Anda di halaman 1dari 28

Makalah

KOMUNIKASI INTER PERSONAL/ KONSELING (KIP/K)

OLEH :
1. CICI PITRIANI (TIDAK AKTIF)
2. NUR OCTAVYA KATILI
3. SRI RAHAYU DOMILI
4. SRI WAHYUNI YAHYA
5. YUNITA KASAN
6. ZUMRYATI BASALAMAH

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO


2016-2017

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya kepada

kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah KOMUNIKASI INTER

PERSONAL/ KONSELING (KIP/K) dan semoga bermanfaat bagi para

pembacanya.

Makalah KOMUNIKASI INTER PERSONAL/ KONSELING (KIP/K)

ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari pihak lain

sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu,

kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi

susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka

kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat

memperbaiki makalah KOMUNIKASI INTER PERSONAL/ KONSELING

(KIP/K) ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah KOMUNIKASI INTER

PERSONAL/ KONSELING (KIP/K) memberikan manfaat maupun inspirasi

terhadap pembaca.

Gorontalo, Januari 2017

Kelompok 8

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………...ii

Daftar Isi………………………………………………………………….….iii

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang………………………………………………………...1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………..2

1.3 Tujuan ………………………………………………………………...3

Bab II Pembahasan

2.1 Pngertiaen Komunikasi Interpersonal/Konseling (KIP/K)…………... 4

2.2 Apa saja faktor – faktor penghambat KIP/K………………………….8

2.3 Apa faktor individual KIP/K……………………………………….... 9

2.4 Apa saja faktor – faktor yang berkaitan dengan interaksi…………....12

2.5 Apa faktor situsiasional………………………………………………14

2.6 Bagaimana kompetensi dalam melakukan percakapan ……………..16

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………..23

3.2 Saran…………………………………………………………............23

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..24

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sejak

dalam kandungan pun, komunikasi telah ada dan akan terus berlangsung dalam proses

kehidupan.

Komunikasi adalah suatu media yang digunakan oleh individu sebagai makhluk sosial.

Komunikasi dapat mempermudah individu dalam berinteraksi dengan orang lain. Alo

Liliweri (1997:22) setiap orang harus mampu menjadikan bahasa sebagai alat komunikasi.

Tata bahasa juga memiliki aturan dalam mengatur setiap penutur agar dia ber-bahasa secara

baik dan benar sehingga komunikasi lebih efektif. Serta dengan adanya ketegasan sehingga

dapat me-nimbulkan respon yang jelas dan positif oleh lawan bicara kita.

Kegiatan komunikasi selalu mendasari kegiatan yang lain termasuk kegiatan pelayan

kebidanan. Komunikasi yang mendasari bidang pelayanan kebidanan dikenal dengan

komunikasi kebidanan.Komunikasi kebidanan adalah bentuk komunikasi yang digunakan

oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada klien. Komunikasi kebidanan

merupakan penggambaran terjadinya interaksi antara bidan dengan klien dalam upaya

pemenuhan kebutuhan klien. Sebagaimana diketahui,klien atau pasien selalu menuntut

pelayanan yang paripurna, baik fisik maupun psikologis,terutama klien yang mengalami

ketidakstabilan emosi selama proses adaptasi terhadap suatu perubahan status. Misalnya,

menjadi ibu,menjadi orang tua,mengalami kehamilan yang pertama,mengalami persalinan

pertama,semua ini sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Karena keadaan tersebut klien

perlu memperoleh pendampingan dan kedekatan dengan tenaga pelayanan kesehatan yang

salah satunya adalah bidan.

4
Bidan adalah profesi yang sangat dekat dengan individu,keluarga,dan masyarakat,yang

dipandang mampu memberikan pelayanan kesehatan,terutama pelayanan kebidanan pada ibu

dan anak serta keluarga berencana. Untuk memenuhi harapan tersebut,bidan perlu

mempunyai kualifikasi dan kualitas pribadi dalam pelayanan profesi kebidanan.

Komunikasi kebidanan merupakan faktor pendukung pelayanan kebidanan profesional

yang dilaksanakan oleh bidan,dalam mengekspresikan peran dan fungsinya. Salah satu

kompetensi bidan yang harus dimiliki adalah kemampuan berkomunikasi dalam pelayanan

kebidanan. Kemampuan berkomunikasi mendasari upaya pemecahan masalah klien,

mempermudah pemberian bantuan kepada klien, baik pelayanan medik maupun pelayanan

psikologi yang diberikan dengan pendekatan konseling. Komunikasi kebidanan tidak hanya

mendasari pelayanan kebidanan individu, tetapi juga pelayanan kelompok atau masyarakat.

Oleh karena itu, komunikasi kebidanan sangat penting untuk dipahami bidan, mengingat

belum semua pelayanan kebidanan mengerahkan jalinan komunikasi untuk memperjelas

tujuan dan tindakan yang di laksanakan pada klien sehingga mengakibatkan kesalahan

komunikasi yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan bidan.

