap suatu permasalahan, memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman sehari-hari serta saling hormat
menghormati dan menumbuhkan konsep diri yang kesemuanya itu mengarah kepada peningkatan
kemampuan siswa dalam memecahkan setiap soal matematika bahkan dalam aplikasinya dengan kehidupan
sehari-hari atau bidang lainnya.

Soal-soal matematika yang digunakan sebagai gambaran kehidupan sehari-hari atau aplikasinya dalam
bidang lain ini tertuang dalam bentuk-bentuk soal cerita atau masalah kontekstual. Soal yang disusun dalam
bentuk kalimat verbal tersebut memungkinkan siswa menggunakan daya imajinasi dan kreativitasnya serta
ide dan nalarnya untuk mengemukkakan berbagai alternatif pemecahan soal-soal tersebut. Jika siswa dibina
dengan membiasakannya menyelesaikan soal-soal seperti ini, di mana siswa merasakan manfaat matematika
dalam kehidupannya sehari-hari, maka tentu kemampan nalar, ide dan kreativitasnya dalam pembelajaran
akan meningkat. Meningkatnya aktifitas dan kreativitas siswa dalam pembelajaran akan meningkatkan hasil
belajar siswa. Hasil yang diperoleh siswa berupa perubahan kemampuan matematika siswa sebagai akibat
dari proses interaksi siswa dengan lingkungannya ini disebut hasil belajar matematika siswa. Artinya,
semakin baik pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik
akan semakin meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

6. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori, hasil enelitian yang relevan, dan kerangka berpikir di atas, dirumuskan hipotesis
tindakan dalam penelitian ini sebagai berikut: “Dengan menggunakan pendekatan matematika realistik dalam
proses belajar mengajar matematika, maka kemampuan siswa kelas VI SD NEGERI TEMU II KANOR
BOJONEGORO dalam menyelesaikan soal matematika berbentuk cerita pada pokok bahasan faktor dan
kelipatan bilangan dapat ditingkatkan”.

H. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN

1. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VI SD NEGERI TEMU II Kota KANOR BOJONEGORO sebagai
sekolah mitra, dengan jumlah siswa sebanyak 24 orang yang terdiri dari 12 orang siswa pria dan 12 orang
siswa wanita. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2006/2007 selama 8
bulan.

2. Faktor yang Diselidiki


Untuk menjawab permasalahan di atas, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki, yaitu:

1. Faktor siswa: yaitu dengan melihat apakah tingkat kemampuan siswa pada pokok bahasan bilangan
cacah dan bilangan pecahan berada dalam kategori rendah, sedang atau tinggi ?

2. Faktor guru: yaitu dengan memperhatikan bagaimana persiapan materi dan kesesuaian pendekatan
pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di kelas.

3. Faktor sumber pelajaran: yaitu dengan memperhatikan sumber pelajaran yang digunakan apakah
sudah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, demikian pula latihan-latihan yang diberikan,
apakah sudah berjenjang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa serta dengan tujuan yang akan
dicapai sesuai dengan pendekatan matematika realistik yang digunakan.

3. Rencana Penelitian Tindakan Kelas


Pelaksanaan penelitian ini direncanakan dalam tiga siklus tindakan. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan
perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki. Bila target
ketuntasan belajar klasikal, yaitu minimal 80 % siswa tidak mencapai nilai paling rendah 6,5, maka
dilaksanakan siklus tambahan. Adapun skema alur tindakan yang direncanakan dalam penelitian ini disajikan
pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1 Alur dalam penelitian tindakan kelas (PTK)

Tim Pelatih Proyek PGSM (1999)

4. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti terlebih dahulu melaksanakan tes awal berupa tes diagnostik untuk mengetahui
kemampuan awal siswa sebelum diberikan tindakan di samping observasi. Observasi awal dilakukan untuk
dapat mengetahui ketetapan tindakan yang akan diberikan dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa
dalam menyelesaikan soal cerita.

