Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

Sinusis Jamur Maksilaris Dextra

Oleh:
dr. Tesa Iswa Rahman
Pembimbing: dr. H. Muhammad Arman, Sp. THT-KL, M.Kes
Internship RSUD Panglima Sebaya
Februari 2019
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS

Judul

Sinusitis Jamur Maksilaris Dextra

Oleh :
dr. Tesa Iswa Rahman
Internship RSUD Panglima Sebaya, Kabupaten Paser

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Program
Internship Dokter Indonesia di RSUD Panglima Sebaya periode 12 September 2018 – 12
September 2019

Paser, Februari 2019


Mengetahui,
Pembimbing

dr. H. Muhammad Arman, Sp. THT-KL, M.Kes

Pendamping Pendamping

dr. H. Muhammad Arman, Sp. THT-KL, M.Kes dr. Ika Novita Sari
BAB I

ILUSTRASI KASUS

Identitas Pasien
Nama : Ny. Murni
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 41 tahun
Status : Menikah
Agama : Islam
Alamat : Olong Omang RT 3
Tanggal Pemeriksaan : 22 November 2018

Anamnesis
Keluhan Utama : Nyeri di sekitar hidung dan pipi kanan
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada sekitar hidung kanan dan pipi kanan. Keluhan
dirasakan sejak kurang lebih 4 bulan terakhir namun sejak 2 minggu terakhir keluhan memberat
dan menggangu pasien, nyeri juga dirasakan dibagian kepala. Pasien mengeluh keluar cairan dari
hidung seperti nanah kental dan berbau yang lebih banyak keluar lagi terutama saat pasien dalam
posisi sujud saat sholat serta terasa ada cairan yang turun dari belakang hidung ke tenggorokan.
Hal ini disertai dengan keluhan hidung sebelah kanan yang tersumbat. Pasien juga menngatakan
demam sejak 1 minggu lalu.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengatakan sering pilek dan bersin-bersin terutama pada malam dan pagi hari.
Riwayat penyakit amandel disangkal. Riwayat penyakit hipertensi, DM, dan batuk-batuk lama,
HIV disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien menyangkal riwayat penyakit kencing manis, penyakit jantung, tekanan darah
tinggi, asma di dalam keluarga. Pasien mengatakan ayahnya juga memiliki keluhan sering pilek
dan bersin-bersin.
Riwayat Pengobatan:
Empat bulan lalu pasien berobat dan diberikan obat minum. Keluhan membaik setelah
diberi obat dan pasien juga telah mencabut gigi yang berlubang atas saran dokter. Setelah itu
kadang-kadang dirasakan nyeri namun tidak terlalu menganggu pasien. Sekitar 2 minggu
keluhan memberat dan pasien berobat, 10 hari lalu menurut pasien dilakukan pencucian sinus
dengan cara ditusuk dibagian hidung, keluhan sembaik membaik namun timbul lagi. Pada pasien
tidak didapatkan pemakaian steroid jangka panjang.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis
Tanda Vital :
Frekuensi nadi : 78 x/menit, reguler, isi cukup
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Frekuensi nafas : 16 x/menit, reguler
Suhu : 36,7º C (per axiller)
Status Generalis
Kepala& Leher : normochepali, conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga/Hidung/Tenggorok : status lokalis
Thoraks
Cor : batas jantung dalam batas normal, S1 S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)
Pulmo :
Inspeksi : gerakan simetris saat statis dan dinamis
Palpasi : fremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor
Auskultasi: vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen :
Inspeksi : distensi (-)
Palpasi : supel, organomegali (-)
Perkusi : timpani (+)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Ektremitas : edema (-/-), varises (-/-), akral hangat

Status Lokalis Telinga, Hidung dan Tenggorok


Telinga
Kanan Kiri
Daun telinga Normotia Normotia
Retroaurikular Nyeri tekan (-) , Sikatriks (-), Nyeri tekan (-) , Sikatriks (-)
fistel (-), Abses (-) fistel (-), Abses (-)
Mukosa Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Sekret (-) (-)
Serumen (+) (+)
Membran timpani Intak Intak
Reflex cahaya (+) Reflex cahaya (+)
Nyeri tarik telinga (-) (-)
Nyeri tekan tragus (-) (-)

Hidung
Vestibulum Sekret (+), massa (-), hiperemis (+) Sekret (-), massa (-), hiperemis (-)
Konka Hipertrofi (+), hiperemis (+) Hipertrofi (-), hiperemis (-)
inferior
Septum Deviasi (-) Deviasi (-)
Mukosa Hiperemis (+) Hiperemis (+)
Sekret (+) warna kuning,kental,berbau (-)
Kavum nasi Sempit, polip (-) Lapang, polip(-)

Tenggorokan
Arkus faring Simetris Simetris
T1, hiperemi (-), kripta (-), T1, hiperemi (-), kripta (-),
Tonsil
detritus (-), permukaan rata detritus (-), permukaan rata
Uvula Simetris, hiperemi (-), oedem (-)
Palatum mole Simetris, hiperemi (-)
Dinding faring Mukosa halus, hiperemi (-), refleks muntah (+/+)

Regio Fasialis:
Inspeksi : pembengkakan pipi (-), deformitas wajah (-)
Palpasi : nyeri tekan maksila dextra (+), nyeri tekan maksila sinistra (-)
Perkusi : nyeri ketok maksila dextra (+), nyeri tekan maksila sinistra (-)
Pemeriksaan Gigi: caries gigi (-)
Pemeriksaan tambahan
Transiluminasi : Sulit dinilai

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium 22/11/2019

Nilai Nilai normal Keterangan


HGB 12,9 g/dl 12,0-14,0 g/dl Normal
HCT 35,5% 37-43% Normal
PLT 270 x 103/mm3 150-390x103/mm3 Normal
WBC 5,89 x 103/mm3 3,5-10,0 x 103/mm3 Normal
RBC 5,48 x 106/mm3 3,8-5,8 x 106/mm3 Normal
MCV 81 fl 80-97 fl Normal
MCH 28,1 pg 26,5-33,5 pg Normal
MCHC 37,3 H g/dl 31,5-35,0 g/dl Normal
BT 2’00 1’00-3’00 Normal
CT 5’30 5’00-11’00 Normal

Pemeriksaan Foto Rontgen

Gambar 1. Hasil Foto Posisi Waters pada Pasien

Foto : Waters
Deskripsi : Sinus Frontalis Kanan - Kiri Normal
Sinus Etmoidalis Kanan - Kiri Normal
Sinus Maksilaris kanan sebagian tertutup perselubungan, kiri normal
Sinus Sfenoidalis kanan - kiri normal
Septum nasi di tengah
Tampak Penebalan Cavum nasi bilateral
Kesan : Sinusitis Maxilaris Dextra

Diagnosis
Diagnosis Pre- Operasi
Sinusitis Maksilaris Dextra
Penatalaksaan
1. Ceftriaxon 2x1 gr (IV)
2. Metilprednisolon 2x125 mg (IV)
3. Puasa
4. Futrolit 100 cc/jam
5. Pumpisel 40mg/24 jam (iv)
6. Ketorolac 30mg 2x1 (IV)
7. Pro Osteotomy Maxilla (CWL/Caldwell-Luc)
Dilakukan Osteotomy Maxilla (CWL/Caldwell-Luc) tanggal 23/11/2019, Pus (+) massa bulat
multipel berwarna kehitaman (+)

Gambar 2. Massa bulat multipel didapatkan saat operasi.


