Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

“Hipertiroid dan Hipotiroid”

Disusun
O
l
e
h
Kelompok : VI (Enam)
Anggota : Deby Juliastanto
Helda Firda Yanti
Muhammad Faesal Priyono
Qunita Putri
Tiara Eprili Bintang

DIII KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA
2019-2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan
Karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini. Penyusun makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas Keperawatan Medikal Bedah I tentang “Hipertiroid dan Hipotiroid”. Selain itu
tujuan dari penyusun makalah ini juga untuk menambah wawasan tentang asuhan keperawatan
hipertiroid dan hipotiroid.
Terima kasih kepada dosen yang telah membimbing kami agar dapat menyelesaikan
makalah ini. Akhirnya kami menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kami membutuhkan kritik dan saran yang membangun agar makalah selanjutnya bisa
menjadi lebih baik lagi.Semoga makalah itu berguna untuk kita semua.

Palangka Raya, 15 Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 3
C. Tujuan 3
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Pengertian 4
B. Etilogi 4
C. Patofisiologi 6
D. Pemeriksaan Diagnostik 6
E. Manifestasi Klinis 6
BAB III TINJAUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I
A. Penatalaksanaan Askep pada klien Hipertiroid dan Hipotiroid 7
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 17
B. Saran 17
DAFTAR PUSTAKA 18

