Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

Fraktur Pelvis Tidak Stabil dengan Syok Hipovolemik

Oleh:

dr. Tesa Iswa Rahman

Pembimbing: dr. Satya Wardana Sp.B

Internship RSUD Panglima Sebaya

Februari 2019
BAB I
ILUSTRASI KASUS

IDENTITAS
Nama : Ny S
Umur : 37 thn
Agama : Islam
Alamat : Kerang
Bangsa : Indonesia
Tanggal masuk : 30/7/2019

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri di perut dan panggul setelah tertimpa bak joinder (alat berat) 4 Jam SMRS
Mekanisme Trauma
Nyeri di perut dan panggul setelah tertimpa bak joinder (alat berat) 4 Jam SMRS. Saat
bekerja di dekat joinder, bak dari alat tersebut jatuh dan menimpa bagian panggul dan perut
pasien, hingga pasien jatuh terlentang, bak alat berat jatuh dari ketinggian sekitar 4 meter.
Pasien mengeluhkan nyeri pada bagian panggul dan sekitar bokong serta perut terutama saat
menggerakan panggul atau paha. Kepala pasien tidak terbentur, sakit kpala (-), pingsan (-),
muntah (-).

Primary Survey

Airway + C Spine Control Clear

RR: 20 x/menit, SpO2 98%, pengembangan


Breathing + Ventilation
dada simetris

Nadi: 90 x/menit reguler lemah, tekanan


Circulation + BleedingControl
darah: 90/palpasi, akral dingin, CRT >2”
GCS 15, pupil isokor 3 mm, refleks cahaya
Disability
+/+

Jejas + di LUQ abdomen dan di pubis, nyeri


Exposure/Environtment
tekan pada jejas

Assessment
Syok Hipovolemik
Susp Perdarahan Intraabdomen
Susp Fraktur Pelvis

Manajemen
Resusitasi cairan: infus Ringer Lactate (hangat) dua jalur loading 1 L
Respon
Transient response
 Nadi 92 x/menit reguler, Lemah
 Tekanan darah 90/60 mmHg
 Akral dingin
 CRT >2”
 Konsul dokter spesialis bedah

Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan darah lengkap CITO
 USG FAST
 Foto Pelvis AP CITO
Hasil Laboratorium
PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN
Hemoglobin 10,8 13,2-17,3 g/dl
Hematokrit 30.8 33-45%
Leukosit 2301 5-10 ribu/Ul
Trombosit 377 150-440 ribu/Ul
Eritrosit 3,27 4,4-5,9 juta/Ul
Foto Pelvis

Kesan: Didapatkan adanya fraktur pada ramus pubis sinistra (open book type)
USG FAST

Ekspertise:
Tak tampak cairan bebas di Morison pouch, splenorenal, parakolik kanan kiri, dan
paravesica.
Kesan: USG FAST negatif
Sumber perdarahan
 External bleeding (-)
 Internal bleeding (+)

Keluhan: nyeri panggul dan peurt


Mata : Konjungtiva anemis +/+
Pelvis : Jejas (+) pada area pubis,Nyeri tekan, Nyeri dengan pergerakan

Diagnosis Kerja
Fraktur Pelvis tidak stabil dengan syok hipovolemik

Manajemen lanjutan
Pemasangan Pelvis Sling

Secondary Survey
Allergy: tidak ada
Medication: tidak ada
Past illness: tidak ada
Last meal: makan/minum terakhir 5 jam SMRS
Events/environment related injury: sesuai anamnesis riwayat penyakit sekarang.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: tampak sakit berat
Kesadaraan : Compos mentis
Kepala : normochepali, jejas (-)
Mata : conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, RCL +/+, RCTL +/+, pupil bulat
isokor, diameter 3 mm/3 mm
Telinga : normotia, otorhea (-/-)
Hidung : normosepta, sekret -/-, rhinore (-/-)
Leher : pembesaran kelenjar KGB (-), jejas (-), deviasi trakhea (-)
Thorak : Jejas (-)
Pulmo :
Inspeksi : Simetris saat statis maupun dinamis
Palpasi : Ekspansi dada baik, vocal fremitus kiri dan kanan sama
Perkusi : Sonor pada paru kiri dan kanan
Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung :
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba pada ICS V 1 jari medial linea midklavikula
sinistra
Perkusi : Batas jantung kiri ICS V 1 jari medial linea Midklavikula sinistra
Batas jantung kanan di linea sternalis dextra
Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-),gallop (-)
Abdomen :
Inspeksi : Datar, jejas (+) di abdomen kiri
Palpasi : Supel, nyeri tekan (+) di seluruh lapang abdomen, nyeri
lepas (-), hepar dan limpa tidak teraba membesar.
Perkusi : Timpani pada seluruh abdomen, shifting dullness (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas :akral dingin, CRT 3 detik, deformitas (-), pulsasi teraba lemah

Status Lokalis
Regio pelvis :
Look : luka terbuka (-), perdarahan (-), jejas (+).
Feel : nyeri tekan (+), tenderness (+), NVD (-)
Move : ROM terbatas karena nyeri

PENATALAKSANAAN
Observasi tanda tanda vital
Infus RL yang dihangatkan, guyur sampai 2000cc, Jika masih syok Trasfusi PRC
Pasang DC
Inj Ceftriaxon 1gr/12 Jam IV
Inj Ranitidin 50mg/12 Jam IV
Inj Ketorolac 30mg/ 8 Jam IV
Bed rest dan immobilisasi
Konsul untuk perawatan di ICU
Rencana rujuk untuk angigrafi/embolisasi, jika pasien stabil
PROGNOSIS
Ad vitam : dubia
Ad functionam : dubia
Ad sanationam : dubia

