Anda di halaman 1dari 31

Continuation/Maintenance

ECT

Nurmiati Amir
Departemen Kesehatan Jiwa FKUI/RSUPN Ciptomangunkusumo
Jakarta, 19 November 2017

11/28/2017 1
S
Objektif
 Pendahuluan

 Frekuensi pemberian ECT

 Continuation/Maintenance ECT

 Interkasi medikasi dengan ECT

 Simpulan
11/28/2017 2
Frekuensi Pemberian ECT

11/28/2017 3
Frekuensi Pemberian ECT

 2-3 X / minggu,  Setiap hari  jarang


nonkonsekutif dilakukan (dahulu).
Dilakukan untuk
 2 X/minggu sama mendapat efek cepat
efektifnya dengan 3 X yang dramatis
/minggu, lebih lama situasi darurat,
mencapai efikasinya, misalnya mania berat
tetapi efek samping  memanjangnya
kognitif akut lebih efek samping kognitif
jarang berat  tak
11/28/2017 4 direkomendasikan
Frekuensi Pemberian ECT
(lanjutan)
 1 X / minggu  respons klinis rendah.

 Jumlah sesi terapi sangat individual, tidak bisa


diprediksi, tidak bisa tetap (fixed)  (beberapa sesi -
≥ 15). Rerata 6-12 sesi.

 Dievaluasi setiap setelah 1 atau 2 sesi (efikasi, dan


efek samping, terutama kognitif), dilakukan di
anatara hari terapi ECT

11/28/2017 5
Frekuensi Pemberian ECT
(lanjutan)

 Terapi akut diterminasi bila sudah tercapai remisi


atau perbaikan tidak terjadi setelah 2 atau 3 sesi
dengan teknik optimal

 Bila respons tidak adekuat  perlu dilakukan


modifikasi (intensifikasi energi stimulasi, mengubah
tempat elektroda)

11/28/2017 6
ECT Akut Tidak Berespons

 Ambang kejang meningkat  Bila sedang menggunakan


dengan bertambahnya antikonvulsan, misalnya
frekuensi ECT  mungkin baribiturat atau propofol
perlu peningkatan  menghentikan atau pe
intensitas sitimulus atau  dosis  bila ambang
memindahkan penempatan kejang 
elekroda

 Paling sedikit diberikan 10 X (dosis dan penempatan


elektroda optimal)  sebelum dinyatakan tidak
berespons
11/28/2017 7
Penghentian ECT
(lanjutan)

 Bila > 15-20 sesi, dengan teknik modifikasi 


tidak membaik penggunaan ECT perlu
dinilai kembali

 Pertimbangkan risiko tidak membaiknya


penyakit dan akumulasi efek samping

11/28/2017
Reasesmen diagnosis primer atau komorbid
8
Continuation/Maintenance ECT

11/28/2017 9
Continuation/Maintenance ECT

 Continuation ECT (lanjutan)  sesudah ECT akut 


hingga 6 bulan

 Maintenance ECT  > 6 bulan setelah lanjutan

 Prophylactic ECT  ECT yang diberikan pada


lanjutan atau rumatan

 Lanjutan dan rumatan berbeda  indikasi, efek


samping, dan luaran
11/28/2017 10
ECT Lanjutan

 ECT diterminasi bila sudah remisi

 Dalam beberapa minggu setelah ECT diterminasi 


sering terjadi relaps  perlu ECT lanjutan

 ECT lanjutan + bersama obat untuk memertahankan


remisi

 Penurunan bertahap terminasi ECT (penurunan


frekuensi ECT)  strategi mencegah relaps
11/28/2017 11
Terapi ECT Lanjutan
(sambungan)

 ECT lanjutan  rutin post-ECT, segera diberikan


setelah remisi

 Faktor risiko relaps  resisten terhadap medikasi


dan adanya gambaran psikotik

 50%-85% ECT responder akan relaps tanpa ECT


lanjutan (dalam beberapa minggu post-ECT)