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipertiroidisme dan tirotoksikosis sering dipertukarkan. Tirotoksikosis
berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila
suatu jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan. Sedangkan hipertiroidisme adalah
tirotoksikosis sebagai akibat produksi tiroid itu sendiri. Tirotoksikosis terbagi atas
kelainan yang berhubungan dengan hipertiroidisme dan yang tidak berhubungan dengan
hipertiroidisme. Tiroid sendiri diatur oleh kelenjar lain yang berlokasi di otak, disebut
pituitari. Pada gilirannya, pituitari diatur sebagian oleh hormon tiroid yang beredar dalam
darah (suatu efek umpan balik dari hormon tiroid pada kelenjar pituitari) dan sebagian
oleh kelenjar lain yang disebut hipothalamus, juga suatu bagian dari otak.
Hipothalamus melepaskan suatu hormon yang disebut thyrotropin releasing
hormone (TRH), yang mengirim sebuah sinyal ke pituitari untuk melepaskan thyroid
stimulating hormone (TSH). Pada gilirannya, TSH mengirim sebuah signal ke tiroid
untuk melepas hormon-hormon tiroid. Jika aktivitas yang berlebihan dari yang mana saja
dari tiga kelenjar-kelenjar ini terjadi, suatu jumlah hormon-hormon tiroid yang berlebihan
dapat dihasilkan, dengan demikian berakibat pada hipertiroid. Pengobatan hipertiroidisme
adalah membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan dengan cara menekan
produksi (obat antitiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi
subtotal).
Hipotiroid kongenital merupakan salah satu penyebab retardasi mental. Penelitian
Gilberg, tahun 2009 mengatakan bahwa angka hipotiroid kongenital di dunia adalah
1:3000 kelahiran.1,2 Di Asia insiden hipotiroid kongenital dilaporkan 1 : 2720 kelahiran
di daerah non endemik dan 1 : 1000 kelahiran di daerah endemik.2 Di Indonesia belum
diketahui angka kejadian hipotiroid kongenital dengan pasti, namun apabila mengacu
pada angka kejadian di Asia dan diYogyakarta, maka di Indonesia dengan angka
kelahiran sekitar 5 juta per tahun, diperkirakan sebanyak 1.765 sampai 3200 bayi dengan
hipotiroid kongenital dan 966 sampai 3.200 bayi dengan hipotiroid kongenital transien
1
karena kekurangan iodium, lahir setiap tahunnya 3 Hipotiroid Kongenital
merupakan gangguan hormon tiroid yang dapat menyebabkan perawakan dismorfik,
gangguan pertumbuhan, dan gangguan perkembangan2. Penelitian yang dilakukan di
India pada tahun 2010, dengan 30 sample penderita hipotiroid kongenital didapatkan 94%
mengalami gambaran dismorfik terdiri dari : 29% dengan kelainan jantung kongenital
dan 41% dengan kelainan spina bifida4. Di RSCM Jakarta, dilakukan penelitian terhadap
30 anak dengan kasus hipotiroid kongenital. Terdapat 30 sample yang terdiri dari 9 laki-
laki dan 21 perempuan. Didapatkan gejala klinis tersering adalah perkembangan motorik
yang lambat (83,3%), konstipasi (73,3%), makroglosi (70%), wajah 2 tipikal (60%), usia
tulang terhambat (95,5%), retardasi mental (IQ < 69) sebesar (62,5%),dll.5 Gangguan
mental merupakan masalah dengan implikasi yang besar terutama bagi negara
berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar 0,3 % dari
seluruh populasi, dan 3 % memmpunyai IQ dibawah 70.
Sebagai SDM (Sumber Daya Manusia) tentunya mereka akan sulit dimanfaatkan,
terutama pada anak- anak yang masih mempunyai masa depan panjang akan kesulitan
beradaptasi dengan lingkungan sosialnya 7 Indonesia, sebagai negara berkembang
memiliki permasalahan yang serius mengenai retardasi mental. Di Kabupaten Ponorogo,
terdapat desa yang menjadi pusat perhatian masyarakat, pemerintah , dan media. Desa
tersebut adalah Desa Karangpatihan atau yang lebih dikenal sebagai “kampung idiot”.
Terdapat 64 keluarga yang menderita retardasi mental dan memiliki perawakan
dismorfik. Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo mengatakan bahwa, berdasarkan letak
wilayah yang berada di lereng pegunungan, juga tingkat kesejahteraan masyarakat yang
rendah, kejadian “kampung idiot” ini dimungkinkan karena adanya penyakit hipotiroid.
Penegakkan diagnosis hipotiroid kongenital dilakukan dengan pengukuran Thyroid
Stimulating Hormone (TSH) dan Free Tetraiodotironin (FT4) yang digunakan sebagai
parameter diagnosis kelainan pada tiroid.7 Menurut penelitian Balai Penelitian GAKI di
Magelang pada tahun 2011, menjelaskan bahwa penderita dengan hipotiroid kongenital
mempunyai kadar FT4 yang menurun dan kadar TSH yang meningkat. Hal ini dibuktikan
dengan dilakukannya analisis pada 3 tigapuluh sample dengan rerata TSH adalah 130,73
Uiu/ Ml dan rerata FT4 0,54 mg/dl. Penelitian Wirawan tahun 2013 mengatakan bahwa,
2
hipotiroid kongenital jika mendapat penanganan dan terapi yang tepat dan cepat
akan mengurangi derajat retardasi mental ataupun komplikasi lainnya untuk
meningkatkan kualitas hidup anak agar mencapai tumbuh kembang optimal. Deteksi dini
dan diagnosis yang tepat dapat membantu pemberian terapi. Hal inilah yang menjadi
tujuan peneliti, melakukan penelitian dengan melihat kadar TSH dan FT4 terhadap
perawakan dismorfik pada anak usia kurang dari tiga tahun di Desa Karangpatihan,
Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Hipertiroid dan Hipotiroid
2. Apakah ada hubungan kadar TSH dan FT4 terhadap perawakan dismorfik
pada anak usia kurang dari tiga tahun di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong,
Kabupaten Ponorogo?
C. Tujuan
Untuk mengetahui hubungan kadar TSH dan FT4 terhadap perawakan dismorfik pada
anak usia kurang dari tiga tahun di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten
Ponorogo.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Hipertiroid adalah kadar TH yang (bersirkulasi) berlebihan. Gangguan ini dapat
terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Peningkatan TH yang
disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid disertai penurunan TSH dan TRF, akibat
umpan balik negatif pada pelepasan keduanya oleh TH. Hipertiroid yang disebabkan
oleh malfungi hipofisis menyebabkan kadar TH dan TSH yang tinggi. TRF yang rendah
karena umpan balik yang negatif dari TH dan TSH. Hipertiroid yang disebabkan oleh
malfungsi hipotalamus memperlihatkan TH yang tinggi disertai TSH dan TRH yang
berlebihan.
Hipotiroid terjadi akibat penurunan kadar hormone tiroid yang bersirkulasi.
Hipotiroid ditandai dengan miksedema, edema non pitting dan boggy yang terjadi
disekitar mata, kaki, dan tangan., dan juga menginfiltrasi jaringan lain. Hipotiroid dapat
terjadi akibat malfungsi kalenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Apabila hipotiroid
disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, kadar TH yang rendah disertai oleh kadar TSH
dan TRH yang tinggi karena tidak adanya umpan balik negative oleh TH pada hipofisis
dan hipotalamus. Apabila hipotiroid terjadi akibat malfungsi hipofisis, kadar TH yang
rendah disebabkan oleh kadar TSH yang rendah. TRH dari hipotalamus tinggi karena
tidak adanya umpan balik negatif pada pelepasannya oleh TSH atau TH. Hipotiroid yang
disebabkan oleh malfungsi hipotalamus menyebabkan kadar TH, TSH, dan TRH yang
rendah. Hipotiroid akibat pengobatan dapat terjadi setelah terapi atau pembedahan tiroid
sebelumnya, terapi radioiodine, atau obat-obatan seperti sitokin, amiodaron, dan litium.

