Anda di halaman 1dari 10

UNIVERSITAS SERANG RAYA

RINGKASAN BAB I DAN II

“UNSERSTANDING PROBLEMS WITH SYSTEMS THINKING”

Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemodelan Sistem

Disusun Oleh :

Septian Setia Gunanasyah

21216039

B3/R2

JENJANG SARJANA

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNIK

SERANG – 2019
BAB I

BERPIKIR SISTEM UNTUK MENGATASI PENINGKATAN KOMPLEKSITAS

A. KOMPLEKSITAS MENINGKAT AKIBAT ADANYA KONEKTIVITAS


Penyebab utama “ledakan” permasalahan yang kompleks ini adalah karena adanya
hubungan konektivitas yang semakin meningkat antara komponen. Ini berakibat permasalahannya
bukan terletak kepada komponen tetapi karena kekuatan konektivitas yang terganggu atau terlalu
kuat. Semakin banyak komponen akan meningkatkan hubungan, semakin tinggi hubungan
semakin kompleks permasalahan secara eksponensial. Ini yang disebut sebagai kompleksitas
detail. Jika dilihat pada Gambar 1-1 maka ketika jumlah komponen lebih dari 3, maka hubungan
yang terjadi telah melebihi dari jumlah komponennya (Flood and Carson 1993).

Gambar 1-1 Hubungan yang mungkin terjadi dengan jumlah komponen tertentu

Namun ada lagi jenis kompleksitas lainnya, yang disebut kompleksitas dinamis, yaitu
kompleksitas yang terjadi bukan hanya karena jumlah hubungan, namun juga ditambah dengan
kualitas dari hubungan tersebut yang berubah seiring dengan waktu.

Kompleksitas akibat konektivitas, membuat pendekatan mekanistis tidak cocok digunakan


karena tidak memberikan fokus yang lebih terhadap konektivitas, tetapi hanya kepada komponen.
Namun bukan berarti pendekatan ini tidak baik, tergantung dengan kecocokan permasalahan yang
dihadapi.
Permasalahan yang kompleks biasanya lebih terlihat tidak beraturan, tidak mengikuti
sebuah pola umum yang biasa atau berulang-ulang terjadi seandainya tidak diselesaikan pada
tingkat strukturnya. Ciri-ciri ini berasal dan merupakan akibat kompleksitas dari struktur
konektivitas permasalahannya (Gharajedaghi 2006).

B. KONEKTIVITAS MENGUBAH FOKUS KEPADA PROSES DAN STRUKTUR


Ada 3 tahap yang harus bisa kita mulai untuk mengubah fokus permasalahan:

1. tahap pertama adalah mengubah fokus yang tadinya dari output kejadian kepada proses.
Untuk mendorong analisa kita untuk melihat apa yang ada dibelakang layar.
2. tahap kedua adalah mengubah fokus proses kepada pola . Fokus kita melihat dan
memahami proses maka kita bisa mendapatkan dan memprediksi adanya pola output
kejadian seiring dengan berjalannya proses.
3. tahap kedua adalah mengubah fokus pola ke struktur yang menimbulkan pola dan
kejadian tersebut. Perlu mengidentifikasikan perubahan yang mungkin terjadi kepada
proses, artinya perlu diidentifikasikan input yang dibutuhkan, serta bagaimana semua
terhubung melalui umpan-balik. Mekanisme umpan balik dari output maupun dari proses,
seperti pada ilustrasi Gambar 1-2

Gambar 1-2 Struktur Dasar Sistem: Input, Proses, Output dan Umpan-Balik

Sebuah analisa sistem sering pula diterjemahkan sebagai cara memetakan permasalahan
dengan struktur dasar sistem, yaitu memetakan apa inputnya, bagaimana memprosesnya,
bagaimana output dan cara umpan balik yang terjadi. Fenomena ini sering disebut sebagai
fenomena gunung es, seperti yang diilustrasikan pada Gambar 1-3.
Gambar 1-3 Struktur dan Pola yang tidak terlihat seperti sebuah Gunung Es di Laut

Konektivitas yang mengakibatkan masalah yang semakin kompleks akan memotivasi kita untuk
mengubah cara pandang dari hanya sekedar output (kejadian) ke eksplorasi struktur dari sistem
permasalahan.