Follow UP
Hari Rawat ke 1 tanggal 31-07-19
S Nyeri (+), lemas(+)
O Kes: CM GCS 15
Nadi: 80x/ menit, teraba kuat, akral hangat
TD:90/60, RR: 20x/menit
Urin: Produksi 35cc/Jam
A Fraktur Pelvis Unstable
Syok Hipovolemik (teratasi)
P 1. Ceftriaxon 2x1 gr (IV)
2. Ketorolac 30mg 2x1 (IV)
3. Ranitidin 50mg 2x1 (IV)
4. Vascon 1 ampul dalam syringe pump kecepatan 5 cc/jam (IV)
5. Pelvic sling dan DC terpasang
Hari Rawat ke 2 tanggal 1-8-19
S Nyeri (+), lemas(+)
O Kes: CM GCS 15
Nadi: 80x/ menit, teraba kuat, akral hangat
TD:90/60, RR: 20x/menit
Urin: Produksi 40cc/Jam
A Fraktur Pelvis Unstable
Syok Hipovolemik (teratasi)
P 1. Ceftriaxon 2x1 gr (IV)
2. Ketorolac 30mg 2x1 (IV)
3. Ranitidin 50mg 2x1 (IV)
4. Vascon 1 ampul dalam syringe pump kecepatan 5 cc/jam (IV)
5. Pelvic sling dan DC terpasang
6. Rujuk Ke RS Siloam Balikpapan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Pelvis
Pelvis merupakan struktur mirip-cincin yang terbentuk dari tiga tulang: sacrum dan
dua tulang innominata, yang masing-masing terdiri dari ilium, ischium dan pubis. Tulang-
tulang innominata menyatu dengan sacrum di bagian posterior pada dua persendian
sacroiliaca di bagian anterior, tulang-tulang ini bersatu pada simfisis pubis. Simfisis
bertindak sebagai penopang sepanjang memikul beban berat badan untuk mempertahankan
struktur cincin pelvis.1
Tiga tulang dan tiga persendian tersebut menjadikan cincin pelvis stabil oleh struktur
ligamentosa, yang terkuat dan paling penting adalah ligamentum-ligamentum sacroiliaca
posterior. Ligamentum-ligamentum ini terbuat dari serat oblik pendek yang melintang dari
tonjolan posterior sacrum sampai ke spina iliaca posterior superior (SIPS) dan spina iliaca
posterior inferior (SIPI) seperti halnya serat longitudinal yang lebih panjang melintang dari
sacrum lateral sampai ke spina iliaca posterior superior (SIPS) dan bergabung dengan
ligamentum sacrotuberale. Ligamentum sacroiliaca anterior jauh kurang kuat dibandingkan
dengan ligamentum sacroiliaca posterior. Ligamentum sacrotuberale adalah sebuah jalinan
kuat yang melintang dari sacrum posterolateral dan aspek dorsal spina iliaca posterior sampai
ke tuber ischiadicum. Ligamentum ini, bersama dengan ligamentum sacroiliaca posterior,
memberikan stabilitas vertikal pada pelvis. Ligamentum sacrospinosum melintang dari batas
lateral sacrum dan coccygeus sampai ke ligamentum sacrotuberale dan masuk ke spina
ischiadica. Ligamentum iliolumbale melintang dari processus transversus lumbalis keempat
dan kelima sampai ke crista iliaca posterior; ligamentum lumbosacrale melintang dari
processus transversus lumbalis ke lima sampai ke ala ossis sacri (gambar 1).1
Arteri iliaca communis terbagi, menjadi arteri iliaca externa, yang terdapat pada
pelvis anterior diatas pinggiran pelvis. Arteri iliaca interna terletak diatas pinggiran pelvis.
Arteri tersebut mengalir ke anterior dan dalam dekat dengan sendi sacroliliaca. Cabang
posterior arteri iliaca interna termasuk arteri iliolumbalis, arteri glutea superior dan arteri
sacralis lateralis. Arteri glutea superior berjalan ke sekeliling menuju bentuk panggul lebih
besar, yang terletak secara langsung diatas tulang. Cabang anterior arteri iliaca interna
termasuk arteri obturatoria, arteri umbilicalis, arteri vesicalis, arteri pudenda, arteri glutea
inferior, arteri rectalis dan arteri hemoroidalis. Arteri pudenda dan obturatoria secara
anatomis berhubungan dengan rami pubis dan dapat cedera dengan fraktur atau perlukaan
pada struktur ini. Arteri-arteri ini dan juga vena- vena yang menyertainya seluruhnya dapat
cedera selama adanya disrupsi pelvis (gambar 2). Pemahaman tentang anatomi pelvis akan
membantu ahli bedah ortopedi untuk mengenali pola fraktur mana yang lebih mungkin
menyebabkan kerusakan langsung terhadap pembuluh darah mayor dan mengakibatkan
perdarahan retroperitoneal signifikan.

Mekanisme Trauma
Mekanisme trauma pada cincin panggul terdiri atas: 3
Kompresi Antero-Posterior (APC)
Hal ini biasanya terjadi akibat tabrakan antara seorang pejalan kaki kendaraan. Ramus pubis
mengalami fraktur , tulang inominata terbelah dan mengalami rotasi eksterna disertai robekan
simfisis. Keadaan ini disebut sebagai open book injury. Bagian posterior ligamen sakro iliaka
mengalami robekan parsial atau dapat disertai fraktur bagian belakang ilium.
Kompresi Lateral (LC)
Kompresi dari samping akan menyebabkan cincin mengalami keretakan . Hal ini terjadi
apabila ada trauma samping karena kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian . Pada
keadaan ini ramus pubis bagian depan pada kedua sisinya mengalami fraktur dan bagian
belakang terdapat strain dari sendi sakro iliaka atau fraktur ilium atau dapat pula fraktur
ramus pubis pada sisi yang sama.
Trauma Vertikal (SV)
Tulang inominata pada satu sisi mengalami pergerakan secara vertikal disertai fraktur ramus
pubis dan disrupsi sendi sakro iliaka pada sisi yang sama. Hal ini terjadi apabila seseorang
jatuh dari ketinggian pada satu tungkai.
Trauma Kombinasi (CM)
Pada trauma yang lebih hebat dapat terjadi kombinasi kelainan diatas.
1
Klasifikasi
Cidera pelvis dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu : 3
Fraktur yang terisolasi dengan cincin pelvis yang utuh
Fraktur avulsi
Sepotong tulang tertarik oleh kontraksi otot yang hebat. Fraktur ini biasanya
ditemukan pada olahragawan dan atlet. Muskulus Sartorius dapat menarik spina iliaca
anterior superior, rektus femoris menarik spina iliaca anterior inferior , adductor longus
menarik sepotong pubis, dan urat-urat lurik menarik bagian-bagian iskium. Nyeri hilang
biasanya dalam beberapa bulan. Avulsi pada apofisis iskium oleh otot-otot lutut jarang
mengakibatkan gejala menetap, dalam hal ini reduksi terbuka dan fiksasi internal
diindikasikan.
Fraktur langsung
Pukulan langsung pada pelvis, biasanya setelah jatuh dari tempat tinggi, dapat
menyebabkan fraktur iskium atau ala ossis ilii. Dalam hal ini memerlukan bed rest total
sampai nyeri mereda.
Fraktur-tekanan
Fraktur pada rami pubis cukup sering ditemukan dan sering dirasakan yidak nyeri.
Pada pasien osteoporosis dan osteomalasia yang berat. Yang lebih sulit didiagnosis adalah
fraktur- tekanan disekitar sendi sacroiliaca. Ini adalah penyebab nyeri sacroiliaca yang tak
lazim pada orangtua yang menderita osteoporosis.