B. Etilogi

Hipotiroid dapat diklasifikasikan menjadi hipotiroid primer, sentral, danhipotiroid


karna sebab lain. Hipotiroid primer terjadi akibat kegagalan tiroid memproduksi hormon
tiroid. Sedangkan hipotiroid sentral adalah akibat defisiensi TSH yang dihasilkan oleh
hipofisis. Hipotiroid karna sebab lain adalah hipotiroid yang disebabkan farmakologis,

4
defisiensi yodium, dan resistensi perifer. Secara epidemiologi yang paling banyak ditemukan
adalah hipotiroid tipe primer, oleh karena itu diagnosis ditegakkan berdasar TSH meningkat
dan FT4 yang menurun. Hipotiroid lebih dominan terhadap wanita Dibedakan hipotiroid
klinis dan hipotiroid subklinis. Hipotiroid klinis ditandai dengan kadar TSH tinggi dan kadar
FT4 yang rendah. Sedangkan hipotiroid subklinik ditandai dengan TSH tinggi dan kadar FT4
normal, tanpa gejala atau ada gejala sangat minimal. Hipotiroid merupakan kumpulan gejala
yang manifestasinya tergantung dari : usia, onset penyakit, dan ada tidaknya kelainan lain.

Penyebab Hipertiroid dapat terjadi karena faktor genetik dan imunologi, yaitu meliputi

- Peningkatan insidensi kehamilan kembar monozigot, yang menunjukkan adanya


faktor herediter, kemungkinan gen autosom resesif
- Koeksistensi yang terjadi kadang-kadang bersama kelainan endokrin lain, seperti
diabetes mellitus tipe I, tiroiditis, dan hiperparatiroidisme.
- Defek pada fungsi limfosit-T supresor, yang memungkinkan produksi autoantibodi
(imunoglobin yang menstimulasi tiroid dan imunoglobin yang menghambat
pengikatan-thyroid-stimulating hormone, TSH)
- Tirotoksikosis klinis yang dipicu oleh asupan yodium berlebihan dari makanan atau
mungkin pula stress (pasien dengan penyakit laten)
- Obat-obatan, seperti latium dan amiodaron
- Tumor atau nodul yang toksik

Penyebab Hipotiroid dapat terjadi karena insufiensi hipotalamus hipofisis, atau tiroid atau karena
resistensi terhadap hormone tiroid. Penyebab hipotiroid lainnya meliputi

