Anda di halaman 1dari 8

Ketentuan perubahan anggaran dasar juga diatur pada Peraturan Menteri Hukum dan

Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. 4 Tahun 2014 tentang Tata Cara

Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan Persetujuan Perubahan

Anggaran Dasar serta Penyampaian Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar dan

Perubahan Data Perseroan Terbatas. Perubahan jangka waktu berdirinya perseroan

yang termasuk dalam perubahan anggaran dasar yang terdapat pada Pasal 18 ayat (2)

Permenkumham No. 4 Tahun 2014. Pasal 18 ayat (4) Permenkumham No. 4 Tahun

2014 menyatakan perubahan anggaran dasar yang tidak dimuat dalam akta berita

acara rapat yang dibuat Notaris harus dinyatakan dalam akta Notaris dalam jangka

waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS dan

Pasal 18 ayat (6) Permenkumham No. 4 Tahun 2014 menyatakan Permohonan

persetujuan perubahan anggaran dasar tertentu sebagaimana diatur pada ayat (2)

diajukan kepada Menteri, dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari

terhitung sejak tanggal akta Notaris yang memuat perubahan anggaran dasar. Jangka

waktu permohonan persetujuan perubahan dasar untuk memperoleh persetujuan

Menteri pada Permenkumham No. 4 Tahun 2014 adalah paling lama 60 (enam

puluh) hari sejak dibuatnya akta berita acara atau sejak tanggal keputusan RUPS

sebagaimana yang terdapat pada Pasal 18 ayat (4) dan Pasal 18 ayat (6). Permohonan

persertujuan perubahan anggaran dasar untuk memperoleh persetujuan menteri baik

pada UU No. 40 Tahun 2007 dan Permenkumham No. 4 Tahun 2014 sama – sama di

ajukan dalam jangka waktu paling lambat60 (enam puluh) hari, hanya saja pada UU

No. 40 Tahun 2007 jangka waktu paling lambat 60 ( enam puluh) hari untuk
mengajukan persetujuan menteri sebelum jangka waktu Perseroan berakhir. Pasal 18

ayat (7) Permenkumham No. 4 Tahun 2014 menyatakan apabila jangka waktu 30

(tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (6) telah lewat, permohonan

persetujuan perubahan anggaran dasar tidak dapat diajukan kepada Menteri.

Keterlambatan memperoleh persetujuan menteri membuat perubahan anggaran dasar

mengenai perubahan jangka waktu berdirinya perseroan tidak dapat dilakukan

kemudian apabila permohonan yang tidak dapat diajukan tersebut telah melewati

batas waktu sebagaimana yang di atur pada Pasal 22 UU No. 40 Tahun 2007 oleh

karena itu perseroan tidak dapat memperpanjang jangka waktu berdirinya dan

berakhir sehingga perseroan bubar demi hukum serta di lakukan pemberesan.

pemberesan pada perseroan merupakan akibat hukum dari keterlambatan pengurusan

permohonan perubahan jangka waktu berdirinya perseroan. Perseroan tidak dapat

melanjutkan eksistensinya karena jangka waktu yang berakhir padahal sebenarnya

perseroan tersebut ingin memperpanjang jangka waktunya. Menurut penulis dengan

kemajuan teknologi salahsatunya dengan adanya Sistem Administrasi Badan Hukum

(SABH) dimana pengesahan dan persetujuan Menteri dapat diperoleh secara online.

SABH diharapkan juga dapat membantu perseroan apabila melalui SABH terdapat

pemberitahuan kepada perseroan yang mempunyai jangka waktu yang akan berakhir.

Pemberitahuan diberikan pada saat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya jangka waktu

perseroan kepada Notaris tempat perseroan di daftarkan, sehingga perseroan dapat


melaksanakan RUPS dan melakukan pengurusan lebih awal apabila perseroan ingin

memperpanjang jangka waktu pendiriannya.