Diagnosis Post- Operasi
Sinusitis Jamur Maxilaris Dextra
Follow Up
Hari Rawat ke 1 tanggal 23-11-19
S Nyeri (+), bengkak(+), pendarahan(+)
O Edema(+)
Pus (-)
Perdarahan (+)
A Post Osteotomy Maksila
Sinusitis Jamur Maxilaris Dextra
P 1. Ceftriaxon 2x1 gr (IV)
2. Metilprednisolon 2x125 mg (IV)
3. Ketorolac 30mg 2x1 (IV)
4. Ketokonazol 2x200 mg (PO)

Hari Rawat ke 2 tanggal 24-11-19


S Nyeri (+), bengkak(+), pendarahan(+)
O Edema(+)
Pus (-)
Perdarahan (+)
A Post Osteotomy Maksila
Sinusitis Jamur Maxilaris Dextra
P 1. Ceftriaxon 2x1 gr (IV)
2. Metilprednisolon 2x125 mg (IV)
3. Ketorolac 30mg 2x1 (IV)
4. Ranitidin 2x50 mg (IV)
5. Ketokonazol 2x200 mg (PO)

Hari Rawat ke 3 tanggal 25-11-19


S Nyeri (+) berkurang, pendarahan(-)
O Edema(+) berkurang
Pus (-)
Perdarahan (-)
A Post Osteotomy Maksila
Sinusitis Jamur Maxilaris Dextra
P 1. Ceftriaxon 2x1 gr (IV)
2. Metilprednisolon 2x125 mg (IV)
3. Ketorolac 30mg 2x1 (IV)
4. Ranitidin 2x50 mg (IV)
5. Ketokonazol 2x200 mg (PO)

Hari Rawat ke 4 tanggal 26-11-19


S Nyeri (+) berkurang, pendarahan(-)
O Edema(+) berkurang
Pus (-)
Perdarahan (-)
A Post Osteotomy Maksila
Sinusitis Jamur Maxilaris Dextra
P 1. Boleh Pulang
2. Ciprofloksasin 2x500 mg (PO)
3. Asam Mefenamat 3x500 mg (PO)
4. Metilprednisolon 3x4 mg (PO)
5. Ketokonazol 2x200 mg (PO)

3.8 Prognosa
Quo ad Vitam : dubia ad bonam
Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam
Quo ad Sanactionam : dubia ad bonam
BAB II
Tinjauan Pustaka
Manusia memiliki sekitar 12 rongga di sepanjang atap dan bagian lateral kavum nasi
yang disebut sinus paranasalis. Sinus atau sering pula disebut dengan sinus paranasalis adalah
rongga udara yang terdapat pada bagian padat dari tulang tenggkorak di sekitar wajah, yang
berfungsi untuk memperingan tulang tenggkorak. Rongga ini berjumlah empat pasang kiri dan
kanan. Sinus frontalis terletak di bagian dahi, sedangkan sinus maksilaris terletak di belakang
pipi. Sementara itu, sinus sphenoid dan sinus ethmoid terletak agak lebih dalam di belakang
rongga mata dan di belakang sinus maksilaris. Dinding sinus terutama dibentuk oleh sel sel
penghasil cairan mukus. Udara masuk ke dalam sinus melalui sebuah lubang kecil yang
menghubungkan antara rongga sinus dengan rongga hidung yang disebut dengan ostia. Jika oleh
karena suatu sebab lubang ini buntu maka udara tidak akan bisa keluar masuk dan cairan mukus
yang diproduksi di dalam sinus tidak akan bisa dikeluarkan. Beberapa penyebab dapat menjadi
pencetus terjadinya sinusitis, seperti bakteri, virus, maupun jamur. 1,2
Anatomi Sinus Paranasal.
Sinus Maksila
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila
bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran
maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus maksila berbentuk piramid. Dinding anterior sinus
ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah
permukaan infratemporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung,
dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan
palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke
hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.1,5,6
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah :
1. Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu (P1 dan P2), molar
(M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3, bahkan akar-akar gigi
tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas dan
menyebabkan sinusitis.5
2. Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita.
3. Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus sehingga drainase hanya tergantung
dari gerak silia, lagipula drainase juga harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum
adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada
daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.5
Sinus Frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan keempat fetus,
berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus
frontal mulai berkembang pada usia 6-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum
usia 20 tahun. Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar daripada
lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa
hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalisnya tidak berkembang.1,5
Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2 cm. Sinus
frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya gambaran septum-
septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen menunjukkan adanya infeksi sinus.
Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior,
sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase
melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang berhubungan dengan infundibulum
etmoid. Siunus frontalis dipersarafi oleh cabang supraorbital N. opthalmicus.5,6
Sinus etmoid
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan dianggap paling
penting karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa
bentuk sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari
anterior ke posterior 4-5 cm, tingginya 2,4 cm dan lebarnya 0,5 cm di bagian anterior dan 1,5 cm
di bagian posterior.1,5
Sinus etmoid berongga-rongga terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang
terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara konka media dan
dinding medial orbita. Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior
yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior.
Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit disebut resesus frontal, yang
berhubungan dengan sinus frontal. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang
disebut infundibulum, tempat bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan atau
peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di
infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.5,6
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa.
Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari
rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus
etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.1,5
Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid
dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya,
dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari 5 sampai 7,5 ml. Batas-
batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisis, sebelah
inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a.karotis
interna (sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa
serebri posterior di daerah pons. Dipersarafi oleh cabang dari N. maxillaries dan oleh cabang
ethmoidalis posterior N. nasociliaris. 1,5,6
Kompleks Osteomeatal Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus
medius, ada muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior.
Daerah ini rumit dan sempit, dan dinamakan kompleks osteomeatal (KOM) terdiri dari
infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid
dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.1,5
Sistem Mukosilier
Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan palut
lendir di atasnya. Di dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan lendir menuju
ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah tertentu polanya. Pada dinding lateral
hidung terdapat 2 aliran transpor mukosiliar dari sinus. Lendir yang berasal dari kelompok sinus
anterior yang bergabung di infundibulum etmoid dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba
Eustachius. Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior bergabung di resesus
sfenoetmoidalis, dialirkan ke nasofaring di postero-superior muara tuba. Inilah sebabnya pada
sinusitis didapati sekret pasca-nasal (post nasal drpi), tetapi belum tentu ada sekret di rongga
hidung.5
Fisiologi Sinus
Secara fisiologis sinus paranasalis memiliki peran yang sangat penting bagi manusia.
Beberapa fungsi sinus paranasal, antara lain:
1. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning), sinus berfungsi sebagai ruang tambahan
untuk mamanaskan dan mengatur kelembaban udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam
ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan
beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus.1
2. Sebagai panahan suhu (thermal insulators), sinus paranasal berfungsi sebagai (buffer) panas,
melindungi orbita dan fossa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.1
3. Membantu keseimbangan kepala, sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi
berat tulang muka. Akan tetapi, bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan
memberikan pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini tidak dianggap
bermakana.1
4. Membantu resonansi udara, sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi udara
dan mempengaruhi kualitas udara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya
tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonansi yang efektif.1
5. Sebagai peredam perubahan tekanan udara, fungsi ini akan berjalan bila ada perubahan
tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada waktu bersin dan beringus.1
6. Membantu produksi mukus, mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya
kecil dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan
partikel yang turut masuk dalam udara.1
Sinusitis
Sinusitis adalah peradangan simptomatis yang terjadi pada sinus paranasal. Berdasarkan
waktu terjadinya, sinusitis dibagi menjadi sinusitis akut (<12 minggu) dan sinusitis kronis (>12
minggu). Sinusitis akut yang terjadi sebanyak 4 episode atau lebih dalam setahun, tanpa gejala
persisten, disebut sebagai sinusitis akut rekuren. Penyebab sinusitis akut dan rekuren yang
tersering adalah infeksi virus dan bakteri. Pada kasus sinusitis kronis penyebab dapat berupa
infeksi persisten oleh bakteri ataupun jamur dengan penyakit alergi dan inflamasi lain sebagai
komorbidnya
Kriteria Diagnosis
Terdapat kriteria diagnosis yang bisa membantu klinisi dalam menegakkan diagnosis sinusitis
akut dan kronik.
Sinusitis Akut
Diagnosis sinusitis akut dapat ditegakkan jika memenuhi setidaknya 2 kriteria mayor, atau 1
kriteria mayor ditambah ≥2 kriteria minor.
Tabel 1. Kriteria Mayor dan Minor Sinusitis Akut

