Anda di halaman 1dari 10

EKSTRAKSI DAN FRAKSINASI Bruguiera hainesii

EXTRACTION AND FRACTIONATION Bruguiera hainesii

Evi Nurfitriani
Universitas Padjadjaran

Program Sarjana Ilmu Kelautan


e-mail : evinurfsoeherman@gmail.com

ABSTRAK
Ektraksi adalah proses penarikan atau pemisahan komponen atau zat aktif
suatu simplisia dengan menggunakan pelarut tertentu. Tujuan ekstraksi yaitu
untuk mengambil kandungan senyawa aktif pada sampel. Pembuatan ekstrak
Bruguiera hainesii dilakukan dengan proses maserasi atau perendaman.
Efektivitas ekstraksi suatu senyawa oleh pelarut sangat bergantung kepada
kelarutan senyawa tersebut dalam pelarut. Dalam proses ekstraksi digunakan
tiga pelarut yaitu n-heksan sebagai pelarut non polar, etil asetat sebagai pelarut
semi polar dan metanol sebagai pelarut polar dengan perlakuan berbeda yaitu dari
waktu perendaman sampel. Hasil menunjukkan pelarut metanol menghasilkan
filtrat dan rendemen lebih banyak pada sampel Bruguiera hainesii dibandingkan
pelarut n-heksan dan pelarut etil asetat.

Kata kunci : Ekstraksi, maserasi, rendemen.

ABSTRACT
Extraction is the process of withdrawal or separation of a component or
active compund simplicia using particular solvents. The purpose of the extraction
is to take an active compound content in the samples. The making of extraction
Bruguiera hainesii performed using maceration methods or immersion. The
effectiveness of a compound by solvent extraction is very dependent on the
solubility of the compound in a solvent. In this extraction process used three
solvents are n-hexane as a non-polar solvent, ethyl acetate as semi-polar solvent
and polar solvent with methanol as the different treatment that is from the time of
immersion of the sample. The results indicate solvent methanol produces filtrate
and yield more on samples of Bruguiera hainesii compared n-heksan solvent and
the solvent ethyl acetate.

Keywords : Extraction, maceraion, yield.


