Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

Demam Tifoid

Disusun oleh:
dr. Maha Swardwipayana Putra Thedja

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA


MATARAM
INTERNSHIP DOKTER INDONESIA
2019
BAB I

1
LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : MAFP
Umur : 8 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
RM : 343243
Agama : Islam
Suku : Sasak

II. Anamnesis
Keluhan Utama: Demam
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dengan keluhan utama demam. Demam dirasakan sejak 8 hari
yang lalu. Demam dikatakan mendadak tinggi terutama menjelang malam hari
dan turun pada pagi hari. Suhu tubuh pasien sempat turun namun tidak sampai
suhu normal. Pasien sudah pernah berobat di bidan untuk keluhan demam ini
namun keluhan tidak membaik. Pasien juga mengeluh tidak bisa BAB sejak 3
hari yang lalu. Selain itu pasien juga dikatakan gelisah sejak awal demam.
Makan dan minum pasien dikatakan menurun. Keluhan lain seperti batuk,
pilek, mual, muntah, dan diare disangkal pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami demam yang sama seperti saat
ini. Riwayat penyakit seperti diabetes mellitus tipe 1, penyakit jantung bawaan
atau kelainan bawaan lainnya tidak ada. Riwayat alergi pada pasien juga tidak
ada.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Keluarga pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama seperti pasien.
Riwayat penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes mellitus, dan
hipertensi disangkal oleh keluarga. Riwayat alergi pada keluarga tidak ada.

Riwayat Sosial, Ekonomi dan Lingkungan:


Pasien merupakan anak kedua dan tinggal bersama orang tua dan kakaknya.
Pasien senang jajan di pedagang kaki lima dan jarang mencuci tangan sebelum
makan.

2
III.Pemeriksaan Fisik
Status Present
- Keadaan umum : Lemah
- Kesadaran : Compos mentis
- Nadi : 130x/menit, regular, kuat angkat, isi cukup
- Laju respirasi : 24x/menit, reguler
- Temperatur Axilla : 38,7 oC
Status General
- Kepala : Normocephali
- Mata : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterus -/-, RP +/+
isokor
- THT :
Telinga : Sekret (-),
Hidung : Sekret (-), NCH (-)
Tenggorokan : Mukosa bibir kering (-), faring hiperemis (-),
Tonsil T1/T1, Lidah kotor (+)
- Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
- Thoraks : Simetris (+), retraksi (-)
Jantung : S1S2 tunggal, regular, murmur (-)
Paru-paru : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-
- Abdomen :
Inspeksi : Distensi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Hepar dan lien tidak teraba,
nyeri tekan (+) epigastrium, massa (-)
Perkusi : Timpani, hepar dan lien tidak membesar
- Kulit : Sianosis (-), turgor kembali cepat
- Ekstremitas : Akral hangat (+) pada keempat ekstremitas, edema
(-), CRT < 3 detik, Uji Tourniquet (-).
IV. Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap
Parameter Hasil Nilai Normal
WBC 3,70 4.50-13,50
Neo % 73,9 50,0 - 70,0
Lymp % 23,0 20,0 - 40,0
HCT 28,0 31,0 - 43,0
HGB 9,8 10,7-14,7

3
MCV 75,0 76-88
MCH 26,4 23-35
PLT 146 150 – 450

Salmonella typhi IgM : positif

V. Diagnosis
Demam Tifoid

VI. Penatalaksanaan
- IVFD D5 ½ NS 1000cc/24 jam
- Paracetamol 10mg/kgBB/kali ~ 170mg tiap 4 jam
- Injeksi ceftriakson 1g/12 jam
- Injeksi Ranitidin 2x20mg
- Diet lunak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kata "tifus" berasal dari bahasa Yunani "typhos" yang berarti "kabut".
Demam tifoid merupakan infeksi sistemik akut yang terjadi karena infeksi
Salmonella typhi yang bercirikan lesi definitif di plak Peyer, kelenjar mesentrika
dan limpa. Organisme tersebut memasuki tubuh melalui jalur (oral)
gastrointestinal dan mendapatkan akses ke aliran darah melalui system limfatik.
Demam tifoid didapatkan dari mengonsumsi air dan makanan yang
terkontaminasi atau oleh kontak langsung (tangan kotor).1, 2
2.2 Epidemiologi

