Anda di halaman 1dari 5

PROPOSAL ADVOKASI

“PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT TENTANG GINGIVITIS


PUBERTAS PADA REMAJA SMA 1 TARIK SIDOARJO”

disusun oleh :

Novia Chusdianti (P27825017028)

Prodi D3 Jurusan Keperawatan Gigi

Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Tahun 2019

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Remaja merupakan periode kritis peralihan dari anak menjadi dewasa. Pada remaja
terjadi perubahan hormonal, fisik, psikologis maupun sosial yang berlangsung secara
sekuensial. Faktor hormonal terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormon yaitu
peningkatan hormon endokrin pada usia pubertas. Peningkatan kadar hormon endokrin
selama usia pubertas dapat menyebabkan vasodilatasi (Pelebaran Pembuluh Darah) sehingga
sirkulasi darah pada jaringan gingival atau gusi dan kepekaan terhadap iritasi lokal, seperti
plak dan bakteri meningkat, yang mengakibatkan gingivitis pubertas. Gingivitis mengenai
lebih dari 80% anak usia muda, sedangkan pada orang dewasa hampir semua sudah pernah
mengalami gingivitis.

Gingivitis pubertas merupakan penyakit periodontal yang paling sering diderita oleh
anak-anak dan remaja, yang disebabkan adanya perubahan hormonal pada remaja. Kejadian
gingivitis pada anak yang telah mengalami menstruasi ini disebabkan karena perubahan
hormonal dan ditunjang dengan kebersihan gigi dan mulut yang kurang baik. Prevalensi
gingivitis bervariasi cukup besar sesuai dengan usia. Bentuk gingivitis pubertas,
karakteristiknya adalah pembengkakan pada marginal gingival. Kesehatan mulut penting
bagi kesehatan dan kesejahteraan tubuh secara umum dan sangat mempengaruhi kualitas
kehidupan, termasuk fungsi bicara, pengunyahan, dan rasa percaya diri. Gangguan pada
kesehatan mulut akan berdampak pada kinerja seseorang

Rongga mulut terdiri dari gigi dan struktur pendukungnya seperti gingival (gusi),
jaringan periodontal dan tulang alveolar. Dimana antara gigi dan struktur pendukungnya
saling berhubungan, apabila salah satunya mengalami kelainan atau kerusakan maka akan
berdampak pada struktur lainnya, oleh karena itu sangat perlu untuk menjaga kesehatan gigi
dan struktur pendukungnya agar keseimbangan di dalam rongga mulut tetap terjaga. Pada
keadaan yang sehat gingiva biasanya keras, berwarna merah muda, mempunyai tepi rata, dan
tidak berdarah saat disentuh, termasuk saat menggosok gigi. Kebersihan gigi dan mulut, serta
pola konsumsi makanan yang kurang baik, malas menyikat gigi atau oral hygiene yang buruk,
kurangnya nutrisi, kebiasaan buruk atau merokok juga dapat mempengaruhi kesehatan gigi
dan mulut, salah satunya yaitu peradangan gusi atau gingivitis.

Gingivitis atau radang gusi adalah inflamasi atau iritasi gingiva yang disebabkan oleh
akumulasi plak yang merupakan campuran makanan, saliva (air ludah) dan bakteri dalam
jumlah besar akibat kurangnya menjaga kebersihan gigi sehingga menumpuk dan masuk
disekitar antara gigi dan gusi. Periodontitis merupakan kelanjutan dari gingivitis yang tidak
tertangani. Bila iritasi plak dan inflamasi terus berlanjut, lama kelamaan akan menjadi
endapan keras. Periodontitis dapat menyebabkan kerusakan ligamen periodontal, tulang
alveolar, dan resesi atau penurunan pada gusi. Pada tahap pubertas terjadi peningkatan
hormon endokrin yang tinggi. Hasil survey World Health Organization (WHO) terbaru
menyebutkan bahwa hampir 90% penduduk di dunia terkena penyakit gingivitis (radang gusi)
dan 80% diantaranya paling banyak ditemukan pada anak – anak berusia di bawah 12 tahun,
sedangkan sisanya hampir 100% dialami remaja berusia 14 tahun ke atas.
Kegunaan Gingival Indeks adalah untuk mengukur Warna gusi, Kontur gusi, Perdarahan
gusi, dan Luasnya keterlibatan gusi dan laju alir cairan gusi.