Fraktur pada cincin pelvis


Telah lama diperdebatkan bahwa karena kakunya pelvis, patah di suatu tempat cincin
pasti diikuti pada tempat yang lainnya, kecuali fraktur akibat pukulan langsung atau fraktur
pada anak-anak yang simfisis dan sendi sacroiliaca masih elastic. Tetapi, patahan kedua
sering tidak ditemukan, baik karena fraktur tereduksi segera atau karena sendi sacroiliaca
hanya rusak sebagian. Dalam hal ini fraktur yang kelihatan tidak mengalami pergeseran dan
cincin bersifat stabil. Fraktur atau kerusakan sendi yang jelas bergeser, dan semua fraktur
cincin ganda yang jelas, bersifat tak stabil. Perbedaan ini lebih bernilai praktis daripada
klasifikasi kedalam fraktur cincin tunggal dan ganda.
Tekanan anteroposterior, cidera ini biasanya disebabkan oleh tabrakan frontal saat
kecelakaan. Rami pubis mengalami fraktur atau tulang inominata retak terbelah dan berotasi
keluar disertai kerusakan simphisis. Fraktur ini biasa disebut “open book”. Bagian posterior
ligament sacroiliaca robek sebagian, atau mungkin terdapat fraktur pada bagian posterior
2
ilium. Tekanan lateral, tekanan dari sisi ke sisi pelvis menyebabkan cincin melengkung dan
patah. Di bagian anterior rami pubis, pada satu atau kedua sisi mengalami fraktur dan di
bagian posterior terdapat strain sacroiliaca yang berat atau fraktur pada ilium, baik pada sisi
yang sama seperti fraktur rami pubis atau pada sisi yang sebaliknya pada pelvis. Apabila
terjadi pergeseran sendi sacroiliaca yang besar maka pelvis tidak stabil.
Pemuntiran vertical, tulang inominata pada satu sisi bergeser secara vertical,
menyebabkan fraktur vertical, menyebabkan fraktur rami pubis dan merusak daerah
sacroiliaca pada sisi yang sama. Ini secara khas terjadi tumpuan dengan salah satu kaki saat
terjatuh dari ketinggian. Cidera ini biasanya berat dan tidak stabil dengan robekan jaringan
lunak dan perdarahan retroperitoneal.
Tile (1988) membagi fraktur pelvis ke dalam cidera yang stabil, cidera yang secara rotasi tak
stabil dan cidera yang secara rotasi dan vertikal tak stabil.2
 Tipe A/stabil; ini temasuk avulsi dan fraktur pada cincin pelvis dengan sedikit atau tanpa
pergeseran.
o A1 : fraktur panggul tidak mengenai cincin
o A2 : stabil, terdapat pergeseran cincin yang minimal dari fraktur

 Tipe B yaitu secara rotasi tidak stabil tapi secara vertikal stabil. Daya rotasi luar yang
mengena pada satu sisi pelvis dapat merusak dan membuka simfisis biasa disebut fraktur
open book atau daya rotasi internal yaitu tekanan lateral yang dapat menyebabkan fraktur
pada rami iskiopubik pada salah satu atau kedua sisi juga disertai cidera posterior tetapi
tida ada pembukaan simfisis.
o B1 : open book
o B2 : kompresi lateral ipsilateral
o B3 : kompresi lateral kontralateral (bucket-handle)

 Tipe C yaitu secara rotasi dan vertical tak stabil, terdapat kerusakan pada ligament
posterior yang keras dengan cidera pada salah satu atau kedua sisi dan pergeseran
vertical pada salah satu sisi pelvis, mungkin juga terdapat fraktur acetabulum.
o C1 : unilateral
o C2 : bilateral
o C3 : disertai fraktur asetabulum

3
Anamnesis :
a. Keadaan dan waktu trauma
b. Miksi terakhir
c. Waktu dan jumlah makan dan minum yang terakhir
d. Bila penderita wanita apakah sedang hamil atau menstruasi
e. Trauma lainnya seperti trauma pada kepala

Pemeriksaan Klinik :
a. Keadaan umum
 Denyut nadi, tekanan darah dan respirasi
 Lakukan survey kemungkinan trauma lainnya
b. Lokal
 Pemeriksaan nyeri :
o Tekanan dari samping cincin panggul
o Tarikan pada cincin panggul
 Inspeksi perineum untuk mengetahui asanya Perdarahan, pembengkakan dan
deformitas
 Tentukan derajat ketidakstabilan cincin panggul dengan palpasi pada ramus dan
simfisis pubis
 Pemeriksaan colok dubur

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan bila ditemukan nyeri subjektif dan objektif, dan pergerakan
abnormal pada gelang panggul. Untuk itu, pelvis ditekan ke belakang dan ke medial secara
hati- hati pada kedua spina iliaka anterior superior, ke medial pada kedua trokanter mayor, ke
belakang pada simpisis pubis, dan ke medial pada kedua krista iliaka. Apabila pemeriksaan
ini menyebabkan nyeri, patut dicurigai adanya patah tulang panggul.4
Kemudian dicari adanya gangguan kencing seperti retensi urin atau perdarahan
melalui uretra, serta dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk melakukan penilaian pada
sakrum, atau tulang pubis dari dalam.
Sinar X dapat memperlihatkan fraktur pada rami pubis, fraktur ipsilateral atau kontra
lateral pada elemen posterior, pemisahan simfisis, kerusakan pada sendi sacroiliaca atau
kombinasi. CT-scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat cidera. 4