4
Beberapa negara sudah menjalankan imunisasi tifoid sesuai rekomendasi World
Health Organization (WHO) sehingga sulit menentukan prevalensi penyakit
tersebut di dunia. Beberapa system surveilans untuk kasus demam tifoid di negara
berkembang sangat terbatas, terutama di tingkat komunitas, sehingga prevalensi
penyakit yang sesungguhnya sangat sulit diperoleh. Data surveilans yang tersedia
menunjukkan bahwa di dunia pada tahun 2016, estimasi penyakit adalah sebanyak
15 juta kasus dan mengalami kematian sebanyak 600.000 kasus. Namun, lebih
dari 80% kasus demam tifoid terjadi di benua Asia dan Afrika yang mayoritas
terdiri dari negara-negara berkembang. Meskipun demikian, penyakit ini juga
tidak menutup kemungkinan terjadi pada negara maju, contohnya terjadi di UK
dengan 1 dari 1.000.000 orang terjangkit demam tifoid tiap tahunnya. Data
tersebut diekstrapolasi dari beberapa penelitian sehingga dapat kurang tepat,
apalagi karena pemeriksaan penunjang diagnosis yang tidak akurat. 2
Di Indonesia, insiden demam tifoid banyak dijumpai pada populasi yang
berusia 3 – 19 tahun. Selain itu, demam tifoid di Indonesia juga berkaitan dengan
rumah tangga, yaitu adanya anggota keluarga dengan riwayat terkena demam
tifoid, tidak adanya sabun untuk mencuci tangan, menggunakan piring yang sama
untuk makan, dan tidak tersedianya tempat buang air besar dalam rumah. 3,4
Periode inkubasi biasanya 8 – 14 hari, tetapi bisa antara 3 hari sampai 2
bulan. Dua sampai 5 persen orang yang terinfeksi menjadi karier kronik yang
membawa S. typhi di kantung empedunya. Karier kronik sangat terlibat dalam
penyebaran penyakit. Banyak infeksi ringan dan atipikal yang terjadi dan terulang
merupakan hal yang biasa. Pasien yang terinfeksi dengan HIV memiliki risiko
yang signifikan meningkat untuk terkena penyakit yang parah karena S. typhi dan
S. paratyphi. 4
2.3 Etiologi
Salmonella typhi sama dengan Salmonela yang lain adalah bakteri Gram-
negatif, memiliki flagel, berkapsul, bersifat fakultatif aerob dan tumbuh subur
pada media yang mengandung empedu. Bakteri Salmonella typhi memiliki
beberapa komponen antigen antara lain antigen somatik (O) yang merupakan
oligosakarida dan bersifat spesifik grup dan mengandung endotoksin. Flagela (H)
yang merupakan komponen protein berada dalam flagella dan bersifat spesisifk

5
spesies. Antigen envelope (K) yang terdiri dari polisakarida. Salmonella typhi juga
memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel
antibiotik.3, 5
2.4 Patogenesis
Patogenesis demam tifoid melibatkan 4 proses kompleks mengikuti ingesti
organisme, yaitu: (1) penempelan dan invasi sel-sel M Peyer’s patch, (2) bakteri
bertahan hidup dan bermultiplikasi di makrofag Peyer’s patch, nodus limfatikus
mesenterikus, dan organ-organ sistem retikuloendotelial ekstra intestinal, (3)
bakteri bertahan hidup di dalam aliran darah, dan (4) produksi enterotoksin yang
meningkatkan kadar cAMP di dalam kripta usus dan menyebabkan keluarnya
elektrolit dan air ke dalam lumen intestinal. 3, 5
Jalur Masuknya Bakteri Dalam Tubuh
Bakteri Salmonella typhi bersama makanan/minuman masuk ke dalam tubuh
melalui mulut. Pada saat melewati lambung dengan suasana asam (pH < 2)
banyak bakteri yang mati. Keadaan-keadaan seperti aklorhidiria, gasterektomi,
pengobatan dengan antagonis reseptor histamin H2, inhibitor pompa proton atau
antasida dalam jumlah besar, akan mengurangi keasaman di lambung, bakteri
yang masih hidup akan mencapai folikel limfe usus halus, mengikuti aliran ke
kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang melewati sirkulasi sitemik sampai ke
jaringan RES di organ hati dan limpa. Salmonella typhi mengalami multiplikasi di
dalam sel fagosit mononuclear di dalam folikel limfe, kelenjar limfe mesenterika,
hati dan limpa.
Setelah melalui periode waktu tertentu (periode inkubasi), yang lamanya
ditentukan oleh jumlah dan virulensi kuman serta respon imun pejamu maka
Salmonella typhi akan ke luar dari habitatnya dan melalui duktus torasikus masuk
ke dalam sirkulasi sitemik. Dengan cara ini organisme dapat mencapai organ
manapun, akan tetapi tempat yang disukai oleh Salmonella typhi adalah hati,
limpa, sumsum tulang, kandung empedu dan Peyer’s patch atau penyebaran
retrograde dari empedu. Ekskresi organisme di empedu dapat menginvasi ulang
dinding usus atau dikeluarkan melalui tinja.3, 5
Peran Endotoksin

