Anda di halaman 1dari 21

KEGIATAN BELAJAR 3

PIUTANG USAHA, PIUTANG WESEL DAN UTANG JANGKA


PENDEK

Sumber : http://chivocarol.blogspot.co.id

Uraian Materi
A. PENGERTIAN PIUTANG
Piutang merupakan klaim suatu perusahaan kepada pihak lain. Hampir semua perusahaan
memiliki piutang kepada pihak lain baik yang terkait dengan transaksi penjualan/pendapatan
maupun merupakan piutang yang berasal dari transaksi lainnya. Piutang adalah tagihan yang
ditujukan baik itu kepada individu-individu maupun kepada perusahaan lain yang akan
diterima dalam bentuk kas (Slamet Sugiri, 2009 : 43). Piutang menurut Al Haryono Jusup
(2005 : 52) merupakan hak untuk menagih sejumlah uang dari si penjual kepada si pembeli
yang timbul karena adanya suatu transaksi. Piutang timbul karena adanya penjualan secara
kredit kepada perusahaan lain.

B. KARAKTERISTIK DAN CIRI-CIRI PIUTANG


Pada umumnya piutang diklasifikasikan menjadi piutang dagang/ usaha, piutang wesel
dan lain-lain. Berikut adalah penjelasan tiap jenis piutang.
1. Piutang Dagang / Piutang Usaha
Piutang dagang terjadi karena adanya transaksi penjualan secara kredit kepada
pihak lain/perusahaan lain. Piutang dagang adalah tagihan kepada pelanggan yang

1
sifatnya terbuka, dalam arti bahwa tagihan ini tidak disertai instrument kredit.
Piutang dagang berasal dari penjualan barang dagangan dan jasa secara kredit dalam
operasi usaha normal (Slamet sugiri, 2009 : 43).
a. Pengakuan Piutang Dagang
Piutang diakui pada laporan posisi keuangan jika perusahaan tersebut
menjadi bagian dalam kontrak piutang tersebut. Dalam transaksi
penjualan/pendapatan, pengakuan piutang dikaitkan dengan pengakuan
pendapatan. Saat perusahaan telah mengakui pendapatannya maka perusahaan
akan mengakui piutangnya. Sesuai dengan PSAK 55, piutang diakui sebesar
nilai wajarnya, yaitu sebesar harga perolehan atau nilai pertukaran antara kedua
belah pihak pada tanggal transaksi.
b. Pengukuran Awal Piutang Dagang
Pengukuran piutang dagang adalah sebesar nilai bersih yang dapat
direalisasi (net realizable value). Dalam mengestimasi nilai bersih yang dapat
direalisasi, harus mempertimbangkan hal-hal berikut :
 Retur penjualan
 Potongan penjualan
 Cadangan piutang tak tertagih (penurunan nilai)
c. Pencatatan Piutang Dagang
Piutang dagang dicatat sebesar nilai pengakuannya atau sesuai dengan
harga perolehannya.
Ilustrasi :
PT Rahadian pada tanggal 5 maret 2010 menjual barang dagangan kepada PT
Fedny seharga Rp. 10.000.000 dengan termin 2/10, n/30. Pada tanggal 7 maret
ada beberapa barang yang cacat sehingga dikembalikan kepada PT Rahadian.
Bila dihitung barang yang dikembalikan tersebut sebesar Rp. 500.000. Pada
tanggal 15 PT Rahadian menerima pelunasan dari PT FEDNY sebesar saldo
tagihannya. Jurnal yang dibutuhkan untuk mencatat transaksi-transaksi tersebut
adalah sebagai berikut:
5 Maret Piutang dagang Rp10.000.000,00
Penjualan Rp10.000.000,00
(untuk mencatat adanya piutang karena penjualan kredit)

2
7 Maret Retur penjualan Rp500.000,00
Piutang dagang Rp500.000,00
(untuk mencatat adanya retur penjualan)

15 Maret Kas Rp9.310.000,00


Potongan penjualan Rp190.000,00
Piutang dagang Rp9.500.000,00
(untuk mencatat adanya pelunasan piutang )

Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia piutang dagang harus dicatat dan


dilaporkan dalam neraca sebesar nilai kas bersih (neto) yang bisa direalisasikan
yaitu jumlah piutang setelah dikurangi Cadangan Kerugian Piutang Tak tertagih
(CKP).
d. Penyajian Piutang Dagang
Piutang dagang disajikan dalam kelompok aset lancar. Nilai piutang
disajikan di laporan poisi keuangan setelah dikurangi dengan cadangan
kerugian penurunan piutang. Piutang biasanya disajikan dalam satu baris, tetapi
dapat juga disajikan secara detail sub komponennya. Jika disajikan dalam satu
baris,maka subkomponennya disajikan dalam catatan atas laporan
keuangannya.
Ilustasi penyajian di neraca :
Aktiva Lancar
Piutang dagang Rp5.000.000,00
(-) Cadangan kerugian piutang (CKP) Rp500.000,00
Nilai Realisasi bersih Rp4.500.000,00