4
Sistem Klasifikasi dan nilai Prognostik
Beberapa sistem klasifikasi telah dirumuskan untuk menjelaskan cedera pelvis
berdasarkan sifat dasar dan stabilitas disrupsi pelvis atau berdasarkan besar dan arah tekanan
yang diberikan ke pelvis. Masing-masing klasifikasi telah dikembangkan untuk memberikan
tuntunan pada ahli bedah umum dan ortopedi tentang tipe dan kemungkinan masalah
kesulitan manajemen yang mungkin dihadapi dengan masing-masing tipe fraktur. Sistem
klasifikasi fraktur pelvis ini, salah satu yang dijelaskan oleh Young dan Burgess, paling erat
hubungannya dengan kebutuhan resusitasi dan pola yang terkait dengan cedera. Sistem ini
berdasarkan pada seri standar gambaran pelvis dan gambaran dalam dan luar, sebagaimana
dijelaskan oleh Pennal dkk.4
Klasifikasi Young-Burgess membagi disrupsi pelvis kedalam cedera-cedera kompresi
anterior-posterior (APC), kompresi lateral (LC), shear vertikal (VS), dan mekanisme
kombinasi (CM) (gambar 3). Kategori APC dan LC lebih lanjut disubklasifikasi dari tipe I –
III berdasarkan pada meningkatnya perburukan cedera yang dihasilkan oleh peningkatan
tekanan besar. Cedera APC disebabkan oleh tubrukan anterior terhadap pelvis, sering
mendorong ke arah diastase simfisis pubis. Ada cedera “open book” yang mengganggu
ligamentum sacroiliaca anterior seperti halnya ligamentum sacrospinale ipsilateral dan
ligamentum sacrotuberale. Cedera APC dipertimbangkan menjadi penanda radiografi yang
baik untuk cabang-cabang pembuluh darah iliaca interna, yang berada dalam penjajaran dekat
dengan persendian sacroiliaca anterior.1

Gambar 1. Klasifikasi fraktur pelvis Young-Burgess. A, kompresi anteroposterior tipe I. B,


kompresi anteroposterior tipe II. C, kompresi anteroposterior tipe III. D, kompresi lateral tipe

5
I. E, kompresi lateral tipe II. F, kompresi lateral tipe III. G, shear vertikal. Tanda panah pada
masing-masing panel mengindikasikan arah tekanan yang menghasilkan pola fraktur.

Cedera LC sebagai akibat dari benturan lateral pada pelvis yang memutar pelvis pada
sisi benturan ke arah midline. Ligamentum sacrotuberale dan ligamentum sacrospinale, serta
pembuluh darah iliaca interna, memendek dan tidak terkena gaya tarik. Disrupsi pembuluh
darah besar bernama (misal, arteri iliaca interna, arteri glutea superior) relatif luar biasa
dengan cedera LC; ketika hal ini terjadi, diduga sebagai akibat dari laserasi fragmen fraktur.
Cedera VS dibedakan dari pemindahan vertikal hemipelvis. Perpindahan hemipelvis mungkin
dibarengi dengan cedera vaskuler lokal yang parah. Pola cedera CM meliputi fraktur pelvis
berkekuatan tinggi yang ditimbulkan oleh kombinasi dua vektor tekanan terpisah.
Klasifikasi fraktur pelvis Young-Burgess dan dugaan vektor tekanan juga telah
menunjukkan berkorelasi baik dengan pola cedera organ, persyaratan resusitasi, dan
mortalitas. Secara khusus, kenaikan pada mortalitas telah terbukti sebagaimana meningkatnya
angka APC. Pola cedera yang terlihat pada fraktur APC tipe III telah berkorelasi dengan
kebutuhan cairan 24- jam terbesar. Pada sebuah seri terhadap 210 pasien berurutan dengan
fraktur pelvis, Burgess dkk menemukan bahwa kebutuhan transfusi bagi pasien dengan
cedera LC rata-rata 3,6 unit PRC, dibandingkan dengan rata-rata 14,8 unit bagi pasien dengan
cedera APC. Pada seri yang sama, pasien dengan cedera VS rata-rata 9,2 unit, dan pasien
dengan cedera CM memiliki kebutuhan transfusi rata-rata sebesar 8,5 unit. Angka mortalitas
keseluruhan pada seri ini adalah 8,6%. Angka mortalitas lebih tinggi terlihat pada pola APC
(20%) dan pola CM (18%) dibandingkan pada pola LC (7%) dan pola VS (0%). Burgess dkk
mencatat hilangnya darah dari cedera pelvis yang dihasilkan dari kompresi lateral jarang
terjadi, dan penulis menghubungkan kematian pada pasien dengan cedera LC pada penyebab
lainnya. Penyebab kematian yang teridentifikasi paling umum pada pasien di seri ini dengan
fraktur LC adalah cedera kepala tertutup.
Pada kontras, penyebab kematian yang teridentifikasi pada pasien dengan cedera APC
merupakan kombinasi cedera pelvis dan viseral. Temuan ini mengindikasikan bahwa
kemampuan untuk mengenali pola fraktur pelvis dan arah tekanan cedera yang sesuai dapat
membantu tim resusitasi mengantisipasi kebutuhan transfusi cairan dan darah sebagaimana
halnya membantu untuk penilaian dan pengobatan awal langsung. Pasien dengan instabilitas
posterior lengkap dapat diantisipasi agar tidak menjadi perdarahan yang berat. 1