PENDAHULUAN sehingga perlu adanya ketelitian
Metabolit sekunder yang dalam memilih metode ekstraksi
diproduksi oleh berbagai organisme yang digunakan untuk mengekstrak
memang tidak memiliki peran yang senyawa metabolit sekunder yang
cukup signifikan terhadap diinginkan. Tujuan pembuatan
keberlangsungan hidup dari ekstrak Bruguiera hainesii yaitu
organisme penghasilnya. Senyawa untuk menarik komponen kimia yang
metabolit sekunder yang terdapat terdapat dalam sampel Bruguiera
dalam tumbuhan merupakan zat hainesii dan mengetahui pelarut yang
bioaktif yang berkaitan dengan sesuai untuk mengekstrak Bruguiera
kandungan kimia dalam tumbuhan. hainesii. Selain ekstaksi dilakukan
Namun, metabolit sekunder tersebut proses fraksinasi untuk memperoleh
diketahui memiliki berbagai aktivitas senyawa yang memiliki tingkat
biologi yang dapat dimanfaatkan kemurnian yang lebih tinggi.
oleh manusia. Berbagai aktivitas
biologis dari metabolit sekunder METODE
antara lain antikanker, antibakteri, Ekstraksi dan fraksinasi
antioksidan dan antifungi. Bruguiera hainesii dilakukan pada
Memperhatikan adanya potensi hari Selasa, 14 April 2015 pukul
pemanfaatan serta banyaknya 15.00 sampai 17.00 WIB di
kandungan senyawa bioaktif berupa Laboratorium Bioteknologi
metabolit sekunder, perlu kiranya Kelautan, Gedung 4 Lt. 3 Universitas
dilakukan pengembangan penelitian Padjadjaran. Adapun alat dan bahan
yang mengarah pada pencarian yang digunakan yaitu alat terdiri dari
metoda yang efektif dan efisien batang pengaduk, corong saring,
untuk penyediaan bahan-bahan aktif gelas ukur, kertas saring, medium
bermanfaat dari bahan alam dalam botol/ Erlenmeyer, neraca analitis,
jumlah lebih banyak dan dalam pipet tetes, rotary evavorator dan
waktu yang lebih singkat. corong pisah. Sedangkan bahan
Salah satu cara pemanfaatan terdiri dari daun Bruguiera hainesii,
metabolit sekunder yang terdapat pelarut n-heksan, pelarut etil asetat,
dalam tanaman yaitu dengan cara pelarut metanol.
isolasi terhadap metabolit sekunder
yang memiliki aktivitas biologis Pembuatan Ekstrak n-Heksan
tersebut. Teknik mengisolasi Proses pembuatan ekstrak n-
senyawa metabolit sekunder dari heksan diawali dengan menimbang
suatu bahan alam dikenal sebagai sampel daun Bruguiera hainesii
ekstraksi. Ekstraksi merupakan salah sebanyak 10 gram lalu memasukan
satu proses pemisahan zat yang sampel ke dalam medium botol atau
diinginkan dari suatu material erlenmeyer. Setelah itu,
tanaman. Metode ekstraksi menambahkan pelarut n-heksan
mengandalkan sifat kelarutan dari sebanyak 30 mL/50 mL atau sampai
senyawa yang akan diekstrasi terendam ke dalam erlenmeyer dan
terhadap pelarut yang digunakan. menutup botol atau erlenmeyer.
Keberhasilan ekstraksi juga Larutan sampel n-heksan diberi
dipengaruhi oleh beberapa faktor perlakuan yang berbeda yaitu
penggunaan waktu perendaman terendam ke dalam erlenmeyer dan
(1×24 jam, 2×24 jam, 3×24 jam). menutup botol atau erlenmeyer.
Setelah mencapai waktu perendaman Larutan sampel metanol diberi
yang diinginkan, selanjutnya perlakuan yang berbeda yaitu
memisahkan filtrat dan residu penggunaan waktu perendaman
dengan cara menyaring larutan. (1×24 jam, 2×24 jam, 3×24 jam).
Filtrat hasil rendaman dicatat dan Setelah mencapai waktu perendaman
kemudian menguapkan hasil filtrat yang diinginkan, selanjutnya
dengan menggunakan rotary memisahkan filtrat dan residu
evaporator. Hasil ekstrak n-heksan dengan cara menyaring larutan.
ditimbang dan kembali dicatat. Filtrat hasil rendaman dicatat dan
kemudian menguapkan hasil filtrat
Pembuatan Ekstrak Etil Asetat dengan menggunakan rotary
Proses pembuatan ekstrak etil evaporator. Hasil ekstrak metanol
asetat diawali dengan menimbang ditimbang dan kembali dicatat.
sampel daun Bruguiera hainesii
sebanyak 10 gram lalu memasukan HASIL DAN PEMBAHASAN
sampel ke dalam medium botol atau Ekstraksi
erlenmeyer. Setelah itu, Ekstraksi merupakan proses
menambahkan pelarut etil asetat penarikan atau pemisahan komponen
sebanyak 30 mL/50 mL atau sampai atau zat aktif suatu simplisia dengan
terendam ke dalam erlenmeyer dan menggunakan pelarut tertentu
menutup botol atau erlenmeyer. (Harborne, 1987 dalam Prabowo et
Larutan sampel etil asetat diberi al, 2014). Tujuan ekstraksi adalah
perlakuan yang berbeda yaitu memisahkan bahan padat dan bahan
penggunaan waktu perendaman cair suatu zat dengan bantuan
(1×24 jam, 2×24 jam, 3×24 jam). pelarut. Ekstraksi ini didasarkan pada