- Produksi hormon tiroid yang tidak adekuat, biasanya sesudah tiroidektomi atau terapi
radiasi atau akibat inflamasi, tiroiditis autoimun yang kronis (penyakit Hashimoto)
atau keadaan seperti amyloidosis serta sarkoidosis (jarang).
- Kegagalan hipofisis memproduksi TSH, kegagalan hipotalamus memproduksi TRH
(thyrotropin-releasing hormone), kelainan bawaan sintesis hormone tiroid defisiensi
yodium (biasanya dari makanan), atau pemakaian obat-obatan antitiroid, seperti
profiltiourasil.
5
C. Patofisiologi
Hipertiroid, kelenjar tiroid menyekresi precursor hormon tiroid T4, hormon tiroid
atau triiodotironin (T3), dan kalsitonin Hormone T3 dan T4 menstimulasi metabolism
protein, lipid, dan karbohidrat, terutama melalui lintasan katabolik. Kalsitonin
mengeluarkan kalsium dari dalam darah dan memasukkannya kedalam tulang.
Biosintesis, penyimpanan, dan pelepasan hormon tiroid dikendalikan oleh poros
hipotalamus-hipofisis melalui lingkaran umpan-balik megatif. TRH (thyrotropin-
releasing hormone) dari hipotalamus menstimulasi pelepasan TSH oleh kelenjar hipofisis.
Kadar T3 yang beredar dalam darah memberikan umpan balik negative melalui
hipotalamus untuk menurunkan kadar TRH dan melalui hipofisis untuk menurunkan
kadar TSH.
Hipotiroid, dapat mencerminkan malfumngsi hipotalamus, hipofisis, atau kelenjar
tiroid yang semuanya merupakan bagian dalam mekanisme umpan balik negatif yang
sama. Akan tetapi, gangguan pada hipotalamus dan hipofisis jarang menyebabkan
hipotiroid. Hipotiroid primer, yang merupakan gangguan kelenjar tiroid itu sendiri
paling sering ditemukan.

D. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan yang dilakukan adalah :
1. TSH serum (biasanya menurun)
2. T3, T4 (biasanya meningkat)
3. Test darah hormon tiroid
4. X-ray scan, CAT scan, MRI scan (untuk mendeteksi adanya tumor)
E. Manifestasi Klinis
Hipertiroid pada penyakit graves adalah akibat antibodi reseptor TSH yang
merangsng aktivitas tiroid, sedang pada goiter multimodular toksik berhubungan dengan
autonomi tiroid itu sendiri.
Perjalanan penyakit hipertiroid biaanya perlahan-lahan dalam beberapa bulan
sampai beberapa tahun. Manifestasi klinis yang paling sering adalah penurunan berat
badan, kelelahan, tremor : gugup berkeringat banyak, tidak tahan panas, palpasi dan
pembesaran tiroid.
6
BAB III
TINJAUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I

A. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan hipertiroid adalah produksi hormon (obat anti tiroid) atau
merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi sub total)
1. Obat antitiroid
Digunakan dengan indikasi :
a. Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang menetap
pada pasien muda dengan struma ringan sampai sedang dan tirrotoksikosis.
b. Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan, atau
sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat yodium radioaktif.
c. Persiapan tiroidektomi
d. Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia
e. Pasien dengan krisis tiroid
Obat antitiroid yang sering digunakan :

Obat Dosis awal (mg/hari) Pemeriksaan (mg/hari)


- Karbimatol 30 – 60 5 – 20
- Metimazol 30 – 60 5 – 20
- Propiltiourasil 300 – 600 50 – 200

Obat-obatan ini umumnya diberikan sekitar 18 – 24 bulan. Pada pasien hamil biasanya
diberikan propil tiourasil dengan dosis serendah mungkin yaitu 200 mg/hari atau lebih lagi.

7
Pada masa laktasi juga diberikan propiltiourasil karena hanya sedikit sekali yang keluar
dari air susu ibu, oasis yang dipakai 100-500 mg tiap 8 jam.

2. Pengobatan dengan yodium radioaktif


Indikasi pengobatan dengan yodium radiaktif diberikan pada :
a. Pasien umur 35 tahun atau lebih
b. Hipertiroid yang kambuh sesudah di operasi
c. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitirod
d. Tidak mampu atau tidak mau pengobatan dengan obat antitiroid
e. Adenoma toksik, goiter multinodular toksik