 ECT lanjutan + obat atau CBT  lebih efektif vs


monoterapi
11/28/2017 12
Terapi Medikasi Lanjutan

 Terapi medikasi lanjutan perlu dilakukan 


antidepresan untuk MDD, antidepresan + stabilisator
mood untuk depresi bipolar, stabilisator mood
dengan/tanpa antipsikotika untuk mania,
antipsikotika untuk skizofrenia

 Pasien relaps ketika farmakologi lanjutan  ECT


lanjutan

11/28/2017 13
ECT Lanjutan Mencegah Relaps

 1 X / minggu  cocok untuk ECT lanjutan 


memertahankan status responder atau remitter.

 Relaps   bila ECT lanjutan < 1 X/minggu

 Perlu penurunan bertahap ECT setelah terapi akut,


mengombinasi ECT + medikasi sebagai terapi
lanjutan, skejul fleksibel pemberian ECT  untuk
mencegah relaps

11/28/2017 14
Pasien Yang Cocok Untuk
ECT Lanjutan/Rumatan
 Penyakit rekuren  Bersedia mematuhi
protokol ECT lanjutan,
 Menunjukkan respons misalnya puasa sebelum
dengan ECT. prosedur

 Intolerans atau relaps  ECT lanjutan  tempat


pada medikasi elektroda dan dosis
lanjutan untuk mencapai remisi
diteruskan
 Penurunan frekuensi ECT dari fase akut ke fase
lanjutan sering dilakukan
11/28/2017
Pasien Yang Cocok Untuk ECT
Lanjutan/Rumatan (sambungan)

 Bila tetap baik dalam 2 bulan  penghentian ECT


lanjutan boleh dilakukan

 Jarak antar sesi ECT, secara berangsur-angsur di


perpanjang, mungkin setiap bulan atau lebih panjang

 Hampir selalu dilakukan di rawat jalan.

 Fungsi kognitif, status psikiatrik dan medik dipantau

 Boleh menambahkan CBT


11/28/2017 16
ECT Rumatan

 Setelah 6 bulan terapi rumatan  mencegah rekuren

 Pasien menderita penyakit yang sering rekuren 


terapi rumatan untuk ECT responder yang tidak
relaps dengan ECT lanjutan

 Ada studi  terapi rumatan hingga 4 tahun 


luaran baik dalam mencegah relaps depresi

11/28/2017 17
Maksimum Jumlah ECT Rumatan

 Laporan kasus  ECT rumatan pada pasien


skizofreniform resisten terapi dan katatonia

 ECT rumatan sama pada beberapa aspek dengan


ECT lanjutan  interval terpanjang untuk
memertahankan remisi

 Tidak ada data mengenai jumlah ECT maksimum


dilakukan sepanjang hayat

11/28/2017 18
Interaksi Medikasi dengan ECT

11/28/2017 19
Interaksi Medikasi dengan ECT

 ECT dapat berinteraksi dengan obat-obat yang


diberikan untuk psikitrik dan kondisi medik

 Mungkin perlu mengubah obat bila akan melakukan


ECT (menurunkan, menghentikan, menambah,
menyesuaikan waktu pemberian obat)

 Beberapa obat psikotropik dan obat dengan indikasi


kondisi medik mungkin perlu dilanjutkan.

11/28/2017 20
Interaksi Medikasi dengan ECT
(lanjutan)
 Penggunaan β- blocker pre-ECT harus dipantau
dengan teliti karena dapat menyebabkan bradikardi
dan mempresipitasi asistol .

 Penggunaan atropin pre-ECT  harus


dipertimbangkan

 Labetalol melewati BBB dan rCBF 

11/28/2017 21
Interaksi Medikasi dengan ECT
(lanjutan)
 Teofilin  durasi kejang me  (status epileptikus)

 Kafein  durasi kejang , bila lama kejang


diperlukan untuk efikasi ECT

 Litium + ECT  keadaan bingung, sinrom


serotonin, memerpanjang kejang.