Kriteria Mayor Kriteria Minor

Discharge nasal anterior yang


purulen Sakit kepala
Discharge nasal posterior yang Keluhan telinga berupa nyeri, rasa penuh, atau
purulen atau berubah warna tertekan
Kongesti atau obstruksi nasal Halitosis
Rasa nyeri atau rasa penuh regio
fasialis Nyeri gigi
Hiposmia atau anosmia Demam (untuk sinusitis kronik)
Demam (untuk sinusitis akut) Fatigue

Sinusitis Kronis
Sinusitis kronis dapat ditegakkan jika terdapat setidaknya 2 gejala kardinal selama 12 minggu
berturut-turut, yang ditambah dengan bukti objektif dari pemeriksaan fisik atau penunjang.
Tabel 2. Kriteria Diagnosis Sinusitis Kronis
Ada setidaknya 2 gejala kardinal selama 12 minggu berturut-turut :

 Obstruksi nasal
 Drainase nasal mukopurulen
 Nyeri atau rasa tertekan pada wajah
 Hiposmia atau anosmia
Dan Bukti Objektif pada Pemeriksaan
Pada pemeriksaan fisik : drainase mukopurulen, edema, atau polip pada meatus medius
Pada pemeriksaan radiologi : bukti sinusitis pada foto polos atau CT Scan
Rinosinusitis Jamur
Definisi
Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal, suatu keadaan yang tidak
jarang ditemukan. Angka kejadiannya meningkat dengan meningkatnya pemakaian antibiotik,
kortikosteroid, obat-obat imunosupresan, dan radioterapi. Kondisi yang merupakan predisposisi
antara lain diabetes melitus, neutropenia, penyakit AIDS, dan perawatan yang lama di rumah
sakit.1,2
Prevalensi
Telah menjadi suatu kesepakatan bahwa infeksi jamur pada hidung dan sinus paranasal
jarang, tapi dalam dua dekade terakhir ini hampir seluruh ahli setuju bahwa telah terjadi
peningkatan frekuensi rinosinusitis yang disebabkan oleh infeksi jamur. Prevalensi rinosinusitis
kronis akibat jamur, beragam di seluruh dunia. Di Iran, pada penelitan Azar et al didapati
14,46% penderita rinosinusitis kronis disebabkan jamur. Di Indonesia pada penelitian Andika
yang dikutip oleh Nasution, didapati dari 30 penderita rinosinusitis maksilaris kronis terdapat 15
penderita dengan hasil kultur jamur positif (50%) da penelitian Indriany dkk, mendapatkan 30
kasus infeksi jamur pada sinus dari 74 kasus sisnusitis kronis (. Di Iran didapat 25,8% (16 pasien
dari 62 pasien rinosinusitis kronis) menderita rinosinusitis akibat jamur. Di Malaysia, See Goh et
al mendapat 16 kasus dari 30 kasus rinosinusitis kronik merupakan rinosinusitis akibat jamur.7,8
Angka kejadian meningkat dengan meningkatnya penggunaan antibiotik, kortikosteroid,
imunosupresan, dan radioterapi. Kondisi predisposisi pada pasien dengan diabetes mellitus,
neutropenia, penderita AIDS, dan pasien yang lama dirawat di rumah sakit. Jenis jamur yang
paling sering menyebabkan sinusitis jamur adalah Aspergillus dan Candida.1,7,8
Etiologi
Pada Sinusitis jamur noninvasif, kebanyakan penyebabnya adalah Curvularia lunata,
Aspergillus fumigatus, Bipolaris dan Drechslera. A. Fumigatus dan jamur dematiaceous. Pada
sinusitis jamur invasif termasuk tipe akut fulminan, di mana mempunyai angka mortalitas yang
tinggi apabila tidak dikenali dengan cepat dan ditangani secara agresif, tipe kronik dan
granulomatosa.
Jamur saprofit selain Mucorales, termasuk Rhizopus, Rhizomucor, Absidia, Mucor,
Cunninghammela, Mortierella, Saksenaea, dan Apophysomyces sp, menyebabkan sinusitis jamur
invasif akut. A. Fumigatus satu-satunya jamur yang dihubungkan dengan sinusitis jamur invasif
kronik. Aspergillus flavus khusus dihubungkan dengan sinusitis jamur invasif granulomatosa.4,7
Faktor Predisposisi
Terdapat beberapa faktor penyebab meningkatnya insiden infeksi jamur pada sinusitis
kronis, yaitu : 7
1. Kemajuan di bidang mikologi, serologi, dan radiologi yang dapat membantu dalam
menegakkan infeksi jamur pada hidung dan sinus paranasal.
2. Terjadinya peningkatan pertumbuhan jamur pada hidung dan sinus paranasal yang
disebabkan tingginya penggunaan antibiotika spektrum luas dan obat topikal hidung yang
tidak proporsional.
3. Terjadinya peningkatan frekuensi infeksi jamur invasif yang berhubungan dengan
peningkatan jumlah penderita dengan sistem imun yang rendah, termasuk penderita
diabetes melitus, penurunan sistem imun karena penggunaan radiasi atau kemoterapi,
AIDS, penggunaan obat-obatan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh setelah
transplantasi organ dan penggunaan steroid yang berkepanjangan.
Klasifikasi
Berdasarkan gambaran klinis dan jaringan yang terinvasi, sinusitis jamur dikelompokkan
menjadi dua kelompok, yaitu: sinusitis jamur non invasif dan invasif . Pada kelompok non
invasif terdiri dari 3 bentuk, yaitu: mikosis sinus superfisial (superficial sinosal mycosis),
misetoma (Fungal ball), sinusitis alergi jamur (allergic fungal sinusitis). Pada kelompok invasif
terdapat 3 bentuk, yaitu:sinusitis jamur kronis invasif (indolen), sinusitis jamur akut invasif
(fulminan), dan sinusitis jamur invasif granulomatosus. Tergantung daya tahan tubuh penderita,
infeksi jamur non invasif ini dapat berkembang menjadi tipe invasif. Sinusitis jamur dapat juga
dilihat sebagai suatu rangkaian penyakit berkelanjutan, diawali dengan mikosis sinus superfisial
dan dapat berkembang menjadi bentuk ganas berupa sinusitis jamur akut invasif (fulminan).
Ukuran, virulensi, inokulasi dan tempat tumbuhnya jamur mempunyai hubungan dengan
perluasan infeksi jamur pada sinus paranasal. 3,4
Tabel 3. Pembagian Klasifikasi Fungal Sinusitis
Sinusitis jamur non invasif
Mikosis sinus superfisial
Misetoma (Fungal ball)
Sinusitis alergi jamur
Sinusitis jamur invasif
Sinusitis jamur kronis invasif (indolen)
Sinusitis jamur akut invasif (fulminan)
Sinusitis jamur invasif granulomatosus
Sinusitis Jamur Non Invasif
Keadaan ini timbul pada saat infeksi jamur ekstra mukosa yang menyebabkan inflamasi
pada sinus. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh lingkungan, faktor pejamu, terutama pengaruh
genetik yang diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE).7
Superficial Sinosal Mycosis / Mikosis Sinus Superfisial
Mikosis sinus superfisial adalah suatu keadaan inflamasi mukosa sinus paranasal yang
disebabkan oleh infeksi jamur ekstramukosal. Pemeriksaan kultur sekret yang dicurigai dapat
ditemukan adanya jamur. Keadaan ini jarang ditemukan dalam keadaan yang berat oleh karena
patogenisitasnya rendah.7
A. Manifestasi Klinis
Tidak ada keluhan yang khas pada penderita. Penderita hanya melaporkan adanya bau
tidak enak pada hidung yang disertai krusta atau debris. Bentuk sinusitis jamur ini paling
khas diidentifikasi pada saat endoskopi, dimana akan tampak materi jamur yang tumbuh
pada krusta hidung. Biasanya krusta tersebut terdapat pada daerah hidung yang tinggi
aliran udaranya seperti pada bagian tepi anterior konka dan dapat juga pada rongga sinus
yang luas. Pada pemeriksaan dengan menggunakan endoskopi tampak pada bagian
dibawah krusta memperlihatkan mukosa yang eritem, edema dan disertai adanya pus.
Pemeriksaan kultur pada krusta tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan jamur.7
B. Patogenesis
Infeksi jamur tipe ini tidak akan menjadi infeksi yang berat, tetapi potensial menjadi
penyebab sinusitis kronis. Beberapa pendapat menyatakan bahwa kondisi ini timbul oleh
karena berkumpulnya spora jamur dengan konsentrasi yang tinggi sehingga dapat
mencetuskan sinusitis pada individu yang memiliki kemungkinan untuk alergi terhadap
jamur.7
C. Penatalaksanaan
Terapi meliputi pembersihan daerah yang terinfeksi dan meminimalkan penggunaan
antihistamin dan steroid topikal. Perlu dilakukan pemberian antibiotika untuk bakteri
yang mendasari infeksi jamur, hidung dilembabkan dengan irigasi dan perlu diberikan
mukolitik. Anti jamur sistemik tidak digunakan secara khusus pada kondisi ini. Karena
mikosis sinonasal superfisial cenderung timbul kembali,maka endoskopi ulangan
diperlukan untuk memonitor hasil pengobatan.7
Sinus Mycetoma / Fungal Ball
Fungal Ball atau misetoma merupakan kumpulan hifa jamur yangberbentuk seperti bola
atau massa tanpa disertai adanya invasi jamur ke jaringan. Mackenzie pada tahun 1893 adalah
yang pertama kalimengumumkan kasus infeksi sinus yang disebabkan oleh fungal ball. Fungal
ball ini biasanya mengenai satu sisi sinus. Sinus maksila adalah lokasi yang paling sering
menjadi tempat infeksi jamur tipe ini.7
D. Manifestasi Klinis
Gejala klinik awal fungal ball umumnya tidak khas. Gejalanya mirip dengan sinusitis
kronik yang hanya mengenai satu sinus. Fungal ball biasanya tanpa gejala sehingga sulit
terdeteksi. Fungal ball ini dapat terjadi pada keseluruhan sinus paranasal, dimana sinus
maksila merupakan predileksi yang paling sering. Rentang umur penderita dengan fungal
ball adalah 18 - 86 tahun dengan umur rata-rata 59,5 tahun. Sering di temukan pada
wanita dibanding pria dengan rasio 2:1. Gejala yang tampak dapat berupa gangguan
penglihatan, kakosmia (selalu mencium bau busuk), demam, batuk, hidung tersumbat,
sekret hidung dan kadang – kadang disertai nyeri pada wajah dan sakit kepala. Edema
wajah unilateral yang disertai nyeri pipi pada perabaan, atau kelainan pada mata dapat
terlihat pada pemeriksaan. Pada nasoendoskopi menunjukkan adanya sinusitis minimal
yang disertai dengan mukosa eritem, edema, disertai ada atau tidak adanya polip dan
sekret mukopurulen.7
E. Pemeriksaan
1. Radiologi
Meskipun gambaran fungal ball tidak khas, pada radiografi polos menunjukkan
penebalan mukoperiosteal disertai opasifikasi sinus yang homogen. CT scan adalah
pemeriksaan radiologi paling baik, secara khas dapat menunjukkan batas tipis antara
jaringan lunak sepanjang dinding sinus yang terlibat dimana hampir keseluruhannya
teropasifikasi. Dapat tampak beberapa fokus hiperdens yang terlihat dengan ukuran
bervariasi. Jaringan tulang sekitarnya tampak menebal karena respon peradangan dan
efek tekanan karena proses penyakit yang kronis.9