e. Kerugian Piutang
Piutang dagang yang dimiliki oleh perusahaan belum tentu seluruhnya
dapat . Hal ini disebabkan karena debitur tidak mau membayar utangnya, tidak
mampu membayar atau dinyatakan bangkrut, tidak diketahui keberadaanya dsb.
Piutang usaha yang tidak dapat ditagih biasanya dinamakan kerugian piutang
dan dalam akuntansi dicatat dalam akun kerugian piutang. Kerugian piutang
biasanya dihitung karena adanya piutang yang tidak tertagih. Beberapa indikasi
piutang yang tidak tertagih, yaitu:

3
 Saat piutang sudah jatuh tempo
 Pelanggan tidak menanggapi usaha perusahaan untuk menagih
 Pelanggan pailit
 Usaha pelanggan tutup
 Kegagalan dalam mencari lokasi usaha atau menghubungi pelanggan.

f. Metode Estimasi Kerugian Piutang


Metode untuk mengestimasi kerugian piutang adalah sebagai berikut :
 Persentase penjualan
Piutang usaha terjadi karena adanya transaksi penjualan kredit, sehingga
beban piutang tidak tertagih dapat diestimasi sebagai persentase dari
penjualan kredit.
Ilustrasi :
Total penjualan kredit adalah Rp3.000.000,00. Persentase beban piutang
tak tertagih adalah 5% terhadap penjualan kredit.
Perhitungannya : Rp3.000.000,00 x 5% = Rp.150.000,00.
 Analisis piutang
1) Menentukan tanggal jatuh tempo setiap akun piutang pelanggan
2) Menentukan jumlah hari piutang yang telah lewat jatuh tempo,
yaitu selisih antara tanggal piutang jatuh tempo dengan tanggal
analisis piutang disiapkan.
3) Setiap akun ditempatkan pada setiap kelompok umur
bedrdasarkan tanggal lewat jatuh temponya.
4) Menentukan jumlah setiap umur.
5) Jumlah setiap kelompok kemudian dikalikan dengan persentase
estimasi piutang tak tertagih untuk kelompok tersebut.
6) Total estimasi piutang tak tertagih ditentukan dengan
menjumlahkan piutang tak tertagih di setiap kelompok umur.

4
Ilustrasi :

g. Metode Pencatatan Kerugian Piutang


Terdapat dua metode yang digunakan untuk mencatat adanya kerugian piutang
yaitu :
 Metode cadangan (Allowance method)
Metode ini digunakan apabila kerugian piutang cukup besar
jumlahnya. Tiga hal yang penting berkaitan dengan metode cadangan yaitu:
1) Piutang yang tidak tertagih ditaksir jumlahnya terlebih dahulu dan
diakui sebagai biaya pada periode penjualan, bila piutang tak tertagih
berasal dari tahun 2010 maka kerugian piutang diakui pada tahun 2010
juga.
2) Taksiran kerugian piutang dicatat dengan mendebet kerugian piutang
dan mengkredit cadangan kerugian piutang melalui jurnal penyesuaian.
3) Piutang yang benar-benar tidak dapat ditagih dicatat dengan mendebet
rekening cadangan kerugian piutang dan mengkredit rekening piutang
usaha pada saat suatu piutang itu dihapus dari pembukuan.
 Metode penghapusan langsung (Direct write off method).
Dalam metode ini perusahaan tidak perlu melakukan taksiran atas
kerugian piutang sehingga rekening cadangan kerugian piutang tidak
digunakan.Apabila suatu piutang diyakini tidak dapat ditagih lagi, maka
kerugian atas piutang tersebut langsung didebetkan ke dalam rekening
kerugian piutang dan mengkredit rekening piutang dagang. Dalam
metode ini, rekening kerugian piutang hanya akan menunjukkan jumlah

5
kerugian yang sesungguhnya diderita dan piutang dagang akan
dilaporkan dalam neraca sejumlah brutonya, selain itu kerugian
seringkali dilaporkan pada periode yang berbeda dari periode
penjuaalannya sehingga tidak dapat memberikan gambaran tentang nilai
piutang bersih yang dapat direalisasi, oleh karena itu metode ini tidak
diakui untuk pelaporan keuangan kecuali bila kerugian piutangnya
jumlahnya tidak material/kecil.