6
Diduga endotoksin dari Salmonella typhi menstimulasi makrofag di dalam hati,
limpa, folikel limfoma usus halus dan kelenjar limfe mesenterika untuk
memproduksi sitokin dan zat-zat lain. Produk dari makrofag inilah yang dapat
menimbulkan nekrosis sel, sistem vascular yang tidak stabil, demam, depresi
sumsum tulang, kelainan pada darah dan juga menstimulasi sistem imunologik.5
Respon Imunologik
Pada demam tifoid terjadi proses respons imun humoral maupun selular baik di
tingkat lokal (gastrointestinal) maupun sistemik. Akan tetapi bagaimana
mekanisme imunologik ini dapat menimbulkan kekebalan maupun eliminasi
terhadap Salmonella typhi tidak diketahui dengan pasti. Diperkirakan bahwa
imunitas selular lebih berperan. Penurunan jumlah limfosit T ditemukan pada
pasien sakit berat dengan demam tifoid. Karier memperlihatkan gangguan
reaktivitas selular terhadap antigen Salmonella serotipe typhi pada uji hambatan
migrasi lekosit. Pada karier, sejumlah besar basil virulen melewati usus tiap
harinya dan dikeluarkan dalam tinja, tanpa merusak epitel penjamu.5

Gambar 1. Jalur masuknya bakteri.2


2.5 Manifestasi klinis
Presentasi klinis dari demam tifoid bervariasi dari penyakit ringan dengan demam
derajat rendah, malaise dan batuk kering sampai gambaran klinis berat dengan
kelainan abdominal, perubahan status mental dan komplikasi multiple. 5 Pada anak,
periode inkubasi demam tifoid antara 5 – 40 hari dengan rata-rata antara 10 – 14
hari. Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, dari gejala klinis ringan dan

7
tidak memerlukan perawat khusus sampai dengan berat sehingga harus di rawat.
Variasi gejala ini disebabkan faktor galur Salmonela, status nutrisi dan imunologik
pejamu serta lama sakit di rumahnya.2
Semua pasien demam tifoid selalu menderita demam pada awal penyakit.
Pada era pemakaian antibiotik sebelum seperti pada saat ini, penampilan demam
pada kasus demam tifoid mempunyai istilah khusus yaitu step-ladder temperature
chart yang ditandai dengan demam tinggi timbul secara tiba-tiba, kemudian naik
secara bertahap tiap harinya dan mencapai titik tertinggi pada akhir minggu
pertama, setelah itu demam akan bertahan tinggi dan pada minggu ke-4 demam
turun perlahan secara lisis, kecuali apabila terjadi focus infeksi seperti kolesistitis,
abses jaringan lunak maka demam akan menetap. Banyak orang tua pasien
demam tifoid melaporkan bahwa demam lebih tinggi saat sore dan malam hari
dibandingkan dengan pagi harinya. Pada saat demam sudah tinggi, pada kasus
demam tifoid dapat disertai gejala sistemik saraf pusat, seperti kesadaran berkabut
atau delirium atau obtundasi, atau penurunan kesadaran mulai apatis sampai
koma.2,6
Gejala sitemik lain yang menyertai timbulnya demam adalah nyeri kepala,
malaise, anoreksia, nausea, myalgia, nyeri perut dan radang tenggorokan. Pada
kasus yang berpenampilan klinis berat, pada saat demam tinggi akan tampak
toksik/ sakit berat. Bahkan dapat juga dijumpai penderita demam tifoid yang
datang dengan syok hipovolemik sebagai akibat kurang masukan cairan dan
makanan. Gejala gastrointestinal pada kasus demam tifoid sangat bervariasi.
Pasien dapat mengeluh diare, obstipasi, atau obstipasi kemudian disusul episode
diare, pada sebagian pasien lidah tampak kotor dengan putih di tengah sedangkan
pada tepi dan ujungnya kemerahan. Banyak dijumpai gejala meteorismus, berbeda
dengan buku bacaan Barat pada anak Indonesia lebih banyak dijumpai
hepatomegali dibandingkan splenomegali.2,6
Rose spot, suatu ruam maculopapular yang berwarna merah dengan ukuran 1-
5 mm, sering kali dijumpai pada daerah abdomen, toraks, ekstremitas dan
punggung pada orang kulit putih, tidak pernah dilaporkan ditemukan pada anak
Indonesia. Ruam ini muncul pada hari ke 7 - 10 dan bertahan selama 2 – 3 hari.