Komunikasi kebidanan antara lain : komunikasi massa, komunikasi interpersonal,

komunikasi intrapersonal dan komunikasi kelompok. Komunikasi interpersonal adalah

interaksi yang dilakukan dari orang ke orang, bersifat 2 arah baik secara verbal dan non

verbal, dengan saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau

antar individu di dalam kelompok kecil.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa pengertian Komunikasi interpersonal/Konseling (KIP/K)

1.2.2 Apa saja faktor – faktor penghambat KIP/K

1.2.3 Apa faktor individual KIP/K

1.2.4 Apa saja faktor – faktor yang berkaitan dengan interaksi

5
1.2.5 Apa faktor situsiasional

1.2.6 Bagaimana kompetensi dalam melakukan percakapan

1.3 Tujan

1.3.1 Untuk mengetahui pengertian Komunikasi Interpersonal Konseling (KIP/K)

1.3.2 Untuk mengetahui faktor - faktor penghambat dari KIP/K

1.3.3 Untuk mengetahui faktor individual KIP/K

1.3.4 Untuk mengetahui faktor – faktor yang berkaitan dengan interaksi

1.3.5 Untuk mengetahui fakotr situsional

1.3.6 Untuk mengetahui kompetensi dalam melakukan percakapan

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi Interpersonal/Konseling (KIP/K)

Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang dilakukan dari orang ke orang, bersifat

2 arah baik secara verbal dan non verbal, dengan saling berbagi informasi dan perasaan

antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil.

Berkenaan pula dengan pendapat R Wayne Pace (dalam Hafied Cangara, 2002:32)

“Komunikasi inter-personal adalah proses komunikasi yang ber-langsung antara dua orang

atau lebih se-cara tatap muka”. Komunikasi interpersonal merupakan suatu perantara atau alat

pendukung dalam bentuk bahasa lisan, bahas tulisan, bahasa tubuh, dan lain-lain sehingga isi

komunikasi dapat dipahami oleh penerima pesan. Apabila masing-masing pihak yang

berkomunikasi mengerti dan memahami apa yang dimaksud, maka suatu pembicaraan akan

lancar, demikian sebaliknya. Konseling adalah sebuah proses pemberian bantuan yang

dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara orang yang ahli (orang yang telah

melakukan pendidikan khusus dan terlatih secara baik dalam bidang bimbingan dan

konseling) dan seorang individu yang sedang mengalami kesulitan dan permasalahan.

Komunikasi antar pribadi (interpersonal communication) merupakan komunikasi yang

berlangsung dalam situasi tahap muka antara dua orang atau lebih, baik secara teroganisasi

maupun pada kerumunan orang (Wiryanto, 2006). Komunikasi antarpribadi (interpersonal

communication) adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap-muka, yang

memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara

verbal ataupun nonverbal (Mulyana, 2010: 81). Menurut Devito (2012) dalam bukunya The

Interpersonal Communication Book, Komunikasi didefinisikan sebagai: “Proses pengiriman

7
dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang,

dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika”.

Konseling adalah proses pemberian informasi objektif dan lengkap, dilakukan secara

sistematik dengan panduan komunikasih interpersonal, teknik dilakukan secara sistematik

dengan panduan komunikasih interpersonal,teknik bimbingan dan penguasan pengetahuan

klinik, bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisi saat ini, masalah yang sedang

di hadapi, dan menetukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut. (Saifudin,

abdul bari ) Mendefinisikan konseling sebagai suatu proses antar pribadi, dimana satu orang

di bantu oleh satu orang lainya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan

masalahnya, (Wilian ranyingan) mendeskripsikan konseling sebagai usaha untuk membantu

seorang menolong dirinya sendiri.

Konseling kebidanan adalah pertolongan dalam bentuk wawancara yang menuntut

adanya komunikasi, interaksi yang mendalam, dan usaha bersama antara konselor ( bidan)

dengan konselih (klien) untuk mencapai tujuan konseling yang dapat berupa pemecahan

masalah, pemenuhan kebutuhan ataupun perubahan tingkah laku atau sikap dalam ruang

lingkup pelayanan kebidanan.

Suatu komunikasih interpersonal belum tentu suatu konseling tetapi selalu merupakan

komunikasih interpersonal. Orang yang memberi bantuan dalam konseling di sebut konselor.

Sedangkan orang yang di beri konseling di sebut konseli. Dalam kebidanan konseli di sebut

juga klien dalam konseling hubungan atau pertalian antara konselor dengan klien memegang

peranan yang penting bagi keberhasilan konseling, dan ini berbeda dengan hubungan pada

situasi lain.

Kerjasama dan komunikasi yang baik antara konselor dan ibu serta kemampuan

konselor yang menunjukkan sikap terbuka dan bersedia menjadi pendengar yang baik serta

menciptakan suasana yang nyaman akan dapat menggali sejauhmana pengetahuan ibu dan

8
mengembangkan pengetahuan ibu tersebut menjadi lebih baik. Faktor lain yang menjadi

keberhasilan dalam proses konseling adalah konselor mampu menumbuhkan kepercayaan

dan motivasi ibu, sehingga ibu bisa menerima konselor sebagai sumber informasi yang

berdampak terhadap keberanian ibu dalam mengungkapkan ketidaktahuan yang dihadapi

sebelumnya. Untuk mempermudah pemahaman ibu terhadap materi pembelajaran yang

diberikan oleh konselor maka materi yang disampaikan berasal dari masalah-masalah yang

ingin diketahui ibu tersebut. Masalah yang disampaikan berdasarkan dari pengalaman ibu

pada anak sebelumnya, dimana masalah itu menjadi informasi yang selanjutnya oleh konselor

dipadukan dengan pendapat para ahli dan beberapa hasil penelitian yang dirangkum dan

disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Selain itu konselor juga mengajak ibu

berpikir tentang sebab dan akibat dari permasalahan tersebut, sehingga informasi lebih mudah

dan lama diingat oleh ibu. Menurut Azwar (2003), untuk menjamin keberhasilan pelayanan

konseling perlu konselor yang baik, sehingga dapat menimbulkan kepercayaan dan

keterbukaan klien kepada konselor. Seorang konselor perlu mempunyai pengetahuan,

ketrampilan dan kemampuan mengungkapkan sesuatu sehingga menjadi sesuatu yang

diterima dan bisa memberikan inspirasi bagi ibu dengan konseling tersebut.