Metode Cadangan Metode Penghapusan Langsung


Pencatatan Taksiran Kerugian Dalam metode ini tidak
Piutang dilakukan taksiran atas
kerugian piutang
Kerugian piutang xxx
CKP xxx
Pencatatan Penghapusan Langsung Pencatatan Penghapusan Langsung

CKP xxx Kerugian piutang xxx


Piutang dagang xxx Piutang dagang xxx

Penerimaan Kembali piutang yang Penerimaan Kembali piutang


sudah dihapus yang sudah dihapus

Piutang dagang xxx Piutang Dagang xxx


CKP xxx Kerugian piutang xxx
(Untuk mencatat kembali piutang (Mencatat kembali piutang yang
yang sudah dihapus) sudah dihapus)

Kas xxx Kas xxx


Piutang dagang xxx Piutang dagang xxx
(Untuk mencatat penerimaan kas) (mencatat penerimaan kas)

6
Ilustrasi pencatatan piutang tak tertagih
Pada Agustus 2009 PT Rahadian melakukan penjualan kredit kepada PT
FEDNY sebesar Rp5.000.000,00. Hingga akhir tahun 2009 terdapat piutang
sebesar Rp500.000,00 yang belum dapat ditagih. Manajemen memperkirakan
Rp100.000,00 tidak akan dapat ditagih. Pada bulan Agustus 2010 bagian
penagihan menyatakan bahwa piutang sebesar Rp50.000,00 dihapus dari
pembukuan karena tidak mungkin dapat diterima pelunasannya dari PT
FEDNY. Secara tidak terduga pada bulan November 2010 PT FEDNY
melakukan pelunasan utangnya yang belum terbayar.

Diminta :
Buatlah jurnal penyesuaian dan jurnal yang dibutuhkan untuk mencatat
transaksi diatas baik dengan metode cadangan maupun dengan metode
penghapusan langsung
Jawaban:
Metode Cadangan
Pencatatan Taksiran Kerugian Piutang
Des31 Kerugian Piutang Rp100.000,00
Cadangan Kerugian Piutang Rp100.000,00

Pencatatan Penghapusan Langsung


Cadangan Kerugian Piutang Rp50.000,00
Piutang dagang Rp50.000,00

Penerimaan Kembali piutang yang sudah dihapus


Piutang dagang Rp50.000,00
Cadangan Kerugian Piutang Rp50.000,00
(Untuk mencatat kembali piutang yang sudah dihapus)
Kas Rp50.000,00
Piutang dagang Rp50.000,00
(Untuk mencatat penerimaan kas)

7
Metode Penghapusan Langsung
Pencatatan Taksiran Kerugian Piutang
Catatan: Dalam metode ini tidak dilakukan taksiran atas kerugian piutang.

Pencatatan Penghapusan Langsung


Kerugian piutang Rp50.000,00
Piutang dagang Rp50.000,00
Penerimaan Kembali piutang yang sudah dihapus
Piutang Dagang Rp50.000,00
Kerugian piutang Rp50.000,00
(Mencatat kembali piutang yang sudah dihapus)
Kas Rp50.000,00
Piutang dagang Rp50.000,00
(mencatat penerimaan kas)

Catatan :
Penghapusan piutang akan mengurangi rekening piutang dagang melalui
rekening CKP, tetapi nilai tunai yang dapat direlisasikan dari piutang tidak
berubah.

Piutang Dagang
Saldo 500.000 Agust 50.000

Cadangan Kerugian Piutang


Agust 50.000 saldo 100.000

Sebelum penghapusan Sesudah penghapusan


Piutang dagang Rp. 500.000 Rp. 450.000
CKP Rp. 100.000 Rp. 50.000
Nilai tunai piutang Rp. 400.000 Rp. 400.000

8
2. Piutang Wesel (Wesel Tagih)
Piutang wesel adalah klaim perusahaan kepada pihak ketiga yang didukung janji
tertulis untuk membayar dalam jangka waktu tertentu. Wesel merupakan janji
tertulis yang tidak bersyarat, dibuat oleh pihak yang satu untuk pihak yang lain,
ditandatangani oleh pihak pembuatnya, untuk membayar sejumlah uang atas
permintaan atau pada suatu tanggal yang ditetapkan pada masa yang akan adtang
kepada pihak yang memerintahkan atau membawanya. Penerbit wesel disebut wesel
bayar (notes payable) karena penerbit berjanji untuk membayar. Sedangkan
penerima wesek disebut wesel tagih (wesel receivable) karena penerima memiliki
hak klaim untuk menagih. Janji untuk membayar ini dituangkan dalam selembar
surat berharga yang didalamnya menyebutkan tanggal penerbitan, tanggal
pembayaran, jumlah nominal, tingkat bunga, pihak yang akan membayar dan bank
yang ditunjuk untuk melakukan pembayaran.
a. Karakteristik Wesel Tagih
Wesel tagih atau surat perjanjian piutang (promissory note) merupakan janji
tertulis untuk membayar sejumlah uang (nilai nominal), biasanya disertai dengan
bunga, pada saat diminta atau pada waktu yang telah ditentukan di kemudian hari.
Karakteristik wesel tagih atau surat perjanjian piutang adalah sebagai berikut :
1. Surat tersebut ditandatangani oleh orang atau perusahaan yang membuat janji.
2. Pihak yang berhak menerima uang dari wesel tagih disebut penerima
pembayaran (payee), dan pihak yang membuat janji disebut pembuat janji
(maker).
3. Nilai nominal (face amount) merupakan jumlah saat disepakati di awal. Tanggal
penerbitan (issuance date) meurpakan tanggal saaat wesel diterbitkan.
4. Tanggal jatuh tempo (due date atau maturity date) merupakan tanggal saat
wesel harus dibayar.
5. Periode wesel tagih merupakan tanggal penerbitan dan tanggal jatuh tempo.
6. Tingkat bunga (interest rate) merupakan tingkat bunga yang harus dibayarkan
atas nilai nominal pada perjanjian wesel tagih.
Ilustrasi :
CV. Abadi memiliki selembar piutang wesel kepada Firma Gemilang. Wesel
tersebut bernilai nominal Rp3.400.000,00 jangka waktu 90 hari, bunga 12%
tertanggal 10 Mei.