Gambar 3. CT Scan Potongan Sagital Sinus Mycetoma


2. Histopatologi
Secara makroskopis lesi pada fungal ball dapat berbentuk debris halus yang basah,
berpasir atau bergumpal. Warna yang bervariasi dari putih kekuningan, kehijauan, coklat
hingga hitam. Diagnosis fungal ball ditegakkan secara mikroskopis dengan tidak adanya
infiltrasi sel radang yang nyata dan banyaknya kumpulan hifa jamur. Mukosa di
sekitarnya menunjukkan adanya peradangan yang kronis dengan sel plasma ringan
hingga menengah dan infiltrasi sel limfosit. Neutrofil dan eosinofil dapat dijumpai dan
kadang – kadang dapat di jumpai kristal oksalat.7
F. Patogenesis
Meskipun mekanisme terbentuknya fungall ball belum dapat diketahui secara pasti,
secara teori hal ini dapat timbul pada saat spora jamur terhirup, spora tersebut masuk
kedalam rongga sinus dan menjadi antigen yang dapat menyebabkan iritasi dan proses
inflamasi mukosa sinus sehingga pada akhirnya terjadi obstruksi ostium sinus. Oleh
karena sinus merupakan rongga lembab yang cocok untuk perkembangan jamur maka
terjadi pengumpulan hifa jamur yang berbentuk seperti bola. Fungal ball ini dapat
berkembang menjadi bentuk invasif apabila terdapat penurunan status imun penderita.7
G. Penatalaksanaan
Penanganan utama fungal ball adalah memperbaiki ventilasi sinus yang diduga terinfeksi.
Drainase sinus yang adekuat dan pengembalian fungsi bersihan mukosilia dapat
mencegah terjadinya kekambuhan. Perlu dilakukan pelebaran atau pembukaan ostium
sinus secara endoskopik agar dapat mengembalikan fungsi sinus secara normal. Apabila
sulit untuk melakukan ekstraksi fungal ball secara utuh melalui ostium, maka dapat
dilakukan insisi eksterna pada ginggivobukal (Luc Operation). Ostium sinus harus cukup
lebar untuk memungkinkan pengangkatan keseluruhan elemen jamur dan memudahkan
perawatan setelah operasi. Terapi medis diperlukan untuk mengurangi edema mukosa,
termasuk pemberian mukolitik dan irigasi hidung. penggunaan antibiotik diberikan
berdasarkan kultur. Hal ini dimaksudkan untuk mengobati infeksi bakteri yang sering
timbul bersamaan dengan fungal ball.7,18
H. Prognosis
Pada kelainan ini prognosis baik jika debridement dan drainase sinus adekuat.10