 Secara umum di katakan bahwa tujuan konseling haruslah

mencapai :

a. effective daily living, artinnya setelah selesai proses konseling klien harus dapatmenjalani

kehidupan sehari-harinya secaea efektif dan berdaya guna untuk

diri,keluarga,masyarakat,bangsa,dan tuhannya.

b. relationship with other ,artinya klien mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan

orang lain di keluarga , sekolah,kantor,masyarakat,dan sebagainya.

Layanan Bimbingan dan konseling merupakan salah satu bentuk layanan

interpersonal. Penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling diharapkan mampu

9
membantu individu untuk memahami diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Serta dapat

melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam merealisasikan fungsi-fungsi kehidupan dan

memenuhi kebutuhan kebutuhannya.Konseling sebagai bagian integral dari pendidikan

nasional Indonesia, mestinya tidak hanya berpikir tentang penanganan masalah-masalah

patologis atau masalah-masalah meladjusment yang sifatnya kuratif saja.Layanan Bimbingan

dan Konseling mesti lebih luas lagi, yaitu pengembangan diri secara komprehensif.

 Menurut sifatnya komunikasi interpersonal dibedakan menjadi 2 yaitu:

Menurut Effendi (dalam Wita, 2011) terdapat dua macam komunikasi interpersonal:

1) Komunikasi diadik (dyadic communication) Komunikasi diadik adalah

komunikasi interpersonal yang berlangsung antara dua orang yakni yang seorang adalah

komunikator yang menyampaikan pesan dari seorang lagi komunikan yang menerima pesan,

oleh karena itu perilaku komunikasinya dua orang, maka dialog yang terjadi berlangsung

secara intens, komunikator memusatkan perhatianya kepada diri komunikan seorang itu.

2) Komunikasi triadik (triadik communication) Komunikasi triadik adalah

komunikasi interpersonal (antar persona) yang pelakunya terdiri dari tiga orang, yakni

seorang komunikator dan dua orang komunikan. Apabila dibandingkan dengan komunikasi

diadik, maka komunikasi diadik lebih efektif, karena komunikator memusatkan perhatiannya

kepada seorang komunikan, sehingga ia dapat menguasai frame of reference(kerangka acuan)

komunikan sepenuhnya juga umpan balik yang berlangsung, kedua faktor yang sangat

berpengaruh terhadap efektif atau tidaknya proses komunikasi.

 bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal

Rakhmat (2005) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi

interpersonal adalah:

10
a) Persepsi interpersonal Persepsi interpersonal adalah pengalaman tentang manusia, perasaan

atau hubunganhubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menyampaikan

pesan.

b) Konsep diri Konsep diri adalah pandangan seseorang dalam perasaannya tentang dirinya,

konsep diri sangat mempengaruhi komunikasi interpersonal.

c) Atraksi interpersonal Atraksi interpersonal adalah suatu kesukaan pada orang lain, sikap

positif, daya tarik yang dapat memperbesar kecenderungan seseorang untuk berkomunikasi

dengan orang lain.

d) Hubungan interpersonal Setiap melakukan komunikasibukan hanya menyampaikan isi

pesan tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal.

 Ada 3 perilaku dalam komunikasi interpersonal yaitu:

1) Perilaku spontan (spontaneous behavior) adalah perilaku yang dilakukan berdasar desakan

emosi dan dilakukan tanpa sensor serta revisi secara kognisi.

2) Perilaku menurut kebiasaan (script behavior) adalah perilaku berdasarkan kebiasaan kita.

Perilaku itu khas dilakukan pada suatu keadaan missal mengucapkan selamat pagi dl.

3) Perilaku sadar (contrived behaviour ) adalah perilaku yang dipilih berdasarkan situasi yang

ada.

2.2 Faktor – faktor penghambat komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K)

Proses konseling yang intensional (mendalam) dan efektif akan membantu klien untuk

berkembang secara optimal. Sebaliknya jika proses konseling berjalan tidak efektif dan

kurang mendalam maka sudah dipastikan akan gagal mencapai tujuan dan bahkan merusak

klien.

Masalah-masalah yang berhubungan dengan komunikasi interpersonal yaitu:

a. Ketidak mampuan konselorn (misalnya seorang Bidan) untuk berkomunikasi dengan jelas

dan tidak mampu menangkap apa yang dikatakan klien.

11
b. Konselor gagal mengenali masalah yang dialami oleh konseling.

2.3 Faktor Individual komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K)

Orientasi cultural (keterkaitan budaya) merupakan factor individual yang di baawa

seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari : Kepekaan

panca indera (kemampuan untuk melihat, mendengar), usia, jender (jenis kelamin) dan lain -

lain Factor ini sangat penting karena kita ketahui penurunan kepekaan pada organ – oragan

pendengar, penglihatan dan lain - lain akan menentukan kelancaran komunikasih, misalkan

pendengar yang terganggu, penglihatan yang kabur tidak bisa melihat menyulitkan

komunikasi yang sesuai aturan. Orientasi cultural (keterkaitan budaya) merupakan factor

individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan

gabungan dari:

1. Faktor fisik

a) Kepekaan pancaindra

Kondisi fisik mempunyai pengaruh terhdap komunikasi. Artinya, indra pembicaraan

mempunyai andil terhadap kelancaran dalam berkomunikasi.

