Anda di halaman 1dari 13

Pengertian HAM

HAM adalah hak-hak dasar manusia yang dimiliki sejak berada dalam kandungan dan setelah lahir ke
dunia (kodrat) yang berlaku secara universal dan diakui oleh semua orang.

HAM adalah singkatan dari Hak Asasi Manusia, dimana masing-masing kata tersebut memiliki makna.
Kata “Hak” dalam hal ini berarti sebagai kepunyaan atau kekuasaan atas sesuatu, sedangkan “Asasi”
adalah sesuatu hal yang utama dan mendasar. Jadi, pengertian HAM secara singkat adalah suatu hal
yang mendasar dan utama yang dimiliki oleh manusia.

Faktor Pelanggaran HAM:

1. Penyalahgunaan kekuasaan

Jenis kekuasaan di dunia sangat banyak sekali. Kekuasaan ini ada di lingkungan keluarga, di lingkungan
masyarakat atau pun dilingkungan bangsa dan negara. Kekuasaan tidak selalu mengarah pada kekuasaan
pemerintah, namun dalam bentuk kekuasaan lain salah satunya kekuasaan di sebuah perusahaan.

Contoh kasus penyalahgunaan kesuasaan adalah Para pengusaha yang tidak memperdulikan hak-hak
buruhnya jelas melanggar HAM. Dapat kita simpulkan bahwa setiap kekuasaan yang disalahgunakan
akan mendorong timbulnya pelanggaran HAM.

2. Ketidaktegasan aparat hukum

Aparat penegak hukum yang tidak tegas akan mengakibatkan timbulnya banyak pelanggaran HAM yang
akan terjadi. Kasus pelanggaran HAM yang tidak diselesaikan secara tuntas tentu menjadi pemicu aksi
pelanggaran HAM lain yang mungkin lebih merugikan.

Para pelanggar tidak diberi efek jera agar tidak melakukan pelanggaran HAM. Karenanya butuh
ketegasan dari aparat untuk memberi hukuman hukuman setimpal sesuai perbuatan yang dilakukannya.
Aparat penegak hukum yang semena-mena dalam mengambil keputusan juga merupakan bentuk
pelanggaran HAM, hal ini juga dapat menjadi pemicu terjadinya bentuk pelanggaran HAM lainnya.

Contoh kasus ini adalah ketika para aparat hukum membiarkan penggusuran sepihak antara perusahaan
dan kaum miskin kota yang tinggal dalam tanah sengketa, padahal mereka memiliki surat-surat lengkap
sebagai bukti hak tinggal.

3. Teknologi yang disalahgunakan

Tidak dipungkiri majunya teknologi di jaman sekarang memberi dampak positif dan juga negatif. Salah
satu dampak positif kemajuan teknologi adalah akses informasi yang mudah melalui internet.

Banyak sekali manfaat manfaat yang ditawarkan dalam internet juga dapat dipergunakan oleh pelaku
kejahatan. Misalnya saja perampokan uang dalam ATM oleh sekumpulan peretas atau bisa juga
penculikan seseorang melalui jejaring sosial. Atau yang dianggap sepele adalah, pencurian identitas
orang-orang yang adalah dalam jaringan internet.

Segala sesuatu yang menyimpang pasti mengakibatkan hal yang buruk. Jika teknologi tidak dipergunakan
sesuai aturan maka yang terjadi adalah timbul bentuk pelanggaran HAM.

Namun kemajuan teknologi tidak hanya segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi informasi.
Contoh lain kemajuan teknologi dapat berdampak negatif bagi banyak orang ialah: Sentra produksi
pabrik yang limbahnya mencemari lingkungan sehingga kesehatan manusiayang tinggal disekitarnya
terancam.