6
Manajemen Penanganan Fraktur Pelvis
Identifikasi dan Pengelolaan Fraktur Pelvis 5
a. Identifikasi mekanisme trauma yang menyebabkan kemungkinan fraktur pelvis
misalnya terlempar dari sepeda motor, crush injury, pejalan kaki ditabrak kendaraan,
tabrakan sepeda motor.
b. Periksa daerah pelvis adanya ekhimosis, perianal atau hematoma scrotal, darah di
meatus uretra.
c. Periksa tungkai akan adanya perbedaan panjang atau asimetri rotasi panggul.
d. Lakukan pemeriksaan rectum, posis dan mobilitas kelenjar prostat, teraba fraktur,
atau adanya darah pada kotoran.
e. Lakukan pemeriksaan vagina, raba fraktur, ukuran dan konsistensi uterus , adanya
darah. Perlu diingat bahwa penderita mungkin hamil.
f. Jika dijumpai kelainan pada B sampai E, jika mekanisme trauma menunjang
terjadinya fraktur pelvis, lakukan pemeriksaan ronsen pelvis AP (mekanisme trauma
dapat menjelaskan tipe fraktur).
g. Jika B sampai E normal, lakukan palpasi tulang pelvis untuk menemukan tempat
nyeri.
h. Tentukan stabilitas pelvis dengan hati-hati melakukan tekanan anterior-posterior dan
lateral-medial pada SIAS. Pemeriksaan mobilitas aksial dengan melakukan dorongan
dan tarikan tungkai secara hati-hati, tentukan stabilitas kranial-kaudal.
i. Perhatian pemasangan kateter urine, jika tidak ada kontraindikasi, atau lakukan
pemeriksan retrograde uretrogram jika terdapat kecurigaan trauma uretra.
j. Penilaian foto ronsen pelvis, perhatian kasus pada fraktur yang sering disertai
kehilangan darah banyak, misalnya fraktur yang meningkatkan volume pelvis.
1. Cocokan identitas penderita pada film
2. Periksa foto secara sistemik ;
a. Lebar simpisis pubis-pemisahan lebih dari 1 cm menunjukkan ada trauma
pelvis posterior
b. Integritas ramus superior dan inferior pubis bilateral
c. Integritas asetabulum, kapsul dan kolum femur
d. Simetri ileum dan lebarnya sendi sakroiliaka
e. Simetri foramen sacrum dengan evaluasi linea arkuata
f. Fraktur prosessus transversus L5

7
3. Ingat, karena tulang pelvis berbentuk lingkaran jarang kerusakan hanya pada
satu tempat saja.
4. Ingat, fraktur yang meningkatkan volume pelvis, misalnya vertical shear dan
fraktur open-book, sering disertai Perdarahan banyak.

k. Teknik mengurangi Perdarahan


1. Cegah manipulasi berlebihan atau berulang-ulang
2. Tungkai bawah di rotasi ke dalam untuk menutup fraktur open-book. Pasang
bantalan pada tonjolan tulang dan ikat kedua tungkai yang dilakukan rotasi.
Tindakan ini akan mengurangi pergeseran simpisis, mengurangi volume
pelvis, bermanfaat untuk tindakan sementara menunggu pengobatan definitif.
3. Pasang dan kembangkan PASG. Alat ini bermanfaat untuk
membawa/transport penderita.
4. Pasang external fixator pelvis (konsultasi orthopedi segera)
5. Pasang traksi skeletal (konsultasi orthopedi segera)
6. Embolisasi pembuluh darah pelvis melalui angiografi
7. Lakukan segera konsultasi bedah/ orthopedi untuk menentukan prioritas
8. Letakkan bantal pasir di bawah bokong kiri-kanan jika tidak terdapat trauma
tulang belakang atau cara menutup pelvis yang lain tidak tersedia.
9. Pasang pelvic binder
10. Mengatur untuk transfer ke fasilitas terapi definitive jika tidak mampu
melakukannya.

Metode Penatalaksanaan
Military Antishock Trousers
Military antishock trousers (MAST) atau celana anti syok militer dapat memberikan
kompresi dan imobilisasi sementara terhadap cincin pelvis dan ekstremitas bawah melalui
tekanan berisi udara. Pada tahun 1970an dan 1980an, penggunaan MAST dianjurkan untuk
menyebabkan tamponade pelvis dan meningkatkan aliran balik vena untuk membantu
resusitasi. Namun, penggunaan MAST membatasi pemeriksaan abdomen dan mungkin
menyebabkan sindroma kompartemen ekstermitas bawah atau bertambah satu dari yang ada.
Meskipun masih berguna untuk stabilisasi pasien dengan fraktur pelvis, MAST secara luas
telah digantikan oleh penggunaan pengikat pelvis yang tersedia secara komersil.

8
Pengikat dan Sheet Pelvis
Kompresi melingkar mungkin siap dicapai pada keadaan pra rumah-sakit dan pada
awalnya memberikan keuntungan stabilisasi selama pengangkutan dan resusitasi. Lembaran
terlipat yang dibalutkan secara melingkar di sekeliling pelvis efektif secara biaya, non-
invasif, dan mudah untuk diterapkan. Pengikat pelvis komersial beragam telah ditemukan.
Tekanan sebesar 180 N tampaknya memberikan efektivitas maksimal. Sebuah studi
melaporkan pengikat pelvis mengurangi kebutuhan transfusi, lamanya rawatan rumah sakit,
dan mortalitas pada pasien dengan cedera APC

Gambar 2. Ilustrasi yang mendemonstrasikan aplikasi alat kompresi melingkar pelvis


(pengikat pelvis) yang tepat, dengan gesper tambahan (tanda panah) untuk
mengontrol tekanan

Rotasi eksterna ekstremitas inferior umumnya terlihat pada orang dengan fraktur
pelvis disposisi, dan gaya yang beraksi melalui sendi panggul mungkin berkontribusi pada
deformitas pelvis. Koreksi rotasi eksternal ekstremitas bawah dapat dicapai dengan membalut
lutut atau kaki bersama-sama, dan hal ini dapat memperbaiki reduksi pelvis yang dapat
dicapai dengan kompresi melingkar .
Fiksasi Eksternal
Fiksasi Eksternal Anterior Standar
Beberapa studi telah melaporkan keuntungan fiksasi eksternal pelvis emergensi pada
resusitasi pasien yang tidak stabil secara hemodinamik dengan fraktur pelvis tidak stabil.

9
Efek menguntungkan fiksasi eksternal pada fraktur pelvis bisa muncul dari beberapa faktor.
Imobilisasi dapat membatasi pergeseran pelvis selama pergerakan dan perpindahan pasien,
menurunkan kemungkinan disrupsi bekuan darah. Pada beberapa pola (misal, APC II),
reduksi volume pelvis mungkin dicapai dengan aplikasi fiksator eksternal. Studi
eksperimental telah menunjukkan bahwa reduksi cedera pelvis “open book” mengarah pada
peningkatan tekanan retroperitoneal, yang bisa membantu tamponade perdarahan vena.
Penambahan fraktur disposisi dapat meringankan jalur hemostasis untuk mengontrol
perdarahan dari permukaan tulang kasar.
C-Clamp
Fiksasi pelvis eksternal standar tidak menyediakan stabilisasi pelvis posterior yang
adekuat. Hal ini membatasi efektivitas pada pola fraktur yang melibatkan disrupsi posterior
signifikan atau dalam kasus-kasus dimana ala ossis ilium mengalami fraktur. C-clamp yang
diaplikasikan secara posterior telah dikembangkan untuk menutupi kekurangan ini. Clamp
memberikan aplikasi gaya tekan posterior tepat melewati persendian sacroiliaca. Kehati-
hatian yag besar harus dilatih untuk mencegah cedera iatrogenik selama aplikasi; prosedur
umumnya harus dilakukan dibawah tuntunan fluoroskopi. Penerapan C-clamp pada regio
trochanter femur menawarkan sebuah alternatif bagi fiksasi eksternal anterior standar untuk
fiksasi sementara cedera APC.1