Alergic Fungal Sinusitis / Sinusitis Jamur Alergi


Sinusitis jamur alergi ini merupakan keadaan kronik yang dikarakteristikkan dengan 3
kondisi : (1) Adanya jamur pada mucin yang dapat diperiksa secara mikologi atau histopatologi,
(2) tidak adanya invasi jaringan subepitel oleh jamur yang dibuktikan dengan pemeriksaan
histopatologi, dan (3) dijumpai alergi yang diperantarai IgE terhadap jamur tertentu.7-10
A. Manifestasi Klinis
Diagnosis sinusitis jamur alergi harus dicurigai pada penderita rinosinusitis kronis yang
tidak sembuh dengan terapi medikamentosa khususnya pada pasien dengan riwayat polip
nasi berulang dan telah dilakukan beberapa kali pembedahan sebelumnya. Gambaran
klinis sinusitis jamur alergi dapat mulai dari gejala alergi ringan, polip dan mucin alergi
yang disertai adanya hifa hingga penyakit masif yang dapat meluas ke arah intrakranial
dan orbita yang disertai komplikasinya. Pada pemeriksaan fisik biasanya sinusitis jamur
alergi ini sama seperti sinusitis kronis, yaitu mukosa sinus yang edema, eritema dan
polipoid dan kadang-kadang dapat disertai adanya polip. Pemeriksaan endoskopi pada
rongga sinus dapat terlihat sekret mucin alergi. Secara makroskopis mucin alergi tersebut
berupa sekret yang tebal, berwarna coklat keemasan dengan konsistensi lunak. 7-10
B. Pemeriksaan
Evaluasi alergi imunologi
Penderita sinusitis jamur alergi dapat mempunyai kriteria sebagai berikut, antara lain:
(1) Adanya peningkatan eosinofil pada sediaan apus darah tepi
(2) Adanya reaksi test kulit yang positif terhadap jamur penyebab
(3) Peningkatan kadar serum IgE total
(4) Adanya antibodi pencetus pada allergen penyebab
(5) Peningkatan IgE spesifik jamur.
Radiologi
Foto polos sinus paranasal akan menunjukan opasifitas pada beberapa atau seluruh sinus
paranasal yang terlibat. CT scan merupakan metode pencitraan yang terpilih untuk
keadaan ini.9
Histopatologi
Secara histologi kondisi ini ditandai dengan adanya hifa jamur pada sekret disertai
dengan eosinofil yang sangat banyak dan adanya kristal Charcot-Leyden. Sekret tersebut
merupakan “allergic mucin”. Allergic mucin ini dikarakteristikkan sebagai kumpulan
eosinofil yang nekrotik dan debris seluler lainnya, granul eosinofil bebas dengan latar
belakang pucat, dan sekret eosinofilik hingga basofilik yang amorf. Keadaan ini
dibedakan dari sekret inflamasi non alergi yang banyak netrofil. Allergic mucin
diidentifikasi dengan pewarnaan standar hematoksilin-eosin. Kristal Charcot Leyden
inidapat dilihat dengan pewarnaan hematoksilin-eosin atau Brown&Brenn.7
Mikrobiologi
Spesies Aspergilus dan Dematiaceous merupakan organisme penyebab terbanyak. Pada
beberapa literatur menyatakan bahwa famili Dematiaceous (pigmen gelap) merupakan
organisme terbanyak dibandingkan Aspergilus. Famili Dematiaceous merupakan jamur
yang paling banyak dijumpai di tanah, debu dan berbagai tumbuhan, termasuk Bipolaris,
Curvularia, Alternaria, Exserohilum dan Drechslera. Jamur Dematiaceous mengandung
melanin pada dinding selnya sehingga dapat menghasilkan warna gelap pada jaringan dan
kultur. Hal ini yang membedakannya dari Aspergilus.7,8
C. Patogenesis
Karena secara histologi pada pemeriksaan sekret alergi yang mengandung jamur hampir
identik dengan yang di temukan pada paru, patogenesis sinusitis jamur alergi diyakini
hampir menyerupai Aspergilosis bronkopulmoner alergi. Sinusitis jamur alergi yang tidak
diterapi secara adekuat dapat menyebabkan terjadinya komplikasi serius sehingga dapat
mengakibatkan erosi tulang dan deformitas wajah, komplikasi orbita dan perluasan
intrakranial. Apabila penyakit meluas ke orbita, lemahnya otot ekstraokuler juga sering
dijumpai sedangkan keterlibatan n. optikus dan invasi sistem saraf pusat jarang dijumpai.
Hal ini menggambarkan bahwa rongga orbita terlibat secara langsung pada perluasan
infeksi.7-10
D. Penatalaksanaan
Penanganan terbaik yang disertai resolusi sempurna pada sinusitis jamur alergi belum
diketahui secara pasti. Tetapi para ahli berpendapat bahwa penatalaksanaan sinusitis
jamur alergi terbaik adalah dengan kombinasi medikamentosa dan pembedahan. Drainase
sinus yang baik serta perbaikan fungsi ventilasi merupakan terapi utama. Tindakan bedah
saja tidaklah cukup untuk mengatasi keadaan ini. Pembedahan diyakini dapat
menurunkan jumlah antigen jamur dan secara teori dapat menurunkan stimulus yang
menyebabkan gejala alergi fase cepat dan lambat dan dapat menurunkan kemotaksis
eosinofil ke lumen sinus. Pembedahan juga dapat menyebabkan kembali normalnya
bersihan mukosiliar. Pendekatan bedah harus dikerjakan dengan menggunakan teknik
bedah sinus endoskopi.
Terapi medikamentosa termasuk pemberian antibiotik yang berdasarkan kultur,
antihistamin, steroid sistemik, imunoterapi dan anti jamur. Bakteri dapat terlibat secara
langsung sebagai pencetus timbulnya sinusitis jamur alergi dengan mempengaruhi
frekuensi gerakan silia. Data in vitro menunjukan Stafilokokus aureus, Hemofilus
influenza dan Pseudomonas aeruginosa merupakanbakteri yang dapat menyebabkan
terjadinya penurunan frekuensi gerakan silia.
Irigasi hidung juga diyakini dapat menurunkan stasis mukous dan menurunkan
konsentrasi bakteri dan jamur. Topikal steroid intranasal tidak efektif bila digunakan
sendiri tetapi dapat memberikan efek pencegahan jangka panjang setelah pemberian
steroid sistemik. Perlu diingat bahwa pemberian steroid yang tidak rasional pada sinusitis
jamur alergi dapat menyebabkan penyakit yang berulang.7-10
Sinusitis Jamur Invasif / Fungal Sinusitis Invasive
Kondisi ini terjadi pada saat terdapat invasi jamur ke jaringan sinus. Sinusitis jamur
kelompok ini dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu: sinusitis jamur invasif akut (fulminan), sinusitis
jamur invasif kronis (indolen), dan sinusitis jamur granulomatosa. Secara singkat, batas waktu
antara akut dan kronis yaitu 4 minggu. Sinusitis jamur invasif akut dan kronis biasanya terjadi
pada penderita dengan penurunan sistem imun (imunokompromis), sedangkan sinusitis jamur
invasif granulomatosa sering ditemukan pada penderita yang imunokompeten. Berdasarkan sifat
jamur yang dapat menginvasi daerah sekitarnya, rinosinusitis jamur tipe invasif dapat
mematikan. Oleh karena itu, klinisi harus dapat menegakkan diagnosa sedini mungkin.7
Acute Invasive Fungal Sinusitis ( Fulminant )
Sinusitis jamur invasif akut ini perjalanan penyakitnya sangat cepat, dimana infeksi jamur
tipe ini banyak ditemukan pada individu dengan sistem imun yang menurun, seperti pada pasien
yang mendapatkan transplantasi organ, diabetes melitus dan pasien yang sedang dilakukan
kemoterapi. Perjalanan penyakitnya hanya memerlukan waktu beberapa hari atau bulan saja.
Mucorales (Mucor, Rhizopus, Absidia) merupakan jamur yang sering ditemukan pada penderita
diabetes melitus, sedangkan Aspergilus sp, sering ditemukan pada pasien non-diabetes dengan
penurunan sistem imun (imunokompromis). Karena rendahnya imunitas tubuh penderita dan
sifat jamur yang angioinvasif, perjalanan klinis biasanya sangat cepat meluas dan dapat
menghancurkan sinus yang terlibat kemudian dapat meluas ke daerah sekitarnya seperti orbita,
sinus kavernosus, parenkim otak sehingga dapat menyebabkan kematian dalam beberapa jam
apabila tidak dikenali dan dilakukan penanganan secara cepat.7,10
A. Manifestasi Klinis
Secara umum infeksi jamur tipe ini sering terdapat pada penderita diabetes melitus yang
tidak terkontrol, individu yang menerima transplantasi organ, dan pada penderita yang
sedang mendapatkan kemoterapi. Pada penderita dengan penurunan daya tahan tubuh
dengan gejala dan tanda rinosinusitis harus kita curigai dengan infeksi jamur tipe ini.
Gejala klinisnya diawali dengan demam yang tidak respon dengan pemberian antibiotik,
adanya keluhan pembengkakan pada wajah dan orbita, nyeri atau kebas pada wajah yang
disetai kerusakan saraf kranial unilateral atau perubahan penglihatan akut dengan
gangguan pergerakan mata dan penurunan tajam penglihatan.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan edema di daerah muka atau periorbita disertai eritema,
kemosis, proptosis, dan oftalmoplegia. Adanya gejala tersebut yang disertai penurunan
tajam penglihatan menandakan telah terjadi keterlibatan orbita yang progresif. Pada
pemeriksaan rongga mulut dapat ditemukan eschar pada ginggiva dan palatum.
Pemeriksaan endoskopik dapat ditemukan edema mukosa hidung yang disertai sekret
purulen, tetapi umumnya secara khas rongga hidung tampak kering disertai krusta darah.
Adanya eschar pada rongga hidung merupakan tanda patognomonik dari rinosinusitis
jamur invasif akut.10
B. Pemeriksaan
1. Radiologi
CT scan merupakan pemeriksaan radiologi yang harus dilakukan segera. Hal ini
diperlukan untuk mengetahui apakah sudah terjadi erosi tulang dan keterlibatan jaringan
lunak. Pemeriksaan radiologi sinus konvensional tidak dapat digunakan karena tidak
spesifik. Pada CT scan tampak penebalan jaringan yang berbentuk nodular pada mukosa
sinus dan disertai adanya destruksi dinding sinus. Perluasan ke arah orbita dapat
terjadilangsung melewati lapisan tipis lamina papirasea atau melewati pembuluh darah
etmoid. Destruksi tulang jarang ditemukan pada awal infeksi dan dapat ditemukan apabila
telah terjadi nekrosis jaringan lunak.
Penggunaan MRI digunakan untuk mengetahui apakah sudah terjadi keterlibatan mata,
khususnya untuk mengevaluasi keadaan orbita, sinus kavernosus, dan otak. Temuan
utama pada pemeriksaan dengan MRI termasuk keterlibatan bagian dasar hemisfer otak,
batang otak, dan daerah hipotalamus.9