8
Selain itu, dapat dijumpai adanya tanda bradikardi relatif pada pasien saat demam.
5,6

Penyakit Akut Tanpa Komplikasi


Demam tifoid akut bercirikan demam berkepanjangan, gangguan fungsi usus
(konstipasi pada dewasa, diare pada anak), sakit kepala, malaise dan anorexia.
Batuk bronkitis umum terjadi pada fase awal dari penyakit. Selama periode
demam, sampai 25% dari pasien menunjukkan rash atau rose spot, pada dada,
abdomen, dan punggung.7
Penyakit Akut dengan Komplikasi
Demam tifoid akut bisa menjadi parah, dengan sampai 10% pasien menderita
komplikasi yang serius. Perforasi usus telah dilaporkan sampai 3% dari pasien
yang rawat inap. Gangguan abdominal, gejala dan tanda dari perforasi usus dan
peritonitis merupakan komplikasi lain. Perubahan status mental pada pasien tifoid
telah dihubungkan dengan tingkat kematian kasus yang tinggi. Seperti pasien
secara umum menderita delirium dan bisa berkembang menjadi koma. 7
Fase Karier
1-5% pasien, tergantung dari usia, menjadi karier kronik S. typhi di kantung
empedu.7
2.6 Diagnosis
2.6.1 Anamnesis
Diagnosis ditegakkan berdasarakan gejala klinis berupa demam (step-ladder)
yang lebih tinggi di sore dan malam hari yang terjadi lebih dari satu minggu ,
gangguan gastrointestinal (meteorismus, diare, obstipasi), lidah kotor, rose
spot (pada orang kulit putih) dan mungkin disertai perubahan dan gangguan
kesadaran, dengan kriteria ini maka seorang klinisi dapat membuat diagnosis
tersangka demam tifoid. 1, 2, 4, 6
2.6.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan adalah inspeksi, perkusi, palpasi,
auskultasi. Dari hasil inspeksi dapat ditemukan pasien mengalami penurunan
kesadaran (kesadaran berkabut, delirium, sampai koma), tanda-tanda dehidrasi
(karena diare), meteorismus, lidah kotor, dan juga rose spot. Dari perkusi bisa
didapatkan pembesaran organ (hepatomegaly atau spleenomegali). Dari