Angiografi
Eksplorasi angiografi harus dipertimbangkan pada pasien dengan kehilangan darah
berkelanjutan yang tak dapat dijelaskan setelah stabilisasi fraktur pelvis dan infus cairan
agresif. Keseluruhan prevalensi pasien dengan fraktur pelvis yang membutuhkan embolisasi
dilaporkan <10%. Pada satu seri terbaru, angiografi dilakukan pada 10% pasien yang
didukung sebuah fraktur pelvis. Pasien yang lebih tua dan yang memiliki Revised Trauma
Score lebih tinggi paling sering mengalami angiografi. Pada studi lain, 8% dari 162 pasien
yang ditinjau ulang oleh penulis membutuhkan angiografi. Embolisasi dibutuhkan pada 20%
pola cedera APC, cedera VS, dan fraktur pelvis kompleks, namun hanya 1,7% pada cedera
LC. Eastridge dkk melaporkan bahwa 27 dari 46 pasien dengan hipotensi persisten dan
fraktur pelvis yang sama sekali tak stabil, termasuk cedera APC II, APC III, LC II, LC III dan
VS, memiliki perdarahan arteri aktif (58,7%). Miller dkk menemukan bahwa 19 dari 28
pasien dengan instabilitas hemodinamik persisten diakibatkan oleh pada fraktur pelvis
menunjukkan perdarahan arteri (67,9%). Pada studi lain, ketika angiografi dilakukan, hal
tersebut sukses menghentikan perdarahan arteri pelvis pada 86-100% kasus.
10
Angiografi dini dan embolisasi berikutnya telah diperlihatkan untuk memperbaiki
hasil akhir pasien. Agolini dkk menunjukkan bahwa embolisasi dalam 3 jam sejak
kedatangan menghasilkan angka ketahanan hidup yang lebih besar secara signifikan. Studi
lain menemukan bahwa angiografi pelvis yang dilakukan dalam 90 menit izin masuk
memperbaiki angka ketahanan hidup. Namun, penggunaan angiografi secara agresif dapat
menyebabkan komplikasi iskemik. Angiografi dan embolisasi tidak efektif untuk mengontrol
perdarahan dari cedera vena dan lokasi pada tulang, dan perdarahan vena menghadirkan
sumber perdarahan dalam jumlah lebih besar pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi. Waktu
yang digunakan pada rangkaian angiografi pada pasien hipotensif tanpa cedera arteri
mungkin tidak mendukung ketahanan hidup

Balutan Pelvis
Balutan pelvis dikembangkan sebagai sebuah metode untuk mencapai hemostasis
langsung dan untuk mengontrol perdarahan vena yang disebabkan fraktur pelvis. Selama
lebih dari satu dekade, ahli bedah trauma di Eropa telah menganjurkan laparotomi eksplorasi
yang diikuti dengan balutan pelvis. Teknik ini diyakini terutama berguna pada pasien yang
parah. Ertel dkk menunjukkan bahwa pasien cedera multipel dengan fraktur pelvis dapat
dengan aman ditangani menggunakan C-clamp dan balutan pelvis tanpa embolisasi arteri.
Balutan lokal juga efektif dalam mengontrol perdarahan arteri.

Resusitasi Cairan
Resusitasi cairan dianggap cukup penting sebagai usaha yang dilakukan untuk menilai
dan mengontrol lokasi perdarahan. Dua bor besar (≥16-gauge) kanula intravena harus
dibangun secara sentral atau di ekstremitas atas sepanjang penilaian awal. Larutan kristaloid
≥ 2 L harus diberikan dalam 20 menit, atau lebih cepat pada pasien yang berada dalam
kondisi syok. Jika respon tekanan darah yang cukup dapat diperoleh, infus kristaloid dapat
dilanjutkan sampai darah tipe-khusus atau keseluruhan cocok bisa tersedia. Darah tipe-
khusus, yang di crossmatch untuk tipe ABO dan Rh, biasanya dapat disediakan dalam 10
menit; namun, darah seperti itu dapat berisi inkompatibilitas dengan antibodi minor lainnya.
Darah yang secara keseluruhan memiliki tipe dan crossmatch membawa resiko lebih sedikit
bagi reaksi transfusi, namun juga butuh waktu paling banyak untuk bisa didapatkan (rata-rata
60 menit). Ketika respon infus kristaloid hanya sementara ataupun tekanan darah gagal
merespon, 2 liter tambahan cairan kristaloid dapat diberikan, dan darah tipe-khusus atau
darah donor-universal non crossmatch (yaitu, kelompok O negatif) diberikan dengan segera.
11
Kurangnya respon mengindikasikan bahwa kemungkinan terjadi kehilangan darah yang
sedang berlangsung, dan angiografi dan/atau kontrol perdarahan dengan pembedahan
mungkin dibutuhkan. 2
Produk-produk Darah dan Rekombinan Faktor VIIa
Pasien hipotensif yang tidak merespon resusitasi cairan awal membutuhkan sejumlah
besar cairan sesudah itu, mengarah pada defisiensi jalur hemostasis. Karenanya, semua pasien
yang seperti itu harus diasumsikan membutuhkan trombosit dan fresh frozen plasma (FFP).
Umumnya, 2 atau 3 unit FFP dan 7-8 unit trombosit dibutuhkan untuk setiap 5 L penggantian
volume. Transfusi darah masif memiliki resiko potensial imunosupresi, efek-efek inflamasi,
dan koagulopati dilusi. Sepertinya, volume optimal dan kebutuhan relatif produk-produk
darah untuk resusitasi masih kontoversial. Sebagai tambahan, jumlah transfusi PRC
merupakan faktor resiko independen untuk kegagalan multi-organ paska cedera. Beberapa
penulis telah mengusulkan bahwa pasien trauma koagulopati terutama harus diresusitasi
dengan penggunaan FFP yang lebih agresif, dengan transfusi yang terdiri atas PRC, FFP dan
trombosit dalam rasio 1:1:1 untuk mencegah kemajuan koagulopati dini.
Rekombinan faktor VIIa (rFVIIa) mungkin dipertimbangkan sebagai intervensi akhir
jika koagulopati dan perdarahan yang mengancam-jiwa menetap disamping pengobatan
lainnya. Ini merupakan penggunaan rFVIIa off-label. Boffard dkk melakukan sebuah studi
multicenter dimana pasien trauma berat yang menerima 6 unit PRC dalam 4 jam setelah
masuk diacak pada baik pengobatan rFVIIa atau plasebo. Pada kelompok rFVIIa, jumlah
transfusi sel darah secara signifikan berkurang (kira-kira 2,6 unit sel darah merah; P = 0,02),
dan terdapat kecenderungan ke arah reduksi mortalitas dan komplikasi.