Skor penilaian Gingival Indeks adalah sebagai berikut :

Skor 0 : Gingival normal tidak terdapat peradangan, tidak ada perubahan warna dan tidak
ditemukan perdarahan.
Skor 1 : Terdapat peradangan ringan, ada sedikit perubahan warna, terdapat sedikit edema,
namun tidak terdapat perdarahan.
Skor 2 : Terdapat peradangan sedang, terlihat warna kemerahan, terdapat edema, terdapat
pula perdarahan.
Skor 3 : Terlihat warna merah terang, terdapat edema, ada ulserasi, cenderung terjadi
perdarahan spontan.

Skor penilaian dan kriteria gingival indeks adalah sebagai berikut :

Skor 0 : Sehat
Skor 0,1 - 1,0 : Peradangan ringan
Skor 1,2 - 2,0 : Peradangan sedang
Skor 2,1 - 3,0 : Peradangan berat
Rumus menghitung gingival indeks adalah :

Total Skor Gingiva dibagi (Jumlah Gigi Indeks X Jumlah Permukaan yang Diperiksa).

Pada perkembangannya, pengukuran gingival indeks tidak lagi ada tindakan probing,
pengukuran ini dinamakan Modifikasi Gingival Index (MDI). Skor penilaian untuk
Modifikasi Gingival Index adalah sebagai berikut :

Skor 0 : Tidak terdapat peradangan gingiva


Skor 1 : Terdapat peradangan ringan yaitu ada sedikit perubahan warna, ada sedikit
perubahan tekstur sebagian margin atau papila.
Skor 2 : Terdapat peradangan ringan yaitu ada sedikit perubahan warna, terdapat perubahan
tekstur pada keseluruhan unit margin dan papilla gingiva.
Skor 3 : Terdapat peradangan sedang yaitu terlihat gingiva mengkilat, warna kemerahan, ada
edema, hipertrofi unit margin atau papilla gingiva.
Skor 4 : Terdapat peradangan berat yaitu terlihat warna merah terang, edema, hipertrofi,
perdarahan spontan, dan ulserasi

Setelah kami melakukan pemeriksaan di SMAN 1 Tarik, kami mendapatkan hasil


pemeriksaan gigi dan mulut yang telah dilakukan pada dilakukan terhadap 70 siswa kelas 10
dan 11 pada tanggal 8 April – 9 April 2019, dengan rata-rata skor penilaian gingival indeks
sebesar 3,00 (buruk) dan didapatkan data hasil kesimpulan pemeriksaan sebesar :
1. Kelas 10 : 84,90% dari 100% siswi (perempuan) dan 30,10% dari 100% siswa
(laki-laki) mengalami gingivitis.
2. Kelas 11 : 75,40% dari 100% siswi (perempuan) dan 10,10% dari 100% siswa
(laki-laki) mengalami gingivitis.