9
Diminta :
a) Tentukan tanggal jatuh tempo wesel tersebut.
b) Buatlah jurnal untuk mencatat pelunasan wesel teresbut, dengan asumsi
FirmaGemilang melunasi wesel tersebut pada tanggal jatuh temponya.
Penyelesaian :
a) Tanggal jatuh tempo wesel adalah 8 Agustus, yang dihitung dengan cara
berikut:
Jangka Waktu Wesel 90 Hari
Mei (31-10) 21
Juni 30
Juli 31
82

Tanggal jatuh tempo 8 Agustus


b) Bunga wesel sampai dengan tanggal jatuh tempo adalah sebagai berikut:
Nilai nominal x Tingkat Bunga x Jangka Waktu = Bunga Wesel
Rp3.400.000,00 x 12% x 90/360 = Rp102.000,00
Jurnal untuk mencatat pelunasan wesel dari Firma Gemilang adalah sebagai
berikut :
Des.9. Kas Rp3.502.000,00
Piutang Wesel Rp3.400.000,00
Pendapatan bunga Rp102.000,00
(mencatat pelunasan piutang wesel CV. Abadi)

b. Penentuan Tanggal Jatuh Tempo


Saat jatuh tempo (tanggal harus dibayar) sebuah surat wesel dapat dinyatakan
dengan tiga cara :
1. Atas penagihan, artinya pihak tertarik akan membayar wesel pada saat ditagih
oleh pemegang wesel. Dalam hal ini tidak disebutkan secara pasti tanggal
pengalihannya.
2. Pada tanggal tertentu, artinyatanggal jatuh tempo dtulis eksplist dalam surat
wesel. Contoh : pada tanggal 23 Juli 2012 harap dibayar. (atau saya berjanji
membayar. .. ).

10
3. Pada kahir masa tertentu : artinya setelah sekian hari, bulan atau tahun, wesel
harus dibayar. Contoh : enam puluh hari sesudah tanggal tersebut di atas....
Apabila jangka waktu sebuahwesel dinyatakan dalam bulan, maka tanggal jatuh
tempo dihitung dengan jumlah bulan dari tanggal penarikan wesel.

Ilustrasi :
Tanggal penarikan wesel adalah 17 Juli dengan jangka waktu 30 hari, maka
tanggal jatuh temponya adalah :
Jangka Waktu Wesel 60 hari
Julli (31-17) 14
Agustus 31
Jumlah hari juli dan agustus 45 hari
Tanggal jatuh tempo wesel 15, September

c. Pendiskontoan Piutang Wesel


Penjualan piutang wesel sebelum tanggal jatuh tempo nya disebut
pendiskontoan piutang wesel karena pemegang wesel akan menerima pembayaran
yang jumlahnya lebih kecil daripada nilai jatuh tempo wesel yang bersangkutan.
Harga jual wesel yang lebih rendah ini akan menyebabkan pendapatan bunga yang
diterima pemegang wesel menjadi berkurang. Hal ini wajar, karena bagian
pendapatan bunga yang tidak jadi diterima ini merupakan harga yang harus dibayar
untk penerimaan kas yang lebih cepat dari tanggal seharusnya (tanggal jatuh tempo
wesel).
Ilustrasi 1 :
PT. Abadi mempunyai piutang wesel pada PT. Gempita yang ditarik pada tanggal
10 Oktober 2015. Nilai nominal wesel Rp1.500.000,00, bunga 10%, jangka waktu
90 hari. Ini berarti wesel tersebut akan jatuh tempo pada tanggal 18 Januari 2016.
Pada tanggal 9 Desember 2015, PT. Abadi mendiskontokan wesel tersebut kepada
Bank Unversal dengan diskonto 12%. Tingkat diskonto ini lebih tinggi dari bunga
wesel, karena bank ingin memperoleh pendapatan yang lebih besar. PT. Abadi
bersedia untuk menerima tarif diskonto yang lebih tinggi ini karena ingin
memperoleh kas lebih cepat. Peirode diskonto dalam kasus ini adalah 40 hari (22
hari di bulan Desember dan 18 hari pada bulan Januari). Nilai wesel didiskonto