Dari hasil evaluasi dan observasi awal, maka dalam refleksi ditetapkan tindakan yang digunakan untuk
meningkatkan hasil belajar matematika siswa, yaitu melalui pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
matematika realistik.

Dengan berpatokan pada refleksi awal tersebut, maka dilaksanakanlah penelitian tindakan kelas ini dengan
prosedur sebagai berikut.

a. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini meliputi:

1. Membuat skenario pelaksanaan tindakan.

2. Membuat lembar observasi: untuk melihat bagaimana suasana belajar mengajar di kelas ketika
pendekatan matematika realistik dilaksanakan.

3. Membuat kuesioner: untuk mengumpulkan data tentang tanggapan siswa mengenai


pelaksanaan pendekatan matematika realistik dalam pembelajaran.

4. Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu siswa memahami
konsep-konsep matematika dengan baik.

5. Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi matematika telah dikuasai oleh siswa.

b. Pelaksanaan tindakan
Tindakan yang telah dirancang dilaksanakan oleh satu orang guru matematika kelas VI SD NEGERI TEMU
II. Pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggunakan pendekatan matematika realistik sesuai dengan
skenario pembelajaran yang telah dibuat.

c. Observasi
Observasi dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Proses observasi
dilakukan oleh dua orang dari tim peneliti untuk mengamati guru dalam kelas selama melaksanakan tindakan
dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika realistik. Pengamatan juga
dilakukan terhadap prilaku dan aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan dampak yang
ditimbulkan dari prilaku guru terhadap siswa selama proses pembelajaran.

d. Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan pada setiap akhir siklus pelaksanaan tindakan. Evaluasi tersebut ditujukan untuk mengetahui ada atau tidak
adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan yang diajarkan. Alat evaluasi yang digunakan adalah tes
hasil belajar yang disusun peneliti. Bilamana secara klasikal minimal 80 % siswa telah mencapai nilai paling rendah 6,5, maka
tindakan dianggap telah berhasil dilaksanakan.

e. Refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dianalisis. Kelemahan-kelemahan atau kekurangan-
kekurangan yang terjadi pada setiap siklus akan diperbaiki pada siklus berikutnya.

5. Data dan Cara Pengambilannya


1. Sumber data: personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru.

2. Jenis data: data kuantitatif yang diperoleh dari tes hasil belajar dan data kualitatif yang diperoleh
melalui lembar observasi, kuesioner, dan jurnal.

3. Cara pengambilan data:

1. Data situasi pelaksanaan pendekatan matematika realistik diambil dengan menggunakan


lembar observasi.

2. Data tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pendekatan matematika realistik diambil dengan
menggunakan kuesioner.

3. Data refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi dalam kelas, diambil dengan
menggunakan jurnal.

4. Data tentang hasil belajar matematika siswa diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.

6. Indikator Kerja
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan pelaksanaannya dalam tiga siklus tindakan. Namun demikian, bila
pada hasil evaluasi suatu siklus paling sedikit 80 % siswa telah mendapatkan nilai paling rendah 6,5, maka
siklus selanjutnya tidak dilaksanakan karena indikator keberhasilan telah tercapai.

I. JADWAL PENELITIAN
B U LAN
Kegiatan
4 5 6 7 8 9 10 11

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1. Perencanaan

a. Observasi lokasi penelitian v

b. Wawancara dengan guru

c. Diskusi hasil obersvasi


dan
Wawancara dengan guru

2. Persiapan

a. Membuat skenario
pembelajaran, lembar
observasi, dan kuesioner

b. Membuat alat bantu

c. Membuat alat evaluasi

d. Membuat jurnal

3. Pelaksanaan Siklus I

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan tindakan

c. Obsevasi/evaluasi

d. Refleksi diri

4. Pelaksanaan Siklus II

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan tindakan

c. Obsevasi/evaluasi

d. Refleksi diri

5. Pelaksanaan Monitoring

6. Pelaksanaan Siklus III

a. Perencanaan

b. Pelaksanaan tindakan
c. Obsevasi/evaluasi

d. Refleksi diri

7. Pelaporan

a. Tabulasi dan analisis data

b. Penyusunan draft hasil


penelitian

c. Seminar draft hasil


penelitian

d. Pembuatan laporan

e. Penggandaan laporan

f. Pengiriman laporan akhir

J. BIAYA PENELITIAN

1. Biaya Perencanaan

a. Observasi lokasi penelitian (3 orang, 3 hari)