Gambar 4. CT-Scan Potongan Coronal Pasien dengan Sinusitis Jamur Invasif Akut Pada
Sinus Maxillaris Kanan dengan gambaran destruksi dinding Lateral Sinus Maxillaris
2. Mikrobiologi
Mucor sp dan Aspergilus sp adalah merupakan organisme yang sering ditemukan pada
infeksi jamur tipe ini, tetapi beberapa jenis jamur lainnya juga dapat menyebabkan
infeksi yang berhubungan dengan rinosinusitis jamur invasif akut, seperti
Pseudallescheriaboydii.7,10
C. Patogenesis
Pada pemeriksaan mikroskopi dari jaringan yang dicurigai dengan menggunakan 2 atau 3
tetes larutan KOH 10% atau 20% dapat melihat adanya jamur dalam beberapa menit
setelah dilakukan prosedur biopsi. Apabila ada infeksi yang disebabkan oleh jamur
golongan Mucor, maka pada pemeriksaan histopatologi didapati bentuk hifa yang besar,
tidak beraturan, tidak bersepta dan bercabang dengan arah sudut kekanan. Sedangkan
apabila pada Aspergilus, dapat dicurigai apabila di temukan hifa dengan ukuran yang
lebih kecil yaitu 2.5 sampai 5µm dibandingkan dengan ukuran hifa pada Mucor yang
berukuran 6 sampai 50 µm. Bentuk lainnya yang dapat membedakan jenis jamur tersebut
yaitu pada Aspergilus di temukan bentuk hifa yang bersepta dan beraturan, dan pada
bagian cabangnya membentuk sudut 450. Temuan tersebut dapat di identifikasi dengan
pewarnaan hematoxylin – Eosin dan dapat lebih mudah dikenali dengan pewarnaan
khusus, seperti Periodic Acid-Schiff (PAS) dan pewarnaan methenamine silver.7-10
D. Penatalaksanaan
Terapi yang optimal termasuk (1) melakukan penatalaksanaan penyakit metabolik atau
imunologik yang mendasari, (2) penggunaan anti jamur sistemis yang tepat, (3)
pembedahan dengan debrideman luas pada keseluruhan daerah yang terinfeksi, temasuk
daerah mulut,hidung, sinus paranasal, dan jaringan orbita (4) mempertahankan drainase
daerah hidung, sinus paranasal, dan orbita yang adekuat (5) secara terus menerus
memonitor agar tidak terjadi kekambuhan. Penatalaksanaan medis pada penyakit yang
mendasarinnya adalah merupakan faktor paling penting dalam meningkatkan survival
rate.7,10
Terapi anti jamur
Amfoterisin masih merupakan obat pilihan untuk terapi sistemik pada hampir
kebanyakan rinosinusitis jamur akut, walaupun masalah toksisitas obat ini tinggi, oleh
kerena itu perlu dilakukan pemantauan yang baik. Pemberian Amfoterisin B dapat
menyebabkan efek samping yang akut seperti demam, menggigil, sakit kepala,
tromboflebitis, mual, dan muntah. Walaupun obat ini tidak dieksresikan langsung oleh
ginjal, obat ini sangat nefrotoksik dan dapat menyebabkan (biasanya reversibel) asidosis
tubuler. Reaksi lanjutannya adalah termasuk hipokalemia, nefrotoksik, penekanan
sumsum tulang, dan ototoksik. Toksisitas Amfoterisin B ini sangat perlu dipertimbangkan
pada pasien dengan gangguan metabolik. Apabila serum kreatinin menjadi lebih dari 3.0
mg/dl, pemberian obat ini ditunda sampai fungsi ginjal kembali stabil. Dosis total yang
optimum dan durasi dengan menggunakan amfoterisin ini masih belum jelas, secara
umum digunakan dosis tes 1 mg dalam dextrosa 5 % pada hari pertama terapi, kemudian
dilakukan peningkatan dosis 5 mg sampai tercapai dosis 1 mg /kg berat badan. Pada
pasien dengan infeksi yang lebih berat dapat diberikan dosis tes 1 mg yang diberikan
dalam beberapa jam kemudian diikuti dosis ulangan tiap 12 jam yaitu 10 sampai 15 mg
sampai tercapai dosis 0,7 sampai 1 mg / kg berat badan.7-10
E. Prognosis
Keadaan ini memiliki prognosis yang kurang baik. Angka mortalitas dilaporkan 50%,
meskipun dengan operasi yang agresif dan pengobatan. Kekambuhan seringterjadi.10
Chronic Invasive Fungal Sinusitis ( Indolen )
Sinusitis jamur invasif kronik (indolen) ini perjalanan penyakitnya bisa membutuhkan
waktu berbulan-bulan sampai tahun dan banyak terdapat pada penderita dengan
imunokompromis. Tipe ini dihubungkan dengan gambaran granulomatosa pada pemeriksaan
histopatologi. Sinusitis jamur invasif kronik ini adalah bentuk yang jarang ditemukan. Tanda
khas dari infeksi jamur tipe ini adalah adanya invasi jamur ke dalam jaringan mukosa sinus.
Infeksi jamur tipe ini dapat diawali oleh misetoma sinus (Fungal ball) kemudian menjadi invasif
oleh karena perubahan status imun penderita. Oleh karena prognosis yang buruk, tipe ini
disarankan dilakukan pentalaksanaan secara agresif.7-10
A. Manifestasi Klinis
Gejala dari infeksi jamur tipe ini secara umum sama seperti rinosinusitis kronis yaitu
berupa sakit kepala dan sumbatan hidung. Pada keadaan tertentu dapat ditemukan massa
pada daerah sinus, massa tersebut dapat mengerosi pembatas anatomi ke dalam pipi,
orbita, palatum durum, otak ataupun kelenjar pituitari. Keluhan pandangan ganda,
termasuk proptosis sering ditemukan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan biopsi yang
menggambarkan adanya invasi jaringan oleh hifa jamur. Pada pemeriksaan fisik, terdapat
deformitas wajah, proptosis, dan disfungsi saraf kranialis. Pemeriksaan endoskopi hidung
tampak gambaran yang sangat mirip dengan fungal ball (misetoma). Tampak inflamasi
kronis pada sinus yang terinfeksi disertai jaringan granulasi yang mudah berdarah.7,10
B. Pemeriksaan
Radiologi
Pemeriksaan dengan CT scan dianjurkan dan didapatkan gambaran penebalan jaringan
yang meluas ke bagian tulang. Pemeriksaan dengan MRI direkomendasikan pada pasien
dengan infeksi yang meluas ke rongga orbita dan kompartemen intrakranial.9
3. Mikrobiologi
Aspergilus adalah organisme yang paling sering ditemukan pada infeksi jamur tipe ini.
Hifa Aspergilus sedikit dan sulit dilihat dengan pemeriksaan yang menggunakan
pewarnaan rutin. Gambaran Aspergilus ini dapat diidentifikasi dengan pewarnaan perak.
Organisme ini berpendar (berfluoresensi) pada pemeriksaan dengan lampu ultraviolet.7
C. Patogenesis
Terdapat invasi jaringan dibawah epitel, termasuk tulang dan pembuluh darah.
Keterlibatan pembuluh darah tidak menyebabkan nekrosis jaringan akut seperti pada
sinusitis jamur akut invasif. Secara histologi, terdapat reaksi inflamasi kronis dengan
pembentukan giant cell dan granulasi pada jaringan. Perbedaan antara rinosinusitis jamur
kronis invasif dengan misetoma tidak terlalu jelas. Hanya dapat dibedakan dengan cara
memastikan adanya hifa jamur pada jaringan sinus.7,10
D. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang paling baik adalah dikombinasikan dengan tindakan bedah.
Diagnosis dikonfirmasikan melalui pemeriksaan histopatologi potongan beku dari
jaringan yang dicurigai. Reseksi lokal yang luas merupakan pilihan dan dikombinasikan
dengan pemberian anti jamur sistemik. Tergantung lokasi sinus yang terinfeksi dan
pengalaman ahli bedah, pembedahan dapat dilakukan dengan teknik minimal invasif atau
teknik operasi terbuka. Biasanya diperlukan tindakan biopsi ulang untuk mengetahui
apakah ada sisa jamur atau penyakit yang berulang. Penggunaan anti jamur dipilih
berdasarkan jamur yang menginfeksi. Amfoterisin merupakan anti jamur yang paling
sering digunakan. Lamanya pengobatan tergantung dari sisa infeksi jamur atau letak
infeksi, kemungkinan penyakit berulang yang dipengaruhi oleh penurunan daya tahan
tubuh penderita, dan respon pengobatan. Kekambuhan sering terjadi, walaupun telah
diberikan pemberian anti jamur sistemis setelah pembedahan. Biasanya tidak perlu
dilakukan pembedahan ulang dan pasien dapat diterapi dengan pilihan anti jamur lainnya
seperti Itrakonazol.7-10
E. Prognosis
Prognosis baik pada pasien yang menerima anti jamur sistemik dalam waktu yang lama.
Pasien yang menerima anti jamur sistemik dalam waktu singkat sering kambuh, dengan
demikian memerlukan terapi lebih lanjut. 10
Granulomatous Invasive Fungal Sinusitis
A. Manifestasi Klinis
Pasien penderita sinusitis jamur invasif granulomatosus datang dengan gejala sinusitis
kronik yang berhubungan dengan proptosis. Pada pemeriksaan hidung dapat tidak tampak
jelas, namun dengan pemeriksaan mata biasanya lebih jelas mengungkapkan kesan.10
B. Pemeriksaan
Histopatologi
Ditemukannya granuloma dengan sel raksasa multinuklear dengan disertai nekrosis
akibat tekanan dan erosi yang ditemukan dalam granulomatosa sinusitis jamur invasif.10
C. Patogenesis
Penyakit ini mulai sering dilaporkan terjadi pada individu imunokompeten dari Afrika
Utara. Penyakit sinusitis jamur invasif granulomatosa ini pada umumnya dikaitkan
dengan proptosis.10
D. Penatalaksanaan
Debridemen menjadi pilihan utama yang terbaik dalam pengobatan, diikuti dengan
pemberian pengobatan secara sistemik dengan obat antijamur.
Rekurensi kekambuhan dari penyakit ini jarang terjadi. Endoskopi dan pendekatan
eksternal dapat menjadi pertimbangan dalam penatalaksanaan penderita sinusitis jamur
invasif granulomatosa.10
E. Prognosis
Pengalaman mengenai penyakit ini sungguh jarang dan terbatas bahkan sedikit sekali.
Secara umum prognosisnya baik namun terdapat kecenderungan terjadinya
kekambuhan.10
Diagnosis
Infeksi jamur pada sinus harus dipertimbangkan pada semua penderita sinusitis kronis
yang tidak respon terhadap pengobatan antibiotika dan pembedahan. Sinusitis jamur invasif
biasanya terdapat pada penderita dengan penurunan sistem imun dengan disertai gejala akut
seperti demam, batuk, ulserasi pada mukosa hidung, epistaksis, dan sakit kepala. Bentuk kronis
invasif dapat timbul dengan gejala proptosis atau sindroma apeks orbital.
Beberapa faktor yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis sinusitis jamur,
yaitu: gejala yang kompleks, perjalanan penyakit (hari, minggu, tahun), keadaan sistem imun
penderita, pemeriksaan fisik (endoskopi hidung), dan pemeriksaan radiologi, patologi, serta
mikologi. Semua faktor tersebut sangat penting dalam menentukan penanganan penderita pada
fase awal. Adanya invasi jaringan dapat dicurigai pada pasien yang mempunyai resiko
penurunan sistem imun atau secara klinis jelas tampak adanya keterlibatan jaringan di sekitar
sinus. Erosi pada daerah sekitar harus dapat dibedakan dengan invasi jaringan. Bentuk noninvasif
dapat ditandai dengan proses erosi tanpa adanya invasi jaringan. Pemeriksaan histopatologi
selalu digunakan untuk membedakan suatu keadaan bentuk invasif atau noninvasif. Infeksi jamur
pada sinus mempunyai bentuk akut dan kronis. Status imun penderita sangat mempengaruhi
perkembangan penyakit. Misetoma dapat timbul tanpa gejala dalam beberapa tahun atau hanya
dengan gejala sumbatan hidung kronis yang disertai sekret pada hidung, sedangkan bentuk akut
invasif perkembangan penyakitnya sangat cepat, dengan gejala nyeri, pembengkakan pada
daerah wajah, gangguan orbita dan gangguan saraf pusat yang disebabkan perluasan penyakit
pada daerah sekitarnya. Diagnosis awal sinusitis jamur fulminan sangatlah penting oleh karena
penyakit ini perjalanannya sangat singkat dan dapat terjadi kematian dalam beberapa jam.7,10
Diagnosis Banding
Diagnosis banding sinusitis jamur adalah neoplasma benigna maupun maligna. Sinusitis
jamur invasif dengan neoplasma maligna sulit dibedakan atau tidak dapat dibedakan dari
gambaran radiologi. Tetapi dapat dibedakan dari gambaran histopatologi. Pada sinusitis jamur
invasif ada tanda yang khas yaitu adanya invasi ke jaringan mukosa.10,11
Pembedahan
Pembedahan secara luas dianggap sebagai penatalaksanaan terpilih untuk sinusitis jamur.
Tujuan utama pembedahan adalah debridemen sekret dan polip (jika ada) dari sinus yang
terinfeksi dan memperbaiki aliran udara sinus. Pembedahan secara eksternal dapat dipikirkan
jika lesi tidak memungkinakan dilakukan secara endoskopi. Pembedahan dengan menghilangkan
fungus ball yang ada merupakan terapi yang cukup untuk sinus mycetoma, biasanya tidak
membutuhkan pengobatan lain, kecuali untuk kondisi yang mendasari.
Tindakan bedah pada sinusitis bisa berupa irigasi sinus (antral lavage), nasal antrostomy,
operasi Caldwell-Luc dan Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS).
Irigasi Sinus (Antral lavage).
Kegagalan sinus maksilaris untuk membersihkan sekret atau produk infeksi dengan terapi
medis yang adekuat mengakibatkan rusaknya mucociliary atau obstruksi pada ostium sinus. Hal
ini mengakibatkan retensi mukopus dan produk infeksi lain di dalam antrum. Pada kondisi ini
irigasi sinus maksilaris akan membuang produk-produk infeksi seperti jaringan nekrotik, kuman-
kuman penyakit dan debris yang terjadi. Juga dapat dilakukan pemeriksaan kultur dan sitologi.
Tindakan irigasi ini akan membantu ventilasi dan oksigenasi sinus. Tindakan irigasi sinus dapat
dilakukan melalui meatus inferior dengan menggunakan trokar bengkok atau lurus.
Nasal Antrostomy.
Adanya lubang yang cukup lapang pada antrostomy memungkinkan drainase secara
gravitasi, sehingga akan mengurangi infeksi, adanya akses untuk antral lavage, serta dapat
melakukan visualisasi ke dalam sinus yang memungkinkan mengeluarkan jaringan nekrotik atau
benda asing. Tindakan ini biasanya dilakukan melalui meatus inferior, prosedur ini juga dikenal
dengan naso antral window dan dapat dilakukan secara lokal maupun general anestesi.
Operasi Caldwell-Luc.
Prinsip dari operasi ini yaitu membuka dinding depan sinus maksila pada daerah fosa
kanina (transbuccal antrostomy), dan membuat nasoantral window melalui meatus inferior.
Dengan cara ini memungkinkan visualisasi yang lebih baik ke dalam sinus maksila,sehingga
penilaian penyakit di antrum dapat lebih baik.
Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS).
Konsep endoskopi untuk diagnosis dan terapi operatif dari sinusitis rekuren didasarkan
atas penemuan Messerklinger, bahwa hampir semua infeksi pada sinus maksila dan frontal
adalah rinogen dan merupakan infeksi sekunder dari fokus yang terdapat pada selulae etmoidalis
anterior, khusus di daerah infundibulum etmoidalis dan resesus frontalis yang dikenal sebagai
ostiomeatal unit, yang kemudian menyebar ke dalam sinus-sinus besar tersebut.
Komplikasi
Pada allergic fungal sinusitis dapat terjadi erosi pada struktur yang di dekatnya jika tidak
diterapi. Erosi sering dapat terlihat pada pasien yang mengalami proptosis. Pada mycetoma
fungal sinusitis jika tidak diterapi dapat memperburuk gejala-gejala sinusitis yang berpotensi
untuk terjadi komplikasi ke orbita dan sistem saraf pusat. Pada Acute Invasive Fungal Sinusitis
dapat menginvasi struktur di dekatnya yang menyebabkan kerusakan jaringan dan nekrosis.
Selain itu juga dapat terjadi trombosis sinus kavernosus dan invasi ke susunan saraf pusat. Pada
Chronic Invasive Fungal Sinusitis dan Granulomatous Fungal Sinusitis dapat menginvasi
jaringan sekitarnya sehingga terjadi erosi ke orbita atau susunan saraf pusat.10-12