Misalnya : Seorang tuna wicara akan kesulitan apabila berbicara dengan orang normal.

b) Usia

Agar dapat berkomunikasi efektif dengan seseorang, bidan harus mengerti pengaruh

perkembangan usia, baik dari sisi bahasa, maupun proses berpikir orang tersebut. Cara

berkomunikasi anak usia remaja berbeda dengan anak usia balita. Kepada remaja, anda

mungin perlu belajar bahasa gaul mereka sehingga remaja yang kita ajak bicara merasa kita

mengerti mereka dan komunikasi diharapkan lancar.

c) Jenis Kelamin

Setiap jenis kelamin mempunyai komunikasi yang berbeda. Wanita dan laki-laki

mempunyai perbedaan dalam gaya berkomunikasi. Dari usia 3 tahun, wanita bermain dengan

12
teman baiknya atau dalam grup kecil, menggunakan bahasa untuk mencari kejelasan dan

meminimalkan perbedaan, serta membangun keintiman. Laki-laki dilain pihak, menggunakan

bahasa untuk mendapatkan kemandirian aktivitas dalam grup yang lebih besar, dan jika ingin

berteman, mereka melakukannnya dengan bermain.

2. Sudut Pandang

a) Presepsi

Presepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian atau peristiwa.

Presepsi ini dibentuk oleh pengharapan atau pengalaman. Perbedaan presepsi dapat

mengakibatkan terhambatnya komunikasi. Misalnya,kata beton akan menimbulkan perbedaan

persepsi antara ahli bangunana dengan orang awam.

b) Nilai

Nilai adalaha standar yang mempengruhi perilaku sehingga penting bagi bidan untuk

menyadari nilai seseorang. Bidan perlu berusaha untuk mengetahui da mengklarifikasi

sehingga dapat membuat keputusan dan interaksi yang tepat pada klien. Dalam hubungan

profesional, bidan diharapkan tidak terpengaruh nilai pribadi.

Perbedaan nilai tersebut dapat dicontohkan sebagai berikut, misalnya, kllien memandag

abortus tidak sebagai perbutan dosa, sementara bidan memandang abortus sebagai tindakan

dosa. Hal ini dapat menyebabkan konfik antara bidan dan klien.

3. Faktor sosial

a) Citra diri

Manusia mempunyai gambaran tertentu mengenai dirinya, status sosial,kelebihan dan

kekurangannya. Citra diri terungkap dalam komunikasi. Misalnya pembicaraan orng tua

bersama anaknya dengan menentukan ekspresi dan persepsi orang, misalnya “kamu mesti

jadi bidan karena akan dihormati masyarakatdanmudah mendapatkan uang.”

13
Pihak lain, yakni orng yang di ajak beromunikasi, mempunyai gambran khas bagi dirinya .

pada saat berkomunikasi, akan dirasakan campur tangan citra diri dan citra pihak lain.

b) Jarak

Jarak dapat mempengaruhi komunikasi. Jarak tertentu akan memberi rasa aman dan

kotrol. Misalnya, individu yang merasa terancam ketika seseorang tidak dikenal tiba-tiba

berada pada jarak yang sangat dekat dengan dirinya. Hal itu juga yang dialami oleh klien

pada saat pertama kali berinteraksi dengan bidan. Untuk itu,bidan perlu menentukan jarak

yang tepat pada saat melakukan hubungan dengan klien.

c) Peran dan hubungan

Gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antar orang yang

berkomunikasi. Cara komuniasi seorang bidan pada klien akan berbeda tergantung peran.

Demikian juga anatara orang tua dan klien.

d) Pengetahuan

Tingkat pengetahuan mempengaruhi komuniasi. Seseorang yang tingkat

pengetahuannya rendah akan sulit merespon pertanyaan yang mengandung bahasa verbal

dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Bidan perlu mengetahui tingkat pengetahuan

klien sehingga dapat berinteraksi dengan baik dan akhirnya dapat memberi asuhan kebidanan

yang tepat kepada klien.

e) Emosi

Emosi merupakan perasaan subjectiv terhadap suatu kejadian. Emosi seperti marah,

sedih, senang akan dapat mempengaruhi bidan dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Bidan perlu mengkaji emosi klien dan keluarganya sehingga mampu memberikan asuhan

kebidanan dengan tepat. Selain itu, bidan juga perlu mengevaluasi emosi yang ada pada

dirinya agar dalam melakukan asuhan kebidanan tidak terpengaruhi emosi bawah sadarnya.

f) Lingkungan

14
Lingkungan interaksi akan mempengaruhi kominikasi yang efektif. Suasana yang

bising, tidak ada privasi yang tepat, akan menimbulkan keracuan, ketegangan, dan

ketidaknyamanan. Misalnya, berdiskusi ditempat yang ramai tentu tidak nyaman. Untuk itu

bidan perlu mrnyiapkan lingkungan yang tepat dan nyaman sebelum memulai interaksi

denagn keluarga.Begitu juga dengan lingkungan fisik. Tigkah laku manusia berbeda dari satu

tempat ketempat lain. Misalnya, saat seseorangberkomunikasi dengan sahabatnya akan

berbeda apabila berbicra dengan pimpinannya.Lingkungan sosial. Tingkah laku dan cara

berkomunikasi mempengaruhi suasana lingkungan. Misalnya, seseorang berpenampilan

lembut, tetapi sering menggunakan kata-ata yang kasar dalam pembicaraan. Kata-kata ksar

tersebut diperoleh dari lingkungan pergaulannya.