4. Sikap egois dari para pelakunya

Sikap ini menyebabkan seseorang untuk selalu menuntut haknya, sementara kewajibannya sering
diabaikan. Seseorang yang mempunyai sikap seperti ini akan menghalalkan segala cara supaya haknya
bisa terpenuhi, walaupun caranya tersebut dapat melanggar hak orang lain.
Hal ini sering secara tidak langsung terjadi pada banyak orang, terutama yang merasa memiliki
kekuasaan. Contoh kasus untuk perihal ini adalah, Perusahaan tambang yang mencemari lingkungan
hany untuk keuntungan pemiliknya, tanpa memikirkan warga yang terkena dampak pencemaran akibat
tambang, seperti kebun yang rusak.

5. Sikap tidak toleran

Salah satu Faktor Pelanggaran HAM adalah tidak adanya toleransi. Sikap ini menyebabkan timbulnya rasa
saling tidak menghargai dan tidak menghormati terhadap kedudukan atau keberadaan orang lain. Sikap
ini pada akhirnya akan mendorong orang untuk melakukan diskriminasi kepada orang lain.

Contoh dari kasus ini adalah apa yang terjadi di Myanmar, bagaimana etnis Rohingya yang berasal dari
Bangladesh dianggap sebagai warga negara ilegal oleh para pribumi Myanmar yang beretnis Tionghoa,
meskipun para Rohingnya itu sebenarnya telah berada ratusan tahun di Myanmar. Para Rohingnya ini
tidak segan-segan untuk dibunuh dan diusir dari Myanmar.

6. Kesenjangan ekonomi dan sosial yang tinggi

Ketidakseimbangan dan ketidakmerataan gaya hidup sudah sangat terlihat di era saat ini. Perbedaan
tingkat kekayaan atau jabatan yang dimiliki seseorang menjadi salah satu pemicu kesenjangan sosial dan
ekonomi. Jika dibiarkan, hal-hal mungkin akan banyak terjadi pelanggaran HAM seperti perampokan,
perbudakan, pelecehan bahkan pembunuhan.

7. Rendahnya kesadaran HAM

Pelaku tidak tau dan tidak mengerti tentang adanya HAM, sehinga pada hal ini akan menyebabkan
pelaku pelanggaran HAM berbuat sesukanya. Pelaku tidak mau tahu bahwa orang lain pun mempunyai
hak asasi yang yang harus dihormati. Sikap tidak mau tahu ini berakibat muncul perilaku atau tindakan
penyimpangan terhadap hak asasi manusia. Rendahnya kesadaran HAM ini adalah implikasi dari
rendahnya mutu pendidikan.
Contoh kasusnya adalah, seorang pemuda yang tidak memberikan tempat duduk prioritas dalam
transportasi umum, padahal seorang renta yang lebih membutuhkan ada di hadapannya.

8. Adanya diskriminasi dari orang di lingkungannya

Salah satu penyebab pelanggaran HAM adalah korban sering mendapat perlakuan diskriminasi dari
orang terdekatnya seperti, orang tua, kakak dan teman sekolah.

Contoh sederhana adalah kakak beradik yang mendapat perlakuan berbeda hanya karena sang kakak
tidak lebih pandai dari adik.

9. Adanya dendam

Pelaku memiliki dendam terhadap orang lain yang menyebabkan si pelaku melakukan pelanggaran HAM.

Contoh pada pelanggaran ini adalah seorang pria menikahi wanita hanya untuk disiksa, karena ayah dan
ibu wanita itu pernah merugikan keluarganya.