9
palpasi bisa juga digunakan untuk memeriksa bradikardi relatif, pembesaran
organ (hepatomegaly atau spleenomegali), nyeri tekan di bagian perut. Dari
pemeriksan auskultasi dapat didengarkan bising usus, biasanya terdapat
gangguan dikarenakan invasi dari bakteri S. typhi. 1,4
2.6.3 Pemeriksaan Penunjang
I) Gambaran Darah Tepi
Anemia normokromik normositik terjadi sebagai akibat perdarahan usus
atau supresi pada sumsum tulang. Jumlah leukosit rendah, namun jarang di
bawah 3.000/uP. Apabila terjadi abses piogenik atau anak yang lebih muda,
jumlah leukosit dapat meningat mencapai 20.000-25000/ul3.
Trombositopenia sering dijumpai, kadang-kadang berlangsung beberapa
minggu.2,3
II) Test Widal
Uji serologi WIdal suatu metode serologic yang memeriksa antibodi
aglutinasi terhadap antigen somatic (O), flagella (H) banyak dipakai untuk
membuat diagnosis demam tifoid. Di Indonesia pengambilan angka titer O
aglutinin ≥1/40 dengan memakai uji Widal slide agglutination (prosedur
pemeriksaan membutuhkan waktu 45 menit) menunjukkan nilai ramal
positif 96%. Artinya apabila hasil tes positif, 96% kasus benar sakit demam
tifoid, akan tetapi apabila negatif tidak menyingkirkan. Banyak senter
mengatur pendapat apabila titer O agglutinin sekali periksa ≥1/200 atau
pada titer sepasang terjadi kenaikan 4 kali maka diagnosis demam tifoid
dapat ditegakkan. Aglutinin H banyak dikaitkan dengan pasca imunisasi
atau infeksi masa lampau, sedangkan Vi agglutinin dipakai pada deteksi
pembawa kuman S. typhi (karier). Banyak peneliti mengemukakan bahwa
uji serologic widal kurang dapat dipercaya sebab dapat timbul positif palsu
pada daerah endemis, dan sebaliknya dapat timbul negative palsu pada
kasus demam tifoid yang terbukti biasakan daerah positif. 6 Pada umumnya
antibody O meningkat di hari ke 6-8 dan antibody H hari ke 10-12 sejak
awal penyakit.3,4
III) Kultur Bakteri

10
Diagnosis pasti ditegakkan melalui isolasi S. typhi dari darah. Pada dua
minggu pertama sakit, kemungkinan mengisolasi S. typhi dari dalam darah
pasien lebih besar dari pada minggu berikutnya. Biakan yang dilakukan
pada urin dan feses, kemungkinan keberhasilan lebih kecil. Biakan
spesimen yang berasal dari aspirasi sumsum tulang mempunyai sensitivitas
tertinggi. Hasil positif didapatkan pada 90% kasus. Akan tetapi prosedur ini
sangat invasive, sehingga tidak dipakai dalam praktek sehari-hari. Pada
keadaan tertentu dapat dilakukan biakan specimen empedu yang diambil
dari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik.3,4
2.7 Diagnosis Banding
Pada stadium dini demam tifoid, beberapa penyakit kadang-kadang secara klinis
dapat menjadi diagnosis bandingnya yaitu influenza, demam dengue, dan malaria.
Beberapa penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme intraselular seperti
bruselosis dapat sebagai diagnosis banding.3

2.8 Tatalaksana
Sebagian besar pasien demam tifoid dapat diobati di rumah dengan tirah baring,
isolasi yang memadai, pemenuhan kebutuhan cairan, nutrisi serta pemberian
antibiotik. Sedangkan untuk kasus berat harus dirawat di Rumah Sakit agar
pemenuhan cairan, elektrolit serta nutrisi disamping observasi kemungkinan
timbul penyulit yang dapat dilakukan dengan seksama. Pengobatan antibiotik
merupakan pengobatan utama karena pada dasarnya pathogenesis infeksi
Salmonella typhi berhubungan dengan keadaan bakterimia.3
Kloramfenikol masih merupakan pilihan pertama pada pengobatan penderita
demam tifoid. Dosis yang diberikan adalah 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali
pemberian selama 10 – 14 hari atau sampai 5 – 7 hari setelah demam turun,
sedang pada kasus dengan malnutrisi atau penyakit, pengobatan dapat
diperpanjang sampai 1 hari, 4 – 6 minggu untuk osteomyelitis akut, dan 4 minggu
untuk meningitis salah satu kelemahan kloramfenikol adalah tingginya angka
relaps dan karier. Namun pada anak hal tersebut jarang dilaporkan. Efek lain
pemberian kloramfenikol adalah terjadinya anemia aplastik oleh karena