3. Operasi
Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroid. Indikasi operasi adalah :
a. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap obat antitiroid
b. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid dosis besar
c. Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima yodium radioaktif.
d. Adenoma toksik atau strauma multinodular toksik
e. Pada penyakit graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul
Sebelum operasi biasanya pasien diberi obat antitiroid sampai eutitiroid sampai
eutiroid kemudian diberi cairan kalium yodida 100-200 mg/hari atau cairan lugol 10-
14 tetes/ hari selama 10 hari sebelum dioperasi untuk mengurangi vaskularisasi pada
kelenjar tiroid.
4. Pengobatan tambahan
a. Sekat β-adrenergik
Obat ini diberikan untuk mengurangi gejala dan tanda hipertiroid. Dosis diberikan
40-200 mg/hari yang dibagi atas 4 dosis. Pada orang lanjut usia diberik 10 mg/6
jam.
8
b. Yodium
Yodium terutama digunakan untuk persiapan operasi. Sesudah pengobatan
dengan yodium radiaktif dan pada krisis tiroid. Biasanya diberikan pada dosis 100-
300 mg/hari.
c. Ipodat
Ipodat kerjanya lebih cepat dan sangat baik digunakan pada keadaan akut seperti
krisis tiroid kerja padat adalah menurunkan konversi T4 menjadi T3 diperifer,
mengurangi sintesis hormon tiroid, serta mengurangi pengeluaran hormon dari
tiroid.
d. Litium
Litium mempunyai daya kerja seperti yodium, namun tidak jelas keuntungannya
dibandingkan dengan yodium. Litium dapat digunakan pada pasien dengan krisis
tiroid alergi terhadap yodium.

A) Pengkajian

1. Aktivitas atau istirahat


Gejala : Imsomnia, sensitivitas meningkat, Otot lemah,gangguan koordinasi, kelelahan
berat
Tanda : Atrofi otot
2. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri dada (angina)
Tanda : Distritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan tekanan darah
dengan tekanan nada yang berat. Takikardia saat istirahat, sirkulasi kolaps, syok (krisis
tirotoksikosis)
3. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria, nocturia), rasa nyeri/terbakar, kesulitan
berkemih (infeksi), infeksi saluran kemih berulang, nyeri tekan abdomen, diare, urine
encer, pucat, kuning, poliuria (dapat berkembang menjadi oliguria atau anuria jika terjadi
hipovolemia berat), urine berkabut, bau busuk (infeksi), bising usus lemah dan menurun,
9
hiperaktif (diare).
4. Integritas / Ego
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan
kondisi.
Tanda : Ansietas peka rangsang
5. Makanan / Cairan
Gejala : Hilang nafsu makan, mual atau muntah, tidak mengikuti diet, peningkatan
masukan glukosa atau karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari periode beberapa
hari/minggu, haus, penggunaan diuretik (tiazid)
Tanda : Kulit kering atau bersisik, muntah, pembesaran thyroid (peningkatan
kebutuhan metabolisme dengan pengingkatan gula darah), bau halitosis atau
manis, bau buah (napas aseton)
6. Neurosensor
Gejala : Pusing atau pening, sakit kepala kesemutan, kelemahan pada otot parasetia,
gangguan penglihatan.
Tanda : Disorientasi, mengantuk, lethargi, stupor atau koma (tahap lanjut), gangguan
memori baru masa lalu ) kacau mental. Refleks tendon dalam (RTD menurun;koma),
aktivitas kejang ( tahap lanjut dari DKA).
7. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Abdomen yang tegang atau nyeri (sedang / berat), wajah meringis dengan
palpitasi, tampak sangat berhati-hati.
8. Pernapasan
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum purulen (tergantung
adanya infeksi atau tidak)
Tanda : sesak napas, batuk dengan atau tanpa sputum purulen (infeksi), frekuensi
pernapasan meningkat
9. Keamanan
Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
Tanda : Demam, diaforesis, kulit rusak, lesi atau ulserasi, menurunnya kekuatan
umum/rentang gerak, parastesia atau paralysis otot termasuk otot pernapasan
10
(jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam)
10. Seksualitas
Gejala : Rabas wanita ( cenderung infeksi ), masalah impotent pada pria.
Tanda : Glukosa darah meningkat 100-200 mg/ dl atau lebih, aseton plasma positif secara
mencolok, asam lemak bebas kadar lipid dengan kolosterol meningkat.
B) Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien yang mengalami hipertiroidisme
adalah sebagai berikut :
 Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid
tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung.
 Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi.
 Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat
badan).
 Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan
mekanisme perlindungan dari mata: kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus.
 Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis: status hipermetabolik.
 Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
 Risiko tinggi perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologik,
peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktifitas mental, perubahan pola tidur.
C) Intervensi keperawatan
1. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak
terkontrol, keadaan hipermetabolisme,peningkatan beban kerja jantung
Tujuan : Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan
kebutuhan tubuh, dengan kriteria :
 Nadi perifer dapat teraba normal
 Vital sign dalam batas normal.
 Pengisian kapiler normal
 Status mental baik
11
 Tidak ada disritmia