Rp
Konsumsi : 3x3xRp. 17.500 157.500

Transportasi : 1x3xRp. 20.000 Rp 60.000

b. Wawancara dengan guru (3 orang, 1 hari)

Konsumsi : 3x1xRp. 17.500 Rp 52.500

Transportasi : 1x1xRp. 20.000 Rp 20.000

c. Diskusi hasil observasi da wawancara

dengan guru (3 orang, 2 hari)

Rp
Konsumsi : 3x2xRp. 17.500 105.000
Rp
Transportasi : 3x2xRp. 20.000 120.000

Rp.
Jumlah (1) 515.000

2. Biaya Persiapan

a. Rapat persiapan pembuatan instrumen penelitian (3 orang,10hari)

Konsumsi : 3x1xRp. 17.500 Rp 52.500

Transportasi : 3x1xRp. 20.000 Rp 60.000

b. Pembuatan scenario pembelajaran, lembar

Observasi, dan kuesioner (3 orang, 10 hari)

Rp
Konsumsi : 3x10xRp. 17.500 525.000

Rp
Transportasi : 3x10xRp. 20.000 600.000

c. Pembuatan alat bantu, evaluasi, dan jurnal (3 orang, 10 hari)

Rp
- Konsumsi : 3x10xRp. 17.500 630.000

Rp
- Transportasi : 3x10xRp. 20.000 600.000

Rp
Jumlah (2) 2.467.500

3. Biaya Pembelian ATK

Rp
a. Kertas duplikator 5 rim, @ Rp. 25.000 125.000

Rp.
b. Kertas bergaris 5 rim, @ Rp. 30.000,- 150.000
Rp
c. Kertas Komputer 2 ply 2 dos, @RP. 300.000 600.000

Rp
d. Kertas Ukuran A4 4 rim, @ Rp. 30.000 120.000

Rp
e. Pita komputer 3 buah, @ Rp. 35.000 105.000

f. Refill Tinta Printer 3 buah, @ Rp. 27.500 Rp 82.500

Rp.
g. Catridge 1 buah (hitam) 125.000

Rp.
h. Cartrige 1 buah (warna) 150.000

Rp.
i. Spidol Whiteboard 2 box, @ 85.000,- 170.000

Rp.
j. Karton manila 20 lembar @ Rp. 7.500 150.000

k. Tip Ex 2 buah @ Rp. 7.500 Rp. 15.000

l. Balpoint 1 lusin Rp. 20.000

m Pensil 1 lusin Rp. 10.000

n. Isolasi 2 buah @ Rp. 10.000,- Rp. 20.000

o. Cutter 1 buah Rp. 15.000

p. Paku tinis 5 dos @ Rp. 3.000,- Rp. 15.000

q. Lem kertas 1 buah Rp. 5.000

Jumlah (3) Rp 1.877.500

4. Biaya Operasional

Rincian biaya berikut untuk setiap siklus (selama tiga siklus)


(1
) Perencanaan tindakan, observasi awal dan rapat tim peneliti

(3 orang, 1 hari): 3x1xRp. 125.000 Rp 375.000

(2
) Biaya implementasi tindakan untuk 2 orang : 2xRp. 125.000 Rp 250.000

(3
) Biaya observasi dan evaluasi: 3xRp. 100.000 Rp 300.000

(4
) Biaya analisis dan refleksi : 3xRp. 100.000 Rp 300.000

Jumlah Rp 1.225.000

Biaya 1 siklus Rp. 1.225.000

Jadi biaya 3 siklus : 3xRp. 1.225.000 Jumlah (4) Rp 3.675.000

5. Honor selama 8 bulan

a. Honor 1 orang ketua peneliti: 8x1xRp. 200.000 Rp 1.600.000

b. Honor 2 orang anggota peneliti: 8x2xRp. 150.000 Rp 2.400.000

Jumlah (5) Rp 4.000.000

6. Biaya seleksi internal, semnar local, publikasi,

dan diseminasi hasil penelitian Rp 960.000

Jumlah (6) Rp 960.000

7. Biaya pelaporan

a. Penyusunan draft laporan penelitian (3 orang, 1 hari)