11
penekanan pada sumsum tulang sehingga pada beberapa negara pemberian
kloramfenikol digantikan dengan obat lain. 1,3
Pemberian obat sefalosporin generasi ketiga seperti seftriakson atau
sefotaksim diindikasikan pada kasus-kasus yang resisten terhadap obat
kloramfenikol dan obat antibiotik untuk demam tifoid lainnya. Strain yang
resisten umumnya rentan terhadap obat sefalosporin generasi ini. Bahkan untuk
beberapa kasus yang resisten terhadap fluorokuinolon, obat seftriakson dianggap
masih sensitif dan membawa hasil yang baik bila digunakan sebagai terapi
alternatif, bersama-sama dengan azitromisin dan sefiksim. Pemberian seftriakson
sebaiknya diberikan selama 14 hari, karena bila diberikan selama 7 hari,
kemungkinan relapsnya bertambah dalam 4 minggu setelah terapi seftriakson
dihentikan. Kini seftriakson direkomendasikan oleh beberapa literatur sebagai
pengobatan demam tifoid pada anak dibandingkan kloramfenikol. 2,3,8
Ampisilin memberikan respon perbaikan klnis yang kurang apabila
dibandingkan dengan kloramfenikol. Dosis yang dianjurkan adalah 200
mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian secara intravena. Amoksilin dengan
dosis 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian per oral memberikan hasil
yang setara dengan kloramfenikol walaupun penurunan demam lebih lama.
Kombinasi trimethoprim sulfametoksazol (TMP-SMZ) memberikan hasil yang
kurang baik dibandingkan kloramfenikol. Dosis yang dianjurkan adalah TMP 10
mg/kg/hari atau SMZ 50 mg/kg/hari dibagi dalam 1 atau 2 dosis (maksimal 4
gram/hari) selama 5 – 7 hari atau sefotaksim 150-200 mg/kg/hari dibagi dalam 3 –
4 dosis efektif pada isolate yang rentan. Efikasi kuinolon baik tetapi tidak
dianjurkan untuk anak. Akhir-akhir ini cefixime oral 10-15mg/kBB/hari selama 10
hari dapat diberikan sebagai alternative, terutama apabila jumlah leukosit <200/ul
atau dijumpai resistensi terhadap S. typhi.3
Pada demam tifoid kasus berat seperti delirium, obtundasi, stupor, koma dan
shock, pemberian deksametason intravena (3 mg/kg diberikan dalam 30 menit
untuk dosis awal, dilanjutkan dengan 1 mg/kg tiap 6 jam sampai 48 jam)
disamping antibiotic yang memadai, dapat menurunkan angka mortalitas dari 33-
55% menjadi 10%. Demam tifoid dengan penyulit perdarahan usus kadang-
kadang memerlukan transfuse darah. Sedangkan apabila diduga terjadi peforasi,

12
adanya cairan pada peritoneum dan udara bebas pada foto abdomen dapat
membantu menegakkan diagnosis. Laparotomi harus segera dilakukan pada
perforasi usus disertai penambahan antibiotic metronidazole dapat memperbaiki
prognosis. Reseksi 10 cm di setiap sisi perforasi dilaporkan dapat meningkatkan
angka harapan hidup. Transfuse trombosit dianjurkan untuk pengobatan
trombositopenia yang dianggap cukup berat sehingga menyebabkan perdarahan
saluran cerna pada pasien-pasien yang masih dalam pertimbangan untuk
dilakukan intervensi bedah. 3
Ampisilin (atau amoksisilin) dosis 40 mg/kg/hari dalam 3 dosis peroral
ditambah dengan probenecid 30mg/kg/hari dalam 3 dosis peroral atau TMP- SMZ
selama 4-6 minggu memberikan angka kesembuhan 80% pada karier tanpa
penyakit saluran empedu. Bila terdapat kolelitiasis atau kolesistitis, pemberian
antibiotic saja jarang berhasil, kolesistektomi dianjurkan setelah pemberian
antibiotic (ampisilin 200 mg/kgBB/hari dalam 4-6 dosis IV) selama 7 – 10 hari,
setelah kolesistektomi dilanjutkan dengan amoksisilin 30 mg/kgBB/hari dalam 3
dosis peroral selama 30 hari. 3
Kasus demam tifoid yang mengalami relaps diberi pengobatan sebagai kasus
demam tifoid serangan pertama.3