10. Tidak memiliki rasa empati dan rasa kemanusiaan

Pelaku seenaknya melakukan pelanggaran HAM, tanpa memikirkan rasa kemanusiaan. Hal ini sering
terjadi pada negara-negara yang didipimpin penguasa lalim. Misalnya di mesir yang pernah dipimpin
Firaun, yang pernah membunuh banyak anak bayi laki-laki karena takut ramalan tentang kekuasaannya
direbut

Hak dan kewajiban ham falam pancasila

pengertian nilai dasar


nilai-nilai yang berasal dari budaya bangsa indonesia sendiri dan bersifat universal sehingga didalamnya
terkandung cita-cita, tujuan serta nilai-nilai yang baik dan benar. nilai dasar tidak berubah dan melekat
pada kelangsungan hidup negara

hak dan kewajiban asasi manusia dalam sila-1 pancasila

(hak beragama) hak untuk memeluk agama, melaksanakan ibadah. kewajiban untuk menghormati
perbedaan agama

hak dan kewajiban asasi manusia dalam sila-2 pancasila

hak setiap warga negara pada kedudukan yang sama dalam hukum, serta kewajiban dan hak-hak yang
sama untuk mendapat jaminan perlindungan hukum

hak dan kewajiban asasi manusia dalam sila-3 pancasila

hak mendapat persatuan. kewajiban untuk gotong royong, saling membantu, saling menghormati, rela
berkorban, menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi

hak dan kewajiban asasi manusia dalam sila-4 pancasila

(hak bermusyawarah/hak berpendapat) hak untuk bermusyawarah tanpa tekanan, paksaan atau
intervensi

hak dan kewajiban asasi manusia dalam sila-5 pancasila

(hak untuk memperoleh keadilan) hak untuk diakui hak perseorangannya dan dilindungi
pemanfaatannya oleh negara

Undang2 tentang ham

1. Penegakan Pemerintah Melalui Undang-Undang

Undang-undang merupakan produk hukum yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia yang digunakan
sebagai pedoman atau aturan main dalam pelaksanaan suatu kebijakan atau tindakan yang menyangkut
kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia. Undang-undang merupakan produk yang
dihasilkan sebagai akibat adanya sistem politik demokrasi di Indonesia. Produk ini merupakan hasil dari
perundingan yang dilakukan oleh pemerintah melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sesuai dengan
tugas dan fungsinya. (baca juga: Fungsi DPR) Sebelum undang-undang ini diberlakukan, undang-undang
perlu disetujui dan disahkan oleh presiden republik Indonesia.

Undang-undang sebagai pedoman dan acuan kehidupan bermasyarakat dan bernegara juga mempunyai
beberapa kaitan dengan hak asasi manusia. Kaitan tersebut berupa produk undang-undang yang
mengatur tentang perlindungan terhadap hak-hak asasi yang dimiliki oleh setiap warga negara. Adapun
undang-undang yang dimiliki oleh Indonesia dalam kaitannya dengan penegakan hak asasi manusia bagi
warga negaranya diantaranya:

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974

Undang-Undang No.1 Tahun 1974 merupakan udang-undang yang berkaitan upaya pemerintah dalam
menegakkan HAM dengan hak asasi manusia yang mengatur tentang perkawinan di Indonesia. Perlu
diketahui, perkawinan atau penikahan merupakan hak asasi yang dimiliki oleh seseorang yang termasuk
dalam hak asasi pribadi (Personal Rights). Di dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa dasar
perkawinan atau pernikahan merupakan ikatan secara lahir maupun batin yang terjalin diantara seorang
pria dan seorang wanita dengan tujuan membentuk suatu keluarga atau rumah tangga. Keluarga atau
rumah tangga yang dibentuk tentunya bertujuan kepada kebahagiaan yang dilandaskan pada Ketuhanan
Yang Maha Esa, sebagai berikut:

Undang-undang perkawinan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah Indonesia terhadap hak asasi
personal yang dimiliki oleh warga negaranya.

Setiap warga negara di Indonesia berhak untuk memilih pasangannya masing-masing ke jenjang
pernikahan yang diakui secara agama dan hukum yang berlaku di Indonesia.

Pada dasarnya undang-undang perkawinan ini merupakan salah satu usaha pemerintah dalam
meningkatkan peran keluarga dalam pembentukan kepribadian anggota keluarga baik itu ayah, ibu,
maupun anak.