Setelah mencapai waktu perendaman prinsip perpindahan massa
yang diinginkan, selanjutnya komponen zat ke dalam pelarut,
memisahkan filtrat dan residu dimana perpindahan mulai terjadi
dengan cara menyaring larutan. pada lapisan antar muka kemudian
Filtrat hasil rendaman dicatat dan berdifusi masuk ke dalam pelarut.
kemudian menguapkan hasil filtrat Ekstraksi dapat memisahkan
dengan menggunakan rotary campuran senyawa dengan berbagai
evaporator. Hasil ekstrak etil asetat sifat kimia yang berbeda. Pelarut
ditimbang dan kembali dicatat. yang digunakan harus dapat
mengekstrak substansi yang
Pembuatan Ekstrak Metanol diinginkan tanpa melarutkan material
Proses pembuatan ekstrak lainnya.
metanol diawali dengan menimbang Menurut Khopkar (2003)
sampel daun Bruguiera hainesii dalam Oktavianus (2013) proses
sebanyak 10 gram lalu memasukan ekstraksi terdiri dari beberapa tahap,
sampel ke dalam medium botol atau yaitu penghancuran bahan,
erlenmeyer. Setelah itu, penimbangan, perendaman dengan
menambahkan pelarut metanol pelarut, penyaringan, dan tahap
sebanyak 30 mL/50 mL atau sampai pemisahan. Penghancuran bertujuan
agar dapat mempermudah yaitu pelarut polar, semi-polar dan
pengadukan dan kontak bahan non polar.
dengan pelarutnya pada saat proses Metode ekstraksi dalam
perendaman. Pada pembuatan pembuatan ekstrak Bruguiera
ekstrak Bruguiera hainesii ini hainesii dibagi menjadi ekstraksi
sampel yang digunakan berupa tunggal dan ekstraksi bertingkat.
sampel kering siap pakai. Kemudian Ektraksi tunggal menggunakan
bahan ditimbang untuk mengetahui pelarut metanol, sedangkan ekstraksi
berat awal bahan sehingga dapat bertingkat menggunakan pelarut n-
menentukan rendamen yang heksan, etil asetat dan metanol.
dihasilkan. Bahan yang telah Pengguanaan pelarut metanol pada
ditimbang kemudian diekstrak ekstaksi tunggal karena metanol
dengan pelarut tertentu. Tahap merupakan pelarut universal yang
selanjutnya, yaitu tahap pemisahan bersifat mampu melarutkan hampir
yang terdiri dari penyaringan dan semua komponen baik yang bersifat
evaporasi. Penyaringan dilakukan non polar, semi polar dan polar. Pada
untuk memisahkan sampel dengan ekstraksi bertingkat digunakan
pelarut yang telah mengandung pelarut n-heksan sebagai pelarut non
bahan aktif. Untuk memisahkan polar, pelarut etil asetat sebagai
pelarut dengan senyawa bioaktif pelarut semi polar dan pelarut
yang terikat dilakukan evaporasi, metanol sebagai pelarut polar.
sehingga pelarutnya akan menguap Bernasconi, et al (1995) dalam
dan diperoleh senyawa hasil Ahmad, et al (2014) menyatakan
ekstraksi yang dihasilkan. bahwa metode ekstraksi dibagi
Faktor-faktor yang menjadi dua yaitu ekstraksi tunggal
mempengaruhi hasil ekstraksi yaitu dan ekstraksi multi tahap. Ekstraksi
jenis pelarut, rasio berat bahan tunggal adalah dengan
dengan volume pelarut, suhu, waktu mencampurkan bahan yang akan
ekstraksi, ukuran padatan dan diekstrak dihubungkan satu kali
perendaman (Distantina et al, 2007). dengan pelarut. Disini sebagian dari
Efektivitas ekstraksi suatu senyawa zat yang akan diolah akan larut
oleh pelarut sangat bergantung dalam bahan pelarut sampai tercapai
kepada kelarutan senyawa tersebut suatu keseimbangan. Sedangkan
dalam pelarut. Sesuai dengan ekstraksi multi tahap, bahan yang
prinsip kelarutan like dissolve like akan diekstrak dihubungkan
yaitu suatu senyawa akan terlarut beberapa kali dengan bahan pelarut
pada pelarut yang mempunyai sifat yang baru dalam jumlah yang sama
yang sama. Menurut Houghton dan besar (Voigh 1995 dalam Ahmad., et
Raman (1998) dalam Meydia (2006) al, 2014).
dalam Oktavianus (2013) hal yang Proses pembuatan ekstrak
perlu diperhatikan dalam pemilihan Bruguiera hainesii dilakukan dengan
pelarut adalah sifat polaritas bahan. metode maserasi. Maserasi
Sifat polaritas bahan harus sama merupakan cara ekstraksi sederhana
dengan polaritas pelarut agar bahan yang dilakukan dengan cara
dapat larut. Ada tiga jenis pelarut, merendam bahan dalam pelarut
selama beberapa hari pada
temperatur kamar dan terlindungari berpengaruh terhadap kandungan zat
cahaya (Ahmad., et al, 2014). Proses aktif yang ingin diperoleh. Dari hasil
pembuatan ekstrak Bruguiera pembuatan ekstrak Bruguiera
hainesii ini berlangsung kurang lebih hainesii diperoleh data pengamatan
selama 10 hari yang bertujuan untuk hasil ekstraksi dan data nilai
memperoleh hasil yang optimal rendemen.
karena lamanya perendaman juga