Konsumsi : 3x1xRp. 17.500 Rp 52.500

Transportasi : 3x1xRp. 20.000 Rp 60.000

b. Penyusunan laporan akhir (3 orang, 10 hari)


Konsumsi : 3x10xRp. 17.500 Rp 525.000

Transportasi : 3x10xRp. 20.000 Rp 600.000

d. Penggandaan laporan: 14 x 50 x Rp. 150 Rp. 105.000

d. Penjilidan laporan 15 examplar: 15xRp.7.500 Rp. 112.500

e. Pengiriman laporan ke Jakarta Rp 50.000

Jumlah (7) Rp 1.505.000

Rekapitulasi:

1. Biaya perencanaan = Rp 515.000

= Rp 1.877.5004. Baiaya operasional= Rp 3.675.0002. Biaya


persiapan = Rp 2.467.500

5. Honorarium3. Biaya pembelian ATK = Rp 4.000.000

6. Biaya seleksi internal, seminar lokal, publikasi, dan = Rp 960.000

Diseminasi hasil penelitian

7. Biaya pelaporan = Rp 1.505.000

Jumlah = Rp 15.000.000

(Lima belas juta rupiah)


K. PERSONALIA PENELITIAN

Personalia penelitian dan waktu yang disediakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Ketua peneliti : Hj.Siti Muawanah,S.Pd.M.Si


Kepala SDN Temu II Kanor Bojonegoro
Waktu yang disediakan: 15 jam/minggu
Anggota Peneliti 1 : KASRUN,S.Pdi.
Guru kelas VI SD NEGERI TEMU II KANOR BOJONEGORO
Waktu yang disediakan: 10 jam/minggu
Anggota Peneliti 2 : SUNGKONO,S.Pd
Guru kelas V SD NEGERI TEMU II KANOR BOJONEGORO
Waktu yang disediakan: 10 jam/minggu

Peran serta masing-masing dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut:

Pada tahap perencanaan: ketua peneliti, bersama dengan anggota peneliti 2 melakukan observasi terhadap
pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh anggota peneliti 1. Observasi dilaksanakan untuk
mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh anggota peneliti 1
sebelum penelitian ini dilaksanakan. Observasi dilaksanakan dalam beberapa kali pelaksanaan pembelajaran
matematika (direncanakan 3 kali). Untuk lebih memantapkan hasil observasi yang dilakukan juga dilakukan
wawancara dengan anggota peneliti 1. Hasil observasi dan wawancara kemudian didiskusikan oleh ketua,
dan kedua anggota peneliti sehingga diputuskan langkah pemecahan permasalahan pembelajaran yang
ditemukan. Hasil diskusi tersebut kemudian dibuat dalam bentuk pra proposal.

Pada tahap persiapan, ketua tim peneliti bersama anggota 1 dan 2 merancang skenario pembelajaran sesuai
dengan langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMRI, lembar observasi, alat bantu pembelajaran,
kuosioner, alat evaluasi, dan jurnal. Hasil keseluruhan perancangan tersebut kemudian didiskusikan kembali
sehingga anggota 1 sebagai guru yang akan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan PMRI dapat
memahami secara mendalam langkah-langkah pembelajaran dengan PMRI, sedang anggota 2 dapat
memahami apa-apa yang harus diobservasi selama anggota 1 melaksanakan pembelajaran. Di samping itu
juga supaya ada kesepahaman langkah dalam menggunakan berbagai perangkat yang digunakan dalam
penelitian ini.

