Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN DAN RESUME

DENGAN HIPERTENSI DIPOLIKLINIK

RSUD DR. R. SOETIJONO BLORA

Disusun oleh :

ANDRIYANI ( 04174501)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURYA GLOBAL

YOGYAKARTA

2019
A. Definisi
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah dari arteri yang bersifat sistematik
alias berlangsung terus menerus untuk jangka waktu lama. Hipertensitidak terjadi secara
tiba-tiba melainkan melalui proses yang lama. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol
untuk periode tertentu akan menyebabkan tekanan darah tinggi permanen yang disebut
hipertensi (lingga,2012).
Hipertensi bisa dicatat sebagai tekanan sistolik dan diastolic tekanan sistolik
merupakan tekanan darah maksimum dalam arteri yang disebabkan sistoliventrikular.
Hasil pembacaan tekanan sistolik menunjukan tekanan atas yang nilainya lebih besar,
sedangkan tekanan diatolik merupakan tekanan minimum dalam arteri yang disebabkan
oleh diaastoleventrical (wrdyanto,5.dan tribowo,2013)
Sedangkan menurut (garnadi, 2012)hipertensi adalah suatu kondisi saat nilai
tekanan sistolik lebih tinggi dari 140 mmhg atau nilai tekanan diastolic lebih tinggi dari
90mmhg.
B. Etiologi
Penyebab atau etiologi hipertensi menurut brooker (2009,hal 193) penyebab yang
mendasar hipertensi tidaak diketahui pada sebagaian besar pasien (lebih dari 95%) dan
disebut hipertensi esensial.
Ada beberapa factor yang terduga bisa meningkatkan resiko hipertensi yaitu :
 Usia , resiko hipertensi meningkatkan seiring bertambahnya usia.tekanan darah
meningkatkan sering usia dan hipertensi jarang terjadi pada kelompk usia
dibawah 25 tahun ,kecuali mereka mengalami gagal ginjal (brooker 2009)
 Factor keturunan , orang dengan anggota keluarga yang mengindap hipertensi
memiliki resiko tinggi untuk mengalami kondisi yang sama.
 Merokok , rokok dapat meningkatkan tekanan darah sekaligus menyempitkan
dinding arteri.
 Kadar gula yang tinggi dalam makanan , kadar gula yang tinggi bisa
menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, yang kemudian akan
meningkatkan tekanan darah.
 Terlalu banyak konsumsi minuman keras, kandungal alcohol dalam minuman
keras dapat memicu kerusakan pada organ jantung.
 Strees , tingkat stress yang tinggi berpotensi memicu peningkatan tekanan
darah.
C. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : (Edward k chung 1995)
 Tidak ada gejala , tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selama penentuan tekanan arteri oleh dokter yang
memeriksa . hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika
tekanan arteri tidak terukur.
 Gejala yang lazim sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai
hipertensi yang meliputi nyeri kepala dan kelelahan, dalam kenyataan ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien.
D. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat
vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis,
yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis
ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan
ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin,
meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan
aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan
vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat
memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II,
suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi
perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab
pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot
polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya
regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang
kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung
(volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan
perifer (Smeltzer, 2001). Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya
“hipertensi palsu” disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh
cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999). Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf
simpatis yang diteruskan ke sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan
tekanan darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi
pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada
angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah,
sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone
aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada
peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan
kerusakan pada organ-organ seperti jantung. ( Suyono, Slamet. 1996 ).
E. Komplikasi
 Aterosklerosis. Tekanan darah tinggi memicu pengerasan arteri, yang kemudian
disertai dengan penimbunan lemak di dinding pembuluh darah. Kondisi ini
disebut aterosklerosis. Aterosklerosis ini dapat menimbulkan serangan jantung,
stroke, dan penyakit arteri perifer.
 Kehilangan penglihatan. Kondisi ini terjadi karena penebalan dan penyempitan
pembuluh darah di mata.
 Terbentuk aneurisma. Tingginya tekanan darah bisa memicu pembuluh darah
melemah dan melebar. Jika kondisi ini terus berlanjut, pembuluh darah bisa pecah
dan menyebabkan kematian.
 Gagal ginjal. Tekanan darah tinggi bisa memicu penyempitan pembuluh darah di
ginjal.
 Gagal jantung. Tingginya tekanan darah membuat jantung bekerja lebih keras
untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
 Demensia vaskuler. Hipertensi bisa menyebabkan gangguan pada aliran darah ke
otak.
F. Data penunjang
1. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
2. Pemeriksaan retina
3. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal dan
jantung
4. Ekg untuk mengetahui hipertensi ventrikel kiri
5. Urinalisasi untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa
6. Pemeriksaan : renogram, prelotgram intravena anterogram renal pemeriksaan
fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar urin
7. Foto dada dan ct scan.
G. Penatalaksanaan medis
1. Penatalaksanaan Non Farmakologis
a. DietPembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat
menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam
plasma dan kadar adosteron dalam plasma.
b. Aktivitas
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan
denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan,
jogging,bersepeda atau berenang.
2. Penatalaksanaan Farmakologis secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
a. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
b. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
c. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
d. Tidak menimbulakn intoleransi.
e. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
f. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.

Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi sepertigolongan
diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,golongan penghambat konversi
rennin angitensin.
H. Pathway
I. Asuhan keperawatan
A. Pengkajian
a. Keluhan utama
Keluhan yang dirasakan pasien pada saat dilakukan pengkajian.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat penyakit pada saat masuk rumah sakit pada pasien hipertensi
c. Riwayat penyakit masa lalu
Adakah riwayat sakit kepala, darah tinggi, ginjal.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah riwayat penyakit yang sama yang diderita oleh anggota keluarga lain atau
riwayat penyakit lain.
e. Aktifitas/istirahat
Gejala: kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
f. Sirkulasi
Gejala : riwayat hipertensi aterioskleerosis, penyakit jantung coroner, penyakit
serebravaskuler.
Tanda :kenaikan tekanan darah, hipotensi postural, takhikardi, perubahan warna
kulit, suhu kulit.
g. Integritas ego
Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, factor stress multiple.
Tanda :letupan suara hati, gelisah, penyempitan kontinu perhatian tangisan yang
meledak, otot muka tegang, peningkatan pola bicara.
h. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu.
i. Makanan/cairan
Gejala : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam
lemak dan kolestrol.
Tanda : bb normal atau obesitas adanya edema.
j. Neasensori
Gejala : keluhan pusing /pening, sakit kepela, berdenyut sakit kepala, gangguan
penglihatan.
Tanda : perubahan orientasi, penusunan kekuatan genggaman, perubahan reptina
optic.
k. Pernapasan
Gejala : dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas, takipneu, ortopnea, dsepna,
nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda : distress respirasi / penggunaan otot aksesoris pernapasan, bunyi napas
tambahan, slanesis.
l. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi, cara jalan.
Jalan : episode parseertesia unilateral transien, hipotansi.
m. Diangnosa
1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokonstiksi, iskemia miokard.
 Tujuan : afterload tidak meningkat tidak terjadi
vasokontrisi tidak terjadi iskemia miokard
 Intervensi keperawatan
 Pantau td
 Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
 Catat edama umum
 Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi
aktifitas.
 Anjurkan teknik relaksasi
 Pantau respon terhadap obat untuk mengntrol
tekanan darah
 Berikan pembatasan dan diet natrium sesui
indikasi
 Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai
indikasi.
Hasil yang diharapkan :

 Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah


 Mempertahankan tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima
 Memperlihatkn irama dan frekuensi jantung stabil.
2. Nyeri (sakit kepal) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler
selebral.
Tujuan : tekanan vaskulerselebral tidak meningkat
Intervensi keperawatan :
 Pertahankan lingkungan yang tenang dan sedikit penerangan
 Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan
 Hindari merokok atau menggunakan penggunaan nikotin
 Beri obat analgesic dan sedasi sesuai pesanan
 Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti
kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan
imajinasi, hindari konstipasi.

Hasil yang diharapkan :

 Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan nyaman

3. Potensial perubahan perkusi jaringan : serebral, ginjal, jatung berhubunan


dengan gangguan sirkulasi.
Tujuan : sirkulasii tubuh tidak tergangguan.
Intervensi :
 Pertahankan tirah baring , timggikan kepalatempat tidur
 Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan, tidur, duduk
dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia.
 Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai resep dokter
 Adanya hipotensi mendadak
 Ukur masuk dan pengeluaran
 Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan dokter
 Ambulansi sesuai kemampuan : hindari kelelahan

Hasil yang diharapkan

 Pasien mendrmostrasikan perfusi jangan yang membaik seperti yang ditunjukan dengan :
tekanan darah batas yang dapatt yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala,
pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
 Pengeluaran urin 30ml/menit
 Tanda-tanda vital stabil
Daftar pustaka

1. Doengoes, Marilynn E, rencana asuhan keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan


pendokumentasian perawatan pasien , Jakarta penerbit buku kedokteran, EGC 2000
2. Gunawan, lany. Hipertensi : tekanan darah tinggi . Yogyakarta, penerbit kanisius ,2001
3. Brunner dan suddarth. Buku ajar :keperawatan medical bedah vol 2, Jakarta ,EGC ,2002