Tabel 1. Pengamatan Hasil Ekstraksi Bruguiera hainesii


Perbandingan/ Volume filtrat
Kel. Filtrat Warna filtrat
Waktu (mL)
1:5
1 Metanol Hijau pekat 100
2 × 24 jam
Metanol Hijau pekat 12,1
1:5
2 Etil asetat Hijau kehitaman 14,8
2 × 24 jam
n-heksan Hijau muda 13,9
1:5
3 Metanol Hijau pekat 145,2
1 × 24 jam
Metanol Kuning kehijauan 15
1:5
4 Etil asetat Hijau kehitaman 14
1 × 24 jam
n-heksan Hijau tua cerah 10,4
1:5
5 Metanol Hijau pekat 88,3
3 × 24 jam
Metanol Hijau pekat 24,4
1:5
6 Etil asetat Hijau pekat 15,3
3 × 24 jam
n-heksan Hijau terang 8,4

Dari tabel diatas dengan dengan lama perendaman 1×24 jam


perlakuan yang berbeda diperoleh sebanyak 145,2 mL. Ekstraksi
warna filtrat dan volume filtrat. tunggal dilakukan hingga filtrat
Warna filtrat menunjukan tertariknya berwarna benih yang
komponen-komponen senyawa aktif menggambarkan semua kandungan
dari sampel oleh pelarut. Semakin senyawa aktif pada sampel telah
pekat warna filtrat, semakin banyak tertarik. Pada ekstraksi bertingkat
senyawa akif yang tertarik. Dari data didapatkan volume filtrat tertinggi
diatas, semua ekstraksi tunggal sebanyak 24,4 mL dari pelarut
menghasilkan warna filtrat yang metanol dan lama perendaman 3×24
pekat, dan warna filtrat dari ekstraksi jam. Dengan lama perendaman 3×24
bertingkat dengan pelarut metanol jam diduga kandungan senyawa aktif
dan pelarut etil asetat lebih pekat dari yang tertarik akan lebih banyak
pada warna filtrat dari pelarut n- dibanding dengan lama perendaman
heksan. Hal ini diduga karena 1×24 jam atau 2×24 jam. Dari data
kandungan senyawa aktif Bruguiera diatas, pelarut metanol rata-rata
hainesii cenderung bersifat semi menghasilkan volume filtrat lebih
polar atau polar. Volume filtrat banyak dibanding pelarut etil asetat
tertinggi yaitu ekstraksi tunggal dan n-heksan. Hal ini terjadi karena
sifat dari pelarut metanol yang menguapkan pelarut dan
mampu menarik senyawa polar menghasilkan ekstrak hasil
hingga senyawa non polar, sehingga evaporasi. Alat ini menggunakan
volume filtrat yang didapatkan prinsip vakum destilasi, sehingga
pelarut metanol lebih banyak tekanan akan menurun dan pelarut
dibanding pelarut lain. Hasil akan menguap dibawah titik
ekstraksi tunggal lebih banyak didihnya. Alat penguap rotary
daripada ekstraksi bertingkat karena evaporator diatur dengan kecepatan
proses ekstraksi dilakukan hingga yang diinginkan (biasanya 200 rpm)
hasil terakhir dari ekstraksi dan suhu berdasarkan titik didih
berewarna bening. pelarut yang digunakan. Titik didih
Setelah didapatkan filtrat pelarut metanol yaitu 65ºC, etil
dilakukan proses evaporasi untuk asetat 77ºC dan n-heksan 68ºC. Dari
memisahkan senyawa aktif dan hasil penguapan didapat ekstrak
pelarut agar didapatkan ekstrak kasar yang kemudian dihitung nilai
pekat. Proses evaporasi ini dilakukan rendemennya. Berikut data
dengan bantuan alat rotary perhitungan nilai rendemen :
evaporator yang mampu