13
Gambar 2. Rekomendasi penggunaan antibiotik pada demam tifoid. 3

2.9 Penyulit (Komplikasi)


Perforasi usus halus dilaporkan dapat terjadi pada 0,5-3%, sedangkan perdarahan
usus pada 1-10% kasus demam tifoid anak. Penyulit ini biasanya terjadi pada
minggu ke-3 sakit, walau pernah dilaporkan terjadi pada minggu pertama.
Komplikasi didahului dengan penurunan suhu, tekanan darah dan peningkatan
frekuensi nadi. Pada perforasi usus halus ditandai oleh nyeri abdomen local pada
kuadran kanan bawah akan tetapi dilaporkan juga nyeri yang menyelubung.
Kemudian akan diikuti muntah, nyeri pada perabaan abdomen, defence muskulare,
hilangnya keredupan hepar dan tanda-tanda peritonitis yang lain. Beberapa kasus
perforasi usus halus mempunyai manifestasi klinis yang tidak jelas.3
Dilaporkan pula pada kasus dengan komplikasi neuropsikiatri. Sebagian besar
bermanifestasi gangguan kesadaran, disorientasi, delirium, obtundasi, stupor

14
bahkan koma. Beberapa penulis mengaitkan manifestasi klinis neuropsikiatri
dengan prognosis buruk. Penyakit neurologi lain adalah thrombosis serebral,
afasia, ataksia serebral akut, tuli, myelitis transversal, neuritis perifer maupun
kranial, meningitis, ensefalomielitis, sindrom Guillain-Barre. Dari berbagai
penyulit neurologis yang terjadi, jarang dilaporkan gejala sisa yang permanen
(sekuele).3
Relaps yang didapatkan pada 5-10% kasus demam tifoid saat era pre
antibiotik, sekarang lebih jarang ditemukan. Apabila terjadi relaps, demam timbul
kembali dua minggu setelah penghentian antibiotik. Namun pernah juga
dilaporkan relaps timbul saat stadium konvalensens, saat pasien tidak demam akan
tetapi gejala lain masih jelas dan masih dalam pengobatan antibiotik. Pada
umumnya relaps lebih ringan dibandingkan gejala demam tifoid sebelumnya dan
lebih singkat.3

2.10 Pencegahan
Secara umum, untuk memperkecil kemungkinan tercemar S. typhi, maka setiap
individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka
konsumsi. Salmonella typhi di dalam air akan mati apabila dipanasi setinggi 570C
untuk beberapa menit atau dengan proses iodinasi/klorinasi. Untuk makanan,
pemanasan sampai suhu 570C beberapa menit dan secara merata juga dapat
mematikan kuman Salmonella typhi. Penurunan endemisitas suatu negara/daerah
tergantung pada baik buruknya pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan
sampah serta tingkat kesadaran individu terhadap hygiene pribadi. Imunisasi aktif
dapat membantu menekan angka kejadian demam tifoid.3 pencegahan dapat
dilakukan dengan:
1. Edukasi
Edukasi anggota komunitas, terutama yang paling mudah terserang
termasuk food handler dan orang-orang di suatu kelompok, seperti day
care staff, panti asuhan, penjara, panti jompo. Orang-orang dalam
kelompok tersebut dianjurkan untuk melakukan:
-
Berlatih cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum
menyiapkan dan mengonsumsi makanan, setelah menggunakan toilet,
menganti diapers, etc, dan menjaga standar personal hygiene tinggi.