2.4 Faktor – faktor yang berkaitan dengan interaksi

Meliputi tujuan dan harapan terhadap komunikasih, sikap terhadapa interaksi, serta

pembawaan diri seseorang terhadap orang lain seperti kehangatan, perhatian dan dukungan.

1) Tujuan dan harapan terhadap komunikasih diri seseorang terhadap interaksi, serta

pembawaan.

Ini biasanya terjadi apabila dalam suatu komunikasi/konseling komunikator tidak

memberikan konseling sesuai kebutuhan klien, maka apa yang di sampaikan komunikator

tidak akan di dengar atau di perhatikan oleh klien karena tidak sesuai dengan harapanya.

Untuk menghindari hal tersebut sudah seharusnya seorang komunikator memiliki

kemampuan untuk menganalisa masalah klien. Degan demikian tujuan dan harapan dari

kedua belah pihak dapat tercapai.

2) Sikap terhadap interaksi

Sikap terbuka dan bersahabat sangat mendukung komunikasi, tetapi sebaliknya orang

yang tertutup dan kurang bersahabat akan sulit untuk di ajak komunikasih, biasanya orang

seperti ini mempunyai sifat introved sehingga susah untuk mengungkapkan masalah yang

15
dihadapi. Mendapatkan klien yang seperti ini sebagai seorang bidan harus mampu

memancing percakapan dan menggunakan pertanyaan – pertanyaan terbuka.

3) Pembawaan diri seseorang terhadap orang lain (seperti kehangatan, perhatian,dukungan)

Pembawaan diri seseorang sangat memperngaruhi komunikasi. Orang sombong, sinis

dan tidak memberikan dukungan merupakan hambatan komunikasih yang haru mampu kita

hadapi. Kadang – kadang sebagi manusia biasa kita sebagai petugas kesehatan sudah merasa

malas dahulu untuk memberikan konseling pada orang semacam itu. Tapi kita harus

menyingkirkan sikap seperti itu dan harus professional. Cobalah untuk bersahabat dan tidak

menggurui, tetapi harus menguasai kontens/ materi yang akan kita berikan. Dengan sikap

seperti itu biasanya mereka akan merubah sikapnya.

Konselor efektif selalu hangat, senang dan respek terhadap orang lain. Konselor yang

dingin dan kurang respek mempunyai ciri-ciri:

1. Terlalu formal

2. Berjarak

3. Hormat di buat-buat

4. Kaku

5. Merasa tinggi dan

6. Menyombongkan diri

7. Berlebiih-lebihan dalam mengungakap soal seks dan ras, dan

8. Kurang rasa hormat

Ciri-ciri tersebut tidak mungkin ada pada konselor profesional, tapi bisa saja terjadi karena

mereka adalah manusia biasa. Sebagai contoh seorang konselor mengeluarkan pernyataan

negatif tentang klien apaah secara terang-terangan atau pun secara halus.

4) Sejarah hubungan

16
Sejarah hubungan adalah sesuatu yang telah lampau tetapi akan sangat berpengaruh

dimasa sekarang atau masa dating. Orang yang punya hubungan kurang harmonis dimasa

lalu dan tiba – tiba bertemu dalam suatu konsultasi/konseling akan menyebabkan sikap

canggung dan malas untu bertemu. Tapi sekali lagi kita sebagi tenaga kesehatan harus

professional dalam menghadapi ini, lupakan sejenak masalah yang lalu dan hadapi klien

sesuai masalah yang harus dipecahkan oleh klien saat ini. Tidak perlu mengungkit – ngungkit

masa lalu dan pura – puralah lupa kalau pernah ada hubungan/ masalah yang kurang

harmonis dimasa lalu.

2.5 Faktor situsiasional

Komunikasi terjadi pada situasi : tempat, waktu, cuaca, iklim dan keadaan alam serta

psikologis tertentu. Situasi merupakan konteks atau panggung serta arena tempat komunikas

terjadi.Situasi ini dapat alamiah terjadi dengan sendirinya, atau direkayasa terjadi karena di

buat manusia.Situasi itu dapat resmi-formal, tetapi juga dapat tidak resmi-formal.

Situasi dapat mempengaruhi jalannya komunikasi dan tentu saja hasilnya. Sebab

situasi dapat membuat pihak-pihak yang berkomunikasi dapat berkomunikasi wajar atau tidak

wajar, entah merasa minder, tidak percaya diri, takut, gemetar,berkeringat, atau merasa super

terlalu pecaya diri, kelewat berani, amat fit

Tidak semua individu memilki rasa percaya diri yang cukup. Perasaan minder, malu,

sungkan adalah beberapa sikap yang bisa menjadi kendala seorang individu siswa dalam

proses belajarnya di sekolah maupun di lingkungannya. Rasa minder tersebut menyebabkan

individu sering merasa tidak yakin dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya,

sehingga menjadi lebih menutup diri, dan kurang mendapatkan banyak informasi langsung

yang dibutuhkan.Seseorang yang selalu beranggapan bahwa dirinya tidak mempunyai

kemampuan, merasa dirinya tidak berharga, merupakan gambaran diri orang yang

mempunyai rasa percaya diri rendah.Hal ini dapat dimanifestasikan dalam bentuk tingkah

17
laku yang kurang wajar atau menyimpang, misalnya rendah diri, terisolir dan prestasi belajar

rendah. Rasa percaya diri yang rendah dapat membuat siswa lebih sering mendapatkan

perlakuan pelecehan sosial berupa ejekan atau hal lain yang membuat siswa semakin sensitif

untuk tidak berinteraksi dengan lingkungannya.