Tabel 2. Perhitungan Nilai Rendemen


Berat Sampel Berat Ekstrak Nilai Rendemen
Kel. Filtrat
Awal (gr) (gr) (%)
1 Metanol 5,02 0,7033 14,009
Metanol 0,1072 2,11
2 Etil asetat 5,06 0,1713 3,38
n-heksan 0,092 1,81
3 Metanol 5,03 0,4036 8,0238
Metanol - -
4 Etil asetat 5,072 0,558 11,00
n-heksan 0,021 0,414
5 Metanol 5 0,7931 15,862
Metanol 0,25 5
6 Etil asetat 5 0,178 3,56
n-heksan 0,092 1,84

Berat ekstrak didapat dari dihasilkan diduga dipengaruhi oleh


proses penguapan dengan rotary proses evaporasi filtrat ekstrak.
evaporator. Ekstrak merupakan Bombardelli (1991) dalam
kumpulan senyawa-senyawa dari Oktavianus (2013) menyatakan
berbagai golongan yang terlarut bahwa lama ekstraksi menentukan
didalam pelarut yang sesuai, jumlah komponen yang dapat
termasuk didalamnya senyawa- diekstraksi dari bahan. Lama
senyawa aktif atau yang tidak aktif ekstraksi berhubungan dengan waktu
(Sidik dan Mudahar, 2000 dalam kontak antara bahan dan pelarut.
Suhirman., et al, 2006). Terjadinya Semakin lama waktu ekstraksi maka
perbedaan berat ekstrak yang kesempatan untuk bersentuhan antara
bahan dan pelarut semakin besar volume filtrat, semakin banyak juga
sehingga kelarutan komponen berat ekstrak yang dihasilkan. Nilai
bioaktif dalam larutan akan berat ekstrak tertinggi dari ekstraksi
meningkat dan ekstrak juga akan tunggal yaitu 0,7931 gram dengan
semakin bertambah hingga larutan nilai rendemen 15,862%. Pada
mencapai titik jenuhnya. Kemudian ekstraksi bertingkat nilai berat
berat ekstrak dihitung nilai ekstrak tertinggi yaitu 0,558 gram
rendemennya. Rendemen merupakan dengan nilai rendemen 11,00%. Nilai
persentase bagian bahan baku yang berat ekstrak terendah dari ekstraksi
dapat digunakan atau dimanfaatkan bertingkat dihasilkan oleh pelarut n-
dengan total bahan baku. Menurut heksan dengan perendaman 1×24
Kusumawati., et al, (2008) dalam jam yaitu 0,021 gram dengan nilai
Samin (2014) semakin tinggi nilai rendemen 0,41%. Dilihat dari warna
rendemen menandakan bahwa bahan filtrat yang kuning kehijauan
baku tersebut memiliki peluang menandakan kurangnya kandungan
untuk dimanfaatkan lebih besar. senyawa aktif yang tertarik dan
Rendemen merupakan persentase dengan volume filtrat 10,4 mL tidak
sampel sebelum dan setelah menghasikan berat ekstrak yang
perlakuan. Nilai rendemen dihitung banyak. Tidak adanya data berat
dengan rumus : ekstrak metanol dari ekstraksi
bertingkat dengan lama perendaman
1×24 jam disebabkan kelalaian
praktikan yang memungkinkan untuk
memiliki berat ekstrak lebih besar
Pada pembuatan ekstrak ini atau kecil sebagai perbandingan
dapat dilihat perbedaan polaritas dari dengan perlakukan yang lain.
pelarut menghasilkan perbedaan Berdasarkan pelarut yang
jumlah rendemen yang didapat. digunakan, metanol rata-rata
Perbedaan ini dipengaruhi beberapa menghasilkan rendemen ekstrak
faktor diantaranya, kondisi alamiah yang lebih besar dibanding dengan
senyawa, metode ekstraksi, ukuran pelarut etil asetat dan n-heksana. Hal
partikel sampel, kondisi dan waktu ini menunjukkan bahwa senyawa
ekstraksi serta perbandingan sampel yang terkandung pada daun
dengan pelarut (Harborne, 1987 mangrove Bruguiera hainsesii
dalam Prabowo., et al, 2014). Pelarut cenderung bersifat polar. Pelarut