Perkawinan tidak dapat dilakukan dengan paksaan karena perkawinan itu membutuhkan ikatan secara
lahir maupun batin seperti yang dijelaskan dalam undang-undang tersebut. Barang siapa memaksakan
suatu perkawinan itu terjadi, maka hak asasi manusia yang berkaitan dengan hak asasi pribadi dapat
terganggu. Jika di dalam pemaksaan perkawinan terjadi tindakan-tindakan yang tidak diinginkan dan
melanggar hukum, maka kasus tersebut dapat diperkarakan dalam pengadilan.
TAP MPR Nomor XVII/MPR/1998

Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 merupakan produk dari Majelis Permusyawaratan Rakyat sesuai
dengan tugas dan fungsi MPR di Indonesia dan menurut UUD 1945. (baca juga: Fungsi MPR) Ketetapan
MPR ini merupakan ketetapan yang berkaitan tentang hak-hak asasi manusia khususnya hak-hak asasi
warga negara Indonesia.

Oleh pemerintah saat itu, produk MPR berupa ketetapan ini disebut sebagai piagam hak asasi manusia
yang dimiliki oleh negara Indonesia. Dalam ketetapan MPR ini, hak asasi manusia diakui sebagai hak yang
diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada ciptaannya yang perlu dijaga dan dilindungi oleh negara.
Selain itu, hak asasi manusia juga diakui sebagai hak-hak yang mendasar dan melekat dalam diri manusia
semenjak manusia tersebut di dalam kandungan. Penegakan hak asasi bagi warga negara Indonesia
dalam keketapan MPR ini merupakan bentuk perlindungan hak asasi yang menjunjung tinggi arti penting
dan fungsi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Beberapa hak asasi manusia yang
terdapat dalam ketetapan MPR ini antara lain:

Hak untuk hidup

Hak untuk berkeluarga

Hak untuk melakukan pengembangan diri

Hak untuk mendapatkan keadilan

Hak untuk mendapatkan kemerdekaan

Hak atas kebebasan informasi

Hak atas rasa aman

Hak atas kesejahteraan

Perlu kita ketahui, Ketetapan MPR MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak-Hak Asasi Manusia sudah
tidak berlaku lagi di Indonesia. Ketetapan MPR ini telah melebur pada Undang-Undang No. 39 Tahun
1999 yang dibahas pada poin selanjutnya dalam artikel ini.

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 merupakan undang-undang yang menggantikan Ketetapan MPR
MPR Nomor XVII/MPR/1998. Undang-undang ini bersikan hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh
setiap warga negara tanpa terkecuali. Melalui undang-undang ini, penegakan hak asasi bagi seluruh
masyarakat Indonesia lebih diperkuat sejalan dengan pandangan bangsa mengenai Pancasila sebagai
filsafat bangsa Indonesia. Karena Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 adalah penyempurnaan dari
Ketetapan MPR MPR Nomor XVII/MPR/1998, maka terdapat beberapa tambahan mengenai hak-hak
asasi manusia sebagai warga negara Indonesia. Penambahan cakupan hak-hak asasi tersebut antara lain:

Hak untuk berperan serta dalam sistem pemeritnahan

Hak-hak perempuan

Hak-hak anak

Tiga tambahan dari cakupan hak asasi manusia sebagai warga negara Indonesia menjadi pelengkap
dalam penegakan hak asasi yang dilakukan oleh pemerintah. Penambahan cakupan hak-hak tersebut
telah mewakili enam hak asasi manusia secara umum. Adanya cakupan khusus terhadap hak-hak
perempuan dan anak menjadikan pemerintah Indonesia membentuk lembaga khusus terkait dengan
kedua hal tersebut. Lembaga khusus ini akan dibahas secara lebih lanjut dalam artikel ini.