Selain dari Undang – Undang No. 40 tahun 2007 penulis juga melakukan wawancara

mengenai akibat hukum keterlambatan pengurusan jangka waktu pendirian perseroan

pada Notaris yang ada di Semarang yaitu:

1. Notaris Sugiharto, S.H

Alamat : Jl. Puri Anjasmoro I No. 21, Semarang

Pelaksanaan wawancara : 10 Januari 2018

2. Notaris Ngadino, S.H.,M.H.

Alamat : Jl. Majapahit No. 238, Semarang

Pelaksanaan wawancara : 18 Januari 2018

Hasil wawancara yang dilakukan kepada Notaris Sugiharto S.H., dan Notaris

Ngadino, S.H.,M.H., keduanya tidak pernah menemukan atau menemui kasus tentang

keterlambatan pengurusan jangka waktu berdirinya perseroan. Pasal 6 UU No. 40

tahun 2007 menyatakan perseroan didirikan untuk jangka waktu terbatas atau tidak

terbatas sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar tetapi pada prakteknya

Notaris Sugiharto, S.H., dan Notaris Ngadino S.H.,M.H., dalam membuat akta

pendirian suatu perseroan dengan jangka waktu tidak terbatas.

Notaris Ngadino, S.H.,M.H., mengatakan pada umumnyayang terjadi suatuperseroan

tidak memiliki jangka waktu terlebih lagi suatu perseroan yang sifatnya terbuka,
karena dengan adanya jangka waktu pendirian perseroan membuat investor berfikir

ulang untuk berinvestasi. Perseroan menurut Pasal 1 angka 1 UU No. 40 tahun 2007

menyatakan perseroan terbatas, yang selanjutnya disebut perseroan adalah badan

hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian,

melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham

dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Undang – Undang ini serta peraturan

pelaksanaannya. Perseroan dengan modal yang terbagi dalam saham untuk pertama

kali modal awal badan hukum itu berasal dari kekayaan pendiri yang dipisahkan.

Modal awal itu menjadi kekayaan badan hukum, terlepas dari kekayaan pendiri.

Modal diperlukan untuk melakukan kegiatan usaha, seiring berjalannya waktu ketika

perseroan membutuhkan penambahan modal biasanya mereka akan menambah

modalnya melalui metode go public dan menerbitkan saham ke public. Modal terbagi

dala saham – saham yang nantinya akan digunakan untuk menjalankan perusahaan.

Perseroan membutuhkan investor untuk membeli sahamnya tetapi apabila investor

mengetahui bahwa perseroan tersebut didirikan dalam jangka waktu tertentu seperti

yang terdapat pada anggaran dasar, investor akan memilih untuk tidak berinvestasi

karena mereka menginginkan investasi yang menguntungkan dalam jangka waktu

yang panjang sehingga investor lebih memilih berinvestasi pada perseroan yang

berdiri tanpa jangka waktu atau selamanya.

Notaris Sugiharto,S.H., dan Notaris Ngadino S.H.,M.H, memberikan contoh kasus

yang berkaitan dengan keterlambatan pengurusan perseroan terbatas. Notaris


Sugiharto, S.H., memberikan contoh kasus keterlambatan pengurusan badan hukum

suatu perseroan yang menyebabkan status badan hukum dari perseroan tersebut

gugur. Menurut Notaris Sugiharto S.H., keterlambatan pengurusan badan hukum

suatu perseroan masih bisa dilakukan pengurusan kembali dengan cara membuat akta

pendirian PT kembali berdasarkan UU No. 40 Tahun 2007 yang dituangkan kedalam

akta notaris. Pemegang saham / Direksi memberi kuasa kepada Notaris untuk

mengurus pengesahan dari pada Akta tentang Perubahan Anggaran Dasar tersebut

kepada Menteri Hukum dan HAM RI. Pengesahan atau persetujuan dari Menteri saat

terbit Surat Ketetapan (SK) maka pada saat itu Status Badan Hukum PT telah

diperoleh kembali. Pasal 10 ayat (7) dan (8) UUPT ini menjadi dasar keterlambatan

pengurusan perolehan Status Badan Hukum Perseroan Terbatas dapat di ajukan

kembali. (lihat buku halaman 73- 76)

Notaris Ngadino,S.H., M.H., memberikan contoh kasus yang sering terjadi berkaitan

dengan keterlambatan pengurusan pendirian perseroan terbatas. Perseroan yang akan

didirikan harus didahului dengan pengajuan nama perseroan. Pengajuan nama

perseroan ini diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2013 tentang Tata

Cara Pengajuan dan Pemakaian Nama Perseroan Terbatas (PP No. 43 Tahun 2011).