C. DIBUTUHKAN POLA BERPIKIR YANG SESUAI DENGAN PENINGKATAN


KOMPLEKSITAS

Pola masalah baru tersebut memiliki perilaku yang berbeda menghadapi solusi yang kita
berikan, perilaku itu misalnya,

• Ketika permasalahan yang kita hadapi saat ini berasal dari solusi yang kita terapkan pada
masa lalu

• Ketika solusi yang anda dorong ke permasalahan menimbulkan reaksi dorong balik dari
sistem

• Ketika solusi berhasil membuat perilaku sistem membaik untuk sementara namun
memburuk lebih parah pada jangka panjang
• Ketika solusi malah memperparah kondisi sistem dan menjadi sumber masalah baru yang
lebih parah dari masalah sebelumnya (The cure can be worse than the disease)

• Ketika solusi yang mempercepat malah memperlambat (faster is slower)

Pola baru masalah ini tentunya membutuhkan pola baru dalam berpikir untuk menguraikan
dan memecahkan masalah. Sebuah pola baru yang:

• berbasis kepada kompleksitas yang ditimbulkan pola konektivitas bukan saja kepada
komponennya (fokus kepada struktur konektivitas yang tidak terlihat)

• iteratif, karena lebih sulit untuk menemukan konektivitas dibandingkan komponen,


sehingga dibutuhkan usaha yang berulang-ulang

• kontekstual, karena masalah bisa saja berubah seiring dengan waktu dan tempat akibat
perubahan pola konektivitas.

Pola inilah yang ingin dibentuk dalam berpikir sistem.


BAB II
APAKAH BERPIKIR ITU?

A. BERPIKIR ADALAH PROSES MENJAWAB PERTANYAAN

Bertanya memicu sebuah proses pembuatan jawaban, yaitu berpikir. Jika dijabarkan prosesnya
maka kualitas proses menjawab pertanyaan ini bergantung kepada keahlian berpikir kita dan
pengetahuan yang kita miliki dan bisa dillustrasikan seperti pada Gambar 2-1.

Gambar 2-1 Struktur Proses Pemikiran dalam Menjawab Pertanyaan


Gambar diatas dapat dibaca sebagai berpikir adalah proses menjawab pertanyaan tertentu
sebagai tujuan akhir dalam suatu kerangka cara pandang kita berdasarkan kepada asumsi kita
terhadap implikasi dan konsekuensi (dari hasil berfikir kita nantinya) menggunakan data, fakta
dan pengalaman untuk menyusun hubungan & pertimbangan berdasarkan pengetahuan konsep dan
teori yang kita miliki.

1. Kerangka cara pandang ini bisa berupa arah pandang. Biasaya arah pandang pertama adalah
sudut pandang kita sendiri, berikutnya baru orang lain atau kelompok lain.
2. Data dan fakta akan menjadi sebuah informasi yang akan anda proses dalam membuat
jawaban. Kebutuhan data dan fakta akan tergantung dari cara pandang, konsep teori yang anda
pelajari serta implikasi yang anda proyeksikan.
3. Pengalaman memberikan makna kepada data dan fakta yang anda kumpulkan.
4. Konsep dan teori yang kita miliki dibangun melalui pendidikan formal dan informal.
Pendidikan adalah proses transfer pengetahuan dan pengalaman yang terseleksi dan
terkompresi sehingga meminimalisir kesalahan yang terjadi dengan belajar dari pengalaman
yang telah lampau.
5. Konsekuensi dan implikasi, Proyeksi konsekuensi ini tergantung kepada teori dan konsep
yang kita ketahui, pengalaman yang kita telah lalui, serta data dan fakta yang kita
interpretasikan.

B. POLA PIKIRAN SEBAGAI SEBUAH STRUKTUR PIKIRAN


"If everyone is thinking alike, then somebody isn't thinking." (George S. Patton)

Pola adalah sebuah rencana, cara atau model yang bisa diikuti untuk melakukan atau
membuat sesuatu. Namun ternyata pola bisa membuat kita berbuat kesalahan jika kita
menggunakan pola yang salah. Kenapa kita tetap menggunakan pola yang salah, karena ada 2
jebakan utama menggunakan pola, yaiu kemudahan terdekat (Nearest Easy) dan kesamaan
terdekat (Nearest Fit).

Kemudahan terdekat (Nearest Easy) adalah ketika permasalahan yang sebenarnya tidak sama
tetapi kita paksakan sama walau hanya memiliki sedikit kemiripan dari permasalaha yang pernah
kita hadapi.