Karena itu, pada waktu berkomunikasi dengan orang lain, kita tidak hanya

mempertimbangkan isi dan cara menyampaikan, tatapi juga situasi kita ketika komunikasi

akan kita sampaikan.

Hubungan konseling harus di kembangkan menjadi lebih kondusif untuk klien bisa

terbuka. Disnilah di tuntut skill dan pengalaman konselor anatara lain adalah kemampuan

untuk menangkap perilaku nonverbal klien. Konselor harus akurat dalam menebak keadaan

emosional, buah fikiran, atau isi hati klien yang terlihat dalam bahasa tubuh seperti roman

muka, sorot mata, gerak tubuh, cara duduk dan sebagainya. Bagi klien enggan dapat pula di

lakukan negosiasi sebelum proses konseling.

Keterbukaan klien juga di tentukan oleh bahasa tubuh konselor untuk menciptakan

situasi kondusif bagi keterbukaan dan kelancaran proses konseling maka sifa-sifat empati,

jujur, asli, mempercayai, toleransi, respek, menerima, dan komitmen terhadap hubungan

konseling, amat diperlukan dan di kembangkan terus oleh konselor.sifat-sifat tadi akan

memancar pada perilaku konselor sehingga klien terpengaruh, dan kemudian klien

mengikutinya maka klien akan menjadi terbuka dan terlibat dalam pembicaraan.

Demikian pula strategi dan tekhnik janganlah di utamakan. Hubungan konseling yang

menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor adalah penting. Sehingga klien akan

terbuka dan mau terlibat dalam pembicaraan. Mengggali feeling klien termasuk rahasia-

rahasia pribadinya merupakan hal penting dalam hubungan konseling.

Namun perlu diketahui bahwa klien tidak menganggap konselor sebagai orang yang

mencampuri urusannya. Klien akan membantu konselor untuk memudahkan bantuan dalam

18
mengembangkan diri dan memecahkan masalahnya. Dia kan mengambil keputusan dan

membuat rencana: klien tidak merasa bahwa konseelor itu tinggi seorang ahli akan tetapi

sebagai teman bicara yang bijak, memahami, dan menerima. Rasa kebersamaan yang

diciptakan akan membuat jarak anatara dia dan klien semakin dekat.namun klien merasakan

bahwa tanggung jawab. Keduanya bekerja sama untuk memecahkan masalah dengan objektif.

2.6 Kompetensi dalam melakukan percakapan

Kompetensi dalam melakukan percakapan Agar komunikasih interpersonal berjalan

lancer dan mendatangkan hasil yang di harapkan, baik komunikator maupun komunikasi

perlu memiliki kemampuan dan kecakapan dalam melakukan komunikasi interpersonal.

Kompetensi KIP adalah tingkat dimana perilaku kita dalam komunikasi interpersonal

seusai dan cocok dengan situasi dan membantu kita mencapai tujuan komunikasih

interpersonal yang kita akan sesuai dengan peraturan – peraturan dalam KIP dan membantu

mencapai tujuan komunikasih. Agar komunikasi interpersonal berhasil kita perlu memiliki

keterampilan dalam komunikasih interpersonal baik sosial maupun behavioral.

Yang paling penting dalam hubungan konseling adalah agar konselor mampu

melibatkan klien secara penuh(dengan jiwanya). Kalau klien sudah terlibat dalam proses

konseling, maka ia akan terbuka dan jujur(disclosed), sehingga dengan mudah menyatakan

perasaan, pengalaman dan ide.

Untuk melibatkan klien sehingga ia terbuka, di perlukan beberapa sayarat yaitu,

kepribadian konselor dalam berkomunikasi, pengetahuan/wawasan tentang klien dan

keterampilan atau tekhnik konseling yang bervariasi. Kompetensi tersebut meliputi :

1.)Keterbukaan (Openness)

Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi

interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang

yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera

19
membukakan semua riwayat hidupnya.memang ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak

membantu komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri

mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini

patut. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk

bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak

tanggap pada umumnya merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang

bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak mengharapkan hal

ini. Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidak acuhan, bahkan ketidaksependapatan jauh

lebih menyenangkan. Kita memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan

terhadap orang lain. Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran. Terbuka

dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang anda lontarkan

adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya. Cara terbaik untuk

menyatakan tanggung jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata Saya (kata

ganti orang pertama tunggal).

2.)Empati (empathy)

Devito (1997) mendefinisikan empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk

mengetahui‟ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang

orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.” Bersimpati, di pihak lain adalah merasakan

bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu

seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan yang

sama dengan cara yang sama. Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan

pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka

untuk masa mendatang. Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun

non verbal. Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan

(1) keterlibatan aktif dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai;

20
(2) konsentrasi terpusat meliputi komtak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan

kedekatan fisik; serta

(3) sentuhan atau belaian yang sepantasnya.

3.)Sikap mendukung (supportiveness)

Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap

mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya

Jack Gibb (1961). Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam

suasana yang tidak mendukung. Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap

(1) deskriptif, bukan evaluatif

(2) spontan, bukan strategik, dan

(3) provisional, bukan sangat yakin.