Pada tahap pelaksanaan, anggota peneliti 1 melaksanakan pembelajaran sesuai skenario yang telah dibuat,
dan anggota peneliti 2 melakukan observasi yang pada tahap awal pelaksanaan pembelajaran ditemani oleh
ketua peneliti. Hasil observasi terhadap setiap pembelajaran yang telah dilaksanakan kemudian didiskusikan
oleh tim peneliti sekaligus mengecek beberapa kelemahan yang dilakukan dalam setiap pembelajaran oleh
anggota peneliti 1. Dari hasil diskusi tersebut kemudian anggota peneliti 1 melakukan refleksi terhadap
pembelajaran yang telah dilakukan sehingga dapat diperbaiki pada pembelajaran selanjutnya.

Pada tahap monitoring, ketua dan anggota peneliti mendiskusikan berbagai hal sehubungan dengan penelitian
ini sehingga diperoleh kesamaan langkah sesuai dengan rencana pelaksanaan penelitian yang telah
direncanakan termasuk menyiapkan berbagai perangkat penelitian.

Pada tahap akhir/pelaporan, ketua peneliti mengumpulkan semua data yang telah dikumpulkan oleh anggota
peneliti 1 dan 2 untuk ditabulasi dan dianalisis. Hasil tabulasi dan analisis kemudian dianalisis kembali oleh
tim sehingga dapat ditemukan kelemahan dan keunggulan pelaksanaan penelitian ini. Di samping itu juga
untuk menentukan bentuk draft laporan penelitian sesuai dengan petunjuk/pedoman laporan PTK tahun 2006.
Draft laporan tersebut kemudian disepakati sebagai bentuk laporan akhir yang akan diseminarkan oleh ketua
peneliti didampingi oleh anggota peneliti 1 dan 2. Laporan yang dikoreksi dari pelaksanaan seminar
kemudian diperbaiki oleh ketua peneliti untuk dijadikan laporan akhir. Laporan akhir ini kemudian
digandakan dan dijilid untuk kemudian ditanda tangani sebagai laporan akhir pelaksanaan PTK yang akan
dikirim ke Jakarta.
L. DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Mini Jaya. 2001. Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional (Propenas) Tahun 2000-2004. Bab VII Pembangunan Pendidikan. Mini Jaya Abadi, Jakarta.
Abidin, Zainal. 1989. Studi tentang Prestasi Siswa Kelas VI SD Negeri di Kodya Banda Aceh dalam
Menyelesaikan Soal Hitungan dan Soal Cerita. Tesis, PPs IKIP Malang.
Ametembun, N.A. 1985. Kerelevansian Gaya-Gaya Mengajar dan Belajar (Suatu Tinjauan Analitik).
FIP-IKIP Bandung, Bandung.
Ametembun, N.A. 2000. Beberapa Model Pembelajaran dan Strategi Mengajar dalam Pembelajaran
Matematika. Depdiknas, Jakarta.
Anonim. 1999. Penelitian Tindakan Kelas; Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah
Menengah. TIM Pelatih Proyek PGSM, Jakarta.
Anonim, 2000, Beberapa Model Pembelajaran dan Strategi Mengajar dalam Pembelajaran
Matematika, Depdiknas, Jakarta.
Anonim, 2002, Model-Model Pembelajaran, Depdiknas, Jakarta.
As’ari, A.R. 2000. Pembelajaran Matematika yang Demokratis. Universitas Negeri Malang.
Basuki Wibawa. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Direktorat Tenaga Kependidikan, Jakarta.
Budiarto, Mega Teguh, dkk. 2004. Matematika Buku 1 Dirjen Depdiknas, Jakarta.
Budiarto, Mega Teguh, dkk. 2004. Matematika Buku 3. Dirjen Depdiknas, Jakarta.
De Lange, J. 1987. Mathematics, Insight and Meaning. OW & Co, Utrecht.
----------. 1995. Assesment: no chance without problems, In Romberg, TA. (Ed). Reform in school
mathematics and authentic assessment. Suny Press, New York.
Depdikbud. 1982/1983. Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial. Ditjen-Dikti
Depdikbud, Jakarta.
Dimyati dan Mudjiono. 1996. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta, Jakarta.
Djamamarah, S.B. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Rineka Cipta, Jakarta.
Fauzan, Ahmad. 2001. Pengembangan dan Implementasi Prototype I dan II Perangkat Pembelajaran