Undang-Undang No. 23 Tahun 2004

Undang-Undang No. 23 Tahun 20014 adalah undang-undang yang berisikan tentang penghapusan
kekerasan dalam rumah tangga. Undang-undang ini merupakan sebuah tindak lanjut dari Undang-
Undang No. 1 Tahun 1974 yang mengatur tentang perkawinan. Seperti yang kita ketahui, dalam
kehidupan berumah tangga, setiap anggota keluarga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dan rasa
aman di dalam kehidupan berkeluarganya. Kebahagiaan dan rasa aman merupakan hak asasi yang
dimiliki oleh manusia baik itu di dalam kehidupan berkeluarga maupun di dalam kehidupan
bermasyarakat secara luas.

Perwujudan rasa bahagia serta rasa aman terhadap anggota keluarga merupakan peran yang sebaiknya
dilakukan oleh seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali. (baca juga: Peran Ayah dalam Keluarga)
Kekerasan baik secara fisik maupun non fisik sangat dilarang dalam kehidupan keluarga. Pelarangan
tindak kekerasan dalam rumah tangga juga dimuat dalam undang-undang ini. Bagi siapapun yang
melakukan kekerasan dalam rumah tangganya, orang tersebut dapat dikenai sanksi baik secara hukum
maupun sosial sesuai dengan undang-undang ini.

Undang-Undang No. 35 Tahun 2014


Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 merupakan undang-undang tentang perubahan atas UU No. 23
Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak. Undang-undang ini mengatur hak-hak asasi yang dimiliki oleh
masyarakat Indonesia khususnya hak-hak asasi yang dimiliki oleh setiap anak yang ada di Indonesia.
(baca juga: Hak Perlindungan Anak) Di dalam undang-undang ini disebutkan bahwa hak-hak anak perlu
dilindungi dan ditegakkan agar anak tersebut dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi
secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat secara kemanusiaan. Selain itu, anak perlu
mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi.

UUD 1945 Pasal 27 – 34

Isi dari UUD 1945 pasal 27 sampai dengan pasal 34 mengatur dan menjamin hak-hak warga negara
Indonesia dalam berbagai aspek. Pada intinya, isi yang terkandung dalam UUD 1945 pasal 27 sampai
dengan pasal 34 ini berkaitan dengan hak-hak asasi yang dimiliki oleh manusia secara umum seperti yang
dipaparkan pada paragraf pertama dalam artikel ini. UUD 1945 Pasal 27 – 34 lebih mekankan kepada
penjaminan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh segenap warga negara Indonesia.

2. Pembentukan Pemerintah Komisi Nasional

Dalam upaya pemerintah dalam menegakkan HAM terhadap hak asasi manusia bagi warga negara
Indonesia, pemerintah membentuk beberapa komisi nasional guna membantu pemerintah dalam
menegakkan hak asasi. Adapun komisi nasional tersebut antara lain:

Komisi Nasional Perempuan

Komisi Nasional Perempuan merupakan komisi nasional yang dibentuk oleh pemerintah dalam
melakukan upaya penegakan hak asasi manusia khususnya pada hak asasi perempuan. Komisi ini lahir
dari tuntutan masyarakat di Indonesia khusunya kaum wanita sebagai bentuk perwujudan tanggung
jawab pemerintah dalam menanggapi contoh konflik sosial dalam masyarakat yang ditujukan kepada
kaum wanita di Indonesia. Dalam menjalankan peran dan fungsinya, komisi ini mempunyai tujuan untuk:

Menghapuskan bentuk-bentuk kekerasan terhadap kaum wanita.

Menegakkan hak-hak asasi manusia khususnya perempuan di Indonesia.

Meningkatkan upaya penanggulangan kekerasan terhadap perempuan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia


Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merupakan komisi yang dibentuk oleh pemerintah untuk
melindungi dan menegakkan hak-hak yang oleh dimiliki seluruh anak di Indonesia tanpa terkecuali.
Komisi ini didirikan pada 20 Oktober 2002 atas desakan para masyarakat sebagai orangtua yang merasa
bahwa hak-hak anaknya tidak terpenuhi dengan baik.