4.)Sikap positif (positiveness) Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam

komunikasi interpersonal dengan sedikitnya dua cara:

(1) menyatakan sikap positif dan

(2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap

positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama,

komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka

sendiri. Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting

untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi

dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan

terhadap situasi atau suasana interaksi.

5.)Kesetaraan (Equality)

Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih

pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak

pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan

21
ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya,, harus ada

pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan

bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam

suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan, ketidak-sependapatan dan

konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada

sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain. Kesetaraan tidak mengharuskan kita

menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain.

Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain.

 pengaruh pemahaman diri terhadap proses KIP/K

1. memahami diri sindiri

Memahami diri bertujuan untuk mengetahui dan mengenal siapakah diri kita, apakah

persepsi orang lain terhadap diri kita sama atau tidak. Missal mungkin anda merasah ramah,

namun menurut orang lain anda judes dan lain-lain. Pemahan diri meliputi pengetahuan

tentang siapa aku, aku kelemahanku, bagaimana perasaanku, apa keinginanku, dan

sebagainya. Kita perlu memahami diri kita agar apa yang menjadi diri kita agar apa yang

menjadi potensi dari dalam diri kita pertahankan atau bahkan kita tingkatkan dan apa yang

menjadi kelemahan dan kekurangan kita bias kita ruba atau kita tutupi, agar menjadi lebih

baik, sehingga hal ini agar mengantar kita kearah kesuksesan.

2. pengetahuan, keterampilan, sikap yang dimiliki konselor

Perilaku seseorang dipengaruhi oleh 3 aspek yaitu aspek kogniktif, aspek pisikomotor

dan aspek efektif ( perasaan, sifat, sikap).

Pengetahuan yang harus dimiliki bidan tidak hanya pengetahuan kebidanan saja tetapi

dalam semua bidang ilmu. Antara lain pengetahuan tentang psikologis, kesehatan repsoduksi,

kebidanan dan kandungan, keluarga berencana, kesehatan neonatus, bayi dan balita,

ilmusosial budaya, pengetahuan tentang hubungan antar manusia, komunikasi interpersonal,

22
pengetahuan tentang hubungan antar manusia, komunikasi interpersonal, pengetahuan

tentang konseling dan sebagainya.

Keterampilan yang perlu dimiliki bidan tentunya semua keterampilan yang sesuai

dengan kompetensi bidan yaitu ada Sembilan kompetensi bidan. Dalam komunikasi dan

konseling keterampilan yang harus dapat dikuasai bidan adalah keterampilan dalam

melakukan komunikasi antara lain: terampil dalam membentuk memecahkan masalah yang

dihadapi klien, terampil dalam melakukan komunikasi interpersonal, terampil dalam

menggunakan alat bantu visual untuk pemberian informasi, terampil dalam mengatasi

masalah genting yang dihadapi klien, terampil membantu klien mengambil keputusan dan

sebagainya.

Adapun sikap yang sebaiknya dimiliki bidan adalah mempunyai motivasi yang tinggi

untuk membantu orang lain, bersikap ramah, sopan santun, menerima klien apa adanya,

empati terhadap klien membantu dengan iklas, terbuka terhadap pendapat orang lain.

Menurut Carl Rogers agar konseling efektif ada 3 kualitas diri (sikap) yang sebaiknya

yang dimiliki konselor yaitu:

a) Empati: memandang dengan kerangka piker klien, berusaha memahami dan berfikir bersama

klien.

b) Otentik: konselor tahu persamaannya sendiri, memahami diri sendiri yang dialami da n

rasakan selaras, tidak pura-pura.

c) Unconditional positif regart atau Acceptance: menerima klien apa adanya, tanpa syarat,

menghargai dan menghormati.

Perilaku bidan dalam melaksanakan tugas sebagai komunikator maupun konselor dipengaruhi

oleh 3 hal, yaitu:

1) Pengetahuan (Kognitif), meliputi pengetahuan tentang: kesehatan, ilmu kebidanan dan

kandungan; masalah yang berhubungan dengan kehamilan, persalian dan pasca; persalinan

23
dan upaya pencagahan serta penatalaksanaanya; keyakinan akan adat istiadat, norma tertentu;

hubungan antar manusia; dan psikologi.

2) Keterampilan (psikomotorik), meliputi keterampilan dalam: membantu proses pesalian dan

berbagai masalah kesehatan; menggunakan alat-alat pemeriksaan tubuh klien; menggunakan

alat bantu visual untuk membantu pemberian informasi kepada klien; mengatasi situasi

genting yang dihadapi klien; dan membuat keputusan.

3) Sikap (Afektif), antara lain: mempunyai motivasi tinggi untuk menolong orang lain; bersikap

ramah, sopan, dan santun; menerima klien apa adanya; berempati terhadap klien; membantu

dengan tulus; terbuka terhadap pendapat orang lain.

3. pengaruh pemahan diri terhadap KIP/K

Pentingnya pemahaman diri adalah karena bidan bekerja denga melibatkan banyak

aspek, orang dan kondisi. Bidan perlu memahami bahwa setiap orang mempunyai bio-psiko-

sosial-spiritual yang berbeda. Sehingga perlu pemahaman diri untuk menghadapi orang

dengan berbagai karakter. Bidan harus mampu memahami bias menghadapi kecemasan,

kemarahan, kesedihan dan kegembiraan klien. Bidan harus mengetahui bagimana dia harus

mengambil sikap, dan ini bias menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Bayangkan

apabila bidan sendiri tidak memahami dirinya, dia tidak tahu bisa mengendalikan diri,

misalnya bidan yang mudah marah, maka apabila dia mendapatkan pasien yang memberikan

pendapat lain tentang keadaan yang dialaminya, maka bidan tidak akan mampu

mengennalikan emosinya sehingga pertengkaran akan terjadi singgah memperkeruh suasana.