Bab III
Pembahasan Kasus
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada sekitar hidung kanan dan pipi kanan. nyeri juga
dirasakan dibagian kepala. Pasien mengeluh keluar cairan dari hidung seperti nanah kental dan
berbau serta terasa ada cairan yang turun dari belakang hidung ke tenggorokan. Hal ini disertai
dengan keluhan hidung sebelah kanan yang tersumbat. Keluhan dirasakan sejak kurang lebih 4
bulan terakhir namun sejak 2 minggu terakhir keluhan memberat dan menggangu pasien, Pasien
mengatakan sering pilek dan bersin-bersin terutama pada malam dan pagi hari. Empat bulan lalu
pasien berobat dan diberikan obat minum. Keluhan membaik setelah diberi obat dan pasien juga
telah mencabut gigi yang berlubang atas saran dokter. Setelah itu kadang-kadang dirasakan nyeri
namun tidak terlalu menganggu pasien. Sekitar 2 minggu keluhan memberat dan pasien berobat,
10 hari lalu menurut pasien dilakukan pencucian sinus dengan cara ditusuk di bagian hidungnya,
keluhan sempat membaik namun timbul lagi..
Berdasarkan tinjauan teori keluhan-keluhan yang dialami pasien mengarah kepada
sinusitis. Berdasarkan waktu perjalanan penyakit yang telah timbul sekitar 4 bulan lalu maka
dapat diklasifikasikan sebagati sinusitis kronik. Dengan memenuhi kriteria diagnosis yaitu
adanya keluhan pada pasien hidung tersumbat, nyeri pada wajah dan sekret yang mukopurulen
serta didapatkan bukti sinusitis pada pemeriksaan radiologi. Jika ditinjau dari riwayat pengobatan
pasien yaitu empat bulan lalu pasien mendapatkan obat oral untuk keluhan yang sama, membaik
namun tetap merasakan nyeri di wajah sekali-sekali dan 10 hari lalu telah dilakukan prosedur
inferior meatal antrostomy namun keluhan tidak sembuh sempurna, maka perlu dipikirkan
infeksi jamur sebagai penyebab sinusitis, pada pasien juga telah dilakukan eliminasi faktor
dentogen dengan pencabutan gigi. Maka pada pasien harus dilakukan tindak bedah yang mampu
mendrainase sinus dan sekret mokupurulen secara lebih baik, pada pasien ini dilakukan
osteotomi maksila dengan prosedur Caldwell-Luc. Durante operasi dipatkan pada sinus maksila
sekret mukopurulen serta adanya massa berbentuk bulatan berwarna coklat-hitam yang
merupakan presentasi salah satu bentuk infeksi jamur yaitu sinus mycetoma/fungus ball.
Walaupun diagnosis pasti harus dengan pemeriksaan patologi namun dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik, serta penunjang pasien ini dapat didiagnosis sinusitis jamur maksilaris dextra.
Penatalaksaan yang dilakukan sudah tepat dengan drainase sinus serta mengevakuasi semua
fungus ball yang ada.
Pada pasein didapatkan riwayat hidung sering sumbat serta sering bersin-bersin yang
menjadi salah satu faktor resiko terjadinya sinusitis, karena organ-organ yang membentuk KOM
(kompleks osteo meatal) letaknya berdekatan dan apabila terjadi edema, mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Pada
pasien tidak didapatkan riwayat immunocompromised seperti penyakit HIV, DM,
penggunaansteroid lama sehingga dapat disimpulkan pasien immunokompeten, sehingga infeksi
jamur yang terjadi pada sinus biasanya merupakan tipe nonivasif sehingga diharapkan
pentalaksaan yang dilakukan telah cukup.