Intervensi :

- Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika memungkinkan.
Perhatikan besarnya tekanan nadi
Rasional : Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat dari
vasodilatasi perifer yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi
- Periksa kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan
pasien.
Rasional : Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh
otot jantung atau iskemia
- Auskultasi suara nafas, perhatikan adanya suara yang tidak normal (seperti krekels)
Rasional : Murmur yang menonjol berhubungan dengan curah
jantung meningkat pada keadaan hipermetabolik
- Observasi tanda dan gejala haus yang hebat,mukosa membran kering, nadi
lemah, penurunan produksi urine dan hipotensi
Rasional : Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan
volume sirkulasi dan menurunkan curah jantung
- Catat masukan dan keluaran
Rasional : Kehilangan cairan yang terlalu banyak dapat menimbulkan
dehidrasi berat
2. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan
energi
Tujuan : Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat
energi

Intervensi :

- Pantau tanda vital dan catat nadi baik istirahat maupun saat aktivitas.

Rasional : Nadi secara luas meningkat dan bahkan istirahat, takikardia mungkin
ditemukan

- Ciptakan lingkungan yang tenang


12
Rasional : Menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan
agitasi, hiperaktif dan insomnia
- Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas
Rasional : Membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolism
- Berikan tindakan yang membuat pasien merasa nyaman seperti massase
- Rasional : Meningkatkan relaksasi
3. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan
penurunan berat badan.
Tujuan : Klien akan menunjukkan berat badan stabil dengan kriteria :
 Nafsu makan baik.
 Berat badan normal
 Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

Intervensi :

 Catat adanya anoreksia, mual dan muntah


Rasional : Peningkatan aktivitas adrenergic dapat menyebabkan gangguan
sekresi insulin/terjadi resisten yang mengakibatkan hiperglikemia
 Pantau masukan makanan setiap hari, timbang berat badan setiap hari
Rasional : Penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan
kalori yang cukup merupakan indikasi kegagalan terhadap terapi antitiroid
 Kolaborasi untuk pemberian diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin
Rasional : Mungkin memerlukan bantuan untuk menjamin pemasukan zat-zat
makanan yang adekuat dan mengidentifikasi makanan pengganti yang sesuai.
4. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan
perubahan mekanisme perlindungan dari mata: kerusakan penutupan kelopak
mata/eksoftalmus
Tujuan : Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas
dari ulkus
Intervensi :

 Observasi adanya edema periorbital


Rasional : Stimulasi umum dari stimulasi adrenergik yang berlebihan
 Evaluasi ketajaman mata
Rasional : Oftalmopati infiltratif adalah akibat dari peningkatan jaringan retroorbita
 Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap
Rasional : Melindungi kerusakan kornea
 Bagian kepala tempat tidur ditinggikan
Rasional : Menurunkan edema jaringan bila ada komplikasi

5. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis: status hipermetabolik


Tujuan : Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi dengan
kriteria : Pasien tampak rileks

Intervensi :

 Observasi tingkah laku yang menunjukkan tingkat ansietas


Rasional : Ansietas ringan dapat ditunjukkan dengan peka rangsang dan
insomnia
 Bicara singkat dengan kata yang sederhana
Rasional : Rentang perhatian mungkin menjadi pendek,konsentrasi
berkurang, yang membatasi kemampuan untuk mengasimilasi informasi
 Jelaskan prosedur tindakan
Rasional : Memberikan informasi yang akurat yang dapat menurunkan
kesalahan interpretasi
 Kurangi stimulasi dari luar
Rasional : Menciptakan lingkungan yang terapeutik