Dalam menjalankan peran dan fungsinya, komisi ini memiliki tugas pokok yaitu melakukan pengawasan
terhadap jalannya perlindungan anak yang di Indonesia baik di dalam lingkungan keluarga, masyarakat,
maupun pendidikan. Selain itu, KPAI juga menekankan kepada setiap orangtua tentang pentingnya
pentingnya pendidikan anak usia dini agar anak nantinya dapat mengembangkan keterampilannya dalam
kehidupan bermasyarakat.

3. Pembentukan Pengadilan HAM

Keberadaan pengadilan HAM di Indonesia merupakan salah upaya pemerintah dalam menegakkan hak
asasi manusia bagi setiap warga negara Indonesia. Pengadilan HAM ini dibentuk berdasarkan UU No. 26
Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Dalam menjalankan perannya, pengadilan ini berperan khusus
dalam mengadili kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, sebagai berikut:

Keberadaan pengadilan HAM di Indonesia merupakan salah satu langkah dalam megakkan keadilan bagi
warga negara Indonesia khususnya yang berkaitan dengan pelanggaran HAM.

Proses pelimpahan perkara yang terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi tentunya dilakukan oleh
pengadilan HAM sesuai dengan mekanisme pelaksanaan sistem peradilan di Indonesia.

Berawal dari persitiwa itulah, Indonesia melalui pemerintah kembali menegakkan hak asasi manusia
yang didasarkan pada Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Melalui sistem pemerintahan
presidensial dan parlementer yang dilaksanakan di Indonesia, pemerintah mulai mengkencangkan
perjuangannya dalam menegakkan hak-hak asasi manusia bagi warga negara Indonesia tanpa terkecuali.

Tentunya dalam penegakkan hak asasi manusia di Indonesia, pemerintah tidak melakukannya sendirian.
Pemerintah memerlukan bantuan dari beberapa lembaga penegak hukum yang ada di Indonesia. Selain
itu, dalam menegakkan hak asasi bagi warga negaranya, pemerintah Indonesia mempunyai landasan
hukum persamaan kedudukan warga negara yang semakin mendukung dan menguatkan proses
penegakan hak asasi manusia.

4. Penegakan Melalui Proses Pendidikan


Penegakan hak asasi manusia juga dapat dilakukan melalui proses pendidikan, baik itu dalam pendidikan
formal, informal, maupun non formal. Proses penegakan yang dilakukan melalui proses pendidikan
merupakan penanaman konsep tentang HAM itu sendiri kepada peserta didik yang ikut di dalam proses
pendidikan.

Jika penegakan itu dilakukan dalam pendidikan formal yaitu sekolah, penegakan HAM tentang
penanaman konsep HAM kepada peserta didik dapat dilakukan melalui tujuan dari mata pelajaran PPKn
dan agama. (baca juga: Tujuan Pendidikan Pancasila) Harapannya, melalui penanaman konsep HAM
melalui pendidikan, peserta didik dapat melakukan penegakan HAM secara sederhana misalnya dengan
melakukan penerapan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai berikut:

Di Indonesia sendiri, hak asasi manusia dijunjung tinggi di dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar negara kita.

Pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia di dalam masyarakat telah dilakukan dari
zaman nenek moyang kita meskipun dulu belum mengenal dengan betul apa itu hak asasi manusia.

Nenek moyang kita di Indonesia mengenal hak asasi manusia sebagai hak-hak sebagaimana umumnya
seperti hak yang tercantum dalam UUD 1945. (baca juga: Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam UUD
1945)

Setiap warga negara Indonesia mempunyai hak untuk memperjuangkan hak-hak asasinya jika hak-hak
asasi tersebut belum terpenuhi secara maksimal.