Evaluasi status resusitasi


Titik akhir resusitasi ditentukan berdasarkan kombinasi data laboratorium dan tanda-
tanda fisiologis. Pembacaan tingkat hemoglobin diketahui tidak akurat selama fase akut
resusitasi. Titik akhir resusitasi yang umumnya dipertimbangkan termasuk tekanan darah
normal, menurunnya denyut jantung, urin output yang cukup (≥ 30 mL/jam), dan tekanan
vena sentral (CVP) normal. Namun, bahkan setelah normalisasi parameter-parameter ini,
oksigenasi jaringan yang tidak memadai bisa menetap. Pengukuran laboratorium tambahan
yang dapat digunakan untuk mengevaluasi oksigenasi jaringan termasuk defisit basa,
bikarbonat dan laktat. Semua ini menilai glikolisis anaerobik. Istilah defisit basa dan
kelebihan basa digunakan bergantian, satu- satunya perbedaan untuk menjadi defisit basa
diperlihatkan sebagai nomor positif dan kelebihan basa diperlihatkan sebagai nomor negatif.
12
Defisit basa normal adalah 0-3 mmol/L; angka ini secara rutin diukur melalui analisa gas
darah arteri (AGDA). Defisit basa menetap menandakan resusitasi yang tidak mencukupi.

Algoritma Pengobatan dan Angka Ketahanan hidup


Analisa retrospektif hasil akhir sebelum pembentukan algoritma pengobatan secara
dramatis mengilustrasikan kesulitan buatan bahwa protokol-protokol tersebut dicari untuk
dihindari. Pada satu seri, kematian 43 pasien, mewakili 60% kematian pada seri ini,
dihubungkan secara keseluruhan atau sebagai bagian dari fraktur pelvis. Pada 26 pasien yang
fraktur pelvis- nya dipertimbangkan sebagai penyebab kematian utama, 24 pasien mengalami
syok atau memiliki bukti klinis hipovolemia pada waktu masuk, dan 18 pasien kehilangan
darah akibat fraktur pelvis mereka segera setelah masuk rumah sakit.
Beberapa algoritma terlalu kompleks yang kelihatannya tidak mungkin untuk diikuti.
Satu alasan kompleksitas ini adalah begitu banyaknya variasi sebagai penyebab syok dan
banyaknya sumber perdarahan pada pasien dengan fraktur pelvis. Juga, pengobatan
cenderung pada ketergantungan-kasus yang tinggi. Alasan lain adalah kebanyakan algoritma
pengobatan yang ditetapkan berdasarkan kapabilitas institusi untuk dikembangkan. Meskipun
prinsip mendasar protokol-protokol tersebut berguna, mungkin juga penting untuk
memodifikasi algoritma- algoritma tersebut agar sesuai dengan sumber daya dan staf ahli
pada masing-masing institusi.
Pasien dengan fraktur pelvis berkekuatan-tinggi yang dibawa ke institusi kami dengan
instabilitas hemodinamik pada awalnya diberikan 2 L larutan kristaloid (gambar 4).
Radiografi dada portable, bersama dengan gambaran radiografi pelvis dan tulang
belakang cervical lateral, diperiksa untuk menyingkirkan sumber kehilangan darah yang
berasal dari toraks. Saluran tekanan vena sentral dipasang, dan defisit basa diukur.
Pemeriksaan sonografi abdomen terfokus untuk trauma (focused abdominal sonography for
trauma/FAST) dilakukan. Jika hasilnya positif, pasien dibawa langsung ke ruang operasi
untuk laparotomi eksplorasi. Fiksator eksternal pelvis dipasang, dan dilakukan balutan pelvis.
Pasien yang secara hemodinamik tetap tidak stabil menjalani angiografi pelvis sebelum
dipindahkan ke ICU.
Jika stabilitas hemodinamik pulih, pasien dipindahkan langsung ke ICU. Di ICU,
pasien menerima resusitasi cairan lanjutan dan dihangatkan; berbagai usaha dilakukan untuk
menormalkan status koagulasi. Jika pasien membutuhkan transfusi berkelanjutan di ICU,
penilaian angiografi, jika sebelumnya tidak dilakukan, maka harus dilakukan. rFVIIa harus
dipertimbangkan jika kondisi pasien melawan semua intervensi lainnya.
13
Jika hasil FAST negatif, transfusi PRC dimulai di departemen gawat darurat. Jika
pasien secara hemodinamik tetap tidak stabil sambil mengikuti PRC unit kedua, pasien
dibawa ke ruang operasi untuk fiksasi eksternal pelvis dan balutan pelvis. Pasien yang secara
hemodinamik tetap tidak stabil mendapat angiografi pelvis sebelum dipindahkan ke ICU. Jika
stabilitas hemodinamik pulih, pasien dipindahkan langsung ke ICU. CT-scan abdomen dapat
dilakukan saat ini. Jika pasien membutuhkan transfusi berkelanjutan ketika di ICU, penilaian
angiografi, jika sebelumnya belum dilakukan, maka harus dilakukan.

Gambar 4. Algoritma untuk pengobatan pasien dengan fraktur pelvis yang muncul dengan
instabilitas hemodinamik.