11
adalah jumlah pembayaran yang diterima oleh PT. Abadi dari bank. Perhitungan
nilai wesel diskonto adalah sebagai berikut :

Nilai Nominal Wesel Rp 1.500.000,00

Ditambah

Bunga (Rp1.500.000,00 x 10% x 90/360) Rp37.500,00

Nilai Jatuh Wesel Rp 1.537.500,00

Dikurangi

Diskonto (Rp1.537.500,00x12%x40/360) Rp 20.500,00

Harga Jual Wesel (nilai wesel diskonto) Rp 1.517.000,00

Pada tanggal jatuh tempo, bank menerima Rp1.537.500,00 dari pihak tertarik
yang berarti memperoleh pendapatan sebesar Rp20.500,00 (Rp1.537.500,00 –
Rp1.517.000,00). Dalam perhitungan di atas perlu diperhatikan dua hal penting,
yaitu :
 Diskonto dihitung dari nilai jatuh tempo (nilai nominal ditambah bunga),
bukan dari nilai nominal wesel, kecuali jika wesel tidak berbunga
 Periode diskonto dihitung mundur ke belakang mulai dari tanggal jatuh
tempo (18 Januari 2016 dampai tanggal pendiskontoan wesel (9 Desember
2015).
Perhatikan berikut ini :

 Tgl 20 Oktober 2015 sampai dengan Tgl 18 Januari 2016


Nominal Rp1.500.000,00
Bunga (90 hari) Rp37.500,00
Nilai Jatuh Tempo Wesel Rp1.537.500,00
 Tgl 9 Desember 2011 sampai dengan Tgl 18 januari 2016
Nilai diskonto Rp1.517.000,00
Diskonto (40 hari) Rp 20.500,00
Nilai Jatuh Tempo Wesel Rp1.537.500,00

12
Jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut :
Des 9. Kas Rp1.517.000,00
Piutang Wesel Rp1.500.000,00
Pendapatan Bunga Rp17.000,00
(untuk mencatat pendiskontoan wesel)
Ilustrasi 2 :
Pada tanggal 1 Februari 2016 PT. Cemerlang mengeluarkan wesel untuk
membayar barang dagangannya kepada PT. Sinar senilai Rp 30.000.000,00
dengan bunga 3%. Wesel akan jatuh tempo selama 60 hari. Pada tanggal 2 Maret
2016, PT. Cemerlang membutuhkan dana kemudian ia menjual wesel tersebut
kepada Bank Cahaya dengan tingkat diskonto 5%.

Tanggal jatuh tempo piutang wesel 60 hari setelah tgl 1 Februari 2016 :
Februari : 28 hari
Maret : 31 hari
April : 1 hari
60 hari
Tanggal jatuh tempo wesel adalah 1 April 2016
Wesel didiskontokan ke Bank
Februari : 28 hari
Maret : 2 hari
30 hari
Perhitungan bunga piutang wesel :
Bunga : Rp 30.000.000,00 x 3% x 6/350 : Rp 150.000,00

Nilai jatuh tempo wesel :


Rp 30.000.000,00 + Rp 150.000,00 : Rp 30.150.000,00

Perhitungan diskonto :
Nilai diskonto : Rp 30.000.000 x 5% x 30/360 : Rp 125.000,00

Jumlah uang yag diterima :


Rp 30.150.000,00 – Rp 125.000,00 : Rp 30.125.000,00

13
Jurnal mencatat diskonto :
2/3/2016 Kas Rp 30.125.000,00
Bunga Diskonto Rp 125.000,00
Piutang wesel Rp 30.000.000,00
Pendapatan bunga Rp 150.000,00

d. Perubahan Piutang Usaha menjadi Piutang Wesel


Surat perjanjian piutang dapat diterima oleh perusahaan dari pelanggan untuk
menggantikan piutang. Dalam hal ini, surat perjanjian piutang disebut sebagai
wesel tagih. Wesel tagih dapat diterbitkan untuk membayar penjualan, piutang
yang telah jatuh tempo atau diterbitkan dalam rangka memperoleh pinjaman.
Ilustrasi Perubahan Piutang Usaha menjadi Piutang Wesel
Diasumsikan perusahaan menerima wesel taguh 30 hari, dengan bunga 12%
bertanggal 21 November 2015, sebagai penyelesaian piutang PT. Budiman, yang
telah lewat jatuh tempo sebesar Rp6.000.000,00. Perusahaan mencatat penerimaan
wesel tagih tersebut sebagai berikut:
Nov 21 Wesel Tagih-W.A. Budiman Co. Rp6.000.000,00
Piutang Usaha- W.A. Rp6.000.000,00
Budiman Co.