polar rata-rata menghasilkan ekstrak yang digunakan tergantung dari sifat
lebih banyak dibanding pelarut semi komponen yang akan diisolasi. Hal
polar dan non polar. Seperti yang ini juga ditemukan oleh Darwis
sudah diuraikan sebelumnya, hal ini (2000) dalam Oktavianus (2013),
diduga karena senyawa aktif pada yang menyatakan bahwa secara
sampel Bruguiera hainesii bersifat umum pelarut metanol merupakan
polar atau semi polar. Berat ekstrak pelarut yang paling banyak
dapat dilihat dari warna filtrat dan digunakan dalam proses isolasi
volume filtrat. Semakin pekat warna senyawa organik bahan alam, karena
filtrat, semakin banyak berat esktrak hampir dapat melarutkan seluruh
yang dihasilkan. Semakin banyak golongan metabolit sekunder.
Perbedaan rendemen ekstrak yang Hasil fraksi akuades kembali
dihasilkan ini sesuai dengan apa dimasukkan ke dalam corong pisah.
yang dinyatakan Salamah., et al selanjutnya menambahkan 20 mL
(2008) dalam Prabowo., et al (2014), pelarut etil asetat dan mengocoknya
bahwa rendemen ekstrak hasil agar homogen. Sama seperti larutan
maserasi dengan pelarut yang sampel sebelumnya dengan pelarut
berbeda akan menghasilkan n-heksan, fraksi akuades dan fraksi
presentase rendemen yang berbeda. etil asetat akan terpisah dan
membentuk dua lapisan, lapisan
Fraksinasi bawah merupakan fraksi aquades dan
Fraksinasi merupakan lapisan atas merupakan fraksi etil
prosedur pemisahan komponen- asetat. Keberadaan fraksi akuades di
komponen berdasarkan kepolaran lapisan bawah menunjukkan massa
tergantung dari jenis senyawa yang jenis akuades lebih besar dari pada
terkandung. Fraksinasi bertujuan massa jenis etil asetat. Massa jenis
untuk mendapatkan senyawa murni akuades yaitu 1 g/mL, sedangkan
dari ekstrak yang diperoleh. Teknik massa jenis n-heksan yaitu 0,894
fraksinasi Bruguiera hainesii g/mL (Azura., et al, 2015). Setelah
dilakukan dengan menggunakan terbentuk dua fraksi, selanjutnya
corong pisah (separatory funnel). dilakukan pemisahan fraksi akuades
Proses fraksinasi diawali dan fraksi etil asetat.
dengan melarutkan ekstrak kasar Hasil fraksi akuades kembali
sebanyak 0,1 gram ke dalam 20 mL dimasukkan ke dalam corong pisah,
akuades. Kemudian memasukkan selanjutnya menambahkan 20 mL
larutan sampel ke dalam corong pelarut butanol dan mengocoknya
pisah. Lalu menambahkan 20 mL agar homogen. Fraksi akuades dan
pelarut n-heksan ke dalam corong fraksi butanol akan terpisah dan
pisah dan mengocoknya agar membentuk dua lapisan, lapisan
homogen. Fraksi akuades dan fraksi bawah merupakan fraksi aquades dan
n-heksan akan terpisah dan lapisan atas merupakan fraksi
membentuk dua lapisan, lapisan butanol. Terbentuknya dua lapisan
bawah merupakan fraksi aquades dan ini disebabkan oleh massa jenis
lapisan atas merupakan fraksi n- pelarut. Keberadaan fraksi akuades
heksan. Terbentuknya dua lapisan ini di lapisan bawah menunjukkan
disebabkan oleh massa jenis pelarut. massa jenis akuades lebih besar dari
Keberadaan fraksi akuades di lapisan pada massa jenis butanol. Massa
bawah menunjukkan massa jenis jenis akuades yaitu 1 g/mL,
akuades lebih besar dari pada massa sedangkan massa jenis butanol yaitu
jenis n-heksan. Massa jenis akuades 0,810 g/mL. Setelah terbentuk dua