Geometri untu Siswa Kelas 4 SD Menggunakan Pendekatan RME, makalah disampaikan pada
Seminar Nasional Realistic Mathematics Education (RME) di Universitas Negeri Surabaya
(UNESA), 24 Pebruari 2001.
Freudenthal, H. 1973. Mathematics as an Educational Task. Reidel Publishing, Dordrecht
-----------. 1994. Revisiting Mathematics Education. Reidel Publishing, Dordrecht
Gravemeijer, K. 1994. Developing Realistic Mathematic Education. Freudenthal Institute, Utrecht.
Haji, Saleh, 1994. Diagnosis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita di Kelas VI SD
Negeri Percobaan Surabaya. Tesis, PPS IKIP Malang.
Hartadji Nursyafi’i dan Ma’nar. 2001. Laporan Pengembangan dan Ujicoba Perangkat Contextual
Teaching and Learning Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Aritmetika Sosial. Departemen
Pendidikan Nasional Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Jakarta.
Hudoyo, Herman, 1988, Belajar Mengajar Matematika, P2LPTK. Jakarta.
Hudoyo, Herman dan Surawidjaja, A. 1996/1997. Matematika. Bagian P3GSD Ditjen-Dikti
Depdikbud, Jakarta.
Joyce, B. and Weill, M. 1980. Models of Teaching. Prentice Hall Inc., New Jersey
M. Nur. 2000. Pembelajaran Kooperatif, Pusat Sain dan Matematika Sekolah. PPs Universitas Negeri
Surabaya, Surabaya.
N.K. Roestiyah. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta, Jakarta.
Polya, George. 1980. On Solving Mathematical Problem in High School, dalam Krulik, Stephen dan
Reys, Robert E. (Eds.) Problem Solving in School Mathematics. NCTM, Reston-Virginia.
Slameto. 1987. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Bina Aksara, Jakarta.
Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning. A Simon and Schuster Company, Massachusetts.
Soekamto, T., Wardani, I.G.A.K., dan Winataputra, U.S. 1993. Prinsip Belajar dan Pembelajaran,
Bahan Ajar PEKERTI P2LPTK, Jakarta.
Soekamto, T., dan Winataputra, U.S., 1997. Teori Belajar dan model-model Pembelajaran, Bahan
Ajar PEKERTI P2LPTK, Jakarta.
Suharta, I Gusti Putu. 2001. Pembelajaran Pecahan dalam Matematika Realistik. Makalah
disampaikan pada Seminar Nasional Realistic Mathematics Education (RME) di Jurusan Matematika
FMIPA UNESA, 24 Pebruari 2001.
Sutarto, Hadi. 2001. Memperkenalkan RME kepada Guru SLTP di Yogyakarta, makalah disampaikan
pada Seminar Realistic Mathematic Education (RME) di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), 24
Februari 2001.
Sumarmo, Utari. 2001. Upaya Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Pembelajaran Matematika
Melalui Penelitian Kolaboratif Guru dan Dosen LPTK. Makalah, FPMIPA UPI, Bandung.
Sumarmo, Utari. 2002. Alternatif Pembelajaran Matematika dalam Implementasi Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Makalah, FPMIPA UPI, Bandung.
Treffers, A. 1991. Realistics Mathematics Education in The Netherlands 1980-1990. dalam
Streeflands (ed). Realistics Mathematics Education in Primary School. CD-b Press, Utrecht.
Usman, M.U. dan Setiawati, L. 2001. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Cetakan
Kedua. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Y. Marpaung. 2001. Prospek RME untuk Pembelajaran Matematika di Indonesia. Makalah
disampaikan pada Seminar Nasional Realistic Mathematics Education (RME) di Jurusan Matematika
FMIPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA), 24 Februari 2001.
Yuwono, Ipung. 2001. RME (Realistic Mathematics Education) dan Hasil Studi Awal
Implementasinya di SLTP. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Realistic Mathematics
Education (RME) di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA), 24 Februari
2001.
M. LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Instrumen Penelitian