Setiap warga negara Indonesia tidak perlu merasa takut atau sungkan dalam menuntut hak asasinya
karena terdapat dasar hukum yang mengatur itu semua. (baca juga: Dasar Hukum HAM)

Indonesia sebagai negara yang mengimplementasikan nilai-nilai dasar Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara sudah seharusnya menjunjung tinggi setiap hak asasi yang dimiliki oleh
warga negaranya. Tindakan seperti ini sangat diperlukan guna meminimalisir dan mengurangi
kemungkinan terjadinya pelanggaran hak warga negara Indonesia. Perlu diketahui oleh kita semua, pada
era sistem pemerintahan orde baru berlangsung, terdapat banyak peristiwa atau kasus yang menimpa
warga negara Indonesia terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia seperti yang diungkapkan oleh
Ignatius Haryanto dalam bukunya tentang Kejahatan Negara (1999). Selain itu, setelah masa
pemerintahan orde baru selesai, pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia juga masih terjadi.
Peristiwa atau kasus yang pernah kita dengar tekait dengan hal ini adalah peristiwa pelanggaran HAM di
Timor Timur pada tahun 1999

Upaya penanganan ham di indonesia


Supremasi hukum dan demokrasi harus ditegakkan. Pendekatan hukum dan pendekatan dialogis
harus dikemukakan dalam rangka melibatkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Para pejabat penegak hukum harus memenuhi kewajiban dengan memberikan pelayanan
yang baik dan adil kepada masyarakat, memberikan perlindungan kepada setiap orang dari perbuatan
melawan hukum, dan menghindari tindakan kekerasan yang melawan hukum dalam rangka menegakkan
hukum.

Meningkatkan kualitas pelayanan publik untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk pelanggaran
HAM oleh pemerintah.

Meningkatkan pengawasan dari masyarakat dan lembaga-lembaga politik terhadap setiap upaya
penegakan HAM yang dilakukan oleh pemerintah.

Meningkatkan penyebarluasan prinsip-prinsip HAM kepada masyarakat melalui lembaga pendidikan


formal (sekolah/perguruan tinggi) maupun nonformal (kegiatan-kegiatan keagamaan dan kursus-kursus).

Meningkatkan profesionalisme lembaga keamanan dan pertahanan negara.

Meningkatkan kerja sama yang harmonis antarkelompok atau golongan dalam masyarakat agar
mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan pendapat masing-masing.

Sejarah perkembangan ham

Sejarah Hak Asasi Manusia

Secara historis hak asasi manusia sebagaimana yang saat ini dikenal (baik yang di cantumkan dalam
berbagai piagam maupun dalam UUD), memiliki riwayat perjuangan panjang bahkan sejak Abad Ke-13
perjuangan untuk mengukuhkan gagasan hak asasi manusia ini sesudah dimulai segera setelah di tanda
tanganinya Magna Charta pada tahun 1215 oleh raja John Lackbland, maka sering kali peristiwa ini di
catat sebagai permulaan dari sejarah perjuangan hak-hak asasi manusia, sekali pun sesungguhnya
piagam ini belum merupakan perlindungan terhadap hak-hak asasi sebagaimana yang di kenal surat ini.

Menurut Muhammad Kusnardi dan Ibrahim di jelaskan bahwasannya perkembangan dari hak-hak asasi
manusia adalah dengan ditanda tanganinya Polition of Rights pada tahun 1628 oleh raja Charles 1. Kalau
pada tahun 1215 raja berhadapan dengan kaum bangsawan dan gereja, yang mendorong lahirnya
Magna Charta, maka pada tahun 1628 tersebut raja berhadapan dengan parlemen yang terdiri dari
utusan rakyat (The House Of Comouons) kenyataan ini memperlihatkan bahwa perjuangan hak-hak asasi
manusia memiliki korelasi yang erat sekali dengan perkembangan demokrasi.
Namun dalam hal ini yang perlu dicatat, bahwasannya hak asasi manusia itu telah ada sejak abad 13,
karena telah adanya pejuangan-perjuangan dari rakyat untuk mengukuhkan gagasan hak asasi mausia
sudah di miliki.

Jenis2 ham