Nama perseroan tersebut menurut Pasal 1 ayat (2) PP No. 43 Tahun 2011 adalah

nama yang digunakan sebagai identitas suatu perseroan untuk membedakan dengan

perseroan lain. Pasal 3 Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 4 tahun 2014

menyatakan permohonan pengesahan badan hukum perseroan harus didahului dengan


pengajuan nama perseroan. Pasal 4 Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 4 tahun

2014 menyatakan pemohom mengajukan permohonan pemakaian nama perseroan

melalui Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH). Pengajuan permohonan nama

perseroan tersebut dilakukan dengan mengisi format pengajuan nama perseroan.

Format tersebut antara lain memuat:

1. Nomor pembayaran persetujuan pemakaian nama perseroan dari bank

persepsi;dan

2. Nama perseroan yang dipesan

Pemohon wajib membayar terlebih dahulu biaya persetujuan nama perseroan melalui

bank presepsi untuk 1 (satu) nama perseroan yang akan disetujui. Biaya yang telah

dibayarkan tersebut berlaku untuk jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari

terhitung sejak tanggal dibayarkan tersebut tidak dapat ditarik kembali. Pengajuan

nama tersebut dilakukan pada SABH secara elektronik. Pasal 6 PP No. 43 tahun 2011

terhadap permohonan nama perseroan tersebut menteri dapat memberikan

persetujuan maupun penolakan atas pengajuan nama perseroan dimaksud. Persetujuan

menteri tersebut disampaikan secara elektronik dalam jangka waktu paling lambat 3

(tiga) hari kerja terhitung sejak tanggal pengajuan diterima secara lengkap.

Persetujuan tersebut dilakukan secara elektronik.

Persetujuan menteri tersebut menurut Pasal 7 Peraturan Menteri Hukum dan HAM

No. 4 tahun 2014 memuat :


1. Nomor pemesanan nama perseroan;

2. Nama perseroan yang dapat dipakai;

3. Tanggal pemesanan;

4. Tanggal daluarsa; dan

5. Kode pembayaran.

Menurut Pasal 7 PP No. 3 tahun 2011, nama perseroan yang telah mendapat

persetujuan menteri tersebut wajib dinyatakan dalam aktapendirian yang memuat

anggaran dasar perseroan dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari

terhitung sejak tanggal persetujuan menteri atas pengajuan nama perseroan dimaksud,

apabila jangka wkatu tersebut terlampaui, pesetujuan menteri di atas batal demi

hukum. Akta pendirian yang dibuat setelah persetujuan nama oleh menteri inilah

dalam praktek selalu melebihi jangka waktu 60 (enam puluh) karena pemenuhan

persyaratan administrasi membutuhkan waktu lama. Akibatnya, notaris mengajukan

pemesanan nama perseroan dan melakukan pembayaran kembali karena jangka waktu

yang terlampaui. Notaris Ngadino,S.H.,M.H., mengatakan apabila pengulangan

pemesanan nama perseroan yang sama berakibat dapat di blokirnya nama perseroan

tersebut dan kemudian pendiri harus membuat nama perseroan yang baru.

Berkaitan dengan akibat hukum keterlambatan pengurusan jangka waktu berdirinya

perseroan, Notaris Sugiharto,S.H., memberikan pendapat walaupun jangka waktu

berdirinya perseroan pada umumnya tidak terbatas tetapi apabila terjadi hal tersebut

maka berdasar UUPT perseroan tesebut gugur otomatis dan berakhir karena hukum
sehingga perlu melakukan pemberesan dan mendirikan perseroan baru. Akibat hukum

inilah yang kurang tepat di berlakukan karena apabila perseroan yang telah berdiri

dalam jangka waktu tertentu ingin memperpanjang jangka waktu pendiriannya

kemudian terlambat melakukan pengurusan dan tidak dapat mengajukan kembali

maka hal ini sangat merugikan perseroan karena harus melakukan pemberesan dan

membuat perseroan baru.