a. Contoh Rencana Pembelajaran


e. Contoh lembar soal dan jawaban siswa yang dilatihkan

1. Pada pelajaran Penjaskes, setiap siswa kelas VI diwajibkan lari


mengelilingi halaman sekolah berbentuk persegi panjang. Jika keliling
halaman tersebut 118 m dan panjangnya 35 m, berapakah lebar halaman
yang dikelilingi siswa tersebut?

Penyelesaian:

1. Diketahui:

2. Ditanyakan:

3. Kalimat matematika (rumus/model):

4. Penyelesaian kalimat matematika:

5. Jawaban akhir yang diminta soal:


2. Curriculum Vitae

a. Riwayat Hidup Ketua Peneliti

Identitas diri:

Nama Lengkap : Drs. La Misu, M.Pd.

N I P : 132 008 807

Tempat, Tangal Lahir : Wakoko, tahun 1966

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Pekerjaan : Staf Pengajar pada PS Pend. Matematika FKIP Unhalu KANOR


BOJONEGORO

Pangkat/Gol. Ruang : Penata Tk. I/ IIId

Jabatan : Lektor

Alamat : Jl. Haeba No. 44 KANOR BOJONEGORO 93117 Telp. 0401-


394232 HP. 081341556673

Riwayat Pendidikan Tinggi:

Program Sarjana (S1):

Nama Perguruan Tinggi : Universitas Haluoleo

Fakultas/Jurusan : FKIP/Pend. MIPA

Program Studi : Pendidikan Matematika

Tahun Masuk : 1985

Tahun Lulus : 1990

Program Pascasarjana (S2):

Nama Perguruan Tinggi : IKIP Surabaya


Fakultas/Jurusan : Pascasarjana / Pend. Matematika

Program Studi : Pendidikan Matematika

Tahun Masuk : 1995

Tahun Lulus : 1998

Pengalaman Pengajaran/Penelitian:

Mata Kuliah yang Diajarkan di PT:

1. Teori Bilangan

2. Pengantar Dasar Matematika / Matematika Dasar

3. Kalkulus (I/II)

4. Pembelajaran Matematika di SD

Pengalaman Penelitian

1. Ketua Peneliti pada penelitian: Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika pada Siswa SLTP Negeri 2
KANOR BOJONEGORO dengan menggunakan Model Pencapaian Konsep, 1999.

2. Ketua Peneliti pada penelitian: Pengembangan Keterampilan Penalaran Formal pada Mahasiswa Baru
Pendidikan MIPA FKIP Unhalu, 2003

b. Riwayat Hidup Anggota Peneliti 1


Identitas Diri:

Nama Lengkap : Hartana, S.Pd.

N I P : 132 081 068

Tempat, Tangal Lahir : Soppeng, 25 Januari 1971


Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Guru Kelas Tinggi di SDN 32 Poasia Kota KANOR


BOJONEGORO

Pangkat/Gol. Ruang : Pengatur/ IId

Alamat : Perumnas Bumi Poasia Permai Blok A No. 35 KANOR


BOJONEGORO 93232 HP. 081524767767

Riwayat Pendidikan Tinggi:


Nama Perguruan Tinggi : Universitas Haluoleo

Fakultas/Jurusan : FKIP/Ilmu Pendidikan

Program Studi : Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

Tahun Masuk : 2000

Tahun Lulus : 2005

Pengalaman penelitian:

Anggota Peneliti: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Pokok Bahasan Bilangan Cacah
dan Bilangan Pecahan di Kelas VI SD NEGERI TEMU II Kota KANOR BOJONEGORO melalui
Pendekatan Matematika Realistik (2005)

c. Riwayat Hidup Anggota Peneliti 2

Identitas Diri:

Nama Lengkap : Hidayah, A.Ma.