BAB IV
Kesimpulan
Sinusitis jamur merupakan salah satu penyakit yang kurang menjadi topik bahasan
kalangan pakar medis di bidang telinga, hidung dan tenggorok serta kepala leher. Namun
semakin hari insiden terjadinya penyakit ini semakin banyak ditemui dan dikeluhkan oleh pasien.
Klinisi harus memiliki perhatian khusus dan kecurigaan yang tinggi untuk mendiagnosis penyait
ini karena gejala penyakit ini samar dan tidak begitu berbeda secara umum dengan penyakit
radang mukosa hidung lainnya. Pendekatan yang menyeluruh dan anamnesis yang terarah serta
pemeriksaan fisik yang dikombinasikan dengan penunjang membantu dalam menegakan
diagnosis sinusitis setiap jenis jamur dan dapat melakukaan penatalaksanaan dengan lebih tepat
DAFTAR PUSTAKA
1. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus paranasal. dalam: Buku ajar ilmu kesehatan telinga,
hidung, tenggorok, kepala leher. Edisi ke-7. FKUI. Jakarta; 2012.
2. Hilger PA. Hidung dan sinus paranasalis. dalam: Boies buku ajar penyakit THT. Edisi ke-6.
Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta; 1997.
3. Balasubramanian. Fungal sinusitis an overview. Stanely medical college. 2013.
4. Gustarini IA, Kristyono I. Sinusitis sfenoid jamur. Jurnal THT-KL universitas airlangga.
2016.
5. Rita Anggraini D. Anantomi dan fungsi sinus paranasal. Jurnal kedokteran fakultas
kedokteran universitas sumatra utara, 2005.
6. Kyung WC, Harold MC. Essential : Anatomi kepala dan leher. Edidsi 7. Jakarta : Binarupa
aksara : 2002.
7. Tri A, Nasution M. Frekuensi penderita rinosinusitis maksila kronis yang disebabkan infeksi
jamur. Jurnal kedokteran fakultas kedokteran universitas sumatera utara, 2007.
8. Indriany S, Munir D. Proporsi karakteristik penderita rinosinusitis kronik dengan kultur jamu
positif. Jurnal ORLI, 2016.
9. Fungal Sinusitis. Diunduh dari
http//www.radiology.uthescsa.edu/CAR/ELTXT/FS/fungalsinusitis.html, 2008.
10. Ramadan H, Sinusitis fungal. Diunduh dari http://emedecine.medscape.com/article/863062,
22 April 2009.
11. Van p, Broek L. Buku saku: ilmu kesehatan tenggorok hidung dan telinga. Edisi 12. Jakarta:
ECG. 2009
12. Amin P. Fungal sinusitis. Journal physician and intensivist, Bombay hospital journal, 2011.