Bayangkan apabila bidan sendiri tidak memahami dirinya, dia tidak tahu

kelemahannya, dan tidak bisa mengenalikan diri, misalnya bidan yang mudah marah, maka

apabila dia mendapatkan pasien yang memberikan pendapat lain tentang keadaan yang

dialaminya, maka bidan tidak akan mengendalikan emosinya sehingga pertengkaran akan

terjadi sehingga memperkeruh suasana. Lain hal-halnya jika bidan tersebut sudah memahami

24
bahwa dirinya marah, maka dia akan berusaha untuk meredam kemarahannya dan pendapat

klien akan disikapi sebagai tukar pendapat semata. Bidan yang kurang memahami diri sendiri

kemungkinan akan sulit memahami apa yang dialami klien, sehingga bidan tidak akan bisa

berkomunikasi dengan baik, karena ada sikap tidak bisa menerima klien apa adanya.

25
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang dilakukan dari orang ke orang, bersifat

2 arah baik secara verbal dan non verbal, dengan saling berbagi informasi dan perasaan

antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil.

Konseling adalah proses pemberian informasi objektif dan lengkap, dilakukan secara

sistematik dengan panduan komunikasih interpersonal, teknik dilakukan secara sistematik

dengan panduan komunikasih interpersonal,teknik bimbingan dan penguasan pengetahuan

klinik, bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisi saat ini, masalah yang sedang

di hadapi, dan menetukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut.

3.2 Saran

Komunikasi interpersonal sangat penting untuk semua orang, dapat membantu

seseorang untuk berkomunikasi secara tepat, Mahasiswa yang memiliki kemampuan

komunikasi interpersonal konsuling yang rendah, hendaknya berusaha untuk berkomunikasi

dengan memahami, menerapkan dan memperbanyak latihan kemampuan komunikasi

interpersonal konsulingnya dengan baik sehingga tujuan yang diharapkan dalam

berkomunikasi interpersonal dapat tercapai.

26
DAFTAR PUSTAKA

Purwoastuti, ending dan siwi walyani Elisabeth.2015. komunikasi dan konseling kebidanan.

Yogyakarta: Pustaka Baru Press

Sukma, Dina dan Srie Wahyuni Pratiwi, 2013, KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTAR

SISWA DI SEKOLAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PELAYANAN

BIMBINGAN DAN KONSELING, Journal ilmiah konseling. Volume 2, Nomor 1.

Januari 2013

Wicaksono, Galih dan Najlatun Naqiyah, 2013, PENERAPAN TEKNIK BERMAIN PERAN

DALAM BIMBINGAN KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN

KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA KELAS X

MULTIMEDIA SMK IKIP SURABAYA, Journal Mahasiswa Bimbingan

Konseling, Volume 1, Nomor 1. Januari 2013.

Manoppo, hally, Norma N. Mewengkang dan Ferry koagouw, 2014, STUDI KOMUNIKASI

INTERPERSONAL PASIEN RUMAH SAKIT BETHESDA TOMOHON

INSTALASI RAWAT JALAN POLIKLINIK KANDUNGAN/KEBIDANAN,

Journal acta diurna, Volume 3, Nomor 2. 2014

Annisa febriati, anggi, 2014, efeftivitas komunikasi ANTAR PRIBADI GURU DAN

SISWA DALAM MENCEGAH KENAKALAN SISWA DI SMA NEGERI 1

KOTA BONTANG, Journal ilmu komunikasi. Volume 2, Nomor 4. 2014

Ambarawati, Ria, Siti Fatimah Muis dan Purwanti Susantini,2013, PENGARUH

KONSELING LAKTASI INTENSIF TERHADAP PEMBERIAN AIR SUSU IBU

27
(ASI) EKSKLUSIF SAMPAI 3 BULAN, Journal Gizi Indonesia, Volume 2

Nomor 1. Desember 2013

Dian, Mayasari, 2015, PENGEMBANGAN MODEL BIMBINGAN KELOMPOK

DENGAN TEKNIK SELF MANAGEMENT UNTUK MENGURANGI

KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA SMP NEGERI

PONTIANAK, Jurnal Bimbingan Konseling, Volume 4 Nomor 1, 2015

Pontoh, Widya, 2013, PERANAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL GURU DALAM

MENINGKATKAN PENGETAHUAN ANAK, Jurnal acta Diurna, Volume 1,

Nomor 1, 2013

Hutagaol, Evi Ester dan Helfi Agustin, 2012, KOMUNIKASIINTERPERSONALPETUGAS

KESEHATANDALAM KEGIATANPOSYANDUDIWILAYAH KERJA

PUSKESMAS MUARA SIBERUT KABUPATEN MENTAWAI, Jurnal

Kesehatan Masyarakat, Volume 6, Nomor 2, 2012

Ramadanty, Sari, 2014, PENGGUNAAN KOMUNIKASI FATIS DALAM

PENGELOLAAN HUBUNGAN DI TEMPAT KERJA, Jurnal Ilmu Komunikasi,

Volume 5, Nomor 1, Maret 2014

28