N I P : 132 219 129

Tempat, Tangal Lahir : Kolaka, 1975

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Guru Kelas Tinggi di SDN 32 Poasia Kota KANOR


BOJONEGORO

Pangkat/Gol. Ruang : Pengatur/ IId

Alamat : Perdos Kampus Baru Unhalu Blok H No. 6 KANOR


BOJONEGORO 93232 HP. 08124174454
Riwayat Pendidikan Tinggi:
Nama Perguruan Tinggi: Universitas Haluoleo

Fakultas/Jurusan : FKIP/Ilmu Pendidikan

Program Studi : Diploma-2 PGSD

Tahun Masuk : 1993

Tahun Lulus : 1996

Pengalaman penelitian:

Anggota Peneliti: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Pokok Bahasan Bilangan Cacah
dan Bilangan Pecahan di Kelas VI SD NEGERI TEMU II Kota KANOR BOJONEGORO melalui
Pendekatan Matematika Realistik (2005)

Identitas Diri:

Nama Lengkap : Kadir, S.Pd., M.Si.

N I P : 132 094 172

Tempat, Tangal Lahir : Bau-Bau, 1 Oktober 1968

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Pekerjaan : Staf Pengajar pada PS Pend. Matematika FKIP Unhalu KANOR


BOJONEGORO

Pangkat/Gol. Ruang : Penata Tk. I/ IIId

Alamat : Perumnas Bumi Poasia Permai Blok A No. 35 KANOR


BOJONEGORO 93232 HP. 081341512842

Riwayat Pendidikan Tinggi:

Program Sarjana (S1):

Nama Perguruan Tinggi : Universitas Haluoleo


Fakultas/Jurusan : FKIP/Pend. MIPA

Program Studi : Pendidikan Matematika

Tahun Masuk : 1988

Tahun Lulus : 19 April 1993

Program Pascasarjana (S2):

Nama Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Bandung (ITB)

Fakultas/Jurusan : Pascasarjana ITB/Matematika

Program Studi : Matematika (Matematika Terapan)

Tahun Masuk : 1997

Tahun Lulus : 2 Februari 2000

Pengalaman Pengajaran/Penelitian:

Mata Kuliah yang Diajarkan di PT:

5. Pengantar Dasar Matematika

6. Kalkulus (I/II/Lanjut (Peubah Banyak))

7. Komputer (Pengantar/Lanjutan)

8. Aljabar Linier

Pengalaman Penelitian

3. Kemampuan Berpikir Anak Usia SD (Studi Kasus pada Masyarakat Bajo di Desa Bonebalano Kab.
Muna) (Majalah Ilmiah “Bersama”, Vol. II, No. 1, Januari-Juni 1998, Bandung).

4. Optimalisasi Pengajaran Matematika di Sulawesi Tenggara melalui Program Kualifikasi (MIPMIPA,


Vol. 1, No. 1, Januari 2002)

5. Penguasaan Konsep Dasar Matematika SD Siswa Kelas I SLTP Negeri di Kabupaten Buton, Studi
pada SLTP Negeri 2 Lakudo, SLTP Negeri 1 Gu, dan SLTP Negeri 1 Batauga (MIPMIPA, Vol. 2, No.
1, Januari 2003).

6. Efektivitas Pemberian Tugas Membuat Jurnal Matematika dalam Pembelajaran Konsep Peluang dan
Statistika di SMU Negeri 4 KANOR BOJONEGORO (MIPMIPA, Vol. 3, No. 1, Januari 2004).

7. Kedudukan Pendidikan Matematika Realistik (PMR) dalam Pendekatan Pembelajaran Matematika


(Majalah Ilmiah BERSAMA, Vol. 9, No. 1, Januari-Juni 2005).