Saat wesel tagih telah jatuh tempo, perusahaan mencatat penerimaan atas pelunasan
sebesar Rp6.060.000,00 (pokok Rp6.000.000,00 ditambah bunga Rp60.000,00)
sebagai berikut
Des 21 Kas Rp6.060.000,00
Piutang Usaha- W.A. Budiman Co. Rp6.000.000,00
Pendapatan Bunga Rp60.000,00
((Rp6.060.000,00=Rp6.000.000,00+
(Rp6.000.000,00x12%x30/360))

Jika pembuat wesel tagih gagal membayar utangnya pada tanggal jatuh tempo, maka
surat tersebut disebut wesel tagih gagal bayar (dishonored wesel tagih). Perusahaan
yang memegang wesel tagih gagal bayar tersebut akan memindahkan kembali nilai
nominal wesel tagih ditambah bunga jatuh tempo ke akun piutang pelanggan yang

14
bersangkutan. Sebagai contoh, diasumsikan wesel tagih yang diterima dari PT.
Budiman sebesar Rp6.000.000,00, dengan waktu 30 hari dan bunga 12% per tahun
yang dicatat pada tanggal 21 November ternyata tidak dapat dibayar pada saat jatuh
tempo. Perusahaan yang memegang wesel tersebut memindahkan kembali nilai
nominal dan bunga ke piutang pelanggan sebagai berikut :
Des 21 Piutang Usaha-W.A. Budiman Co. Rp6.060.000,00
Wesel Tagih- W.A. Budiman Rp6.000.000,00
Co.
Pendapatan Bunga Rp60.000,00
((Rp6.060.000,00=
Rp6.000.000,00+
(Rp6.000.000,00x12%x30/360))

Perusahaan telah menerima bunga tersebut sebesar Rp60.000,00, meskipun wesel


tersebut tidak dapat dilunasi. Jika piutang tersebut tidak tertagih, maka perusahaan
akan menghapus piutang sebesar Rp6.060.000,00 dan mencatatnya dalam
Penyisihan Piutang Tak Tertagih.
Jika wesel tagih jatuh tempo pada tahun fiskal berikutnya, perusahaan pemegang
wesel mencatat penyesuaian untuk pendapatan akruan bunda dalam periode di mana
wesel tagih diterima. Sebagai contoh, diasumsikan PT Cemara menggunakan wesel
tagih 90 hari, bertanggal 1 Desember 2015 dan bunga 12% per tahun untuk
menyelesaikan piutangnya yang memiliki saldo sebesar Rp4.000.000,00.
Diasumsikan periode akuntansi berakhir pada 31 desember, pemegang wesel tagih
mencatat transaksi sebagi berikut :
Des 1 Wesel tagih-PT. Cemara Rp4.000.000,00
Piutang Usaha-PT.Cemara. Rp4.000.000,00
31 Piutang Bunga Rp40.0000,00
Pendapatan Bunga Rp40.000,00
(Akruan Bunga :
Rp4.000.000,00x12%x30/360)
Mar 1 Kas Rp4.120.000,00
Wesel tagih-PT. Cemara Rp4.000.000,00
Piutang Bunga Rp40.000,00

15
Akun pendapatan bunga ditutup pada setiap akhir periode akuntansi. Jumlah
pendapatan bunga biasanya dilaporkan dalam pendapatan lainnya dalam laporan
laba rugi.

3. Piutang lain-lain
Piutang lain-lain meliputi piutang non usaha seperti pinjaman kepada
pejabat perusahaan, pinjaman kepada karyawan maupun pinjaman kepada pihak lain
yang tidak berkaitan dengan usaha (Slamet sugiri, 2009 : 43). Piutang lain-lain terdiri
atas macam-macam tagihan yang tidak termasuk dalam piutang dagang maupun
piutang wesel. (Al Haryono Jusup, 2005 : 53).

4. Perbedaan Masing-Masing Piutang


Piutang Dagang/Usaha Piutang Wesel Piutang lain-lain
Jangka waktu kurang Jangka waktu Jangka waktu lebih
dari 1 tahun bermacam-macam dari satu tahun
2/10, n/30 tetapi pada atau termasuk
umumnya paling dalam piutang
sedikit 60 hari jangka panjang.
Dimasukkan dalam Bagian yang jatuh Pada umumnya
aktiva lancae temponya dalam termasuk dalam
waktu 1 tahun piutang jangka
diperlakukan panjang.
sebagai aktiva
lancar, sedangkan
yang lebih dari satu
tahun piutang jangka
panjang

Berkaitan dengan Mensyaratkan Tidak berkaitan


operasi utama adanya jaminan dengan operasi
perusahaan sehingga sehingga jika saat sehari-hari dan
harus dapat ditagih jatuh tempo tidak biasanya
dapat melunasi maka dilaporkan

16
jaminan tersebut dineraca sebagai
dapat dijual kelompok aktiva
tidak lancar.