13
6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
Tujuan : Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya dengan kriteria :
Mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya

Intervensi :

 Tinjau ulang proses penyakit dan harapan masa depan


Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat menentukan pilihan
berdasarkan informasi
 Berikan informasi yang tepat
Rasional : Berat ringannya keadaan, penyebab, usia dan komplikasi yang
muncul akan menentukan tindakan pengobatan
 Identifikasi sumber stress
Rasional : Faktor psikogenik seringkali sangat penting dalam
memunculkan/eksaserbasi dari penyakit ini
 Tekankan pentingnya perencanaan waktu istirahat
Rasional : Mencegah munculnya kelelahan
 Berikan informasi tanda dan gejala dari hipotiroid
Rasional : Pasien yang mendapat pengobatan hipertiroid besar kemungkinan
mengalami hipotiroid yang dapat terjadi segera setelah pengobatan selama 5
tahun kedepan

7. Risiko tinggi perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologik,


peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktifitas mental, perubahan pola tidur
Tujuan : Mempertahankan orientasi realitas umumnya, mengenali perubahan
dalam berpikir/berprilaku dan faktor penyebab.

14
Intervensi :

 Kaji proses pikir pasien seperti memori, rentang perhatian, orientasi terhadap
tempat, waktu dan orang
Rasional : Menentukan adanya kelainan pada proses sensori
 Catat adanya perubahan tingkah laku
Rasional : Kemungkinan terlalu waspada, tidak dapat beristirahat, sensitifitas
meningkat atau menangis atau mungkin berkembang menjadi psikotik yang
sesungguhnya
 Kaji tingkat ansietas
Rasional : Ansietas dapat merubah proses pikir
 Ciptakan lingkungan yang tenang,turunkan stimulasi lingkunga
Rasional : menurunan stimulasi eksternal dapat menurunkan hiperaktifitas/refleks,
peka rangsang saraf, halusinasi pendengaran
 Orientasikan pasien pada tempat dan waktu
Rasional : Membantu untuk mengembangkan dan mempertahankan kesadaran
pada realita/lingkungan
 Anjurkan keluarga atau orang terdekat lainnya untuk mengunjungi klien.
Rasional : Membantu dalam mempertahankan sosialisasi dan orientasi pasien.
 Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi seperti sedatif/tranquilizer, atau
obat anti psikotik.
Rasional : Meningkatkan relaksasi menurunkan hipersensitifitas saraf/agitasi
untuk meningkatkan proses pikir.
D) Implementasi

Setelah rencana tindakan keperawatan disusun secara sistemik. Selanjutnya rencana tindakan
tersebut diterapkan dalam bentuk kegiatan yang nyata dan terpadu guna memenuhi kebutuhan
dan mencapai tujuan yang diharapkan.

15
E) Evalusi
Hasil yang diharapkan adalah :
1) Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan
tubuh
2) Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi\
3) Klien akan menunjukkan berat badan stabil
4) Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari
ulkus
5) Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
6) Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya
7) Mempertahankan orientasi realitas umumnya, mengenali perubahan dalam
berpikir/berprilaku dan faktor penyeba.

16
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tiroid sendiri diatur oleh kelenjar lain yang berlokasi di otak, disebut
pituitari.Pada gilirannya,pituitari diatur sebagian oleh hormon tiroid yang beredar dalam
darah (suatu efek umpan balik dari hormon tiroid pada kelenjar pituitari) dan sebagian
oleh kelenjar lain yang disebut hipothalamus,juga suatu bagian dari otak.pengobatan
hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan dengan cara
menekan produksi (obat antitiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium
radioaktif,tiroidektomi subtotal).
B. Saran
Dari penyakit ini, dapat dihindarkan dengan cara tidak stress, tidak merokok,
tidak mengkonsumsi obat-obatan sembarangan dan tidak mengkonsumsi yodium secara
berlebihan karena dapat terjadi radiasi pada leher dan organism-organisme dapat
menyebabkan infeksi karena ada virus.

17
DAFTAR PUSTAKA
Kowalak dkk. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC

Elizabeth dlk. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC

http://eprints.umm.ac.id/23123/2/jiptummpp-gdl-adindhasek-42532-2-bab1.pdf

18