Kesamaan terdekat (Nearest Fit). Otak kita setiap saat memproses segala informasi yang
dipaparkan atau terpaparkan didepan kita. Namun dalam kesamaan terdekat, otak terkadang
mengkonstruksi suatu hal yang sebenarnya tidak ada, karena kita merasa pernah melihat yang
sama.
C. DAMPAK NEGATIF JEBAKAN POLA PIKIRAN
Dampak negatif dalam jebakan pola pikiran mencakup,

a) Generalisasi

Proses dimana kita mengambil kesimpulan umum dari data atau fakta tanpa
mempertimbangkan bahwa ada kesimpulan lain yang juga bisa benar.
b) Konstruksi

Konstruksi adalah ketika kita menkonstruksi sebuah konsep berbasis kepada imajinasi
dari sedikit informasi yang kita punya.

c) Eliminasi

Eliminasi adalah ketika kita menghilangkan data, fakta atau informasi yang
sebenarnya relevan, namun kita tidak tahu atau tidak mau tahu.

d) Pembobotan

Pembobotan adalah ketika kita memberikan bobot yang lebih kepada fakta atau
informasi yang sesuai dengan keinginan kita, dan mengurangi bobot kepada fakta atau
informasi yang bertentangan.

D. DAMPAK POSITIF POLA PIKIRAN


1. Menghindarkan dari bahaya

2. Mengurangi distraksi

E. BEKAL BERPIKIR SISTEM DARI POLA BERPIKIR LAINNYA


1) BERPIKIR LOGIS
Berpikir logis dapat didefinisikan dengan kemampuan untuk menghubungkan dua
atau lebih komponen atau faktor dalam sebuah hubungan yang secara umum
diterima argumentasi validitasnya. Berpikir logis dengan kedisiplinan urutan
argumen, juga memudahkan melakukan berpikir sistem , karena komponen-
komponen argumen harus dirangkai dalam urutan sedemikian rupa sehingga secara
lagika bisa diterima

2) BERPIKIR KRITIS
Sebuah proses untuk melakukan konseptualisasi, analisa, atau sintesa dari informasi
yang didapatkan dari berbagai sumber sebagai panduan untuk bertindak atau
mengambil keputusan. Proses berpikir kritis adalah sebuah proses argumentasi
berbentuk tanya jawab terhadap sebuah klaim.
Komponen terpenting dalam berpikir kritis didalam menyusun pola berpikir sistem
adalah proses menyusun pertanyaan-pertanyaan argumentatif yang relevan dalam
struktur logis.

3) BERPIKIR HOLISTIK (PANDANGAN HELIKOPTER)


Berpikir holistik sering disebut pula sebagai forest thinking sebagai lawan tree
thinking yang detail (Richmond 2000).
Berpikir holistik sangat penting karena semua penjelasan bisa berbeda tergantung
dari konteks, dan konteks tergantung dari luasnya pandangan kita. Pemahaman
sistem juga akan berbeda jika konteksnya akan berubah.

D. BERPIKIR LATERAL SEBAGAI BEKAL BERPIKIR SISTEM


Berpikir lateral dicetuskan oleh Edward De Bono awalnya sebagai sebuah pendekatan dan
metode untuk meningkatkan kreativitas (De Bono 1971). Dasar dari berpikir lateral adalah
bagaimana menghentikan momentum ini sehingga kita memiliki celah kesempatan untuk
memperhatikan pola lain.

Berpikir lateral didefinisikan sebagai pola berpikir untuk mencari solusi dari sebuah
permasalahan, melalui penciptaan asosiasi dengan hal-hal lain (yang pada awalnya) seperti tidak
memiliki hubungan.

Teka-teki ini adalah teka-teki khas berpikir lateral karena petunjuknya sebenarnya ada didalam
teka-teki ini namun biasanya harus:
1) mencari sebuah konteks dimana petunjuk-petunjuknya menjadi masuk akal dan terkoneksi
2) jangan menggunakan interpretasi atau solusi pertama menghalangi kita untuk berpikir
lebih lanjut secara lateral. Kita harus mengevaluasi interpretasi dan pola berpikir yang kita
miliki, termasuk yang terpenting interpretasi terhadap bahasa.

Tabel 2.1 Kelompok Alat Bantu dalam DATT De Bono

Menyusun Solusi
Pengubahan Pandangan Berpikir Konstruktif
Konstruktif
PMI (Plus Minus Interesting) Logic Bubble – Ruang Logika TULUS – Tujuan, Luaskan,
AKP (Analisa, Kemungkinan MKP – Memeriksa Kedua Sempitkan
Pilihan) Pihak TIPPO – Tujuan, Input,
STI – Setuju, Tak-Sepakat dan Pemecahan, Pilihan, Operasi
Irrelevan
POL – Pandangan Orang Lain

DATT bertujuan untuk mengalihkan perhatian pikiran kita sehingga kita tidak terjebak
dalam pola sama. Konsep ini disebut berpikir fokus (focused thinking), yaitu memfokuskan pikiran
kita ke selain kebiasaan berpikir kita. Ini berarti kita berfokus untuk berpikir berbeda dari yang
biasanya.