15
-
Menjaga standar dalam kebersihan penyiapan dan penanganan
makanan, terutama pada salad dan makanan yang disajikan dingin.
-
Menggunakan refrigerator yang dapat digunakan untuk menyimpan
makanan
-
Melaporkan segala kematian karena diare pada pekerja yang sehat. 3,9
Hal-hal yang dapat disampaikan pada masyarakat antara lain:
-
Mengonsumsi makanan yang telah dimasak dengan matang selagi
masih panas dan beruap.
-
Pastikan makanan yang telah dimasak terlindungi dari lalat
-
Hindari mengonsumsi sayur dan buah mentah yang tidak dapat
dikupas. Sayuran seperti selada mudah terkontaminasi dan sangat
susah untuk dicuci bersih.
-
Ketika mengonsumsi buah atau sayuran mentah yang dapat dikupas,
kupas sendiri (sebelumnya harus mencuci tangan dengan sabun)
jangan mengonsumsi kulit yang dikupas.
-
Hindari makanan dan minuman yang dijual di pinggiran jalan, sangat
sulit untuk menjaga makanan di jalanan tetap bersih, dan banyak
wisatawan sakit karena mengonsumsi makanan yang di jual di
pinggiran jalan.
-
Jika mengonsumsi air dari sumber mata air, harus direbus terlebih
dahulu sebelum dikonsumsi.
-
Jika membeli minuman jangan diisi es batu, kecuali es batu tersebut
dibuat dari air yang direbus atau air yang telah dibersihkan dengan
chlorine.3,9
2. Profilaksis
Saat sekarang dikenal tiga macam vaksin untuk penyakit demam tifoid,
yaitu yang berisi kuman yang dimatikan, kuman hidup dan komponen Vi
dari Salmonella typhi. Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi, S.
paratyphi A, S. paratyphi B yang dimatikan (TAB vaccine) telah puluhan
tahun digunakan dengan cara pemberian suntikan subkutan; namun vaksin
ini hanya memberikan daya kekebalan yang terbatas, disamping efek
samping lokal pada tempat suntikan yang cukup sering. Vaksin yang berisi
kuman Salmonella typhi hidup yang dilemahkan (Ty-21a) diberikan per
oral tiga kali dengan interval pemberian selang sehari, memberi daya
perlindungan 6 tahun. Vaksin Ty-21a diberkan pada anak berumur di atas 2

16
tahun. Pada penelitian di lapangan didapatkan hasil efikasi proteksi yang
berbanding terbalik dengan derajat transmisi penyakit. Vaksin yang berisi
komponen Vi dari Salmonella typhi diberikan secara suntikan
intramuscular memberikan perlindungan 60-70% selama 3 tahun.2

2.11 Prognosis
Prognosis pasien demam tifoid tergantung ketepatan terapi, usia, keadaan
kesehatan sebelumnya, dan ada tidakknya komplikasi. Di negara maju, dengan
terapi antibiotik yang adekuat, angka mortalitas <1%. Di negara berkembang
angka mortalitasnya >10%, biasanya karena keterlambatan diagnosis, perawatan,
dan pengobatan. Munculnya komplikasi, seperti perforasi gastrointestinal atau
perdarahan hebat, meningitis, endokarditis dan pneumonia, mengakibatkan
mobiditas dan mortalitas yang tinggi.3
Relaps dapat timbul beberapa kali. Individu yang mengeluarkan S. Typhi ≥ 3
bulan setelah infeksi umumnya menjadi karier kronis. Risiko menjadi karier pada
anak-anak rendah dan meningkat sesuai usia. Karier kronik terjadi pada 1 – 5%
dari seluruh pasien demam tifoid.3

DAFTAR PUSTAKA

1. Grouzard V, Rigal J, Sutton M, 2016. Clinical Guideline Diagnosis and


Treatment Manual. Medicins Sans Frontieres. PP.186-188.
2. Paul UK, 2017. Typhoid Fever – Recent Management. Medicine Update
Chapter 15. PP. 1-4.
3. S. Rezeki and E. Windiastuti, 2012. Update Management of Infectious
Diseases and Gastrointestinal Disorders, Jakarta: Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM.
4. R. Sanglah, Pedoman Pelayanan Medis: Demam Tifoid, Denpasar, 2010
5. I. D. A. Indonesia, Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis, Jakarta: Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2008

17
6. Mittal J, Estiverne C, Kothari N, Reddi A, 2015. Case report : Fever and
Relative Bradycardia: A Case Presentation and Review of the Literature.
International Journal of Case Reports & Short Reviews. Vol. 1, Issue 1, PP.
1-5.
7. WHO, Guidelines for the Management of Typhoid Fever, Harare: World
Health Organization, 2011
8. Patient Fact Sheet, 2016. Typhoid Fever. Information for Health Care
Professionals Leeds, Grenville & Lanark District Health Unit. PP. 1
9. Nelwan, 2012. Tata Laksana Terkini Demam Tifoid, Jakarta: Departemen
Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM-Jakarta.

18