Pada hasil ini menunjukkan bahwa kurangnya penjagaan terhadap kebersihan gigi dan
mulut SMA 1 Tarik. Mengacu pada data masalah tersebut, maka diperlukan upaya
penyuluhan, edukasi, sarana prasarana dan dukungan agar dapat merubah perilaku siswa dan
siswi kelas 10 dan 12 SMA 1 Tarik tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan
gigi dan mulut. yang berusia 14 – 17 tahun dan bertujuan untuk mengetahui kejadian
gingivitis pada kalangan remaja. Cara pengumpulan data diperoleh dengan pemeriksaan
langsung kepada setiap siswa menggunakan gingival indeks. Oleh karena itu peningkatan
kesehatan gigi dan mulut serta promosi kesehatan dapat mengurangi terjadinya penyakit
mulut lainnya termasuk gingivitis. Pemeriksaan ini adalah deskriptif yang kelas X dan XI di
SMA 1 Tarik, yang kemudian diolah menggunakan tabel distribusi frekuensi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi,
gusi dan mulut pada Siswa dan Siswi
2. Apa akibat dan bahaya yang ditimbulkan karena Kurangnya menjaga kebersihan
gigi, gusi, dan mulut pada Siswa dan Siswi
3. Berapa indeks keradangan gingiva pada masa pubertas
4. Bagaimana cara mempraktekkan cara menggosok gigi yang baik dan benar
diwaktu yang tepat
5. Bagaimana cara menjaga kebersihan gigi, gusi, dan mulut

C. Tujuan
1. Siswa dan Siswi dapat memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan
gigi, gusi dan mulut
2. Siswa dan Siswi Akibat dan bahaya yang ditimbulkan karena Kurangnya menjaga
kebersihan gigi, gusi, dan mulut
3. Siswa dan Siswi Mengetahui indeks keradangan gingiva pada masa pubertas
4. Siswa dan Siswi mengetahui dan dapat mempraktekkan cara menggosok gigi yang
baik dan benar diwaktu yang tepat
5. Siswa dan Siswi mengetahui dan dapat memahami bagaimana cara menjaga
kebersihan gigi, gusi, dan mulut

BAB II

PEMBAHASAN

A. Rencana Kerja
1. Kegiatan : Dilakukan dengan kegiatan penyuluhan di aula dan pemeriksaan di
masing-masing kelas X dan XI SMA 1 Tarik Sidoarjo berjumlah 70 siswa. Mengacu
pada data hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.
a. Promotif : Penyuluhan, dengan materi sbb: Gingivitis Pubertas, penjelasan singkat
tentang Karang Gigi, dan Periodontitis, Penyebab, Akibat atau bahaya dan cara
mengatasi Gingivitis Pubertas, karang gigi dan periodontitis, pentingnya menjaga
kebersihan dan kesehatan gigi, gusi, dan mulut, pola makan untuk menjaga kesehatan
gigi dan mulut, dan cara menggosok gigi yang benar diwaktu yang tepat.
b. Preventif : Melakukan Demonstrasi cara menggosok gigi yang baik dan benar
kemudian melakukan gosok gigi yang baik dan benar secara masal disertai dengan
bimbingan.
2. Jangka waktu :
a. Pemeriksaan pada tanggal 8 – 9 April 2019
b. Setiap 3-6 bulan sekali melakukan pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut.
3. Teknik advokasi ke sasaran advokasi :
a) Melobi pihak Kepala Sekolah SMA 1 Tarik Sidoarjo untuk mendapat ijin
melakukan penyuluhan menjaga kebersihan dan kesehatan gusi, gigi dan mulut
dan tentang gingivitis pubertas pada siswa dan siswi SMA 1 Tarik.
b) Melakukan penyampaian informasi yang ada tentang kebersihan dan kesehatan
gigi dan mulut, akibat dan bahaya gingivitis pebertas dengan menggunakan
teknik presentasi beserta video menarik dengan waktu yang tidak terlalu lama
dan mudah dimengerti (singkat, padat dan jelas) kepada Kepala Sekolah dan
pihak-pihak sekolah dengan didukung data pemeriksaan siswa-siswi SMA 1
Tarik Sidoarjo..
c) Negosisasi dengan Kepala Sekolah SMA 1 Tarik agar mendapatkan kesepakatan
dan dukungan melakukan penyuluhan dan pemeriksaan pada siswa siswi SMA 1
Tarik.