yaitu 1 g/mL, sedangkan massa jenis fraksi, selanjutnya dilakukan
n-heksan yaitu 0,655 g/mL (Ahmad., pemisahan fraksi akuades dan fraksi
et al, 2014). Setelah terbentuk dua butanol.
fraksi, selanjutnya dilakukan Dari proses fraksinasi
pemisahan fraksi akuades dan fraksi didapatlah hasil senyawa murni.
n-heksan. Fraksinasi dengan corong pisah juga
disebut ekstraksi cari-cair dimana
pemisahan terjadi dengan Azura., et al. 2015. Pembuatan Etil
menggunakan dua cairan pelarut Asetat dari Hasil Hidrolisis,
yang tidak saling bercampur dan Fermentasi dan Esterifikasi
tergantung tingkat kepolaran. Pada Kulit Pisang Raja (Musa
sampel Bruguiera hainesii yang paradisiaca L.). Jurnal
dilarutkan dengan akuades senyawa Teknik Kimia USU, Article in
aktif yang bersifat non polar akan Press (2015).
tertarik oleh pelarut n-heksan, Distantina, S., et al. 2007. Pengaruh
senyawa aktif yang bersifat semi Rasio Berat Rumput Laut-
polar akan tertarik oleh pelarut etil Pelarut terhadap Ekstraksi
asetat dan senyawa aktif yang Agar-agar. Ekuilibrium Vol.
bersifat polar akan tertarik oleh 6 No. 2 Juli 2007: 53-58
pelarut butanol. Pemilihan butanol Majid, T. N., dan Nurkholis. 2010.
sebagai pelarut polar didasarkan Pembuatan Teh Rendah
kepada sifatnya. Biasanya pada Kafein melalui Proses
proses ektraksi digunakan pelarut Ekstraksi dengan Pelarut Etil
metanol sebagai pelarut polar, akan Asetat. Skripsi. Teknik Kimia
tetapi pelarut metanol memiliki sifat Fakultas Teknik, Universitas
yang hampir mirip dengan akuades. Diponegoro.
Hal ini akan menyulitkan pemisahan Oktavianus, Satria. 2013. Uji Daya
fraksi jika digunakan pelarut Hambat Ekstrak Daun
metanol. Mangrove Jenis Avicennia
marina terhadap Bakteri
SIMPULAN DAN SARAN Vibrio parahaemolyticus.
Ekstraksi dapat menarik Makassar: Universitas
komponen-komponen kimia yang Hasanuddin.
berada pada suatu bahan alam Prabowo, Y., et al. 2014. Ekstraksi
dengan menggunakan pelarut. Senyawa Metabolit Sekunder
Pelarut metanol menghasilkan filtrat yang terdapat pada Daun
dan nilai rendemen lebih tinggi dari Mangrove Xylocarpus
hasil ektraksi Bruguiera hainesii granatum dengan Pelarut
dibandingkan pelarut n-heksan dan yang Berbeda. Universitas
etil asetat. Hal ini menunjukkan Maritim Raja Ali Haji.
bahwa senyawa yang terkandung Puspita, I. A. 2012. Performa
pada daun mangrove Bruguiera Flokulasi Bioflokulan DYT
hainsesii cenderung bersifat polar. disiapkan melalui Ekstraksi
pada Beragam Tingkat
Keasaman dan Kekuatan Ion
DAFTAR PUSTAKA terhadap Turbiditas Larutan
Ahmad, D., et al. 2014. Ekstraksi Kaolin. Universitas
Minyak Atsiri Mahkota Pendidikan Indonesia.
Bunga Mawar (Rosa hybrid Rahmadani, Risa. 2013. Kandungan
L.) dengan Metode Maserasi. Senyawa Aktif pada
Universitas Pendidikan Holothuria coluber Asal
Indonesia. Perairan Lampung Selatan
yang Berpotensi sebagai
Antibakteri dan Antioksidan.
Skripsi. Universitas
Padjadjaran.
Samin, A. 2014. Penentuan
Kandungan Fenolik Total
dan Aktivitas Antioksidan
dari Rambut Jagung (Zea
mays L.) yang Tumbuh di
Daerah Gorontalo. Skripsi.
Universitas Negeri
Gorontalo.
Suhirman, M. S., et al. 2006. Teknik
Pembuatan Simplisia dan
Ekstrak Purwoceng. Laporan
Pelaksanaan Penelitian
Tanaman Obat dan Aromatik
Tahun 2006.