C. UTANG JANGKA PENDEK


PSAK 1 Tahun 2015 memberikan rumusak liabilitas jangka pendek sebagaimana
disebutkan dalam butir-butir dibawah ini. Perusahaan mengklasifikasikan liabiltas yang
tidak termasuk kategori tersebut di bawah sebagai liabilitas jangka panjang.
1. Perusahaan mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi
normalnya;
Beberapa liabilitas diharapkan oleh manajemen akan diselesaikan dalam siklus operasi
normal entitas, yang merupakan bagian dari modal kerja, seperti utang usaha, beban
akrual untuk biaya karyawan dan biaya operasional lainnya, termasuk dalam kelompok
liabilitas jangka pendek, walaupun jatuh tempo dari libilitas tersebut dari dua belas
bulan.
2. Perusahaan memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan;
Sama seperti aset lancar, manajemen mungkin saja memiliki liabilitas dengan tujuan
untuk diperdagangkan, misalnya liabilitas keuangan dalam kelompok tersedia untuk
dijual.
3. Liabilitas tersebut jauth tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu dua belas bulan
setelah periode pelaporan;
Bisa saja terdapat liabilitas yang tidak diselesaikan dalam siklus operasi normal
perusahaan, namun jatuh tempo untuk diselesaikan dalam waktu dua belas bulan setelah
tanggal pelaporan, misalnya utang jangka panjang yang akan jatuh tempo kurang dari
dua belas bulan, cerukan bank, pajak penghasilan terutang dan utang dividen.
4. Perusahaan tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas
selama sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan;
Yang perlu ditekankan pada kriteria ini adalah hak tanpa syarat untuk menunda
penyelesaian liabilitas. Manajemen perlu menganalisis, apakah tanggal laporan, entitas
memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama sekurang-
kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan.

Utang jangka pendek atau kewajiban lancar adalah utang atau kewajiban yang akan
dibayar dalam jangka waktu satu tahun atau siklus operasi normal perusahaan (tergantung

17
mana yang lebih panjang), dan dengan menggunakan aset lancar yang ada atau hasil dari
pembentukan utang pendek atau kewajiban lancar yang lain. Utang jangka pendek atau
kewajban lancar meliputi : utang dagang, utang wesel, pendapatan diterima dimuka, dan beban-
beban yang masih harus dibayar seperti utang gaji, utang pajak dan utang bunga.
Jenis-Jenis Utang Jangka Pendek/Kewajiban Lancar adalah sebagai berikut.
1. Utang Usaha (Account Payable)
Utang usaha atau Utang Dagang merupakan utang kepada pihak lain atas barang
dan jasa yang dibeli secara kredit. Utang usaha timbul karena adanya perbedaan antara
tanggal di kuitansi atau saat penyerahan barang dengan waktu pembayaran. Pembelian
kredit ini biasanya melibatkan syarat penjualan seperti: 2/10, n 30 atau 1/10 EOM
biasanya dengan penambahan kredit 30 sampai dengan 60 hari.
Ilustrasi :
Pada tanggal 10 Juli 2016, PT Maju Jaya membeli barang dagangan secara kredit
sebesar Rp5.000.000 dengan syarat 3/10,n/60. Pada tanggal 17 Juli 2016, PT Kirana
membayar utang sebesar Rp2.500.000,00 dan sisa utang dilunasi pada tanggal 1
September 2016.
Jurnal dari transaksi tersebut adalah:
10 Juli 2016 Pembelian Rp500.000,00
Utang Dagang Rp500.000,00

17 Juli 2016 Utang Dagang Rp2.500.000,00


Kas Rp2.425.000,00
Potongan/ Diskon Pembelian Rp75.000,00
1 September Utang Dagang Rp2.500.000,00
Kas Rp2.500.000,00

2. Utang Wesel
Kewajiban yang didukung dengan bukti tertulis secara formal dalam bentuk
wesel atau promes. Pada utang wesel biasanya mengharuskan pihak yang berutang
diambil untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek. Wesel dengan kewajiban
kurang dari satu tahun digolongkan dengan utang jangka pendek atau kewajiban lancar.
Wesel bisa berbunga atau tidak berbunga

18
a. Wesel berbunga
Ilustrasi :
Bank Bali menyetujui memberi pinjaman sebesar Rp10.000.000,00 pada tanggal 1
Oktober 2016 kepada PT. Jembatan. Bank Bali meminta kepada PT. Jembatan
untuk menandatangai sebuah promes dengan bunga 12% denga jangka waktu 4
bulan. Apabila wesel berbunga, maka jumlah yang harus diterima PT. Jembatan
adalah sebesar nilai nominal wesel tersebut.
Jurnal yang harus dibuat :
Okt 21 Kas Rp10.000.000,00
Utang Wesel Rp10.000.000,00
(untuk mncatat penerimaan kas dari penarikan wesel 12%, 4 bulan)
Jurnal penyesuaian yang dibuat pada 31 Des 2016 adalah :
Des 31 Beban bunga Rp300.000,00
Utang bunga Rp300.000,00
(Rp10.000.000,00 x 12% x 3/12 – Rp300.000,00)
Jurnal untuk mencatat pada saat jatuh tempo adalah
Feb 01 Utang wesel Rp10.000.000,00
Utang bunga Rp300.000,00
Beban bunga Rp100.000,00
Kas Rp10.400.000,00
(mencatat pelunasan wesel dan bunganya)
Bunga yang harus dibayar pada saat jatuh tempo adalah :
Rp10.000.000,00 x 12% x 4/12 = Rp400.000,00.