Komplikasi
a. Nyeri sacroiliaca sering ditemukan setelah fraktur pelvis tak stabil dan kadang
memerlukan artrodesis pada sendi sacroiliaca. Cidera saraf skiatika biasanya sembuh
tetapi kadang memerlukan eksplorasi. Cidera uretra berat bisa menimbulkan striktur
uretra, inkontinensia dan impotensi (Apley, 1995)
b. Ruptur uretra posterior paling sering disebabkan oleh fraktur tulang pelvis. Fraktur
yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan pada cincin
pelvis dapat menyebabkan robekan uretra pars prostate-membranacea. Fraktur pelvis

14
dan robekan pembuluh darah yang berada di kavum pelvis menyebabkan hematom
yang luas di kavum retzius sehingga jika ligamentum pubo-prostatikum ikut robek,
prostat beserta buli-buli akan terangkat ke cranial. (Purnomo, 2007). Ruptur uretra
anterior , cidera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah
straddle injury (cidera selangkangan) yaitu uretra terjepit diantara tulang pelvis dan
benda tumpul. Jenis kerusakan uretra yang terjadi berupa kontusio dinding uretra,
rupture parsial, atau rupture total dinding uretra. Pada kontusio uretra pasien
mengeluh adanya perdarahan per-uretram atau hematuria. Jika terdapat robekan pada
korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau butterfly hematom.
Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi. (Purnomo, 2007)
c. Fraktur Acetabulum
Terjadi apabila kaput femoris terdorong ke dalam pelvis. Fraktur ini menggabungkan
antara kerumitan fraktur pelvis dengan kerusakan sendi. Ada 4 tipe fraktur
acetabulum yaitu fraktur kolumna anterior, fraktur kolumna posterior, fraktur
melintang, dan fraktur kompleks. Gambaran klinis agak tersamarkan krena mungkin
terdapat cidera lain yang lebih jelas/mengalihkan perhatian dari cidera pelvis yang
lebih mendesak. Pemeriksaan foto sinar-X perlu dilakukan (Apley, 1995)
d. Cidera pada sacrum dan koksigis
Pukulan dari belakang atau jatuh pada tulang ekor dapat mematahkan sacrum dan
koksigis. Terjadi memar yang luas dan nyeri tekan muncul bila scrum atau koksigis
dipalpasi dari belakang atau melalui rectum. Sensasi dapat hilang pada distribusi
saraf sakralis. Sinar-X dapat memperlihatkan ; 1) fraktur yang melintang pada
sacrum dapat disertai fragmen bawah yang terdorong ke depan, 2) fraktur koksigis
kadang disertai fragmen bagian bawah yang menyudut ke depan, 3) suatu
penampilan normal kalau cidera hanya berupa strain pada sendi
sacrokoksigeal.(Apley, 1995) Kalau fraktur bergeser, sebaiknya docoba untuk
melakukan reduksi. Fragmen bagian bawah dapat terdesak ke belakang lewat rectum.
Reduksi bersifat stabil, suatu keadaan yang menguntungkan. Pasien dibiarkan untuk
melanjutkan aktifitas normal, tetapi dianjurkan untuk menggunakan suatu cincin
karet atau bantalan Sorbo bila duduk. Kadang disertai keluhan sulit kencing.(Apley,
1995). Nyeri yang menetap, terutama saat duduk sering ditemukan setelah cidera
koksigis. Kalau nyeri tidak berkurang dengan penggunaan bantalan Sorbo atau oleh
injeksi anastetik lokal kedalam daerah yang nyeri, dapat dipertimbangkan eksisi
koksigis (Apley, 1995)
15
BAB IV
ANALISA KASUS

Dari ilustrasi kasus diatas, berdasarkan dari data anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang yang didapatkan serta disesuaikan dengan teori yang ada, maka
mengarah pada suatu diagnosis yaitu fraktur pelvis dengan ketidakstabilan hemodinamik
Dari anamnesis, didapatkan Nyeri di perut dan panggul setelah tertimpa bak joinder
(alat berat) 4 Jam SMRS. Saat bekerja di dekat joinder, bak dari alat tersebut jatuh dan
menimpa bagian panggul dan perut pasien, hingga pasien jatuh terlentang, bak alat berat jatuh
dari ketinggian sekitar 4 meter. Pasien mengeluhkan nyeri pada bagian panggul dan sekitar
bokong terutama saat menggerakan panggul atau paha. Pada primary survey didapatkan
adanya masalah pada sikulasi, yaitu didapatkan syok hipovolemik dengan tanda Tensi
90/palpasi, nadi lemah dan akral dingin.
Pada pasien ini lalu dilakukan penanganan primary survey dengan pemberian cairan 1
liter awal (RL yang dihangatkan), dengan dua jalur intravena, setelah itu dilakukan asesmesnt
padas exposure didapatkan adanya jejas dan nyeri pada abdomen kiri atas dan pada area
pubis, pasien dapat dicurigai adanya perdarahan internal oleh karena perdarah intraabdomen
atau fraktur pelvis tidak stabil.
Pada pasien dilakukan Pemeriksaan Foto pelvis dan FAST untuk mendiagnosis dan
mencari sumber perdarahn dan didapatkan hasil FAST negatif, tidak didapatkanadanya kesan
perdarahn intra abdomen, dan pada radiografi foto pelvis didapatkan ada fraktur pada ramus
pubis sinistra dengan kesan open book.
Penganan selanjutnya adalah melanjutkan menganani syok dengan melanjutkan Infus
RL yang dihangatkan, guyur sampai 2000cc, Jika masih syok Trasfusi PRC, Pasang DC
untuk monitor cairan, dengan tidak didapatkan kontraindikasi, pemasangan pelvic sling untuk
kontrol perdarahan, Bed rest dan immobilisasi, Konsul untuk perawatan di ICU, Rencana
rujuk untuk angigrafi/embolisasi dan penatalaksanaan definitif.

16
Daftar Pustaka
1. Henry S. Advanced Trauma Life Support. 10 th ed. American College of Surgeons; 2018
2. Crawford Mechem. Fracture pelvic. Di unduh dari
http://www.emedicine.com/orthoped/Fracture-Pelvic.htm. Up date terakhir: 12 Mei
2010
3. Rasjad, C. Buku pengantar Ilmu Bedah Ortopedi ed. III. Yarsif Watampone. Makassar:
2007. Hal: 424-428.
4. Fracture of the Pelvis. Di unduh dari http:// www. American Academy of Orthopaedic
Surgeons/fracture pelvic.html. update terakhir : September 2007.
5. Ningrum, Manajemen Perdarahan pada fraktur pelvis yang mengancam jiwa. Diakses
6. Jong Wim de. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Penerbit EGC. 2004: 874-6

17