 Dosis litium besar + ECT  neurotoksik 


diskontinu litium diperlukan.

11/28/2017 22
Interaksi Medikasi dengan ECT
(lanjutan)
 Litium dihentikan pada terapi ECT akut

 Antibiotik β-lactam dan siprofloksazin 


prokonvulsan, berkaitan dengan kejang pada non-
ECT, tardive seizure pada ECT

 Antikonvulsan  ambang kejang , ekspresi kejang


, mempengaruhi efikasi ECT

 Bila diperlukan untuk mengontrol kejang  tetap


dilanjutkan meskipun responsnya buruk
11/28/2017 23
Interaksi Medikasi dengan ECT
(lanjutan)
 Bila diperlukan untuk gangguan psikiatri, antikonvulsan
sebaiknya dihentikan

 BZ juga antikonvulsan. BZ + ECT terutama unilat kanan


ECT  efikasinya 

 Dosis BZ diturunkan berangsur-angsur atau dihentikan.

 Bila benzodiazepin diperlukan  pilih BZ dengan waktu


paruh pendek dan dihentikan beberapa jam sebelum ECT
(interaksi BZ + ECT).

 Perlu konsultasi ke anastesi


11/28/2017 24
Interaksi Medikasi dengan ECT
(lanjutan)
 Antipsikotika potensi rendah (haloperidol dan
flufenazin)  prokonvulsan  berdampak ringan
terhadap parameter kualitas kejang.

 ECT + APG-II  aman

 Klozapin dan olanzapin (prokonvulsan) dan


quetiapin (antikonvulsan).

 Dosis antipsikotika harus sedang

11/28/2017 25
Interaksi Medikasi dengan ECT
(lanjutan)
 Nortriptilin dan venlavaksin  angka respons ECT
, (15%).

 Nortiptilin efek samping kognitif  dan venlafaksin


 Antidepresan dapat dilanjutkan selama ECT

 TCA aman pada pasien tanpa gangguan jantung

 SSRI meningkatkan durasi kejang


11/28/2017 26
Interaksi Medikasi dengan ECT
(lanjutan)

 Venlafaksin (> 225 mg) + atropin  terjadi


asistol  dosiss venlafaksin diturunkan bila
dikombinasi dengan ECT

 Bupropion (prokonvulsan)  hati-hati bila


dikombinasi dengan ECT

11/28/2017 27
Simpulan
 Frekuensi pemberian ECT  2-3 / minggu.

 Setiap hari tidak dianjurkan karena efek samping


kognitif lebih berat

 Bila respons tidak adekuat perlu modifikasi

 Ambang kejang meningkat dengan bertambahnya


frekuensi kejang  perlu penyesuaian

11/28/2017 28
Simpulan (lanjutan)

 > 15-20 X ECT  dimodifikasi dan tidak membaik 


reevaluasi

 Perlu ECT lanjutan dan rumatan untuk mencegah


relaps

 Interaksi antara medikasi + ECT perlu diperhatikan

 Konsul ke anastesi bila tidak jelas

11/28/2017 29
Daftar Rujukan

1. Prudic J, Duan Y. Electroconvulsive Therapy. Dalam: Kaplan & Sadock’s


Comprehensive Textbook of Psyhiatry, tenth Ed. Sadock BJ, Sadock VA,
Ruiz P, Edit. Wolter Kluwer, 2017; Vol. I: hal. 8385-8432

2. Donald WM, Thompson TR, McCall WV, Zorumski CF. Electroconvulsive


Therapy. Dalam: Textbook of Psychopharmacology. Schatzberg AF,
Nemeroff CB. American Psychiatric Publishing Inc, Third Ed. 2004: hal.
685-708

11/28/2017 30
Terima Kasih

11/28/2017 31