b. Wesel Tidak Berbunga


Ilustrasi :
Bank bali menyetujui memberi pinjaman sebesar Rp10.000.000,00 pada tanggal 1
Oktober 2016 kepada PT. Jembatan. Bank Bali meminta kepada PT. Jembatan
untuk menandatangai sebuah wesel tanpa bunga dengan jangka waktu 4 bulan.
Jurnal yang dibuat :
Okt 1 Kas Rp10.000.000,00
Diskonto utang wesel Rp400.000,00
Utang Wesel Rp10.400.000,00
(untuk mencatat penerimaan kas dari penarikan wesel 4 bulan tanpa bunga).

19
Dalam jurnal diatas, akun utang wesel dikredit sebesar nilai nominal wesel yaitu
Rp10.400.000,00 yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah kas yang diterima. Selisih
antara nilai nominal wesel dengan jumlah kas yang diterima di debetkan ke akun diskonto
utang wesel. Akun diskonto merupakan akun kontra terhadap akun utang wesel.

Jurnal penyesuaian pada Tgl 31 Des 2016 adalah :


Des 31 Beban bunga Rp300.000,00
Diskonto utang wesel Rp300.000,00
(untuk mencatat beban bunga selama 3 bulan)
Dengan adanya jurnal diatas, maka saldo akun diskonto utang wesel tinggal
Rp100.000,00.
Feb 1 Utang wesel Rp10.400.000,00
Beban bunga Rp100.000,00
Diskonto Utang Wesel Rp100.000,00
Kas Rp10.400.000,00
(mencatat pelunasan wesel)

c. Utang pajak
Ilutrasi :
Tgl 25 Maret 2016, PT. Kelud menjual barang seharga Rp10.000.00,00. Atas
penjualan tersebut PT Kelud memungut pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar
10%,sehingga jumlah kas yang diterima dari pembeli adalah Rp11.000.000,00.
Jurnal yang dibuat adalah :
Mar 25 Kas Rp11.000.000,00
Penjualan Rp10.000.000,00
Utang PPn Rp1.000.000,00

Jurnal ketika utang sudah disetorkan :


Utang PPn Rp1.000.000,00
Kas Rp1.000.000,00

d. Pendapatan diterima dimuka


Pendapatan diterima dimuka merupakan pembayaran dimuka atas barang atau jasa
yang penyerahannya akan dilakukan di waktu yang akan datang.

20
Ilustrasi :
Pada Tgl 1 Desember 2016, CV. Serasi menerima pesanan 400 buah kursi kuliah
dari PT. Maju Mapan dengan harga Rp100.000,00 per buah. Pada tanggal tersebut
CV. Serasi membayar uang muka sebesar Rp25.000.000,00. Jurnal yang dibuat
adalah :
Des1 Kas Rp25.000.000,00
Pendapatan diterima dimuka Rp25.000.000,00
Pada tanggal 31 Desember CV. Serasi mengirimkan 100 buah kursi tahap pertama.
Jurnal yang harus dicatat adalah :
Des31 Pendapatan diterima dimuka Rp10.000.000,00
Pendapatan Rp10.000.000,00
Misalkan HPP nya adalah Rp60.000,00, jurnal Harga Pokok Penjualan adalah :
Harga Pokok Penjualan Rp600.000,00
Persediaan Rp600.000,00

Daftar Pustaka
Hery, 2017. Akuntansi Pengantar “Bank Soal dan Solusi”. Jakarta, Grasindo.
Martani, Dwi, dkk. 2014. Akuntansi Keuangan Menengah Buku 1 Berbasis PSAK. Edisi
Jakarta.Salemba Empat.
Slamet Sugiri S. Dan Bogat Agus R. 2016. Akuntansi Pengantar 1 Edisi
Kesembilan.Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu
Manajemen YKPN.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2017. Standar Akuntansi Keuangan Buku1. Edisi Kedua. Jakarta.
Gramedia
Warren, Carls.S.,dkk. 2015. Pengantar Akuntansi Adaptasi Indonesia Edisi 25 Cetakan ketiga.
Jakarta. Salemba Empat.
Yusuf, Haryono Al. 2011. Dasar-dasar Akuntansi Jilid II Edisi 7. Cetakan Pertama.
Yogyakarta. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.

21